Diperbarui: 11 Agu
LAPANGAN Terbang Kemayoran, Jakarta, 8 September 1945. Bersama tujuh anggota pasukannya, Mayor A.G. Greenhalgh mendarat dalam senyap. Tugasnya simpel namun begitu penting: mencari informasi tentang situasi dan kondisi umum di Indonesia dan secara khusus di Jakarta.
Mereka diterima pasukan Jepang –yang diperintahkan menjaga status quo usai pernyataan penyerahan tanpa syarat Jepang terhadap Sekutu dua hari sebelum Proklamasi Republik Indonesia (RI)– sebagai “tamu” pertama dari pihak Sekutu. Mayor Greenhalgh mengambil tempat di Hotel Des Indes (kini Komplek Pertokoan Duta Merlin) sebagai markasnya. Dari sanalah dia menjalin komunikasi dengan petinggi Gunseikan (komandan pemerintahan militer Jepang di Pulau Jawa) Letjen Moichiro Yamamoto (di beberapa sumber menyebut bertemu Jenderal Yamaguchi).
Kedatangan pasukan Greenhalgh menandai keterlibatan awal South East Asia Command (SEAC) pimpinan Laksamana Lord Louis Mountbatten –selaku wakil Sekutu– di Indonesia. Selain untuk “kepoin’” situasi, misi Greenhalgh itu sekaligus untuk pembicaraan awal mengenai RAPWI (Recovery Allied Prisoners of War and Internees).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















