JAN Herman van Roijen sama sekali tak memperlihatkan raut wajah semringah usai menandatangani penyerahan Papua kepada Indonesia. Tak seperti Soebandrio, pemimpin delegasi Indonesia, yang mengumbar senyum di sana-sini. Muka kecut van Roijen menggambarkan kekecewaan bahwa Belanda telah kehilangan Papua.
Pada 15 Agustus 1962, wilayah Irian Barat yang telah lama disengketakan Belanda dan Indonesia berakhir dalam New York Agreement atau Persetujuan New York. Para mediator seperti diplomat Amerika Ellsworth Buker dan Sekjen PBB U Thant terlihat lega. Konflik yang memicu perang ini akhirnya selesai di meja perundingan. Tak perlu dibahas bagaimana bungahnya pihak Indonesia.
Nasib pahit justru dialami van Roijen. Setelah berusaha sekuat tenaga di meja perundingan, alih-alih diapresiasi, dia malah menjadi bulan-bulanan. Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns bahkan melontarkan cemoohan soal latar belakang keluarga van Roijen.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












