top of page

Sang Pembawa Peluru

Kisah seorang bocah yang ikut terseret arus revolusi dan mempertaruhkan nyawanya dalam berbagai pertempuran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Atmah di masa tua. (Hendi Jo/Historia).

7 Apr 2020
4 menit membaca

KAKI Gunung Mananggel, Cianjur pada Desember 2019. Lelaki tua itu berjalan terseok-seok dengan tongkatnya. Saat akan melewati jalan menurun, dua remaja mendekatinya lantas menuntun sang kakek hingga di jalan yang rata. Sejenak mereka berbincang akrab dan tertawa bersama.


“Barudak (anak-anak) itu, selalu baik kepada saya…” ungkapnya.


Atmah nama lelaki tua itu. Sehari-hari bekerja sebagai petani kecil. Orang-orang di Desa Pawati mengenalnya sebagai orang tua miskin. Namun tak banyak orang tahu di balik kemiskinannya itu dia merupakan manusia yang kaya akan pengalaman hidup. Termasuk pengalamannya menjadi petempur di era perang melawan Belanda tengah berkecamuk di Indonesia.


“Padahal saat itu saya masih anak-anak, baru 11 tahun,” kenangnya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang bocah perang?


Ceritanya, pada 1948, satu kelompok pasukan lasykar rakyat pimpinan Sersan Kentjoeng datang ke kampungnya yang terletak di wilayah Ciranjang. Sejak itulah, nyaris tiap sore Atmah kerap menonton latihan baris berbaris pasukan tersebut di lapangan desa.  Suatu hari, saat dia duduk di pinggir lapangan, tetiba Sersan Kentjoeng mendekatinya. Sambil menatap, sang komandan seksi tersebut lantas menepuk pundak Atmah kecil.


"Jang! Mulai sekarang kamu ikut pasukan saya ya?!"


Atmah kaget. Kendati sangat mengagumi para pejuang republik yang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta itu, namun tak terlintas dalam pikirannya untuk bergabung dengan mereka saat itu. Karenanya, dia agak ragu dan merasa terkejut saat Sersan Kentjoeng mengajaknya (lebih tepat memerintahkannya).


"Jangan ragu-ragu, Jang. Kalau ragu-ragu, nanti saya …Euhhh," kata Sersan Kentjoeng sembari mengacungkan jari jempol dan tulunjuknya, memperagakan bentuk pistol, ke kepalanya sendiri.


Atmah menyatakan bahwa ia tidak bisa mengiyakan begitu saja permintaan tersebut. Selain tidak memiliki bekal yang cukup, dia pun masih memiliki orangtua yang harus dimintai izin.

“Soal bekal tidak usah dipikirkan, kalau masalah izin orangtua, saya akan urus,” kata Sersan Kentjoeng.


Dengan diantar sang sersan, dia lantas menemui orangtuanya untuk mohon izin. Melihat tampang Sersan Kentjoeng yang menyeramkan, orangtua Atmah juga tak bisa apa-apa. Sang ibu hanya bisa menangis sedangkan sang ayah hanya bisa terdiam dalam kebimbangan.


"Ya pada akhirnya secara terpaksa mereka melepas saya berangkat ke front. Sambil menangis, mereka hanya berpesan kepada saya: jangan pernah menyakiti orang yang sudah tak berdaya" kenang Atmah .


Kisah selanjutnya, resmilah sudah bocah Atmah "terperangkap" dalam kegilaan perang di wilayah Ciranjang dan sekitarnya. Sebagai komandan, Sersan Kentjoeng “mendidiknya” secara sungguh-sungguh untuk menjadikan Atmah kecil seorang petarung. Tak aneh dalam usia sangat muda, Atmah  mahir memegang berbagai senjata. Dari Lee Enfileld buatan Inggris hingga pistol semi otomatis Luger Parabellum buatan Jerman, pernah dia pegang dalam beberapa pertempuran.


"Tapi karena saya ingat pesan orangtua, senjata-senjata itu tak pernah saya tembakan, kecuali kalau dalam posisi terdesak," ujanya.


Kentjoeng tentu saja kesal dengan ulah Atmah. Dia lantas “menurunkan” peran  Atmah hanya sebagai pembawa sekaligus pelayan pembagian peluru dalam setiap pertempuran. Tugas ini dalam kenyataannya jauh lebih berbahaya dibanding sebagai petempur biasa.


“Pokoknya kalau ada suara memanggil “pelor! pelor!” saya harus bergegas menuju suara tersebut sambil membawa amunisi, tak peduli pertempuran sedang berlangsung sehebat apapun,” kenang lelaki kelahiran Ciranjang 81 tahun lalu.


Sangat wajar, jika dikatakan saat itu Atmah sangat akrab dengan bau mesiu dan kenyang akan penderitaan di medan laga. Dalam suatu pertempuran, dia bahkan pernah nyaris gugur saat sebutir peluru musuh menghantam paha kanannya.


“Walau saya sudah terjatuh  tapi peluru kan harus tetap saya sampaikan, makanya saya paksakan terus untuk tetap bergerak dengan cara merayap kendati saya ingat waktu itu banyak kotoran kerbau bertebaran di sekitar saya dan saya merasakan sakit luar biasa di paha kanan,” katanya sambil tertawa.


Kendati pantang menyerah, dan kukuh dalam melaksanakan tugas, Atmah tetap seorang anak yang patuh kepada orangtua. Kepada siapa pun, dia tak pernah berusaha untuk berlaku brutal termasuk kepada para musuhnya yang sudah tak berdaya.


Pernah dalam suatu penghadangan, pasukan Sersan Kentjoeng berhasil menghancurkan satu seksi pasukan musuh dan menawan 12 tentara Belanda. Mereka dibawa ke markas di wilayah Gunung Halu untuk diperiksa. Selama dalam tawanan, para prajurit itu diperlakukan secara kasar oleh para anak buah Sersan Kentjoeng: dipukuli, ditendang dan diludahi. 


Saat itulah, Sersan Kentjoeng memanggil Atmah. Seraya tertawa, dia kemudian memerintahkan sang bocah untuk menampar satu persatu para serdadu Belanda yang sudah tak berdaya tersebut.


Mendapat perintah itu, darah muda Atmah mendidih. Ada dorongan dalam dirinya untuk memperlihatkan keberaniannya di depan komandan dan kawan-kawannya. Tapi pesan orangtuanya untuk tidak menyakiti orang yang sudah tak berdaya, terngiang-ngiang di telinganya. Dengan tegas dia pun menolak perintah Sersan Kentjoeng itu.


"Saat saya tolak, komandan langsung menggampar dan menjewer saya sekuat tenaga. Ya apa boleh buat, saya terima saja, saya lebih takut kualat kepada orangtua jika melakukan itu…" ujar Atmah.


Akhir 1949, perang pun usai. Atmah menolak ketika ditawari untuk menjadi serdadu. Dia lebih memilih kembali pulang ke rumah dan memutuskan menjadi petani saja. Suatu cita-cita yang sejak kecil ingin didalaminya.


Kini bersama lima putra-putrinya, Atmah hidup sangat sederhana di lereng Gunung Mananggel tepatnya di Desa Pawati. Meskipun dia pernah berjuang, tak sepeser pun di masa tuanya Atmah mendapat tunjangan pensiun. Apakah dia tidak berusaha untuk mendapatkan hak-nya itu?


"Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Mungkin keterlibatan saya di masa perang memang  sudah menjadi suratan takdir saya. Bukankah takdir dan rezeki itu sudah ditentukan oleh Gusti Allah? " katanya. Tawanya terkekeh memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa lagi.

Atmah memang selalu riang, walau bisa jadi kehidupannya sangat susah.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Rasa lelah membuat kawan-kawannya ambil jalan pintas, sewa pesawat. Kendati terpilih naik pesawat itu, Dion urung naik karena ongkosnya mahal.
Rasa lelah membuat kawan-kawannya ambil jalan pintas, sewa pesawat. Kendati terpilih naik pesawat itu, Dion urung naik karena ongkosnya mahal.
Ini tentang manusia mulai mengenal komik, superhero pertama dalam komik, tokoh pencipta Tintin, dan komik bertema kehidupan masyarakat Indonesia.
Ini tentang manusia mulai mengenal komik, superhero pertama dalam komik, tokoh pencipta Tintin, dan komik bertema kehidupan masyarakat Indonesia.
Tragedi Kanjuruhan jadi momen kelam bagi sepakbola dunia, kata Presiden FIFA. Akankah jadi momen pembelajaran untuk berbenah total jua?
Tragedi Kanjuruhan jadi momen kelam bagi sepakbola dunia, kata Presiden FIFA. Akankah jadi momen pembelajaran untuk berbenah total jua?
Pesta petasan pada malam tahun baru di ibukota malah menjadi bencana. Presiden Soeharto sampai turun tangan.
Pesta petasan pada malam tahun baru di ibukota malah menjadi bencana. Presiden Soeharto sampai turun tangan.
Guru besar bidang pertahanan dan pakar politik militer ini angkat suara soal polemik penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang dianggap berbau komunis..
Guru besar bidang pertahanan dan pakar politik militer ini angkat suara soal polemik penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang dianggap berbau komunis..
transparant.png
bottom of page