- 21 Jun 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 6 Jun
LANGIT Jakarta terbuka cerah pada pagi tanggal 21 Juni 1970. Paling tidak, cukup cerah bagi Jenderal Maraden Panggabean untuk mengayunkan stik golfnya di lapangan Senayan. Ketika hendak memukul bola, Maraden tetiba mendapat pesan penting melalui walky talky-nya. Bung Karno, presiden RI pertama, telah wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Buru-buru Maraden meninggalkan lapangan golf untuk melayat.
“Sewaktu saya tiba di RS Gatot Subroto, Pak Harto telah berada di sana, demikian pula Ibu Dewi Sukarno dan almarhum Brigadir Jenderal G. Dwipayana lengkap dengan kamera dan alat-alat perekamnya. Saya memegang dahi dan tangan Bung Karno, tubuhnya masih lemas, belum kaku,” kenang Maraden dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi.
Bung Karno dikabarkan sudah mulai tak sadarkan diri sejak pukul 03.50. Menjelang nafasnya yang penghabisan, Bung Karno didampingi oleh anak-anaknya: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Turut pula kedua menantu, Ommy Marzuki dan Dedy Soeharto, serta seluruh tim dokter yang merawatnya. Sebelum meninggal, Bung Karno sempat bertemu Kartika, putrinya dari Ratnasari Dewi yang masih berusia tiga tahun.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















