- 23 Agu 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 3 jam yang lalu
KOBARAN api dan kepulan asap di tengah kegelapan malam di perairan Kepulauan Tokara, Jepang pada 22 Agustus 1944 begitu jelas terefleksi dari bola mata Kiyoshi Uehara. Jeritan panik kawan-kawannya dan guru-gurunya dari dek bawah juga menyesaki gendang telinga bocah 10 tahun itu. Dengan berat hati, naluri bertahan hidup mendorongnya untuk loncat dari kapal Tsushima Maru ke lautan yang ganas.
“Kiyoshi sempat terdiam memikirkan bagaimana caranya para guru dan kawan-kawannya bisa keluar dengan tangga dari dek bawah. Namun ia merasa tak punya waktu lagi. Sang bocah segera memakai jaket pelampung, menggenggam tangan dua kawan di sampingnya, naik ke railing dan loncat dari kapal,” tulis Don Keith dalam Final Patrol: True Stories of World War II Submarines.
Begitu sampai di air, Kiyoshi dan kedua temannya berenang menjauh sebisa mungkin dari kapal yang terlalap api dan hendak tenggelam. Di tengah keadaan laut sedang ganas diterpa badai, ketiganya mati-matian memberi sinyal tangan pada beberapa kapal Jepang lain yang jadi bagian dari konvoi. Tetapi tak satupun yang mendekat dan menyelamatkan mereka.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















