top of page

Setelah Kapal Selam Amerika Serikat Menghabisi Ratusan Pelajar Jepang

Tragedi Tsushima Maru menelan ribuan pengungsi sipil Jepang. Keluarga korban dan penyintasnya dibungkam dengan ancaman.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kapal "Tsushima Maru" yang mengangkut ribuan pengungsi dari Okinawa (Nippon Yusen Historical Museum/Tsushima-maru Memorial Museum)

23 Agu 2023
4 menit membaca

Diperbarui: 21 Jul

KOBARAN api dan kepulan asap di tengah kegelapan malam di perairan Kepulauan Tokara, Jepang pada 22 Agustus 1944 begitu jelas terefleksi dari bola mata Kiyoshi Uehara. Jeritan panik kawan-kawannya dan guru-gurunya dari dek bawah juga menyesaki gendang telinga bocah 10 tahun itu. Dengan berat hati, naluri bertahan hidup mendorongnya untuk loncat dari kapal Tsushima Maru ke lautan yang ganas.


“Kiyoshi sempat terdiam memikirkan bagaimana caranya para guru dan kawan-kawannya bisa keluar dengan tangga dari dek bawah. Namun ia merasa tak punya waktu lagi. Sang bocah segera memakai jaket pelampung, menggenggam tangan dua kawan di sampingnya, naik ke railing dan loncat dari kapal,” tulis Don Keith dalam Final Patrol: True Stories of World War II Submarines.


Begitu sampai di air, Kiyoshi dan kedua temannya berenang menjauh sebisa mungkin dari kapal yang terlalap api dan hendak tenggelam. Di tengah keadaan laut sedang ganas diterpa badai, ketiganya mati-matian memberi sinyal tangan pada beberapa kapal Jepang lain yang jadi bagian dari konvoi. Tetapi tak satupun yang mendekat dan menyelamatkan mereka.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page