DALAM beberapa bulan belakangan, nama Abdul El-Sayed bikin resah orang-orang sayap kanan “MAGA” dan kalangan Partai Republik di Amerika Serikat (AS), hingga Presiden Donald Trump. Bukan tanpa alasan, karena El-Sayed berasal dari golongan minoritas muslim. Kemunculan El-Sayed sebagai calon senator untuk Negara Bagian Michigan pun dikonfrontasikan dengan propaganda-propaganda black campaign oleh lawan-lawan politiknya.
Setelah kemenangan Zohran Mamdani di pemilihan walikota New York pada 4 November 2025, kini El-Sayed dikhawatirkan mengikuti kesuksesannya. Dirinya mendobrak tradisi, berhasil jadi politikus muslim pertama yang masuk ke Senat.
El-Sayed maju ke pemilihan senat yang diusung Partai Demokrat seiring digelarnya Pemilu Sela pada Selasa (3/11/2026) waktu setempat. Sebelumnya, namanya viral usai menang pemilihan pendahuluan Partai Demokrat melawan Haley Stevens. Kini di Pemilu Sela 2026, lawan berat El-Sayed adalah Mike Rogers dari Partai Republik yang sudah barang tentu di-endorse Presiden Trump.
Kendati sudah didukung Presiden Trump, Rogers tetap gagal. El-Sayed memenangkan kontestasi di Michigan. Menukil Associated Press, Rabu (4/11/2026), El-Sayed unggul 52,2 persen dengan 2,4 juta suara, sedangkan Rogers –walau diguyur uang lobi Israel, AIPAC, hingga 42 miliar dolar, kalah di angka 45,5 persen dengan 2,1 juta suara.
“Michigan, kita berhasil! Nama saya Abdulrahman Mohammed El-Sayed dan saya bangga dan merasa terhormat menjadi senator terpilih Anda dari Negara Bagian Michigan. Sebelumnya saya selalu bilang Insya Allah, apapun hasil dari kontestasi ini. Tapi malam ini kita bisa mengubah Insya Allah itu menjadi Alhamdulillah,” cetus El-Sayed diiringi tawa bahagia dalam pidatonya yang ditayangkan akun Youtube USA Today, Rabu (4/11/2026).
El-Sayed berterimakasih pada semua pihak yang mendukung, percaya, dan memilihnya. Dari catatan demografi pemilihnya, El-Sayed mendapat limpahan suara dari kalangan muslim, kalangan kulit hitam, golongan LGBTQ+, dan warga lain yang umumnya berusia 30 tahun ke bawah. El-Sayed juga bahagia karena kampanye-kampanye hitam lawannya tak berhasil menumbangkan niat baik El-Sayed sebagaimana janji-janji kampanyenya yang lebih merefleksikan keresahan masyarakat.
“Pada dasarnya mereka tidak menargetkan saya. Tetapi mereka menargetkan dan menyerang Anda semua dan gagasan asli Amerika yang warganya berasal dari belahan dunia lain. Mereka ingin Amerika yang lebih kecil untuk mereka semata, padahal Amerika cukup besar untuk kita semua... Pihak yang jahat sudah kalah dan biarkan mereka tahu bahwa kita bersama-sama berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dan kita menang. Jadi Mike (Rogers), nikmati pensiun Anda. Saya tahu Anda punya rumah besar di Florida dan dua kapal yacht. Anda sudah memilih kebencian dan Michigan telah memilih harapan. Semoga kita tidak akan pernah lagi melihat orang seperti Anda di negara bagian ini,” tandasnya.
Seperti Mamdani, El-Sayed juga politikus muda progresif dan “berkendaraan” Partai Demokrat. Keduanya sama-sama muslim, kendati El-Sayed seorang sunni dan Mamdani adalah syiah. Mamdani berasal dari keluarga imigran berdarah India, sementara orangtua El-Sayed dari Mesir. Mereka juga sama-sama anti-genosida di Palestina dan lebih menginginkan pajak rakyat dipakai untuk kesejahteraan masyarakat ketimbang untuk membantu Israel berbuat onar.
“Money out of politics, money in your pocket, Medicare for All” jadi janji kampanye El-Sayed. Kampanyenya merujuk pada penentangannya terhadap praktik politik uang dan keinginannya pada adanya sistem pembayar tunggal untuk layanan dan asuransi kesehatan universal yang dikelola pemerintah.
Secara umum, janji-janjinya mirip punya Mamdani. Bedanya, Mamdani seorang demokrat-sosialis, sementara El-Sayed tak malu-malu berpihak pada kapitalisme.
“Saat tiba pada pertanyaan tentang sosialisme, saya bukan seorang sosialis. Saya hanya seseorang yang memahami bagaimana kapitalisme bekerja. Ancaman terbesar kapitalisme bukanlah gagasan tentang regulasi pemerintah. Melainkan monopoli,” kata El-Sayed, dikutip The Hill, 27 Juli 2026.
Kampanye-kampanyenya yang cair dan menjanjikan amat menggugah kalangan muda dan kelas menengah. Maka sebelum kemenangan itu, El-Sayed dianggap ancaman bagi Presiden Trump dan kaum MAGA yang kolot. Terlebih Michigan salah satu wilayah penting sebagai swing state di setiap pemilu. Maka baik Rogers maupun Presiden Trump yang begitu kental Islamofobia melancarkan kampanye-kampanye hitam dengan menyerang sisi personalnya, bukan terhadap janji politik kampanyenya. El-Sayed, kata mereka, adalah jihadis radikal dan simpatisan teroris.
“Mereka pikir dengan menegaskan nama saya dan keyakinan saya bisa serta merta mengabaikan fakta bahwa Anda tidak mampu membeli bensin atau belanja sehari-hari Anda, tidak bisa bertemu dokter,” El-Sayed merespon santai dengan kembali menegaskan keresahan masyarakat, dikutip BBC, 26 Oktober 2026.

Secuplik Sosok Abdul El-Sayed
Nama lengkapnya ketika dilahirkan di Rochester Hills, Michigan pada 31 Oktober 1984 adalah Abdulrahman Mohamed El-Sayed. Ia putra kesayangan pasangan Mohamed El-Sayed dan Fatten El-Komy, imigran asal Mesir. Ayahnya merantau ke “Negeri Paman Sam” untuk melanjutkan pendidikannya.
“Ayahnya, Mohamed El-Sayed, lahir di Alexandria, Mesir, pada 1951 dan datang ke AS pada 1979 untuk mengejar gelar Ph.D dalam teknik mesin di Wayne State University. Ibu kandungnya, Fatten Fathy Mohamed (El-Komy), juga lahir di Mesir pada 1960 dan lulus dari Alexandria University School of Medicine pada 1983,” tulis Andrew P. Moser dalam Who Is Abdul El-Sayed? A Biography of the Physician, Public Health Leader, and Progressive Voice Shaping America’s Political Future.
Ketika El-Sayed baru berusia 3 tahun, kedua orangtuanya bercerai. El-Sayed kecil ikut ayahnya dan diasuh ibu tiri, seorang perempuan asli Michigan yang kemudian jadi istri kedua ayahnya, Jacqueline ‘Jackie’ Johnson. Jackie seorang Protestan yang juga sesama insinyur mesin ketika Mohamed bekerja di General Motors.
“Jackie Johnson putri sulung Judith Ann dan Jan Johnson. Pohon keluarganya sudah berakar di Amerika sejak sebelum Revolusi (Amerika, 1765-1789, red.), ia masih keturunan jauh dari (Ibu Negara Kedua AS/Istri Presiden John Adams) Abigail Adams. Sementara nenek saya Judy lulusan sekolah perawat dan kakek saya Jan juga lulusan General Motors Institute (kini Universitas Kettering). Saya punya saudara, Osama dan Samia, dan kami dibesarkan oleh seorang imigran dari Mesir dan seorang Puteri Revolusi Amerika,” ungkap El-Sayed dalam otobiografinya, Healing Politics: A Doctor’s Journey Into the Heart.
Sejak tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya itu, ia mulai menggunakan nama yang lebih singkat, Abdul, ketimbang nama panjang depannya, Abdulrahman. Adalah ibu sambungnya yang menyarankannya menjelang El-Sayed cilik masuk taman kanak-kanak (TK).
“Abdulrahman, artinya Hamba dari Sang Maha Pengasih. Saya tidak menjadi ‘Abdul’ sampai sepekan sebelum mulai masuk TK. Ibu sambung saya, Jackie, menyadari bahwa keseluruhan sebelas huruf ‘Abdulrahman’ akan jadi tantangan. Ia membicarakannya dengan ayah saya. Lagipula pada musim panas 1989 sedang terkenal penyanyi Paula Abdul dan pebasket Kareem Abdul-Jabbar. Jadi mulai hari pertama TK pada 1989, saya memperkenalkan diri sebagai ‘Abdul’ walaupun saya lebih memilih dipanggil Abdulrahman, itupun jika ada yang bisa menyebutkannya,” imbuhnya.

Di masa SMA-nya di Bloomfield Hills Andover, El-Sayed cemerlang dalam akademis sekaligus menonjol dalam olahraga. Ia jadi kapten di tiga tim olahraga sekolah: gulat, football, dan lacrosse.
Pada 2003, ia kuliah di Universitas Michigan dengan mengambil dua jurusan: ilmu politik dan biologi. Semangat El-Sayed dalam menekuni pedidikan didapat dari ayah dan ibu sambungnya yang juga sangat akademik.
“Ayah El-Sayed membangun karier sebagai insinyur (di GM) dan dosen yang mengajar di Eastern Michigan University. Ibu sambungnya, Jacqueline El-Sayed yang juga insinyur, menjadi dosen teknik mesin di Kettering University, dan kemudian jadi wakil presiden untuk bidang akademik di Marygrove College di Detroit,” sambung Moser.
Selagi kuliah, ia pun bersua mahasiswi yang juga mengambil jurusan ganda: sosiologi dan Studi Timur Dekat, yakni Sarah Jukaku. Ia juga mahasiswi dari orangtua imigran asal Mesir, di mana ayahnya, Tayeb Jukaku adalah dokter ginjal sekaligus Presiden Dewan Hubungan Amerika-Islam, CAIR. Pada 2006 El-Sayed meminang Sarah secara resmi.
Lulus pada 2007 di dua jurusan, El-Sayed dapat beasiswa lagi untuk sekolah kedokteran di University of Michigan Medical School untuk bercita-cita jadi dokter bedah syaraf dan kemudian studi master dan lanjut studi doktoral jurusan kesehatan masyarakat di Oriel College, Oxford.
Bersama rekan-rekan mahasiswa kesehatan masyarakat, El-Sayed ikut berangkat ke Peru untuk misi Proyek Suyana pada 2009. Misi mereka penyuluhan dan edukasi tentang pentingnya kesehatan ibu hamil untuk menekan angka kematian ibu saat melahirkan. El-Sayed lulus dengan gelar doktor di jurusan kesehatan masyarakat pada 2011 dan jurusan bedah syaraf tiga tahun kemudian.
Sejak masih kuliah S-1 pun El-Sayed juga sudah getol berorganisasi. Saat kuliah di Universitas Michigan, ia jadi wakil presiden Asosiasi Mahasiwa Muslim dan kemudian presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim Kedokteran.
Ia juga memanfaatkan keilmuannya sebagai asisten dosen di departemen epidemiologi di Columbia University Mailman School of Public Health pada 2014. Setahun berselang, Walikota Detroit Mike Duggan menunjuknya jadi direktur eksekutif Departemen Kesehatan Detroit. Setelahnya ia ditunjuk jadi direktur Departemen Kesehatan, Kemanusiaan, dan Urusan Veteran di Wayne County pada 2022. Ia mengundurkan diri pada April 2025 demi bisa fokus kampanye untuk Senat.
Maka perbaikan kesehatan masyarakat dan sistem pelayanan kesehatannya jadi hal yang diusung El-Sayed dalam kampanye-kampanyenya. Undang-Undang Medicare for All adalah satu agenda yang paling ingin ia loloskan.



















Komentar