top of page

Stauffenberg, Opsir Kepercayaan Hitler

Bangsawan flamboyan di lingkaran militer Jerman Nazi. Tak rela negerinya dibawa Hitler ke jurang kehancuran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Oberst Claus Graf Schenk von Stauffenberg pelaku utama "Plot 20 Juli" yang berupaya membunuh Adolf Hitler. (Bundesarchiv/Wikimedia Commons).

6 Mei 2020
6 menit membaca

Diperbarui: 20 Apr

DI tengah semilir angin di halaman Bendlerblock (Markas AD Jerman Nazi), dini hari, 21 Juli 1944, hatinya hancur. Pikirannya terbang jauh membayangkan nasib istri dan tiga anaknya. Pun begitu, Oberst (kolonel) Claus Graf von Stauffenberg masih bisa mengendalikan diri dengan menjaga sikap sebagai perwira meski ia bakal menjelang maut.


Dari tempatnya ditahan dekat halaman, setidaknya dua kali Stauffenberg mendengar letusan-letusan senapan regu tembak yang menyasar dua koleganya. Stauffenberg di “kloter” ketiga tak lama kemudian menyusul ke tempat muasal letusan senjata itu bersama koleganya yang lain dan ajudannya, Letnan Werner von Haeften.


Jarum jam yang nangkring di salah satu tembok bangunan Bendlerblock menunjuk pukul 1ketika para prajurit yang menahannya menyeret dan meninggalkannya dalam satu barisan dengan koleganya tanpa dibelenggu apapun. Tak lama kemudian, komandan regu tembak mulai memberi aba-aba.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page