- 1 Jan 2021
- 4 menit membaca
Diperbarui: 2 Jun
HARI sudah terang. Jamuan makan malam masih tersisa di meja itu. Lemper, kroket, dan pisang goreng. Melihat itu, Mohamad Roem, ketua delegasi Indonesia dalam pelaksanaan keputusan Persetujuan Renville, menahan liurnya. Perutnya keroncongan. Dia belum sempat sarapan di rumah. Tapi panggilan untuk menghadap presiden sudah datang pagi itu.
Di meja itulah dia menunggu Presiden Sukarno. Dia tak berani menyantap panganan itu sebelum Sukarno datang. Setelah ditunggu beberapa lama, Sukarno muncul.
Roem berharap Sukarno segera mempersilakannya makan atau minum. “Menjadi kebiasaan presiden, sebelum tamu duduk, diminta dulu mau minum apa, dan kalau meja itu penuh dengan makanan, meskipun sisa tadi malam, tamu diminta ikut menikmati,” kata Roem dalam Bunga Rampai Dari Sejarah I.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















