top of page

Ulah Pasukan Poncke Princen di Sukaraja

Sekelompok polisi Belanda dikibuli gerilyawan dan dilucuti. Pelucutan ini jadi berita koran Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Poncke Princen, desertiran tentara Belanda yang merepotkan militer Belanda. (Ron Giling/Arsip Nasional Belanda).

20 Jul 2023
3 menit membaca

Diperbarui: 21 Nov 2025

SAAT Jawa Barat masih jadi daerah pendudukan tentara Belanda, pada Senin malam (4 April mejelang 5 April 1949), pos polisi Sukaradja yang terletak di jalan utama menuju Cianjur, sekitar 5 km sebelah timur Sukabumi, kedatangan tamu. Para anggota polisi di kantor itu adalah orang-orang pribumi juga meski bekerja untuk pemerintahan NICA. Tamu para polisi itu lelaki berseragam tentara kolonial –yang anggotanya kebanyakan orang bumiputra juga– Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Sejatinya KNIL juga satu kubu dengan polisi di pos Sukaraja tersebut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page