Diperbarui: 19 Agu
DITERAPKANNYA aturan sakoku (politik isolasi dari bangsa asing) selama kurun 1639-1853 pada era Tokugawa (1603-1867) berdampak besar pada perkembangan ilmu pengatahuan dan kebudayaan di Jepang. Selama lebih dari 200 tahun, sangat sedikit informasi tentang dunia Barat yang bisa diterima publik Negeri Sakura. Segala akses diatur penguasa militer (shogun) Jepang yang begitu kuat bekuasa.
Politik isolasi membuat Jepang tidak bisa sembarang dikunjungi bangsa asing. Pengajar Program Studi Jepang Universitas Indonesia Bambang Wibawarta dalam “Dejima: VOC dan Rangaku” dimuat Wacana Oktober 2008, mencatat hanya ada dua bangsa yang bisa menjalin hubungan dengan pemerintahan Tokugawa: Cina dan Belanda.
Belanda diketahui masuk ke Jepang sekitar tahun 1600 –sebelum Tokugawa Ieyasu mendirikan dinasti Tokugawa dan sakoku diterapkan. Ketika itu, kapal Belanda De Liefde yang mengangkut 24 orang awaknya dihantam badai. Kapal terdampar di sekitar Teluk Usuki, Kyushu. Mereka lalu diselamatkan dan diterima oleh daimyo (tuan tanah) Kyushu Otomo Yoshimune. Sebagian dari mereka bahkan dijadikan penasihat perdagangan luar negeri, serta penasihat pembuatan peta dan kapal.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















