top of page

Wartawan yang Terlupa

Wartawan ternama di zamannya. Namun, namanya terlupa di tengah deretan tokoh pers dan literasi Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Siti Danilah Salim pada 1938. Sumber: Sumbangsihku Bagi Pertiwi.

27 Jun 2018
3 menit membaca

JAGAT literasi dan jurnalistik tanah air telah lama melahirkan nama-nama hebat. Namun, tak semua populer. Siti Danilah Salim, misalnya. Meski sama-sama aktif menulis dan berjuang, namanya tak setenar kakak kandungnya, Agus Salim.


Danilah adalah anak ke-10 dari 12 bersaudara. Pendidikan dasarnya dilakukan di Europesche Lagere School Riau. Dari sana dia lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SMP) di Medan. Setelah menyelesaikannya, umur 17 tahun dia bekerja di Kantor Pos dan Bea Cukai. Danilah menikah tahun 1920 dengan seorang pegawai tambang minyak. Dia lalu mengikuti suaminya ke Kalimantan dan Semarang.


Kecantol literasi


Kecintaan Danilah pada dunia literasi bermula ketika dia bekerja sebagai juru koreksi di Percetakan De Evolutie, perusahaan pribumi yang mendapat subsidi pemerintah kolonial. Kala itu usianya baru 20 tahun. Satu per satu naskah dia teliti, setiap peletakan tanda baca yang salah dia koreksi. Tak satu pun naksah buku yang hendak diterbitkan De Evolutie luput dari pemeriksaannya.


Danilah sangat menikmati pekerjaan itu. “Dari pengalaman bekerja sebagai korektrise dan belajar otodidak di De Evolutie itulah minat saya untuk mengarang mulai tumbuh,” kata Danilah dalam kumpulan memoar perempuan Sumbangsihku Bagi Pertiwi.


Kemampuan bahasa Belanda dan Indonesianya yang baik membuat Danilah tak kesulitan membuat tulisan jurnalistik dan karangan  panjang. Mulanya, Danilah menulis puisi dan esai dalam bahasa Belanda memakai nama pena Kemuning.


Tulisan berbahasa Indonesia Danilah dimuat pertamakali oleh Harian Neratja, suratkabar modern pribumi karena memuat foto. Kala itu, Agus Salim mejadi pemimpin redaksinya. Danilah lagi-lagi menjadi juru koreksi di media ini. Tulisan Danilah di Neratja bersanding dengan tulisan Agus Salim, Mohammad Yamin, Bahder Djohan, dan Kasuma Sutan Pamuntjak.


Danilah juga aktif berorganisasi. Dia bergabung dengan Jong Sumatranen Bond dan aktif menulis di Majalah JongSumatra. “Saya senang menulis sajak di majalah JongSumatra. Laporan situasi saya kirimkan ke Harian Neratja. Saya juga menerjemahkan berita pendek dari bahasa asing,” kata Danilah.


Meski sempat berpindah-pindah mengikuti suaminya, Danilah tetap menulis untuk beberapa surat kabar setempat dan mengirimkannya ke Jakarta. “Di Semarang saya menulis untuk Majalah Pestaka dan Suratkabar Bahagia mengasuh rubrik Taman Isteri,” kata Danilah.


Ketika tinggal di Semarang, Danilah mulai aktif dalam gerakan perempuan dengan bergabung ke dalam Isteri Indonesia, organisasi perempuan yang didirikan pada Juli 1932 dan diketuai Maria Ulfah. Danilah terpilih sebagai ketua Istri Indonesia cabang Semarang selama lima tahun.


Setelah bercerai dari suaminya pada 1938, Danilah pindah ke Jakarta. Dia tetap aktif dalam organisasi perempuan dan menulis. Danilah menjadi anggota Pengurus Besar Isteri Indonesia dan ketua cabang Kwitang.


Danilah menikah lagi dengan wartawan CahayaTimur Syamsudin Sutan Makmur di masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang hengkang, mereka mendirikan Mingguan DayaUpaya namun tak bertahan lama. Syamsudin bersama Njoto dan rekannya mendirikan HarianRakyat. Di suratkabar ini, Danilah mengisi rubrik Pojok dengan nama samaran Bang Golok. Nama Bang Golok dia pilih karana menggambarkan ketajaman senjata rakyat Indonesia. Dalam salah satu karangannya, Danilah menulis bahwa rakyat harus bersatu-padu agar Indonesia tidak dijajah kembali oleh Belanda. “Radio milik Belanda, Pemancar RadioHilversum menuduh Bang Golok sebagai penghasut kelas satu agar Indonesia berontak melawan Belanda,” katanya.


Ketika Isteri Indonesia hendak membuat terbitan, Danilah dipercaya menduduki ketua komisi pers lantaran sepak-terjangnya di dunia literasi dan jurnalistik. Lasmidjah Hardi dalam Perjalanan Tiga Zaman menyebut Danilah sebagai wartawan terkenal di zamannya. Danilah juga aktif menulis di Majalah Isteri Indonesia. “Kakak saya Siti Salamah menjadi pemimpin umum Majalah Isteri Indonesia,” kata Danilah.


Menurutnya, menulis tidak bisa dilepaskan dari cara pandang yang berpihak pada perempuan. Kala Sukarno menikah dengan Fatmawati, misalnya, Danilah mengkritik keras Sukarno dan menyayangkan Sukarno menduakan Inggit. Bagi Danilah, Inggit perempuan hebat yang berperan besar dalam membantu Sukarno di masa sulit. Dia kembali mengkritik Sukarno ketika menikah lagi dengan Hartini. Baginya, tak ada ruang poligini karena hal itu merugikan perempuan.


Danilah berteman dekat dengan Nyonya Latief, mertua pemimpin redaksi Harian Merdeka BM Diah. Mereka sama-sama aktivis Isteri Indonesia. Nyonya Latief menjabat sebagai kepala cabang Jakarta. Ketika Isteri Indonesia mengadakan kongres di Yogyakarta, Danilah datang bersama Nyonya Latief dengan mengendarai mobil. Dari Nyonya Latief pula Danilah kenal BM Diah.


Tidak hanya berhubungan dengan BM Diah, Danilah juga pernah bekerjasama dengan Parada Harahap, Abdul Muis, Datuk Tumenggung, dan beberapa nama tenar di dunia literasi. Sayang, nama Danilah tak setenar Agus Salim atau rekan seperjuangannya. Nama Danilah terlupa dalam sejarah pers dan literasi Indonesia.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Berharap menyamai prestasi enam dekade lalu yang membawa pulang perunggu.
Berharap menyamai prestasi enam dekade lalu yang membawa pulang perunggu.
Majalah Historia mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai majalah sejarah populer pertama.
Majalah Historia mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai majalah sejarah populer pertama.
Kapan dan Bagaimana asal-usul julukan Tim Garuda? Begini kisahnya.
Kapan dan Bagaimana asal-usul julukan Tim Garuda? Begini kisahnya.
Polisi menyebut penyebab utama kecelakaan terletak pada perilaku dan kondisi jiwa pengemudi.
Polisi menyebut penyebab utama kecelakaan terletak pada perilaku dan kondisi jiwa pengemudi.
Dari waktu ke waktu wacana memindahkan ibukota negara dibahas, bahkan pernah pula direncanakan.
Dari waktu ke waktu wacana memindahkan ibukota negara dibahas, bahkan pernah pula direncanakan.
Mereka datang sebagai pedagang tapi kemudian menghilang.
Mereka datang sebagai pedagang tapi kemudian menghilang.
transparant.png
bottom of page