top of page

Hasil pencarian

9747 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Soebandrio Diancam John F. Kennedy

    Suasana “panas” meliputi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, Amerika Serikat. Perang urat syaraf berlaku antara Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio dengan Duta Besar Belanda untuk PBB Herman van Rooijen. Keduanya merupakan ketua delegasi negara masing-masing dalam merundingkan sengketa Irian Barat (kini Papua). Pertemuan tersebut adalah lanjutan dari perundingan yang telah dihelat beberapa hari sebelumnya di kota Middleburg. “Tanggal 25 Juli 1962, van Rooijen datang ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington, guna melaksanakan perundingan kedua,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Irian Barat. “Syukur bahwa van Rooijen bersedia datang ke Kedutaan Besar Indonesia.” Saat itu Soebandrio berhalangan datang ke tempat perundingan netral yang sedianya dilangsungkan di Middleburg. Soalnya, Soebandrio sedang dalam pemulihan pasca operasi infeksi kaki sehingga megalami kesulitan saat berjalan.

  • Bukti Sejarah Kerajaan Galuh

    Budayawan Betawi Ridwan Saidi kembali membuat geger. Setelah sebelumnya menyebut Sriwijaya fiktif, kali ini giliran kerajaan di Jawa Barat yang disasar. Dalam video unggahan kanal YouTube “Macan Idealis”, Babe, panggilan akrab Ridwan Saidi, menyebut jika di Ciamis tidak ada kerajaan. Menurutnya daerah Ciamis tidak memiliki indikator eksistensi adanya kerajaan, yakni indikator ekonomi. Babe mempertanyakan sumber penghasilan Ciamis untuk pembiayaan kerajaannya, mengingat daerah itu tidak memiliki pelabuhan dagang. Ia juga meragukan sumber-sumber tentang Ciamis yang sudah ditemukan, seperti bekas bangunan dan punden berundak. Hal tersebut, kata Babe, perlu diteliti karena bisa jadi itu bekas bangunan biasa atau hanya Kabuyutan (tempat berkumpul) saja. “Sunda-Galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena Galuh artinya ‘brutal’,” ucapnya. Ucapan Babe itu mendapat tanggapan yang beragam. Kalangan masyarakat Sunda, khususnya warga Ciamis, merasa pernyataan itu keliru. Ridwan Saidi dianggap telah menyebarkan informasi yang salah tentang sejarah. Mereka meminta Babe menarik ucapannya dan segera meminta maaf kepada masyarakat Ciamis. Namun pada unggahan lain (14 Februari 2020), Ridwan Saidi mencoba mengklarifikasi ucapannya tentang sejarah Ciamis dan kerajaan Galuh. Ia membuka percakapan di dalam video tersebut dengan permintaan maaf atas kegaduhan yang dibuatnya. “Saya tidak bermaksud membuat sensasi sejarah, tapi rekonstruksi sejarah. Kalau ini membuat heboh sementara pihak ya saya minta maaf, karena memang begitulah perjuangan untuk merekonstruksi sejarah dalam rangka persatuan Indonesia dan dalam rangka memotivasi generasi baru untuk maju ke depan menghadapi tantangan zaman,” ucapnya. “Tetapi terus terang, kutipan dari (kamus) Armenian-English itu ga bisa saya ubah,” lanjut Ridwan Saidi. “Mengenai arti Galuh itu.” Lantas apakah ucapan Ridwan Saidi tentang Galuh itu benar adanya? Membuktikan Keberadaan Galuh Pada 1970-an, para sejarawan yang tergabung dalam Tim Peneliti Sejarah Galuh berhasil mengumpulkan informasi terkait kedudukan Galuh dalam narasi sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dalam laporan tahun 1972, Galuh Ciamis dan Tinjauan Sejarah , tim peneliti tersebut berhasil mengumpulkan nama-nama kerajaan yang masih berkaitan dengan Galuh. Menurut Mumuh Muhsin Z, dalam Ciamis atau Galuh, kata “ galuh” secara bahasa mengandung tiga makna. Pertama, kata galuh berasal dari bahasa Sansekerta galu , yang berarti “permata yang paling baik”. Kedua, kata galuh berasal dari kata aga , berarti “gunung” dan lwah, berarti “bengawan, sungai, laut”. Ketiga, kata galuh bisa dimaknai juga galeuh (bahasa Sunda) yang berarti “bagian di dalam pohon yang paling keras”. "Arti-arti kata tersebut jelas sangat simbolis dan sarat muatan makna yang sangat dalam,” ucap sejarawan dari Universitas Padjadjaran itu. Ada lebih dari 10 nama kerajaan yang terkait dengan Galuh. Lokasinya pun tidak hanya di Jawa Barat sebagai daerah yang diyakini sebagai wilayah kekuasaan kerajaan Galuh. Berikut beberapa di antaranya: Kerajaan Galuh Sindula, berlokasi di Lakbok, ibukota Medang Gili; Kerajaan Galuh Rahyang, berlokasi di Brebes, ibukota Medang Pangramesan; Galuh Kalangon, berlokasi di Roban, ibukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean, berlokasi di Cilacap, ibukota Medang Kamulan; Galuh Pakuan, ibukota di Kawali; Galuh Kalingga, Galuh Tanduran, dan sebagainya. Berdasar informasi tersebut para peneliti meyakini jika Galuh adalah sebuah kerajaan dengan ibukota yang berpindah-pindah. Mereka tidak menetap di satu wilayah saja. Sejalan dengan itu, Nugroho Notosusanto dan para peneliti sejarah, dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid II , juga menyebut Galuh sebagai pusat kerajaan yang berpindah. “… maka nama Galuh, Pakuan Pajajaran, atau Pajajaran kemungkinan besar adalah nama pusat kerajaan yang telah mengalami perpindahan beberapa kali,” tulis Notosusanto. Hasil penelusuran Notosusanto juga mendapati bahwa secara umum kerajaan di Jawa bagian barat, selepas runtuhnya kekuasaan Tarumanegara, hanya ada satu sebutan, yakni Sunda.  Namun nama tersebut tidak terikat oleh satu kerajaan semata. Informasi itu didapat dari berbagai sumber, mulai dari prasasti, naskah, catatan perjalanan, dan keterangan bangsa asing yang pernah mengunjungi Tatar Sunda. Prasasti tertua yang mengungkap hal tersebut adalah prasasti Rakryan Juru Pangambat, berangka tahun 932 Masehi, ditemukan di Desa Kebon Kopi, Bogor. Prasasti lainnya ada Sang Hyang Tapak dan Sang Hyang Tapak II, berangka tahun 1030 Masehi. Sedangkan Carita Parahiyangan (akhir abad ke-16) menyebut Sunda sebagai nama kawasan. Berita Cina, dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa , pada zaman dinasti Ming juga menyebut adanya penguasa bernama Sun-la . “Dari bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah Jawa Barat sebenarnya umum dikenal dengan nama Sunda. Sedang nama-nama lain yang berhubungan juga dengan daerah ini adalah nama pusat kerajaan atau ibukota. Misalnya Galuh yang berkali-kali disebutkan dalan Carita Parahiyangan,” ungkap Notosusanto. Sementara sejarawan Sunda Nina H. Lubis dalam Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat , mengungkapkan jika penyebutan nama kerajaan di dalam sumber sejarah bisa saja berubah-ubah. Terutama karena adanya kebiasaan dari negara-negara di Asia Tenggara untuk menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya. “Jadi kalau sebuah sumber menyebut nama kerajaan Galuh, itu bisa berarti kerajaan Sunda yang beribukota di Galuh,” ucapnya. Berdirinya Kerajaan Galuh Untuk membuktikan secara historis kapan kerajaan Galuh berdiri, keberadaan prasasti dan berita-berita sezaman amat penting. Ada beberapa prasasti yang memuat informasi mengenai Galuh, meski sebagian ditemukan tanpa penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, seorang raja bernama Balitung disebut sebagai “Rakai Galuh”. Dalam prasasti Siman, berangka tahun 943, terdapat nama Galuh yang berkuasa atas sebuah wilayah. Sementara pada naskah Carita Parahiyangan, dalam Carita Parahiyangan: Naskah Tititlar Karuhun Urang Sunda abad ka-16 , kisah tentang kerajaan Galuh dimulai ketika era politik kerajaan Tarumanegara di Tatar Sunda berakhir. Ketika para penguasa bekas Tarumanegara mendirikan Sunda, beberapa orang menolak bergabung. Di bawah pimpinan Wretikendayun, mereka pun akhirnya mendirikan kerajaan yang kemudian berpusat di Galuh (Ciamis) pada abad ke-7. Menurut sejarawan Sunda Budimansyah, Wretikendayun dan penerus kerajaan Tarumanegara, Trarusbawa, sepakat membagi wilayah Tatar Sunda menjadi dua bagian dengan batas kekuasaan di Sungai Citarum. Hal itu dilakukan untuk menghindarkan kedua kerajaan itu dari pertikaian dan kepentingan politik lainnya. “Citarum ke arah timur, sampai Ciserayu di selatan dan Cipamali di utara, menjadi wilayah kerajaan Galuh. Lalu dari Citarum ke arah barat menjadi wilayah kerajaan Sunda. Jadi Galuh dan Sunda (Pakuan Pajajaran) lahir secara bersamaan,” ucap Budiansyah kepada Historia . Di dalam naskah Carita Parahiyangan juga diceritakan tentang raja-raja yang pernah berkuasa di Galuh. Termasuk intrik yang terjadi antara para penguasa Galuh. Seperti cerita tentang Raja Sena, penguasa ke-4 Galuh yang dikalahkan oleh Rahyang Purbasora, saudaranya sendiri. Akibatnya Sena diasingkan ke Gunung Merapi bersama keluarganya. Beberapa tahun kemudian penerus Sena, Sanjaya, berhasil membalaskan dendam pendahulunya. Nama Galuh sebagai pusat kerajaan disebut berkali-kali dalam Carita Parahiyangan. Nama-nama tempat yang disebutkan di naskah ini juga umumnya terletak di Jawa Barat bagian timur, yang merupakan wilayah Galuh sesuai perjanjian dengan penerus Tarumanegara. Jadi, kata Nina, dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-8 M pernah ada Raja Sanjaya yang berkuasa di Galuh.

  • Witan Sulaeman dan Mula Sepakbola Serbia

    EROPA Timur lagi-lagi jadi tujuan pesepakbola Indonesia merintis karier. Setelah Egy Maulana Vikri di Polandia (Lechia Gdańsk), kini ada Witan Sulaeman yang mencoba peruntungannya di Serbia. Sejak 11 Februari 2020, Witan, jebolan PSIM Yogyakarta cum gelandang Timnas Indonesia U-19, dikontrak klub papan tengah Superliga Serbia FK Radnik Surdulica dengan masa percobaan enam bulan. Bila penampilan Witan di klub yang didirikan pengusaha sepatu Gradimir Antić itu bagus, ia berpotensi mendapatkan penambahan durasi kontrak tiga tahun. “Witan akan bergabung di tim utama Radnik. Semoga ini jalan yang terbaik. Dia harus bekerja keras dan mengambil kesempatan ini dengan cara terbaik,” kata Dusan Bogdanovic, agen Witan, sebagaimana dikutip Kumparan , 11 Februari 2020. Namun selain kerja keras dan skill mumpuni, Witan juga mesti punya mental baja untuk bisa sukses. Eropa Timur pada umumnya dan Serbia khususnya, dikenal sebagai negeri yang subur bagi rasisme. Egy sendiri pernah mengalaminya di Polandia pada Maret 2018 dan sukses melaluinya. “Saya pikir dengan Egy berani masuk ke Eropa Timur, dia mestinya sudah siap mental. Karena di Eropa, khususnya Eropa Timur, masyarakatnya terdiri dari banyak bangsa,” ujar Timo Scheunemann, mantan pelatih klub Liga Indonesia berdarah Jerman, kepada Historia medio Maret 2018. “(Rasisme) berakar dari konflik yang pernah terjadi, baik Perang Dunia I, II maupun perang-perang sebelumnya. Apalagi yang notabene Eropa Timur, di mana pendidikan kebanyakan masyarakatnya masih di bawah negara-negara Eropa Barat,” tambah pria yang kini tengah menemani tim Garuda Select di Inggris sebagai penerjemah. Bola Sepak dari Mahasiswa Yahudi Meski usianya nyaris seabad(didirikan tahun 1926), FK Radnik yang berbasis di kota Surdulica bukan perkumpulan sepakbola pertama Serbia. Klub sepakbola pertama yang teroganisir di Serbia bernama Bácska Szabadkai Athletikai Club (kini FK Bačka), berdiri pada 3 Agustus 1901. Bácska berbasis di Subotica, kota perbatasan utara negeri itu dengan Astro-Hungaria. Maka namanya pun berbau Hungaria. Klub itu lalu terdaftar di otoritas olahraga Kekaisaran Austria-Hungaria setelah wilayah Subotica diduduki. Perkumpulan olahraga Soko di Beograd pada 1912, di mana klub ini jadi yang pertama memainkan sepakbola di Serbia sejak 1896 Sepakbola sendiri pertamakali diperkenalkan ke Kerajaan Serbia oleh mahasiswa berdarah Yahudi, Hugo Buli yang dijuluki “Bapak Sepakbola Serbia”. Dipaparkan Dejan N. Zec dalam risetnya “The Origins of Soccer in Serbia: Serbian Studiesvolume 24” yang dimuat di On the Very Edge: Modernism and Modernity in the Arts and Architecture of Interwar Serbia (1918-1941) , Hugo Buli adalah pelajar asal Beograd dari keluarga saudagar dan bankir Yahudi nan kaya dan mengenyam pendidikannya di Berlin. Saat bersekolah di Berlin itulah ia mengenal sepakbola. Ia lantas bermain di klub BFC Germania yang berbasis di Distrik Tempelhof kurun 1892. Sepulangnya dari Jerman, ia memperkenalkan sepakbola ke perkumpulan olahraga Soko pada 1896. “Dia seorang yang antusias terhadap sepakbola dan merasa punya misi mengenalkannya ke publik di Serbia. Setelah kembali dari Jerman, dia menggelar pertandingan persahabatan antara dua tim yang berisi teman-temannya dan para atlet perkumpulan Soko pada 19 Mei 1896 di salah satu taman di Beograd, setelah lebih dulu memberi briefing singkat tentang aturan main sepakbola,” ungkap Zec. Kendati laga itu diliput banyak wartawan, publik Serbia belum banyak yang kepincut permainan 22 pria berebut sebutir bola itu. Para penonton yang belum paham betul permainan si kulit bundar heran mengapa permainan itu hanya boleh dimainkan dengan kaki. “Meski begitu, Buli dan perkumpulan Soko terus mempromosikan olahraga anyar itu dan beberapa tahun kemudian, tim amatir pertama didirikan. Pada 1899, anggota-anggota Soko: Buli, Mihajlo Živadinović, Bernar Robiček, Velizar Mitrović, Marko Milutinović, dan Blaža Barlovac, membentuk Prvo srpsko društvo za igru loptom (perkumpulan Serbia pertama yang bermain sepakbola),” lanjut Zec. Namun kesebelasan itu sekadar perkumpulan di bawah naungan Soko, bukan klub sepakbola yang berdiri sendiri. Maka ia tak bisa dihitung sebagai klub tertua Serbia . Hugo Buli, "Bapak Sepakbola Serbia" yang nahasnya tewas di kamp konsentrasi Nazi di Beograd pada 1941 (Foto: geni.com/yadvashem.org ) Klub yang didirikan Buli cs. itu tak didukung pemerintah kerajaan. Akibatnya, sepakbola berkembang lambat. Tapi sepakbola menarik minat beberapa pihak yang lantas turut mendirikan klub, meski tetap bernaung di bawah perkumpulan olahraga lain laiknya Soko. Selain FK Bačka pada 1901, klub-klub awal di Serbia yang berdiri adalah Concordia (1903), Šumadija (1904), Srpski mač (1905), Dušan Silni (1908), Vihor, dan Deligrad (1909). “Jelang Perang Dunia I, sepakbola baru tumbuh dengan sangat cepat, baik di Beograd maupun kota-kota lain. Pada 1914 saja angka pesepakbola aktif sudah sekitar tiga ribu pemain yang tersebar di kota-kota seperti Čačak, Leskovac, Sokobanja, Smederevska Palanka, Natalinci, Zaječar, serta Niš. Beogradski Sport Klub (BSK) dan Velika Srbija (keduanya berdiri 1911) kemudian jadi dua klub paling sukses dan populer dalam sejarah Serbia pra-komunis,” sambung Zec. Velika Srbija yang di kemudian hari berubah nama menjadi SK Jugoslavija dan bubar pada 1945, jadi klub pertama yang memenangkan kejuaraan resmi antarklub Serbia, sebuah kejuaraan yang digelar Komite Olimpiade Serbia pada musim semi 1914. Ironisnya, tak lama kemudian Kekaisaran Austria-Hungaria mendeklarasikan perang terhadap Serbia, mengakibatkan roda kegiatan sepakbola Serbia terhenti. Zaman Edan Sepakbola Serbia Hingga Perang Dunia I pecah, Serbia belum sempat mendirikan federasi sepakbola. Kesempatan memiliki federasi sepakbola sendiri hilang karena pasca-Perang Dunia I Serbia jadi bagian Yugoslavia bersama Kroasia, Bosnia, Herzegovina, dan Slovenia. Alhasil, Beogradski loptački podsavez atau Sub-asosiasi Sepakbola Beograd yang berdiri pada 12 Maret 1920, bernaung di bawah FSJ (Asosiasi Sepakbola Yugoslavia). Namun sub-asosiasi Beograd turut membentuk timnas Yugoslavia pertama untuk ikut Olimpiade Antwerp 1920. Sejak 1923, sub-asosiasi Beograd juga turut menyertakan tim-tim Serbia dalam Liga Utama Yugoslavia. Kolase Milovan Jakšić, kiper andalan Timnas Yugoslavia di Piala Dunia 1930 yang merupakan jebolan klub Soko (Foto: fifa.com ) Geliat sepakbola di Serbia vakum lagi dengan pecahnya Perang Dunia II. Banyak pemainnya tinggal nama, baik karena ikut angkat senjata bersama barisan Partizan dan Chetnik maupun akibat ditahan di kamp konsentrasi Nazi-Jerman. Buli si “Bapak Sepakbola Yugoslavia” salah satunya. Ia dimasukkan ke kamp konsentrasi Topovske Šupe di Beograd pada 1941 dan jadi korban holocaust . Usai Perang Dunia II, para pemain Serbia menjadi tulang punggung timnas Yugoslavia. Mereka turut menikmati rangkaian prestasi medali perak Olimpiade 1948 dan 1952, serta runner-up Piala Eropa 1960 dan 1968. Namun memanasnya situasi politik yang berbuah konflik pada 1990-an membawa sepakbola Serbia memasuki “zaman edan”. Dalam How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization, Franklin Foer menguraikan, pada 1990-an terdapat dua klub paling sengit rivalitasnya yang lazimnya memuncak pada aksi-aksi anarkisme suporter, yakni Red Star Beograd dan Partizan Beograd. Red Star juga berseteru dengan Kroasia. “Orang Kroasia, polisi, tidak ada bedanya. Akan saya habisi mereka semua,” kata Krle, pentolan Ultras Bad Boys, suporter fanatik Red Star, saat ditanya Foer tentang siapa yang paling mereka benci. Suporter Red Star Beograd (kini FK Crvena Zvezda) yang dikenal sangar di seantero Serbia (Foto: crvenazvezdafk.com ) Kroasia mereka benci lantaran Perang Yugoslavia (1991-1999). Sementara, polisi mereka benci lantaran memonopoli kepemilikan klub sepakbola bersama militer. Lucunya, Red Star sendiri dimiliki Kepolisian Serbia, Sementara musuhnya, Partizan Beograd, dimiliki militer. Dua tim sekota inilah yang paling dahsyat rivalitasnya, acap berimbas pada aksi kekerasan di luar stadion. “Fans Partizan pernah membunuh suporter Red Star berumur 15 tahun. Ia sedang duduk di stadion, mereka tembak dadanya. Monster-monster itu membunuh si bocah. Mereka tak tahu batas,” imbuh Krle menguraikan mula perseteruan mereka dengan suporter Partizan. Kejadian itu sekadar puncak gunung es dari “api dalam sekam” rivalitas kedua klub. Kebencian para suporter Red Star yang merupakan kaum nasionalis, sudah mencapai ranah harga diri dan ideologis sehingga menstimulasi aksi fisik saat Yugoslavia memasuki perpecahan. “Tentara melambangkan musuh dari cita-cita mereka. Ideologi tentara komunis menolak gagasan identitas separatis Serbia. Haram bagi soliditas buruh dan kerukunan etnis. Para pengikut Josip Broz Tito yang namanya dipakai untuk kesebelasan tentara (Partizan Beograd), telah membunuh Chetnik, pasukan nasionalis Serbia yang juga telah memerangi Nazi. Red Star pun jadi wadah bagi nasionalis Serbia yang bercita-cita merebut kembali martabat bangsanya,” sambung Foer. Željko ‘Arkan’ Ražnatović, penjahat perang dalam Konflik Balkan cum pentolan kelompok suporter Delije (Foto: dnevnik.ba/fcobilik.co.rs ) Situasi makin runyam karena pemerintah dan aparat keamanan Serbia mendukung suporter-suporter garis keras macam hooligan Inggris itu. Selain Ultras yang beranggotakan campuran dari beragam kalangan, mulai pekerja kantoran hingga mantan tukang pukul dan anggota geng, kelompok yang paling dihormati adalah Delije. Basis suporter ini dikomando Željko ‘Arkan’ Ražnatović, yang dalam Perang Balkan membentuk milisi SDG (Garda Sukarela Serbia). Lewat SDG itulah kelompok Arkan angkat senjata dalam Perang Balkan. Arkan kemudian ditetapkan sebagai penjahat perang karena membantai banyak sipil Bosnia. Saat ini, ketika Serbia telah menjadi negeri sendiri, rasisme di dalam sepakbola tetap bertahan. Sebagaimana dikatakan Coach Timo, rasisme jadi “jalan” lain aksi kekerasan suporter di sana. Di level timnas pun masih acap terjadi. Pada September 2019 dalam Kualifikasi Euro 2020, contohnya. Kala Serbia menjamu Portugal di Stadion Rajko Mitić itu, fans Serbia melancarkan teror rasisme nyaris sepanjang laga kepada para pemain berkulit hitam Portugal. Akibatnya Federasi Sepakbola Serbia didenda 33.250 euro dan dihukum dengan memainkan dua laga kandang berikutnya tanpa penonton. Semoga Witan punya mental sekuat baja seandainya diteror rasisme baik dari suporter lawan maupun suporter FK Radnik itu sendiri.

  • Makanan Kaleng Merentang Zaman

    PEMERINTAH Prancis mendeklarasikan sebuah sayembara unik pada 1795. Isinya: dicari orang yang mampu mengawetkan makanan. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, yakni uang sejumlah 12.000 franc (setara 167 juta dalam kurs rupiah saat ini). Penggagas hajatan itu adalah Napoleon Bonaparte, jenderal Prancis terkemuka. Saat itu, Napoleon membutuhkan metode pengawetan makanan untuk menyokong logistik konsumsi pasukannya dalam persiapan menginvasi berbagai negara.

  • Israel Nyaris Tenggelamkan Kapal Angkatan Laut AS

    RABU (8 Juni 1967) pagi yang tenang di geladak kapal riset dan intelijen maritim AL AS USSLiberty seketika berubah mencekam ketika “tamu tak dikenal” mendekatinya. “Sesaat sebelum pukul 09.00 (waktu setempat), dua pesawat jet bermesin tunggal dan bersayap delta, mengorbit dekat Liberty tiga kali pada posisi 31-27Utara, 34-00Timur. Ketinggian pesawat diperkirakan 5.000 kaki, berjarak sekitar dua mil. Liberty memberitahu Komando atasannya, Armada Keenam dan yang lainnya tentang pengintaian ini, dan menyatakan bahwa identifikasi tidak diketahui dan belum ada laporan penguat yang akan diajukan,” tulis William D. Gerhard dalam Attack on the USS Liberty . Laut tempat Liberty berlayar itu, 13 mil lepas pantai Semenanjung Sinai, Mesir, merupakan area pertempuran pihak Israel dan pihak negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari. Saat itu perang tersebut memasuki hari ketiga. Meski AS menyatakan netral dalam perang tersebut, negeri “Paman Sam” tetap berkepentingan terhadap daerah itu sehingga mengirim Liberty untuk melakukan misi pengumpulan sinyal intelijen. “Washington menghabiskan pagi 8 Juni seperti hari-hari sebelumnya, memantau perang dari jarak aman,” tulis Michael B. Oren dalam Six Days of War: June 1967 and the Making of the Modern Middle East . Liberty yang mondar-mandir antara Al-Arish dan Port Said itu berlayar sendirian. Permintaan pengawalan menggunakan kapal perusak (destroyer) yang diminta Komandan Liberty William L McGonagle, ditolak Panglima Armada ke-6, berbasis di Mediterania, Laksamana William Martin. Menurut Martin, semua atribut yang dimiliki cukup untuk menunjukkan Liberty sebagai kapal AS dan jalur pelayaran yang digunakan Liberty merupakan perairan internasional. Dengan dua indikator tersebut, Liberty dianggapnya cukup aman dari penargetan serangan pihak-pihak yang berperang. Alhasil, Liberty mesti berlayar sendiri di jalur lalu lintas niaga internasional yang sebetulnya telah ditutup oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser sejak perang pecah. Pelayaran Liberty akhirnya mencurigakan pihak Israel. Selain karena Liberty tak memberitahukan keberadaannya, perwakilan AS di Israel juga tak pernah memberitahukan keberadaan kapal itu. Padahal  saat hari pertama perang, Panglima AU Israel Jenderal Yitzhak Rabin memberitahu atase AL AS di Tel Aviv Ernest Carl Castle agar AS mengevakuasi semua kepentingannya dari wilayah pertempuran atau minimal memberitahukan keberadaan kapal-kapalnya di area itu. Maka setelah beberapa penerbangan pengintaian dilakukan AL Israel sejak pagi 8 Juni, Markas AL Israel di Haifa menandai Liberty dengan titik merah alias kapal tak dikenal. Kecurigaan Israel makin besar lantaran dari semua misi pengintaian yang dibuatnya tak satu pun pilot melaporkan telah melihat bendera Amerika berukuran lima kali delapan kaki berkibar di Liberty . Misi pengintaian Israel itu jelas diketahui para awak Liberty. Pesawat-pesawat Israel itu bahkan bisa diidentifikasi dengan jelas. Namun para awak Liberty tak menaruh curiga karena mengira pesawat-pesawat Israel itu sedang mencari kapal selam Mesir yang belum lama melintas dekat Liberty . Para awak Liberty , termasuk Komandan McGonagle, tak pernah tahu hari itu merupakan jadwal Israel melancarkan operasi pengamanan pantainya. Misi itu hanya diketahui oleh Atase AL Castle, yang diberitahu Rabin beberapa saat sebelum operasi itu dimulai. Dalam pemberitahuan itu, Rabin menyarankan Castle agar AS memindahkan semua kapalnya dari perairan sebelum operasi dimulai, sebab semua kapal tak dikenal yang berlayar lebih dari 20 knot –kecepatan yang saat itu hanya bisa dijangkau oleh kapal perang– akan dimusnahkan. Peberitahuan Rabin itu tidak sampai ke awak Liberty . Ketika sebuah ledakan besar mengguncang pesisir Al-Arish pukul 11.26 waktu setempat, Israel mengganggapnya sebagai serangan pasukan Mesir terhadap pasukannya di darat sebagai pendahuluan bagi pendaratan pasukan amfibi Mesir. Israel meresponnya dengan mengirimkan tiga kapal torpedo dari Skadron 914, yang disandikan Pagoda, ke lokasi pada pukul 12.05. Celakanya, ke tempat itulah Liberty melanjutkan pelayarannya. Pukul 13.41, Aharon Yifrah, perwira informasi tempur di kapal T-204 Skuadron Pagoda, memberitahu Komandan Moshe Oren atasannya bahwa sebuah kapal tak dikenal terlihat di 22 mil timur-laut dari Al Arish. Kecepatan kapal itu, kata Yifrah, 30 knot dan bergerak ke arah Mesir. Informasi itu, tulis Michael B. Oren, “membuat Oren menyimpulkan bahwa ini adalah kapal musuh yang melarikan diri ke pelabuhan asalnya setelah menembaki posisi Israel.” Tiga kapal torpedo AL Israel pun memburu Liberty . Pemburu Liberty bertambah setelah kepala Operasi AL Israel meminta dukungan udara kepada AU Israel, yang menindaklanjutinya dengan mengirim dua pesawat tempur Mirage III. Menjelang pukul 14.00, jet-jet tempur Israel telah mendapati posisi Liberty . Sepanjang komunikasinya dengan kapal-kapal Skuadron Pagoda, para pilot jet tempur Israel terus mengidentifikasi Liberty untuk mendapatkan kepastian ia bukan kapal Soviet atau kapal Amerika. Para petugas di kapal-kapal torpedo Israel menyimpulkan, kapal buruan mereka merupakan kapal logistik Mesir El Quseir . Sementara itu, kata Oren, “(Iftah, red .) Spector (salah satu pilot AU Israel) mendapati kapal (buruannya) dan mengidentifikasinya pada ketinggian 3.000 kaki. Yang dilihatnya ‘sebuah kapal militer, kapal perang abu-abu dengan empat senapan, dengan haluan mengarah ke Port Said ... satu tiang berikut satu cerobong asap.’ Terlepas dari beberapa ‘huruf hitam’ di lambung, kapal itu tidak punya tanda-tanda lain. Deknya tidak dicat dengan salib biru dan putih yang membedakan semua kapal Israel. Pilot menyimpulkan bahwa ini adalah "Z", atau perusak kelas Hunt ( destroyer Mesir buatan Inggris), dan karena pesawatnya hanya dipersenjatai dengan kanon, ia meminta jet tambahan yang sarat dengan bom besi.” Di geladak Liberty , para awak baru saja menyelesaikan latihan penanganan serangan kimia yang rutin digelar sejak bulan sebelumnya. Karena status kesiapan ditetapkan pada Mode 3, di empat senapan mesin kalibaer 50 yang dimiliki Liberty pun diisi kru yang bersiaga. Para kru lain juga bersiaga memasok amunisi untuk senjata-senjata lainnya. Pada saat itulah dua Mirage III Israel menurunkan ketinggian dan mendekati Liberty. Komandan McGonagle terus mengamatinya dari jembatan Liberty menggunakan binokular. “Komandan McGonagle mengamati sebuah pesawat jet bermesin tunggal yang tampak serupa, jika tidak identik, dengan yang terlihat sebelumnya pada hari itu. Dengan sebuah pesawat yang diamati lewat teropongnya, komandan tak menyadari ada pesawat kedua yang melintas dari sisi kiri untuk meluncurkan roket yang diarahkan ke jembatan. Ketika roket itu meledak dua tingkat di bawah jembatannya, McGonagle memerintahkan agar sirene dibunyikan,” tulis Gerhard. Setelah meroket Liberty , Mirage-Mirage Israel itu memberondong kapal nahas itu. Badan Liberty langsung dipenuhi ratusan lubang dan tong bahan bakar di geladaknya meledak akibat berondongan itu. "Adegan di Liberty  adalah neraka. Orang-orang dengan luka bakar mengerikan, tubuh mereka terkoyak pecahan peluru, berebut ke ruang tunggu ke ruang kecil yang telah diubah menjadi rumah sakit darurat. Para pelaut berbadan sehat lainnya dengan panik membakar kertas-kertas rahasia dan mengibarkan bendera besar Amerika, untuk menggantikan bendera angkatan laut asli yang telah rusak ditembak. Tak satu pun dari mereka yang tahu siapa penyerang itu. Kebanyakan mengira mereka pesawat-pesawat MiG Mesir," tulis Oren. Sembilan awak Liberty tewas seketika –versi lain menyebut 8– dan 75 lainnya luka-luka, beberapa di antaranya kemudian tewas karena luka terlalu parah. Komandan McGonagle sendiri tertembak lengan dan paha kanannya. Alih-alih menerima perawatan medis di ruang pengobatan, McGonagle memilih untuk melanjutkan tugasnya dengan memerintahkan para kru senjata melakukan tembakan balasan. Dia lalu mengirim kawat ke Armada ke-6 agar segera mengirim bantuan karena kapalnya diserang. Tembakan balasan Liberty membuat kapal-kapal torpedo Israel balik menembak. Tembakan kanonnya langsung menewaskan juru mudi Liberty. Beberapa saat kemudian, lime torpedo dilepaskan kapal-kapal Israel. Satu di antaranya langsung menembus sisi kanan bangunan utama Liberty dan menghancurkan ruang penelitian. Dua puluh lima prajurit, mayoritas dari bagian intelijen, langsung tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat torpedo itu. Para pilot dan pelaut Israel lalu dibuat heran. Selain sejak awal kapal buruannya tak pernah memberi respon, tembakan balasan pun hanya sebentar dan berhenti sejak torpedo dilepaskan. Mereka akhirnya dibuat kaget ketika salah satu sekoci Liberty yang mereka sergap ternyata menampilkan tanda AL AS. Pukul 15.30 semua personil Israel akhirnya sadar melakukan serangan ke target yang salah, yakni kapal AL AS.    Berita salah serang itu akhirnya sampai ke markas besar militer Israel. Israel langsung mengirimkan permintaan maaf kepada Amerika melalui Castle, yang meneruskannya ke Armada ke-6 untuk kemudian diteruskan ke Washington –yang diterima Presiden Lyndon Johnson hampir dua jam kemudian. “Saya harus akui perasaan saya campur aduk tentang berita tersebut – penyesalan mendalam karena telah menyerang sahabat-sahabat sendiri dan perasaan amat lega bahwa kapal yang diserang itu bukan kapal Soviet,” kata Rabin. Permintaan maaf itu membuat Laksamana Martin memanggil pulang pesawat-pesawat tempur AS yang diterbangkan dari kapal induk USS America untuk memberi bantuan pada Liberty . Pukul 17.05, Liberty yang hampir tenggelam akhirnya terhuyung-huyung melanjutkan pelayaran menuju Malta dengan 34 awak yang tewas dan 171 terluka di dalamnya. Meski awalnya membuat semua pihak AS marah, Presiden Johnson akhirnya setuju dengan tawaran Israel berupa pembayaran kompensasi. Sebanyak 12 juta dolar uang kompensasi akhirnya dibayarkan Israel kepada keluarga para korban. Jonhson lalu membiarkan penyelesaian insiden itu dengan memfokuskan perhatian ke tempat-tempat lain seperti Vietnam, membuat selubung misteri Insiden USS Liberty masih belum terbuka seluruhnya meski berbagai investigasi, termasuk yang dibuat AL AS dan pemerintah Israel, telah diselesaikan beberapa tahun kemudian. “Tuduhan paling tersebar luas menyatakan bahwa Israel –khusunya Menhan Mose Dayan – menginginkan agar Liberty dimusnahkan untuk menyembunyikan persiapan penyerangan ke Suriah,” tulis Michael B. Oren.

  • Artati Marzuki, Menteri PD dan K di Tengah Konflik Departemen

    MENYUSUL terjadinya krisis internal di tubuh Departemen Pendidikan, pemerintah menunjuk  Artati Marzuki Sudirdjo sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (PD dan K) pada Agustus 1964. Artati dianggap mampu melanjutkan jalannya roda departemen itu meski tak punya jejak karier dalam dunia pendidikan. Kariernya didominasi sebagai diplomat, sejak 1949. Sebelum menjadi Menteri PD dan K, Artati yang lahir di Salatiga pada 15 Juni 1921 bekerja di Komite Urusan Luar Negeri dan sebagai Panitia Persiapan Penyerahan Kedaulatan Republik Indonesia pada 1949. Sejak 1950 ia menjadi perwakilan tetap Indonesia pada berbagai pertemuan PBB. Dalam Menteri-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sejak Tahun 1966, Sumardi menyebut keaktifan dan kepintaran Artati membuatnya diberi gelar Minister Counsellor oleh Kedutaan Besar RI di Roma. Penunjukan Artati sebagai menteri PD dan K bertujuan utama untuk menertibkan lingkaran dalam departemen, menciptakan suasana kerja yang baik, dan membuat instansi tersebut terbebas dari polarisasi politik. Sebelum Artati menjabat, Departemen Pendidikan terbagi menjadi dua blok. Blok pertama terdiri atas pejabat dan pegawai beraliran komunis yang bergabung dengan Serikat Sekerja Pendidikan (SSP). Sebagian lain ialah pekerja pendidikan yang juga anggota partai politik (PNI) dan berideologi agama, yang bergabung dengan Serikat Sekerja Pendidikan dan Kebudayaan (SSPK). Artati Marzuki. Benih-benih pertentangan politik mulai bersemi di lingkungan PD dan K sejak awal 1960-an. Sebagai akibatnya, PGRI makin sulit mempertahankan sifat independennya karena baik SSP maupun SSPK saling berusaha menguasai situasi. Mereka saling berlomba untuk menentukan arah kebijakan departemen, khsusunya yang berupa program pendidikan dan kebudayaan nasional. Pertentangan dua kelompok tersebut terjadi bersamaan dengan polarisasi kekuatan politik di lingkungan masyarakat, antara kelompok aliran nasionalis, agamis, dan komunis. Pada 1960, Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan (PP dan K) Prof. Prijono mengajukan konsep Panca Wardhana sebagai sistem pendidikan nasional dan Manipol-Usdek sebagai dasar pendidikan nasional. Panca Wardhana berisi perkembangan Cinta Bangsa dan Tanah Air, Moral, Nasional, Internasional, Keagamaan; Perkembangan Intelegensia; Perkembangan Emosional, Artistik atau Rasa Keharuan dan Keindahan Lahir Batin; Perkembangan Kerajinan Tangan; dan Perkembangan Jasmani. Konsep itu mulanya tak menimbulkan gejolak. Kelompok Maerhaenis dan agama bisa menerimanya. Ditambah lagi, Pancasila dimasukkan sebagai sistem pendidikan nasional sebagai falsafah dalam Panca Wardhana. Gejolak konflik dimulai ketika pada 16-18 Februari 1963 Lembaga Pendidikan Nasional yang berafiliasi dengan PKI menyelenggarakan seminar “Pendidikan Mengabdi Manipol”. Dr. Busono Wiwoho dari UGM menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut. Dalam kesempatan itu, Busono menyampaikan Panca Cinta: Cinta pada nusa-bangsa, ilmu pengetahuan, kerja dan rakyat bekerja, perdamain dan persahabatan antar bangsa-bangsa, dan orang tua. Menurut Busono, Panca Cinta itu merupakan inti dari Panca Wardhana. Seminar ini menjadi puncak pergolakan kelompok agamis dan marhaenis melawan kelompok komunis dalam Departemen Pendidikan. Kelompok marhaenis dan agamis menuduh Panca Cinta menghilangkan sila pertama Pancasila. Kekisruhan itu memaksa Menteri Prijono menengahi dengan mengatakan bahwa Panca Wardhana dan Panca Cinta tidak saling bertentangan, namun saling mengisi. Namun, para marhaenis dan agamis menganggap seminar itu tetap mengaburkan sila 1 Pancasila. Konflik antara SSPK dan SSP meningkat di dalam tubuh Departemen Pendidikan dengan penyelenggaraan seminar tandingan, “Penegasan Pancasila sebagai Dasar Pendidikan Nasional”, yang diselenggarakan kelompok marhaen dan agama pada 16-17 Juli 1963. Hasil seminar ini diajukan pada presiden untuk menetapkan keputusan tegas mengenai sistem pendidikan nasional. Buahnya adalah Penpres No. 19 1965 tentang Pokok-Pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila. Namun polarisasi politik dalam tubuh Kementerian P dan K tak dapat dibendung. Posisi Prof. Prijono pun digantikan oleh Artati Marzuki. Sementara, Prof. Prijono naik menjadi menteri koordiantor yang membidangi Kompartemen Pendidikan dan Kebudayaan  dalam Kabinet Dwikora. Suradi HP dalam Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan menyebut, boleh dikatakan patokan-patokan penting yang telah digariskan oleh menteri sebelumnya tidak mengalami perubahan. Tugas utama Artati adalah meredakan konflik dalam tubuh Departemen Pendidikan. “Kebudayaan kita harus bersifat anti-imperialisme, anti-feodalisme, dan anti-neokolonialisme. Kebudayaan kita harus bersifat kebudayaan rakyat yang progresif revolusioner,” kata Artati dalam pidatonya sebagai menteri, 28 Mei 1965, seperti dimuat dalam Harian Rakjat.

  • Kematian 5 Mahasiswa Indonesia di Belanda

    Permulaan abad ke-20, banyak bangsawan di Hindia Belanda yang mulai berminat belajar ke Belanda. Sejak Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak Kartini, menjadi generasi pertama orang Indonesia yang bersekolah di Belanda, para bangsawan berlomba menyekolahkan anaknya di sana. Mereka berharap memperoleh pengetahuan untuk membangun dan menjaga kekuasaannya. Di samping urusan gengsi antar bangsawan. Namun persoalan hidup di Belanda bukanlah perkara mudah bagi orang Indonesia. Keadaan iklim dan kebiasaan makan (termasuk jenis makanan) yang berbeda menjadi sebab banyak dari mereka yang kemudian jatuh sakit. Bahkan hingga menelan korban jiwa dalam kasus tertentu. Dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, sejarawan Harry A. Poeze mencatat jika antara 1913-1920 terdapat 5 orang Indonesia yang meninggal. Baca juga:  Orang Indonesia Pertama di Kabinet Belanda Mengingat kecilnya jumlah keseluruhan mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di sana, dan dalam umur muda pula, angka kematian itu memang cukup menjadi sorotan. Karena itu beberapa kali para pejabat Belanda dan para ahli mengemukakan kalau menempuh pendidikan di Eropa bukan pilihan yang bagus bagi orang Indonesia, utamanya jika ditinjau dari segi kesehatan. Perlu adanya penyaringan yang ketat untuk hal tersebut. “Meninggalnya orang-orang muda di tempat yang jauh dari tanah-airnya itu merupakan tragedi yang luar biasa,” ungkap Poeze. Berikut 5 mahasiswa Hindia Belanda (Indonesia) yang meninggal dunia saat proses studi di Belanda. Raden Mas Ario Notowirojo Raden Mas Ario Notowirojo tercatat sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang wafat ketika sedang menempuh studi di Belanda. Ario Notowirojo meninggal pada April 1913, dalam usia 22 tahun. Ia meninggal akibat penyakit TBC (tuberculosis) yang dideritanya ketika sudah tinggal di Belanda. Ario Notowirojo tiba di Amsterdam pada 1910 untuk mengikuti pendidikan di sekolah dagang. Sebelum meninggal ia sempat mendapat perawatan di Swiss. Namun usaha medis itu tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Kematian Ario Notowirojo itu menjadi pukulan berat bagi Praja Pakualaman. Karena Ario Notowirojo adalah putra Paku Alam VII, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo (1882-1937). Praja Pakualaman berdiri pada 17 Maret 1813 di bawah pimpinan Bendara Pengeran Harya Natakusuma, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I. Pemerintahan Pakualaman berada di wilayah Yogyakarta. Namun status kekuasaannya tidak lebih besar dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Baca juga:  Kantor Sultan Yogyakarta Diserbu Belanda Kematian Ario Notowirojo begitu membekas di kalangan orang-orang Belanda, utamanya yang mengenal sosok almarhum. Pejabat Hindia Belanda Jacques Henrij Abendanon bahkan sampai menulis artikel peringatan kematian Notowirojo di Voordracten en Mededeelingen van de Indische Vereeniging . Ario Notowirojo, kata Abendanon, datang ke Belanda dengan semangat yang tinggi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agar dapat memimpin pemerintahan di negerinya. Ia disebut berkeinginan kuat membawa kemajuan di bidang ekonomi, terutama dalam kaitannya dengan perdagangan dan industri. Mempelajari perekonomian dunia diyakini Ario Notowirojo sebagai jalan tercepat mewujudkan mimpinya itu. “Ada hal-hal lain yang menyebabkan semua orang yang mengenal Notowirojo akan selalu mengenangnya dan menyesalkan kepergiannya yang terlalu dini itu, yaitu kelembutannya, budi pekertinya yang menyenangkan, kemauannya yang keras, dan semangat yang memancar di matanya. Semangat ini, hasrat jiwanya untuk hidup dan bekerja demi bangsa ini, tidak akan hilang. Ia akan hidup terus di hati ribuan orang,” tulis Abendanon. Raden Basoeki Raden Basoeki (Repro  Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Mahasiswa Indonesia selanjutnya yang juga meninggal dunia akibat penyakit TBC adalah Raden Basoeki. Ia tutup usia pada September 1915, dalam usia 21 tahun. Raden Basoeki tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Pertanian Tinggi di Wageningen, Belanda. Ia juga merupakan putra Atmodirono, arsitek pertama di pemerintahan Hindia Belanda yang berasal dari golongan pribumi. Dalam majalah mahasiswa Wageningen ditulis sebuah kenangan tentang detik-detik terakhir hidup Raden Basoeki yang cukup menyayat hati. Seperti dikutip Poeze: “Di dalam matanya saya baca keinginan yang sangat untuk melihat tanah kelahirannya di selatan yang kaya sinar matahari. Ia hanya bisa menyembuhkan diri di bawah naungan pohon palem dan beringin di tanah airnya yang menyenangkan dan selalu hijau. Terasa oleh saya, untuk dia meninggal begitu jauh dari tanah air, dari orangtua, dari handai taulan itu sungguh mengerikan. Basoeki menderita dengan diam dan tabah, seperti biasa pada orang-orang sebangsanya.” Baca juga:  Raja Nusantara di Penobatan Ratu Belanda Penghormatan terhadap sosok Raden Basoeki juga datang dari Abendanon. Dalam majalah Koloniaal Weekblad , sang pejabat Hindia Belanda ini memberi laporan perihal pemakaman almarhum. Ahli hukum Belanda Conrad Theodore van Deventer mendapat kesempatan berbicara saat upacara pemakaman. Ia hadir sebagai ketua Tjandistichting (Perhimpunan Yayasan Tjandi) yang melakukan pengawasan terhadap sejumlah mahasiswa Indonesia, termasuk Raden Basoeki. Van Deventer menyebut kematian Raden Basoeki cukup mendadak karena sembilan hari sebelum kematiannya mereka sempat bertemu dan si mahasiswa terlihat baik. Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio (Repro  Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Kematian Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio menjadi yang paling mengejutkan. Musibah yang menimpa keluarga Praja Mangkunegaran itu diratapi oleh kaum elit Jawa. Peran Raden Soebandrio begitu diharapkan keluarga Mangkunegaran dalam proses pembangunan Praja Mangkunegaran di wilayah kekuasaannya, Surakarta. Praja Mangkunegaran sendiri berkuasa di Surakarta sejak 1757 sampai 1946. Kerajaan otonom ini merupakan pecahan dari Dinasti Mataram, yang dikenal sebagai Wangsa Mangkunegaran. Namun praja ini tidak memiliki otoritas sebesar Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Para penguasa Mangkunegaran bergelar “Pangeran Adipati Arya” karena mereka tidak berhak menyandang gelar “Sunan” atau “Sultan”. Penguasa pertama praja ini adalah Raden Mas Said, dengan gelar Mangkunegara I. Raden Mas Soebandrio merupakan adik dari Mangkunegara VII, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria. Bastomi S dalam Karya Budaya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara I-VIII , menyebut jika putra-putri Mangkunegara V (ayah Raden Mas Soebandrio) berjumlah 28 orang. Mangkunegara VII adalah anak ketujuh, sementara keterangan mengenai urutan ke berapa Raden Mas Soebandrio di dalam persaudaraan yang besar itu tidak dijelaskan. Baca juga:  Mengintip Masa Lalu dari Mangkunegaran Kegiatan studi Raden Mas Soebandrio di Belanda tersebut sebenarnya mengikuti jejak kakaknya. Diketahui Mangkunegara VII pernah mengenyam pendidikan di Universitas Leiden, Belanda, selama 3 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Mangunegaran untuk menggangikan pamannya, Mangkunegara VI yang mengundurkan diri pada 1916. Selama berada di Negeri Belanda, Raden Mas Soebandrio tinggal bersama Noto Soeroto, yang kemudian hari dikenal sebagai penyair Jawa pertama yang karya-karyanya dikenal dalam ranah kesusastraan Belanda. Si Penyair mengajarkan banyak hal kepada Raden Mas Soebandrio, utamanya pendalaman bahasa-bahasa Barat yang dikuasainya. Athanasius Djajeng-Oetama Nisan Athanasius dan Linus (Repro  Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Athanasius Djajeng-Oetama adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan keagamaan di Belanda. Ia datang bersama 4 mahasiswa lainnya antara tahun 1916-1920. Mereka dikirim oleh kelompok pater Jesuit yang mendirikan beberapa sekolah di Muntilan, Jawa Tengah. Melalui sekolah-sekolah inilah, agama Katholik tersebar. Banyak murid yang diarahkan untuk menjadi pendeta. Sehingga pendidikan Katolik-Roma di Belanda penting untuk diikuti. Athanasius merupakan orang beruntung yang berkesempatan menimba ilmu keagamaan di Belanda. Namun takdir memaksa Athanasius melupakan cita-citanya menjadi pendeta. Ia wafat sebelum dapat menyelesaikan pendidikannya. Mahasiswa ini meninggal dunia pada Maret 1918 setelah berjuang melawan suatu penyakit ganas selama beberapa minggu. Tidak ada informasi tentang jenis penyakit apa yang diderita Athanasius. Meski begitu perjuangannya tergambar jelas di dalam Majalah St. Claverbond tahun 1918. Hari-hari terakhir Athanasius dihabiskan dengan berdoa bersama para pendeta dan suster yang merawatnya di gereja. Ia telah berjuang melawan penyakitnya. Namun kondisinya terus menurun dan tidak ada dokter yang mampu menyembuhkannya. Para pendeta pun sudah melakukan kebaktian terakhir baginya. Baca juga:  Langkah Awal Anak Pendeta “Sama sekali tidak dibesar-besarkan, bahwa meninggalnya Athanasius dirasakan sekali oleh semua orang di sekitarnya. Mereka merasakan betapa indah dapat dimakamkan bersama dia,” ditulis majalah St. Claverbond. Athanasius memang dikenal memiliki kepribadian yang baik. Ia pintar dan mudah untuk bergaul. Karenanya banyak orang yang merasa kehilangan sosok pemuda Jawa yang baik hati ini. Pemakaman Athanasius dilangsungkan di taman pemakaman di Noviciaat di Mariendaal. Upacara pelepasan dilakukan langsung oleh Kepala Biara. Keluarganya dari Jawa turut hadir. Kawan-kawan sesama mahasiswa di Belanda pun banyak yang menghadiri pelepasan Athanasius. Linus Sardal Pontja-Soevonda Sama seperti Athanasius, Linus Sardal Pontja-Soevonda juga terdaftar sebagai mahasiswa keagamaan di Belanda. Linus datang bersama rombongan calon pendeta Jawa antara tahun 1916-1920. Nasibnya sama-sama kurang beruntung seperti Athanasius. Ia meninggal dunia pada April 1920 akibat penyakit TBC. Linus telah berkali-kali terhindar dari kematian. Secara medis hidup Linus seharusnya sudah berakhir sejak 1919. Namun ia mampu bertahan. Diketahui para pendeta telah melakukan tiga kali pembacaan doa terakhir untuknya –berarti tiga kali pula Linus terhindar dari kematiannya. Setiap kali Linus terhindar dari kematian, kondisi fisiknya ikut kembali prima. Ia bahkan tidak terlihat seperti orang yang baru saja sakit. Namun pada Maret 1920, kondisi Linus benar-benar kritis. Setiap orang yang melihatnya berharap kematian kembali menghindari Linus. Tetapi tubuhnya sudah tidak dapat menahan penderitaannya. 6 April 1920 semua kerabat telah berkumpul. Hari berikutnya Linus pergi untuk selamanya. Ia lalu dimakamkan di pemakaman Noviciaat Sarikat Jesus. “Kalau Linus sudah di surga, Linus akan mengkristenkan seluruh Jawa,” ucap pendeta yang mempin upacara pemakaman. Kematian Athanasius dan Linus sempat membuat gempar. Banyak calon pendeta dari Jawa yang akhirnya enggan pergi menuntut ilmu ke Belanda. Mereka takut kejadian kedua pendahulunya itu menimpa mereka. Namun tahun-tahun setelahnya, keadaan kembali normal. Banyak calon pendeta yang kembali pergi ke Belanda. Baca juga:  D.I. Pandjaitan, Balada Jenderal Pendeta

  • Eksotiknya Akar Sejarah Karnaval Rio

    JUTAAN orang sudah bersiap menyambut pesta jalanan terbesar di dunia, Carnaval do Rio de Janeiro alias Karnaval Rio di Brasil. Ajang itu menghadirkan parade ribuan penari dan peserta karnaval berkostum flamboyan, glamor, eksotis hingga vulgar. Tahun ini karnaval itu “direcoki” kecemasan akan virus corona  yang tengah mewabah di 27 negara dan menjangkiti sekira 60 ribu orang di seluruh dunia. Karnaval Rio biasanya digelar tahunan selama sepekan, dimulai setiap hari Jumat jelang ibadah puasa prapaskah (51 hari sebelum Paskah) dalam Katolik, agama yang dianut mayoritas rakyat Brasil. Untuk tahun ini, Karnaval Rio rencananya dihelat sepanjang 21-26 Februari 2020. “Memang wabah virus ( corona ) itu mengkhawatirkan karena akan ada banyak orang bepergian ke sana-sini dan juga banyak turis datang ke sini dari segenap penjuru dunia,” terang pejabat dinas kesehatan kota Rio de Janeiro Patricia Guttman, dikutip Daily Mail ,  Kamis (13/2/2020). Parade blocos atau kirab usungan raksasa yang ikonik di tiap perhelatan Karnaval Rio (Foto: riocarnaval.org ) Meski hingga saat inibelum ditemukan kasus virus corona di “Negeri Samba”, setidaknya 34 dari 60 ribu orang yang terjangkit di seluruh dunia merupakan warga Brasil di luar negeri. “Namun kami siap untuk (menggelar) karnaval,” tegas Guttman. Sebagai langkah pencegahan, pemerintah kota Rio sudah menyiapkan 120 kamar karantina di berbagai rumahsakit serta melatih tenaga-tenaga medis untuk mendeteksi gejala-gejala virus corona. Tak ketinggalan, para tenaga medis yang bersiaga dalam karnaval bakal dilengkapi masker dan pakaian khusus antivirus siap pakai jika terdeteksi ada kasus virus corona. Secuil Tradisi Romawi hingga Portugis Hingga zaman kiwari, belum ada peneliti yang bisa memastikan detailnya sejak kapan akar Karnaval Rio berhulu. Namun beberapa bukti mengejutkan. Festival semacam itu, kata bukti-bukti tersebut, sudah ada sejak eksisnya permukiman penjelajah Romawi di beberapa wilayah di Brasil sejak tahun 19 SM.Mereka datang jauh sebelum bangsa Portugis yang dipelopori Pedro Álvares Cabral pada tahun 1500. Maka ada kisah perayaan semacam Karnaval Rio berawal dari pesta yang acap digelar para pendatang Romawi di Rio, dalam rangka perayaan penghormatan terhadap Bacchus, dewa anggur. Kisah ini diperkuat oleh penemuan sejumlah artefak dari bangkai kapal era Romawi pada 1976 di Teluk Guanabara oleh beberapa nelayan pemburu lobster. Sejarawan Gary Fretz menyimpulkan dalam esai nya “The First Europeans to Reach the New World” , dikutip Frank Joseph dalam The Lost Colonies of Ancient America , bahwa orang Eropa pertama yang datang ke Brasil tak lain adalah bangsa Romawi, bukan bangsa Portugis di permulaan abad ke-16. Se iring dengan bermukimnya bangsa Romawi , se jumlah tradisi seperti p erayaan pemujaan Dewa Bacchus , turut mereka seb arkan . Semuabermula karena garam,komoditas paling berharga bagi manusia di zaman itu.“Bangsa Romawi punya tempat produksi garam yang besar di Ilha do Sal (pulau garam, kini Pulau Sal) di Kepulauan Cape Verde, 350 mil lepas pantai Afrika Barat. Lokasinya terletak dalam garis lurus arus gelombang panas dan angin kering dari Gurun Sahara yang sangat mudah bisa membawa kapal garam Romawi terdampar ke Teluk Guanabara,” ujar Fretz. Ilustrasi perayaan Entrudo di masa kolonial (Foto: ipanema.com ) Setelah Romawi runtuh, tradisi itu turut terhenti. Perayaan besar semacam pesta serupa dan jadi cikal bakal Karnaval Rioadalah perayaan Entrudo yang dibawa bangsa Portugis. Perayaan itu asalnya merupakan tradisi dari Kepulauan Madeiradan Cape Verde. Beberapa sumber menyebut bahwa Entrudo sudah sering digelar di Brasil sejak abad ke-16, setelah kedatanganCabral. Meski begitu, ungkap John J. Crocitti dan Monique Vallance pada risetnya yang disusun dalam Brazil Today: An Encyclopedia of Life in the Republic , gelaran Entrudo pertama yang tercatat arsip sejarah Portugis terjadi pada 1641. Seperti halnya Karnaval Rio saat ini, Entrudo juga digelar jelang puasa prapaskah. “Perayaannya dihelat di jalan-jalan, di mana orang-orang menggelar perang air yang mereka saling lempar dengan ember, limões de cheiro , semacam bola lilin yang diberi pengharum, dan tak ketinggalan perang telur dan tepung,” jelas Crocitti dan Vallance. Entrudo mulanya sekadar perayaan bagi kelas menengah bangsa Portugis dan para budak. Oleh karenanya Entrudo acap dihelat dengan parade kreasi kostum glamor para budak meniru para tuan mereka. Seiring dihapuskannya perbudakan di Brasil pada 1888, Entrudo tak lagi hanya dinikmati kelas pekerja, warga kulit hitam , dan mulattos (blasteran Afro-Eropa). Kaum elit ikut menikmatinya . Kolase parade cordões yang khas dalam Karnaval Rio (Foto: riodejaneiro.com/riocarnaval.org ) Pasca-kemerdekaan Brasil pada 1822 yang mengakibatkan ditinggalkannya warisan Portugis, mereka membuat perayaan yang lebih teroganisir pengganti Entrudo . Ranchos carnavalescos , misalnya. Di awal abad ke-20,perayaan ranchos carnavalescos masih tertular pengaruh tradisi kaum Afro-Brasil era perbudakan, yakni blocos dan cordões . Pengaruh itu dipertahankan hingga kini sebagai cirikhas Karnaval Rio. Sejarawan Brasil Ana Lucia Araujo dalam Public Memory of Slavery memaparkan, blocos adalah semacam kirab kreasi kontemporer raksasa yang diusung, dan cordões adalah parade penari yang memakai kostum-kostum glamor, flamboyan, dan vulgar. Keduanya dibawakan oleh Escola de Samba atau sekolah Samba, organisasi kontes kostum yang berdiri sejak 1928. “ Escola de Samba mayoritas terdiri dari warga Afro-Brasil, kegiatan mereka dimasukkan secara resmi ke perayaan karnaval oleh pemerintahan (presiden) Getúlio Vargas. Di periode yang sama, Komisi Pariwisata Brasil juga mulai mensponsori Escola de Samba jelang persiapan parade sepanjang tahun,” ungkap Araujo. Sejak saat itu, Karnaval Rio tak hanya sekadar perayaan jelang puasa prapaskah, namun juga ajang kontes kostum dan kirab. M eski m ulanya Karnaval Rio di gra t iskan untuk umum, namun per 1961 ia menjadi tontonan berbayar .

  • Senjakala Kopi Jawa

    PERANG Jawa (1825-1830) telah menyedot begitu banyak uang di kas Kerajaan Belanda. Menurut sejarawan Peter Carey, kurang lebih 25 juta gulden (setara dengan kira-kira 2,5 milyar dolar Amerika Serikat untuk hari ini) telah dikeluarkan untuk memadamkan pemberontakan yang dipelopori oleh Pangeran Diponegoro itu. “Situasi itu menyebabkan pemerintah Hindia Belanda bukan saja kekurangan uang namun juga terjerat utang di mana-mana,” ujar lelaki Inggris yang hampir setengah abad meneliti tentang Perang Jawa tersebut. Kebangkrutan itu pula yang menyebabkan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1833) membuat kebijakan tanam paksa atau dikenal sebagai Cultuur stelsel (sistem kultivasi) guna mengembalikan kestabilan pundi-pundi Hindia Belanda. Menurut Prawoto Indarto dalam The Road to Java Coffee ,  gagasan Cultuur stelsel  sejatinya diambil dari kerjasama VOC dengan bupati Priangan yang dikenal sebagai Priangan stelsel . Bedanya dalam Cultuur stelsel , selain Jawa juga mencakup seluruh Sumatera dan komoditi lebih beragam. Walaupun demikian, kopi tetap dimasukan dalam tanaman yang diwajibkan. “Untuk menajalankannya, van den Bosch memanfaatkan ikatan feodal-tradisional antara bangsawan-bangsawan pribumi dan rakyat sebaik-baiknya,” ungkap Prawoto. Pada saat permintaan dunia akan kopi semakin meningkat, van den Bosch melihat peluang yang bisa digunakan untuk menutup kerugian keuangan akibat Perang Jawa. Maka dia memerintahkan penanaman kopi sebanyak 50 juta benih pada tahun pertama dan 40 juta benih pada tahun kedua pemerintahannya. Menurut Surip Mawardi dalam makalahnya berjudul “Perkembangan Bahan Tanam Kopi Arabika di Indonesia Selama Tiga Abad (1699-1999)”, hingga 1840 di Pulau Jawa saja ada sekitar 330 juta pohon kopi yang mampu menghasilkan satu juta karung kopi. Dua tahun kemudian, panen kopi mengalami lonjakan menjadi sekitar 64.201 ton. Pada 1845, pasaran dunia memerlukan 209.100 ton kopi. Kendati tidak bisa mengulangi prestasi seperti di tahun 1724, namun setidaknya kopi jawa berhasil memenuhi 27% (209.100 ton) dari permintaan pasar dunia tersebut. “Dari  tanam paksa, Kerajaan Belanda bisa meraup untung hingga 832 juta gulden (setara dengan 75,5 milyar dolar Amerika Serikat hari ini),” ujar Peter Carey. Pernyataan Carey terkonfirmasi dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008  karya sejarawan M.C. Ricklefs. Ricklefs  menyebut  keuntungan sistem tanam paksa menjadikan perekonomian dalam negeri Belanda kembali stabil: hutang-hutang  luar negeri Belanda terlunasi, pajak-pajak diturunkan, kubu-kubu pertahanan dibangun, terusan-terusan diciptakan, dan jalan-jalan kereta api negara dibangun. “Hal yang sebaliknya terjadi pada masyarakat Jawa yang diperas: penyakit  dan kelaparan bertambah merajalela dan kaum miskin melonjak tinggi jumlahnya di desa-desa Jawa),” ungkapnya. Kritik terhadap Cultuur stelsel  kemudian bermunculan. Tokoh humanis Belanda Eduard Dauwes Dekker alias Multatuli dalam bukunya Max Havelaar, of the Koffie-veilingen der Nederlandsche Handelsmaatshappij memprotes akibat dari Culltuur stelsel yang banyak memakan korban dari kalangan rakyat Hindia Belanda. Dia juga menuduh sistem itu sebagai kecurangan pemerintah Hindia Belanda kepada petani hingga menyebabkan kemiskinan, tragedi dan kematian para petani lokal. Dari kelompok liberal muncul nama Fransen van de Putte. Dalam sebuah artikel berjudul “Suiker Contracten”, dia mengkritik Cultuur stelsel  yang telah membunuh bisnis perkebunan swasta di Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda merespon kritik-kritik itu dengan mengganti Cultuur stelsel  dengan peraturan Undang-undang Agraria ( Agrische Wet ) pada 1870. Dalam aturan tersebut, pihak swasta diberikan porsi besar untuk mengelola bisnis kopi di Hindia Belanda. Ada disediakan Hak Guna Usaha perkebunan selama 75 tahun untuk pihak swasta dan perorangan. Pasca 1870, pihak swasta merajai bisnis kopi di Hindia Belanda. Dengan memanfaatkan kebijakan Politik Etis (politik balas budi), mereka mengatur menejemen bisnis kopi secara mandiri. Begitu dominannya peran mereka, hingga pada 1905, secara resmi pemerintah Hindia Belanda menarik diri dari bisnis kopi di Jawa. Tiga tahun kemudian, mereka melakukan hal yang sama di Sumatera. Seiring pengalihan itu, pada 1876 “kutukan” menghampiri bisnis kopi di Hindia Belanda. Entah dari mana datangnya, tetiba wabah yang disebut sebagai hemeleia vastatrix merajalela. Hemeleia vastatrix  merupakan jamur berwarna putih yang menempel di pucuk daun kopi.  Kendati terlihat sepele dan biasa, jamur itu terbukti bisa menebar secara mendadak di sebagian besar perkebunan Kopi Jawa, terutama yang berada di dataran rendah (di bawah 1.000 dpl). Menurut Prawoto yang mengutip Fernando dalam karyanya Java , akibat serangan jamur putih itu, bisnis Kopi Jawa mengalami sakratul maut. Sejarah mencatat pada 1880, Jawa telah kehilangan potensi ekspor sekitar 120.000 ton  biji kopi sehingga menimbulkan kapanikan luar biasa di pasaran kopi dunia. “Para pengamat industri kopi dunia mengungkap situasi yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) itu sebagai declining of Asian production yang turut mendorong kenaikan harga kopi di pasaran dunia,” tulis Prawoto. Bencana yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) dimanfaatkan oleh para petani Brazil. Mereka lantas menanam kopi secara besar-besaran. Perlahan namun pasti, Brazil kemudian menggantikan posisi Hindia Belanda sebagai pemasok utama kopi dunia. Bahkan hingga kini. Sejak diserang jamur  hamileia vastatrix , penyebab karat daun kopi, usia Kopi Jawa sendiri mulai menuju senjakala. Kejayaannya sekarang hanya tersisa di pelosok-pelosok Jawa. Itu pun dalam bentuk yang tidak sekualitas dan sebanyak dulu lagi.*

  • Bogor Historical Walk, Menjawab Keingintahuan Khalayak

    LANGIT di atas Bogor berwarna biru cerah pagi itu. Bayangan bulan separuh terlukis sebagai sisa-sisa malam yang tertinggal. Di mulut Jalan Suryakancana, persis dekat Vihara Dhanagun, orang-orang berpakaian merah berkumpul. Dari menit ke menit, jam ke jam, jumlahnya semakin bertambah hingga puncaknya mencapai 40-an orang. “Ayo kawan-kawan, ibu-ibu-bapak-bapak, jam 9 teng kita akan langsung berangkat ya,” ujar Ramadhian Fadillah (36), seorang lelaki berkacamata. Iyan (panggilan akrab Ramadhian Fadillah) merupakan salah satu pemandu dari Bogor Historical Walk (BHW). Itu adalah nama sebuah komunitas non profit yang memiliki misi mengenalkan sejarah dan keanekaragaman budaya di Kota Bogor. Didirikan pada 2019, BHW pada awalnya hanya kumpulan anak-anak muda yang memiliki minat yang sama: mempelajari sejarah Bogor. “Awalnya cuma kegiatan untuk mengasuh anak dan mengenalkan sejarah. Cuma saat beberapa kawan ikut bergabung, lalu muncul usul kenapa nggak  dibuat untuk publik saja sekalian,” ujar Iyan yang juga seorang jurnalis. Setelah melakukan riset seperlunya, maka pada 14 September 2019, BHW pun bergerak. Dengan dibantu anggota BHW lainnya yakni Leni Maria Dewi, Yessy Elizabeth, Habibie Faturachman dan Arief Rachman Hakim, Iyan memandu tur umum pertama mereka bertajuk “Bogor Era Kolonial”. Dengan 25 peserta, BHW berkeliling Bogor. Rute yang mereka singgahi masing-masing Stasiun Bogor, Jalan T.B. Muslihat, Katedral, Balai Kota dan berakhir di Lapangan Sempur. Kegiatan perdana mereka ternyata disambut secara antusias oleh orang-orang lintas profesi yang memiliki minat terhadap sejarah Bogor.  Berita adanya tur sejarah kota Bogor cepat menyebar melalui jejaring media sosial. Maka setiap bulan secara rutin BHW selalu mengadakan tur Bogor Era Kolonial. “Rupanya banyak juga orang yang ingin tahu sejarah Bogor. Bukan hanya orang Bogor saja tapi juga dari Jakarta dan Depok. Nah, kami ada untuk menjawab keingintahuan itu,” kata Iyan. Uniknya, BHW tidak menerapkan sistem “pemandu tahu segalanya”. Di tur mereka, semua peserta bisa menjadi narasumber dan saling melengkapi pengetahuan yang ada. Tidak heran, jika usai satu tur, alih-alih menjadi jenuh, pengetahuan peserta dan pemandu tentang Bogor malah semakin bertambah. Cerita-cerita baru itu tentu saja selalu disampaikan dalam pertemuan berikutnya. Untuk mendapatkan situasi dan pengetahuan baru, maka sejak Januari 2020, BHW membuat tema “Jejak Naga di Suryakancana”. Tema ini menelusuri sejarah perkembangan orang-orang Tionghoa di kota hujan itu. Mulai dari Vihara Dhanagun hingga rumah bekas kapiten Tionghoa di Bogor. Tak dinyana tema tersebut mendapat sambutan yang sangat luar biasa. Sejak mengeluarkan pengumuman, orang yang mendaftarkan diri sebagai peserta seolah tak ada hentinya. “Bahkan sampai melebihi jumlah 250 orang. Itu pun terpaksa kami tolak sebagian karena kami membatasinya hanya sampai angka 250 saja” kata Yessy alias Echie. Merasa tidak mungkin melayani semuanya dalam satu tur, maka BHW membagi  jumlah itu dalam beberapa sesi. Satu sesi dijalankan pada setiap Sabtu pagi hingga tengah hari. “Jumlah yang kami sanggup menanganinya hanya sekitar 40-an dalam setiap sesi. Itu pun lalu dibagi dua kelompok menjadi masing-masing 20 orang,” ungkap Leni. Dalam setiap tur ada pembagian kerja yang tetap di kalangan BHW. Jika Iyan, Habibie dan Echie merupakan spesialis sebagai periset dan pemandu, maka Leni dan Arief berlaku sebagai tim pendukung meliputi masalah-masalah teknis seperti logistik, perlengkapan dan dokumentasi. Lantas bagaimana komentar para peserta setelah mengikuti tur BHW itu? Rata-rata menyatakan sangat puas dan kecanduan ingin ikut kembali. Seperti Nina, misalnya. Penduduk Bogor itu menyebut kegiatan tur kota Bogor tersebut jelas sekali manfaatnya bagi dirinya. “Walau saya tinggal sudah lama di Bogor, tapi cerita seputar obyek-obyek yang saya kenal sejak kecil itu tidak selamanya saya tahu latar belakangnya. Di kegiatan ini, nyaris semua terjawab dan saya jadi memiliki pengetahuan baru,” ujar alumni Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Prancis UI itu. Senada dengan Nina, Idris yang datang dari Cibubur, Jakarta Timur menyatakan bahwa tur yang diadakan oleh BHW itu merupakan kegiatan yang patut menjadi referensi para peminat sejarah di sekitar Jabodetabek. Dia kagum bahwa kegiatan itu justru diinisiasi oleh anak-anak muda. “Sayang, pesertanya kebanyakan orang separuh baya ke atas ya…Ke depan semoga lebih banyak kalangan mudanya,” ujar lelaki berusia 52 tahun itu. Iyan mengakui soal itu. Dia tidak menafikan jika sebagian besar peserta datang dari kalangan tua. Seiring waktu, dia memang berencana untuk lebih gencar lagi mengajak kalangan muda. “Tapi ya pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru. Toh ini pun kami lakukan atas dasar kecintaan kami kepada sejarah saja. Jadi tidak usah ada target dulu-lah. Berapa pun jumlah peserta, jalan saja,”ujarnya. Langit di atas Bogor mulai memutih. Matahari sudah mencorong dan membagikan hawa panasnya kepada penghuni bumi. Peluh pun mulai berjatuhan di wajah-wajah para peserta. Keletihan mulai membayang. Namun begitu, mata mereka terlihat bersinar penuh kegembiraan. “Bulan depan kalau ada tema lain, boleh kasih tahu saya lagi ya,” ujar salah seorang peserta sambil memasuki mobilnya untuk kembali ke Jakarta.

  • Tempat-Tempat Pacaran Tempo Dulu

    "Sudah pernah pacaran? Kan senang, bahagia… Makanya tidak boleh diganggu." Itulah jawaban Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta 1966–1977, ketika wartawan bertanya apakah dia tidak khawatir dituduh sebagai gubernur sekuler. Selama hayatnya mengatur Jakarta, dia mengupayakan wujudnya tempat hiburan layak dan murah untuk warga. Sebagian tempat itu jadi pilihan utama bujang dan dara semasa untuk berpacaran. Mereka betah berlama-lama di tempat itu. Mau ngobrol sambil duduk atau jongkok, meremas-remas tangan, makan panganan kecil, bersumpah setia sehidup semati, atau sampai meninggalkan bekas merah di leher masing-masing, aman-aman saja. Tak ada lagi orang berlagak menjadi polisi susila. Sebelum Ali Sadikin menjabat, orang jenis ini sering muncul, bertanya tentang kartu identitas atau surat nikah kepada bujang dan dara yang mabuk asmara di suatu tempat. "Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. 'Awas lu ya, kalau mengganggu!'" kata Ali Sadikin dalam Tiara , 4 Agustus 1991. Ancaman ini bikin polisi susila lesap dari peredaran. Ali Sadikin memberi kaum muda kesempatan untuk menggunakan ruang publik sebagai tempat pacaran. Alasannya, orang mustahil pacaran di kampung-kampung padat. Bayangkan, satu rumah kecil berisi kakek-nenek, ayah-ibu, dan para sanak saudara. Halaman tak ada. Lebar gang cuma semeter. Mana enak untuk pacaran. "Nah, orang tidak mengerti itu, bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata itu," kata Ali Sadikin. Dari pendalaman tersebut, dia upayakan ruang publik untuk kebutuhan bujang dan dara yang berpacaran. Dia hanya melarang mereka melakukan dua hal di ruang publik: melacur dan berzina. "Kalau mau berzina di lain tempat. Apa itu dianggap sekuler? Saya tahu rakyat tidak mampu dan kewajiban saya untuk menyediakannya," kata Ali Sadikin. Lalu di mana saja tempat-tempat pacaran bujang dan dara yang aman, murah, dan asyik semasa itu? Ancol Ancol adalah lokasi paling sering dikunjungi oleh bujang dan dara. Letaknya di utara Jakarta, daerah pesisir. Aman sekali dari jawilan orang-orang iseng sok moralis. Tersebab Ali Sadikin menjamin betul-betul kenyamanan bujang dara berpacaran. Bahkan polisi pun dilarang masuk. "Dia juga mengusir polisi dari Taman Ria Ancol, agar orang-orang muda yang berkasih-kasihan tidak diganggu atau diperas," kenang Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah . Ancol tadinya tempat menyeramkan. Hutan lebat, hamparan rawa-rawa gelap, penuh ular, kera, dan nyamuk. Orang takut memasukinya. Ungkapan populernya tempat jin buang anak. Soemarno, Gubernur Jakarta 1960–1964, mendapat mandat dari Presiden Sukarno untuk mengubah Ancol jadi tempat rekreasi, perumahan, dan industri. Tapi mandat itu terhambat. Tak ada dana untuk menjalankannya hingga masa Soemarno berakhir. Ali Sadikin, pengganti Soemarno, juga belum menunjukkan kemampuan untuk menjalankan mandat itu. Bujang dan dara 1970-an bergandengan tangan di ruang publik. Hal seperti ini tidak ditemukan pada periode sebelumnya. ( Midi,  31 Agustus 1974) Semua berubah dengan kemunculan Ciputra. Dia tengah menggarap perbaikan Pasar Senen. Kerjanya cukup bagus. Nama Ciputra mulai sohor di kalangan pejabat daerah. Dia menyatakan sanggup mengubah Ancol sesuai mandat Presiden Sukarno. Dia juga bilang akan berbagi cuan dengan pemerintah daerah. Ali Sadikin mempersilakan Ciputra mengerjakan Ancol. Kerja bareng Ciputra dan pemerintah daerah berbuah manis. Ancol bersalin rupa. Dari hutan dan rawa-rawa menjadi pantai bersih, indah, modern, ditambah bioskop kendara ( drive-in ), dan gedung akuarium. Jin pun tak bisa lagi buang anak di sini. Orang-orang datang menikmati senja di pantai. Bujang dan dara memilih naik perahu. Jika bosan dengan perahu, mereka bisa masuk gedung akuarium. Di sini mereka pacaran sembari mempelajari hewan-hewan laut. "Penting juga kan pacaran sambil belajar ilmu hewan air? Ingat cerita dalam Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana? Di akuarium besar ini percintaan dimulai," ungkap redaksi Midi , 31 Agustus 1974, dalam "Tempat2 Pacaran di Jakarta yang Aman, Asyik, Murah". TIM dan Monas Dari wilayah utara, bujang dan dara biasanya meneruskan pacaran ke wilayah tengah. Di sini ada dua ruang publik favorit mereka: Taman Monas dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Masuk Taman Monas gratis. Tempatnya lapang dan hijau. Ada air mancur bergoyang pula. Sesuatu yang masih jarang tersua di Jakarta. Kalau seorang bujang mengajak daranya ke sini, kebanyakan calon mertua akan senang dan bangga. Calon mertua mana yang tidak rela anaknya diajak melihat sesuatu yang belum ada? Masalah utama Taman Monas ialah terlalu ramai. Ia terletak begitu strategis di tengah kota. Ia bisa dijangkau oleh siapa pun dari mana saja. Maka kalau bujang dan dara ingin sedikit suasana sepi, mereka bergerak ke TIM. TIM dibuka pada 10 November 1968 oleh Ali Sadikin. Asalnya tempat ini untuk para seniman berkumpul, berdiskusi, dan menampilkan karyanya. Tapi TIM juga menyediakan taman dan planetarium. Ada pepohonan rindang, kursi panjang, teropong bintang, dan teater untuk menyaksikan pertunjukan benda-benda langit. Bujang dan dara yang berpacaran di sini punya alasan bagus kepada orang tuanya. Katakanlah mau sedikit berbudaya. Supaya kelihatan beda di depan calon mertua. "Mau nonton drama kek, mau nonton pameran lukisan kontemporer kek," ungkap Midi . Suasana di dalam TIM sangat mendukung bujang dan dara meningkatkan kualitas pacarannya. Senimannya toleran sekali dan mudah diajak ngobrol tentang segala hal. Dari filsafat, budaya, tradisi, karya seni kontemporer, sampai membaca tanda-tanda perubahan zaman. Obrolan dengan para seniman penting bagi bujang dan dara untuk berlatih mempelajari tanda-tanda perubahan dalam diri pasangannya masing-masing.     Jika mau merasakan pacaran di bawah bintang-gemintang sembari merenungi betapa kecilnya diri di alam semesta, bujang dan dara tinggal melangkah sedikit masuk ke Planetarium. "Selama ini tidak banyak yang masuk, hingga nggak usah kuatir bakalan penuh. Apalagi pada keadaan tertentu tempatnya menjadi gelap 100%. Jadi sambil mempelajari tata surya langit, sempat mempelajari tata surya sang pacar," ungkap Midi . Bujang dan dara 1970-an berkasih-kasih di rerumputan Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta. ( Midi,  31 Agustus 1974) Ragunan Setelah bosan bertemu sesama manusia dan benda-benda angkasa, bujang dan dara seringkali menjajal pacaran bersama hewan-hewan. Bergerak ke selatan, berjarak 15 kilometer dari TIM, sampailah di Taman Margasatwa Ragunan. Ragunan adalah pindahan kebun binatang Cikini. Ragunan menjadi tempat ideal bagi bujang dan dara berkantong kempes. Uang masuk cuma Rp100. Sangat terjangkau oleh kebanyakan bujang dan dara. Murah tapi sepi. Sebab luas tempatnya mencapai 160 hektar. Banyak pepohonan dan rerumputan terhampar. Begitu hijau dan jauh dari polusi. Baik polusi kendaraan bermotor ataupun polusi orang-orang sekitar. Di Ragunan, bujang dan dara berpacaran dengan berjalan kaki. Tidak ada kendaraan di dalam sini. Entah itu sepeda ataupun bermotor. Biasanya bujang dan dara akan mempersiapkan napas sebelum ke sini. Bujang dan dara yang tidak siap pasti kaget. Sebab Ragunan kurang ideal bagi yang tidak biasa jalan kaki. "Apalagi kalau si pria napas Ji-Sam-Su (merk rokok, red .) atau tembakau buatan sendiri. Bisa ngos-ngosan," catat Midi . Di Ragunan ada beberapa juru potret keliling. Mereka siap mengekalkan momen manis dan bersejarah bujang dan dara. Mereka sanggup menerima segala pose sesuai permintaan dari bujang dan dara. Dari pose tersopan sampai terpanas. Tapi yang paling sering adalah pose jalan bergandengan tangan di antara hamparan rumput dan pepohonan. Demikianlah beberapa tempat pacaran bujang dan dara tempo dulu di Jakarta. Sampai sekarang tempat itu masih ada meski sudah banyak berubah. Tapi mungkin anda-anda para bujang dan dara era milenial ingin merasakannya juga. Syaratnya cuma satu: harus punya pasangan. Selamat mencoba tempat-tempat pacaran tempo dulu!

bottom of page