top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hawk 200, Elang Mungil yang Dirundung Celaka

    BELUM lepas duka dari bencana jatuhnya Helikopter Mil Mi-17 milik TNI AD di Kendal, Jawa Tengah pada Sabtu (6/6/2020), bencana terjadi lagi pada Senin (15/6/2020) kemarin di Kampar, Riau. Kali ini pesawat tempur multi-peran BAe Hawk 100/200 dari Skadron 12 TNI AU yang mengalami kecelakaan. TNI AU via akun Twitter resminya, @_TNIAU , mengungkapkan pada Senin (15/6/2020), pesawat dengan nomor ekor TT-0209 yang dipiloti Lettu Pnb. Apriyanto Ismail itu terbang dalam rangka latihan. Tidak ada korban, baik sang pilot maupun warga, lantaran pesawatnya jatuh di perumahan tak jauh dari Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Noerjadin, Pekanbaru, Riau. “Pilot Lettu Pnb Apriyanto berhasil selamat menggunakan ejection seat saat pesawat BAe Hawk 209 yang dipilotinya mengalami gangguan teknis menjelang mendarat di runway 36 Lanud Rsn Pekanbaru. Kasau (Kepala Staf Angkatan Udara, red. ) mengucapkan, ‘Alhamdulillah,’ karena tidak ada korban jiwa pada peristiwa ini,” demikian disampaikan Dinas Penerangan AU di akun Twitter -nya. Pesawat Hawk 100/200 TNI AU varian two-seat. ( tni-au.mil.id ). Kecelakaan pesawat tempur Hawk Indonesia itu bukan yang pertama terjadi. Setidaknya sudah dua kali kecelakaan yang melibatkan pesawat ini sebelumnya. Pertama, terjadi pada 19 Oktober 2000 di Pontianak, Kalimantan Barat. Mengutip Daftar Panjang Kecelakaan Alutsista Angkatan Udara , jet tempur asal Inggris yang diawaki Letkol Teddy Kustari dan Lettu Donny Kristian dari Skadron I Elang Khatulistiwa itu tengah melakukan latihan pendaratan darurat. Menjelang mendarat, pesawat dengan nomor ekor TT-104 itu limbung dan jatuh ke persawahan dekat Lanud Supadio dan meledak setelah terseret 40 meter. Untuk menginvestigasi jatuhnya pesawat itu, Kasau Marsekal TNI Hanafie Asnan menetapkan semua pesawat sejenis buatan Inggris itu untuk sementara di -grounded . Baca juga: Empat Burung Besi yang Di- grounded Selang setahun, kecelakaan jet tempur Hawk 209 terjadi lagi saat take-off di Lanud Roesmin Noerjadin. Pilot Mayor Pnb. Agung Sasongkojati berhasil menyelamatkan diri menggunakan kursi lontar. Hawk milik TNI lain juga kecelakaan kala tergelincir saat mendarat di landas-pacu Lanud Roesmin Noerjadin pada 21 November 2006. Pilotnya, Mayor Pnb. Dadang, juga selamat dengan ejection seat. Hal serupa terjadi lagi pada 30 Oktober 2007 malam karena problem teknis. Kecelakaan Hawk kembali terjadi di Kampar, Riau, 16 Oktober 2012. Saat pesawat yang dipiloti Letda Pnb. Reza Yori Prasetyo itu tengah bermanuver dalam rangka latihan, terjadi kerusakan mesin. Pesawat pun jatuh dekat pemukiman di Pandau Permai, Kampar. Sang pilot selamat berkat kursi pelontar. Imbasnya, 32 unit Hawk di- grounded sepanjang masa investigasi internal TNI AU. Elang Mungil Kelahiran Inggris Terlepas dari usia tua pesawat Hawk 200 milik TNI AU, sejarah lahirnya jet tempur bikinan British Aerospace (kini BAE Systems) itu juga diliputi “celaka”. Hawk 200 merupakan turunan kesekian dari “famili” Hawk yang bermula pada jet tempur latih single seat bermesin tunggal Hawk T1 (Trainer Mark 1) yang muncul pada 1974. Pada 1984, British Aerospace mengembangkan tipe Hawk 100/200 dengan orientasi tempur. Pengembangan Hawk diajukan untuk menggantikan unit-unit Hawker Hunter dan Follan Gnat milik RAF (AU Inggris) yang usang karena beroperasi sejak 1960-an. Varian 100/200 merujuk pada jumlah kru, di mana versi 100 berisi dua seat dan 200 hanya single seat. “Hawk 200 seri single seat dikembangkan sebagai alutsista mungil baru yang canggih tetapi dengan pengembangan avionik yang low-cost. Ia dirancang sebagai senjata penggempur di darat, patroli udara tempur, serta pengintaian. Mampu terbang siang-malam di segala cuaca dan sanggup berada dalam kondisi tempur dengan durasi empat jam,” ungkap Susan Willett, Michael Clarke, dan Philip Gummett dalam “The British Push for Eurofighter 2000” yang dimuat dalam The Arms Production Dilemma. Pesawat Hawk T1, "pendahulu" jet tempur Hawk 100/200. (Repro British Aerospace Hawk ). Sebagai turunan tercanggih Hawk, Hawk 200 berdimensi mungil: panjang 11,38 meter dan lebar sayap 9,39 meter. Untuk bisa melayang dengan kecepatan maksimal 1.037 per jam serta kecepatan menanjanjak 1,2 Mach, Hawk ditenagai mesin jet tunggal Rolls-Royce Turbomeca Adour Mk. 871. Guna mendukung misi tempurnya, Hawk 200 dipersenjatai sepucuk senapan mesin 1,181 inci Aden. Untuk misi serbu dan pengeboman, Hawk 200 bisa membawa masing-masing satu roket SNEB atau CRV7 di ujung kedua sayapnya, empat rudal AGM-65 Maverick, BAe Sea Eagle, AIM -120 AMRAAM, AIM-132 ASRAAM, AIM-9 Sidewinder, atau Skyflash di bawah sayap kanan dan kirinya. Perut Hawk 200 bisa membawa bom-bom jenis Mark 82, Mark 83, Paveway II, bom cluster BL755, atau torpedo Sting Ray dengan bobot maksimal 540 kilogram. “Uji coba dan demonstrasi Hawk 200 (ZG200) pertamakali dilakoni Jim Hawkins pada 19 Mei 1986 dengan sukses. Tetapi nahasnya sebulan kemudian pesawat yang sama mengalami kecelakaan. Diduga kuat Hawkins mengalami disorientasi akibat ‘g-LOC’ (kehilangan kesadaran) saat bermanuver dan menguji G-Force -nya,” tulis Dave Windle dalam British Aerospace Hawk: Armed Light Attack and Multi-Combat Fighter Trainer. Baca juga: Hawker Hunter, Pemburu dari Masa Lalu Kesultanan Oman jadi pelanggan pertama Hawk 200 setelah dipasarkan. Negeri di ujung tenggara Jazirah Arab itu memesan 12 unit yang dilengkapi radar APG-66 pada 31 Juli 1990. Malaysia mengikuti pada 10 Desember di tahun yang sama dengan memesan 18 unit. Indonesia baru membelinya pada Juni 1993. Berapa rupiah yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk membeli 32 pesawat itu masih samar. George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan mengungkap, impor pesawat Hawk 200 yang baru tiba di tanah air pada 1994 itu melalui agen tunggal, PT Surya Kepanjen, sebagaimana pembelian alutsista tank ringan FV101 Scorpion yang juga asal Inggris (Alvis Vickers). “Nyonya (Siti Hardiyanti) Rukmana memegang keagenan tunggal mengimpor lapis baja untuk angkatan darat Indonesia melalui PT Surya Kepanjen. Dia juga menjadi agen tunggal untuk mengimpor pesawat Inggris Hawk 200 untuk angkatan udara Indonesia, serta lapis baja VAB (Véhicule de l'avant blindé, asal Prancis) untuk angkatan darat Indonesia, melalui perusahaan lainnya, PT Bheering Diant Purnama,” tulis George. Jet Tempur Hawk 200 milik RAF dengan persenjataan penuh. (Repro British Aerospace Hawk ). Meski begitu, lobi-lobi untuk pembeliannya sudah berlangsung sejak terjadi kerjasama pembelian misil Rapier pada Desember 1984. Mark Phythian dalam The Politics of British Arms Sales Since 1964 menyingkap, pembelian misil Rapier dari BAe ke Indonesia itu bernilai hingga 100 juta poundsterling. “Satu aspek signifikan kesepakatan itu adalah, Indonesia diizinkan melakukan transfer teknologi secara berangsur demi membangun industri pertahanan elektronik Indonesia. Pemerintah Inggris melihat kesepakatan ini sebagai gebrakan yang signifikan dan BAe kemudian turut membuat Indonesia tertarik pada pengembangan seri-seri Hawk 200 yang harganya tiga kali lebih murah dari F-16 milik Amerika Serikat,” tilis Phythian. “Pada akhir 1984, John Lee, wakil Sekretaris Negara untuk Pertahanan (Inggris), mengunjungi Indonesia, disusul Kepala Staf RAF Marsekal Sir Keith Williamson. Kunjungan-kunjungan itu membuka jalan untuk kerjasama jual-beli senjata Anglo-Indonesia pada 10 April 1985 lewat pertemuan Nyonya (Perdana Menteri Margaret) Thatcher dan Presiden Soeharto di Jakarta, terlepas dari tekanan internasional terkait isu HAM di Timor Timur,” sambungnya. Baca juga: Pesawat Sukhoi Rasa Minyak Sawit PM Thatcher berbicara empat mata dengan Presiden Soeharto selama dua jam. Keduanya mencapai kata sepakat untuk memperkuat lagi kerjasama RI-Inggris dalam hal pengembangan industri dan teknologi di bidang perkeretaapian, transportasi udara, telekomunikasi, teknologi pangan, dan teknologi kedirgantaraan. “Timor Timur bukan jadi masalah bagi Inggris. Saya pikir Inggris harus punya perhatian lebih terhadap Indonesia di masa lalu dan saya berharap kunjungan saya ini akan diikuti pertemuan-pertemuan setingkat menteri agar kami bisa saling memahami satu sama lain,” cetus Thatcher dikutip Phythian. PM Inggris Margaret Hilda Thatcher (kiri) saat bertemu Presiden Soeharto pada April 1985 (Kepustakaan Presiden/ perpusnas.go.id ) Setelah kesuksesan ujicoba pertama Hawk 200 pada 1986, pemerintah Indonesia tertarik membelinya untuk menggantikan 36 pesawat A-4 Skyhawks dan Northrop F-5. Ketertarikan itu dijawab dengan kunjungan Wakil Sekretaris Pertahanan Tim Sainsbury ke Indonesia pada Oktober 1987. “Pada Juni 1991 kesepakatannya didahului kerjasama kolaboratif soal transfer teknologi dan produksi Hawk dengan lisensi resmi antara BAe dan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara, kini PT Dirgantara Indonesia). Hasilnya pada 1992 Indonesia resmi membeli 10 Hawk 200 sebagai bagian dari rencana produksi 100 pesawat lainnya yang berkolaborasi dengan BAe selama 25 tahun dengan lisensi resmi,” sambungnya lagi. Tetapi seiring munculnya krisis Timor Timur pada awal 1999, tekanan internasional kian hebat hingga memunculkan embargo perdagangan senjata dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa Barat. Akibatnya pembelian tiga unit Hawk 100/200 terakhir yang dipesan untuk TNI AU pada 1999 tertahan kedatangannya. Baca juga: Diam-diam, Indonesia Beli Pesawat Tempur Israel “Tiga pesawat Hawk 100/200 yang telah dibeli dari Inggris harus ditinggalkan di Bangkok. Penerbang-penerbang Inggris yang harusnya mengantar sampai Indonesia, harus berhenti di tengah jalan karena Inggris tunduk pada Uni Eropa yang saat ini diketuai pemerintah Portugal,” tulis Abdul Muis dalam Perjalanan Skadron Udara 12: Dari Masa ke Masa. “KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan langsung memerintahkan penerbang kita untuk mengambilnya. Setelah itu, Menteri Pertahanan Inggris, John Spellar, pun buru-buru minta maaf kepada TNI AU: ‘Pesawat-pesawat Hawk buatan Inggris telah dijual legal kepada Indonesia, sehingga tidak ada alasan menahan pengirimannya,” tandasnya.

  • Si Manis dan Letnan Tionghoa

    Pada abad ke-19, terjadi perubahan besar di negeri jajahan Belanda. Kekuasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), yang sudah ada sejak abad ke-16 bubar, digantikan perannya oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Kongsi dagang itu terlalu banyak memberi kerugian kepada Kerajaan Belanda, hingga terpaksa ditiadakan. Peralihan kekuasaan itu memberi dampak yang cukup signifikan di berbagai bidang, termasuk pertanian dan perdagangan. Jika sebelumnya rempah-rempah (lada, cengkeh, pala, dsb) menjadi komoditas andalan Belanda di pasaran dunia, kini kebanggaan itu beralih ke komiditi lain: kopi, teh, karet, gula, dll. Hasil pertanian itu menjadi primadona baru Belanda di Eropa. “Sejak industri pertanian bertransformasi menjadi salah satu pilar perekonomian terpenting di Hindia Belanda, struktur ekonomi baru Hindia Belanda pun terbentuk. Cabang industri ini pun menjadi perhatian penuh pemerintah selama bertahun-tahun,” tulis J. Stroomberg dalam Hindia Belanda 1930 . Perubahan struktur perdagangan di Hindia Belanda dapat dirasakan oleh semua pihak, terutama golongan pedagang. Perlahan mereka menyesuaikan diri dengan penjualan komoditi tersebut. Di Semarang berdiri sebuah perusahaan dagang besar yang dijalankan oleh seorang Tionghoa bernama Oei Tiong Ham, yakni Oei Tiong Ham Concern (OTHC). Perusahaan gula itu mencatatkan namanya sebagai yang terbesar di Hindia Belanda selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bisnis Turun Temurun Sang pemilik, Oei Tiong Ham, dilahirkan di Semarang pada 19 November 1866. Dia putra seorang pedagang dari Hokkian bernama Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio. Menurut James R. Rush dalam Opium to Java: Revenue Farming and Chienese Enterprise in Colonial Indonesia 1860-1910 , ayahnya tiba Semarang pada 1858. Keluarga ini memulai usaha dengan berjualan perkakas dan peralatan rumah tangga. Pada 1863, Oei Tjie Sien bersama kawannya Ang Tai Liong mendirikan sebuah kongsi dagang bernama Firma Kian Gwan. Perusahaan tersebut banyak menjual beras, gambir, dan kemenyan. Mereka menghasilkan pendapatan yang besar bagi pemerintah Hindia Belanda. Namanya pun begitu kesohor di seluruh Jawa, khususnya Semarang dan sekitarnya. Kongsi dagang inilah cikal bakal OTHC yang dikembangkan Oei Tjie Sien. “Dengan intuisi bisnisnya ia memilih Oei Tiong Ham sebagai pewaris usahanya. Pilihan dan keputusannya ini ternyata sangat tepat karena di bawah pimpinan Oei Tiong Ham, Kian Gwan berkembang berpuluh kali lebih besar dari sebelumnya,” tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik . Pada 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia. Praktis seluruh bisnis dan perusahaan dijalankan oleh Oei Tiong Ham. Menurut Setiono, Tiong Ham tidak pernah mengenyam pendidikan Barat, baik Belanda maupun Inggris. Satu-satunya pendidikan formal yang dijalaninya hanya sekolah Tionghoa berbahasa Hokkian su-siok (gaya lama). Seluruh pengetahuan tentang berdagang didapat dari ayahnya. Sejak kecil dia sudah mengikuti sang ayah berbisnis, dan setelah dewasa pelatihan menjalankan perusahaan diterima secara lebih dalam. Sebelum melanjutkan perusahaan Kiam Gwan, Oei Tiong Ham telah merintis bisnisnya sendiri sejak 1880-an. Di usia yang masih cukup muda tersebut dia sudah dikenal sebagai pengusaha gula yang sukses di Semarang. Di samping menjalankan bisnis gula, Oei Tiong Ham juga menjadi pachter candu untuk daerah Semarang, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya. Dia menjadi pedagang resmi yang diawasi pemerintah untuk penjualan candu. Usahanya ini dijalankan hingga 1904. Ketika usianya menginjak 20 tahun, Oei Tiong Ham diangkat menjadi Letnan Tionghoa (Lieutnant der Chinezen). Statusnya itu menjadikan dia bagian dari masyarkat elit Tionghoa Semarang yang dihormati. Dia kemudian dipromosikan menjadi Mayor Tionghoa (Majoor der Chinezen) pada akhir abad ke-19. Oei Tiong Ham, kata Soetiono, menjadi orang Tionghoa pertama yang mendapat izin memakai pakaian barat dan tinggal di daerah perumahan orang Eropa. “Ia selalu berpakaian rapi, pakaian jas barat, dan pantalon warna putih, demikian juga warna sepatunya,” ungkap Soetiono. “Lain dari orang-orang Tionghoa umumnya, ia berpandangan modern dan mempekerjakan orang Belanda dalam perusahaannya”. Kerajaan Bisnis Akhir abad ke-19, Oei Tiong Ham mengubah Kian Gwan menjadi perseroan terbatas NV Handel Maatschappij Kian Gwan. Dia kemudian menyelesaikan berbagai urusan pembagian waris atas perusahaan milik ayahnya tersebut, baik kepada saudaranya maupun orang-orang yang terlibat di dalam pendirian Kian Gwan. Maka kerajaan bisnis Oei Tiong Ham, OTHC, pun memulai babak baru dengan hak penuh atas perusahaannya sendiri. Dia memulai dengan mengakusisi lima pabrik gula: Redjoagung, Krebet, Tanggulangin, Pakies, dan Ponen. Demi meningkatkan kualitas produksi semua mesin lama diganti dengan mesin modern yang didatangkan dari Jerman. Selain itu dia juga mempekerjakan sejumlah tenaga ahli dari kalangan Tionghoa maupun Eropa, yang dipilih dengan baik. Untuk masalah produksi, kebutuhan tebu sebagai bahan dasar pembuatan gula didapat dari beberapa perkebunan di Semarang dan sekitarnya yang telah menjalin kontrak dengan OTHC. Sementara untuk pengelolaan manajemen pabrik gula, OTHC mendirikan N.V. Algemeene Maatschappij tot Exploitatie der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken. “Inilah cabang usaha yang terpenting dari seluruh bagian Oei Tiong Ham Concern,” tulis Soetiono. Meski bisnis utamanya adalah hasil bumi, Oei Tiong Ham juga melakukan perluasan bisnis di bidang keuangan, khususnya bisnis asuransi dan perbankan. OTHC menjadi agen bagi banyak perusahaan asuransi besar seperti Union Insurance Society of Canton, Ltd. Pada 1906 dia juga mendirikan N.V. Bank Vereeniging Oei Tiong Ham di Semarang dan Surabaya. Mulanya bank ini hanya menjalankan usaha kredit dagang, tetapi lambat laun meluas ke perbankan umum. Bahkan di bawah bank ini Oei Tiong Ham menjalankan usaha realestate, pembangunan gedung, dan jual-beli perumahan. Semakin besarnya OTHC membuat Oei Tiong Ham memutuskan membeli Heap Eng Moh Steamship Coy. Ltd. Singapore. Perusahaan ini dijalankan untuk kebutuhan pengangkutan dan distribusi penjualan berbagai komiditi miliknya. Armada dagang Singapura ini melayani rute Jawa dan Singapura, dengan lima buah kapal besar sebagai armada utamanya. Semakin besar perusahaan Oei Tiong Ham, semakin besar pula pajak yang dikenakan pemerintah Hindia Belanda. Liem Tjwan Ling dalam Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang , disebutkan bahwa pada 1921 OTHC telah membayar pajak sebesar 35 juta gulden. Sejumlah besar uang itu merupakan pajak perang yang digunakan pemerintah Belanda untuk menutupi kerugian Perang Dunia I. Namun pajak itu bukan satu-satunya kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan Oei Tiong Ham. Pemerintah Belanda masih memberi dubble inkomstenbelasting (pajak pendapatan rangkap) kepadanya. Oei Tiong Ham keberatan atas beban pajak tersebut. Dia pun memutuskan meninggalkan Semarang dan pergi menetap di Singapura hingga akhir hayatnya pada 1924. “Pada 1924, seperempat luas dari kepulauan Singapura adalah milik Oei Tiong Ham seorang. Kekayaannya berupa kepemilikan tanah-tanah dan rumah-rumah, maka tidak mengherankan jika sampai hari ini di kota Singa tersebut masih ada satu jalanan yang memakai namanya, yakni Oei Tiong Ham Park,” tulis Liem Tjwan Ling. Dicatat Marleen Dieleman, dkk dalam Chinese Indonesians and Regime Change , setelah Oei Tiong Ham meninggal, perusahaan OTHC dilanjutkan oleh sejumlah putra dari beberapa istri Oei Tiong Ham. Bisnis keluarga Oei Tiong Ham ini dapat bertahan selama tiga generasi kekuasaan: Hindia Belanda, Jepang, dan Republik Indonesia.

  • Kampanye Gagal Sukarno di Forum Internasional

    Kairo, 6 Oktober 1964. Presiden Sukarno tampil dalam Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok yang ke-2. Dia menyerukan perlawanan menentang kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Seperti biasa, pidatonya selalu mengesankan dan bersemangat. Di hadapan pemimpin dari 47 negara peserta konfrensi, Sukarno menyampaikan buah pikirannya dengan berapi-api.  “Kita perlu memupuk dan memperkuat solidaritas di antara kita. Perjuangan - ya, perjuangan, perjuangan! Perjuangan melawan imperialisme di masa pembangunan bangsa saat ini sama pentingnya bagi kita dengan perjuangan untuk pembebasan yang mengarah pada kemerdekaan nasional kita,” ujar Sukarno dalam pidatonya berjudul “The Era of Confrontation”. Pada kesempatan itulah Sukarno memperkenalkan ideologi non-blok yang baru. Menurutnya kekuatan dunia tidak lagi terbagi dalam kontestasi Blok Barat dengan Blok Timur. Namun Sukarno memetakan konstelasi global antara kelompok negara yang baru merdeka – dimana non-blok ada didalamnya– dengan negara mapan yang lekat dengan predikat imperialis. Konsep inilah yang diperkenalkan Sukarno dengan istilah NEFO (New Emerging Force) dan OLDEFO (Old Established Force). Bersilang dengan India Menurut Ide Anak Agung Gde Agung dalam Twenty Years Indonesia Foreign Policy 1945—1965, pidato Sukarno di Kairo sejatinya memperlihatkan semangat anti-Barat. Kubu Barat yang disebut Sukarno sebagai OLDEFO merupakan ancaman bagi negara-negara baru. Ancaman itu berupa intervensi yang mencampuri urusan kemerdekaan negara-negara lain. Campur tangan dan dominasi itulah yang dikecam oleh Sukarno. “Inilah kesempatan baginya (Sukarno) untuk menekankan dengan kata-kata yang kuat bahwa tujuan utama dari negara-negara non-blok adalah untuk menghilangkan tatanan dunia lama sebagaimana diwakili oleh kekuatan kolonial dan imperial,” tulis Ide Anak Agung Gde Agung. Di balik agitasinya, Sukarno ternyata menyisipkan agenda sehubungan dengan kampanye “Ganyang Malaysia”. Sebagaimana diketahui, Indonesia sedang bersengketa dengan Malaysia. Dalam upaya mengganyang Malaysia, Indonesia berhadapan dengan Inggris yang mendukung pembentukan negara federasi Malaysia. Selain itu, Sukarno juga secara terbuka menyerang doktrin hidup berdampingan sebagai ideologi non-blok yang menyimpang. Gagasan ini dikemukakan oleh Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru pada permulaan tahun 1960. Dalam konsep hidup berdampingan, Nehru menampilkan wajah moderat sebagai tekanan moral terhadap kekuatan besar. Dengan demikian, perdamaian dunia dapat diwujudukan bersama-sama meskipun dalam ketidaksetaraan. India berada di jalur akomodatif  karena tergabung dalam The Commonwealth , negara-negara persemakmuran bekas jajahan Inggris yang terikat afiliasi dengan negeri koloninya.   Kritik Sukarno terhadap jalan yang diambil India cukup frontal. Sukarno mengatakan bahwa hidup berdampingan tidak dapat diwujudkan dalam ketidaksetaraan. Hidup berdampingan itu harus seimbang, ekual, dan tidak abstrak. Menurutnya koeksistensi antara negara-negara berkembang dan negara imperialis terjadi apabila kedua kubu memiliki kekuatan yang sama. Bagi negara-negara berkembang, kekuatan yang setara itu hanya dapat diperoleh melalui solidaritas diantara mereka. Seruan Sukarno untuk bersatu melawan dominasi OLDEFO memang ada pendukungnya. Namun propaganda Sukarno menjadi kurang begitu menggigit karena prinsip hidup berdampingan juga diterima dalam komunike akhir konferensi. Sementara itu, upaya Sukarno menggalang solidaritas negara sahabat untuk mengganyang Malaysia terbilang gagal.  “Karena hanya mendapatkan dukungan dari negara-negara Asia-Afrika yang kurang memiliki pengaruh,” kata sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti kepada Historia . Ekses lain dari kampanye politik luar negeri Sukarno adalah kian tajamnya perbedaan prinsip antara Indonesia dan India. Menurut Linda, konsep Sukarno yang membagi kekuatan dunia terkesan mendikte bagi India. Akibatnya, India sebagai salah satu negara sahabat yang berpengaruh bahkan mengambil jarak dari Indonesia. Menggandeng Tiongkok Selain Pakistan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) adalah negara yang aktif menyokong perkara Indonesia soal Malaysia. Sukarno segera mengalihkan persekutuannya terhadap Tiongkok – negeri Asia yang mulai tampil sebagai kekuatan besar – setelah gagal menuai dukungan maksimal di Kairo. Kedatangan Menteri Luar Negeri Tiongkok Marsekal Chen Yi, ke Indonesia pada awal Desember 1964, semakin memantapkan poros Peking-Jakarta.     Pada 3 Desember 1964, Indonesia dan Tiongkok mengeluarkan pernyataan bersama untuk saling memperkuat politik luar negeri masing-masing. Tiongkok kembali menegaskan dukungannya terhadap perjuangan Indonesia untuk mengganyang Malaysia. Keduanya sepakat bahwa proyek neo-kolonialis ini mengancam perdamaian negara-negara di kawasan Asia Tenggara, melumpuhkan pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dengan demikian, politik luar negeri Indonesia semakin condong ke kiri atau Blok Sosialis.   Menurut Linda Sunarti, Tiongkok pada awalnya ragu mendukung sikap konfrontatif Indoneisa terhadap Malaysia. Tiongkok sebenarnya dilematis karena hubungannya dengan Inggris lebih bersahabat ketimbang Amerika Serikat. Selain itu, Tiongkok juga punya kepentingan terhadap Hongkong, pusat perdagangan yang masih dikuasai Inggris sebagai jendela ke dunia internasional. “Namun, di sisi lain Tiongkok sangat bersemangat membantu PKI untuk mendapatkan kekuasaan politik di Indonesia. Sebagai partai komunis terbesar di luar Blok Sosialis, kedudukan PKI sangat penting bagi Tiongkok dalam persaingannya dengan Uni Soviet untuk merebut simpati dan dukungan dari partai komunis lain,” kata Linda Sunarti. Seturut dengan  arsip-arsip luar negeri Tiongkok yang diteliti sejarawan asal Ceko Victor Miroslav Vic, Tiongkok bahkan menyokong ambisi radikal Sukarno. Beberapa diantaranya seperti dukungan terhadap Indonesia untuk keluar dari PBB;  niatan Indonesia sebagai pemimpin negara non-blok dan Asia-Afrika; rencana mendirikan markas besar NEFO di Jakarta. Termasuk pula rencana pembentukan tentara rakyat untuk mengganyang Malaysia. "Cina bersedia untuk membantu Indonesia jika diserang oleh negara asing, dan dengan cepat akan memberikan senjata dan bantuan militer lainnya, dan bahwa kedua negara harus menambah kerjasama mereka dalam perjuangan the New Emerging Forces," tulis Vic dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi . Pada Maret 1965, Konferensi Negara Islam Asia-Afrika menolak usulan Tiongkok untuk mendukung Indonesia dalam konfrontasi Malaysia. Sukarno tidak berhenti dalam usahanya menggalang kekuatan diantara negara sahabat.  Pada 18 April 1965, Indonesia menghelat persiapan Konferensi Asia Afrika II di Jakarta. Dalam pembicaraan itu, Sukarno sempat pula bersitegang dengan dengan Presiden Mesir, Gammal Abdul Nasser. Silang pendapat terjadi  lantaran Sukarno berkeinginan untuk memindahkan sekretariat organisasi Asia-Afrika dari Kairo ke Jakarta. Lagi pula, rencana persiapan konferensi yang akan diselenggarakan di Aljazair pada 25 Juni itu sepertinya tidak lagi menarik. Negara peserta yang datang ke Jakarta hanya 30 negara saja.   Sayangnya, Konferensi Asia Afrika II batal digelar karena Presiden Aljazair Ahmad Ben Bella dikudeta pada  20 Juni 1965, lima hari sebelum penyelenggaraan konferensi. Di sisi lain, konflik Indonesia dengan Malaysia memasuki masa krisis. Sukarno kehilangan momentum untuk kampanye Ganyang Malaysia yang tentu saja sangat dia butuhkan. Meski demikian, direncanakan konfrensi itu hanya akan ditunda hingga 5 November 1965.  Namun, sebelum Sukarno naik podium dalam hajatan itu, terjadilah petaka di Jakarta. Gerakan 30 September meletus di malam berdarah, dini hari 1 Oktober 1965. Harapan Sukarno untuk unjuk gigi lagi di forum dunia pada akhirnya benar-benar kandas tak berbekas.

  • Sukarno dalam Pusaran Islam, Nasionalisme, dan Komunisme

    BULAN Juni adalah bulannya Bung Karno, sapaan akrab Sukarno, pahlawan Proklamator kemerdekaan dan presiden pertama Republik Indonesia. Bulan Juni ini adalah bulan kelahiran sekaligus bulan wafatnya Bung Karno. Pada bulan ini pula ia mencetuskan gagasan ideologi negara, Pancasila.

  • Kisah Leluhur Walisongo

    Dalam berbagai kitab sejarah dan babad Jawa, Syekh Jumadil Kubra disebut sebagai leluhur Walisongo. Petilasan yang diyakini sebagai makamnya berada di beberapa tempat di Jawa. Banyak orang datang untuk ziarah. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menghimpun berbagai sumber lokal tentang Syekh Jumadil Kubra. Dalam Kronika Banten, Syekh Jumadil Kubra digambarkan sebagai nenek moyang Sunan Gunung Jati. Ceritanya, Ali Nurul Alam , putra Syekh Jumadil Kubra , tinggal di Mesir dan memiliki anak bernama Syarif Abdullah. Syarif Abdullah memiliki anak bernama Syarif Hidayatullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati. Dalam Babad Cirebon disebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubra sebagai leluhur Sunan Gunung Jati,Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga. Kronika Gresik menyebut Syekh Jumadil Kubra memiliki hubungan darah dengan Sunan Ampel dan tinggal di Gresik. Putranya,Maulana Ishaq dikirim ke Blambangan untuk menyebarkan ajaran Islam. Maulana Ishaq adalah ayah Sunan Giri. “Jadi, Syekh Jumadil Kubra, menurut versi ini, adalah kakek dari Sunan Giri,” tulis Agus. Baca juga:  Syekh Jumadil Kubra dan Orang Islam di Majapahit Sementara itu, Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java mencatat bahwaSyekh Jumadil Kubra bukanlah moyang para wali, tapi pembimbing wali pertama. Raden Rahmat yang kelak menjadi Sunan Ampel, datang dari Champa ke Palembang. Dari sana, ia kemudianke Gresik untuk menemui Syekh Molana Jumadil Kubra, seorang ahli ibadah yang tinggal di Gunung Jali. Menurut Syekh Molana Jumadil Kubra kedatangan Raden Rahmat telah diramalkan oleh Nabi. Ia dipilih untuk membawa ajaran Nabi di pelabuhan timur Pulau Jawa. Karenanya keruntuhan agama kafir telah dekat. Babad Tanah Jawi menuturkan bahwa Syekh Jumadil Kubra adalah sepupu Sunan Ampel. Ia hidup sebagai pertapa di hutan dekat Gresik. Kisah Syekh Jumadil Kubra sebagai pertapa menjadi legenda di sekitar lereng Gunung Merapi, di utara Yogyakarta. Ia diyakini sebagai wali tertua yang berasal dari Majapahit. Ia hidup bertapa di hutan Lereng Merapi. “Syekh Jumadil Kubra dalam legenda itu diyakini berusia sangat tua sehingga dipercaya menjadi penasihat rohani Sultan Agung,” tulis Agus. Baca juga:  Empat Penyebar Islam Pra Walisongo Kisah Syekh Jumadil Kubra yang bernuansa perkawinan sedarah terdapat dalam Babad Pajajaran. Saudara Sunan Ampel itu hidup sebagai pertapa di hutan dekat Gresik. Ia ditinggal mati istrinya ketika melahirkan. Putrinya tumbuh menjadi gadis cantik. Suatu hari, Jumadil Kubra melakukan hubungan badan dengannya hingga menghasilkan seorang putra. Karena malu, ia menceburkan diri ke sungai dan tenggelam. Ia dimakamkan di Gresik. Kendati namanya melegenda seantero Jawa, sejarawan Belanda, Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat mendapati keanehan dalam namanya. Jumadil lebih mengingatkan kepada nama bulan ketimbang nama manusia. Nama ini adalah versi ingatan orang Jawa dari seorang penyebar Islam asal Asia Tengah. Jejak Tarekat Kubrawiyah Van Bruinessen menjelaskan bahwa nama Jumadil Kubra merupakan penyimpangan dari Najmuddin al-Kubra. Di Jawa, pengucapan namanya berubah menjadi Najumadinil Kubra. Selanjutnya melalui penghilangan bunyi suku kata pertama dan penyingkatan suku kata keempat dan kelima, penyebutan namanya berubah lagi menjadi Jumadil Kubra. Jumadil Kubra memang mirip nama Arab tapi melanggar tata bahasa Arab.Kata Arab, Kubra ,adalah kata sifat dalam bentuk mu’annats (feminin), bentuk superlatif dari kata Kabir yang artinya besar. Sementara itu, bentuk kata mudzakkar (maskulin) yang sesuai adalah akbar . “Aneh, menjumpai kata al-Kubra , ‘yang mahabesar’, sebagai bagian nama seorang laki-laki,” tulis Van Bruinessen. Dalam sejarah keilmuan Islam, Najmuddin al-Kubra adalah satu-satunya tokoh terkemuka yang diberi gelar “Kubra”. Ia mendirikan tarekat Kubrawiyah yang berkembang di Iran dan Asia Tengah pada abad ke-13 hingga ke-17. “Ia sering kali hanya disebut dengan nama Kubra, menyebarkan ajarannya di Khwarizm (Asia Tengah), dan wafat di sana pada 1221,” tulis Van Bruinessen. Baca juga:  Dua Wali dalam Konflik Demak Tarekat Kubrawiyah kemudian menjadi salah satu aliran tasawuf paling awal yang masuk ke Nusantara. “Aliran tasawuf yang berkembang paling awal adalah Akmaliyah dan Syathariyah kemudian disusul Kubrawiyah, Haqmaliyah, Samaniyah, Rifa’iyah, Khalwatiyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan lain-lain,” tulis Agus. Kendati keberadaan Kubrawiyah tak tercatat di Indonesia, Syekh Jumadil Kubra menjadi jejak meyakinkan adanya pengaruh tarekat itu pada awal perkembangan Islam di Jawa. Nama Najmuddin Kubra dan silsilah tokoh Kubrawiyah lainnya disebut dalam beberapa babad,terutama Sajarah Banten Rante-Rante, sebagai guru dan teman seperguruan Sunan Gunung Jati ketika belajar di Makkah. “Dengan kata lain, babad ini menunjukkan Najmuddin Kubra dan spiritualitasnya, tarekat Kubrawiyah, sebagai inspirasi utama Islam sufi yang berkembang di Indonesia,” tulis Van Bruinessen. Peng-Arab-an Jumadil Kubra Versi lain menyebut para sayid (keturunan Nabi) dari Hadramautpunya pengaruh besar terhadap Islam di Indonesia. Mereka datang ke Nusantara dalam jumlah besar baru pada abad ke-19. Namun, para pedagang dan ulama telah sampai dan menetap di Jawa selama beberapa abad. Menurut mereka, para wali yang mengislamkan Jawa dan wilayah lain di Asia Tenggara adalah keturunan para sayid dari Hadramaut. O rang yang dianggap sebagai leluhur bersama mereka bernama Jamaluddin Husain al-Akbar. “Kiai Jawa cenderung mempercayai versi ini daripada versi babad, yang di antara keduanya terdapat banyak kesejajaran,” tulis Van Bruinessen. Baca juga:  Awal Mula Datangnya Orang Arab ke Nusantara Kisah Jamaluddin al-Akbar banyak persamaannya dengan Jumadil Kubra yang dikisahkan dalam babad. Kendati begitu, menurut Van Bruinessen, versi babad lebih asli daripada versi para sayid.Cerita Jamaluddin al-Akbar versi para sayid adalah bentuk upaya pada abad ke-20 awal untuk “mengoreksi” legenda-legenda Jawa. Dalam hal ini mereka mengganti nama Jumadil Kubra, yang telah lebih dulu populer sebagia leluhur para wali, dengan nama Jamaluddin al-Akbar. Kata sifat Kubra diganti dengan kata Arab yang lebih tepat, yaitu al-Akbar . Nama Jumadil diganti dengan nama Arab yang paling mirip, yaitu Jamaluddin. “Bahkan sebuah silsilah yang lebih meyakinkan direkonstruksi,” tulis Van Bruinessen. Begitu juga berbagai legenda yang berbeda dan tak cocok satu sama lain mengenai Jumadil Kubra digabungkan ke dalam keseluruhan kisah yang dibuat lebih koheren. Unsur yang tak sesuai dengan Islam, seperti perkawinan sedarah juga dibuang. Menurut Van Bruinessen, upaya merevisi kisah tentang Jumadil Kubra adalah perumpamaan bagi metamorfosis sejarah Islam Indonesia. Perubahan nama Najmuddin al-Kubra menjadi Jumadil Kubra, lalu berubah lagi menjadi Jamaluddin al-Akbar bukan cuma soal evolusi bahasa. Baca juga:  Orang Hadramaut Membangun Koloni di Nusantara Sebagai seorang sufi Asia Tengah berbahasa Persia, Jumadil Kubra mewarisi tradisi spiritual Iran. Mungkin saja ia dipengaruhi oleh amalan-amalan Tantrisme. Ini yang membuat ajarannya menarik bagi orang Jawa, karena mudah ditempelkan kepada peninggalan berbagai tradisi Tantrik pra-Islam. “Karena itu memudahkannya diterima ke dalam ajaran tasawuf batiniah Islam,” tulis Van Bruinessen. “Perubahan namanya menjadi Jamaluddin al-Akbar menunjukkan perhatian yang meningkat pada peng-Arab-an secara bertahap Islam Jawa secara umum.” Pendapat itu memang sekadar hipotesis. Jejak Najmuddin al-Kubra dan ajaran yang dibawanya di Nusantara pun masih samar. Ia sendiri tak pernah datang ke Nusantara, karena hidup jauh sebelum orang-orang di Nusantara mulai naik haji. Namun, menurut Van Bruinessen, amalan sufi Kubrawiyah yang telah mengilhami Walisongo paling tidak diabadikan dalam nama simboliknya: Jumadil Kubra.

  • Soeharto, Astra, dan Sepeda Federal

    Suatu hari di tahun 1971, William Soeryadjaya, pendiri Grup Astra, menceritakan kepada Teddy Thohir, general manager pertama Honda, bahwa dirinya baru dipanggil Presiden Soeharto. Soeharto meminta William untuk menjual sepeda secara kredit supaya rakyat tidak jalan kaki ke sawah dan ladang.

  • Potret Keakraban Bung Karno dan Tokoh Dunia

    Bung Karno piawai memainkan lidahnya untuk dua hal. Pertama untuk berpidato. Sebagai pemimpin bangsa, dia sering berpidato untuk membakar, menggugah, dan menginspirasi bangsa ini melakukan tindakan revolusioner. Kedua, dia ahli pula memainkan lidahnya untuk menjalin hubungan dengan para tokoh dari seluruh dunia. Bung Karno dan Jawaharlal Nehru. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan Presiden Burma Sao Shwe Thaik. (Wikimedia Commons). Perkawanan Bung karno sangat luas. Dia tak hanya akrab dengan tokoh politik, tapi juga mampu bercengkrama seniman. Sekali waktu dia bisa berbincang sangat serius bersama negarawan Yugoslavia, Josip Broz Tito. Lain waktu, dia bergembira-ria dengan Walt Disney , di salah satu wahana Disneyland, Amerika Serikat. Waktu berikutnya lagi, dia bersenda gurau dengan salah satu legenda musik dunia, Elvis Presley. Tak jarang para tokoh dunia ini pun menaruh kagum pada sosok Bung Karno. Mereka terpikat pribadi, pola pikir, dan kata-kata Bung Karno. Semua berkat keluwesan dan pengetahuan luas Bung Karno. Bung Karno bertemu dengan musisi Elvis Presley. (Wikimedia Commons). Bung Karno bersama Walt Disney saat mengunjungi Disneyland. (Wikimedia Commons). Josip Broz Tito saat berbincang bersama Bung Karno. (Wikimedia Commons). Bung Karno bercengkerama dengan aktris Marliyn Monroe. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan tokoh Vietnam Ho Chi Minh. (Wikimedia Commons). Bung Karno berjumpa tokoh Uni Soviet Kliment Yefremovich Voroshilov. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan Bung Hatta serta Jawaharlal Nehru tampak akrab saat di bertemu. (Wikimedia Commons). Bung Karno dan Mao Zedong. (Wikimedia Commons). Bung Karno tampak serius bersama Eleanor Roosevelt. (Wikimedia Commons ) Bung Karno tampak antusias saat bertemu Antonin Novotny. (Wikimedia Commons). Pertemuan Bung Karno dan para tokoh itu memunculkan cerita unik. Seperti saat Bung Karno bertemu dengan para sahabatnya asal Kuba, Fidel Castro dan Che Guevara. Dituturkan oleh anaknya, Guntur Sukarno, dalam Bung Karno & Kesayangannya , ucapan Bung Karno tentang Fidel. “Kalau yang paling ‘brengsek’ cara berpakaiannya adalah Sang ‘Maximo Lider De La Revolution De Cuba’ atau ‘Pemimpin Besar Revolusi Kuba’ Fidel Castro.” Ini bukan ucapan serius, melainkan candaan bahwa Fidel Castro tidak begitu peduli dengan penampilannya. Bung Karno dan sahabatnya Fidel Castro. (Wikimedia Commons). Bung Karno bersama tokoh Kuba, Che Guevara. (Wikimedia Commons). Guntur melanjutkan ceritanya. Bung Karno pernah ingin sekali berbicara santai bersama Fidel dan Che soal cukur jenggot dan kumis. Bung Karno bertanya kepada mereka, mungkinkan mereka mencukurnya agar terlihat lebih tampan. Namun hal itu urung terjadi karena Bung Karno merasa bahwa jenggot dan kumis adalah identitas penting bagi mereka. Sukarno saat bertemu Josip Broz Tito. (Wikimedia Commons).

  • Memaknai Perobohan Patung

    SETELAH patung Edward Colston di Bristol, Inggris diceburkan ke sungai pada Minggu, 7 Juni 2020, perobohan patung yang melambangkan penjajahan pada bangsa kulit hitam terjadi di beberapa tempat dalam protes Black Lives Matter. Beberapa patung yang dirobohkan yakni patung King Leopold II di Belgia, Robert Milligan di London, Jefferson Davis di Virginia, Christopher Columbus di Minnesota; dua yang terakhir di Amerika Serikat. Daftar perobohan terus berlanjut. “Sebetulnya, patungnya itu benda mati, tidak bersalah. Yang bermasalah itu konstruksi makna atas patung itu,” kata sejarawan UGM Budiawan, yang menulis buku Sejarah dan Memori, pada Historia. Sebuah patung dibuat untuk mengingatkan orang akan heroisme seorang tokoh sejarah. Makna yang direpresentasikan sebuah patung bergantung pada pembentukan wacana dominan seputar patung tersebut, dalam hal ini kisah sejarah mainstream yang sudah dilembagakan. Keberadaan patung sebagai pengingat beserta narasi yang dibangun kemudian menjadi ingatan bersama masyarakat. Budiawan dalam buku Sejarah dan Memori juga menjelaskan bahwa hal paling utama dalam pembentukan politik ingatan bukan pada apa yang sesungguhnya terjadi, melainkan bagaimana masa lalu itu ingin diingat. Pertentangan selalu muncul ketika ingatan kolektif suatu kelompok masyarakat yang sebelumnya dibungkam mengancam ingatan kolektif yang telah mapan. Hal inilah yang terjadi pada sederet aksi perobohan patung di Eropa dan Amerika. Pendirian patung sebagai wujud penghargaan pada tokoh yang memperbudak leluhur suatu kelompok tidak hanya menghina, tetapi juga meminggirkan orang-orang kulit hitam. Ada penyingkiran narasi sejarah orang-orang yang tersakiti dan menderita akibat ulah tokoh yang dipatungkan. Orang-orang kulit hitam dan pendukungnya melihat ini sebagai wujud ketidakadilan historis. Lebih jauh, hal ini makin mengukuhkan supremasi kulit putih dalam wacana sejarah Barat. Edward Colstone, misalnya, meski dikenal sebagai dermawan dari Kota Bristol, kekayaannya diperoleh dari perdagangan budak. Bisnisnya menyebabkan puluhan ribu orang Afrika menderita di mana ribuan di dalamnya meregang nyawa. Selain Colstone, pedagang budak yang sosoknya dipatungkan di Inggris ialah Robert Milligan. Sementara, perobohan juga menyasar patung Jefferson Davis di Amerika. Perobohan itu didasarkan pada fakta historis bahwa Jeffersonlah yang melanggengkan perbudakan orang kulit hitam dalam perang saudara Amerika (1891-1865). BBC News mengabarkan, keberadaan patung Christopher Columbus juga mendapat penolakan di beberapa wilayah. Di Minnesota, patung Columbus dirobohkan. Di Boston, patung serupa dipenggal kepalanya. Di Richmond, patung Columbus dicorat-coret. Dalam narasi sejarah mainstream , Columbus dikenal sebagai penemu benua Amerika. Namun bagi penduduk asli Amerika, ekspedisi yang dilakukan Columbus menjadi penyebab kolonialisme dan genosida besar-besaran pada suku Indian. Di Belgia, patung Raja Leopold II diturunkan setelah dibakar, dicorat-coret, dan adanya petisi untuk menurunkan patung tersebut. Raja Leopold II merupakan raja yang melakukan ekspansi hingga ke Congo. Metode ekspansinya kemudian ditiru kerajaan lain di Eropa, seperti Jerman dan Prancis. Menurut Budiawan, pembuatan patung Raja Leopold II dilatarbelakangi rasa bangga orang Belgia di masa lalu atas kebesaran rajanya. Mereka menganggap masuknya Belgia ke Congo sebagai misi pemeradaban karena membawa kebudayaan Eropa ke Congo. “Buat kaum kolonialis, membangun koloni di luar Eropa tidak dipahami sebagai perampokan atau penjarahan tanah dan penduduknya. Tetapi dibingkai sebagai misi pemeradaban. Tapi buat orang Congo, masa kejayaan kolonialisme itu diingat sebagai sebuah penderitaan,” kata Budiawan. Penjajahan Belgia tehadap Congo (1885-1908) itu mengakibatkan penderitaan dan kematian sekira 10 juta rakyat Congo baik karena dibunuh, kelaparan, atau mati disiksa aparatur Belgia. Di Irlandia Utara, seperti dikabarkan The Guardian, muncul petisi untuk menurunkan patung John Mitchel. Kontroversi tokoh Irlandia yang menentang pemerintahan Inggris pada abad ke-19 itu terletak pada dukungannya terhadap perbudakan di Amerika. Kampanye perobohan patung lambang supremasi kulit putih terus merebak di Eropa seiring protes Black Lives Matter. Aksi ini hanya bagian kecil dari upaya menentang narasi sejarah dominan, bahwa tokoh-tokoh yang dipatungkan merupakan sosok yang tak layak dipuja. Disebut bagian kecil karena untuk menjungkirbalikkan narasi sejarah dominan diperlukan perangkat kelembagaan yang, sayangnya, hanya dikuasai kaum elite. “Masalahnya kelompok ini tidak punya perangkat kelembagaan untuk menggantikan wacana yang dominan, caranya ya robohkan saja. Lupakan dia sebagai pahlawan,” kata Budiawan . Menurut sejarawan Madge Dresser dalam artikelnya “Remembering Slavery and Abolition in Bristol”, keberadaan patung tokoh perdagangan budak memancing orang untuk mempertanyakan siapa yang harus dihormati di ruang publik, juga kelompok mana yang masa lalunya diwakili secara kolektif. Perdebatan tentang sosok Colston, misalnya, membuktikan adanya kebutuhan untuk menciptakan masa lalu yang dapat diterima oleh semua penduduk kota secara kolektif. “Diperlukan kepekaan dan kejujuran untuk mengakui sejarah beserta warisannya yang mengakibatkan trauma dan penindasan akibat perbudakan,” tulisnya. Dengan makin banyaknya patung yang dirobohkan, narasi sejarah tentang buruknya perbudakan di masa lalu menjadi diingat.

  • Soeharto dan Sepeda Turangga

    Bertepatan dengan Hari Koperasi ke-27 pada 12 Juli 1974, Presiden Soeharto meresmikan pabrik sepeda milik Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang. Peresmian itu dihadiri Ketua Umum IKPN, R.P. Suroso.

  • Operasi Darurat Dokter Ibnu Sutowo

    Dokter militer Mayor Ibnu Sutowo terpaksa mengungsikan keluarganya ke Muara Aman. Kota Palembang tempat mereka tinggal sudah dikuasai oleh tentara Belanda. Kota-kota kabupaten sekitarnya juga mulai diduduki. Sebagai kepala Jawatan Kesehatan Tentara, Ibnu Sutowo harus mengikuti pasukan TNI berpindah dari satu tempat ke tempat lain.   “Tanggal 1 Januari 1947, subuh sekitar pukul lima, Belanda memulai serangan di Palembang Ilir. Itulah awal mulainya perang lima hari lima malam di kota Palembang,” tutur Ibnu Sutowo kepada Ramadhan K.H dalam otobiografi Ibnu Sutowo: Saat Saya Bercerita!     Sewaktu di Lubuk Linggau, terjadilah peristiwa nahas. Petaka menimpa Komandan Sub-Komando Sumatra Selatan Kolonel Bambang Utoyo. Entah bagaimana kejadiannya, tangan sang komandan bercucuran darah hampir hancur karena ledakan granat. Menurut desas-desus, Bambang Utoyo menerima granat itu ketika berada di daerah Kayu Agung, antara Palembang dan Jambi. Saat Bambang Utoyo meletakan granat ditangannya, tiba-tiba saja meledak.  Rumor menyebutkan bahwa granat itu buatan orang di Sumatra Barat.      “Maklum keadaan kita masih serba tidak teratur. Pengetahuan kita mengenai persenjataan juga masih amat kurang,” kata Ibnu. Sebagai seorang dokter, Ibnu Sutowo segera bertindak. Sayangnya, keadaan saat itu tidak memadai. Ibnu Sutowo menjalankan tindakan operasi di klinik sederhana. Bermodal doa dan niat, Ibnu mengamputasi tangan kanan Bambang Utoyo menggunakan alat-alat sederhana. Beruntunglah Ibnu Sutowo terlatih waktu menempuh pendidikan di Sekolah Kedokteran (NIAS) Surabaya.   “Saya berusaha mengoperasi sebaik mungkin, sesuai ketentuan-ketentuan dalam ilmu kedokteran. Tetapi entah bagi Pak Bambang, saya tidak dapat membayangkan penderitaan yang dialaminya,” kenang Ibnu Sutowo. Beberapa hari pasca amputasi, Bambang Utoyo mulai belajar menulis dengan tangan kirinya. Tidak berhenti hanya dengan belajar menulis, Bambang Utoyo bahkan kembali ke dinas ketentaraan. Ibnu Sutowo mengakui betapa Bambang Utoyo memiliki jiwa yang sangat kuat.   Bertahun-tahun kemudian, ternyata amputasi yang dilakukan Ibnu Sutowo dieksekusi dengan tepat meskipun ditengah berbagai kertebatasan. Hal ini diketahui ketika Bambang Utoyo berobat ke Jerman untuk pengobatan penyakit gula. Menurut pengamatan dokter di Jerman, kata Bambang Utoyo kepada Ibnu Sutowo, hasil amputasinya itu menuai pujian. Tentu saja Ibnu Sutowo senang mendengarnya.      Meski dengan anggota tubuh yang tidak sempurna, Bambang Utoyo berhasil mencapai puncak kariernya dalam militer. Pada 1955, Bambang Utoyo menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang ke-4. Bambang Utoyo pensiun dengan pangkat letnan jenderal dan pada 1997, pemerintatah Indonesia menaikan pangkatnya menjadi jenderal kehormatan. Sementara itu, Ibnu Sutowo pernah menjadi deputi II KSAD bidang operasi pada 1956. Ketika terjadi nasionalisasi aset Belanda, Ibnu dikaryakan untuk mengelola Perusahaan Minyak Nasional (Permina). Sejak saat itu hingga pensiunnya sebagai letnan jenderal, nama Ibnu Sutowo lebih sohor sebagai bos Perusahaan Tambang Minyak Nasional atau Pertamina.

  • Aksi Gila Michael Wittmann si Jago Tank Jerman

    Hari ini, 13 Juni, 76 tahun silam. Saat sedang mengamati pemeriksaan tank-tank Tiger dalam kompinya di markas komando Desa Villers-Bocage, Prancis, SS-Obersturmfuhrer (setara letnan satu) Michael Wittmann, komandan kompi ke-2 Batalyon SS Panzer ke-101, tiba-tiba didatangi seorang prajurit sekira pukul 08 pagi. Wittmann diberitahu adanya iringan tank dan bermacam kendaraan tempur (ranpur) asing sedang melintas tak jauh dari mereka. Dari bentuknya, kata sang pelapor, ranpur-ranpur itu bukan ranpur Jerman. “Saya segera keluar dan melihat tank-tank berjalan beriringan sekitar 150 hingga 200 meter jauhnya. Mereka merupakan (tank, redaksi ) tipe Inggris dan Amerika. Pada saat yang sama saya melihat bahwa tank-tank itu disertai pengangkut pasukan lapis baja,” kata Wittmann dalam diary-nya, dikutip Patrick Agte dalam Michael Wittmann and the Waffen SS Tiger Commanders of the Leibstandarte in World War II , Vol. II. Pikiran Wittmann langsung kacau. Dia tak pernah membayangkan pasukan Sekutu (Inggris-Amerika) datang begitu cepat dan dalam jumlah yang amat besar. Pasukan yang dilihatnya itu ternyata pasukan Divisi Lapis Baja ke-7 Inggris di bawah pimpinan Mayjen George Erskine. Baca juga:  Tank Leopard yang Layu Sebelum Berkembang Iring-iringan pasukan Inggris itu terdiri dari8th King’s Royal Irish Hussars (batalyon pengintai), County of London Yeomanry “Sharpshooters” ke-4 (batalyon tank, staf tempur Brigade Lapis Baja ke-22), 5th RHA (batalyon artilery, minus satu battery), 1/7 Battalion The Queen’s Royal Regiment (batalyon infantri), Batalyon ke-1Rifle Brigade (batalyon infantri lapis baja, minus dua kompi), dan Unit Battery Anti-Tank ke-26 . Mereka mulai bergerak dari Villers-Bocage menuju Caen pukul 05 pagi pada hari itu. Caen merupakan salah satu kota yang ditetapkan panglima Allied Ground Forces Jenderal Bernard Montgomery untuk direbut Sekutu dalam gerak-majunya usai invasi Normandia (D-Day). “Caen adalah kunci menuju Cherbourg," katanya kepada Jenderal Omar Bradley sebagaimana dikutip James Holland dalam Normandy '44: D-Day and the Battle for France, A New History . Keberhasilan menguasainya akan menentukan keberhasilan langkah selanjutnya dalam menuju wilayah Jerman. Untuk merebut Caen, Inggris melakukan taktik menjepit. Satu pasukan akan bergerak dari depan (arah pantai), pasukan lain akan menyerang dari belakang. Pasukan penyerang belakang ini bergerak melambung melalui Villers-Bocage. Mereka bergerak ke Villers-Bocage pada 12 Juni 1944. Baca juga:  Istri Jenderal Minta Panser Dalam perjalanan menuju desa tersebut, pasukan Inggris tak menemui satupun perlawanan dari pasukan Jerman.  Hanya dua kompi medis dari Divisi Panzer-Lehr yang mereka lihat sedang melarikan diri. Tak adanya perlawanan itu menjadi salah satu alasan pasukan Inggris tak ingin berlama-lama di Villers-Bocage sehingga bisa cepat mencapai Caen. Saat melintasi jalan raya negara menuju Caen itulah iring-iringan pasukan lapis baja Inggris mengagetkan Wittmann. Pikirannya langsung kalut. Sambil mengamati iring-iringan itu dari Hill 213, Wittman terus memikirkan langkah apa yang harus dilakukan mengingat bahaya bagi pasukan Jerman ada di depan mata. Dia sadar, melawan pasukan raksasa dengan menggunakan kekuatan yang ada hanya akan menyebabkan mati konyol. Namun, dia juga tak ingin hanya berdiam menunggu bantuan dan membiarkan pasukan Inggris tanpa perlawanan menuju Caen. Wittmann akhirnya mengambil keputusan. “Saya harus mengatakan bahwa keputusan itu sangat, sangat sulit. Belum pernah saya begitu terkesan dengan kekuatan musuh seperti ketika saya meihat tank-tank yang lewat; tetapi saya tahu bahwa itu terjadi dan saya memutuskan untuk menyerang musuh,” ujarnya. Baca juga:  Tank Gaek Bertahan Hidup Setelah lari menuju tank Tiger 1-nya, Wittmann yang duduk di kursi komandan langsung memerintahkan tank dilarikan ke jalan lapang. Dia sempat memerintahkan Untersturmfuhrer Herbert Stief, si loader , agar memberitahu tank-tank lain agar menyusul tank-nya. Namun karena tank itu mengalami masalah pada motor, Wittmann langsung berganti tank ke tank yang dikomandani Untersturmfuhrer Kurt Sowa dan mengambilalih komando.   Begitu mendekati kolom pasukan lapis baja Inggris, Tiger Wittmann langsung memuntahkan kanonnya. Dua tank di sisi kanon kolom pasukan Inggris jadi korban. Tiger Wittmann kemudian bermanuver ke belakang kolom pasukan Inggris dan memangsa satu ranpur paling belakang. Setelah berbelok ke kiri, Tiger Wittmann menyerang batalion pasukan pengangkut lapis baja yang berada di tengah kolom. Dari sana, Tiger melaju ke bagian belakang kolom dan melumpuhkan setiap tank yang datang ke arahnya. Para personil infantri Inggris di truk langsung loncat ke semak-semak di samping jalan. Beberapa lainnya tewas bersama terbakarnya truk-truk mereka setelah dihantam kanon Tiger Wittmann. Sementara, para awak tank-tank Inggris yang bingung langsung membalas tembakan. Namun, tak satupun tembakan balasan itu mengenai Tiger Wittmann. “Karena Wittmann lebih cepat daripada mereka, lebih terampil dan akurat. Tembakan yang diarahkan dengan baik dari (tank) Cromwell, yang ditembakkan dari jarak yang sangat dekat, memantul dari pelindung depan Tiger,” tulis Wittmann. “Musuh dibuat bingung total. Saya kemudian melaju langsung ke kota Villers.” Baca juga:  Habibie, Menhankam dan Tank Korea Dalam perjalanan menuruni jalan landai ke Villers-Bocage, dua tank Inggris dari Resimen London Yeomanry ke-4 dimangsanya di Rue Georges Clemenceau. Tank Cromwell yang dikomandani Kapten Dyas berhasil balik badan dan lari, begitu juga tank keempat. Tepat menjelang Hotel du Bras d'Or, Tiger kembali menghancurkan tank Sherman dari Artileri ke-5 Inggris. Di Jeanne d’Arc Square, Tiger bertemu dengan beberapa tank Inggris dan langsung melaju kembali menyusuri jalan utama, Rue Pasteur. Namun ketika melewati toko pakaian Huet-Godefroy, Tiger dihantam peluru yang ditembakkan oleh senjata anti-tank. Meski tank-nya lumpuh, Wittmann selamat. Berbekal senjata yang ada, dia berjalan kaki menuju markas divisi Panzer-Lehr yang berjarak sekira 15 kilometer. Meski beberapakali harus menghindari tank musuh, dia akhirnya mencapai markas divisi dan segera melapor ke korpsnya. “Belum pernah satu komandan tank menyerang pasukan superior semacam itu. Wittmann mencetak hit langsung dengan setiap tembakan dari Tiger-nya yang bergerak. Loader Sturmmann Boldt harus bekerja sangat keras; dia tidak pernah harus memuat begitu cepat. Pengemudi, SS-Unterscharfuhrer Walter Muller, dengan mahir memanuverkan Tiger melewati kolom Inggris. Operator radio adalah SS-Sturmmann Gunther Jonas. Semua masuk akal, Michael Wittmann terus mengawasi kolom lapis baja musuh, yang akhirnya tidak bisa dilihatnya. Tiger itu menembak lagi dan lagi,” tulis Agte. (Bersambung).

  • Dari Perang Dunia ke Piala Dunia

    DARI pinggir lapangan, Josef ‘Sepp’ Herberger tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Sang pelatih timnas Jerman itu puas bukan kepalang karena merasa tak salah pilih kala memberi kesempatan pada bintang muda, Fritz Walter, untuk melakoni debut internasionalnya. Permainan ciamik Walter dalam laga persahabatan itu bikin sekira 40 ribu penonton di Waldstadion, Frankfurt am Main, 14 Juli 1940, bergemuruh kagum. Laga persahabatan itu digelar untuk memperkuat ikatan aliansi “Axis” antara Jerman, Rumania, dan Italia yang diwakili wasit Raffaele Scorzoni. Jerman yang superior di atas kertas memulai pesta golnya sejak menit ke-16 lewat Ernst Plener. Tetapi yang jadi sorotan utama tetaplah Fritz Walter, gelandang serang yang baru berusia 20 tahun. Gelandang yang sebelumnya mengukir kiprah manis di klub kota kelahirannya, FV Kaiserslautern (kini 1 FC Kaiserslautern), itu mencetak hattrick (trigol) di menit ke-33, 76, dan 81 untuk menyempurnakan kemenangan telak 9-3. Senyum Herberger senantiasa tersungging ketika berjalan hendak merangkul Walter usai laga. “Saya senang, Fritz. Kau tidak mengecewakan saya. Kau bisa datang lagi (memperkuat timnas),” kata Herberger, dikutip Ulrich Hesse dalam Tor! The Story of German Football . Sejak saat itu, Walter jadi anak emas Herberger. Ke manapun timnas Jerman berlaga, Walter selalu dipanggil Herberger, terlepas dunia tengah bergolak oleh Perang Dunia II. Termasuk di laga persahabatan kontra Hungaria di Népstadion, Budapest (kini Puskás Ferenc Stadion), 3 Mei 1942. Pertandingan itu disebutkan Herberger sangat penting bagi harga diri para petinggi Nazi. Tetapi Walter dkk. sempat ketar-ketir lantaran di interval perdana mereka tertinggal 1-3. “Tolong jangan biarkan pertandingan ini jadi bencana,” cetus Herberger pada saat rehat di ruang ganti. Kata-kata itu begitu terngiang di telinga Walter . Sosok Josef 'Sepp' Herberger, pelatih Jerman periode 1936-1942 dan 1950-1964, dalam display di Deutsche Fußballmuseum , Dortmund (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Ia dan 10 rekan setimnya paham bahwa jika laga berakhir pahit, nasib mereka bakal getir pula: dikirim ke medan perang front timur. Petuah bernada ancaman itu pun terbukti melecut semangat Walter cs. Di babak kedua, Die Mannschaft bangkit hingga menang 5-3 di akhir laga. Kemenangan berharga itu tiga tahun berselang berperan besar menentukan nyawa Walter pasca-kekalahan Jerman-Nazi di Perang Dunia II. Seandainya di laga itu Jerman kalah, catatan sejarah dan reputasi sepakbola Jerman di Piala Dunia akan berbeda sama sekali. Sepakterjang di Tengah Perang Friedrich ‘Fritz’ Walter merupakan anak sulung dari tiga bersaudara kelahiran Kaiserslautern, 31 Oktober 1920. Persentuhannya dengan sepakbola terjadi karena sering ikut membantu ayahnya yang bekerja di bar dan restoran klub FV Kaiserslautern. Pun dengan dua adiknya, Ottmar dan Ludwig, yang juga tertular “virus” sepakbola karena sering melihat laga-laga kandang FV Kaiserslautern. Saat usianya baru genap delapan tahun, Walter sudah menggabungkan diri di tim muda FV Kaiserslautern. Ia masuk ke tim utama klub kala menginjak usia 17 tahun. Saat itu, kompetisi di Jerman baru empat tahun berganti dari Bezirksliga menjadi Gauliga, yang digelar tersendiri di masing-masing 16 wilayah. Walter bersama Kaiserslautern mentas di Gauliga Westmark yang menariknya, turut mengikutsertakan tiga klub Prancis yang diklaim Jerman sebagai wilayah Saarland: Lorraine, Metz, dan Sarreguemines. Di masa perang, Walter tampil gemilang bersama Die Roten Teufel (Setan Merah) dan bahkan sempat mengantarkan klubnya juara di musim 1941-1942. Pada 1942 itu juga Walter –yang sudah langganan masuk timnas Jerman sejak 1940– turut tampil di turnamen “Piala Dunia” tak resmi. Namun di final kontra Swedia, Walter dkk kalah 2-3. Kekalahan itu dan kebijakan Totaler Krieg (perang total) yang –mewajibkan semua warga Jerman ikut wajib militer– dikeluarkan Menteri Propaganda Joseph Goebbels pada 18 Februari 1943 lalu merecoki karier profesional Walter. Kebijakan tangan kanan Der Führer Adolf Hitler itu memaksa Walter meninggalkan sementara sepakbola untuk angkat senjata. Dalam otobiografinya, 11 Rote Jäger (11 Petarung Merah), Walter membeberkan, pada musim panas 1943 ia mulai menjalani wajib militer. Ia masuk unit perbantuan darat Luftwaffe (Angkatan Udara) yang akan dikirim ke front Italia dengan pangkat Obergefreiter (setara prajurit satu). Beruntung bagi Walter karena masih bisa berkontak dengan Sepp Herberger, pelatihnya yang juga salah satu politikus terpandang Partai Nazi. Herberger memanfaatkan betul posisinya untuk menyelamatkan sejumlah pemain andalan timnas Jerman, terutama Walter yang jadi anak emasnya, agar tak dikirim ke palagan. Fritz Walter dan Mayor Hermann Graf di tim AU Jerman, Rote Jäger (Foto: Repro "Graf & Grislawski: A Pair of Aces") Herberger lantas meminta bantuan Mayor Hermann Graf, mantan anak asuhnya yang kini jago tempur udara, agar mau menampung beberapa pemain termasuk Walter. Dengan senang hati Graf, eks kiper timnas Jerman, menyanggupi mentransfer Walter dan beberapa pemain lain ke unitnya, Brigade Lintas Udara ke-26. “Mungkin ketegangan dan perasaan dekat dengan kematian yang selalu ia alami sehari-hari sebelumnya di medan tempur yang menjadi alasan Graf tetap menggemari sepakbola di masa-masa perang. Dia membutuhkan sepakbola sebagai tujuan menciptakan keseimbangan, dia amat membutuhkannya bak makanan sehari-hari,” tulis Walter. Dengan bergabung ke unit pimpinan Graf di utara Jerman, Walter berada jauh dari kengerian pertermpuran. Unit itu kemudian membentuk kesebelasan Rote Jäger yang diisi 18 pemain, termasuk Graf yang bermain sebagai kiper dan Herberger sebagai pelatihnya. Tim Rote Jäger tak ikut kompetisi resmi di dalam negeri dan hanya jadi tim “propaganda” yang acap tur melawan tim-tim militer maupun lokal di sejumlah negara seperti Hungaria, Prancis, atau Polandia. Tahanan Perang hingga Piala Dunia Januari 1945 sudah jadi masa-masa yang suram bagi Jerman. Di barat, Sekutu sudah kian mendekati tanah Jerman. Di timur, jutaan tentara Uni Soviet tak terbendung. Kegiatan Walter dkk. di tim Rote Jäger pun mulai terhenti. “Walter sempat mengira Graf, seperti para perwira Jerman lainnya, akan melarikan diri dan meninggalkan para prajuritnya dihabisi tentara Rusia (Soviet). Tetapi Graf justru berkata: ‘Kita akan menghancurkan semua pesawat yang tersisa dan kita akan jadi tahanan perang bersama-sama’,” sambung Hesse. Graf mengupayakan pasukannya untuk menyerahkan diri ke pasukan Sekutu ketimbang Uni Soviet yang lazim memperlakukan tawanan Jerman dengan keji sebagai pelampiasan dendam. Dan memang itu yang terjadi, mereka jadi tawanan  pasukan Amerika. Tetapi medio Desember 1945, sekira 40 ribu prajurit Jerman yang ditahan Amerika diserahkan ke Uni Soviet. Walter termasuk di dalamnya. Bayangan akan dikirim ke gulag-gulag (kamp) di Siberia untuk menjalani kerja paksa dengan kondisi memilukan tak pernah hilang dari otaknya. “Di awal musim dingin 1945 itu, Walter keluar dari sebuah truk dengan rasa bingung. Dari beberapa orang, terdengar bahwa ia kini berada di Maramureș dekat Pegunungan Carpathia, untuk masuk ke kamp transit sebelum dikirim ke Siberia. Meski dipenuhi rasa ketakutan yang amat sangat, Walter menghabiskan waktu menunggu di kamp transit itu dengan menonton beberapa penjaga kamp yang bertanding sepakbola dengan para tahanan lainnya,” singkap Kevin E. Simpson dalam Soccer under the Swastika. Saat Walter sedang menonton dari pinggir lapangan itulah sekonyong-konyong bola mengampiri dirinya dan dia mengembalikan bola out itu dengan sedikit menimang-nimang sebelum menendangnya. Bakat apik Walter mendorong beberapa penjaga mengundangnya ikut main. “Saat kedua tim mengambil rehat babak pertama, salah satu penjaga kamp asal Hungaria mendatanginya dan berbisik: ‘Saya kenal Anda.’ Walter terdiam. Wajahnya tegang dan ketakutan. Tetapi tensi itu mencair ketika sang penjaga menyambung kata-katanya: ‘Hungaria v Jerman di Budapest, 1942. Anda menang 5-3. Saya ada di sana (sebagai penonton)’,” sambung Simpson. Fritz Walter (kiri) melanjutkan karier pascaperang sebagai kapten Timnas Jerman dan bahkan turut diduetkan dengan adiknya, Ottmar Walter (kelima dari kiri) (Foto: dfb.de ) Sang penjaga yang bersimpati pada Walter di pertandingan itu lantas berusaha menyelamatkan nyawanya. Kepada atasannya, si penjaga meminta nama Walter dihapus dalam daftar tahanan tentara Jerman yang akan dikirim ke Siberia. Pasalnya, dari 40 ribu rekannya yang bakal dikirim ke Siberia, hanya 10 persen yang bisa pulang kampung setelah bertahun-tahun menjalani “neraka” di gulag-gulag itu. Dengan sedikit berbohong, sang penjaga menyatakan Walter bukan seorang Jerman asli, melainkan orang Austria yang dipaksa jadi tentara Nazi. Keesokan harinya, Walter dipulangkan alih-alih ikut dikirim ke gulag. “Itu (laga penjaga kamp vs tahanan) merupakan pertandingan terpenting dalam hidup saya. Saya tak peduli dengan siapa saya bermain. Dengan orang Hungaria, dengan orang Slovak pun tak mengganggu saya. Kami hanya bermain sepakbola semata tanpa berpikiran politik,” kata Walter mengenang dalam otobiografinya. Fritz Walter diarak rekan-rekannya setelah jadi bagian penting timnas Jerman Barat memenangkan Piala Dunia 1954 (Foto: fifa.com ) Mengetahui anak emasnya pulang dengan selamat, Herberger yang kembali jadi pelatih timnas segera memasukkan Walter ke skuad. Bersama adiknya, Ottmar, Walter jadi “skrup” terpenting dalam tim Jerman Barat (Jerbar) di Piala Dunia 1954, turnamen bergengsi pertama yang diikuti Jerman sejak porak-poranda oleh Perang Dunia II. Perlahan tapi pasti, Jerbar lolos babak penyisihan hingga mencapai final. Dalam laga puncak yang dimainkan di Wankdorf Stadium, 4 Juli 1954, itu Jerbar bertemu Hungaria yang tengah naik daun dengan bintangnya Ferenc Puskás. Hujan deras membuat lapangan menjadi berlumpur saat laga final itu. Kondisi itu justru membuat reputasi Walter kondang. Ia acap main lebih apik dalam kondisi hujan dan lapangan berlumpur, hingga dijuluki “Fritz Walter-Wetter” alias cuaca Fritz Walter. “Jerman yang sempat tertinggal dua gol, mampu berbalik unggul 3-2 hingga final itu dikenang sebagai Das Wunder von Bern (Keajaiban Bern),” tulis Tom Williams dalam A Glossary of Football Words and Phrases from Around the World. Sepanjang karier Fritz Walter setia bersama Kaiserslautern menjadi one-club man (Foto: Bundesarchiv) Kemenangan itu jadi tonggak reputasi Jerman di turnamen-turnamen Piala Dunia hingga sekarang. “Kemenangan itu menjadi momen terbebasnya segenap warga Jerman dari segala hal yang membebani mereka pasca-Perang Dunia II. Tanggal 4 Juli 1954 itu jadi salah satu aspek penting bagi berdirinya Republik Jerman (Barat),” ungkap sejarawan Joachim Fest, disitat Deutsche Welle , 18 Juni 2002. Sejak saat itu nama Walter banyak dilirik klub-klub luar Jerman. Klub Spanyol Atletico Madrid menawarinya gaji 225 ribu mark. Upaya itu tetap tak mampu mengubah kesetiaan Walter pada Kaiserslautern meski hanya dengan gaji dua ribu mark (setara seribu euro saat ini) hingga pensiun pada 1959. Sebagai bentuk penghormatan pada Walter saat ia pensiun, namanya diabadikan untuk menggantikan nama Stadion Betzengerg, menjadi Fritz-Walter-Stadion. Di masa senjanya, penyakit malaria yang diidapnya sejak masa perang membuat kondisi kesehatannya terus memburuk. Pada 17 Juni 2002, ia mengembuskan nafas terakhir di Enkenbach-Alsenborn dalam usia 81 tahun. “Fritz Walter adalam simbol olahraga Jerman di era pascaperang. Sosok dengan kemampuan luar biasa di lapangan, dia juga terlibat banyak dalam aktivitas sosial selepas pensiun. Itu yang membuatnya jadi teladan bagi generasi atlet-atlet Jerman di masa depan,” tandas Presiden Federasi Olahraga Jerman Manfred von Richtofen.

bottom of page