top of page

Hasil pencarian

9829 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Haji Terganggu Pandemi

    Menteri Agama Fachrul Razi mengumumkan pembatalan keberangkatan jemaah haji 1441 H/2020 M karena tidak ada kepastian dari Arab Saudi terkait akses yang sudah dibuka. Hal itu membuat pihaknya tak punya cukup waktu untuk melakukan berbagai persiapan, baik pelayanan maupun perlindungan jemaah. Dalam jumpa pers yang disiarkan langsung melalui Youtube  pada Selasa, 2 Juni 2020, Fachrul Razi juga menyebut situasi pandemi yang belum reda membuat Arab Saudi tak bisa memastikan terbukanya akses haji hingga kini. Hal itu mengingatkan pada kondisi di masa lalu ketika ibadah haji berulang kali terganggu akibat merebaknya pandemi. "Haji beberapa kali terganggu, dihentikan, Makkah ditutup, Jeddah pernah dibuat pos khusus, dipagari betul, yang masuk dipastikan dulu," kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah dalam seminar daring lewat aplikasi zoom  tentang "Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia" yang diselenggarakan Museum Nasional beberapa waktu lalu. Sejarawan abad pertengahan, Badruddin Mahmud al-‘Ayni menulis tentang wabah yang menyerang Makkah dalam ‘Iqd al-juman fi Tarikh ahl al-zaman . Dikutip sejarawan Amerika Serikat, Michael Walters Dols, dalam The Black Death in the Middle East , bahwa al-‘Ayni mencatat pada 1348–1349 wabah Maut Hitam menyerang Makkah. Epidemi itu mungkin dibawa oleh lalu lintas haji. Akibatnya sejumlah besar jemaah haji menjadi korban. "Ibn Abi Hajalah (dalam Daf’ al-niqmah , red. ) mencatat bahwa banyak siswa dan penduduk di Makkah juga binasa," kata Oman. Kondisi itu menjadi perbincangan para cendekiawan muslim pada masanya. Pasalnya, Nabi Muhammad Saw. menjanjikan bahwa tak akan ada wabah yang bisa masuk ke kota suci Makkah dan Madinah. "Merupakan keajaiban wabah itu tak sampai ke Madinah. Maka mereka pun percaya kalau wabah menjangkit Makkah karena ada pelanggaran dengan keberadaan orang-orang kafir," kata Oman. Menurut Oman, interpretasi itu berdasarkan penyebutan wabah penyakit dalam bahasa Arab, yakni tha’un, yang arti harfiahnya adalah jin. Ada beberapa hadis yang menyebut wabah penyakit ( tha’un ) tak akan bisa memasuki Madinah. Sampai abad ke-14, Madinah tak tersentuh wabah, sedangkan Makkah terjangkit. “Tapi sekarang kita tahu di Madinah juga ada yang positif (Covid-19, red . ). Jadi, ini perlunya reinterpretasi teks keagamaan,” kata Oman. “Apa berarti hadis Nabi keliru? Saya percaya tidak, yang belum sampai itu penafsiran kitanya.” Terganggunya haji akibat pandemi juga dicatat oleh Muhammad al-Manjibi al-Hambali atau Muhammad bin Muhammad al-Manjibi, ulama Suriah Utara abad ke-14. Ia menjadi saksi saat wabah Maut Hitam merebak di wilayahnya pada Rajab 775 H (1373), lalu meningkat menjelang akhir Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, kemudian menurun pada Muharam tahun berikutnya. "Berapa bulan itu coba? Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, Muharam," kata Oman. "Bayangkan haji terganggu." Oman menyebut pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kegiatan haji pun menjadi salah satu penyebab merebaknya pandemi. "Bukan hajinya tapi aktivitas haji sebagai kebudayaan," ujar Oman. Selain Maut Hitam, wabah kolera juga merenggut nyawa ribuan jemaah haji dalam beberapa tahun sepanjang abad ke-19. Menurut sejarawan F.E. Peters dalam The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places , kendati sudah lama ada di India, kolera tak dilaporkan merebak keluar anak benua. Sampai pada 1817 dan 1823 kolera muncul di pelabuhan-pelabuhan pulau di sekitar Samudera Hindia. "Dimulai di India pada 1817," tulis Peters, "penyakit ini menyebar ke seluruh dunia." Pada 1831, kolera merebak pertama kali di Makkah. Sejak saat itu hingga abad ke-20, kolera hampir selalu muncul di kota suci umat Islam itu. Peters menyebut epidemi kolera tahun 1865 dibawa jemaah haji dari Jawa dan Singapura. Sepertiga di antaranya tewas selama haji. Tercatat wabah telah membunuh 15.000 dari 90.000 jemaah. Kolera lalu menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Amerika Serikat dan Eropa, dengan dua juta kematian. Kolera tersebar melalui kapal-kapal yang membawa jemaah haji ke Terusan Suez. Saat itu mereka melaporkan kepada pihak berwenang setempat bahwa tidak ada penularan penyakit. Padahal, sejak meninggalkan Jeddah pada bulan Mei, lebih dari 100 mayat dibuang ke laut. Pada Juni, kolera mengamuk di Alexandria. Sebanyak 60.000 orang Mesir meninggal dalam tiga bulan. “Pada bulan yang sama kolera mencapai Marseilles, Prancis, kemudian sebagian besar kota di Eropa. Pada November 1865, kolera dilaporkan berjangkit di New York,” tulis Peters. Menurut Ken Chitwood dalam "Hajj Cancellation Wouldn’t be the First-Plague, War and Politics Disrupted Pilgrimages Long Before Coronavirus" yang termuat di The Conversation , wabah kolera di kota suci Makkah dan Madinah pada 1858 sampai memaksa ribuan orang Mesir melarikan diri ke perbatasan Mesir di Laut Merah, di mana mereka dikarantina sebelum diizinkan kembali. Kolera menjadi “ancaman abadi” untuk sebagian besar abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ancaman itu sering mengganggu pelaksanaan haji. "Bahkan, dengan begitu banyak wabah dalam runtutan kejadian yang begitu cepat, haji sering terputus sepanjang pertengahan abad ke-19," tulis Chitwood. Oman menduga transimisi wabah kolera di Asia Tenggara terjadi melalui jemaah haji. Karenanya pada masa itu haji dianggap sebagai kegiatan yang membahayakan. "Karena memang sangat fatal," kata Oman. "Dari kerumunan penularan terjadi. Persebaran wabah ini sangat terkait aktivitas keagamaan."

  • Jejak Filantropi Orang Indonesia

    BERBAGI itu menyenangkan. Selama masa pandemi Covid-19 dan ekonomi sulit ini, orang menggelar banyak kegiatan berbagi secara sukarela (filantropi). Dari konser penggalangan dana sampai lelang barang. Semangat berbagi muncul dari beragam alasan dan pihak. Bisa karena alasan kemanusiaan atau keagamaan; dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat.

  • Sukarno dan Jenggot Fidel Castro

    Selain Asia dan Afrika, Presiden Sukarno juga menjalin persahabatan dengan pemimpin negara-negara Amerika Latin. Pergaulan terjalin lantaran kesamaan pandangan anti kolonialisme dan imperialisme. Tidak melulu soal politik, Sukarno juga mengagumi cara berpenampilan salah satu pemimpin negara Amerika Latin yaitu Juan Peron dari Argentina. Menurut Guntur, putra sulung Bung Karno, Presiden Argentina Juan Peron adalah pemimpin dari Amerika Lartin yang paling parlente di mata Sukarno. Juan Peron memang populer bagi masyarakat Argentina. Dia menjadi presiden Argentina untuk tiga periode masa jabatan (1946—1952, 1952—1955, dan 1973—1974). Juan Peron yang berlatar belakang militer ini dikenal tampan dan berpenampilan rapi –sepertinya halnya Sukarno. Bila Juan Peron dijunjung dengan selera penampilannya yang bagus, maka berbanding terbalik dengan Fidel Castro. “Kalau yang paling ‘brengsek’ cara berpakaiannya adalah Sang ‘Maximo Lider De La Revolution De Cuba’ atau ‘Pemimpin Besar Revolusi Kuba’ Fidel Castro,” ujar Guntur dalam Bung Karno & Kesayangannya . Dalam artian, Fidel Castro sama sekali tidak peduli perkara penampilan. Hubungan diplomatik Indonesia dan Kuba telah berjalin sejak para pemimpinnya saling mengunjungi. Pada 1959, Ernesto “Che” Guevara, sahabat dan orang kepercayaan Fidel Castro berkunjung ke Indonesia sebagai wakil resmi pemerintah Kuba. Setahun berselang tepatnya 13 Mei 1960 , giliran Sukarno yang melawat ke negeri Kuba. Fidel Castro sendiri menyambut langsung Sukarno di Bandara Havana. Sukarno disambut merah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan " Viva Presiden Soekarno ". Seperti dituturkan kepada Guntur, Sukarno pernah hendak berkirim surat pribadi atau ngobrol santai dengan Fidel Castro dan juga Che Guevara. Bukan soal yang berat-berat, yang ingin diutarakan Sukarno hanyalah agar mereka mencukur kumis dan jenggotnya yang tebal. Sukarno sejatinya perhatian dengan sahabat revolusionernya dari Kuba itu.  Menurut Sukarno, tanpa kumis dan jenggot, Fidel Castro dan Che Guevara akan terlihat lebih tampan. Amat disayangkan kalau ketampanan wajah mereka harus tersembunyi dibelakang kumis dan brewok nan lebat. Khususnya pada sosok Fidel Castro, yang menurut Sukarno gagah dan ganteng itu. “Justru karena karena dia itu berkumis dan brewokan maka kegagahan dan kegantengan wajahnya jadi tertutup dan inilah yang membuat dia nggak laku-laku sama wanita alias jadi bujang tua terus!” celoteh Guntur. Sukarno pada akhirnya mengurungkan niatnya mewejangi Fidel dan Che soal penampilan. Rupanya Bung Besar khawatir juga Fidel dan Che yang tempramenmya terkenal panas akan tersinggung. Selain itu, Bung Karno tidak mau merusak identitas nasional Kuba serta citra revolusionernya yang dilambangkan dengan kumis dan brewok tebal tadi. Kumis dan brewok bagi masyarakat Kuba ibarat sudah merupakan ciri khas sepertinya halnya peci hitam bagi orang Indonesia.

  • Saat Ketua Masyumi Berhaji

    Dampak pandemi Covid-19 kembali dirasakan masyarakat Indonesia. Kali ini pemerintah pusat, melalui Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan membatalkan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini. Keputusan tersebut diambil setelah melihat situasi di tanah air maupun di Arab Saudi. Keputusan Kemenag itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 494 Tahun 2020 tentang pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1441 Hijriah. Dikutip laman Kompas , Fachrul menegaskan bahwa pembatalan ibdah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. “Pihak Arab Saudi tak kunjung membuka akses bagi jemaah haji dari negara mana pun. Akibatnya, pemerintah tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah,” ungkap Menteri Agama Fachrul dalam konferensi pers virtual. Menurut Menag, pembatalan ibadah haji itu merupakan suatu keputusan yang sulit. Di satu sisi pemerintah terus berupaya agar penyelenggaraan haji tahun ini tetap berjalan, tetapi di sisi lain pemerintah harus bertanggung jawab atas keselamatan warganya dari risiko penyebaran Covid-19 yang tak kunjung membaik. “Keputusan yang pahit ini kita yakini paling tepat dan paling maslahat bagi jamaah dan petugas kita semua,” lanjut Fachrul. Soal keberangkatan ibadah haji, tokoh Masyumi Mohammad Natsir memiliki pengalaman yang tidak biasa. Bukan karena batal berangkat seperti keadaan saat ini, tetapi karena kepergiannya ke tanah suci mendapat iring-iringan yang begitu besar, melibatkan hampir ribuan orang simpatisan Masyumi dan kerabat Natsir. Dilepas Ribuan Orang Kabar keberangkatan Ketua Umum Masyumi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji segera mencuri perhatian banyak kaum Muslimin, khususnya aktivis Masyumi, di seluruh penjuru Tanah Air. Banyak aktivis Masyumi yang mengagendakan pelepasan Natsir secara langsung. Mereka berbondong-bondong datang ke tempat keberangkatan Natsir guna mendoakan keselamatan dan kelancaran perjalanannya. Diberitakan Suara Masyumi No.19 Tahun XI, 10 Juli 1956, seperti dikutip Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natisr: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan , sejak pukul 02.00 dini hari rumah Natsir telah dipenuhi oleh kerabat dan kawan-kawan yang hendak melepas tokoh Masyumi itu pada pagi harinya. Syahdan, saat acara pelepasan itu, seorang pria tua yang ada di dalam rombongan mendekati Natsir seraya berkata: “Anak Natsir. Kalau anak hanya akan pergi ke Eropa, dan lain-lain, saya tidak akan datang tengah malam ini. Akan tetapi karena anak hendak menuju tanah suci, menunaikan rukun Islam, saya tidak bisa memejamkan mata tinggal di rumah. Hati kecil saya memanggil: pergilah turut mengantarkannya”. Orang tua itu, kata Lukman, datang bersama kurang lebih 10.000 keluarga Masyumi dan Muslimat (onderbouw perempuan Masyumi). Kebanyakan dari mereka telah berdiam di lapangan terbang Kemayoran sejak malam harinya. Tidak hanya dari Jakarta, rombongan itu juga datang dari Bogor, Banten, dan daerah sekitarnya. Sementara para aktivis Masyumi yang tidak bisa melepas secara langsung memberikan doa di daerahnya masing-masing. “Di dalam rombongan Natsir, terdapat juga Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Pangeran Moh. Noor,” tulis Lukman. Sebelumnya, anggota pimpinan pusat dan anggota parlemen dari Fraksi Masyumi, K.H.M. Isa Anshary telah lebih dahulu tiba di Arab Saudi. Bersama kawan-kawannya dari Persatuan Islam A. Hassan, E. Abdurrahman, dan Tamar Djaja, Isa Anshary akan menunaikan ibadah haji. Natsir akan menyusul setelahnya. Kedua tokoh Masyumi ini nantinya akan berangkat ke Mesir untuk melihat keadaan umat Islam di sana, sebelum pulang ke tanah air. “Diharapkan semua gembong-gembong Masyumi ini telah berada kembali di Indonesia pada akhir bulan Agustus,” tulis Suara Masyumi seperti dikutip Lukman. Sebelum memenuhi kewajiban menunaikan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi, Natsir terlebih dahulu menghadiri Muktamar Alam Islami ketiga di Damaskus, Suriah. Kegiatan itu dihadiri oleh delegasi dari negara-negara Islam, kecuali Mesir. Muktamar itu, kata Natsir, tidak hanya membahas soal negara-negara Arab saja, tetapi juga soal-soal kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk nasib mereka yang hidup di daerah jajahan atau sedang dalam perjuangan melepas penjajahan.

  • Atmosfer Semu Pemain Keduabelas

    APA jadinya pertandingan sepakbola tanpa atmosfer penonton? Bukan hanya manajemen tim yang rugi karena tiada pendapatan dari tiket, namun juga berpengaruh pada soal emosional dan mentalpemain di lapangan. Perkara inilah yang harus dikompromikan demi berjalannya lagi kompetisi sepakbola seluruh dunia. Yeyen Tumena, bek Timnas Indonesia periode 1995-2007 cum asisten pelatih timnas 2013, mengutarakan, bisa saja kompetisi digulirkan tanpa penontonseiring “The New Normal” di masa pandemi corona ini. Namun feel -nya akan sangat lain jika permainantak diiringi emosi penonton. “Korea, misalnya, sudah bisa jalan kompetisinya tanpa penonton. Tetapi sepakbola itu kan bukan hanya permainan teknik dan taktik,” tutur Yeyen dalam obrolan live “Bolatoria” yang dihelat Historia.id dan Bolalob.com di Facebook dan Youtube pada 15 Mei lalu.“Saya tidak bisa bayangkan kalau sepakbola tanpa penonton. Itu yang sulit kita terima. Ketika pertandingan itu tidak boleh ada penonton, ada yang hilang dari sepakbola. Karena sepakbola itu ada antusias, ada support , nyanyian, euforia, itu yang membuat sepakbola itu sangat menarik,” sambungnya. Sebagaimana diberitakan, Korea Selatan dengan K-League -nya jadi salah satu kompetisi yang melanjutkan musim ini di saat corona masih merajalela di berbagai belahan dunia. Untuk mengisi kekosongan euforia dan emosi dari “ pemain keduabelas ” itu, tribun-tribun stadion di Kore a diisi fans palsu dengan beragam cara . Klub K-League FC Seoul menggunakan sejumlah boneka seks sebagai pengganti pemain keduabelas mereka yang berujung denda (Foto: Yonhap) Salah satunya, trik yang digunakan klub FC Seoul dengan menggunakan boneka-boneka seks. Manajemen FC Seoul menganggap,penggunaan manekin-manekin yang aslinya sebagai alat pemuas syahwat itu akan lebih menarik ketimbang memajang papan-papan atau spanduk bergambar penonton biasasebagaimana yang diterapkan klub-klub K-League lain. Namun, kebijakan itu dianggap tak pantas dan melukai kaum perempuan. Alhasil, sebagaimana dikutip dari LA Times , 20 Mei 2020, FC Seoul didenda 100 juta won oleh komite disiplin K-League. “Kami meminta maaf sedalam-dalamnya terkait situasi ini. Kami aka meninjau prosedur-prosedur internal kami untuk memastikan hal ini tak terjadi lagi,” kata perwakilanFC Seoul. Sementara, di Bundesliga (liga Jerman)yang jadi kompetisi Eropa paling awal yang melakoni kick-off lagi, beberapa klub menggunakan cara konvensional dengan memajang gambar-gambar fansdi kursi penonton. Borussia Dortmundmemilih mengosongkan semua kursi namun menayangkan kerumunan fansnya di videotron di setiap sisi tribun Signal Iduna Park. Cara kreatif AGF Aarhus, klub Superligaen Denmark yang menghadirkan suporter via video conference Zoom (Foto: agf.dk ) Cara konvensional serupa tampaknya bakal ditiru liga-liga top Eropa lainyang akan menyusul menggulirkan kembali kompetisi 2019/2020: La Liga Spanyol pada 11 Juni, Premier League Inggris 17 Juni, dan Serie A Italia 20 Juni. Namun, tidak demikian dengan Superligaen Denmark. Sepertinya tiada yang lebih unik dan canggih dari cara yang ditempuh Superligaenyang sudah kembali berjalan pada akhir Mei lalu. Untuk menyiasati atmosfer semu akibat ketiadaan penonton, liga Denmarkmenghadirkan para fansnya secara live via platform konferensi video Zoom . Trik itu dianggap bisa membuat suasana lebih hidup ketimbang menghadirkan fans palsu. Beragam reaksi dari ribuan penonton bisa tetap dirasakan pemain lewat Zoom yang ditampilkan sejumlah videotron di tepi lapangan. Mural Kontroversial Arsenal Perkara pseudo fans sebetulnya bukan barang baru. Arsenal FC tercatat sebagai tim pertama yang melakoninya, 28 tahun lampau. Tentu musababnya bukan karena wabah atau pandemi, melainkan karena markasnya, Stadion Highbury, tengah direnovasi pada permulaan Premier League musim 1992/1993. Saat itu, tribun yang ditutup untuk renovasi hanya tribun belakang gawang sebelah utara sementaratribun barat, timur, dan belakang gawang sebelah selatan tetap dibuka. Diungkapkan Joshua Robinson dan Jonathan Clegg dalam The Club: How the English Premier League Became the Wildest, Richest, Most Disruptive Force in Sports , tribun utara itu mulai dipermak pada Agustus 1992 dan baru selesai pada Juli 1993. Untuk menutup tribun yang tengah dikonstruksi sepanjang musim, manajemen menutupnya dengan mural kerumuman delapan ribu suporter berbahan vinyl yang memakan dana 150 ribu poundsterling. “Musim pembuka Premier League 1992/1993 akan disiarkan secara langsung oleh televisi dan Highbury dirasa tak boleh terlihat berantakan di hadapan semua kamera. Wakil ketua klub David Dein dan direktur Ken Friar mencetuskan ide menghadirkan delapan ribu wajah suporter dalam bentuk poster setinggi 35 kaki dan lebarnya menutupi konstruksi,” tulis Robinson dan Clegg. Sektor North Bank atau tribun utara Stadio Highbury yang tengah dibongkar ditutupi poster (Foto: Twitter @EastStandArt) Beberapa pemain merasa aneh dengan keputusan itu. Tampil di hadapan penonton dari benda mati tentutanpa reaksi jika mereka mencetak gol. “Tetapi setidaknya saya tidak disoraki dengan ejekan saat berbuat kesalahan,” kata bek Lee Dixon, dikutip Robinson dan Clegg. Pilar pertahanan Arsenal lainn, Steve Bould, malah menganggap poster yang menutupi tribun utara itu seolah merupakan pembawa sial. Pasalnya, di laga kandang pertama pada 15 Agustus 1992,Arsenal keok 2-4 saat menjamu Norwich City. “Mural di tribun (utara) itu terasa aneh –semua wajah bisu yang terlukis menatap permainan Anda. Pertandingan pertama kami sempat unggul 2-0, tetapi pada akhirnya kalah 4-2 dan buat saya itu imbas dari tampil di depan mural aneh itu,” paparnya, disitat The Sun , 24 Mei 2020. Pendapat berbeda keluar dari mulut penyerang gaek Alan Smith. “Orang-orang menganggap ada kutukan pada mural itu. Butuh enam laga sampai akhirnya kami bisa mencetak gol ke gawang yang berada di sisi mural itu lewat gol sundulan Ian Wright saat melawan Manchester City (28 September). Jadi yang jelas mural itu bukan kutukan, namun memang sangat janggal rasanya tak merasakan sorakan dukungan yang nyata dari tribun itu,” ujar Smith, dikutip Jon Spurling dalam Highbury: The Story of Arsenal In N.5. “Walau begitu saya merasa adanya mural di sana lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Setidaknya mural itu memberi suasana lebih intim. Memang performa kami di musim itu tidak maksimal, namun bukan berarti gara-gara ketiadaan penonton di tribun utara itu,” sambungnya. Sayangnya poster/mural itu mengundang kontroversi karena meniadakan gambar suporter berkulit hitam (Foto: Twitter @classicsshirts) Atmosfer semu yang dirasakan pemain dari mural di tribun utara itu bukan soal utama yang menjadikannya kontroversial. Yang paling dipermasalahkan adalah keragaman sosok penonton di mural itu. Padahal, Arsenal dikenal sebagai salah satu klub kosmopolitan dan banyak pemain lokal maupun asingnya berkulit hitam. “Mural Highbury itu sungguh kontroversial dan merupakan suatu hal yang memalukan bagi fans Arsenal. Absennya wajah-wajah berkulit hitam di mural itu merupakan kegagalan dalam merefleksikan basis fans klub yang sebenarnya,” ungkap Paul Brown dalam Savage Enthusiasm: A History of Football Fans . “Fans setia mereka bukan merasa tergantikan tapi justru merasa seperti diusir dari pertandingan. Sebuah survei fans yang dirilis Desember 1992 menyatakan, sebagian besar fans menganggap klub menghilangkan hak mereka untuk eksis, mengeksploitasi, dan membuang fans,” tambahnya. S ebagai salah satu petinggi klub , David Dein akibatnya mendapat protes langsung dari salah satu pemain kulit hitam Arsenal . “Kevin Campbell datang pada saya dan mengatakan: ‘Tuan Dein, tidak ada sama sekali saudara-saudara (berkulit hitam) saya di mural itu . ’ Saya kaget dan baru menyadari bahwa dia benar. Dengan bodohnya kami tidak menyadari itu sebelumnya. Saat itu juga kami langsung memperbaikinya,” tandas Dein.

  • Sejarah Salad nan Sehat

    Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.

  • Akar Sejarah Yogurt

    Kata ‘yogurt’ berasal dari bahasa Turki, bermakna ‘yang akan dibekukan atau digumpalkan’. Berkembang ke seantero jagad karena dipandang sebagai makanan sehat.

  • Suara Angklung dari Timur

    DI bawah guyuran hujan, ratusan pelajar dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas adu kebolehan di atas panggung. Mereka berusaha tampil atraktif dan penuh semangat dalam memainkan angklung. Berlompatan di atas panggung, atau melompat sambil memukulkan dua kentongan bambu sehingga menghasilkan tampilan unik.  Bukan hanya permainan musik yang rancak. Mereka juga beradu menebak dan menembang gending  (lagu) asli Banyuwangi seperti Thong-thong Bolong, Padang Ulan, Mak Ucuk, Pethetan, Bang Cilang-Cilung, Peteg-peteg Suku, dan Untring-untring. Tak ketinggalan pula jogedan dan celotehan-celotehan lucu yang mengocok perut penonton. Para penonton pun senang dan tertawa menyaksikan aksi para peserta Festival Angklung Caruk Pelajar di Gesibu, Banyuwangi, awal 2018. Angklung caruk adalah salah satu kesenian khas yang tumbuh di masyarakat Banyuwangi. “Caruk” artinya bertemu. Sekurang-kurangnya dua kelompok saling caruk  untuk bertanding memainkan angklung. Mereka juga memiliki suporter untuk memberi dukungan jagoannya dan menjatuhkan mental lawan. Festival Angklung Caruk merupakan salah satu acara yang masuk dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival.   Setelah angklung caruk, beberapa bulan kemudian giliran Festival Angklung Paglak digelar di hamparan hijau Bandara Banyuwangi. Dalam festival ini, para pemusik berusaha menghasilkan alunan musik yang terbaik. Mereka unjuk kemahiran memainkan angklung di atas paglak atau menara bambu. Semakin kencang pukulannya, menara bambu ikut bergoyang kian kencang. Inilah ciri khas kesenian ini. ”Angklung paglak adalah salah satu kesenian tertua di Banyuwangi. Ini kearifan lokal warga yang luar biasa. Kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan masa lalu, tapi masa depan,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di laman Pemkab Banyuwangi. Ekspresi Pak Tani Banyak orang mengenal angklung berasal dari daerah Jawa Barat. Alat musik bambu yang kini terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ini lekat dengan orang Sunda. Namun, angklung ternyata juga berkembang di ujung timur Jawa. Jika angklung Sunda dijinjing dan digoyang untuk memainkannya, angklung Banyuwangi harus diletakkan atau disangga dengan perut dan dimainkan dengan cara dipukul. Ukurannya juga lebih besar dan terdiri dari dua angklung yang berpasangan. Penyangganya berukir naga atau kepala Gatotkaca. Tak diketahui sejak kapan angklung muncul, baik di tatar Sunda maupun Banyuwangi. Alat musik bambu memang telah digunakan dalam berbagai kebudayaan Nusantara pra-Hindu. Berkembang di berbagai daerah dan menemukan bentuknya sendiri. Paul Arthur Wolbers dalam “Gandrung and Angklung from Banyuwangi: Remnants of a Past Shared with Bali” di jurnal Asian Music Vol. 18 No. 1 tahun 1986 menyebut instrumen bambu di Banyuwangi awalnya berbentuk seperti kentongan yang dipasang pada paglak . Kentongan ini digunakan sebagai alat komunikasi antardesa serta untuk mengusir harimau dan hantu. Bambu sebagai alat musik tampaknya kemudian digunakan dalam upacara panen padi. Perkusi bambu menjadi pengiring ritual sekaligus hiburan bagi para petani. Sedangkan dari bentuknya, Wolbers menyebut angklung Banyuwangi memiliki hubungan dengan gamelan angklung dari Bali. “Beberapa xilofon bambu ada di Jawa, tapi tak ada yang mendekati bentuk keseluruhan dari angklung Banyuwangi. Satu-satunya instrumen yang terlihat mirip adalah grantang langka dari Bali,” sebut Wolbers. Grantang pernah memainkan peran dalam angklung gamelan Bali yang dapat dibandingkan dengan orkestra angklung dari Banyuwangi. Kemunculan kesenian angklung tak bisa dipisahkan dari kebiasaan masyarakat Osing saat musim panen. Alat musik dari bambu dimainkan di atas paglak sebagai undangan dari pemilik sawah kepada warga agar ikut membantu sekaligus menghibur para petani. Selain itu, alunan musik angklung juga berguna untuk mengusir burung. Menurut Budhisantoso dkk dalam Pola Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Using di Kabupaten Banyuwangi Propinsi Jawa Timur , masyarakat Osing menyebut tradisi saat panen itu sebagai upacara “ngampung”. Para petani yang mampu biasanya nanggap kesenian “angklung sawahan” atau istilah yang lebih populer angklung paglak. “Kesenian ‘angklung sawahan’ ini dipertunjukkan di lokasi sawah yang sedang panen sehingga menambah suasana gembira dan semangat kerja bagi pemanen,” tulis Budhisantoso dkk. Ragam Angklung Dari permainan yang sederhana, angklung berkembang menjadi sebuah kesenian yang bisa digunakan untuk mengiringi sebuah tarian. Di Desa Kemiren, terdapat dua jenis kesenian angklung, yakni angklung pelangi sutra dan angklung caruk. Angklung pelangi sutra menampilkan tarian yang dibawakan beberapa orang dan diselingi lawakan –juga sandiwara bila diminta. Sedangkan angklung caruk mempertandingkan kebolehan para pemain dari sekurang-kurangnya dua kelompok seni. Dalam angklung caruk juga disajikan tarian seperti tari jangeran, tari gandrungan, cakilan, hingga kuntulan. Menurut Wolbers, latar belakang angklung caruk dapat ditemukan dalam beberapa tradisi yang telah punah. Salah satunya adalah tarian tarung menggunakan tongkat rotan yang dimainkan selama musim kemarau di beberapa daerah di Jawa Timur. Permainan ini diiringi oleh sekolompok pemusik. Di dekat Banyuwangi, pernah pula terdapat gitikan , hiburan yang menampilkan dua lelaki berusaha saling memukul dengan cambuk panjang terbuat dari serat daun kelapa. Pertunjukan itu diiringi oleh dua angklung yang repertoar musiknya sama dengan gandrung . “Kebiasaan lain yang mungkin telah berkontribusi pada angklung caruk ditemukan dalam apa yang Pigeaud sebut prang desa , ‘perang desa’," sebut Paul Arthur Wolbers dalam “Account of Angklung Caruk July 28, 1985” di jurnal Indonesia April 1987. Ayu Sutarto dalam makalahnya pada acara Jelajah Budaya berjudul “Sekilas tentang Masyarakat Using” menyebut angklung caruk berasal dari kesenian legong Bali. “Kecepatan irama musik dan lagu-lagu yang dimainkannya sangat dipengaruhi oleh nuansa musik angklung ritmis dari Bali. Namun dalam kesenian ini terdapat juga perpaduan antara nada dan gamelan slendro dari Jawa yang melahirkan kreativitas estetik,” tulis Ayu. Namun, Ayu memasukkan angklung caruk sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “angklung daerah” yang bisa dipakai untuk mengiringi gending (lagu) dan tari. Jenis angklung daerah adalah angklung paglak, angklung caruk, angklung tetak, angklung dwi laras, dan angklung Blambangan. Angklung tetak merupakan pengembangan dari angklung paglak, dengan perubahan pada bahan instrumen dan nada. Angklung dwi laras merupakan pengembangan dari angklung tetak. Disebut angklung dwi laras karena angklung jenis ini menggabungkan komposisi dua nada, yaitu laras pelog dan laras slendro. Sementara angklung Blambangan merupakan pengembangan terakhir angklung di Banyuwangi. Ada beberapa gending yang biasa dimainkan dalam angklung daerah. Antara lain Jaran Ucul, Tetak-tetak, Gelang Alit, Mak Ucuk, Sing Duwe Rupo, Congoatang, Ulan Andung-andung, Mata Walangan, Ngetaki, Selendang Sutera, dan Padhang Ulan. Angklung dan Genjer-genjer Ada varian kesenian angklung yang pernah berkembang pada 1950-an. Ia disebut angklung modern tapi lebih dikenal sebagai genjer-genjer. Nama ini bukan hanya merujuk pada judul lagu Genjer-genjer. Melainkan digunakan sebagai sebutan untuk setiap gubahan dari sebuah kelompok angklung bernama Sri Muda. Bahkan Sri Muda sebagai kelompok musik pun sering disebut sebagai Genjer-genjer. Dalam Lekra Tak Membakar Buku, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan menyebut, Sri Muda merupakan kelompok angklung modern yang populer pada 1950-an hingga 1960-an. Ia bermula dari organisasi yang bergerak di bidang khusus angklung caruk yang dibentuk tahun 1954 dengan nama Sri Tanjung. Dari Sri Tanjung, lahir konsepsi musik angklung baru. Kematangan revolusioner Sri Tanjung kian meluas dan membumi. Mereka mendorong para pemuda untuk menggunakan angklung sebagai senjata dalam bermusik. “Sri Tanjung pun lebur menjadi Sri Muda (Seni Rakyat Indonesia Pemuda). Lagu-lagu yang dibawakannya, terutama ciptaan Arief (Muhammad Arief, pencipta lagu Genjer-genjer, -red ), masih disukai. Bukan saja karena iramanya yang khas, tapi juga isinya progresif,” sebut Rhoma dan Muhidin. Lagu Genjer-genjer menjadi yang paling populer. Dari situlah Genjer-genjer bergeser menjadi sebutan konsepsi angklung modern Sri Muda dan sebutan untuk Sri Mudanya sendiri. Pada 1960-an berkembang pula tarian padangulan atau kadang disebut tari angklung. Diciptakan dari kebiasaan masyarakat Banyuwangi, terutama yang berdiam di sekitar pantai, beramai-ramai keluar rumah dan berjalan-jalan di pantai bila bulan purnama. Gerak dasar tarian banyak mengambil unsur pada pertunjukan gandrung, baik dari penari gandrung maupun pemajunya. Ditarikan anak laki-laki dan perempuan dengan perpasangan. Jumlah pasangan tidak terbatas. Menurut buku Ensiklopedi Tari Indonesia , t arian padangulan dipopulerkan tahun 1964. Semula digarap Wim Arimaya, seorang penari di daerah itu. Pada mulanya banyak mengambil unsur-unsur gerak tarian Melayu. Lalu disempurnakan hingga mencapai bentuknya sekarang oleh seniman-seniman tari muda, antara lain Sumitro Hadi. Setelah 1965, stigma negatif membuat redup dunia perkembangan kesenian angklung di Banyuwangi. Namun perlahan ia kembali muncul dan populer sebagai hiburan atau tontonan pada acara hajatan seperti perkawinan, khitanan, atau perayaan lainnya. Kini, lebih dari setengah abad setelah masa kejayaan angklung modern, berbagai festival angklung diadakan di Banyuwangi. Dari Fertival Angklung Caruk Pelajar hingga Festival Angklung Paglak yang dimainkan di atas menara bambu paglak diadakan untuk membangkitkan kembali tradisi angklung dari timur ini. Angklung paglak khas Banyuwangi yang telah mendarah daging nantinya juga melahirkan kesenian musik lokal semacam Kendang Kempul.

  • Berpacu dalam Kendang Kempul

    SIAPA tak kenal Ikke Nurjanah? Penyanyi dangdut bersuara merdu dan berpenampilan sopan ini pernah kondang di blantikan musik Indonesia. Sejak usia remaja, dia memang sudah menjadi penyanyi profesional dan meluncurkan sejumlah album. Namun, sebelum dikenal sebagai penyanyi dangdut, Ikke identik dengan lagu-lagu Jawa. Hal ini tak bisa dilepaskan dari kesuksesan album Ojo Lali . Bahkan berkat album itu pula namanya melejit. Setelah itu sederet album Jawa pun dirilisnya. Salah satunya album Gelang Alit . Album Gelang Alit diproduksi MSC Records dan dirilis tahun 1996 saat Ikke masih kuliah. Menariknya, di album ini, Ikke mencoba menginterpretasi lagu berbahasa Osing dari Banyuwangi berjudul “Gelang Alit” karya Fatrah Abal atau Faturahman Abu Ali. Kendati liriknya sudah diubah ke dalam bahasa Indonesia, aransemennya masih kental nuansa Banyuwangi. Tumbuh indah di taman hati Laut Ketapang airnya keruh Pinggir kota Banyuwangi Siang malam kurindu Hati rasa setiap hari Album Gelang Alit cukup mendapat sambutan dari penggemar musik tanah air. Album itu juga mengangkat kembali musik etnik Banyuwangi ke ranah musik nasional. “Dan Ikke Nurjanah, penyanyi dangdut, memiliki hit nasional pada 1997 dengan sebuah lagu kendang kempul, yang merupakan sumber kebanggaan utama bagi banyak orang di Banyuwangi,” tulis Bernad Arps dalam “Osing Kids and the banners of Blambangan” di jurnal Wacana , April 2009. “Tampaknya ini adalah ungkapan keinginan untuk sebuah pengakuan.” Kendang kempul adalah sebutan untuk musik etnik yang lahir dan berkembang di Banyuwangi, Jawa Timur. Dari Gandrung Musik kendang kempul tumbuh dan berkembang dari kesenian gandrung Banyuwangi. Alat musik yang digunakan pun dipakai pada kesenian gandrung. Ada yang menyebut kendang kempul telah ada dan berkembang pada 1920-an dengan munculnya lagu-lagu yang diciptakan untuk mengiringi kesenian gandrung. “Musik kendang kempul pada awalnya disebut dengan kendang gong, yakni seni musik yang tumbuh dan berkembang dari tradisi kesenian gandrung,” tulis Ginanjar Wahyu Raka Siwi dalam tugas akhirnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan judul “Musik Populer Kendang Kempul Banyuwangi”. Namun, lagu-lagu gandrung dirasa kurang memanjakan telinga. Maka, sejumlah seniman mulai menciptakan lagu-lagu bertema alam dan rakyat kecil. “ Nah, setelah itu mulai berkembang lagu-lagu Banyuwangi dengan iringan angklung,” ujar Hasan Singodimayan, mantan aktivis Himpunan Seniman dan Budayawan Islam yang berafiliasi dengan partai Masyumi, dikutip Ikwan Setiawan dalam artikel “Merah Berpendar di Brang Wetan: Tegangan Politik 65 dan Implikasinya terhadap Industri Musik Banyuwangen”. Salah satu lagu yang kemudian populer adalah Genjer-genjer, diciptakan musisi Mohamad Arief, pada 1953. Lagu ini menggambarkan kesulitan hidup pada masa pendudukan Jepang sehingga memaksa penduduk di Banyuwangi makan genjer yang dianggap pakan ternak –karenanya ada yang menyebut lagu ini diciptakan masa Jepang. Sejak gabung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Mohammad Arief mendirikan grup angklung Srimuda (Seni Rakyat Indonesia Muda). Pada 1960-an, ketika singgah di Banyuwangi dan disuguhi pertunjukan angklung dengan lagu penutup Genjer-genjer, petinggi PKI dan Lekra Njoto berucap: “Lagu ini pasti akan segera meluas dan menjadi lagu nasional!” Terbukti lagu itu populer. Disiarkan RRI dan TVRI . Dinyanyikan penyanyi-penyanyi nasional. Selain Mohammad Arif, ada banyak seniman Banyuwangi era itu yang menulis lagu seperti Andang C.Y., Nasikin, B.S. Nurdian, Mahfud Hariyanto, Endro Wilis, A.K. Armaya, dan Fatrah Abal. Mereka umumnya bergabung dengan lembaga-lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan partai politik saat itu. “Musik lokal Banyuwangi pada awalnya adalah kreativitas para seniman musik yang didorong oleh kepekaan sosial. Realitas sosial yang terjadi pada masyarakat Banyuwangi yang diungkapkan oleh seniman dalam bentuk syair lagu,” tulis Hervina Nurullita dalam “Stigmatisasi terhadap Tiga Jenis Seni Pertunjukan di Banyuwangi” di Jurnal Kajian Seni , November 2015. Perkembangan musik lokal Banyuwangi surut setelah Peristiwa 1965. Lekatnya lagu Genjer-genjer dengan PKI berimbas pada stigma kiri terhadap semua musik Banyuwangi. Beberapa seniman yang selamat mengalami stigma, trauma, dan ketakutan. Kendang kempul berkembang dari kesenian gandrung Banyuwangi. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi).  Adaptif Pada 1970-an, A.K. Armaya kembali ke Banyuwangi dari perantauannya di Jakarta. Dia mendapati suasana ketakutan masih membayangi para seniman untuk membuat lagu-lagu Banyuwangi. Sementara masyarakat Banyuwangi lebih familiar dengan musik-musik beraliran pop hingga dangdut. Armaya berhasrat untuk menghidupkan kembali lagu-lagu Banyuwangi. Inisiatifnya mendapat dukungan dari Bupati Joko Supaat Slamet. “Hingga pada tahun 1975-an Banyuwangi sudah mulai berani merekam lagu-lagu berbahasa Osing namun dengan pengawasan dan fasilitas dari pemerintah,” tulis Akbar Satria Putra Mahendra dan Agus Trilaksana dalam “Musik Kendang Kempul Tahun 1980-2008” di jurnal Avatara , Oktober 2018. “Pelukan mesra pendopo”, begitu istilah yang dipakai Ikwan, berwujud merekam lagu-lagu Banyuwangen karya mantan seniman Lekra maupun bukan dengan instrumen yang mengkolaborasikan angklung dan gandrung karena kedua jenis instrumen tersebut sangat populer. “Dipakainya lagu-lagu ciptaan para seniman kiri menandakan bahwa persoalan stigma politis untuk sementara bisa diatasi, meskipun kontrol memang masih begitu ketat,” tulis Ikwan. Terlepas dari kontrol rezim terhadap perkembangan kesenian Banyuwangen, lanjut Ikwan, nyatanya para seniman punya mekanisme sendiri untuk mengembangkan kesenian tradisi-lokal di Banyuwangi. Mereka tetap berkarya, meskipun harus bersiasat terus-menerus. “Industri rekaman yang dibina oleh Pendopo, ternyata mempunyai peran strategis untuk menyemarakkan kembali kesenian beraroma rakyat di tengah-tengah masyarakat,” tulis Ikwan. Sebenarnya, setelah 1965, dunia musik di Banyuwangi tetaplah semarak. Menurut Akbar dan Agus, sejarah musik di Banyuwangi pasca 1965 berawal dari grup orkes Gavilas yang digadang-gadang sebagai pionir orkes musik Melayu di Banyuwangi. Grup ini juga populer saat itu. Eksistensi Gavilas mendorong munculnya grup orkes lainnya. Salah satunya Arbas (Arek Banyuwangi Asli) pimpinan Sutrisno. Pada 1980-an Sutrisno dan teman-temannya mempopulerkan kendang kempul namun dengan balutan musik yang berkembang saat itu. Mereka menggabungkan unsur instrumen dalam gandrung dengan peralatan musik modern untuk mendapatkan warna baru yang nantinya akan menjadi identitas khas Banyuwangi. Nama kendang-kempul diambil karena dalam musik yang dibuat ada kendang dan kempul sebagai instrumen utama. Alat musik itulah yang membedakannya dari musik etnik lainnya. Kemudian ditambahkan organ, biola, dan gitar yang merupakan alat musik modern. Kekuatan utamanya terletak pada lirik-lirik lagunya yang berbahasa Osing. Ini pula yang membuat kendang kempul bisa diterima, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Pada dasarnya, ujar Sutrisno kepada Ikwan, kendang kempul itu orkes versi Osing dengan memasukkan kendang dan kempul. Upaya Sutrisno dan kawan-kawan rupanya mendapat tempat di hati masyarakat Banyuwangi. “ Ketika sekitar 1980 kendang Kempul dibuat kira-kira dalam bentuknya yang sekarang, yaitu musik pop, ini adalah langkah yang cukup radikal,” tulis Arps. Eksistensi kendang kempul di pentas nasional mencuat setelah “Ratu Kendang Kempul” Mbok Sumiati membuat album dengan pelawak kenamaan Jakarta, Doyok dan Cahyono. “Walaupun mereka dari background komedi, namun untuk masalah olah vokal, mereka tak kalah dengan penyanyi dangdut papan atas. Warna vokal dan basa Osing Mbok Sumiati lah tetap yang mendominasi keunikan dari lagu-lagu yang mereka bawakan. Sebagai contoh, lagu Kenal Lare Osing yang dibawakan Doyok dan Sumiati dalam album Cinta Modal Sepeda ,” tulis Akbar dan Agus. Perkembangan ini kian menyemarakkan dunia musik Banyuwangi. Industri rekaman lokal pun tumbuh. Album rekaman dalam format VCD dibuat dan didistribusikan ke lapak-lapak penjual. Penjualannya pun lumayan. Lagu-lagunya, sebagian besar bertema cinta meski ada juga bermuatan “patriotisme”, mewarnai siaran-siaran radio di wilayah Banyuwangi. Bahkan pada 1990-an lagu-lagunya digemari untuk karaoke, baik pada perayaan maupun kontes. “Bernyanyi kendang kempul adalah hobi populer di kalangan anak sekolah menengah. Saya telah berbicara dengan beberapa orang yang pikirannya menjadi salah satu ciri utama menjadi Laré Using adalah dapat menyanyikan kendhang kempul dan mengetahui lagu tersebut,” ujar Arps. Namun badai melanda industri musik di manapun karena adanya perkembangan teknologi informasi, terutama internet. Akibatnya penjualan VCD turun. Mau tak mau, para produser rekaman pun merambah dunia digital. Siasat lain dilakukan dengan bergeser ke genre dangdut koplo yang lagi tren. Maklum, masa keemasan lagu Banyuwangi sempat turun pada 2006. Sandi Record, misalnya, berkreasi dengan mengkolaborasikan musik Banyuwangi dengan berbagai genre seperti koplo, house dan disco. Kreasi Sandi Record ternyata diterima pasar. Album-album yang diproduksinya kembali meledak. Selain menggarap lagu-lagu Banyuwangi, dia mulai merambah pasar dangdut. Sandi Record membidik diva dangdut seperti Elvi Sukaesih dan Ikke Nurjanah untuk rekaman. “Lagu dangdut ini untuk nutupin kalau lagu Banyuwangi sepi,” ujarnya, dikutip Lokadata .  Kendati muncul kritik, kecenderungan semacam itu menunjukkan betapa dinamisnya musik Banyuwangi. Hal itu pula yang membuat kendang kempul bisa bertahan. Bagaimanapun, kendang kempul sudah didapuk sebagai musik daerah Banyuwangi. Upaya untuk melestarikan dan mengembankannya pun terus dilestarikan. Antara lain melalui Festival Gending Osing yang kembali digelar Pemkab Banyuwangi pada akhir tahun lalu. “Kami semua sangat bersyukur musik Banyuwangi terus berkembang. Dan yang paling penting, tak hanya bergema di daerahnya, bahkan musik Banyuwangi mudah kita temui di daerah lain. Surabaya contohnya. Saya itu kerap terdengar musik Banyuwangi diputar atau dimainkan musisi jalanan jika berkunjung ke wilayah Jawa Timur lain,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip laman Pemkab Banyuwangi. Yuk, ikut berdendang.

  • Serangan Aktivis Kiri di Bandara Lod Israel

    HARI ini, 30 Mei , 48 tahun silam, Pablo Tirado-Ayala mendapati kenyataan amat berbeda di Bandara Lod (kini Bandara Internasional Ben Gurion), Tel Aviv, Israel. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan spiritual dengan mengikuti wisata religi ziarah ke “Tanah Suci” itu, pria Puerto Riko yang menjadi warga negara Amerika Serikat tersebut justru tak pernah mendapatkannya karena hanya bisa sampai bandara. Kerusuhan mengerikan di bandara itu tak “mengizinkannya” sampai ke “Tanah Suci” dan justru membawanya ke fase kehidupan berbeda yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pablo tak mau bicara, di rumah ia hampir selalu berada di kamarnya, ia hanya akan keluar selama beberapa menit, dan dia tak akan bicara, dan dia akan kembali ke kamarnya,” ujar Angel Ramirez Colon, anak angkat semata wayang pasangan Pablo dan Antonia, dalam kesaksiannya tentang sang ayah yang diutarakan dalam persidangan di United States District Court for the District of Puerto Ricopada 2008, dimuat di laman osenlaw.com . Pablo mengalami gangguan jiwa berat akibat terluka oleh tembakan tak lama setelah pesawatnya mendarat di Bandara Lod, dikenal dengan Pembantaian Bandara Lod (Lod Airport Massacre). Kerusuhan itu dilakukan tiga teroris Jepang anggota Japanese Red Army (JRA), organisasi ultra-kiri pecahan Red Army Faction (FAR) yang didirikan Fusako Shigenobu. Menurut Sara Dissanayake dalam “Japan” yang termuat di buku Handbook of Terrorism in the Asia-Pasific , FAR beroperasi dengan tujuan menggulingkan pemerintah dan monarki di Jepang serta menggerakkan revolusi di dunia. “Anggota kesatuan itu terlibat dalam berbagai tindakan kriminal di Jepang, termasuk serangan terhadap kantor polisi dan serangan bank. Pada 31 Maret 1970, sembilan anggota RAF membajak sebuah penerbangan Japan Airlines dan memerintahkan pilotnya menerbangkan pesawat ke Korea Utara, di mana mereka diberi perlindungan dan tempat tinggal,” tulis pakar terorisme itu. Akibatnya, pemerintah Jepang mengambil tindakan keras. Tindakan keras pemerintahan Jepang terhadap kelompok kiri pada 1970-1971 dan adanya persaingan sengit antar-kelompok kiri memaksa Shigenobu dan beberapa anggota militan lain menyingkir ke luar negeri. Mereka memilih Lebanon, tempat Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) bermarkas, sebagai tempat pelarian. Shigenobu dan kawan-kawan disambut hangat rekan internasionalnya dalam perjuangan melawan imperialisme itu. “Kedatangan Shigenobu di Timur Tengah amat tepat sesuai dengan keinginan yang tumbuh dalam orang-orang Palestina untuk mencari dukungan luar kegiatan anti-Israel mereka. Meskipun Palestina telah lama berjuang melawan Israel, mereka melakukannya dengan sedikit keberhasilan,” tulis Aileen Gallagher, investigator lepas dan penulis, dalam The Japanese Red Army .    Kekalahan Arab dalam Perang Arab-Israel 1967 membuat para pemimpin perjuangan Palestina mengubah taktik. Perang konvensinal tak mungkin mereka lakukan lagi karena Israel terlalu kuat dengan dukungan AS. “Terorisme dan perang gerilya kini dianggap satu-satunya harapan warga Palestina untuk menyingkirkan Israel dari tanah yang mereka anggap milik mereka. Orang-orang Palestina mulai mencari inspirasi dan bantuan dari kelompok lain di seluruh dunia yang telah berjuang untuk menggulingkan pemerintah,” sambung Aileen. Setelah Shigenobu mendirikan JRA di Lembah Bekaa, kerjasama para militan kiri Jepang itu dengan PFLP kian intensif. Satu aksi penting yang mereka rencanakan adalah menyerang bandara Lod di ibukota Israel. “Serangan itu sebenarnya dikoordinir PFLP tetapi dieksekusi oleh tiga anggota JRA,” kata Sara. Pemilihan anggota JRA sebagai eksekutor diusulkan Shigenobu untuk menghilangkan kecurigaan pihak keamanan bandara Israel yang sedang gencar mengawasi pendatang Arab. Meski sempat meragukan, pimpinan PFLP akhirnya menerima usulan Shigenobu. “JRA adalah semangat kekeluargaan sempurna dan mitra yang sukarela,” tulis Aileen. Setelah perencaan dibuat, mereka mencari eksekutor. Salah satu yang bersedia, Kozo Okamoto. Setibanya di Beirut setelah beberapa bulan menjalani penerbangan estafet dari Tokyo via Amerika, Okamoto menjalani pelatihan sembilan minggu.   Misi dijalankan oleh tiga eksekutor: Kozo Okamoto, Takeshi Okudaira (suami Shigenobu), dan Yasuyuki Yasuda. Mereka menyamar sebagai turis Jepang. Mereka hanya membawa sedikit koper, berisi senapan semi-otomatis dan granat. Setelah pelesir ke Paris, mereka tur ke Roma. Tiga hari di Roma, mereka lalu terbang ke Tel Aviv menggunakan pesawat Air France dengan nomor pererbangan 132 dari Paris yang transit di Roma. Pada saat-saat itulah Pablo Tirado-Ayala di Amerika amat bahagia karena waktu wisatanya ke “Tanah Suci” makin dekat. “Itu adalah topik utama obrolan di rumah. Antonia tidak mau bergabung dengan Pablo karena Angel masih di rumah (pada saat itu berusia 16) dan dia tidak ingin meninggalkannya sendirian,” kata Angel Ramirez, anak-angkat Pablo. Pablo akhirnya berangkat ke Tel Aviv bersama 16 wisatawan-peziarah lain dari Puerto Rico. Mereka tiba di Bandara Lod pada 30 Mei. Begitu turun dari pesawat, mereka mengantri di ruang bagasi untuk mengambil barang-barang bawaan. Saat itulah, tulis Aileen, “Tiga lelaki Asia mengambil tas dan pindah ke dinding yang jauh, berpura-pura mencari sesuatu di koper mereka. Tiba-tiba, tembakan memenuhi ruangan itu.” Ketiga teroris terus memberondongkan senapannya secara membabi buta ke arah kerumanan orang di ruang bagasi bandara. Salah satu teroris lalu melemparkan granat ke beberapa kelompok orang yang berkerumun. Mereka tak puas dan memperluas wilayah ke serangan ke ruang tunggu di luar. Okudaira bahkan memasuki landas-pacu dan memberondong sebuah pesawat. Ketika pelurunya habis, dia melemparkan granat yang tersisa dan tubuhnya hancur bersamaan dengan kepingan-kepingan granat itu. Banyak orang menganggap itu sebagai aksi bom-bunuh dirinya, namun banyak saksi mengatakan dia terpeleset dan jatuh ke arah granat yang dilemparnya. Teroris kedua, Yasuda, tewas tertembak tak lama berselang. Sebagian saksi menyatakan dia terkena friendly fire , namun banyak saksi meyakini dia tertembak oleh aparat keamanan bandara. Sementara, Okamoto, lari keluar untuk melemparkan granat ke arah pesawat setelah kehabisan peluru. Okamoto tak melawan saat dibekuk petugas keamanan. Dia bahkan berharap dihukum mati aparat keamanan Israel meski hal itu tak pernah dikabulkan. Meski hanya beberapa menit, serangan tiga teroris JRA itu menewaskan 26 orang. Salah satunya, Profesor Aharon Katzir, ahli bio-fisika Israel. Sementara, 80 orang lain mengalamai luka-luka akibat serangan itu. “Misi ini akan tercatat dalam sejarah sebagai tindakan paling berdarah JRA, yang akan menempatkannya di antara organisasi teroris yang paling ditakuti di dunia,” tulis Aileen. Salah satu korban adalah Ros Sloboda. Perempuan asal London yang saat itu bekerja di Tel Aviv itu tertembak salah satu kakinya. Dia bahkan sempat yakin dirinya bakal tewas ditembak lebih lanjut oleh salah seorang teroris yang dilihatnya. Namun, keyakinan itu meleset. Nyawanya selamat. Meski nyawanya juga selamat, Pablo mengalami gangguan mental berat. Dia berhasil pulang ke Puerto Rico, namun tidak pulang sebagai Pablo sebelumnya yang ceria, ramah, perhatian, dan penyayang. Gangguan mental berat membuatnya murung dan mengurung diri sepanjang hari di kamarnya. Dia tak bisa tidur tanpa minum obat. Di tengah tidurnya, dia sering terbangun dan berteriak. Upaya pengobatan yang dilakukan Antonia istrinya dengan membawanya ke instalasi perawatan mental selama sebulan, tak banyak membantu. Pembantaian Bandara Lod telah mengubah kepribadian Pablo. “Dia tak mudah didekati lagi seperti sebelumnya,” kata Angel. Perubahan itu juga amat menyedihkan Antonia. “Karena dia tempat diajak bicara, yang akan menghabiskan waktunya bersama kami, orang yang mengajak kami pergi, seorang penyedia utama, (tapi) dia tak ada lagi,” ujar Antonia.

  • Sejarah Panjang Kopi Lanang

    NGOPI di kafe itu biasa. Tapi menikmati secangkir kopi di tengah perkebunan yang sejuk berbalut pemandangan indah tentu jauh lebih nikmat. Apalagi jika di tempat itu tersedia kopi lanang yang memiliki rasa lebih lembut, tekstur padat, dan aroma harum. Jika Anda ingin mencobanya, datanglah ke Banyuwangi, Jawa Timur. Di sana ada Wisata Kuliner Kopi Lanang, destinasi yang menggabungkan konsep wisata alam sekaligus edukasi, yang berada di tengah perkebunan Malangsari. Anda bisa menikmati kopi premium kualitas ekspor. Selain itu sajian kuliner yang diolah dengan aroma kopi lanang. Dari wedang ronde hingga es degan. Dari watu lempit hingga getuk gulung rasa. Gagasan Wisata Kuliner Kopi Lanang yang berlokasi di Dusun Ledoksari, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru ini muncul setelah acara ekspor perdana kopi robusta Malangsari ke sejumlah negara. Seperti diketahui, perkebunan Malangsari adalah salah satu sentra penghasil kopi robusta terbaik di Nusantara. Produknya sudah diekspor ke Italia, Jepang, Inggris, hingga Swiss. “Pada kesempatan yang sama, wisata ini menawarkan edukasi petik hingga penyajian kopi bersama para pakar. Sehingga wisata ini menjadi pusat edukasi yang lengkap bagi wisatawan dan para pelajar,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip laman  Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, akhir tahun lalu. Anas mengaku senang Wisata Kuliner Kopi Lanang akhirnya bisa dibuka lewat kerjasama dengan Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Pembukaan tempat ini bagian dari upaya bersama untuk mengembalikan citra Banyuwangi sebagai penghasil kopi berkualitas. Kopi Robusta Kopi berakar kuat di Banyuwangi. Banyuwangi kaya kopi. Sejak zaman Belanda kopi sudah dikembangkan di perkebunan-perkebunan kopi milik penjajah Belanda. Biji kopi pertama di Banyuwangi berasal dari Clement de Harris, residen pertama Besuki, pada 1788. Besuki terdiri atas empat afdeeling (kabupaten): Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Dari keempatnya, Banyuwangi mempunyai pegunungan luas bernama Ijen. Cocok untuk pertumbuhan kopi. De Harris pun menanamnya di Sukaraja, utara Banyuwangi –kini masuk wilayah Kecamatan Giri . Masa tanam paksa 1830-1870 mendorong perluasan kebun-kebun kopi di Banyuwangi ke arah selatan. Wilayah itu mencakup Songgon, Wongsorejo, Glagah, Licin, Kalipuro, Pesanggaran, Glenmore, dan Kalibaru (Malangsari). Wilayah ini pun mulai dikenal sebagai penghasil kopi di Jawa selain wilayah Priangan di Jawa Barat. Menurut Upik Wira Marlin Djalins dalam “Subject, Lawmaking and Land Rights: Agrarian Regime and State Formation in Late-Colonial Netherlands East Indies”, disertasi di Universitas Cornell tahun 2012, di bawah pengawasan kepala desa, kebun-kebun kopi ditanam dan dirawat penduduk setempat dan menghasilkan keuntungan yang besar bagi Belanda. Kopi Banyuwangi bahkan terkenal di Belanda dan sangat dicari. “Kemasyhuran kopi Banyuwangi menarik perhatian para pengusaha yang bercita-cita tinggi dan tersebar di wilayah Jawa Timur,” tulis Upik. Sejumlah pengusaha mencoba peruntungan dengan membuka perkebunan kopi. Terlebih setelah penghapusan Sistem Tanam Paksa yang memungkinkan budidaya kopi dikelola swasta. Pada 1959 dan 1960, perusahaan perkebunan milik Belanda dinasionalisasi. Mereka dimasukkan dalam satu wadah dan kini menjadi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Mulanya banyak perkebunan menanam varietas kopi arabica. Namun berjangkitnya penyakit tanaman kopi menyebabkan penurunan produksi kopi secara drastis. Maka, diperkenalkanlah varietas kopi robusta di Jawa yang lebih tahan penyakit dan produktivitasnya tinggi. Hasilnya, pertumbuhan kopi robusta melampaui produksi kopi Arabica. “Introduksi kopi robusta ini ternyata telah menjadi titik awal dari perubahan sejarah industri kopi di Indonesia. Penanaman dan pengembangan kopi jenis ini bukan saja telah mengubah negeri kita dari produsen kopi arabika menjadi produsen kopi robusta, tetapi lebih penting lagi jenis kopi ini telah menyelamatkan kelangsungan negeri ini sebagai salah satu penghasil kopi dunia,” tulis Latifatul Izzah dalam Dataran Tinggi Ijen: Potongan Tanah Surga untuk Java Coffee. Kopi robusta merupakan salah satu komoditas utama perkebunan Malangsari. Malangsari menempati lahan seluas 2.665,92 hektar yang mencakup delapan wilayah: Besaran, Watulempit, Mulyosari, Kampung Tengah, Tretes, Gunungsari, Pacurejo, dan Ledoksari. Kopi robusta kerap dibilang kopi kelas dua. “Lebih pahit dan sedikit asam daripada jenis Arabica. Kadar kafeinnya juga lebih banyak,” ujar Jaenal Arifin, alumnus program studi sejarah Universitas Jember, yang pernah meneliti tentang perkebunan kopi Malangsari. Namun siapa sangka dari kopi robusta muncul kopi bernilai tinggi yang dikenal dengan sebutan kopi lanang . Mendongrak Gairah Perluasan kebun kopi mempengaruhi perilaku orang-orang di Banyuwangi. Mereka bukan saja mengenal budidaya kopi, tapi juga bagaimana menghayati kopi dengan caranya sendiri. Kopi merekatkan mereka. “Sekali seduh, kita bersaudara,” demikian slogan mereka turun-temurun. Tapi produksi dan budaya kopi di Banyuwangi belum cukup untuk mendongkrak citra kopi Banyuwangi. Padahal sejak lama Banyuwangi merupakan salah satu sentra produksi kopi di Jawa. Rasa kopi Banyuwangi juga cukup khas. Misalnya saja kopi lanang Malangsari. Kopi ini disebut lanang lantaran bentuk bijinya berbeda dari kopi lainnya. Bentuknya tunggal dan bulat, sedangkan biji kopi lainnya terbelah dan berbiji dua (dikotil). Bentuk kopi lanang juga lebih kecil. Lanang berasal dari bahasa Jawa, artinya lelaki. Di pasar internasional ia biasa disebut peaberry coffee .  Kopi lanang terbaik muncul dari pohon kopi robusta berumur 10 tahun ke atas. Pohon itu harus tumbuh di tanah yang gembur, subur, mengandung banyak humus, berjenis andosol atau latosol, dan bertekstur baik. Genealogi pohon kopi tersebut berasal dari kebun percobaan di Kaliwining pada 1930-an. Anakannya tahan terhadap parasit Pratylenchus coffee dan Radopholus similis serta kekeringan. Ketinggian tempat ikut berpengaruh terhadap kualitas robusta. Pegunungan Meru Betiri mempunyai ketinggian 450-700 meter di atas permukaan laut. Perkebunan kopi menghadap ke timur sehingga memperoleh sinar matahari pagi yang lebih dari cukup. Selain itu, perkebunan kopi memperoleh angin laut dari selatan. Kondisi ideal untuk robusta. Menurut tuturan orang tempatan, kopi lanang diperoleh secara tidak sengaja. Para pekerja semula mengira kopi lanang sebagai kopi gagal. Bentuknya berbeda dari kebanyakan kopi. Tapi setelah dikumpulkan, jumlahnya 2-5 persen dari total panen. Sayang kalau dibuang. “Kopi gagal” itu pun diolah. Rasanya ternyata lebih nendang daripada sebagian besar kopi panenan. Sejak itu penelitian tentang kopi lanang muncul. Setelah diadakan penelitian oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, kopi itu justru jadi komoditas unggulan Perkebunan Malangsari. Kandungan kafein kopi lanang lebih tinggi 2,1 persen dibandingkan kopi lain. Rasanya mirip kopi luwak dengan aroma kuat dan agak asam. Mitosnya, kopi lanang mampu meningkatkan stamina dan gairah seksual lelaki. Biji kopi lanang mengandung senyawa tribulus terrestris untuk meningkatkan testoteron dan dehidroepiandrosteron (DHEA), sejenis steroid alami yang ada dalam tubuh orang. Tapi ini bukan berarti kopi lanang hanya cocok dikonsumsi lelaki. Perempuan pun bisa mengonsumsinya untuk menambah stamina bekerja. Untuk memperoleh kopi lanang perlu penyortiran dari hasil panen kopi robusta yang berbiji bulat dan tunggal. “Karena kelangkaan dan kerumitan pengolahannya itulah yang membuat kopi lanang lumayan mahal harganya,” ujar Jaenal Arifin. Pengembangan Kopi Lanang Belakangan ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan PTPN XII bertekad mengangkat citra kopi lanang dengan berbagai program. Antara lain ekspor kopi lanang ke Italia dan pembukaan wisata kuliner kopi lanang. Kopi lanang dianggap bisa bersaing dengan kopi dari daerah lain. Harganya Rp150-160 ribu per kilogramnya. Lebih mahal daripada kopi robusta biasa. Sebab, untuk memperolehnya, butuh usaha lebih. Puluhan ribu biji kopi disortir tiap kali panen. Hasilnya 2-5 persen saja yang dipilih sebagai kopi lanang. Dari 2.100 ton kopi, hanya 110 ton yang termasuk kopi lanang. Sisanya dijual sebagai robusta. Kebanyakan pekerja penyortiran adalah perempuan dengan menggunakan tempeh, ayakan bulat dari bambu. Para pengunjung wisata kuliner kopi lanang dapat melihat langsung penyortiran itu. Kalau Anda belum tergoda dengan destinasi wisata di Malangsari, cobalah menjajal rasa kopi lanang dan membuktikan sendiri mitosnya.

  • Legenda Kota Suci Demak

    Konon, para wali mendirikan Masjid Agung Demak hanya dalam satu malam. Empat tiang utama,  soko guru,  ditegakkan untuk menyokong atapnya. Yang tiga terbuat dari balok kayu utuh. Satu lagi adalah tiang yang disusun Sunan Kalijaga dengan potongan-potongan balok yang tersisa dari pekerjaan wali lainnya. Malam itu sang wali datang terlambat. Karenanya ia pun tak dapat membuat tiang dengan kayu yang utuh. Di masjid itu pula Sunan Kalijaga memperoleh baju wasiat “Antakusuma”. Kabarnya, secara ajaib baju “Antakusma” jatuh dari langit di dalam masjid ketika para wali sedang bermusyarawah. Baju “Antakusuma” kemudian menjadi salah satu pusaka raja-raja Jawa. Panembahan Senopati, raja Mataram pertama, mendapatkan baju itu dari ahli waris Sunan Kalijaga, seorang pandita di Kadilangu. Berkat baju gaib itu, Senopati bisa mengalahkan Pangeran Madiun. Baju Antakusuma membuatnya kebal. Kisah ini seolah mengatakan wahyu raja-raja Mataram dan Jawa Tengah lahir di Masjid Agung Demak. Mukjizat lain terjadi pada Ki Ageng Selo yang dimuliakan sebagai moyang keluarga raja Mataram. Suatu hari ketika berada di ladang, ia menangkap petir lalu membawanya ke Masjid Agung Demak atau kepada Sultan Demak. Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diabadikan dalam ukiran pada  Lawang Bledheg  atau pintu petir di Masjid Agung Demak.  Lawang bledheg  sekaligus menjadi sengkalan memet  (kronogram) yang dibaca “ naga mulat salira wani ” atau menunjukkan tahun 1388 Saka (1466). Konon, pada tahun itulah Masjid Agung Demak didirikan. Menurut sejarawan Belanda, H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud dalam  Kerajaan Islam Pertama di Jawa,  legenda dan cerita-cerita tradisi tadi mengungkapkan betapa pentingnya Masjid Demak di alam pikiran orang Jawa Islam. Khususnya pada abad ke-17 sampai ke-19.  De Graaf dan Pigeaud menyebut bahwa Masjid Agung Demak adalah pusat kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah. Bahkan, hingga abad ke-19 Masjid Agung Demak menjadi pusat bagi muslim kuno di kawasan itu. Kalau menurut  Babad Jaka Tingkir  Masjid Agung Demak adalah pusat dari seluruh pusaka para raja Jawa. “Mungkin sekali raja-raja Demak menganggap Masjid Demak sebagai simbol kerajaan Islam mereka. Masjid Demak pada abad-abad berikutnya menjadi penting sekali dalam dunia Jawa,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Kekuasaan Imam Masjid Masjid Agung Demak berdiri saat perkembangan Islam di Jawa mencapai puncak pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Ditandai dengan munculnya Kerajaan Islam Demak. Kemunculan Kerajaan Demak bersamaan dengan keruntuhan Kerajaan Majapahit. Lalu muncul kekuatan-kekuatan baru di daerah pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur yang secara bertahap menggantikan kedudukan Kerajaan Hindu kuno itu. “Kekuatan baru ini adalah Kerajaan Demak,” tulis arkeolog Hasan Djafar dalam  Girindrawarddhana dan Beberapa Masalah Majapahit Akhir . Babad Tanah Jawi  mengisahkan pendirian kerajaan itu dimulai dari hutan bernama Bintara. Sunan Ampel Denta (Surabaya), tempat Raden Patah dan saudaranya, Raden Husen berguru, adalah tokoh yang memberi petunjuk pembukaan hutan itu. Di situlah Raden Patah bertempat tinggal. Tak lama setelahnya banyak orang datang ikut membangun rumah di sana, membabat hutan, dan mendirikan masjid. Pembangunan Masjid Agung Demak dan munculnya jamaah di sana, merupakan permulaan pengislaman Pulau Jawa. Masjid pun menjadi salah satu pusat keislaman. Kedudukan ulama atau para wali pun menjadi lebih besar. Menurut guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra dalam  Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII , itu terdorong oleh kebutuhan para penguasa yang baru masuk Islam untuk menerjemahkan beberapa doktrin syariat ke dalam organisasi sosiopolitik dalam kerajaan.  Begitu pula di Kerajaan Demak, para imam masjid kemudian mendapatkan kekuasaan lebih. Itu berawal dengan jalan memimpin salat wajib lima waktu. “Kekuasaan rohani para imam masjid ini sudah sejak zaman awal penyebaran agama Islam meluas meliputi bidang kehidupan masyarakat,” jelas De Graaf dan Pigeaud. Cerita tentang lima imam Masjid Agung Demak termuat dalam  Hikayat Hasanuddin  yang berisi sejarah singkat raja Banten. Kelima imam itu menjabat selama pemerintahan tiga atau empat raja Kerajaan Demak. Mereka adalah Pangeran Bonang (1490–1506/1512), Makdum Sampang (1506/1512–1515), Kiai Pambayun (1515–1521), Penghulu Rahmatullah (1521–1524) yang dilantik oleh Adipati Sabrang Lor, dan Sunan Kudus (1524–?) yang dinobatkan oleh Syekh Nurullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati.   Imam keempat yang pertama diberi sebutan penghulu. Menurut De Graaf dan Pigeaud, itu mungkin dapat dihubungkan dengan pergantian fungsi. Dengan gelar itu, raja mungkin hendak menambahkan tanggung jawab lain. Di Jawa para imam masjid hampir selalu disebut penghulu. Kata ini di tanah Melayu berarti “kepala” tanpa arti khusus di bidang rohani. Ini menunjukkan sejak masa awal perkembangan Islam di Jawa, jabatan pemangku hukum syariat dan imam masjid berhubungan erat. “Gelar penghulu yang sudah dipakai oleh imam-imam di Demak mungkin suatu bukti betapa besarnya kekuasaan yang mereka peroleh, juga di bidang hukum,” jelas De Graaf dan Pigeaud. De Graaf dan Pigeaud menyimpulkan, kedudukan imam amat bergantung pada raja-raja Demak, pelindung mereka. Mungkin waktu kekuasaan duniawi mereka atas jamaah di sekitar masjid makin bertambah besar, mereka bersikap agak lebih bebas. “Yang disebut paling akhir dari daftar imam itu, menurut cerita tradisi Jawa, memegang peranan penting dalam merebut kota Kerajaan Majapahit,” tulis De Graaf dan Pigeaud.  Kendati begitu keberadaan para imam tak disebutkan dalam catatan pelaut Portugis, Tomé Pires dan catatan Belanda pada masa kemudian. “Cerita tradisi membuktikan bahwa pada zaman itu masjid beserta para pengurusnya sangat terpandang,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Kesetiaan Kepada Para Wali Legenda dan cerita tradisi banyak menghubungkan Masjid Agung Demak dengan Wali Songo .  Ada Pangeran Kudus dan dua sanak keluarganya yang lebih tua, Sunan Ngampel Denta dan Sunan Bonang. De Graaf dan Pigeaud menyebut legenda-legenda itu memang tercipta untuk menghormati orang-orang suci itu. Terutama Sunan Kalijaga sebagai wali dan pelindung generasi penguasa Jawa Tengah. Menurut De Graaf dan Pigeaud dalam  Islamic States in Java 1500–1700  orang Jawa yang saleh pada abad ke-17 dan masa kemudian, percaya kalau Islam disebarkan di Jawa oleh Wali Songo   yang berpusat di masjid suci Demak. Karenanya tak heran, kesetiaan yang berurat terhadap para wali itu membuat Masjid Demak tetap merupakan pusat kehidupan agama di Jawa Tengah. Meskipun kekuasaan raja-raja Demak jatuh pada paruh kedua abad ke-16. Saking pentingnya, ada anggapan kalau mengunjungi Kota Demak dan makam orang-orang suci di sana dapat disamakan dengan naik haji ke Makkah. Di banyak daerah di tanah Jawa rasa hormat muslim pada Masjid Demak masih bertahan sampai abad ke-19. Kota Demak dipandang sebagai tanah suci. “Itulah yang terutama menyebabkan nama Demak dalam sejarah Jawa tetap tidak terlupakan di samping nama Majapahit,” tulis De Graaf dan Pigeaud.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page