Hasil pencarian
9830 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Bung Sjahrir Pergi
MINGGU pagi, 10 April 1966. Dalam suasana Paskah, Jakarta yang baru saja tenang dari demonstrasi-demontrasi mahasiswa tetiba terhenyak. Antara menyiarkan sebuah berita duka: Sutan Sjahrir meninggal di Zurich (Swis). Kantor Berita milik pemerintah Republik Indonesia (RI) itu mengutip keterangan dari seorang jurnalis Reuters (Kantor Berita Kerajaan Inggris). “ Reuters sendiri mendapat berita itu dari seorang petugas rumah sakit tempat Sjahrir dirawat,” ungkap wartawan senior, Rosihan Anwar dalam Perdjalanan Terachir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir. Tokoh pejuang sekaligus Perdana Menteri Republik Indonesia pertama itu pergi meninggalkan seorang istri, Siti Wahjuni Poppy Saleh (yang dinikahinya pada 1951) dan putra-putri yang masih kecil: Krya Arsjah alias Buyung (9) dan Siti Rabyah Parvati alias Upik (5).
- Jenderal Jusuf dan Para Wartawan
BISA dikatakan Jenderal TNI M. Jusuf adalah Panglima ABRI yang paling disenangi wartawan pada masanya. Selain dikenal ramah terhadap kuli tinta, Jusuf juga tidak “pelit” berbagi dengan mereka. Jusuf membuktikan itu dengan kebiasaan mengajak para wartawan untuk meliput perjalanan dinasnya. “Antara tahun 1978-1983, Jusuf identik dengan perjalanan keliling Indonesia. Perjalanan pun identik dengan hidup, makan, tidur di dalam perut (pesawat) Hercules,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit . Bagi kalangan wartawan, kunjungan ke penjuru negeri ini disebut sebagai “Safari Jusuf”. Hampir sebagian besar perjalanan Jusuf ke luar kota diawali pada dini hari. Artinya, berangkat sekitar pukul 05.00 pagi. Maka bagi wartawan yang diajak untuk meliput sudah dijemput oleh staf Menhankam pada pukul 02.00-03.00 dini hari. Jusuf punya aturan terhadap para wartawan yang berkesempatan mengikuti safarinya. Mereka harus mengenakan seragam serba hijau, baik seragam formal ataupun lapangan (Pakaian Dinas Lapangan). Di balik aturan itu terselip alasan khusus. “Supaya mereka menghayati dan merasakan denyut nadi para prajurit ABRI,” kata Jusuf ditirukan Atmadji. Sekira 30 menit setelah pesawat berangkat dari Pangkalan Halim Perdanakusumah, Jusuf suka melakukan inspeksi dalam pesawat. Dia melihat siapa-siapa saja penumpang yang jadi anggota rombongan. Kesempatan itu juga yang selalu digunakan Jusuf untuk menyapa para wartawan. Kadang-kadang Jusuf memberikan informasi kepada wartawan mengenai tujuan yang harus dicapai dalam kunjungan tersebut. Pembicaraan Jusuf dengan wartawan acap kali diselingi canda. Bagi yang sudah dikenalnya baik, Jusuf kerap melayangkan tanya, “Bagaimana kabarmu? Baek-baek saja kan?” Jusuf juga tidak sungkan memperhatikan penampilan wartawan yang terlihat agak urakan. Misalnya, jika dilihatnya ada wartawan yang gondrong, Jusuf akan berseloroh, “Kau rapikan sedikit rambutmu ya, biar kelihatan bagus.” Di dalam pesawat, Jusuf tidak senang kepada mereka yang punya kebiasaan merokok. Dia bisa marah kalau melihat asap membubung, sekalipun terhadap sesama perwira tinggi. Namun Jusuf toleran kalau soal tidur. Jusuf senang jalan ke kabin belakang dan mengamati para penumpang yang tertidur lelap. Beberapa jam kemudian dalam suasana yang santai, dia sering meledek para wartawan. “Wah enak sekali kalian ini, sudah nggak bayar naik pesawat terbang, tidurnya pulas pula,” celoteh Jusuf . Siapapun tidak ada yang marah karena tahu bahwa itu sekedar senda gurau belaka. Setiap kali ikut serta meliput kunjungan kerja Jusuf di daerah, semua kebutuhan wartawan ditanggung. Mulai dari transportasi, makan, hingga akomodasi. Mereka yang sudah jadi langganan tetap masuk kategori “rombongan sirkus”. Namun ada pula wartawan yang diajak secara dadakan. Suatu siang usai rapat kerja DPR, empat orang wartawan menunggu Jusuf untuk melakukan wawancara. Ketika Jusuf berjalan ke luar ruangan, otomatis para wartawan mengerumuninya sambil menyodorkan alat perekam. Namun Jusuf sedang dalam kondisi kurang mood untuk diwawancarai. Dengan tongkat komandonya, dia menunjuk satu-satu ke perut wartawan itu. “Aku sedang malas bicara. Kau, kau, kau, dan kau, ikut aku saja sekarang ke Halim! Kita berangkat ke Medan satu jam lagi,” ujar Jusuf spontan. Dengan cepat, staf Jenderal Jusuf mencari sebuah mobil untuk menaikan para wartawan itu. Keempat wartawan tadi pun diangkut dalam keadaan setengah bengong . Setibanya di Medan, barulah mereka punya waktu untuk buru-buru membeli sikat gigi, odol, pakaian dalam dan baju ganti. Salah satu wartawan yang beruntung selalu mengikuti kunjungan Jusuf ialah Atmadji Sumarkidjo. Ketika itu, Atmadji masih seorang reporter muda harian Sinar Harapan . Menurut Atmadji, hubungannya dengan Jusuf pada awalnya sebatas profesionalitas antara wartawan dengan narasumbernya. “Kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan pribadi yang amat berkualitas dan tak pernah satu kali pun terhenti hingga Pak Jusuf wafat,” kenang Atmadji. Hubungan karib tersebut dimulai dengan perhatian khusus yang diberikan oleh istri Jusuf, Elly Jusuf Saelan atas tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar Sinar Harapan . Atmadji kemudian dipercaya untuk menuliskan biografi M. Jusuf yang berjudul Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit. Seiring waktu, karier jurnalis Atmadji kian menanjak di Sinar Harapan . Namanya pun malang melintang di dunia media maupun penerbitan tanah air. Kini Atmadji lebih dikenal aktif sebagai staf khusus Menteri Kordinator Bintang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.*
- Krisis Ekonomi Masa Sukarno
KRISIS ekonomi beberapa kali mewarnai sejarah Indonesia. Penyebabnya beragam: bisa karena pengaruh perubahan dunia luar atau lantaran dinamika politik dalam negeri. Untuk penyebab kedua, Indonesia mengalaminya pada dekade 1960-an. Banyak orang terkapar menyusul krisis itu. Tapi segelintir kecil lainnya justru makmur.
- Naskah-naskah tentang Jamu
Jamu sempat diburu karena dianggap dapat menangkal virus corona (Covid-19). Banyak orang memang meyakini khasiat jamu dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Jejak pengobatan warisan leluhur ini dapat ditelusuri hingga masa prasejarah. Manusia purba sudah memanfaatkan tetumbuhan sebagai obat. Buktinya berupa alat batu pipisan untuk menghaluskan biji-bijian dan tanaman yang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. “Alat ini hampir pasti digunakan untuk perawatan kesehatan sehari-hari dengan ditemukannya sisa bubuk dan ekstrak tanaman padanya,” tulis Susan-Jane Beers dalam Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing . Pemanfaatan tanaman sebagai obat kemudian ditemukan dalam naskah-naskah kuno masa Hindu-Buddha. Setelah budaya tulis makin kuat, paling tidak sejak abad ke-17, pemanfaatan jamu mulai ditulis dalam manuskrip-manuskrip dan menjadi tradisi turun-temurun. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan ilmu pengobatan kuno terekam di sejumlah pustaka. Terutama yang menggunakan unsur sebutan usadha . Misalnya, Usadha Jawa dan Usadha Bali . Dwi menjelaskan istilah usadha atau kadang ditulis osadha dan husadha mengandung arti obat. “Hingga kini istilah usada , perubahan dari bentuk sebelumnya, masih lazim digunakan sebagai nama apotek, rumah sakit, atau tempat pengobatan lainnya,” kata Dwi. Selain itu, ada juga manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta, naskah-naskah ini memuat uraian racikan jamu asli Jawa, khususnya bagi para bangsawan. “Sejak zaman dulu, zaman kerajaan, gaya hidup sehat sangat diperhatikan dengan memanfaatkan tanaman obat atau herbal sebagai bahan perawatan kecantikan, kebugaran, dan pengobatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Serat Primbon Jampi Jawi ditulis sekira abad ke-18 pada masa Hamengkubuwono II. Di dalamnya tertulis berbagai macam herbal. Bagian tumbuhan yang berasal dari daun, rimpang, akar, dan kulit kayu dari berbagai jenis tanaman diolah secara tradisional untuk mempertahankan kecantikan dan kebugaran perempuan bangsawan. Hesti menjelaskan, bagian rimpang misalnya. Di dalam manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi disebutkan beberapa janis yang berkhasiat. Di antaranya rimpang jahe, kencur, kunyit, kunci, lempuyang, sunthi, temulawak, bengle, dan dringo . B agian umbi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan racikan jamu adalah bawang merah dan bawang putih. Sementara kulit kayu atau kulit batang berasal dari kayu manis, secang, mesoyi, rasuk angin, dan kelembak. Bahan dari dedaunan adalah pupus anggur, asam jawa (kering), gondhangkasih, inggu prêman , jempinah, pupus kara, karandang, lampes, menirang, bawang cina, pegagan, seruni, saraband, saga (kering), walu, waru, dan trawas. J enis bunga, buah, dan biji yang berkhasiat antara lain bunga cengkih dan waru; buah asam, kemukus, labu putih, pala, isi sawo; dan biji adas, jinten, kedhawung, ketumber, dan mungsi. B ahan pelengkap yang biasa dipakai adalah dupa cina, garam, inggu, tambakau, dan terasi merah. C airan sebagai campuran bahan ramuan jamu yaitu air jeruk nipis, air jeruk purut, air panas, air tawar, air perasan daun iler, air susu ibu, dan cuka. Sumber tertulis lainnya adalah Serat Centhini . Karya ini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. Dalam Serat Centhini, tumbuhan obat digunakan untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mengurangi sakit, penyembuhan, dan mempercantik diri. Menurut serat ini tanaman bahan jamu dapat digunakan untuk mengobati penyakit panas dingin, batuk, mata, bisul, susah kencing, susah kentut, dan masalah stamina pria. Naskah ini memuat dengan lengkap cara pengobatannya . Dilengkapi dengan uraian jenis bahan tanaman dan cara memakainya. Ada yang cara pengobatannya dengan diminum setelah diambil sarinya, dikunyah, ditempelkan pada dahi ( pilis ), dioleskan pada perut ( tapel ), dioleskan pada badan ( parem ), untuk merendam bagian badan ( rendhem ), ditempelkan atau diteteskan pada bagian yang sakit, dan disemburkan ke bagian tubuh yang diobati ( sembur ). Di luar cara-cara itu, menurut Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Serat Centhini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa selalu melibatkan Tuhan dalam penyembuhan penyakit. Misalnya dalam membuat obat penyakit telinga yang tuli. Diperlukan bahan seperti tujuh butir merica, akar kelor, empedu ayam hitam, dan minyak wijen. Ramuannya lalu diteteskan pada lubang telinga yang tuli sambil membaca palak binas atau Surat Al-Falaq dan An-Naas tiga kali. “Berbagai bahan tanaman jamu yang digunakan ada yang masih dapat kita jumpai pada masa sekarang, adapula yang sudah sulit dijumpai atau bahkan belum pernah didengar namanya,” tulis Murdijati dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia . Selain Serat Centhini , dalam Serat Kawruh terdapat 1.166 resep di antaranya 922 resep tentang ramuan bahan alam . Khususnyadalam bab Jampi-Jampi Jawi terdapat 244 resep berupa catatan rajah dan jimat. Isinya adalah gambar-gambar doa, rapal, dan mantra. “ Serat Kawruh disusun pada 1831 atas perintah Pakubuwono V. Isinya kumpulan ramuan obat asli Jawa,” kata Murdijati. Ada juga buku tentang jamu karya Johanna Maria Carolina Versteegh (setelah menikah menjadi Jans Kloppenburg-Versteegh) yang ditulis pada 1907. Buku berjudul Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman Asli Hindia dan Daya Penyembuhnya) itu berisi uraian singkat mengenai nama daerah asal tumbuhan, nama latin, morfologi, dan bagian dari tanaman yang bisa digunakan. Termuat pula resep pengobatan dan cara memelihara kesehatan yang dilakukan orang Jawa berdasarkan pengamatannya. Terdapat 1.467 petunjuk bagaimana mengatasi gangguan kesehatan menggunakan bahan ramuan jamu Jawa. “Banyak pasien yang datang ke Kloppenburg-Versteegh, reputasinya sebagai penyembuh menyebar cepat. Publikasi penemuannya adalah suatu warisan berharga sebagai pedoman dalam dunia pengobatan herbal,” kata Murdijati. Alternatif Mujarab Agaknya pengobatan tradisional warisan leluhur ini dapat dipercaya khasiatnya. Pasalnya,ada hukuman bagi mereka yang asal-asalan mengobati orang sakit. Khususnya pada masa Majapahit, kegagalan dalam melakukan pengobatan diancam hukuman cukup berat. Aturan itu tertuang dalam Kitab Undang-Undang Majapahit, Kutaramanawa atau Agama . Dari 275 pasal, ada pasal yang berisi sanksi bagi yang gagap mengobati hingga berujung kematian pada hewan atau manusia. Apabila gagal mengobati hewan sehingga hewannya mati, maka didenda empat kali tiga atak . Satu atak setara 200 picis , satuan untuk menyebut mata uang tembaga Cina. Jika yang diobati manusia dan malah mati, maka didenda selaksa atau satu laksa setara 10.000 picis . Apabila yang diobati seorang brahmana dan mati, maka ia diganjar hukuman mati oleh raja. “Ini mengingatkan kita kepada apa yang sekarang disebut dengan malapraktik,” kata Dwi. Namun, menurut Dwi, sebagai obat tradisional, khasiat jamu tidak serta merta menyembuhkan penyakit. Lebih sering jamu harus dikonsumsi teratur secara berangsur-angsur. Kendati hanya diposisikan sebagai obat alternatif, jamu tak pernah ditinggalkan oleh para penggunanya. “Ketika merasa mentok oleh cara medis dan obat-obatan modern, ” kata Dwi, “ orang masa kini beralih ke pengobatan tradisional, yang boleh jadi lebih memiliki kemujaraban. ”
- Percaya pada Jamu dari Dulu
Mpu Monaguna, penulis abad ke-13 dalam karyanya , Kakawin Sumanasantaka, menggambarkan kehidupan di pedalaman. Salah satunya tempat tinggal para pertapa. Para biarawan itu membajak sawah dan memiliki kebun-kebun sayur yang terpelihara. Sementara para rahib perempuan memasuki hutan untuk mengumpulkan buah-buah serta dedaunan untuk dijadikan obat. Tokoh utama dalam kisah itu, seorang putri raja, Putri Indumati, seringkali dipakaikan pupuk ( apupuk ) pada ubun-ubunnya. Pilis dioleskan ke pelipisnya yang sakit. Bila cegukan diobati ujung daun sirih. Obat tuli-tuli untuk merawat bagian telinganya . Ia juga minta disembur air yang melegakan ketika tenggorokannya sakit seperti tersedak. Karya Mpu Monaguna itu merekam bagaimana orang Jawa Kuno mengobati penyakit. Pupuk dan pilis hingga kini masih digunakan. Pupuk adalah ramuan yang ditempelkan pada ubun-ubun bayi atau batita agar tetap hangat. Pilis adalah jamu oles yang terbuat dari bahan-bahan seperti ganthi, kencur, kunyit, peppermint, dan bunga kenanga. Biasanya ia ditempelkan pada bagian kening atau dahi. Pilis sampai kini dipercaya bisa membantu meredakan rasa pusing dan melancarkan peredaran darah. S. Supomo dalam Kakawin Sumanasantaka: Mati karena Bunga Sumanasa menjelaskan dari asal katanya, tuli-tuli mungkin adalah obat untuk penyakti telinga. Sedangkan menyembur tenggorokan yang sakit dengan air yang melegakan diartikan sebagai metode pada masa itu yang dilakukan oleh penyembuh. Fungsinya untuk mengobati sakit ringan dengan kunyahan jamu yang mendinginkan. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, menjelaskan bahwa kata "jamu" adalah serapan dari istilah bahasa Jawa Baru. Bahasa kromonya adalah jampi . “Varian sebutannya, yaitu jampyan , terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan yang berarti obat, pengobatan, atau penawar,” kata Dwi. Istilah jampi atau jampyan banyak muncul dalam kesusastraan kuno. Di antaranya Kakawin Gathotkacasraya, Bhomakawya, Bharattayudha, Sumanasantaka, Lubhdaka, Subhadrawiwaha, dan Abhimanyuwiwaha . Muncul juga dalam susastra kidung seperti Harsyawijaya, Kidung Sunda, Kidung Malat, dan Kidung Ranggalawe. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta , tak ada catatan jelas sejak kapan tradisi meracik dan meramu jamu bermula. Namun, tradisi itu diyakini sudah menjadi budaya sejak kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. “Relief Candi Borobudur menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu untuk menjaga kesehatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Sementara itu, Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, mengatakan kebiasaan meracik dan meminum jamu tampak dalam relief Karmawibhangga di kaki candi yang mulai dibangun pada abad ke-8. Salah satu adegannya menunjukkan beberapa orang menolong laki-laki yang sakit dengan cara dipijat kepalanya, digosok perut dan dadanya. Ada pula yang membawakan semangkuk obat. Relief lainnya menggambarkan tanaman yang masih digunakan sebagai bahan pembuat jamu, seperti nagasari, semanggen, cendana merah, jamblang, pinang, pandan, maja, cendana wangi, dan kecubung. “Gambaran yang sama juga ditemukan pada relief-relief di Candi Prambanan, Candi Panataran, Candi Sukuh, dan Candi Tegawangi,” tulis Murdijati dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia. Dengan begitu, kata Murdijati, pengetahuan asli orang Jawa tentang penyembuhan penyakit sudah berkembang sejak lama. Pengobatan itu dilakukan dengan bahan dasar yang ada di sekitarnya. Para Penyembuh Pada zaman kuno terdapat ilmu, buku, atau orang yang berkaitan dengan pembuatan, penggunaan, dan penjualan obat. Berbagai profesi di dunia kesehatan disebutkan dalam beberapa prasasti. Dalam Prasasti Balawi (1305) muncul istilah tuha nambi yang artinya tukang obat. Kemudian terdapat istilah kdi (dukun wanita) dan walyan (tabib). Profesi tuha nambi juga muncul dalam Prasasti Sidoteka (1323). Prasasti ini juga menyebut istilah wil tamba . Secara harfiah kata Jawa Kuna dan Tengahan tamba menunjuk pada obat. Kata jadiannya anambani atau tumambani yang berarti menyembuhkan atau mengobati orang. “Pada bahasa Jawa Baru ada kata-kata Mutiara, tamba teka lara lunga, artinya obat datang penyakit pergi,” jelas Dwi. Dalam Prasasti Bendosari (1360) disebutkan istilah padadah atau pemijatan, mungkin merujuk pada tukang pijat. Ada juga tabib desa atau dalam prasasti disebut janggan . Menurut Dwi, sebutan janggan juga terdapat dalam Serat Pararaton yang berkaitan dengan guru di Desa Sagenggeng. “Bila menilik sebutannya, yaitu guru janggan , salah satu ilmu yang diajarkan pada muridnya itu adalah ilmu pengobatan,” kata Dwi. Dari masa Majapahit juga ada Prasasti Madhawapura yang menyebutkan profesi penjual jamu ( acaraki ). Kata acaraki dan caraki terdapat dalam kitab Korawasrama . Kata caraki juga merujuk pada seseorang yang menyediakan atau menjual ramuan tumbuh-tumbuhan. Istilah yang hampir mirip adalah caraka, yaitu sebutan bagi orang bijaksana penyusun buku mengenai obat-obatan. Istilah caraka telah ada sejak abad ke-9 dan masa sesudahnya. Ia disebut dalam Kakawin Ramayana , Bhomakawya , Arjunawijaya , Sutasoma, Korawasrama, dan Tantri Demung . “Ada kemungkinan, kata Jawa Baru craken menunjuk pula pada pengarang tulisan mengenai obat-obatan,” jelas Dwi. Dwi menyebut istilah caraka juga merujuk pada kitab yang membicarakan mengenai obat-obatan. Ia merupakan cabang Yajurveda Hitam . Hingga kini, pengetahuan asli tentang jamu masih terjaga. Terbukti dengan masih adanya sentra produksi jamu di Wonogiri dan Sukoharjo; dusun jamu di Dusun Kiringan, Bantul, Yogyakarta; kampung jamu di Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah; serta pasar bahan dan perlengkapan untuk membuat dan menjajakan jamu di Pasar Jamu Nguter. “Sampai ada warung jamu, toko jamu, hingga kafe jamu. Tak ketinggalan industri jamu,” kata Murdijati.
- Jungkir Balik Mengimpor NBA ke Indonesia
GEGAP gempita pentas basket NBA bergulir lagi.Namun khusus kali ini, digelarnya lewat ranah virtual. Kompetisi aslinya masih ditunda sejak 11 Maret 2020 sebagai imbas pandemi SARS-Cov-2 (COVID-19/virus corona ). Setidaknya 16 pebasket bakal ikutan NBA versi virtual yang digagas NBA bekerjasama dengan NBPA atau asosiasi pebasket NBA. Kevin Durant, Derrick Jones Jr., Donovan Mitchell, Devin Booker, dan DeMarcus Cousins di antaranya. Mereka akan adu skill basket lewat game “NBA 2K Players Tournament” yang sudah dimulai sejak Jumat (3/4/2020) lalu. Bagi yang penasaran , bisa menyaksikannya lewat saluran televisi berbayar ESPN dan ESPN2 , atau di aplikasi ESPN dan NBA. Siaran juga bisa disaksikan via streaming di akun medsos (Twitter, Twitch, Youtube, Facebook) milik NBA dan NBA2K. Toh, upaya menghibur para penggila basket di masa kampanye “#dirumahaja” semacam ini takkan sama dengan menonton langsung, baik di stadion maupun lewat layar kaca. Virtual NBA lewat gim “NBA 2K Players Tournament” jadi alternatif hiburan selepas kompetisi NBA aslinya ditunda sebagai imbas pandemi virus corona (Foto: nba2k.com ) Di Indonesia sendiri tayangan NBA dalam beberapa tahun belakangan, di “zaman normal” sebelum virus corona menerjang, bergantian ditayangkan beberapa stasiun TV swasta nasional, dari SCTV , Indosiar sampai O Channel . Untuk musim 2019-2020, sebelumnya disiarkan secara streaming oleh vidio.com . Siaran NBA beberapa waktu terakhir ini memang tak sepopuler era 1990-an. Bahkan IBL atau pentas basket nasional pun masih kalah pamor ketimbang siaran liga sepakbola nasional. Padahal, pada awal 1990siaran NBA begitu populer di kalangan kelas menengah masyarakat kota setelah susah-payah didatangkan dari Amerika Serikat ke Indonesia oleh Ary Sudarsono. NBA Pendongkrak Basket Nasional Nama Ary Sudarsono sudah dikenal luas dalam perbasketan Asia pada medio 1980-an. Setelah pensiun dari pemain, pamor Ary mengglobal lewat kiprahnya sebagai wasit, hingga disematkan titel “ Mr. Golden Whistle ” oleh FIBA atau induk basket Asia. Begitu pensiun jadi wasit dan pulang ke Indonesia pada 1985, Ary merampungkan pendidikannya di Alabama Sport Academy setahun berikutnya.Ia lalu dipercaya pengusaha Aburizal Bakrie untuk membantu membangun klub basketPelita Jaya. Ary pula kemudian mencetuskan ide untuk mendatangkan pemain asing untuk mengatrol popularitas Kobatama, pendahulu IBL. “Karena saya lama dikenal di Filipina, saya datangin juga pemain dari sana, Bong Ramos buat Pelita Jaya. Kemudian saya dipanggil Perbasi (induk basket nasional) karena mungkin melihat saya total mempopulerkan basket. Kobatama disuruh saya yang pegang,” k ata Ary meng enang , kepada Historia. Langkah pertama Ary setelah memegang Kobatama adalah menggandeng SCTV untuk kerjasama siaran Kobatama. Untuk lebih mendongkrak kepopulerannya lagi, Ary mencetuskan ide mendatangkan pula siaran NBA ke tanah air. “Saya bilang sama Henry, untuk mempercepat, mengangkat, dan mendobrak nilai jual, ambil (siaran) NBA. Jadi penonton dikasih perbandingan. Ada NBA, ada Kobatama yang nantinya bisa dikatrol nih. Tapi saya tunggu-tunggu sebulan, enggak ada jawaban. Lalu saya ke RCTI . Mereka mau tapi cuma bisa bantu (mengongkosi) tiket Jakarta-New York,” lanjutnya. Ary Sudarsono berkisah pengalamannya nekat ke markas NBA untuk melobi siarannya diimpor ke Indonesia (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Meski hanya dimodali tiket pesawat, Ary tak patah arang karena asanya yang membumbung tinggi. “Selebihnya saya jual mobil Rp30 juta buat ke sana,” kata pria yang dulunya kiper itu. Dengan tiket dan uang hasil jual mobil itulah Ary berangkat ke Amerika medio 1990. Rasa optimismenya mengalahkan rasa gugup lantaran di era itu publik Amerika masih asing mendengar nama Indonesia. “Berangkatlah gue . Belaga gila aja walau enggak kenal siapa-siapa di NBA. Indonesia siapa? Amerika enggak melihat. Paling orang sana tahunya Bali, kan?” imbuh Ary yang menghabiskan waktu sekira dua pekan mencari celah melobi bos-bos NBA. Ary mulanya ingin langsung bertatap muka dengan Komisioner NBA David Stern (periode 1984-2014). Sayangnya upaya itu bertepuk sebelah tangan karena Ary datang dari “negara dunia ketiga”. “Untuk ketemu komisionernya, ‘tar sok, tar sok’ (entar/nanti-besok, red. ). Awalnya hanya bisa ketemu PR-nya (humas) NBA. Saya jelasin bahwa atmosfer basket di Indonesia bagus. Sudah mulai ada pemain asing juga. Bahwa (basket) akan lebih cepat populer kalau NBA bisa masuk ke Indonesia. Kan hitung-hitung saya bantu marketing NBA untuk lebih luas,” tuturnya. “Apalagi populasi negara kita 100 juta lebih. Saya kasih pandangan bahwa nanti NBA bisa mendapat viewer jutaan penonton. Ya masak mereka bisa kasih (siaran NBA) ke China, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura (tapi kita) enggak dikasih. Akhirnya mereka luluh. Sementara waktu itu sudah 10 hari di sana, sudah tipis nih isi dompet,” kata Ary lagi. Dibantu Magic Johnson Selang berapa hari, Ary diundang lagi ke NBA. Namun ada dilema yang dihadapinya ketika mendapat kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, NBA tertarik untuk memberi hak siar. Sialnya, NBA hanya berkenan memberi siaran laga-laga tim papan bawah. “Lemes gue. Aduh gila ini sih. Gue dikasih tanggung begini. Enggak dapat (siaran pertandingan) LA Lakers, Chicago Bulls, Utah Jazz, Boston Celtics, Detroit Pistons. Sialan nih NBA. Cuma dikasih tim-tim macam Denver Nuggets, Indiana Pacers begitu. Merasa dikerjain, gue merasa belum mau pulang,” tambahnya. Kolase Ary Sudarsono bersama Earvin 'Magic Johnson Jr. (kiri) & Julius Winfield 'Dr. J' Erving II (Foto: Instagram @sudarsonoary) Ary kembali melobi untuk bisa minta tayangan NBA dua kali sepekan, meski “separuh-separuh”alias satu pertandingan tim beken, satu lagi tim papan bawah. Negosiasi itu jelas membutuhkan waktu lebih lagi. Namun keajaiban yang tak dinyana mendatangi Ary saat hendak makan siang usai nego dengan pihak NBA. “Pas lagi makan siang sama PR-nya NBA, datang Magic Johnson (Earvin ‘Magic’ Johnson, legenda tim LA Lakers dan timnas basket Amerika) yang lagi mau fitness. Lalu gue dikenalinbahwa gue dari Indonesia dan lagi minta bantu NBA mendongkrak basket. Wah gue langsung didukung Magic Johnson,” kata Ary mengingat pertemuan itu. “ Don’t worry, Brother. I’ll help you. You can contact me, tomorrow we have lunch together ,” kata Johnson sebagaimana ditirukan Ary. “Hampir seminggu gue diajak dia, termasuk dikenalin sama ‘Dr. J’ (julukan legenda NBA Julius Erving). Diajak juga nonton Celtics vs Lakers. Jadi akhirnya komunikasi sama NBA jadi bagus. Akhirnya NBA pusat mengontak NBA Asia di Hong Kong. Lalu gue diminta jadi salah satu NBA Representative Asia,” tandas Ary. Perjalanan Ary melintas benua pun tak sia-sia. NBA disiarkan RCTI mulai musim 1991. Ary pun setahun berselang dikontrak menjadi “Mr. NBA Asia”. Ditambah beberapa program olahraga lain dengan Ary sebagai host -nya, termasuk program “Boom Basket”, Kobatama pun turut terdongkrak pamornya hingga mulai jadi olahraga favorit ketiga anak muda kala itu selain sepakbola dan bulutangkis.
- Kiprah Dokter di Dunia Pergerakan
Benar rasanya jika saat ini semua orang berpikir bahwa para tenaga medis adalah pahlawan. Peran mereka begitu penting dalam menghadapi pandemi virus Covid-19 yang penyebarannya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dilansir kompas.com , Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga memberi apresiasi atas kinerja mereka. Dia menyebut tenaga medis sebagai pejuang di garis depan, ibarat tentara di masa lalu. “Kalau dulu dalam perang terbuka, mungkin tentara di garis depan, sekarang dokter. Pahlawan bangsa. Jadi kami sangat menghormati mereka,” kata Prabowo. Tidak lupa Prabowo memberikan ucapan terima kasih kepada para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang telah berdedikasi merawat dan mengobati para pasien Covid-19. Perjuangan tak kenal lelah para dokter yang berusaha menekan angka kematian di masyarakat seolah kembali menegaskan peran tenaga medis ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dari sekian banyak dokter yang sudah lahir di negeri ini, Historia mencoba menggali perjalanan hidup lima orang dari mereka yang perjuangannya membawa perubahan bagi Indonesia. Berikut kisahnya. Politik Soetomo Soetomo dan istrinya Everdina Bruring ( Kemdikbud.go.id ) Tidak hanya mengabdikan diri di dunia kedokteran, Soetomo pun aktif berjuang dalam dunia politik semasa pergerakan nasional di awal abad ke-20. Dilahirkan pada 30 Juli 1888 di Nganjuk, Jawa Timur, Soetomo menempuh pendidikan di Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/Sekolah dokter bagi bumiputera) pada 1903. Di sekolah itulah dia terkenal aktif menyuarakan pendapatnya. Pada akhir 1907, Soetomo kedatangan tamu seorang dokter Jawa dari kalangan priayi rendahan, Wahidin Soedirohoesodo. Soetomo mengundangnya berceramah di Stovia mengenai pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan. Wahidin sendiri memang sedang melakukan kampanye mencari beasiswa bagi anak-anak muda bumiputera yang pandai. Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia Budi Utomo 1908-1918 , menyebut Soetomo dan kawannya, Soeradji, lebih terkesan oleh perangai, pikiran, dan semangat pengabdian Wahidin ketimbang rencana-rencananya. “Barangkali ia pun tidak berbicara tentang beasiswa sama sekali, tetapi kata-katanya tergores mendalam di lubuk hati dua anak muda itu,” ungkap Nagazumi. “Sekali dirasuki oleh gagasan Wahidin, Soetomo segera larut dalam kegiatan mendirikan suatu perkumpulan di dalam Stovia.” Pada 20 Mei 1908, puluhan anak muda berkumpul di aula Stovia. Turut hadir siswa-siswa dari sekolah pertanian ( landbouw school) dan kehewanan ( veeartsnij school ) di Bogor; sekolah pamongpraja (Osvia) di Magelang dan Probolinggo; sekolah menengah petang ( hogere burger school ) di Surabaya; serta sekolah pendidikan guru bumiputra ( normaalschool ) di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo. Dalam pertemuan itu para pemuda sepakat mendirikan sebuah organisasi. Namanya Boedi Oetomo –dikutip oleh Soeradji dari ucapan Soetomo kepada Wahidin: “ Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami (Ini merupakan perbuatan baik serta mencerminkan keluhuran budi)”. Demi merealisasikan pembentukan organisasi Boedi Oetomo ini, Soetomo dibantu rekan-rekannya: Soeradji, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, Goembrek, Mohammad Saleh, dan Soelaeman. Tak lama setelah berdiri, para siswa Stovia berusaha menarik hati rekan-rekan dari sekolah lanjutan lainnya untuk bergabung dengan Boedi Oetomo. Dengan cepat cabang organisasi ini berdiri di tiga daerah: Magelang, Yogyakarta, dan Surabaya. Hingga Juli 1908, jumlah anggota Boedi Oetomo mencapai 650 orang. “Kendati demikian selama tahun-tahun pertama Stovia tetap merupakan pusat kegiatan Budi Utomo,” tulis Nagazumi. Sadar akan peran kaum priayi yang besar di kalangan bumiputera, para pendiri Boedi Oetomo mulai melakukan pendekatan. Bupati Tuban, Temanggung, Jepara, Demak, Karanganyar, Kutoarjo, Serang, dan Pakualaman, menunjukkan minat membantu para pemuda ini. Maka diputuskan Boedi Oetomo akan melaksanakan kongres pertamanya pada 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Dari kongres tersebut tercipta sejumlah resolusi: perbaikan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi dengan tanggungan beasiswa, membatasi jangkauan gerak hanya pada penduduk Jawa dan Madura, melibatkan diri dalam kegiatan politik, dan tak akan menyimpang dari ketentuan hukum adat. Selain itu, Tirtokoesoemo (bupati Karanganyar) terpilih sebagai ketua Boedi Oetomo, didampingi Wahidin di kursi wakil. Sementara Tjipto masuk dalam susunan pengurus sebagai komisaris. Dengan komposisi kepengurusan seperti itu, para siswa Stovia yang menahkodai lahirnya Boedi Oetomo tidak bisa menentukan arah kemudi organisasi. Mereka harus rela menyerahkan kepemimpinan Boedi Oetomo, “kepada anggota-anggota yang lebih dewasa”. Golongan muda juga tidak mengambil kesempatan menentukan arah dalam kongres kedua tahun 1909. Tjipto, Goenawan, dan Soetomo tidak bersuara. Pemain utama dipegang oleh Dwidjosewojo, Mohammad Tahir, dan Sastrowidjojo. Setelah melepaskan perhatiannya dari Boedi Oetomo, Soetomo fokus terhadap profesinya sebagai dokter. Ia lulus dari Stovia pada 1911, dan bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Tahun 1919, dia berkesempatan melanjutkan studi spesialis di Universitas Amsterdam, Belanda. Soetomo juga sempat menjadi pengajar di Nederlandsch Artsen School. Kekerasan Sikap Seorang Tjipto Tjipto Manoenkoesoemo duduk paling kiri (KITLV) Di era zaman bergerak, kiprah Tjipto Mangoenkoesoemo terbilang sangat aktif. Sama halnya dengan Soetomo, Tjipto berprofesi sebagai dokter sebelum akhirnya lebih memilih aktif di dunia politik. Dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah pada 1886, ketika menginjak usia 13 tahun Tjipto mendaftarkan diri ke sekolah dokter Jawa. Setelah lulus tahun 1905, dia menjadi dokter pemerintah. Salah satu prestasi Tjipto sebagai dokter adalah berhasil mengatasi penyakit pes di Malang, Jawa Timur. Berkat jasanya, pemerintah Belanda memberinya penghargaan Willem Klas 3 , namun ditolak. Dia memang dikenal keras dalam menentang praktik kolonialisme. Tjipto lalu mundur sebagai dokter pemerintah dan terjun berpolitik. Bersama Soetomo dan adiknya, Goenawan Mangoenkoesoemo, dia memulai karirnya di Boedi Oetomo. Dalam kongres Boedi Oetomo di Yogyakarta, Tjipto gigih mengusulkan agar organisasi itu menjadi organisasi politik yang memperjuangkan kebangsaan, ketimbang hanya mengurusi persoalan kebudayaan yang baginya hanya konsumsi istana dan terlalu asing bagi rakyat kebanyakan. Namun usulannya ditolak. “Dari kebangsaan-kebangsaan, Dokter Cipto menuju ke arah kebangsaan yang lebih besar, yakni kebangsaan Hindia,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional . Setelah meletakkan jabatannya sebagai komisaris Boedi Oetomo, pada 1912 Tjipto mendirikan Indishce Partij. Di sini Tjipto berjuang bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Sebagai pemimpin surat kabar De Express di Bandung, dia menerbitkan tulisan kawannya Soewardi: “Als Ik Een Nederlander was” (Andai saya orang Belanda). Kritik terhadap Kerajaan Belanda itu mengundang petaka. Trio Indische Partij dibuang ke Belanda. Meski menentang kolonialisme Belanda, Tjipto lebih khawatir terhadap fasisme. Ketika Jerman menduduki Belanda pada 1940, dia berbalik menunjukkan simpati kepada Belanda. Begitu juga ketika Jepang masuk Hindia Belanda. Tjipto mengimbau agar rakyat membantu pemerintah Belanda melawan para fasis tersebut. Komitmen yang ditunjukkan Tjipto dalam memerangi fasisme Jepang adalah memfasilitasi pembentukan Gerakan Anti Fasis (Geraf) pada Mei 1940, pimpinan Amir Sjarifuddin. Pada 8 Maret 1943, Tjipto menghembuskan nafas terakhirnya karena kesehatannya memburuk. Dengan demikian dia sama sekali tidak pernah merasakan kekejaman fasisme Jepang dan menyaksikan kalahnya ideologi politik di akhir Perang Dunia ke-2. Teladan Wahidin Soedirohoesodo Wahidin Soedirohoesodo (Wikimedia Commons) Perjuangan kebangsaannya menginspirasi Soetomo membentuk organisasi Boedi Oetomo. Adalah Wahidin Soedirohoesodo, dokter dari kalangan priayi Jawa yang menjadi teladan bagi para juniornya di Stovia. Wahidin lahir pada 7 Januari 1852 di Sleman, Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutan di Yogyakarta, Wahidin memilih jalur kesehatan di sekolah dokter Jawa. Dalam biografi Dr. Wahidin Sudirohusodo terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diceritakan Wahidin pernah diasuh seorang petinggi perkebunan milik pemerintah bernama Frits Kohle. Di sana dia mempelajari banyak hal, terutama bahasa Belanda. Namun di sisi lain dia sadar bahwa jurang pemisah antara orang Barat dengan bumiputera telalu lebar. Lulus dari sekolah dokter Jawa, Wahidin segera ditugaskan oleh pemerintah Belanda menanggulangi wabah cacar di pelosok-pelosok pulau Jawa. Dia dan lulusan dokter Jawa lainnya memang khusus ditempatkan dekat dengan masyarakat bumiputera, karena kebanyakan dokter Eropa hanya menerima pasien sesamanya saja. Kesadaran memajukan bangsanya sendiri di tengah kalangan Eropa semakin besar tumbuh di dalam diri Wahidin. Dia pun rela tidak dibayar sepeser pun oleh rakyat yang tidak memiliki uang untuk berobat. Aksi Wahidin semakin nyata tatkala dirinya mulai melakukan aksi penggalangan dana bagi biaya pendidikan pemuda-pemuda bumiputera. Wahidin mulai berkeliling Jawa pada 1906. Aski nyatanya itu disambut oleh bangsawan yang menyatakan kesediaannya membantu Wahidin, termasuk dari kalangan Kesultanan Ngayogyakarta. Sebagai seorang dokter, Wahidin tidak pernah lepas dari kegiatan praktik kesehatan, meski sibuk mengurusi berbagai persoalan kemajuan pendidikan yang menjadi tujuannya. Reputasi Wahidin sampai juga di telinga Soetomo dan pemuda Stovia lainnya. Saat berada di Batavia, dia diundang untuk memberi ceramah di hadapan Soetomo dan kawan-kawannya. Wahidin jugalah yang kemudian memicu Soetomo untuk ikut berjuang dalam memajukan bangsa, sehingga lahirlah Boedi Oetomo. A. Mochtar Sang Martir Pusara Achmad Mochtar (Rahadian Rundjan/Historia) Achmad Mochtar adalah direktur bumiputera pertama di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Pada 3 Juli 1945, dia dieksekusi mati oleh Jepang atas tuduhan sabotase vaksin buatan lembaganya, TCD (Typhus Cholera Dysentery), yang mengakibatkan ratusan orang romusha (pekerja paksa) tewas. Mochtar dan lembaga pimpinannya menjadi tertuduh atas kasus tersebut. Naas bermula ketika Juli 1944 ratusan romusha di Klender, Jakarta terkena wabah penyakit. Dokter-dokter Jepang berusaha menyembuhkannya dengan menyuntikkan vaksin tipes, kolera, dan disentri. Alih-alih sembuh, sekira 900 orang tewas. Pemerintah pendudukan Jepang langsung mencurigai para peneliti di Eijkman. Pemeriksaan Kenpetai (polisi Jepang) menunjukkan lembaga Eijkman memasukkan racun kedalam vaksinnya. Pemeriksaan Kenpetai berubah tragis ketika para dokter-peneliti, termasuk Mochtar, ditangkap dan disiksa pada Oktober 1944. Ada yang dipukuli, disetrum, sampai dibakar hidup-hidup. Achmad Mochtar dituduh sebagai pelaku utama. Demi menyelamatkan nyawa kolega-koleganya di Lembaga Eijkman, dia memutuskan mengaku. Pada Januari 1945, Jepang membebaskan staf-staf Eijkman dalam keadaan yang menyedihkan. Dua dokter, Marah Achmad Arif dan Soeleiman Siregar, meninggal dunia dalam tahanan akibat siksaan. Sementara Achmad Mochtar dijatuhi hukuman mati. Menurut Moh. Ali Hanafiah, asisten dr Mochtar, dalam Drama Kedokteran Terbesar , Achmad Mochtar dipaksa mengaku mengotori vaksin yang menyebabkan kematian banyak orang itu. Dia dituduh memasukkan bakteri tetanus ke dalam vaksin yang digunakan dokter Jepang. Pada Juli 1945, Achmad Mochtar dieksekusi tanpa pengadilan dengan cara dipancung. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman massal Ancol. Peristiwa tersebut menimbulkan tanda tanya besar dan menjadi tragedi memilukan dalam dunia kedokteran Indonesia. JK Baird, Direktur Clinical Research Unit Oxford University, kemudian melakukan penelitian atas kasus tersebut. Menurut Bird, dikutip theguardian.com , kematian romusha disebabkan eksperimen dokter Jepang yang membuat vaksin tetanus untuk kebutuhan tentara dan penerbangan Jepang. Para romusha itu menjadi kelinci percobaannya. Untuk menutupi hal ini, Lembaga Eijkman difitnah. Sebagai kepala lembaga Achmad Mochar menjadi kambing hitam untuk menyelamatkan koleganya. “Kisah tentang Prof. Achmad Mochtar merupakan drama kemanusiaan yang terjadi dalam kurun waktu yang amat bersejarah untuk Indonesia, dan terjadi dari berbagai peristiwa militer dan politik pada periode 1942-1945,” ucap Sangkot Marzuki, penulis War Crime in Japan-Occupied Indonesia: A Case by Medicine . Pergerakan Bahder Djohan Bahder Djohan (Wikimedia Commons) Bahder Djohan hadir ketika para pemuda sebayanya menyuarakan aksi kebangsaan di dalam suatu kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928. Tanpa melupakan perannya sebagai murid di sekolah dokter, Bahder berjuang mencari keindonesiaan di tengah kepungan para kolonialis yang terus memperkuat pengaruhnya terhadap Bumiputra. Bahder Djohan dilahirkan di Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat pada 30 Juli 1902. Sebagai sesama putra Minangkabau, Bahder bersahabat karib dengan Hatta. Keduanya, bersama pemuda Minangkabu lainnya, memperkuat ikatan di Jong Sumatranen Bond (JSB). Organisasi ini merupakan wadah perjuangan semasa pergerakan nasional. Menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah (HIS) dan sekolah lanjutan (MULO) di Padang, pada 1919 Bahder memilih merantau ke Batavia untuk mendaftar sekolah dokter Stovia. Dikisahkan Mardanas Safwan dalam Prof. Dr. Bahder Djohan: Karya dan Pengabdiannya , Bahder semakin aktif di JSB ketika di perantauannya ini. Dia menjadi perwakilan JSB di Kongres Pemuda I pada 30 April 1926, dan Kongres Pemuda II pada 1928. Lulus dari Stovia pada1927, Bahder bekerja di Centrale Burgerlijke Zienkenhuis (CBZ), kini RS Cipto Mangunkusumo. Meski ada di lingkungan para kolonialis, dia tidak melupakan hakikatnya sebagai pejuang pergerakan. Di bidang kedokteran, Bahder berusaha meningkatkan derajat dokter bumiputera agar dapat sejajar dengan dokter Eropa. Dia juga ikut menyuarakan ketidakadilan dalam akses informasi kesehatan yang diterima dokter bumiputera oleh pemerintah Belanda. Akses majalah Genuskundig Tijdschrift van Nederlandsh Indie (GTNI) ini baginya amat penting untuk pembelajaran para dokter. Maka Bahder merasa perlu memperjuangkannya. Hasilnya kebijakan pembatasan akses itu dihapuskan.
- Protes Haji Misbach di Tengah Wabah Pes
Dari Malang, wabah pes yang muncul sejak 1910 mulai menjalar ke berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Di Surakarta, penyakit pes mulai muncul pada 1913 dan mulai merebak secara masif setahun setelahnya. Kasus pertama berasal dari orang Belanda yang merupakan pendatang dari perkebunan tebu di Pasuruan. Ia meninggal karena pes di Stasiun Kereta Api Jebres, Surakarta dan sejak itu penyakit pes mulai menulari orang-orang Sala. Maret 1915, epidemi pes pecah di Kota Surakarta. “Wabah pes yang semula hanya berkembang di wilayah kota kemudian menyebar keluar kota itu,” tulis Wasino dalam Kapitalisme Bumiputera, Perubahan Masyarakat Mangkunegaran . Salah satu kebijakan pemerintah kolonial untuk memberantas wabah ialah dengan program perbaikan rumah penduduk. Namun, biaya perbaikan rumah dibebankan kepada penduduk atau menggunakan dana pinjaman dari pemerintah. Kebijakan ini memberatkan rakyat yang tidak mampu. Apalagi, berbagai kebijakan administratif yang berlebihan juga dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini kemudian menyulut perlawanan Insulinde, organisasi lanjutan Indische Partij, lewat Haji Misbach. Haji Misbach bergabung dengan Insulinde Surakarta pada Maret 1918. Pada bulan yang sama, mereka membentuk satu komite untuk menyelidiki kegelisahan penduduk akibat kebijakan pemerintah itu. Misbach sebagai wakil aktif di Kauman kemudian menjadi tokoh utama komite. Pada saat yang bersamaan, wabah pes terus menyebar di Kota Surakarta hingga ke kawasan Kartasura dan Delanggu. “Pemimpin Insulinde Surakarta menunjuk Misbach sebagai komisaris dan memberi wewenang mengadakan rapat umum propaganda melawan tindakan-tindakan pemberantasan wabah pes dari pemerintah dan mendirikan kring (anak cabang, red. ) di luar kota Surakarta,” tulis Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Misbach kemudian segera mengorganisir Insulinde cabang Kartasura. Insulinde Kartasura diketuai oleh Atmokertanto, seorang pegawai pegadaian dan sekretarisnya H. Bakri, pedagang batik. Kampanye melawan kewajiban perbaikan rumah dengan biaya pinjaman dari pemerintah lalu dilancarkan. Terutama di wilayah luar Kota Surakarta, penolakan-penolakan digaungkan. Hasilnya ternyata sukses, penduduk kemudian enggan mengembalikan pinjaman pemerintah. “Sesudah mengadakan rapat umum pada Mei, penduduk Kartasura benar-benar berhenti mengembalikan pinjaman pemerintah untuk perbaikan rumah secara paksa,” sebut Shiraishi. Keberhasilan kampanye Misbach memicu kemarahan Asisten Residen Surakarta. Pimpinan Insulinde Surakarta, Galestian dan Soetadi, kemudian diperintahkan untuk menghentikan propaganda Misbach dan mengadakan rapat umum untuk meminta maaf kepada penguasa. “Namun, pengaruh Tjipto di Insulinde masih kuat sehingga Misbach tetap dapat menjalankan aksi-aksinya sebagai Komisaris Insulinde,” tulis Syamsul Bakri dalam Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942. Tjipto Mangunkusumo memang cukup berpengaruh di Insulinde. Pasca menangani pes di Malang, Tjipto ditolak untuk turut membantu pemberantasan pes di Surakarta hingga ia mengembalikan bintang jasa dari pemerintah. Dukungannya kepada Misbach di Surakarta menjadi cukup berarti. Insulinde Surakarta kemudian berkembang pesat di tengah berbagai perhimpunan di Surakarta. Meski demikian, Insulinde juga tak luput dari celaan sebagian komponen masyarakat. Namun, Insulinde justru semakin eksis sebagai wadah dan media bagi kaum kromo , oposan, dan revolusioner. Menurut Shiraishi, Misbach sendiri menjadi salah satu yang menarik perhatian karena kehangatan, keterbukaan, keramahan serta konsistensi antara kata-kata dan perbuatannya. Kombinasi antara Tjipto Mangunkusumo dan Misbach juga menjadikan Insulinde terlihat benar-benar revolusioner di Surakarta.
- Sang Pembawa Peluru
KAKI Gunung Mananggel, Cianjur pada Desember 2019. Lelaki tua itu berjalan terseok-seok dengan tongkatnya. Saat akan melewati jalan menurun, dua remaja mendekatinya lantas menuntun sang kakek hingga di jalan yang rata. Sejenak mereka berbincang akrab dan tertawa bersama. “ Barudak (anak-anak) itu, selalu baik kepada saya…” ungkapnya. Atmah nama lelaki tua itu. Sehari-hari bekerja sebagai petani kecil. Orang-orang di Desa Pawati mengenalnya sebagai orang tua miskin. Namun tak banyak orang tahu di balik kemiskinannya itu dia merupakan manusia yang kaya akan pengalaman hidup. Termasuk pengalamannya menjadi petempur di era perang melawan Belanda tengah berkecamuk di Indonesia. “Padahal saat itu saya masih anak-anak, baru 11 tahun,” kenangnya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang bocah perang? Ceritanya, pada 1948, satu kelompok pasukan lasykar rakyat pimpinan Sersan Kentjoeng datang ke kampungnya yang terletak di wilayah Ciranjang. Sejak itulah, nyaris tiap sore Atmah kerap menonton latihan baris berbaris pasukan tersebut di lapangan desa. Suatu hari, saat dia duduk di pinggir lapangan, tetiba Sersan Kentjoeng mendekatinya. Sambil menatap, sang komandan seksi tersebut lantas menepuk pundak Atmah kecil. " Jang ! Mulai sekarang kamu ikut pasukan saya ya?!" Atmah kaget. Kendati sangat mengagumi para pejuang republik yang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta itu, namun tak terlintas dalam pikirannya untuk bergabung dengan mereka saat itu. Karenanya, dia agak ragu dan merasa terkejut saat Sersan Kentjoeng mengajaknya (lebih tepat memerintahkannya). "Jangan ragu-ragu, Jang . Kalau ragu-ragu, nanti saya …Euhhh," kata Sersan Kentjoeng sembari mengacungkan jari jempol dan tulunjuknya, memperagakan bentuk pistol, ke kepalanya sendiri. Atmah menyatakan bahwa ia tidak bisa mengiyakan begitu saja permintaan tersebut. Selain tidak memiliki bekal yang cukup, dia pun masih memiliki orangtua yang harus dimintai izin. “Soal bekal tidak usah dipikirkan, kalau masalah izin orangtua, saya akan urus,” kata Sersan Kentjoeng. Dengan diantar sang sersan, dia lantas menemui orangtuanya untuk mohon izin. Melihat tampang Sersan Kentjoeng yang menyeramkan, orangtua Atmah juga tak bisa apa-apa. Sang ibu hanya bisa menangis sedangkan sang ayah hanya bisa terdiam dalam kebimbangan. "Ya pada akhirnya secara terpaksa mereka melepas saya berangkat ke front. Sambil menangis, mereka hanya berpesan kepada saya: jangan pernah menyakiti orang yang sudah tak berdaya" kenang Atmah . Kisah selanjutnya, resmilah sudah bocah Atmah "terperangkap" dalam kegilaan perang di wilayah Ciranjang dan sekitarnya. Sebagai komandan, Sersan Kentjoeng “mendidiknya” secara sungguh-sungguh untuk menjadikan Atmah kecil seorang petarung. Tak aneh dalam usia sangat muda, Atmah mahir memegang berbagai senjata. Dari Lee Enfileld buatan Inggris hingga pistol semi otomatis Luger Parabellum buatan Jerman, pernah dia pegang dalam beberapa pertempuran. "Tapi karena saya ingat pesan orangtua, senjata-senjata itu tak pernah saya tembakan, kecuali kalau dalam posisi terdesak," ujanya. Kentjoeng tentu saja kesal dengan ulah Atmah. Dia lantas “menurunkan” peran Atmah hanya sebagai pembawa sekaligus pelayan pembagian peluru dalam setiap pertempuran. Tugas ini dalam kenyataannya jauh lebih berbahaya dibanding sebagai petempur biasa. “Pokoknya kalau ada suara memanggil “pelor! pelor!” saya harus bergegas menuju suara tersebut sambil membawa amunisi, tak peduli pertempuran sedang berlangsung sehebat apapun,” kenang lelaki kelahiran Ciranjang 81 tahun lalu. Sangat wajar, jika dikatakan saat itu Atmah sangat akrab dengan bau mesiu dan kenyang akan penderitaan di medan laga. Dalam suatu pertempuran, dia bahkan pernah nyaris gugur saat sebutir peluru musuh menghantam paha kanannya. “Walau saya sudah terjatuh tapi peluru kan harus tetap saya sampaikan, makanya saya paksakan terus untuk tetap bergerak dengan cara merayap kendati saya ingat waktu itu banyak kotoran kerbau bertebaran di sekitar saya dan saya merasakan sakit luar biasa di paha kanan,” katanya sambil tertawa. Kendati pantang menyerah, dan kukuh dalam melaksanakan tugas, Atmah tetap seorang anak yang patuh kepada orangtua. Kepada siapa pun, dia tak pernah berusaha untuk berlaku brutal termasuk kepada para musuhnya yang sudah tak berdaya. Pernah dalam suatu penghadangan, pasukan Sersan Kentjoeng berhasil menghancurkan satu seksi pasukan musuh dan menawan 12 tentara Belanda. Mereka dibawa ke markas di wilayah Gunung Halu untuk diperiksa. Selama dalam tawanan, para prajurit itu diperlakukan secara kasar oleh para anak buah Sersan Kentjoeng: dipukuli, ditendang dan diludahi. Saat itulah, Sersan Kentjoeng memanggil Atmah. Seraya tertawa, dia kemudian memerintahkan sang bocah untuk menampar satu persatu para serdadu Belanda yang sudah tak berdaya tersebut. Mendapat perintah itu, darah muda Atmah mendidih. Ada dorongan dalam dirinya untuk memperlihatkan keberaniannya di depan komandan dan kawan-kawannya. Tapi pesan orangtuanya untuk tidak menyakiti orang yang sudah tak berdaya, terngiang-ngiang di telinganya. Dengan tegas dia pun menolak perintah Sersan Kentjoeng itu. "Saat saya tolak, komandan langsung menggampar dan menjewer saya sekuat tenaga. Ya apa boleh buat, saya terima saja, saya lebih takut kualat kepada orangtua jika melakukan itu…" ujar Atmah. Akhir 1949, perang pun usai. Atmah menolak ketika ditawari untuk menjadi serdadu. Dia lebih memilih kembali pulang ke rumah dan memutuskan menjadi petani saja. Suatu cita-cita yang sejak kecil ingin didalaminya. Kini bersama lima putra-putrinya, Atmah hidup sangat sederhana di lereng Gunung Mananggel tepatnya di Desa Pawati. Meskipun dia pernah berjuang, tak sepeser pun di masa tuanya Atmah mendapat tunjangan pensiun. Apakah dia tidak berusaha untuk mendapatkan hak-nya itu? "Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Mungkin keterlibatan saya di masa perang memang sudah menjadi suratan takdir saya. Bukankah takdir dan rezeki itu sudah ditentukan oleh Gusti Allah? " katanya. Tawanya terkekeh memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa lagi. Atmah memang selalu riang, walau bisa jadi kehidupannya sangat susah.
- Sultan Banten, Wihara, dan Wabah Penyakit
VIHARA Avalokitesvara terletak di Kampung Pamarican, Kota Serang, Provinsi Banten. Avalokitesvara merupakan bahasa Sanskerta untuk Dewi Kwan Im yang diyakini suka menolong manusia dari berbagai kesulitan. Lokasi wihara itu sekitar 500 meter di sebelah utara Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan di Kawasan Banten Lama. Wihara itu dibangun tahun 1652 pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (berkuasa 1651–1683). Awalnya wihara itu dibangun di Kampung Dermayon, Kabupaten Serang, sekitar 500 meter di selatan Masjid Agung Banten. Menurut sejarawan Prancis, Claude Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban X–XII , kita hanya memiliki sumber tak jelas mengenai tempat-tempat ibadah orang Tionghoa. Padahal, Banten terkenal karena adanya kelenteng yang dijadikan Vihara Avalokitesvara. Jika sudah ada pada abad ke-17, pasti kelenteng ini disebut-sebut dengan jelas dalam sumber. Sumber asing yang cukup meyakinkan menyebut tentang kelenteng adalah catatan J.P. Cortemunde yang menghadap Sultan Ageng Tirtayasa pada 1673. Dokter bedah asal Denmark itu menyebut “di Banten mereka memiliki kelenteng yang sangat megah, dengan gambar-gambar setan dari emas atau perak yang memiliki hiasan sangat indah tetapi sangat menakutkan... Mereka biasa mengizinkan para pemeluk agama Nasrani masuk dan melihat seluruhnya”. “Jadi hanya catatan ini yang menyatakan bahwa orang Tionghoa memiliki beberapa kelenteng di Banten tahun 1673,” tulis Guillot. Sementara itu, terkait Vihara Avalokitesvara, sepasang sejarawan Prancis, Denys Lombard dan Claudine Salmon menyebutkan dalam penelitian mengenai masyarakat dan inskripsi Tionghoa di Banten, bahwa batu bertulis yang tertua di kelenteng itu dibuat tahun 1754. Sedangkan catatan pertama yang menyebutkan tentang kelenteng itu berasal dari tahun 1747, dan sumbernya berupa sebuah akta notaris yang menjelaskan adanya sebuah lahan di sebelah barat “Chineese Tempel”. Ritual Mengusir Wabah Vihara Avalokitesvara awalnya bernama Bantek Ie yang artinya “sejuta kebajikan”. Wihara itu dipindahkan dari Kampung Dermayon ke Kampung Pamarican sekitar tahun 1774. Bangunan ini pertama kali dipugar pada 1932. Menurut buku Pemetaan Kerukunan Umat Beragama di Banten terbitan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Kementerian Agama, pada 1774, Sultan Banten (Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin, 1773–1799) menghadiahkan sebidang tanah, yang sekarang berdiri bangunan Vihara Avalokitesvara, atas jasa orang Tionghoa yang ikut melakukan ritual keagamaan saat terjadi wabah penyakit yang menyerang penduduk Banten. Wihara itu sampai sekarang berada di lingkungan permukiman penduduk yang beragama Islam. Jenis penyakitnya tidak diketahui pasti. Namun, kemungkinan wabah sakit perut jika merujuk kepada wabah penyakit yang menyerang Cirebon pada 1772–1773 (dan 1805–1806) yang mengakibatkan seperempat penduduknya meninggal dunia. Sebelumnya, pada 1625, wabah penyakit pes membunuh sepertiga penduduk Banten. Adapun ritual yang dilakukan orang Tionghoa itu adalah mengarak Patung Dewi Kwan Im. Asaji Manggala Putra, humas Vihara Avalokitesvara, menjelaskan pada saat itu terjadi wabah penyakit di Banten yang sangat serius. Banyak penduduk yang meninggal dunia. Sultan meminta agar Patung Dewi Kwan Im diarak keliling kampung. “Ternyata setelah itu dilakukan berhasil dan wabah penyakit itu hilang. Penduduk di Banten pun bisa kembali melakukan aktivitas dan kegiatan mereka, dan dari situlah, tradisi mengarak Patung Dewi Kwan Im atau biasa disebut Gotong Petekong bermula. Namun, kini sudah tidak lagi dilakukan karena ada sesuatu hal,” kata Asaji dikutip kabar-banten.com .*
- Bob Hasan di Lintasan
MULAI atletik hingga catur, dari angkat besi sampai panahan dan senam, nama Bob Hasan begitu harum di dalam cabang-cabang olahraga itu. Dunia olahraga Indonesia begitu kehilangan ketika pengusaha berjuluk “Raja Hutan” itu wafat pada 31 Maret 2020 di usia 89 tahun. Konglomerat yang menggurita lewat bisnis-bisnisnya yang moncer itu dikenal pro aktif mengangkat derajat negara lewat olahraga, utamanya atletik sejak 1970-an. Satu warisannya yang masih populer adalah olahraga lari. Cabang atletik ini bahkan kian beken dengan bertaburannnya event-event lari 5-10K (5-10 kilometer). Tren lari nomor itu belakangan digandrungi banyak kalangan. Terlebih, menyediakan hadiah yang tak sepele. Bob Hasanlah yang mempeloporinya pada 1987 dengan menggelar “Bob Hasan Bali 10K”. “Jasa beliau sangat luar biasa untuk olahraga Indonesia, khususnya cabor atletik. Setelah tiga hari dilantik menjadi Menpora, saya mendatangi tempat pelatnas atletik yang sedang persiapan SEA Games Filipina. Di situ saya ngobrol lama dengan Pak Bob,” kata Menpora Zainudin Amali mengenang, dikutip laman Kemenpora , 3 Maret 2020. “Kesan saya ketika itu, bahwa hebat orang tua ini. Sudah seusia yang sepuh seperti itu, beliau masih mau tiap hari ke lapangan Stadion Madya Senayan menemani pelatih, atlet, dan pengurus cabor. Kalau bukan panggilan jiwa beliau dan dedikasi yang luar biasa untuk olahraga, tidak mungkin beliau ada di lapangan,” sambungnya. Bob Hasan (kanan) kala bersua Menpora Zainudin Amali di Stadion Madya (Foto: kemenpora.go.id ) Nakhoda di Lintasan Atletik Menukil Leo Suryadinata dalam “Mohammad Bob Hasan: Timber King, Soeharto’s Cabinet Minister, Promoter of Sports” yang dimuat di Southeast Asian Personalities of Chinese Descent , keterlibatannya dalam olahraga Indonesia adalah hal yang tak disengaja. Ia mulai gandrung terhadap olahraga lari setelah ia sering menderita sakit punggung pada awal 1970-an. “Sejak saat itu ia mulai sering lari setidaknya lima kilometer sehari. ‘Jika saya tidak lari, semua badan saya sakit-sakit’,” katanya dikutip Leo. PB PASI kemudian jadi wadah untuk Bob Hasan menyalurkan hobi sekaligus merintis dedikasinya dalam olahraga. Ia mulai masuk kepengurusan PB PASI sejak induk atletik Indonesia itu dipimpin eks Jaksa Agung Letjen (Purn) Soegih Arto (1973-1976) dan bekas Dubes RI untuk Jepang Letjen (Purn) Sajidiman Soerjohadiprodjo (1976-1978). Pada 1978, Bob Hasan menakhodai PB PASI sebagai ketua umum “abadi” hingga empat dekade berikutnya. Termasuk ketika ia tengah mendekam di penjara tak lama usai Orde Baru rontok. “Hal pertama yang ia lakukan adalah menggenjot popularitas olahraga lari. Ia akui bahwa atlet-atlet Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Ia mengusulkan atletik masuk kurikulum sekolah dengan harapan bisa menghasilkan atlet-atlet kelas dunia,” sambung Leo. Bob Hasan mengomando PB PASI sebagai ketum sejak 1978 (Foto: Instagram @m.bobhasan) Sebagai konglomerat kelas kakap yang intim dengan keluarga Cendana, Bob sering merogoh kocek sendiri untuk mengirim atlet-atlet berlatih di luar negeri atau menyewa pelatih asing. Bob juga tak segan sowan ke Asian Athletic Association (AAA). Hasilnya, Bob sukses melobi AAA untuk menggelar Kejuaraan Atletik Asia 1985 di Stadion Madya, Jakarta kurun 25-29 September 1985. Hasil yang ditorehkan para atlet Indonesia memang belum menggembirakan. Dari puluhan nomor dan kategori, tuan rumah Indonesia hanya mampu menyabet masing-masing dua perak (M. Purnomo 100 dan 200 meter putra) dan perunggu (Emma Tahapary 400 meter putri dan Iece Magdalena Siregar 10.000 meter jalan cepat putri). Meski begitu, Bob Hasan tak kecewa. Sejak sejumlah atletnya dikirim ke Olimpiade Los Angeles 1984 sekaligus berlatih di Amerika, ia memang merasa atlet-atlet Indonesia belum waktunya untuk unjuk gigi di level Asia. “Itu belum cukup mengejar ketertinggalan kita. Kita baru mulai. Sabar saja dulu. Tak menang, ya menonton saja dulu,” kata Bob berkelakar dalam Kiprah Sarengat, Purnomo dan Mardi Lestari Pelari Legendaris Nasional. Kendati para atletnya gagal memetik emas, hikmah yang diambil Bob adalah masyarakat Indonesia lebih aware akan olahraga atletik. Maklum, pada 1980-an atletik masih kalah pamor ketimbang sepakbola dan bulutangkis. Perlahan tapi pasti, publik mulai menengok olahraga atletik. Sementara untuk para atletnya, hikmah dari kegagalan itu jadi pengalaman dan pelajaran meski pahit. “Biar mereka tahu apa gunanya saya marah-marah selama ini dan terus menekan mereka agar terus berlatih sekeras-kerasnya,” tambahnya. Untuk mempopulerkan atletik, khususnya lari jarak 10 kilometer, Bob di bawah bendera PB PASI memulainya dengan menggelar event lari pertama yang hingga kini masih digemari banyak kalangan, yakni Bali 10K. Bagi Bob, program semacam itulah yang jadi salah satu faktor pendorong kesuksesan prestasi atletik di negara-negara maju. “Lomba lari 10K merupakan lomba lari paling bergengsi di dunia. Di Indonesia mulai dipertandingkan pada 1987 yang dikemas PB PASI dengan nama ‘Bob Hasan Bali 10K’. Lomba internasional itu mendapat sambutan baik dari pelari nasional maupun mancanegara, sehingga PB PASI menjadikan lomba itu sebagai kalender tahunan PB PASI,” sebagaimana dikutip dari Majalah Gatra edisi 16 Desember 2009. “Lomba lari ‘Bob Hasan Bali 10K’ berlanjut hingga 1989. Lalu pada 1990 dipindahkan ke Yogyakarta dengan nama ‘Bob Hasan Borobudur 10K’ hingga 1992. Setelah itu giliran Jakarta, di mana puncaknya terjadi pada 1995, ketika juara dunia maraton asal Ethiopia memecahkan rekor dunia lomba lari 10K,” lanjut ulasan tersebut. Lomba lari dan pembinaan yang serius berbekal sokongan dana yang lebih dari cukup itu berbuah manis. Selama empat dekade menakhodai PB PASI, sejumlah jagoan atletik yang diakui dunia dilahirkan Indonesia. Purnomo Yudhi, Mardi Lestari, Maria Londa, Triyaningsih, Suryo Agung Wibowo, hingga penerusnya di era kekinian, Lalu Muhammad Zohri, merupakan di antara bintang-bintang yang dilahirkan itu. Triyaningsih, salah satu andalan atletik putri Indonesia asuhan Bob Hasan (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Tidak hanya dalam atletik, Bob Hasan juga mengasuh beberapa cabang olahraga lain lewat induk organisasinya seperti Percasi (catur), PB PABBSI (angkat besi dan binaraga), Persani (senam), dan Perpani (panahan). Di olahraga panahan bahkan Bob punya “saham” dalam raihan medali olimpiade pertama Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Kala itu medali perak dipersembahkan trio srikandi Kusuma Wardhani, Lilies Handayani, dan Nurfitriyana Saiman. "Saat Indonesia mendapat perak di panahan, saya langsung ditelepon Bob Hasan (ketua Pembina PB Perpani, red ). Hal ini tentu tidak terlepas dari hubungan baik antara olahraga dan antarlembaga kala saya menjabat asisten Menpora sejak Maret 1988," ungkap Mangombar Ferdinand Siregar dalam biografinya yang dituliskan Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani, Matahari Olahraga Indonesia. Prestasi tersebut diapresiasi Presiden Soeharto dengan mengundang ketiga srikandi dan pelatih mereka Donald Pandiangan ke Bina Graha pada 10 Oktober 1988. Mereka datang ditemani Bob Hasan dan M. F. Siregar. Ketiga srikandi panahan itu juga dihadiahi beasiswa Supersemar. Aktivitas segudangnya di beragam gelanggang itu jadi bukti sahih bahwa olahraga jadi hal tak terpisahkan dari diri Bob Hasan dalam segala keadaan. Kala ia mendekam di LP Salemba, Batu, hingga Nusakambangan sejak 2001 akibat kasus korupsi pemetaan hutan, Bob banyak mengisi waktunya dengan beraneka kegiatan olahraga. Selain demi menjaga kebugaran, juga untuk menjaga kewarasan di balik tembok penjara. “Saya bisa menjalani hidup di penjara dengan tingkat stres yang minim karena saya membuat kesibukan juga untuk penghuni LP. Saya memang tidak bisa diam, ada saja yang saya pikirkan untuk membuat keadaan di LP itu menjadi sehat,” tulisnya dalam salah satu bab testimoni di buku Pak Harto, Sisi-Sisi yang Terlupakan yang disusun OC Kaligis, dkk. “Awalnya saya belikan beberapa set meja pingpong (tenis meja, red. ), lantas gotong royong dengan napi yang lain membuat lapangan bulutangkis, juga lapangan futsal. Kalau dulu saya bisa memberikan bonus ratusan juta rupiah untuk atlet berprestasi, maka hadiah dari saya untuk LP adalah keceriaan dan keringan para napi yang bercucuran setelah mereka berolahraga, sehingga bisa terbuang racun-racun depresi yang mengendap di tubuhnya,” lanjutnya. Meski usianya sudah kepala delapan Bob Hasan tetap getol mengurusi atletik (Foto: Instagram @m.bobhasan) Begitu menghirup udara bebas, Bob Hasan yang statusnya masih ketum PB PASI, kembali sering nongol untuk mengawasi langsung para atletnya berlatih. Itu berjalan hingga hari-hari terakhirnya. Sikap itu menjadi bukti nyata Bob selaku pemimpin induk olahraga tak hanya duduk anteng di belakang meja menanti laporan menggembirakan tanpa mau “berkotor-kotoran”. “Bob Hasan mendedikasikan diri di dunia atletik selama lebih dari 40 tahun. Ia telah berkontribusi menggelar sejumlah kompetisi (atletik) tingkat Asia, ketika tak satupun mau menjadi tuan rumahnya. Persaudaraan atletik Asia akan selalu mengenang jasa-jasanya. Oleh karenanya kami turut berbelasungkawa. Semoga arwahnya bisa beristirahat dengan tenang,” tutur Presiden AAA Dahlan al-Hamad dalam pernyataan resminya terkait wafatnya Bob Hasan, di laman resmi AAA.





















