top of page

Sultan Banten, Wihara, dan Wabah Penyakit

Sultan Banten menghadiahkan tanah untuk wihara karena orang Tionghoa telah membantu mengusir wabah penyakit.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Vihara Avalokitesvara di Kampung Pamarican, Kota Serang, Provinsi Banten. (indonesiakaya.com).

  • 6 Apr 2020
  • 2 menit membaca

VIHARA Avalokitesvara terletak di Kampung Pamarican, Kota Serang, Provinsi Banten. Avalokitesvara merupakan bahasa Sanskerta untuk Dewi Kwan Im yang diyakini suka menolong manusia dari berbagai kesulitan. Lokasi wihara itu sekitar 500 meter di sebelah utara Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan di Kawasan Banten Lama.


Wihara itu dibangun tahun 1652 pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (berkuasa 1651–1683). Awalnya wihara itu dibangun di Kampung Dermayon, Kabupaten Serang, sekitar 500 meter di selatan Masjid Agung Banten.


Menurut sejarawan Prancis, Claude Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban X–XII, kita hanya memiliki sumber tak jelas mengenai tempat-tempat ibadah orang Tionghoa. Padahal, Banten terkenal karena adanya kelenteng yang dijadikan Vihara Avalokitesvara. Jika sudah ada pada abad ke-17, pasti kelenteng ini disebut-sebut dengan jelas dalam sumber.


Sumber asing yang cukup meyakinkan menyebut tentang kelenteng adalah catatan J.P. Cortemunde yang menghadap Sultan Ageng Tirtayasa pada 1673. Dokter bedah asal Denmark itu menyebut “di Banten mereka memiliki kelenteng yang sangat megah, dengan gambar-gambar setan dari emas atau perak yang memiliki hiasan sangat indah tetapi sangat menakutkan... Mereka biasa mengizinkan para pemeluk agama Nasrani masuk dan melihat seluruhnya”.


“Jadi hanya catatan ini yang menyatakan bahwa orang Tionghoa memiliki beberapa kelenteng di Banten tahun 1673,” tulis Guillot.


Sementara itu, terkait Vihara Avalokitesvara, sepasang sejarawan Prancis, Denys Lombard dan Claudine Salmon menyebutkan dalam penelitian mengenai masyarakat dan inskripsi Tionghoa di Banten, bahwa batu bertulis yang tertua di kelenteng itu dibuat tahun 1754. Sedangkan catatan pertama yang menyebutkan tentang kelenteng itu berasal dari tahun 1747, dan sumbernya berupa sebuah akta notaris yang menjelaskan adanya sebuah lahan di sebelah barat “Chineese Tempel”.


Ritual Mengusir Wabah

Vihara Avalokitesvara awalnya bernama Bantek Ie yang artinya “sejuta kebajikan”. Wihara itu dipindahkan dari Kampung Dermayon ke Kampung Pamarican sekitar tahun 1774. Bangunan ini pertama kali dipugar pada 1932.


Menurut buku Pemetaan Kerukunan Umat Beragama di Banten terbitan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Kementerian Agama, pada 1774, Sultan Banten (Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin, 1773–1799) menghadiahkan sebidang tanah, yang sekarang berdiri bangunan Vihara Avalokitesvara, atas jasa orang Tionghoa yang ikut melakukan ritual keagamaan saat terjadi wabah penyakit yang menyerang penduduk Banten. Wihara itu sampai sekarang berada di lingkungan permukiman penduduk yang beragama Islam.


Jenis penyakitnya tidak diketahui pasti. Namun, kemungkinan wabah sakit perut jika merujuk kepada wabah penyakit yang menyerang Cirebon pada 1772–1773 (dan 1805–1806) yang mengakibatkan seperempat penduduknya meninggal dunia. Sebelumnya, pada 1625, wabah penyakit pes membunuh sepertiga penduduk Banten.


Adapun ritual yang dilakukan orang Tionghoa itu adalah mengarak Patung Dewi Kwan Im. Asaji Manggala Putra, humas Vihara Avalokitesvara, menjelaskan pada saat itu terjadi wabah penyakit di Banten yang sangat serius. Banyak penduduk yang meninggal dunia. Sultan meminta agar Patung Dewi Kwan Im diarak keliling kampung.


“Ternyata setelah itu dilakukan berhasil dan wabah penyakit itu hilang. Penduduk di Banten pun bisa kembali melakukan aktivitas dan kegiatan mereka, dan dari situlah, tradisi mengarak Patung Dewi Kwan Im atau biasa disebut Gotong Petekong bermula. Namun, kini sudah tidak lagi dilakukan karena ada sesuatu hal,” kata Asaji dikutip kabar-banten.com.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Setelah diculik pengikut Tan Malaka, Sutan Sjahrir bikin perhitungan dengan penangkapan berantai. Adam Malik protes, Sayuti Melik pasrah digelandang ke bui.
bg-gray.jpg
Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik pengikut Tan Malaka, Presiden Sukarno minta Sjahrir dikembalikan.
bg-gray.jpg
Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
bg-gray.jpg
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
For Indonesia reconciliation is a necessity, yet it will not be easy to achieve.
Kartini adalah sang pemula dari proses revolusi nasional.
Kartini adalah sang pemula dari proses revolusi nasional.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Tema budaya bahari dipilih untuk mengingatkan bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan dan laut sebagai penghubungnya.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Percampuran banyak budaya di Kota Budapest akan dituangkan lewat pameran bersama antar dua negara.
Ini tentang protes dengan cara tapa, pemberontakan budak yang berhasil, pemberontakan Kapal Tujuh, serta awal mula kamp konsentrasi dan penjara.
Ini tentang protes dengan cara tapa, pemberontakan budak yang berhasil, pemberontakan Kapal Tujuh, serta awal mula kamp konsentrasi dan penjara.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
Survei SMRC menunjukan mayoritas warga tidak percaya akan kebangkitan PKI. Dimanfaatkan kelompok tertentu demi tujuan politik.
transparant.png
bottom of page