top of page

Jenderal Jusuf dan Para Wartawan

Sang panglima kerap melibatkan juru warta dalam perjalanan dinasnya. Ada wartawan langganan ada pula yang diajak secara dadakan,.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jenderal M. Jusuf dan wartawan Sinar Harapan, Atmadji Sumarkidjo. (Dok. Atmadji Sumarkidjo).

  • 9 Apr 2020
  • 3 menit membaca

BISA dikatakan Jenderal TNI M. Jusuf adalah Panglima ABRI yang paling disenangi wartawan pada masanya. Selain dikenal ramah terhadap kuli tinta, Jusuf juga tidak “pelit” berbagi dengan mereka. Jusuf membuktikan itu dengan kebiasaan mengajak para wartawan untuk meliput perjalanan dinasnya.


“Antara tahun 1978-1983, Jusuf identik dengan perjalanan keliling Indonesia. Perjalanan pun identik dengan hidup, makan, tidur di dalam perut (pesawat) Hercules,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit.


Bagi kalangan wartawan, kunjungan ke penjuru negeri ini disebut sebagai “Safari Jusuf”. Hampir sebagian besar perjalanan Jusuf ke luar kota diawali pada dini hari. Artinya, berangkat sekitar pukul 05.00 pagi. Maka bagi wartawan yang diajak untuk meliput sudah dijemput oleh staf Menhankam pada pukul 02.00-03.00 dini hari.


Jusuf punya aturan terhadap para wartawan yang berkesempatan mengikuti safarinya. Mereka harus mengenakan seragam serba hijau, baik seragam formal ataupun lapangan (Pakaian Dinas Lapangan). Di balik aturan itu terselip alasan khusus.


“Supaya mereka menghayati dan merasakan denyut nadi para prajurit ABRI,” kata Jusuf ditirukan Atmadji.


Sekira 30 menit setelah pesawat berangkat dari Pangkalan Halim Perdanakusumah, Jusuf suka melakukan inspeksi dalam pesawat. Dia melihat siapa-siapa saja penumpang yang jadi anggota rombongan. Kesempatan itu juga yang selalu digunakan Jusuf untuk menyapa para wartawan. Kadang-kadang Jusuf memberikan informasi kepada wartawan mengenai tujuan yang harus dicapai dalam kunjungan tersebut. Pembicaraan Jusuf dengan wartawan acap kali diselingi canda.


Bagi yang sudah dikenalnya baik, Jusuf kerap melayangkan tanya, “Bagaimana kabarmu? Baek-baek saja kan?” Jusuf juga tidak sungkan memperhatikan penampilan wartawan yang terlihat agak urakan. Misalnya, jika dilihatnya ada wartawan yang gondrong, Jusuf akan berseloroh, “Kau rapikan sedikit rambutmu ya, biar kelihatan bagus.”


Di dalam pesawat, Jusuf tidak senang kepada mereka yang punya kebiasaan merokok. Dia bisa marah kalau melihat asap membubung, sekalipun terhadap sesama perwira tinggi. Namun Jusuf toleran kalau soal tidur. Jusuf senang jalan ke kabin belakang dan mengamati para penumpang yang tertidur lelap. Beberapa jam kemudian dalam suasana yang santai, dia sering meledek para wartawan.


“Wah enak sekali kalian ini, sudah nggak bayar naik pesawat terbang, tidurnya pulas pula,” celoteh Jusuf . Siapapun tidak ada yang marah karena tahu bahwa itu sekedar senda gurau belaka.


Setiap kali ikut serta meliput kunjungan kerja Jusuf di daerah, semua kebutuhan wartawan ditanggung. Mulai dari transportasi, makan, hingga akomodasi. Mereka yang sudah jadi langganan tetap masuk kategori “rombongan sirkus”. Namun ada pula wartawan yang diajak secara dadakan.


Suatu siang usai rapat kerja DPR, empat orang wartawan menunggu Jusuf untuk melakukan wawancara. Ketika Jusuf berjalan ke luar ruangan, otomatis para wartawan mengerumuninya sambil menyodorkan alat perekam. Namun Jusuf sedang dalam kondisi kurang mood untuk diwawancarai. Dengan tongkat komandonya, dia menunjuk satu-satu ke perut wartawan itu.


“Aku sedang malas bicara. Kau, kau, kau, dan kau, ikut aku saja sekarang ke Halim! Kita berangkat ke Medan satu jam lagi,” ujar Jusuf spontan.


Dengan cepat, staf Jenderal Jusuf mencari sebuah mobil untuk menaikan para wartawan itu. Keempat wartawan tadi pun diangkut dalam keadaan setengah bengong. Setibanya di Medan, barulah mereka punya waktu untuk buru-buru membeli sikat gigi, odol, pakaian dalam dan baju ganti.


Salah satu wartawan yang beruntung selalu mengikuti kunjungan Jusuf ialah Atmadji Sumarkidjo. Ketika itu, Atmadji masih seorang reporter muda harian Sinar Harapan. Menurut Atmadji, hubungannya dengan Jusuf pada awalnya sebatas profesionalitas antara wartawan dengan narasumbernya.


“Kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan pribadi yang amat berkualitas dan tak pernah satu kali pun terhenti hingga Pak Jusuf wafat,” kenang Atmadji.


Hubungan karib tersebut dimulai dengan perhatian khusus yang diberikan oleh istri Jusuf, Elly Jusuf Saelan atas tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar Sinar Harapan. Atmadji kemudian dipercaya untuk menuliskan biografi M. Jusuf yang berjudul Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit. 


Seiring waktu, karier jurnalis Atmadji kian menanjak di Sinar Harapan. Namanya pun malang melintang di dunia media maupun penerbitan tanah air. Kini Atmadji lebih dikenal aktif sebagai staf khusus Menteri Kordinator Bintang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah terpikat sosialisme pada pandangan pertama. Sutan Sjahrir jadi comblangnya.
bg-gray.jpg
Buyut Ahmad Subardjo berasal dari keluarga terpandang di Aceh yang terlibat persaingan kekuasaan. Dia memilih merantau ke Jawa dan menjadi pemuka agama Islam. Anaknya mengikuti jejaknya.
Nilai budaya Melayu mulai luntur. Namun, bisa kembali dihidupkan melalui ingatan kolektif yang masih muncul dalam tradisi masyarakat Melayu.
Nilai budaya Melayu mulai luntur. Namun, bisa kembali dihidupkan melalui ingatan kolektif yang masih muncul dalam tradisi masyarakat Melayu.
Sekuel “Venom 2” menghadirkan drama-action berbalut komedi. Karakter anti-hero yang mulanya berasal dari sayembara penggemar.
Sekuel “Venom 2” menghadirkan drama-action berbalut komedi. Karakter anti-hero yang mulanya berasal dari sayembara penggemar.
Usai menginspirasi jutaan orang dalam sepakbola, kini sang legenda pergi untuk selamanya. Jakarta beruntung sempat menjadi salah satu kota yang dikunjungi Maradona.
Usai menginspirasi jutaan orang dalam sepakbola, kini sang legenda pergi untuk selamanya. Jakarta beruntung sempat menjadi salah satu kota yang dikunjungi Maradona.
Koleksi Asia yang selama ini tersebar di berbagai lembaga di Belanda disimpan di bawah satu atap perpustakaan Universitas Leiden.
Koleksi Asia yang selama ini tersebar di berbagai lembaga di Belanda disimpan di bawah satu atap perpustakaan Universitas Leiden.
Pele, Maradona, Ronaldo hingga Messi jago dalam prestasi. Dalam hal pesona dan brand, Beckham belum tertandingi.
Pele, Maradona, Ronaldo hingga Messi jago dalam prestasi. Dalam hal pesona dan brand, Beckham belum tertandingi.
Darmini dan Harsono hingga usia lanjut turut berpartisipasi dalam aksi dan solidaritas menentang penindasan oleh penguasa di Indonesia, Filipina, dan berbagai negara lainnya.
Darmini dan Harsono hingga usia lanjut turut berpartisipasi dalam aksi dan solidaritas menentang penindasan oleh penguasa di Indonesia, Filipina, dan berbagai negara lainnya.
transparant.png
bottom of page