Hasil pencarian
9747 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nasib Tragis Dokter Pembawa Metode Bedah
SEORANG gadis Jawa berusia 15 tahun mengalami luka bakar serius di dada, perut, dan kaki bagian atas. Orangtuanya Iangsung melarikan ke Rumah Sakit Militer Magelang (kini Rumah Sakit Tentara dr. Sudjono). Tubuh gadis itu dipenuhi bekas luka, sebagian besar alat kelaminnya bahkan tertutup bekas luka yang timbul (parut hipertrofik). Kulit kakinya mengkerut dan kaku (kontraktur). Kondisi itu membuat si gadis kesulitan berjalan. Gadis itu ditangani Norbert Grzywa, yang pada 1930-an bertugas sebagai ahli bedah dan ortopedi di Magelang. Grzywa menganjurkan operasi bedah plastik untuk menghilangkan bekas luka agar si gadis dapat berjalan lagi. Grzywa membuang semua area kulit yang mengkerut dan mengganggu gerak pasien lantas mencangkok kulit baru. Metode bedah itu sudah digunakan sejak Perang Dunia I. Grzywa mendapat pengetahuan itu ketika bertugas di klinik Universitas Wina, Austria di mana Johannes (Jan) Fredericus Samuel Esser memperkenalkan prinsip dasar transplantasi kulit pada 1917. Keberhasilan Grzywa menjajal metode Esser kemudian dituliskannya dalam jurnal medis yang terbit pada 1934 sekaligus memperkenalkan salah satu metode bedah ke Hindia-Belanda. “Sebagai ahli bedah di Rumah Sakit Militer di Magelang, ia menerbitkan sebuah kasus menarik tentang perawatan kontraktur pasca-luka bakar dengan flap arteri Esser,” tulis Barend Haesekaer dalam “A Brief History of the Development of Plastic Surgery in the Netherlands East-Indies”. Grzywa, pria Astro-Hungaria yang lahir di Lemberg (kini Lviv, Ukraina) pada 6 Juni 1891, merupakan ahli bedah dan ortopedi. Pada 1921, dia memutuskan bergabung dengan satuan medis KNIL. Setahun berikutnya dia tiba di Batavia dan membuka praktik di Rijswijkstraat (kini Jalan Majapahit). “Dr. Nobert Gryzwa, Petojo 1, Pojokan Jaga Monyet,” begitu ia memuat iklan di suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië. Pada 1923, Grzywa menemukan tambatan hatinya, Amelie Gotz, dokter keturunan Jerman. Setelah menikahi Amelie, mereka dipindahkan ke Cimahi pada 1926 dan tuga tahun kemudian kembali dipindahtugaskan ke Makassar. Pada 1933, Grzywa tersandung kasus hukum akibat ketahuan memalsukan laporan pajak tahunan (semacam SPT pajak). Bataviaasch Nieuwsblad edisi 3 Maret 1933 melaporkan, Grzywa dipanggil Dewan Kehakiman karena terbukti mengemplang pajak selama bertugas di Cimahi. Namun, dia beruntung bisa lolos lantaran satuan medis KNIL meminta Dewan Kehakiman menunda penyelesaian kasus Grzywa. Alasannya, Grzywa tengah bertugas di Padang dan sulit untuk mencari dokter pengganti. Dari Padang, Grzywa dipindah ke Magelang dan mempraktikkan ilmu cangkok kulit yang didapatkannya di Wina. Setelah beberapa tahun bertugas di Magelang, Grzywa mengundurkan diri dari dinas militer pada Juni 1938. Ketika Jerman menginvasi Belanda, Mei 1940, orang-orang Jerman dan Austria di Hindia-Belanda tak punya perlindungan hukum. Mereka ditangkapi dan dijadikan tawanan perang, termasuk Grzywa dan istrinya. Setelah penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbour, semua tawanan itu dikumpulkan ke Sibolga kemudian dipindahkan ke India. Pengirimannya menggunakan tiga kapal, salah satunya Van Imhoff . Dua kapal berangkat dengan selamat. Namun ketika kapal ketiga, Van Imhoff , baru berlayar sebentar, pesawat pengintai Jepang melintas dan langsung menjatuhkan bom. Celakanya, kapten dan beberapa awak kabur begitu saja menggunakan sekoci. Jangankan membantu menyiapkan sekoci untuk penumpang, kunci ruang tahanan bahkan belum semua dibuka. Grzywa bersama tahanan lain pun kelabakan. Mereka bersusah payah menyelamatkan diri dengan berebut naik sekoci yang tersisa atau berenang ke Pulau Nias. Di sanalah Grzywa terakhir terlihat mengapung. “Kariernya selama 20 tahun di Hindia-Belanda berakhir tragis,” tulis Haeseker.
- Ketika Fasisme Muncul di Muka Bumi
Di sepanjang kota Milan, pria berkemeja hitam berjejal memadati jalanan. Dengan gaya khas, mereka mengacungkan tangan kanan ke udara. Sang pemimpin, Benito Mussolini, mendeklarasikan berdirinya Fasci di Combattimento yang kelak dikenal sebagai Partai Fasis, 23 Maret 1919, tepat hari ini seabad lalu. “Kita adalah manusia-manusia yang mendorong negara ke kancah peperangan dan meraih kemenangan,” seru Mussolini. Fasisme lahir ketika Italia mengalami krisis ekonomi pasca Perang Dunia pertama. Sebagai negara pemenang perang, Italia gagal mendapatkan pembagian wilayah di Afrika Utara. Hutang negara bertumpuk sementara ratusan ribu rakyat Italia menganggur. Mussolini, tokoh Partai Sosialis dan pemimpin redaksi koran Avanti datang menawarkan perubahan. Rezim Il Duce Semula, gerakan Fasis dibawah Mussolini hanyalah kelompok aksi ultranasionalis. Gerakan ini dinamakan Fasci d’ Azione Rivoluzionarea (kelompok pemuda yang ingin perang). Simbol mereka adalah Fasces, tongkat kayu bermata kapak, diadaptasi dari zaman Romawi kuno yang melambagkan hukum dan kekuatan. Salamnya diambil dari gaya legiun Roma, legiun d’ Annunzio, yaitu lengan kanan naik dengan tangan kanan. Mussolini mengusung kampanye Italia Raya seperti masa jaya Imperium Romawi yang tercetus dalam konsep Italia la Prima . Dalam romantika masa lalu, wilayah Italia terbentang dari Negara Italia, Laut Mediterania, Afrika Utara, sampai Ethiopia . Propaganda ini cukup laris termakan rakyat. Pada 1921, tercatat dalam Compendio di Statistica Ellettorale, Partai Fasis berhasil memasuki parlemen dengan raihan 35 kursi di parlemen . “Metode Mussolini kemudian, adalah menyusun Fasis-nya sebagai angkatan perang politik yang privat. Ia beroperasi di luar parlemen, meraih kekuasaan dengan rally jalanan dan mengintimidasi lawan,” tulis Hugh Purcell dalam Fascism: People and Politics . Dalam sepak terjangnya, Partai Fasis disokong oleh kalangan industrialis yang anti-komunis. Partai ini juga mengandalkan unit pasukan khusus bernama S quadirsti . Mereka tak segan menghancurkan lawan politiknya dengan cara berkelahi, bikin rusuh, hingga membunuh. Pertumbuhan Fasis yang pesat membuktikan bahwa Mussolini cakap dalam mengorganisasi. Pada 31 Oktober 1922, dalam usia 39 tahun, Mussolini dilantik menjadi Perdana Mentri termuda Italiadan menandai dimulainya pemerintahan Fasis. Mussolini pun mendapatkan gelar kehormatan dari rakyatnya, Il Duce yang berarti sang pemimpin. Politik Agresif Dalam Today’s Isms , William Ebenstein menyebutkan, Mussolini memerintah secara totaliter dengan ciri: sangat nasionalis chauvinistik, rasialis, militeris, dan imperialis. Dengan tangan besi, perlahan Italia menjadi negara yang stabil. Selama Fasis berkuasa, tiada ditemui unjuk rasa atau mogok kerja. Ketertiban umum harus dibayar dengan kehilangan kebebasan berpendapat. Demi menghasilkan generasi baru Italia, pertumbuhan penduduk digenjot. Bagi Mussolini, pengaruh suatu bangsa amat bergantung pada kekuatan demografi. “Apa artinya 40 juta orang Italia dibandingkan dengan 90 juta orang Jerman dan 200 juta orang Slavia? Apa artinya 40 juta orang Italia dibandingkan dengan 40 juta orang Prancis, ditambah 90 juta penduduk koloni mereka, atau 46 juta orang Inggris ditambah 450 juta orang yang tinggal di koloni mereka?” kata Mussolini dilansir Il Popolo d’Italia , 26 May 1927. Untuk memperoleh bonus demografi, Mussolini menetapkan pajak bagi bujangan serta tunjangan bagi para ibu . Hasilnya, data kependudukan menunjukan dari 93 wanita melahirkan sekitar 1300 orang anak. Kualitas sumber daya manusia Italia meningkat. Di bidang olahraga, Italia muncul sebagai kekuatan baru meski para atlitnya bermain di bawah bayang-bayang ancaman. Setelah kuat di dalam negeri, pemerintahan Fasisme mulai melancarkan politik ekspansi. Langkah pertama adalah dengan menginvasi Ethiopia. Alasan penaklukkan Ethiopia karena negara tersebut termasuk kedalam mandala Italia Irredenta . Di samping itu, Italia membutuhkan ruang hidup bagi populasi penduduknya yang kian bertambah. Dari segi ekonomi, Italia juga membutuhkan Ethiopia sebagai negeri penghasil bahan mentah. Dalam kurun waktu tujuh bulan, tepatnya 5 Mei 1936 , Italia menaklukkan Ethiopia sepenuhnya di bawah komando Marsekal Badoglio. Invasi itu membuat pemimpin Ethiopia , Kaisar Haile Salassie melarikan diri ke Inggris . Liga Bangsa-Bangsa menegur agresi tersebut yang langsung di jawab Italia dengan keluar dari keanggotaan organisasi. Untuk membesarkan pengaruhnya di Eropa, Italia juga melibatkan diri dalam perang saudara di Spanyol. Italia menyokong tokoh fasis Jenderal Francisco Franco yang ingin melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang dipimpin oleh Manuel Azana dari Partai Komunis. Alasan Italia turut campur dalam kisruh politik Spanyol untuk mencari sekutu Fasis sekaligus langkah awal untuk mem-Fasiskan seluruh Eropa. Di balik itu, terselubung motif kekuasaan. Letak Spanyol yang strategis ingin dijadikan Mussolini sebagai Laut Italia sebagaimana halnya zaman Imperium Romawi. Keok Keberhasilan Mussolini, menginspirasi Adolf Hitler yang kelak mendirikan Partai Nasionalis Sosialis, Nazi di Jerman. Pada 1939, Italia tergabung dalam blok Poros bersama Jerman dan Jepang menggelorakan Perang Dunia Kedua. Lawan yang dihadapi adalah blok Sekutu terdiri dari Inggris, Prancis, Uni Soviet, Amerika Serikat dan negara lainnya. Pengalaman memenangkan perang kecil di Ethiopia membuat Mussolini jemawa. Italia sendiri sebenarnya belum siap untuk menghadapi perang besar. Menjelang pecah perang Italia hanya mengandalkan persenjataan sisa Perang Dunia I. Senapan yang digunakan adalah buatan tahun 1891. Persenjataan itupun tidak diganti hingga akhir Perang Dunia II. Di awal perang, Jerman mampu memenangi berbagai front pertempuran di Eropa. Pun demikian dengan Jepang yang digdaya di Asia Timur Raya. Namun, Italia yang terjun di front Balkan dan Afrika Utara justru keok dimana-mana. Pada 9 Juli 1943, Sekutu berhasil memasuki Italia melalui Pulau Sisilia. Pengaruh Mussolini goyah dan berada di ambang kejatuhan. Hingga pada akhirnya, blok Poros kalah total dari Sekutu. Pada 28 April 1945, Mussolini yang hendak melarikan diri ke Swiss dengan menyamar, berhasil dikenali dan ditangkap kaum partisan komunis. Dia dihukum mati didepan regu tembak. Mayatnya beserta mayat kekasihnya Clara Pettaci dibawa ke Milan. Sesampainya ditengah kota , mayat Mussolini digantung dengan posisi kepala dibawah. Di tempat itu pula ia pernah meneriakkan kalimat berapi-api dihadapan lautan massa yan g memuja kejayaan Fasisme. Berakhirnya hidup Mussolini menandai berakhir pula rezim Fasisme di Italia.
- Mengintip Masa Lalu dari Mangkunegaran
DUA set gamelan di pendopo Pura Mangkunegaran itu sedang “menganggur”. Kecuali alat musik-alat musik lain seperti kendang, dua set gamelan tadi ditutupi kain hijau siang itu, 18 Maret 2019. “Kalau Rabu malam sama Jumat malam dimainkan,” ujar Doni Irawan, tour guide Pura Mangkunegaran, kepada Historia . Di depan seperangkat gamelan yang berada di utara, berdiri papan keterangan bertuliskan: Kyai Kanyut Mesem. Usia gamelan itu lebih dari 200 tahun. Saat Raden Mas Said naik takhta menjadi Mangkunegara I, gamelan itu sudah ada. “Nah, (gamelan, red .) itu yang dipakai untuk siaran langsung dengan peralatan radio,” kata Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegaran kepada Historia . Siaran langsung yang dimaksud Supriyanto adalah live radio Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada 1937 yang menyiarkan Kyai Kanyut Mesem dimainkan untuk mengiringi Gusti Nurul, putri Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur, menari di hadapan Ratu Wilhelmina saat pernikahan Putri Juliana dengan Pangerang Bernhard. “Pas Hari-H, putrinya (Gusti Nurul) nari (di Belanda) diiringi siaran radio langsung dari pendopo ini gamelannya. Gamelannya dari sini, diiringi dari sini,” sambung Supriyanto. Kendala koneksi gelombang sempat melanda pertunjukan itu. "Sambungan terputus selama beberapa menit. Namun, penari melanjutkan dengan tarian anggunnya dan orkestra gamelan dengan permainannya. Ketika koneksi nirkabel dipulihkan, penari dan orkestra bertemu tepat pada iramayang sama," kata Rudolf Mrazek menuliskan pengakuan Gusti Nurul di Engineers of Happy Land: Techlonogy and Nationalism in a Colony . Pentas tari dengan iringan gamelan lintas benua itu mungkin yang pertama di dunia. Ratu Wilhelmina amat terkesan dengan keindahan tari dan keanggunan penarinya. Sejumlah media, termasuk Majalah Life edisi 25 Januari 1937, mengabadikannya. Kini, 82 tahun setelah pentas itu, kondisi gamelan Kyai Kanyut Mesem masih terawat dan berfungsi baik. Namun, ia bukan satu-satunya barang antik milik Mangkunegaran. Di Dalem Ageng yang kini jadi Museum Pura Mangkunegaran, ratusan barang lain terpajang rapi dengan kondisi baik. Beragam perhiasan emas maupun berlian raja dan ratu terpajang dalam beberapa lemari kaca. Di dekatnya, sebuah lemari kaca memuat beberapa replika mini meja-kursi berlapis emas. Dalam keterangan di papan petunjuknya, replika lucu berukuran amat kecil itu merupakan mainan Gusti Nurul semasa kanak-kanak. “Ini hadiah dari Ratu Belanda,” kata Doni. Beragam senjata, mulai dari tombak sepanjang lebih dari dua meter hingga keris sepanjang puluhan sentimeter, juga terpajang dalam lemari-lemari kaca di beberapa sudut ruangan. Beberapa di antaranya sudah berkarat. “Ini masih ada khodam -nya,” kata Doni sambil menunjuk lemari tempat keris-keris itu disimpan. Berseberangan jauh dari keris-keris itu, pedang-pedang hadiah dari kerajaan-kerajaan lain, semisal Turki, berjajar rapi di lemari kaca sebelah kanan dari pintu masuk. Tak jauh darinya, ada lemari kaca yang memuat uang-uang kuno. Banyak dari uang itu berbahan emas. Satu lemari kaca di tengah menyimpan benda unik dengan bentuk asing. Nama benda itu badong. “Ini untuk dipakai raja dan ratu supaya ndak selingkuh,” kata Doni. Tiga sisi dinding ruangan itu dihiasi lukisan-lukisan para raja berikut permaisuri karya Basoeki Abdullah. Hanya Mangkunegara I yang tak ada lukisannya dan diganti dengan gambar matahari dengan cahaya berpencar. “RM Said ndak bisa dilukis, jadinya digambarkan matahari,” lanjut Doni. Sebagian besar barang-barang antik itu masih dalam kondisi baik. Para penerus Mangkunegara I amat memperhatikan perawatan barang-barang itu. “Ada kewajiban turun-temurun untuk memelihara. Biar generasi berikutnya tidak kehilangan sumber, tidak kehilangan arah,” ujar Supriyanto.
- Ketegaran Tien Soeharto dan Hartini Sukarno
PENGALAMAN menjabat Panglima Diponegoro meninggalkan kenangan pahit bagi Soeharto. Waktu itu pangkat Soeharto masih kolonel. Dalam amatan Soeharto, kondisi kesejahteraan prajuritnya cukup melarat. Soeharto putar akal bagaimana caranya mendulang uang.
- Menanti RUU PKS Disahkan
KASUS Agni dan Universitas Gadjah Mada yang berakhir “damai” juga kasus Baiq Nuril yang berakhir pemenjaraan dengan jerat UU ITE menambah panjang deretan kasus kekerasan seksual di tanah air. Mayoritas kasus itu berakhir menyedihkan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam laporannya menyebutkan, pada 2018 ada 7.238 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan yang dihimpun dari berbagai layanan aduan, menununjukkan jumlah kekerasan seksual pada 2017 mencapai 384.446 laporan. Aduan dari para korban yang langsung masuk ke Komnas Perempuan mencapai 1.301 laporan. Angka-angka tersebut baru mencakup kekerasan seksual yang dilaporkan. Padahal, keberanian korban untuk melaporkan kasus yang mereka alami masih rendah. Minimnya keberanian korban melaporkan kasus yang mereka alami disebabkan terutama oleh masih kuatnya cara pandang bahwa perkosaan merupakan serangan terhadap moral (asusila). Akibatnya, masyarakat malah meragukan dan menyalahkan korban. Pertanyaan-pertanyaan seputar pakaian korban, lokasi, dan waktu kejadian seringkali malah menyudutkan korban alih-alih mengadvokasi. Padahal, kekerasan seksual, mertabat, dan harga diri seseorang bukan semata urusan sopan santun. Banyaknya kasus kekerasan seksual ini membuat Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) penting untuk segera disahkan. “Hukum Indonesia hanya mengakomodasi kasus perkosaan dengan bukti kekerasan fisik pada tubuh perempuan,” kata Masruchah, komisioner Komnas Perempuan, pada Historia . RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dibuat degan perspektif keadilan untuk korban dan akan mengatur 15 jenis tindak pidana kekerasan seksual. Antara lain, kontrol, intimidasi, eksploitasi, penyiksaan seksual, dan pemaksaan aborsi. RUU juga menjabarkan mengenai hak korban atas perlindungan, penanganan, dan pemulihan. Ide tentang pentingnya payung hukum PKS bermula dari tingginya angka kekerasan seksual sepanjang 2001-2011. Sepanjang dekade tersebut, 25 persen kasus kekersan terhadap perempuan adalah kekerasan seksual. Setiap hari setidaknya 35 perempuan jadi korban kekerasan seksual. Artinya, setiap jam ada perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual hingga Komnas Perempuan menyebut Indonesia darurat kekerasan seksual. “Itu baru yang lapor. Banyak yang tidak lapor karena intimidasi oleh pelaku dan masyarakat,” kata Masruchah. Pada 2012, Komnas Perempuan meneliti jenis-jenis kekerasan seksual. Setahun setelah itu KP mulai mengusulkan pembentukan payung hukum untuk menangani kasus kekerasan seksual. Tiga tahun menunggu, Komnas Perempuan mendorong DPR untuk memasukkan RUU PKS dalam Program Legislasi Nasional (prolegnas). Proses pembahasan prolegnas dimulai pada awal 2015. Perwakilan dari Komnas Perempuan kemudian menyerahkan naskah akademis untuk pertimbangan rapat Badan Legislasi Nasional pada pertengahan 2016. Setahun kemudian, Presiden Joko Widodo mengeluarkan perintah koordinasi berbagai kementerian terkait RUU PKS. “DPR sendiri menunjuk Komisi VIII sebagai panitia kerja (panja) baru pada awal 2018. Dan sejauh ini panja baru sampai Rapat Dengar Pendapat Umum, semacam konsultasi dengan para pakar, termasuk ormas-ormas besar di Indonesia,” kata Masruchah. RUU PKS dapat menambal produk hukum yang sudah ada, seperti KUHP yang hanya mencakup perkosaan dan pencabulan. Ada juga UU No. 7 th. 1984 tentang penghapusan diskriminasi terhadap perempuan. UU ini dikeluarkan sebagai tindak lanjut penandatanganan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention On The Elimination of All Forms Discrimination Against Women, CEDAW) pada 1981. Penandatanganan CEDAW bermula dari usaha feminis negara dunia pertama yang berhasil memasukkan dekade perempuan (1975-1985) dalam agenda PBB. Menyusul kemudian Deklarasi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention On The Elimination of All Forms Discrimination Against Women, CEDAW) keluar pada 1979. Deklarasi ini dibahas dalam Konferensi Dekade Perempuan PBB di Kopenhagen pada 29 Juli 1980. Indonesia sepakat untuk berpartisipasi dalam usaha-usaha internasional menghapus diskriminasi terhadap perempuan dari beragam spektrum, salah satunya kekerasan seksual. Meski demikian, karena belum ada payung hukum yang spesifik mengatur tentang kekerasan seksual, perempuan belum kunjung lepas dari jerat sial yang sulit diurai. Kasus Agni dan Baiq Nuril belum memberi hasil yang memihak korban. Sementara, payung hukum yang dinanti masih alot dibahas. “Pembahasan akan dimulai lagi setelah pileg. Ditargetkan disahkan pada Agustus 2019,” kata Masruchah.
- Bukti Penjelajahan Orang Nusantara
Interaksi antarpulau di Nusantara sudah lama terjadi. Pemicunya migrasi penutur Austronesia dari Cina Selatan-Taiwan ke kepulauan Nusantara pada 4000 tahun yang lalu, berlanjut hingga memasuki tarikh masehi. Junus Satrio Atmodjo, Arkeolog Universitas Indonesia, mengatakan ada bukti kalau orang Indonesia Kuno telah mengarungi laut sejak awal tarikh masehi. "Ini berdasarkan analisis penanggalan karbon pada tinggalan perahu di tepi Sungai Lematang, Sumatra Selatan," katanya dalam acara International Forum on Spice Route 2019, di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (20/3). Perpindahan lintas daratan sejak masa prasejarah itu memungkinkan terjadinya pertukaran jarak jauh. Hal ini kemudian memancing beberapa komoditas yang kini dikenal, termasuk bulu burung, rempah, kayu harum, dan beberapa tanaman yang sudah dibudidayakan di Nusantara, seperti pisang, taro (keladi), jeruk, dan mangga. "Para penutur Austronesia membentuk jejaring pertukaran jarak jauh. Misalnya bulu burung di Papua ngepulnya di Raja Ampat, lalu rempah di Maluku," kata Daud Aris Tanudirjo, Arkeolog UGM. Daud mengatakan, mobilitas tinggi itu dimungkinkan setelah para penutur Austronesia mengembangkan teknologi kelautan, seperti di Filipina dan Indonesia utara. Termasuk teknologi double canoe yang mampu berlayar jauh sekaligus membawa banyak beban. "Ini berkembang pesat di sekitar koridor Asia Tenggara," kata Daud. Mekanisme itu kemudian menciptakan jaringan hubungan antarpulau. Buktinya, kata Daud, obsidian Melanesia sampai ke Sabah, Malaysia dan Polinesia (Fiji, Tonga, Samoa), yang membentang 8.000 km. Hal itu telah terjadi sekira 3500 tahun yang lalu. "Lalu pengenalan gerabah dari Asia Teggara ke Melanesia dan Polinesia yang disebut gerabah Lapita pada 3.500-2.700 tahun yang lalu," kata Daud. Pertukaran rempah meluas ke barat. Di antaranya terdapat temuan pitolit (deposit silika di dalam tanaman) pisang di Kamerun pada 2.500 tahun yang lalu. Di Afrika juga ada sisa tanaman yang berasal dari Nusantara, seperti yam, pisang, dan taro (keladi). Tanaman ini hampir pasti dibawa oleh penutur Austronesia. Pun temuan sisa tanaman yang mirip cengkeh di Situs Terqa (Mesopotamia, Syria) sekira tahun 1750 sebelum masehi. "Ini sebenarnya sudah banyak yang membantah katanya itu bukan cengkeh karena kelopaknya ada lima. Tapi melihat ada temuan pitolit pisang sampai di Situs Kor Diji (Pakistan) dari sekira 4.000 tahun yang lalu, mungkin saja cengkeh sudah sampai ke Terqa," kata Daud. Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan pula kalau jalur rempah sudah ada sejak 3.000 tahun sebelum masehi. Orang Mesir Kuno yang memulai, kemudian diikuti bangsa Yunani dan Romawi. Di Nusantara, jalur rempah mulai bangkit ketika awal-awal ekspansi Islam. Bani Umayyah (mulai abad ke-7M) dan Abbasiyah (mulai abad ke-8) yang membangkitkan kembali jalur perdagangan rempah itu. "Kita tahu sebelum Islam masuk, pelaut dan pedagang Islam sudah masuk ke Nusantata," kata Azra. Pelaut asal Persia, Al Ramhurmuzi dalam Ajaib al-Hind ( wonders of the Archipelago ), melaporkan kehadiran pedagang dan pelaut muslim di Palembang, di Kerajaan Sriwijaya. "Ini membangkitkan perdagangan rempah," kata Azra. "Perdagangan rempah kemudian hancur ketika Belanda masuk dan menerapkan monopoli. Ini yang membuat ekonomi rusak."
- Situs Purbakala Seko Nasibmu Kini
DATARAN tinggi Seko, Sulawesi Selatan masih kemarau. Udara malamnya semakin dingin, tapi siang hari panasnya menyengat. Permukaan j alan nya di penuhi gumpalan debu, amat l icin. Menyambangi Kecamatan Seko, sekitar 120 km dari kota Kecamatan Sabbang atau sekitar 150 km dari Masamba, pusat Kabupaten Luwu Utara, dan menikmati jalur untuk mencapainya ibarat memasuki ruang waktu. Sensasinya dua bidang: peradaban modern dan daerah terisolir. Wilayah yang dikenal pula sebagai kawasan To Kalekaju ini dikurung Pegunungan Quarles dan diapit Pegunungan Verbeek. Di sinilah peradaban modern –masa neolitikum– di Sulawesi bermula. Bersama 15 orang dari tim Kajian Delineasi Situs Seko, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saya menyambanginya pada 3 Oktober 2018 untuk menemukan dan mengenali situs masyarakat. Garisnya dari Kalumpang di Mamuju Sulawesi Barat, menanjak menuju Seko dan Rampi di Sulawesi Selatan dan menukik kembali ke lembah Lore di Sulawesi Tengah. Ini adalah kampung cantik dengan warga yang ramah dan rumah adat mengagumkan. Sayang, rumah adat itu hanya beberapa yang bertahan. Di Kampung Singkalong dan Eno, masing-masing terdapat satu buah rumah panggung dengan umpak batu menawan. Dengan fondasi batu, bangunan itu disangga tiang-tiang kayu bulat yang diletakkan di atas batu dan dipahat mengikuti posisi batu. Sepintas, bangunan itu t ampak rapuh. Tapi ketika gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter menghantam Palu dan Donggala pada akhir September 2018, di mana wilayah Seko ikut terdampak , tak ada bangunan yang rusak dan tak ada korban jiwa . R umah umpak batu malah mengayun s e akan memiliki shockb rea ker . Situs-situs yang Terabaikan Seko kini sedang dikepung delapan perusahaan pemilik HGU (Hak Guna Usaha). Data dari kantor Kecamatan Seko menunjukkan delapan perusahaan itu akan bergerak di bidang perkebunan, pertambangan, hingga energi. Konsesi itu bakal merebut sawah hingga kebun warga. Tak hanya mengancam lahan penghidupan warga, konsesi juga mengancam puluhan situs yang berada dalam area konsesi. Hanya situs Bongko yang relatif aman karena menjadi perkecualian lantaran dianggap sebagai kampung tua masyarakat Eno. PT Seko Fajar, yang sejak 1980-an memegang izin perkebunan teh, mengeluarkannya seluas 60 ha. Tapi situs-situs yang lain tinggal menunggu waktu. Situs Hatu Lalian, yang berdampingan dengan pagar bandara, bahkan teronggok di antara ilalang rapat. Situs ini adalah umpak batu berjumlah empat buah yang berada di bukit kecil. Di bawahnya, hamparan sawah. Segaris dengan Laliang, terdapat Issong Batu (Kalamba). Situs ini dipercayai sejarawan Inggris Ian Caldwell pada 1992 sebagai artefak yang dibawa masyarakat dari Lembah Bada. “Tidak seperti itu. Itu dibuat oleh Talammia (disebut juga Talambia),” kata Abraham Taburu (50 tahun) Tobara Hono ke-21. Tobara adalah gelar dari masyarakat yang diberikan pada seorang pemimpin adat (komunitas). Seko punya sembilan wilayah adat yang disahkan Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara. Pemimpin komunitas-komunitas adat itu memiliki gelar tersendiri: To Bara , To Makaka , dan To Kei . Para pemimpinkomunitas itu dipilih berdasarkan kekerabatan dan keturunan. Bagi Abraham, Laliang dan Issong Batu adalah milik Talammia yang dibuat sendiri olehnya. Talammia diceritakan sebagai seorang yang sangat besar. Tingginya tak bisa diprediksi, namun bisa diilustrasikan saat Talammia meletakkan kakinya di badan sungai, kaki itu digunakan orang-orang untuk menyeberang. Laliang juga dipercaya sebagai dapur tempat sang raksasa memasak. Sementara , Issong Batu adalah tempatnya menumbuk padi. Jarak antara dua situs ini sekitar dua k ilo m eter . “Nah tempat makannya itu ada di dekat sungai, jadi kalau bersandar punggungnya ada di gunung,” kata Abraham. Laliang adalah situs yang sepi. Pada ujung batunya ada noda hitam karena lelehan aspal ketika bandara sedang renovasi mengganti landasan pacu dari rumput menjadi aspal. Umpak batu itu dijadikan tungku memasak aspal. Tak ada warga keberatan. Bahkan beberapa warga Seko sendiri yang menjadi buruh harian ikut melakukan aksi itu. Situs Kalaha Kammuttu (Batu Dakon) yang berada di bukit ilalang di Kampung Lodang, sekitar 30 km dari Eno, juga mengalami nasib serupa. Tak ada penanda yang menunjukkan keberadaannya. Kalaha berada di pinggir jalan setapak yang menghubungkannya ke sebuah sungai yang sedang dalam pengerjaan poryek irigasi. Situs itu berkali-kali dilindas alat berat. Bahkan warga yang melintas tak segan menapakinya. Situs lain , Lingku, kondisinya juga tak terawat dan ditumbuhi rerumputan. Lingku dipercaya masyarakat Lodang sebagai tempat kelahiran anak seratus. Menurut Tobara Lodang Nasrullah Kande (50), pada masa lalu Lingku dihuni seorang pasangan yang memiliki 100 anak. Lingku berada di bukit kecil yang dikelilingi persawahan yang masuk dalam areal HGU Seko Fajar. Untuk mencapainya, harus melompati parit selebar dua meter, lalu membungkuk menyelinap di antara ilalang. Penanda situs ini hanyalah batu berdiameter 50 cm. “Ini anak tangga untuk naik ke rumah anak 100 itu,” kata Nasrullah. Tinggalan lain yakni Situs Bata’, berupa batu monolit yang tertancap di tengah rawa di sisi jalan utama Lodang menuju Eno. Situs ini pernah jatuh. Atas inisiasi sebuah lembaga swadaya masyarakat, situs ini digotong warga ke tempat asalnya dan ditancapkan menggunakan cor semen. Bata’ dikisahkan sebagai jelmaan dari ari-ari kerbau milik orang bernama Tabuke. Ketika kerbaunya melahirkan, Tabuke membawa ari-arinya dalam sebuah wadah karena berpindah tempat gembala. Namun, ketika wadah itu terbuka, ari-ari tersebut malah bertumbuh panjang dan menjadi batu. Akhirnya, ari-ari yang menjadi batu itu menjadi penanda untuk tempat gembala. Menurut Nasrullah, air di sekitar situs rasanya asin d an itu menjadi kesukaan ternak. Tapi, itu sepertinya hanya folklore . Ketika saya mencoba air itu, rasanya tawar. Situs lainnya, benteng Tammatang, berada di punggung bukit dan diapit dua sungai. Di tempat ini, ilalangnya sudah menghitam bekas pembakaran. Ada banyak batuan yang tersebar, tanpa pola. Nasrullah percaya, batu-batu itu adalah umpak batu. “Di sini, rumah orang dulu. Ada pemimpin kami namanya Tabolle. Dia membangun benteng dan menghalau para penyusup. Termasuk meredam pasukan dari Datu Luwu,” katanya. Tabolle punya keahlian pedang cukup mengagumkan. Dan memiliki istri dengan paras cantik. Datu Luwu jatuh cinta pada sang istri, dan menggunakan berbagai macam strategi untuk merebutnya. Tabalolle melawan dan beberapakali memukul mundur pasukan Luwu. Pasukan Luwu akhirnya membuat siasat menggali lubang dan menanamkan duri di dasarnya. Ketika Tabolle menyerang, dia terjatuh ke lubang itu dan menemui ajalnya. Sang istri jadi tawanan. Namun, diantara jalan sempit dan jurang yang dalam di tempat bernama Mangkaluku, istri Tabolle melompat dan menjatuhkan Datu Luwu beserta beberapa pengawalnya. “Jadi Seko (maksudnya Lodang, red .) tak pernah dikalahkan Luwu dalam perang, tapi dalam strategi,” kata Nasrullah. Dalam beberapa tradisi tutur masyarakat Seko, hubungan dan pengaruh Luwu cukup terasa. Luwu adalah kerajaan yang menundukkan wilayah itu. Jika tak ada penundukkan oleh Luwu, kawasan itu mungkintak bernama Seko.*
- Awal Mula Seko
INILAH Seko, tempat damai yang gemuruhnya diluar dicitrakan sebagai tempat terisolir, tempat orang-orang udik, dan sewa ojek yang mahal. Tempat dengan segala macam misteri dan mitos. Berkunjung ke Seko, sebuah kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, menggunakan ojek membuat tulang belakang, pinggul, dan pantat serasa hendak remuk. Selain kerasnya jok motor, waktu tempuh di musim kemarau mencapi 10 jam dan musim hujan mencapai dua hari. Seko adalah nama baru. Awalnya,para penghuni tempat ini menamakan diri mereka sebagai orang-orang dengan masing-masing kampung. Hoyane, Eno atau Hono, Lodang, Amballong, atau pula Kariango. Belakangan, dalam tradisi lisan masyarakat Seko diartikan sebagai sahabat, handai tolan, atau kerabat. Nama ini dicuplik dari perkataan Datu Luwu yang konon bingung menamai orang-orang pegunungan itu. “Jadi Datu Luwu bilang, sahabat itu dalam bahasa di atas (gunung) apa?” dalam kisah tutur warga. “Itulah Seko.” Sejak saat itu, wilayah yang ditaklukan Luwu untuk kepentingan hasil bumi itu menjadi Seko, To Seko (orang Seko). Perjalanan darat menuju Seko. (Eko Rusdianto/Historia) Di Seko, kisah To Manurung berbeda dari kisah serupa di dataran lain di Sulawesi Selatan. Orang pertama yang menghuni Sekodikisahkan sebagai seorang anak manusiayang kemudian beranak-pinakdan memiliki genealogi utuh. Ada tiga babakan kisah awal-mula orang Seko. Pertama, seorang Matua (orang tua) berjalan dari wilayah Mamasa, Sulawesi Barat. Orang itu bersama para pengikutnya meninggalkan kampung karenaterjadi peperangan dan berjalan hingga ke Gunung Sandapang di Kalumpang (Sulawesi Barat). Orang tua i tu terus berjalan bersama empat anaknya dan bermukim di wilayah Seko Padang. Empat anak itu masing-masing : Tabalong , yang menjadi Kampung Amballong ; Tahayane , kemudian mendiami kampung Hoyane ; Tahaneang , anak perempuan yang menghuni Kampung Pohoneang ; dan Tampa’ , menghuni Seko Padang wilayah Eno. Tampa’ merupakan anak yang senang berburu. Suatu hari, bersama anjingnyadia duduk memandangi kawasan lembah Seko Padang –pada mulanya adalah danau. Anjingnya tiba-tiba bergerak lincah dan memburu seekor rusa. Tak disangka, rusa itu terjatuh ke dalam sebuah kolam dan kemudian si anjing ikut turun ke kolam. Akhirnya, Tampa’ melakukan mudihata (semedi). Dia memanggil kepiting, belut, dan beberapa hewan air lainuntuk membuka tamolang (saluran air). Kolam itu akhirnya menjadi kering, dan menjadi daratan. Anjing ituterus berusaha memburu rusa. Tampa’ mengikutinya dan sampai di wilayah yang bernama Taloto –dalam bahasa lain Talotong atau orang berlidahhitam. Tapi, Tampa’ tak menemukan anjingnya lagi. Dia kemudian membuat kolam untuk memelihara ikan, yang hingga kini masih ada dan dimiliki seseorang, dikenal dengan nama Mabubu.Tapi air kolam tersebut kemudian selalu keruh. Belakangan, Tampa’ mengetahui kekeruhan air itu disebabkan ulah beberapa dayang (dewi) yang selalu datang mandi. Baju salah satu dewi lalu dicuri –seperti kisah lainnya– dan Tampa’ menikahi salah seorang dewi itu. Dari sang dewi, Tampa’ mendapatkan dua anak. Mereka bertumbuhdan kemudian menyebar di seantero Seko. Dewikemudian meninggalkan Tampa’ melalui longa (jendela di bagian bawah atap rumah adat) ketika melanggar perjanjian akibat menyebutkan dirinya adalah mahluk halus ketikamarahpada anaknya. Petani sedang memberi pakan kerbaunya Sementara, versi yang paling tenar adalah keadatangan Ulu Pala atau seorang dengan tangan berbulu. Dia berasal dari Kanandede, wilayah dekat Rongkong. Ulu Pala diasuh sepasangsuami-istri. Suatu ketika, orang tua angkat Ulu Pala yang berhutang pada orang Toraja mendatanginya. Ulu Pala menaklukkan penagih utang itu dengan teka-teki. Setelah itu, orang Toraja menyebar fitnah bahwa Ulu Pala adalah anak yang tak bisa membawa keburuntungan. Orang tua Ulu Pala termakan hasutan itu meski memilih tak membunuhnya. Dia lalu me ngasingkan Ulu Pala ke wilayah yang sekarang masuk Seko Tengah. Lantaran kesepian, Ulu Pala membuat gambar di sebuah batu yang k ini dikenal sebagai Hatu Rondo . S eorang dewi akhirnya mendatanginya lalu mereka menikah dan bermukim di kampung tua bernama Bongko yang k ini wilayah Seko Padang.
- Gusti Randa, dari Aktor menjadi Plt Ketua Umum PSSI
Kabar mengejutkan datang dari dunia sepakbola Indonesia. Gusti Randa ditunjuk sebagai pelaksana tugas (plt) ketua umum PSSI menggantikan Joko Driyono yang ditetapkan sebagai tersangka perusakan dokumen match-fixing . Namanya pun jadi trending topic . Warganet memberikan sentimen negatif. Mereka memasang foto-foto masa lalunya ketika menjadi aktor. Sebelum berkecimpung dalam dunia olahraga, Gusti Randa dikenal sebagai aktor. Masyarakat mengenangnya sebagai pemeran utama Syamsul Bahri dalam sinetron Sitti Nurbaya di TVRI tahun 1991. Siti Nurbaya sendiri diperankan oleh Novia Kolopaking. Gusti Randa Malik lahir di Jakarta pada 15 Agustus 1965. Pendidikannya sarjana hukum yang kelak menjadi bekal menjadi pengacara. Dia terjun ke dunia seni peran pada 1984. “ Penari dan koreografer ini pertama kali terjun ke dunia film dalam Cinta di Balik Noda (1984),” demikan disebut dalam Apa dan Siapa Orang Film Indonesia. Gusti Randa kebagian peran utama dalam film Yang Masih di Bawah Umur (1985). Setelah itu dia bermain dalam sejumlah film antara lain Permainan Yang Nakal , Cinta Cuma Sepenggal Dusta (1986), Menjangkau Matahari (1987), Potret, Noesa Penida (1989), Kamar Tiga Perawan, Peluk Daku dan Lepaskan (1991). Selain film layar lebar, Gusti Randa juga bermain dalam sinetron, seperti Sitti Nurbaya (1991), Wajah Dalam Cermin (1995), Istana Impian (1996), dan Tiga Bidadari (1997). Gusti Randa bergabung dalam organisasi Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) periode 2011-2016 yang dipimpin Aa Gatot Brajamusti. Dia menempati posisi di bagian biro bantuan hukum. Ketika PARFI terbelah dua, dia bergabung dengan PARFI 1956 yang pimpinan Marcella Zalianty.Dia menjadi ketua bidang advokasi/hukum dan keanggotaan, keorganisasi sekaligus ketua tim perumus AD/ART. Selain aktor, Gusti Randa juga penyanyi dan pencipta lagu. Tembangnya yang paling diingat berjudul “Ingin Kembali.” Gusti Randa kemudian mencoba peruntungan menjadi politisi. Pada Pemilu 2004, dia mencalonkan diri menjadi anggota legislatif dari PKB untuk daerah pemilihan Jawa Barat V. Pada Pemilu 2009, dia berganti perahu ke Partai Hanura untuk daerah pemilihan Sumatra Barat II. Dan pada Pemilu 20014, masih dengan Partai Hanura, dia pindah daerah pemilihan ke Kalimantan Selatan II . Namun, tiga kali dia gagal ke Senayan. Bahkan dia sempat mencalonkan diri menjadi walikota di Depok dan Padang. Dari ranah politik, Gusti Randa berpindah ke dunia sepakbola. Dalam kepengurusan PSSI 2006-sekarang, dia terpilih menjadi anggota Komite Eksekutif . Setelah Joko Driyono, plt. ketua umum PSSIpengganti Edy Rahmayadi, ditetapkan sebagai tersangka, pada akhir Februari 2019, RUPS PT LIB menunjuk Gusti Randa sebagai komisaris dan Dirk Soplanit sebagai direktur utama PT LIB. Dalam rapat Komite Eksekutif PSSI pada 19 Maret 2019 diputuskan Gusti Randa menjadi plt. ketua umum PSSI . Dia mengemban tugas mempersiapkan Kongres Luar Biasa PSSI dan memastikan Liga 1 berjalan sesuai rencana.
- Kunci Kejayaan Nusantara
Enam puluh persen jenis rempah di dunia ada di Indonesia. Ratusan tahun lalu, rempah menjadi primadona yang dicari para pedagang dari seluruh dunia. Jalur rempah pun menghubungkan Nusantara dengan dunia. Dalam konteks maritim waktu itu, Indonesia menjadi pusat pertemuan global khususnya pada 1480-1650, yang oleh Anthony Reid, sejarawan Australia National University, disebut sebagai Age of Commerce . Namun jalur rempah bukan hanya soal perdagangan rempah. Jalur rempah juga meliputi pertukaran tradisi, agama, pengetahuan, bahasa, sosial, teknologi, dan pengetahuan. Maka selain tertarik oleh hasil buminya, ada faktor lain yang membuat pedagang asing singgah dan berbisnis di Nusantara. Susanto Zuhdi, sejarawan maritim dari Universitas Indonesia menjelaskan, kala itu sebuah negara ada karena adanya perdagangan. Kawasan barat Nusantara memperlihatkan lebih dulu perkembangannya dalam konteks perdagangan internasional. Misalnya Sriwijaya menjadi pusat keramaian karena menguasai Selat Malaka. Sementara itu, terbentuknya kota pesisir di berbagai bandar di Nusantara menunjukkan gejala yang luar biasa sebagai kota kosmopolitan. Penjelajah Portugis, Tome Pires, pada abad ke-16 M menggambarkan kota bandar yang penuh dengan orang dari Persia, Arab, Gujarat, India, Bengali, dan Tiongkok. "Apa artinya? Masyarakat waktu itu terbuka, semua orang diterima sebagai bagian penduduk kota," kata Zuhdi ketika mengisi kuliah umum dalam International Forum on Spice Route (IFSR) di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (20/3). Siswa sekolah sedang mengamati rempah-rempah dalam pameran International Forum on Spice Route (IFSR)di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (20/3) Siswa sekolah sedang mengamati rempah-rempah dalam pameran International Forum on Spice Route (IFSR) di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (20/3). (Aryono/Historia). Hal itu dipertegas oleh Anthony Reid. Menurutnya kesuksesan negara-negara di Nusantara ketika itu terletak pada keterbukaan dan sikap pluralisme yang mereka punya. Bantam atau Banten misalnya. Tempat ini menjadi salah satu destinasi komersial yang ramai pada masanya. Orang Eropa, Tiongkok, India, dan lokal saling bertemu. "Keterbukaan dan pluralisme menjadi kunci utama mengembalikan Indonesia maju dalam konteks budaya maritim," kata Reid. Adapun Sriwijaya hingga kini dikenal sebagai kerajaan maritim yang berjaya. Terjadi interaksi budaya yang beragam di kawasan itu. Ia sebagai pusat pengajaran Buddha di wilayah Asia. Di sisi lain menjalin hubungan baik dengan para pedagang muslim. Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan pelaut asal Persia, Al Ramhurmuzi menuliskannya dalam Ajaib al-Hind ( Wonders of the Archipelago ) pada 390 H (1000 M). Berdasarkan laporannya diketahui kalau di Kerajaan Zabaj (Sriwijaya) sudah hadir pedagang dan pelaut muslim. "Ini yang membuat orang-orang Nusantara sangat kosmopolitan. Makanya sangat multikultur, multireligius. Kalau sekarang banyak yang tidak kosmopolit, itu berarti lupa sejarah," kata Azra. Pun hubungan baik dengan pedagang internasional, khususnya dalam hal rempah hancur ketika kolonialisme masuk ke Nusantara. "Hancur ketika Belanda masuk dan menerapkan monopoli. Ini bikin rusak ekonomi," kata Azra. Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri Indonesia periode 2001- 2009 menyimpulkan, sejarah Nusantara yang panjang telah diakui gemilang namun juga malapetaka. Lewat sejarah jalur rempah dapat dimengerti bahwa kekayaan alam pun bisa membawa malapetaka bagi Indonesia. "Itu sepanjang kita tidak mampu mendukung kekayaan kita dengan kekuatan kita, maka kekayaan alam kita akan dirampas bangsa-bangsa lain," kata Hassan.
- Berita Berujung Pidana
Media daring Tirto.id bikin keramaian di lini masa. Dalam akun twitter -nya, media ini mengunggah kartun grafis yang bernada provokatif. Sebuah meme menampilkan komentar Kiai Haji Ma’ruf Amin yang dipenggal: “....Zina bisa dilegalisir....” Satu meme lagi juga mengutip pernyataan Sandiaga Uno yang diplesetkan: “Kami akan hapuskan UN” yang kemudian ditanggapi oleh Pak Tirto (maskot Tirto.id ): “Eh..? Kirain apus NU…” Sebagaimana umum diketahui NU adalah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Dua meme tersebut diolah menanggapi debat calon wakil presiden yang dihelat baru-baru ini. Bermaksud jenaka namun kartun grafis tersebut malah dianggap menyudutkan. Alih-alih menjadi hiburan, kecaman justru berdatangan dari warganet. Pengurus Besar (PB) NU dalam akun twitter -nya telah menyatakan protes atas meme tersebut. Berbagai tanda pagar bermunculan sebagai tanda tidak simpatik seperti: #TirtoButuhDuit, #TirtoPabrikHoax, #TirtoIDMediaSampah. Redaksi Tirto.id sendiri dalam laman beritanya mengakui telah melakukan kesalahan fatal dengan secara gegabah memotong kalimat-kalimat Ma’ruf Amin dan Sandi. Dituding menyebarkan hoax, meme ditarik dari peredaran namun kadung viral. Permintaan maaf pun dilayangkan. Di masa lalu, kelalaian serupa pernah terjadi. Harian Rakyat Merdeka dan Tabloid Warta Republik harus berurusan dengan hukum karena konten beritanya. Masalah yang dihadapi tergolong serius dan berbuntut jerat pasal pidana. Foto Berujung Petaka Dalam edisinya 8 Januari 2002, harian Rakyat Merdeka menampilkan foto parodi Akbar Tanjung yang bertelanjang dada, badan berpasir, dan penuh keringat. Foto yang berwajah Akbar Tanjung dan bertubuh orang lain itu menjadi ilustrasi berita berjudul “Akbar Sengaja dihabisi, Golkar Nangis Darah”. Akbar menjabat sebagai ketua umum Golkar dan ketua DPR saat itu. Akbar merasa terhina menanggapi foto yang dianggapnya rekayasa tersebut. Menurut Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka , Karim Paputungan dilansir hukumonline.com 17 April 2003, pemuatan foto itu hanyalah visualisasi dari bentuk simpati dan empati atas situasi berat yang dialami Akbar Tanjung. Kala itu, Akbar sedang didera isu korupsi yang membuatnya menjadi tersangka. Rasa malu terlanjur menciprat ke wajah, Akbar pun melaporkannya ke pihak berwajib. Dalil pengaduannya pencemaran nama baik. Pada 9 September 2003, Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Karim Paputungan hukuman penjara lima bulan dengan masa percobaan sepuluh bulan. Karim dianggap bersalah melanggar Pasal 310 ayat (2) KUHP, yang berbunyi, “Dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan pada umum, atau ditempelkan.” Namun, putusan itu tak serta-merta menjebloskan Karim ke jeruji besi. Tetapi apabila dalam kurun waktu sepuluh bulan Karim mengulangi perbuatannya, maka hukuman tersebut harus dijalani. Kasus Rakyat Merdeka menurut pakar komunikasi politik Mahi M. Hikmat dalam Jurnalistik: Literary Journalism Salah satu contoh yang berkaitan dengan penghinaan atau delik pers yang menyerang pribadi. Sementara itu, menurut jurnalis Pantau, M. Said Budairy, tuntutan hukum yang mendera Rakyat Merdeka karena mengabaikan banyak rambu-rambu yang seharusnya tidak boleh terlanggar. Karim Sendiri pada 2011, menerangkan kasus ini dalam bukunya yang berjudul Bila Parodi Diadili: Pengalaman Lempang Seorang Pemimpin Redaksi di Era Reformasi: Kasus Rakyat Merdeka vs Akbar Tandjung. Kisah Cinta Sensasional Mundur lagi ke belakang, tabloid dwi mingguan Warta Republik pernah memberitakan kisah cinta segi tiga yang melibatkan dua jenderal terkemuka. Mereka adalahmantan wakil presiden, Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan mantan menteri pertahanan, Jenderal (Purn) Edi Sudrajat. Pada edisi No.01/I/Minggu III November 1998, tabloid ini memuat tajuk “Cinta Segitiga Dua Orang Jenderal” pada sampul depannya. Sementara di halaman dalam, terdapat artikel berjudul “Try Sutrisno dan Edi Sudrajat Berebut Janda”. Berita yang tentu saja menggegerkan itu ditulis wartawan Warta Republik , Hoessein Madilis. Artikel Warta Republik menguraikan kesaksian seorang wanita janda bernama Nani. Dari Nani, diperoleh cerita bahwa terjadi persaingan antara Try dan Edi untuk mendapatkan cinta Nani. Karena mendengar sendiri penuturan Nani, maka berita itu oleh Hossein dianggap akurat. “Demi kemanusiaan dan membela orang tertindas, maka berita itu dimuat,” kata Masiga Bugis, pengacara Hossein dikutip R.H. Siregar dalam Setengah Abad Pergulatan Etika Pers. Berita itu sampai kepada Try Sutrisno. Tanpa tedeng aling-aling, Try melaporkan Warta Republik ke Polda Metro Jaya dengan aduan penyebaran fitnah. Dalam penyidikan, Hossein mengakui reportasenya dilakukan tanpa melalui konfirmasi kepada Try Sutrisno alias hanya satu sisi. Tidak mudah baginya untuk menghubungi dan mewawancarai tokoh sekelas Try. Pada 25 Agustus 1999, pengadilan mendakwa Hossein bersalah dan menjatuhinya hukuman percobaan. “Dalam kasus ini, wartawan tabloid Warta Republik memenuhi unsur sengaja melakukan penghinaan, menuduh tanpa bukti, dan telah mencemarkan nama baik,” tulis Mahi M. Hikmat. Pengalaman media-media ini seyogianya menjadi pelajaran bagi siapapun. Nalar kritis dan kebebasan pendapat sejatinya harus beriringan dengan etika. Karena kalau tidak, bisa saja nanti berhadapan dengan hukum pidana.
- Kursk, Kisah Getir di Laut Barents
DI pagi yang cerah 12 Agustus 2000, ia lepas jangkar di Pangkalan Angkatan Laut (AL) Rusia Vidyayevo, Murmansk. Lambaian tangan sejumlah bocah yang kagum akan keperkasaannya melepas kepergiannya menuju Laut Barents. Tapi siapa sangka, penampakannya pagi itu sebelum menyelam akan jadi penampakan terakhir Kapal Selam Nuklir K-141 Kursk. Letnan Mikhail Averin (Matthias Schoenaerts) dengan antusias melakoni tugasnya sebagai kepala unit turbin di kompartemen tujuh di buritan. Kapal selam canggih yang baru berusia enam tahun itu bakal jadi salah satu bintang dalam latihan bersama Armada Utara Rusia untuk kali pertama dalam 10 tahun terakhir. Tetapi belum juga sepenuhnya bergabung bersama sekira 30 kapal perang Rusia lain, bencana sudah menghantui Kursk. Berulangkali dua rekan sekaligus sahabat Averin di ruang torpedo, Anton Markov (August Diehl) dan Pavel Sonin (Matthias Schweighöfer), memberi peringatan kepada Kapten Shirokov (Martin Brambach) soal masalah teknis di sistem torpedo dummy yang akan dipakai latihan, namun justru diabaikan. Akhirnya, sebuah ledakan terjadi di kompartemen torpedo yang membuat kapal selam itu menghantam dasar laut. Satu ledakan lebih besar meletup sesaat kemudian dan membuat sebagian besar kru Kursk tewas. Situasi kian kritis lantaran haluannya hancur. Sutradara Thomas Vinterberg tak berlama-lama menggambarkan kengerian itu. Ia ingin langsung menyajikan inti film bertajuk Kursk itu kepada penonton. Pasalnya Vinterberg dan penulis skenario Robert Rodat bukan sedang menyuguhkan film action. Kenyataan Getir Tersisa 23 kru yang masih hidup dari total 118, Averin mati-matian menuntun 22 rekannya untuk mengevakuasi diri di Kompartemen 9 di buritan. Mereka berjuang mempertahankan hidup dengan keterbatasan oksigen dan suhu dingin akibat merembesnya air laut di ruangan evakuasi itu. Namun, para kolega mereka di berbagai kapal perang lain di permukaan belum menyadari Kursk hilang dari radar. Justru AL Inggris yang –turut memantau latihan itu– duluan insyaf. Kolonel David Russel (Colin Firth) dari markasnya mencoba mengontak Panglima Armada Utara Rusia Laksamana Vyacheslav Grudzinsky (Peter Simonischek), namun nihil hasil. Salah satu adegan para penyintas Kapal Selam Kursk yang bertahan hidup dalam kondisi kritis. (Belga Productions) Grudzinsky baru sadar belasan jam kemudian bahwa Kursk mengalami masalah dan tumbang ke dasar laut. Sementara kapal penyelamat lamban bereaksi, para keluarga awak Kursk sudah mendengar desas-desus bencana itu. Pun begitu, AL Rusia masih menolak memberi informasi. Kendati berulangkali kapal selam penyelamat gagal mencapai para penyintas Kursk, Grudzinsky dengan pede -nya menyatakan armadanya mampu menyelamatkan mereka. Tawaran bantuan dari militer Barat dengan peralatan canggih pun terus mengalami penolakan. Berkejaran dengan waktu, para keluarga menuntut penjelasan dan upaya lebih dari AL Rusia. Keributan pun pecah saat Laksamana Vladimir Petrenko (Max von Sydow) diprotes massa yang dipicu tuntutan Tanya Averina (Léa Seydoux), istri Letnan Averin. Seorang perawat AL Rusia sampai harus membius paksa salah satu ibu yang mencela Petrenko. Di dasar laut, kondisi 23 penyintas kian kritis setiap waktu. Bahkan, korban jiwa bertambah saat pemantik generator oksigen meledak secara tak sengaja di hari keempat. Baru pada pagi di hari keempat para penyelam sipil Norwegia dan Inggris diperkenankan membantu. Namun, itu jelas terlambat. “Kursk menyimpan banyak rahasia militer. Rusia menolak penghinaan publik dengan menerima bantuan asing,” ujar Russel dalam salah satu adegan pasca-tawarannya ditolak Petrenko. Dramatisasi Tragedi Meski bukan film action , efek visual Kursk begitu halus. Iringan tata suara garapan Alexandre Desplat turut membangun suasana tegang di beberapa adegan, utamanya kala Averin menyabung nyawa untuk menyelam ke kompartemen lain yang sudah dipenuhi air demi mengambil stok pemantik generator oksigen. Namun, bukan keterpukauan penonton akan adegan-adegan frontal yang dicari Vinterberg selaku sineas. Vinterberg dan Rodat lebih ingin mempertontonkan betapa ada getir dalam gengsi yang dipertahankan pemerintah dan para petinggi AL Rusia. Demi mempertahankan gengsi dan kebanggaan itu, mereka secara tidak langsung menelantarkan ke-23 penyintas. Rusia seolah memilih meninggalkan mereka mati ketimbang malu dibantu pihak asing. “Di saat-saat akhir film terdapat momen tanpa harapan yang membuat kita dihantui kesedihan dan kemarahan. Film yang mengiris hati tentang para pelaut yang nyawanya secara kejam tidak diprioritaskan. Diakhiri adegan melankolis yang dibakar amarah para keluarga, serta meninggalkan luka yang mungkin takkan pernah pulih,” sebut Benjamin Lee dalam ulasannya di The Guardian , 7 September 2018. Adegan para keluarga penyintas kapal selam Kursk yang marah pada otoritas Angkatan Laut Rusia yang menolak bantuan penyelamatan dari pihak asing Film yang sedianya tayang pertamakali di Festival Film International Toronto, 6 September 2018 ini baru akan beredar di Amerika Serikat pada 21 Juni 2019. Belum ada kabar apakah juga akan tayang di Indonesia dan diragukan akan naik tayang di Rusia. Menariknya, film ini merupakan proyek gabungan beberapa negara –kecuali Rusia. Maka, dialog-dialognya pun berbahasa Inggris. Uniknya, tak sekali pun Vinterberg menggambarkan reaksi Putin yang sedang liburan di pesisir Laut Hitam ketika musibah terjadi. Jangankan penggambaran Putin, dari deretan pemeran utama, hanya Artemiy Spiridonov yang –berperan sebagai Misha Averin– orang Rusia. Satu hal lagi yang menegaskan bahwa film ini didramatisir, adalah nama-nama karakternya yang nyaris semua disamarkan produser Ariel Zeitoun. Pengecualian hanya Kolonel David Russel yang diperankan Colin Firth, merupakan sosok asli. Sisanya bukan karakter tulen sebagaimana catatan sejarahnya. Seperti karakter utama Mikhail Averin yang aslinya bernama Dmitri Kolesnikov; panglima armada Laksamana Grudzinsky yang aslinya bernama Laksamana Vyacheslav Alekseyevich Popov; serta Panglima AL Rusia Laksamana Vladimir Petrenko yang karakter aslinya adalah Laksamana Vladimir Kuroyedov. “Ada banyak rumor di internet (soal nama-nama fiksi), bahwa kami terintimidasi otoritas Rusia. Itu omong kosong. Saya tidak ingin film ini tentang menunjuk hidung siapa yang salah tapi lebih kepada sisi kemanusiaannya. Makanya saya pikir akan lebih baik jika mengganti nama-namanya dan meniadakan sosok Putin,” terang Vinterberg, mengutip The Hollywood Reporter , 21 Oktober 2018. Pun begitu jalannya kisah merupakan fakta sejarah lantaran Rodat selaku penulis skenario menggarap naskahnya berdasarkan catatan riset jurnalis Inggris Robert Moore yang dibukukan, A Time to Die: The Untold Story of the Kursk Tragedy . Salah satu catatan yang dipercaya paling akurat terkait tragedi itu.






















