Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Seputar JK Rowling dan Semesta Harry Potter
SEJAK rumah produksi HBO mengumumkan rencana penggarapan reboot Harry Potter sebagai serial televisi pada Juni lalu, para penggemarnya mulai tak sabar menantikan siapa-siapa saja yang akan menjadi para pemerannya. Sang penulis serial novel aslinya, JK Rowling, sendiri sudah memberi lampu hijau. HBO Max sebagai platfrorm OTT ( Over The Top ) memang sudah mengindikasikannya sejak April 2024. Namun, pengumuman secara resminya baru pada 26 Juni 2024 seiring penetapan duet peraciknya, penulis naskah Francesca Gardiner dan sutradara Mark Mylod. “Saya sangat senang dengan pengumuman sutradara dan penulis naskah kita, keduanya saya wawancara sendiri sebagai bagian dari tim produksi. Keduanya punya passion sejati untuk #HarryPotter, dan membaca naskah pilot dan mendengar visi Mark, saya yakin series TV-nya akan melebihi ekspektasi,” cetus JK Rowling via akun Twitter pribadinya, @jk_rowling , 26 Juni 2024. Baca juga: Tiga Wajah Willy Wonka Sejumlah fans Harry Potter pun mulai berspekulasi di dunia maya meski harus menunggu rilisnya yang rencananya pada 2026. Sebagaimana yang dihimpun LADbible , Senin (29/7/2024), para fans menyebutkan nama aktor kondang Tom Hiddlestone untuk memerankan tokoh Profesor Severus Snape dan Tom Hardy sebagai Sirius Black. Ada pula nama aktris Gayle Rankin yang diinginkan untuk memerankan Bellatrix Lestrange, dan Michelle Fairley sebagai Profesor McGonagall. Mereka bahkan “menominasikan” Daniel Radcliffe –si pemeran utama di delapan waralaba versi layar lebar– tapi bukan lagi sebagai Harry Potter melainkan sebagai tokoh antagonis Lord Voldemort. Daniel Jacob Radcliffe (tengah) yang memerankan karakter utama Harry James Potter di film Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (Warner Bros.) Sebelumnya, novel fantasi karya JK Rowling itu diadaptasi sebagai waralaba Harry Potter yang digarap Warner Bros sejak 2001, yakni Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (2001), Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002), Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), Harry Potter and the Goblet of Fire (2005), Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009), Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 (2010), dan Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 (2011). Delapan film waralabanya mencatatkan rekor sebagai salah satu film seri terlaris keempat sepanjang sejarah. JK Rowling sang penulis juga ikut terlibat sebagai salah satu produser bersama Warner Bros. Alhasil semua judul film serinya pun sejurus dengan tujuh seri novel yang dibidaninya. Baca juga: Momok Nazi dan Mitos Indonesia dalam Fantastic Beasts Bibliofil yang Menemukan Dunia Sihir Harry Potter Joanne Kathleen Rowling hari ini genap berusia 58 tahun. Ia lahir di Yate, Gloucestershire, Inggris pada 31 Juli 1965 sebagai anak pertama dari dua bersaudari di tengah keluarga kelas pekerja. Ibunya Anne Volant dan ayahnya Peter James Rowling kebetulan sama-sama purnawirawan Angkatan Laut Inggris yang kemudian bekerja sebagai pekerja pabrik di Bristol Siddeley. JK Rowling dikenal sebagai bibliofil atau pecinta buku karena sejak kecil ditularkan ayah dan ibunya yang acap membacakan buku cerita kepada kedua putrinya. Kelak, buku-buku itu diakui JK Rowling sebagai inspirasinya untuk jadi penulis. Beberapa di antaranya buku fantasi anak-anak The Wind in the Willows (1908) karangan Kenneth Grahame dan serial The Chronicles of Narnia (1950-1956) karya Clive Staples Lewis. “Seperti kebanyakan anak-anak yang senang cerita binatang, Jo (panggilan kecil JK Rowling) bukan pengecualian. Di usia empat tahun ia sangat senang karakter-karakter di buku Wind in the Willows . Jo bahkan sudah bisa mengarang cerita sendiri, di mana adiknya, Di (Diana, red. ) diceritakan jatuh ke lubang kelinci tapi tetap bisa survive dengan buah stroberi pemberian keluarga kelinci. Pun pada usia lima atau enam tahun Jo juga sudah sering mengarang cerita bersama teman-teman sebayanya,” tulis Charles J. Shields dalam biografi J. K. Rowling. Baca juga: Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim Di masa usia sekolah hingga kuliah jurusan sastra Prancis di University of Exeter, beragam buku lintas genre pun tetap jadi “makanan” sehari-harinya. Mulai dari karya-karya Jane Austen ( Emma , 1816), William Shakespeare ( Macbeth , 1606), Charles Dickens ( A Tale of Two Cities , 1859), hingga John Ronald Reuel Tolkien ( The Hobbit , 1937 dan seri novel The Lord of the Rings , 1954-1955). JK Rowling kian termotivasi untuk menulis pasca-kematian ibunya pada 30 Desember 1990 karena penyakit sclerosis multipel atau gangguan syaraf yang memengaruhi fungsi otak, mata, dan sumsum tulang belakang. Ia mulai terilhami sejumlah karakter penyihir cilik dan dunia sihir Harry Potter medio 1990. Saat itu JK Rowling sudah tinggal sendiri di London seiring hubungannya yang memburuk dengan sang ayah dan menyambung hidup sebagai pekerja lepas di organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) Amnesty International. “Salah satu pengalaman formatif terhebat sepanjang hidup saya sebelum melahirkan Harry Potter adalah di awal usia 20-an saya mendapat gaji untuk membayar sewa (apartemen) dengan bekerja di departemen riset Afrika di markas Amnesty International di London. Saya mulai menulis buku setiap jam makan siang,” kenang JK Rowling dalam salah satu otobiografinya, Very Good Lives: The Fringe Benefits of Failure and the Importance of Imagination. JK Rowling (kiri) bersama adiknya, Diana & sang ibu, Anne ( jkrowling.com ) Selain mendapatkan gaji yang bisa untuk menyambung hidupnya, bekerja di Amnesty International memberi keuntungan lain pada Rowling. “Saya juga bisa lebih belajar akan sisi baik dari manusia di Amnesty International daripada sebelumnya. Kekuatan empati mengantarkan kepada aksi kolektif, menyelamatkan nyawa, dan membebaskan orang-orang tersandera. Peran kecil saya itu menjadi pengalaman paling menginspirasi dalam hidup saya,” tambahnya. Pada suatu hari di bulan November 1990, ia sedang dalam perjalanan dengan keretaapi dari Manchester ke London usai mengunjungi pacarnya. Di dalam keretaapi yang penuh sesak dengan perjalanan yang tertunda selama empat jam itulah tetiba saja karakter penyihir cilik Harry Potter dan dua sidekick -nya, Ron Weasley dan Hermione Granger, muncul di pikirannya. Baca juga: Sengkarut Dongeng Putri Salju Setibanya di rumah, ia segera menuliskan apa yang ada di pikirannya. Lalu waktu di jam makan siang pada hari-hari kerja dihabiskannya untuk mengembangkan ceritanya, termasuk ketika ia masih dirundung duka saat ibunya wafat pada 30 Desember 1990. “Bagi Rowling, hidupnya mulai kesulitan dan berbeda jika dibandingkan semasa ibunya masih hidup. Ia sempat mencari pelarian ke Porto, Portugal. Ia meninggalkan sang pacar dan mengambil pekerjaan mengajar bahasa Inggris. Ia mengajar di malam hari dan menulis di siang hari. Ia juga jatuh cinta pada seorang pria, Jorge Arantes dan menikahinya hingga melahirkan seorang putri, Jessica,” tulis Victoria Peterson-Hilleque dalam How to Analyze the Works of J. K. Rowling. Pernikahan Rowling dan Jorge hanya seumur jagung. Setelah bercerai, Rowling membawa putrinya pindah ke Skotlandia supaya tinggal dekat adiknya, Diana. Hidupnya makin sulit hingga harus menyambung hidup dari subsidi pemerintah yang memberikan bantuan sosial kepada para ibu tunggal. “Tetapi Rowling tetap mampu menyelesaikan bukunya sebelum akhirnya ikut program sertifikasi mengajar pada 1995. Ia menulis dan menyelesaikan bukunya di kafe-kafe saat Jessica terlelap tidur di kereta bayinya,” lanjutnya. Baca juga: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Rowling menyelesaikan buku pertamanya, Harry Potter and the Philosopher’s Stone, pada 1995. Tapi naskah itu ditolak 12 penerbit meski sudah dibantu The Christopher Little Literar Agency. Akhirnya, pada 1997 penerbit buku anak-anak Bloomsbury Publishing berkenan menerbitkannya. Kisahnya hampir sama dengan yang diceritakan dalam film. Ceritanya berkisar di kehidupan seorang penyihir cilik yang dirawat paman dan bibi yang cuek serta sepupu yang perundung. Tetiba saja ia mendapat undangan masuk sekolah sihir Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. Di situlah ia bertemu dua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger, yang membantu Harry melawan penyihir jahat Lord Voldemort. Sampai menerbitkan seri terakhirnya, Harry Potter and the Deathly Hallows (2007), Rowling dinobatkan majalah Forbes sebagai penulis dengan bayaran terbesar pada 2008. Telepas dari itu, Rowling tak pernah menyebutkan bahwa kisah-kisah di semesta Harry Potter itu terinspirasi atau terpengaruh beberapa penulis. “Saya benar-benar tidak tahu dari mana ide-ide saya (tentang Harry Potter) itu datang atau bagaimana imajinasi saya bekerja. Saya hanya bersyukur ide-ide dan imajinasi itu hadir karena bagi saya ide-ide itu adalah entertainment tersendiri ketimbang pemberian (pengaruh) dari orang lain,” kata Rowling dikutip Sunday Herald , 13 November 2001. Baca juga: Robbie Coltrane dari Sketsa Komedi ke Semesta Harry Potter Tetapi tak bisa dipungkiri, ada beberapa kesamaan karakter dan jalan cerita dengan buku-buku lain. Salah satunya dengan buku trilogi fantasi Akademia Pana Kleksa (1946) karya novelis Polandia Jan Brzechwa. Novel fantasi itu menceritakan tentang sebuah akademi sihir yang diampu kepala sekolah Profesor Ambrozy Kleks. Lalu, trilogi Lord of the Rings (LOTR)-nya JRR Tolkien. Secara kasat mata, ada beberapa karakter yang begitu mirip. Selain tokoh penyihir gaek Gandalf (LOTR) dan Professor Albus Dumbledor (Harry Potter), karakter Grima Wormtongue (LOTR) dengan Wormtail (Harry Potter), antagonis Lord Sauron (LOTR) dengan Lord Voldemort (Harry Potter), hingga monster Shelob dan Nazgul (LOTR) dengan Aragog dan Dementors (Harry Potter). “Cukup dangkal (perbandingannya). Saya tidak membaca The Hobbit sebelum menyelesaikan buku pertama Harry Potter walau saya sudah membaca The Lord of the Rings saat masih berusia 19 tahun. Tolkien sepenuhnya menciptakan mitologi baru yang takkan pernah saya klaim bahwa saya juga demikian. Di sisi lain, rasanya saya punya lelucon-lelucon yang lebih baik dalam buku-buku saya,” ujar Rowling dalam kesempatan berbeda, dilansir Sydney Morning Herald , 2 Oktober 2004. Novel pertama Harry Potter and the Philosopher's Stone (kiri) dan Peron 9¾ yang terinspirasi dari novel Narnia & kisah cinta ayah-ibunya ( bloomsbury.com/wbstudiotour.co.uk ) Terakhir, The Chronicles of Narnia . Dalam novel karya C. S. Lewis itu, para karakter utamanya bisa masuk ke dunia magis Narnia karena masuk ke sebuah lemari ajaib. Sedangkan dalam novelnya Rowling menceritakan bahwa Harry Potter bisa masuk ke dunia sihir untuk sekolah di Hogwarts dari dunia nyata melewati sebuah portal ajaib di Peron 9¾ di Stasiun King’s Cross. “Narnia literally dunia yang berbeda. Sementara dalam buku-buku Harry (Potter) Anda akan masuk ke sebuah dunia di dalam dunia yang bisa Anda lihat jika Anda pantas berada di dalamnya. Meski saya mengagumi buku-buku Narnia sejak kecil tapi tidak ada humor yang dikombinasikan dengan sihir dalam buku itu,” ujar Rowling, dikutip suratkabar The Sydney Morning Herald , 28 Oktober 2001. Terkait Peron 9¾, Rowling menguraikan bahwa portal ajaib di Stasiun King’s Cross itu terinspirasi kisah cinta sejoli Anne Volant dan Peter Rowling, ibu dan ayahnya. Keduanya pertamakali bertemu di sebuah peron di Stasiun King’s Cross, London pada awal 1960-an, dan terjebak cinta pada pandangan pertama saat keduanya berada dalam satu rangkaian keretaapi yang sama. “Di salah satu stasiun terbesar di Inggris itu, Peter Rowling, teknisi otomotif berusia 19 tahun kepincut saat memandangi seorang penumpang, Anne, teknisi sebuah laboratorium yang juga berusia 19 tahun. Setela setahun memadu kasih, Peter melamarnya, juga di dalam keretaapi! Kemudian putri pertama mereka, Joanne (J.K.) Rowling akhirnya lahir pada 31 Juli 1965,” tandas Shields. Baca juga: Epos Majapahit Lebih Seru dari Game of Thrones
- Bandit-bandit Revolusioner
NAGABONAR, seorang pencopet di Medan yang keluar-masuk penjara di masa Jepang, tak kuasa menahan arus revolusi. Dia menjadi tentara garis depan. Sesekali dia masih mencopet. Kariernya melesat hingga jadi komandan sebuah laskar. Sebagai komandan, dia bisa seenaknya menurunkan pangkat Lukman dari mayor menjadi sersan mayor. Film Nagabonar garapan Arul Sani itu memang kocak dan mengejek kepahlawanan. Namun, kisah semacam itu bukan hanya terjadi dalam dunia fiksi. Film itu sendiri terinspirasi pengalaman Timur Pane, pemimpin geng copet di Medan, yang ikut berjuang menghadapi Belanda. Baca juga: Timur Pane Lakon Sang Bandit dan Timur Pane Si Jenderal Bohongan Selama masa revolusi, para bandit dihadapkan pada pilihan: menjadi seorang kriminal atau pejuang. Beberapa di antara mereka mencampuradukkan keduanya. Revolusi adalah kesempatan bagi mereka untuk meraih keuntungan materi, jabatan, atau legitimasi. Dan negara membutuhkan mereka, yang umumnya tergabung dalam kelaskaran atau badan-badan perjuangan, untuk menghadapi Belanda. Baca juga: Suradi Bledheg Si Bandit Gunung dan Kisah Amat Boyan, Raja Bandit dari Medan Namun, seiring menguatnya posisi negara, mereka perlahan disingkirkan –kendati ada juga yang beruntung seperti Bang Pi’i alias Imam Syafi’i, raja copet Senen yang menjabat menteri keamanan rakyat. Sejak itu, bandit, parewa, jago, leggaong, bromocorah, perampok, pembunuh, bajak laut, atau apapun namanya kembali ke dunia hitam. Dan sejarah –terutama versi resmi– tak memberikan tempat, kecuali mencap mereka sebagai penjahat.* Baca laporan khusus bandit-bandit revolusioner berikut ini: Kisah Naga Terbang dan Gagak Hitam Antara Senen dan Klender Sekali Bandit Tetap Bandit Revolusi Memakan Anaknya Sendiri Bandit dari Lereng Gunung
- Ali Moertopo “Penjilat” Soeharto
RUMOR tentang asal-usul Presiden Soeharto berasal dari keluarga ningrat pernah bikin gempar se-Indonesia. Sebuah majalah hiburan terbitan Jakarta pada 1974 menyebutkan bahwa Soeharto sesungguhnya berayahkan seorang lurah keturunan Sultan Hamengkubuwono II bernama Raden Rio Padmodipuro. Berita itu sempat mencuat ke publik. Alih-alih merasa terhormat dengan status darah biru, Soeharto justru marah dan terusik.
- Jejak Mesin Faks
PADA suatu masa, orang mengandalkan kurir, manusia maupun binatang (merpati pos), untuk mengirimkan pesan dalam bentuk gambar atau teks. Cara ini memakan waktu dan mengandung risiko pesan tak sampai ke tujuan. Lalu muncullah mesin faks yang bekerja lebih cepat dan andal. Kemampuannya mengirim gambar (atau gambar dari sebuah dokumen) melalui kabel telegraf bahkan mendahului penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell. Ia berkembang melalui sejumlah versi. Penggunaan teknologi ini memuncak pada 1980-an hingga pertengahan 2000-an, sebelum tenggelam oleh kemunculan internet. Baca juga: Merpati Terbang untuk Perang Mesin Faks Mekanik Alexander Bain (1811–1877), seorang Skotlandia, adalah orang pertama yang mengembangkan teknologi pengiriman gambar melalui telegraf. Dia mencobanya dengan mesin faks eksperimental selama 1843–1846. Kualitas gambar yang dihasilkan jelek, tetapi tak mengurangi arti penting penemuan ini. Mesin faks mekanik. Telegraf-Gambar Frederick Bakewell (1800–1869), seorang Inggris, mengembangkan temuan Alexander Bain. Dia menciptakan sebuah telegraf-gambar yang mirip dengan fungsi mesin faks yang kita kenal saat ini. Telegraf-Gambar. Pantelegraf Gabungan dari pantograf (mesin yang digunakan untuk menyalin gambar dan teks) dan telegraf (sistem untuk transmisi pesan melalui kabel jarak jauh). Dibangun Giovanni Caselli (1815–1891) dari Italia pada 1856. Dengan bantuan Napoleon III (baik akses ke jaringan telegraf serta keuangan), pantelegraf berhasil diuji lebih dari 800 km antara Paris dan Marseille. Pantelegraf. Telefotografi Dikembangkan Shelford Bidwell (1848–1909) dari Inggris untuk mengirimkan gambar melalui jaringan telegraf dan telepon. Hasilnya mirip dengan karya Alexander Bain dan Frederick Bakewell, tetapi dengan proses yang sama sekali berbeda. Bidwell memperkenalkan hasilnya dalam sebuah artikel berjudul “Tele-Photography” di Nature edisi Februari 1881. Baca juga: Jasa Pengiriman Surat dan Barang pada Zaman Belanda Belinograf Edouard Belin (1876–1963) dari Prancis mengembangkan alat yang mampu mengirim foto ke lokasi-lokasi nan jauh melalui jaringan telegraf dan telepon –kemudian juga melalui gelombang radio. Belinograf populer karena bentuknya lebih kecil dari mesin ketik kala itu dan mudah dioperasikan. Telautograf Diciptakan Elisa Gray (1835–1901) dari Amerika tahun 1888 untuk memecahkan masalah mengirimkan tanda tangan yang melintasi jarak. Alat ini dipatenkan pada 1888 dan populer digunakan bank, rumah sakit, hingga kalangan militer. Telautograf kemudian diadopsi menjadi telewriter pada 1900 oleh Foster Ritchie, asisten Gray, yang memungkinkan bukan hanya menjalankan fungsi yang sama, tetapi juga berbicara melalui telepon. Telautograf. Telediagraf Alat pengirim gambar melalui jaringan telegraf. Diciptakan Ernest A. Hummel, seorang pembuat jam dari Amerika Serikat, sekira 1895. Mesin pertama dipasang di New York Herald pada 1898. Setahun kemudian, setelah melakukan perbaikan, alat ini dipasang pula di media lain macam Chicago Times Herald , St. Louis Republic , Boston Herald , dan Philadelphia Inquirer . Baca juga: Mengirim Bayi dan Anak-anak Lewat Paket Pos Wirephoto Arthur Korn (1870–1945) dari Jerman mengembangkan alat pengirim gambar melalui telegraf maupun telepon –sehingga dikenal juga dengan nama telefotografi. Pada Oktober 1907, Korn mengirimkan foto Presiden Prancis Clement Armand Fallieres, dari Lokal Anzeiger di Berlin ke L’Illustration di Paris. Alatnya mampu mentransmisikan sebuah gambar dengan resolusi 25 garis per inci. Sistem wirephoto kurang bekerja dengan baik. Pada 1929, Dr. Vladimir Zworykin, seorang insinyur elektronik yang bekerja untuk Western Electric, memperkenalkan sistem yang menghasilkan reproduksi lebih baik dan bisa mengirimkan satu halaman penuh sekitar satu menit. Media macam Associated Press menggunakannya pada 1935. Arthur Korn. Photoradiogram Sebagai seorang desainer untuk Radio Corporation of America (RCA), pada 1924 Richard H. Ranger (1889–1962) mendesain photoradiogram nirkabel, pendahulu dari mesin faks hari ini. Alat ini adalah pengembangan dari teknologi ciptaan Arthur Korn. Sebuah foto Presiden Amerika Serikat Calvin Coolidge dikirim dari New York ke London pada November 1924 menjadi foto pertama yang direproduksi alat ini. Penggunaan komersial dimulai dua tahun kemudian. Mesin faks warna. Mesin Faks Warna Dikembangkan Herbert E. Ives (1882–1953), seorang ahli fotografi warna dari Amerika Serikat. Pada 1924, dia mengirim dan membangun faksmili warna pertama ( color facsimile ), yang menggunakan pemisahan warna. Fultograf. Fultograf Otho Fulton (1868–1938) dari Amerika berkreasi menciptakan alat transmisi gambar menggunakan gelombang radio. Fultograf, sesuai dengan nama penemunya, pernah digunakan untuk siaran radio BBC pada Oktober 1928. Melalui gelombang radio, gambar bisa terkirim. Namun, teknologi ini tergolong mahal karena memerlukan alat penerima khusus yang mampu menerjemahkan gelombang radio dan mengubahnya jadi gambar. Mesin faks. Mesin Faks Sekira 1947, Alexander Muirhead dari Skotlandia membuat mesin faks dengan menggunakan pemindai silinder. Ini dianggap sebagai versi komersial pertama dari mesin faks yang kita kenal sekarang. Pemindai silinder ini kemudian berkembang, dan digantikan sensor foto yang lebih modern. Suratkabar Asahi Shinbun dari Jepang menggunakan alat Muirhead pada Juni 1959 untuk mengirim pesan dari Tokyo ke Sapporo. Radiofaks Radiofaks Juga dikenal dengan isitilah Weatherfax atau HF Fax , sebuah mode analog untuk transmisi gambar monokrom. Mesin ini digunakan pada 1950 untuk mengirimkan grafik cuaca di seluruh Amerika Serikat melalui kabel dan kemudian secara internasional melalui radio frekuensi tinggi (HF radio). Cara kerjanya sama seperti teknologi faks; memindai baris demi baris dan mengkode informasi ke dalam sinyal listrik yang kemudian dikirimkan oleh saluran telepon atau gelombang radio. Sistem ini masih digunakan untuk pengiriman grafik cuaca untuk kebutuhan penerbangan maupun pelayaran. Baca juga: Muasal Fiber Optik, “Biang Kerok” Komunikasi Kilat Magnafax Telecopier Pada 1966, Xerox memproduksi Magnafax Telecopier, yang lebih mungil, mudah digunakan, dan bisa disambungkan dengan saluran telepon. Alat ini bisa mengirimkan dokumen dalam bentuk surat dalam waktu enam menit. Magnafax Telecopier. Gammafax Dikembangkan Hank Magnuski, salah seorang pendiri dan CEO GammaLink, perusahaan di Amerika yang mengembangkan teknologi komunikasi dari faks ke komputer, pada 1985. Ini adalah perangkat faks berbasis komputer pertama. Kendati perangkat pertama bermasalah, GammaFax mendorong kemajuan besar, karena membawa komputer ke dalam jaringan mesin faks di seluruh dunia. GammaLink diakuisisi sejumlah perusahaan yang berbeda selama bertahun-tahun, dan hari ini masih eksis sebagai Dialogic. 3D Fax 3D Fax adalah program komputer untuk transfer file melalui faks. Program ini mengenkripsi file menjadi sebuah gambar yang akan dikirim ke mesin faks penerima. Penerima kemudian akan memindai gambar yang dikirim dan menggunakan 3D Fax untuk memecahkan kode itu kembali ke bentuk biner aslinya. 3D Fax dikembangkan dan dipasarkan pertengahan 1990-an oleh InfoImaging Technologies; perusahaan yang dijalankan Windows.* Tulisan ini telah dimuat di majalah Historia No. 28 Tahun III 2016
- Delapan Tokoh Kristen dalam Sejarah
Tokoh-tokoh Kristen ini memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Mereka berjuang dengan caranya masing-masing untuk kemerdekaan Indonesia.
- Ogah Dipaksa Kawin, Maisuri Kawin Lari Berujung Dibui
KAMPUNG Sungai Pinang di Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan heboh pada paruh awal 1950-an. Akal-akalan seorang haji dan seorang bernama Rozi penyebabnya. Rozi adalah seorang buruh tani. Dia mempunyai anak gadis belia bernama Maisuri. Beberapa koran Belanda menyebut umur Maisuri 17 tahun, namun Harian Rakjat menyebut umur Maisuri masih 12 tahun. Kemolekan gadis Maisuri memikat hati Haji Achmad, yang pada tahun 1954 usianya sekitar 45 tahun. Haji Achmad tentu bukan bujangan. Istrinya bahkan sudah tiga. Namun Haji Achmad masih ingin kawin lagi dengan perempuan yang lebih muda. Maisuri adalah pilihannya. Baca juga: Seberapa Mahal Meminang Perempuan Bugis? Keinginan itu lalu diutarakan Haji Achmad pada Rozi. Sebagai buruh tani yang berpenghasilan kecil, Rozi tertarik menikahkan putrinya dengan haji kaya-raya itu. Perjodohan busuk pun terjadi. Haji Achmad dan Maisuri lalu dianggap menikah. Berkat pernikahan Haji Achmad dan Maisuri itu, Rozi dapat rumah gratis dan uang mahar sebesar Rp1.000. Apa yang dilakukan Rozi merupakan hal umum di masyarakat. Kemiskinan menjadi pangkalnya. Dalam bukunya Politik Perburuhan Era Demokrasi Liberal 1950-an , Jafar Suryomenggolo menyebut kemiskinan mengacaukan pikiran kaum kelas bawah tak berpendikan atau berpendidikan rendah. Salah satu akibatnya, kawin paksa atau perkawinan anak rawan terjadi di kaum buruh era 1950-an. Baca juga: Perkawinan Anak yang Tak Kunjung Hilang Pada suatu malam, istri Rozi memberitahu perkara “main kawin tanpa izin anak” yang dilakukan Rozi dan Haji Achmad itu kepada Maisuri. Maisuri yang tak sudi jadi istri dari lelaki yang jauh lebih tua darinya itu lalu kabur ke Sungai Pinang. Di sana, Maisuri mencari-cari Kojum, pria muda yang disukainya. Setelah berhari-hari mencari, Kojum berhasil ditemukannya. Maisuri dan Kojum tak mau kalah langkah dari Rozi. Mereka memutuskan untuk kawin lari. Maisuri pun minta tolong kepada pamannya, AK Hadi. Mereka beruntung, Hadi mau menolong pasangan itu untuk jadi suami-istri. Baca juga: Cara Perempuan Zaman Kuno Mengakhiri Pernikahan Di tempat berbeda, Haji Achmad menantikan malam pertama bersama Maisuri yang tak kunjung tiba. Setelah sekitar dua minggu menanti, Haji Achmad malah dapat kabar dari seorang tetangganya bahwa sudah berhari-hari Maisuri dan Kajum tinggal di Sungai Pinang. Kabar itu jelas mengagetkan Haji Achmad alias Kyai Ahmad. Merasa sudah menggelontorkan uang di zaman sulit itu, dia pun bertindak keras. Haji kaya-raya itu melapor ke polisi di Talang Dukun. Polisi lalu ke Sungai Pinang menangkap Maisuri dan Kojum yang seolah-olah berzinah itu. Setelah dikurung selama 40 hari, Maisuri dan Kojum diadili secara adat. Haji Achmad merasa dirinya paling berhak atas Maisuri. Maisuri dan Kojum lalu dituduh melanggar hukum perkawinan oleh Pengadilan Adat yang terdiri dari bupati, seorang kepala kampung sebagai ketua, dan empat kepala kampung sebagai anggota. Kedua sejoli itu berikut Paman Hadi, menurut Java-bode tanggal 27 Oktober 1954, lalu dihukum kurung selama enam bulan. Baca juga: Pernikahan Orang Jawa Kuno Haji Achmad menang. Namun itu hanya sementara. Sebab, kasus Maisuri menyebar sampai ke “telinga” organisasi perempuan Gerwani, yang sangat getol melawan praktik perkawinan anak, yang dalam kasus ini dipaksakan pula. Ratusan bahkan ribuan perempuan di beberapa tempat, termasuk Palembang, kemudian berdemo dan menuntut pembebasan Maisuri. Mr. Muwalladi lalu ditunjuk Gerwani untuk menjadi pembela Maisuri. Banding pun dilakukan. Penyelidikan kemudian diadakan aparat penegak hukum. Hasilnya ternyata berbeda dari keputusan yang telah dijatuhkan Pengadilan Adat. “Dari pemeriksaan terungkap, Maisuri tidak pernah mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan Haji Achmad, 45 tahun. Lebih lanjut terungkap, bahwa pernikahan tersebut direncanakan H. Achmad sendiri, istri keduanya Azizah, ayah Maisuri dan seorang bernama Amnah yang bertindak sebagai perantara, sedangkan Maisuri sendiri dan ibunya tidak diikutsertakan,” demikian Het Nieuwsblad voor Sumatra tanggal 10 Februari 1955 memberitakan.*
- Empat Tokoh Kristen Terkemuka dalam Sejarah Indonesia
Jerobeam Mattheus (sekira 1885–1944). Jerobeam Mattheus Larut dalam Politik Begitu HOS Tjokroaminoto mendirikan Sarekat Islam pada November 1912, komunitas Kristen tersentak. Selama ini mereka sibuk dengan penyiaran agama dan kegiatan sosial,tetapi melupakan persoalan rakyat atau politik. Untuk mengimbanginya, Jerobeam Mattheus (sekira 1885–1944) mendirikan Mardi Pratjojo. “Kalau orang Kristen tak menunjukkan kerukunan di antara mereka, maka mereka tak dapat memberi sumbangan pada persatuan dan kesadaran bangsanya,” ujar Mattheus dalam pidato peresmian Mardi Pratjojo, tepat di hari raya Pentakosta tahun 1913, dikutip Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di Indonesia karya Jan Sihar Aritonang. Baca juga: Kristen Abangan ala Kiai Sadrach Mattheus juga berbicara mengenai kerukunan dan kerjasama dengan agama lain. Mattheus sendiri sudah memberikan contoh. Dia berhubungan baik dengan Tjokroaminoto dan tokoh Muslim lain. Dia bahkan menjadi editor harian Bintang Soerabaia , yang dipegang Tjokroaminoto. Mattheus juga sempat jadi anggota Jong Java. Bagi Mathheus, Kristen Jawa pun tak perlu ragu larut dalam politik. Namun, setelah sukses singkat, Mardi Pratjojo mengalami kemunduran. “Kurangnya kepemimpinan dan dukungan yang memadai dari para misionaris menjadi alasan lain pembubarannya,” tulis Jan Sihar Aritonang dan Karel A. Steenbrink dalam A History of Christianity in Indonesia . Pada 1918, Mardi Pratjojo berubah nama jadi Perserikatan Kaum Kristen. Mattheus selalu gelisah dengan ketertinggalan komunitasnya, orang Kristen Jawa, bukan hanya terhadap orang Kristen Ambon atau Minahasa, tetapi juga komunitas lain. Dia juga menekankan hubungan antara bangsa dan agama.* Baca juga: Rasa Sejati Kristen Jawa Paulus Tosari Todung Gelar Sutan Gunung Mulia (1896–1966). Todung Gelar Sutan Gunung Mulia Intelektual Gereja Kesan kuat bahwa orang Kristen kurang nasionalis, tak merespons dengan cepat tumbuhnya nasionalisme, menjadi kritikan Todung Gelar SutanGunung Mulia (1896–1966). Pada 1928, dia mengajukan pertanyaan: “Apa fungsi gereja dalam masyarakat? Apakah gereja hanya berfungsi sebagai alat ekspansi kolonialisme/imperialisme Barat, menentang nasionalisme, dan hanya melayani sistem kolonial dan kapitalis?” Sedari muda, Mulia sudah terlibat dalam pergerakan nasional. Dia menjadi aktivis Jong Sumatranen Bond (JSB), Jong Batak, hingga menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Dia juga dikenal sebagai aktivis gereja. Dia editor Zaman Baroe , suratkabar untuk kaum Kristen Indonesia. Baca juga: Gerakan-gerakan Perlawanan Orang Kristen terhadap Kolonialisme Pada 1928, Mulia menghadiri konferensi Dewan Misionaris Internasional di Yerusalem. Dalam konferensi dia mendapat pengetahuan tentang konsep Injil Sosial, yang mendorong terciptanya masyarakat baru yang didasarkan kepada kebaikan, kerajaan Tuhan. Setahun kemudian, Muliamendirikan Christelijk Etische Partij –kemudian berubah jadi Christelijk Staatkundige Partij. Karena partai itu cenderung prokolonial, dia mundur. Bersama Hendrik Kraemer, seorang tokoh ekumenis Hervormde, Belanda, dia terlibat dalam perjuangan mendirikan gereja-gereja Kristen di pelbagai daerah di Nusantara. Setelah kemerdekaan, bersama rekan-rekannya, Mulia mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Empat hari setelah pendirian Parkindo, 14 November 1945, dia ditunjuk menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan. Selepas itu, Mulia masih berkutat dengan dunia pendidikan.* Baca juga: Johannes Leimena Pendeta Bung Karno Johannes Leimena (1905–1977). Johannes Leimena Negarawan yang Saleh Dalam sebuah pidato, Johannes Leimena (1905–1977) yang biasa disapa Om Jo berucap: “Umat Kristen adalah bagian mutlak dari bangsa Indonesia, oleh karena itu sebagai warga negara kita harus terlibat langsung dan turut bertanggungjawab atas maju-mundurnya bangsa dan negara kita.” Terkait hubungan gereja dan negara, tulis Victor Silaen dalam Dr. Johannes Leimena , Leimena mengemukakan “teori konsentrik”; gereja adalah lingkaran dalam dengan Yesus Kristus sebagai titik pusatnya dan negara atau masyarakat adalah lingkaran luarnya. Dia berpendapat, umat Kristen mempunyai tanggungjawab untuk membangun suatu masyarakat baru bersama orang Indonesia lainnya. Baca juga: Ketulusan Hati Johannes Leimena Leimena mengenyam pendidikan sekolah dokter STOVIA, yang membuatnya bersinggungan dengan kaum pergerakan. Dia aktif di Jong Ambon, dan ikut mempersiapkan Kongres Pemuda tahun 1928. Setelah lulus, dia jadi dokter hingga melanjutkan kuliah dan mendapatkan gelar doktor. Aktivitas politiknya lebih kentara setelah kemerdekaan. Dia terlibat dalam perundingan, dari Linggarjati hingga Konferensi Meja Bundar. Dia menjabat menteri kesehatanselama delapan kali, dengan warisan sistem pelayanan kesehatan yang dipusatkan di kabupaten dan kecamatan dengan melibatkan partisipasi masyarakat –di era Orde Baru dikembangkan jadi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selepas menjadi menteri, Leimena menjabat anggota Dewan Pertimbangan Agung. “Pesan dari Leimena yang sampai kepada kami hingga hari ini adalah pandangannya mengenai tanggung jawab sebagai orang Kristen dan warga negara Indonesia, satu sama lain saling melengkapi,” ujar Henry Lokra, kepala biro penelitian dan komunikasi Persatuan Gereja Indonesia. Baca juga: Orang Katolik di Masa Jepang Albertus Soegijapranata (1896–1963). Albertus Soegijapranata Uskup Nasionalis Setelah ditahbiskan sebagai uskup oleh Takhta Suci Vatikan pada 1940, mulailah Albertus Soegijapranata (1896–1963) menjalankan kegiatan pemeliharaan dan pembinaan rohani umatnya. Di tengah situasi Indonesia yang lagi bergejolak, dia menunjukkan sikap tegas. Di masa Jepang, dia menolak perampasan paksa Jepang atas Gereja Katedral Randusari, bahkan mempertaruhkan kepalanya untuk dipenggal. Di masa revolusi, dia menunjukkan dukungan kepada Republik. Dalam pidato radionya, dia menyatakan umat Katolik harus merasa berterima kasih kepada Republik Indonesia dan mestinya memberikan bantuan dan dukungan kepada Republik. Atas nama umat Katolik, dikutip Jan Sihar Aritonang dalam Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia , uskup berkata: “Kami berjanji akan bekerjasama dengan semua lapisan rakyat untuk mewujudkan kemerdekaan teguh dan kemakmuran merata.” Baca juga: Soegija dalam Film dan Buku Ketika pemimpin Republik memindahkan ibukota ke Yogyakarta, Soegija memberikan dukungan dengan memindahkan pusat pelayanan umat Katolik dari Semarang ke Yogyakarta. Saat Sukarno diasingkan, Soegija memberikan fasilitas tempat tinggal kepada Fatmawati. Soegija sempat melarang perayaan Natal bagi umat Katolik pada 1948, sebagai ungkapan keprihatinan atas agresi militer Belanda. Bung Karno lalu menghadiahinya repro lukisan Heilige Maagd karya perupa ternama Italia. Karena kedekatan hubungan ini, Soegija mendukung Demokrasi Terpimpin, sikap yang bertolak belakang dengan Partai Katolik. Di luar urusan politik, Soegija tak mengabaikan penggunaan bahasa Jawa dalam doa, khotbah, dan liturgi. Begitu juga penyerapan budaya Jawa, dari gamelan hingga bentuk bangunan. Ini membuat gereja semakin membumi.* Tulisan ini telah dimuat di majalah Historia No. 8 Tahun I 2012
- Pernyataan Tidak Anti-Republik hingga Penangkapan Amir Sjarifuddin
2 Januari 1946 Pernyataan Tidak Anti Republik Kesultanan Melayu di Sumatra Timur mengeluarkan pernyataan bersama bahwa mereka tidak anti-Republik. Pernyataan ini disampaikan dalam suatu pertemuan antara pihak Republik dan kesultanan. Wakil Gubernur Dr. Amir mewakili pemerintah Indonesia. Satu-satunya sultan yang menghadiri adalah Sultan Langkat, sedangkan kesultanan lain mengirimkan utusan. Pernyataan ini dikeluarkan menyusul terjadinya peristiwa Perang Tjumbok di Aceh sebelas hari sebelumnya. Dalam peristiwa itu banyak bangsawan Aceh ( uleebalang ) yang dicurigai anti-Republik dibantai berikut keluarganya. Harta benda istana disita. Namun, di bawah tekanan kelompok kiri, Dr. Amir menjadi orang pertama yang mengumumkan revolusi sosial dua bulankemudian. Lewat serangkaian aksi anarkis, laskar-laskar rakyat menyerang istana-istana kesultanan. Amir Hamzah, sastrawan kenamaan dari keluarga Kesultanan Langkat, terbunuh akibat serbuan massa. Revolusi itu menamatkan riwayat Kesultanan Melayu di Sumatra Timur. Baca juga: Pamer Kemewahan Hasil Jarahan dalam Revolusi Sosial di Sumatra Timur 6 Januari 1962 Merah-Putih akan Berkibar di Irian Barat Dalam sebuah rapat akbar di Parepare, Makassar, Presiden Sukarno berseru, “Merah-Putih” akan berkibar di Irian Barat (kini, Papua) pada tahun itu juga. Sukarno menerangkan bahwa provinsi Irian Barat yang beribukota Kotabaru sudah terbentuk. Gubernur Irian Barat juga sudah diangkat, tetapi Sukarno tak menyebutkan nama dengan alasan keselamatan diri si gubernur. “Kekuatan duniawi yang bagaimanapun tidak dapat menundukkan meluapnya semangat 96 juta rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan,” demikian petikan pidato Presiden Sukarno dilansir Warta Bakti , 7 Januari 1962. Dalam kampanye pembebasan Irian Barat itu, ikut seorang pemuda asal Irian Barat bernama Frits Kirihio. Frits turut memberi sambutan yang mendukung pemerintah Indonesia. Hal ini membuat pemerintah Belanda marah mengingat Frits adalah mahasiswa Universitas Leiden yang dibiayai amtenar Belanda di Irian Barat. Baca juga: Seruan Sukarno di Hari Lebaran Bebaskan Irian Barat Jakarta dilanda banjir tahun 1977. (Kartono Riyadi/ Kompas ). 19 Januari 1977 Jakarta Kebanjiran Hujan deras mengguyur kota Jakarta. Banjir paling parah melanda kawasan Jakarta Pusat seperti Cempaka Putih, Gambir, Cipinang Besar, Cakung, Bidara Cina, dan sekitarnya. Banjir juga melanda kawasan elite seperti Jalan Medan Merdeka Selatan, Merdeka Timur, Monas, Senen, dan Sarinah. Banjir besar tersebut, dilansir Warta Berita , 19 Januari 1977, mengakibatkan Gedung RRI terendam air setinggi 80 cm dan tak dapat mengudara. Penundaan penerbangan juga terjadi di Lapangan Udara Kemayoran karena landasan tergenang air. “Banjir terjadi karena adanya pengembangan daerah Kuningan sehingga daerah tangkapan air Waduk Setiabudi semakin meluas,” tulis Restu Gunawan dalam Gagalnya Sistem Kanal . Diperkirakan 100.000 warga Jakarta terpaksa mengungsi akibat banjir itu. Baca juga: Ganti Rugi Penjajahan dari Jepang Penandatanganan Perjanjian San Francisco. (Wikimedia Commons). 20 Januari 1958 Kesepakatan Pampasan Perang Menteri Luar Negeri Jepang Aiichiro Fujiyama dan Menteri Luar Negeri Indonesia Subandrio menandatangani perjanjian pampasan perang di Jakarta. Sebagaimana termaktub dalam Pasal 14 Pakta Perdamaian San Francisco, Jepang diwajibkan membayar pampasan perang kepada bekas negeri jajahannya. Terlampir dalam sembilan dokumen itu, seperti ditulis Masashi Nisihara dalam Sukarno, Ratna Sari Dewi, & Pampasan Perang: Hubungan Indonesia Jepang, 1951–1961 , isi kesepakatan tersebut: 1. Jepang akan membayar US$223.080.000 kepada Indonesia selama periode dua belas tahun. 2. Penghapusan utang niaga Indonesia sebesar US$176.920.000. 3. Kesediaan Jepang untuk memberikan bantuan ekonomi sebesar US$400.000.000. Presiden Sukarno menggunakan hasil pampasan perang itu untuk membiayai proyek-proyek mercusuarnya. Salah satunya Toserba Sarinah. Baca juga: Jenderal Belanda Tewas di Aceh 24 Januari 1874 Belanda Menduduki Istana Aceh Istana Sultan Aceh jatuh ke tangan serdadu Belanda pimpinan Letnan Jenderal Jan van Swieten. Swieten menggantikan Jenderal Johan Kohler yang tewas tertembak pejuang Aceh dalam ekspedisi pertama penaklukkan Aceh. Sebanyak 8.500 serdadu penempur, 4.300 pelayan dan kuli, serta 1.500 pasukan cadangan dikerahkan Swieten untuk menyerang istana. Sultan Mahmud Syah yang terdesak menyingkir ke pegunungan Leungbata. Dalam pelariannya, Sultan mangkat akibat terjangkit wabah kolera. Kendati demikian, rakyat Aceh tetap melanjutkan perjuangan. “Orang Aceh menolak semua upaya van Swieten untuk mengadakan perundingan, sampai-sampai mereka membunuh utusan pertama yang dikirimkan van Swieten,” tulis Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh . Perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Aceh atau Aceh Oorlog itu baru berakhir pada 1904. Baca juga: Amir Sjarifuddin Bergerak dengan Geraf Melawan Jepang Amir Sjarifuddin. (KITLV). 30 Januari 1943 Amir Sjarifuddin Ditangkap Polisi Rahasia Jepang ( Kenpeitai ) dari Surabaya datang ke Jakarta untuk meringkus pentolan PKI ilegal, Amir Sjarifuddin. Amir ditangkap ketika menghadiri pertemuan dengan 53 orang lainnya; semuanya aktivis Gerindo dan Parindra yang kini bergabung di dalam PKI ilegal. Amir didakwa membentuk gerakan antifasis menentang pendudukan militer Jepang dan memprovokasi serangkaian aksi mogok. Untuk menjerat Amir, Kenpeitai Surabaya mengamankan barang bukti berupa rekaman penerimaan uang Amir dari pemerintah Belanda untuk membiayai gerakan perlawanan bawah tanah. Dana tersebut diberikan Charles van der Plas yang tak lain Gubernur Jawa Timur. Bersama lima orang rekannya, Amir divonis hukuman mati. Sepupu Amir, Sutan Goenoeng Mulia, mendatangi Mohammad Hatta agar memintakan pengampunan bagi Amir. Alasannya, eksekusi Amir akan menyebabkan pergolakan dalam masyarakat. Berkat lobi Sukarno ke pihak Jepang, hukuman Amir diubah menjadi seumur hidup.* Tulisan ini telah dimuat di majalah Historia No. 27 Tahun III 2016
- Pekerjaan yang Dilakukan Anak-Anak di Masa Lalu
Di masa lalu, tidak semua anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Beberapa dari mereka bahkan ada yang sudah bekerja di usia dini, Apa saja pekerjaan yang dilakoni anak-anak di masa lalu?
- Krisis Perbankan hingga Gesekan Lembaga Pemberantasan Korupsi
1 November 1997 Krisis Perbankan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad meneken SK Menteri Keuangan No. 86/1997 yang melikuidasi sejumlah bank. Pertimbangannya, kesulitan keuangan bank-bank tersebut bukan hanya berdampak pada kelangsungan hidup usaha mereka, melainkan juga pada industri perbankan secara nasional. Secara garis besar, jumlah bank yang dilikuidasi hampir berimbang, masing-masing sembilan bank yang lahir sebelum Paket Oktober (Pakto) tahun 1988 dan tujuh bank sesudah Pakto. Pakto merujuk pada paket kebijakan deregulasi perbankan pada 27 Oktober 1988 yang membuka kesempatan kepada swasta untuk mendirikan bank dengan persyaratan modal yang tak terlalu besar. Akibatnya, jumlah bank di Indonesia membengkak. Sembilan bank sebelum Pakto adalah Bank Harapan Sentosa, Bank Pacific, Sejahtera Bank Umum, Bank Industri, South East Asia Bank, Bank Pinaesaan, Bank Jakarta, Bank Umum Majapahit Jaya, dan Anrico Bank. Sementara tujuh bank yang lahir sesudah Pakto: Bank Andromeda, Astria Raya Bank, Bank Mataram Dhanarta, Bank Guna, Bank Dwipa Semesta, Bank Citrahasta Dharmamanunggal, dan Bank Kosagrha Semesta. Keputusan pemerintah dianggap sebagai langkah berani. Sebab, di antara bank-bank itu milik keluarga Cendana. Bahkan, Bambang Trihatmodjo (pemilik Bank Andromeda) dan Probosutedjo (pemilik Bank Jakarta) mengajukan sang menteri ke pengadilan. Demi rasa keadilan, pemerintah memutuskan mengembalikan seluruh dana nasabah yang disimpan di 16 bank tersebut. Namun, keputusan likuidasi 16 bank pada 1 November 1997 dianggap sebagai pemicu krisis kepercayaan yang membuat terpuruknya sektor perbankan. Baca juga: Jejak Setiawan Harjono dalam Bank Aspac Mohammad Hatta. (Perpusnas RI). 9 November 1948 Aide Memoire Hatta Perdana Menteri Mohammad Hatta bertemu dengan D.U. Stikker, menteri luar negeri Belanda. Dalam pertemuan, Hatta menyampaikan aide memoire yang memuat tiga masalah pokok: 1. RI bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda membentuk pemerintah federal sementara. 2. Pemilihan umum untuk membentuk konstituante yang kemudian menjadi parlemen, diadakan enam bulan setelah pemerintah federal terbentuk. Konstituante ini nanti akan memilih presiden. 3. Perwakilan RI di luar negeri ditampung oleh pemerintah federal sementara. Hatta juga menyinggung masalah angkatan perang. Dalam aide memorie , Hatta mengusulkan agar angkatan perang pemerintah federal terdiri atas unsur TNI, KNIL,dan batalion keamanan di masing-masing negara bagian. Komando angkatan perang itu berada di tangan pemerintah federal sementara, sedangkan Wakil Tinggi Mahkota Belanda hanya memegang komando atas angkatan perang Belanda. Setelah Negara Indonesia Serikat (NIS) terbentuk, TNI secara keseluruhan melebur ke dalam Angkatan Perang NIS. Stikker setuju dengan usul Hatta. Namun, Dr. L.J.M. Beel selaku Wakil Tinggi Mahkota Belanda menolak adanya dua komando dalam angkatan perang pemerintah federal sementara dan peleburan TNI secara keseluruhan dalam angkatan perang itu. Dia ingin komando tunggal dan pembubaran TNI. Upaya Hatta untuk menembus jalan buntu Perundingan Renville gagal. Kesepakatan mengenai angkatan perang tak tercapai. Baca juga: Ketika Hatta Menolak Papua Soedirman, panglima besar TKR, dan Oerip Soemohardjo, kepala staf TKR. (IPPHOS). 12 November 1945 Pemilihan Panglima Tentara OERIP Soemohardjo, kepala Markas Besar Oemoem (MBO) TKR di Yogyakarta, mengadakan rapat antarperwira. Rapat ini melibatkan para perwira yang paling rendah berpangkat letnan kolonel atau menjabat sebagai komandan resimen. Mereka hendak memilih pemimpin besar TKR. Rapat perwira itu berlangsung gaduh. Para peserta datang ke ruangan rapat dengan menyandang pistol di pinggang. Kesemrawutan semakin menjadi-jadi saat setiap orang yang tampil bicara di forum selalu diteriaki kata “jelek” lalu dipaksa turun dari mimbar. Tak terkecualiMenteri Keamanan Rakyat ad interim Suljodikusumo, bekas daidanco Peta, dipaksa turun dari mimbar walaupun dia belum selesai berpidato. Begitu tiba pada sesi pemilihan panglima besar TKR, suasana semakin riuh dan kacau. Setiap orang memaksakan diri untuk bicara di forum itu. Karena situasi ini, proses pemilihan pun dilakukan lewat pemungutan suara. Calon yang harus dipilih para peserta yakni Oerip Soemohardjo dan Soedirman, komandan Divisi V TKR Banyumas. Hasilnya, Kolonel Soedirman unggul dengan 23 suara, sedangkan Oerip hanya mendapatkan 21 suara. Dengan demikian, Soedirman menjadi panglima besar TKR, sedangkan Oerip Soemohardjo menjadi kepala staf TKR. Baca juga: Panglima Tentara Dipilih Lewat Rapat Koboy-Koboyan Perhimpunan Indonesia. (KITLV). 15 November 1908 Pendirian Perhimpunan Indonesia Empat mahasiswa berembug di sebuah restoran “Oost en West” di Gravenhage (Den Haag), Belanda. Mereka antara lain Soetan Casajangan Soripada, Soemitro, Sosrokartono, dan Hoessein Djajadiningrat. Dipimpin Soetan Casangan, mereka membicarakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Pasal demi pasal dibahas. Pada pasal 1, memuat pergaulan antara anggota. Kemudian dijelaskan lagi teknis cara memajukan pergaulan dalam beberapa ayat. Mereka mengemukakan ada empat cara seperti mengadakan rapat, ceramah, pertemuan hiburan, dan memperingati hari nasional bersama. Kemudian pasal lain pun menyusul dibahas dalam rapat. Yang menarik dalam pasal keanggotaan, yang diatur dalam pasal 5 sampai 8. Indische Vereeninging menerima anggota donatur, dengan syarat, anggota tersebut memberikan iuran tahunan minimal f3 atau iuran sekali seumur hidup sebesar f15. Pada tanggal inilah secara resmi diumumkan berdirinya Indische Vereeniging. Menurut Abdul Rivai dalam Student Indonesia di Eropa , azas dan tujuan organisasi ini adalah membikin lezing-lezing dan dansa-dansa pada pesta. Sama sekali tak ada tujuan mementingkan tanah airnya. Kesadaran itu baru muncul setelah Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat masuk. Kelak, pada 1922 ia berubah nama jadi Indonesische Vereeniging dan dua tahun kemudian jadi Perhimpunan Indonesia. Baca juga: Perhimpunan Indonesia, Wahana Perjuangan di Negeri Belanda Sultan Hamengkubuwono IX dan A.H. Nasution. (ANRI). 28 November 1960 Gesekan Lembaga Pemberantasan Korupsi Sesuai saran Presiden Sukarno, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ketua Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara (Bapekan), dan A.H. Nasution, ketua Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran), bertemu secara pribadi. Pertemuan menghasilkan rumusan pembagian tugas antara Bapekan dan Paran. Bapekan fokus mengawasi dan meneliti, sedangkan Paran meretul aparatur yang tak berdaya guna. Dalam pertemuan, Nasution juga mengatakan tak ada maksud meretul Bapekan, apalagi hingga mengubah susunan maupun personelnya. Pertemuan itu adalah imbas dari gesekan antara Bapekan dan Paran. Keduanya dinilai memiliki tugas dan wewenang yang sama dalam ranah pengawasan terhadap lembaga aparatur negara. Keduanya hampir terlibat konflik ketika Paran mencantumkan Bapekan sebagai instansi yang akan terkena retul. Tak jelas apa alasannya. Padahal, jumlah kasus yang sudah ditangani Bapekan tidaklah kecil. Dengan adanya pertemuan itu, yang hasilnya dilaporkan kepada Sukarno, gesekan kecil dua instansi pemberantasan korupsi ini pun berakhir. Tulisan ini telah dimuat di majalah Historia No. 26 Tahun III 2015 Baca juga: Jatuh Bangun Lembaga Pemberantasan Korupsi
- Ria Jenaka, Panakawan, dan Pesan-pesan Pemerintah Orde Baru
SI Unyil bukan satu-satunya program televisi yang dinanti anak-anak tahun 1980 hingga 1990-an. Acara televisi lain yang juga sukses menyedot perhatian penonton dari berbagai usia dan kalangan adalah Ria Jenaka. Disiarkan pertama kali di TVRI pada 1981, Ria Jenaka menampilkan empat tokoh panakawan, yakni Bagong, Petruk, Gareng dan Semar yang diperankan oleh Ateng, Iskak, Suroto, dan Sampan Hismanto.
- Menerangi Sejarah Lampu
MALAM-malam di zaman purba, tak lagi kelam, semenjak manusia purba sudah dapat mengendalikan api untuk penerangan. Jejak purba tentang menggunakan api untuk penerangan, terjejaki di situs Swartkrans di Afika Selatan, yang sudah berumur 1,5 juta tahun lampau. Manusia berusaha mengontrol api untuk bisa digunakan sewaktu-waktu. Pada 70.000 tahun SM ditemukan artefak seperti batu berongga yang dicelup lemak hewan, untuk dijadikan alat penerangan sederhana. Dan lampu minyak, baru berkembang di Mesir dan Yunani sekira 4.500 tahun SM. Ilustrasi Gambar Lilin Mesir dan Yunani bisa dikatakan sebagai bangsa yang mula-mula membuat lilin. Kala itu, lilin dibuat dari gulungan papirus yang dicelupkan ke dalam lemak hewan berulang kali. Dan yang paling terkenal adalah festival Hanukah yang dilakukan bangsa Yahudi, sekira sejak 165 SM. Mereka bersukacita dengan menyalakan lilin. Baca juga: Awal Mula Lampu Penerangan Jalan di Surabaya Ilustrasi Gambar Lampu Kerosin Aime Argand, ilmuwan Swiss, menciptakan lampu berbahan bakar kerosin yang minim asap pada 1782. Argand menciptakan lampu berbahan bakar kerosin dengan bagian utama berupa sumbu melingkar dengan cerobong asap kaca. Cerobong asap kaca ini menjaga arus udara yang keluar. Kerosin sendiri ditemukan pertama kali oleh Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya al-Razi dari Persia. Ilustrasi Gambar Lampu Gas William Murdoch dari Skotlandia mulai bereksperimen dengan gas yang dihasilkan dengan memanaskan batubara untuk penerangan. Murdoch mencoba memproduksi gas batubara dengan pipa tabung besi melalui laras senapan tua dan memicu untuk menghasilkan cahaya. Ia menjadi orang pertama yang rumahnya diterangi cahaya lampu gas. Pada 1798, pabrik tempatnya bekerja, Soho Foundry, terang benderang dengan lampu gas temuannya. Baca juga: Perkara Lampu, Bung Karno Digampar Serdadu Jepang Ilustrasi Gambar Lampu Busur Sir Humphry Davy, ilmuwan Inggris, pada 1807 memperkenalkan konsep lampu karbonbusur. Ia memakai tongkat arang dan baterai 2000 sel guna membuat busur berjarak 4 inchi. Ia memasang elektroda secara horizontal. Hasilnya, busur itu membentuk lengkungan karena aliran kuat konveksi udara. Lampu busur miliknya kemudian menjadi alat penerangan di jalan-jalan raya Eropa kala itu. Selain itu juga lebih murah dibanding memakai lampu gas atau minyak. Ilustrasi Gambar Lampu Pijar Setelah pindah ke New York, AS dari Jerman, Heinrich Gobel, mencoba membuat lampu pijar. Ia mencoba menghantarkan listrik melalui serat bambu –kemudian disebut filamen– yang dikarbonasi dalam tabung parfum pada 1854. Usahanya membuat lampu pijar sederhana ini berhasil, tetapi belum praktis. Temuannya disempurnakan oleh Thomas Alva Edison dengan menggunakan kapas berkarbonasi. Lampu pijar Edison lebih efektif, mampu menyala 600 jam, dan memungkinkan adanya penerangan listrik yang praktis untuk di rumah. Baca juga: Lampu Pijar Bikin Penduduk Batavia Gempar Ilustrasi Gambar Lampu Neon Pada sebuah pameran di Paris, Prancis, 11 Desember 1910, Georges Claude (1870–1960), memamerkan temuannya yang bisa menyala berwarna-warni. Lampu neon bikinannya ini memiliki panjang sekira 115 centimeter. Lampu neon itu menggunakan gas inert (gas mulia) di dalam tabung berisi karbondioksida dan nitrogen. Ia pun mematenkan lampu neonnya pada 1911. Neon berakar dari bahasa Latin neos yang berarti baru. Ilustrasi Gambar Lampu Halogen Dua pegawai di General Electric, Amerika Serikat, yaitu Elmer Fridrich dan Emmet Wiley, mengembangkan lampu halogen sekira tahun 1955. Prinsipnya sama dengan lampu pijar, yaitu dengan memijarnya filamen. Filamen tungsten yang berevaporasi ini menyebabkan bohlam lampu menghitam. Fridrich kemudian menambahkan unsur iodine (yodium). Dalam perkembangannya, lampu ini memiliki dua model yaitu berujung ganda (biasanya pemasangan dalam posisi horizontal); dan berujung tunggal (dapat dipasang dalam posisi sembarang). Lampu ini kemudian banyak berperan dalam teknik pencahayaan interior dan display . Baca juga: Masa Lalu Lampu Lalu Lintas Ilustrasi Gambar Lampu LED Penemuan Light Emitting Diode (LED), lampu semi-konduktor sebenarnya sudah dilakukan pada awal abad XX oleh H.J. Round dari Inggris. Kemudian ilmuwan Soviet, Oleg V. Losev juga menuliskan prinsip LED. Baru pada 1962, lampu LED merah ditemukan oleh Nick Holonyack, Jr. Sepuluh tahun kemudian, M. George Craford memperkenalkan lampu LED warna kuning. Lalu pada 1979, Shuji Nakamura dari Jepang, membuat lampu LED dengan nyala biru. Warna-warna cahaya yang dipancarkan oleh LED ini, tergantung pada jenis bahan semikonduktor yang dipergunakannya.* Tulisan ini telah dimuat di majalah Historia No. 24 Tahun II 2015





















