top of page

Hasil pencarian

Search this site

9978 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Potong Kuping Demi Indonesia Merdeka

    PROKLAMASI kemerdekaan Indonesia bergema dari rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Hari bersejarah itu berlangsung khidmat dan sederhana. Tapi, di berbagai daerah, tak banyak orang tahu apa yang terjadi pada 17 Agustus 1945. “Karena gaungnya enggak ada, maka Bung Karno perintahkan ke bapak saya, kirim anak-anak Barisan Pelopor ke daerah asalnya. Umumkan bahwa Indonesia sudah merdeka,” tutur Tanto Sudiro (79) kepada Historia.ID. Tanto Sudiro merupakan putra bungsu Sudiro yang dikenal sebagai wali kota kemudian gubernur Jakarta. Ketika Proklamasi kemerdekaan, Sudiro sebagai komandan Barisan Pelopor atau Shuisintai, organisasi sayap militer Jawa Hookookai (Kebaktian Rakyat Jawa). Menjelang dan sesudah Proklamasi kemerdekaan, Barisan Pelopor berperan dalam pengerahan massa dan menyebarluaskan berita kemerdekaan. Sudiro bersama anggota Barisan Pelopor berusaha menyiarkan Proklamasi kemerdekaan melalui radio, pers, dan kurir yang bisa dipercaya. Beberapa anggota Barisan Pelopor yang berpengalaman ditunjuk untuk berangkat ke daerah. Samaun Bakri dan Khalid Rasyidi ke Keresidenan Banten, Sarwoko ke Surakarta, Ir. Sakirman ke Keresidenan Kedu, dan Sumaryo Suryopranoto ke Yogyakarta. Mereka umumnya berasal dari daerah-daerah keresidenan tersebut. Selain menjalankan tugas negara, mereka dapat mengunjungi keluarga. Tanda tangan Sudiro sebagai komandan Barisan Pelopor sangat berpengaruh, khususnya kepada Suyatman, kepala Jawatan Kereta Api di Jakarta Kota. Pemegang surat jalan yang ditandatangani Sudiro bisa naik kereta api gratis ke mana saja. Tapi, Sudiro tak membekali uang sangu. Maklumlah, dalam suasana perjuangan kondisi keuangan negara masih prihatin. Para utusan Barisan Pelopor itu mesti mencari uang sendiri untuk bekal perjalanan. “Yang saya pilih untuk menyebarluaskan Proklamasi bagi daerah Keresidenan Kediri ialah seorang tokoh yang berasal dari daerah tersebut, yaitu Pak Jenggot alias Ismangunwinoto,” ungkap Sudiro dalam kumpulan tulisan, Pelangi Kehidupan. “Ismangunwinoto tampangnya seram. Ini disebabkan jenggotnya yang lebat, sehingga nama panggilannya yang populer Pak Jenggot.” Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, dan potret ayahnya. (Bisri/Historia.ID). Sudiro mengenang, kali pertama kenal Ismangunwinoto pada 1932. Saat itu, Kongres Indonesia Raya dihelat dan menjadi penampilan perdana Sukarno di depan publik. Sudiro bertugas sebagai panitia, sedangkan Ismangunwinoto menjadi penjaga pintu masuk ke rapat-rapat tertutup. Setelah menutup pintu, dia duduk di samping pintu sambil memegang pentungan. Sudiro masih ingat betapa sangarnya Ismangunwinoto waktu itu. Setelah sempat terpisah, Sudiro dan Ismangunwinoto berjumpa lagi di Jakarta sekira 1944. Ismangunwinoto menjadi anggota Barisan Pelopor, sedangkan Sudiro menjadi komandannya. Ketika menerima surat jalan dari Sudiro menuju Kediri, Ismangunwinoto berusaha sendiri mencari uang bekal perjalanan. Dia menuju sebuah bank swasta, Bank Beringin di Jalan Kramat, Jakarta Pusat. Kepada direktur bank, Ismangunwinoto meminta sejumlah uang. “Mana borg-nya (jaminan)?” tanya direktur. “Borg? Dalam keadaan sekarang ini saudara minta borg dari saya?” hardik Ismangunwinoto. “Ya,” balas direktur. “Baiklah,” kata Pak Jenggot. “Kalau saudara tetap menghendaki borg, ini borg saya.” Tanpa tedeng aling-aling, Ismangunwinoto mencabut golok lalu memotong telinganya. Dalam kondisi berdarah-darah, dia menyerahkan bagian tubuhnya yang terpotong itu kepada direktur bank. Kuping itulah yang diserahkannya sebagai jaminan kepada pihak bank. “Takutlah orang-orang. Satu bank itu gempar. Akhirnya dikasih duit. Jadi dia pergi [ke Kediri],” ujar Tanto Sudiro. Menurut sejarawan Aminuddin Kasdi, situasi di Kediri pasca-Proklamasi kemerdekaan agak berbeda dengan daerah lain yang relatif lebih tenang dan terbuka bagi para pejuang. Di Kediri, tentara Jepang terbilang kuat untuk mengamankan daerah tersebut. Polisi rahasia Kenpeitai masih menjadi momok bagi para pejuang setempat. “Lain lagi di Kediri. Meskipun pada 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, dan 15 Agustus 1945 Jepang telah menyerah kepada Sekutu, sampai akhir Agustus tentara Jepang masih memegang senjata dan kekuasaan,” catat Aminuddin dalam “Berita Proklamasi di Surabaya”, termuat dalam kumpulan tulisan, Sejarah Berita Proklamasi Indonesia suntingan Jajat Burhanuddin dan Amurwani Dwi Lestariningsih. Situasi yang agak berbahaya itulah yang menunggu Ismangunwinoto ketika pulang ke kampung halamannya di Kediri. Menurut Tanto Sudiro, setelah kepulangannya ke Kediri, Ismangunwinoto tak terdengar lagi kabarnya. Diduga kuat nasibnya berakhir di tangan tentara Jepang. Sementara itu, bagi Sudiro, Pak Jenggot alias Ismangunwinoto tak sekadar sahabat seperjuangan. Dia adalah satu dari sekian banyak pejuang Indonesia yang hilang dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tak hanya mengorbankan kupingnya, dia juga mengorbankan nyawa demi Indonesia merdeka. “Sejak dia pamit dari saya, tidak pernah dia kembali. Konon di daerah Kediri dia telah dibunuh oleh Jepang, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana makamnya. Saya anggap dia pahlawan yang hilang,” kenang Sudiro.*

  • Cara Belanda Mengatur Pasar di Batavia

    PASAR masih menjadi tujuan masyarakat Jakarta untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Salah satu faktornya karena di pasar pembeli dapat menawar barang yang akan dibeli. Salah satu pasar yang menjadi tujuan populer masyarakat adalah Pasar Senen. Aktivitas di salah satu pasar tertua di Jakarta itu terlihat sejak matahari terbit hingga menjelang malam. Lapak para pedagang yang buka dari Senin hingga Minggu membuat kawasan Pasar Senen selalu ramai didatangi pembeli. Orang-orang datang silih berganti untuk berbelanja beragam kebutuhan mulai dari bahan makanan seperti sayuran, buah-buahan, daging dan ikan, hingga pakaian, jam, kacamata, serta beragam aksesoris lainnya. Pada masa lalu, di wilayah Batavia telah terdapat pasar ikan, pasar burung, serta pasar sayur dan buah-buahan yang terletak di dalam tembok kota di sekitar Roa Malaka dan Jonkersgracht. Tuan tanah Belanda ambil bagian dalam membangun pasar di Batavia. Salah satu yang terkenal adalah Justinus Vink.

  • Rahayu Effendi Pernah Susah di Awal Karier

    BERBEKAL ijazah SMA, Siti Rahayu yang biasa disapa Yayuk, melamar menjadi pramugari Garuda Indonesia pada 1962. Nasib baik mengiringi langkahnya. Dia diterima. Namun, baru sekira setahun menjalani profesi tersebut, putri Haji Yusuf dan Hajjah Djufriah kelahiran Bogor, 30 Agustus 1942 itu dilamar orang. Pria yang melamarnya adalah Ir. Tammy Effendi. Tammy bukan orang sembarangan. Dia putra dari Roestam Effendi (1903-1979), sastrawan dan politikus pergerakan nasional Indonesia yang pernah jadi anggota parlemen di Negeri Belanda. Tammy dan Siti Rahayu akhirnya menikah pada 1963 dan Siti Rahayu lalu dikenal sebagai Rahayu Effendi. Profesi pramugari masih dijalani Rahayu setelah menikah kendati belakangan ditinggalkannya.

  • Ahmad Subardjo, The Untold Story

    NADA-nada karya musik klasik mengalun dari tuts-tuts piano kala jemari Laksmi Pudjiwati Insia Subardjo menari di atasnya. Senyumnya merekah seketika seiring ia menekan tuts terakhir. “Ini sekarang (lagu) ‘Bengawan Solo’,” terang Insia sebelum jemarinya kembali menari di atas tuts-tuts pianonya dengan lincah. Lagu gubahan Gesang itupun mengalun dengan elok dari piano itu. Beberapa foto, poster lawas, hingga kliping koran-koran lama turut “bercerita” bahwa Insia bukan pemain piano musiman. Semasa muda, ia aktif di beberapa grup musik. Bakat itu mengalir dari ayahnya, Ahmad Subardjo.

  • PDI Masukkan Seniman ke Parlemen

    PEMILIHAN umum (Pemilu) 2024 tinggal hitungan bulan. Berbagai pihak yang akan mengikutinya telah mulai bermanuver untuk mendapatkan simpati rakyat. Partai politik, misalnya, mulai intens melalukan lobi-lobi politik dan melancarkan berbagai manuver. Salah satunya menarik artis untuk dijadikan anggota guna menarik sebanyak mungkin suara rakyat. Pelibatan artis sebagai anggota partai bukanlah hal baru. Itu telah dimulai oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada masa Orde Baru. PDI adalah hasil fusi partai-partai berhaluan nasionalis dan menampung kelompok Katolik dan Kristen di dalamnya. Sepanjang Orde Baru, partai ini selalu berada di urutan ketiga dalam Pemilu baik dalam nomor urut maupun perolehan suara. Padahal, satu elemen utamanya yang bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) adalah juara pertama Pemilu 1955.

  • Benny Moerdani, Penjaga Setia Penguasa Orde Baru

    BENNY Moerdani menelan pil pahit setelah Presiden Soeharto mencopotnya sebagai Panglima ABRI. Setelah menyingkirkan Benny, Soeharto mengalihkan tangan kepercayaannya kepada kelompok politisi. Dia pun mulai merapat ke kalangan Islam untuk memantapkan kekuasan. Hingga Soeharto lengser, hubungannya dengan Benny tak pernah kembali seperti semula: renggang, dingin, dan berjarak. Pada 29 Agustus 2004, Soeharto dan Benny Moerdani kembali bersua. Namun dalam pertemuan kali ini, tak ada pembicaraan. Benny yang dulu tersohor karena sangar hanya terbujur kaku. Peti mati menjadi pembaringannya. Di hari minggu itu, Si Raja Intel menghembuskan nafas terakhir pada usia 71 tahun. Di hadapan jenazah Benny, Soeharto yang telah uzur menundukan wajah seraya melantunkan doa. Itulah penghormatan terakhirnya untuk sang pelindung setia. Mereka berdamai di senjakala kehidupan.

  • Gedung Parlemen di Antara Dua Rezim

    KOMPLEKS parlemen alias Gedung MPR/DPR/DPD RI belakangan jadi bahan ledekan di aplikasi Google Maps lantaran ada yang menyunting. Belum jelas siapa yang menyuntingnya namun sudah kadung geger di jagat maya. Menurut laman support Google, siapapun yang memiliki akun Google memang bisa menyunting label sebuah lokasi, namun penyuntingannya tentu akan ditinjau pihak Google terlebih dulu. Kehebohan itu muncul lewat akun Twitter @recehtapisayng pada Minggu (2/7/2023). Tag lokasi gedung parlemen itu diubah sebutannya antara lain dengan olok-olok “Perkumpulan Tikus Berdasi”, “Sarangnya Tikus Tikus Kantor”, “Istana Tikus Berdasi, hingga “Peternakan Tikus”. Respon sejumlah legislator terhadapnya pun beragam. Ada yang meradang karena merasa ledekan itu tak beretika. Ada pula yang menganggap hal itu sekadar bentuk “perhatian” publik.

  • Membaca Ulang Sejarah Parlemen Indonesia

    PARLEMEN Indonesia menjadi salah satu topik yang jarang diulas dalam sejarah Indonesia. Sejak awal, narasi sejarah lebih menonjolkan bagaimana perang menjadi strategi dalam merebut kemerdekaan. Padahal, diplomasi juga turut andil dalam pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mengambil peran di dalamnya. Untuk kembali melihat bagaimana sejarah KNIP menjadi pondasi Parlemen Indonesia, Museum DPR RI bersama Historia.ID menggelar Pameran Daring bertajuk “Komite Nasional Indonesia Pusat: Mukadimah Parlemen Indonesia” yang dibuka pada Senin, 18 Oktober 2021. KNIP dibentuk pada 29 Agustus 1945 dengan beranggotakan 137 orang. Lembaga yang diketuai Kasman Singodimedjo awalnya befungsi sebagai pembantu atau penasihat presiden. Melalui Maklumat Wakil Presiden nomor X, KNIP diserahi tugas-tugas legislatif serta turut menetapkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebelum DPR dan MPR dibentuk.

  • Semaoen Anak Didik Sneevliet

    PADA siang hari 16 Juli 1917, untuk sebuah pekerjaan propaganda buruh serikat kereta api, Semaoen dan Henk Sneevliet pergi mengunjungi Probolinggo. Atas anjuran seorang kusir, mereka menuju sebuah hotel di tengah kota Probolinggo. Ketika pesuruh hotel membawa koper masuk dan Sneevliet tengah duduk di kursi goyang, pemilik hotel datang menyambangi Sneevliet dan bertanya, “siapakah inlander yang datang bersamamu itu? Apa pekerjaanya?” “Dia kolega saya, tuan,” kata Sneevliet sopan. “Apakah dia seorang guru?” tanya pemilik hotel berkulit putih itu. Sneevliet kembali mengatakan bahwa lelaki yang pergi bersamanya itu kawannya tak lebih tak kurang. Mendengar jawaban tersebut, pemilik hotel mengatakan bahwa hotelnya tidak biasa menerima seorang tamu bumiputra untuk menginap. Dia berkilah merasa tak enak dengan tamu-tamunya yang lain. “Ada hotel lain di sini, milik seorang Tionghoa, di mana orang seperti kawanmu itu bisa menyewa kamar,” kata pemilik hotel, sontak membuat Sneevliet marah.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page