top of page

Potong Kuping Demi Indonesia Merdeka

Berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia disebarluaskan ke berbagai daerah. Seorang utusan menggadaikan telinga ke bank untuk memperoleh ongkos memberitakan Proklamasi kemerdekaan ke Kediri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Anggota Barisan Pelopor bersenjata bambu runcing menyambut Proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. (IPPHOS).

  • 1 hari yang lalu
  • 3 menit membaca

PROKLAMASI kemerdekaan Indonesia bergema dari rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Hari bersejarah itu berlangsung khidmat dan sederhana. Tapi, di berbagai daerah, tak banyak orang tahu apa yang terjadi pada 17 Agustus 1945.


“Karena gaungnya enggak ada, maka Bung Karno perintahkan ke bapak saya, kirim anak-anak Barisan Pelopor ke daerah asalnya. Umumkan bahwa Indonesia sudah merdeka,” tutur Tanto Sudiro (79) kepada Historia.ID. Tanto Sudiro merupakan putra bungsu Sudiro yang dikenal sebagai wali kota kemudian gubernur Jakarta.


Ketika Proklamasi kemerdekaan, Sudiro sebagai komandan Barisan Pelopor atau Shuisintai, organisasi sayap militer Jawa Hookookai (Kebaktian Rakyat Jawa). Menjelang dan sesudah Proklamasi kemerdekaan, Barisan Pelopor berperan dalam pengerahan massa dan menyebarluaskan berita kemerdekaan.


Sudiro bersama anggota Barisan Pelopor berusaha menyiarkan Proklamasi kemerdekaan melalui radio, pers, dan kurir yang bisa dipercaya. Beberapa anggota Barisan Pelopor yang berpengalaman ditunjuk untuk berangkat ke daerah. Samaun Bakri dan Khalid Rasyidi ke Keresidenan Banten, Sarwoko ke Surakarta, Ir. Sakirman ke Keresidenan Kedu, dan Sumaryo Suryopranoto ke Yogyakarta. Mereka umumnya berasal dari daerah-daerah keresidenan tersebut.


Selain menjalankan tugas negara, mereka dapat mengunjungi keluarga. Tanda tangan Sudiro sebagai komandan Barisan Pelopor sangat berpengaruh, khususnya kepada Suyatman, kepala Jawatan Kereta Api di Jakarta Kota. Pemegang surat jalan yang ditandatangani Sudiro bisa naik kereta api gratis ke mana saja. Tapi, Sudiro tak membekali uang sangu. Maklumlah, dalam suasana perjuangan kondisi keuangan negara masih prihatin. Para utusan Barisan Pelopor itu mesti mencari uang sendiri untuk bekal perjalanan.


“Yang saya pilih untuk menyebarluaskan Proklamasi bagi daerah Keresidenan Kediri ialah seorang tokoh yang berasal dari daerah tersebut, yaitu Pak Jenggot alias Ismangunwinoto,” ungkap Sudiro dalam kumpulan tulisan, Pelangi Kehidupan. “Ismangunwinoto tampangnya seram. Ini disebabkan jenggotnya yang lebat, sehingga nama panggilannya yang populer Pak Jenggot.”


Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, dan potret ayahnya. (Bisri/Historia.ID).
Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, dan potret ayahnya. (Bisri/Historia.ID).

Sudiro mengenang, kali pertama kenal Ismangunwinoto pada 1932. Saat itu, Kongres Indonesia Raya dihelat dan menjadi penampilan perdana Sukarno di depan publik. Sudiro bertugas sebagai panitia, sedangkan Ismangunwinoto menjadi penjaga pintu masuk ke rapat-rapat tertutup. Setelah menutup pintu, dia duduk di samping pintu sambil memegang pentungan. Sudiro masih ingat betapa sangarnya Ismangunwinoto waktu itu.


Setelah sempat terpisah, Sudiro dan Ismangunwinoto berjumpa lagi di Jakarta sekira 1944. Ismangunwinoto menjadi anggota Barisan Pelopor, sedangkan Sudiro menjadi komandannya. Ketika menerima surat jalan dari Sudiro menuju Kediri, Ismangunwinoto berusaha sendiri mencari uang bekal perjalanan. Dia menuju sebuah bank swasta, Bank Beringin di Jalan Kramat, Jakarta Pusat. Kepada direktur bank, Ismangunwinoto meminta sejumlah uang.


“Mana borg-nya (jaminan)?” tanya direktur.


Borg? Dalam keadaan sekarang ini saudara minta borg dari saya?” hardik Ismangunwinoto.


“Ya,” balas direktur.


“Baiklah,” kata Pak Jenggot. “Kalau saudara tetap menghendaki borg, ini borg saya.”


Tanpa tedeng aling-aling, Ismangunwinoto mencabut golok lalu memotong telinganya. Dalam kondisi berdarah-darah, dia menyerahkan bagian tubuhnya yang terpotong itu kepada direktur bank. Kuping itulah yang diserahkannya sebagai jaminan kepada pihak bank.


“Takutlah orang-orang. Satu bank itu gempar. Akhirnya dikasih duit. Jadi dia pergi [ke Kediri],” ujar Tanto Sudiro.


Menurut sejarawan Aminuddin Kasdi, situasi di Kediri pasca-Proklamasi kemerdekaan agak berbeda dengan daerah lain yang relatif lebih tenang dan terbuka bagi para pejuang. Di Kediri, tentara Jepang terbilang kuat untuk mengamankan daerah tersebut. Polisi rahasia Kenpeitai masih menjadi momok bagi para pejuang setempat.


“Lain lagi di Kediri. Meskipun pada 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan, dan 15 Agustus 1945 Jepang telah menyerah kepada Sekutu, sampai akhir Agustus tentara Jepang masih memegang senjata dan kekuasaan,” catat Aminuddin dalam “Berita Proklamasi di Surabaya”, termuat dalam kumpulan tulisan, Sejarah Berita Proklamasi Indonesia suntingan Jajat Burhanuddin dan Amurwani Dwi Lestariningsih.


Situasi yang agak berbahaya itulah yang menunggu Ismangunwinoto ketika pulang ke kampung halamannya di Kediri. Menurut Tanto Sudiro, setelah kepulangannya ke Kediri, Ismangunwinoto tak terdengar lagi kabarnya. Diduga kuat nasibnya berakhir di tangan tentara Jepang.


Sementara itu, bagi Sudiro, Pak Jenggot alias Ismangunwinoto tak sekadar sahabat seperjuangan. Dia adalah satu dari sekian banyak pejuang Indonesia yang hilang dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tak hanya mengorbankan kupingnya, dia juga mengorbankan nyawa demi Indonesia merdeka.


“Sejak dia pamit dari saya, tidak pernah dia kembali. Konon di daerah Kediri dia telah dibunuh oleh Jepang, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana makamnya. Saya anggap dia pahlawan yang hilang,” kenang Sudiro.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Dari mimpi didatangi roh raja Klungklung hingga “janjian” dengan Bung Hatta enggan dimakamkan di TMP Kalibata. The untold story Ahmad Subardjo.
bg-gray.jpg
Setelah Indonesia merdeka, Ahmad Subardjo ditunjuk sebagai menteri luar negeri pertama. Sepanjang hidupnya berkutat dengan urusan diplomasi dan hubungan luar negeri.
bg-gray.jpg
Memperingati Krakatau bukan semata-mata mengenang 1883. Kita perlu membaca kembali lanskap yang masih hidup.
bg-gray.jpg
KH Chalimi once led the Surabaya student movement opposing Suharto’s re-election as president. He was arrested and then detained at the notorious Kalisosok Prison.
Plastik benda penting dalam konsumerisme modern ini diperkirakan akan menjadi sumber bencana lingkungan di masa depan.
Plastik benda penting dalam konsumerisme modern ini diperkirakan akan menjadi sumber bencana lingkungan di masa depan.
Keberagaman dalam Imlek menjadi semangat baru bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan pandemi covid-19.
Keberagaman dalam Imlek menjadi semangat baru bagi bangsa Indonesia untuk bangkit melawan pandemi covid-19.
Dari 194 ribu koleksi, 817 benda bersejarah Museum Gajah mengalami kerusakan ringan hingga berat pasca-kebakaran.
Dari 194 ribu koleksi, 817 benda bersejarah Museum Gajah mengalami kerusakan ringan hingga berat pasca-kebakaran.
Ketika pemerintah Hindia Belanda tak mampu menghadapi gelombang pandemi Flu Spanyol secara menyeluruh, para sinshe muncul sebagai penyelamat.
Ketika pemerintah Hindia Belanda tak mampu menghadapi gelombang pandemi Flu Spanyol secara menyeluruh, para sinshe muncul sebagai penyelamat.
Usaha memutihkan kulit sudah dilakukan sejak lama. Ada risiko kesehatan yang mengintai.
Usaha memutihkan kulit sudah dilakukan sejak lama. Ada risiko kesehatan yang mengintai.
Anthem “You’ll Never Walk Alone” tak pernah lekang mengiringi Liverpool di masa jaya maupun nestapa.
Anthem “You’ll Never Walk Alone” tak pernah lekang mengiringi Liverpool di masa jaya maupun nestapa.
transparant.png
bottom of page