Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- A.A. Maramis Menikmati Masa Pensiun
ENAM lelaki berkumpul di kediaman mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta, Jalan Diponegoro 57 Jakarta, Selasa pagi 28 Januari 1975. Empat di antaranya founding father Republik Indonesia yang masih tersisa: Hatta, Achmad Subardjo, Sunario, dan Abdul Gafar Pringgodigdo. Dua lainnya lebih muda, yaitu Imam Pratignyo dan Soerowo Abdoelmanap. Mereka sedang rapat. Laporan Pratignyo mengawali rapat. Ada donatur tanpa nama yang bersedia membiayai kunjungan ke kediaman Mr. Maramis. “Pada prinsipnya tawaran itu kita terima, hanya saya tidak tahu apakah Mr. Maramis bersedia pulang atau tidak,” balas Hatta, yang termuat dalam Uraian Pancasila, karangan Panitia Lima. Jauh di belahan lain bumi. Sepasang lansia menghuni sebuah flat di tepi Jalan Via Besso No. 23a–69 Lugano, Swiss (Switzerland). Si lansia lelaki berkulit cokelat gelap, menandakan dia bukan orang asli Swiss. Sedangkan si lansia perempuan berkulit putih, seperti kebanyakan orang Eropa. Pasangan itu adalah Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) dan istrinya, Elizabeth Marie Diena Veldhoedt (Beth). Alex adalah founding father Republik Indonesia lainnya yang masih hidup. Dia lah ”Mr. Maramis” yang Hatta dan Pratignyo bicarakan dalam rapat. Berderet bakti Alex kepada Republik Indonesia. Pada masa kolonial, Alex pernah menjadi anggota Perhimpunan Indonesia yang menyebarluaskan gagasan kebangsaan. Dia juga anggota BPUPKI, serta Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta pada tahun 1945. Pada awal Indonesia merdeka, Alex menjadi menteri keuangan kabinet Presidensial (kabinet pertama), Amir Sjarifuddin I dan II, serta Hatta I. Sempat pula menjadi Menteri Luar Negeri pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Alex juga berkiprah di berbagai perundingan internasional. Di antaranya adalah Konferensi PBB di Havana 1947-1948, dan anggota Mahkamah Arbitrase Indonesia—Belanda tahun 1950. Sempat juga menjabat Duta Besar Istimewa RI, Dubes Filipina, Jerman Barat, serta Uni Soviet-Finlandia. Pemerintah mengganjar Alex dengan banyak penghargaan atas baktinya tersebut. Alex mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Tingkat III pada 17 Agustus 1960, Bintang Gerilya pada 5 Oktober 1961, juga Pahlawan Kemerdekaan Indonesia di tahun 1969. Di Negeri Orang Lugano berjarak 350 km dari ibukota Bern. Di sana, Alex dan Beth yang telah renta hidup berdua saja di dalam flatnya. Lexy Maramis, anak semata wayang mereka, hanya sepekan sekali berkunjung. Lexy sudah berkeluarga dan menetap di kota lain. Alex setidaknya sudah menetap di Lugano seusai menjabat Dubes Soviet dan Finlandia pada 1957. Pensiun pada 1959, dia lanjut menetap di sana. Bujukan teman-temannya agar kembali ke Indonesia tidak meluluhkan keputusannya itu. ”Pernah Dr. Soebandrio dalam kesempatan mengadakan kunjungan kerja ke Eropah mengajak agar Alex Maramis mau pulang saja ke Indonesia, tapi tawaran itu ditolaknya,” tulis F.E.W. Parengkuan dalam A.A. Maramis, SH, terbit 1982. Apa alasan Alex untuk menetap di Lugano? Parengkuan telah mewawancarai 12 orang dekat Alex. Mulai dari Sammy Lee kerabat Alex, sampai sahabat terdekat Alex, Arnold Wilson Mononutu. Tidak satu pun tahu alasan Alex enggan kembali ke Indonesia. Banyak kerabat Alex yang tinggal di tanah air. Apalagi di Manado, tanah kelahiran keluarga besar Maramis. Keluarganya juga memiliki hunian di Jalan Merdeka Timur 9, Jakarta. Tapi Alex justru memilih Lugano. Alex yang pendiam itu sangat menjaga privasi. Karenanya, Parengkuan terpaksa menebak-nebak. ”Mungkin karena ia tidak menyetujui garis politik luar negeri dari Kabinet Kerja I pimpinan Presiden Sukarno yang juga merangkap Perdana Menteri, yang diterapkan oleh Dr. Soebandrio yang waktu itu selaku Menteri Luar Negeri. Atau mungkin karena ia memang ingin terus berada di luar negeri berhubung alasan-alasan pribadi,” papar Parengkuan. Kawan Alex lainnya Achmad Subardjo juga ikut-ikutan menebak. Tersebut di dalam Uraian Pancasila, Subardjo mengira Alex ingin kembali ke tanah air, namun terhalang sang istri. Tambahan lagi sang anak Lexy juga sudah berkeluarga di sana. Lain lagi dengan Tempo. Artikelnya ”Pulang ke Indonesia” edisi 17 Juli 1976 memuat pernyataan Alex. ”Bagaimana saya bisa hidup (di Indonesia) dengan gaji yang begitu kecil.” Alex mengatakannya pada tahun 1957. Tapi, Tempo tidak menjelaskan konteks Alex berbicara. Keengganan Alex pulang ke Indonesia masih misteri. Panitia Lima: Bakti Alex kepada Republik Lugano, Selasa 18 Maret 1975. Alex dan Beth masih berdua saja di dalam flatnya. Mereka jarang disambangi orang. Tetiba pintu flat diketuk. Alex membuka pintu. Seorang tamu istimewa. Dia adalah Sunario, rekan Alex semasa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dua sekawan itu saling melepas rindu. Sunario khusus datang dari Jakarta untuk bertemu Alex. Selain bersilaturahmi, ada agenda lain yang dibawanya, yaitu naskah tafsir Pancasila dari Panitia Lima di Jakarta. Kelahiran naskah tersebut tidak lepas dari permintaan Presiden Soeharto. Awal dekade 1970 merupakan masa kritis bagi Orde Baru. Perjalanan pemerintahannya diwarnai berbagai demonstrasi mahasiswa, karena kebijakan Pemerintah dianggap tidak pro rakyat. Pemerintah butuh stabilitas politik, butuh legitimasi Pancasila atas kebijakan-kebijakannya. Tafsiran Pancasila harus sejalan dengan kehendak Pemerintah. Presiden Suharto mewacanakannya dalam pidatonya di Universitas Gadjah Mada, Desember 1974. “…Ia meminta para akademisi di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta untuk menggunakan 'metode ilmiah' untuk menyusun interpretasi standar,” terang David Bourchier, dalam Illiberal Democracy in Indonesia: The Ideology of the Family State. Kemudian Soeharto meminta Hatta, Subardjo, Sunario, Pringgodigdo, dan Alex untuk merumuskan tafsir Pancasila. Panitia Lima terbentuk, dibantu Pratignyo dan Surowo sebagai sekretarisnya. Panitia bekerja di kediaman Hatta dalam empat rapat. Berturut-turut pada 10 dan 28 Januari, serta 11 dan 18 Februari 1975. Hanya empat founding father yang ikut. Sedangkan Alex berhalangan, karena sedang di luar negeri. Panitia kemudian menghasilkan naskah Uraian Pancasila. Di kemudian hari, naskah Penerbit Mutiara terbitkan pada 1977. Naskah terdiri dari dua bagian; asal usul Pancasila dan tafsir masing-masing sila. Orde Baru berusaha mengkerdilkan peran Sukarno terhadap Pancasila. Kemudian, sejarawan cum tentara, Nugroho Notosusanto mengangkat Muhammad Yamin dan Mr. Supomo dalam Teks Otentik Proklamasi dan Rumusan Otentik Pantjasila. “…Di mana Nugroho menyatakan bahwa karena sebagian besar landasan Pancasila telah dilakukan oleh Yamin. dan Supomo,” papar Bourchier. Sebaliknya, Uraian Pancasila justru menunjukkan Sukarno adalah penggagas Pancasila. Bedanya, pada pidato pertamanya di BPUPKI, Sukarno meletakkan sila Ketuhanan pada bagian akhir. Namun esensinya sama dengan Pancasila saat ini. Hatta di dalam rapat menegaskan bahwa Sukarno-lah yang pertama kali mengusulkan filosofishe grondslag untuk negara, bukan Yamin. “Bung Yamin agak licik,” sebut Hatta. ”Pak Yamin itu pinter nyulap kok!” Pringgodigdo urun komentar. Bagian kedua Uraian Pancasila menerangkan tafsiran sila-sila. Ringkasnya, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa membuat orang Indonesia berperikemanusiaan, adil dan beradab. Darinya lahir persatuan Indonesia. Kemudian sesama bangsa bermufakat dalam hikmah dan kebijaksanaan, untuk mencapai keadilan sosial masyarakat. Praktiknya berwujud pasal-pasal UUD 1945. Uraian Pancasila mengkritik kebijakan ekonomi Pemerintah yang kapitalistik. “Kemakmuran rakyat bukan kemakmuran pribadi beberapa gelintir manusia Indonesia!” cantum naskah itu. Saat rapat, Hatta menegaskan kebijakan Orde Baru dalam mem-Perseroan Terbatas-kan sumber-sumber ekonomi vital amat bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945. Naskah Uraian Pancasila rampung pada 18 Februari. Tapi masih ada yang kurang. Panitia merasa perlu mendapatkan persetujuan Alex. Jadilah Sunario ke Lugano dengan bantuan donatur anonim dan staf KBRI Bern. “Sunaryo khusus pergi ke Lugano agar Maramis turut menandatangani Perumusan Pancasila,” terang Tempo, 17 Juli 1976. Panjang lebar Sunario menerangkan kepada Alex tentang rapat di Jakarta dan naskah Uraian Pancasila. Alex mengangguk-angguk, sembari membaca langsung naskah. Meskipun sudah sepuh, Alex masih bisa menangkap penjelasan-penjelasan Sunario dengan baik. Alex setuju dengan isi naskah. Diapun membubuhkan tanda tangannya. ”Dari antara kelima anggota Panitia Lima, ialah orang terakhir yang menandatanganinya yaitu pada tanggal 18 Maret 1975,” tulis Parengkuan. Lengkaplah founding father yang menandatanganinya. Panitia Lima menyerahkan naskah final Uraian Pancasila tersebut kepada Presiden Suharto pada 23 Juni 1975. Alih-alih menggunakannya, Pemerintah malah menggantinya dengan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) buatan sendiri. Rindu Tanah Air Sekembalinya dari Lugano, Sunario mengabarkan tentang keadaan Alex dan istri yang susah dan kesepian. Hingga Subardjo berkesempatan bertemu Alex pada November 1975. Subardjo kaget melihat keadaan Alex. ”Subardjo dengan mata kepalanya sendiri waktu itu melihat bahwa memang Alex Maramis berada dalam keadaan sakit yang gawat. Keadaan kesehatan dan lingkungan di mana ia kini hidup membuat hati Subardjo terharu,” terang Parengkuan. Dalam pertemuan itu, Subardjo mengajak Alex mengenang masa-masa menjadi mahasiswa di Leiden. Namun Alex tidak bisa mengingatnya. Alex memang sudah lama sakit-sakitan. Tapi sepeninggal Sunario, sakit Alex kian parah. Dia bahkan sempat terserang stroke. Tensi darahnya tinggi, membuatnya sempat dirawat selama enam pekan di rumah sakit di Zurich. Beth setali tiga uang dengan Alex. Jari tangan dan kakinya bengkak akibat rematik. Dalam kondisi itu Beth tetap setia merawat Alex dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Subardjo teringat kepada Pratisto, anak muda yang mengikutinya ke Swiss ketika menjadi Dubes pada 1957-1961. Pada tahun 1975, Pratisto telah menjadi dokter spesialis bedah otak di Bern. Subardjo segera menghubungi Pratisto untuk memintanya merawat Alex. Pratisto menyanggupinya. Semenjak itu, Pratisto bertanggung jawab atas kesehatan Alex. Pada kunjungan pertama, Pratisto langsung paham bahwa sakitnya Alex memang parah. Ingatannya rusak dan sulit diajak berbicara. Jika ditanya sesuatu jawabannya melantur. Tekanan darahnya 220/110, jauh berbanding tensi normal antara 90/60 dengan 120/80. Tapi Pratisto masih yakin Alex bisa sembuh karena melihat fisiknya yang kuat. Pratisto merawat Alex tanpa bayaran. Bahkan biaya obat pun ditanggungnya. Pratisto bersimpati kepada Alex dan menganggapnya seperti orang tua sendiri. Jarak Lugano dengan Bern yang jauh membuat Pratisto hanya mengunjungi Alex sebulan sekali. Pratisto harus meliburkan praktik kliniknya ketika kunjungan. Perjalanan ke Lugano memakan waktu sepuluh jam berkereta pulang pergi, dengan waktu memeriksa Alex dua jam lamanya. Pratisto harus menghabiskan minimal 12 jam dalam sekali kunjungan. Pratisto menyimpulkan bahwa Alex sakit-sakitan karena kesepian. “Alex Maramis sesungguhnya sedang mengalami tekanan batin akibat terisolasi selama hampir 20 tahun,” sebutnya seperti yang ditulis Parengkuan. Masyarakat Swiss umumnya individualistis. Mereka beranggapan seseorang harus dapat mengurus dirinya secara mandiri. “Di dalam masyarakat individualis, orang-orang hanya memperhatikan dan menjaga dirinya dan keluarga intinya saja,” terang laman https://www.hofstede-insights.com/country/switzerland/ . Budaya tersebut melekat sampai saat ini. ”Baik warga Swiss yang berbahasa Jerman maupun yang berbahasa Prancis serta negara-negara Nordik mendapat skor tinggi sebagai masyarakat individualis,” papar tulisan yang termuat dalam laman https://www.norgesklubben.ch/culture-and-workplace-values-in-switzerland-and-the-nordics/?lang=en . Budaya individualis berseberangan dengan karakter Alex yang dibesarkan dalam budaya Nusantara yang komunitarian. Alex mengalami gegar budaya sehingga sulit hidup di Lugano. Alex ingin pulang ke tanah air. Keinginannya itu sudah muncul sejak tahun 1972. Dia ingin menghabiskan masa hidupnya di tengah-tengah orang-orang dekatnya. Beth juga punya harapan yang sama. “Coba saudara bayangkan, bagaimana kalau salah satu dari kami meninggal di tanah yang jauh, sedangkan kami ingin berkubur di negeri tercinta ini,” ucap Beth yang dimuat Buana Minggu, edisi 11 Juli 1976. Setahun kemudian, Alex berkirim surat kepada adiknya, Andries Alexander Maramis (Inyo) di Jakarta. Alex meminta dicarikan hunian di Menteng, Jakarta Pusat. Namun urung karena harga tanahnya selangit. Kerinduan Alex kepada tanah air semakin menjadi. Masalahnya, butuh banyak biaya untuk pulang. Paguyuban Minahasa di Jakarta, Kerukunan Keluarga Kawanua pun mengumpulkan sumbangan untuk mengongkosi kepulangan Alex dan Beth. Rapat-rapat digelar di rumah keluarga Maramis, Jalan Merdeka Timur 9, Jakarta. Donasi berdatangan. Beberapa nama donatur di antaranya adalah Jan Walandow, mantan tokoh Permesta Letkol Ventje Sumual, dan F. Sumanti. Lainnya menyumbang secara anonim. Panitia Penyambutan Kedatangan Mr. A.A. Maramis dibentuk. Mayoritas beranggotakan pegiat Kawanua. Ada juga dari luarnya, seperti Sunario, juga Achmad Subardjo yang menjadi ketua panitianya. Panitia bekerja keras, menghubungi instansi-instansi terkait untuk dimintai bantuannya. Di antaranya adalah Sekretariat Kabinet, Departemen Luar Negeri (kini Kementerian Luar Negeri), KBRI, dan PT Garuda. Dana terkumpul, proses bisa jalan. Hingga akhirnya keinginan Alex terkabul. Pada Minggu sore 27 Juni 1976, Alex menjejakkan kakinya di atas aspal Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Putra bangsa yang hilang kini pulang.*
- Biola WR Supratman Punya Cerita
DARI sebuah ruangan bertuliskan “Gudang Koleksi”, kurator Museum Sumpah Pemuda (Muspada) Eko Septian membawa sebuah benda berselubung beludru hitam ke atas meja kerja di ruangan lain. Dengan cermat dan hati-hati, Eko yang mengenakan sarung tangan menyingkap sebuah biola tua lengkap dengan bow (stik penggesek) dari balik selubungnya. Segenap bagian biola –dawai, upper bout dan lower bout (badan biola), chinrest (sandaran pipi), neck dan pegbox – berukuran standar 4/4 dengan panjang 36 centimeter dan lebar 20 cm itu masih sangat apik. Dari sela-sela salah satu f-holes (lubang badan depan) masih terlihat jelas sebuah marking di sisi dalamnya bertuliskan “Nicolaus Amatus fecit”. “Memang uniknya ini biola model Nicolaus Amatus tapi bukan berarti buatan Nicolaus Amatus. Di zamannya ini biola murah. Banyak ada di pasaran. Yang bikin mahal biola ini tentunya nilai sejarahnya,” terang Eko kepada Historia. Biola bersejarah itu adalah biola asli milik Wage Rudolf (WR) Supratman yang melantunkan lagu “Indonesia Raya” untuk pertamakalinya di Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Momen yang hari ini 94 tahun lampau ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Baca juga: Supratman sebagai Buronan Biola asli Supratman model "Nicolaus Amatus fecit" (Randy Wirayudha/Historia) Biola WR Supratman jadi salah satu “bintang” sejak 1974 atau setahun setelah pemugaran gedung yang berlokasi di Jalan Kramat No. 106, Jakarta Pusat. Biola berbahan kayu cyprus (jati Belanda), maple Italia, dan eboni Afrika Sekatan itu direparasi pada 1995. Sejak saat itu biola asli disimpan di gudang koleksi, sementara biola yang diapajang di ruang pamer utama sekadar replika. “Replikanya juga dibuat di (pengrajin) Solo. Tempat yang sama waktu bagian leher biola aslinya direparasi. Sementara biola yang asli ini memang di gudang karena keluarga (ahli waris, red. ) pun setuju daripada kenapa-kenapa karena sudah rapuh juga,” tambahnya. Biola asli itu disimpan dengan cermat di sebuah lemari besi. Untuk perawatannya digunakan sejumlah bahan non-kimia. Salah satunya bawang putih sebagai pengawet alami yang ditaruh di lemarinya. “Memang kalau perawatan kita sederhana ya. Kalau konsep yang dipegang museum (di bawah) Kemdikbud Ristek, sekarang kembali ke alam. Kita enggak pengin bersentuhan dengan bahan kimia lagi. Jadi pakai beberapa bahan alami,” imbuh Eko. Baca juga: Kisah Rumah Tempat Lahirnya Sumpah Pemuda Musikalitas Jazz hingga Lagu Kebangsaan Supratman berasal dari keluarga besar yang tergolong berada. Ia termasuk dimanja sejak kecil. Pasalnya Supratman yang lahir di Jatinegara, Batavia (kini Jakarta) pada 9 Maret 1903 –kendati merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara– merupakan satu-satunya anak lelaki yang bisa hidup dengan sehat hingga dewasa. Dua kakak lelakinya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa sejak kecil. Menurut Anthony C. Hutabarat, yang juga masih punya pertautan kerabat dengan Supratman, dalam biografi Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman , ayah Supratman bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo alias Abdoelmoien. Ia merupakan prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda, red .) yang menikahi Siti Senen yang juga berasal dari kalangan priyai. “Soepratman merupakan anak emas dan dimanja oleh keluarganya. Darah seni Soepratman turun dari kakeknya, Mas Ngabehi Notosoedirdjo, yang tergolong kaum priyai kaya dan memiliki persawahan yang luas dan terkenal di bidang kesenian, khususnya seni musik dan seni suara Jawa,” tulis Anthony. Titik balik hidup Supratman terjadi usai ibunya wafat saat Supratman masih berusia enam tahun. Di saat itu, ayahnya sudah pensiun dari KNIL sehingga pendidikan Supratman dipercayakan kepada kakak sulung, Roekijem Soepratijah, bersama sang suami Willem van Eldik di Makassar. Baca juga: Dari Timbul Lahirlah Indonesia Raya Saat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Supratman mulai mengenal seni musik dari Van Eldik. Supratman diajari Van Eldiklah memetik gitar dan menggesek biola saban pulang sekolah dari nol hingga mahir. Ia akhirnya bisa menciptakan karya sendiri. “Jadi biola (asli di Muspada) ini memang dikasih kakak iparnya untuk digunakan Supratman berkarya ya. Kalau dari kisahnya memang diberikan sebagai hadiah (ulang tahun ke-17) karena sejak awal Supratman memang berguru dari kakak iparnya yang juga musisi itu,” sambung Eko. Willem van Eldik (kiri) & Roekijem Soepratijah yang merawat Supratman kecil (Repro: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman ) Seiring pendidikannya yang cemerlang di ELS Makassar sampai kemudian tamat Normaal School (sekolah keguruan), Supratman sering “ngamen” di berbagai tempat elite di Makassar dengan memainkan musik jazz. Ia menghibur para serdadu KNIL hingga kader-kader Partai National Indische Partij. “Selain mampu menguasai teknik bermain (biola) lagu-lagu klasik ciptaan (Frédéric) Chopin atau (Ludwig van) Beethoven, Soepratman bersama Van Eldik mendirikan kelompok jazz bernama ‘Black & White’. Band ini lama-kelamaan terkenal di seluruh Makassar. Karena gesekan biola Soepratman benar-benar mempesona dan mengesankan, ia sangat disukai para penggemar dansa. Suatu ketika band ini memperkenalkan diri kepada umum dengan menyelenggarakan pagelaran musik jazz yang penampilannya memperoleh sambutan luar biasa,” ungkap Anthony. Baca juga: Jejak-jejak Peranakan dalam Alunan Sejarah Jazz Namun kehidupan malam itu lama-kelamaan menimbulkan rasa bosan di benak Supratman. Minatnya lalu teralihkan pada banyak perkara politik di Hindia Belanda setelah bertemu dan kenal dekat dengan politikus sosialis Hendricus Josephus Franciscus Marie “Henk” Sneevliet pada 1924. “Soepratman kemudian makin sering menghadiri ceramah dan diskusi politik sampai-sampai PID (Politieke Inlichtingen Dienst) selalu mengamati. Di kantor pengacara tempat ia bekerja, Soepratman membaca satu karangan politik yang mengutip majalah Hindia Poetra . Tulisan mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri Belanda memiliki kesadaran politik dan rasa kebangsaan yang tinggi. Membaca tulisan itu, kesadaran politik dan rasa kebangsaan Soepratman semakin terangsang,” sambungnya. Van Eldik (kiri) & Supratman (berdiri, ketiga dari kiri) mendirikan band jazz "Black & White" (Repro: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman ) Di tahun yang sama, Supratman berlayar ke Jawa. Ia menumpang hidup di rumah kakaknya yang lain, Roekinah Soepratirah, di Surabaya, sebelum berpindah-pindah ke Cimahi, Bandung, kemudian Batavia pada 1925. Demi menyambung hidup, Supratman alih profesi jadi jurnalis di suratkabar Sin Po . Supratman pun mulai dikenal pula oleh para pemuda pergerakan di circle Indonesische Club (IC). “Ia juga insyaf bahwa perlu ada lagu-lagu pergerakan. Lagu yang mengobarkan semangat juang rakyat. Waktu itu sudah ada lagu yang dapat dianggap lagu pergerakan tapi belum cukup menggugah semangat berjuang. Lagu itu ialah ‘Dari Barat Sampai ke Timur’, lagu ciptaan Soepratman yang pertama. Hasratnya menggubah lagu yang dapat jadi lagu kebangsaan makin bertambah setelah tersiar berita dari IC yang dimpinpin Bung Karno, bahwa perlu adanya segera lagu nasional,” tulis Anthony lagi. Baca juga: Jalan Panjang Indonesia Raya Menjelang Kongres Pemuda II itulah, pertengahan 1928, lagu “Indonesia Raya” diciptakan. Tepat di hari kedua atau agenda terakhir kongres pada 28 Oktober 1928, Supratman mengalunkannya dengan gesekan biolanya yang syahdu dan menghanyutkan. “Soepratman menggesek biolanya dengan penuh hikmat. Para hadirin terdiam mendengarkannya. Suasana ruangan hening dan tenang. Kemudian dilanjutkan dengan koor pemuda pemudi dari Perkumpulan Pelajar Indonesia membawakan lagu ‘Indonesia Raya’ yang dipimpin langsung oleh Soepratman dengan diiringi Orkes Indonesia Merdeka. Para hadirin terpaku dibuatnya,” ungkapnya. Di hari itu juga “Indonesia Raya” ditetapkan jadi lagu kebangsaan Indonesia, seiring “sumpah suci” yang diucapkan para pemuda Indonesia yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Lantaran itulah kemudian lagu itu jadi lagu yang “haram” diperdengarkan di muka publik oleh pemerintah Hindia Belanda. Baru masa pendudukan Jepang “Indonesia Raya” boleh diperdengarkan berurutan dengan lagu kebangsaan Jepang, “Kimigayo”, sebagaimana bendera Merah-Putih diizinkan berkibar bedampingan dengan bendera Jepang. Dari Tangan Keluarga ke Museum Sangat disayangkan, Supratman sudah keburu berpulang sebelum lagu ciptaannya nan penuh makna itu tersiar luas di masa kemerdekaan. Supratman wafat di Surabaya pada 17 Agustus 1938. Kendati begitu, ia amat yakin negerinya bakal merdeka. “Nasibku sudah begini. Inilah yang disukai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal. Saya ikhlas. Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka,” kata Supratman dua hari sebelum wafat kepada Oerip Kasansengari dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan W. R. Soepratman, Pentjiptanja yang juga dikarang Oerip. Oerip Kasansengari termasuk kerabat dekat Supratman yang turut membesuk di saat-saat terakhirnya. Hubungan keluarga terjalin lewati adik Oerip, B. M. Santoso Kasansengari, yang menikahi adik Supratman, Gijem Soepratinah. Baca juga: Peranakan Tionghoa dan Lagu "Indonesia Raya" Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1973 di Gedung Sumpah Pemuda yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda (Repro Muspada) Berbeda dari lagu “Indonesia Raya” yang telah menjadi milik bangsa, nasib biola Supratman berpindah-pindah tangan. “Biola ini tetap dipegang Supratman sampai setelah beliau wafat dan yang pegang itu jatuh ke tangan kakaknya, Bu Roekijem. Beliau memegang biola itu sampai 1950-an. Sempat pada 1960-an Pemda Jawa Timur berencana membangun sebuah museum dan salah satu yang ingin dimasukkan ke museum di kota Surabaya itu ya biolanya Supratman. Tapi sampai berapa tahun kemudian museum itu enggak pernah ada (terealisasi, red. ),” ujar Eko. Biola Supratman tetap disimpan ahli warisnya di Surabaya. Dari satu kakak ke kakak yang lain lantaran Supratman meninggal dalam keadaan masih membujang. Baca juga: Indonesia Raya Setelah Sumpah Pemuda Pada 1974, biola itu diserahkan ke Muspada. Kisahnya bermula dari gagasan Raden Soediro Hardjodisastro, ketua Yayasan Gedung-Gedung Bersejarah DKI Jakarta, yang ingin memugar beberapa bangunan bersejarah untuk dijadikan museum. Di antaranya Museum Gedung Joang 45, Museum Kebangkitan Nasional, dan Museum Sumpah Pemuda. “Nah Pak Soediro ini yang menghubungi Pak Oerip. Mereka berkomunikasi dengan saling membalas surat. Membicarakan tentang keinginan mengisi Gedung Sumpah Pemuda (nama lama Muspada) dengan beberapa koleksi, di antaranya koleksi Moh. Yamin dan Supratman,” jelas Eko. Biola WR Supratman versi replika (kiri) dan versi aslinya (Randy Wirayudha/Historia) Gayung pun bersambut. Oerip bersedia ditugasi Soediro untuk mengumpulkan dan mengkurasi sejumlah benda koleksi mendiang Supratman. Yang terpenting, biola Supratman yang masih di tangan salah satu kakaknya. “Pencariannya itu dari 1973 bertepatan dengan pemugaran gedung (Muspada) ini. Kan ini dipugar pada 20 Mei 1973 tapi belum ada isinya. Pak Soediro minta Pak Oerip mencari dengan penugasan dan diberi honor. Setelah selesai tahun 1974, Pak Soediro dan Pak Oerip sama-sama menandatangani dokumen itu, yang intinya berisikan serah-terima semua koleksi yang berhubungan dengan WR Supratman. Ini jadi salah satu legalitasnya,” lanjutnya. Baca juga: Perempuan dalam Kongres Pemuda Meski mendekam di gudang, bukan berarti biola yang asli itu tak pernah “diangin-angini”. Biola bernomor inventaris 0002/07 itu bahkan pernah dua kali dimainkan Muhammad Idris Sardi, pada peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2005 dan 2007. “Kita sempat sedikit bingung karena Pak Idris pernah berpesan, biolanya harus sering dimainkan. Dan menjadi ganjil karena seluruh pegawai di sini enggak ada yang bisa main biola,” tandas Eko setengah bergurau. Ruang pamer di Muspada yang menyuguhkan koleksi WR Supratman, termasuk biola replikanya (Randy Wirayudha/Historia)
- A.A. Maramis Bertemu Belahan Jiwa
PEREMPUAN tua blasteran Indo berbusana hitam-hitam itu duduk di kursi. Matanya memandang sebuah foto yang terpajang di samping pajangan bunga anggrek ungu di atas meja. Foto itu memuat Alexander Andries Maramis (Alex Maramis). Perempuan tua itu Elizabeth Marie Diena Veldhoedt atau karib disapa Beth, istri Alex. Di hadapannya duduk dua wartawan majalah Kartini , Titie dan Lies Said. ”Saya akan tetap di sini mendampingi Alex, sampai hayatku terlepas dari badan,” tutur Beth kepada dua wartawan tersebut dalam Kartini edisi nomor 73, Agustus 1977. Beth masih tidak percaya bahwa Alex telah meninggalkannya untuk selamanya. Alex sudah lama sakit-sakitan semenjak tinggal di Lugano, Swiss. Namun setelah kembali ke Jakarta pada Juni 1976, keadaan Alex perlahan membaik. Sampai Alex jatuh sakit lagi pada 17 Mei 1977. Sejak itu, keadaan Alex semakin memburuk hingga menemui ajalnya pada 31 Juli 1977. Beth masih teringat-ingat tiap babak perjalanan hidupnya dengan Alex. Kehidupan rumah tangga Alex dan Beth terbilang harmonis. Sepanjang pernikahannya, Beth telah mengikuti jalan hidup Alex, mulai dari mengarungi bahaya pada masa awal kemerdekaan hingga hidup kesepian di Lugano. “Rasanya, sepanjang kehidupan perkawinan kami, yang terasa hanya manisnya. Saling pengertian, saling menghargai dan saling menghayati terutama saling mencintai adalah resep perkawinan kami,” ucap Beth kepada dua wartawati itu. Bertemu Belahan Jiwa Usai lulus dari Universitas Leiden pada 1924, Alex kembali ke Hindia Belanda. Bermodal gelar Meester in de Rechten yang digondolnya, Alex bertekad untuk menjadi advokat partikelir di tanah Jawa. Karir Alex sebagai advokat yang independen dimulai pada medio 1920-an di Semarang. Alex pun mulai banyak menangani kasus. Dari sekian banyak kasus yang ditanganinya, ada satu kasus yang terpenting, kasus perceraian. Kasus tersebut membawa Alex ke babak baru hidupnya. Suatu hari pada Oktober 1928, seorang perempuan Indo datang meminta bantuan hukum pada kantor Alex Maramis. Nama perempuan itu Elizabeth Marie Diena Veldhoedt (Beth). Dia beranak satu dan sedang menghadapi keretakan rumah tangga. Koran De Locomotief 2 November 1928 menyebut Beth ingin bercerai dari suaminya, Ludovik Bartolomeus Tadic, seorang indo turunan Perancis. Keduanya bermukim di Pati, Jawa Tengah. Koran tersebut menyebutkan bahwa Lady Elisabeth Marie Diena Veldhoedt meminta juru sita di Semarang Cornelis Mirande untuk memanggil Ludovik Bartolomeus Tadic untuk menghadiri sidang umum Majelis Peradilan Semarang pada 8 Maret 1928. Deli Courant edisi 4 Juni 1928 menyebutkan bahwa Beth mengajukan cerai karena Ludovik kedapatan selingkuh. Perselingkuhan adalah tindakan tak termaafkan dalam pandangan Beth yang merupakan seorang Kristen taat. Beth telah lama mengusahakan perceraian itu, namun belum membuahkan hasil. Hingga dia mendatangi kantor tempat Alex Maramis bekerja. Kota Pati tempat Beth bermukim termasuk wilayah kerja Alex sebagai advokat yang berkedudukan di Semarang. Mendengar keluhan Beth, Alex pun membantu mengurus kasus tersebut. Ujung keputusan pengadilan adalah mengabulkan permintaan cerai Elizabeth. Hubungan Alex dengan Beth tak berhenti di situ. Arkian perceraian Beth, hubungan pengacara dengan klien berubah menjadi hubungan yang lebih personal. Benih-benih cinta mulai tumbuh. Saat bersamaan, karier Alex sebagai advokat membawanya hijrah ke Sumatera, tepatnya di Kota Palembang. Wilayah kerja Alex di Palembang mencakup Jambi dan Lampung. Semasa Alex di Palembang, keduanya telah menjalin hubungan asmara. Hubungan mereka kemudian berujung kepada pernikahan. FEW Parengkuan dalam bukunya A.A. Maramis, S.H., menyebut Alex dan Beth menikah pada 1928. Namun keterangan berbeda datang dari Bataviaasch Nieuwsblad . Koran tersebut pada edisi 15 September 1930 mencantumkan iklan baris tentang Alex dan Beth yang baru saja bertunangan. Disebutkan pula bahwa pernikahan itu akan dilaksanakan pada 3 Oktober 1930 di kota Pati Jawa Tengah. ”Pemberitahuan Unik dan Umum: telah bertunangan Tuan A A. Maramis dan Nona Elizabeth Veldhoedt. Akad nikah 8 Oktober 1930 di Pati,” tulis iklan tersebut. Mengarungi Lautan Rumah Tangga Pernikahan membawa persoalan baru bagi Alex dan Beth. Salah satunya menyangkut ras Beth yang blasteran Belanda pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah Jepang memang dikenal sangat anti Eropa. Firman Lubis, dalam Kenangan Semasa Remaja bercerita tentang tindakan Jepang terhadap orang Indo dan Eropa. Orang-orang Belanda asli dimasukkan ke dalam kamp di Kampung Cideng, Jakarta. Sedangkan yang berdarah indo masih bisa hidup bebas. Tetapi, jika dirasa ras Eropanya dominan, orang itu akan ikut masuk kamp. Tapi Beth beruntung. Dia bisa lolos dari sergapan Jepang hanya dengan meletakkan patung Budha. Alex mendapatkan patung itu dari pengusaha Jepang yang pernah menjadi kliennya. Pengusaha itu berpesan untuk menggunakan patung tersebut jika sedang menghadapi masalah dengan tentara Jepang. Kala lain, Alex berupaya memperjuangkan nasib Beth beserta orang-orang Indo. Dalam salah satu sidangnya tentang rancangan undang-undang dasar (RUU), Alex bersuara tentang status kewarganegaraan bagi orang Indo dan blasteran asing lainnya yang ingin hidup dan mati di Indonesia. Alex mengusulkan tambahan mengenai blasteran pada pasal 26 RUU tersebut yang menerangkan soal kewarganegaraan. ”…Supaya aturan ditambah dengan satu pasal yang menetapkan, bahwa orang-orang lain dari pada orang Indonesia, misalnya peranakan Arab, Belanda atau Tionghoa yang mempunyai kedudukan Nederlandsch Onderdaan dianggap sebagai warga negara,” terang Alex, dikutip dalam Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar djilid I (1960) karya Muhammad Yamin. Usaha Alex tersebut tak hanya penting bagi orang-orang turunan asing di Indonesia, tetapi juga khususnya bagi sang istri. Beth juga memberikan segala yang diperlukan Alex dalam perjuangan. Kesetiaannya teruji ketika mereka hidup di Lugano sepanjang1957-1976. Di kota itu, mereka tinggal di sebuah flat kecil, Hanya berdua saja. Memasuki 1960-an, Alex yang sudah sepuh mulai sakit-sakitan. Pada awal 1970-an, Alex sempat terkena serangan stroke. Sebelum dr. Pratisto datang untuk merawat, tak ada orang di Lugano yang bisa merawat Alex secara intensif. Hanya Beth yang merawat Alex. Padahal Beth yang sama-sama sudah sepuh juga sering sakit. Dia terkena penyakit rematik yang membuat persendian jari-jarinya membengkak dan nyeri. Beth sendirian yang mengurus segala keperluan rumah tangga. Mulai dari mencuci, memasak, berbelanja ke pasar, sampai membelikan obat untuk Alex di apotek. Meski sedang sakit-sakitan, Alex tidak tinggal diam. Dia membantu istrinya seperti menemaninya belanja. “Karena kaki dan tangannya tidak kuat lagi akibat serangan rematik, maka teman satu-satunya untuk menjinjing atau mengangkat barang-barang belanjaan dari pasar, adalah Alex Maramis sendiri,” terang Parengkuan. Ayah yang Baik Sepanjang pernikahannya, Alex tidak dikaruniai seorang anak pun. Ia hanya mendapatkan anak dari pernikahan Beth dengan suami sebelumnya. Anak itu bernama Alexander, persis sama dengan nama Alex. Nama itu nama asli si anak jauh sebelum Alex menikah dengan Beth. Nama Alexander disebutkan dalam Deli Courant edisi 2 Mei 1928 dan edisi 4 Juni 1928, sebagai anak yang diperjuangkan Beth dalam perceraian. Alexander kecil menjadi tempat Alex menumpahkan sayangnya sebagai seorang ayah. Alex memberikan nama marganya, Maramis, di belakang nama Alexander kecil itu. Nama Alexander sepertinya nama pasaran dalam keluarga Maramis. Nama Alex (Alexander Andries Maramis) sendiri didapat dari nama sang ayah Andries Alexander Maramis. Sedangkan adik lelaki Alex menggunakan nama ayahnya secara persis. Kini tambah lagi ’Alexander’ lainnya di keluarga Maramis. Maka ada empat ‘Alexander’ di keluarga Maramis. Agar tidak memusingkan buat keluarga Maramis dalam memanggil empat ”Alexander” tersebut, selain sang ayah, ketiga “Alexander” lainnya diberi nama panggil khusus, yaitu ‘Alex’ untuk Alex yang menteri Keuangan, ‘Inyo’ untuk sang adik, dan ‘Lexy’ untuk anak Alex. Meski Lexy anak tiri, Alex menyayanginya sepenuh hati. Alex juga pernah mengalami posisi seperti yang Lexy alami. Alex terlahir dari rahim seorang ibu bernama Charlotte Ticoalu. Namun Charlotte wafat ketika Alex masih kecil. Kemudian ayahnya menikah kembali dengan seorang gadis Minahasa bernama Adriana Yulia Mogot. Adriana-lah yang kemudian menggantikan Charlotte sebagai sosok ibu. Adriana memang ibu tiri, tapi dia sangat sayang kepada anak-anaknya, baik tiri maupun kandung. Demikian juga kepada Alex. Pengalaman ini Alex ingat sampai dewasanya. ”Baginya Adriana Yulia Mogot bukanlah seorang ibu tiri yang harus dijauhi, tapi dianggap sebagai ibu sendiri yang sejak kecil mengasuhnya dengan penuh kasih sayang, sama dengan yang diterima oleh saudara-saudaranya yang lain,” tulis Parengkuan. Pengalaman hidup membuat Alex mengerti bagaimana memperlakukan anak dan istrinya secara layak, bermartabat, dan penuh kasih sayang.*
- A.A. Maramis Advokat Andal yang Nasionalis
ALA bisa karena biasa. Witing tresno jalaran soko kulino , kata orang Jawa. Terbiasa melihat sang ayah dan mendengar kiprah sang kakek yang berprofesi sebagai pembela rakyat kecil yang memiliki masalah hukum, Alex Maramis pun memutuskan mengikuti jejak mereka: menjadi pokrol bambu. Pokrol bambu adalah sebutan untuk orang yang menjadi pembela bagi orang-orang yang tersangkut perkara hukum pada masa kolonial. Mereka umumnya cukup berpendidikan meskipun bukan lulusan sekolah hukum. Mereka juga memiliki kepedulian untuk membela rakyat kecil yang sedang berperkara. Salah duanya Ayah dan kakek Alex Maramis. Alex Maramis bukan sekedar pokrol bambu. Ia seorang advokat sungguhan lulusan dari salah satu universitas bergengsi di negeri Belanda, Universitas Leiden. Meester in de Rechten (Mr.), gelar bergengsi bidang hukum pada masa kolonial resmi disandangnya pada 19 Juni 1924, tepat sehari sebelum ia berulang tahun ke-27. Seperti dikutip Provinciale Overijsselsche en Zwolsche Courant , 20 Juni 1924. Usai lulus, Alex bergegas pulang ke Manado untuk menemui keluarga tercinta. Namun tak lama, dia berlayar ke Batavia untuk segera memulai karirnya sebagai seorang advokat. Darah pejuang yang mengalir di tubuhnya tak menghendakinya menjadi abdi penjajah sebagai ambtenaar. Pilihannya mantap : menjadi advokat partikelir. Alex Maramis yang sangat menyadari pilihan karirnya tidak main-main dalam menempatkan posisi profesionalnya. Ia mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkedudukan di Bogor pada 15 November 1924, untuk memberinya izin menjadi Advokat dan Pokrol dari Pengadilan Negeri di Semarang. “Permintaan tersebut disambut baik oleh pemerintah kolonial. Melalui surat keputusan tertanggal 12 Februari 1925 No. 19, mulai saat itulah Mr. A.A. Alex Maramis resmi menjadi Advokat dan Pokrol yang untuk pertama kalinya berkedudukan di Semarang,” tulis Parengkuan dalam A.A. Alex Maramis, SH Profesi sebagai advokat di kota utama Jawa Tengah tersebut tak berlangsung lama. September 1926 Alex Maramis mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal untuk pindah ke Palembang, Sumatera. Permohonan itu direstui. “Gubernur Jenderal menyetujui kepindahannya ke Palembang dengan beslit No. 14 mulai tangga1 4 November 1926,” catat Algemeene handelsblad voor Nederlandsch-Indië , 08 Oktober 1926. Tidak terlalu jelas apa yang menjadi alasan Alex Maramis mengajukan kepindahan dari Semarang ke Palembang. Kemungkinan karena tak banyak perkara hukum yang ditanganinya selama di Semarang. Parengkuan mencatat saat di Palembang inilah Alex Maramis menangani kasus-kasus yang kemudian menunjukan kelasnya sebagai seorang advokat jempolan. Selama lebih dari sepuluh tahun berpraktek di Palembang, Alex Maramis menunjukkan sisi kemanusiaannya yang begitu luhur dengan tak membeda-bedakan perlakuan terhadap klien yang dibelanya. Dari sekian kasus yang ditanganinya, dua kasus yang cukup menarik perhatian adalah saat ia membela seorang janda bernama Hadji Marijem binti Hadji Mohd. Tohir dan Dirk Jurriaan Manupassa yang memegang jabatan sebagai Controleur PTT di Tanjungkarang. Hadji Maridjem hampir kehilangan rumah peninggalan almarhum suaminya. Dia mendapat gugatan dari saudara almarhum suaminya yang merasa juga memiliki hak secara adat terhadap rumah tersebut. Setelah proses hukum berjalan, dia mendapati kenyataan pahit. Rumahnya akan dilelang oleh panitia lelang pemerintah. Merasa tidak diperlakukan tidak adil oleh pemerintah setempat, dia mengirim surat kepada Gubernur Jenderal untuk memohon keadilan. Dia bahkan mengirim pula surat kepada ketua Volksraad alias dewan rakyat. Kasus tersebut menimbulkan kesimpangsiuran. Saat itulah Alex Maramis tampil sebagai pembela Hadji Maridjem dan sukses menjernihkan akar permasalahan. Kata Alex Maramis, Hadji Maridjem adalah orang sederhana yang tidak mengerti prosedur hukum. Karena itu, Alex mengirim surat kepada Gubernur Jenderal dan Ketua Volksraad. Dia Maramis menjernihkan perkara tersebut dengan mengurai duduk perkaranya secara lengkap. Berkat pembelaannya tersebut, kasus Hadji Maridjem menjadi jernih dan terarah. Residen Jambi kemudian menyurati Gubernur Jenderal pada 14 Maret 1938. Isinya, akan memperhatikan sungguh-sungguh masalah itu dan menyelesaikannya sesuai hukum yang berlaku. Sementara itu kasus Dirk Jurriaan Manupassa, Controleur PTT di Tanjungkarang.yang ditangani Alex Maramis adalah kasus dirugikannya seorang pegawai kolonial karena tak dipenuhinya hak yang seharusnya diperolehnya. Tunjangan isterinya tak pernah dibayar oleh pemerintah. Melalui kerjasama dengan sesama advokat yang bekerja di Batavia, Mr. Cl. A.S.M. Martens, Alex Maramis mengadukan perkara ini kepada Gubernur Jenderal dalam sepucuk surat bertanggal 14 Oktober 1933. Alex memenangi perkara tersebut. Tunjangan isteri D.J . Manupassa dibayarkan sepenuhnya. Selepas dari Palembang, pada Juli 1939, Alex Maramis pindah berpraktek ke Batavia. Dia berkongsi dengan Mr. K.E. Kan. Keduanya diberi izin praktek di dalam wilayah kewenangan Mahkamah Agung Bagian B. Advokat Nasionalis Selain karena darah keluarga dan pengalaman bersekolah di Batavia, kecintaan pada tanah air dan bangsa dalam diri Alex Maramis mengental selama menempuh studi di Belanda. Dia, seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia di Belanda pada dekade 1920-an, memilih bergabung dengan Indonesische Vereeniging alias Perhimpunan Indonesia (PI). Saat dia kembali ke Hindia-Belanda, dia bergabung dengan PNI pimpinan Sukarno. Tidak banyak informasi mengenai keterlibatan Alex Maramis dalam PNI, namun beberapa aktivitas politik di luar statusnya sebagai advokat tersebut sempat tercatat jejak rekamnya. Buku Rupiah Di Tengah Rentang Sejarah terbitan Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa Alex Maramis pernah ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai anggota pimpinan harian PNI. Disebut pula bahwa Alex Maramis menyampaikan pemikirannya tentang perundingan Linggarjati, dalam kongres Istimewa PNI di Malang pada 1947. Alex Maramis berpandangan bahwa jika Linggarjati diterima oleh Indonesia, itu berarti Indonesia tak memiliki kemerdekaan secara penuh. Sebab, persetujuan tersebut hanya mengakui kekuasaan de facto atas Jawa dan Sumatera saja. Pendapat Maramis beroleh dukungan dari Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Sartono, Sidik Djojosoekarto, dan Mr. Wirjono Prodjodikoro. Selain PNI, Alex juga sepertinya aktif di organisasi kepemudaan Persatuan Pemuda Maesa. Organisasi ini berbasis kesukuan. Anggotanya pemuda Minahasa. Tapi apa saja sumbangsih Alex di organisasi ini, tak tercatat secara terang. Menurut Parengkuan, Alex Maramis merupakan salah satu tokoh senior Persatuan Pemuda Maesa. Alex dihormati bersama beberapa tokoh lainnya seperti Dr. Sam Ratulangi, G.A. Maengkom, E.J. Lapian, J.R.O. Supit, A.E. Maengkom, M.R. Dajoh, P.W, dan Wuwungan. Keterangan itu diperoleh dari wawancara dengan G.A. Maengkom, Menteri Kehakiman pada Kabinet Djuanda (1957—1959). Status Alex sebagai seorang ahli hukum lulusan universitas ternama di Belanda sebenarnya membuka peluangnya untuk jadi ambtenaar atau pegawai pemerintah Hindia Belanda. Dia bisa hidup sangat sejahtera dari situ. Tapi Alex telah memilih jalan pedangnya sendiri : menjadi advokat partikelir. Meski pendapatannya jauh di bawah ambtenaar, Alex dapat mewujudkan cinta dan simpatinya pada bangsa serta orang-orang kecil melalui jalan advokat partikelir. Darah juangnya mengalir dan terpatri kuat. Dia seperti kakek dan ayahnya : mengabdikan diri untuk membela saudara sebangsanya. Tak seorang pun menduga, Alex yang pendiam itu punya semangat menggelegak terhadap bangsanya dan rakyat kecil, Sebagai seorang nasionalis, Alex Maramis lebih memilih jalur sepi dengan langsung terjun pada persoalan-persoalan konkret yang dihadapi oleh saudara sebangsanya sebagai seorang advokat. Alex Maramis, anak seorang pokrol bambu tersebut, nyata-nyata seorang advokat nasionalis yang andal.*
- Rijsttafel, Harmoni Eropa-Nusantara dalam Budaya Makan
HALAMAN belakang Museum Kesejarahan Jakarta Kamis (20/10/2022) siang itu ramai. Sebuah gapura bergaya neoklasik turut “menyambut” serombongan pelajar SMP ke sebuah ruangan yang bersolek dengan dua lampu gantung keemasan yang menaungi tiga meja makan bundar berbalut kain putih susu serta kursi-kursi dengan ukiran cantik. Di atas masing-masing meja itu beraneka perangkat makan era kolonial, termasuk dua lembar surat makan alias menu, diletakkan. Beberapa siswa tadi tak buang kesempatan untuk mengabadikannya lewat kamera smartphone dengan beragam pose seolah sedang menembus waktu ke masa yang sama dengan tata ruang dan peralatan makan itu. Itu memang jadi salah satu tujuan digelarnya pameran “Jejak Memori Rijsttafel: Cita Rasa Indonesia dalam Memori”. Pameran yang dihelat Museum Kesejarahan Jakarta bersama Tugu Kunstkring Paleis itu berlangsung sepanjang 12-29 Oktober 2022. Baca juga: Soerat Makan Kolonial Tujuan pameran yakni untuk mengenalkan kembali sebuah kebudayaan Indies –merupakan kebudayaan hasil perkawinan dua budaya yang harmonis di era kolonial– dalam konteks tradisi dan budaya makan. Narasi-narasi historis rijsttafel yang bukan sekadar menggoyang lidah dan asal perut kenyang itu cukup apik dan atraktif ditampilkan dalam beragam panel yang mengelilingi ruangannya guna membuka awareness khalayak tentang budaya yang kini sudah sulit ditemui. “Meskipun merupakan bagian penting dalam perkembangan kuliner di Indonesia, rijsttafel belum banyak dikaji dari sudut pandang kesejarahan. Sejarah rijsttafel perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia apalagi sumber-sumber primer dan sekunder terkait rijsttafel sendiri dapat dilacak keberadaannya, sehingga memungkinkan untuk ditelusuri jejaknya,” tulis sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran Fadly Rahman dalam Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942. Pameran Rijsttafel yang diramaikan rombongan pengunjung kalangan pelajar (Randy Wirayudha/Historia) Secara etimologi, rijsttafel berhulu pada dua lema bahasa Belanda, rijst yang artinya nasi dan tafel berarti meja. Sastrawan cum jurnalis Indo, Hans van de Wall (Victor Ido), dalam kumpulan transkrip kisah acara radio NIROM, Indië in den goeden ouden tijd: radio-voordrachten voor de NIROM gehouden , mengartikan rijsttafel sebagai hidangan nasi yang disajikan dengan cara spesial. Kendati zaman kolonial sarat dengan penindasan dan rasisme, lanjut Fadly, budaya makan rijsttafel memberi pengaruh dan inspirasi bagi evolusi kuliner modern Indonesia. Pengaruhnya meliputi gaya hidup, tata penyajian, hingga jadi pelopor daya tarik wisata kuliner. “Maka dari itulah untuk pertama kalinya dalam perkembangan kuliner di Indonesia, makanan Pribumi mendapat kedudukan istimewa pada masa kolonial. Bahkan hingga sekarang rijsttafel masih menjadi daya tarik pariwisata di Belanda,” sambungnya. Hidangan Nusantara, Cara Makan Eropa Anna Augusta Henriette de Wit terpukau pada keriuhan dan kesibukan kota Batavia (kini Jakarta) yang ramai dengan beragam aktivitas di suatu siang medio 1896. Dari sebuah hotel di kawasan Rijswijk (kini kawasan Lapangan Banteng), jurnalis Belanda berusia 32 tahun itu dalam pelesirannya penasaran pada sebuah bangunan bertuliskan “Roemah Makan”. Jawa dengan Batavia sebagai etalasenya selalu menghadirkan pengalaman baru bagi De Wit. Padahal, sudah dua tahun ia mengajar di sebuah asrama perempuan. Selain mengajar, sosok kelahiran Sibolga itu juga menjadi kontributor untuk suratkabar berbahasa Inggris The Strait Times . Di suratkabar itulah artikel-artikelnya tentang beragam pengalamannya di Jawa, termasuk pengalamannya di sebuah restoran tadi, dialihbahasakan. “Sejak saya melihat Batavia, saya sudah melihat hotel di Batavia – sebuah roemah makan. Ah! Itu jadi pencerahan yang mengejutkan. Bagi saya Batavia ibarat ‘ un frisson nouveau ’. Tapi ketika melihat sebuah misteri besar yang dirayakan pada siang hari, sebuah sajian nasi ( rijsttafel ), bagi saya itu ibarat ‘ un étouffement nouveau ’,” De Wit mengisahkannya dalam kumpulan artikel yang dibukukan dengan judul Java: Facts and Fancies. Baca juga: Jejak Eropa dalam Kuliner Nusantara Kesaksian De Wit menjadi jendela penting untuk mendapatkan gambaran tentang apa dan bagaimana rijsttafel di masa-masa puncak popularitasnya. Bukan hanya hidangannya, tata cara makan para pengunjung Eropa hingga laku para pelayannya pun ia kisahkan. “Menu utamanya adalah nasi dan ayam yang mungkin terdengar sederhana. Tapi di atas itu terdapat sebuah sistem yang terdiri dari banyak hal yang ditata baik: selain ikan, daging, dan semur, segala macam kari, saus, acar, manisan buah, telur asin, pisang goreng, ‘sambal’ goreng ati ampela, telur ikan, di mana semuanya sarat rempah dan taburan (potongan) cabai,” lanjutnya. Litograf karya Josias Cornelis Rappard antara tahun 1883-1889 yang menggambarkan rijsttafel (Nationaal Museum van Wereldculturen) Karbohidrat, protein, hingga vitamin dalam sayur-mayur semua disajikan dalam satu waktu di atas meja. Bukan seperti di Eropa, di mana sajian dikeluarkan berurutan dari makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Yang tak berubah adalah manner -nya yang menggunakan dan menempatkan alat-alat makan seperti pisau, garpu, dan sendok yang tidak terdapat dalam kebiasaan makan pribumi yang mayoritas makan menggunakan tangan. Menu-menu yang disebutkan De Wit tentu tidak sama dalam setiap rijsttafel. Namun yang pasti, setiap makanan Nusantara yang dikonsumsi orang-orang elite Eropa itu lazimnya dikombinasikan dengan makanan yang cita rasanya sesuai selera masing-masing. Baca juga: Dari Tangan hingga Prasmanan Pun dengan sistem pelayanannya. Para pelayan yang biasanya berasal dari kalangan bumiputera tak hanya diberi seragam pelayan tapi juga dididik untuk melayani ala Eropa. “Semuanya berawal dari sebuah galeri belakang berupa aula panjang dan besar. Kemudian sajiannya diserahkan pada pelayan-pelayan lokal yang bertelanjang kaki tapi berpakaian semi-Eropa, bersarung Jawa, dan blangkon.” Sajian rijsttafel dengan aneka kuliner Nusantara di rumah sebuah keluarga Belanda di Bandung (Nationaal Museum van Wereldculturen) Popularitas rijsttafel dimulai saat masifnya kedatangan orang-orang Eropa, terutama Belanda, setelah dibukanya Terusan Suez pada 1869. Selain mempengaruhi gaya kuliner banyak elite bumiputera, rijsttafel juga mempengaruhi gaya berpakaian mereka. “Istilah rijsttafel sendiri memang baru muncul seiring meningkatnya jumlah orang Eropa pasca-pembukaan Terusan Suez yang secara tidak langsung berdampak besar terhadap perubahan sosial budaya di tanah jajahan. Perkembangan rijsttafel dimulai dari kebiasaan hidup membujang para pria Eropa. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan perempuan Eropa ke Hindia memunculkan percampuran darah dengan perempuan Pribumi dan kemudian menghasilkan gaya hidup campuran,” sambung Fadly. Baca juga: Hidangan Favorit Napoléon Rijsttafel makin “naik daun” setelah mulai disukai para pejabat Eropa saat menggelar acara-acara besar. Lambat-laun para kolega mereka dari elite bumiputera pun latah mengikuti. Popularitas itu ikut melahirkan tren penulisan buku-buku masak atau catatan harian yang mengulas tentang rijsttafel pada peralihan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-21. Sebut saja misalnya Ons Huis in Indië (1908), Eet Rijst! De Indische Rijsttafel (1922), Groot nieuw volledig Indisch kook-boek (1925), dan Het Geheim van de Rijsttafel (1934). Sajian rijsttafel di acara-acara besar kalangan elite Eropa (Repro Tugu Kunstkring Paleis) Seiring perjalanan waktu, budaya makan hibrid itu secara tidak langsung menaikkan derajat kuliner Nusantara di mata orang-orang Eropa. Rijsttafel turut mempengaruhi minat orang Eropa yang ingin datang ke Nusantara hanya untuk “wisata kuliner”. Tak pelak, selain di rumah-rumah pribadi dan acara-acara pejabat, rijsttafel mulai marak disuguhkan berbagai hotel dan restoran. “Melalui rijsttafel pula untuk pertamakalinya nasi dan hidangan daerah-daerah di Indonesia mulai dikemas dalam penyajian bergaya Barat serta dipopulerkan sebagai daya tarik wisata kolonial,” lanjut Fadly. Namun, pergantian situasi politik amat mempengaruhi eksistensi rijsttafel . Kendati tak serta-merta hilang sepenuhnya kala Hindia Belanda ditumbangkan Jepang dan berlanjut masa kemerdekaan Indonesia, rijsttafel jadi langka ditemui di Indonesia yang terus berdinamika. “Ketika Indonesia merdeka pasca-1945 orang-orang Belanda membawa pulang cita rasa rijsttafel ke negeri Belanda dan justru sejak itu berkembang pesat, mengingat banyaknya imigran dari Indonesia yang mengerti cara menyiapkan berbagai macam makanannya. Hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Rijsttafel menghilang begitu saja. Saat ini hanya ada sedikit restoran yang masih menyajikannya,” tulis epikur yang menulis 30 buku masak, Georgeanne Brennan dalam kolomnya yang dimuat di laman The Cook’s Book . Baca juga: Aroma Kopi yang Menggugah Revolusi Dunia
- A.A. Maramis di Negeri Belanda, Mengadu Peruntungan Mendapatkan Kebangsaan
GERHANA matahari total membayangi langit pada Kamis 29 Mei 1919. Berdurasi enam menit 50,75 detik, gerhana ini yang terlama sejak 27 Mei 1416. Gerhana itu membayangi Kapal SS Wilis yang perlahan meninggalkan pelabuhan Tandjoeng Priok, Batavia, menuju Rotterdam, Belanda. SS Wilis merayapi ombak lautan melewati Samudera Hindia dan Samudera Atlantik selama sebulan lebih. Kapal baru sampai ke pelabuhan Rotterdam pada 3 Juli. Dari ratusan orang yang menumpangi SS Wilis, salah satunya adalah Alexander Andries Maramis, pemuda asal Minahasa yang karib disapa Alex Maramis. Namanya tercantum dalam manifes penumpang yang dirilis harian Sumatra-Bode edisi 27 Mei 1919, dan De Maasbode edisi 8 Juli 1919. Alex lulusan Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III School, Batavia. Sang ayah, Andries Alexander Maramis memang memanas-manasi Alex untuk sekolah ke Batavia. Andries sendiri adalah seorang prokol bambu, advokat hukum amatir untuk masyarakat jelata. Andries ingin Alex mengikuti jejaknya sebagai pokrol bambu untuk membela saudara-saudaranya se-Minahasa di hadapan hukum. Alex disekolahkannya setinggi mungkin. Hingga dia lulus HBS. Koran Belanda, Het Vaderland edisi 12 Juli 1916, menyebutkan namanya sebagai salah satu peserta yang lulus ujian akhir pada awal Juli. Alih-alih pulang kampung untuk menjadi pokrol bambu, Alex ingin menuntut ilmu hukum untuk menjadi advokat yang sesungguhnya. Dia tidak puas hanya bermodal ijazah HBS. Leiden, Belanda, menjadi tempat pilihannya menimba ilmu hukum. Andries mendukung penuh niat Alex. Meskipun hanya berprofesi pokrol bambu, Andries merasa mampu membiayai hidup dan kuliah Alex di Leiden. Jadilah Alex menumpang kapal ke Belanda, untuk singgah di Rotterdam, hingga menjejakkan kakinya di Leiden. Untuk bisa masuk perguruan tinggi di Leiden, Alex harus menempuh ujian demi mendapatkan sertifikat kompetensi. Ujian tersebut syarat wajib menurut pasal 12 Undang-Undang Pendidikan Tinggi Pemerintah Belanda ketika itu. Alex baru mengikuti ujian itu setahun setelah kedatangannya. Ujian berlangsung di Utrecht dari 12 Juli hingga 27 Agustus 1920. Alex lulus. Nederlandsche Staatscourant edisi 20 Oktober 1920 mencantumkan namanya sebagai salah seorang yang mendapatkan sertifikat kompetensi. Namun koran tersebut menyebut Alex mendapatkan sertifikat untuk kuliah di fakultas kedokteran, matematika, dan fisika. Bagaimanapun, Alex lantas menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Leiden untuk beberapa tahun kedepannya. Alex termasuk beruntung. Selain sertifikat kompetensi, ijazah HBS yang Alex kantongi juga menolongnya duduk di bangku Universitas Leiden. Berbeda dengan pemuda Minahasa lainnya, GSSR Ratulangi (Sam Ratulangi) batal kuliah di Leiden karena tidak mengantongi ijazah HBS atau AMS. Ijazah Middlebare Acte en Paedagogiek, walau diperolehnya di negeri Belanda pada 1913, tidak bisa digunakan untuk masuk ke Universitas Leiden. Ratulangi mengambil kesempatan lain. Dia memilih mendalami ilmu alam di Universitas Zurich, Swiss, sampai menggondol gelar doktor. Keberuntungan Alex tidak hanya di situ. Dia juga tidak perlu memusingkan soal beasiswa di Leiden. Semua biaya kuliah dan hidupnya di sana murni dari sang ayah di Manado. Keluarga Maramis termasuk keluarga kelas atas di Manado. Keluarga ini memiliki perkebunan kelapa yang luas. FEW Parengkuan dalam A.A. Maramis, S.H. , menyebutkan bahwa keluarga Alex adalah salah satu dari sedikit keluarga di Manado yang memiliki kendaraan bermotor pada 1920. “Hal ini dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa memang soal biaya tidaklah amat memberatkan bagi keluarga Maramis untuk kelanjutan studi anak mereka ke luar negeri sebentar,” lanjut Parengkuan. Nasib Alex memang berbeda dengan mahasiswa Hindia Belanda lainnya seperti Hatta, yang harus berburu beasiswa dan mengirit biaya hidup. Semasa mahasiswa, hidup keseharian Alex terkesan seperti kebanyakan mahasiswa di Belanda. Selain studi, dia senang mengikuti acara dansa dan musik. Di bidang yang terakhir ini, Alex berbakat dalam bermain biola meskipun tidak menonjol. Dia sudah akrab dengan biola sejak di HBS. Hobinya itu terbawa sampai Leiden. Di waktu senggang, Alex dan Arnold Mononutu, kawan Minahasa sesama mahasiswa hukum, kerap bermain biola. Selain Arnold, teman bermain biola lainnya adalah Achmad Subardjo. “Alex Maramis ini bersama Ahmad Subardjo sama-sama senang main biola di mana Alex suara kedua dan Subardjo suara pertama,” urai Parengkuan. Semasa berkuliah di Leiden, beberapa sumber mencantumkan nama A.A. Maramis sebagai redaksi koran lokal Manado, Tjahaja Siang . Koran ini berbahasa Melayu (Indonesia) dan membahas isu di seputar Manado. Nama A.A. Maramis dalam redaksi Tjahaja Siang berturut-turut tercatat dalam majalah Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers , edisi no. 12 tahun 1922; edisi no. 5, 18, 30, dan 42 tahun 1923; serta edisi no. 16, 28, dan 43 tahun 1924. Tapi tak jelas apakah A.A. Maramis yang dimaksud adalah Alex, atau orang lain. Jika memang Alex, tidak disebutkan pula keterangan bagaimana dia mengasuh koran di Manado, sedangkan dia sedang berkuliah di Leiden. Berkenalan dengan Pemikiran Kebangsaan Indonesia Alex memang tipe pendiam. Orang tidak banyak tahu tentang isi di dalam kepalanya. Termasuk pula Arnold. Dia mengira Alex seperti halnya mahasiswa kebanyakan, senang musik dan jalan-jalan. Sampai suatu ketika pada tahun 1923 pandangan Arnold tentang Alex berubah total. Ceritanya, saat itu Alex mengajak Arnold untuk mengunjungi sebuah hotel. Kabarnya ada acara di hotel tersebut. Biasanya tiap hari Sabtu, Maramis dan Arnold makan di warung Jawa. Selesai makan, Arnold bertanya ke Maramis, mau pergi menonton di bioskop mana. Tapi dia menjawab bahwa tak menonton hari ini. ”Saya mau pergi ke Hotel De Twee Steden. Di sana ada rapat dari Indonesische Vereeniging, yang akan ganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Ayo Arnold, mari ikut saya”, kata Maramis seperti dikutip Parengkuan. Di balik sikap kalemnya, Alex mengikuti arus perjuangan kebangsaan para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Dia menjadi anggota Indonesische Vereeneging. Indonesische Vereeniging awalnya bernama Indische Vereeniging. Organisasi ini adalah perkumpulan mahasiswa Hindia Belanda di negeri Belanda. Berdiri pada tahun 1908, Indische Vereeneging berkutat pada kegiatan sosial, seni, juga plesiran. Wajah Indische Vereeniging kemudian berubah ketika Suwardi Suryaningrat, karib dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, masuk ke dalamnya. Diskusi-diskusi politik tentang keadaan tanah air, kolonialisme, dan hak-hak bumiputera mulai marak. ”Perkumpulan tersebut mulai dipolitisasi sekitar tahun 1916 yang diwujudkan dalam terbitnya sebuah jurnal bulanan Hindia Poetra. Karakter politiknya menjadi lebih jelas setelah berakhirnya Perang Dunia I, ketika doktrin penentuan nasib sendiri bagi masyarakat kolonial menyebar luas di kalangan mahasiswa Asia,” terang Leo Suryadinata, dalam “Indonesian Nationalism and the Pre-war Youth Movement: A Reexamination”, yang termuat pada Journal of Southeast Asian Studies , 9, (1978). Sikap politik nasionalis Indische Vereeniging semakin menjadi ketika diisi oleh angkatan muda seperti Hatta, Ali Sastroamidjojo, Soekiman, Sitalana, Dr. Mochtar, termasuk Alex Maramis. “Merekalah yang meneruskan proses ‘nasionalisasi’ terhadap Indische Vereeniging, yang sudah dimulai sejak datangnya Driemanschap I.P (Indische Partij) di tahun 1913,” tulis Ki Hajar Dewantara sendiri dalam Kenang-Kenangan Ki Hajar Dewantara: Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan , terbit 1952. Senada dengan Ki Hajar, George McTurnan Kahin juga menyebutkan bahwa generasi Alex dkk lah yang mengkristalkan gagasan kebangsaan Indonesia. “Mahasiswa-mahasiswa ini lebih terpolitisir daripada generasi sebelumnya dan melanjutkan pekerjaan politik mereka di Belanda,” tulisnya dalam Nationalism and Revolution in Indonesia , terbit tahun 1952. Alex sempat menjadi sekretaris dalam kepengurusan Indische Vereeniging yang keempat, di bawah pimpinan Nazir Pamontjak. Nazir menggantikan Iwa Koesoemasoemantri sebagai ketua. Mohammad Hatta mencatat dalam Memoir bahwa Alex mulai menjabat dari 9 Februari 1924, berdasarkan keputusan rapat. Selain Nazir dan Alex, pengurus lainnya adalah R. Soewarno sebagai bendahara, M. Soekiman (komisaris), dan Mohammad Nazif (archivaris). Tahun 1924 adalah momen penting bagi sejarah Indische Vereeniging, juga bangsa Indonesia. Sebab di tahun itu, Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Nama ‘Indonesia’ mulai berkumandang di antero Eropa. Di dalam Indonesische Vereeniging, Alex kerap menuangkan gagasan-gagasannya, baik dalam diskusi maupun lewat tulisan. Salah satunya adalah tulisan ”Terugblik” (Meninjau Kembali) yang termuat di dalam Gedenkboek Indonesische Vereeneging edisi April 1924. Isinya tentang keharusan menyatukan perjuangan kebangsaan Indonesia dengan arus kebangkitan Asia. Alex ingin Indonesische Vereeniging menjadi bagian dari perjuangan bangsa-bangsa Asia. Sebab dengan demikian pergerakan Indonesische Vereeniging akan mendapatkan banyak dukungan dari para mahasiswa dan pelajar Asia lainnya. “Akhir-akhir ini, penting bagi orang Indonesia di negara ini untuk mengupayakan orientasi internasional, lebih tepatnya, orientasi intra-Asia <…>. Sekitar sembilan tahun yang lalu, Dr. Ratulangi di Zurich mendirikan 'Société Asiatique des tudiants', yang, bagaimanapun, mungkin tidak memenuhi harapan karena kurangnya sentuhan pribadi. Semoga pertemuan yang cukup sering belakangan ini memberikan landasan yang lebih kuat bagi kemungkinan Asosiasi Pelajar Asia yang baru,” terang Alex seperti dikutip dalam "Behind the Banner of Unity Nationalism and Anticolonialism among Indonesian Students in Europe, 1917-1931", tesis doktoral karya Klaas Stutje. Gedenkboek Indonesische Vereeniging tersebut memantik kritikan dari kalangan pers Belanda. ”Ada yang mengatakan bahwa ’de inlandsche studenten’ sudah dihinggapi oleh semangat revolusioner yang susah mengikisnya kembali,” ungkap Hatta. Kiprah lanjut Alex di Indonesische Vereeniging kurang terdengar lagi setelahnya. Sebab pada tahun yang sama, Alex menempuh ujian akhir. Alex pun lulus. Kelulusannya diberitakan oleh berbagai media massa Belanda. Salah satunya adalah Arnhemsche Courant edisi 20 Juni 1924 yang menyebutkan bahwa Alex Maramis (A.A. Maramis) lulus Doctoraal examen rechten de heer, dari Universitas Leiden. Harian De Telegraaf edisi 20 Juni 1924 menyebut Alex lulus ujian pada 19 Juni. Alex sah menjadi master ilmu hukum. Dia berhak menyandang gelar Meester in de Rechten di depan namanya. Sebulan setelah kelulusannya, Alex kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ke Batavia. Alex singgah sebentar di Batavia. ”Ia untuk sementara tinggal di jalan Pintu Kecil No. 46 Jakarta Barat,” tulis Parengkuan. Tak lama setelahnya, Alex kembali ke Manado. Tapi hanya sebentar. Alih-alih menjadi pokrol bambu di Manado seperti harapan ayahnya, Alex malah lebih memilih membaktikan dirinya sebagai advokat di tanah Jawa.
- Obat Batuk Tradisional ala Jawa
Jagat kesehatan sedang heboh dengan kasus gagal ginjal akut yang menimpa anak-anak. Penyebabnya diduga kerena konsumsi obat batuk. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 19 Oktober 2022, terjadi 99 kematian karena penggunaan obat sirup. Meskipun belum dapat dipastikan penyebab gagal ginjal akut tersebut, Kemenkes menangguhkan penggunaan obat sirup untuk sementara waktu. “Untuk meningkatkan kewaspadaan dan dalam rangka pencegahan, Kemenkes sudah meminta tenaga kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair/sirup, sampai hasil penelusuran dan penelitian tuntas,” demikian kata Kemenkes dalam laman resmi informasi kesehatannya, sehatnegeriku.kemkes.go.id . Lantas, bagaimana penderita batuk bila ingin sembuh? Baca juga: Mengobati Penyakit pada Zaman Kuno Tak ada salahnya mencoba resep “baheula”. Toh, batuk bukan penyakit baru bagi masyarakat di Nusantara, khususnya di Jawa. Jauh sebelum ilmu pengobatan modern berkembang di Indonesia, orang-orang di Jawa telah mengenal jamu dan beberapa racikan tumbuhan sebagai obat tradisional. Pada sekitar abad ke-17, pengobatan itu ditulis dalam manuskrip berjudul Serat Jampi Jawi . Menurut serat tersebut, penyakit yang sering menjangkiti anak-anak adalah batuk. Ada dua ramuan yang dapat mengobati sakit ini. “ Jeruk nipis 2 iris, dilumuri/dibaluri api sampai rata lalu dipanggang di atas lampu teplok (lampu minyak red.) ,kemudian diperas langsung dimasukkan ke dalam mulut,” kata Serat Jampi Jawi . Ramuan kedua untuk obat batuk menurut Serat Jampi Jawi adalah 3 siung bawang merah dibakar; 5 saga kayu manis cina, 1 jari kayu manis jawa dibakar, semua dihaluskan sampai lembut. Ramuan kedua ini dapat diminum dengan campuran air jeruk nipis. Baca juga: Pengobatan Nusantara Selain Serat Jampi Jawi , ada pula manuskrip yang mencatat pengobatan batuk, yakni Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 . Dalam catatan ini, batuk dibagi menjadi tiga: batuk anak-anak, dewasa, dan lansia. Untuk batuk dewasa, ada tiga resep obat yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahannya. Apabila orang dewasa mengidap batuk biasa, resepnya berupa jeruk nipis dikupas lalu dipotong-potong dan bawang merah 3 bungkul. Keduanya dihaluskan jadi satu, lalu diminum. Resep tersebut berbeda dari resep untuk batuk disertai menggigil. Untuk batuk disertai menggigil, beginilah resepnya: “Rajanglah daun cabe setelungkup tangan, bungkuslah dengan daun lalu dikukus setengah matang. Setiap akan makan, bakarlah kelapa diiris-iris, makanlah bersama cabe tadi,” kata Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 . Pada beberapa kasus, ada batuk hingga mengeluarkan darah. Menurut Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2, pengobatannya dilakukan dengan dua cara: boreh dan minum. Resep obat batuk darah berupa kerikan tanduk rusa 5 saga, kerikan gigi badhak 5 saga, dan klembak 3 saga. Seluruh bahan tersebut direbus dengan air lalu diminum, kemudian diusapkan di dada dan leher. Baca juga: Kisah Rempah dan Kuliner Khas Yogyakarta Resep obat batuk yang paling enak dikonsumsi adalah resep obat batuk untuk anak-anak dan lansia. Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 menggolongkan batuk yang diderita anak-anak dan lansia adalah sakit ringan dan umum yang menyerang dua golongan ini, terutama saat musim berganti. Resep obatnya berupa daun teh dan sebutir telur ayam, satu ruas jari kulit jahe, sepotong kecil gula batu. Semua diseduh air mendidih lalu diaduk sampai campur, kemudian diminumkan. Resep-resep yang tertuang dalam Serat Jampi Jawi dan Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2 hanyalah salah satu alternatif mengatasi penyakit. Serat tersebut ditulis berdasarkan pengalaman masyarakat pada zamannya, sehingga belum dapat dibuktikan tingkat keakuratannya dari segi ilmiah. Jika tertarik mencoba, pastikan sakit yang diderita belum terlalu parah. Apabila tidak kunjung sembuh, harap tetap mengakses fasilitas kesehatan resmi terdekat.
- Blok M Mal Dulu Hiruk Pikuk Kini Mati Suri
Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, identik dengan keramaian anak muda perkotaan. Hal ini tidak lepas dari perencanaan tata kota pada 1950an, yang menjadikan Kebayoran Baru, termasuk Blok M, sebagai pusat kegiatan ekonomi dengan berbagai infrastruktur pendukung. Blok M pada 1980-2000an adalah tempat yang ramai oleh banyak orang dengan berbagai aktivitas, mulai dari berwisata kuliner, berbelanja, atau hanya sekadar berkumpul bersama teman. Seorang warga saat ingin memasuki gerbang menuju ke Blok M Mal dari arah terminal. (Historia/Fernando Randy) Karena dianggap sebagai daerah yang potensial dari aspek ekonomi, pemerintah melakukan pengembangan kawasan Blok M, antara lain dengan membangun Mal Blok M dan Terminal Blok M pada 1992 yang terintegrasi. Bagian mal berada di bawah terminal dan dilengkapi akses bagi masyarakat untuk masuk dan keluar terminal. Jadilah Mal Blok M tempat yang selalu ramai oleh banyak orang, oleh pedagang, pembeli, maupun orang yang sekadar lewat. Namun, layaknya roda kehidupan, keriuhan terminal maupun aktivitas jual-beli orang terus menurun seiring perubahan zaman. Kini, tak terdengar lagi suara lantang para pedagang menawarkan dagangannya atau suara pembeli menawar harga. Bahkan keramaian orang yang melintas keluar-masuk kawasan mal dan terminal juga sudah menghilang. Suasana saat ini di depan pintu masuk utama Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Tampak deretan toko yang tutup saat ini di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Tampak barang didalam toko yang dibiarkan begitu saja di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Suasana sepi dan sunyi di dalam Blok M Mal saat ini. (Historia/Fernando Randy) Kini, suasana mal Blok M sunyi dan temaram. Para pedangang yang masih bertahan bisa dihitung dengan jari. Jumlah mereka tampak sangat sedikit dibanding deretan toko yang sudah tutup. Bahkan ketika hujan mall yang diresmikan oleh Wiyogo Atmodarminto itu bocor hingga menyebabkan lantai menjadi basah dan licin. “Sebenarnya jauh sebelum pandemi COVID-19, di sini sudah sepi. Ya faktornya utama mungkin sudah kalah sama yang belanja online ya. Dan kemudian diperparah dengan pandemi ini,” ujar Aji (29), seorang pedangan aksesoris. Tania salah satu toko yang masih bertahan di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Aji salah satu penjual yang masih bertahan ditengah sunyinya Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Bekas toko handphone yang sudah ditinggalkan oleh penjualnya. (Historia/Fernando Randy) Toko baju Tania yang masih bertahan walau semua toko disampingnya sudah tutup. (Historia/Fernando Randy) Kesunyian juga tampak di kawasan terminal. Jumlah bus sudah tak sebanyak dulu. “Wah waktu 1980 hingga 1990an itu di sini ramai sekali apalagi saat pagi atau sore. Orang pulang kerja transitnya di sini. Dulu saya jualan apa saja laku mulai dari permen, koran, hingga tisu. Kalo sekarang, lihat sendiri dagangan saya masih utuh. Lebih enak zaman dulu,” kata Sidun (61) pedagang yang sudah dari tahun 1976 berada di kawasan Blok M. Meski kawasan Blok M berubah menjadi sepi, masih ada orang-orang yang mencoba bertahan sambil berharap keadaan membaik karena perubahan zaman tidak selalu berarti meninggalkan yang lama, tetapi juga bisa berarti membangkitkan yang nyaris padam. Salah seorang pekerja saat melintas ditengah deretan toko yang tutup di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) (Kiri) Toko handphone yang sepi pengunjung. (Kanan) Sidun pedagang yang sudah puluhan tahun di Blok M. (Historia/Fernando Randy) Seorang warga saat menunggu bis di Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Suasana saat ini didalam terowongan Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy) Seorang pengunjung saat tertidur ditangga menuju Blok M Mal. (Historia/Fernando Randy)
- A.A. Maramis Kecil, dari Tikala untuk Indonesia
HIDUP masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara pada masa kolonial Belanda tak beda jauh dari masyarakat wilayah lain Nusantara. Mereka dikaruniai alam yang indah dan sumber tanaman pangan yang melimpah. Orang Minahasa umumnya penganut Kristiani, sama dengan kebanyakan orang Belanda. Kristen membuat masyarakat Minahasa menjadi masyarakat yang berkarakter lembut. Kejahatan yang dulunya marak, berkurang pesat selama masa penyebaran Kristen. ”…Orang Minahasa telah menjadi penurut yang lembut, kejahatan telah berkurang. Keadaan ini telah berubah atas usaha agama Kristen dan hasil sekolah Zending yang mulai didirikan pada tahun 1831,” terang Bambang Suwondo, dkk, dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara. Tetapi kesamaan agama tak lantas membawa pada kesamaan nasib bagi orang Minahasa. Belanda menganggap mereka sebagai warga kelas dua yang layak dieksploitasi karena mereka pribumi non-Eropa. Akibatnya alam yang indah dan tanaman pangan yang berlimpah tak berarti banyak buat hidup mereka. Di sisi lain, periode awal 1900-an menandai munculnya kelas baru di tengah masyarakat di Manado. Kelas ini mendapat pendidikan Belanda. Mereka kemudian mengisi pos-pos pemerintahan Belanda di Manado dan hidup berkecukupan. Di antaranya banyak juga yang menjadi anggota Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Anggota KNIL dari Manado adalah salah satu kelompok yang karirnya maju saat itu. Bahkan Pemerintah kolonial memberikan perhatian khusus kepada mereka. ”Sesuai dengan pandangan yang berlaku tentang kelompok etnis mana yang menjadi prajurit yang hebat, perhatian khusus diberikan pada pendaftaran rekrutan orang Ambon dan Manado. Di Sulawesi Utara para kepala nagari dijanjikan tambahan sepuluh gulden untuk setiap penduduk desa yang mendaftar,” tulis Kees Van Dijk, dalam The Netherlands Indies and The Great War. Sebelumnya, kelompok ini pernah membantu Belanda dalam memerangi Pangeran Diponegoro. ”Pada masa ini pula (1826 - 1830) orang-orang Minahasa di bawah pimpinan H.W. Dotulong, Palar, H. Supit, B.Th. Sigar, Inkiriwang, Mandagi, dan lain-lain membantu Belanda dalam perang Diponegoro, sehingga Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado pada tahun 1830, kemudian ke Makasar, dan meninggal di sana pada tahun 1855,” tulis Bambang Suwondo dkk, dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara. Berbeda dengan kelompok itu, orang Minahasa lainnya seperti hidup segan, tapi mati pun tak mau. Hingga tampil seorang dari keluarga Maramis yang mengabdikan dirinya untuk membela masyarakat kaum papa. Sebutlah nama Bernadus Maramis, dari Tonsea, salah satu distrik di Kota Manado. Dia menjabat sebagai pokrol bambu. Tugasnya menjaga hak-hak orang Minahasa dari ketidakadilan hukum pemerintah kolonial. Peran pokrol bambu di tengah-tengah masyarakat Minahasa ketika itu amat penting. Pokrol bambu adalah seseorang yang memberi nasihat hukum tetapi belum memperoleh kualifikasi atau pendidikan hukum. Dahulu pokrol bambu menjadi aktor penting dalam pelayanan hukum karena masyarakat umum merasa berjarak dengan advokat yang berizin. Kiprah Bernadus sebagai pokrol bambu dikenal antero Distrik Tonsea, juga Kota Manado. Bernardus mengangkat marwah nama keluarga Maramis. Keluarga ini merupakan salah satu keluarga terpandang di Tonsea. Selain karena tergolong kelas atas, marga Maramis juga dikenal karena kiprah perjuangannya membela rakyat. Selain Bernadus, ada seorang tokoh lagi yang namanya abadi sebagai pahlawan. Dialah sang anak, Maria Walanda Maramis. Anak Bernadus lainnya, Andries Alexander Maramis pada kemudian hari melanjutkan perjuangan sang ayah sebagai pokrol bambu. Andries lulusan Hoofdenschool (sekolah raja) Tondano. Dari Andries nantinya lahir seorang anak yang mengangkat martabat keluarga Maramis di pentas nasional. Dia adalah Alexander Andries Maramis. Masyarakat Indonesia mengenalnya dengan nama A.A. Maramis. Sedangkan keluarga dan orang-orang dekatnya memanggilnya dengan nama Alex Maramis. Alex Maramis lahir di Tonsea pada 20 Juni 1897. Dia tumbuh jadi anak yang pendiam, tapi cerdas dan menyukai seni. Namanya kopian langsung dari nama sang ayah. Cuma ditukar saja posisinya. Alexander-nya di depan, Andries-nya di belakang. Keluarga Andries cukup unik. Adik Alex pun punya nama serupa. Bahkan namanya sama persis dengan nama sang ayah. Andries Alexander Maramis. Kalau tidak jeli, ketiga nama itu bisa tertukar. Soal ini bukannya tak pernah terjadi. Pernah buku Rupiah di Tengah Rentang Sejarah, terbitan Departemen Keuangan tahun 1991 membahas Alexander Andries Maramis. Buku itu menyebut bahwa Alex bersaudara kandung dengan Maria Walanda Maramis. Berikut cuplikannya. ”Ketika ORI diterbitkan pertama kali, tanda tangan A.A. Maramis telah tercantum di sana. Beliau diangkat menjadi Menteri Keuangan pada 2 September 1945 menggantikan Dr. Samsi yang hanya menjabat selama dua minggu. Pada saat itulah bentuk organisasi Kementerian Keuangan baru dibicarakan. Kakak kandung Maria Walanda Maramis ini mengalami pendidikan dasarnya di bawah pengawasan para guru Belanda, tetapi sebagian besar usianya diabdikan pada pergerakan kemerdekaan bangsanya,” tulis buku tersebut. Padahal Maria adalah bibi Alex. Maria adalah anak kandung Bernadus, adik Andries Alexander Maramis. Maria menikah dengan Joseph Frederik Calusung Walanda sehingga mendapat nama keluarga Walanda Maramis. Ketiga nama ayah anak ini memang merepotkan orang yang ingin mengkaji kiprah keluarga Maramis. Salah nama, salah pula tokoh yang dibahas. Tapi ’ulah’ Andries memberi nama anak-anaknya seperti itu bukan tanpa alasan. Dia ingin anak lelakinya mengikuti jejaknya sebagai pembela kaum lemah Minahasa: jadi pokrol bambu. Menelisik kehidupan masa kecil Alex pun bukan urusan gampang. Keluarga Maramis dikenal low profile. Tambahan lagi, dokumen-dokumen sejarah memang jarang mengangkat kehidupan pribadi tokoh. Keterangan tentangnya justru banyak didapat dari orang-orang yang dekat dengannya. Sayangnya kebanyakan dari mereka sudah tiada. Buku A.A. Maramis, S.H karya F.E.W Parengkuan menjadi sumber yang layak. Buku ini mewawancarai dua belas orang yang dekat dengan kehidupan Alex. Mulai dari kakak dan adik Alex, keponakannya, sampai sahabat terdekatnya. Parengkuan menerangkan, semangat keluarga Maramis membela kaum lemah dapat dilihat dari sejarah sosial budaya masyarakat Minahasa. Meskipun ajaran Kristiani mengajarkan sikap lemah lembut, bukan berarti orang Minahasa manut-manut saja dengan Belanda. Kristen memang mengajarkan kasih, namun juga mengajarkan keadilan dan pembelaan terhadapnya. Dasar keagamaan tersebut membuat sebagian Minahasa membuat perlawanan terhadap Belanda. Antara lain perlawanan rakyat Siau, Manganitu, Perang Panipi, Banteng Mahesa, sampai perlawanan Pasukan Pemuda Indonesia Laskar Banteng pada 1942. Bernadus membawa semangat tersebut kepada Andries, dan Andries mewariskannya lagi kepada keluarganya. Dia mengajarkan anak-anaknya untuk membela kebenaran apapun risikonya. Dia juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk menjauhi popularitas, dan menjaga kehormatan diri dan masyarakatnya. Soal yang terakhir ini pernah teruji. Suatu ketika seorang Belanda bertamu di rumah keluarga Maramis di Tikala. Tamu itu tidak mengindahkan sopan santun ala Minahasa kepada keluarga Maramis. Dia dengan seenaknya masuk ke dalam rumah sebelum diterima tuan rumah. Rupanya si orang Belanda yang bertamu itu merasa dirinya lebih berharga daripada tuan rumah yang pribumi. “Tamu Belanda yang belum dipersilahkan masuk apalagi duduk itu dengan segera dihardik dan disuruh keluar dulu. Ia dituntut bahwa seandainya memang bermaksud baik, maka mestilah menghormati tata cara bertamu di rumah keluarga Maramis,” tulis F.E.W. Parengkuan. Andries menunjukkan kepada keluarganya betapa kehormatan harus dijunjung, bahkan kepada Eropa Belanda yang nota bene warga kelas satu sekalipun, apapun risikonya. Keberanian ini pada masa itu terhitung langka. Dari Tikala untuk Indonesia Tikala tempat keluarga Maramis bermukim adalah kawasan elit Manado di zaman kolonial. Banyak keluarga Belanda kaya bermukim di sana. Sedangkan yang asli Minahasa cuma sedikit yang berumah di sana. Salah satunya keluarga Andries Alexander Maramis. Lantaran keluarga Maramis tergolong mampu, Andries dapat menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda di Manado. Alex kecil kemudian mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS) di Manado. Parengkuan memperkirakan Alex mulai bersekolah di sana pada tahun 1903. ”Kapan Alex mulai disekolahkan di Manado tidak pula diperoleh keterangan. Hanya dapat diperkirakan bahwa sekitar tahun 1903, yaitu setelah ia berumur enam tahun,” terang Parengkuan. Lulus dari ELS, Alex kemudian melanjutkan studinya di Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III, Batavia (Jakarta). Lokasinya terletak di sekitar Jalan Matraman Raya sekarang. Studi Alex di HBS tergolong lancar. Media-media massa ketika itu rajin memuat berita tentang ujian para murid HBS. Misalnya, De Expres edisi 14 Mei 1912 menyebut Alex dipromosikan ke kelas dua. Alex kemudian naik kelas 3 (Bataviaasch Nieuwsblad, 13 Mei 1913), naik kelas 4 (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 23 April 1914), dan seterusnya. Hingga akhirnya Alex lulus ujian akhir HBS Koning Willem III. Beritanya dimuat Bataviaasch Nieuwsblad edisi 27 Mei 1916. Lulus dari HBS, Alex tidak lantas kembali ke Manado untuk jadi pokrol bambu. Dia ingin lebih mendalami studinya. Alex pun memberanikan diri untuk mendaftar ke Universitas Leiden, Belanda, dan mahasiswa hukum hingga lulus pada 19 Juni 1926. Alex kemudian mendapat gelar Meester de Rechten itu kemudian membaktikan dirinya menjadi advokat di banyak tempat. Semasa itu Alex banyak menangani kasus yang membela kepentingan pribumi. Perjalanan hidup Alex kemudian berubah. Dia ikut mendirikan Republik Indonesia. Sepak terjangnya menjadi penting untuk bangsa Indonesia. Harapan sang ayah Andries kepada sang anak Alex terpenuhi. Alex menjadi ’pokrol bambu’, pembela rakyat, bukan hanya untuk masyarakat Minahasa, tetapi juga untuk rakyat Indonesia.*
- How "The Tiger of Asia" Lost Its Claws
A thick mustache and beard framed his wrinkled face. His stare is sharp. His voice is deep and firm. At the age of 79, I Gusti Kompyang Manila still harbors a great passion for Indonesian football, keeping his dream to return the national team to the glorious position it once possessed alive.
- Robbie Coltrane dari Sketsa Komedi ke Semesta Harry Potter
UNTUK kesekian kalinya, semesta Harry Potter yang menyihir jutaan penggemarnya berduka. Setelah pemeran Profesor Albus Dumbledore (Richard Harris) dan pemeran Profesor Severus Snape (Alan Rickman), kini giliran Robbie Coltrane, yang memerankan Rubeus Hagrid, menghadap Sang Pencipta. Coltrane wafat pada Jumat (14/10/2022) di Larbert, Skotlandia pada usia 72 tahun. Coltrane diketahui mengidap osteoarthritis atau radang kronis di sendi tulang rawan pada 2016. Sejak dua tahun terakhir, kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan wafat di Rumahsakit Forth Valley Royal, Larbert, Skotlandia. Ia meninggalkan adiknya, Annie Rae; serta kedua anaknya, Spencer dan Alice. “Robbie seorang talenta yang unik, berbagi buku rekor Guinness dengan tiga kali berturut-turut memenangkan penghargaan aktor terbaik BAFTA bersama Sir Michael Gambon. Perannya sebagai Hagrid di film-film Harry Potter telah memberi kebahagiaan buat anak-anak dan fans dewasa di seluruh dunia. Aktor yang cerdas dan brilian. Saya akan merindukannya,” ungkap Belinda Wright, agen Coltrane selama 40 tahun, dikutip Daily Mail , Sabtu (15/10/2022). Baca juga: Obituari: Layar Lebar Chadwick Boseman Penulis Joanne Kathleen (JK) Rowling yang bukunya diadaptasi untuk franchise Harry Potter, menjadi salah satu orang terdekat yang terpukul. Ia menyampaikan belasungkawanya via akun Twitter -nya, @jk_rowling . “Saya tak pernah mengenal pribadi yang seperti Robbie lagi. Sosok yang tiada dua. Dia talenta yang luar biasa dan saya beruntung pernah mengenal dan bekerja bersamanya,” kata Rowling. Penulis Harry Potter Joanne Kathleen Rowling (kanan) saat bersama mendiang Robbie Coltrane (Twitter @jk_rowling) Para aktor kondang yang bermain di Harry Potter pun sama kehilangan. Daniel Radcliffe, yang memainkan peran utama Harry Potter, mengatakan punya banyak kenangan semasa satu frame di delapan seri franchise- nya. “Saya sangat bersyukur pernah bertemu dan bekerja dengan dia dan sangat terpukul mendengar ia tiada. Ia selalu bisa mengangkat moral kami dengan lelucon-leluconnya. Ia seorang aktor yang luar biasa dan pribadi yang menyenangkan,” ungkap Radcliffe dilansir CNN , Sabtu (15/10/2022). Aktris cantik Emma Watson yang memerankan Hermione Granger juga mengungkapkan kedukaan senada. “Robbie adalah paman paling menyenangkan yang pernah saya miliki. Tak heran ia memerankan karakter (setengah) raksasa karena ia mampu mengisi ruang dengan pribadinya yang brilian. Robbie, saya berjanji di set film akan selalu melakukan yang terbaik demi mengenang nama dan memori Anda,” ujar Emma. Baca juga: Obituari: Adieu , Jean-Luc Godard! Dari Panggung Teater hingga James Bond Coltrane lahir di Rutherglen, Skotlandia pada 30 Maret 1950 dengan nama Anthony Robert McMillan. Ia anak kedua dari pasangan Ian Baxter McMillan, dokter bedah forensik, dan Jean Ross Howie, guru musik sekaligus pianis. Sejak kecil, Coltrane lebih berminat mengikuti jejak ibunya di dunia seni ketimbang jadi dokter seperti ayahnya atau jadi pebisnis sukses sebagaimana kakek buyutnya, Thomas W. Howie. Setelah sekolah seni rupa di Glasgow School of Art, ia terjun ke seni peran dengan bergabung ke Traverse Theatre di Edinburgh pada 1978. Sejak itu pula ia menggunakan nama panggung “Coltrane”. “Coltrane adalah nama panggung saya yang saya ambil untuk menghormati pemain saksofon Jazz, John Coltrane yang menjadi pahlawan saya. Nama keluarga saya McMillan, salah satu klan dari dataran tinggi Skotlandia,” ungkap Coltrane dalam otobiografinya, Robbie Coltrane’s B-Road Britain. Baca juga: Obituari: Warna-warni Kehidupan Sean Connery Komedi di atas panggung seolah jadi pelarian bagi Coltrane. Meski tumbuh di tengah keluarga terpandang, masa remaja Coltrane disesaki banyak tragedi. “Coltrane yang sejak kecil dikenal dengan panggilan ‘Fat Rob’, menemukan komedi menjadi senjata terbaiknya. Tapi ceritanya tidak semua tentang tawa. Sejak remaja ia telah menderita, setidaknya karena dua tragedi. Pertama, kematian ayahnya karena kanker paru-paru. Kemudian adik perempuannya, Jane, melakukan bunuh diri,” tulis suratkabar The Herald , 14 September 2001. Robbie Coltrane (kanan) bersama para pengisi sketsa komedi Alfresco (IMDb) Tak hanya memulai dari bawah sebagai aktor figuran, Coltrane juga menjalani pekerjaan sampingan sebagai sopir para direktur teater dan para aktor senior. Kerja kerasnya terbayar saat mendapat peran di serial komedi televisi, The Comic Strip Presents…, (1980-2016). Ia kemudian bermain dalam serial komedi sketsa Alfresco (1983-1984), di mana namanya mulai dikenal dan persahabatannya dengan para komedian muda lain yang kelak jadi legendaris, seperti Hugh Laurie dan Emma Thompson, dimulai. Sejak saat itu karier Coltrane sebagai komedian yang wara-wiri di serial televisi makin moncer. Beberapa di antaranya Tutti Frutti (1987) dan Blackadder the Third (1987) yang juga dibintangi Rowan Atkinson. Tawaran peran pendukung di sejumlah layar perak mengalir padanya, di antaranya film Henry V (1989), dia memerankan tokoh Sir John Falstaff; dan peran antagonis agen KGB Valentine Dmitrovich Zukovsky di franchise James Bond: Golden Eye (1995) dan The World is Not Enough (1999). Hingga akhir hayatnya, Coltrane tercatat bermain di 41 serial televisi. Di antara penghargaan yang pernah didapatnya adalah tiga piala BAFTA untuk aktor terbaik selama tiga tahun berturut-turut pada 1994-1996 untuk perannya di serial drama kriminal Cracker (1993-1995). Di layar lebar, Coltrane bermain di 55 film yang delapan di antaranya adalah franchise Harry Potter. Baca juga: Obituari: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Peran Robbie Coltrane di franchise James Bond (Twitter @007) Pilihan Utama JK Rowling Sejak merampungkan buku pertama Harry Potter pada 1995 bertajuk Harry Potter and the Philosopher’s Stone , Rowling sudah menghadirkan tokoh Rubeus Hagrid. Sosok itu dibuatnya sebagai setengah raksasa setinggi 12 kaki (3,7 meter) karena lahir dari ibu seorang raksasa, Fridwulfa, yang bersuami manusia biasa yang tak disebutkan namanya. “Hagrid karakter berambut hitam dan berjanggut yang saya ciptakan sejak hari pertama. Namanya berasal dari dialek bahasa Inggris lama. Kira-kira artinya, jika Anda ‘ hagrid’ , Anda akan mengalami malam yang buruk. Hagrid juga seorang peminum berat dan dia mengalami banyak malam yang buruk,” ungkap Rowling, dikutip Shringar Tiwari dalam Children’s Literature JK Rowling’s Mastery in Portrayal of Characters in Harry Potter Series. Latarbelakang karakter Hagrid juga dibuat Rowling sebagai eks-golongan Gryffindor semasa ia bersekolah di Hogwarts. Setelah dikeluarkan dari Hogwarts, tongkat sihirnya dipatahkan karena suatu kasus kecerobohan. Baca juga: Momok Nazi dan Mitos Indonesia dalam Fantastic Beasts Akan tetapi, kemudian oleh Profesor Dumbledore, Hagrid diperbolehkan tetap berada di sekitar Hogwarts sebagai penjaga sekolah dan merawat makhluk-mahkluk ajaib. Karena menjadi loyalis Dumbledore, Hagrid cepat akrab dengan Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger. Tak selamanya Hagrid bisa diandalkan karena kecerobohannya. Harrid digambarkan acap membawa sebuah payung usang. Payung itu sedianya menyembunyikan tongkat sihirnya yang ia perbaiki seadanya. Meski terkadang masih bisa melakukan sihir, ia tetap tak mampu melayangkan mantra “Expecto Patronum” untuk menolak makhluk jahat. Robbie Coltrane yang terlibat dalam delapan franchise Harry Potter (Warner Bros) Ketika Harry Potter and the Philosopher’s Stone (di luar Inggris bertajuk Harry Potter and the Sorceres’s Stone ) akan difilmkan Warner Bros pada 1997, Rowling ikut memberi sumbang saran mengenai siapa-siapa yang akan memerankan masing-masing karakternya yang ditetapkan semua harus aktor Inggris. Khusus pemeran Hagrid, Rowling tak pernah punya opsi lain yang paling pas dan cocok selain Coltrane. “Para pemerannya ibarat dream cast tapi yang menjadi top list adalah Robbie Coltrane untuk (peran) Hagrid dan Maggie Smith untuk (Profesor Minerva) McGonagall. Saya pikir semua orang yang mengenal bukunya dan para aktornya akan setuju dengan saya. Robbie sempurna karena Hagrid karakter yang mudah disukai, dicintai, sedikit komikal tapi juga mesti punya sense bahwa dia sosok yang keras dan Robbie melakukannya dengan sempurna,” kata Rowling kepada The Telegraph , 4 November 2001. Baca juga: Obituari: Pelaut yang Menaklukkan Hollywood Selain mesti melakukan penyesuaian efek visual untuk menjadikannya seorang raksasa, Coltrane juga harus lebih menggali karakternya yang mencintai anak-anak agar lebih relevan. Itu jadi kunci karakter Hagrid sebagaimana yang ingin ditonjolkan dari buku Rowling. Kesuksesan perannya berbanding lurus dengan meledaknya Harry Potter. Dimulai dari Harry Potter and the Philospher’s Stone (2001), berlanjut ke Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002), Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), Harry Potter and the Goblet of Fire (2005), Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009), Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010), serta Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011). Pada 2006, Coltrane dianugerahi medali OBE (Officer of the Order of the British Empire) oleh Kerajaan Inggris untuk dedikasinya pada seni peran. Lima tahun kemudian, giliran anugerah kehormatan BAFTA Scotland Awards yang diterimanya. “Anak-anak menyukai Hagrid karena dia besar dan kuat dan ramah dan itu yang diinginkan anak-anak. Mereka menginginkan seseorang yang bisa melindungi mereka dan seseorang yang bisa berperilaku baik terhadap mereka. Dan banyak anak-anak di dunia nyata tidak punya sosok seperti itu dalam hidup mereka. Itu hal yang sangat menyedihkan,” tandas Coltrane, dikutip dari buku Harry Potter: Film Vault, Volume 11. Baca juga: Obituari: Akhir Hidup Si Pemeran Hitler





















