top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kontestasi Ideologi dalam Pakaian Perempuan Indonesia

    Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, upaya pencarian identitas kebangsaan menjadi isu penting di banyak sektor. Kaum perempuan juga tak luput dari tugas-tugas “revolusioner” itu. Pakaian menjadi salah satu senjatanya. Sejarawan University of Michigan Charley Sullivan menjelaskan mengenai dinamika perempuan Indonesia dalam berpakaian tersebut dalam dialog sejarah “Pakaian Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa” di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa 8 September 2020. Pada masa awal Indonesia berdiri, terang Charley, muncul pertanyaan bagi kaum wanita tentang bagaimana menjadi modern tetapi tetap menjadi bangsa Indonesia yang “timur”. Dari pertanyaan itu, mode kemudian membentuk sejarahnya sendiri. Charley menyebut, sejarah mode bukan hanya tentang busana dan make up atau bahkan bukan karena pilihan perempuan itu sendiri. Tetapi, terkait pula dengan makna sosial yang lebih umum dan posisi serta tingkat sosial wanita sebagai kaum. “Dan in relationship to the state . In relationship ke negaranya,” jelas Charley. Dalam disertasinya, Years of Dressing Dangerously: Modern Women, National Identity and Moral Crisis in Sukarno’s Indonesia, 1945-1966 , Charley menyebut bahwa majalah-majalah perempuan saat itu memiliki peranan penting dalam hal ini. Wacana mengenai pakaian apa yang pantas serta mewakili citra Indonesia menjadi diskusi terbuka di media-media tersebut. Diskusi tersebut misalnya, penggunaan kain batik pada era Sukarno terus dikonstruksi media sebagai simbol modernitas, kebanggaan kulturil dan sumber berkembangnya ekonomi nasional. Batik dan kemudian kebaya selain dianggap modern juga menjadi negasi dari gaya busana Barat. Charley menyebut, saat itu perempuan memiliki tugas berat yang beriringan dengan politik anti-kolonialisme dan imperialisme Sukarno serta era konfrontasi yang memuncak di tahun 1960-an. Pakaian perempuan menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap hegemoni budaya Barat, khususnya Amerika Serikat. “Dalam hal-hal mode pakaian, kecantikan ini, (perempuan) sudah punya duty . Satu pekerjaan yang sangat keras dan yang sangat sulit pada kaum wanita,” kata Charley. Tetapi memasuki era Orde Baru, makna-makna itu berubah. Cara berpakaian tidak lagi terkait dengan hal-hal revolusioner. Rezim Soeharto cenderung mengembalikan peran perempuan ke ranah domestik. Gaya berpakaian kemudian diatur dalam kerangka stabilitas negara. Aktivis gerakan perempuan Tunggal Pawestri menyebut bahwa Orde Baru, meski berbeda visi, juga menjadikan tubuh perempuan sebagai arena pertarungan ideologi. Contohnya adalah pelarangan penggunaan jilbab di Indonesia. “ Ada pelarangan jilbab dengan alasan katanya membatasi pengaruh fundamentalisme Islam dan gelombang arabisasi. Dan juga ada stereotype negatif yang dibangun bahwa, dan ini jelas klaim Barat juga, penggunaan jilbab itu sebagai salah satu ciri dari ekstremisme,” jelas Tunggal. Meski cukup berhasil, sambungnya, pelarangan itu juga memunculkan perlawanan. Di era 1980-an, menggunakan jilbab merupakan satu bentuk perlawanan terhadap Orde Baru. Senada dengan Tunggal, Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Neng Dara Affiah menyebut bahwa tiap ada pelarangan, muncul pula perlawanan. Pada masa Orde Baru, memakai jilbab adalah protes terhadap narasi tunggal tentang identitas kebangsaan. Namun hal ini berbalik pasca-reformasi ketika pemakai jilbab mendominasi. “Pemakaian kebaya sekarang ini justru protes dan pengimbangan terhadap dominasi orang-orang yang memakai jilbab,” kata Neng. Zaman dulu dapat dilihat dengan jelas bagaimana orang berpakaian menunjukkan identitasnya. Misal, dari kalangan santri memakai jilbab, sedangkan di luar santri ada yang tidak berjilbab dan ada yang berkerudung terbuka. Namun, sambung Neng Dara, hal itu kini berubah. Jilbab tidak lagi hanya menunjukkan identitas keagamaan. Jilbab juga telah dipakai untuk kepentingan politik praktis. “Bahkan pola masyarakat yang tadinya dijuluki abangan, priyayi dan santri, sekarang itu sudah sumir sekali perbedaannya,” jelas Neng Dara. Neng Dara menyebut bahwa perubahan cara berpakaian di dalam masyarakat dari satu generasi ke generasi selalu berubah-ubah. Perubahan itu berkaitan dengan banyak hal, baik perubahan sosial di masyarakat itu sendiri maupun perubahan politik tingkat nasional maupun global. “Ada dinamika sosial yang tidak stagnan. Dia berubah-ubah, tentang pakaian dan identitas atau makna di saat kaum perempuan berpakaian itu. Makna dalam kaitan identitas keberagamaan, makna dalam identitas kebangsaan atau jati diri bangsa,” katanya. Dinamika tersebut, menurut Tunggal, kemudian menjadi faktor munculnya permasalahan baru di masa kini. Dari tahun ke tahun semakin banyak peraturan daerah (perda) yang diskrimintaif terkait pakaian perempuan. Hingga 2012, ada 342 perda diskriminatif dan 72 di antaranya mengatur pakaian perempuan. Angka terus naik di tahun 2019 menjadi 421 perda diskrimintaif, termasuk di dalamnya peraturan tentang cara berpakaian perempuan. Perda-perda tersebut selain mengatur cara berpakaian juga mengatur hal-hal terkait aktivitas perempuan. Semua peraturan tersebut dibuat berbasis interpretasi tunggal ajaran agama. “Hal menarik juga belakangan selain ada state yang mencoba mengatur cara berpakaian perempuan, tapi juga ada kelompok-kelompok lain yang mencoba melakukan pengaturan cara berpakaian perempuan,” jelas Tunggal.

  • Kisah Jenderal Soemitro vs Kolonel Muammar Khadafi

    SEKALI waktu pada tahun 1973, Jenderal Soemitro menerima panggilan dari Presiden Soeharto. Rupanya, Mitro diminta untuk mendampingi Menteri Luar Negeri Adam Malik ke Aljazair dalam Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok di Aljazair. Sebagai panglima Kopkamtib yang bertanggung jawab atas keamanan di dalam negeri, Mitro merasa aneh dengan penugasan ke luar negeri. “Mengapa Pak Harto tidak berangkat sendiri memimpin delegasi ini?” kata Mitro seperti dicatat Heru Cahyono dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 januari 1974. Menurut Mitro, “mungkin dari segi security dianggap belum aman bila Presiden meninggalkan Indonesia.” Maka mau tidak mau jadilah Mitro terbang ke Aljazair. Konferensi diselenggarakan dari tanggal 5 sampai 9 September 1973. Mitro berkedudukan sebagai wakil ketua delegasi Indonesia. Sepeninggal dirinya, Mitro melimpahkan kepemimpinan Kopkamtib kepada wakilnya yakni Laksamana Soedomo.

  • Cabai dari Amerika ke Nusantara

    Dikenal sebagai bahan pemedas dalam makanan, cabai menyebar ke seantero dunia.

  • Tentang Anjay dan Kata-kata Umpatan

    WARGANET ramai-ramai mencuit kata "anjay" sehingga menjadi trending topic . Mereka merespons siaran pers dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang mengajak untuk menghentikan penggunaan kata "anjay". Kata "anjay" biasa digunakan dalam percakapan di antara teman sepergaulan untuk menunjukan suasana keakraban. Namun, menurut Komnas PA, jika kata "anjay" atau "anjing" digunakan kepada orang yang tidak dikenal dan lebih dewasa bisa mengandung unsur kekerasan verbal ( bullying ) dan merendahkan martabat seseorang, sehingga dapat dilaporkan sebagai tindak pidana. Seperti zaman Majapahit saja yang menghukum orang yang melakukan penghinaan atau caci maki ( wakparusya ). Pada umumnya dihukum denda berupa uang kecuali wakparusya  yang dilakukan seorang candala  kepada brahmana (pendeta), diancam dengan hukuman mati. Candala  adalah masyarakat dari lapisan sosial paling rendah, di bawah sudra , jadi tergolong paria  atau tanpa kasta. Susanto Pudjomartono, mantan wartawan dan diplomat, dalam tulisan bahasa berjudul "Bangsat" di majalah Tempo , 2 Juni 2002, membagi kata-kata umpatan dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah kata-kata umpatan yang paling sering dipakai yaitu nama binatang yang dianggap rendah atau nista. Dalam kategori ini, anjing tidak sendirian. Binatang-binatang yang senasib dengan anjing di antaranya babi, monyet, kunyuk, bangsat (kutu busuk), kambing, kucing, kerbau, kampret, dan lain-lain; belakangan buah dari persaingan politik, umpatan kampret punya lawan yaitu cebong. Tidak puas dengan hanya umpatan binatang itu, manusia menambahkan predikat tertentu, misalnya "(dasar) tampang monyet", "kerbau dungu", "kambing congek", dan "kucing kurap" (koreng). "Umpatan babi dan anjing paling populer, mungkin karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, yang menganggap kedua binatang tersebut najis," tulis Susanto. Sastrawan Hasif Amini dalam tulisannya "Fauna Bahasa" di majalah Tempo , 12 Februari 2017, menambahkan bahwa kata "binatang" sendiri dalam beberapa pemakaian berkonotasi negatif, misalnya "binatang ekonomi" dan "binatang politik". Begitu pula kata "hewan" yang terasa lebih ilmiah dan netral, tak jarang menunjuk kualitas negatif, misalnya dalam frasa "sifat-sifat hewani". Konotasi positif atau negatif bisa berbeda-beda antara satu lingkungan budaya dan yang lain. Hasif menyontohkan kata dog  tak menjadi umpatan yang lazim dalam Bahasa Inggris karena dalam lingkungan itu, anjing umumnya binatang piaraan yang patuh, setia, dan disayangi. Bahkan, kata dog  mengandung makna positif, misalnya dalam ungkapan working like a dog yang berarti kerja keras tak kenal lelah. Kalau di Indonesia, belakangan muncul ungkapan "kerja keras bagai kuda" yang sepertinya diambil dari lirik lagu Koes Plus berjudul "Ku Jemu". Dog  memang tidak lazim jadi kata umpatan, tapi dalam Bahasa Inggris (slang) ada kata bitch (jalang) yang secara harfiah artinya "anjing betina". Kata umpatan ini digunakan untuk merendahkan perempuan. Menurut Oxford English Dictionary , istilah bitch berasal dari kata Inggris Kuno, bicce  atau bicge , yang berarti "anjing betina". Leluhur kata itu kemungkinan dari Bahasa Norse Lama atau Bahasa Skandinavia Kuno, yaitu bikkja , yang juga berarti "anjing betina". Akar sejarah bagaimana anjing digunakan untuk merendahkan perempuan dapat dilacak sampai zaman Yunani Kuno. Kategori kedua adalah kata-kata umpatan yang berhubungan dengan seks. Misalnya, kata umpatan khas Jawa Timuran, jancuk  atau jancok  dari kata diancuk  ( ancuk  artinya bersetubuh). Karena dirasa kasar, jancuk  atau jancok  kemudian dipelesetkan menjadi jangkrik. Ada yang percaya kalau jancuk atau  jancok berasal dari kata "Jan Cox" yang tertulis pada badan sebuah tank ketika Belanda berusaha menduduki kembali Indonesia. Padahal, menurut penelusuran komunitas Surabaya Tempo Dulu+ , Jan Cox adalah nama seniman Belanda yang dijadikan nama tank Stuart M3 yang merupakan kendaraan Kapten Nix, komandan Eskadron 1 Vechwagens KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Eskadron ini mulai beroperasi pada 1946 di wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Sebelumnya, ketika Belanda masih menguasai Indonesia, orang-orang Belanda menyamakan orang pribumi dengan anjing. Di tempat-tempat keramaian yang hanya untuk kalangan Belanda, Eropa, dan Jepang, biasa tertulis: Verboden voor Honden   en Inlanders  (dilarang masuk untuk anjing dan pribumi). Kategori ketiga adalah kata-kata umpatan yang berasal dari sesuatu yang dianggap hina atau merugikan, seperti setan, laknat, bajingan, goblok, bodoh, sialan, dan lain-lain. Saat kata-kata umpatan dirasa kasar, maka dibuatlah pelesetannya. Susanto menyontohkan sastrawan Danarto yang dikenal santun selalu menulis "siwalan" (buah lontar) sebagai pelesetan dari "sialan". Bacalah di bukunya, Catatan Perjalanan Haji Danarto, Orang Jawa Naik Haji : "Tiba-tiba sepercik pikiran menyelinap di benak: ingin saya mencuri Alquran. Habis, bergeletak bertumpuk-tumpuk begitu banyak. Saya pikir bagus sekali untuk kenangan, Alquran curian dari Masjid Nabi, hmmm, nggak  apa deh biar buta huruf juga. Saya pikir, pikiran ini muncul akibat pergaulan buruk di Taman Ismail Marzuki, yang seenak udelnya saja mengarang-ngarang fatwa: mencuri buku adalah seindah-indahnya perbuatan. Siwalan bener! (He, he, he, orang lain disalah-salahin...)." Bila Danarto memelesetkan "sialan" jadi "siwalan", bukankah anak-anak muda juga memelesetkan "anjing" jadi "anjay". Barangkali tak ada binatang yang dijadikan umpatan selain anjing yang paling banyak pelesetannya. Dengan mengubah tiga huruf terakhir dari kata anjing, lahirlah kata anjir, anjim, anjrit, anjrot, dan lain-lain. Jadi, bila "anjay" dilarang, penggantinya masih banyak.*

  • Jejak Archbold di Papua

    Orang Amerika penasaran dengan tanah Papua. Mereka mengirim ilmuwan dan peneliti yang didanai perusahaan minyak.

  • Galang Dana Dwikora ala Sukarno

    Sekali waktu Presiden Sukarno memanggil pengusaha Haji Abdul Karim Oey ke Istana. Lelaki Tionghoa itu merupakan kawan dekat Sukarno waktu di Bengkulu dulu. Dia pun dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah di sana. Bung Karno menjelaskan kepada Oey bahwa pemerintah perlu dana sebesar Rp 250 juta untuk membiayai Operasi Dwikora “Ganyang Malaysia”. “Itu urusan gampang. Tidak ada persoalan mencari dana untuk kepentingan nasional,” kata Oey sebagaimana terkisah dalam memoarnya Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa: Sahabat Karib Bung Karno. Oey lalu menyarankan agar Sukarno mengundang para pengusahan besar di Jakarta dan sekitarnya. Oey sendiri berkomitmen kalau perusahannya bersedia menyumbang sebesar 75 juta rupiah. Keesokan harinya, Oey menyerahkan cek senilai jumlah tersebut kepada Menteri Sosial Mulyadi Djojomartono. Mulyadi kemudian memanggil stafnya membuat kuitansi sumbangan dari perusahaan Oey. Pada 9 Juli 1964, ratusan pengusaha, pedagang besar, dan menengah kumpul di Istana. Semua hadir lengkap menurut undangan. Ketika Bung Karno muncul, orang-orang memberi hormat. Seperti biasa, Sukarno memulainya dengan berpidato menyampaikan maksudnya akan pertemuan itu. Dia mengharapkan supaya para pengusaha itu berkenan membuka dompetnya lebar-lebar guna menyokong Operasi Dwikora. Sukarno pun mencatut nama Oey untuk memotivasi saudagar-saudagar itu.  “Ini saudara kita Oey Tjeng Hien alias Haji Abdul Karim Oey yang belum punya kekayaan berani menyumbang Rp 75 juta,” kata Sukarno di depan para pengusaha. Bung Karno kemudian menyebut satu persatu nama pengusaha. Dana terus mengalir. Agus Musin Dasaad menyumbang Rp 100 juta. Jusuf Muda Dalam Rp 100 juta. Teuku Markam Rp 50 juta. Selain mereka, ada yang menyumbang Rp 25 juta, Rp 10 juta, dan yang terkecil Rp 5 juta. Markam, pengusaha kulit ternama asal Aceh mendekati Oey seraya berbisik. “Pak Haji Karim, kalau saya diizinkan memeluk Presiden, maka saya kasih lagi Rp 50 juta. Oey meneruskan pesan itu kepada Bung Karno. Tawaran itu dijawab kepada yang bersangkutan.  “Ah, ada-ada saja," kata Bung Karno. Oey membujuk Bung Karno, “Cuma dipeluk saja,” katanya. Sukarno setuju. Markam pun merangkul Presiden. Hadirin tertawa ramai. Keluar kocek Rp 50 juta dari kantong Markam. Siapa nyana, Markam mendekati Oey lagi sambil berkata, kalau dirinya diizinkan mencium Presiden, dia akan menambah Rp 100 juta lagi. Ketika keinginan itu disampaikan, Bung Karno menolak.  Namun, Oey  kembali membujuk Bung Karno, “Apalah artinya dicium pipi sejenak, dana akan bertambah 100 juta. Itu bukan sedikit,” kata Oey. Akhirnya, Bung Karno bersedia lagi. Markam mencium pipi Presiden. Hadirin semakin riuh. Dana bertambah Rp 100 juta ke kas negara. Galang dana Dwikora itu terus berlangsung. Sukarno menanyakan kepada Mulyadi berapa dana yang sudah terkumpul. Setelah dihitung, dana yang terkumpul mencapai Rp 650 juta. Oey mencoba menggoda Bung Karno lagi, “terus saja sampai satu milyar,” katanya. Tapi Bung Karno menjawab bahwa angka segitu sudah lebih dari cukup untuk sementara. Dana yang diperoleh pada hari itu melebihi jumlah yang menjadi target semula, Rp 250 juta. Karena kelelahan, Bung Karno menyudahi acara penggalangan dana tersebut. Upaya mengganyang Malaysia ternyata membuat Bung Karno benar-benar repot.

  • Siapakah Maulana Malik Ibrahim?

    RUTE perdagangan saudagar muslim melalui Selat Malaka dan Semenanjung Malaya hingga Tiongkok berdampak pada kontak langsung dengan pantai utara Jawa. Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik menjadi petunjuk adanya masyarakat muslim di dekat ibu kota Majapahit dan sekitarnya.

  • Merawat Ingatan Tentang Pangkalan Brandan

    PANGKALAN Brandan terletak di Kabupaten Langkat sekitar 80 km dari kota Medan. Lokasinya strategis karena dilalui jalan lintas timur Sumatra dan pintu gerbang menuju Aceh. Dahulu, Pangkalan Brandan kesohor sebagai daerah penghasil minyak. Pada kurun waktu tertentu, Pangkalan Brandan menjadi kilang minyak terbesar di Sumatra.

  • Nasib Kawasan Kastil Batavia yang Tergerus Zaman

    Batavia menjadi salah satu daerah paling penting pada masa VOC bercokol di Hindia Timur. Setelah berhasil menguasai Batavia pada 1619, VOC mendirikan berbagai bangunan untuk mendukung aktivitas perdagangannya di Hindia Timur. Salah satu kompleks bangunan itu Kastil Batavia. Letaknya sekarang di Kampung Tongkol, tak jauh dari kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Wilayah ini dulu menjadi pusat kota Batavia. Seorang warga sedang mencuci mobil di kawasan bekas gudang Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kawasan Kampung Tongkol yang bersebelahan langsung dengan gudang dan tembok bekas kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kastil Batavia menjadi saksi tangguhnya VOC sebagai perusahaan dagang selama hampir dua abad . Kastil ini dibangun pada masa J.P. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia pada 12 Maret 1619. VOC butuh sebuah benteng yang kuat dan aman dari serangan musuh. Karena itu, Coen merombak benteng lama yang bernama Fort Jacatra, termasuk tembok dan bangunan lainnya. Sebuah mobil truk kontainer terparkir di samping bangunan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bekas ban yang berserakan di kawasan gudang dan tembok bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Coen membangun tembok baru berbentuk persegi empat yang lebih kokoh daripada tembok lama. Tembok itu dibangun mengelilingi kota Batavia. Selain tembok, Coen juga membuat kanal-kanal untuk menyulitkan musuh masuk ke kota. Lalu di sebelah selatan tembok baru, dia membangun Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Luas Kastil Batavia hampir sembilan kali luas Fort Jacatra. Kastil Batavia dikelilingi oleh empat bastion atau selekoh di empat penjurunya. Bastion adalah bagian tembok benteng yang sedikit menjorok keluar dan dipersenjatai. Masing-masing bastion punya nama: Parrel, Robijn, Diamant, dan Saphier. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Di dekat Kastil Batavia, Coen membangun sejumlah gudang untuk menyimpan berbagai dagangan VOC. Sekarang Kastil Batavia dan gudang-gudang itu sudah runtuh. Sebelumnya terdapat empat gudang tua di kawasan ini. Satu per satu mulai hilang tertelan pembangunan kota. Dua gudang terkena pembangunan jalan tol. Satu gudang lainnya hancur dimakan waktu. Hanya satu yang tersisa. Di dinding depan gudang itu masih terlihat jelas tulisan "Major Massie". Gudang ini bernama Graanpakhuizen yang berarti Gudang Biji-bijian. Gudang ini dulunya berfungsi untuk menyimpan beras, kopi, teh, rempah-rempah, jagung, kacang, dan lainnya. Bekas gudang penyimpanan makanan di kawasan Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat bermain di kawasan gudang bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, seiring berjalannya waktu, gudang ini mulai dilupakan. Akses masuknya menjadi tempat bongkar muat berbagai truk dan kontainer. Material temboknya ambyar di berbagai sisi. Tak ada lagi kesan gagah pada bagunan ini. Malah tampak menyeramkan. Tak heran jika beberapa acara misteri di stasiun televisi swasta sering menjadikan tempat ini untuk syuting. “Kru acara televisi tersebut tidak berani melanjutkan acaranya di sini karena waktu itu belum mulai saja timnya sudah kesurupan. Lain waktu juga pernah ada supir truk sedang ganti ban kemudian sore-sore begini ada yang nongol di atas kakinya saja,” kata Aan (46) salah satu warga. Beberapa truk yang memenuhi halaman depan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kondisi terkini bekas gudang dan tembok di kawasan Kastil Batavia era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak bagian dalam dari bekas gudang era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Gudang Major Massie yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seseorang sedang membersihkan truk di kawasan bekas Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Penampakan kondisi di dalam bekas gudang Major Messie dan detail temboknya. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, gudang dan tembok kastil yang sempat menjadi destinasi wisata di seputaran Kota Tua ini semakin kurang nyaman dikunjungi. Tertutup oleh hiruk pikuk suara truk hingga padatnya rumah penduduk di kawasan kampung Tongkol. “Dulu sering bule-bule Belanda datang ke sini. Mencari gedung ini. Tapi sekarang sudah jarang,” ujar Aan. Seorang penjual es potong yang melintas di kawasan gudang Major Massie. (Fernando Randy/ Historia.id ). Berbagai boneka yang tampak terawat di gantung di tembok terakhir kawasan Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Hasan Rahaya Selamat dari Bom Hiroshima

    Kisah mahasiswa Indonesia bertahan dari bom atom dan menyelamatkan korban.

  • Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan

    SEKALI waktu Aeilko Jans Zijlker, seorang juragan tembakau di Sumatra Timur berkeliling memeriksa kebunnya. Di tengah jalan, tetiba turun hujan deras. Zijlker pun berteduh di barak bekas tempat penimbunan tembakau.

  • Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani

    KESULTANAN Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan Turki Usmani terutama sejak abad ke-16. Aceh beberapa kali mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan militer. Mereka mengangkut komoditas dagang terutama lada untuk dipersembahkan kepada sultan Turki. Bahkan, ada bukti kalau Aceh pernah mengajukan diri menjadi vasal atau negeri di bawah perlindungan Turki yang ketika itu merupakan imperium terkuat di dunia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page