Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lomba Masak Gerilyawan
MARET 60 tahun silam. Chairul Saleh terpilih menjadi ketua umum Badan Musyawarah Angkatan 45. Pemilihan itu berlangsung dalam Musyawarah Besar Angkatan 45 yang dihelat di Jakarta, 15-20 Maret 1960. Terpilihnya Chairul menjadi angin segar bagi para veteran Perang Kemerdekaan yang seperti dianaktirikan sejak pengakuan kedaulatan. Chairul merupakan politikus sekaligus veteran Perang Kemerdekaan yang dianggap punya kepedulian tinggi, berprinsip, dan berani mengambil risiko. Selain itu, Chairul juga dikenal memiliki cara berpikir out of the box dan gaya kepemimpinan bak koboi. Lelaki tempramen yang menggemari pencak silat itu sejak muda telah menjadi penentang gigih terhadap cara kerja birokratis yang lamban. Bersama Sukarni dan beberapa pemuda Prapatan 10, Chairul menjadi otak di balik penculikan Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Di Perang Kemerdekaan, gaya koboi kepemimpinan Chairul –yang merupakan pendukung kemerdekaan 100 persen Tan Malaka– terlihat saat merespon Agresi Militer II. Ketimbang tunduk kepada pemerintah yang melakukan perjanjian demi perjanjian dengan Belanda yang merugikan republik, Chairul memlih angkat senjata bergerilya melawan Belanda. “Dulu para pemimpin ini adalah mitra pemerintah yang sangat antusias. Divisi Siliwangi dan anggota Gerakan Rakyat Revolusioner turut ambil bagian dalam menghancurkan PKI dalam Pemberontakan Madiun pada September 1948,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 . Bersama sekitar 19 kawannya, Chairul long march dari ibukota Yogyakarta ke Gunung Sanggabuana di barat Purwakarta, Jawa Barat. Meski berbagai rintangan menghampiri rombongan Chairul dalam perjalanan jauh nan berat itu, sampai Chairul sendiri mesti berjalan menggunakan tongkat akibat kakinya bengkak dan berair usai sepatunya jebol di daerah sebelum Purwokerto, tak satu pun anggota rombongan patah semangat. Chairul selalu punya cara menarik untuk mengendurkan otot-otot mereka yang tegang. Di lereng Gunung Ciremai usai rombongan disergap pasukan Belanda, rombongan yang sudah terseok-seok itu tiba-tiba melihat seekor anak kambing mengembik karena terlepas dari induknya. Anak kambing malang itu lalu dimasukkan paksa ke dalam rombongan oleh Dulay, rekan Chairul. Ketika mereka istirahat di tepi sungai di wilayah Hargeulis, Indramayu, Chairul mengeluarkan ide lewat celotehannya. “Hei…kawan-kawan, bagaimana kalau kita adakan acara lomba masak?” kata Chairul, dikutip Irna HN Soewito dkk. dalam biografi berjudul Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Kawan-kawan Chairul yang letih dan kelaparan pun langsung bersemangat mendukung ide Chairul. Suasana pun seketika berganti ceria. Setelah memotong anak kambing malang tadi dan mendapatkan sekadar bumbu dari penduduk, mereka membagi diri ke dalam beberapa kelompok yang saling bersaing menyajikan masakan. Chairul yang sekelompok dengan Erick dan Hasyim Mahdan membuat masakan yang mereka namakan Rendang Padang Kurang Bumbu. “Setelah dicicipi bersama dan dinilai bersama, maka ‘juara masak Long March Lasykar Rakyat Jawa Barat’ ialah Bung Chairul Saleh!” Pengumuman itu sontak mengundang tepuk tangan dan tawa rombongan yang diselingi komentar banyolan yang mengundang gelak tawa. Chairul tak henti-hetinya tertawa. “Akhirnya tempat yang hampir 5 jam mereka duduki itu ditinggalkan dengan penuh kenangan. Perjalanan dengan semangat baru mereka lanjutkan menuju Subang, Kalijati kemudian langsung mendekati gunung yang dituju.”
- Kengerian Pandemi Global dalam Lukisan
SEIRING pergantian hari, warga dunia yang terjangkit COVID-19 alias virus corona makin bertambah. Semakin bertambah pula korban jiwa akibat pandemi bak malaikat maut itu. Di Indonesia, persentasenya kini paling tinggi dari 176 negara. Per Kamis (19/3/2020), kasus positif COVID-19 dilaporkan sudah bertambah menjadi 309. Sementara case fatality rate (CFR)-nya sudah di atas 8 persen, tertinggi dari ratusan negara yang dilanda pandemi COVID-19 lantaran kini sudah 25 pasien yang meninggal. Pandemi COVID-19 tak pilih-pilih sasaran. Seperti di mancanegara, di Indonesia pandemi itu juga menjangkiti golongan elit maupun kaum melarat. Dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, misalnya, COVID-19 menjangkiti Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Baca juga: Karnaval Rio yang disetop sebagai imbas pagebuk COVID-19 Masyarakat yang panik berusaha menyelamatkan diri dengan berbagai cara, tak peduli dengan cara egois bahkan culas. Selain banyak yang menimbun masker dan hand sanitizer , mereka juga memborong sejumlah komoditas herbal macam temulawak. Kondisi semacam itu sedikit-banyak serupa dengan gambaran The Triumph of Death, salah satu mahakarya pelukis Belanda Pieter Bruegel the Elder. Lukisan cat minyak di atas panel kayu berdimensi 117 cm x 162 cm yang dibuat sekitar tahun 1562 itu sejak 1827 bersemayam di ruang pamer Museo del Prado, Madrid, Spanyol. Maut Tak Pandang Bulu Bruegel –atau di beberapa sumber dituliskan Brueghel– pelukis beraliran petit genre dari era Flemish Renaissance itu melukis banyak adegan kengerian tentang kematian akibat Black Death (Maut Hitam) atau Black Plague (Wabah Hitam). Pandemi akibat bakteri Yersinia pestis penyebab pes itu bermula pada tahun 1346. Pandemi itu kembali melanda Eropa dan seluruh dunia berturut-turut di abad ke-15, 16, dan abad ke-17. Total 200 juta jiwa manusia melayang karenanya. Bruegel, diungkapkan sejarawan seni James Snyder dalam Northern Renaissance Art: Painting, Sculpture, the Graphic Arts from 1350 to 1575 , turut melewati dua gelombang pandemi Black Death yang menerjang Eropa pada periode 1563-1566 dan 1573-1588. Maka pandemi Black Death yang mengerikan itu terekam kuat di kepalanya, yang lalu dituangkannya ke atas kanvas. Kolase lukisan self-portrait Pieter Bruegel the Elder (Foto: albertina.at ) Dalam lukisan The Triumph of Death , Bruegel menggambarkan banyak detail bagaimana orang-orang menghadapi maut masing-masing dengan latar panorama bumi nan tandus. “Lautan dipenuhi bangkai-bangkai kapal berserakan. Dari tepi pantai terlihat bumi yang tandus dan hangus tanpa kehidupan apapun sejauh mata memandang,” tulis Snyder. Detail lainnya adalah barisan tengkorak yang hidup dan meneror setiap manusia yang ditemuinya berikut beragam adegan kematian mengerikan. Mulai dari pemenggalan kepala, pembakaran hidup-hidup, penenggelaman, hingga eksekusi dengan roda kereta kuda. Adegan-adegan itu merupakan aneka metode eksekusi mati manusia yang jamak di abad ke-16. Lalu, penggambaran manusia dari kelas bawah hingga bangsawan yang digiring sejumlah tengkorak hidup ke dalam sebuah peti raksasa. Peti itu ternyata merupakan perangkap kematian berhias salib di atasnya, seiring sejumlah tengkorak membunyikan lonceng kematian. Baca juga: Pandemi COVID-19 yang memaksa batalnya gelaran Carnevale Venezia Di bagian kiri bawah, Bruegel menggambarkan seorang raja yang juga tak berdaya. Pundi-pundi emasnya tak bisa menyelamatkannya dari maut. Sementara di kanan bawah, Bruegel menggambarkan kaum yang gemar hidup glamor yang berusaha melawan namun akhirnya gentar ketika berhadapan langsung dengan maut itu sendiri. Ia menggambarkan kaum yang senang hidup foya-foya, judi, dan main perempuan yang mulanya merasa tak takut mati, akhirnya tetap ditelan maut. Begitulah Bruegel mendeskripsikan keadaan manusia “kota” di Eropa yang tak berdaya membendung Black Death . “Lukisan Bruegel memperlihatkan adegan kepunahan massal, dengan maut dan barisan tengkorak membunuh apa yang ditemuinya, adegan yang merujuk wabah besar (Black Death, red. ) yang menewaskan berjuta-juta orang di Eropa. Wabah itu terus terjadi hingga abad ke-19,” tulis Paul Rockett dalam Pieter Bruegel the Elder. Inspirasi di Balik Karya Selain melihat sendiri dampak pandemi Black Death, inspirasi Bruegel membuat The Triumph of Death datang dari kisah di Alkitab dan perjalanannya ke Belgia hingga Italia dalam kurun 1551-1555. Penggunaan media panel kayunya terilhami lukisan bertajuk sama, The Triumph of Death, yang pelukisnya hingga kini belum diketahui. Lukisan di tembok itu dia lihat di Palazzo Sclafani di Palermo, Italia. “Juga tentang tema kematian dengan penggambaran tengkorak yang kemungkinan besar Bruegel terinspirasi lukisan Dance of Death di sebuah pemakaman di Paris yang sudah ada sejak 1424, dan kemudian dibuat ulang di atas panel kayu oleh penerbit Guyot Marchant pada 1485. Dalam lukisan itu juga digambarkan bagaimana sejumlah tengkorak hidup menggiring seorang manusia suci menghadapi maut,” lanjut Rockett. Baca juga: Kala Black Death Hampir Memusnahkan Eropa Fresco atau lukisan tembok "The Triumph of Death" di Palazzo Sclafani (Foto: Galleria Regionale della Sicilia) “Penggambaran itu, bahwa manusia baik ia bangsawan maupun rakyat jelata, berbagi penderitaan, merupakan pesan bahwa kematian bisa datang tanpa peringatan. Inspirasi itu kemungkinan besar terilhami dari karya-karya Hans Holbein the Younger (1497-1543) yang lazim membuat karya tentang manusia-manusia yang digiring malaikat kematian menghadapi maut,” lanjutnya. Inspirasi dari kisah di Alkitab dituangkan Bruegel dalam bentuk seseorang yang dipasung dengan batu di lehernya dan hendak ditenggelamkan oleh sejumlah tengkorak hidup. Kisah itu didalilkan dalam Matius 18:6 yang berbunyi: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ditenggelamkan ke dalam laut.” Juga dalam Lukas 17:2 yang berbunyi: “Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.” Baca juga: Keris dalam Lukisan Rembrandt Terakhir, tentang simbol betapa lemahnya manusia, terlepas dari kesombongan semasa hidup. Bruegel menggambarkannya dalam satu adegan seorang wanita yang tergeletak di depan sebuah kereta kuda yang hendak melindasnya. Wanita itu memegang kayu gulungan benang dan sebuah gunting, interpretasi Atropos. Atropos atau Aisa dalam mitos Yunani adalah salah satu dari tiga serangkai Moirai, yakni dewi-dewi yang memegang takdir manusia. Menurut James Baldwin dalam The Story of Atalanta , Atropos digambarkan sebagai dewi yang memegang benang gulung dan gunting karena dari ketiga Moirai, Atroposlah yang berurusan dalam menentukan kematian seorang manusia dengan menggunting benangnya. Kolase penggambaran Dewi Atropos (Foto: greekmythology.com ) Riwayat lukisan itu, menukil laman resmi Museo del Prado , hingga tahun 1591 dimiliki diplomat Italia Vespasiano Gonzaga yang juga Adipati Sabbioneta, sebuah kota di kawasan Lombardia. Lukisa itu lalu berpindah tangan ke sesama bangsawan Isabella Gonzaga sebelum dimiliki Putri Anna Carraffa dari Stigliano pada 1644. Setelah berpindah tangan kembali pada 1644, lukisan itu menjadi koleksi Ramiro Núñez de Guzmán II, adipati Medina de las Torres. Pada 1746, lukisan itu masuk ke koleksi di Istana La Granja de San Ildefoso setelah dibeli Ratu Spanyol Isabel de Farnesio dan sejak 1827 lukisannya dipindah ke Museo del Prado hingga sekarang. Baca juga: Hikayat Lukisan Gatotkaca
- Sejarah Karantina untuk Cegah Penyakit Merajalela Masa Hindia Belanda
PRESIDEN Joko Widodo akhirnya mengeluarkan himbauan untuk mengkarantina diri guna mencegah penularan virus korona Minggu, 15 Maret 2020 lalu. Sekolah diliburkan, para pekerja diharapkan bekerja di rumah, dan masyarakat diminta untuk beribadah di rumah saja. Namun, tak semua perusahaan memberlakukan kebijakan Kerja Dari Rumah (KDR) atau Work From Home (WFH). Pun tak semua orang mampu mengkarantina diri. Pada Senin, 16 Maret 2020 di Jakarta, misalnya, masih banyak warga beraktivitas. Transportasi umum seperti Halte Trans Jakarta bahkan dipadati penumpang lantaran armada dikurangi sementara tidak semua lembaga memberlakukan WFH. Padahal, upaya mengkarantina diri dianggap cukup efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang sudah ditetapkan WHO sebagai pandemik. Beberapa negara yang sudah lebih dulu terjangkit virus korona pun telah menerapkan self-isolation seperti Tiongkok, Korea, dan Italia. Model pertahanan kesehatan dengan mengisolasi diri ini juga pernah jadi upaya pencegahan di masa lampau. Kala pes melanda Jawa pada 1911, pemerintah kolonial lewat Dienst der Pestbestijding (Dinas Pemberantasan Pes) mengeluarkan larangan menjenguk orang sakit. Warga juga diwajibkan untuk melapor kepada mantri pes jika ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal. Desa yang terjangkit pes diisolasi dengan diberi dinding pembatas antar-desa. Barak isolasi juga dibangun tak jauh dari desa tersebut. Secara rutin, dokter dan mantri pes mengontrol tiap barak dan memantau kondisi desa terjangkit. Malang sebagai kota awal munculnya pes diisolasi. Seluruh penduduk pribumi dan Tionghoa yang tinggal di sepanjang Lawang hingga Pohgajih dikarantina selama 5-10 hari meski pada praktiknya ada yang dikarantina hingga 30 hari. Sementara, karantina tidak diberlakukan pada seluruh orang Eropa yang tinggal di wilayah tersebut. Orang Eropa cukup memeriksakan diri ke dokter yang akan memutuskan perlu tidaknya dikarantina. Namun kala wabah pes kian merebak hingga ke luar Malang, tindakan karantina hanya berlaku pada penderita pes dan keluarganya. Penduduk yang berjarak 100 meter dari rumah pasien terdampak tak lagi ikut dikarantina. Prosedur karantina yang dilakukan kala pes mewabah ini berpegang pada ordonansi karantina. Liesbeth Hesselink, peneliti sejarah kesehatan Hindia Belanda sekaligus penulis Healers on the Colonial Market, kala dihubungi Historia menjelaskan bahwa ordonansi karantina diterapkan beberapa kali dalam penanganan penyakit menular di negeri jajahan, seperti kusta, kolera, pes, dan influenza. Selain berpijak pada ordonansi karantina, kebijakan diambil berdasarkan aturan yang dimuat Staatsblad van Nederlandsch Indie nomor 277 tahun 1911 tentang pemberian wewenang kepada pejabat pemerintah untuk melakukan karantina pada daerah yang terkena wabah. Aturan ini menegaskan, orang-orang dilarang keluar-masuk daerah terjangkit dan akan mendapat sanksi pidana bila melanggar. Selain itu, kebijakan karantina diambil bertolak dari Perjanjian Sanitasi yang dirundingkan beberapa negara yang memiliki koloni di Asia. “Konferensi internasional diadakan untuk merumuskan solusi bersama, misalnya Perjanjian Sanitasi di Paris pada 1910. Pada dasarnya, semua kekuatan kolonial di Asia takut akan penyakit menular,” kata Liesbeth pada Historia. Ketakutan itu tak bisa lepas dari memori kolektif orang Eropa akan Black Death pada 1347-1348 yang memakan banyak korban. Kala Black Death mengancam, Eropa memberlakukan karantina bahkan melakukan apa yang kini disebut lockdown . Kala pes mewabah, Italia menerapkan sistem pertahanan kesehatan yang kompleks. Eugenia Tognotti, profesor sejarah kedokteran University of Sassari (Italia), dalam tulisannya yang dimuat Time “I’m a Historian of Epidemics and Quarantine. Now I’m Living That History on Lockdown in Italy”, menyebut pada dasarnya pertahanan kesehatan dari wabah terletak pada kebijakan karantina, sanitasi, disinfeksi, dan regulasi sosial untuk populasi yang paling berisiko. Ketika jumlah pasien membludak dan tenaga medis kewalahan menangani, inisiatif dari otoritas sipil memegang peranan penting dalam pertahanan kesehatan. Pada epidemi kolera tahun 1884, para pejabat lokal di Calabria memaksa menteri dalam negeri untuk melarang kereta dari luar daerah memasuki kota itu. Kala Flu Spanyol menjangkiti Italia pada 1918, sekolah, bioskop, teater, dan tempat pertemuan ditutup. Segala jenis pertemuan seperti pemakaman dan upacara keagamaan dilarang. Para pemuka agama pun diminta untuk mensterilkan jubah yang biasa mereka pakai untuk memimpin ibadah. Tognotti mendeskripsikan kota Italia pada musim gugur 1918 sebagai kota sepi, gelap, dan hanya toko farmasi yang buka. Mobilitas orang-orang pun dibatasi. Mereka yang ingin keluar atau masuk ke daerah yang berisiko harus menyertakan surat izin. Di Hindia Belanda, upaya pembatasan mobilisasi massa dilakukan pada kapal-kapal. Orang-orang diizinkan untuk menumpang kapal di Teluk Betung hanya jika bersedia dikarantina terlebih dahulu. “Karantina ini hanya mungkin bagi orang kaya, yang bisa membayar uang jaminan sebesar f 100 untuk orang Eropa atau f 25 untuk pribumi dan Tiongkok,” kata Liesbeth. Lebih jauh ia menambahkan, orang-orang miskin (kebanyakan dari mereka adalah kuli) dimasukkan ke dalam gudang tidak layak di tengah pasar. Gudang itu bahkan tak bisa melindungi mereka dari cuaca. Jemaah haji yang kembali dari Mekah juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah kolonial. Sebelum diketahui bahwa pes berasal dari kutu tikus yang tak sengaja terangkut bersama impor beras Burma, rumor awal menyebut wabah itu berasal dari kapal-kapal haji. Pemerintah kolonial pesimis untuk mengendalikan semua kapal yang masuk lantaran jumlahnya amat banyak. Pemerintah juga tak bisa melarang orang Muslim pergi ke Mekah. Oleh karena itu untuk menyiasatinya, pada Mei 1911 pemerintah mengeluarkan ordonansi karantina khusus untuk orang-orang yang baru pulang haji. Semua jemaah, menurut ordonansi, harus tinggal selama 5-10 hari di karantina dekat pelabuhan. Layanan karantina di Pulau Onrust kemudian diperbesar untuk menyediakan tempat bagi 3000 orang dalam 40 barak. “Normalnya hanya pengawasan untuk diagnosis pes,” kata Liesbeth. Haji yang terdiagnosis menderita pes selanjutnya dikarantina di rumah. Kebijakan tersebut dikritik surat kabar De Preanger Bode . Karantina mandiri untuk penderita pes dianggap tidak aman untuk mencegah penyebaran karena penduduk Jawa cukup padat. De Preanger Bode juga menyarankan agar jamaah haji mendisinfeksi pakaian dan barang-barang yang dibawa selama berhaji sebelum kembali ke desa masing-masing. Pasalnya, pes berasal dari kutu tikus yang bisa jadi menyelinap dalam barang-barang para jemaah selama di kapal. Pendisinfeksian merupakan langkah preventif agar para jamaah tak membawa penyakit tersebut ke kampung halaman mereka. Bila kemudian ditemukan kasus pes di desa, warga wajib melaporkannya. Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina Safitry menulis bahwa apabila terdapat penderita pes yang meninggal, tubuhnya tidak boleh dikubur melainkan harus segera dibakar. Keluarga penderita pes pun harus dikarantina untuk mencari kemungkinan penularan. Sebelum tahun 1915, rumah yang terkena pes akan dilakukan disinfeksi dengan menggunakan layar besar yang menutupi seluruh rumah. Upaya tersebut dinilai dokter L Otten yang mengembangkan vaksin pes di Institute Pasteur, Bandung, tidak efektif karena ketika asap dari fumigasi telah hilang, ada kemungkinan tikus akan kembali lagi ke rumah. Biaya yang dikeluarkan untuk mengasapi satu rumah pun relatif mahal, sekira f 20. Cara tersebut kemudian diganti dengan memprioritaskan perbaikan struktur dan bentuk rumah anti tikus. Dinding anyaman bambu diganti dengan bata, tiang bambu diganti dengan kayu agar tak ada lagi tempat untuk tikus membuat sarang. Seluruh upaya pemberantasan itu ditargetkan selesai pada 1917. Namun penyakit datang silih berganti. Setelah pes pada akhir 1918, Hindia Belanda diserang influenza. Hampir serupa dengan penanganan pes, orang-orang yang terjangkit influenza juga dikarantina. Kapal-kapal yang transit bahkan dilarang menurunkan penumpang atau melakukan kontak agar tak ada penyebaran penyakit dari laut ke daratan. Priyanto Wibowo dkk. dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda menyebut orang-orang yang berada di atas kapal sangat rentan terhadap penularan penyakit influenza mengingat penularan melalui angin laut selama perjalanan amat mudah terjadi. Orang-orang yang berasal dari negara yang telah terjangkit, sambungnya, juga dianggap berbahaya. Kondisi kesehatan yang buruk di kapal dan terbatasnya fasilitas kesehatan di sana menambah kewaspadaan terhadap kapal-kapal yang tiba. Dalam waktu tidak sampai setengah tahun, jumlah pasien influenza dapat ditekan dan tidak terdapat lonjakan tajam. Terbukti, usaha pencegahan dengan isolasi dan karantina berhasil menekan penyebaran penyakit. Banyak orang selamat, wabah pun berhasil dijinakkan. “Karantina sudah banyak diberlakukan. Orang harus tinggal di rumah dan hanya diperbolehkan meninggalkan rumah jika ada keperluan mendesak. Tetapi ada pula diskusi jika perlakuan ketat dengan menjatuhkan denda pada orang yang keluar rumah tanpa izin, seperti Italia dan Spanyol sebenarnya tidak perlu dilakukan,” kata Liesbeth.
- Dinho Oh Dinho...
DI saat orang di berbagai belahan dunia tengah direpotkan oleh pandemi COVID-19 (virus corona ),legenda hidup sepakbola Brasil Ronaldinhomasih bisa menimang-nimang bola dan mencetak gol demi gol.Memang itu bukan di lapangan sepakbola seperti biasanya, namun di dalam penjara. Sejak akhir pekan lalu hingga Senin, (16/3/2020), ia sudah mencetak 11 gol untuk sebuah tim di turnamen futsal di dalam penjara. Ya, Dinho (sapaan Ronaldinho) bersama kakaknya, Roberto de Assis Moreira, ditahan di penjara berkeamanan maksimal di Asunción, Paraguay sejak 6 Maret 2020.Penyebabnya, Dinho dan kakaknya mencoba masuk ke negeri berjuluk “Corazón de América” (jantungnya Amerika) itu menggunakan paspor dan identitas palsu. Mengutip The Guardian , Selasa (17/3/2020), Dinho ditahan di penjara itu dalam waktu yang belum ditentukan, sembari menunggu rampungnya penyelidikan. Kuasa hukum Dinho dan Roberto meminta penangguhan penahanan, namuntak dikabulkan Kepolisian Asunción. Keduanya membela diri bahwa paspor dan identitas palsu itu didapat dari pihak sponsor yang mengundangnya datang ke Paraguay. Pasalnya paspor Brasil dan Spanyol Dinho disita penegak hukum Brasil sejak Juli 2019 akibat mengemplang pajak. “Saya sedih mendengar apa yang terjadi kepada teman saya. Dia tak layak mengalaminya,” cetus eks-rekan setim Dinho di timnas Brasil, Rivaldo. Dinho (berkaus putih) bersama kakaknya, Roberto de Assis Moreira kala digiring petugas keamanan akibat 'ke-gep' masuk Paraguay pakai paspor palsu (Foto: Twitter @Mafipe) Namun Dinho tetaplah Dinho. Selain masih menyisakan magis di kakinya dalam turnamen di balik dinding penjara itu, bekas bintang Paris Saint-Germain (PSG), Barcelona, dan AC Milan itu masih jadi pribadi yang murah senyum di setiap saat. “Seperti biasa Anda melihatnya di televisi ketika tampil bermain bola, dia selalu tersenyum,” ungkap Nelson Cuevas, eks bintang timnas Paraguay yang menjenguknya. Siapa Tak Kenal Dinho? Para penikmat bola di manapun mengenal Dinho sebagaimana legenda-legenda penyerang Brasil lainmacam Pelé, Zico, hingga Ronaldo. Sejak merumputdi Eropa bersama tiga klub pada 2001 hingga satu dekade kemudian, Dinho berandil dalam tujuh trofi yang dimenangkan Barca, termasuk satu gelar Liga Champions musim 2005-2006. Sukses itu membuat namanya masuk ke timnas Brasil. Di timnas, Dinho punya andil besar membawa tim Samba merebut Copa América 1999 dan trofi Piala Dunia untuk kelima kalinya di Korea-Jepang tahun 2002. Pada 2011, ia mudik ke Brasil di sisa-sisa kariernya bersama Atlético Mineiro, Querétaro (2014), dan Fluminense (2015) sampai gantung sepatu. Seperti halnya banyak bintang sepakbola Brasil, Dinho bisa punya bab masa jaya di buku kariernya – dengan bergelimang prestasi pribadi, salah satunya trofi Ballon d’Or 2005 – bukan tanpa perjuangan. Ia meniti kariernya se j a k dini sebagai anak yatim . Rebecca Thatcher Murcia dalam biografi bertajuk Ronaldinho menguraikan, Dinho lahir pada 21 Maret 1980 di Porto Alegre, provinsi Rio Grande do Sul dengan nama Ronaldo de Assis Moreira. Ia anak ketiga dari pasutri João de Assis Moreira dan Dona Miguelina Elói Assis dos Santos. Dua kakaknya, Deisi (perempuan) dan Roberto (laki-laki). Roberto kelak menjadi manajer Dinho dan turut mendekam di balik jeruji besi di Paraguay. “Keluarganya hidup di lingkungan miskin di Porto Alegre. Ayahnya seorang buruh las di galangan kapal dan petugas jaga malam di markas klub Grêmio. Terkadang ayahnya juga bermain di klub amatir Esporte Clube Cruzeiro. Ibunya, selain membesarkan anak-anak, juga menyambi jadi sales kosmetik,” tulis Murcia. Dinho pertamakali dikenalkan sepakbola oleh ayahnya kala berusia lima tahun. Ia jatuh hati pada permainan si kulit bundar meski belum di lapangan hijau. Dinho kecil sudah gemar belajar juggling bola seraya main-main sepakbola pantai dan futsal. “Ayahnya dan kakaknya mengajarinya skill sepakbola di rumah. Dia akan bermain selama berjam-jam. Kadang dia belajar sendiri juggling bola di udara, tidak hanya dengan kakinya, tapi juga dengan lutut, kepala, dan dadanya. Dia juga belajar sendiri men- dribble bola cepat dan kemampuan mengontrol bola dari pesepakbola pro yang ia tonton lewat layar kaca,” sambungnya. Dua cuplikan Dinho cilik kala menimba ilmu di akademi muda Grêmio (Foto: Twitter @10Ronaldinho) Saat usia tujuh tahun, ia bergabung ke akademi muda Grêmio. Privilege itu bisa ia nikmati mengingat Robertomerupakan salah satu pemain utama di klub berjuluk Imortal Tricolor tersebut. Dengan kemampuannya yang di atas rata-rata anak sebayanya, Dinho sering dimainkan di tim anak-anak yang lebih tua. Sejak itu ia mulai dipanggil teman-teman setimnya dengan “Ronaldinho” yang artinya “Ronaldo kecil” karena ia menjadi pemain termuda di tim. Sementara, futsal dan sepakbola pantai masih gandrung dilakoninya beriringan dengan sepakbola lapangan hijau. “Banyak gerakan yang saya ciptakan sendiri datangnya dari futsal. Karena permainannya dilakukan di lapangan yang kecil dan kontrol bola sangat berbeda dalam futsal dan sepakbola. Kontrol bola saya selama ini sangat mirip dengan kontrol bola pemain futsal,” kataDinho, dikutip John A. Torres dalam Soccer Star Ronaldinho. Setahun kemudian,keluarga mereka pindah ke rumah yang lebih layak di tengah kota Porto Alegre. Rumah itu diberikan klub untuk kakaknya, Roberto. Namun duka seketika mengusik kebahagiaan keluarga yang menempati rumah baru itu. “Terjadi tragedi saat keluarganya tengah menyiapkan pesta ulangtahun Roberto yang ke-18 dan anniversary pernikahan orangtuanya yang ke-19. Ayahnya mengalami serangan jantung hingga terpeleset dan ambruk di tepi kolam renang. Ia tak sadarkan diri lantaran kepalanya terbentur lantai. Walau sudah berusaha diselamatkan dan dilarikan ke rumahsakit, nyawa ayahnya tak tertolong,” lanjutnya. Dinho harus menjadi anak yatimsaat usianya baru delapan tahun. Dukanya bertambahdengan cedera parahnya Roberto yang tak bisa disembuhkan sehingga harus tutup karier lebih dini. Dinho sempat mengurung diri di kamarnya beberapa waktu akibat kedukaan yang bertubi-tubi itu. Dinho akhirnya teringat banyak wejangan mendiang ayahnya tentang sepakbola. “Semakin hari sentuhan bola di kakinya semakin baik. Dia selalu teringat banyak pesan ayahnya, salah satunya: ‘biarkan segalanya bergulir simpel’. Ia pun mengamalkannya di lapangan,” tambah Torres. Puncak pencapaian Dinho di timnas kala memenangi Piala Dunia 2002 (Foto: Twitter @10Ronaldinho) Di pundaknyalah harapan masa depan keluarganya diusung. Dinho bangkit. Namanya mulai dikenal luas setelah jadi sorotan sejumlah media lokal. Gara-garanya, saat berusia 13 tahun Dinho bikin geger usai mencetak 23 gol dalam sebuah laga yang berakhir dengan skor 23-0. “Ada beberapa detail yang belum jelas tentang itu, apakah terjadi di sebuah laga sepakbola lapangan hijau atau futsal. Namun hal itu tak menjadi masalah karena banyak wartawan suratkabar dan televisi yang tertegun dan pemain belia itu menjadi selebritis instan,” lanjutnya. Ditolak Madrid, Dipinang Barca Sejak masuk tim utama Grêmio pada 1998, Dinho mulai menebar magisnya. Di final Campeonato Gaúcho Série A1 kontra tim sekota Internacional, Dinho kembali menjadi pemberitaan gegara mempermalukan Dunga, gelandang veteran cum kapten timnas Brasil saat menang Piala Dunia 1994 . Momen itu terjadi kala Dunga menempel ketat pergerakan Dinho.Si bintang muda melakukan trik bola lambung ke atas kepala Dunga agar ia lepas dari kawalan, lantas disusul dengan dribble bola cepat khasnya yang sudah dilakoninya sejak di tim muda Grêmio. “Saya bekerja dengan beberapa pemain hebat di masa saya melatih di periode paling menarik dalam karier mereka kala masih berusia 19-20 tahun. Namun dengan tak mengurangi rasa hormat pada yang lain, kemampuan Ronaldinho berada di atas mereka semua,” sanjung Celso Roth, pelatih Grêmio periode 1998-1999, dikutip Jethro Soutar dalam Ronaldinho: Football’s Flamboyant Maestro. Alhasil, sejak 1997 Dinho sudah masuk timnas Brasil U-17. Ia menjadi bagian tim Samba kala menggondol Piala Dunia U-17 pada 1997 yang digelar di Port Said, Mesir. Meski di Grêmio ia hanya memberi gelarCampeonato Gaucho pada 1999, nama Dinho masuk catatan sejumlah pemandu bakat klub-klub top Eropa. Pada 2001, ia memukau Arsenal yang menjadi klub pertama yang naksir pada permainannya.Sayangnya ia batal merumput bersama klub berjuluk The Gunners itu di Liga Inggriskarena tersandung izin kerja. Pun dengan pinangan klub Skotlandia, St. Mirren, dengan perkara yang sama. Merantau ke Eropa, PSG jadi klub pertama Dinho di Benua Biru (Foto: Twitter @nel17brian/@10Ronaldinho) Beruntung, Paris St. Germain berkenan mengurus izin kerjanya meski prosesnya rumit. Dinho akhirnya resmi berkostum PSG dengan nilai transfer 5 juta euro berdurasi lima tahun kontrak. Di musim perdananya, Dinho turut serta menyumbang gelar Piala Intertoto 2001. Namun, ia tak akur dengan pelatih PSG Luis Fernandez. Penyebabnya lantaran Dinho mulai tertular kehidupan malam, hingga beberapakali terlambat latihan. P ada jendela transfer 2003, nama Dinho sempat diincar dua raksasa Spanyol, Real Madrid dan Barcelona. Dinho yang karier nya sedang melangi t setelah setahun sebelumnya memenangi Piala Dunia 2002 , menjadi salah satu nama di bursa transfer yang paling santer dihubungkan dengan dua raksasa Spanyol itu. Sel a in Dinho ada David Beckham dan Thierry Henry. Henry kemudian berada di luar radar lantaran akhirnya memutuskan bertahan di Arsenal. Sementara Real Madrid lebih memilih Beckham lantaran kerupawanannya masuk dalam kriteria bos MadridFlorentino Perez, yang menginginkan skuad Galaticos-nya terdiri dari para pemain tampan. Dinho pun disingkirkan karena wajahnya tak setampan Beckham. Namun, dewi fortuna masih menaunginya. Bos baru Barca, Joan Laporta, kepincut performaDinho. Ia sampai rela merogoh kocekklub 30 juta euro sebagai mahar yang melampaui penawaran Manchester United. Keputusan Laporta tak salah. Ia jadi pembeda dan pengubah peruntungan Barca yang sebelumnya sedang mengalami masa-masa sulit. Berturut-turut, Dinho ikut menyumbang saham kala Barca juara La Liga musim 2004-2005, dan 2005-2006, serta Supercopa de España 2005 dan 2006. Tak ketinggalan satu trofi Liga Champions 2005-2006. Dengan Dinho dan Lionel Messi yang kala itu tengah naik daun, Barca kembali jadi rival yang diperhitungkan Madrid. Setiap kali El Clásico (duel Barca-Madrid) terjadi, tak terhingga momen seru dan sengit terjadi, baik kala beradu di Camp Nou maupun Estadio Santiago Bernabèu. Dinho kala "ngajarin" Real Madrid main bola dalam duel El Clasico dengan dua golnya pada 19 November 2005 (Foto: fcbarcelona.com ) Dalam laga 19 November 2005 di markas Madrid, Dinho bahkan menceploskan doblete alias dwigol ke gawang Iker Casillasuntuk menegaskan kemenangan 3-0. Aksi-aksi cantiknya kala menari-nari dengan bola sebelum mencetak dua golnyamemaksa fans Madrid di Santiago Bernabeu memberi standing ovation . Dinho tercatat jadi jugador Barca kedua setelah Diego Maradona yang menerima penghormatan itu pada 1983di tempat yang sama. “Saya takkan melupakan momen ini karena sangat jarang bagi pesepakbola menerima penghormatan itu dari fans lawan,” ujar Dinho, dinukil The Independent , 21 November 2005. Namun sejak 2008 kala pindah ke AC Milan, perlahan magis Dinho mulai pudar. Pun saat pulang kampung ke Brasil hingga pensiun pada 2015. Meski begitu, ia tetap legenda hidup yang takkan dilupakan Messi dkk. “Ronaldinho adalah pemain yang bertanggungjawab atas perubahan di Barca. Kala itu kami mengalami masa yang buruk dan perubahan itu datang seiring kedatangannya dan itu hal yang luar biasa,” kenang Messi di laman resmi klub, fcbarcelona.com , 13 Oktober 2016.
- Wabah Penyakit dalam Perang Makassar
CORNELIS Janzoon Speelman, komandan pasukan VOC, mengibarkan bendera merah pada 21 Desember 1666. Tanda dimulainya perang VOC melawan Kerajaan Gowa-Tallo yang dipimpin Sultan Hasanuddin. VOC dengan sekutunya Arung Palakka unggul dalam pertempuran sehingga memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Perjanjian Bungaya mengharuskan semua benteng yang dimiliki oleh kerajaan Gowa-Tallo dihancurkan kecuali Sombaopu dan Jumpandang –kemudian diubah namanya menjadi Fort Rotterdam. Ternyata, perjanjian itu tidak menghentikan perlawanan. Karaeng Karunrung, penasihat sekaligus Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo, memutuskan terus melawan.
- Masuk Desa Tanpa Busana Karena Diserang Belanda
BEGITU Belanda melancarkan Agresi Militer II yang diikuti dengan penangkapan para petinggi republik, Chairul Saleh, pengikut Tan Malaka yang menentang jalur diplomasi politik, memerintahkan bawahannya untuk memulai long march kembali ke Jawa Barat. “Kita harus kembali ke pos kita masing-masing. Pos perjuangan kita adalah Krawang, Jawa Barat. Kumpulkan dan siapkan pasukan, kita harus secepatnya berangkat. Kumpulkan kawan-kawan, kumpulkan senjata yang ada. Hari ini juga kita meninggalkan Yogya lewat Krawang, Purwakarta menuju Sanggabuana,” kata Chairul sebagaimana dikutip Irna HN Soewito dkk. dalam biografi berjudul Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Sikap Chairul yang memilih angkat senjata sebagai ketidaksetujuan terhadap politik diplomasi pemerintah membuatnya menjadi lawan pasukan republik. “Satu di antara kelompok-kelompok radikal yang penghancurannya ditugaskan kepada Angkatan Darat adalah lasykar komunis-nasionalis yang berdiri di belakang Tan Malaka. Kelompok lasykar yang terakhir –yang jumlahnya cukup besar dan yang setia kepada ajaran Tan Malaka– ditundukkan dalam bulan Oktober 1949 di Banten Selatan. Pemimpin mereka, Chaerul Saleh, baru dapat ditangkap bulan Maret tahun berikutnya,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwifungsi ABRI . Dari rumah-markas di Jalan Bausasran, Yogyakarta, Chairul cs. lalu bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok Chairul berangkat paling akhir. Di Ngasem, Chairul mampir ke rumah seorang kawannya unutk meminta sedikit bekal beras dan uang. Kelompok-kelompok kecil tadi akhirnya kembali bertemu dan bergabung setelah mencapai Gunung Menoreh, Magelang. Perjalanan mereka kian ramai setelah sepasukan dari Polri yang hendak ke Indramayu memutuskan bergabung. “Penggabungan ini cukup membantu, empat belas orang bersenjata 10 karaben dan 2 pucuk pistol,” sambung Irna dkk. Sekira 35 hari setelah keberangkatan itu, Chairul dan kawan-kawan itu akhirnya sampai di perbatasan Jawa Barat. Dalam masa sebulan lebih itu, suka-duka silih berganti mengiringi perjalanan berat mereka. Kelaparan, kedinginan, kekhawatiran, bahkan kesedihan akibat kehilangan teman menjadi warna dalam perjalanan itu. Chairul sendiri saat itu telah berjalan menggunakan tongkat akibat telapak kakinya bengkak dan berair setelah sepatunya jebol sebelum masuk Purwokerto. “Dasar kaki borjuis, tidak mau menyesuaikan diri,” kata Chairul membanyol. Gaya kepemimpinan Chairul yang egaliter dan kerap membanyol itu mampu menjaga semangat anggota rombongan. Tak satupun dari mereka mengeluhkan perjalanan berat itu meski berulangkali maut nyaris menghampiri. Di persawahan Salem dekat perbatasan Jawa Barat, mereka diberondong peluru pesawat Mustang Belanda. Tak satupun dari peluru pesawat Belanda itu yang mengenai sasaran. Rombongan Chairul lalu melanjutkan perjalanan ke Cirebon melalui lereng Gunung Ciremai. Di sana, mereka menyempatkan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Majalengka. Saat hendak menyeberangi Sungai Cimanuk, rombongan berhenti untuk menunggu perintah Chairul. Semua diperintahkan Chairul untuk melepas pakaian alias bugil karena masing-masing hanya membawa pakaian yang dikenakan. Setelah semua pakaian selesai ditanggalkan dan ditaruh di atas kepala masing-masing, Chairul memerintahkan Salim Bajeri berjalan duluan untuk menjajaki kedalaman sungai. Salim dipilih karena postur tubuhnya tinggi. Satu per satu anggota rombongan, termasuk Chairul, akhirnya mengikuti Salim. Saat mencapai tengah sungai, rentetan tembakan menyambut mereka. Para serdadu Belanda yang bersembunyi di tebing seberang ternyata telah menunggu kedatangan mereka. Chairul langsung memerintahkan rombongan untuk mundur dan berlindung di tempat aman. Kepanikan membuat mereka dengan cepat bisa keluar dari sungai. “Dalam keadaan telanjang bulat semua lari masuk kampung terdekat. Dapat dibayangkan bagaimana penduduk melihat sepasukan orang dalam keadaan bugil, berlari-lari mencari perlindungan di antara rumah-rumah mereka,” sambung Irna dkk.
- Selera Naga Sejuta Rasa
SUDAH empat tahun terakhir ini Banyuwangi menggelar Festival Imlek. Sebuah upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mengangkat sekaligus memupuk kerukunan dalam keberagaman di Bumi Blambangan. Tapi ada yang spesial tahun ini. Bersamaan dengan Festival Imlek, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperkenalkan Pecinan Street Food; pasar wisata kuliner yang menjajakan beragam makanan khas Tionghoa. “Pecinan Street Food akan rutin digelar setiap Jumat malam di areal jalanan menuju Kelenteng Hoo Tong Bio,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat peresmian pada 31 Januari 2020. “Jadi warga Banyuwangi dan wisatawan yang ingin menikmati masakan khas Tionghoa tidak perlu repot. Langsung saja ke tempat ini. Dijamin puas.” Pecinan Street Food digelar di sepanjang Jalan Ikan Gurame, Kelurahan Karangrejo, yang membentang sepanjang 300 meter. Di kawasan ini Anda bisa mencicipi dimsum, lontong cap go meh, bebek, ayam peking, sate tai chan, hingga nasi goreng hitam. Selain itu, Anda akan menikmati suasana khas nan indah yang kental dengan nuansa Tionghoa. Mulai dari musik, hiburan, hingga ornamen serba merah. Pecinan Street Food dipusatkan di sekitar Kelenteng Hoo Tong Bio, yang memiliki nilai sejarah penting bagi komunitas Tionghoa di Banyuwangi. Perlindungan Sejak lama orang Tionghoa menaruh perhatian pada perkembangan Blambangan, nama lama dari Banyuwangi. Ini dibuktikan dari kunjungan Cheng Ho ke Blambangan pada abad ke-14., sebagaimana dicatat dalam Ming Shih , sumber Tiongkok pada masa Dinasti Ming, yang diterjemahkan W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa . Kedatangan Cheng Ho bertepatan dengan konflik antara Blambangan dan Majapahit. Setelah itu tak ada informasi lain mengenai orang Tionghoa. Namun, orang Tionghoa dikenal sebagai pedagang ulung. Selain berdagang di pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara, mereka juga singgah di Pelabuhan Ulupampang di Blambangan, salah satu pelabuhan tersibuk di sekitar Selat Bali. Kelak, mereka membentuk jaringan perdagangan yang kuat. Bahkan ikut menyokong Agong Wilis dalam perlawanan melawan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) yang ingin menguasai Blambangan. Menurut kronik lokal Babad Notodiningratan , orang Tionghoa mulai menetap di Blambangan pada 1631. Jumlahnya kian meningkat setelah “geger pecinan” di Batavia pada 1740. Banyak orang Tionghoa menyelamatkan diri ke Blambangan. Mungkin mereka mendapat perlindungan dari Tan Hu Cinj in . Dari cerita turun-temurun, Tan Hu Cinjin berasal dari Propinsi Kwan Tung. Dia dikenal pintar dan terampil sebagai sinse, pakar hong shui, arsitek bangunan, dan pertamanan. Karena itu dia diminta raja Blambangan untuk membangun istana di daerah Macan Putih. Sebagai penghormatan atas jasa Tan Hu Cinjin, komunitas Tionghoa kemudian membangun Kelenteng Hoo Tong Bio yang berarti “kuil perlindungan orang-orang Tionghoa”. Kelenteng berada di Lateng (sekarang Blimbingsari, Rogojampi), tak jauh dari Pelabuhan Ulupampang. Tak diketahui pasti kapan didirikan. Namun keterangan pada semacam prasasti dalam kelenteng menunjukkan “Qianlong jiachen” (1784). Di situ juga termuat nama Tan Cin Jin dalam bentuk kaligrafi yang indah. Setelah ibukota Blambangan pindah dari Ulupampang (kini, Kecamatan Muncar) ke Banyuwangi, kelenteng pun ikut dipindahkan. Apalagi pemindahan ibukota disertai pemberlakuan wijkenstelsel dan passenstelsel , yang jadi pijakan munculnya Pecinan. Hingga kini Kelenteng Hoo Tong Bio masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu bangunan tertua di Kabupaten Banyuwangi. Selain sebagai pusat keagamaan, Kelenteng Hoo Tong Bio berfungsi secara sosial dan budaya. Adaptasi Komunitas Tionghoa mempertahankan dan mengembangkan tradisi dan budaya leluhur, termasuk kulinernya. Mereka mencoba beradaptasi dengan lidah lokal. Jika semula masakan Tiongkok tidak memiliki rasa yang kaya, rumit, dan kompleks karena lebih menekankan citarasa asli, maka ketika bertemu bumbu-bumbu lokal akan menjadi lebih kaya rasa. Selain soal rasa, kuliner Tionghoa menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Islam. “Kalo orang mau cari masakan Chinese tapi halal, maka akan didapat setiap Jumat malam di sekitar kelenteng Hoo Tong Bio ini,” ujar Anas dalam sambutannya. “Perkawinan” antara selera Tionghoa dan citarasa lokal menjadi nyawa dalam Pecinan Street Food. Setiap Jumat malam, kawasan K e lenteng bakal dipenuhi aneka makanan mulai dari ayam kunpao, lontong cap go meh, hingga bebek dan ayam Peking. Anda bisa mencicipi aneka jajanan seperti kue keranjang, bakpao ayam, bacang, dan manisan Tiongkok. Ada juga minuman khas sep e rti teh bunga krisan, kopi, dan masih banyak lagi. Bahkan, sebenarnya kuliner khas Banyuwangi, yakni rujak soto, pun tak luput dari pengaruh Tionghoa. Denys Lombard, sejarawan Perancis, dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia , mencatat orang-orang Tionghoa berperan penting bagi kelahiran soto. Soto berawal dari bahasa Mandarin caudu atau jao to . Masakan khas Tionghoa ini kali pertama populer di Semarang pada abad ke-19 lalu menyebar ke daerah lainnya dengan berbagai varian rasa, cara memasak, bumbu, penyajian, pelengkap, dan citarasa. Di Banyuwangi, rujak soto sebenarnya racikan beragam sayuran; kacang panjang dan kangkung, potongan tahu dan tempe dengan bumbu kacang dan petis yang disiram kuah soto. Sajian rujak soto bisa dinikmati di pasar kuliner lainnya. Pecinan Street Food memang hanyalah salah satu konsep pasar kuliner tematik yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Saat ini, tak kurang ada 19 pasar kuliner yang tersebar di berbagai kecamatan dengan waktu yang berbeda-beda. Inovasi ini bertujuan mendongkrak ekonomi lokal. Siapa tak tertarik?
- Wabah Aneh yang Membuat Orang Menari
PADA 1518, sebuah wabah aneh terjadi di Kota Strasbourg, di wilayah Kekaisaran Romawi Suci (kini masuk wilayah Prancis). Wabah ini bukan wabah penyakit seperti flu, infeksi, atau penyakit kulit menular lainnya, melainkan wabah yang membuat orang menari hingga meninggal dunia. Tragedi ganjil ini kemudian disebut sebagai choreomania atau wabah menari 1518. Wabah menari dimulai pada 14 Juli 1518 ketika Frau Troffea, seorang warga Strasbourg keluar rumah dan menari di jalanan. Ia menari tanpa alasan yang jelas, tanpa musik dan tanpa henti. Troffea menari selama tiga hari hingga kakinya lecet-lecet dan berlumuran darah. Orang-orang mengira ia kerasukan setan. Ia pun lalu dibawa ke sebuah tempat suci di Pegunungan Vosges. John Waller, ahli sejarah kedokteran di Michigan State University, dalam bukunya A Time to Dance, A Time to Die menyebut gejala yang dialami Troffea merebak cepat beberapa hari kemudian. Orang-orang mulai turun ke jalan dan mulai menari tanpa henti. “Dalam sebulan, menurut salah satu kronik sejarah, sebanyak 400 orang mengalami kegilaan. Hingga suatu waktu di akhir bulan Juli, hanya seminggu atau lebih setelah Frau Troffea mulai menari, epidemi ini mengambil wajah baru yang lebih kejam,” tulis Waller. Di musim panas yang menyiksa itu, mereka menari berhari-hari hingga kelelahan, kaki berdarah-darah, urat-urat terkoyak hingga terkena serangan jantung. Diperkirakan, setiap harinya ada 15 orang yang sekarat. Dalam sebuah manuskrip yang ditemukan di arsip kota yang dikutip Waller, tercatat, “Ada wabah aneh baru-baru ini. Terjadi di kalangan rakyat jelata. Banyak orang mengalami kegilaan. Mulai menari. Mereka terus menari siang malam. Tanpa hambatan. Sampai mereka jatuh pingsan. Banyak orang kehilangan nyawa karenanya.” Penelusuran Waller menunjukan bahwa wabah serupa ternyata pernah terjadi di Eropa. Namun, sebagian besar tidak diketahui apakah peristiwa tersebut merupakan kejadian nyata atau isapan jempol belaka. Sementara wabah menari di Strasbourg terjadi setelah ditemukannya mesin cetak sehingga terdapat beragam sumber yang mendokumentasikannya. Terkait penyebab wabah menari, ada dugaan bahwa epidemi ini bermula dari ergot. Ergot adalah penyakit jamur pada batang gandum lembab. Ergot dapat menyebabkan delusi, kejang-kejang dan guncangan hebat. Namun, korban-korban wabah menari ternyata tidak menunjukan gejala demikian. “Tidak satu pun dari ciri-ciri ini dijelaskan oleh saksi wabah menari Strasbourg, dan tampaknya tidak mungkin bahwa menari akan dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama sementara menderita gejala-gejala ini,” tulis Dr. Marc Burton dalam artikelnya di pastmedicalhistory.co.uk. Sejarawan lain menyebut peristiwa ini terkait dengan kultus sesat. Namun tak ada bukti memadai yang mendukung teori ini. “Mungkin tidak pernah diketahui secara pasti apa yang menyebabkan wabah aneh dan ganjil ini tetapi hal itu berfungsi sebagai pengingat akan sifat aneh dan tak terduga dari jiwa manusia,” sebut Marc. Sementara itu, Waller menyebut wabah menari berkaitan erat dengan perubahan kehidupan di Strasbourgh. Kala itu, dunia tengah mengalami ketidakpastian. Gagal panen, kelaparan, cacar dan berbagai penyakit mematikan muncul. Selain itu, tambah Waller, kondisi spiritual masyarakat saat itu juga perlu diteliti. Gabungan antara masalah duniawi dan spiritual ini yang kemungkinan menimbulkan tekanan-tekanan psikologis. Wabah tari, menurutnya, adalah respons terhadap kesengsaraan, sugesti, dan kepercayaan. “Otak di bawah tekanan berat selalu menghasilkan sensasi dan perilaku tertentu, walaupun di luar kehendak sendiri, memunculkan pemikiran dan keinginan penderita serta masyarakat di sekitar mereka,” sebutnya. Wabah menari mereda awal September 1518. Tak bisa dipastikan berapa korban meninggal. Sementara itu, wabah ini telah menyebabkan kekacauan dan huru-hara di beberapa kota di wilayah Kekaisaran Romawi Suci.*
- Repatriasi Artefak Indonesia dan Virus Dekolonisasi
SUDAH 189 tahun keris milik Pangeran Diponegoro berada di Belanda. Kini, keris itu akhirnya dikembalikan pemerintah Kerajaan Belanda kepada Indonesia pada Selasa (3/3/2020) pagi waktu Den Haag. Penyerahan keris dilakukan Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Ingrid van Engleshoven dan Direktur Nationaal Museum van Wereldculturen Stijn Schoonderwoerd kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja . Setelah itu keris Pangeran Diponegoro itu diserahkan lagi ke Museum Nasional, Kamis (5/5/2020). Keris itu sempat dinyatakan hilang hingga akhirnya ditemukan dan diidentifikasi tim riset Belanda. Pada 23-24 Februari 2020, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid bersama sejarawan Sri Margana dan Pemimpin Redaksi Historia Bonnie Triyana mengecek dan mengonfirmasi keris itu di Den Haag sebelum resmi diserahterimakan ke pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). “Jadi kita ke sana sebagai semacam tim yang diminta untuk melakukan review dan konfirmasi, apakah kesimpulan yang dibuat tim riset Belanda sudah benar atau tidak,” ujar Sri Margana kepada Historia. Baca juga: Hilang Ratusan Tahun, Keris Diponegoro Ditemukan di Belanda Bukan hanya sebilah keris kondang itu. Mereka juga menjajaki rencana repatriasi ribuan artefak Indonesia lainnya yang masih tersebar di sejumlah museum Belanda. Keris milik Pangeran Diponegoro yang dikembalikan Belanda ke Indonesia (Foto: rijksoverheid nl) Upaya repatriasi kali ini sedikit berbeda dari yang sudah digulirkan Desember 2019. Saat itu informasi sejarah sekira 1.500 benda yang dikembalikan Museum Nusantara di Delft belum semuanya terdata. Pasalnya pengembalian barang-barang itu berkaitan dengan gulung tikarnya museum tersebut. “Sesuai perundingan dengan pihak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, repatriasi nanti bukan semata-mata pengembalian. Tapi ada riset terlebih dulu untuk mendapatkan wawasan pengetahuan yang jelas. Baik itu asal-usul bendanya, sampai soal sebab-musabab benda itu bisa sampai di Belanda,” timpal Bonnie. Gegara Macron Wacana dan inisiasi repatriasi seabrek artefak Indonesia yang masih terebar di sejumlah museum, di antaranya Rijksmuseum di Amsterdam dan Nationaal Museum van Wereldculturen di Rotterdam, datang dari pemerintah Belanda. Gara-garanya wabah “virus” dekolonisasi yang dipicu pidato Presiden Prancis Emmanuel Macron di Universitas Ougadougou, Burkina Faso, 28 November 2017. Muncullah reaksi dari beberapa negara Eropa lainnya yang bertindak sebagai kolonialis di masa lalu. “Iya, wacana repatriasi kali ini datang dari Belanda karena di Eropa muncul banyak desakan mengenai repatriasi benda-benda budaya milik negara-negara koloni, baik itu Prancis, Inggris, Belanda,” lanjut Sri Margana. Baca juga: Belanda Kembalikan Ribuan Benda Bersejarah Macron mencetuskan isu dekolonisasi itu berlandaskan agenda membuka lembaran baru dalam hubungan internasional di kawasan Afrika. Salah satu poinnya adalah pernyataan bahwa benda-benda bersejarah Afrika sudah semestinya dikembalikan para mantan kolonialis. Macron pribadi menjanjikan Prancis mengembalikannya dalam jangka waktu lima tahun. “Warisan Afrika tak boleh hanya eksis dalam koleksi-koleksi pribadi dan museum-museum Eropa. Warisan Afrika mestinya tidak hanya dipamerkan di Paris, namun juga di Dakar, Lagos, dan Cotonou. Pengembalian artefak-artefak ini akan jadi pekerjaan dan kemitraan ilmu pengetahuan dan museum yang besar,” cetus Macron dalam potongan pidatonya, dikutip situs pemerintah Prancis, Élysée , 28 November 2017. Dakar, Lagos, dan Cotonou merujuk pada kota-kota besar di Senegal, Nigeria, dan Benin. Tekanan terhadap negara-negara Eropa lain yang di masa lalu ongkang-ongkang kaki menguasai Afrika mengemuka. Terutama setelah pidato Macron dipublikasikan lebih luas oleh akademisi Senegal Felwine Sarr dan sejarawan Prancis Benedicte Savoy dalam artikel bertajuk “ Rapport Sur la Restitution du Patrimoine Culturel Africain ” pada 23 November 2018. Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah) kala menggaungkan isu dekolonisasi di Universitas Ougadougou, Burkina Faso, 28 November 2017 (Foto: elysee.fr ) Beberapa reaksi positif bermunculan bak jamur di musim hujan. Jerman misalnya, yang menyimpan banyak artefak jarahan dari Namibia, Togo, Kamerun, hingga Tanzania. Pada awal 2019 Ethnologisches Museum Berlin membuka pintu kerjasama tim riset Tanzania dari Universitas Dar es Salaam dalam sebuah proyek berbagi pengetahuan sejarah. Belgia, tempat Musée Royal de I’Afrique Centrale di Tervuren memiliki banyak artefak asal Kongo, mulai berkenan membuka diri, meski belum menyatakan mau mengembalikan. Sebelumnya mayoritas dari sekira 180 ribu koleksi itu disimpan di gudang. Menyusul rampungnya renovasi museum pada Desember 2018, benda-benda asal Kongo itu mulai dipamerkan secara terbuka di ruangan-ruangan khusus. Portugal baru tahap pembahasan di parlemennya. Gagasan repatriasi dimunculkan pada 28 Januari 2020. Inggris memberikan reaksi berbeda. Banyak koleksi artefak asal Afrika Utara dan Afrika Timur tersebar di British Museum di London, Pitt Rivers Museum di Oxford, hingga Victoria & Albert Museum di London. Sayangnya Kementerian Kebudayaan Inggris menolak permintaan repatriasi dari negara-negara asal benda-benda itu. Baca juga: Sepuluh Benda Bersejarah Hasil Repatriasi dari Belanda Keengganan beberapa negara Eropa bisa dimaklumi. Tak serta-merta ingin mengklaim atau memiliki artefak-artefak itu. Namun juga ada kewaspadaan terkait rentannya pengawasan di negeri asal dan potensi lenyap di pasar gelap, sebagaimana juga dikhawatirkan Macron. “Di banyak negara Afrika, kadang para kurator lokal-lah yang mengatur perdagangan barang-barang bersejarah. Karenanya ini adalah pekerjaan besar dan tak boleh ada kelengahan sedikit pun. Karena kalau boleh saya mengatakan, warisan Anda adalah warisan kita semua sebagai warga dunia,” tandas Macron. Pintu Terbuka Belanda sendiri, selain mewacanakan repatriasi benda-benda budaya Nusantara, juga mengembalikan sebuah mahkota raja berbahan tembaga asal Ethiopia dari abad ke-18. Mahkota itu sebelumnya berada di tangan seorang pengungsi Ethiopia, Sirak Asfaw, yang mencari suaka di Belanda empat dekade silam. Asfaw mengaku menemukan mahkota itu di sebuah tas yang ditinggalkan salah satu tamu yang datang ke flat-nya pada 1998. Asfaw enggan segera mengembalikannya lantaran merasa rezim Ethiopia di masa itu justru akan menjualnya, bukan malah melestarikannya. Setelah rezim berganti, dia mengembalikannya ke negeri leluhurnya lewat bantuan Menteri Perdagangan Belanda Sigrid Kaag sebagai kepanjangan tangan pemerintah Belanda. “Senang akhirnya bisa melihat pengembalian mahkota kuno kepada Ethiopia setelah sempat dinyatakan hilang sejak 25 tahun lalu. Pemerintah Belanda mempromosikan perlindungan bagi warisan budaya dunia di bawah perjanjian UNESCO,” kicau Kaag di akun Twitter resminya, @SigridKaag, 20 Februari 2020. Belanda kembalikan mahkota kuno Ethiopia diwakili Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed (Foto: Twitter @SigridKaag) Baca juga: Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang Langkah di atas merupakan salah satu kebijakan pintu terbuka Belanda untuk melakukan repatriasi lainnya, termasuk ribuan artefak Indonesia yang masih tercecer di Negeri Kincir Angin. Sayangnya, lanjut Sri Margono, justru pemerintah Indonesia cenderung pasif menanggapi isu yang sudah bergulir sejak 2017 itu. “Pada pengembalian keris Pangeran Diponegoro, Belanda sudah punya tim provenance research dan kita kemarin hanya mengonfirmasi. Ini menunjukkan ada kehati-hatian. Nah, Indonesia belum punya, kita baru mau menggagas tim itu,” tandas Sri Margana.
- Wabah Virus Global yang Mengacaukan Sepakbola
LIMA liga sepakbola paling kompetitif di dunia, Premier League (Liga Inggris), La Liga (Liga Spanyol), Ligue 1 (Liga Prancis), Serie A (Liga Italia), dan Bundesliga (Liga Jerman) turut terimbas bencana virus corona . Sejumlah laga Serie A malah terpaksa ditunda gegara meledaknya jumlah kasus positif terpapar wabah bernama lengkap Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) itu. Sebelumnya, otoritas sepakbola Inggris, Spanyol, Jerman, dan Prancis sekadar melayangkan kebijakan sejumlah laga dimainkan tanpa penonton. Namun yang terbaru, laga big match Arsenal vs Manchester City pada Rabu (11/3/2020) malam di Emirates Stadium, London, terpaksa ditunda. “Premier League menunda pertandingan kami dengan Manchester City pada Rabu malam sebagai langkah antisipasi,” kicau manajemen Arsenal di akun Twitter -nya, @Arsenal , Rabu (11/3/2020). Italia jadi negara keduadi dunia yang paling parah terpapar wabah corona setelah China, negara asal wabah. Perdana Menteri Giuseppe Conte sampai memberlakukan lockdown di seantero “Negeri Pizza” per 9 Maret 2020. Walhasil tidak hanya laga-laga kompetisi lokal, jadwal Liga Champions dan Europa League yang melibatkan tim-tim Italia dan ber- venue di Italia terpaksa ditunda. Virus corona yang kini menjadi wabah global juga berpotensi merecoki jadwal Euro 2020 yang bakal digelar di 12 kota di 12 negara danOlimpiade Tokyo 2020. Bencana ini seolah mengulang sejarah kala wabah Flu Spanyol mendera dunia 102 tahun lampau. Sepakbola dalam Terjangan Flu Spanyol Sampai sekarang belum ada penelitian yang bisa mengungkap di mana ground-zero Flu Spanyol yang terjadi pada 1918, tepatnya di fase terakhir Perang Dunia I (Februari-November 1918). Virus flunya begitu mematikan dan menyebar dengan cepat lantaran penularannya via udara. Mulanya virus itu menyerang tubuh manusia seperti flu biasa, namun lama-kelamaan penderitanya bakal mengalami pneumonia atau infeksi organ pernafasan yang menyebabkan kematian. Disebut Flu Spanyol karena saat itu sejumlah negara yang terlibat Perang Dunia I (Jerman, Prancis, Inggris, Amerika Serikat)menyensor semua informasi mengenai wabah itu agar tak diketahui publik, utamanya para serdadu yang berperang. Pengecualian hanya Spanyol, di mana negeri di Semenanjung Iberia itu jadi salah satu negara terparah yang terimbas dengan ratusan ribu orang tewas. Oleh karenanya publik global menyebutnya sebagai Flu Spanyol. Merebaknya Flu Spanyol di Spanyol turut meningkatkan keuntungan produsen-produsen disinfektan, Zotal salah satunya (Repro Clinical Infectious Diseases ). Di Spanyol, wabah itu sudah jadi sorotan publik sejak 22 Mei 1918. Dalam artikelnya di Clinical Infectious Diseases, Volume 47 , “The 1918 Spanish Flu in Spain”, Antoni Trilla, Guillem Trilla, dan Carolyn Daer menyebutkan, dari jutaan yang tertular, 260 ribu di antaranya meninggal. Raja SpanyolAlfonso XIII turut jadi satu dari sekian orang yang pertama tertular meski kemudian bisa pulih. Salah satu faktor meledaknya wabah di negeri itu tak lain lantaran sejumlah event sepakbola yang digilai publiknya tak dihentikan. Se lain liga-liga amatir di masing-masing wilayah (La Liga baru hadir 1929) , yang tak dihentikan adalah Copa del Rey alias Piala Raja. Pada edisi 1918, turnamen itu tetap bergulir dengan juaranya Real Unión , yang mengalahkan Madrid FC (kini Real Madrid) 2-0 di stadion Campo de O’Donnell. Para stakeholder sepakbola di Spanyol bukan berarti tutup mata terhadap Flu Spanyol yang mendera saudara-saudara mereka. Andrew McFarland mengungkapkandalam “Building a Mass Activity: Fandom, Class, and Business in Early Spanish Football” yang dimuat Football Fans Around the World, sejumlah klub menggelar laga-laga amal demi menggalang dana bantuan para korban Flu Spanyol. “Contoh terbaik diberikan Atlético de Madrid dan Athletic de Bilbao yang punya kegiatan rutin membantu masyarakat setempat selama wabah berlangsung. Bahkan Athletic de Bilbao beberapakali menggelar laga amal, di mana keuntungan yang didapat dijadikan dana bantuan untuk para keluarga korban di masa sulit itu,” tulis McFarland. Di Inggris Raya, termasuk Skotlandia dan Irlandia, pesatnya penularan Flu Spanyol terjadi seiring pulangnya para serdadu mereka dari palagan di Prancis usai Perang Dunia I. Di Inggris saja tercatat 228 ribu jiwa melayang dan jutaan lainnya positif terpapar, termasuk Perdana Menteri David Lloyd George yang kemudian bisa sembuh. Namun anehnya, sepakbola tidak hanya terus bergulir selama wabah berlangsung namun Inggris malah baru memulai kejuaraan profesional pertamanya. Jumlah peserta Football League First Division edisi ke-45 yang mulai naik level pro bahkan bertambah dari 20 menjadi 22 klub. “Piala FA juga dimulai kembali pada September 1919 dan (mungkin karena ketidaktahuan cara antisipasi dan mencegah Flu Spanyol), nyaris semua pertandingan penuh penonton. Sementara dalam sepakbola wanita, masalahnya lebih kompleks,” ungkap Tim Tate dalam Secret History of Women’s Football . Stadion Stamford Bridge tetap ramai penonton kala final FA Cup 1919-1920 yang dimenangi Aston Villa 1-0 atas Huddersfield Town. (Twitter @thecentretunnel/@GreatestCapital). Sedikit laporan mengenai siapasaja dari dunia sepakbola Inggris yang positif tertular Flu Spanyol, kecuali striker sayap Newcastle United Angus Douglas dan manajer klub Skotlandia Hibernian, Dan McMichael. Keduanya tewas karena Flu Spanyol. Douglas wafat pada 14 Desember 1918 dan McMichael meninggal pada Februari 1919. Di Amerika Latin, virus Flu Spanyol sudah mulai eksis sejak September 1918. Wabah itu dibawa para pelaut yang pulang ke Recife dari perantauan mereka di pesisir barat Afrika. Dengan cepat, wabah itu merambah ke kota-kota besar seperti Rio de Janeiro dan São Paulo. “Dari beberapa sumber disebutkan , kasus-kasus pertama Flu Spanyol di São Paulo berasal dari para pesepakbola amatir asal Rio yang mengunjungi kota (São Paulo). Para pemainnya jatuh sakit di São Paulo pada 9 Oktober, oleh karenanya mereka juga yang menyebarkan penyakitnya ke korban-korban lain di Hotel D’Oeste, di mana tim menginap,” singkap Liane Maria Bertucci dalam artikelnya, “Spanish Flu in Brazil: Searching for Causes during the Epidemic Horror” yang dimuat di The Spanish Influenza Pandemic of 1918-1919 . Puncaknya, sekira 65 persen populasi Brasil positif terpapar Flu Spanyol. Angkakematian di ibukota Brasil,Rio, saja mencapai lebih dari 14 ribu. Satu di antaranya menewarkan Presiden Brasil Francisco de Paula Rodrigues Alves. Bencana nasional itu memaksa otoritas Brasil menunda turnamen Campeonato Sudamericano de Football (kini Copa América) ketiga di tahun itu. Hajatan dengan sistem klasemenitu baru kembali dimainkan pada 1919 di Rio, yang diikuti empat negara: Brasil, Argentina, Uruguay, dan Cile. Copa América 1919 yang akhirnya digelar di Estádio das Laranjeiras di Rio setelah setahun sebelumnya harus ditunda gara-gara Flu Spanyol. (Twitter @ViejosEstadios). Tuan rumah Brasil memenanginya untuk kali pertama dengan catatan dua kali menang dan sekali imbang dalam tiga laga, plus unggul jumlah gol dari runner-up Uruguay meski sama-sama punya lima poin. Gelaran itu jadi hiburan tersendiri setelah Brasil dirundung duka akibat wabah Flu Spanyol yang berhasil mereka atasi. “Gejala Flu Spanyol di Brasil bisa berimbas pada kelainan telinga yang mendengung, kehilangan pendengara n , vertigo, serta kencing dan muntah darah. Pesatnya penyebaran penyakitnya begitu menakutkan,” ujar sejarawan Brasil Pedro Nava, dikutip Laura Spinney dalam Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How It Changed the World. Pada 1919,Brasil berhasil melaluinya lewat kampanye antisipasi penyebaran Flu Spanyol. Kampanyenya dimulai oleh Carlos Chagas lewat risetnya bersama Oswaldo Cruz Institute. Lewat restu Presiden Venceslau Brás, suksesor Presiden Rodrigues Alves, Chagas merombak birokrasi rumahsakit dan mendirikan lima rumahsakit darurat khusus Flu Spanyolserta 27 klinik serupa yang lebih kecil untuk mengkarantina para pengidap virus Flu Spanyol demi tak menyebarkannya lebih luas. Hasilnya, angka korban tewas berkurang.
- Kubangan Darah Korban Pasukan Khusus Belanda
SUATU hari di tahun 1947. Pagi baru saja menyeruak di Kalibunder, Sukabumi Selatan kala sekelompok prajurit Belanda dari unit DST (Depot Pasukan Khusus) bermunculan dari sudut-sudut desa. Serdadu-serdadu berbaret hijau itu tengah memburu gerilyawan Republik yang beberapa jam sebelumnya telah melakukan penghadangan terhadap konvoi mereka. Tak menemukan orang-orang bersenjata, para serdadu itu malah menangkapi rakyat sipil. Salah satunya adalah Sahi. Bersama 3 warga Kalibunder lainnya, lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu kemudian dibawa ke pos DST di Nyalindung. “Setelah ditahan beberapa hari di Nyalindung, saya tidak tahu lagi nasib ayah saya,” ungkap Achmad Khumaedi (85), putra dari Sahi. Belakangan, Khumaedi mengetahui dari keterangan orang-orang Takokak bahwa sang ayah dan kawan-kawannya ditembak mati oleh militer Belanda di kawasan Ciwangi. Tubuh mereka dikuburkan dalam satu lubang dan baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cigunung Putri puluhan tahun kemudian ketika dia mendapat kepastian bahwa tulang belulang yang ditemukan para penduduk dekat pabrik teh Ciwangi adalah ayahnya. “Saya yakin itu ayah saya, karena saya masih mengenal gesper dan cincin yang dikenakannya,” ujar Khumaedi. Sahi hanya salah satu dari ribuan korban keganasan DST (sejak Januari 1948 berubah nama menjadi Komando Speciale Troepen, disingkat KST). Selain di wilayah Ciwangi dan Takokak, antara tahun 1946—1949, unit yang dipimpin oleh Si Turki (julukan untuk Kapten R.P.P. Westerling) pun pernah meninggalkan jejak berdarah juga di kawasan lain. Berikut beberapa tempat yang pernah menjadi kubangan darah akibat keganasan KST: Sulawesi Selatan Sumber-sumber sejarah dari pihak Indonesia kerap menyebut angka 40.000 sebagai jumlah korban keganasan lasykar Si Turki di Sulawesi Selatan pada Desember 1946—Januari 1947. Selain pembunuhan, mereka pun melakukan berbagai aksi pemerkosaan sebagai salah satu metode kontra gerilya. Almarhum Maulwi Saelan (veteran pejuang Sulawesi Selatan) menjadi saksi atas kekejaman serdadu Baret Hijau itu. Salah satu rekan seperjuangannya Kapten Andi Abubakar, komandan Bataliyon I Resimen III Divisi Hasanuddin, bahkan dipenggal kepalanya oleh DST. Padahal sang kapten sedang ada dalam status sebagai tawanan dan kondisinya tengah terluka. “Mereka mempertontonkan kepala Kapten Andi di tengah Pasar Enrengkang untuk melemahkan semangat perjuangan pemuda setempat,” ujar Maulwi. Westerling sendiri tak pernah mengakui pasukannya membunuh 40.000 orang. Dalam biografinya De Eenling (Sang Penyendiri), dia hanya mengakui jumlah pembantaian itu tidak sampai 10.000 orang. Rawagede Pada 9 Desember 1947 militer Belanda meyerbu Desa Rawagede (sekarang bernama Balongsari) di Karawang. Mereka yang terlibat dalam penyerbuan itu adalah Yon 3-9-RI Divisie 7 December, sebagian kecil prajurit 1e Para Compagnie dan 12 Genie Veld Compagnie pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Menurut surat kabar Berita Indonesia edisi 15 Desember 1947, Insiden Rawagede diawali oleh kejadian pada 3 Desember 1947. Ketika itu, seorang putra dari agen MID (Dinas Intelijen Militer Belanda) yang berkebangsaan pribumi ditangkap dan disiksa di suatu rumah kosong yang terletak di Rawagede. Namun ia berhasil meloloskan diri dan melaporkan kejadian yang menimpanya kepada sang ayah. Dalam laporan itu disebutkan pula bahwa di Rawagede terdapat konsentrasi satu pasukan besar dari kaum Republik. Bersama seorang kawannya, agen MID yang tak disebut namanya itu lantas melaporkan informasi tersebut ke pihak militer Belanda di Karawang. Maka dikirimlah satu pasukan besar di bawah pimpinan Mayor Alphons. Di dalam pasukan itu ikut serta pula dua unit dari DST. “Diduga mereka adalah bekas algojo-algojo dari Sulawesi Selatan,” tulis wartawan Berita Indonesia . Apa yang dicurigai oleh pihak militer Belanda tak sepenuhnya salah. Menurut Kastal, di Rawagede memang ada terkonsentrasi pasukan Republik dari TNI dan lasykar. “Di Rawagede, ada markas Hizbullah, markas Barisan Banteng, markas Pesindo dan sekelompok kecil TNI dari Madiun,” ungkap eks komandan regu Hizbullah Rawagede itu. Namun kekuatan-kekuatan bersenjata itu hanya sebagian kecil dari penghuni Rawagede. Alih-alih menjadi markas besar, mayoritas penghuni Rawagede adalah petani. Maka tak aneh, jika korban terbesar dari operasi pembersihan yang dilakukan Mayor Alphons dan anak buahnya adalah mereka. Ketika bertemu dengan Telan dan Kastal, saya sempat menyebut satu persatu nama-nama korban Pembantaian Rawagede yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sampurnaraga, Rawagede. Mereka memastikan dari 181 nama itu, hanya 15 orang yang diyakini sebagai anggota lasykar dan TNI. Sisanya adalah penduduk sipil termasuk seorang lelaki gila. Pihak Yayasan Rawagede sendiri mengklaim jumlah korban tewas dalam pembantaian itu sebenarnya lebih banyak yakni 431 orang. Itu tentu saja jauh lebih besar dibanding versi pihak Belanda yang hanya mengakui korban ulah tentaranya di Rawagede hanya 150 orang saja. Takokak Nama Takokak mungkin masih asing bagi para peneliti kejahatan perang Belanda di Indonesia. Namun jika anda ke sana, deretan 68 makam di Taman Makam Pahlawan Cigunung Putri seolah menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pasukan Baret Hijau pimpinan Westerling bernah menebar maut di kawasan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur itu. Syahdan antara 1947-1949, militer Belanda kerap menghabisi para tawanan perang di Takokak. Mereka merupakan orang-orang yang ditangkap di wilayah Sukabumi dan Cianjur dan dihukum mati tanpa melalui suatu pengadilan yang jelas. Salah satunya adalah Sahi, ayah dari Achmad Khumaedi. “Yang menjalankan hukuman mati itu pasukan Belanda baret hijau pimpinan Si Werling (mungkin maksudnya Westerling),” ungkap Atjep Abidien (95), salah satu eks pejuang Indonesia di Takokak. Berapa jumlah pasti orang-orang sipil yang menjadi korban pembantaian oleh militer Belanda di Takokak? Hingga kini, belum ada informasi pasti soal tersebut. Namun para saksi sejarah yakin bahwa jumlah sebenarnya bisa mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan orang . “68 kerangka yang dimakamkan di Cigunung Putri itu baru yang berasal dari Puncak Bungah, dari tempat-tempat lainnya kan belum digali,” ungkap Atjep. Rengat Rabu pagi, 5 Januari 1949. Rengat diserang militer Belanda. Setelah lebih dari 5 jam pesawat-pesawat pembom mereka menghujani kota yang terletak di Riau tersebut, 7 Dakota lantas menerjunkan 180 prajurit KST. Aksi militer yang bertajuk Mud Operation (Operasi Lumpur) itu dipimpin oleh Letnan Rudy de Mey, seorang perwira pertama KST yang sangat dekat dengan Westerling. Begitu menjejakan kaki di tanah dan rawa, para prajurit KST langsung merangsek dan menguasai titik-titik penting di Rengat. Meskipun awalnya mereka harus terlebih dahulu menghadapi perlawanan sengit pasukan TNI dari Batalyon III Resimen ke-4 Divisi IX Banteng Sumatera. Demikian menurut J.A. de Moor dalam Westerling's Oorlog (Perang Westerling). Setelah tak menemukan lagi perlawanan, pasukan KST melakukan pembersihan besar-besaran. Mereka memburu para prajurit TNI dan rakyat sipil yang bersembunyi di parit-parit sungai lalu membantainya tanpa ampun. Seorang saksi bernama Wasman Rads berkisah bagaimana para prajurit KST menjejerkan para penduduk di bantaran Sungai Indragiri lalu menembak mati mereka seketika. “Air sungai yang keruh berubah menjadi kemerah-merahan (karena darah yang mengalir dari banyak tubuh korban),” ungkap Wasman seperti dikutip oleh Tim Penyusun buku Peristiwa 5 Januari 1949 di Kota Rengat Indragiri Riau suntingan Suwardi. Dalam catatan pihak Indonesia (berdasarkan keterangan di tembok prasasti peringatan Tragedi Rengat), korban tentara dan rakyat sipil yang tewas adalah 1500 orang. Namun yang teridentifikasi namanya hanya 186 orang. Pihak Belanda sendiri hanya mengakui korban tewas 270 orang. Menurut peneliti sejarah asal Belanda Anne Lot Hoek, kendati diakui oleh pihak Belanda, namun besar kemungkinan mereka menganggap banjir darah di Rengat sebagai “pembunuhan di antara sesama orang Indonesia.” Itu mengacu kepada banyaknya prajurit KST yang terlibat berasal dari Ambon. Surakarta Kamis, 11 Agustus 1949. Gencatan senjata sebenarnya sudah diberlakukan antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Namun di Surakarta (Solo), pemberlakuan itu seolah tak ada pengaruhnya. Itu dibuktikan dengan ditembak matinya seorang prajurit TNI bernama Samto oleh KST pada pukul 04.00. Penembakan itu memicu kembali pertempuran kota antara kedua pihak. TNI yang merasa dicurangi lalu membalas dengan suatu serangan yang membuat beberapa prajurit Baret Hijau itu terluka. Jatuhnya korban di pihak KST menjadikan mereka berlaku membabi-buta. Bukan hanya TNI, semua yang berbau Republik mereka hantam tanpa ampun. Begitu matahari terbit, dari basis mereka di benteng Vastenbrug, pasukan KST langsung bergerak ke rumah dr. Podmonegoro di Kampung Gading yang merupakan pos darurat milik PMI. Sesampai di sana, mereka mengobrak-abrik serta menyembelih tujuh petugas PMI dan 14 pengungsi yang tengah menjalani perawatan. “Setelah mengamuk di Gading, mereka melakukan pembantaian juga di Kampung Kratonan dan Jayengan,” demikian menurut Tim Panitia Monumen Perjoangan Surakarta dalam Pasukan Greencap Membantai Rakyat . Sementara itu, dalam waktu yang sama kelompok baret hijau lainnya menebar maut di Kampung Kebonan. Mereka menahan 22 penduduk sipil di sebuah rumah, menelanjanginya lantas menyembelih sembilan orang di antaranya. Salah seorang tawanan berhasil kabur dan melaporkan kejadian tersebut ke pos TNI terdekat. “TNI lantas melakukan pengejaran dan penyergapan, pertempuran pun berlangsung seru dengan akhir mundurnya pasukan Baret Hijau kembali ke basis mereka di Benteng,” demikian menurut buku Pertempuran Empat Hari di Solo (Surakarta) dan Sekitarnya yang diterbitkan oleh Kerukunan Eks Anggota Detasemen II Brigade 17. Secara keseluruhan aksi KST itu menimbulkan korban yang cukup besar. Ada 433 mayat yang ditemukan usai situasi Surakarta lepas dari teror Baret Hijau. Korban paling banyak ditemukan di wilayah Laweyan yakni sekira 300 mayat. Sebagian besar dari mereka tewas akibat disembelih atau ditusuk dengan menggunakan sangkur. Pihak Belanda sendiri terkesan ingin menutup-nutupi kejadian itu. Saat bertemu dengan pihak TNI yang diwakili oleh Letnan Kolonel Slamet Rijadi, Kolonel van Ohl hanya bisa berjanji bahwa dirinya akan menarik secepatnya pasukan KST dan membawa para pelaku pembunuhan rakyat sipil ke pengadilan militer. Pada 14 Agustus 1949, Wakil Tinggi Mahkota Belanda Dr. A.H.J. Lovink menulis surat kepada Menteri Seberang Lautan J.H. van Maarseveen dan parlemen Belanda. Dia memohon agar peristiwa pembantaian rakyat sipil di Surakarta bisa dirahasiakan. “Sebab akan sangat merugikan kehormatanpemerintah Kerajaan Belanda…” demikian seperti dikutip Julius Pour dalam Ign. Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kenpeitai sampai Menumpas RMS
- Sajian dari Beragam Pasar Kuliner
SUASANA malam Minggu di kawasan Jalan Bangka, Kelurahan Lateng, Kabupaten Banyuwangi, begitu meriah. Banyak orang lalu-lalang untuk mencari dan menikmati sajian kuliner khas Timur Tengah di lapak-lapak yang berjejer di pinggir jalan. Di sana, setiap malam Minggu, ada pasar wisata kuliner yang sayang kalau dilewatkan. Namanya Arabian Street Food (Arasfo). Arasfo sudah diresmikan oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada 31 Oktober 2019. Keberadaannya melengkapi pasar wisata khusus tiap pekan yang digagas Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Awalnya aktivitas Arasfo digelar setiap Kamis malam tapi kemudian diubah jadi Sabtu malam dimulai pukul 16.00 - 22.00. “Setelah ada masukan dari para tokoh di Lateng, jadwal yang semula Kamis diganti Sabtu, sebab kalo Kamis malam itu saatnya orang tahlilan,” ujar Bupati Banyuwangi Azwar Anas saat membuka Festival Pasar Wisata Kuliner di arena Arabian Street Food, Banyuwangi, 29 Februari 2020. Ada beragam sajian khas Timur Tengah yang disajikan dalam acara Arasfo. Ada makanan berat seperti nasi kebuli, mandhi, briyani hingga kambing guling. Ada kudapan seperti khamir, roti maryam, shawarma hingga kebab. Ada juga minuman macam kopi Arab, kopi Turki, naknak, pokak hingga aneka teh. Siapa tak tergiur. Di Arasfo terdapat 126 menu hidangan ala padang pasir yang terbagi dalam 29 lapak. Para penjajanya, khususnya laki-laki, memakai jubah dan sorban. Menariknya lagi, pengunjung juga bisa menikmati musik dan tarian gurun pasir atau belanja beragam kosmetik. Benar-benar semarak. Acara Arasfo digelar di Lateng bukan tanpa alasan. Sejak dulu Lateng merupakan permukiman orang-orang Arab sehingga lebih dikenal orang sebagai Kampung Arab. Penyerbukan Kuliner Terbentuknya komunitas Arab punya akar sejarah yang panjang. Pada abad ke-18, Tanah Jawa dibanjiri imigran Hadramaut (sebuah provinsi di Yaman), Hijaz, dan Mesir. Selain berdakwah, mereka mencari peruntungan dengan berdagang di kota-kota pelabuhan seperti Batavia, Banten, Cirebon, Surabaya, Pekalongan, dan Semarang. Lambat-laun, mereka menyebar ke wilayah-wilayah lainnya. “Maka, sejak itu, muncullah kampung-kampung Arab lengkap dengan tradisi, budaya, dan kuliner khas mereka” tulis L.W.C van den Berg dalam Orang Arab di Nusantara . Banyuwangi menjadi salah satu wilayah yang didatangi para imigran dari Hadramaut. Menurut catatan van den Berg, jumlah orang Arab di Banyuwangi tahun 1885 sebanyak 356 orang; terdiri dari 84 laki-laki, 25 perempuan, dan 247 anak yang lahir di Banyuwangi. Suasana Pecinan Street Food di kawasan Karangrejo, Banyuwangi, yang menyajikan aneka kuliner khas masyarakat Tionghoa. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Jejak-jejak keturunan Arab bisa dilihat pada Makam Syekh Abdurrahim atau dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Datuk Ibrahim Bauzir, yang dipercaya sebagai ulama dari Hadramaut dan penyebar Islam di Banyuwangi. Ada sekolah Ar Irsyad yang diresmikan Syeikh Ahmad Soorkaty, pendiri organisasi Al Irsyad, tahun 1927. Gedungnya sudah berganti Pasar Blambangan setelah sekolah dipindahkan ke depan pasar tersebut. Ada juga Masjid At Taqwa yang dibangun 1923 dan Masjid Al Hadi, yang masing-masing dibangun tahun 1923 dan 1967. Bukan hanya berperan dalam pendidikan dan penyebaran agama Islam, orang-orang Arab ikut andil memberi pengaruh pada khazanah makanan. Mereka membuat makanan sesuai selera lidahnya namun dengan bahan-bahan yang tersedia di sini. Nasi kebuli, misalnya, menggunakan bahan-bahan khas Nusantara seperti ketumbar, cengkih, kayu manis, salam koja, mentimun, dan bawang merah Nasi kebuli, martabak, gulai, maraq, dan sambosa adalah berbilang nama di antara masakan khas Arab. Sajian khas itulah yang bisa dinikmati pengunjung dari dalam maupun luar kota pada acara Arasfo setiap akhir pekan. Pasar Kuliner Arasfo hanyalah salah satu konsep pasar kuliner tematik yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Saat ini, tak kurang ada 19 pasar kuliner yang tersebar di berbagai kecamatan dengan waktu yang berbeda-beda. Di setiap pasar setidaknya terdapat 40 pelapak yang menjual aneka jajanan. Sebut saja Pecinan Street Food, Pasar Jajanan Olehsari, Pasar Wit-Witan, Pasar Kampung Kopat, Pasar Seni dan Jajanan Rakyat Banyuwangi (Pasjari), dan Pasar Kuliner Porobungkil. "Di tengah kelesuan ekonomi, kita perlu terus berinovasi untuk menggerakkan berbagai sektor. Pasar kuliner ini adalah salah satu cara untuk mendongkrak ekonomi lokal di masing-masing desa," ujar Abdullah Azwar Anas. Inovasi memang menjadi kunci keberhasilan Banyuwangi dalam memajukan perekonomiannya. Tak heran jika berkali-kali Banyuwangi dianggap kabupaten paling inovatif dan kreatif di Indonesia. Yuk, datang ke Banyuwangi!





















