top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sukarno: Uzbekistan Jauh di Mata Dekat di Hati

    KOTA Tashkent meriah pada 5 September 1956. Bendera dan spanduk menghiasi banyak titik ibukota Uzbekistan itu. Orang-orang berjajar di jalan-jalan utama. Di bandara Internasional Tashkent, orang-orang rela berjubel menanti kedatangan tamu agung dari negeri nun jauh di timur. A. Hakimov, ketua Soviet Uzbekistan dan Kazy Zianuddin Babachanov, anggota Pimpinan Dewan Agama Islam Asia Tengah dan Kazakhstan, tampak berada di antara kerumunan itu. Bersama A. Rasjdov, ketua Presidium Soviet Uzbekistan, dan tokoh-tokoh penting setempat, Hakimov langsung menyambut tamu agung tadi, Sukarno, begitu pesawatnya mendarat. Hampir berbarengan, para siswi dari berbagai sekolah ibukota langsung memberikan bunga-bunga indah kepada presiden Republik Indonesia itu. Setelah pidato sambutan singkat oleh Hakimov dan pidato balasan Sukarno, rombongan tamu dari Indonesia langsung menuju penginapan yang telah disediakan. Sukarno menaiki sebuah sedan terbuka yang dihiasi mawar. “Hampir seluruh penduduk Tasjkent, kota terbesar di Asia Tengah, keluar untuk menyambut para tamu dari Indonesia itu. Jalan-jalan berkumandang dengan pekikan-pekikan: ‘Hidup, Bung Karno! Merdeka! Hidup persahabatan rakyat Indonesia dan Soviet’,” tulis buku Perjalanan Bung Karno! Selama di Uzbekistan, rombongan Sukarno dipandu langsung oleh Presiden Uzbekistan Shar Rasjidov. Menurut Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno ,  penghormatan itu merupakan perintah langsung dari Moscow. “Waktu Sukarno sampai di Moskow, Presiden Voroshilov telah mengangkat Shar Rasjidov –presiden Republik Uzbekistan dan wakil ketua Presidium Soviet Tertinggi USSR– untuk mengantar para tamu Indonesia itu,” tulis Ganis. Sukarno dan rombongan menyempatkan diri salat di Masjid Pusat Sjech-Tillja. Mereka disambut Mufti Isjan Babachan bin Abdulmadjitchan, ketua Dewan Agama Islam untuk Asia Tengah dan Kazakhstan. Setelah saling berkenalan, Sukarno ngobrol banyak hal, termasuk mengenai prinsip negerinya yang menjamin toleransi kehidupan umat beragama. Setelah itu, rombongan Sukarno berkeliling ke berbagai kota dan menyinggahi tempat-tempat penting seperti pabrik kimia Chirchik atau pertanian kolektif kapas Kzyl-Uzbekistan. Di Kzyl-Uzbekistan, rombongan Sukarno antusias berkeliling meninjau perkebunan. Setelah beraudiensi dengan petani-petani di sana, rombongan mendapat jamuan makan siang. Selepas makan, suasana makin cair ketika mereka mendapat suguhan orkes yang memainkan musik tradisional plus tarian lokal. Para tamu Indonesia ikut menari bersama. Presiden Sukarno tampak gembira sambil memainkan sebuah alat musik tabuh mirip rebana. Sebagai tanda mata, A. Matkabulov, ketua Pertanian Kzyl-Uzbekistan, menghadiahkan seekor kuda Karabair kepada Sukarno. Setelah kembali ke ibukota, Sukarno melanjutkan tur ke berbagai tempat. Dia antusias saat berkunjung ke University Pedagogical. Selain masuk ke laboratorium dan ruang-ruang lain kampus itu, dia amat menikmati bincang-bincang dengan orang-orang setempat, terutama mahasiswa. Kepada mereka Sukarno menyampaikan salam pemuda Indonesia. Di kampus itu Sukarno mendapat kehormatan berpidato di aula kampus. Tuan rumah juga mengajak rombongan Sukarno ke gedung opera. Di sana, selain menonton pertunjukan musik dan teater, mereka juga mendapat suguhan tarian tradisional yang dipentaskan Tamara Khanum, penari terbesar Asia Tengah asal Uzbekistan. Performa Khanum memukau Sukarno sehingga dia mengundang khusus penari berdarah Armenia itu untuk pentas di Indonesia. Khanum memenuhi undangan itu setahun kemudian. “Khanum yang lalu diikuti rombongan (kesenian, red. ) lain Uzbek, dalam tur dua bulannya mengadakan 26 pementasan dan diterima langsung oleh Presiden Sukarno,” tulis Frederick Charles Barghoorn dalam Soviet Cultural Offensive . Sukarno menghadiahinya sebuah baju bordir asli Indonesia yang kini terpajang di Memorial-House Museum of Tamara Khanum. Renat Urazajev, pegawai dinas ceramah lokal, amat gembira akan kunjungan Sukarno ke kotanya itu. Kebahagiaannya makin bertambah karena kunjungan itu bertepatan dengan kelahiran putrinya. Untuk mengabadikan kunjungan itu, dia segera mengirim telegram kepada Sukarno yang isinya permohonan pemberian nama oleh Sukarno kepada bayinya. Dengan senang hati Sukarno membalas telegram itu. Si jabang bayi olehnya diberi nama Julduz berarti bintang. Puncak kunjungan Sukarno ke Tashkent ditandai dengan pidato di Stadion Pakhtakor (kini Dinamo Stadium). Sama seperti pidatonya di kota-kota lain Soviet sebelumnya, setelah membuka pidato dengan ucapan terimakasih, Sukarno memperkenalkan dasar negaranya, Pancasila, kerjasama Indonesia-Soviet, perjuangan global melawan penghisapan dan ketidakadilan, dan kesan dirinya terhadap Uzbekistan. “Saya menjadi merasa sangat gembira bahwa saling hormat-menghormati dan persahabatan hidup antara rakyat-rakyat kita, antara rakyat Indonesia dan rakyat Soviet Uni. Saya meminta pada saudara semua untuk di dalam hati berkata, ‘Hidup persahabatan antara rakyat semua negara. Hidup saling hormat-menghormati antara semua bangsa. Hidup untuk dunia baru’,” kata Sukarno dalam pidatonya. “Sekali lagi, stadion itu meledak dibarengi pekikan-pekikan keras ‘merdeka! Merdeka! Merdeka!’” tulis buku Perjalanan Bung Karno! Sukarno amat terkesan terhadap Uzbekistan. Banyaknya persamaan, termasuk keramahan penduduknya, membuat dia kerap menyebut Uzbekistan seperti rumahnya sendiri. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Samarkand, dia sempat menuliskan surat kenang-kenangan. “Hari ini saya meninggalkan Tasjkent. Tetapi hati saya akan selalu teringat kepada saudara-saudara dan kebaikan budi saudara-saudara. Selamat tinggal, selamat bekerja. Hiduplah persahabatan kita. Jauh di mata, dekat di hati,” tulis Sukarno dalam surat bertanggal 6 September 1956 itu.*

  • Cara Raja Bone Melawan Belanda

    SUATU waktu di tahun 1857, sebuah kisah terjadi di pelabuhan Bajoe. Raja Bone ke-28, seorang perempuan, Besse Kajuara memerintahkan semua kapal yang berlabuh dan berbendera Belanda, merah-putih-biru harus membalikkannya menjadi biru-putih-merah. Besse Kajuara (nama panjangnya We Tenriawaru Pancaitana Besse Kajuara Sultana Ummulhadi Matinroeri Majennang), memerintah antara 1857-1860,  menggantikan suaminya, Raja Bone ke-27, La Parenrengi Arumpugi Sultan Ahmad Saleh Muhiddin. La Parenrengi adalah raja yang gencar menentang pendudukan Belanda di tanah Bone. Dia mengirim surat kepada gubernur Hindia Belanda di Makassar mengajak berperang. Dalam Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan , sejarawan Mattulada menulis, genderang perang yang dikobarkan La Parenrengi disebabkan ulah Belanda menjalankan politik adu domba dan mencampuri urusan pemerintahan Kerajaan Bone dalam sengketa keluarga. Dalam persiapan perang itu, sang raja mengirim utusan kepada raja-raja, yang masih ada hubugan keluarga, ke Wajo, Soppeng, dan Aja’tappareng, untuk bersama melawan Belanda. Sejak upaya penyerangan Belanda ke Bone (1824-1830), pimpinan ekspedisi itu adalah Jenderal Jenderal Mayor van Geen, dengan persiapan kekuatan 1.400 personel, satu divisi Angkatan Laut (delapan kapal perang, tiga kapal meriam), dan sekitar 3.200 laskar dari Gowa, seribu laskar dari Selayar,  dan pasukan berkuda yang diperbantukan untuk menyerang semua lini pertahanan Bone. Pada Januari 1825, pasukan Belanda memasuki wilayah Bone. Di saat bersamaan meletus Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro (1825-1830). Pasukan Jenderal Mayor van Geen beberapa hari telah menyusuri Sungai Cenrana dan mengalami kondisi kritis, karena hujan berhari-hari dan air meluap. Ratusan pasukannya terserang malaria dan disentri. Melihat hal tersebut, Belanda menunda penyerangan dan mengalihkan pasukannya ke Jawa. Setelah Perang Jawa selesai dan Diponegoro ditawan di Makassar, persiapan penaklukkan Bone dimulai lagi dalam jumlah yang lebih besar. Raja Bone ke-26, Sultan Saleha Rabiatuddin dan panglima perangnya Arung Lompo, tak gentar dan tetap menentang kerjasama dengan Belanda. Tapi, dua pembesar ini meninggal dunia pada 1835. Sementara itu, Mangkubumi Kerajaan Bone La Mappangara yang lebih moderat melakukan negosiasi dengan pemerintah Hindia Belanda di Makassar. Bone meminta pengampunan dan menggalang persekutuan. Menurut Mattulada, alasan La Mappangara memilih negosiasi karena daerah taklukkan akan mendi ata (budak) dari penakluk. Jika menjadi sekutu maka Bone tetap sejajar, bukan negeri taklukan. Kerjasama dengan Belanda menjadi buah tangannya, dan tetap dipertahankan penerusnya La Parenrengi. Namun, beberapa tahun kemudian terjadi percekcokan antara sang raja dan La Mappangara yang membuatnya harus meninggalkan tanah Bone menuju Camba di Maros. La Parenrengi pun semakin memperlihatkan ketidaksukaannya pada Belanda. Ketegangan-ketegangan dalam beberapa hal kerap terjadi. Persekutuan akhirnnya retak. Pada Februari 1857, La Perenrengi meninggal dunia. Pemerintah Hindia Belanda suka cita dan menyambut baik pengangkatan Besse Kajuara. “Belanda berpikir, raja perempuan akan lebih mudah diajak kerjasama dan dilunakkan,” kata Nurhayati Rahman, Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin. Kenyataannya di luar dugaan Belanda. Besse Kajuara, kata Nurhayati, lebih militan. Dalam beberapa perang, dia ikut berperang dengan menggunakan pakaian perang. “Dia raja yang tidak hanya mendengar laporan. Dia ikut bersama rakyatnya dan bersama memegang senjata,” katanya. Keengganan Besse Kajuara kerjasama dengan Belanda ditunjukkan saat B.F. Mathhes, seorang penginjil dan ahli bahasa –yang kemudian dikenal bersama Colli Pujie karena jasanya menyalin epos I La Galigo – ditentangnya masuk ke tanah Bone. “Besse Kajuara, memerintahkan rakyatnya mencuri kuda Mathhes agar dia tak bisa kemana-mana,” kata Nurhayati. “Bayangkan, Mathhes dari wilayah Bone itu harus berjalan kaki hingga ke Camba (wilayah Kerajaan Maros), yang jaraknya puluhan bahkan mencapai seratusan kilometer.” Akhirnya, perang tak terhindarkan. Belanda menyerang Bone dan menaklukkannya pada 1859. Besse Kajuara yang menolak tunduk memilih wilayah Suppa sebagai tempat bermukim dan menyatakan diri tak akan kembali lagi ke Bone.  Pada 1862, Besse Kajuara meninggal dunia di Suppa dan diberi gelar anumerta Matinnroeri Majennang (meniggal di Majennang daerah Suppa). Penggantinya, Ahmad Singkeru Rukka dilantik menjadi raja Bone ke-29 pada 31 Januari 1862. Pada masa pemeritahan inilah Bone yang awalnya berstatus Bondegenoots-chap (sekutu) diturunkan menjadi Leenvorstendon (kerajaan pinjaman), di mana semua kebijakan dan tata pemerintahan harus sepengetahuan pemerintah Hindia Belanda.

  • Pencipta Aksara Perjuangan Kaum Bugis

    USIA Colliq Pujie sekitar 40 tahun ketika pertama kali bertemu B.F. Matthes, penginjil dari Belanda, di Tanete, pada 1852. Dia juga sudah menjanda, bermukim di Pancana dan mendapat gelar Arung Pancana Toa (Aroe Pantjana). Anaknya Siti Aisyah We Tenriolle menjadi raja Tanete dan tidak bercocok paham. Colliq Pujie seorang yang keras dan tak mengenal kompromi pada apa yang merugikan rakyat. Temasuk menentang takhta We Tenriolle yang dianggapnya sebagai bayangan dari Belanda. Dia bersama beberapa pengikutnya melakukan perlawanan dengan sistem gerilya dan perang terbuka.

  • Jejak Singosari dan Majapahit di Malang

    PERTENGAHAN Maret 2016. Suara riang para bocah terdengar di Petirtaan Watugede di Desa Watugede, Singosari, Kabupaten Malang. Dengan menggunakan ban dalam bekas berukuran besar, mereka berenang kian kemari di kolam yang dipercaya penduduk sebagai tempat Ken Dedes kerap membersihkan diri pada masa dahulu.

  • Masjid Sukarno di Rusia

    MATA Presiden Megawati Sukarnoputri berkaca-kaca. Kisah tentang jasa mendiang Presiden Sukarno yang dibacakan Imam Besar Masjid Agung St. Petersburg, Zhapar N. Panchaev, membuatnya terharu, sewaktu berkunjung pada April 2003. Hampir 50 tahun lalu, Megawati –kala itu belum berusia sepuluh tahun– ikut rombongan ayahnya melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet, Agustus-September 1956. Usai mengunjungi beberapa pabrik di Leningrad, rombongan Sukarno melanjutkan tur kotanya. Sewaktu melintasi Trinity Bridge, mata Sukarno terpaku pada bangunan biru berkubah di kejauhan. “Dalam taksiran Soekarno, bangunan itu jika sebuah masjid, mampu menampung lebih dari 3000 muslim bersembahyang berjamaah,” tulis Tomi Lebang dalam Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia . Sukarno membatalkan beberapa acara yang sudah dijadwalkan demi mengunjungi bangunan indah itu. “Pada hari itu pula para tamu dari Indonesia mengunjungi masjid lokal,” tulis buku Perjalanan Bung Karno! Sukarno mendapati kondisi bangunan yang dulunya masjid itu kumuh dan tak terawat. Pemerintah Uni Soviet menjadikannya gudang peralatan medis sejak Perang Dunia II pecah; sumber lain menyebut alih fungsi terjadi tak lama setelah Revolusi Oktober 1917. Masjid Agung Leningrad (kini Masjid Agung St. Petersburg) yang jadi gudang itu didirikan komunitas muslim St. Petersburg setelah mendapat izin dari Tsar Nicholas II pada 1910 dan diresmikan tiga tahun kemudian. “Arsiteknya, Nikolai Vasilyevich, memadukan dengan cermat ornamen ketimuran dan mosaik biru turquoise pada kubah, gerbang masjid, menara serta mihrab imamnya. Tidak heran jika masjid ini lebih terkenal dengan nama Masjid Biru,” tulis Tomi Lebang. Sebelumnya, muslim di St. Petersburg belum memiliki masjid. “Mereka pun menyewa apartemen untuk digunakan beribadah hingga pembangunan Masjid Agung St. Petersburg pada 1913,” tulis Michael Khodarkovsky dalam Bitter Choices: Loyalty and Betrayal in the Russian Conquest of the North Caucasus . Sukarno sedih melihat masjid termegah Eropa di luar Turki itu dijadikan gudang. Dia mengutarakan kesedihannya kepada Khruschev saat keduanya kembali bertemu di Moscow beberapa hari kemudian. “Soekarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya,” ujar Panchaev, sebagaimana dikutip Lebang. Sekira sepuluh hari usai kunjungannya, utusan Kremlin datang ke masjid itu dan mengatakan bahwa Masjid Agung St. Petersburg boleh difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Meski Sukarno tak pernah membicarakan masjid itu kembali setelah pertemuannya dengan Khruschev, muslim St. Petersburg tak pernah melupakan jasanya dalam memfungsikan kembali masjid agung itu. Menurut diplomat di KBRI Moscow, M. Aji Surya dalam “Ngabuburit ke Masjid Soekarno di Rusia,” dimuat di travel.kompas.com, muslim St. Petersburg hingga kini tak pernah melupakan jasa Sukarno. Banyak Muslim setempat menyebut Masjid Agung St. Petersburg dengan Masjid Sukarno. “Tanpa Sukarno mungkin masjid indah yang didirikan tahun 1910 ini sudah hancur sebagaimana masjid dan gereja lainnya,” ujar imam masjid, Mufti Ja’far Nasibullah, sebagaimana dikutip Surya.*

  • Desas-Desus Sabotase Banjir Bandung 1945

    Beberapa waktu lalu, Jakarta dikejutkan dengan penemuan sampah cangkang kabel yang menumpuk di gorong-gorong. Ada kalangan yang mencurigai itu upaya sabotase supaya air di saluran-saluran bawah Jakarta pampat sehingga banjir semakin parah. Pada 25 November 1945, banjir besar yang dicurigai upaya sabotase juga pernah melanda Bandung. Salah satu saksi mata dari kejadian itu adalah Itjeu Suhartina (89). Menurutnya, semula masyarakat Bandung meyakini luapan air dari Sungai Cikapundung tersebut akibat hujan yang terus-menerus turun dari siang hari. “Tapi dipikir-pikir oleh kami, masa sih hujan gerimis bisa membuat Cikapundung meluap? Terlebih peristiwa seperti itu seingat saya baru terjadi pertama kali di Bandung,” ungkap perempuan sepuh yang saat itu tinggal di sekitar wilayah Balubur. Akibat air bah yang melanda kota, korban pun berjatuhan. Dalam Bandung Awal Revolusi 1945-1946 , John R.W. Smail menyebut banjir itu menghancurkan paling tidak 500 rumah dan memakan lebih dari 200 korban jiwa. Selain anak-anak dan perempuan yang hanyut, sebagian korban merupakan lelaki yang tertembak. Bagaimana bisa? Rupanya, saat para pemuda, tentara, dan laskar turun memberikan pertolongan kepada penduduk, pasukan Gurkha dan Belanda yang sedang berpatroli menembaki mereka secara membabi buta. Salah seorang pemuda laskar yang tertembak adalah Asikin Racman (92). Menurutnya, di tengah kepanikan akibat air bah, sekitar pukul 20.00 satu kompi pasukan Inggris dalam gerakan militer yang provokatif mendekati perkampungan rakyat di pinggir Sungai Cikapundung sekitar Hotel Savoy Homan, Hotel Preanger, dan Jalan Braga. “Tanpa belas kasihan, mereka menembaki kami dan rakyat yang tengah kami tolong hingga beberapa meregang nyawa dan sebagian lain dalam kondisi panik bertebaran ke sana ke mari,” kenang mantan anggota Laskar Hisbullah Bandung tersebut.   Bandung praktis lumpuh saat itu. R.J. Rusady Wirahaditenaya melukiskan wilayah Lengkong, Banceuy, Sasak Gantung dan Balubur berubah menjadi telaga. “Lalu lintas mengalami kemacetan total karena jalan-jalan penuh kotoran dan pohon-pohon besar yang terbawa air bah,” tulis tokoh pejuang Bandung itu dalam  Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Polisi dan tentara Indonesia tentu saja tak tinggal diam. Mereka melakukan penyelidikan dan menemukan fakta bahwa bencana banjir besar itu akibat sabotase kaki tangan Belanda dan Inggris. Menurut Mohamad Rivai dalam Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 , keterangan tersebut didasarkan pada kesaksian sejumlah penduduk Bandung. “Saat menjelang malam pas akan terjadinya banjir, para saksi melihat lima orang berpenampilan mirip pejuang mendatangi viaduct dan menutup pintu-pintu air sungai Cikapundung lalu mereka menghilang secara cepat,” ungkap mantan komandan di Divisi Siliwangi itu. Rivai meyakini perintah penutupan pintu-pintu air di bawah viaduct tersebut datang langsung dari Panglima Tentara Inggris di Bandung, Brigadir Jenderal MacDonald. Tujuannya untuk menggagalkan rencana serangan umum ke Bandung, yang akan dilancarkan oleh tentara Indonesia pada malam 25 November itu. Dari sumber-sumber Belanda sendiri, mereka menganggap banjir tersebut merupakan gejala alam biasa. Secara historis, menurut situs Java Post , curah hujan yang tinggi berbanding lurus dengan terjadinya bencana banjir yang kerap melanda Bandung di masa lalu. Setidaknya pada 1921 dan 1931, Bandung pernah dilanda banjir. De Niewsgier dalam pemberitaannya pada keesokan harinya (26 November 1945), menuduh bencana itu upaya sabotase yang dilakukan pihak Republik. “Menurut keterangan yang kami lansir dari para pengungsi, itu merupakan akibat dari sabotase yang dilakukan para ekstrimis,” tulis koran yang terbit di Batavia itu.

  • Ritual Darah Raja Nusantara

    TINGGINYA sekitar 4,41 m. Sosoknya menyeramkan. Ia berdiri di atas mayat seorang guru bertubuh kecil, dengan kaki terlipat di bawah badan, yang berbaring tanpa pakaian di atas sekumpulan tengkorak manusia. Sosok itu memegang sebilah pisau dan mangkuk. Dua ekor ular melingkari kakinya. Ia seperti mengenakan sarung kotak-kotak dengan hiasan tengkorak di tengahnya. Ikat pinggangnya berhias kepala kala. Kedua pergelangan tangan dan lengannya memakai gelang ular. Arca itu dikenal sebagai Bhairawa dari Padang Roco, Sumatra Barat. Ia disimpan di ruang pamer Museum Nasional, Jakarta, dengan nama Bhairawa Buddha. “Semua ini (kesan menyeramkan, red ) tidak mengherankan, sebab hal ini memang sesuai dengan sifat dan bentuk arca ini sebagai Bhairawa,” tulis Pitono Hardjowardojo dalam Adityawarman. Menurut Pitono, banyak ahli menghubungkan arca Bhairawa itu dengan Adityawarman, bangsawan yang hidup pada abad ke-14. Dia memiliki hubungan darah dengan raja-raja Singhasari dan Majapahit. Adityawarman memimpin kerajaan yang kemungkinan berpusat di sekitar Pagaruyung, Sumatra Barat. Sebagai peninggalan sang raja, arca Bhairawa menunjukkan bukti adanya sekte Bhairawa yang berkembang di wilayah itu. Sekte ini merupakan salah satu aliran dari ajaran Budha Tantrayana. Sekte Bhairawa muncul pada abad ke-6 di Benggala sebelah timur, menyebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, lalu masuk ke Tiongkok dan Jepang. Persebaran ke timur masuk ke Asia Tenggara, termasuk ke Nusantara. Sekte ini tampak di Sumatra pada abad ke-11, kemudian menyebar ke timur sampai ke Jawa. Pada masa Singhasari sekte ini semakin berkembang dan kemudian muncul kembali di Sumatra pada masa Adityawarman. Dalam menjalankan kepercayaannya, penganut sekte Bhairawa memilih cara pelepasan yang lebih cepat daripada cara biasa, yaitu menyatukan diri secara mistik dengan dewa tertinggi. “Untuk mencapai ini mereka melakukan upacara tertentu yang menurut penyelidikan para ahli sangat menyeramkan,” tulis Pitono. Upacara sekte Bhairawa di antaranya minum darah manusia. Tak hanya itu, mereka akan menari dan tertawa diiringi bunyi-bunyian dari pukulan tulang manusia. Ritual ini dijelaskan pula dalam Prasasti Suroaso yang berangka tahun 1297 saka. Prasasti ini menjelaskan dengan cukup rinci pentahbisan Raja Adityawarman sebagai Ksetrajnya, yang berarti dia menerima pentahbisan tertinggi, yaitu pembebasan bagi Bhairawa. “Prasasti ini adalah bukti kuat yang tidak tertumbangkan bahwa ada pemujaan Bhairawa di Sumatra tiada berapa lama menjelang masuknya agama Islam di Nusantara,” tulis J.L. Moens dalam Buddhisme di Jawa dan Sumatera dalam Masa Kejayaannya Terakhir. Moens menafsirkan Prasasti Suroaso bahwa di sebuah lapangan mayat Raja Adityawarman ditahbiskan sebagai Ksetrajnya dengan nama Wicesadharani, artinya seorang yang memiliki konsentrasi tinggi. Adityawarman ditahbiskan sambil bersemayam dengan sunyi senyap di sebuah tempat duduk berupa tumpukan mayat. Dia digambarkan sambil tertawa-tawa sebagai setan dan minum darah. “Sementara, korban manusianya yang besar, bernyala-nyala menebarkan bau busuk yang tak tertahankan, tetapi bagi orang yang sudah ditahbiskan berkesan sebagai harumnya berpuluh-puluh ribu juta bunga,” papar Moens menjelaskan isi prasasti. Pada keterangan lain, ritual semacam ini bukan hanya dilakukan Adityawarman. Raja Singhasari, Kertanegara, pun menganut ajaran serupa, yaitu Tantrayana aliran Kalacakra. Ini dapat disimpulkan melalui kenyataan dia ditahbiskan sebagai Jina di Kuburan Wurara. Hal ini tertera dalam Prasasti Wurare yang berangka tahun 1211 saka atau 1289 M. Arca pentahbisannya, di mana pada lapiknya tertera berita soal Wurara, merupakan wujud Aksobhya yang kini dikenal dengan nama Joko Dolog. Ritual di kuburan selalu identik dengan laku Tantrayana. Soal ini, Moens menjelaskan, kuburan atau lapangan mayat menurut penganut ajaran ini dianggap sebagai tempat ikatan Samsara dilepaskan. Tempat di mana kehidupan duniawi berakhir. “Lapangan mayat adalah tanah suci yang paling tepat untuk melakukan di atasnya tindakan upacara bernilai tinggi, khususnya upacara pembebasan,” lanjut Moens.

  • Romansa dari Masa Prahara

    FILM ini dibuka dengan sebuah adegan yang sedikit mengganjal hati: Jaya (Tio Pakusadewo), eksil yang bermukim di Praha, masih harus bekerja pada usia senja. Tapi baiklah, mungkin latar belakang periode film ini menceritakan ketika Jaya masih berusia di bawah 60 tahun, usia pensiun sebagaimana umumnya warga di Ceko yang lahir sebelum 1950, berdasarkan peraturan yang dibuat oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Sosial di Republik Ceko, Ministerstvo práce a sociálních vêcí.

  • Festival Belok Kiri Jalan Terus

    PULUHAN orang yang mengaku dari sebuah organisasi kemasyarakatan, berkumpul di pelataran Taman Ismail Marzuki, Cikini-Jakarta Pusat. Bersama mereka, tampak pula belasan anggota dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Jakarta. Para anggota ormas dan anggota HMI itu menyatakan satu suara: bubarkan kegiatan BelokKiri.Fest. Sedianya hari ini, 27 Februari 2016, sekelompok seniman dan aktivis akan membuka sebuah acara bertajuk BelokKiri.Fest. Kegiatan tersebut sebenarnya hendak menciptakan ruang diskusi dan ruang ekspresi seni yang berkaitan dengan istilah Kiri. Festival ini, tulis siaran pers yang disebarkan panita BelokKiri.Fest (25/02), hendak membuka mata masyarakat akan betapa salahnya propaganda anti sejarah dari Orde Baru yang menempatkan gerakan kiri, komunisme, dan sosialisme dalam arti tertentu sebagai momok yang menakutkan. Namun sore tadi, (27/02), pihak pengelola Taman Ismail Marzuki dan aparat kepolisian melarang acara tersebut untuk diselenggarakan di Galeri Cipta II, dengan alasan perizinan dan tema yang diusung. “Kegiatan BelokKiri.fest sudah dihentikan oleh dua pihak yaitu pihak TIM dan pihak kepolisian,” ujar Dolorosa Sinaga, salahsatu penggagas BelokKiri.Fest, dalam keterangan persnya. Soal perizinan, panitia sudah melakukan sesuai apa yang dikehendaki pihak pengelola TIM. Pada 18 Februari 2016, panitia melayangkan surat kepada Pusat Kesenian Jakarta, sebagai pengelola TIM. Hari berikutnya, PKJ mengeluarkan surat balasan kepada panitia, bahwa panitia harus mengurus sendiri perijinan kepada pihak kepolisian. “Biasanya PKJ yang membuat izin kepada kepolisian. Tanggal 20 Februari, PKJ memberikan contoh surat izin ke kepolisian. Tanggal 22 Februari, panitia mengirimkan surat izin kepada Polsek dan mendapatkan cap. Kemudian surat izin yang sudah dicap itu diserahkan kembali kepada pihak PKJ,” ujar Agnes, salahsatu panitia, yang membacakan kronologi pelarangan acara. Ternyata perizinan itu, bagi PKJ, masih kurang. PKJ menginginkan harus ada surat balasan dari Polsek di mana surat izin itu dibuat. Tangal 23 Februari, lanjut Agnes, baliho acara diturunkan pihak PKJ. Kemudian pada 25 Februari 2016, panitia BelokKiri.Fest mengajukan surat izin ke Polres Metro Jakarta Pusat, namun pihak Polres meminta panitia untuk membuat surat izin langsung ke Polda Metro Jaya. “Perizinan ini ditolak dengan alasan tidak memenuhi alasan administratif yang diatur oleh juklak kepolisian sebagai turunan dari undang-undang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum. Harus adapula izin terkait dari Bakesbangpol (Badan Kesatuan Bangsa dan Politik- red ), bahwa ideologi kiri tidak diperbolehkan dan harus ada paparan yang lengkap tentang isi acara dan harus diperiksa terlbih dahulu. Kemudian Polda juga menerima surat permohonan pengawalan dari ormas yang akan mengerahkan 500 orang untuk membubarkan acara,” lanjut Agnes. Pada kesempatan itu, panitia mempertanyakan ketidakjelasan dari PKJ mengenai proses perizinan, dan sikap aparat kepolisian yang sudah membela kepentingan kelompok tertentu. Bukan hanya itu, panitia juga menyayangkan sikap beberapa ormas seperti Gerakan Pemuda Cinta Bangsa, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Pusat Brigade Pelajar Islam Indonesia, Front Aktivis Jakarta dan Himpunan Mahasiswa Lombok yang telah membuat penolakan dan diberitakan dibeberapa media daring. “Kawan-kawan, kami akan melawan, namun bukan dalam bentuk kekerasan. Kami akan melawan dalam bentuk tetap menyelenggarakan diskusi-diskusi yang sudah diagendakan. Acara tetap kami jalankan, dan berpindah di gedung LBH Jakarta,” terang Dhyta Caturani, mewakili panitia BelokKiri.Fest.

  • Kisah Keluarga Mesman di Makassar

    SETELAH menghabiskan tiga hari perjalanan dari Lombok, Alfred Russel Wallace mencapai Makassar pada 2 Agustus 1856. Sehari kemudian bertemu gubernur Hindia Belanda untuk wilayah Makassar. Atau pula mengunjungi raja Gowa guna meminta izin memasuki wilayah hutan. Di Makassar, Wallace menghabiskan waktu selama tiga bulan (September-Desember 1856) menempati sebuah rumah panggung di daerah Mamajang (dituliskannya sebagai Mamajam). Lalu ke Gowa menempati rumah penduduk yang dikosongkan atas perintah raja. Pada Desember 1856, Wallace berlayar ke Kepulauan Aru, dan kembali lagi ke Makassar pada Juli 1857. Kedatangan kedua ini, menjadikan Maros sebagai titik tujuan. Di tempat ini, Wallace tinggal di sebuah tempat yang dituliskannya sebagai Amasanga dan bermukim antara Juli hingga November 1857. Bagaimana Wallace melakukan perjalanan ke tempat-tempat asing dengan mudah? Dalam catatannya, The Malay Archiplego (Kepulauan Nusantara), saat pertama kali mencapai Makassar, dia membawa surat perkenalan diri pada seorang Belanda bernama Mr. Mesman dan seorang penjaga toko berkewarganegaraan Denmark (tak disebutkan namanya). Dari dua orang kenalan ini, akses bertemu para penguasa wilayah dengan mudah didapatkan. Dalam catatan perjalanan itu, Wallace menulis dua Mesman: Mr. Mesman yang tinggal di Makassar dan Mesman yang tinggal di Maros. Mesman yang berada di Makassar adalah Willem Leendert Mesman. Dan yang berada di Maros adalah Jacob David Mathijs Mesman. Dua Mesman ini bersaudara. Orangtua mereka adalah pasangan Johannes David Mesman dan J. Helena Peters. Johannes David Mesman adalah seorang pegawai sipil pemerintah Beanda di Makassar hingga masa peralihan kekuasaan antara Belanda dan Inggris. Menjadi pemimpin landraad (pengadilan) dan sekretaris tambahan untuk urusan kewarganegaraan. Dia juga ikut berjuang melawan orang-orang Bugis. Guru Besar Sejarah Universitas Hasanuddin Makassar, Rasyid Asba, dalam makalah untuk seminar nasional; Tjollie Pujie sebagai Pahlawan Nasional di Bone pada 12 Juli 2004 menuliskan, pada 1826 ketika dilakukan penyerangan ke Tanete untuk menumpaskan perlawanan La Patau, Belanda menggandeng kerajaan Sidenreng, Maros, dan Pangkejene. Dan ikut serta perwakilan sipil yakni Mayor Mesman sebagai komisaris pemerintah Belanda. Johannes David Mesman diberikan penghargaan dari pemerintah berupa perkebunan di Marana dan Atapang, yang disebutkan sebagai pengambilalihan dari tangan musuh (Bugis). Dia menjadi kepala kampung sendiri, memberlakukan pelayanan wajib pajak atas sepertiga hasil bumi. Putra tertua Johannes David Mesman adalah Jacob David Matthijs (1818-1858) yang menamatkan sekolah penerjamah pada Ilustrasi untuk Bahasa Jawa di Surakarta. Dikisahkan dalam Being Dutch in the Indies A History of Creolisation and Empire, 1500-1920, saat kembali ke Makassar, Jacob dikenal dengan sapaan Tuan Solo. Tuan Solo tak menetap di Makassar, dia memilih Maros sebagai tempatnya bermukim. Memiliki ratusan hektar perkebunan dan puluhan ekor sapi. Saat Wallace mengunjunginya pada 1857, Mesman digambar sebagai seorang petualang. Menikmati kehidupannya bersama alam, bergantung pada senapan dan anjing pemburu untuk memenuhi kebutuhan pangan. Babi hutan yang gemuk dan sesekali waktu menembak rusa. Menanam padi dan kopinya sendiri, serta memelihara banyak bebek dan unggas. Dan sapi yang menghasilkan persediaan susu melimpah. Namun, setahun setelah kunjungan Wallace, pada 1858 Jacob Mesman meninggal dunia. Putra lainnya adalah Willem Leendert Mesman, mengambil kursus bahasa Bugis dan Makassar. Kursus ini menjadikannya dapat bercakap-cakap dengan penduduk pribumi dan dapat mengamankan kepentingan bisnisnya. Terbukti, kepiawaian ini diperlihatkan saat menemani Wallace bertemu raja Gowa. Wallace, menuliskannya seperti pertemuan dua orang sahabat. Sejak usia 35 tahun, Willem Mesman telah sukses membangun usaha bisnisnya. Dia tinggal di wilayah pinggiran kota dan menjadi seorang tuan tanah, memiliki ternak, gudang, pegawai dan beberapa pelayan. Dalam Being Dutch in the Indies A History of Creolisation and Empire, 1500-1920 , Mesman selalu mengawali harinya dengan sarapan, lalu mengganti pakaiannya dengan balutan jas lenin putih bersih dan berangkat ke kantornya menggunakan kereta kuda (bendi) di kota, di mana tertulis W.L Mesman, negotie-en commisiehandel en reders (W.L Mesman, Pedagang, Agen Bisnis, dan Pemilik Kapal). Menurut Wallace, Willem Mesman adalah seorang pedagang kopi dan opium. Memiliki perkebunan kopi di Bontyne (sekarang Bantaeng) dan sebuah perahu untuk berdagang mutiara dan tempurung penyu dari New Guinea. Di areal tanahnya juga, terdapat selusin kuda, dua puluh ekor sapi, dan sebuah kampung kecil yang dihuni para budak dari Timor dan pelayan dari Makassar. Meskipun pada 1854, perdagangan budak dinyatakan ilegal, yang kemudian ikut pula mengakhiri posisi Makassar sebagai pusat perdagangan budak. Keluarga Mesman adalah keluarga penting di Makassar. Saya mencoba mencari yang tersisa dari keluarga ini. Tak ada kuburan. Di Makassar, pekuburan orang-orang penting Belanda di tempatkan di jalan bagian ujung Hoge Pad –sekarang Jalan Ahmad Yani. Kuburan-kuburan para pembesar Belanda di tempat ini, sekarang menjadi kawasan bisnis di sekitar Makassar Trade Centre (MTC) di depan lapangan Karebosi. Saya juga menemukan salah satu jalan penghubung yang menggunakan nama Mesman Laan. Jalan ini, tak begitu panjang, hanya sekitar 300 meter dan menghubungkannya dengan jalan Ranggong daeng Romo. Sekarang Mesman Laan pun berubah menjadi Jalan Andi Makkassau.

  • Mencari Candi Pemujaan Ken Angrok

    DALAM sejarah Singhasari dan Majapahit, raja yang mangkat biasanya didarmakan dalam bentuk arca dewa. Mereka akan terus dikenang dengan dibuatkan sebuah candi pemujaan. Berdasarkan Nagarakretagama, jumlah candi yang difungsikan sebagai pendarmaan arwah raja mencapai 27 pada tahun 1365. Dari jumlah itu tidak semua masih berdiri utuh. Di antaranya candi di Kagenengan yang disebut sebagai pendarmaan Rangga Rajasa, gelar Ken Angrok.

  • Hari Ini Adalah Hari Kematian Tan Malaka

    PADA 21 Februari 1949 Tan Malaka dieksekusi mati oleh pasukan dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Perintah itu datang dari Letda. Soekotjo, yang menurut sejarawan Harry Poeze, “Orang kanan sekali yang beropini bahwa Tan Malaka harus dihabisi.” Pengujung kisah hidup Tan Malaka dimulai ketika dia dibebaskan dari penjara di Magelang, 16 September 1948. Sekeluarnya dari penjara, dia mencoba kembali mengumpulkan pendukungnya dan menggagas pendirian partai Murba pada 7 November 1948. Partai ini berasaskan “antifasisme, antiimperialisme dan antikapitalisme”.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page