Hasil pencarian
9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Alkisah Senjata Berludah
Mayor Ibrahim Adjie pernah hampir baku tembak dengan seorang perwira Batak sewaktu bertugas di Tapanuli. Saat itu, Ibrahim Adjie memanggil seorang komandan yang terkenal beringas dan jago anggar, untuk diperintahkan berpindah basis. Di luar dugaan, Si Komandan itu malah meminta balik agar Adjie yang mendatangi markasnya. Meski bikin jengkel, Adjie tetap beritikad baik dengan sowan ke markas komandan itu. Ketika berunding, Sang Komandan bersikukuh mempertahankan basisnya dan ogah pindah. Sikap membangkang itu menyulut Adjie untuk bersikap lebih tegas. Di tengah perdebatan sengit, Sang Komandan mengambil pistol kemudian meludahi ujung larasnya. Sembari meletakan pistol di meja, dia mengancam Adjie. “Kau aku kasih kesempatan untuk pergi dari sini sampai ludah di pistolku itu kering. Jika tidak, kau kutembak!” teriaknya. Tapi, Adjie tidak termakan gertakan. Meski masih basah kena cipratan ludah, Adjie menyambar pistol itu lalu balik menodongkannya ke batok kepala Si Komandan, “Tak perlu menunggu ludah itu kering, sekarang juga kau aku tembak jika tidak ikut perintahku!” ujar Adjie. Begitulah penuturan Kiki Adjie – putra Ibrahim Adjie – kepada Historia mengisahkan pengalaman ayahnya. Menurut Kikie, demonstrasi pistol berludah itu adalah aksi nyeleneh yang biasa dilakukan untuk menguji nyali para komandan di Tapanuli. Tapi, Kikie tidak memperoleh keterangan dari ayahnya tentang siapa sosok komandan yang mengancamnya dengan pistol berludah itu. Sosok Matheus Sihombing Apabila merujuk waktu dan tempat, kejadian tersebut berlangsung setelah November 1948. Saat itu, Adjie menyertai Letkol Alex Kawilarang yang diangkat menjadi panglima komandamen Sumatra Utara. Sebagai stafnya Kawilarang, Adjie bertugas membantu penertiban para komandan brigade yang saling bertempur satu sama lain. Mayor Ibrahim Adjie dalam Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatra, 1945--1950 terbitan Dinas Sejarah Kodam II Bukit Barisan disebutkan menetap di Penyabungan sebagai pejabat gubernur militer untuk daerah Tapanuli Selatan dan Sumatra Timur Selatan. Salah seorang komandan yang berkuasa di daerah itu ialah Kapten Matheus Sihombing. Tepatnya, Sihombing merupakan komandan Batalion V dari Sub Sektor Padang Lawas Sipirok. Kuat dugaan, Matheus Sihombing inilah yang berperkara dengan Ibrahim Adjie sehubungan dengan insiden pistol berludah itu. Matheus Sihombing seperti tercatat dalam 35 Tahun Kadet Brastagi termasuk salah satu pemimpin Laskar Rakyat Medan Timur yang legendaris. Dia kesohor karena memimpin barisan preman dalam pertempuran Medan Area. Pasukannya berasal dari pemuda-pemuda Tapanuli yang bermukim di Medan. Kebanyakan dari mereka adalah bekas jagoan atau para kriminal di samping pemuda pengangguran yang menggabungkan diri secara sukarela. “Kelompok dari Matheus Sihombing yang bermarkas di Kongsi Dua itu kemudian terkenal dengan nama Laskar Pembinaan Napindo,” tulis Forum Komunikasi Ex Sub Teritorium VII Komando Sumatera dalam Perjuangan Rakyat Semesta Sumatera Utara . Dalam jajaran kelaskaran di kota Medan, Matheus boleh dikata sebagai orang kedua paling berpengaruh setelah Timur Pane. Pada akhir 1946, Timur Pane mengajak Matheus Sihombing dan Liberty Malau membentuk Brigade Marsose. Kelompok ini menjadi barisan laskar yang sangat kuat di Sumatra Utara membawahi belasan batalion. Menjelang perang kemerdekaan pertama, Brigade Marsose dilebur ke dalam Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan nama Legiun Penggempur. “Si Mitraliur” Menurut berbagai penuturan, Matheus Sihombing digambarkan sebagai sosok yang sangar, berkuasa, dan disegani, tapi tidak berpendidikan. Karena buta huruf, Matheus biasanya membubuhi namanya dengan hanya melukiskan sebuah bulatan dengan secoret garis di tengahnya. Dia juga disebut-sebut sebagai seorang pentolan laskar yang setia kawan. Sebagaimana dikisahkan oleh Mas Kadiran, kepala pasukan Barisan Istimewa Polisi Karesidenan Tapanuli ketika dirinya dilucuti dan tertawan oleh Laskar Rakyat Naga Terbang pimpinan Timur Pane di Kuala Namu, Lubuk Pakam. Mengetahui Kadiran ditangkap, Matheus Sihombing meminta supaya Kadiran dipindahkan ke markasnya di Galang Sungai Putih. Setelah ditahan selama beberapa hari dengan perlakuan yang baik, Matheus Sihombing kemudian membebaskan Mas Kadiran. “Bantuan Matheus Sihombing ini dikarenakan dalam pertempuran di Medan Area, Mas Kadiran banyak membantu senjata dan amunisi kepada Matheus Sihombing,” ungkap H. Hadiman dalam Lintasan Perjalanan Kepolisian RI Sejak Proklamasi--1950 . Kendati demikian, Matheus Sihombing pun tidak sungkan berlaku bengis pada siapa saja. Seperti dicatat sastrawan Sitor Situmorang bahwa Matheus Sihombing juga pernah mengancam Gubernur Sumatra Teuku Mohammad Hasan lewat aksi pistol berludahnya . “Matheus Sihombing,” kata Sitor dalam otobiografinya Sitor Situmorang: Seorang Sastrawan 45, “meninggalkan kisah ultimatumnya kepada Gubernur Hassan , hal pistol berair-ludah.” Kiranya dari kelakuannya itulah tercetus nama alias yang nyentrik pada diri Matheus Sihombing, yakni “Si Mitraliur” yang bisa diartikan: senapan berludah. Terbiasa beraksi dengan pistol, kisah hidup Matheus Sihombing ditutup dengan desingan peluru. Peristiwa itu terjadi menjelang agresi militer Belanda yang kedua pada akhir 1948. Seperti ditulis Sitor, Matheus dikabarkan terbunuh karena tembakan yang dilepaskan oleh rekan yang jadi saingannya. Namun, Alex Kawilarang dalam otobiografinya Untuk Sang Merah Putih: Pengalaman 1942—1961 menyebut Matheus Sihombing mencoba untuk merebut kekuasaan, tetapi ia segera ditindak oleh pasukan Sektor II Sub Teritorium VII Sumatera pimpinan Mayor Liberty Malau. “(Matheus Sihombing)”, kata Kawilarang, “dikejar, ditangkap, dan ditembak mati.”
- Satir Penerbang Bengal dalam Catch-22
SIRINE ambulans Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat meraung-raung di Pangkalan Udara (Lanud) Pianosa, Italia suatu siang di tahun 1944. Tim medis berlarian mendekati pesawat-pesawat pembom medium B-25 Mitchell yang mendarat darurat di lanud itu. Dari salah satu pesawat itu, Kapten John ‘Yo-Yo’ Yossarian (diperankan Christopher Abbott) menuruni tangga pesawat tanpa pakaian dan tubuhnya berlumuran darah. Yo-Yo baru kehilangan salah satu kru penembaknya yang rekrutan baru, Letnan Christopher Snowden (Harrison Osterfield), yang tewas di pelukannya dalam misi pemboman. Di antara kesibukan tim medis lanud dan kepulan asap mesin pesawat yang rusak, Yo-Yo berteriak histeris. Mentalnya terguncang. Sekejap kemudian, alur cerita mundur. Trio sutaradara George Clooney, Grant Heslov, dan Ellen Kuras menghadirkan kilas balik episode pertama miniseri bertema Perang Dunia II bertajuk Catch-22 ini. Digarap dengan kemasan komedi-satir, miniseri ini diadaptasi dari novel bertajuk serupa karya Joseph Heller. Cerita bergulir ke medio 1941, saat Yo-Yo masih pendidikan kadet di Lanud AD Santa Ana, California. Ia dan delapan karib seangkatannya dikenal sebagai kelompok kadet paling bengal. Jangankan untuk bersikap disiplin, untuk baris-berbaris saja kesembilan kadet itu kerap gagal membuat formasi rapi walau sudah 11 pekan dalam pelatihan. Saking bengalnya, Yo-Yo bahkan berani berselingkuh dengan Marion (Julie Ann Emery), istri komandannya, Kolonel Scheisskopf (George Clooney). Mereka acap kena batunyadari Kolonel Scheisskopf. Kendati dikenal suka melawan komandan, mereka tetap lulus dengan pangkat letnan penerbang dan dikirim tugas tempur di front Mediterania pada medio 1943. Yo-Yo dkk. ditempatkan di Skadron ke-256, Divisi Korps Udara ke-27, Wing Udara ke-57 AD Amerika yang berbasis di Lanud Pianosa. Adegan kadet John 'Yo-Yo' Yossarian dan kawan-kawan seangkatannya semasa pelatihan (Hulu) Dalam adegan-adegan di Pianosa itulah karakter-karakter asli para letnan bengal itu terkuak. Clevinger selalu sok pintar, McWatt penggila adrenalin. Nately pendiam dan jadi “bucin” seorang pelacur Italia, sertapenjilat yang berambisi jadi penanggungjawab logistik dan dapur umum bernama Milo. Sedangkan Yo-Yo, selalu mencari cara untuk bisa lekas pulang sebelum berpotensi tewas dalam penugasannya tanpa dicap desersi. Yo-Yo sempat mendekati pendeta Kapten Albert Tappman (Jay Paulson), perawat Letnan Sue Ann Duckett (Tessa Ferrer), dan dokter lanud Mayor Dan Daneeka (Grant Heslov) untuk meyakinkan bahwa dirinya sudah gila. Harapannya agar ia bisa direkomendasikan mengalami gangguan jiwa dan dibebastugaskan atau setidak-tidaknya di- grounded. Namun, Daneeka menguraikan bahwa keinginan Yo-Yo nyaris mustahil. Pasalnya terdapat peraturan yang paradoksal bernama “Catch-22”. Hal itu membuat Yo-Yo hanya bisa menatap kosong dan cenderung depresi saat mendengar penjelasan Daneeka. “Siapapun yang ingin keluar dari penugasan sebenarnya tidak gila. Catch-22 secara spesifik menyebutkan, kekhawatiran akan keselamatan diri di hadapan situasi bahaya, secara nyata dan langsung, adalah proses dari pikiran yang rasional. Kau bisa saja jadi gila tapi untuk di -grounded , kau harus mengajukan permintaan itu. Tapi untuk mengajukan permintaan, kau pasti berada dalam kondisi waras. Karena hanya orang waras yang bisa mengajukan permintaan,” kata Daneeka. Kolase adegan Yo-Yo meyakinkan Doc Daneeka (kiri) & perawat Sue Ann Duckett bahwa ia gila (Hulu) Aturan yang simpel itu ternyata sangat kusut. Intinya, Yo-Yo tetap terikat pada tugas dan tidak berhak dibebastugaskan selama Korps Udara AD Amerika membutuhkannya. Alhasil Yo-Yo mengeluarkan banyak akal-akalan. Selain merusak alat komunikasi pesawatnya sendiri agar bisa lekas balik ke lanud tanpa menjalankan misi, ia menyabotase peta operasi dan misi pemboman ke Bologna. Kelakuannya itu lalu menghasilkan rantai kejadian yang tak mengenakkan. Salah satunya menimbulkan hoaks bahwa pasukan Divisi Infantri ke-10 sudah merebut Bologna sehingga membuat korps udara tak perlu mengerahkan misi pemboman. Hoaks Bologna sudah aman itu mengakibatkan perwira urusan akomodasi, Mayor De Coverley (Hugh Laurie), datang sendirian ke sana. Dia kecele ketika masuk ke sebuah gedung, ternyata penuh serdadu Jerman. Sejak saat itu De Coverley dilaporkan dalam daftar MIA ( missing in action ). Komandan divisi Kolonel Chuck Cathcart (Kyle Chandler) pun naik pitam. Selama pelaku sabotase itu tak ditemukan, ia menambah kuota misi terbang sebelum setiap penerbang bisa dibebastugaskan. Dari 25 misi di awal, kuota ditambah menjadi 30, lantas 40, dan terakhir 55 misi. Gegara ulah Yo-Yo, Mayor De Caverley kecele masuk gedung yang penuh pasukan Jerman (Hulu) Di setiap misi, jiwa Yo-Yo perlahan tergerus gegara satu per satu karib seangkatannya hilang atau tewas. Situasinya kian lebih runyam kala Brigjen Scheisskopf, musuh lamanya, datang mengambilalih operasi di Lanud Pianosa dari tangan Cathcart. Bagaimana Yo-Yo membendung luapan emosi seiring bertambahnya kuota misi terbang walau buah zakarnya sempat cedera kena pecahan peluru meriam Flak 88? Saksikan kelanjutan dalam enam episode di aplikasi daring Mola TV . Humor dalam Kegetiran Secara estetis, Catch-22 begitu memanjakan mata penonton dengan pemandangan alam Italia Selatan dan Italia Tengah yang hadir melalui mata para penerbang saat menjalani misi-misi terbang mereka. “Vitamin” mata kian bertambah dengan suguhan gedung-gedung tua khas Roma dan kota-kota di selatan Italia dalam beberapa adegan kala para penerbang mendapat cuti. Jiwa penonton kian “kenyang” dengan hadirnya music scoring berwarna garapan duet komposer bersaudara Harry dan Rupert Gregson-Williams. Selain irama komikal era 1940-an yang mendampingi adegan-adegan konyol, alunan mendayu khas Italia yang mengiringi adegan-adegan tragis memperkaya suasana batin para pemirsa. Keotentikan wardrobe dan propertinya pun patut diacungi jempol. Replika pesawat pembom asli yang masih bisa terbang turut digunakan. Yang lebih jempolan lagi, lantaran tidak meniru film-film Perang Dunia II buatan Amerika, beberapa warga dan pelacur lokal tetap berdialog menggunakan bahasa Italia sehingga terjadi banyak kesalahpahaman dengan para penerbang Amerika. Terlepas dari kesan yang dipetik beberapa kritikus bahwa miniseri ini tak sedalam dan tak setajam novel aslinya, Catch-22 lewat penampilan karakter-karakter utamanya dinilai lebih dark dalam eksplorasi satir ketimbang film bertajuk serupa versi 1970. Kisah Catch-22 berpusar pada konflik Yo-Yo (kedua dari kiri) dan karib seangkatannya (Hulu) Catch-22 juga sedikit mengingatkan pada serial-serial dengan tema serupa, semisal Band of Brothers (2001) dan The Pacific (2010). Ia menggali lebih dalam kondisi kejiwaan prajurit perang yang terguncang. Bedanya, jika para tokoh pada dua seri di atas mengalami gangguan mental akibat gempuran musuh, karakter-karakter utama di Catch-22 terguncang jiwanya akibat sistem birokrasi di kemiliteran Amerika sendiri, terutama dengan aturan “Catch-22”. “Saya tak bisa bayangkan jika yang terjadi pada cerita itu tidak terjadi di dunia sampai sekarang. Sayangnya kisah seperti ini terus beresonansi. Perlawanan terhadap sistem dan sistem itulah yang hampir selalu menang. Segalanya absurd, termasuk ketika para perwira tua yang membuat keputusan dan prajurit-prajurit muda yang tewas karenanya,” tutur Clooney kepada Channel 4 , 11 Juni 2019. Sebagaimana novelnya, kisah dalam film ini merupakan dramatisasi dari kisah nyata namun begitu aktual menggambarkan kompleksitas kegilaan para karakternya. Ini membuka mata penonton bahwa di balik tugas tempur, para personil AU juga punya konflik batin yang tak kalah pelik dari serdadu darat maupun laut. Tokoh Letnan Milo, misalnya. Situasi perang membuatnya jadi penjilat dan berhasil menikmati jabatan sebagai penanggungjawab logistik. Akibatnya, kuota misi terbang tidak dipedulikannya lagi. Dia malah keenakan membangun jaringan bisnis dan sindikat logistik dengan memanfaatkan alutsista yang ada. Kolase kekonyolan Brigjen Scheisskopf yang mengintip kantong menyan Yo-Yo yang cedera (Hulu) Beda lagi dengan McWatt. Ia dibuat frustrasi oleh keterpaksaan meninggalkan satu misi terbang gara-gara alat komunikasinya disabotase Yo-Yo, hingga berujung pada tragedi yang memakan korban kawan lainnya. Saat Yo-Yo dkk. tengah bersantai berenang di laut, McWatt mengusili dengan terbang rendah menggunakan pesawat serbu tapi akhirnya menabrak Kid Sampson hingga tubuhnya hancur. Tokoh Aardvark lain lagi. Setelah merudapaksa dan membunuh gadis pelayan Italia, ia jadi pribadi yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Sedangkan karakter Kolonel Cathcart yang gila prestasi dan jabatan, tak peduli pada para penerbangnya dengan terus-menerus menambah kuota misi terbang. Satu adegan yang lucu adalah ketika Sersan Major Major Major dalam sekejap dipromosikan Cathcart menjadi mayor gegara kesalahpahaman akan namanya yang unik. Kejadian itu membuatnya gagap akan tugas dan wewenang yang lebih tinggi. Namun, karakter Yo-Yo makin frustrasi dan depresi. Bukan hanya karena kuota misi terbangnya selalu ditambah, namun ia mulai sadar bahwa kematian rekan-rekannya tak lain disebabkan kelakuan bengalnya. Niatnya menyabotase banyak hal demi menyelamatkan banyak nyawa teman-temannya justru berbuah sebaliknya. Ia pun makin sadar bahwa AD takkan berkenan membebastugaskannya, peduli setan sudah berapa banyak misi terbang yang ia jalani hingga kantong menyannya cedera terkena pecahan meriam antiudara Jerman. Meski kemudian dipromosikan jadi kapten, ia hanya bisa melakukan perlawanan dengan menjalankan tugas-tugas lagi tanpa seragam alias telanjang sebagai bentuk protesnya. Dramatisasi Pengalaman Pribadi Aturan “Catch-22” sebetulnya bukanlah aturan tertulis yang pernah ada dalam kesatuan militer Amerika manapun. Tetapi substansinya begitu aktual, terutama sebagaimana yang pernah dialami Heller di masa mudanya kala bertugas sebagai bombardier di Front Mediterania. Diungkapkan Michael C. Scoggins dalam “Joseph Heller’s Combat Experiences in Catch-22” yang termuat dalam buku WLA: War, Literature & the Arts , Heller kala baru menginjak usia 19 tahun pada 1942, bergabung ke Korps Udara AD Amerika dan dikirim ke Front Mediterania bersama Skadron Pembom ke-488 dari Grup Pembom ke-340 di dalam Wing Pembom ke-57. Tak ayal sejumlah penggambaran detail misi-misi penerbangan dalam Catch-22 merupakan cerminan pengalaman pribadinya. Nama karakter utama John ‘Yo-Yo’ Yossarian ia pinjam dari nama karibnya sendiri, Francis Yohannon. “Akan tetapi karakter Yossarian sendiri bukanlah 100 persen penggambaran Yohannon. Karakter Yossarian, kata Heller, ‘adalah penjelmaan dari keinginannya untuk berontak,’” tulis Scoggins. Tokoh Yo-Yo tak lain alter ego sang novelis, Joseph Heller (kanan) saat bertugas sebagai bombardier (Hulu/Hollings Library, University of South Carolina) Selepas lulus dari pendidikan kadet dengan pangkat letnan dua, Heller bersama Skadron ke-488 berbasis di Pulau Corsica pada akhir 1944. Heller pun mengalami penambahan kuota seiring jalannya perang walau sebagian besar misi tempurnya berada di garis belakang, di mana ia hanya membom sasaran-sasaran Jerman yang sedang mundur, bukan di garis depan. “Kesatuannya terlibat dalam misi-misi dukungan taktis di utara Italia dan selatan Prancis. Angka (kuota) misi dalam Catch-22 merupakan cerminan yang akurat akan kenyataan dalam peperangan di selatan Eropa. Mulanya para kru (pesawat pembom) B-17 dan B-24 hanya ditetapkan dengan 25 misi sebelum bisa dipulangkan. Tetapi kuota Heller terus dinaikkan beberapa kali menjadi 50, kemudian 55 dan terakhir 60 sebelum akhirnya Heller bisa pulang,” sambungnya. Dengan kata lain, karakter Yo-Yo adalah alter ego Heller sendiri. Kisah di bagian akhir kala depresi Yo-Yo mencapai klimaksnya setelah Letnan Snowden tewas di pelukannya akibat terkena pecahan meriam Flak 88 juga pengalaman pribadinya. Hampir setiap adegan film sesuai dengan yang dialaminya dalam misi membombardir sasaran Jerman di Ferrara pada 16 Juni 1944. Karakter Snowden adalah alter ego dari prajurit bernama Vandermeulen. Akibat kejadian itu, Heller tak lagi menjadi pribadi yang sama. Ketika sudah saatnya bisa pulang, Heller memilih pulang dengan naik kapal laut ketimbang pesawat. “Saya mungkin untuk sesaat dianggap dan diperlakukan sebagai pahlawan, tetapi saya tak merasa demikian. Mereka (birokrasi) mencoba membunuh saya dan saya hanya ingin pulang. Mereka selalu mencoba membunuh kami semua setiap kali kami terbang sama sekali tak terasa sebagai hal menyenangkan. Saya selalu ketakutan dalam setiap misi setelah kejadian (Vandermeulen), bahkan ketika misinya tak menghadapi perlawanan musuh,” tandas Heller dikutip Scoggins. Deskripsi Film: Judul: Catch-22 | Sutradara: George Clooney, Grant Heslov, Ellen Kuras | Produser: George Clooney, Grant Heslov, Ellen Kuras, Steve Golin, Richard Brown, David Michôd, Luke Davies | Pemain: Christopher Abbott, Kyle Chandler, George Clooney, Hugh Laurie, Graham Patrick Martin, Lewis Pullman, Rafi Gavron, Daniel David Stewart, Austin Stowell, Jon Rudnitsky, Gerran Howell, Grant Heslov, Julie Ann Emery, Tessa Ferrer | Produksi: Lakeside Ultraviolet Yoki Inc., Smokehouse Pictures, Anonymous Content, Paramount Television | Distributor: Hulu, Sky Atlantic | Genre: Komedi-Satir | Durasi: 40-43 menit/6 episode | Rilis: 17 Mei 2019, Mola TV.
- Sepak Terjang Madmuin Hasibuan
LANGIT kota Bekasi begitu terik Rabu (30/6/2021) siang itu. Namun kondisi itu tak melunturkan semangat Walikota Bekasi Rahmat Effendi untuk terus mengayunkan langkahnya menuju permakaman di belakang Masjid Agung Al-Barkah. Di sela kesibukannya dalam penanggulangan Covid-19, Pepen, begitu sang walikota biasa disapa, menyusuri jalan kecil di belakang masjid diiringi beberapa stafnya. Kedatangannya secara mendadak ke kampung di belakang masjid itu pun menimbulkan kehebohan warga. Dekat pagar yang dinaungi pohon rindang, Pepen berteduh sambil menunggu pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Barkah berlarian mengambil kunci gembok makam. Ketika gembok pagar permakaman sudah dibuka, Pepen tampak semangat menuju sebuah pusara di sebuah pojokan yang kondisinya memprihatinkan. Semen, batu bata, dan keramik biru yang mengelilingi kuburan itu sudah gompal di sana-sini. Dedaunan kering dan sampah kaleng minuman juga berserakan di atasnya. Di nisannya tertera tulisan dengan goresan cat hitam berbunyi: M. HASIBUAN. LAHIR: TH. 1922. WAFAT TH. 1961. “Salah satu tokoh pejuang kota Bekasi yang ada nama jalannya, Jalan M. Hasibuan. Pernah menjadi pimpinan DPRD pemekaran Kabupaten Bekasi dan dimakamkan di sini, di belakang Masjid Agung Al-Barkah,” kata Pepen sambil memandangi makam. Walikota Bekasi Rahmad Effendi mengaku akan memugar makam Mayor M. Hasibuan (Randy Wirayudha/Historia) Sebelum mengakhiri ziarah dadakan itu, Pepen berjanji akan melakukan pemugaran makam tersebut. Selain itu, dia mengagendakan pemberian penghargaan kepada ahli waris keluarga Hasibuan, sebagai bentuk penghormatan atas jasa perjuangan almarhum yang dirasakan bersama di alam kemerdekaan saat ini. “Nanti saya akan minta Kabag Kesos untuk makamnya segera dirapihkan. Terus Disparbud bentuk tim untuk menindaklanjuti (penghargaan). Kalau melihat status kesatuannya (ALRI), insya Allah mungkin akan jadi pahlawan nasional, karena pada saat itu pergerakan yang ada di Jakarta tidak terlepas dari pertahanan yang ada di Bekasi bersama (pahlawan nasional) K.H. Noer Ali,” tandasnya. Senada dengan walikota, Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarhal) juga mengaku punya rencana memperbaiki makam tersebut saat dikonfirmasi secara terpisah. Namun, hal itu akan dikoordinasikan terlebih dulu. “Kita sudah sempat tinjau juga (makamnya) ke sana dan benar, itu makamnya yang sudah diberi bendera. Setelah ini kita mau menyusun laporan untuk diserahkan ke wakastaf. Rencana kami memang sama seperti Pak walkot, mau merehabilitasi makam. Malah walikota Bekasi mau menjadikan tugu sekalian, kita alhamdulillah. Nanti kami rencanakan dengan walikota Bekasi dan ketua DPRD Kota Bekasi biar klop,” ujar Kasubdit Penulisan dan Produksi Disjarhal Kolonel Heri Sutrisno kepada Historia , Senin (5/7/2021). Kasubdit Penulisan dan Produksi Disjarhal Kolonel Heri Sutrisno (Randy Wirayudha/Historia) Siapa Madmuin Hasibuan? Kendati namanya banyak ditemukan di sejumlah buku, hingga saat ini informasi mengenai M. Hasibuan masih minim. Tak ayal, kecuali tahun lahirnya yang diketahui sebagaimana tertera di pusaranya, tanggal dan bulan serta tempat kelahirannya pun masih terselubung misteri. Pun dengan tanggal dan bulan serta penyebab kematiannya di tahun 1961, masih tetap misteri. Menurut Ali Anwar dalam biografi KH. Noer Ali , Kemandirian Ulama Pejuang, Hasibuan di zaman pendudukan Jepang merupakan salah satu mandor pelabuhan Tanjung Priok. Bersama adik iparnya, Yakub Gani, ia hadir menyaksikan pembacaan proklamasi oleh Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945. Yakub Gani yang juga salah satu murid KH Noer Ali, kemudian pulang ke Bekasi untuk ikut menyebarkan berita proklamasi. Sementara, Hasibuan kembali ke pelabuhan. Setelah Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jakarta lahir pada 27 Agustus 1945 dan dipimpin Moeffreni Moe’min, terjadi mobilisasi kalangan pemuda. Hasilnya adalah susunan seksi-seksi administratif dan tiga sektor lapangan. Bersama Raden Eddy Martadinata, Hasibuan yang sudah hafal wilayah pelabuhan dipercaya Moeffreni memegang sektor Jakarta Utara. “Pembagian wilayah dipimpin komandan sektor dari masing-masing wilayah dipegang oleh: Jakarta Pusat oleh Sadikin dan Soedarsono, Jakarta Timur oleh Sambas Atmadinata dan Sanusi Wirasuminta, Jakarta Utara oleh Martadinata dan Hasiboean,” tulis Dien Madjid dalam Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min. Begitu BKR Laut Pusat didirikan pada 10 September 1945, BKR Sektor Jakarta Utara pimpinan Martadinata-Hasibuan dilebur ke dalamnya. BKR Laut ini kemudian terlibat bentrok dengan pihak Sekutu/Inggris pada pertengahan September 1945. “Karena sikap serdadu-serdadu Inggris dan NICA sangat angkuh dan sama sekali tidak mau menghargai aparatur pelabuhan RI, maka terjadilah bentrokan senjata antara mereka dengan para pemuda pejuang (BKR Laut, red .) di sekitar Menara Air, Stasion (Stasiun Tanjung Priok), dan Zeeman’s Huis (mess pelaut),” ujar tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya dalam Sejarah Perjuangan Rakyat Jakarta, Tanggerang dan Bekasi dalam Menegakkan Kemerdekaan R.I. Ilustrasi TKR Laut di Stasiun Bekasi saat mengawal rombongan RAPWI ( nationaalarchief.nl ) Pada 6 Oktober 1945, tepat sehari setelah BKR Laut bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut, pecah pertempuran pertama antara pasukan kiblik dengan Sekutu dan NICA (Belanda) di Jembatan Kali Kresek. Walau berskala kecil, Hasibuan dan pasukannya yang mendapat tambahan kombatan dari pelosok utara Jakarta dan Bekasi mampu merepotkan Sekutu dan NICA semalaman. Pertahanan pasukan Hasibuan itu baru dipatahkan keesokan harinya setelah Sekutu mengerahkan pesawat-pesawat tempur P-40 Warhawk. Pasukan Hasibuan lalu menyingkir ke Marunda, Ujungmalang, Kampung Muara, dan Babelan. Di Babelan, mereka berdampingan dengan Laskar Hisbullah pimpinan K.H. Noer Ali. “Di sepanjang pantai utara dan rawa-rawa di sekitar delta Sungai Citarum terdapat unit dari Tanjung Priok yang dipimpin Matmuin Hasibuan. Sebagian besar anggotanya adalah orang Batak dan menyebut diri mereka ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Walaupun mereka bekerjasama dengan Nurali di Babelan, ALRI hanya memiliki sedikit kontak dengan resimen Cikampek dan tidak ada kontak sama sekali dengan markas angkatan laut di Yogyakarta,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 . Usai Jakarta dijadikan kota diplomasi pada 19 November 1945, yang mengharuskan militer keluar dari Jakarta, pasukan Hasibuan dan KH Noer Ali turut dalam pertahanan di tapal batas dengan wilayah TKR Resimen V pimpinan Letkol Moeffreni. Area timur Jakarta dan Bekasi jadi wilayah “pengungsian” TKR dan barisan-barisan perjuangan lain. “Barisan Banteng RI dipimpin M. Husein Kamaly dan M. Thabrani Notosudirjo yang juga menjabat ketua KNI. Ada pula Brigade Macan Citarum yang dipimpin H. Riyan dan Thabrani di Desa Satria. KH. Nur Ali juga mendirikan Markas Perjuangan Hisbullah Sabilillah di Ujungmalang. Sedang BKR Laut (TKR Laut, red. ) dipimpin M. Hasibuan bermarkas di Kampung Muara Babakan,” tulis S. Z. Hadisutjipto dalam Bara dan Nyala Revolusi Phisik di Jakarta. Kolase Kavaleri Lancer ke-13 dan pasukan Infantri Rajput 7/4 Inggris menerobos Bekasi ( iwm.org.uk ) Bentrokan-bentrokan antara laskar-TKR dengan NICA-Sekutu memuncak pada 23 November 1945. Pemantiknya adalah pembantaian tawanan asal Inggris yang selamat dari kecelakaan pesawat Dakota di Rawa Gatal, Cakung. Sepekan kemudian, Jenderal Christison mengerahkan pasukan infantri, artileri, dan kavaleri. Di Kampung Sasak Kapuk, mereka dihadang dan terlibat pertempuran sengit dengan sekira 400 pasukan gabungan TKR Batalyon V Bekasi, TKR Laut pimpinan Hasibuan dan Laskar Hisbullah KH. Noer Ali pada 29 November 1945. Tiada yang menang dalam pertempuran itu. Diungkapkan tim Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya, pada 5 Desember 1945 Hasibuan ditangkap NICA. Sebelumnya, dia dikuntit mata-mata saat berkendara dengan mobil bersama Wedana Tanjung Priok, Hindun Witawinangun, untuk berkoordinasi dengan kantor penghubung TKR di Pegangsaan Timur. Keduanya jadi sasaran penyiksaan di Kamp Polonia. Hindun akhirnya tewas. Sementara, Hasibuan walau mengalami luka-luka akhirnya diselamatkan para pemuda pejuang yang menolak melakukan pengosongan area Tanjung Priok. “Pemuda Pejuang akan terus bertahan dan bertempur sekuat tenaga, kecuali jika NICA membebaskan Komandan TKR Mayor Hasibuan dan pejuang-pejuang lainnya yang ditawan Belanda. Ternyata tuntutan para pemuda itu disetujui Belanda dan pada 15 Desember 1945 mereka dibebaskan. Mayor Hasibuan kemudian memindahkan markas TKR Laut ke Karang Congok, di utara Bekasi.” Madmuin Hasibua (kedua dari kiri) saat sudah menjabat Ketua DPRDS Kabupaten Bekasi (Repro: Kemandirian Ulama Pejuang ) Pada Agustus 1946, pertahanan republik di Bekasi makin mundur ke timur, Tambun, lalu Karawang. Ancaman paling nyata dihadapi Mayor Hasibuan dengan pasukan Batalyon III ALRI-nya datang dari utara Bekasi. “Dalam kegentingan di Tambun ini, pasukan ALRI di bawah Mayor Hasibuan mendapat tembakan dari kapal-kapal Belanda pada 22 Agustus 1946 di Ujung Karawang, sehingga tersiar kabar bahwa musuh akan mendaratkan tentaranya. Demikianlah kita terdesak oleh musuh di dua front: front barat dan timur Jakarta,” kata Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan: Diplomasi Sambil Bertempur. Memasuki Mei 1947, Hisbullah Noer Ali dan ALRI Hasibuan makin terdesak ke Karawang. Di bulan yang sama, mengikuti instruksi Presiden Sukarno agar laskar-laskar dilebur ke kesatuan reguler, pasukan Hisbullah KH Noer Ali menggabungkan diri ke pasukan ALRI Hasibuan yang bermarkas di Rengasdengklok. Setelah Tambun dan Karawang jatuh ke tangan Belanda pada Agresi Militer I, pasukan ALRI Hasibuan mundur ke Pangkalan ALRI Tegal. Minim Catatan Pasca-pengakuan kedaulatan oleh Belanda (27 Desember 1949), Hasibuan tak meneruskan kariernya di kemiliteran. Bersama KH. Noer Ali, ia masuk panggung politik. Medio Januari 1950, ia terlibat di Panitia Amanat Suara Rakyat Bekasi yang menuntut pemisahan Bekasi dari Distrik Federal Jakarta di dalam Negara Pasundan, serta mengubah nama Kabupaten Djatinegara menjadi Kabupaten Bekasi. Mengutip buku Sejarah Bekasi: Sejak Pemerintahan Purnawarman sampai Orde Baru keluaran Pemda Tingkat II Bekasi (1992), tuntutan yang dirumuskan Noer Ali dkk. itu disampaikan Sukardi sebagai ketua panitia dan Hasibuan selaku penghubung ke pemerintah federal. Panitia itu juga menggelar rapat raksasa untuk menyusun pemerintahan sendiri tanpa izin pemerintah RIS. Akibatnya, Hasibuan dan Noer Ali ditahan Gubernur Militer Jakarta Raya Daan Yahya. “Daan Yahya mengatakan tindakan mereka bertentangan dengan pemerintah RIS, sehingga dinilai sebagai coup . Tetapi setelah M. Hasibuan dan KH Noer Ali mengemukakan argumentasi yang mengatakan tindakan rakyat Bekasi justru memperjuangkan negara kesatuan, akhirnya Daan Yahya memaklumi, bahkan akan berupaya mengajukan masalah tersebut kepada DPR RIS,” tulis buku tersebut. Begitu Negara Pasundan bubar pada Februari 1950, Hasibuan masuk ke Partai Masyumi cabang Bekasi. Hasibuan lalu dipercaya menduduki jabatan ketua DPRDS Kabupaten Bekasi pertama menyusul keluarnya Undang-Undang Nomor 14 tahun 1950 tentang pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Tingkat I dan Tingkat II. Namun, lanjut buku tersebut, pembentukan DPRDS Kabupaten Bekasi pada 10 November 1950 itu justru dicibir Bupati Bekasi Suhandan Umar. Suhandan merasa eksistensi DPRDS akan menggembosi wewenangnya. Pusara dan nama Jalan M. Hasibuan di Kota Bekasi (Randy Wirayudha/Historia) Hasibuan pun menuding Suhandan punya hubungan dekat dengan gerombolan Bambu Runcing yang berhaluan kiri. Suhandan meresponnya dengan menuduh Hasibuan memonopoli lahan rawa-rawa dan empang-empang di Bekasi. Klimaksnya, pada 5 Mei 1951 DPRDS Kabupaten Bekasi membuat mosi untuk memecat Suhandan. Sebulan kemudian, Suhandan ditahan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat lalu menempatkan Sampurno Kolopaking dari Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai penggantinya. Menjelang Pemilu 1955, Hasibuan aktif sebagai sekretaris Partai Masyumi cabang Bekasi dan jadi anggota Panitia Pembagian Tanah Sawah Negara Kecamatan Babelan. Ia juga menjadi tameng bagi KH Noer Ali yang dituduh menyerobot tanah oleh PKI. Namun, setelah itu Hasibuan menghilang dari pentas politik. Nama dan kiprahnya pun ikut memudar. Hanya diketahui, sebagaimana tertulis di pusaranya, Hasibuan wafat pada tahun 1961 dengan tanpa diketahui tanggal, bulan, dan penyebab kematiannya. Dinas Sejarah AL (Disjarhal) mengaku belum punya catatan riwayat lengkap Hasibuan. “Karena kita mulai mendata personil itu kan tahun 1949 di zamannya KSAL (Laksamana) Subyakto. Setelah lepas dari ALRI kan ia gabung dengan KH. Noer Ali. Catatan mengenai beliau (Hasibuan) makanya tidak ada di buku personil. Tapi di sumber lain yang dituliskan Pak Ali Anwar ternyata ada. Kadisjarhal juga mendapat informasi tentang ini dari Pak Iwan Ong Santosa,” sambung Kolonel Heri. Disjarhal masih akan melakukan riset lanjutan tentang sepakterjang Hasibuan. Selain dari sumber-sumber tertulis, keluarganya juga akan dilacak. “Bagaimanapun kan beliau bagian dari sejarah ya. Meski di catatan kita enggak ada tapi kan di (buku) sejarah lain banyak memuat tentang dia. Setelah ini akan kita kejar (riset mendalam). Bahwa memang ada lho, BKR Laut di Jakarta yang dipimpin Mayor M. Hasibuan. Yang jelas kami juga ingin menelusuri keluarganya. Setelah itu kelanjutannya akan ada semacam tali asih atau perhatianlah dari kita,” tutupnya.
- Harmoko: Darah Daging Saya Wartawan
HARMOKO, mantan menteri penerangan Orde Baru selama tiga periode (1983–1997), meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada Minggu, 4 Juli 2021. Semasa hidup, dia dikenal tokoh yang loyal pada Presiden Soeharto. Dia juga ikut mendukung kendali pemerintah atas pers dengan menerbitkan aturan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Karena andilnya ikut menopang kekuasaan Orde Baru, Harmoko menjadi salah satu tokoh yang sering muncul dalam cerita satire aktivis pro-Reformasi 1998. Misalnya dalam cerita perempuan yang mendatangi gedung Departemen Penerangan berulang kali meski sudah diberi tahu petugas gedung bahwa Harmoko tak lagi menjabat Menpen.
- Bung Hatta di Jepang
Penghujung Februari 1933. Mak Etek Ayub Rais, pengusaha asal Bukittinggi (Sumatera Barat) melawat ke Jepang. Perusahaan yang dia kelola bersama Djohan-Djohor bersaudara (Firma Djohan-Djohor) hendak melihat perkembangan industri Jepang yang kala itu tengah berkembang pesat, sekaligus membangun jaringan dagang dengan saudagar-saudagar di sana. Pengusaha Minang tersebut berencana memperluas jaringan impor mereka di Negeri Sakura. Dalam melakukan perjalan bisnis ke Jepang tersebut, Ayub Rais tidak sendiri. Dia mengajak serta seorang penasihat dan seorang pemilik perusahaan asal Jepang di Hindia Belanda bernama Ando. Kawannya itu akan membantu Ayub Rais mengurusi berbagai masalah dagang selama berada di Jepang. Sementara penasihat yang mendampingi Ayub Rais adalah Mohammad Hatta. “Aku diajaknya ikut sebagai penasihat. Aku berpikir-pikir apa yang akan kuperbuat. Apabila aku pergi aku akan meninggalkan Indonesia barang dua bulan,” kata Hatta seperti diceritakan dalam otobiografinya Memoir . Diceritakan Arif Zulkifli dalam Hatta , Ayub Rais dan rombongan bertolak dari pelabuhan Tanjung Priok menggunakan kapal Jepang Djohar Maru. Namun kapal yang mereka tumpangi tidak langsung pergi ke tujuan. Terlebih dahulu kapal harus mengangkut batu besi di Semenanjung Malaya. Otomatis mereka harus tinggal sementara di Singapura, kira-kira selama lima hari. Selama di Singapura itu, Hatta memperoleh informasi bahwa keberangkatannya ke Jepang telah diketahui banyak pihak, dan cukup menimbulkan kehebohan. Para wartawan Negeri Sakura yang mendengar kabar tersebut bahkan telah menyiarkannya di surat kabar mereka masing-masing. Dalam berbagai pemberitaan, media di Jepang memberi sebuah julukan kepada Hatta: “Gandhi of Java”. Ramainya pemberitaan soal Hatta membuat kapal Djohar Maru yang dia tumpangi diserbu banyak wartawan. Mereka umumnya berasal dari surat kabar Jepang yang ada di Singapura. Tetapi tidak sedikit juga wartawan dari surat kabar Melayu dan Eropa yang ikut naik ke kapal. Kondisi tak terduga itupun sontak membuat Hatta kebingungan. Terlebih dia tidak mengatakan kepada siapapun soal perjalanannya itu. “Apakah Tuan Ando memberitahukan itu?” tanya Hatta. Ando menampik. Dia meyakinkan Hatta bahwa dia tidak berhubungan dengan awak media manapun ketika menyiapkan perjalanan itu. Dia hanya menghubungi pihak Hotel Koshien, terletak di antara Kobe dan Osaka, untuk menyiapkan tempat menginap bagi rombongan Ayub Rais begitu tiba di Jepang. “Mungkin wartawan Jepang yang ada di Jakarta,” kata Ando. Di atas kapal, para wartawan mendesak Ando supaya mereka diberi kesempatan untuk wawancarai Hatta. Ando mengiyakan permintaan itu, tetapi meminta mereka menunggu sampai kapal tiba di Jepang. Wawancara dengan Hatta bakal dilakukan setelah mereka turun dan Hatta sudah mengizinkannya. Namun para wartawan kompak meminta agar wawancara dilakukan saat itu juga, mereka tidak mau kehilangan waktu. Melihat antusiasme para wartawan itu, Hatta akhirnya bersedia diwawancara di atas kapal. Dia lalu meminta mereka berkumpul di dekatnya. Setelah mengambil beberapa foto, sesi wawancara pun dimulai. Sebelum itu, Hatta meminta kepada para wartawan agar bertanya secara bergilir, atau seorang mewakili yang lain. “Apa maksud kedatangan Anda ke Jepang?” tanya seorang wartawan. “Aku datang ke Jepang sebagai advisur pamanku,” jawab Hatta. “Bagaimana keadaan rakyat Indonesia sekarang?” tanya wartawan lain. “Rakyat Indonesia sangat menderita karena krisis,” jawab Hatta. “Bagaimana pendapat Anda tentang pergantian kabinet di Nederland? Dr. Colijn kembali menjadi Perdana Menteri,” tanya wartawan lagi. “Pergantian kabinet adalah urusan orang Belanda sendiri. Dr. Colijn kepala Partai Anti Revolusioner. Sikap kabinetnya terhadap Indonesia mungkin lebih keras, tetapi mereka sendiri harus memikul konsekuensinya. Gerakan rakyat yang berhaluan non-kooperasi tidak memusingkan itu,” jawab Hatta. Setelah pertanyaan yang bersifat politik itu, Hatta menyudahi wawancaranya. Namun tiba-tiba ada yang bertanya lagi, “apakah Anda akan bertemu juga dengan Pemerintah Jepang?”. Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Hatta. Dia tahu bahwa itu merupakan pancingan untuknya. Pemerintah Jepang bisa saja sedang mengawasinya. Keberadaan Hatta sebagai tokoh pergerakan Indonesia di negerinya tahun itu, seperti dijelaskan Nino Oktorino dalam DalamCengkeraman Dai Nippon , bisa menjadi jalan membangun kerja sama. “… aku harus berhati-hati selama aku di Jepang. Pemerintah kolonial di Jakarta tentu mengikuti benar gerak-gerikku di Jepang. Berhubung dengan pertanyaan wartawan Jepang di kapal, yang tidak aku jawab, tentu ada niat dari kalangan Pemerintah Jepang untuk mendekati aku. Cuma aku mau memperhatikan bagaimana caranya!” tulis Hatta. Pemberitaan tentang Hatta oleh media Jepang, dengan julukannya “Gandhi of Java”, membuat dia mudah dikenali. Potret dirinya telah tersebar luas, dan orang-orang cepat mengenalinya. Di sebuah jalanan di Tokyo, Hatta pernah ditahan oleh seseorang yang bertanya kepadanya: “Bukankah tuan yang disebut-sebut oleh surat-surat kabar di sini Gandhi of Java?”. Hatta menjawab: “Bagaimana tuan mengenal wajahku?”. Orang Jepang itu lalu mengambil selembar surat kabar dari sakunya dan diperlihatkan kepada Hatta. Di sana terdapat sebaris artikel berbahasa Jepang, dengan gambar Hatta di dalamnya. Dia mengatakan bahwa hampir seluruh Jepang, sampai ke kota-kota kecil, sudah melihat wajah Hatta di dalam surat kabar. Siapa saja yang membacanya mungkin akan mudah mengenalinya. Pernah juga dalam sebuah perjalanan dari Osaka menuju Tokyo, sebagaimana diceritakan dalam otobiografinya, Hatta bertemu sepasang pemuda Jepang. Mereka bertanya kepadanya, “Apakah Anda Gandhi of Java?”. Sambil tersenyum Hatta menjawab bahwa pers Jepanglah yang memberikannya julukan itu. “Kami ini orang Indonesia. Oleh karena gerakan kami di Indonesia berdasarkan non-cooperation, hampir serupa dengan gerakan Gandhi di India, aku disebut orang di sini begitu,” terang Hatta.
- Berpulangnya Mundardjito, Bapak Metodologi Arkeologi Indonesia
Mundardjito, arkeolog senior sekaligus mantan Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia, wafat pada Jumat, 2 Juli 2021. Jenazah Prof. Otti, sapaan akrab Mundardjito, dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta, pada Sabtu, 3 Juli 2021. Prof. Otti dikenal sebagai arkeolog yang teguh pendirian dengan pandangan keilmuan yang kuat dan guru yang memberi perhatian penuh pada muridnya. Dia mendedikasikan hampir 3/4 hidupnya untuk pengembangan dan pemanfaatan arkeologi bagi rakyat Indonesia. “Pengaruh pemikiran beliau yang kuat dan kepribadiannya yang teguh. Kadang kami dijewer juga oleh beliau karena ada banyak langkah yang tidak sejalan dengan pandangan beliau,” kata Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan dalam acara daring Pemakaman Prof. Mundardjito, Sabtu, 3 Juli 2021. Sementara itu, Win Djuwita Ramelan, mantan murid Mundardjito sekaligus Ketua Umum Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), mengenang Prof. Otti sebagai guru yang mencintai murid-muridnya dan dicintai balik oleh murid-muridnya. “Seluruh Indonesia ini merasa kehilangan. Ya, murid-muridnya... Saya baru melihat guru yang seperti itu,” kata Win. Prof. Otti lahir di Bogor pada 8 Oktober 1936. Sejak kecil, dia tertarik dengan tinggalan arkeologi seperti candi dan prasasti. Minatnya kian bertambah ketika dia bertemu dengan seorang guru dari Jakarta yang juga seorang arkeolog. Setelah lulus SMA, Prof. Otti masuk ke jurusan arkeologi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1956. Selama kuliah arkeologi, dia merasakan keasyikan dengan dunianya. Arkeologi memberikannya pengalaman seolah-olah menjadi detektif. Karena itulah dia bulat memutuskan hidup untuk mengabdi di dunia arkeologi. Selepas lulus pada 1963, Prof. Otti mulai mengajar di almamaternya. Dia kemudian melanjutkan pendidikan non-gelar kajian metodologi arkeologi di Universitas Athena, Yunani pada 1969–1972. Dia kembali menjajaki pendidikan non-gelar kajian teori arkeologi di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 1978–1979. Dari dua tempat itu, Prof. Otti mendapatkan banyak cara pandang dan metodologi baru terkait arkeologi. Antara lain tentang pelestarian tinggalan arkeologi, metode penggalian (ekskavasi) situs arkeologis, dan pemanfaatan ilmu lain untuk membantu arkeologi. Meski kenyang mempelajari metodologi dan teori, Prof. Otti sangat menekankan pentingnya pemberian praktik penelitian lapangan untuk para mahasiswa arkeologi. Tapi praktik ini justru sangat jarang diterapkan di Indonesia. Karena itu, dia menyusun mata kuliah kerja lapangan untuk mahasiswa arkeologi. Bentuknya penggalian situs-situs (ekskavasi) arkeologis. “Kuliah kerja lapangan di situs arkeologi yang dilakukan setiap tahun mempunyai fungsi ganda, baik untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, meningkatkan keterampilan, menajamkan pancaindera, dan membina kerja sama maupun untuk mengamankan secara nyata situs dan tinggalan arkeologi sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian masyarakat,” terang Mundardjito dalam Tantangan Arkeologi Indonesia dalam Pembangunan Nasional, pidato ilmiah pada Dies Natalis ke-53 FS-UI tahun 1993. Untuk mendukung tujuan itu tercapai, di luar kuliah pun Prof. Otti sering mengajak mahasiswanya untuk ikut proyek penelitian lapangan. Dari sinilah para mahasiswa juga merasakan atmosfer pekerjaan sebagai seorang arkeolog. Keakraban antara guru dan muridnya juga jadi lebih erat. Melalui perkuliahan dan proyek penelitian lapangan itu pula, Prof. Otti menanamkan nilai-nilai etika dan etos kerja yang harus dimiliki seorang arkeolog. “Yang mengenal tanggung jawab terhadap ilmunya, menjunjung tinggi dan menjaga integritas keilmuannya, berpegang teuh pada asas ilmiah dan hakikat kebenaran,” sebutnya dalam “Impian Gunung Padang: Arkeolog dan Tanggung Jawabnya” termuat dalam Membangun di Atas Puing Integritas . Prof. Otti juga kerap menerangkan bahwa penelitian arkeologi memerlukan waktu panjang. Penggalian tanah di situsnya saja membutuhkan kehati-hatian meskipun tanah yang digali cuma satu cetok. Sebab di dalam satu cetok itu tersimpan berbagai lapisan budaya manusia pada masa lampau. “Itulah sebabnya setiap arkeolog harus mengamati setiap temuan dan perubahan struktur tanah serta merekamnya secara rinci,” terang Prof. Otti. Karena itulah, Prof. Otti meminta para mahasiswanya untuk bersabar ketika melakukan ekskavasi. Dan baginya, di situlah keunikan arkeologi. “Proses penelitian bisa menghabiskan waktu yang panjang karena ilmu arkeologi itu tak ubahnya seperti laku seorang detektif yang hanya menemukan sisa-sisa saja. Sisa-sisa kegiatan manusia lalu itulah yang menjadi bagian dari teka-teki yang ingin dipecahkan,” terang Prof Otti. Berbekal nilai-nilai itu, Prof. Otti bisa sangat marah kepada siapa saja yang sembrono melakukan perusakan pada situs dan benda arkeologis. Dia juga tak segan mengkritik cara-cara yang salah dalam memperlakukan situs dan benda arkeologis. Ini misalnya terjadi saat rencana pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) pada 2008 dan penggalian situs Gunung Padang pada 2012. Dua kegiatan ini disponsori oleh pemerintah. Menurut Prof. Otti, pembangunan PIM telah merusak struktur situs Trowulan. Prof. Otti menyebut orang-orang yang terlibat dalam kegiatan itu sebagai “tak berwawasan pelestarian”. Dia harus berhadapan sendirian dengan Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ketika itu. Sebab koleganya di kampus justru tak banyak membantunya. Prof. Otti justru mendapat dukungan dari Inajati Adrisijanti, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah membuat petisi keberatan terhadap program itu, dia kemudian mendapat dukungan luas. Hal hampir serupa terjadi pula pada penggalian situs Gunung Padang. Dia menyebut langkah tim penggalian itu “tanpa rancangan penelitian yang memadai”. Tim tersebut percaya situs itu merupakan piramida. Tapi bagi Prof. Otti, keyakinan itu tak berdasar. Malah cenderung berbau klenik. Sebab keyakinan itu berdasar wangsit dari leluhur yang berkembang luas di kalangan pecinta sejarah dalam Yayasan Turangga Seta. Meski Prof. Otti mengkritik keras keyakinan Yayasan Turangga Seta, itu bukan berarti mengabaikan semangat publik non-arkeologi untuk menggali peninggalan budayanya. Dia bahkan sangat mendukung partisipasi publik dalam penelitian arkeologi sejak lama. Dalam pidato Pengukuhan Guru Besar Madya Tetap pada 7 Oktober 1995 yang berjudul “Pendekatan Integratif dan Partisipatif dalam Pelestarian Budaya”, Prof. Otti telah berbicara tentang peran masyarakat dalam pelestarian situs dan benda arkeologis. Tanpa partisipasi masyarakat, perusakan terhadap situs dan benda arkeologis sulit dicegah. Jika perusakan itu terus terjadi, “dapat menyebabkan gagalnya kita dalam upaya memahami jati diri dan dinamika sosial budaya bangsa,” katanya. Karena itu, Prof. Otti sering dianggap sebagai pelopor pengembangan arkeologi publik, sebuah cabang arkeologi yang mengkaji partisipasi masyarakat dalam arkeologi. Tapi Prof. Otti juga memperingatkan bahwa menggali situs arkeologis bukan seperti mencari harta karun. “Pencapaian penelitian arkeologi bukan hanya pada hasil temuannya tetapi pada prosedur ilmiah baku yang dapat dipertanggungjawabkan,” urai Prof. Otti dalam “Impian Gunung Padang: Arkeolog dan Tanggung Jawabnya”. Prof. Otti memegang teguh kredo itu hingga akhir hayatnya.
- Bung Hatta: Presiden Jangan Lip Service
TAHUN 1963 menjadi tahun puncak kekuasaan rezim Sukarno. Kampanye Sukarno untuk memenangkan sengketa Irian Barat menuai sukses gemilang. Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke akhirnya terwujud. Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) kemudian mengangkat Sukarno sebagai presiden seumur hidup. Meski demikian, titik berat Sukarno untuk urusan politik meninggalkan celah yang begitu krusial dalam stabilitas keuangan negara. Dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno tidak memungkiri bahwa kebijakan politiknya mengakibatkan kemunduran di bidang ekonomi. Beberapa langkah politik yang ditempuh kerap kali memakan biaya besar atau salah urus. Sebut saja seperti nasionalisasi perusahaan asing, belanja senjata untuk konfrontasi dengan Belanda di Irian Barat, hingga pembiayaan proyek-proyek mercusuar. Konsekuensinya, beban rakyat bertambah karena terjadi krisis ekonomi. “Pada tahun 1963 beban hidup rakyat Indonesia terasa amat menekan sekali. Harga beras yang mula-mula hanya Rp4,50 sekilo telah melompat naik menjadi Rp60 hingga Rp70. Penderitaan rakyat ini membuat Bung Hatta amat prihatin,” tulis Mochtar Lubis dalam pengantar redaksi Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta Kepada Presiden Sukarno 1957—1965. Sekalipun telah lama mundur dari posisi wakil presiden, Bung Hatta tidak lepas tangan mengawasi kebijakan pemerintah. Apalagi sebagai seorang ekonom, Hatta sangat kritis menyoroti isu-isu ekonomi makro. Sepanjang semester pertama 1963, Hatta menyaksikan keadaan ekonomi yang amat buruk terutama dampaknya kepada rakyat kecil. Kesenjangan antara kaum berada dan papa semakin tajam. Hatta juga mulai risau dengan eksperimen politik Sukarno dalam menyikapi gagasan pembentukan negara federasi Malaysia. Pada 17 Juni 1963, Hatta menyampaikan pandangan dan kritiknya kepada Sukarno dalam surat-menyurat. Dalam pembukaan suratnya, Hatta mengatakan merasa wajib menyampaikan pemikirannya karena menyaksikan kemunduran di berbagai bidang. Pokok persoalan yang dikemukaan Bung Hatta dimulai dari kemerosotan penghidupan rakyat. Menurutnya kemerosotan yang terjadi lebih dahsyat daripada masa kolonialisme dan pendudukan Jepang. Harga beras yang melonjak menjadi indikasi perbandingan tersebut. “Kita selalu mendengung-dengungkan sosialisme, yang menjadi tujuan, tetapi tindakan-tindakan yang diambil pemerintah bertentangan dengan itu,” kata Hatta. Selain beras, Hatta juga mendapati harga kebutuhan pokok masyarakat naik berlipat ganda. Misalnya, tarif air bersih, listrik, dan ongkos transportasi umum. Selama pemerintahan dipimpin langsung oleh Sukarno, Hatta mencatat telah terjadi dua kali kenaikan harga tarif tersebut. Padahal, bagi negeri yang menganut sosialisme atau welfare states, tarif barang kebutuhan yang menyangkut hajat hidup manusia sengaja direndahkan serendah-rendahnya. Hatta merujuk Swedia yang membebaskan rakyatnya dari biaya membeli air bersih sedangkan tarif listriknya sangat terjangkau. Untuk lebih menyederhanakan persoalan, Hatta mencontohkan pengalaman dirinya. Pada bulan Mei, Hatta menerima gaji pensiun sebesar Rp5.762,75. Sementara itu, tagihan rekening listrik yang mesti dibayar pada saat yang sama berjumlah Rp3.935,50. Dalam tagihan listrik itu termasuk biaya abonemen sejumlah Rp1.170 yang mesti tetap dibayar sekalipun tidak ada pemakaian listrik. Itu berarti hampir 70 persen dari gaji pensiunnya hanya untuk membayar tagihan listrik. Keadaan demikian, kata Hatta seperti menghisap darah orang. Lebih celaka lagi, Hatta menyoroti perilaku catut dan korup dari aparatur negara. Gaji yang jauh dari cukup –hanya cukup untuk seminggu, paling lama sepuluh hari– menuntun mereka menggadaikan integritas. Para pembantu Sukarno menurut Hatta lepas tangan untuk memperbaiki keadaan. Sehingga Hatta mengalamatkan kritiknya kepada Sukarno sebagai yang paling bertanggung jawab. Hatta menutup suratnya kepada Sukarno dengan pertanyaan retoris. “Inikah jalan ke sosialisme? Apakah sosialisme bukan menjadi lip service saja seperti juga dengan Pancasila? Ada baiknya Paduka Yang Mulia renungkan masalah ini.” Pada kenyataannya, keadaan perekonomian tidak kunjung membaik. Firman Lubis dalam memoarnya Jakarta 1960-an menyaksikan harga-harga kebutuhan terus merayap naik. Inflasi meningkat tajam, bahkan hingga beberapa ratus persen. Berbagai bahan kebutuhan pokok masyarakat semakin sulit didapat. Situasi politik semakin bergejolak terutama setelah pecah peristiwa Gerakan 30 September. Pada akhir 1965, Indonesia mengalami hiperinflasi yang mencapai 650 persen. Harga kebutuhan pokok melambung drastis. Nilai tukar rupiah merosot. Keadaan carut ekonomi kemudian mendorong gelombang demonstrasi masyarakat menentang kepemimpinan Sukarno. Presiden Sukarno tidak dapat mengatasi keadaan itu hingga berujung pada lengsernya dari kekuasaan.*
- Sebelum Bakteri Penyebab Maut Hitam Bermutasi
STRAIN tertua Yersinia pestis , yakni bakteri penyebab Maut Hitam ( Black Death ) yang mungkin telah membunuh separuh populasi Eropa pada 1300-an, ditemukan pada sisa-sisa manusia pemburu-pengumpul berusia 5.000 tahun. Dari analisis genetik yang diterbitkan di jurnal Cell Reports pada 29 Juni 2021 mengungkapkan bahwa strain purba ini kemungkinan kurang menular dan tidak mematikan seperti versi abad pertengahan. “Yang paling menakjubkan, kemunculan Y. pestis 2.000 tahun lebih tua dari yang disimpulkan oleh penelitian sebelumnya. Sepertinya kita sangat dekat dengan asal-usul bakteri,” kata Ben Krause-Kyora, ahli biokimia dan arkeolog di Universitas Kiel, Jerman, yang ikut dalam penelitian, sebagaimana dikutip Phys . Manusia pemburu-pengumpul pembawa wabah itu adalah laki-laki berusia 20 hingga 30 tahun bernama RV 2039. Dia merupakan salah satu dari dua orang yang kerangkanya digali pada akhir 1800-an di wilayah Rinnukalns, di Latvia saat ini. Sejak ditemukan, rangka dua individu manusia itu sempat hilang sampai 2011. Mereka muncul kembali sebagai koleksi antropolog Jerman, Rudolph Virchow. Setelah rangka itu terlacak kembali, dua makam lainnya ditemukan dari situs yang sama. Jadi, total ada empat rangka individu yang kemungkinan berasal dari kelompok pemburu-nelayan-pengumpul yang sama. Krause-Kyora dan timnya menggunakan sampel dari gigi dan tulang keempat pemburu-pengumpul itu untuk mengurutkan genom mereka. Keberadaan bakteri di virus patogen kemudian juga diuji. Para peneliti terkejut ketika menemukan bukti Y. pestis di salah satu rangka (RV 2039). Ia kemungkinan satu-satunya di antara empat individu yang terkubur dengan penyakit itu. Setelah merekonstrukai genom bakteri, lalu membandingkannya dengan galur purba lainnya, mereka pun yakin Y. pestis pada RV 2039 memang galur tertua yang pernah ditemukan. Kemungkinan Y. pestis adalah bagian dari garis keturunan yang muncul pada sekira 7.000 tahun lalu. “Hanya beberapa ratus tahun setelah Y. pestis berpisah dari pendahulunya, Yersinia pseudotuberculosis, ” catat Phys . Akibat Gigitan Berang-berang Pada varian wabah modern, ada satu hal penting yang tidak dimiliki oleh strain purba yang baru ditemukan ini, yakni gen yang pertama-tama memungkinkan kutu sebagai agen penularan wabah. Adaptasi ini akan manaikkan kemampuan bakteri wabah dalam menginfeksi inang manusia, memasuki tubuh, dan melakukan perjalanan ke kelenjar getah bening di mana ia akan dengan cepat bereplikasi. Tuan rumah kemudian akan mendapati bubo menyakitkan berisi nanah di kulit mereka yang merupakan ciri khas penyakit pes pada abad pertengahan. Peralihan ke kutu sebagai sarana penularan mengharuskan penyakit untuk membunuh inangnya. Kematian inang lama mendorong kutu untuk pindah ke inang baru dan menularkan penyakit. Para peneliti berspekulasi bahwa gen baru ini bertanggung jawab mendorong wabah menjadi lebih mematikan. Tak jelas sejauh mana RV 2039 mengalami efek wabah. Y. pestis ditemukan dalam aliran darahnya. Perjalanan penyakitnya cukup lambat, dengan bakteri perlahan terakumulasi dalam jumlah tinggi di aliran darah pria itu sampai dia meninggal. Sementara, tiga orang yang tidak terinfeksi dikubur tak jauh dari RV 2039. Mereka dikubur dengan hati-hati. Ini menunjukkan, kemungkinan besar penyakit yang dibawa Y. pestis saat itu belum ditakuti dan menular sebagaimana terjadi pada era wabah Maut Hitam menyerang. Sebagaimana dilansir Live Science , karena strain Y. pestis purba belum menular lewat kutu, para ilmuwan pun berpikir bakteri itu awalnya memasuki tubuh si pemburu-pengumpul melalui gigitan hewan pengerat. Kemungkinannya dari berang-berang. Hewan ini merupakan pembawa yang paling umum dari Y. pseudotuberculosis , pendahulu Y. pestis. Gagasan bahwa bakteri purba ini bereplikasi secara perlahan dan diturunkan dari hewan pengerat ke manusia didukung oleh fakta bahwa para ilmuwan telah menemukan kerangka purba lain yang terinfeksi Y. pestis di tempat lain. Di sana orang-orang menjalani gaya hidup yang sangat berbeda. “Kasus-kasus penularan yang terisolasi dari hewan ke manusia dapat menjelaskan lingkungan sosial yang berbeda di mana manusia purba yang sakit ini ditemukan. Kami melihatnya di masyarakat penggembala di padang rumput, pemburu-pengumpul yang sedang memancing, dan komunitas petani. Lingkungan sosial yang sama sekali berbeda pengaturan, tetapi selalu ada kejadian spontan dari kasus Y. pestis, ” jelas Krause-Kyora. 1000 Tahun untuk Bermutasi Dari kasus RV 2039, mungkin diperlukan waktu lebih dari 1000 tahun bagi Y. pestis untuk bermutasi hingga mencapai wujud yang memungkinkannya menular lewat kutu dan menjadi lebih mematikan. Para peneliti pun menyimpulkan bakteri pembawa pes dari zaman purba itu kemungkinan merupakan penyakit yang bergerak lambat dan tidak terlalu mudah menular. Mereka juga melihat bahwa rupanya bakteri ini telah berkembang jauh sebelum terbentuknya kota-kota besar. Bahkan pada 5.000 tahun yang lalu, sebagaimana usia temuan rangka, pertanian baru mulai muncul di Eropa Tengah dengan populasi yang sangat jarang. Gambaran wabah awal sebagai penyakit yang bekerja lambat dan kurang ganas ini pun menimbulkan tantangan serius bagi teori tentang perkembangan peradaban di Eropa dan Asia. Salah satu teorinya adalah bahwa wabah adalah penyebab penurunan besar populasi Eropa Barat menjelang akhir Zaman Neolitik. Namun kini misteri keruntuhan populasi ini, apakah itu disebabkan oleh bentuk awal wabah, belum sepenuhnya terungkap. Para peneliti percaya bahwa pekerjaan ini dapat membuka penyelidikan lebih lanjut tentang sejarah wabah. Para penulis dalam laporannya mencatat bahwa memeriksa sejarah Y. pestis juga berpotensi menjelaskan sejarah genom manusia. “Patogen yang berbeda dan genom manusia selalu berevolusi bersama. Kita tahu Y. pestis kemungkinan besar membunuh setengah dari populasi Eropa dalam jangka waktu yang singkat, jadi itu akan berdampak besar pada genom manusia,” kata Krause-Kyora. Tiga pandemi yang disebabkan oleh bakteri Y. pestis telah menjadi peristiwa biologis paling mematikan dalam sejarah manusia. Pandemi pertama, Wabah Justinian, terjadi kira-kira antara tahun 542 dan 750 M. Wabah ini mungkin telah menyebabkan populasi Mediterania menurun hingga 40% pada akhir abad keenam. Pandemi kedua dan paling terkenal yang disebabkan oleh penyakit ini adalah Maut Hitam di Eropa pada abad ke-14. Wabah ini menewaskan sekira 25 juta orang atau antara 33% hingga 50% populasi Eropa. Pandemi ketiga yang kurang dikenal dimulai pada 1855 di Provinsi Yunnan, China. Wabah ini menewaskan lebih dari 12 juta orang di India dan China.*
- Mahar Mardjono, Rektor UI yang Pandai Menjaga Keseimbangan
UNGGAHAN “King of Lip Service” buatan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM-UI) berekor panjang. Rektorat UI memanggil beberapa pengurus BEM-UI pada Minggu, 27 Juni 2021. Hari berikutnya, akun media sosial milik pengurus BEM-UI diretas. Kemudian pendukung BEM-UI mulai berbalik menyerang Ari Kuncoro, rektor UI. Ari dianggap tak melindungi mahasiswanya. Dia juga dinilai rangkap jabatan: menjadi rektor, ikut pula duduk di kursi komisaris bank BUMN. Lalu muncul pembandingan antara Ari dengan Mahar Mardjono, rektor UI periode 1973–1982. Mahar dianggap sebagai rektor yang bisa menempatkan posisinya antara rezim dan mahasiswa pengkritik rezim. “Beliau dekat dengan mahasiswa. Kami ini mahasiswa biasa. Tapi bisa diajak bicara sama Pak Mahar. Beliau suka mengajak kami untuk ngobrol-ngobrol di ruangannya di rektorat,” kata Zulkarimein Nasution, mantan aktivis Dewan Mahasiswa dari Jurusan Publisistik, FIS (Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial/kini FISIP) UI angkatan 1970 sekaligus salah satu pendiri koran mahasiswa Salemba , kepada Historia.ID . Mahar menjadi rektor ketika hubungan pemerintah dan mahasiwa sedang tegang-tegangnya. “Mahar dilantik ketika suasana kampus telah mulai memanas. Mahasiswa saat itu mengkritik program pembangunan lima tahun (Pelita) pertama (1969–1974),” sebut Antony Z. Abidin dkk. dalam Mahar: Pejuang, Pendidik, dan Pendidik Pejuang . Mahasiswa menyoroti pola pembangunan rezim Soeharto. “Lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi ketimbang pemerataan, semakin dalamnya jurang antara si kaya dan si miskin, korupsi yang semakin merajalela di kalangan pemerintahan, soal penanaman modal asing, dan tuntutan agar pada Pelita II kondisi-kondisi buruk itu segera diperbaiki,” lanjut Antony. Sebelum menjadi rektor, Mahar menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran UI. Dia tak begitu memperhatikan urusan kemahasiswaan dan politik. Dia memang pernah berjuang sebagai tentara pelajar dan ditahan tentara Belanda saat masa-masa awal kemerdekaan. Tapi minatnya jauh dari politik. Siapa menduga bahwa Mahar kemudian harus terseret dalam konstelasi politik mahasiswa dan pemerintah. Setahun menjadi rektor UI, Mahar harus mengurusi mahasiswa-mahasiswa UI yang ditangkap aparat keamanan setelah peristiwa kerusuhan Malari 1974. Mahar kemudian dipanggil Laksamana Sudomo, Panglima Komando Pengendalian Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), ditanya terkait peristiwa itu. “Siapa itu di belakang semua?” tanya Sudomo. “Saya tidak tahu apa-apa. Pak Domo kan lebih tahu dari saya. Jangan tanya saya,” kata Mahar. Mahar lalu meminta Sudomo membantu membebaskan mahasiswa-mahasiswa UI. Tapi Sudomo tak bisa memberi jaminan. Mahar juga menghubungi kelompok Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo agar membebaskan mahasiswa. Tapi mereka juga enggan mengabulkan permintaan itu. Tak lama kemudian, Mahar didatangi oleh seorang mahasiswa UI binaan Ali Moertopo. Mahasiswa membawa pesan dari Ali Moertopo agar Mahar menemuinya. Tapi Mahar menolak ajakan itu. “Lho, kalau dia mau bicara suruh saja datang ke sini. Saya kan rektor, bukan anjingnya orang siapapun. Kalau dia memang mau bicara silakan datang ke sini!” kata Mahar. Ucapan Mahar sampai ke Ali Moertopo. Beberapa hari kemudian, selebaran gelap untuk menyudutkan Mahar beredar dengan beragam judul. Antara lain “Mengapa Mereka Harus Disikat Habis Setelah Peristiwa 15 Januari?” Isi selebaran menyebut Mahar sebagai antek Partai Sosialis Indonesia (PSI). Mahar juga dibilang buta politik dan cuma cari popularitas. Kala itu, orang-orang PSI seringkali dituduh sebagai biang onar oleh rezim. Termasuk dalam Malari. Setelah Malari, pemerintah mengejar setiap orang yang dianggap punya jaringan dengan PSI. Tapi Mahar menganggap enteng tuduhan itu. Lagipula Soemitro dan Sudomo mengakui peran Mahar dalam mengatur mahasiswa. Mahar memberi kebebasan luas bagi para mahasiswa menikmati otonomi kampus untuk mengkritik pemerintah. Tapi dia juga berusaha menjaga kebebasan itu agar tak merusak situasi. Dia menyarankan mahasiswa dan pemerintah berdialog lewat mimbar akademis dan studium generale . “Salah satu keuntungan dari kebebasan mimbar akademis dan studium generale ialah mengurangi rasa saling curiga antara mahasiswa dan pemerintah. Pada gilirannya, dialog ini juga bisa meredam gejolak mahasiswa,” terang Mahar. Soemitro mengatakan Mahar telah berhasil memberikan batasan agar kebebasan itu tak berujung pada perusakan. Sementara Sudomo berpendapat Mahar bukan tipe seorang “Asal Bapak Senang”. Menurut Mahar, mahasiswa bergerak turun ke jalan karena melihat DPR, BPK, dan MPR tak berfungsi sebagaimana mestinya. Tak ada pula alat kendali terhadap pemerintahan dan pembangunan nasional. Sebagai rektor universitas negeri, Mahar sadar dirinya berada dalam struktur pemerintahan. Dia juga seorang birokrat dan harus tunduk pada kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K). Judilherry Bustam, mantan Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa UI 1974, menilai Mahar pandai menjaga keseimbangan sebagai birokrat dan pendidik. Ini misalnya terjadi saat koran Salemba sering mengeluarkan karikatur karya Wahyu Sardono (Dono Warkop) dan pemberitaan mengkritik pemerintah hingga menimbulkan reaksi keras pihak-pihak yang dikritik. Saat itu terjadi, Maharlah yang menghadap langsung ke pihak yang tersinggung dan menjelaskannya. Cara Mahar menghadapi pemerintah juga terlihat ketika Menteri Daoed Joesoef ingin menerapkan program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1978 untuk membatasi kegiatan mahasiswa di luar kuliah. Mahasiswa menolak mentah-mentah NKK/BKK. Banyak mahasiswa tak suka Daoed sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai “nama dua nabi, kelakuan dua setan”. Daoed Joesoef mencak-mencak. Dia makin bersikeras menerapkan program itu. Mahar mengatakan kepada Daoed, “program itu sebenarnya bagus.” Mahar sarankan Daoed harus datang langsung ke UI dan berdialog dengan mahasiswa. Tapi Daoed berkata, “Oh, saya tak mau bicara dengan mahasiswa, mereka mau terima atau tidak.” Mahar sempat diancam dipecat oleh Daoed karena dianggap tak bisa mengatur mahasiswa. Mahar pun mempersilakan Daoed memecat dirinya. “Saya dipecat tidak apa-apa. Saya memang tunduk pada pemerintah. Tapi kalau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan pandangan saya, saya tak mau tunduk,” kata Mahar. Daoed menyudahi ancamannya. Dia tak pernah memecat Mahar dan datang ke kampus UI. Sampai akhirnya justru Abdul Gafur, Menteri Urusan Pemuda yang mendatangi kampus UI. Mahar sudah memperingatkan Abdul Gafur agar tak datang. Mahasiswa maunya berdialog dengan Daoed. Bukan dengan Abdul Gafur. Tapi Abdul Gafur keukeuh . Kekhawatiran Mahar menjadi kenyataan. Gafur mendapat sambutan telur busuk dari mahasiswa. Muka, jas, dan celananya kena lemparan telur busuk. Dia akhirnya batal bertemu mahasiswa. Mahar marah sekali dengan pelemparan telur itu. “Cara begitu tidak sopan,” kata Mahar. Tapi dia tetap mengambil alih tanggung jawab peristiwa itu. “Saya bilang di koran saya yang salah,” kata Mahar. Mahar berhenti menjadi rektor UI pada 1982 dan mengabdikan diri sepenuhnya pada pengembangan ilmu kedokteran di Indonesia. Bagi para mantan mahasiswanya, Mahar telah mewariskan kenangan kuat tentang sosok rektor yang mengayomi mahasiswa. “Pak Mahar ini memberi kepercayaan penuh kepada kita. Kepercayaan ini amat kami jaga, jangan sampai Pak Mahar kecewa,” kenang Zulkarimein Nasution.*
- The Mercy, Berlayar dan Tak Kembali
DI tengah kerumunan wartawan dan pengunjung pameran Earls Court Boat Show ke-25 tahun 1967, Donald Crowhurst (diperankan Colin Firth) tenggelam dalam lamunan kala mendengarkan kisah Sir Francis Chichester (Simon McBurney) di atas panggung. Sir Francis merupakan pelaut pertama yang berlayar mengelilingi bumi seorang diri (1966-1967). Sir Francis yang mengambil jalur lautan selatan mengarungi tiga samudera dengan sekali pemberhentian di Sydney, Australia. Hari itu, Suratkabar The Sunday Times menggelar Golden Globe Race 1968-1969 guna menantang para pelaut untuk berlayar mengelilingi bumi non-stop. “Satu-satunya hal yang bisa saya bayangkan untuk lebih menguji seseorang mengarungi dunia sendirian adalah dengan tidak berhenti sama sekali. Seseorang pernah berkata bahwa gelombang di lautan selatan tak bisa diukur dengan inci atau kaki tapi tingkat rasa takut. Seseorang juga harus menjawab tantangan untuk keluar dari bayang-bayang orang lain dan dengan alasan itu saja, kita harus bersyukur dengan luasnya lautan dan itu jadi panggilan bagi para petualang,” kata Sir Francis di atas panggung. Pidato itu menggugah nyali Crowhurst, pelaut amatir yang sedang membangun ekonominya dengan menjual perangkat navigator elektronik. Ia menganggap jika bisa ikut perlombaan Golden Globe Race berhadiah 5.000 poundsterling itu, perusahaan yang tengah dibangunnya, Electron Utilisation Teignmouth, akan ikut terkenal. Sir Francis Chichester kala berpidato di Boat Show 1968 ( studiocanal.com ) Walau Clare Crowhurst (Rachel Weisz) istrinya mengkhawatirkan akan terjadi apa-apa pada suaminya, Crowhurst bersikukuh mengikuti ajang tersebut. Rumah dan aset perusahaannya pun diagunkan pada seorang investor, Stanley Best (Ken Stott), demi mendapatkan dana membangun trimaran (perahu berlambung tiga) yang didesainnya sendiri. Untuk menggalang dukungan materi dan sponsor lain, Crowhurst menyewa jasa eks wartawan Rodney Hallworth (David Thewlis) sebagai humasnya. Namun, keraguan justru muncul dalam benaknya pada malam sebelum keberangkatan. Perasaan ingin mundur memenuhi batin Crowhurst. Ia sampai diperingatkan Hallworth dan Best bahwa dukungan sponsor tak bisa ditarik kembali dan rumah serta aset perusahannya akan disita jika mundur. Situasi penuh dilematis itu sekadar bagian dari prolog drama biopik bertajuk The Mercy garapan sineas James Marsh. Drama tersebut diangkat dari kisah nyata petualangan Crowhurst mengarungi lautan. Cerita lalu berganti ke momen pagi 31 Oktober 1968. Tanggal ini merupakan hari terakhir pemberangkatan peserta. Kolase Crowhurst di atas geladak perahu trimaran Teignmouth Electron ( studiocanal.com ) Crowhurst jadi peserta terakhir yang berangkat. Setelah dilepas keluarga, warga, hingga Walikota Teignmouth Arthur Bladon (Geoff Bladon) di Dermaga Teignmouth, dia berangkat menyusul delapan pelaut yang sudah berangkat beberapa bulan sebelumnya menggunakan Teignmouth Electron , wahana laut trimarannya. Hampir setiap pekan sekali ia melaporkan perjalanannya melalui telepon, dua catatan harian, dan masing-masing satu alat perekam dan kamera video yang disediakan BBC sebagai salah satu sponsornya. Namun, ratusan hari sendiri hanya ditemani terik matahari siang dan ganasnya ombak lautan perlahan memengaruhi kondisi mental Crowhurst. Keadaan menjadi kian berat karena mesin trimarannya mati. Praktis Crowhurst tinggal mengandalkan angin untuk menggerakkan layar perahunya. Jiwanya perlahan terganggu. Ia mulai berhalusinasi. Namun yang terpenting, ia sadar takkan bisa pulang karena sejak hari ke-125 ia memalsukan laporan lokasinya. Alih-alih bicara jujur kepada istri dan Hallworth bahwa ia tak pernah berlayar sampai ke selatan Samudera Atlantik, Crowhurst malah merekayasa perjalanannya. Dia bilang, sudah melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Bagaimana Crowhurst yang terombang-ambing di lautan bisa bertahan dengan mentalnya yang mulai terganggu itu? Saksikan kelanjutan kisah The Mercy di aplikasi daring Mola TV. Menghormati Kisah Nyata Plotnya sederhana. Iringan music scoring nan melankolis garapan mendiang komposer Jóhann Jóhannsson juga tak terlalu mendominasi setiap adegan. Marsh seolah membiarkan suara alam seperti deburan ombak atau hembusan badai mendominasi guna mengarahkan nuansa entah mengerikan, tragis, atau yang menyentuh. Tak banyaknya dramatisasi kisah Crowhurst dalam film ini bukan tanpa alasan. Marsh beralasan mengapa dia memilih meracik filmnya seotentik mungkin sesuai fakta adalah demi menghormati sosok Crowhurst dan keluarganya. “Filmnya dibuat seakurat mungkin dari buku harian dan rekaman komunikasinya. Saat Anda dikonfrontasikan dengan kisah nyata, di situlah Anda tahu tak bisa mengubahnya. Anda harus menghormati kisah nyata dengan tidak mengikuti narasi film konvensional sebagaimana lazimnya,” kata Marsh kepada Vulture Hound , 30 Mei 2018. Kolase Crowhurst yang ditimpa kemalangan selama pelayaran ( studiocanal.com ) Baginya, kisah Crowhurst sudah menjadi narasi menarik dan tragis. Penjelasannya panjang, dari mulai bagaimana seorang pebisnis medioker menantang dirinya sendiri agar bisa dibanggakan keluarga, konflik batin dari seseorang yang mempertaruhkan segalanya demi kehormatan, hingga seseorang yang kemudian menyadari bahwa dirinya mulai dilanda gangguan mental akibat “terisolasi” di lautan. Patut diacungi jempol adalah Colin Firth. Dia mampu membawakan semua itu dengan apik. Walau hanya berbekal membaca dua buku harian Crowhurst dan biografi The Strange Last Voyage of Donald Crowhurst (1970) karya Nicholas Tomalin dan Ron Hall, Firth bisa menghadirkan dilema, rasa putus asa dan konflik batin yang dialami Crowhurst. Simon Crowhurst, salah satu putra Donald Crowhust, sampai mengakui bahwa peran yang dimainkan Firth sangat menyentuh. Meski begitu, Simon tak serta-merta mengatakan yang dilakonki Firth sesuai dengan apa yang dialami ayahnya. Pasalnya, untuk itu ada alasan tersendiri yang dia pun belum mengetahui pasti. “(Peran Firth) menangkap beberapa emosi yang menyedihkan. Hal lainnya lebih kompleks dan sulit untuk diuraikan. Terutama terkait (adegan) pikiran ayah saya yang mulai kebingungan. Anda bertanya-tanya apakah rekonstruksi memori itu benar. Khususnya saat ia mengalami stres: apakah itu yang dirasakan ayah saya? Apakah itu yang ada di kepalanya ketika ia membuat keputusan-keputusan yang berakhir buruk?” ungkap Simon kepada The Guardian , 3 Februari 2018. Colin Andrew Firth (kiri) yang memerankan sosok Donald Charles Alfred Crowhurst ( studiocanal.com/Teignmouth & Shaldon Museum) Terobsesi Petualangan Sebagaimana digambarkan dalam film, Crowhurst begitu terobsesi dengan para penjelajah Inggris, terutama Kapten Robert Scott yang menjelajahi Antarktika pada 1910 dan Sir Edmund Hillary yang mendaki Gunung Everest pada 1949. “Semua khayalan harus disingkirkan. Sementara mimpi-mimpi adalah benih dari tindakan-tindakan,” kata Crowhurst mengutip catatan harian Kapten Scott sebelum tewas di Kutub Selatan. Dalam kehidupan nyata, Crowhurst mendambakan jadi penjelajah lautan sejak kecil. Sebagaimana dituliskan Hall dan Tomalin, Crowhurst yang lahir di Ghaziabad, India pada 1932 punya mainan perahu kesayangan di samping menyimpan sebuah buklet berisi kisah ekspedisi. “Dia punya buklet berjudul Heroes All , di mana di dalamnya berisi satu cerita, ‘Alone Around the World’, tentang pelaut solo bernama Alain Gerbault. Pesan dari kisah itu sangat menggugahnya: ‘Petualangan berarti mengambil risiko pada sesuatu…seseorang yang tak pernah berani takkan pernah berhasil; seseorang yang tak pernah mengambil risiko takkan pernah menang’,” tulis Tomalin dan Hall. Namun, nyali Crowhurst baru tergugah setelah mendengar pelaut tua cum veteran Perang Dunia II Chichester berhasil berlayar solo mengelilingi dunia hanya dengan sekali pemberhentian di Sydney (1966-1967). Walau mengidap kanker paru-paru sejak 1958, Chichester yang berusia 65 tahun itu mampu melakoninya seorang diri menggunakan perahu Gypsy Moth IV. Dimulai di Plymouth pada 27 Agustus 1966, Chichester berlabuh di Sydney pada 12 Desember setelah 107 hari mengarungi lautan. Itu terpaksa dilakukannya untuk memperbaiki dasar lambung perahunya. “Mari akui bahwa setelah 107 hari sendirian, Anda takkan merasa normal seperti biasanya. Kondisi saya lebih kurus dan nyeri di mana-mana. Kulit saya kian keriput dan kering. Saya merasa pelayaran ini membuat saya sadar bahwa ada sebuah batasan. Saya merindukan kekuatan tubuh saya di masa muda. Dan saya bisa mengerti bagaimana seseorang bisa berubah menjadi gila,” kata Chichester kepada Sydney Morning Herald , 13 Desember 1966. Sosok asli Sir Francis Charles Chichester ( npg.org.uk ) Chichester yang melanjutkan pelayarannya ke arah timur menuju Amerika Selatan akhirnya tiba kembali di Plymouth pada 28 Mei 1967. Keberhasilannya membuat Chichester diberi gelar “Sir” oleh Ratu Elizabeth II sehingga nama resminya menjadi Sir Francis. “ BBC menyiarkan langsung saat ia berlutut di hadapan ratu dalam upacara penobatan dengan sebilah pedang. Pedang yang sama saat kerajaan menobatkan Francis Drake 400 tahun sebelumnya. Bukan kebetulan rute Sir Francis keliling dunia mengingatkan pihak kerajaan pada masa berabad-abad lalu. Dia memang mengejar rekor waktu penjelajah dari era Victoria yang biasanya pulang membawa rempah-rempah, emas, wol, dan gandum,” ungkap Chris Eakin dalam A Race Too Far. Hal itu membuat Crowhurst mengaguminya, bahkan sampai iri kendati sebelumnya dia kolektor banyak buku karya Sir Francis tentang penerbangan dan pelayaran. Keirian itu membuatnya menolak ikut perayaan penyambutan kepulangan Sir Francis maupun saat penobatannya. “Ketimbang ikut merayakan ia malah berlayar ke Selat Bristol dengan temannya, Peter Beard dan hanya menyaksikan siaran ulangnya lewat televisi. Crowhurst mencibir (perayaan Sir Francis) dan berkata: ‘Apa yang bikin heboh? Chichester bukan orang pertama yang mengelilingi dunia. Perahunya pun buruk dan dia berhenti sekali di Australia. Satu-satunya hal hebat tentang pelayaran itu hanyalah usia tua Chichester’,” sambung Tomalin dan Hall. Crowhurst di geladak trimaran Teignmouth Electron yang didesainnya sendiri ( teignheritage.co.uk ) Iri hati itu jadi satu faktor pendorong Crowhurst berambisi ikut Golden Globe Race 1968-1969 yang dihelat The Sunday Times. Crowhurst akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya dengan mengikuti lomba tersebut. Namun, tragis menimpa Crowhurts. Ia tak pernah kembali. Sejak komunikasinya di akhir Juni, ia hilang tanpa kabar. Baru pada pagi, 10 Juli 1969, Teignmouth Electron ditemukan terombang-ambing di 1.800 mil barat daya Kepulauan Inggris oleh kapal pos Inggris RMV Picardy . Sebelum mendapati realitas itu, nakhoda Picardy Kapten Richard Box berupaya mendekati Teignmouth Electron namun tak mendapati adanya tanda-tanda kehidupan di atas dek trimaran itu. Sang pelaut mungkin tengah tertidur di dalam kabin, pikirnya. Maka peluit kapal dibunyikan sekencang mungkin sebanyak tiga kali. Namun, tiada respon balik yang didapatkan dari Teignmouth Electron . Box akhirnya memerintahkan empat anak buahnya menurunkan sekoci dan naik ke atas trimaran itu. “Kepala kelasi Joseph Clark bersama tiga krunya memasuki kabin dan menyadari perahunya ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Saat keluar, Clark memberikan sinyal jempol ke bawah pada kaptennya. Dari pengamatan Clark, keadaan kabin seperti ditinggalkan dengan sengaja. Karena segala sesuatunya berada pada tempatnya, termasuk buku catatan dan perangkat radio. Hanya kronometer perahunya yang hilang,” lanjutnya. Peta rute Golden Globe Race 1968-1969 ( nasa.gov ) Dua buku catatan harian itupun diperiksa. Input terakhir di catatan navigasinya bertanggal 24 Juni dan catatan komunikasi radionya tertulis tanggal 29 Juni. Sementara, salah satu kru Picardy teringat nama Teignmouth Electron. Dari suratkabar The Sunday Times yang dibawa kru itu diketahui bahwa perahu itu memang ikut perlombaan Golden Globe Race dengan pelautnya bernama Donald Crowhurst. Awak Picardy akhirnya mengevakuasi Teignmouth Electron ke dek kapal. Kapten Box segera mengontak London dan minta bantuan pencarian orang hilang pada Angkatan Udara Amerika Serikat. Namun setelah sehari tanpa hasil, pencarian itu dihentikan dan Kapten Box membawa Teignmouth Electron ke Santo Domingo, Republik Dominika. Sir William Robert Patrick Knox-Johnston di atas perahu Suhaili jadi satu-satunya yang menyelesaikan perlombaan ( goldengloberace.com ) Tiga catatan lalu dibaca dengan seksama oleh Kapten Box. Tak ditemukan adanya tanda-tanda bencana. Semua pesan radio tertulis dengan rapi. Catatan navigasi juga dituliskan dengan baik. Tapi di tiga halaman terakhir, Kapten Box mendapati sebuah misteri dengan tulisan filosofis. “ Alas , aku takkan melihat mendiang ayahku lagi. Alam tak mengizinkan Tuhan berbuat dosa kecuali satu–yaitu rahasia. Inilah akhir permainanku dan akan diselesaikan sebagaimana yang diinginkan keluargaku. Ini sudah berakhir. Inilah belas kasihnya,” demikian bunyi catatan akhir yang dibaca Kapten Box itu. Mendiang Crowhurst ternyata merekayasa jalur pelayarannya, diketahui dari dua buku harian yang ia tinggalkan di kabinnya . Ketika rekayasa itu sampai ke telinga publik Inggris, keluarga Crowhurst pun kian tertekan. Media massa gencar menyebut mendiang Crowhurst sebagai penipu. Hanya beberapa pihak yang berbesar hati memperlihatkan rasa empatinya.Salah satunya Robin Knox-Johnston, satu-satunya peserta yang mampu menyelesaikan perlombaan itu. Dia menyumbangkan hadiah lima ribu poundsterlingnya buat keluarga Crowhurst. Katanya, tak satupun manusia yang berhak menghakimi dia begitu kejam. “Walau pada 1970 Crowhurst dianggap sebagai penipu yang berakhir menyedihkan, kini ia dianggap sebagai pahlawan yang tragis, seseorang yang jiwanya tersiksa, dan terasing dengan dunia mapan. Terlepas dari kecurangannya, ia adalah seorang berani lagi cerdas yang terpaksa bertindak demikian karena keadaan. Fakta bahwa dia membayarnya dengan lebih mahal dari yang sepantasnya jadi bukti akan kualitas dirinya,” ungkap Jonathan Raban dalam artikel “The Long, Strange Legacy of Donald Crowhurst” dalam majalah Cruising World edisi Januari 2001. Deskripsi Film: Judul: The Mercy | Sutradara: James Marsh | Produser: Graham Broadbent, Scott Z. Burns, Peter Czernin, Nicolas Mauvernay, Jacques Perrin | Pemain: Colin Firth, David Thewlis, Rachel Weisz, Ken Stott, Simon McBurney | Produksi: BBC Films, Blueprint Pictures, Galatée Films | Distributor: StudioCanal | Genre: Drama Biopik | Durasi: 110 Menit | Rilis: 28 November 2017, Mola TV
- Manuskrip-manuskrip tentang Pandemi di Dunia Islam
ANGKA kenaikan penderita Covid-19 di Indonesia meningkat pesat sepanjang akhir Juni 2021. Pemerintah berupaya mencegah persebaran virus dan dampak sosial-ekonominya dengan penebalan PPKM. Tapi pada sisi lain, sebagian masyarakat tak percaya dengan pandemi. Ini mempersulit ikhtiar pencegahan wabah. Mereka yakin pandemi sebagai buah konspirasi elit global. Beberapa orang bahkan berada pada posisi ekstrem fatalis (menerima nasib) dan angkuh terhadap pandemi. Seringkali mereka menggunakan dalil agama Islam untuk mendukung posisinya. Banyak pula yang menyebarkan hoaks konspirasi wabah berbalut dalil agama Islam. Pandemi bukanlah hal baru bagi masyarakat dunia, termasuk dalam sejarah masyarakat muslim. Dr. Syamsuddin Arif, pakar kajian sains Islam, peneliti senior Institute of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, menyebut masyarakat muslim pada masa lampau pernah beberapa kali menghadapi wabah. Salah satunya saat wabah melanda Mesir pada bulan Muharram 816 H (1416 M). Ketika itu 100 orang Mesir meninggal setiap hari akibat wabah. Selain Mesir, wabah parah juga pernah melanda wilayah peradaban Islam dari Anatolia (sekarang wilayah Turki) hingga Suriah. Jejak wabah dalam dunia Islam juga terungkap dalam karya-karya ulama besar pada masa lampau. Karya itu bukan hanya menjabarkan sejarah wabah sejak kurun pertama tahun Hijriah (622 M), tapi juga mengangkat sains wabah dan ilmu kesehatan atau medis. Contohnya karya Jalal al-Din al-Suyuthi dari abad ke-15 M. “Pendek kata, kaum muslimin sudah berkali-kali mengalami musibah serupa sejak kurun pertama Hijriah,” sebut Syamsuddin dalam kata pengantarnya di buku Wabah dan Ta’un: Tinjauan Hadith, Kedokteran, dan Sejarah , terjemahan dan penelaahan dari kitab Ma Rawah al-Wa’un fi Akhbar al-Tha’un karya Jalal al-Din al-Suyuthi yang terbit abad ke-15 M. Kisah Pilu Wabah Karya al-Suyuthi membahas kemunculan wabah dan ta’un , cara penularan wabah, jenis-jenis wabah (termasuk Wabah Hitam di Eropa pada abad ke-15 M), perbedaan ta’un dan wabah, karantina, dampak sosial-ekonomi wabah, dan kisah-kisah pilu dan kelam sekitar wabah. Al-Suyuthi menyebut wabah sebagai penyakit yang menular kemana-mana. Sekarang istilah medisnya pandemi dan epidemi. Sementara ta’un adalah penyakit mematikan yang aneh luar biasa. “Setiap ta’un adalah wabah, tetapi tidak setiap wabah adalah ta’un ,” sebut al-Suyuthi. Al-Suyuthi juga mengungkap kisah pilu seputar wabah di Syam, Suriah pada 80 Hijriah (702 M). Ada seorang anak kecil yang sampai disusui anjing ketika wabah berjangkit. Semua bermula dari keluarganya yang meninggal dunia akibat wabah. Hanya tersisa anak kecil di keluarga itu. Al-Suyuthi, mengutip penulis kitab Al-Mir’ah , menuturkan sekelompok orang menyaksikan anak itu terkulai lemah di rumah. “Kemudian ada anjing masuk dari sela-sela dinding dan menjilati anak itu. Anak itu merangkak kepadanya sampai ia menghisap susu anjing tersebut,” kutip al-Suyuthi dalam Wabah dan Tha’un: Tinjauan Hadith, Kedokteran, dan Sejarah. Syamsuddin mencatat setidaknya ada 56 karya ulama yang mengangkat bahasan wabah dan penyakit mematikan dari abad ke-3 sampai ke-15 Hijriah. Manuskrip itu terawat dengan baik di pusat penelitian seperti al-Furqan Foundation, London, Inggris; İslam Araştırmaları Merkezi (İSAM), Istanbul, Turki; dan Institut für Geschichte der Arabisch-Islamischen Wissenschaften (IGAW), Frankfurt, Jerman. Soal wabah pun termaktub di dalam karya para ulama masa lampau di tanah Melayu. Sebut saja Bustan al-Salatin karya Nur al-Din al-Raniri, ulama Melayu sohor dari Aceh yang hidup pada abad ke-17 M. Di dalam “B ab Ketujuh Fasal Ketiga: Pada Menyatakan Ilmu Tashrih dan Ilmu Tibb ”, al-Raniri menyebut salah satu khasiat cuka ( khall ) sebagai obat terhadap sejumlah wabah ( wabak) penyakit. Belum Banyak Dikaji Syamsudin menyebut sebenarnya ada ribuan kitab kuno tentang pandemi dan penyakit mematikan ( ta’un ) dari berbagai antero dunia. Tapi pengkajian para sarjana kiwari tentangnya baru terbatas pada kira-kira 56 kitab. “Sejauh ini belum banyak dilakukan kajian akademik yang serius untuk meneliti dan menguraikan isi kitab-kitab tersebut dari berbagai perspektif,” terang Syamsuddin. Masih ada ribuan kitab karya para ulama masa lampau bertema medis yang masih belum dikaji dengan lebih mendalam. Ribuan kitab sudah masuk ke dalam katalog-katalog manuskrip berbagai perpustakaan. Tapi untuk memproses informasi di dalamnya perlu ikhtiar lebih banyak. “Meskipun sudah dikatalog, para peneliti tetap harus melakukan proses ekstraksi informasi sendiri, baik secara manual maupun digital, untuk mengungkap isi masing-masing naskah kitab-kitab tersebut,” tulis Syamsuddin. Pengkajian manuskrip-manuskrip tersebut tak semata untuk melestarikan warisan ilmiah, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam memajukan dan mengembangkan tradisi ilmiah masyarakat dengan pendekatan multidisiplin keilmuan. Syamsuddin berharap para akademisi dan pakar di bidangnya itu nantinya akan dapat menelaah, menggali, dan melanjutkan karya-karya para ulama ini di masing-masing bidang kepakarannya. “Jadi kalau dia profesor ilmu kedokteran, itu bagaimana dia di samping berkarier secara klinis di rumah sakit, dia juga membaca dan bisa mendiskusikan, dan bisa mengulas dan membuat artikel ilmiah yang dipublikasi di dalam jurnal-jurnal akademik tentang satu bab di kitab-kitab para ulama,” ungkap Syamsuddin dalam acara daring peluncuran buku Wabah dan Ta’un: Perkembangan Tahqiq Turath dan Sains Islam pada 20 Juni 2021. Diapresiasi Dunia Barat Dunia akademik Barat sangat mengapresiasi sejarah keilmuan medis. Contohnya para pelajar dan akademisi ilmu-ilmu medis di Harvard. Mereka menelaah sejarah keilmuan medis di beragam dunia, termasuk di dunia Islam pada masa lampau. “Mereka (para profesor) di Harvard masih tetap mengajar sejarah medis, bukan hanya yang ada di Barat, akan tetapi juga di wilayah-wilayah dunia yang bukan Barat, termasuk di Cina dan India. Mereka (juga) mengajar sejarah Islamic medicine . Dan sebenarnya mereka mengapropriasi (menyesuaikan), serta terus melakukannya,” lanjut Syamsuddin. Sementara masyarakat di Indonesia belum mencapai taraf itu. “Cuma kalau di Indonesia hal ini masih belum banyak yang bisa mengapresiasi dan memahami itu kan. Dia pikir, kalau belajar farmasi ya jadi apoteker. Kalau belajar ilmu kedokteran ya jadi dokter, kerja di industri, kerja di Kimia Farma, buat Pedagang Besar Farmasi (PBF). Ya, yang kayak gitu lah,” lanjut Syamsuddin. Mengkaji ulang manuskrip sains medis bukan hal yang mudah. Menurut Syamsudin, beragam pendekatan metode harus digunakan untuk mencapai hasil yang baik. Seperti penguasaan ilmu filologi, tahqiq, kodikologi, paleografi, dan pendekatan historis untuk memetakan keabsahan dan keaslian manuskrip itu. Tak hanya itu, manuskrip kadang diperdagangkan oleh segelintir orang. Untuk memperolehnya kembali agar itu bisa bermanfaat bagi banyak orang, perlu penebusan harga. Syamsuddin bercerita tentang Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sejarawan dan filsuf dari Malaysia, membeli sebuah manuskrip karya al-Biruni sekira tahun 1994. Syamsuddin mendapatkan kabar dari seniornya, Zainal Abidin Bagir, adik Haidar Bagir bos penerbit Mizan, yang ketika itu menjadi mahasiswa. Dari keterangan Zainal, Prof. al-Attas membeli naskah itu senilai 40.000 ringgit Malaysia. Ketika itu biaya sebuah pesta pernikahan di Malaysia senilai 10.000 ringgit. “Untuk membeli sebuah manuskrip, setara dengan empat kali menikah di Malaysia,” ujar Syamsuddin. Tapi pada akhirnya, pengkajian ilmiah manuskrip-manuskrip itu telah menyumbang referensi bagi umat manusia dalam menghadapi persoalan pandemi hari ini.*
- Menggali Isi Prasasti Airlangga di Museum India
PESTA pernikahan Airlangga dan putri Dharmawangsa Tguh belum juga usai. Tiba-tiba huru-hara datang. Haji Wurawari menyeruduk membawa petaka di tengah kemeriahan pesta. Orang-orang berteriak. Keraton dibakar, runtuh habis tak bersisa. Seluruh Jawa bagaikan tertimpa pralaya. Banyak pembesar yang tewas. Pertama-tama Sri Maharaja Dharmawangsa Tguh. Ketika peristiwa itu terjadi Airlangga masih berumur 16 tahun. Dia lari ke hutan menyelamatkan diri dengan hanya ditemani oleh Narottama, pengikut setianya. Semenjak itu hari-harinya dihabiskan di hutan, berpakaian kulit kayu, makan apapun yang dimakan oleh para orang suci dan penghuni hutan. Teman bicaranya adalah para pertapa ( rsi ). Peristiwa tergulingnya kekuasaan Dharmawangsa Tguh oleh raja bawahannya, Haji Wurawari itu dikenang sebagai peristiwa pralaya, yakni kehancuran dunia pada akhir zaman Kaliyuga yang tak terelakan. Kisah itu diabadikan di dalam Prasasti Pucangan yang dikeluarkan oleh Airlangga, salah satu raja yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno setelah pusatnya berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ada dua prasasti berlainan yang terpahat pada satu batu Prasasti Pucangan. Di sisi depan memakai bahasa Jawa Kuno dari tahun 963 Saka (1041 M). Sedangkan di sisi sebaliknya memakai bahasa Sanskerta dari tahun 959 Saka (1037 M). Menurut Vernika Hapri Witasari, arkeolog Universitas Indonesia dalam skripsinya “Prasasti Pucangan Sansekerta 959 Saka (Suatu Kajian Ulang)” tahun 2009, kedua prasasti itu ditulis dalam aksara Jawa Kawi akhir sebagaimana prasasti Airlangga lainnya. “Kedua prasasti sepertinya saling mengisi informasi,” jelas Vernika. Sayangnya, belum diketahui pasti di mana prasasti ini ditemukan pertama kali. Airlangga sendiri menerbitkan Prasasti Pucangan untuk memperingati pembuatan pertapaan di lereng Gunung Pugawat. Jadi, menurut Vernika kemungkinan Prasasti Pucangan terletak tidak jauh dari pertapaan. “Brandes dalam bukunya Oud Javaansce Oorkonden menyebutkan prasasti ini berasal dari daerah Surabaya,” tulisnya. Penemu Prasasti Pucangan juga tidak jelas. Namun, prasasti itu ditemukan pada masa Thomas Stamford Raffles di Jawa. Dia kemudian mengirimkan Prasasti Pucangan kepada Gubernur Jenderal Lord Minto di Kalkuta, India. Sehingga prasasti ini juga dikenal dengan Calcutta Stone. “Tidak ada keterangan yang menjelaskan mengenai fisik prasasti kecuali prasasti itu sudah tak terbaca lagi karena hurufnya sudah aus,” tulis Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI. Menurut Ninie, Prasasti Pucangan salah satu prasasti Airlangga yang sangat penting karena memuat riwayat hidupnya dengan jelas. Silsilah Wangsa Isana Secara garis besar Prasasti Pucangan memuat silsilah Wangsa Isana. Silsilah keluarga yang tercantum dalam prasasti dimulai dari Mpu Sindok hingga Airlangga. Mpu Sindok atau Dyah Sindok bergelar Sri Isanatungga. Kedudukan Mpu Sindok di masa pemerintahan Rakai Layang Dyah Tlodhong dan Rakai Sumba Dyah Wawa, yakni berturut-turut sebagai rakryan mapatih i halu dan rakryan mapatih i hino , yang biasanya dijabat oleh kerabat dekat raja. “Tentu dia masih anggota wangsa Sailendra,” jelas Vernika. Mpu Sindok membangun kembali Mataram di Jawa Timur ketika pusat kerajaan itu berpindah karena sebab yang masih diperdebatkan. Dia pun dianggap sebagai cikal bakal wangsa yang baru, yaitu wangsa Isana. Selanjutnya Mpu Sindok memerintah sejak 929–948 M, menggantikan pemerintahan Dyah Wawa di Jawa Tengah. Menurut Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta, Mpu Sindok mempunyai putri bernama Sri Isana Tunggawijaya yang bersuami Sri Lokapala. Dia sempat memerintah kerajaan menggantikan ayahnya. Dia disebut dengan Srisanatunggavijayeti rarajarajni, artinya yang mulia paduka Raja Isanatunggawijaya. Vernika menjelaskan, nama putri Mpu Sindok disebutkan pula dalam Prasasti Silet (940 Saka). Dia disebut sebagai Srisanawijaya maharaja. “Dia diberi gelar maharaja untuk menunjukkan dialah yang menggantikan ayahnya duduk di atas takhta, bukan suaminya,” jelas Vernika. Berbeda dengan istrinya, Sri Lokapala tak disebutkan dalam prasasti lain selain Prasasti Pucangan. Di Prasasti Pucangan, dia pun disebutkan setelah nama istrinya. Namun, dia kemudian mengambil pemerintahan kerajaan. Dalam Prasasti Pucangan terdapat keterangan “seorang anak laki-laki yang unggul yang memerintah bumi”. “Jadi kemungkinan takhta kerajaan yang sebelumnya sempat dipegang Sri Isanatunggawijaya, beralih ke Sri Lokapala setelah mereka menikah,” jelas Vernika. Disebutkan mereka memiliki putra bernama Sri Makutawangsawarddhana. Darinya lahir putri yang diberi nama Mahendradatta atau Gunapriyadharmmapatni. Gunapriyadharmmapatni kemudian menikah dengan Udayana, raja Bali dari wangsa Warmadewa. Kemudian lahirlah Airlangga. Berikutnya disebutkan kalau Dharmawangsa Tguh yang mewarisi takhta di Jawa Timur. Airlangga, mungkin keponakannya, yang lahir di Bali diundang ke istananya di Jawa Timur dan dinikahkan dengan putrinya. “Maka segeralah tersebar luas kemasyhuran tabiat mulia Erlangga di mana-mana,” catat prasasti itu. Menurut Ninie dalam laporan penelitian berjudul “Prasasti-Prasasti Sekitar Masa Pemerintahan Raja Airlangga: Suatu Kajian Analitis” tahun 1996, dengan menerbitkan prasasti yang memuat silsilah keluarganya, Airlangga sedang melegitimasi kedudukannya di singgasana. Silsilah semacam itu tak disebutkan dalam Prasasti Pucangan berbahasa Jawa Kuno. Sisi prasasti yang berbahasa Jawa Kuno berisi tentang maklumat Airlangga agar wilayah Pucangan, Barahem, Bapuri, tanah milik Wargga Pinhai ditetapkan sebagai sima untuk pembangunan bangunan suci. Serangan Raja Airlangga Maklumat Airlangga berupa pemberian gelar kehormatan, hak istimewa, dan hak tanah sima merupakan penghargaan kepada orang-orang yang berjasa memperkuat kedudukannya. Di dalam Prasasti Pucangan, Airlangga memberitakan pula musuh-musuh yang berhasil ditundukkan sebagai pengakuan atas hegemoninya. Prasasti Pucangan berbahasa Jawa Kuno mencatat beberapa penyerangan yang dilakukan Airlangga antara tahun 1029 (951 Saka) sampai 1037 (959 Saka). Di antaranya serangan Airlangga ke wilayah Wuratan. Dia mengalahkan rajanya yang bernama Wisnuprabhawa pada 1029 (951 Saka). Rupanya raja ini adalah putra dari raja yang ikut menyerang Dharmmawangsa Tguh hingga terjadi Pralaya. Selanjutnya pada 1031 (953 Saka) Airlangga mengalahkan Haji Wengker yang bernama Panuda. “...yang hina seperti Rawana,” catat peasasti itu. Panuda sempat melarikan diri meninggalkan keratonnya di Lewa. Namun, dia dikejar ke Desa Galuh dan Barat. Pada 1031 (953 Saka) anaknya dapat dikalahkan, keratonnya pun dihancurkan sampai tak bersisa. Pada 1032 (954 Saka), giliran Haji Wurawari yang dilibas Airlangga. Dengan dikalahkannya Haji Wurawari, maka lenyaplah segala perusuh di tanah Jawa. Sementara dalam Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta disebutkan bahwa pada tahun itu Airlangga juga menyerang seorang ratu perempuan yang gagah perkasa seperti raksasa. Walaupun sulit, Airlangga berhasil menang. Dia mendapat banyak sekali harta rampasan yang dibagikan kepada pasukannya. Prasasti Pucangan masih menyebut satu serangan lagi kepada Haji Wengker. Ia mungkin memberontak pada 1035 (957 Saka). “Dengan dibinasakannya Raja Wijayawarmma dari Wengker, maka disebutkan gerakan penaklukan Raja Airlangga telah selesai,” jelas Ninie. Menurut Ninie, dalam Prasasti Pucangan berbahasa Sanskerta, masa kemenangan dan aman ini diungkapkan dalam kalimat, “maka dia pun duduk di atas singgasana dan meletakkan kakinya di atas kepala musuh-musuhnya”. Maksudnya adalah semua musuh, mulai dari sebelah timur, selatan, dan barat, telah ditaklukkan Airlangga. “Untuk melepas nazarnya raja membangun pertapaan di Gunung Pugawat,” jelas Ninie. Masa konsolidasi berakhir bersamaan dengan mulainya masa keemasan. Raja Airlangga memerintah dengan damai. “Masa tenang dan tentram tanpa peperangan berlangsung antara 1035 sampai 1042,” jelas Ninie.*





















