top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bidan Berjuang di Medan Perang

    SAMIARTI Martosewojo, Sulastri, Mardiana Firdaus, Rusdiati Koesmini, Supiah, Sufitah, Kus Adalina, Djoharnin, Maryati, Sumartinah, Clara Lantang, Corrie Probonegoro, Daatje Idris, Murni Kadarsih, dan Soejati tak sedikitpun takut pada suasana perang. Perang mempertahankan kemerdekaan justru membulatkan tekad 15 siswi sekolah bidan itu untuk maju ke medan perang sebagai tenaga medis bagi para pejuang. Kala itu, jumlah tenaga medis di Indonesia amat minim. Di Jakarta misalnya, jumlah dokter yang semula 26 menyusut menjadi 14 orang lantaran ada rumah sakit yang tutup. Dokter-dokter itu kembali ke negaranya atau berpihak pada Sekutu. Jumlah bidan pun amat minim. Di Rumah Sakit Budi Kemulyaan yang sebelumnya terdapat enam biro konsultasi kehamilan, jumlahnya justru berkurang. Sudar Siandes mencatat dalam Profesi Bidan Sebuah Perjalanan Karier,  pada pertengahan 1946 beberapa biro harus ditutup lantaran kekurangan bidan dan tenaga medis. Rumahsakit ini pun agak keteteran memberikan bantuan persalinan di awal kemerdekaan. Meski demikian, selama enam bulan dari 1945 hingga pertengahan 1946, Budi Kemulyaan berhasil menangani 1157 persalinan dalam sebulan. Paling sedikit, rumahsakit ini menangani 451 persalinan dalam sebulan. Minimnya jumlah bidan membuat Budi Kemulyaan membuka pelatihan bidan untuk gadis, minimal tamatan SMP atau yang sudah mendapatkan pendidikan keperawatan, antara 1945 hingga 1947. Sebanyak 163 gadis mendaftar sebagai murid sekolah bidan tersebut, 15 di di antaranya dikirim ke palagan Surabaya. Mereka dikirim ke palagan di bawah bendera Palang Merah. Dokter Walter Tambunan bersama O.E. Engelen, asistennya yang seorang mahasiswa kedokteran di Ika Daigaku, memimpin rombongan tersebut. Kala itu, kondisi medis di Surabaya amat memprihatinkan. Hampir seluruh rumahsakit di Surabaya mengalami masalah serupa, yakni pasien membludak, alat medis terbatas, dan kekurangan petugas medis. Untuk menjaring bantuan dari luar daerah, selama pertempuran Surabaya berlangsung, Radio Pemberontak terus menyiarkan berita perang terbaru. Berkat pidato dan popularitas Bung Tomo, obat-obatan, bantuan medis, bahan pangan, tentara, dan beragam dukungan berhasil dikumpulkan  dari luar daerah. Dalam siarannya, Bung Tomo acap memaki pasukan musuh dalam bahasa Jawa Surabaya. Frank Palmos dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku  lebih jauh mencatat, di medan laga kala itu jumlah korban berjatuhan tak sebanding dengan jumlah tenaga medis yang harus merawat mereka. Beruntung, perawat, dokter, dan bidan baru terus berdatangan dari daerah lain untuk membantu rumah sakit yang masih kebanjiran pasien. Bahkan gedung-gedung sekitar rumah sakit pun dijadikan ruang perawatan. Para relawan ini, kemudian hari dikenal sebagai gadis-gadis P3K. “Relawan baik pejuang maupun tenaga medis datang dari berbagai penjuru Nusantara,” kata Rosihan Anwar, seperti dikutip Frank Palmos. Begitu tiba di Surabaya, para bidan dan dr. Walter Tambunan langsung bergabung dengan relawan medis dari daerah lain. Orang-orang yang terluka langsung dibawa ke RSU Pusat namun semakin hari pasien makin banyak. RS Karangmenjangan yang tadinya RS Angkatan Laut Jepang pun sudah tak mampu menampung pasien. Ketika situasi perang makin memburuk dan pengeboman Inggris dimulai, kaum perempuan Surabaya berbondong-bondong turun tangan sebagai tenaga medis. Semua tim medis yang terkumpul dibagi menjadi beberapa kelompok dan dikirim ke Ngemplak, Plampitan, Kampemen, Kedungdoro, dan Embong Sawo. Merekalah yang membantu para korban untuk dibawa ke rumah sakit. Salah satu perempuan yang bergabung dengan tim medis ialah Truus Iswarni Sardjono. Ia bergabung dengan Palang Merah 45 pimpinan Loekitaningsih. Pada Historia Truus bercerita bahwa ia pernah menyaksikan anak-anak kecil yang tewas terkena bom Inggris. Banyaknya korban membuat tim medis keteteran dan kurang tidur. Mereka harus berjaga secara bergiliran untuk menolong korban-korban perang. “Kita itu 24 jam…. Kalau kita bisa merem, itu sudah hebat,” kata Truus. Lantaran rumah sakit dianggap sebagai wilayah netral untuk keperluan kemanusiaan, para relawan medis bisa keluar masuk daerah perang dengan relatif aman. Biasanya mereka naik mobil ambulans atau kendaraan dengan atap bertuliskan Palang Merah. Selain membawa pasien, truk-truk medis juga membawa obat, bahan farmasi, alat medis, dan bedah. Setelah perang usai, dari seluruh bidan yang berangkat, hanya delapan di antaranya meneruskan sebagai bidan dan bergabung dengan Ikatan Bidan Indonesia yang dibentuk pada 1950.

  • Imlek Bersama Presiden Jokowi

    Presiden Joko Widodo menjadi magnet dalam perayaan Imlek Nasional 2020 di ICE BSD Tangerang Selatan, Kamis, 30 Januari 2020. Dalam perayaan tahun baru Tionghoa itu, Jokowi menyampaikan pentingnya menjaga keberagaman dan pluralisme. Ia juga sempat berkelakar soal kerja keras. "Selamat memasuki tahun tikus logam. Shio saya kerbau. Katanya tahun ini saya harus kerja keras. Padahal tahun kemarin saya sudah super kerja keras," seloroh Jokowi dalam sambutannya. Presiden ketujuh itu juga menarik perhatian hadirin karena mengenakan baju tradisional Tiongkok, changshan berwarna merah. Baju yang dipakai itu merupakan baju yang dirancang oleh desainer Anne Avantie. "Saya senang sekali hari ini bisa pakai baju ini ( changshan )," kata Jokowi disambut tepuk tangan hadirin. Presiden bersama Susi Susanti dan seorang hadirin ketika hendak membagikan sepeda. (Fernando Randy/Historia). Dalam acara tersebut tampak hadir mantan Wakil Presiden Try Sutrisno dan istri mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid. Serta hadir pula Menteri Agama Fachrul Razi dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, serta perwakilan dari kerajaan-kerajaan yang masih ada di Indonesia. Darma Ismayanto dalam tulisannya di historia.id , Kala Musim Semi Tiba ,  menyebut Imlek atau Tahun Baru Cina di negeri asalnya merupakan perayaan menyambut musim semi. Tradisi ini berkaitan dengan sistem penanggalan kalender Tionghoa yang berpatokan pada peredaran bulan berpadu peredaran matahari. Sistem penghitungan ini dikenal sebagai kalender Lunisolar, di mana awal tahun bertepatan dengan masuknya musim semi. Karena itu, di Tiongkok, Tahun Baru Imlek lebih dikenal dengan sebutan Chunjie (perayaan musim semi). Aksi paduan suara di acara Imlek Nasional 2020. ( Foto : Fernando Randy/Historia) Sementara Novi Basuki, mahasiswa doktoral di Sun Yat-sen University, Cina, menyebut perayaan tahun baru Imlek merupakan hari rayanya kaum tani. Kitab Shang Shu dan dan kitab Li Ji telah menyebut adanya perayaan ini pada masa Kaisar Shun berkuasa sekitar 2184 SM. Hal ini juga berkaitan dengan Tiongkok sebagai negara agraris sejak ribuan tahun sebelum kelahiran Khonghucu. "Dengan demikian barangkali bisa dibilang, hari raya Imlek bukanlah monopoli pemeluk agama Khonghucu semata, melainkan seluruh masyarakat Cina, terlepas apa pun agama yang kini diimani atau tidak diimani mereka,” tulis Basuki dalam artikelnya di historia.id : Benarkah Khonghucu Memerintahkan Perayaan Tahun Baru Imlek? Di Indonesia, perayaan Imlek diperkirakan sudah ada sejak orang-orang Tionghoa bermigrasi ke kepulauan Nusantara dan membentuk komunitas-komunitas Tionghoa. Pada masa penjajahan, pemerintah melarang adanya perayaan Imlek. Kemudian pada masa pedudukan Jepang, berdasarkan keputusan Osamu Seiri No. 26 tanggal 1 Agustus 1942 hari raya Imlek menjadi hari libur resmi. Salah satu penyanyi saat menghibur di acara Imlek Nasional 2020. ( Foto : Fernando Randy/Historia) Ini merupakan kali pertama perayaan Imlek di Hindia Belanda diakui secara resmi dan dijadikan hari libur. Hal ini ternyata merupakan cara pemerintah Jepang "membersihkan" masyarakat Tionghoa dari pengaruh budaya Barat. Pada masa pemerintahan Sukarno, Imlek tetap dirayakan. Kala itu, Sukarno mengeluarkan Penetapan Pemerintah 1946 No.2/Um tentang “Aturan tentang Hari Raya” di mana pada Pasal 4 menyebut Hari Raya Tiong Hwa meliputi Tahun Baru, Wafat N. Kong Hu Cu, Tsing Bing dan Hari Lahir N. Khong Hu Cu. Kemudian pada Pasal 5 disebutkan bahwa, "pada hari Raya Tiong Hwa, maka semua kantor pemerintah dibuka setengah hari, kecuali kantor-kantor pejabatan penting yang menurut pendapatan kepalanya harus dibuka sehari, sedangkan pegawai bangsa Tiong Hwa diwajibkan masuk kantor." Barongsai dalam perayaan Imlek Nasional 2020. (Fernando Randy/Historia). Setelah Sukarno lengser dan kekuasaan diambil alih Soeharto, terjadi pelarangan terhadap Imlek. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1967, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk perayaan Imlek. Pada masa ini, perayaan Imlek digelar secara tertutup dan diam-diam. Sejak 2000, Imlek kembali dapat dirayakan secara terbuka oleh masayarakat Tionghoa di Indonesia. Keran bagi ekspresi kebudayaan masyarakat Tionghoa kembali dibuka oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur setelah mencabut Inpres Nomor 14 tahun 1967. Kemudian pada 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2002. Sejak itu, Imlek kembali digelar dengan semarak.

  • Perjalanan Hidup Ip Man

    MENGENAKAN kacamata hitam untuk menutupi air matanya, Bruce Lee (diperankan Danny Chan) berusaha berjalan tegap. Beberapa langkah di hadapannya tampak foto mendiang guru paling dihormatinya, Ip Man, yang wafat pada 2 Desember 1972. Perjalanan Ip Man juga ditampikan dalam beberapa cuplikan di akhir bagian film Ip Man 4: The Finale,  seri layar lebar paripurna Ip Man yang diperankan Donnie Yen .   Dari empat seri Ip Man yang diperankan Donnie Yen, diakui Sifu  Martin Kusuma, pendiri Tradisional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Indonesia, bahwa sebagian besar kisah-kisahnya didramatisir. “Kisah aslinya Ip Man enggak seperti itu. Memang banyak sekali dramatisasinya. Kalau diurutin dari seri yang pertama, enggak ada yang benar sebetulnya,” ujar Martin kepada Historia . Sifu Martin Kusuma pendiri Tradisional Ip Man Wing Chun Indonesia yang belajar langsung dari Ip Ching, putra kedua Ip Man (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Keluarga Tuan Tanah Dalam biografi yang dituliskan putra keduanya, Ip Ching, bersama Ron Heimberger, Ip Man: Portrait of a Kung Fu Master , disebutkan Ip Man lahir di Foshan, Provinsi Guangdong, China selatan pada 1 Oktober 1893 dari keluarga kaya raya. Nama lahirnya Ip Kai-man. Ia anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Ip Oip-dor dan Ng Shui. Ip Oi-dor merupakan hartawan pemilik banyak bisnis dan investasi tanah. Kerajaan bisnisnya membentang dari jalan-jalan utama kota Foshan sampai Hong Kong. Dari salah seorang penyewa lahan ayahnyalah Ip Man mengenal wing chun. “Ip Man pertamakali mengenal wing chun dari Chan Wah-shun. Dia orang yang menyewa lahan di belakang rumahnya Ip Man,” sambung Martin. Ip Man kecil tumbuh sebagai anak yang pintar selama belajar pendidikan Khonghucu. Namun sejak Chan Wah-shun membuka kelas wing chun di belakang rumahnya yang disewa dari Ip Oi-dor pada 1905, Ip Man yang baru berusia 12 tahun mulai sering telat pulang. Usai sekolah, biasanya Ip Man lebih dulu menonton guru wing chun itu mengajar beberapa muridnya, di antaranya putranya sendiri Chan Yiu-min dan Ng Chung-so. Di kemudian hari, keduanya jadi guru Ip Man. “Segera ia minta untuk menjadi murid Chan Wah-shun dan permintaan itu membuat Chan berada di posisi sulit. Ia cemas karena kondisi Ip Man yang sering sakit-sakitan, namun di sisi lain ia anak tuan tanah yang tempatnya dia sewa. Chan mencoba melunturkan semangatnya dengan mengatakan bahwa lazimnya anak berpendidikan dan kaya takkan bisa jadi murid beladiri yang baik,” ungkap Benjamin Judkins dan Jon Nielson dalam The Creation of Wing Chun: A Social History of the Southern Chinese Martial Arts. Kolase sosok asli Ip Man di usia senja (Foto: londonwingchun.net/kwokwingchum.com ) Upaya Chan gagal lantaran Ip Man bersikeras ingin belajar wing chun sebagai murid ke-16 alias murid terakhir Chan. Sang guru akhirnya memberi syarat Ip Man membayar uang latihan dengan 20 ons perak murni jika ingin menjadi muridnya. Jumlah itu lebih mahal dari bayaran 15 murid lain yang hanya membayar 20 tael. “Harga 20 ons perak murni di masa itu bisa untuk beli sebuah rumah, membiayai sebuah pernikahan, atau memulai bisnis kecil-kecilan. Keesokan harinya Chan syok melihat Ip Man datang dengan syarat yang diminta. Setelah Chan membicarakannya dengan Ip Oi-dor, Chan insyaf bahwa memang keinginan keluarga untuk Ip Man belajar beladiri dan Chan menerima Ip Man sebagai murid ke-16 dan terakhir,” lanjut Judkins dan Nielson. Ip Man hanya tiga tahun dilatih Chan lantaran kesehatan sang guru menurun dan akhirnya pensiun. Namun, Ip Man tetap bisa terus belajar lantaran Chan mewasiatkan pada Ng Chung-so untuk meneruskan melatih Ip Man hingga usia 15 tahun. Kala itu usia 15 dianggap sudah usia dewasa. Di usia itu pula Ip Man kemudian dikirim orangtuanya ke Hong Kong untuk meneruskan pendidikan. Lewat bantuan kerabatnya, Leung Fut-ting, Ip Man masuk sekolah berbahasa Inggris terbaik di Hong Kong, St. Stephen’s College. Tanpa guru di Hong Kong, Ip Man hanya bisa berlatih wing chun sendiri bermodal ajaran-ajaran teknik chi sao (teknik tempel tangan), dan mok yan jong (boneka kayu). Ip Man berkembang menjadi arogan lantaran tiada satupun teman-temannya yang bisa mengalahkannya. Arogansi itu membuatnya kemudian harus bertarung menghadapi pria paruh baya bernama Leung Bik. Pertarungan itu berawal dari ulah Lai Yip-chi, teman Ip Man. Lai memberi tahu bahwa seorang teman ayahnya yang usianya sudah 50-an merupakan praktisi kungfu. Lai menantang Ip Man untuk menghadapinya. Tantangan itupun diterima Ip Man dengan senang hati. Meski Bik sudah paruh baya, gerakannya lebih cepat dari Ip Man. Gerakan-gerakannya bikin Ip Man tak berdaya. Kiri ke kanan: Chan Wah-shun guru pertama Ip Man, Leung Bik guru ketiga Ip Man, Dr Leung Jan yang merupakan ayah Leung Bik dan guru dari Chan Wah-shun (Foto: dragonwingchun.com ) Ip Man mengaku kalah dan tak berani tarung ulang. “Saya merasa terlalu malu untuk bertemu dia lagi. Saya bukan tandingannya sama sekali,” cetus Ip Man, dikutip Samuel Kwok, salah satu murid Ip Man, dalam The Weapons of Wing Chun . Ip Man baru tahu di kemudian hari bahwa Bik adalah anak dari Dr. Leung Jan, guru Chan Wah-shun si guru wing chun pertama Ip Man. Ip Man lalu minta diri untuk jadi murid Bik dan sang guru menerima Ip Man dengan senang hati. Titik Balik Ip Man baru pulang ke Foshan tahun 1917 atau enam tahun pasca-keruntuhan Dinasti Qing. Namun sepeninggal sang ayah, Ip Man yang mewarisi hartanya, menjual sejumlah aset bisnis di Hong Kong. Ip Man memilih hidup dari hasil penjualan aset-aset bisnis itu ketimbang melanjutkannya. Dengan begitu ia merasa lebih bebas memperdalam wing chun pada Ng Chung-so sekaligus menata reputasi bagi jago-jago kungfu manapun yang menantangnya. Ia juga menikahi anak tuan tanah lain, Cheung Wing-sing, pada 1923. Putra pertamanya, Ip Chun, lahir setahun berselang. “Ip Man itu anaknya ada empat. Selain Ip Chun, ada Ip Ching dan dua lagi perempuan (Ip Nga-sum dan Ip Siu-wah, red. ). Kalau di film Ip Man pertama (2008), Ip Chun yang ditonjolkan. Kalau di Ip Man 4 ini Ip Ching. Tapi di film-filmnya enggak pernah ditonjolkan dua anak perempuannya, mungkin karena memang enggak belajar beladiri,” sambung Martin. Kolase sosok Ip Man yang diperankan Donnie Yen (Foto: Mandarin Films) Sial baginya. Ketika tengah menikmati hidup tenang dengan membuka sekolah wing chun dan melanjutkan beberapa bisnis yang masih berjalan, situasi geopolitik berubah. China diinvasi Jepang pada Juli 1937. Itu jadi awal titik balik kehidupan Ip Man. Rumah mewah dan beberapa bisnisnya diambil paksa tentara pendudukan Jepang. “Orang Jepang tahu Ip Man merupakan ahli kungfu. Selama pendudukan Jepang, Ip Man menerima banyak undangan untuk melatih tentara Jepang. Tetapi ia menolak dan malah memilih mengungsi ke rumah Kwok Fu (salah satu murid Ip Man, red. ) di pedesaan luar kota Foshan,” ujar Robert Hill dalam World of Martial Arts! Selepas Perang Dunia II, yang membuat Jepang angkat kaki dari China, Ip Man tak bisa hidup seperti sediakala. Jaringan bisnis tekstilnya hancur. Harta Ip Man di rumah mewahnya habis sudah banyak dijarah Jepang. Ia hanya bisa mengandalkan reputasinya sebagai guru kungfu untuk menjadi kepala polisi Kuomintang di Foshan. Kondisinya lebih nahas menimpa Ip Man ketika pada 1949 Partai Komunis China (PKC) digdaya di Perang Saudara (1946-1949). Ketika PKC mendirikan Republik Rakyat China, Ip Man yang seorang perwira polisi Nasionalis tak punya pilihan untuk bertahan. Seiring tanah-tanah miliknya direbut kaum Komunis atas nama reforma agraria, Ip Man mengungsi ke Hong Kong via Taiwan dan Makau. Potret Ip Man dan Bruce Lee, salah satu muridnya yang paling populer lintas benua (Foto: kwokwingchun.com ) Kehidupannya tambah menyedihkan lantaran harus berpisah dengan putri dan istrinya. Upaya istri dan anaknya menyusulnya pada 1951 gagal lantaran China menutup perbatasannya dengan Hong Kong. “Fakta itu yang kemudian juga salah di film-filmnya. Padahal istrinya enggak bisa ikut ke Hong Kong, tapi di film ada. Juga terkait Ip Ching, guru saya. Di film (Ip Man 2) disebutkan dia lahir di Hong Kong, padahal dia sudah lahir duluan di Foshan,” tutur Martin lagi. Ip Man tak punya skill lain selain wing chun lantaran ia pilih menganggur setelah lulus dari St. Stephen’s College. Dengan sepicis-dua picis modal yang dia punya, Ip Man pun membuka sekolah wing chun di Castle Peak Road, Distrik Sham Shui Po, dan kemudian pindah ke Lee Tat Street di Distrik Yau Ma Tei. Dari Hong Kong itulah wing chun dipopulerkan oleh beberapa muridnya, seperti Duncan Leung dan Lee Jung Fang alias Bruce Lee, ke seluruh dunia. “Memang yang paling menonjol menyebarkan wing chun itu Ip Man. Katakanlah 90 persen yang ada di dunia itu wing chun-nya Ip Man. Karena sejak 1949 Komunis itu menang, mereka ada Revolusi Budaya. Semua unsur agama dan budaya dibubarkan, termasuk kungfu. Jadi para guru kungfu itu menyebar keluar China. Dan yang beraliran wing chun hanya sedikit dan kurang berkembang selain Ip Man,” tandas Martin.

  • Lagu Buat Alex Kawilarang

    KETIKA masih berpangkat mayor (1946), demi suatu kepentingan Alex Evert Kawilarang ada di Jakarta. Berpenampilan sebagai orang sipil, ia menumpang sebuah becak untuk sampai ke tujuan. Tak dinyana, di depan Centraal Burger Ziekenhuis (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), becak yang ditumpanginya disalip sebuah jip militer berisi 4 serdadu KNIL. Jip tersebut kemudian berhenti beberapa meter di depan becak yang ditumpangi Kawilarang. Para serdadu KNIL itu dalam gerakan kilat berloncatan dari kendaraan itu dan salah seorang dari mereka berdiri menghadang perjalanan Kawilarang.

  • Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan

    Prasasti kutukan terlengkap ditemukan Kota Sriwijaya, Palembang. Penguasa Sriwijaya juga menempatkan prasasti kutukan di luar pusat kota, yaitu daerah-daerah yang mereka taklukkan. Dua prasasti kutukan yang ditempatkan di Palembang, yaitu Prasasti Bom Baru dan Prasasti Telaga Batu. Selain itu, ada Prasasti Baturaja yang ditemukan di Baturaja. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sementara Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menjelaskan Palembang telah dihuni manusia paling tidak sejak abad ke-7, tepatnya pada 682. Ini sesuai dengan pertanggalan Prasasti Kedukan Bukit yang memberitakan keberhasilan perjalanan Dapunta Hiyang, seorang penguasa dari Kedatuan Sriwijaya.   Sebelum abad ke-7 pun mungkin Palembang sudah berpenghuni. Pasalnya, jauh di pedalaman Musi dan anak-anak sungainya sudah berkembang kebudayaan yang lebih awal. Misalnya di daerah dataran tinggi Pasemah, di sekitar kota Pagaralam, dan Lahat. “Melalui Sungai Musi dan anak-anaknya, manusia dari daerah pedalaman datang ke Palembang,” kata Bambang kepada historia.id . Palembang juga merupakan tempat bertemunya Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Kramasan dengan Sungai Musi. Akibatnya, ia menjadi tempat bertemunya manusia dari daerah hulu sungai-sungai yang bermuara di tempat itu. Dari situ terbentuklah pasar. Di Palembang lalu tumbuh suatu peradaban dengan institusi dalam bentuk kedatuan. Ini kemudian dikenal dengan nama Kedatuan Sriwijaya. “Saya berpegangan pada anggapan bahwa pusat Sriwijaya pada awalnya ada di Palembang,” ujar Bambang. Di kota Sriwijaya itu tinggalah para pejabat mulai dari putra mahkota hingga tukang cuci. Karenanya, menurut Bambang, di tempat itu ditanamkan prasasti persumpahan terlengkap, Telaga Batu. Pada bagian atas prasasti itu terdapat ukiran tujuh kepala ekor naga. Bagian yang ditulis ada di bawah hiasan kepala naga. Di bagian bawah bidang tulis ada saluran air yang membentuk cerat di tengahnya. Mungkin, dulu air suci disiramkan pada prasasti. Air itu mengalir ke bawah menuju ke bagian cerat. “Air ditampung pada mangkuk untuk diminumkan pada para pejabat baru yang mengangkat sumpah setia,” ujar Bambang. Prasasti Telaga Batu. Prasasti kutukan itu, kata Bambang, diletakkan di Kota Sriwijaya, yang kini menjadi wilayah Pelambang, supaya seluruh penduduk kota tak berkhianat. “Mulai dari putra mahkota hingga tukang cuci disumpah. Merekalah orang-orang paling dekat dengan raja,” kata Bambang. Jika Palembang diyakini sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya, di luar pusat pemerintahan juga ditemukan prasasti-prasasti kutukan. Seperti prasasti yang ditemukan Karangberahi di Jambi, Kota Kapur di Bangka, Palas Pasemah dan Jabung di Lampung. Bedanya dalam prasasti persumpahan yang ini tak ditemukan nama-nama jabatan dalam lingkup kedatuan. Menurut Bambang, prasasti-prasasti dibuat bukan karena ada masalah di masing-masing lokasi itu. Namun, prasasti-prasasti itu ditempatkan setelah lokasinya ditaklukkan oleh penguasa Sriwijaya. Sebelumnya pada masing-masing lokasi itu sudah terdapat permukiman. Untuk mengantisipasi agar permukiman-permukiman yang sudah ditaklukkan itu tidak memberontak, maka ditempatkanlah prasasti kutukan. “Ini sifatnya umum. Berbeda dengan yang ditemukan di Telaga Batu yang sifatnya khusus karena ditempatkan di Kota Sriwijaya,tempat para pejabat tinggal,” kata Bambang. Wilayah Malayu yang pertama kali diduduki oleh penguasa Sriwijaya pada awal masa perkembangannya. Malayu penting dikendalikan karena menguasai beberapa pelabuhan di sekitar Selat Malaka. “Salah satu tempat yang ideal di sekitar Selat Malaka adalah pelabuhan Malayu,” kata Bambang. Menurutnya, soal kedudukan Malayu yang menjadi bagian dari Sriwijaya didukung oleh catatan biksu Tiongkok, I-Tsing. Ketika kembali dari India pada 685 , dia mencatat Mo-lo-yeu , yang diartikan sebagai Malayu, sekarang sudah menjadi bagian dari Fo-shih atau Sriwijaya. Pun terbukti pula dengan adanya prasasti kutukan Karangberahi. Kemudian ada Prasasti Kota Kapur (686)yang merupakan petunjuk bahwa daerah tersebut termasuk dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Dalam bukunya, Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra, Bambang menulisbahwa Kota Kapur perlu ditaklukkan karena kalau tidak akan menjadi penghalang pintu masuk ke pusat Sriwijaya di Palembang.Pelabuhan di Kota Kapur berada di jalur yang menghubungkan Sriwijaya dan Jawa. Jauh sebelum ditaklukkan oleh Sriwijaya, Kota Kapur telah dihuni kelompok masyarakat yang menganut ajaran Hindu. “Sriwijaya menaklukan Kota Kapur karena telah ada permukiman Waisnawa yang mungkin menguasai sumberdaya alam tambang timah,” kata Bambang. Mungkin karena tempat tersebut dipandang strategis, yaitu di tepi Selat Bangka, Sriwijaya pun menaklukannya terlebih dahulu sebelum menaklukan tempat lain. Soal menaklukan tempat lain ini tersirat dalam Prasasti Kota Kapur. “Pemahatannya berlangsung ketika balatentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya,” catat prasasti itu. Hal yang sama dilakukan juga ke daerah lain, misalnya ke Palas Pasemah dan Jabung di Lampung. Dengan menduduki daerah-daerah itu, Sriwijaya tidak perlu memindahkan ibukotanya yang ada di Palembang. Lalu ditempatkan prasasti persumpahan agar penduduk dan penguasa di sana tak melakukan pembe­ron­takan. “ Kala itu sumpah sangat populer dan dipercaya betul ,” ujar Bambang.

  • Akhir Tragis Mantan Analis OSS

    SETELAH lulus Yale College tahun 1928, Raymond Kennedy memulai kariernya sebagai pengajar di Brent School di Filipina. Namun hanya setahun. Dia kemudian bekerja sebagai perwakilan lapangan General Motors Corporation di Hindia Belanda. Selama tiga tahun, dia menjual mobil Amerika di Jawa dan Sumatra. Dia pun terpesona pada Indonesia.

  • Salon Kitty, Tempat Prostitusi dan Sumber Informasi Nazi

    Penemuan mayat perempuan di Kelurahan Dulomo Selatan, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo pada Rabu, 2 Oktober 2019 menghebohkan warga setempat. Perempuan yang bersimbah darah tak bernyawa itu ditemukan tergeletak di pinggir Jalan Brigjen Piola Isa.   Polres Gorontalo kemudian menyebutkan identitas korban bernama Rosita Hulalata. Selang beberapa jam kemudian, polisi berhasil menangkap pembunuhnya, Oyong Tongkono, yang tak lain merupakan suami korban. Menurut Kapolres Gorontalo Kota AKBP Robin Lumban Raja, Oyong membunuh Rosita lantaran marah karena istrinya kembali bekerja di sebuah salon plus-plus. “Pelaku ini pernah memperingatkan korban agar jangan kembali kerja di salon itu karena menilai pekerjaannya tidak layak. Pelaku mengindikasikan pekerjaan di salon itu memberi pelayanan lebih ke para pelanggannya,” ujar Robin sebagaimana diberitakan okezone.com , 3 Oktober 2019. Salon plus-plus –salon yang memberikan layanan salon plus seksual kepada para pelanggannya– menjamur di berbagai kota tanah air sejak beberapa tahun silam. Ia merupakan bentuk prostitusi dengan selubung salon. Keberadaannya sering meresahkan warga sekitar lantaran berada di lingkungan masyarakat, dan merepotkan aparat kepolisian yang berupaya menindaknya. Kendati popularitasnya di Indonesia belum lama, eksistensi salon plus-plus di berbagai belahan dunia telah lama ada. Jerman-Nazi semasa Perang Dunia II bahkan sempat menggunakan sebuah salon plus-plus untuk mengorek informasi. Salon plus-plus itu bernama Salon Kitty. Salon Kitty yang terletak di Giebachstreasse 11 Charlottenburg, Berlin itu awalnya merupakan rumah bordil kelas atas. Didirikan dan dijalankan oleh Katharina Zammit, populer sebagai Kitty Schmidt, pada awal 1932 –versi lain menyebut 1936, para pelanggan salon berasal dari kelas atas beragam latar belakang profesi, mulai pebisnis terkemuka, diplomat asing, petinggi militer, pejabat pemerintahan, hingga anggota senior Partai Nazi. Ketika Nazi berkuasa di Jerman pada 1933, banyak orang Yahudi memilih keluar Jerman. Madame Kitty rutin mentransfer uang ke bank-bank Inggris untuk teman-teman Yahudinya yang mengungsi itu. Aktivitas amalnya itu akhirnya diketahui penguasa ketika pada 1939 dia ditangkap agen Sicherheits Dienst (SD), dinas intelijen Nazi, saat hendak menyeberang ke Belanda. Setelah tertangkap, Kitty dibawa ke markas Gestapo. Di tempat itulah ia terlihat oleh Walter Schellenberg, orang kepercayaan Jenderal SS Reinhard Heydrich, kepala SD. Heydrich merupakan veteran Angkatan Laut Jerman di Perang Dunia I yang lalu mengabdi di sayap militer Nazi Schutzstaffel (SS) pimpinan Heinrich Himmler. Kinerjanya yang mengesankan membuat Heydrich ditunjuk Himmler mengepalai SD dan ditugaskan untuk menyempurnakan dinas intelijen SS. Penyempurnaan itu terkait erat dengan ketatnya persaingan antara dinas intelijen SS dengan Abwehr, dinas intelijen militer Jerman. Abwehr didirikan pada 1921 dan sejak 1935 dipimpin Laksamana Wilhelm Canaris. “Sejak awal harus selalu diingat bahwa Canaris dan mayoritas organisasinya –terutama Abwehr II, Hans Oster– dipastikan anti-Nazi,” tulis Terry Crowdy dalam The Enemy Within: Spies, Spymasters, and Espionage . Canaris pernah merepotkan Heydrich dengan pernyataannya bahwa ras Arya Heydrich tak murni karena leluhurnya Yahudi. Pernyataan itu membuat Heydrich harus menjalani tiga kali sidang antara 1935-1937 untuk menyangkal tuduhan itu dan terpaksa mengganti nisan makam ibunya untuk menghilangkan jejak. “Hubungan Canaris dan Heydrich tampak dingin. Tidak ada yang bisa saling percaya. Keduanya saling menjaga dokumen,” tulis John Craig dalam Peculiar Liaisons in War, Espionage, and Terrorism in the Twentieth Century . Persaingan itu membuat Heydrich terus berupaya menyempurnakan organisasi intelijen SS. Salah satu terobosan terpentingnya adalah pendirian Salon Kitty menggunakan rumah bordil Kitty Schmidt. “Misinya: Gunakan alkohol dan perempuan untuk merayu orang asing agar menumpahkan rahasia yang bisa membantu Nazi dan merayu orang Jerman agar mengungkapkan pendapat mereka yang sebenarnya tentang rezim Nazi,” tulis Kara Goldfarb dalam “Inside Salon Kitty – The Brothel Taken Over by Nazis and Used for Espionage” yang dimuat www.allthatsinteresting.com . Heydrich menugaskan Schellenberg, yang berhasil menemui Kitty di markas Gestapo setelah penangkapan Kitty di perbatasan Belanda, untuk mendirikan Salon Kitty. Dengan ultimatum “kerjasama dengan Nazi atau dikirim ke kamp konsentrasi”, Schellenberg berhasil menggaet Kitty. Kitty diperintahkan membuka salonnya seperti biasa, dengan dagangan berupa layanan, minuman, dan makanan kelas atas. Sebelum salon itu dibuka kembali, Schellenberg terlebih dahulu mempersiapkan semua hal untuk mendukung misi sang bos. “Di setiap ruangan (yang berjumlah 9, red. ), para teknisi membuat dinding palsu di belakang tempat mikrofon dipasang. Melalui alat perekam otomatis, setiap kata yang diucapkan di rumah itu direkam dan dinilai untuk kemungkinan penggunaan pemerasan,” sambung Crowdy. Schellenberg tak mau menyediakan perempuan penghibur di Salon Kitty lantaran menganggap agen-agen perempuannya terlalu berharga untuk dilacurkan. Urusan itu ditangani langsung Heydrich dengan menugaskan Kepala Kripo –Kriminal Polizei/Polisi Kriminal– Artur Nobe. Sebanyak 20 perempuan –yang kebanyakan tertipu karena mengira tugas yang akan dijalankan berupa pengabdian pada negeri– lalu terpilih untuk menjadi penghibur di Salon Kitty. Sebelum dipekerjakan, mereka terlebih dulu dilatih teknik dasar intelijen dan etiket pergaulan kelas atas. “Salon Kitty digunakan untuk memata-matai diplomat asing pro-Jerman dan juga para perwira Jerman sendiri,” tulis Richard Symanski dalam The Immoral Landscape: Female Prostitution in Western Societies . Orang penting yang acap mengunjungi Salon Kitty antara lain Menteri Propaganda Joseph Goebbels. “Goebbels, misalnya, menikmati pertunjukan lesbian di Salon Kitty yang terkenal di Berlin,” tulis Jill Stephenson dalam Women in Nazi German . Dari kalangan militer, selain Jenderal Sepp Dietrich, yang sering mendatangi Salon Kitty adalah Heydrich sendiri. “Schellenberg menemukan Heydrich hanya memiliki satu kelemahan: ‘Nafsu seksualnya tak terkendali. Untuk urusan ini dia akan menyerahkan diri tanpa hambatan atau kehati-hatian’,” tulis Craig. Heydrich biasanya memerintahkan petugas mematikan semua alat perekam di Salon Kitty saat berkunjung. Kasus paling terkenal orang asing yang menjadi korban di Salon Kitty adalah Galeazzo Ciano, menantu Mussolini sekaligus menteri luar negeri Italia. Dari kunjungannya ke salon itulah Nazi mengetahui dia anti-Nazi dan menentang aliansi Italia dengan Jerman. “Dia ditangkap Nazi, diadili karena pengkhianatan, dan dieksekusi pada Januari 1944,” tulis Craig. Salon Kitty berhenti operasi pada Juli 1942 karena bombardir udara Sekutu. SD mengembalikannya pada Kitty Schmidt dengan pesan agar tutup mulut bila tak ingin merasakan pembalasan. Keberadaan Salon Kitty baru diketahui publik setelah Schellenberg menuliskannya dalam memoar berjudul The Labyrinthe , yang dibuatnya pasca-interogasi oleh personil intelijen Inggris usai perang. Pada 1976, Tinto Brass mengangkat kisah salon itu ke layar lebar lewat Salon Kitty .

  • Darah dan Air Mata Long March Siliwangi

    MINGGU pagi, 19 Desember 1948. Langit Yogyakarta dipenuhi pesawat-pesawat tempur Angkatan Perang Kerajaan Belanda. Mereka menembaki Lapangan Udara Maguwo dan menerjunkan pasukan elitenya,  Korps Speciale Troepen  (KST). Setelah berhasil mendaratkan pasukannya di Lapangan Terbang Maguwo, secara kilat mereka langsung melakukan serangan ke jantung Yogyakarta. “Tujuh jam kemudian, lewat aksi militer yang mereka namakan sebagai Operatie Kraai  (Operasi Gagak), tentara Belanda berhasil menguasai Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu…” tulis Himawan Soetanto dalam Yogyakarta 19 Desember 1948. Operatie Kraai  dengan sendirinya menghancurkan Perjanjian Renville yang ditetapkan oleh Belanda-Indonesia, setahun sebelumnya. Situasi itu juga memaksa para pejuang Siliwangi harus menghadapi jalan ujung yang pernah disiapkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam Perintah Siasat No.1 pada Mei 1948: harus kembali bergerak ke Jawa Barat dan membangun kembali perlawanan total di sana.  Perjalanan panjang ( long march ) para maung kembali ke kampung halamannya harus ditempuh dengan banyak pengorbanan. Bukan hanya kehilangan harta dan benda, darah dan air mata pun harus mereka keluarkan. Sepanjang jarak 600 km, para peserta long march  harus berkawan akrab dengan kelaparan, penyakit hingga serangan militer Belanda dan teror pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Letnan Dua (Purn) JC. Princen, serdadu Belanda yang membelot ke Siliwangi, melukiskan proses long march  itu sebagai perjalanan panjang yang menyiksa hati nuraninya sebagai manusia. Di tengah perjalanan tak jarang, ia harus menyaksikan anak-anak dan perempuan tewas terbunuh  oleh bom pesawat-pesawat yang dikendalikan teman sabangsanya. “Ratusan Multatuli tak akan dapat menggambarkan penderitaan ribuan Saija dan Adinda dalam perjalanan ini…” kenang anggota Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi itu. Pengalaman yang hampir sama juga dialami oleh Prajurit Alleh (92). Masih segar dalam ingatannya, menjelang keberangkatan mereka kembali ke Jawa Barat, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) membagikan sarung baru kepada seluruh pasukan. Sarung itu ternyata sangat berguna bagi mereka, bukan saja sebagai selimut penghangat tidur namun juga bisa digunakan untuk hal-hal yang bersifat darurat. Misalnya saat mereka harus menyeberang Sungai Serayu. Dengan sambungan sarung yang beruntai mereka bisa menyeberangi sungai yang berarus deras tersebut. Namun, proses penyeberangan itu tetap meminta korban, terutama anak-anak dan perempuan yang hanyut oleh hantaman arus sungai yang deras. Dengan hati hancur, mereka harus menyaksikan beberapa bocah dan perempuan yang ikut dalam rombongan hanyut ditelan derasnya air sungai. “Ayah dan suami-suami mereka hanya bisa berteriak dan menangis putus asa…” kenang Alleh. Tidak cukup itu, Alleh pun menjadi saksi bagaimana para ibu yang baru melahirkan “anak-anak maung” di tengah perjalanan harus rela memberikan bayi-bayi itu kepada penduduk desa yang dilewati. “Ya, daripada bayi-bayi itu menderita dan menjadi ‘beban’ selama perjalanan, lebih baik diselamatkan oleh para penduduk…” kata mantan prajurit Siliwangi dari Batalyon ke-29 pimpinan Kapten Hoesinsjah tersebut. Lain lagi dengan pengalaman Kopral Soehanda dari Batalyon ke-27. Bersama lima kawannya, ia terpisah dari rombongan batalyon sejak awal rombongan bergerak dari Salatiga. Tak ada sebutir pun nasi yang masuk dalam perut mereka selama perjalanan ke kawasan Jawa Barat. Paling bagus, kata Soehanda, mereka menemukan daun singkong atau jamur kayu untuk dimakan. “Baru setelah 40 hari lebih berjalan, akhirnya kami dapat menemukan nasi di daerah Ciamis,” kenangnya. Peristiwa unik dan misterius sempat dialami oleh Asikin Rachman (95), eks anggota Batalyon ke-29. Suatu hari, seksi yang dipimpinnya sampai di wilayah sekitar Banyumas dan harus menyeberangi sebuah sungai bernama Kali Putih. Persoalan muncul kala mereka menyaksikan  sungai itu dipenuhi ratusan buaya. Saat mereka tengah dilanda kebingunan, tiba-tiba seorang tua berpakaian sederhana datang kepadanya. Dengan lembut, ia minta izin kepada Asikin untuk coba menolong mereka menyeberang Kali Putih. Asikin pun mengiyakan. Begitu mendapat izin, orang tua itu menaiki pohon kelapa yang ada di sekitar tempat tersebut. Setelah mendapat dua butir kelapa muda berwarna hijau, ia merapal mantera-mantera lalu menyiramkan air kelapa muda itu ke permukaan Kali Putih. Usai ritual itu, ia menyilahkan anak buah Asikin untuk menyeberangi sungai tersebut tanpa ragu-ragu. Dan ajaib, kendati buaya-buaya itu terkumpul di sekitar sungai, mereka seolah tertidur dan hanya diam saja saat para petarung Siliwangi itu satu-persatu menyeberangi Kali Putih dengan cara berenang. “Kami berhasil sampai di seberang sungai dengan selamat. Inilah keajaiban dalam perang. Jika tak menyaksikan sendiri kejadian itu, tentunya kami juga tak akan percaya,” kenangnya. Kurang lebih 40 hari lamanya, para maung itu menyusuri ratusan kilometer untuk kembali lagi ke sarangnya. Mereka dengan tabah menghadapi apapun yang coba merintangi jalan-jalan mereka, dengan satu tujuan: kembali ke kampung halaman. Persis, seperti isi bait-bait yang pernah mereka buat dan gubah dari lagunya Lily Marlene: “Oh beginilah nasibnya soldadu/Diosol-osol dan diadu-adu/Tapi biar tidak apa/Asal untuk negeri kita/Naik dan turun gunung/Hijrah pun tak bingung/

  • Dayo, Pusat Kerajaan Sunda Terakhir

    Keberadaan Sunda Empire mulai meresahkan. Sejak kemunculannya di awal 2020, banyak pernyataan mereka yang dianggap oleh sejumlah pihak tidak selaras dengan realita. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun angkat bicara soal kelompok yang menggegerkan publik dari daerahnya tersebut. Dilansir  KompasTV ,  pria yang akrab disapa Kang Emil ini menyebut kalau masih ada saja orang-orang yang menjual romantisme sejarah demi eksistensinya. Ia juga merasa prihatin karena banyak yang mempercayainya. "Banyak orang  stres  ya di Republik ini, menciptakan ilusi-ilusi. Jangan percaya terhadap hal-hal yang tidak masuk ke dalam logika akal sehat," ucap Kang Emil. Para akademisi pun secara tegas membantah berbagai klaim petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana. Dalam program televisi Indonesia Lawyers Club, 20 Januari 2020, Sunda Empire semakin berani angkat bicara. Dengan percaya diri, mereka menyebut bahwa pusat pemerintahan dunia ada di Bandung. Bahkan organisasi dunia, seperti PBB dan NATO, lahir di Kota Kembang  itu. Secara historis, belum ada data yang menyebutkan Bandung pernah menjadi pusat dunia. Bahkan bagi  urang Sunda sendiri,  Bandung bukanlah tempat  satu-satunya yang menjadi pusat terakhir segala aktifitas kehidupan mereka. Berdasarkan data-data sejarah, justru sebuah kota bernama Dayo-lah yang menjadi pusat pemerintahan terakhir penguasa wilayah barat Jawa ini, sebelum benar-benar hancur akibat serangan pasukan Muslim dari Demak dan Banten. Keberadaannya tercatat baik di dalam naskah tradisional maupun catatan perjalanan orang-orang Eropa. Tempat itu eksis hingga akhir kekuasaan kerajaan Sunda di tanah Jawa. Kini kota itu menjadi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dan masuk dalam wilayah provinsi Jawa Barat. Kesaksian Penjelajah Eropa Keberadaan pusat pemerintahan kerajaan Sunda berdasar kesaksian bangsa Eropa mula-mula diceritakan oleh penjelajah Portugis Tome Pires pada permulaan abad ke-16. Sejak pendaratan pertamanya di Jawa, nama Sunda sudah santer terdengar. Namun negeri itu masih terlalu asing baginya. Ia lalu mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang negeri yang mungkin akan disinggahinya itu. “Kerajaan Sunda menguasai setengah Pulau Jawa.” Keyakinan itu tertanam di benak sebagian besar orang di pelabuhan tempat Tome Pires singgah. Sementara mereka yang memiliki kedudukan di pemerintahan meyakini bahwa kerajaan Sunda menduduki sepertiga atau seperdelapan bagian pulau. Dari kabar yang diterima Pires, luas kekuasaan kerajaan Sunda mencapai 300 league  atau sekitar 1776 kilometer. Mencakup Pelabuhan Banten, Pelabuhan Sunda Kalapa, Pelabuhan Cimanuk, hingga ke Sungai Cimanuk yang merupakan batas antara kerajaan Sunda dan para penguasa dari Jawa (merujuk pada kerajaan-kerajaan di Jawa bagian tengah dan timur). “Diceritakan bahwa pada zaman dahulu, Tuhan telah menciptakan sungai untuk memisahkan Pulau Jawa dari kerajaan Sunda dan begitu pula sebaliknya. Sungai ini ditumbuhi pohon di sepanjang aliran dan kabarnya, pohon-pohon di masing-masing sisi memiliki cabang yang menyentuh tanah dan condong ke arah masing-masing negeri. Pohon-pohon ini berukuran besar dan menjulang tinggi dengan cantik,” kata Pires. Ketika sampai di wilayah kerajaan Sunda, Pires sempat mengunjungi kota Dayo. Dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental , Pires menjelaskan kalau Dayo menjadi tempat yang paling sering ditinggali raja Sunda dibanding daerah lainnya. Di kota besar ini rumah-rumah dibangun dengan sangat baik menggunakan daun kelapa dan kayu. Manajemen kota juga ditata secara teratur agar raja merasa nyaman tinggal berlama-lama di sana. Untuk mencapai kota Dayo, jika perjalanan dilakukan melalui pelabuhan utama (Sunda Kalapa), dibutuhkan waktu sekitar dua hari, melewati daerah perbukitan. “Orang-orang berkata bahwa sang raja memiliki rumah yang sangat bagus, dibangun menggunakan 330 pilar kayu setelah tong anggur, setinggi 5 depa dan dihiasi ukiran yang sangat indah di bagian atasnya,” tulis Pires. Namun keberadaan kota itu sendiri sempat diperdebatkan. Banyak penjelajah di abad ke-19, setelah era Pires, yang mengaku tidak menemukan kota yang disebut Dayo ini. “Daio, jika tempat ini memang nyata, adalah tempat yang keberadaannya sulit diduga, mengingat tidak ada satupun tempat yang menyerupai ciri-cirinya dalam topografi Jawa,” kata administrator Inggris John Crawfurd. Barulah pada 1856, Crawfurd berhasil memecahkan misteri kota ini. Dalam catatan penelitiannya selama memangku jabatan di Jawa, A Descriptve Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries , Crawfurd menjelaskan jika di wilayah yang jaraknya sekitar 40 mil ke arah timur dari Batavia (Jakarta), terdapat bekas fondasi istana. Di daerah yang merujuk pada Buitenzorg (Bogor) ini juga ditemukan banyak sekali bebatuan dan sejumlah prasasti. “Kota yang dimaksud, tidak lain tidak bukan, adalah Pajajaran. Pajajaran ialah nama sebuah kerajaan kuno di Jawa, ibu kotanya terletak di Bogor, yang berada di wilayah Sunda,” ucapnya. Rupanya keberadaan kerajaan Sunda pernah juga diceritakan Scipio pada 1 September 1687. Artinya komandan pasukan Belanda itu menemukan bukti keberadaan Sunda jauh sebelum Crawfurd. Dalam Priangan , De Haan menyebut jika Scipio berhasil menemukan dua batu yang menurut keterangan penduduk adalah bekas singgasana raja Pajajaran. Kedua batu itu terletak di sebuah tempat berbentuk bujur sangkar sebesar bangsal sebuah kerajaan. Diperkirakan bukti penting tentang Sunda itu berpindah tempat sehingga pada masa Crawfurd banyak peneliti yang kesulitan membuktikan beradaan Kerajaan Pajajaran. “Itulah sebabnya, kiranya bangunan kraton ini atau bekasnya tidak dapat disaksikan lagi oleh kita sekarang, bahkan oleh orang-orang Belanda yang mengunjunginya pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 Masehi,” tulis De Haan. Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh para peneliti Barat, sejarawan Edi S. Ekadjati, dalam Asal-Usul, Lokasi, Perkembangan Pakuan Pajajaran , merasa jika rekonstruksi kerajaan Sunda sudah terlaksana dengan cukup baik. Ditambah informasi yang ada pada sumber-sumber lokal, keberadaan penguasa Jawa bagian barat ini sudah dapat disaksikan oleh masyarakat luas. “Menurut hemat saya, keseluruhan hasil studi mereka (para peneliti Belanda) sudah cukup memadai, dalam arti lokasi ibukota Pakuan Pajajaran telah berhasil ditemukan dan direkonstruksi dengan benar. Walaupun demikian, guna mendapat gambaran yang lebih jelas dan mendetail perlu dilakukan penelitian lebih jauh, terutama dengan melakukan penggalian di sekitar lokasi yang diperkirakan bekas kompleks keraton,” ucap Ekadjati. Catatan Tradisional Tidak jauh berbeda dengan keterangan orang-orang Eropa, informasi yang ada pada naskah dan prasasti juga turut memperkuat keberadaan kerajaan Sunda di wilayah Bogor sekarang. Seperti informasi pada prasasti Batutulis yang dikutip Nugroho Notosusanto,dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia III , diketahui bahwa kerajaan ini awalnya berpusat di Kawali namun karena keadaan tertentu akhirnya dipindahkan ke Pakuan. “Pusat kerajaan Sunda yang berpindah-pindah itu pernah berlokasi secara kronologis sebagai berikut: Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Jadi kerajaan Sunda itu berakhir pada waktu pusat kerajaannya berkedudukan di Pakuan Pajajaran,” terang Saleh Danansasmita dalam “Latar Belakang Sosial Sejarah Kuno Jawa Barat dan Hubungan antara Galuh dengan Pajajaran” dimuat Sejarah Jawa Barat . Sementara naskah Carita Parahyangan (dibuat akhir abad ke-16), cukup banyak membahas keadaan di Pakuan, meski tidak lengkap. Di sana dijelaskan bangunan kerajaan di wilayah pakuan tidak hanya satu, melainkan ada lima buah. Jumlah tersebut merujuk pada kosep Panca Persada (lima keraton). Bangunan utama digunakan sebagai tempat tinggal raja, sementara di sampingnya berdiri bangunan-bangunan lain yang tidak kalah megah sebagai tempat bersemayam para kerabat kerajaan. Wilayah ibukota Pakuan Pajajaran, kata Ekadjati, dibagi ke dalam dua wilayah, yakni Kota Dalam dan Kota Luar. Kedua bagian kota itu dibatasi oleh benteng alam, berupa bukit kecil memanjang di sebelah timur. Di sana juga terdapat parit kecil yang membentang melewati bagian barat keraton. Sementara sebuah benteng buatan berdiri kokoh di sebelah selatan. “Dari gambaran di atas tampak bahwa ibukota Pakuan Pajajaran diperkuat oleh benteng berlapis-lapis (sungai alam, tanggul buatan, parit buatan). Hal itu kiranya disebabkan oleh karena kerajaan Sunda menghadapi kemungkinan serangan dari luar (Demak, Cirebon, dan Banteng),” tulis Ekadjati. Rupanya kekhawatiran raja atas serangan yang akan menghancurkan kerajaannya menjadi kenyataan. Pada 1579, setelah melalui berbagai konflik dan perang dengan pasukan Muslim, kerajaan Sunda berakhir. Pusat pemerintahan terakhirnya berada di Pakuan, wilayah Bogor sekarang.

  • Menteri Tionghoa di Kabinet Republik Indonesia.

    Selama masa kekuasaan Presiden Sukarno (1945-1967), terbentuk cukup banyak kabinet yang tugasnya menjalankan lembaga eksekutif negara. Di antara para menteri yang pernah menduduki jabatan di kabinet-kabinet tersebut tercatat ada 4 orang menteri yang berasal dari etnis Tionghoa. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda serta mewakili partai dan organisasinya masing-masing. Berikut 4 tokoh Tionghoa yang pernah menduduki jabatan menteri di Indonesia pada periode 1945-1965. Tan Po Gwan Namanya mungkin terasa asing di telinga masyarkat Indonesia saat ini. Namun semasa tahun 1940-an sampai 1950-an, ia cukup aktif dalam berbagai organisasi sampai akhirnya dipercaya menduduki jabatan Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III periode 1946-1947. Tan Po Gwan tercatat sebagai etnis Tionghoa pertama yang masuk jajaran eksekutif di dalam pemerintahan Indonesia. Dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, pada 24 Oktober 1911, Tan Po Gwan menamatkan sekolah tingkat pertamnya di AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung. Setelah lulus ia melanjutkan pendidikannya di RHS (Rechtshoogeschool) di Batavia (Jakarta), untuk memperdalam bidang hukum. Tahun 1937 ia menamatkan sekolah RHS dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten. Karir pertama Tan Po Gwan setelah lulus adalah bekerja di Makasar sebagai pengacara. Selama kurun waktu dua tahun (1937-1938) ia bermukim salah satu kota di Sulawesi Selatan itu. Kemudian tahun berikutnya Tan Po Gwan memutuskan mengejar karirnya di Surabaya. Di sana ia juga membuka jasa konsultasi hukum, sama seperti di kota sebelumnya. Diceritakan Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, ketika berada di Surabaya inilah Tan Po Gwan berkenalan dengan dunia di luar keahliannya, yaitu jurnalistik. Ia bergabung dengan surat kabar Tionghoa Sin Po  sejak tahun 1939. Rupanya Tan Po Gwan memiliki ketertarikan yang cukup besar terhadap bidang kepenulisan. Ia diketahui cukup aktif menulis di surat kabar milik Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie ini. Pada 1942, saat proses perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, Tan Po Gwan masih aktif menulis di Sin Po . Namun di tahun ini juga ia menjadi salah satu orang yang diinternir oleh pemerintah Jepang akibat berbagai aktivitasnya dianggap membahayakan kekuasaan mereka. Hampir sepanjang pemerintahan Jepang berjuasa di Indonesia (1942-1945), aktifitas Tan Po Gwan dibatasi dan diawasi dengan sangat ketat. Barulah ketika kemerdekaan Indonesia berhasil dikumdangkan, ia mendapatkan kembali kebebasannya. Tercatat dalam Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan sampai Reformasi karya PNH Simanjuntak,   Tan Po Gwan mulai aktif berkecimpung di dunia politik, terutama ketika ia diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Tionghoa dalam Kabinet Sjahrir III, yang dibentuk Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada 2 Oktober 1946 sampai 27 Juli 1947. Setelah meletakan jabatan menterinya, Tan Po Gwan bergabung dalam KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) sebagai anggota pada 1947. Bila Hamid Algadri datang mewakili komunitas orang-orang Arab, Tan Po Kwan dipercaya mewakili komunitas Tionghoa. Ketika itu Tan Po Kwan dan anggota KNIP lainnya ditugasi membantu di segala urusan presiden hingga dibubarkan pada 1950. Tan Po Gwan aktif juga di kepartaian. Ia diketahui menjadi anggota dari PDTI (Partai Demokrat Tionghoa Indonesia). Kemudian pada 1953 ia bergabung dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang diketuai oleh Sutan Sjahrir. Selain itu Tan Po Gwan pernah ikut berkecimpung di Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Organisasi Tionghoa yang didirikan pada 1954 itu bahkan mencalonkan Tan Po Gwan dalam pemilihan umum 1955. Namun akhirnya batal karena ia memutuskan mengundurkan diri. Pada tahun-tahun berikutnya kehidupan Tan Po Gwan mulai terasa berat. Ia termasuk dalam kelompok orang yang merasa terasingkan selama masa pemerintaha Sukarno. Sehingga pada 1959 ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Baru setelah pergantian kekuasaan, Tan Po Gwan kembali ke tanah air. Namun tidak lama, ia memilih menetap di Sydney, Australia. Pada 1985 Tan Po Gwan meninggal dunia di Australia. Ong Eng Die Ong Eng Die (Foto: Wikimedia Commons) Dikenal sebagai ekonom ulung pada era 1950-an sampai 1960-an, Ong Eng Die berhasil menempatkan namanya dalam jajaran menteri pada beberapa kabinet. Ia dipercaya mengatur situasi ekonomi dan keuangan di Indonesia pada masa-masa awal pasca kemerdekaan. Ong Eng Die mampu membuktikan dirinya pantas disejajarkan dengan pakar eknomi lainnya, seperti Mohammad Hatta, atau Sjafruddin Prawiranegara. Ong Eng Die dilahirkan di Gorontalo, pada 20 Juni 1910, dari pasangan Teng Hoen dan Soei Djok Thie. Tidak banyak informasi mengenai masa kecil Wang Yongli (sapaan akrab Ong Eng Die). Namun diperkirakan ia menempuh pendidikan di sekolah milik pemerintah Belanda hingga tingkat menengah. Pada 1930-an, saat memasuki usia sekitar 20 tahun, Wang Yongli memutuskan untuk pergi ke Belanda, melanjutkan studinya. Thee Kian Wie dalam Pelaku Berkisah: Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an, menyebut bahwa pada 1940, Wang Yongli tercatat sebagai salah satu sarjana yang lulus dari Fakultas Ekonomi di Universiteit van Amsterdam. Pada 1943, Wang Yongli berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dan mendapat gelar Ph.D untuk disertasinya: Chineezen in Nederlands-Indie een Socigrafie van een Indonesische Bevolkings Group . Selama dua tahun, setelah memperoleh gelar doktoralnya, Wang Yongli memilih untuk berkarir di Belanda. Kemudian pada 1945, ia memutuskan pulang ke Indonesia. Di dalam negeri, Bank Pusat Indonesia di Yogyakarta menjadi pilihan Wang Yongli untuk menambah pengalamannya di bidang ekonomi. Ia berkarir di sana hingga tahun 1947. Nama Ong Eng Die sebagai lulusan Universitet van Amsterdam mulai terdengar pada 1947. Di tahun yang sama ia juga mulai mendekatkan dirinya pada dunia perpolitikan. Perjalanan pertama di dunia barunya ini terjadi ketika ia ditunjuk sebagai Menteri Muda Keuangan, mendampingi Menteri Keuangan AA Maramis pada era kabinet Amir Sjarifuddin I. Saat Amir Sjarifuddin membentuk kembali kabinetnya, Kabinet Amir Sjarfuddin II (11 November 1947 – 29 Januari 1948) Wang Yongli masih tetap dipercaya di jabatan yang sama, yakni Menteri Muda Keuangan. Pada masa-masa ini, kata Setyautama, Wang Yongli dipercaya menjadi penasehat ekonomi untuk beberapa pertemuan dengan delegasi luar negeri. “Beliau adalah salah satu penasehat ekonomi delegasi Indonesia pada saat perundingan Renville,” tulisnya. Pada 1950-an, Wang Yongli bergabung dengan PNI (Partai Nasional Indonesia). Saat Ali Sastroamidjojo membentuk kabinetnya (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955), Wang Yongli ditunjuk sebagai Menteri Keuangan. Namun meski jabatan telah dipegangnya, kebijakan ekonomi saat itu lebih didominasi oleh keputusan Sjafruddin Prawiranegara, Djuanda Kartawidjaja, dan para pakar lainnya. Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan PNI dalam menghadapi Pemilihan Umum 1955. Namun selama masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan, terjadi sejumlah permasalahan yang cukup merugikan negara. Bersama dengan Iskaq Tjokrohadisurjo sebagai Menteri Perekonomian, Wang Yongli disebut hanya membuat kebijakan yang menguntungkan PNI saja. Antara lain dengan mengeluarkan surat izin devisa atau lisensi impor. Pada 1954, jumlah perusahaan impor lokal meningkat lebih dari 2.000 buah. PNI meraup banyak keuntungan dari pemberian lisensi tersebut. “Lisensi istimiwa diberikan kepada pengusaha-pengusaha yang sanggup memberikan 10% dari harga lisensi kepada kas partai PNI,” tulis Soebagijo IN dalam biografi Jusuf Wibisono Karang di Tengah Gelombang . Setelah meletakkan jabatannya, Wang Yongli masih banyak mengurusi masalah perekonomian sebagai seorang penasehat. Ia memiliki beberapa kantor akuntan, sambil menjalankan berbagai kegiatan kepartaiannya di PNI. Tahun-tahun berikutnya masih dihabiskan Wang Yongli sebagai salah satu pakar eknomi Indonesia. Meski mulai banyak masyarakat yang mencibir karena kasus-kasus selama ia menduduki jabatan menteri. Pada 1964, ia memilih kembali ke Amsterdam. Di sana, bersama keluarganya, Wang Yongli menjalankan sebuah bisnis. Setelah tinggal cukup lama di luar negeri, kabar kematiannya tidak dapat dipastikan dengan jelas. Tidak ada cukup data yang menjelaskan hal tersebut. Siauw Giok Tjhan Siauw Giok Tjhan (Foto: Wikimedia Commons) Siaw Giok Tjhan dikenal luas sebagai seorang politikus yang aktif pada era pemerintahan Sukarno. Ia terlibat dalam berbagai peristiwa dan berkontribusi cukup besar bagi orang-orang Tionghoa dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Siaw Giok Tjhan dilahirkan di Kapasan, Surabaya, Jawa Timur, pada 23 Maret 1914, dari pasangan Siaw Gwan Swie dan Kwan Tjian Nio. Ia menerima pendidikan dasar di THHK (Tionghoa Hoa Hwee Koan) dan ELS (Europeesch Lagere School). Kemudian melanjutkan sekolah menengah pada 1927 di HBS (Hogere Burger School), Surabaya. Tercatat dalam biografinya, Siauw Giok Tjhan: Riwayat Perjuangan Seorang Patriot , ia telah terlibat aktif di banyak organisasi sejak usianya masih terbilang muda, yakni 18 tahun. Pada usia tersebut Siaw Giok Tjhan masuk Partai Tionghoa Indonesia, di bawah pimpinan Liem Koen Hian. Pada 1933, ia memulai perkenalan pertamanya dengan jurnalistik sebagai pekerja di harian Sin Tit Po  di Surabaya. Pada 1934 Siauw Giok Tjhan mulai aktif menulis di harian Matahari . Di bawah naungan Kwee Hing Tjat di Semarang, ia makin mahir dalam dunia tulis-menulis ini. Kemudian ketika Kwee Hing Tjat meninggal, Siauw Giok Tjah dipercaya meneruskan kepemimpinan harian Matahari . Namun ketika Jepang mulai berkuasa pada 1942, harian yang memulai debutnya dari Sin Jit Po  ini terpaksa harus tutup. Selama masa pendudukan Jepang, Siauw Giok Tjhan banyak menghabiskan waktunya di Malang. Ia aktif di AMT (Angkatan Muda Tionghoa) dan Palang Biru yang difasilitasi oleh Jepang. Pada 1945, ia mulai bergabung dalam partai yang lebih besar, yaitu PSI. Siauw Giok Tjhan menjadi salah satu anggota partai yang sangat aktif berkontribusi sehingga pada 1946 ia ditunjuk menjadi anggpta KNIP. Pada 1947, Sjahrir mengajak Siauw Giok Tjhan ke Inter Asian Conference di New Delhi, India. Di tahun yang sama juga, ia diangkat menjadi Menteri Urusan Minoritas (Tionghoa) dalam Kabinet Amir Sjarifuddin. Melalui jabatannya ini Siauw Giok Tjhan semakin memantapkan dirinya dalam perpolitikan di Indonesia. Pada 1949 ia tercatat sebagai anggota DPR RIS. Keaktifannya di dunia politik diimbangi oleh kegemarannya dalam menulis. Siauw lalu mendirikan surat kabar Harian Ra’jat  pada 1953. Pada 1954, bersama 44 tokoh Tionghoa, Siauw Giok Tjhan mendirikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Ia terpilih sebagai ketua umum organisasi masyarakat keturunan Tionghoa tersebut. Di sana ia mulai aktif menyuarakan persamaan hak bagi warga negara dan anti diskriminasi. “Keputusan untuk menasakomisasi kepemimpinan Baperki mulai dari Komite Pusat hingga cabang-cabang adalah sebuah konsekuensi dari posisi Baperki yang diformulasikan dalam Kongres VI di Surabaya. Posisi tersebut adalah bahwa perjuangan untuk memecahkan masalah kewarganegaraan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk membantu perkembangan sebuah masyarakat Pancasila yang menjalankan dasar-dasar Pancasila dalam urusan kehidupan sehari-hari,” ucap Siauw Giok Thjan seperti dikutip Leo Suryadinata dalam Pemikiran Politik Etnis Tionghoa Indonesia 1900-2002 . Namun segala bentuk kegiatan Baperki dianggap berbahaya bagi sebagian pihak. Terutama ketika mereka mulai aktif membuat tulisan di koran Republik . Oleh karenanya pada November 1965, Siauw Giok Tjhan ditahan. Pada 1978, atas bantuan Adam Malik, ia dibebaskan karena alasan kesehatan. Ia lalu menghabiskan waktunya di Belanda. Siauw Giok Tjhan wafat pada 20 November 1981 akibat serangan Jantung. Lie Kiat Teng Lie Kiat Teng (Foto: Wikimedia Commons) Tidak banyak narasi sejarah bangsa ini yang menyebutkan sosok Lie Kiat Teng. Seolah tidak ada tempat yang pas untuk mengabadikan nama tokoh Muslim dari etnis Tionghoa ini. Namun sebenarnya keberadaan Lie Kiat Teng cukup berpengaruh di dalam sejumlah peristiwa, terutama dalam kurun masa 1950-an hingga 1960-an. Lie Kiat Teng dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, pada 17 Agustus 1912. Sejak kecil, ia telah mendapat pendidikan yang cukup baik dari keluarganya. Ia menyelesaikan sekolah tingkat dasar dan menengahnya di sekolah milik pemerintah Belanda. Lie Kiat Teng lalu mengikuti studi lanjutan di Surabaya, di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), sekolah pendidikan dokter yang dikhususkan bagi orang-orang pribumi. Lie Kiat Teng sendiri mampu menyelesaikan studinya, dan memperoleh gelar “Dokter Djawa” pada 1930-an. Setelah lulus, Lie Kiat Teng bekerja sebagai dokter pemerintah di Curup, Bengkulu. Lalu pernah diangkat menjadi dokter di Rumah Sakit Pusat Perkebunan di Waringin Tiga. Ia juga sempat menjadi dokter di tambang emas Rejang Lebong, Bengkulu. Sejak lulus karirnya memang lebih banyak dihabiskan di lembaga kesehatan milik pemerintah Belanda. Selama masa awal periode kemerdekaan, Lie Kiat Teng menduduki jabatan dokter keresidenan di Palembang, Sumatera Selatan. Ketika berpraktek di Sumatera inilah, Lie Kiat Teng berkenalan dengan agama Islam. Sebenarnya interaksi Lie Kiat Teng dengan Islam sudah terjadi cukup lama karena memang orang-orang di sekitarnya banyak yang beragama Islam. Namun keyakinannya untuk memeluk Islam baru benar-benar muncul pada 1946. Ia lalu mengubah namanya menjadi Mohammad Ali. Memasuki tahun 1950-an, Mohammad Ali memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dokter karesidenan. Pada masa ini juga ia mulai aktif berpolitik. Mohammad Ali ikut menjadi bagian dari PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), sebagai kepala bagian ekonomi. Meski telah terjun ke dunia politik, Mohammad Ali tetap berpraktek sebagai dokter. Ia memilih untuk tidak terikat dengan instansi pemerintah dan membuka praktek dokter secara swasta. Ketika Ali Sastroamidjojo membentuk kabinet (1953-1955), Mohammad Ali ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan, menggantikan FL Tobing dari SKI. Namun jabatan di lembaga eksekutif dalam pemerintahan ini tidak hanya sekali saja diemban Mohammad Ali. Pada kabinet selanjutnya, Kabinet Burhanudin Harahap (1955-1956), ia masih tetap dipercaya dalam jabatan Menteri Kesahatan. “Ia (Mohammad Ali) berjasa mendirikan rumah sakit Mohammad Husni di Palembang,” tulis Setyautama.

  • Lima Tionghoa di Taman Makam Pahlawan

    Perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban rakyat suatu negara. Tanpa membeda-bedakan ras, suku, dan agama, semua berjuang demi terwujudnya kedamaian. Hal itulah yang diyakini orang-orang Tionghoa saat ikut membantu menghilangkan penjajahan demi melahirkan kemerdekaan yang hakiki di bumi Indonesia. Berkat sumbangsihnya, negara memberikan tempat peristirahatan terbaik bagi mereka.Tercatat ada 5 orang warga keturunan Tionghoa, dari berbagai medan perjuangan, yang dipusarakan di Taman Makam Pahlawan. Lie Eng Hok Lie Eng Hok dilahirkan pada 7 Februari 1893 di Balaraja, Tanggerang, Banten. Tidak banyak informasi mengenai masa kecilnya. Namun ia diketahui pernah menjadi wartawan surat kabar Tionghoa Sin Po sekitar 1910-an. Ia cukup aktif menulis di harian milik Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie tersebut. Pengalamannya menjadi jurnalis itu kemudian dimanfaatkan Lie Eng Hok ketika ia aktif di masa pergerakan nasional. Pada 1926, semasa gerakan anti-Belanda tengah kuat-kuatnya di sejumlah daerah, Lie Eng Hok pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Di sana ia membuka sebuah toko buku di Pasar Johar. Rupanya pekerjaannya itu hanyalah kedok bagi pekerjaannya yang lain, yakni kurir dan informan. Ia bertugas membagikan informasi tentang gerak-gerik pasukan Belanda kepada para pejuang anti-Belanda. Diceritakan Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , akibat aktifitasnya itu, Lie Eng Hok ditangkap dan dimasukkan ke jajaran pemberontak yang akan dibuang ke Boven Digul oleh pemerintah Belanda. Dari sekitar 1300 tahanan yang berangkat pada 1927, 10 di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa. Selama berada di Digul, Lie Eng Hok hidup menderita. Ia masuk dalam kelompok orang yang tidak sudi bekerja di bawah pemerintah Belanda. Bersama-sama dengan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, Lie Eng Hok tidak mendapat fasilitas yang layak selama di Digul. Hatta pun pernah bercerita di dalam Mengenang Sjahrir , jika para interniran yang menolak tunduk pada pemerintah Belanda memang mendapat tekanan yang lebih berat dibandingkan mereka yang memilih bekerjasama. Pada 1932, berdasarkan Besluit Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie  No.8 tanggal 19 Januari 1932, ia dibebaskan dari Digul. Setelah itu ia memilih kembali ke Semarang, membuka kembali toko buku yang sebelumnya di tinggalkan. Pada 22 Januari 1959, Lie Eng Hok ditetapkan sebagai pejuang “Perintis Kemerdekaan” berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial. Pada 27 Desember 1961, Lie Eng Hok meninggal dunia. Ia dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. Namun pada 1986 berdasarkan Surat Keputusan Pangdam IV/Diponegoro No.B/678/X/1986, kerangkanya dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal di Semarang. John Lie Dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 11 Maret 1911, John Lie Tjeng Tjoan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tseng Nie. Sejak kecil pria yang akrab disapa John Lie ini sudah mendapat pendidikan yang baik di sekolah berbahasa Belanda, Hollands Chinese School (HCS) dan Christelijke Lagere School. Namun menginjak usia 17 tahun, ia memutuskan pergi dari Manado menuju Batavia, demi memenuhi hasratnya menjadi pelaut. Di Batavia John Lie bekerja sebagai buruh pelabuhan, di samping kesibukannya ikut kursus navigasi. Ia berhasil menyelesaikan pelatihannya dan ditempatkan di perusahaan pelayaran Belanda Klerk Muallim II di KPM (Koninklijk Paketvaart Matschappij). Setelah beberapa kali pindah kapal, ia ditugaskan di MV Tosari pada Februari 1942. Ketika Perang Dunia II pecah, MV Tosari dijadikan kapal logistik pendukung armada sekutu. John Lie dan awak kapal lainnya mendapat pelatihan khusus setelahnya. Menurut M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie, Setelah Indonesia merdeka, John Lie kembali bekerja di Pelabuhan Tanjungpriok. Namun ketika suasana semakin genting ia memilih bergabung dengan angkatan laut. Atas permintaannya, ia ditempatkan di Pelabuhan Cilacap. Di sanalah awal mula misi-misi John Lie menembus blokade Belanda dan penyelundupan yang membuat namanya melegenda. Wartawan majalah Life , Roy Rowan, mengabadikan kisah heroik John Lie dalam “Guns-And Bibbles-Are Smuggled to Indonesia” yang dimuat Life  pada 26 Oktober 1949. Pers asing pun menjuluki pria Manado ini dengan sebutan “The Great Smuggler with the Bibble”. John Lie memutuskan pensiun pada 1967 setelah menyelesaikan sejumlah tugas, seperti memimpin KRI Rajawali dan KRI Gadjah Mada, serta ikut aktif dalam penumpasan gerakan DI/TII, RMS, dan Permesta. Pada 27 Agustus 1988, John Lie wafat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro (1993-1998) “mengakui” John Lie sebagai Pahlawan Nasional. Namun penganugerahan gelar Pahlawan Nasional baru terealisasi pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2009. John Lie dipusarakan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Sho Bun Seng Mungkin tidak banyak orang yang tahu jika Sho Bun Seng adalah salah seorang pegiat seni yang ikut dalam perjuangan kemerdekaan. Dilahirkan pada 12 November 1911, di Kota Raja, Aceh, Sho Bun Seng aktif dalam grup sandiwara Dardanela sekitar tahun 1920-an. Kelompok sandiwara ini lahir di tengah kepopuleran Opera Miss Riboet, dengan bintangnya Miss Riboet. Sho Bun Seng sendiri diketahui aktif di angkatan Tan Tjeng Bok dan Fifi Young. Sho Bun Seng lalu memutuskan pergi ke Padang, Sumatera Barat, dan menikahi Hu Chung Ying. Dari sana ia pindah ke Kalimantan Barat untuk bekerja menjadi guru. Namun tidak lama ia kembali ke Padang. Sekitar tahun 1944, ia bersama sejumlah kalangan etnis Tionghoa lainnya ikut melakukan pergerakan melawan kekuasaan Jepang. Setelah kemerdekaan, Sho Bun Seng bergabung dengan Batalion Pagar Ruyung. Ia ditugaskan selama beberapa tahun di Kalimantan, khususnya Pontianak, Singkawang, dan sekitarnya. Pada 1950-an, ia mendapat tugas ke Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat. Di sana ia membantu operasi militer menumpas pemberontakan DI/TII. Pada 1958, Sho Bun Seng memutuskan pensiun dari urusan kemiliteran. Pada tahun-tahun berikutnya Sho Bun Seng lebih aktif di industri hiburan yang pernah digelutinya dahulu. Atas jasa-jasanya, baik selama masa pendudukan Jepang maupun ketika aktif di kemiliteran, Sho Bun Seng mendapat Bintang Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer Pertama dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua. Ia juga mendapat surat tanda jasa pahlawan dari Presiden Sukarno. Serta Satya Lencana Gerakan Militer Kelima. Pada September 2000, Sho Bun Seng meninggal dunia. Jasadnya lalu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ferry Sie King Lien Ferry Sie King Lien lahir pada 1933 dari keluarga pemilik pabrik gelas tersohor di Kartodipuran, Surakarta, Jawa Tengah. Ia merupakan satu dari sedikit Tentara Pelajar dari kalangan Tionghoa yang ikut mengangkat senjata pada pertempuran di Solo tahun 1949. Bersama empat orang rekannya, Soehandi, Tjiptardjie, Salamoen, dan Semedi, Ferry Sie King Lien mendapat tugas khusus dari kesatuannya, yakni memberikan dorongan moril kepada rakyat untuk sama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan. Diceritakan Iwan Sentosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara sampai Indonesia , cara Ferry Sie King Lien dalam menjalankan misinya adalah dengan mencoret-coret tembok dan menyebarkan selebaran berisi ajakan melawan tantara Belanda kepada seluruh rakyat Solo, serta menembaki markas-markas pasukan Belanda. Setiap malam ia dan kawan-kawan dari gerilyawan malam Sektor A Rayon V, Subwehrkreis 106 Arjuna keluar melancarkan aksi berbahayanya itu. Para gerilyawan malam ini akan mengincar tempat-tempat yang strategis di seluruh penjuru kota. Mereka secara khusus menggunakan bahasa Inggris dan Belanda dalam setiap coretannya untuk menunjukkan bahwa perjuangan tersebut dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Dalam buku Peranakan Idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya , ada sebuah coretan di tembok yang cukup berpengaruh dalam proses menaikkan moril rakyat pada masa-masa perjuangan ini. “Eens komt de dag dat Republik Indonesia zal herrijzen ” yang artinya "pada suatu hari Republik Indonesia akan timbul kembali". Pada malam 14 Juli 1949, saat hendak melakukan misinya, Ferry Sie King Lien datang menemui Camat Pemerintah Gerilya Kaonderan Serengan RM Sumardi. Ia bermaksud mengajak si camat untuk memimpin pasukan gerilya malam itu. Namun Sumardi menolak karena menurutnya malam itu adalah “hari musibah” dalam perhitungan primbon Jawa. Meski mendengar hal itu, Ferry Sie King Lien dan sejumlah TP tetap melanjutkan misinya. Namun tanpa diduga sebelumnya, pasukan Belanda bersenjata lengkap memergoki mereka di sebelah selatan Singosaren. Ferry Sie dan kawan-kawan lainnya diberondong oleh senjata berat. Mereka berusaha mencari perlindungan. Naas, Ferry dan Soehadi tertembak. Keduanya tewas seketika. Sementara tiga orang lainnya dari pasukan gerilya Subwehrkreis berhasil meloloskan diri dan selamat. Atas jasa-jasanya, Ferry Sie King Lien dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jurug, Solo. Ia tercatat sebagai satu-satunya warga keturunan Tionghoa yang dipusarakan di sana. Tjia Giok Thwam Ia dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, pada 1927. Ketika usianya baru menginjak 18 tahun, Tjia Giok Thwam tergabung dalam regu pasukan penggempur Pasukan 19 CMDT (Corps Mahasiswa Djawa Timur). Ia ikut angkat senjata dalam sejumlah pertempuran di Jawa Timur mengusir penguasaan kembali Belanda atas wilayah tersebut. Pada 10 April 1950, Tjia Giok Thwan menyelesaikan pengabdiannya sebagai pasukan gerilya CMDT. Atas persetujuan komandannya, Kastam Prayitno, Tjia Giok Thwan resmi mundur dengan pangkat terakhirnya Letda (Letnan Dua). Ia lalu melanjutkan studi kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya. Pada 5 Oktober 1958, berdasarkan SK Menteri Pertahanan RI, Tjia Giok Thwan menerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua. Kemudian pada 10 November 1958, ia menerima Tanda Jasa Pahlawan sebagai anggota Veteran RI. Tjia Giok Thwan juga menerima Satya Lencana Gerakan Operasi Militer Kesatu pada 29 Januari 1959. Tjia Giok Thwan meninggal dunia pada 1 Maret 1982 (55 tahun) di Malang akibat sakit jantung yang dideritanya. Hingga akhir hayatnya, Tjia Giok Thwan menjabat Kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat Sumber Porong sejak 1967. Ia dimakamkan di TMP Suropati, Malang. Jenazahnya ditempatkan di dalam peti berhiaskan bendera merah putih. Pelepasannya pun dilakukan menggunakan upacara kemiliteran.

  • Tamparan Jenderal Mitro

    Pasca G30S 1965, terjadi serangkaian pergantian pejabat teras dalam Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Brigadir Jenderal Soemitro menggantikan Mayor Jenderal Djamin Gintings untuk posisi Asisten II/Operasi Menpangad. Soemitro yang semula menjabat Panglima Kodam Mulawarman di Kalimantan Timur lantas ditarik ke Jakarta. Promosi ini pun membuat perwira berbadan tambun itu naik pangkat menjadi mayor jenderal. “Keadaan di Indonesia sedang goncang, khususnya AD sedang mendapat ujian berat,” kenang Soemitro dalam memoar Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib yang disusun Ramadhan K.H. Menurut Herman Sarens Sudiro, keadaan keamanan saat itu memang mencekam. Herman adalah anak buah Soemitro yang menjadi perwira pembantu bidang operasi dan kepala biro hubungan antar angkatan SUAD. Dalam operasi penumpasan G30S, Letnan Kolonel Herman Sarens ditunjuk sebagai komandan satuan tempur. Bersama pasukannya, Herman kerap kali melakukan patroli keliling Jakarta maupun konsinyasi markas dengan berkonvoi panser.   Sekali waktu Herman memimpin konsinyasi. Setelah berkeliling Jakarta, jip yang ditumpangi Herman bersama lima panser pengiringnya pulang lewat Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman. Di sekitar Jalan Sudirman kendaraan Herman menyalip sedan Station  milik Soemitro. Herman sempat memberi hormat kepada Soemitro lalu konvoinya pun berlalu. Namun setiba di kediamannya di Jalan Daksa, Herman dikejutkan dengan ribut-ribut yang terjadi di antara awak pansernya. Herman segera keluar menanyakan kepada seorang anggota jaga. “Panser yang terakhir menabrak mobil, Pak,” jawab salah seorang prajuritnya. “Mobil yang mana,” tanya Herman penasaran. “Mobil Station hijau, Pak,” jawab sopir panser sambil merinci terjadinya tabrakan, “mobil tersebut terbalik, Pak.” “Hei lu gila! Itu mobil Jenderal Soemitro! Semua kumpul!” Herman memerintahkan mereka menghadap Mitro sebagaimana dituturkannya dalam memoarnya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir  yang disusun Restu Gunawan. Kepada sopir yang menabrak, Herman menginstruksikan agar tidak menjawab Mitro dengan berhadapan mulut. Herman tahu mereka barusan minum bir dan itu tidak dibenarkan. Tapi di kalangan awak pansernya minum bir biasa dilakukan untuk menghangatkan badan usai patroli malam.   Setiba di lokasi kejadian penabrakan, ternyata mobil Soemitro telah dibawa. Rombongan Herman pun bergegas ke rumah Soemitro di Jalan Iskandarsyah. Di sana, Nyonya Mitro memberitahu bahwa suaminya pergi ke Jalan Daksa menuju kediaman Herman. Beruntung tidak ada terjadi sesuatu yang parah menimpa Soemitro. Herman tiba di Jalan Daksa pukul 04.00 pagi. Pos penjagaan kosong karena menghindari kemarahan Soemitro. Tampak Soemitro mengenakan pakaian preman duduk sendirian di atas meja tulis pos penjagaan. Herman segera menghadap dan melapor. Dia pun mempertemukan Mitro dengan awak panser yang menabrak mobilnya.    "Siap! Saya Sersan Komandan Kendaraan!” jawab Komandan Kendaraan setelah dipanggil. “Kamu merasa menabrak mobil?” tanya Mitro. “Siap! Saya perintahkan berhenti, tetapi mobil jalan terus!” “Bagus….bagus…! Mana sopirnya?” ujar Mitro. Sopir pun dipanggil. “Siap! Saya Prajurit Satu pengemudi panser!” jawab sopir. “Hei.. Kamu minum bir, hah?!” teriak Mitro sambil memerintahkan sopir membuka mulut. “Kenapa kamu tidak berhenti?” “Siap! Saya mengejar komandan! Komandan jalan duluan! Saya takut ketinggalan,” demikian jawaban polos sang sopir. Raut wajah Mitro memperlihatkan aura emosi. Tamparan pun melayang ke wajah si prajurit satu yang menjadi sopir panser. Herman segera memegang sang prajurit serta pistol yang ada di pinggangnya. Berjaga-jaga kalau sang prajurit gelap mata. “Kita masuk dulu, Pak. Sudah disediakan minum,” bujuk Herman menenangkan suasana. Mitro tidak menjawab tetapi mengikuti ajakan tersebut. Beberapa hari kemudian, Herman membawa sopir panser yang kena gampar itu untuk sowan ke kediaman Soemitro sekedar minta maaf. Menurut Herman, Mitro terlihat gembira dan seperti melupakan kejadian penabrakan tempo hari. Pada akhir pertemuan, Soemitro berpesan kepada awak panser kalau minum bir untuk menghangatkan badan jangan terlalu banyak.

bottom of page