Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Misteri Penamparan Soeharto
SELEBARAN gelap yang kertasnya sudah menguning itu seolah berbicara banyak. Di bawah judul "Manifesto Mahasiswa ITB atas Kekuasaan Soeharto" disebutkan beberapa kisah yang menyebabkan para mahasiswa Bandung menolak pencalonan kembali Jenderal TNI (Purn.) Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia periode 1978-1983.
- Menggali Balet Nasional Indonesia
DEWAN Kesenian Jakarta (DKJ) bikin hajatan seputar balet di pengujung 2019: "Ballet in Batavia" dan "Tribute to Farida Oetoyo". Hajatan pertama berupaya mengeksplorasi akulturasi tari balet dengan tari tradisional Indonesia. Hajatan kedua mengangkat perjalanan hidup maestra (perempuan) balet Indonesia, Farida Oetoyo. Dia mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk perkembangan balet.
- Akar Sejarah Pohon Natal
BILA Lebaran Idul Fitri identikdengan ornamen ketupat, Hari Raya Natal punya pohon natal.Ornamenyang bertebaran di rumah-rumah, perkantoran hingga pusat-pusat perbelanjaan itu punya sejarah panjang. Tradisi menghadirkan pohon natal sebagai pelengkap semangat Natal di Nusantara tercatat sudah eksis sejak pertengahan abad ke-19 meski tak semua umat Kristiani memilikinya. Lazimnya, selain para pejabat pemerintah Hindia Belanda yang memilikinya, pohon natal dihadirkan di tempat-tempat tertentu. Salah satunya di Yayasan Djattie, sebagaimana dilaporkan Java Bode edisi 1 Januari 1859. “Pada Minggu malam ini pohon natal yang didekorasi dengan indahnya, memanjakan mata anak-anak Yayasan Djattie yang lokasinya sementara ini berada di Gang Pecenongan,” tulis Java Bode . Pohon natal itu dihadirkan berkat sumbangan sejumlah donatur dan para anggota pengurus yayasandalam rangka menghadirkan semangat Natal kepada sekira 40 anak-anak asuhnyang sudah ditampung yayasan itu sejak 1855. “Di sebuah meja juga disediakan banyak hadiah dari para donatur. Selain pohon natal, anak-anak itu juga disuguhi kudapan-kudapan yang menciptakan senyuman di wajah anak-anak. Sebuah malam yang tak terlupakan untuk para penghuni cilik Yayasan Djattie,” lanjut suratkabar itu. Suasana Natal di Indonesia oleh orang-orang Belanda pada 1946 (kiri) & 1938 di sebuah rumahsakit di Bogor. ( nationaalarchief.nl ). Tak hanya di Batavia (kini Jakarta),di sebuah panti asuhan sederhana di Karesidenan Magelang juga diadakan pohon natal. Panti asuhan itudidirikan misionaris BelandaJohannes van der Steur. Selain menampunganak-anak telantar yang dipungut dari jalanan, panti juga maupun anak-anak korban perang. “Semalam, pada tanggal 25 (Desember, red. ), Natal dirayakan di gereja di bawah pimpinan Tuan Joh. van der Steur. Sebuah Pohon Natal dan hadiah-hadiah dihadirkan untuk anak-anak yang membutuhkan, juga pakaian-pakaian baru. Acara itu menarik minat banyak pihak, termasuk Residen (Magelang, red. ) dan keluarganya,” tulis suratkabar De Locomotief , 30 Desember 1897. Pohon natal bisa dibilang tradisi umat Kristen (Protestan), bukan Katolik. sebelum akhirnya tradisi itu turut menular ke Vatikan sejak 1982. Namun bagaimana sejatinya akar tradisi Pohon Natal itu sendiri? Pohon Keramat Dewa Thor Meski tradisi pohon natal lebih identik dengan umat Kristen (Protestan) , sejarahnya berakar dari sebuah peristiwa yang dialami salah satu penyebar agama Katolik, Santo Bonifasius , di tahun 723. Dalam Vitae Sancti Bonifatii auctore Willibaldi atau Riwayat Santo Bonifasius yang diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Uskup Willibald, kejadian itu berhulu dari upaya Bonifasius kala mengkristenisasi orang-orang di Germania (Jerman) yang mayoritas masih penyembah berhala. Pada tahun 723 saat Bonifasius sedang menyebarkan Katolik di sebuah wilayah, ia bertemu sekelompok penyembah berhala yang sedang menjalani ritual dengan tumbal seorang bayi. Bayi itu akan dikorbankan sebagai persembahan untuk Dewa Thor di bawah pohon donar. Pohon itu dikeramatkan para penyembah berhala di sebuah wilayah yang saat ini diyakini bertempat di sekitar kota Fritzlar, negara bagian Hesse di utara Jerman. Melihat hal itu, Bonifasius segera mengambil sebilah kapak dan menebang pohon tersebut dengan sekali tebasan diiringi rapalan doa atas nama Yesus Kristus. Meski angin kencang berhembus dan petir menggelegar di langit, Bonifasius tetap berhasil menumbangkan pohon keramat itu dan membuat para pemuja Thor takjub hingga segera beralih keyakinan masuk agama Katolik. Ilustrasi Santo Bonifasius menebang pohon penyembah berhala (Repro Walhall, die Götterwelt der Germanen ). Di balik pohon keramat tumbang itu, Bonifasius melihat sepucuk tunas pohon cemara. Ia pun melontarkan sabda: “Biarkan (tunas) pohon ini menjadi simbol Tuhan yang sebenarnya, biarkan daunnya senantiasa hijau dan takkan mati.” Namun, peristiwa itu tak serta-merta jadi tradisi Natal umat Katolik. Justru umat Protestan yang menghadirkannya kali pertama , di Katedral Strasbourg pada 1539 . Pendapat tersebut tentu bukan final. Ada beberapa pendapat lain , seperti pohon natal sudah dihadirkan lebih awal daripada di Katedral Strasbourg. Sejarawan Bernd Brunner merangkum beberapa di antaranya dalam Inventing the Christmas Tree . “Pada 1419 di Asrama Persaudaraan Freiburg disebutkan terlihat sebuah pohon didekorasi dengan apel, wafer, kue jahe, serta hiasan kertas di Rumahsakit Roh Kudus setempat,” ungkap Brunner. Klaim lain berasal dari dokumen yang belum bisa diverifikasi, lanjut Brunner, adalah klaim bahwa pohon natal pertamakali dihadirkan di Tallinn, Estonia tahun 1441. Pohonnya dipasang di depan balaikota diiringi pesta dansa. “Di Riga, Latvia, ada lagi klaim bahwa pohon natal pertama yang didekorasi sudah ada sejak 1510. Di sana para saudagar asing yang membentuk sebuah perkumpulan, mendirikan pohon yang didekorasi oleh anak-anak dengan apel, hiasan wol, dan jerami yang ditempatkan di depan balaikota sepanjang musim dingin,” sambungnya. Pohon Natal di Vatikan Seiring tempo menggelinding, umat Protestan di Jerman membawa tradisi menghias pohon di malam Natal lewat gelombang migrasi ke penjuru Eropa pada abad ke-16 dan Amerika yang bermula pada 1670-an. Tradisi itu dibawa umat Protestan dari beragam golongan. “Orang Lutheran Jerman membawa pohon Natal yang dihias bersama mereka; umat Moravian menghiasi pohon-pohon mereka dengan lilin. Saat menghias pohon natal, banyak yang kemudian memasang simbol bintang di pucuk pohonnya sebagai simbol Bintang Bethlehem,” ungkap Dorothy Wells dalam artikelnya, “Christmas in Other Lands” yang termuat di The School Journal Volume 55 terbitan 1897. Di Rusia, tradisi pohon natal sudah merambah sejak abad ke-17. Namun sejak Uni Soviet menggantikan Tsarisme Rusiapada 1917, tradisi itu dilarang seiring kampanye anti-agama Soviet. Meski tak satupun pohon natal eksis di Hari Natal, menghias pohon cemara ala pohon natalmasih diperbolehkan dalam kerangka festival tahun baru.Ritual-ritual peribadatan Kristen Ortodoks tetap dihilangkan. Pohon Natal di Lapangan Santo Peter, Vatikan. ( thesplendorofthechurch.com ). Sementara, para pemeluk Katolik Roma menyatakan pohon natal yang acap dihadirkan umat Protestan merupakan simbol paganisme atau penyembah berhala. Pandangan itu baru berubah pada 1982 di masa Kepausan Yohanes Paulus II. Paus Yohanes Paulus II bikin gebrakanbersamaan dengan dihadirkannya presepio atau diorama “Gua Natal” yang menggambarkan kelahiran Yesus Kristus berukuran besar di St. Peter’s Square. Menurut Uskup Agung Mieczysław Mokrzycki, salah satu sekretaris sang paus, pohon natal mulai dihadirkan di Vatikan demi membuat semangat Natal lebih dekat dengan suasana kekeluargaan yang hangatsebagaimana yang biasa dirasakan sang paus di negeri kelahirannya, Polandia. “Bapa Kudus (paus) sangat senang merayakan hari suci dengan atmosfer kekeluargaan, sesuai tradisi orang Polandia. Paus Yohanes Paulus II memulainya dengan menyalakan lilin di jendela pada malam hari yang jadi tradisi sejak 1981, ketika Jenderal Jaruzelski (Presiden Polandia, red. ) mengumumkan darurat militer; dan Wojtyła (Karol Józef Wojtyła, nama lahir Paus Yohanes Paulus II, red. ) ingin lilin itu sebagai simbol kedekatannya dengan rakyat yang dipersekusi,” tuturnya dalam Stories about Saint John Paul II: Told by His Close Friends and Co-Workers oleh Włodzimierz R ę dzioch. “Bapa Kudus sangat senang dengan pohon natal. Dulu di apartemennya selalu ada saja yang mengirim pohon natal dari Pegunungan Zakopane. Koridor apartemennya juga dihiasi presepio karena buatnyatidak ada Natal tanpa pohon natal dan presepio ,” tandas Uskup Agung Mokrzycki.
- Habis Natal Terbitlah Boxing Day
SEPEKAN liburan Nataru (Hari Raya Natal hingga tahun baru) jadi momen yang pas untuk berkumpul bersama keluarga atau dimanfaatkan untuk wisata jarak jauh. Namun tidak begitu di Inggris, yang punya tradisi Boxing Day dengan hiburannya berupa tontonan sepakbola. Untuk sepekan ini saja jadwal tim-tim elit Premier League sudah padat. Tentu membuat para pemain, pelatih, dan ofisial serta para penonton hanya akan merasakan liburan lewat menonton pertandingan sepakbola. Beberapa laga yang akan dihelat pun bakal krusial untuk perburuan gelar di momen Boxing Day , 26-28 Desember 2019: Chelsea vs Southampton, Tottenham Hotspur vs Brighton & Hove Albion, Sheffield United vs Watford, dan Liverpool vs Leicester City. Namun, apa itu Boxing Day ? Merujuk Oxford English Dictionary edisi pertama keluaran 1887, makna Boxing Day adalah liburan di pekan pertama setelah Hari Natal. Di era 1830-an, di Inggris mulai marak pemberian hadiah kado ( box ) sebagai bentuk rasa syukur di hari peringatan kelahiran Yesus Kristus. Kado itu biasa diberikan para orangtua kepada anak-anak mereka atau dari para juragan ke para pekerja. Meski belum disebut Boxing Day, tradisi itu sudah tercatat jauh sebelum abad ke-19. Catatan pelaut dan politisi Samuel Pepys dalam Diary of Samuel Pepys salah satunya . Dalam catatannya tanggal 19 Desember 1663, disebutkannya bahwa sudah menjadi kebiasaan untuk para pelayan diberi hadiah dari para majikan sekaligus diberi hari libur untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga satu hari setelah Hari Raya Natal. Di hari besar itu para pelayan sudah bekerja seperti biasanya melayani para tuan. Tradisi itu terus berlanjut hingga kini, bahkan menyebar lewat negeri-negeri koloninya yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Boxing Day dan Si Kulit Bundar Meski sepakbola bukan ditemukan di Inggris, tetap diakui orang Inggrislah yang mengembangkan permainan ini dengan rupa-rupa aturannya. Maka wajar sepakbola senantiasa hadir sebagai hiburan masyarakat lintas “kelas” di banyak momen besar, semisal Natal. Inggris pula yang melahirkan klub tertua yang masih eksis sampai sekarang, yakni Sheffield FC. Ia lahir pada 24 Oktober 1857. Sheffield FC memainkan pertandingan antarklub resmi pertama melawan Hallam FC dalam tajuk “Rules Derby” di stadion Sandygate Road, 26 Desember 1860. Sebelumnya, klub-klub saat itu sekadar bermain melawan timnya sendiri. Sheffield FC menang 2-0 di momen Boxing Day itu yang stadionnya disesaki penonton. Sebagaimana yang diungkap buku perayaan satu setengah abad klub, Sheffield FC: Celebrating 150 Years of The World’s First Football Club , laga itu jadi laga sepakbola pertama Boxing Day . Laga itu dirancang kedua petinggi klub untuk menegaskan semangat Natal. “Tidak ada kejadian buruk yang terjadi –permainan dilakukan dengan suasana yang baik dan dalam semangat persahabatan– dan ketika langit mulai gelap, Sheffield Club menang dua gol tanpa balas dan pulang dengan kemenangan yang memuaskan,” tulis suratkabar Sheffield Daily Telegraph , 28 Desember 1860. Sheffield FC, klub sepakbola tertua di dunia (Foto: Repro "Sheffield FC: Celebrating 150 Years of The World’s First Football Club) Laga Boxing Day pertama dalam kompetisi resmi baru terjadi di Football League musim perdana, 1888-1889. Football League di musim itu diakui sebagai kompetisi resmi tertua dengan format liga dan tetap menjadi liga kelas paling atas di Inggris hingga 22 klubnya memisahkan diri dan membentuk Premier League. Sebelumnya FA Cup-lah kompetisi resmi pertama dengan format turnamen, bergulir sejak musim 1871-1872. Di laga Boxing Day 26 Desember 1888 itu, Preston North End meladeni West Bromwich Albion dan menang telak 5-0. “Di laga inilah performa terbaik Preston terjadi di musim rekor mereka. Saat wasit meniup peluit terakhir, para pemainnya diberi tepuk tangan paling meriah oleh para penonton yang datang di Boxing Day itu,” ungkap jurnalis dan sejarawan sepakbola Mark Metcalf dalam The Origins of the Football League: The First Season 1888/89 . Suksesnya Boxing Day di musim pertama liga itu bikin jadwal musim berikutnya lebih gila. Seperti yang dialami Aston Villa, misalnya. Dua hari berturut-turut mereka berlaga kontra Preston pada Hari Natal 25 Desember 1899 dan meladeni Accrington di Boxing Day keesokan harinya. Itu jadi kali pertama sepakbola tercatat dimainkan di Hari Natal dengan mencatatkan sembilan ribu penonton selama dua hari itu. Baru pada 1965, FA (induk sepakbola Inggris) menetapkan tiada lagi jadwal yang diperbolehkan eksis pada Hari Natal, merujuk pengalaman di beberapa musim sebelumnya yang tak hanya kerap diganggu cuaca buruk namun juga dampak para pemainnya cedera parah. Kalaupun cuaca memungkinkan, laga hanya boleh dimainkan pada 26 Desember. “Tidak satupun klub yang boleh memainkan pertandingan pada Hari Paskah dan Hari Natal,” demikian pernyataan FA, dinukil C.W Alcock dalam The Classic Guide to Football . Sebuah laga Boxing Day di Liga Inggris 1985 Laga Boxing Day juga pernah dimainkan di tengah berkecamuknya Perang Dunia I, 1914, antara serdadu Inggris dan Jerman. Mulanya kisah itu sempat diangap mitos, hingga terungkapnya sebuah surat seorang Sersan Clement Barker dari Batalyon Ke-1 Grenadier Guards, dari front barat ke keluarganya, kala terjadi gencatan senjata antara kedua kubu yang berperang di Hari Natal. “Seorang Jerman muncul dari paritnya – tidak ada tembakan – pasukan kami pun tak menembak, dan kemudian yang terjadi adalah permainan sepakbola. Lantas malam tiba dan belum juga ada tembakan. Pada Boxing Day (26 Desember) juga sama dan terus begitu sampai sekarang,” tulis Barker dalam suratnya tertanggal 29 Desember 1914 dengan tujuan kepada adiknya, Montagu Barker di Ipswich, sebagaimana dikutip Daily Mail , 23 Desember 2012. Seiring tempo menggelinding, semarak Boxing Day menular ke segenap Inggris Raya. Mulai dari Wales, Skotlandia, hingga Irlandia Utara. Pun dengan bertumbuhnya industri sepakbola di Negeri Tiga Singa, para pembuat kebijakan Liga Inggris merancang Boxing Day tak lagi antar-rival sekota atau klub yang basisnya berdekatan. “Jumlah penonton selalu lebih besar ketimbang hari biasa. Namun laga derbi mulai jarang dijadwalkan di hari itu karena mereka tahu bahwa mereka bisa selalu mengharapkan tiket habis di tanggal 26 Desember, hingga akhirnya mereka memilih laga-laga derbi yang juga menarik perhatian banyak penonton di hari lain,” kata jurnalis olahraga Nick Szczepanik dalam Pulp Football: An Amazing Anthology of True Football Stories You Simply Couldn’t Make Up. Sejak 1992, Liga Inggris mulai kebanjiran pelatih dan pemain asing. Banyak yang kaget mereka tetap harus merumput di masa-masa liburan Natal hingga tahun baru. Pasalnya, tak satupun negeri di luar Inggris Raya yang menjadwalkan pertandingan di masa liburan Nataru. Ada yang mengkritik kebijakan itu, namun tak sedikit yang menerima tradisi itu sebagai tantangan. Aloysius Paulus Maria 'Louis' van Gaal, salah satu pelatih asing yang mengkritik tradisi Boxing Day (Foto: manutd.com ) Salah satu pengkritiknya adalah Louis van Gaal, pelatih Manchester United periode 2014-2016 asal Belanda. “Tidak ada jeda musim dingin dan saya rasa itu hal terburuk dari budaya ini. Sebenarnya tidak baik buat sepakbola Inggris, buat klub atau timnas. Inggris belum pernah memenangkan apapun dalam beberapa tahun terakhir, kan? Itu karena para pemainnya kelelahan di akhir musim,” ujarnya kepada The Guardian , 23 Oktober 2015. Keluhan lain juga disampaikan bek Liverpool periode 1999-2009 asal Finlandia, Sami Hyypiä dalam otobiografinya, From Voikkaa to the Premiership . “Bahkan kami latihan di Hari Natal. Bukan rahasia bahwa Liga Inggris punya jadwal di musim dingin dan saya sadar telah memilih karier ini dengan risiko naik-turunnya performa,” tulisnya. Namun pandangan lain dilontarkan pelatih Arsenal 1996-2018 Arsène Wenger yang menganggap, tradisi Boxing Day adalah hal unik yang tak ditemukan di belahan bumi manapun. “ Itu adalah daya tarik dan kegilaan sepakbola Inggris. Jelas Boxing Day berkontribusi mempromosikan Liga Inggris. Semua orang di negeri lain yang sedang libur dan bosan, takkan lagi merasakan kebosanan setelah melihat pertandingan Liga Inggris,” cetusnya, dikutip Ian Ridley dalam There’s Golden Sky: How Twenty Years of Premier League Has Changed Football Forever . Melihat suksesnya sepakbola Inggris dari masa ke masa dengan tradisi Boxing Day- nya, Lega Calcio selaku operator Serie A Liga Italia mencoba menyontek konsepnya pada musim 2018-2019. Niatnya memang untuk mendongkrak finansial. Maklum sejak skandal bola terbesar di Italia pada 2006, pamor sepakbola Italia menukik tajam. Stadion-stadion tak lagi terisi penuh seperti sebelumnya. Sayang eksperimen itu gagal. Dari rapat evaluasi pada April 2019 setelah melihat hasil Boxing Day Liga Italia pada Desember 2018-Januari 2019, tak menampilkan grafik signifikan. Jadwal laga-laga Boxing Day tak lagi ditetapkan untuk musim ini (2019-2020).
- Kisah Cinta di Tepi Sungai Cisadane
Pada 16 November 1965, Tuba bin Abdul Rochim, seorang pemuda dari Brebes, ditangkap karena menjadi anggota Pemuda Rakyat. Laki-laki yang lahir pada 14 April 1944 ini kemudian ditahan di Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba. Satu bulan kemudian, ia dipindahkan ke RTC Tangerang. Pada awal Februari 1966, proyek kerja paksa di RTC Tangerang dimulai. Para tahanan politik harus bekerja menggarap lahan untuk ditanami padi. Tuba termasuk di antara para pekerja paksa itu. Setelah tiga bulan menggarap lahan, Tuba dipindahkan ke bagian dapur untuk mempersiapkan ransum tapol, jatah makan peleton pengawal, dan petugas sipir penjara. Selain itu, Tuba dan 24 orang lainnya ditugasi untuk mencari kayu bakar ke daerah Serpong, Lengkong, Karawaci, dan sekitarnya. Dengan dikawal seorang CPM dan dua orang hansip penjara, mereka diperbolehkan mencari kayu bakar ke rumah-rumah penduduk dan menebang pohon yang cabangnya sudah berlebih. Setiap harinya, Tuba harus mengumpulkan 10 kubik kayu bakar. Hingga pada suatu hari, pekerjaan mencari kayu bakar ini membuatnya bertemu dengan seorang gadis desa yang tinggi semampai dan berkulit kuning langsat. Tuba jatuh hati dan mereka pun berkenalan. "Dia masih SMP. Namanya Aisyah. Tahi lalatnya itu gede di sini," kata Tuba kepada Historia sambil menunjuk dahi sebelah kirinya. Tuba dan Aisyah semakin dekat karena Tuba sering mencari kayu bakar di sekitar rumah Aisyah. Walaupun Tuba seorang tahanan politik, Asiyah menerima apa adanya. "Dan dia mengharapkan saya agar nanti, kalau misalkan bebas bisa bersatu lagi," cerita Tuba. Namun, perjumpaan Tuba dan Aisyah tak berlangsung lama. Hampir satu tahun mereka tidak bertemu karena Tuba pindah tempat mencari kayu bakar. Pada Agustus 1970, dalam rangka HUT ke-25 Republik Indonesia, Kota Tangerang ramai oleh pawai dan berbagai pertunjukan kesenian. Di Sungai Cisadane digelar perlombaan perahu. Sementara itu, Tuba yang dipekerjakan sebagai pembantu di rumah Komandan Kodim Tangerang, sedang mencuci pakaian di tepi Sungai Cisadane. Tak berapa lama, seorang gadis tiba-tiba datang mendekatinya dan berkata, "Bang, istirahat dulu." Gadis itu kemudian membungkukkan badan dan meletakan bungkusan makanan. "Bang istirahat dulu, ini aku bawain makanan," kata gadis itu lagi. Ketika Tuba menoleh ke arah gadis itu, ia terkejut mendapati Aisyah, gadis desa yang ia rindukan telah berdiri di hadapannya. Tuba langsung menjabat tangan Aisyah dengan erat dan enggan melepaskannya. Aisyah lalu bercerita tentang usahanya mencari Tuba. "Jadi dia selalu ingat Bang Tuba," kata Tuba. Hampir dua jam mereka bercerita sambil menghabiskan kue pancong. Aisyah kemudian pamitan sambil memberikan koran yang dibungkus kain putih. Sejak itu, setiap hari Aisyah menemui Tuba di tepi Sungai Cisadane dan memberikan koran kepada Tuba ketika ia sedang mencuci pakaian. "Kalau sore, dia itu beli koran yang baru, kemudian dibungkus pakai kain putih, kemudian ditaruh di bawah batu. Bang itu barangnya di bawah batu itu," kata Tuba menirukan Aisyah. Koran pemberian Aisyah itu menjadi satu-satunya sumber informasi tentang dunia luar bagi Tuba dan teman-temannya di dalam penjara. "Pertemuan saya dengan Mbak Aisyah diamini (oleh teman-teman), disetujui untuk kepentingan politik, bolehlah pacaran. Sehingga saya tidak ragu-ragu. Sehingga setiap hari berita masuk terus. Saat itu susah sekali untuk mendapatkan surat kabar," terangnya. Lagu Melati di Tepi Cisadane ditulis di dalam RTC Tangerang. (Andri Setiawan/Historia). Tuba kemudian meceritakan kisah cintanya kepada temannya, Slamet Riyadi. Slamet pun membuatkan lagu berdasar kisah Tuba dan Aisyah. "Kalau begitu saya ekspresikan kisah kamu itu jadi lagu," kata Slamet kepada Tuba. "Boleh silahkan saja. Asal namanya tidak perlu nama aslinya. Tapi bikin saja Melati," jawab Tuba. Akhirnya, jadilah lirik lagu berjudul Melati di Tepi Cisadane, yang mengisahkan asmara antara tahanan politik dan seorang gadis desa. Komposisi musiknya dibuat oleh teman Tuba bernama Ari Matupalewa. "Berkesan sekali lagu itu sampai sekarang betul-betul saya simpan," ungkap Tuba. Pada 1973, hubungan Tuba dan Aisyah harus terhenti. Tuba dipindah lagi ke penjara Salemba selama satu bulan. Kemudian bersama 1.000 lebih tahanan politik, ia dipindahkan ke Pulau Nusakambangan hingga akhirnya dibawa ke Pulau Buru pada November 1976. Pada November 1979, Tuba dibebaskan dari Pulau Buru. Ia mencoba untuk mencari Aisyah. Setelah beberapa kali mondar-mandir di sekitaran rumah Aisyah, ia bertemu dengan seorang perempuan yang mirip dengan pujaan hatinya. Namun, Tuba begitu sungkan untuk menegur. "Itu ada seorang perempuan mukanya persis sama, tahi lalatnya juga sama," ujar Tuba. Selain karena takut salah orang, Tuba berpikir bahwa mereka sudah putus hubungan cukup lama. Ia bahkan mendapat informasi bahwa Aisyah sudah menikah dengan orang lain. Tuba ikhlas tidak berjodoh dengan Aisyah. Toh, pada 1980, ia menikah dengan perempuan yang juga menerimanya apa adanya. Meski demikian, ia masih berharap bisa bertemu dengan mantan kekasihnya untuk melegakan hati.
- Agen Lokal CIA di Sumatra
SUATU pagi, pengusaha Hasjim Ning menemani Presiden Sukarno sarapan di Istana Merdeka. Selagi makan, Sukarno menyuruh Hasjim untuk pergi ke Padang menemui Letkol Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng dan Komandan Resimen IV. Sebagai bentuk protes terhadap pemerintah pusat, Husein mengambil alih pemerintahan sipil dari Gubernur Sumatra Tengah, Ruslan Muljohardjo, dan mengangkat dirinya sebagai Ketua Daerah.
- D.I. Pandjaitan Berkhotbah di Jerman
KETIKA menjabat Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Jerman, Kolonel Donald Isaac Pandjaitan punya pengalaman berkesan. Pendeta de Kleine, tokoh Gereja Protestan Jerman di Wuppertal-Barmen mengundangnya untuk memberikan ceramah. Dengan senang hati, Pandjaitan menerima undangan Pendeta de Kleine. Momentum itu berlangsung pada tahun 1960. “Mungkin maksudnya agar masyarakat Jerman mengetahui dan bangga, bahwa ada perwira TNI yang berasal dari Tanah Batak, tempat Mission Zending bertugas menyebarkan agama Kristen di sana sejak sebelum penjajahan,” kenang istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Kesediaan Pandjaitan bukan tanpa alasan. Sedari kecil waktu tinggal di Tarutung, Pandjaitan dibesarkan dalam lingkungan sekolah Zending Batakmission yang didirikan misionaris Jerman, Inger Ludwig Nommensen. Uniknya, Pandjaitan diminta mengenakan seragam formal TNI sedangkan istrinya memakai kebaya sebagai perlambang kebudayaan Indonesia. Dan tentu saja, Pandjaitan menyampaikannya dalam bahasa Jerman. Pandjaitan membuka khotbahnya dengan kelakar: “Dunia bisa berubah. Kalau dulu orang Jerman yang datang dan memberi khotbah kepada orang Batak, nanti bisa terbalik, orang Batak yang datang ke sini dan memberi khotbah kepada orang Jerman.” Para jemaat yang hadir mengiyakan sembari tersenyum. Album kenangan ketika Pandjaitan memberikan ceramah di Jemaat Wuppertal-Barmen, Jerman. (Sumber: dipandjaitan.blogspot.com .) Khotbah Pandjaitan dilanjut dengan mengenang ihwal mula penyebaran agama Kristen di Tanah Batak. Menurut Pandjaitan, gerakan misionaris Jerman melalui institusi pendidikannya meninggalkan warisan berharga bagi masyarakat suku Batak yang telah menerima ajaran Kristus. Peranan Batakmission yang dipelopori Nommensen kadang membuat orang-orang Batak bertanya dalam keheningan. “Mengapa justru orang Jerman yang berhasil memperkenalkan agama (dan pendidikan) ke kami Batak? (Mengapa bukan Belanda). Jawab: “Tentu ada maksud Tuhan!,” kata Pandjaitan. Naskah khotbah Pandjaitan setebal tujuh halaman ini termuat dalam laman yang dikelola keluarga Pandjaitan. Pandjaitan juga mempromosikan kehidupan toleransi beragama di Indonesia. Dia mengatakan lambang salib turut menghiasai nisan Taman Makam Pahlawan Indonesia yang merupakan pusara terakhir bagi para prajurit dan pejuang. Ini membuktikan semua anak bangsa Indonesia ikut berperang dan berkorban demi kemerdekaan tanpa membedakan agamanya. Kepada jemaat Wuppertal-Barmen, Pandjaitan menekankan betapa pentingnya bertahan dalam iman. Kegelisannya yang paling utama ditujukan kepada generasi muda. Menyitir laporan penelitian “Kinsey Report” tahun 1958, Pandjaitan mengungkapkan sebagian besar pemuda di Amerika telah meninggalkan gereja dan norma agama. Kemajuan teknologi, ekonomi, dan budaya, termasuk musik rock n roll turut mempengaruhi. “Karena mereka tidak TAHAN. Karena ajaran-ajaran Tuhan sudah tidak dianggap. Karena pemuda menjadi lemah maka cahaya kata kata Tuhan di hati mereka menjadi mati,” ujar Pandjaitan. Arsip naskah khotbah Pandjaitan yang ditulis dalam bahasa Jerman. (Sumber: dipandjaitan.blogspot.com .) Untuk meningkatkan daya tahan dari cobaan, kata Pandjaitan, kita perlu selalu mencari cahaya Tuhan. Dia berpesan kepada pemuda Jerman yang ada di jemaat itu agar terus maju ke depan membela negara dan bangsa terhadap serangan atheisme dari Jerman Timur. Karena menurut Pandjaitan, pemuda adalah darah dari suatu bangsa. Pemuda yang tidak mempunyai nasionalisme akan menjadi malapetaka bagi negaranya. “Pemuda yang sudah tidak lagi menghargai orang tuanya dan menolak bertemu pada Natalan akan mendapat ganjaran dari Tuhan. Nasib masa depan Kristen terletak pada pemuda-pemuda ini,” tegas Pandjaitan. Wejangan ini dipungkasi Pandjaitan dengan mengutip surat dari Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:31 yang berbunyi: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Khotbah Pandjaitan yang mengesankan itu ditutup dengan menyanyikan bersama lagu yang diciptakan oleh Martin Luther “Ein feste Burg ist unsere Gott” ( Benteng yang Kokoh adalah Tuhan Kami ). Berita Pandjaitan berkhotbah di Jerman terdengar sampai Jakarta, khususnya di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Pada pertengahan 1962, Pandjaitan menjadi Asisten IV Menteri Panglima AD yang membidangi logistik. Letjen Ahmad Yani yang menjadi Menteri Panglima AD menjuluki Pandjaitan dengan sebutan hormat: jenderal pendeta.
- Pesan Damai di Hari Natal
HARAPAN itu muncul tepat di malam Natal 1947. Usaha perdamaian telah membuahkan hasil. Indonesia yang sejak mengumandangkan kemerdekaan terus terjerat ambisi Belanda kembali menguasai negeri akhirnya dapat sedikit bernapas lega. Pasalnya Panitia Jasa-Jasa Baik (Committee of Good Offices) yang dibentuk atas dasar Resolusi Dewan Keamanan menyatakan kesediaannya membantu menengahi masalah kedua negara yang tengah berselisih itu. Lantas apa alasan Dewan Keamanan bersedia membantu menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda tersebut? Berdasarkan penuturan Frank P. Graham, wakil Amerika Serikat (AS) dalam Panitia Jasa-Jasa Baik, Dewan Keamanan ingin negara-negara di Asia Tenggara yang baru merdeka, termasuk Indonesia, menjadi negara bebas. Mereka juga meminta agar Indonesia dan Belanda segera menghentikan segala bentuk tindakan-tindakan permusuhan. “Dewan Keamanan memutuskan memberikan jasa-jasa baiknya kepada kedua pihak untuk membantuk menyelesaikan sengketanya secara damai, sesuai dengan paragraf b dari resolusi Dewan Keamanan tanggal 1 Agustus 1947: menjelaskan sengketanya dengan arbitrasi atau dengan cara damai lainnya dan senantiasa memberitahukan kepada Dewan Keamanan tentang kemajuan dari usahanya,” tulis Alastair M. Taylor dalam Indonesian Independence and The United Nations . Resolusi itu diterima oleh keduanya. Sesuai kesepakatan, baik Indonesia maupun Belanda harus menunjuk satu negara sebagai perwakilan mereka di dalam Panitia Jasa-Jasa Baik. Belanda lalu memilih Belgia sebagai wakil, sementara Indonesia memilih Australia, sedang AS ditunjuk sebagai anggota ketiga. Maka terbentuklah anggota Komisi Tiga Negara (KTN), yang selanjutnya menjadi dewan penengah dalam persoalan diplomasi ini. Namun meski menerima usulan Dewan Keamanan, Belanda menunjukkan sikap kurang kooperatif dalam setiap perundingan. Mereka secara terang-terangan meminta agar Dewan Keamanan tidak ikut campur dalam sengketa di Indonesia. Baginya soal ini adalah urusan dalam negeri, yang berarti Belanda masih mengakui Indonesia bagian dari negaranya. Belanda begitu gigih menentang berbagai upaya Dewan Keamanan. Menurut Nugroho Notosusanto, dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, dari hasil pengamatan Dewan Keamanan, Belanda masih melakukan aksi militernya ketika proses diplomasi sedang berlangsung. Mereka bahkan membuat kebijakan sepihak dengan menentukan garis batas kekuasaan mereka di Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai Garis Van Mook. Di belakang garis itu nantinya akan berdiri wilayah milik Belanda. Walau pada kenyataannya daerah-daerah di sana masih dikuasai Republik dan masih banyak pejuang yang melakukan perlawanan. Tidak hanya soal wilayah, Belanda juga mempersulit berbagai upaya perundingan anggota KTN. Hingga akhirnya AS terpaksa turun tangan dengan meminjamkan kapal perangnya yang saat itu sedang merapat di Tanjung Priok. Pada 8 Desember 1947, secara resmi upaya perdamaian secara politik dimulai dimulai lagi dari Renville. Karena Belanda senantiasa mengadakan siasat mengulur waktu, dengan pendirian yang bukan-bukan, maka baikpun dalam bidang militer, maupun perundingan politik pada akhir Desember tahun 1947, belum tercapai sesuatu kemajuan. Berkah Hari Natal Tanpa terasa perundingan telah sampai pada usaha yang ke-49 kali, tepat pada 25 Desember 1947. Diceritakan Mohamad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah , saat itu panitia sepakat menyerukan satu pesan sebagai bagian dari perayaan Natal, yakni “Pesan Hari Natal”. Pesan perdamaian itu menjadi harapan tersendiri bagi seluruh anggota perundingan yang ingin perselisihan segera berakhir dari kedua pihak. Pewakilan Belanda dan Indonesia diajak melihat kembali seluruh persoalan secara nyata dan lebih terbuka. Mereka diminta untuk menilai dampak dari perselisihan itu jika terus dilanjutkan. Banyak persoalan kemanusiaan yang pada akhirnya akan terabaikan dari situasi serba tegang tersebut. Hal itu juga akan merusak tujuan dari Dewan Keamanan dalam usahanya mendamaikan dunia. “Dalam pesan itu diingatkan dengan segala tekanan akan tanggung jawab kedua pihak untuk melaksanakan resolusi-resolusi Dewan Keamanan, kepada bahaya yang terkandung dalam pengangguhan lebih lama,” tulis Roem. Pesan Hari Natal memuat sedikitnya 12 usul untuk mencapai kesepakat politik antara Indonesia dan Belanda, di antaranya menerima garis Van Mook sebagai batas pemisah; menghentikan segala aktifitas yang berhubungan dengan pembentukan negara-negara di Jawa, Sumatera, dan Madura; menghentikan tindakan-tindakan agresif yang memicu perang, dan sebagainya. Mengetahui usulan itu, Belanda kembali melayangkan penolakan yang keras. Bagi mereka Panita Jasa-Jasa Baik sudah keterlaluan karena sebenarnya mereka tidak punya wewenang apapun. Kecuali kedua pihak setuju meminta panitia membuat usulan seperti itu. Terutama usulan untuk mengentikan pendirian negara-negara di Jawa dan Sumatera. Karena bagi mereka mendirikan negara boneka adalah siasat terbaik untuk menguasai kembali Indonesia. Ternyata tidak hanya Belanda yang kecewa dengan usulan itu, perwakilan Republik juga merasakan hal yang sama. Pihak Indonesia kecewa dengan usulan panitia karena dirasa tidak sesuai dengan keadilan dalam resolusi Dewan Keamanan. Terutama jika harus menerima genjatan senjata yang wilayahnya dibatasi oleh garis Van Mook. Bagi mereka garis itu dibuat satu pihak saja sehingga tidak adil rasanya jika menerima keputusan tersebut. Terlebih garis Van Mook memaksa Indonesia melepaskan daerah-daerah penting, yang didiami oleh kurang lebih 25 juta penduduk. Namun pihak Indonesia sendiri menerima usulan tersebut dengan syarat dipelajari terlebih dahulu. Sementara Belanda hanya menyutujui beberapa poin saja dan mengajukan konta usul kepada panitia. Salah satunya tetap memperbolehkan pembentukan negara-negara di dalam Republik. Perundingan pun berakhir dengan disetujuinya pembentukan negara bawahan Belanda. Seperti kita tahu, pada tahun-tahun berikutnya muncul negara-negara baru, seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. “Dalam pandangan panitia, Pesan Hari Natal merupakan sebuah kesatuan yang terjalin dan seimbang. Mutlak bagi penyelesaian terakhir sengketa,” kata Roem.
- Menguliti Muasal Pertunjukan Wayang Kulit
Gunungan muncul menari-nari dalam layar. Pertanda pagelaran akan dimulai. Gamelan gaya baru mengiringi. Para sinden bernyanyi dalam bahasa Indonesia. Begitupula sang narator yang bagaikan dalang membuka kisah pewayangan. Munculah Kertanegara, raja terakhir Singhasari dalam layar. Dalam wujud wayang, ia bermakutha dan mengenakan praba. Suara-suara terdengar tengah merapal mantra. Di belakang Kertanegara tergambar stupa. Ini penggambaran Kertanegara sedang melakukan ritual dalam ajaran Buddha Tantrayana. Seketika langit serupa merah darah. Pasukan Jaran Goyang dari Kadiri menggempur Singhasari, membakar, dan membunuh yang dilewatinya. "Bakar! Bakar! Bakar!" teriak mereka. Kertanegara dan semua pendeta kebingungan. Mereka masih separuh jalan menyempurnakan ritual Tantrayana untuk membangkitkan kekuatan sang Kalacakra di lapangan ksetra. Namun, api sudah di mana-mana. Serangan mendekat. "Jayakatwang!" teriak Kertanegara. "Raja Glang Glang terkutuk! Tak bisakah kau bersikap seperti layaknya kesatria? Kau mengerahkan pasukanmu pada saat pasukanku berlayar ke Sriwijaya. Kau menyerang di saat kami semua sedang melakukan ritual Tantra. Jayakatwang tunjukan dirimu! akan ku..." Tiba-tiba sebuah panah melesat menembus dadanya. Serapahnya terhenti seketika. Tertawalah Jayakatwang. "Si tua bodoh Kertanegara," katanya. "Teruslah bermimpi! Hukum alam menyatakan yang kuat dan cerdiklah yang akan berkuasa. Bukan raja yang gemar melakukan ritual sia-sia!" Matilah Kertanegara di tangan besannya sendiri. Singhasari pun binasa bersamanya. Wijaya, sang menantu berhasil kabur. Ia menyimpan dendam dan cita-cita meneruskan kembali pemerintahan Singhasari di Jawa. Episode itu mengawali pagelaran sinewayang karya sutradara Sambowo Agus Herianto di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautaman akhir pekan ini. Sinewayang Babad Majapahit dengan lakon Adiparwa Wilwatikta atau Berdirinya Kerajaan Majapahit itu menggabungkan gerak wayang kulit dengan penyajian ala film layar lebar. Pertunjukan selama kurang lebih dua jam ini diramu dari kisah runtuhnya Kerajaan Singhasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Kisahnya mudah dimengerti karena disajikan dalam bahasa Indonesia. Pagelaran wayang dalam bentuk sinewayang mengubah cara penyajiannya dari tradisi lama. Tradisi yang katanya telah ada sejak era perkembangan Hindu-Buddha di Jawa. Tak mudah menentukan kapan dan bagaimana wayang purwa pertama kali dikenal masyarakat Jawa. Tapi ada teori yang menyatakan kalau bentuk wayang kulit sekarang berasal dari penciptaan awalnya pada era pemerintahan Jayabhaya di Kadiri (1130-1160). Soedarso Sp menjelaskan itu dalam “Morfologi Wayang Kulit: Wayang Kulit dipandang dari Jurusan Bentuk”, yang disampaikan dalam Pidato Ilmiah Pada Dies Natalis Ketiga Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1987. Katanya , menurut R.M Mangkudimeja dalam Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami ing Jaman Kina dan Pangeran Kusumadilaga dalam Serat Sastramiruda Jilid I, pada awalnya wayang dibuat di atas daun lontar. "Dalam proses penciptaannya si pembuat mengacu pada bentuk arca yang mendapat pengaruh budaya Hindu," kata Soedarso. Bentuk wayangnya tak seperti wayang kulit yang dikenal kini. Wayang kulit sekarang adalah gabungan dari tampak depan, tampak samping, dan pandangan menyudut. Kalau dulu, wayang dibuat tampak depan. Dari menggunakan lontar kemudian berkembang menggunakan kertas. Pada masa Majapahit wayang kertas itu berkembang menjadi wayang beber. Namun, Soedarso tak sepakat dengan teori itu. "Wayang kulit tidak baru diciptakan pada zaman pemerintahan Jayabhaya," tegasnya. Berdasarkan Kakawin Arjunawiwaha gubahan Mpu Kanwa pada 1036, wayang sudah dibuat dengan memahat kulit. Sementara naskah Bhoma Kawya dan Bharatayuddha melengkapi penggambaran tentang bagaimana pertunjukkan wayang kulit dimainkan waktu itu. "Sampai pada adanya kelir, blencong, serta instrumen pengiringnya, dapat dipastikan apa yang tergambar pada 1036 itu adalah hasil perkembangan dari sesuatu yang sudah dimulai lama sebelumnya," kata Soedarso. Karena sangat populer, ini kemudian mengilhami timbulnya ide menghiasi dinding candi dengan adegan dari pagelaran wayang kulit. Khususnya pada candi-candi dari periode Jawa Timur (di atas abad ke-10), seperti Candi Surawana, Candi Jago, Candi Tigawangi, dan Candi Panataran. Relief kisah Parthayajna di dinding Candi Jago menampilkan tokoh Arjuna dan dua punakawannya (Foto: Risa Herdahita Putri) Pendapat Soedarso itu didukung data prasasti. Arkeolog Dyah W. Dewi dalam "Kesenian Wayang Pada Masa Jawa Kuno dan Persebarannya di Asia" termuat di Pertemuan Arkeologi V mengungkapkan wayang sudah dikenal di Nusantarasejak kurang lebih abad ke-9. "Itu sehubungan dengan diselenggarakannya suatu upacara untuk memperingati suatu kejadian," katanya. Ada banyak buktinya. Timbul Haryono, guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada dalam "Masyarakat Jawa Kuna dan Lingkungannya Pada Masa Borobudur", termuat di 100 TahunPascapemugaran Candi Borobudur, menjelaskan bukti tertua yang menyebut kata dalang ( haringgit ) adalah Prasasti Kuti (840 M) yang ditemukan di Joho, Sidoarjo. Dalam prasasti ini, haringgit dimasukkan ke dalam kelompok wargga i dalem. Artinya berada di lingkungan istana. " Haringgit adalah bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam Bahasa Jawa, yang berarti wayang," jelas Timbul. Sementara padanan kata untuk ringgit bisa dijumpai di Prasasti Tajigunung (910). Di sini istilah haringgit digunakan secara bergantian dengan awayang . Informasi lebih lengkap terkait wayang dihadirkan oleh Prasasti Wukajana dari dari masa Raja Balitung (907). Prasasti ini menyebut pertunjukkan lakon Bhimma Kumara , sebuah cerita sempalan dari Mahabharata. Kisahnya tentang Kicaka yang tergila-gila pada Drupadi. Di dalamnya juga tertulis kalimat "... mawayang bwat hyang ". Menurut prasasti itu, sang dalang menampilkan lakon Bhimma Kumara untuk hyang . Sejauh ini Bhima Kumara adalah satu-satunya lakon wayang yang disebutkan dalam prasasti. Ada pula wayang orang dan wayang beber. Istilah wayang wwang (wayang orang) muncul pertama kali dalam Prasasti Dhimanasrama dari masa Mpu Sindok (abad ke-10). Sementara informasi tentang wayang beber muncul dalam catatan Ma Huan, Yingya Shenglan pada awal abad ke-15.Catatan ini merupakan satu dari dua sumber penting Tiongkok yang banyak bercerita tentang Majapahit. Catatan itu menyebut adanya pertunjukkan seorang laki-laki yang mempertontonkan gulungan bergambar yang disangga dengan dua batang kayu. Ia berbicara dengan suara keras, menjelaskan kisah dalam gulungan itu kepada penonton. Di atas gulungan itu ada gambar manusia, burung, binatang buas, rajawali, atau serangga. Purwarupa Wayang Tradisi wayang kemudian diwariskan hingga masa perkembangan Islam. Menurut Sunarto dan Sagio dalam Wayang Kulit Gaya Yogyakarta Bentuk dan Ceritanya, diduga tradisi pewayangan yang telah ada pada masa Majapahit dilanjutkan pada masa Kerajaan Demak dan berakulturasi dengan kebudayaan Islam yang berkembang kala itu. Tradisi pewayangan ini kemudian didukung oleh kuasa keraton. Lalu dikembangkan oleh penguasa dan para sunan untuk dijadikan salah satu media dakwah Islam. Bentuk wayang kulit pada masa ini berubah lagi. Sunarto dan Sagiomenjelaskan bentuknya menyesuaikan dengan ajaran Islam yang berkembang. Terutama larangan membuat karya seni yang menyerupai bentuk makhluk hidup. "Penggambaran tokoh wayang seperti yang ada dalam relief candi kemudian berubah menjadi gaya yang telah distilasi dan mengarah pada perlambangan," jelasnya. Lebih lanjut, Sri Mulyono dalam Wayang, Asal-Usul, Filsafat dan Masa Depannya menjelaskan, yang berubah terutama adalah bentuk muka dan lengan. "Bentuk muka wayang kulit digambar miring, lengan dan tubuh dibuat panjang sehingga menjauhi gambar manusia yang sebenarnya," jelasnya. Namun, Soedarsono, guru besar bidang seni dan sejarah budaya UGM, dalam Beberapa Catatan tentang Seni Pertunjukan Indonesia melihat bentuk wayang kulit menjadi seperti yang sekarang bukan merupakan akibat dari stilasi masa Islam yang melarang membuat karya seni menyerupai makhluk hidup. Proses penyamaran dari wujud manusia sudah terlihat dalam seni masa sebelum Islam, yang terwujud dalam relief candi-candi. Pasalnya waktu itu pun cara penggambaran tokohnya memperlihatkan muka menyamping, dua bahu yang terlihat dari arah depan, disambung dengan dada dan perut dari arah samping, dan berakhir dengan tubuh bagian bawah yang menampakkan kedua kaki. "Itu menandakan perbedaan gaya seni antarmasa yang berbeda bukan terletak pada mana yang tidak distilir dan mana yang kemudian distilir, namun lebih kepada perbedaan bentuk stilasinya," jelasnya. Perkembangan wayang, khususnya wayang kulit kemudian menjadi sangat rumit ditelusuri. Kendati masih ada standardisasi gaya, atau yang dalam istilah pewayangan disebut dengan pakem. Ini paling terlihat, misalnya di wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Itu karena di sana ada pusat otoritas sebagai pemegang kendali berkembangnya tradisi. Di luar pakemnya, seni wayang berkembang leluasa. Makanya kini dikenal banyak bentuk wayang, dari segi bahan, tokoh, dan cerita. Wayang kulit Arjuna gaya Bali/Wikipedia Kendati sudah banyak perubahan, bentuk wayang kulit lawas itu kini masih bisa ditemukan jejaknya di Bali. Berdasarkan sejarahnya, hubungan Jawa dan Bali telah ada berkat Airlangga. Ia adalah seorang pangeran dari Bali, putra Raja Udayana dengan Putri Dharmawangsa Tguh yang naik takhta menggantikan kakeknya di Jawa. Berikutnya, Bali dan Jawa terhubung setelah adanya ekspedisi Majapahit ke wilayah itu pada 1343. Ini berakibat pada kekalahan di pihak Bali. Semenjak itu, menurutahli bahasa P.J. Zoetmulder dalam Kalangwan, dapat dikatakan wilayah Bali mengalami proses Jawanisasi. Figur dan tata busana wayang kulit Bali umumnya punya kemiripan dengan penggambaran tokoh dalam relief candi-candi masa Jawa Timur. Bahkan, Soedarsono dalam Wayang Wong Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta mengatakan kalau wayang Bali merupakan kesinambungan dari wayang Jawa Timur. Maka bisa dibilang kalau ingin membayangkan bagaimana rupa boneka wayang pada masa kuno, bisa dilihat wayang gaya Bali sekarang. Walaupun telah mengalami beberapa modifikasi, bentuk wayangnya tetap melestarikan bentuknya dari masa kuno.
- Kartini yang Pluralis
DI Indonesia, bisa jadi Kartini hidup hanya pada setiap 21 April. Anak-anak perempuan di sekolah merayakannya dengan mengenakan kebaya sebagai perlambang identitas gender. Sementara itu, Kartini dimasukan ke dalam sangkar emas sebagai pendekar feminisme. Namun nyatanya, dalam membaca pemikiran Kartini ada hal yang abai diperbincangkan, yaitu pandangannya tentang hak asasi manusia dan pluralisme. Demikian pendapat sejarawan Didi Kwartanada dalam diskusi panel Seminar Sejarah Nasional “Membayangkan Indonesia di Hari Depan” di Aston Priority Hotel & Conference, 4 Desember 2019. Apabila merujuk surat-suratnya dalam versi asli, Kartini juga mengungkapkan kegelisahannya tentang diskriminasi minoritas pada zaman kolonial. Menurut Didi, membaca ulang pemikiran Kartini tentang pluralisme - yang belum banyak diungkap - merupakan isu yang relevan bagi keadaan Indonesia dewasa ini. Dalam makalahnya “Membayangkan Indonesia yang Berbhineka: Kartini dan Pandangannya Mengenai Tionghoa dan Arab”, Didi mencatat empat surat Kartini yang memperlihatkan empatinya terhadap kalangan minoritas Tionghoa dan Arab. Mengapa Tionghoa dan Arab? Dalam struktur masyarakat kolonial, kedua etnis ini menempati posisi warga kelas dua sebagai kelompok vreemde oosterlingen (timur asing). Didi Kwartanada (memegang mikropon) dalam diskusi panel Seminar Sejarah Nasional "Membayangkan Indonesia di Hari Depan" di Aston Priority & Conference, 4 Desember 2019. Foto: Martin Sitompul/Historia. Bagi pemerintah kolonial, orang-orang Tionghoa dan Arab dapat dipakai sebagai minoritas perantara ( middleman minority ) yang membawahkan masyarakat pribumi. Orang Tionghoa dan Arab secara ekonomi relatif makmur tetapi rentan manakala ada gesekan politik. Di masa-masa terjadi kekosongan kekuasan atau ketika penguasa membutuhkan kambing hitam, merekalah yang kerap dipersalahkan dan menjadi korban. “Belanda itu seharusnya barat asing tetapi mereka mengasingkan-asingkan orang Tionghoa, Arab - yang notabene datang ke Nusantara jauh sebelum orang Belanda -, dan orang Hindia. Jadi, itu diskriminasi yang sangat parah dilakukan oleh Belanda,” ujar Didi. Kartini yang hidup di akhir abad 19, telah menyadari diskriminasi yang dialamatkan kepada etnis minoritas tersebut. Dalam kumpulan suratnya berjudul Door Duisternis tot Licht: Gedachten over en voor het Javaanse Volk ( DDTL ) yang diterbitkan pada 1911, termuat dua surat yang berbicara soal orang Tionghoa. Pertama , dalam surat bertanggal 3 Januari 1902, Kartini memuji Oei Tiong Ham, saudagar kaya pengusaha gula sebagai sosok yang dermawan. Di pihak lain, Kartini mencela sikap pemerintah kolonial yang selalu memojokan orang Tionghoa. Kedua , surat bertanggal 17 Juni 1902 yang ditujukan kepada Ny. De Boiij-Boissevain. Dalam surat itu, Kartini sangat terkesan dengan kabar beberapa perempuan Tionghoa yang hendak menempuh ujian guru. Hal ini membuat Kartini jadi ingin tahu lebih banyak tentang Tionghoa .Dia pun menyatakan simpati yang mendalam kepada kaum perempuannya. “Hura! Untuk kemajuan! Saya sungguh gembira tentang hal itu! Orang-orang Cina sangat keras dalam mempertahankan adat: sekarang kita lihat juga, bahwa adat yang paling keras dan paling lama dapat dipatahkan juga! Saya mendapat semangat dan harapan ,” seru Kartini sebagaimana dikutip Didi. Terlihat bahwa kemajuan di kalangan putri Tionghoa itu banyak menginspirasi Kartini. Satu budaya atau adat yang sudah berlangsung ribuan tahun dan membelenggu perempuan ternyata tidak bisa melawan kemajuan. Kartini optimis, betapa kerasnya kungkungan adat istiadat pada akhirnya dapat dipatahkan. Pada 27 Oktober 1902, dalam surat menyurat kepada Ny. Abendanon, Kartini menceritakan bahwa dia pernah sakit keras. Di tengah dera penyakit itu, Kartini mengaku tiada yang mampu menolongnya, termasuk dokter Eropa. Kartini barangsur sembuh setelah disuruh minum abu lidi dari Klenteng di Welahan, Jepara oleh seorang Tionghoa. Maka dengan penuh syukur, Kartini mendaku dirinya, “bahwa saya anak Buddha.” Sementara itu, surat tertanggal 14 Desember 1902 yang masih ditujukan kepada Ny. Abendanon adalah surat yang paling panjang dan memberikan argumen paling kuat dari Kartini tentang kemajemukan. Disini, selain golongan Tionghoa, Kartini banyak bicara juga mengenai golongan Arab di Rembang. Selain itu, Kartini juga menyuarakan protesnya akan sekat-sekat pemisah dan diskriminasi yang dibangun keluarganya serta masyarakat terhadap golongan Tionghoa. Sayangnya, surat-surat Kartini yang memuat pesan pluralisme itu luput ketika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Pada 1938, Balai Pustaka untuk kali keduanya menerjemahkan DDTL melalui sastrawan Pujangga Baru, Armijn Pane. Ironisnya, Balai Pustaka memutuskan tidak mengalihbahasakan DDTL secara utuh seperti edisi sebelumnya dengan alasan keterjangkauan harga. Total 22 surat yang sengaja dihilangkan oleh Armijn Pane yang diberi kuasa untuk menyunting terjemahahan yang diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang . Penyensoran ini, menurut Didi, seturut dengan jiwa zaman saat itu yang masih dibatasi sekat rasial. Selain dipraktikan pemerintah kolonial, kaum nasionalis pun masih enggan memberikan ruang untuk berbaur dengan kelompok timur asing, khususnya Tionghoa dalam satu organisasi. Dan inipun jamak terjadi. Adapun versi terlengkap dari surat-surat Kartini dapat dilihat dalam terjemahan filolog UGM, Sulastin Sutrisno yang berjudul Kartini: Surat-surat Kepada Ny. R.M. Abendanon Mandri dan Suaminya , terbit pada 1989. Dalam terjemahan ini, Sulastin memuat surat Kartini secara lebih utuh, termasuk pandangan Kartini tentang kemajemukan. Di tengah zaman yang diliputi diskriminasi etnis minoritas, Kartini telah maju selangkah. Disamping perhatian terhadap kaum perempuan yang lain menonjol dari Kartini adalah ketulusan hatinya dalam berinteraksi dengan berbagai golongan. Bagi Kartini, kemajemukan adalah satu keniscayaan. Dengan begitu, kata Didi, “Kartini layak diberi gelar ‘Pelopor Pluralisme’”.






















