Diperbarui: 10 Sep
DI KALANGAN mahasiswa angkatan 1980-an, mempelajari pemikiran Bung Karno merupakan perbuatan tabu. Setidaknya hal itulah yang dialami Hilmar Farid yang kini menjabat Dirjen Kebudayaan. Pria yang akrab disapa Fay ini masuk Universitas Indonesia (UI) pada 1987 dan memilih jurusan Ilmu Sejarah.
“Itu pada puncak-puncaknya kekuasaan Orde Baru yang tentu kita tahu dilakukan Desukarnoisasi secara TSM (terstruktur, sistematis, dan masif),” kata Hilmar saat membuka seminar mengenang Peter Kasenda bertajuk “Bung Karno Sebagai Pewaris Zamannya” di Galeri Museum, Menteng, Jakarta Pusat, 27 Juni 2019.
Pun ketika di bangku SMA, lanjut Hilmar, dia tidak pernah mendengar soal ide kebangsaan Sukarno dan Marhanisme diajarkan. Apalagi mendengar soal gagasan Trisakti –yang dikemukakan Sukarno pada 1964- dijadikan sebagai suatu landasan pembangunan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















