top of page

Sejarawan Sukarnois Berpulang

Peter Kasenda, sejarawan produktif yang sepenuh hati meneliti Sukarno.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 11 Sep 2018
  • 3 menit membaca

GRUP WhatsApp Alumni Sejarah UI terhentak oleh kabar duka. Berita tersiar: Peter Kasenda meninggal dunia (10/9). UI kehilangan salah satu sejarawannya yang produktif.


Meski terhitung sebagai junior, saya tak pernah jumpa beliau di kampus. Maklum saja, Peter Kasenda alumni sejarah UI angkatan 1980 sementara saya angkatan 2010. Terpaut dua puluh angkatan.


Kali pertama bersua dengan Bang Peter sekira medio 2013 di Megawati Institute. Saat itu, beliau membawakan materi tentang pemikiran Sukarno. Guyon dan tawa selalu menyelingi kuliahnya, menjadikan pemikiran Sukarno begitu hidup dan tak berjarak.


Selalu tentang Sukarno. Sedari lama Peter menggumuli pemikiran Sukarno. Peter Kasenda menulis mulai dari pemikiran Sukarno muda, percintaan Sukarno, hingga hari-hari terakhir presiden pertama Indonesia itu. Skripsinya berjudul “Machtsvorming dan Machttsaanwending: Studi awal terhadap tulisan-tulisan Soekarno tahun 1926–1933” rampung tahun 1987.


Dalam abstraksi skripsinya, Peter mengulik pemikiran Sukarno yang dituangkan secara tertulis. Beberapa di antaranya terdapat di harian Indonesia Moeda, Soeloeh Indonesia Moeda, dan Fikiran Ra'jat, kemudian pledoi pembelaan Indonesia Merdeka dan risalah Mencapai Indonesia Merdeka yang ditulis Sukarno antara 1926–1933. Melalui buah pikiran Sukarno tadi, Peter meneliti bagaimana Sukarno punya gagasan untuk menumbangkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda yang mencengkram tanah airnya yang begitu indah, kaya dan subur itu.


“Kepada mereka yang tak pernah merasa menikmati hasil pembangunan,” tulis Peter Kasenda dalam satu halaman khusus. Kepada merekalah Peter mendedikasikan karyanya. Tak lupa dia mengucap terimakasih kepada orang-orang kecil macam pedagang buku bekas di Kramat Raya dan Pasar Senen. Mereka yang mau bersusah payah mengadakan buku-buku yang diperlukan Peter dalam penelitiannya.


Sebelum dikenal sebagai sejarawan produktif, sejak muda Peter telah aktif menulis, baik di media maupun jurnal. Tulisan pertamanya mengenai Sukarno dimuat harian Prioritas pada 2-3 Oktober 1986. Skripsinya pun kemudian dibukukan pada 2010 berjudul Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 19261933. Selain itu, Peter juga membukukan sejumlah penelitian sejarah kontemporer maupun biografi.


Beberapa karya Peter antara lain: Heldy Cinta Terakhir Bung Karno (2011), Hari-hari Terakhir Sukarno (2012), Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD: Zulkifli Lubis (2012), Soeharto (2013), Sukarno, Marxisme & Leninisme (2014), Bung Karno Panglima Revolusi (2014), Sarwo Edhie dan Tragedi 1965 (2015), Hari-hari Terakhir Orde Baru (2015), Soekarno Di Bawah Bendera Jepang (2015), Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016).


Di kalangan sejawat, Peter dikenal sebagai sosok yang karib. Rekan sepantaran Ali Anwar yang juga redaktur senior Tempo mengenang Peter yang selalu menyapa “selamat pagi” di grup WhatsApp Sejarah UI. Menurut Ali, Peter adalah segelintir contoh sejarawan sejati. Meski pada era Orde Baru banyak orang alergi dengan Sukarno, Peter tetap tekun menulis tentang Sukarno yang diawali dari beberapa surat kabar sampai buku.


“Peter sosok yang bersahaja, menganggap adik-adik kelasnya sebagai teman. Dia amat ikhlas membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan literatur dan bimbingan,” kata Ali Anwar lewat pesan WhatsApp.


Pun demikian terhadap junior yang lain. Hendaru Tri Hanggoro, alumni sejarah UI 2005 yang juga rekan sesama jurnalis di Historia mengingat Peter sebagai sosok sederhana nan rendah hati.   


“Bang Peter, senior yang sangat ramah dan kemana-mana naik angkot,” tutur pemuda yang akrab disapa Ndaru ini. “Terakhir kali ketemu beliau di dalam terminal Kampung Rambutan, 2017, dengan kemeja batiknya.”


Tak hanya di kalangan terdekat, Peter juga cukup dikenal lintas angkatan. Setidaknya melalui karya-karyanya. “Intelektual panutan dengan sejumlah karya-karya tentang Sukarno yang baik hasilnya,” kata Agil Kurniadi, alumni sejarah UI 2010.


Rekan lain seangkatan saya, Servulus Erlan de Robert pun senada. “Cerdas dan humoris. Seorang sejarawan-cum-penulis yang produktif,” ujar Erlan. “Saya banyak menikmati karya-karya mendiang. Ia dan buah-buah pemikirannya akan tetap lestari.”


Insan sejarah patut berterimakasih pada Peter Kasenda karena karya-karyanya. Selamat jalan Bang Peter.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page