top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Raja Sebagai Penjelmaan Dewa

    Dia berbadan Dewa Wisnu. Dia dalam keadaan makmur di dunia dan di negara. Dia adalah Cri Jayawarsadigjayasastraprabhu. Ia disembah di seluruh dunia betul-betul sebagai matahari, bulan dan air. Dirinya yang sebagai seribu bulan disembah di dunia. Pembukaan Prasasti Sirah Keting dari 1104 itu menyebut Raja Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu yang dikeramatkan bagai Dewa Wisnu. Konsep semacam ini mengingatkan pada tokoh dalam kesusastraan, Rama atau Kresna yang dikisahkan sebagai penjelmaanWisnu di dunia.   Apa yang tergambar dalam prasasti masa Kadiri itu bukan satu-satunya. Pada masa kuno, umum terjadi jika seorang pemimpin, yaitu raja, dipuja bagai penjelmaan dewa. “Pada masa itu mulai dikenal konsep dewaraja atau raja suci, raja yang memiliki sifat keramat seperti dewa,” kata Sudrajat, sejarawan Universitas Negeri Yogyakarta. Hal itu bukan hanya di Jawa atau Nusantara. Sudrajat dalam “Konsep Dewa Raja dalam Negara Tradisional Asia Tenggara” yang disampaikan dalam Workshop Mengajar dan Meneliti Asia Tenggara di Pusat Studi Asia Tenggara UGM (2012) menjelaskan, di Asia Tenggara banyak pula raja yang mengidentifikasi dirinya sebagai titisan dewa. Dewa Wisnu dan Siwa banyak dipilih raja-raja terdahulu sebagai kekuatan yang ada dalam diri mereka. Raja sebagai titisan Wisnu akan dinilai sebagai raja pencipta kesuburan dan kemakmuran bagi kerajaan. “Sehingga tercipta stigma raja sebagai pengatur dan pemelihara kerajaan,” kata Sudrajat. Bukti-bukti paling tua tentang pemujaan terhadap raja terdapat di Champa dan di Kamboja (Khmer) pada era Pra-Angkor. Di Khmer kuno terdapat pemujaan kepada pemimpin yang dianggap keramat. Pemujaan itu setelah dia dilantik menjadi raja. “Pemimpin itu dianggap mempunyai hubungan khusus dengan Dewa Siwa atau Wisnu,” kata Sudrajat. Prasasti Sdok Kak Thom (802) menguraikan, Raja Jayavarman II mengidentifikasikan diri sebagai Dewa Indra. Dalam kepercayaan Hindu, Dewa Indra adalah raja para dewa yang bersemayam di Indrolaka. Indra pada masa awal Veda dijuluki dengan Devaraja atau rajanya para dewa. Raja-raja di Champa juga kerap menyatakan diri sebagai jelmaan dewa tertentu. Salah satu Prasasti Champa abad ke-9 menyebutkan seorang penguasa bernama Uroja sebagai pendiri dinasti. Ia dipercaya sebagai anak Siwa Mahadeva. Raja-raja Pagan di Myanmar (Burma) juga menggunakan nama dewa sebagai gelar. Misalnya Makutarajanamarajadhiraja yang artinya “mahkota raja para raja”, gelar Dewa Indra. Iswararaja artinya “dewanya para raja”, yaitu Siwa. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munadar dalam Mitra Satata menilai, raja di Asia Tenggara memang sengaja memilih gelar yang “keren” sebagai julukan. “Rakyat di kerajaannya tentu akan lebih menghormati raja yang memiliki gelar dengan kata-kata yang berasal dari bahasa impor, yaitu Sanskerta,” jelas Agus. Menurut Agus, pada masa lalu Sanskerta dianggap bahasa bergengsi yang baku oleh kaum agamawan India, terutama dari kalangan Veda dan Hindu Trimurti. Bagi penganut Buddha pun begitu. Kendati menggunakan bahasa Pali sebagai bahasa pengantar penyebaran agama, kata-kata dari Sanskerta tetap digunakan untuk menamakan konsep dharma Buddha. Menurut Agus, konsep dewaraja bukan hal yang baru dilakukan pada masa kerajaan Hindu Buddha. Bukan pula berasal dari kebudayaan India. Konsep ini bisa dibilang lanjutan dari kepercayaan pada masa prasejarah. “Yaitu transformasi konsep pemujaan arwah leluhur yang telah dikenal oleh penduduk Asia Tenggara sejak masa perundagian menjelang awal Masehi,” katanya. Ketika budaya India mengenalkan nama dewa untuk menjuluki kekuatan supranatural, masyarakat Austronesia menerimanya. Mereka menyetarakan konsep dewa itu dengan arwah nenek moyang yang mereka puja.

  • Ganda Campuran, dari Pemain Sisaan Jadi Andalan

    SERASA masih ada yang mengganjal. Dari empat laga final Indonesia Open ke-38 pada Minggu, 21 Juli 2019, hanya ganda putra yang mampu dimenangkan wakil tuan rumah. Yang disayangkan adalah asa di ganda campuran. Sektor ini sejak era 1990-an turut jadi andalan Indonesia di berbagai gelanggang. Terakhir sektor ini memberi satu-satunya medali emas kepada Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, kala pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet) mengalahkan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di final. Dipandang Sebelah Mata Sebagaimana ganda putra, ganda campuran mulanya juga dipandang sebelah mata. Sebagaimana dalam olahraga tenis, nomor ganda di badminton juga kalah pamor dibanding tunggal. Alhasil, tidak ada pelatihan khusus. Pemilihan pemain hanya bersandar pada penilaian pelatih bahwa si pemain bisa mengemban tugas rangkap, tunggal maupun ganda. Realitas itu lumrah pada dekade 1970-an. Pemain ganda legendaris Christian Hadinata pun mengalaminya. “Biasanya pemain tunggal merangkap ganda. Di Kejuaraan Asia 1971, saya malah merangkap di dua nomor ganda. Di ganda putra dengan Ade (Chandra) dan ganda campuran dengan Mbak Retno Koestijah, di mana kita juara di ganda campuran,” ujar Christian kepada Historia. Setahun berselang, Christian berganti pasangan dengan Utami Dewi, adik dari Rudy Hartono, untuk tampil di Olimpiade Munich. Kala itu bulutangkis masih jadi cabang olahraga demonstrasi dan duet Christian/Utami Dewi membawa pulang medali perunggu. Christian Hadinata & Imelda Wiguna, legenda ganda campuran pemenang All England 1979. (badmintonindonesia.org) Prestasi Christian di nomor ganda campuran terus melejit. Bersama Imelda Wiguna, keduanya menjuarai All England 1979. Ketika berpasangan dengan Ivana Lie, Christian berhasil merebut medali emas Asian Games 1982. “All-England 1979 tidak ada yang menyangka. Waktu itu ganda campuran baru populer di kalangan Eropa. Di Asia apalagi di Indonesia, tidak diminati, tidak diseriusi. Begitu juga dengan Ivana di Asian Games (1982). Di Asian Games salah satu kenangan paling manis juga karena suasananya berbeda jika tampil di ajang multi-event seperti Asian Games itu,” sambungnya. Sempat menurun, sumbangan prestasi dari ganda campuran bangkit lagi sejak 1990-an. Sektor ini jadi tanggungjawab Richard Mainaky, eks pemain tunggal dan ganda putra, yang diajak Christian melatih di Pelatnas PBSI. Mengawali dari asisten pelatih pada 1994, dan dua tahun berselang Richard memegang penuh pembinaan ganda campuran. Ia memoles anak-anak asuhnya dari sisa sektor-sektor lain. “Bicara materi dan kualitas, sektor ganda campuran ya bisa dibilang pemain sisa. Tapi ya inilah tantangan saya untuk mengubah pemain buangan jadi pemain juara,” kata Icad, sapaan akrab Richard. Kerja keras Icad berhasil melahirkan bibit demi bibit ganda campuran yang melanjutkan estafet prestasi di sektor itu. Setelah Tri Kusharyanto/Minarti Timur, berturut-turut hadir pasangan Nova Widiyanto/Vita Marissa, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet), hingga Praveen Jordan/Debby Susanto. Semua lahir dari pola keras yang diterapkan pria berjuluk “Pelatih Bertangan Besi” itu. “Saya (punya) prinsip begini. Sebenarnya pelatih itu bukan harus pintar ya. Dia harus mau tegas, disiplin, kerja keras di lapangan. Itu yang membuat atlet berhasil. Kalau pelatih hanya pintar tapi tidak tegas dan kerja keras, mau pemain bagaimanapun akan sulit. Jadi prinsip tegas, kerja keras, dan disiplin semua harus jalan,” sambungya. Hampir semua gelar pernah dipetik anak-anak asuhnya, kecuali Piala Sudirman. Utamanya lewat perjuangan Owi/Butet, duet yang dibesut Icad dari nol. Richard Leonard Mainaky, pelatih kepala ganda campuran Pelatnas PBSI. (Randy Wirayudha/Historia). Sayangnya semua anak asuhnya gagal menyandingkan gelar juara sebagaimana rekan mereka di ganda putra pada Indonesia Open 2019. Owi bersama partner barunya, Winny Kandow, keok di perempatfinal oleh duet Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (11-21, 21-14, 14-21). Owi masih dalam masa transisi setelah “bercerai” dari Butet Januari lalu. Ini jadi pekerjaan rumah Icad berikutnya agar bisa tune dengan pasangan barunya itu. “Tontowi/Winny kalah pengalaman, khususnya Winny. Sedangkan lawan pengalamannya segudang. Itu tanggungjawab saya. Ke depannya kami akan selalu benahi kekurangan secepat mungkin,” ujar Icad di lain kesempatan, dikutip situs resmi PBSI , 19 Juli 2019.

  • Kisah Kerajaan Lamuri di Aceh

    Lewat Prasasti Tanjore dari abad ke-10, bangsa Cola di India mengingat kekuatan dahsyat Ilamuridesam. Kerajaan ini menandai adanya sistem kerajaan paling awal di Tanah Rencong.  Prasasti Tanjore dikeluarkan penguasa Cola, Rajendracola I pada 1030, sekira lima tahun setelah ekspedisi ke wilayah Sumatra dan sekitarnya. Di dalam prasasti, Ilamuridesam tercatat sebagai salah satu negara yang ditaklukkan, selain Sriwijaya, Pannai, dan Malayu. George Coedes dalam  Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha mengidentifikasi Ilamuridesam sebagai Kerajaan Lamuri. Lokasinya diperkirakan di ujung utara Sumatra. Setelah dikalahkan Kerajaan Cola, tulis O.W. Wolters dalam  Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII , Lamuri diubah menjadi salah satu mandala kerajaan Tamil itu. Penamaan Ilamuridesam pun baru ada sejak kekalahan itu. Ilamuridesam, menurut Ambo Asse Ajis, Peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, berasal dari kosakata dalam Bahasa Tamil. Nama itu merujuk pada suatu wilayah luas, di antara Afrika, Sri Lanka, dan Nusantara. “Daratan itu tidak ada lagi dan dipercaya telah berada di bawah Samudera Hindia akibat bencana alam,” kata Ambo. Dalam “Ramni-Ilamuridesam: Kerajaan Aceh Pra-Samudera Pasai”, termuat di Berkala Arkeologi Sangkhakala ,Ambo menjelaskan sebelum diberi nama Ilamuridesam, kerajaan ini dikenal dengan nama Ramin (Ramni). Penamaan yang lebih lawas itu ditemukan dalam catatan orang Arab pada abad ke-9. Ia berasal dari Dinasti Abassiyah yang sangat aktif mendatangi Selat Malaka.  “Akibat penaklukan yang dilakukan oleh Rajendra I dari Kerajaan Colamandala, Kerajaan Ramin kemungkinan dianeksasi , namanya menjadi Ilamuridesam,” jelas Ambo . Pemberian nama Ilamuridesam juga berkaitan dengan kisah Ramayana dan Mahabarata dalam tradisi Tamil. Alkisah, ada seorang tokoh bernama Nayan, sahabat Rama sekaligus saudara Rahwana. Untuk membantu sahabatnya, Nayan membangun jembatan sepanjang 4.500 km dari Sri Lanka sampai India. Nayan adalah putra Mahamuni Mayan yang tinggal di Ilamuridesam. Ambo menduga pemberian nama itu adalah hasil penyesuaian karakter negeri Ilamuridesam dengan Ramni. Keduanya memiliki kesamaan geografis, masyarakatnya tinggal dekat sungai, memiliki gajah, dan kekayaan tambang. "Hal ini sekaligus menjadi sarana legitimasi kekuasaan Rajendracola I," jelas Ambo. Bukan Kerajaan Islam Pertama Setelah Lamuri ditaklukkan, penduduknya kemudian mayoritas orang Tamil. Kondisinya tergambar dalam beberapa catatan asing.  Ahli geografi Tiongkok, Chau-Yu-Kwa, dalam Chen  Fan Che  pada 1225 , menyebutkan lokasi Kerajaan Ilamuridesam dengan pelafalan Lan-Wu-Li . Cirinya belum Islam dan istananya memiliki dua ruang t amu . Jika bepergian, rajanya ditandu atau mengendarai seekor gajah. Komoditas perdagangan nya adalah kayu sepang, gading gajah, dan rotan putih. Marcopolo, penjelajah dari Venesia yang mampir ke Sumatra pada 1292,menyebut penduduk Lamuri belum beragama Islam. Mereka masih menyembah berhala. Menurut Ambo, catatan asing dari abad ke-13 menunjukan pada masa itu masyarakat di Lamuri atau Ilamuridesam belum memeluk Islam. Mereka masih beragama Hindu, sebagaimana bangsa Tamil. Ma Huan kemudian memberitakan, ketika dia berkunjung ke Lamuri pada abad ke-15, seluruh penduduknya sudah beragama Islam. Dalam Yingya Shenglan, penerjemah resmi Cheng Ho itu bercerita banyak hal tentang negeri Lam-bo-li, yang diidentifikasi oleh Groeneveldt sebagai Lambri atau Lamuri. Menurut Ma Huan, negeri itu terletak di sebelah barat Sumatra dan berjarak tiga hari pelayaran. Waktu itu, dari 1.000 keluarga yang mendiaminya, seluruhnya sudah memeluk Islam. Begitu pula rajanya. “Hasil analisis itu tampaknya berbeda dengan hasil interpretasi yang dilakukan (Repelita wahyu, red . ) Oetomo, yang menyebut Lamuri atau Ilamuridesam adalah kerajaan Islam sebelum Samudera Pasai,” kata Ambo.

  • Mencegah Pes Mewabah

    MENGERIKANNYA wabah pes di Jawa pada awal abad ke-20 membuat pemerintah kolonial melakukan berbagai cara untuk mencegah penyebarannya. Cara-cara pencegahan yang dilakukan pemerintah tak jarang mengundang reaksi naif dari warga bumiputra. Ketika wabah pertama merebak tahun 1910, tahun berikutnya pemerintah kolonial melakukan disinfeksi di Malang dengan mengasapi rumah penduduk. Namun, kampanye berskala besar itu menimbulkan kecurigaan besar penduduk. Liesbeth Hesselink dalam Healers on the Colonial Market menyebut, warga bumiputra mengira prosedur disinfeksi sebagai sihir jahat yang dilakukan Belanda. Alhasil, usaha pencegahan itu acap menemui penolakan. “Ada yang rumahnya diasapi, dikurung pakai kain besar, dan warganya disuruh menyingkir dulu sementara,” kata Martina Safitry, dosen sejarah IAIN Surakarta yang pernah meneliti sejarah wabah pes di Jawa untuk tesisnya, pada Historia . Penolakan juga terjadi kala petugas kesehatan hendak mendeteksi penyebab kematian penduduk. Biasanya mantri akan melakukan pengambilan jaringan limfa pada jasad korban. Selepas itu, jaringan limfa diteliti untuk menentukan penyebab kematian, pes atau bukan. Namun, ketidaktahuan warga seringkali menyulitkan mantri yang bertugas. Mereka menolak prosedur itu, mengusir petugas kesehatan dan melemparinya dengan batu. Namun, sebenarnya penduduk takut pada wabah pes sehingga di beberapa daerah melakukan usaha pencegahan sendiri. Di Jawa Barat, penduduk memagari desa dengan bambu setinggi atap rumah. Tujuannya, mencegah warga desa tetangga yang terjangkit pes pindah ke desa mereka. Tapi, upaya mengurung seluruh desa ini agak muskil karena beberapa tempat tidak bisa dipagari, misalnya sungai, kebun, atau semak. Lalu, tidak semua warga patuh pada ide ini. Mereka yang tetap ingin bekerja dan lalu-lalang ke desa tetangga terpaksa menyelinap lewat tempat-tempat yang tidak bisa dikurung bambu dan tidak dijaga. Upaya pencegahan pes juga dilakukan lewat rekomendasi perbaikan rumah agar tidak jadi sarang tikus. Program ini diatur dengan rinci dalam Besluit 25 April No. 4064/52 bahwa pekarangan rumah harus bersih dan rapi agar terhindar dari sarang tikus. Segala barang, baik di dalam atau di luar rumah, harus diletakkan pada tempat yang luas dan mudah dibersihkan agar tidak ada tikus yang sembunyi. Bambu bulat dan bambu yang masih kotor tidak boleh digunakan untuk membuat perkakas dan perabot rumah. Baik di dalam rumah maupun di pekarangan tidak diperbolehkan meletakkan barang secara tidak beraturan. Untuk melancarkan program ini, pemerintah mengirim petugas kesehatan untuk mengawasi jalannya perbaikan rumah. Hadjiwibowo, serdadu Royal Dutch Marine, seperti ditulis Liesbeth dalam bukunya, menceritakan bagaimana ayahnya bekerja sebagai pengawas perbaikan perumahan di Departemen Kesehatan Hindia-Belanda. Ayah Hadjiwibowo harus memastikan warga mengganti tiang bambu dengan balok jati, karena tikus cenderung bersarang di bambu berongga. Ayahnya sering dipindahtugaskan untuk berbicara tentang penyebaran wabah dari Jawa Timur ke Jawa Barat. Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina menyebut pemerintah juga memberikan sanksi bagi siapapun yang melanggar aturan perbaikan rumah. Aturan ini dicatat dalam pasal 2 Staatsblad No. 484 tahun 1916. Orang kulit putih ataupun pribumi yang melanggar akan dikenakan denda 100 gulden atau bila tidak sanggup membayar akan dipenjara selama satu hingga enam hari. Karantina juga dilakukan agar penyakit pes tidak menular. Bila satu orang terkena pes, satu keluarga akan diungsikan. Dalam praktiknya, seringkali bukan satu keluarga yang diungsikan, melainkan satu desa. Ini dilakukan lantaran kebiasaan penduduk untuk mengunjungi orang yang sakit. Padahal, ketika berkunjung belum tentu kutu tikusnya sudah mati tapi malah menular ke penjenguknya. Ketika dikarantina, tiap desa biasanya dijaga dua-tiga petugas atau polisi desa. Hal itu menyebabkan penduduk sering kucing-kucingan dengan menyelinap keluar kamp karantina pada sore hari. Mereka menjaga rumah masing-masing pada malam hari agar tak kemalingan. Paginya, penduduk akan kembali ke kamp karantina. Selain alasan keamanan, penduduk menolak dikarantina karena perlakuan tidak layak. Mereka harus tidur berdesakan sementara pemberian makan seringkali dilempar dari luar lantaran petugas takut tertular. “Perlakuan semacam itu kan tidak menghargai, jadi ada yang menolak dikarantina,” kata Martina. Untuk menghindari diungsikan, banyak warga yang akhirnya menutup-nutupi bila ada keluarga atau tetangganya yang terjangkit pes. Beberapa orang berusaha berobat ke dukun dan diobati dengan dioleskan minyak kelapa panas ke seluruh tubuh. Pengobatan dukun nyatanya tak berhasil sehingga ujung-ujungnya tetap diobati oleh para mantri yang diterjunkan ke desa.

  • "Anak Tiri" di Pertempuran Kranji

    SEEKOR ikan arapaima raksasa menjadi pemberintaan Singapura pada 6 Juli 2019. Dengan panjang dua meter dan bobot 150 kilogram, ikan itu hampir membunuh Shannon Lim, seorang peternak, saat akan dipindahkan. “Arapaima mendorong pria berbobot 92 kilogram itu –‘seperti ketika seorang ibu menyeret anaknya di sebuah mal’– sebelum menyundul dadanya, mengakibatkan cipratan hebat dan menjatuhkan Lim ke air,” demikian diberitakan channelnews asia.com . Raksasa air tawar itu berada di sebuah peternakan di Lim Chu Kang, dekat Kranji Reservoir. Di dekat reservoir itu pula seekor buaya sepanjang 3,4 meter ditemukan sebulan sebelumnya. “Waduk Kranji sebenarnya ditetapkan sebagai cagar, dan dulunya merupakan rawa bakau luas yang mendukung kekayaan satwa liar. Kebutuhan akan pasokan air yang meningkat membawa perubahan dramatis pada area tersebut,” tulis buku terbitan Centre for Advanced Studies, National University of Singappore, Public Space: Design, Use and Management . Di wilayah berawa di barat daya Singapura inilah pada awal 1942 penduduk Singapura bahu-membahu dengan pasukan Inggris-Australia menghadang pendaratan pasukan Jepang di bawah pimpinan Mayjen Takuma Nishimura. Setelah sukses menduduki Pantai Sarimbun, pasukan AD ke-25 Jepang di bawah pimpinan Letjen Tomoyuki Yamashita langsung mengambilalih Istana Sultan Johor untuk dijadikan markasnya. Yamashita kemudian menjadikan garis Kranji-Causeway Johor yang –dijaga Brigade ke-22 (bertugas di barat Sungai Kranji) dan ke-27 (timur sungai) AD Australia di bawah pimpinan Brigjen Duncan Maxwell– membentang sepanjang empat kilometer sebagai titik pendaratan kedua untuk masuk ke jantung Singapura. Untuk melaksanakan tugas itu, Yamashita menugaskan Nishimura dengan pasukan Imperial Guard-nya. Langkah Yamashita telah diantisipasi pihak Sekutu-Inggris sejak jauh hari. Pada akhir 1941, Gubernur Singapura Sir Shenton Thomas mendapat telegram rahasia dari sekretaris urusan koloni yang berisi permintaan agar menghilangkan kepentingan sepihak dengan cara merangkul kaum Tionghoa untuk ikut berjuang menahan kemungkinan pendudukan Jepang. Menindaklanjuti perintah itu, gubernur mengadakan pertemuan dengan komunitas Tionghoa di Kuala Lumpur. Hasilnya, pemilihan Tan Kah Kee, tokoh Tionghoa terkemuka di Singapura, sebagai ketua organisasi sukarelawan Tionghoa untuk menghadapi Jepang. Ribuan orang Tionghoa lalu mendaftarkan diri ke dalam barisan sukarelawan pimpinan Tan itu. Mereka lalu dilatih teknik dasar militer oleh Letkol John Dalley, perwira intelijen di Kepolisian Khusus Malaya, dan disatukan ke dalam pasukan bernama Dalforce. “Sebagai hasil dari bantuan yang diberikan Tan Kah Kee, pasukan besar gerilyawan Tiongkok, berjumlah sekitar dua ribu, dibentuk oleh Dalley di Kuala Lumpur dari beragam kelompok Tionghoa –beberapa dari mereka telah ditahan oleh Inggris sebelum perang akibat kegiatan Komunis dan dibebaskan dari penjara untuk mengabdi bersama Dalforce– yang ditambah oleh siswa, guru sekolah, penarik becak, dan buruh Tiongkok. Mereka dibagi menjadi beberapa kompi, masing-masing di bawah komando seorang perwira Inggris,” kata Leon Comber dalam bukunya Dalley and the Malayan Security Service, 1945-48 . Namun, Inggris setengah hati membentuk Dalforce lantaran banyak anggotanya merupakan komunis. Selain hanya memberi 10 hari latihan dasar militer, Inggris mempersenjatai beberapa personil Dalforce dengan senapan usang Lee Enfield .303 berikut jatah peluru 24 butir, beberapa granat tangan, dan bayonet. Banyak personil hanya bersenjatakan senapan berburu. Para personil Dalforce juga hanya dibekali seragam biru berikut ban lengan segitiga, tak ada topi apalagi helm. Meski dianaktirikan, semangat juang para personil Dalforce tetap tinggi. “Dari semua pasukan yang mempertahankan Singapura, Dalforce dikatakan yang paling termotivasi untuk melawan Jepang,” sambung Comber. Simpati terhadap saudara mereka di China yang diduduki Jepang sejak 1930-an menjadi alasan di balik keinginan mereka bertempur melawan Jepang. Kegigihan mereka dibuktikan ketika menahan gerak-maju Jepang di Pantai Sarimbun. “Pada 8 Februari 1942,” kata lektor senior Singapore University of Social Sains (SUSS) Tan Wei Lim dalam buku Cultural Heritage and Peripheral Spaces in Singapore , “Kompi Dalforce No. 2 (berjumlah 150 orang) mundur dari Jalan Lim Chu Kang dan kemudian berenang melalui Sungai Kranji untuk mencapai Jalan Choa Chu Kang, hanya sekitar 60 yang hidup untuk menceritakan kisah mereka.” Ketika Nishimura resmi melancarkan serangannya dengan dibuka oleh bombardir kanon ke Desa Kranji, para personil Dalforce dan prajurit Brigade ke-27 Australia bertahan di hutan bakau sekitar Kranji sambil menunggu kedatangan para prajurit Jepang. Mereka telah menumpahkan di depo Sungai Mandai Kecil ke sungai. Begitu para prajurit Jepang mulai menyeberangi selat dengan menggunakan perahu motor dan sebagian berenang, pasukan Sekutu langsung membakar sungai berminyak tadi dan menghujani lawan dengan tembakan. Korban Jepang berjatuhan, banyak yang mati terbakar. Pasukan Nishimura mundur kembali ke Johor. Baru di jam-jam awal 10 Februari pasukan Jepang kembali ke Kranji. Pertempuran sengit pun terjadi. Namun, kali ini perlawanan dari Sekutu hanya dilakukan pasukan Dalforce yang sudah hampir kehabisan amunisi. Kekuatan tak imbang itu membuat Jepang kemudian berhasil merebut wilayah Kranji-Causeway.   “Mereka hancur berkeping-keping. Mereka menggunakan semua amunisi mereka. Tidak ada yang terluka untuk dibawa kembali. Mereka berdiri di tanah mereka. Mereka mendapat perintah untuk tinggal dan mereka tinggal. Dan mereka semua mati. Batalion senapan mesin Australia tidak tinggal di sana. Mereka mundur. Mereka ketakutan,” kata Kenneth Attiwill, personil Australia yang menyertai Dalley menginspeksi kompi Sungai Kranji pagi harinya, sebagaimana dikutip Cheah Boon Kheng dalam “Japanese Army Policy Toward Chinese and Malay-Chinese Relations in Wartime Malaya”, termuat di Southeast Asian Minorities in the Wartime Japanese Empire . Sehari sebelum Inggris menyerah pada Jepang pada 15 Februari, Dalley membubarkan Dalforce. Para mantan anggotanya melarikan diri, sebagian ke Sumatra tapi mayoritas ke Semenanjung untuk bergabung dengan Malayan Peoples Anti-Japanese Army. Mantan kombatan yang belum sempat melarikan diri dan tertangkap Jepang, dieksekusi dalam Pembantaian Sook Ching. Usai perang, Inggris menutup rapat-rapat sejarah Dalforce. Penyebabnya apa lagi kalau bukan banyak anggota Dalforce merupakan komunis. “Meskipun diadakan upacara publik 6 Januari dan 8 Juni 1946 di Singapura dan London, pihak berwenang menolak mengakui bahwa anggota Dalforce secara resmi menjadi bagian dari pasukan Kerajaan Inggris tahun 1942. Para veteran bersikeras Inggris harus mengakui mereka bukan laskar, tetapi berada di bawah Komando Malaya. Veteran mengklaim bahwa Kolonel Dalley telah memberi tahu mereka saat pembubaran pada 1942, bahwa ‘Anda tentu akan menerima perlakuan sama dengan Tentara Inggris’, kata Karl Hack dan Kevin Blackburn dalam buku War Memory and the Making of Modern Malaysia and Singapore .

  • Intel Indonesia Bantu Pelarian Intel Prancis

    Kapal Rainbow Warrior milik organisasi lingkungan, Greenpeace, menjadi andalan dalam kampanye menentang uji coba nuklir Prancis di Pulau Moruroa, Pasifik. Pihak Prancis tak terima. Pada 10 Juli 1985, kapal yang tengah bersandardi Pelabuhan Auckland, Selandia Baru itu, diledakkan oleh anggota Dinas Intelijen Prancis (Direction Generale de le Securite Exterieure atau DGSE). Fotografer Greenpeace, Fernando Pereira, menjadi korban tewas. Kepolisian Selandia Baru menangkap sepasang suami-istri asal Prancis, Alain Turenge dan Sophie Turenge. Hasil penyelidikan mengungkap bahwa keduanya adalah Mayor Alain Mafart dan Kapten Dominique Prieur, anggota Dinas Intelijen Prancis. Peristiwa itu membuat publik marah. Pers mencecar pemerintahan Francois Mitterand. Laporan yang dirilisnya pada 27 Agustus 1985 tak memuaskan dan mengungkap kebenaran. Pelengseran Mitterand pun menguat. Menteri Pertahanan Charles Hernu mengundurkan diri. Pada 22 September 1985 Perdana Menteri Prancis Laurent Fabius buka suara tentang keterlibatan Dinas Intelijen Prancis. “Perdana Menteri Laurent Fabius mengakui DGSE telah memerintahkan 'netralisasi'  Rainbow Warrior dalam apa yang disebut  Operation Satanic ,” tulis John E. Lewis dalam Terrorist Attacks and Clandestine Wars. Laksda TNI (Purn.) Soedibyo Rahardjo. (ReproThe Admiral) Ternyata, dalam peristiwa itu, Dinas Intelijen Prancis meminta bantuan intelijen Indonesia (Sintel Hankam/ABRI) untuk menyelamatkan agennya yang diburu Kepolisian Selandia Baru. Beberapa agen Dinas Intelijen Prancis melarikan diri menggunakan pesawat milik Prancis, UTA (Union de Transports Aériens). Pesawat itu melakukan refueling di Jakarta. Aparat dari Kedutaan Besar Selandia Baru sudah menunggu mereka di bandara Jakarta. “Saya diam-diam meminta para agen Prancis untuk tidak turun dari pesawat selama proses pesawat UTA itu mengisi bahan bakar. Mereka selamat dari jebakan dan pulang ke Prancis,” kata Soedibyo Rahardjo dalam memoarnya, The Admiral . Saat itu, Soedibyo Rahardjo menjabat Paban (Perwira Diperbantukan) VII Sintel Hankam/ABRI untuk urusan luar negeri. Pada 1986, Sintel Hankam/ABRI menjadi Bais (Badan Intelijen Strategis) ABRI. Bantuan intelijen Indonesia kemudian dibalas oleh Dinas Intelijen Prancis. Namun, Soedibyo tak menyebut kasusnya. “Beberapa waktu kemudian ketika Sintel ABRI memerlukan kerja sama dengan Dinas Rahasia Prancis, dengan cepat mereka memenuhi permintaan kami,” kata Soedibyo yang kemudian menjabat Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI. Soedibyo menyebut saling membantu itu sebagai “kesetiakawanan dinas intelijen.”

  • Yang Terbuang, Yang Gemilang

    GEMURUH ribuan penonton di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta makin semarak. Sorakan dukungan hingga cemoohan untuk meneror lawan meramaikan jalannya pertandingan demi pertandingan sejak dimulainya Indonesia Open ke-38, 16-21 Juli 2019. Kendati para pendekar raket Indonesia satu per satu berguguran, dukungan para penonton tanah air tak luntur. Utamanya karena di turnamen berlevel Super 1000 ini Indonesia berhasil menaruh empat pendekarnya di partai puncak, yakni di nomor ganda putra. Pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya berhasil membuat nomor tersebut dengan akhir All-Indonesian Final. Dari babak-babak awal, kedua pasangan andalan tuan rumah itu tampil gemilang dan tak terbendung. Pasangan “The Minions”, julukan Marcus/Kevin, akhirnya mencomot gelar juara. Padahal, nomor ganda dulu merupakan nomor buangan yang dimainkan oleh para pebulutangkis yang terdepak dari persaingan di nomor tunggal. Seperti dalam olahraga tenis, dalam bulutangkis mulanya hanya nomor tunggal putra dan putri yang punya prestis tinggi. Christian Hadinata, pemain ganda legendaris Indonesia era 1960-an, merasakan betul atmosfer itu. Saat itu bulutangkis Indonesia tengah kebanjiran pemain tunggal. Lantaran spot untuk tunggal putra di berbagai kejuaraan kaliber dunia terbatas, hanya yang terbaik bisa tampil di sektor prestisius itu. Sisanya, terdepak ke ganda. Kelaziman lainnya adalah para pemain tunggal merangkap main di nomor ganda. Selain Christian, ada Rudy Hartono atau Liem Swie King. “Memang awalnya saya tunggal. Lalu ke belakang sering double (ganda) dengan Christian atau Kartono. Waktu masih muda, fokus enggak terpecah. Fisik masih kuat. Tapi makin tambah umur, ya mulai jadi masalah. Terakhir saya merangkap di Thomas Cup 1984. Hasilnya tunggalnya kalah, double -nya menang,” ujar King kepada Historia . Liem Swie King pernah merangkap ganda putra beberapa kali dalam catatan kariernya. Titik Balik Kebiasaan rangkap itu membuat perhatian pada pembinaan sektor ganda jadi minim. Pada akhirnya, ganda dipandang sebelah mata. Namun, perlahan anggapan itu berubah sejak gelar demi gelar dibawa pulang para jagoan ganda Indonesia macam Tjun Tjun/Johan Wahyudi atau Ade Chandra/Christian Hadinata. Prestasi mereka jadi titik balik pandangan bahwa ganda putra juga bisa membanggakan, bukan lagi buangan. “Memang dulu pelatihan di pelatnas dan klub tidak spesifik ada ganda putra. Biasanya pemain tunggal merangkap ganda. Di Kejuaraan Asia 1971, saya malah merangkap di dua nomor ganda. Di ganda putra dengan Ade dan ganda campuran dengan Mbak Retno Koestijah. Prestasinya cukup baik (juara ganda campuran, red),” kata Christian kepada Historia . Pamor sektor ganda makin gemilang setelah pasangan Christian/Ade Chandra juara di All England 1972. Dunia tak menyangka Indonesia punya pasangan kuda hitam di nomor ganda yang menemani kedigdayaan Rudy di nomor tunggal putra turnamen bulutangkis tergaek itu. “Itu pengalaman yang enggak akan pernah lupa. Waktu itu kita satu-satunya ganda putra Indonesia yang ikut All England. Kita masih dipandang remeh. Selama ini kan saingan-saingan kita tahunya kekuatan Indonesia hanya di tunggal putra. Ganda putra enggak dipandang,” Christian melanjutkan. Christian Hadinata, legenda ganda putra Indonesia. (Randy Wirayudha/Historia) Prestasi tersebut membalikkan pandangan publik yang awalnya memandang sebelah mata. “Saat kita masuk semifinal, mereka heran, lho kok ada semifinalis dari Asia, dari Indonesia. Saya ingat, saat masuk lapangan, ada lampu bulat disorot ke pemain sampai ke tengah lapangan utama. Rasanya luar biasa jadi pusat perhatian ketika kita tak diunggulkan dan belum punya nama,” sambungnya. Sejak itu, pamor ganda kian melambung. Gelar demi gelar ganda putra, mulai dari All England hingga Olimpiade, nyaris tak pernah lepas dari genggaman wakil Indonesia. Sektor ganda putra pun perlahan jadi perhatian PBSI. Tongkat estafetnya diteruskan Christian sebagai pelatih sejak 1990. Nama-nama para pasangan juara terus bermunculan, menyambung estafet yang dimulai di era Christian. Ada Eddy Hartono/Rudy Gunawan, Ricky Subagdja/Rexy Mainaky, Sigit Budiardjo/Candra Wijaya, hingga yang terbaru Markus Gideon/Kevin Sanjaya.

  • Batavia Kota Polusi

    KAMIS (4/7/2019), Tim Advokasi Gerakan Inisiatif Bersihkan Udara Koalisi Semesta menggugat sejumlah pejabat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dikutip dari dw.com , diketahui ada 31 orang yang melayangkan gugatan Citizen Law Suit (CLS). Mereka menuntut pemerintah segera membuat kebijakan baru terkait polusi udara di ibu kota yang terus memburuk. Adapun pejabat yang tergugat dalam kasus ini antara lain: Presiden, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Jawa Barat, dan Gubernur Banten. Sementara itu sebuah cuitan dari akun @rifandaputri  di Twitter menghebohkan jagat maya. Cuitan yang telah 13.000 kali dibagikan itu memperlihatkan perbedaan kualitas udara di Jakarta dan Manado dari atas pesawat. “Mungkin selama ini gue ga begitu aware sama perubahan polusi di Jakarta, sampe akhirnya hari ini sepulang dari Manado bener-bener kaget dan jadi merasa insecure banget ternyata udah separah itu polusi udara di Jakarta,” tulis @rifandaputri . Masalah polusi bukan soal baru di Jakarta. Sudah sejak abad ke-17 pemerintah kolonial Belanda fokus menangangi hal ini. Mereka melakukan banyak perencanaan agar Batavia (sebutan Jakarta waktu itu) terlihat indah, bersih, dan terbebas dari polusi. Meski dalam praktiknya, persoalan lingkungan agaknya sulit diatasi dan terus menghantui masyarakat di Batavia. Awal Masalah Sejak pertama didirikan pada 1619, Batavia telah diproyeksikan menjadi basis kegiatan ekonomi Belanda di Hindia Timur. Hanya dalam waktu 10 tahun, kota ini telah membangun pusat-pusat kegiatan produksi dan dihuni oleh 20 ribu orang dari aneka rupa bangsa. Namun ternyata pertumbuhan itu telah memunculkan permasalahan baru, yakni polusi. Semakin berkembang Batavia, semakin cepat pula polusi ini muncul. Tidak hanya pabrik-pabrik, masyarakatnya pun ikut ambil bagian dalam pencemaran lingkungan di Batavia Dalam tulisannya, “Urban Pollution in Java 1600-1850” dimuat Issues in Urban Development , Luc Nagtegaal menyebut aktivitas perdagangan internasional yang begitu besar di Batavia telah menyisakan sampah-sampah. Bau tak sedap pun merebak di beberapa sudut kota yang menjadi pusat keramaian industri. “Pada 1630, tumpukan sampah di jalan dan kanal Batavia menjadi masalah. Sampah-sampah ini, terutama sekali, terdiri dari abu, batu bata, kapur, daun palem, dan material lainnya. Ini ditambah lagi bangkai ikan dari beberapa pasar.” tulis Luc. Tidak hanya dari aktivitas dagang dan produksi, kegiatan biologis masyarakat pun turut mencemari kanal-kanal di sana. “Bentuk utama polusi air adalah feses.” lanjut Luc. Batavia kala itu belum menerapkan sistem sanitasi yang baik. Penduduk biasa memakai guci untuk menampung kotoran. Kemudian setelah dirasa perlu dibuang, mereka akan mengalirkannya ke kanal dan kali. Praktik semacam itu sangat mengganggu mana kala kanal dan kali mampat di musim kemarau. Bau busuk kotoran akan tercium selama berhari-hari hingga aliran kanal kembali lancar. Akibatnya udara di kota pun ikut terdampak. Sama seperti pencemaran air, polusi udara juga ikut membuat penat penduduk Batavia. Pencemarannya berasal dari pabrik gula, pabrik mesiu, pabrik batu bata, penggergajian kayu, penyulingan arak, dan pabrik kapur. Mayoritas ditemukan di sepanjang kali yang membelah Batavia. Bondan Kanumoyoso dalam disertasinya, Beyond the City Wall , menyebut beberapa lokasi pabrik-pabrik gula di Batavia. Ada 16 pabrik gula di Ciliwung, 36 pabrik di sepanjang Kali Sunter, dan 26 pabrik di tepi Kali Peranggrahan. “Jumlah itu bertambah pada 1710, ketika industry ini mencapai kejayaannya,” tulisnya. Sementara itu pabrik bubuk mesiu dan lainnya telah berdiri sejak 1657 di wilayah pinggiran Batavia. Menurut Luc, dari semua pabrik yang ada, tempat produksi mesiu lah yang paling berbahaya. Zat polutan yang dihasilkan benar-benar sangat beracun. “Penduduk di kota itu tak tahan lagi. Sebagian besar memilih pindah ke wilayah yang lebih sehat di luar kota,” ucap Luc. Upaya Penanggulangan Melihat semakin besarnya dampak dari polusi di kotanya, Pemerintah Tinggi Batavia segera bertindak. Mereka menerapkan hukuman bagi masyarakat yang membuang sampah ke jalan atau kanal. Pemerintah Batavia juga mempekerjakan sekelompok orang yang bertugas mengangkut sampah. Para pertugas itu akan menyusuri kanal untuk mengambil sampah-sampah di sana. Pada tempat tertentu mereka akan berhenti dan turun dari tongkang, kemudian beranjak ke jalan untuk memungut sampah. Demi mendukung kerja para petugas pemungut sampah itu, Pemerintah Tinggi Batavia menyediakan tempat sampah di banyak tempat. “Tapi itu tidak menyelesaikan masalah kekotoran di kota,” pungkas Luc. Cara lain pun ditempuh. Pada 1707, Pemerintah Tinggi mengontrak orang-orang Tionghoa untuk membereskan sampah-sampah ini. Namun keputusan itu malah menambah masalah. Bukannya membawa sampah-sampah itu ke luar kota yang jauh, mereka malah membuangnya ke laut. Kenakalan pekerja Tionghoa itu sudah sering dilakukan dengan dalih mempersingkat kerja. Alhasil pinggiran laut ikut tercemar. Pemerintah pun kembali harus menerapkan peraturan baru, baik untuk masyarakat maupun orang-orang yang bekerja di bawah mereka. Kebiasaan masyarakat membuang guci kotoran juga ikut diperhatikan. Sadar akan bahayanya terhadap kualitas air dan udara, pemerintah membuat larangan pembuangan guci sebelum pukul sembilan malam. Sebagai gantinya, pemerintah menugaskan beberapa orang untuk berkeliling mengambil guci-guci kotoran milik penduduk dan membuangnya di tempat penampungan yang jauh dari kota. Sementara untuk pencemaran udara akibat pabrik, Pemerintah Tinggi Batavia mengatasinya dengan menanam banyak pohon di taman-taman terbuka, kantor pemerintah, dan rumah-rumah pejabat yang berdiri di tengah kota. Di sepanjang jalan dan kanal juga ditemukan pohon-pohon besar. Jenisnya pun beragam, bahkan sebagian tidak dikenal oleh orang-orang Eropa. “Jalan-jalan dan kanal-kanal ditumbuhi banyak pohon besar di sisinya. Umumnya berasal dari jenis pohon anophyllum, calophyllum , dan calaba . Namun ada juga jenis pohon yang tidak dikenal,” tulis John Joseph Stockdale dalam Island of Java. Foto ini memperlihatkan jarak pandang yang pendek di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Hasil yang Didapat Lantas apakah usaha Pemerintah Tinggi Batavia berhasil? Berdasarkan arsip-arsip pemerintah Belanda, Peter H. Van Der Brug dalam tulisannya, ”Batavia yang Tidak Sehat dan Kemerosotan VOC pada Abad ke-18” dimuat Jakarta-Batavia: Esai Sosio-Kultural , menyebut jika Batavia dilanda sebuah penyakit misterius pada pertengahan abad ke-18. Anehnya, penyakit tersebut hanya menyerang para pendatang Eropa, termasuk tentara, yang baru satu atau dua tahun tinggal di sana. Tercatat hampir 85.000 orang meninggal dunia. “Ketidaksehatan kota itu, yang begitu mematikan bagi pertumbuhan dan kemakmuran koloni, menghancurkan kepentingan dan keuangan kompeni,” tulis Peter. Sejalan dengan itu, Charles Walter Kinloch, seorang penulis Inggris, menggambarkan suasana Batavia pada 1852. “Kapal-kapal harus berlabuh dalam jarak yang cukup jauh dari pantai untuk menghindari penyakit yang dibawa oleh angin darat yang buruk, proses pendaratan selalu menjadi hal yang menyulitkan”. Tetapi JWB Money, seorang Inggris, memberikan jawaban berbeda yang mengejutkan di dalam catatan pelayarannya, termuat di Jawa Tempo Doeloe: 650 Tahun Bertemu Dunia Barat . Pada 1858, dia sebenarnya hendak pergi ke Pulau Jawa untuk mencari terapi bagi kesembuhan istrinya. Tetapi perjalanan yang jauh, dari India, membuat ia terpaksa harus singgah di Batavia sebelum melanjutkan misinya menyusuri wilayah Jawa. Sesampainya di Batavia, Money tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia terkejut saat menemukan suasana di Batavia jauh dari apa yang pernah dibacanya di buku-buku, bahwa Batavia kota yang kotor. “Batavia sendiri merupakan salah satu kota terbersih dan tercantik di sana,” tulis Money.

  • Biang Kerok di Balik Wabah Pes

    PENYAKIT pes tidak begitu dikenal hari ini. Teknologi kedokteran berhasil memberantas penyakit mematikan inisejak lama. Tak ada pes yang mengerikan seperti di abad pertengahan. Namun, pes masih tetap eksis kendati sedikit. WHO mencatat, sepanjang 2010-2015 ada 3248 kasus pes di dunia dengan 584 kematian. Epidemi paling parah terjadi di Kongo, Madagaskar, dan Peru. Di Indonesia, pes sudah hampir dilupakan. Padahal, penyakit ini pernah amat menakutkan kala mewabah di Malang dan menyebar ke seantero Jawa pada paruh pertama abad ke-20. Keadaan itu membuat pemerintah kolonial Belanda serius menanganinya lantaran ada pengalaman pahit wabah pes di Eropa yang membunuh 60 persen populasi. Peristiwa mengerikan yang terjadi pada abad ke-14 itu dikenal dengan nama Black Death. Penderita Black Death akan mengalami kematian jaringan pada ujung jari tangan, kaki, atau hidung hingga warnanya menghitam. Dunia medis menamakan pes jenis ini septicemic plague, yang menyerang aliran darah. Jenis ini paling berbahaya karena penderitanya bisa mati bahkan sebelum gejala muncul. Penyakit ini ditandai dengan pendarahan, bagian tubuh yang menghitam, nyeri perut, diare, muntah, demam, dan lemas. Namun, sejatinya ada tiga jenis serangan penyakit pes. WJ Simpson dalam A Treatise On Plague menyebut, jenis pes lainnya ialah bubonic plague, yang menyerang sistem limfatik (sistem imun). Gejala pes limfatik muncul setelah penderita tiga hari terjangkit. Penderita pes jenis ini akan mengalami pembengkakan pada kelenjar getah bening yang terdapat di lipatan paha, ketiak, atau leher. Benjolan ini terasa lunak dan hangat ketika dipegang. Gejala lain umumnya berupa demam, menggigil, pusing, lemas, nyeri otot, serta kejang. Pes juga bisa menyerang paru-paru ( pneumonic plague ). Pes jenis ini, yang disebabkan bakteri yersinia pestis, paling cepat mengakibatkan kematian. Gejalanya bisa terlihat dalam beberapa jam setelah seseorang digigit kutu tikus. Begitu terinfeksi, penderita akan sesak nafas hingga batuk-batuk. Gejala lain yang ditermui bila terinfeksi ialah batuk darah, muntah, demam tinggi, pusing, serta lemas. “Setelah mewabah di Eropa dan mematikan banyak orang, ahli medis belum tahu persis penyebabnya. Lalu dilakukan banyak penelitian sampai akhirnya ditemukan bakteri yang terdapat di kutu tikus tahun 1800-an,” kata Martina Safitry, dosen sejarah IAIN Surakarta yang pernah meneliti sejarah wabah pes di Jawa untuk tesisnya, kepada Historia . Penemuan bakteri yersiniapestis sendiri terjadi ketika wabah pes mencapai Hong Kong pada 1894. Ahli bakteriologi Jepang Shibasaburo Kitasato berangkat untuk meneliti penyakit itu pada Juni 1894. Di saat bersamaan, Alexandre Yersin dari Institute Pasteur juga berangkat ke Hongkong atas perintah menteri kolonial Prancis. Keduanya menemukan jenis bakteri baru dalam tubuh pasien pes dan organ tikus mati di daerah wabah. Kitasato menjadi orang pertama yang mempublikasikan temuan mikroorganisme baru, di jurnal kesehatan The Lancet pada 25 Agustus 1894. Namun, identifikasi bakteri baru yang dilakukan Kisato diragukan karena keterbatasan teknis. Maka, deskripsi Yersin yang dipublikasikan setelahnya yang dianggap lebih akurat. Pada 1970, nama Yersin kemudian dipakai untuk menyebut bakteri penyebab pes, yersinia pestis . Menurut Hartmut Dunkelberg dalam “The History of The Plague and The Research on The Causative Agent Yersinia Pestis”, sebelum nama Yersin dipakai untuk menyebut penyebab penyakit, nomenklatur yang digunakan antara lain bakteri pestis hingga 1900, bacilluspestis hingga 1923, dan pasteurellapestis , merujuk lembaga yang menaungi Yersin. Temuan Kitasato dan Yersin menggiatkan penelitian tentang penyakit pes. Pada akhir abad ke-19, beberapa peneliti mencari pola-pola penyebaran wabah dan cara-cara penularan pes. Masanori Ogata, misalnya, meneliti penyebaran pes di Taiwan pada 1896. Ia menemukan bahwa cairan tubuh kutu yang masuk ke dalam tubuh tikus bisa menyebabkan binatang pengerat itu terkena pes. Dari sini anggapan bahwa tikus sebagai penyebab pes tidak sepenuhnya benar. Kutu-kutu tikuslah yang jadi biang kerok. Hasil riset Ogata serupa dengan temuan Paul-Louis Simond yang meneliti pes di India. Simond menemukan peran besar kutu tikus dalam penyebaran pes. Pada 1902 di Marseille, J.C. Gauthier dan A. Raybaud meneliti dengan menempatkan dua tikus pada kandang yang disekat jala. Kandang ini memungkinkan kutu berpindah tempat tanpa ada kontak antartikus. Mereka menggunakan dua spesies kutu yang berbeda dalam percobaan ini. Hasilnya, mereka menemukan pes dapat ditularkan antardua tikus tanpa kontak tubuh langsung. Kutu-kutu tikuslah yang bekerja dengan melompat dari satu inang ke inang lain. “Ketika pes melanda Jawa, penelitian yang telah dilakukan sebelumnya jadi bekal ahli medis Belanda memberantas pes di negeri jajahan. Tikus-tikus yang mati langsung diperiksa,” kata Martina.

  • Benarkah Samudera Pasai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara?

    Desa Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupatan Aceh Besar, Provinsi Nanggroe AcehDarussalam. Di sana terdapat tinggalan Kerajaan Lamuri berupa bangunan seperti benteng, kompleks pemakaman, dan bekas hunian yang ditandai sebaran fragmen keramik. Di pemakaman itu ditemukan beberapa nisan unik. Berbentuktugu persegi yang meruncing ke atas seperti piramida. Penduduk setempat menyebutnya plakpling. Menurut Repelita Wahyu Oetomo, peneliti dari Balai Arkeologi Medan, nisan itu mungkin bentuk peralihan dari masa pra-Islam ke Islam. Pasalnya , bentuk nisan itu menyerupai lingga dan menhir. Salah satu nisan ditemukan di dalam Benteng Kuta Lubuk. Cirinya menunjukkan masa yang jauh lebih tua daripada benteng itu. Di nisan itu tertulis: “...assulthan Sulaiman bin Abdullah bin al Basyir Tsamaniata wa sita mi’ah 680 H (1281 M).”   Bila Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir wafat pada 680 H (1281 M), artinya masyarakat Lamreh telah lama mengenal Islam. Hal ini diketahui dari nama ayah dan kakek Sultan Sulaiman Abdullah bin Basyir yang berbau Islam. Pertanggalan itu pun menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan nisan milik Sultan Malik as-Shaleh dari Kerajaan Samudera Pasai yang bertarikh 696 H (1297). Banyak sejarawan menjadikan nisan itu sebagai tanda masuknya Islam di Nusantara sekaligus bukti keberadaan Kerajaan Samudera Pasai. Dengan demikian, menurut Repelita, Samudera Pasai dengan rajanya Malik as-Shaleh bukan merupakan kerajaan Islam tertua di Nusantara. “ Lamuri berkembang menjadi Kerajaan Islam yang cukup besar sebelum Samudera Pasai berdiri. Namanya sudah dikenal sejak masa Hindu-Buddha,” tulis Repelita dalam “Lamuri Telah Islam Sebelum Pasai” termuat di Jurnal Berkala Arkeologi Sangkhakala. Lebih lanjut Repelita menjelaskan keberadaan Lamuri lama diperhitungkan berkat hasil alamnya. Letak nya cukup penting yaitu di wilayah perairan Selat Malaka. K epopuleran Lamuri paling tidak sudah bertahan sejak abad ke-10 karena pada 916 penjelajah Arab, Abu Zaid Hasan , telah mencatat Lambri sebagai Rami/Ramni. Catatan tertua lainnya tentang Kerajaan Lamuri muncul dalam Prasasti Tanjore yang berbahasa Tamil dari tahun 1030. Prasasti ini dibuat Raja Rajendra Cola I dari Kerajaan Cola di India Selatan. Ilamuridesam dalam prasasti itu diterjemahkan oleh George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, sebagai Lamuri yang berada di ujung utara Sumatra. Ilamuridesam adalah salah satu negara yang ditaklukkan ketika Kerajaan Cola menyerbu Sriwijaya. “ Lambri kemudian berubah menjadi mandala kerajaan Tamil itu,” tulis O.W . Wolters dalam Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII . Kendati demikian, pada 1225, Zhao Rugua, orang Tiongkok yang sering mengunjungi pelabuhan di Sumatra, menyebut bahwa Nanwuli atau Lambri membayar upetinya kepada Sanfoqi (Sriwijaya). Sementara pada masa berikutnya, Mpu Prapanca dalam Negarakrtagama , menggambarkan Lamuri sebagai negeri yang mendapat pengaruh Majapahit. Lamuri terus disebut dengan berbagai nama. Orang-orang Arab, Marco Polo, Biarawan Oderic, dan penjelajah abad pertengahan lainnya, menyebut Lamuri sebagai Lamori atau Lambri. Marco Polo, penjelajah Italia, pada 1292 menyebut Lambry sebagai salah satu tempat di utara Sumatra. Dia mencatat, kerajaan itu telah mengaku tunduk pada Kaisar Mongol, Kubilai Khan. Menurut W.P. Groenevledt, Lan-bu-ri yang diterjemahkan menjadi Lambri muncul dalam catatan salah seorang jend e ral utusan Kubilai Khan, Ike Mese. Catatan i tu termuat dalam Sejarah Dinasti Yuan dari abad ke-13 . Disebutkan ketika pasukannya tiba di Champa dalam perjalanannya ke Jawa, mereka mengirimkan sejumlah utusan ke beberapa negara untuk meminta pernyataan tunduk kepada Tiongkok. Lambri dan Sumatra ada di antara negara-negara itu. Lambri masih disebut kemudian dalam catatan Cheng Ho, yang termuat dalam Sejarah Dinasti Ming dari abad ke-15. Lambri termasuk di antara 30 negara yang dia singgahi dalam ekspedisinya. Groeneveldt juga mengidentifikasi Lam-bo-li sebagai Lambri dalam catatan Ma Huan, penerjemah resmi Cheng Ho. Lewat Yingya Shenglan, Ma Huan cukup panjang lebar menjabarkan Lambri. Menurutnya negeri itu terletak di sebelah barat Sumatra dan berjarak tiga hari pelayaran. Waktu itu, dari 1.000 keluarga yang mendiaminya, seluruhnya sudah memeluk Islam. Begitu pula rajanya. “Ketika kapal Tiongkok merapat di Lambri, raja menggunakan kesempatan ini untuk mengirim upeti ke Tiongkok,” catat Ma Huan. Adapun penjelajah Portugis, Tome Pires dalam Suma Oriental , menceritakan bahwa Aceh merupakan negeri pertama yang dia temukan setelah menelusuri Pulau Sumatra. Sementara Lamuri terletak tepat setelahnya. Wilayah ini membentang hingga ke pedalaman. "Laporan Portugis masih menyebut Lambri pada 1511,"  tulis Wolters. "Tetapi pusat perdagangan kerajaan baru yang disebut Aceh, beberapa kilometer lebih ke timur, segera menggantikannya."

  • Melihat Budapest Lewat Kanvas

    KEDUTAAN Besar Indonesia untuk Hungaria hendak mengadakan pameran bersama antara seniman Indonesia dan Hungaria. Para pelukis Indonesia akan diberangkatkan ke Budapest, Hungaria untuk observasi dan penggalian ide lukisan. Sebaliknya, perupa Hungaria akan berkunjung ke Indonesia guna mencari ide. “Ini bisa sekalian jadi promosi pariwisata kita,” kata Duta Besar Indonesia untuk Hungaria Dimas Wahab. Pameran bersama ini diprakarsai Dimas Wahab. Dua orang kurator dipilih untuk menanganinya, yakni budayawan Toeti Heraty dan Ari Kupsus, pemilik gallery di Budapest. “Budapest, Hongaria sering disebut Parisnya Eropa Tengah. Di sana penuh peninggalan budaya karena pernah dikuasai Romawi, Mongolia, Turki, Austria, dan pernah jadi bagian dari Uni Soviet,” kata Toeti Heraty dalam konferensi pers di Roosseno Plaza, Rabu (17/07/2019). Budapest merupakan gabungan dua kota yang dipisahkan Sungai Danube, yakni Kota Buda (Obuda) dan Pest di sebelah kiri sungai. Setelah jembatan rantai Széchenyi dibangun pada 1839 di bagian anak sungai Danube yang menyempit, kedua kota pun terhubung. Pada 17 November 1873, gabungan dua kota itu diresmikan menjadi Budapest. Penemuan arkeologis membuktikan adanya permukiman besar suku Celtic di Budapest selama ribuan tahun. Mereka menetap di kedua tepi Sungai Danube sejak abad ke-3 SM. Bangsa seperti Romawi, Turki, Jerman, Latin dan pedagang muslim dari Bulgaria juga pernah bermukim di sini. Periode besar pertama pembangunanan Buda (sebelah kanan Sungai Danube) terjadi pada paruh kedua abad ke-13. Beberapa gereja dan biara didirikan, di antaranya Gereja Bunda Maria (sekarang Gereja Matthias) dan Gereja St. Mary Magdalene. Pembangunan skala besar antara abad ke-14 dan ke-16 membentuk pola jalan dan tata letak kota Buda yang tidak berubah hingga hari ini. Sementara, Kota Pest berada di posisi penting rute perdagangan ke Eropa Barat, dikenal sebagai Jalan Kiev. Pada abad ke-11, tembok yang jadi cikal-bakal Gereja Dalam Kota Parish dibangun di atas tembok bekas kamp Romawi. Populasi kota Pest tumbuh pesat pada paruh pertama abad ke-13, mayoritas orang Jerman. Perkembangan Kota Buda dan Pest kemudian terhenti lantaran kalah perang dari Turki pada 1526. Sebagian penduduk kaya melarikan diri keluar kota Buda, sementara seluruh Hungaria berada di bawah kekuasaan Turki dari 1541 hingga 145 tahun kemudian. Institute Riset Metropolitan Urbanisztika menyebut pada abad ke-19 Budapest dikuasai Kekaisaran Austro-Hungaria sampai Perang Dunia I. Hingga empat dekade terakhir abad ke-19, gaya romantis dominan dalam rancang-bangunan di Budapest. Gaya Art Nouveau ini jadi upaya sadar menciptakan gaya nasional, seperti terdapat pada bangunan Museum Seni Terapan (Museum of Applied Arts, Budapest) karya Odon Lechner. Ketika Hungaria dikuasai Jerman-Nazi pada Perang Dunia II, pembangunan dihentikan. Kondisi Hungaria kacau-balau selama delapan bulan. Budapest sendiri jadi medan pertempuran selama dua bulan. Pengeboman dan baku tembak merusak 75 persen bangunan di Budapest. Hanya sekira 10 ribu bangunan yang tersisa tanpa cacat. Suasana gawat itu baru berhenti ketika Hungaria dibebaskan tentara Soviet yang berhasil memukul mundur pasukan Jerman. Sejak itu, Hungaria menjadi bagian blok Timur. “Setelah Perang Dunia II, Budapest masuk Uni Soviet dan jadi komunis,” kata Toeti. Runtuhnya Uni Soviet mengakhiri pula komunisme di Hungaria. “Pada 1989 (Hungaria, red .) bertransformasi jadi negara demokrasi. Sejarahnya sudah dimulai dari dari dua ribu tahun lalu. Jadi, akan ada banyak jejak-jejak kebudayaan yang bisa digali untuk jadi sasaran seni di sana,” sambung anak mendiang Ir. Roosseno itu. Beberapa seniman Indonesia yang akan diberangkatkan antara lain Afriani, Hardi, Baron Basuning, Tatang Ramadhan Bouqie, dan Hannyoto Roosseno. Mereka akan mengunjungi Budapest pada September 2019 dan menginap di kastil milik Ari Kupsus. Hardi merupakan pelukis yang menjadi salah satu pencetus Gerakan Seni Rupa Baru. Karya-karyanya kebanyakan mengambil tema realisme sosial. Semasa Orde Baru, Hardi yang menampilkan diri sebagai presiden tahun 2001 lewat pamerannya di Taman Ismail Marzuki, dicap melakukan tindakan subeversif. Sementara, Hannyoto merupakan seorang arsitek sekaligus perupa. Dia mempopulerkan gaya gedung berpilar ke Jakarta pada 1970-1980-an. Pada 2006, Hannyoto memenangkan penghargaan arsitektur terbaik Skala +02. “Lukisan jadi penghubung kerjasama dua negara ini karena Hungaria dikenal sebagai kota seni,” kata Dimas Wahab. Pameran akan diselenggarakan pada Oktober mendatang di Indonesia dan Hungaria. Pameran di Hungaria berbarengan dengan Indonesian Food Festival di Budapest sehingga akan ada satu rangkaian pemeran tentang budaya Indonesia, baik makanan maupun lukisan.

  • Melacak Jejak Kerajaan Panai di Tanah Batak

    Sekira menjelang akhir milenium pertama masehi, muncul Kerajaan Panaidi Sumatra bagian utara. Sepertinya ia kerajaan penting karena Kerajaan Cola di India dan beberapa kerajaan lain di Nusantara menyebut namanya dalam dokumen resmi mereka. Panai pertama kali diketahui lewat Prasasti Tanjore yang berbahasa Tamil dari tahun 1030. Prasasti ini dibuat Raja Rajendra Cola I dari Colamandala di India Selatan. Di dalamnya disebut bahwa Panai yang dialiri sungai merupakan salah satu yang digempur sang rajaselain Sriwijaya. Penyerbuan Cola telah menaklukkan juga Malaiyur, Ilangasogam, Madamalingam, Ilamuri-Desam, dan Kadaram. Tiga abad kemudian nama Panai kembali muncul dalam Nagarakertagama , kakawin dari Kerajaan Majapahit karya Mpu Prapanca . Sebutannya sedikit berubah menjadi Pane . Ia disebut sebagai bagian dari negeri di Sumatra yang berada di bawah pengaruh Majapahit. Menurut Keram Kevonian, pengajar di EHESS (Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales), Paris, Panai menjadi salah satu dari dua kerajaan yang tak dicatat Marco Polo. Padahal, penjelajah asal Venesia itu sempat menyusuri pesisir Sumatra pada 1292. "Mungkin karena Panai letaknya di daerah yang tak dikunjunginya," tulis Keram dalam "Suatu Catatan Perjalanan di Laut Cina dalam Bahasa Armenia", termuat di  Lobu Tua Sejarah Awal Barus . Sumber-sumber Tionghoa pun tak memuat informasi keberadaan kerajaan Panai. Bahkan tak ada dalam catatan Ma Huan, penerjemah resmi yang mendampingi Laksamana Cheng Ho ke Nusantara pada abad ke-15. “Bukan berarti Kerajaan Panai ketika itu telah hilang,” jelas Keram. Pasalnya, pada era Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dari Kesultanan Aceh, Kerajaan Panai kembali disebut-sebut. Dalam suratnya kepada Jacques I, sultan mencatat Pani sebagai jajahan Aceh di Pantai Timur Sumatra. Nampaknya, menurut arkeolog Rumbi Mulia,  Panai telah berhasil melepaskan kewajibannya, mungkin berupa upeti kepada Kerajaan Cola setelah digempur pada awal abad ke-11. Pada masa berikutnya kerajaan itu justru menampakan perkembangan nya secara mandiri. Panai melakukan pembangunan besar -besaran di negaranya . Kini diyakini kompleks percandian di Padang Lawas adalah salah satu peninggalannya. Sayangnya,di antara peninggalan itu belum ada yang menyebutkan nama raja atau yang mendukung kerajaan itu sebagai sebuah struktur politik mandiri. Baru kemudian ditemukan prasasti yang menyebut nama Paṇai. Prasasti Panai tak memiliki angka tahun yang absolut. Ia menggunakan aksara Kawi akhir dan berbahasa Melayu Kuno. Pada dua baris terakhirnya, dikisahkan seorang tokoh mendirikan suatu daerah ( bhumi ). Daerah yang dimaksud kemungkinan adalah Pannai. Ada kabar dari prasasti itu, seorang pejabat desa bergelar kabayan diberi tugas yang berkaitan dengan bangunan suci agama Buddha. Bangunan suci itu diduga sebagai pendarmaan tokoh hinan dan haji . Sementara tokoh kabayan, sebagai seorang pesuruh, disebutkan membawa sesuatuyang tak jelas dalam prasasti, kepada semua orang yang tinggal di Paṇai. "Adanya gelar haji menunjukkan kalau Pannai adalah kerajaan kecil," tulis Rumbi dalam  The Ancient Kingdom of Panai and the Ruins of Padang Lawas (North Sumatera). Meski namanya masih disebut hingga masa berikutnya, kemerosotan Kerajaan Sriwijaya sejak abad ke-13 serta hilangnya kekuasaan atas kawasan selat, pasti ikut melemahkan Padang Lawas-Panai. Pasalnya, menurut Rumbi, dengan disebutkannya Kerajaan Pannai sebagai salah satu yang ditaklukan Raja Rajendra Cola Idalam penyerbuannya ke Sriwijaya memunculkan dugaan kerajaan ini adalah salah satu anggota mandala Sriwijaya. Penghasil Kamper Menurut Lisda Meyanti, peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, kemungkinan pada masa lampau Padang Lawas lebih subur dibandingkan sekarang. Karenanya Kerajaan Panai sangat kaya akan hasil hutan, khususnya kapur barus dan ternak. Belum lagi hasil perut buminya seperti emas. "Hanya masyarakat yang kaya dan makmurlah yang mampu membangun candi," tulis Lisda dalam "Prasasti Panai: Kajian Ulang Tentang Lokasi Kerajaan Paṇai" termuat di Jurnal AMERTA . Dalam catatan perjalanan berbahasa Armenia,  Nama Kota-Kota India dan Kawasan Pinggiran Persia,  Pane disebut sebagai nama pelabuhan di mana banyak kamper bermutu. Keram menjelaskan kamper bersumber dari dua pelabuhan, yaitu Barus yang ditulis Pant’chour  di pantai barat, dan P’anes atau P’anis  yaitu Pa n ai di pantai timur. Kedua pelabuhan itu saling membelakangi. Letaknya satugaris, memisahkan sumbu Sumatra secara tegak lurus. Daerah yang paling kaya dengan kamper terletak di antara keduanya, di Bukit Barisan. Menurut Keram untuk mengekspor kamper dalam jumlah besar pada abad ke-12, Panai mesti berhubungan dengan daerah-daerah yang terletak di perbatasan bagian hulu Sungai Barumun, di Padang Lawas. Sungai ini mengalir ke utara hingga ke pantai timur Sumatra dan bermuara di Selat Malaka. Namun, sewaktu Melaka dan Aceh berkembang pada abad ke-16, navigator Arab Sulayman al-Mahrimengenal sebuah pelabuhan saja untuk kamper di seluruh Pulau Sumatra, yaitu Fansur. Ia tidak mencatat Panai atau apapun yang bernama mirip. Sementara Tome Pires , pejelajah asal Portugis, malah meletakkan Kerajaan Arcat sebagai bawahan Aru di daerah yang diduga bernama Pa n ai pada zaman sebelumnya. Dalam Suma Oriental, dia menulis Aru sebagai penyedia sejen i s kamper yang kualitasnya lumayan. Sebagian dari barang dagangan itu beredar di Minangkabau sedangkan sebagian lainnya dibawa ke Panchur seperti zaman dahulu. Kerajaan di tanah Batak itu pun seakan sepenuhnya terlupakan. Catatan mengenainya belum lagi ditemukan. Namun nama Panai masih tersisa dalam berbagai bentuk. Ia menjadi sungai, distrik, dewa kuno orang Batak, dan nama marga di Batak. Sungai Batang Pane ada di utara sebagai anak Sungai Barumun, dan bermuara di Selat Malaka. Sepanjang sungai inilah berdiri kompleks percandian Padang Lawas.  Lalu ada Kecamatan Pane di Simalungun, timur Danau Toba. Rumbi mencatat bahwa menurut legenda, raja di wilayah itu bersatu dengan roh suci yang disebut parpanean. Setiap akan membuat keputusan penting sang raja selalu berkonsultasi dengan si roh. Dia pun menjadi raja yang sukses dan menamai daerahnya “Pane” untuk menghormati sekutu rohnya. Mitologi Batak juga mengenal Pane na Bolon  sebagaidewa yang menguasai dunia tengah, tempat manusia tinggal.Adapun marga Pane termasuk kelompok Suku Batak Angkola di Tapanuli Selatan. Namun, Keram masih ragu: "tidak tentu apakah semua tempat ini berkaitan dengan sebuah kerajaan yang dulu bernama Panai ."

bottom of page