Hasil pencarian
9744 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Soeharto Marah pada Menteri
Pada 1975, sebagai wakil ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), A.R. Soehoed diangkat menjadi ketua tim perunding dengan Jepang untuk Proyek Asahan.
- Ketika Sumatra Menjadi Pusat Peribadatan Tantrayana
Di tepi Sungai Batang Hari terhampar gugusan percandian Muaro Jambi. Tak jauh dari Sungai Kampar Kanan di Riau ada lagi kompleks percandian Muara Takus. Semuanya menunjukkan kesamaan latar belakang agama, yakni Buddha Mahayana aliran Vajrayana. Jika diperluas hingga ke Sumatra Utara, ada pula tinggalan yang punya kesamaan latar belakang kepercayaan, yaitu di kawasan PadangLawas dekat aliran Sungai Sirumambe, Sungai Batang Pane, dan Sungai Barumun. “Pada rentang waktu yang sama di Pulau Sumatra ini ada pusat-pusat peribadatan yang dilatarbelakangi agama Buddha Vajrayana,” kata Ery Soedewo, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Utara, dalam diskusi via zoom tentang “Candi Muara Takus: Dulu, Kini, dan Esok, yang diadakan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat beberapa waktu lalu. Berkembangnya Sekte Ery menjelaskan, Vajrayana atau Tantrayanamerupakan salah satu sekte dalam Buddha Mahayana. Tantrayana merupakan sekte utama di Sumatra sejak abad ke-8. Waktu keberadaannya bersamaan dengan di Jawa. Menurut John Miksic, arkeolog dan sejarawan Asia Tenggara dari National University of Singapore dalam “The Buddhist-Hindu Divide in Premodern Souhteast Asia” yang terbit di Nalanda-Sriwijaya Centre Working Paper Series No.1 (September 2010) pengaruh Buddha Mahayana sudah tampak dalam Prasasti Talang Tuo dari tahun 684 yang ditemukan di Palembang. Isi prasasti itu tentang harapan penguasa semua yang ada di kebun, termasuk kelapa, pinang, aren, sagu, buah-buahan, bambu, kolam, dan bendungan bisa membawa kesejahteraan semua makhluk. “Keinginan agar pemikiran Bodhi akan lahir pada semua orang, lalu penyebutan tiga permata ( ratna ) dan tubuh intan mahasattva , diakhiri dengan harapan bahwa semua akan mencapai pencerahan, konsep ini dapat dihubungkan dengan Vajrayana atau Tantrayana yang muncul di Nalanda dari sekolah Yogacara tidak lama sebelum tahun ini,” tulis Miksic. Miksic menyebut walaupun pada abad ke-11 hingga ke-13 aliran Theravada terlihat di Situs Kota Cina, timur laut Sumatra, aliran ini tidak berdampak besar. “Arca-arca Buddha, Wisnu, dan Siva lingga ditemukan di sana. Gambar-gambar Buddha menyerupai gaya dari Sri Lanka dan India Selatan, memungkinkan kehadiran Theravada di situs Pelabuhan itu,” jelasnya. Sebaliknya, lanjut Miksic, aliran Vajrayana berkembang di Sumatra selama beberapa abad berikutnya. Selama periode ini, kecuali untuk Kota Cina, semua biara dan kompleks candi yang terkenal dibangun di Sumatra. Sisa-sisa nya memberikan banyak indikasi evolusi lokal. Kendati tetap ada hubungan dengan wilayah India Selatan, ditandai dengan prasasti Tamil. Maraknya aliran itu pun membawa Sumatra sebagai salah satu pusat studi Tantrayana pada masanya. Hingga seorang tokoh penting dalam penyebaran Tantrayana di Tibet, Atisa Dipankara, datang ke Sumatra pada abad ke-11. Atisa berlayar ke Sumatra untuk berguru pada seorang pakar dalam tradisi Boddhisatva yang dikenal sebagai Guru Suvarnadvipa. Seusai menamatkan pendidikannya, Atisa diundang penguasa Tibet untuk meluruskan kesalahpahaman berkaitan dengan ajaran Hinayana, Mahayana, dan Tantrayana. Di Tibet, India Utara, Nepal, dan Bhutan, Buddhisme Tantrayana masih dipraktikkan hingga saat ini. Percandian di Padang Lawas Menurut Miksic, salah satu daerah yang sangat penting untuk melacak jejak ajaran Buddha di Sumatra adalah Padang Lawas. Banyak pakar purbakala sepakat bahwa kepurbakalaan di PadangLawas adalah peninggalan dari peradaban yang banyak dipengaruhi aliran Vajrayana. Sukawati Susetyo, arkeolog Pus at Pene lit ian Arke ologi Nas ional (Puslit Arkenas) yang pernah meneliti Padang Lawas, menjelaskan bahwa stupa, stambha, arca-arca Dhyani buddha, dan Dhyani Boddhisatva di situs itu menunjukkan percandian bernapas ajaran Buddha. L ebih khusus lagi ditemukan Prasasti Tandihat yang bersisi mantra upacara Tantra. Lalu di halaman biaro -nya ditemukan arca raksasi bertaring dengan mata melotot. “Ini mengindikasikan ada unsur Tantra,” kata Sukawati dalam diskusi via zoom tentang “Percandian di Padang Lawas Potensi Budaya Untuk Kemajian Bangsa” yang diadakan BPCB Aceh. Prasasti Si Sangkilon juga menyebut pemujaan terhadap arca Yamari, tokoh yang sangat dipuja dalam Buddha Tantrayana.Ditambah lagi arca Heruka di Biaro Bahal II. Heruka adalah dewa terpenting dalam Buddha Tantrayana yang dipuja saat upacara Bhairawa. Sementara itu, relief Yaksha menari berbentuk manusia berkepala hewan di Biaro Pulo saat ini masih dijumpai dalam festival keagamaan di Bhutan, Nepal, dan Tibet. “Di Buthan juga terdapat tarian yang menggambarkan pengadilan setelah meninggal. Malaikatnya ada yang digambarkan berkepala hewan,” kata Sukawati. Penduduk di Sepanjang Sungai Batanghari Napas kepercayaan yang sama juga teridentifikasi di situs-situs arkeologi di sepanjang Sungai Batanghari, mulai dari hilir hingga hulu di Dharmasraya, Sumatra Barat. Hampir semua situs menunjukkan masyarakatnyapenganut ajaran Buddha, khususnya Vajrayana. Menurut arkeolog Puslit Arkenas, Bambang Budi Utomo,konon aliran Buddha di sini dipercaya sebagai aliran yang kemudian berkembang di Kepulauan Jepang. Keberadaannya seiring dengan aktivitas pelayaran niaga dengan Tiongkok. Dari Tiongkok, aliran ini dibawa oleh para biksu dalam rombongan saudagar melalui jalan darat, menyebrang ke Kepulauan Jepang. “Keberadaan aliran ini terlihat pada arca-arca Buddha yang ditemukan di DAS Batanghari, terutama arca-arca logamnya,” tulis Bambang dalam Rumah Peradaban Sriwijaya di Muarojambi: Persinggahan Terakhir . Di Muaro Jambi terdapat Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton, Candi Astano, dan kepurbakalaan lainnya. Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam “The Structure of Stupas at Muara Jambi” termuat di majalah arkeologi Kalpataru , Vol. 23 No. 2, November 2014,menjelaskantemuan sisa-sisa bata dengan inskiripsi “bija-mantra”, torehan-torehan bunga padma ,dan beberapa arca,menunjukkan Muaro Jambi bernapaskan ajaran Buddha. Khususnya pada Candi Gumpung, ahli epigrafi Boechari pada 1985 pernah membaca inskripsi yang menjadi peripih candi itu. Ia berpendapat bahwa peripih itu berupa susunan dewa-dewa dalam Vajradhatu-mandala. Artinya , Candi Gumpung bersifat Buddha Vajrayana . Entah siapa yang memulai, sekira abad ke-13, penduduk Batanghari rupanya menjalin hubungan dengan Kerajaan Singhasari di Jawa. Pada 1286, Raja Singhasari, Sri Maharaja Kertanegara yang juga menganut Tantrayana mengutus pejabat tingginya untuk membawa dan mempersembahkan arca Amoghapasa sebagai hadiah kepada rakyat Dharmasraya. Menurut Bambang, persahabatan ini tampaknya terjalin cukup lama. Terindikasi dari gaya seni arca Prajnaparamitha yang ditemukan di reruntuhan Candi Gumpung. Prajnaparamitha adalah dewi ilmu penetahuan dalam ajaran Buddha Mahayana. Gayanya mirip dengan arca tokoh yang sama dari Candi Singhasari. Artefak Vajrayana dari Muara Takus Aliran Vajrayana juga dianut oleh penduduk yang berabad lalu menghuni wilayah sekitar Sungai Kampar Kanan, Riau. Tampak dari hasil penggalian oleh Ery Sadewo dan tim Balai Arkeologi Medan pada 2013. Dari gundukan tanah di kawasan sekitar candi utama Muara Takus, mereka menemukan artefak perunggu berwujud manusia berkepala gajah yang di identifikasi sebagai Ganapati atau Ganesha. Selain itu, cermin perunggu yang salah satu sisinya dilapisi emas dengan presentasi mencapai 83 persen, artinya hampir 24 karat. Temuan lain, vajra adalah alat upacara khas agama Buddha aliran Tantrayana. Bentuknya serupa dengan yang ditemukan di sekitar Candi Borobudur, Jawa Tengah dan di muatan kapal karam di pantai utara Cirebon. Lalu temuan bata bertulis yang secara paleografis menunjukkan pertanggalan antara abad ke-11 hingga ke-13. Isinya mantra Buddha berbunyi: “ om ah bighnanta kr hum phat svaha ”. Menurut Ery, mantra itu adalah varian suatu mantra Amrtakundali(n) , sosok dewa pelindung yang berkaitan dengan Kuvera maupun Vinayaka (Ganesha). Dalam suatu mandala atau diagram magis Buddha Amrtakundali(n) berada di arah mata angin utara. “Nah , artefak-artefak tadi fungsinya apa dalam konsep Buddha Vajrayana?” kata Ery. Ery menjelaskan makna artefak-artefak itu dalam Buddha Vajrayana: cermin adalah simbol kebersihan hati dan vajra (petir atau berlian) adalah simbol pencerahan, sama dengan tokoh Ganapati atau Ganesha. “Dalam tradisi Buddha Mahayanan sosok ini adalah salah satu Boddhisatva yang mendampingi Avalokitesvara,” kata Ery. Maka, jelas candi yang oleh pihaknya disebut sebagai Candi Vajra di Kompleks Percandian Padang Lawas itu adalah candi yang dilatarbelakangi Buddha Mahayana, khususnya sekte Vajrayana. Berdasarkan data arkeologis yang ada di situs-situs tadi, belum bisa dipastikan apakah ada hubungan secara langsung. Namun , situs-situs itu diperkirakan berasal dan punya rentang waktu yang kurang lebih sama. Berdasarkan pertanggalan Candi Vajra di Muara Takus misalnya, diketahui aktivitas di sana terjadi sejak abad ke-10 hingga abad ke-17. Lalu biaro-biaro di Padang Lawas kemungkinan besar sudah ada sejak abad ke-11 hingga abad ke-14. “Apakah (Candi Muara Takus, red. ) difungsikan sebagai rumah ibadah sepanjang masa itu, ini belum bisa ditentukan. Muaro Jambi pun sama, sejak abad ke-10 akhir atau ke-11 awal sampai abad ke-14 M,” kata Ery. Begitupula latar belakang agamanya yang sama. Menurut Ery, ketika masa dibangunnya situs-situs itu, Buddhisme aliran Vajrayana atau Tantrayana memang tengah populer. “Nanti pada masa yang lebih muda lagi itu lebih Tantris lagi sifatnya, lebih demonic , muncul penggambaran-penggambaran raksasa dan sebagainya. Seperti yang di Sumatra Barat di Pulau Sawah, di D h armasraya, kemudian Singhasari di Jawa,” kata Ery.
- Tentang Ketuhanan yang Berkebudayaan
1 Juni 1945. Di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Sukarno menyampaikan gagasannya mengenai dasar negara Indonesia. Dalam pidato yang disaksikan puluhan peserta sidang itulah kemudian Pancasila lahir. Pada kesempatan itu, Sukarno menawarkan lima sila sebagai dasar negara: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau peri-kemanusiaan, Mufakat atau demokrasi, Kesejahteraan sosial, dan yang terakhir, Ketuhanan. Lima sila itu kemudian dinamai Pancasila. Sukarno kemudian menawarkan lagi, “Atau, barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras, sehingga tinggal 3 saja.” Tiga sila itu adalah socio-nationalisme, socio-demokratie, dan ketuhanan. Dan jika ingin satu sila, kata Sukarno, maka tiga sila tersebut jika diperas menjadi satu kata yakni gotong-royong. Polemik RUU HIP Apa yang disampaikan Sukarno 75 tahun yang lalu itu belakangan muncul lagi dalam Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Yang disebut Sukarno sebagai Trisila dan Ekasila itu muncul dalam Pasal 7 RUU HIP. Merujuk draft RUU HIP pada laman resmi DPR, pasal 7 ayat (1) berbunyi, "Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan ekonomi dalam satu kesatuan". Kemudian pada ayat (2) disebutkan bahwa, "Ciri Pokok Pancasila berupa Trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan". Sementara ayat (3) berbunyi, "Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong". Pasal 7 RUU HIP ini kemudian menimbulkan polemik. Beberapa ormas Islam khawatir pemakaian frasa "Ketuhanan yang Berkebudayaan" akan membuat Indonesia menjadi sekuler. Frasa itu dianggap mengesampingkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Frasa "Ketuhanan yang berkebudayaan" itu awalnya muncul dalam pidato Sukarno pada 1 Juni 1945. Setelah ia menjabarkan empat sila yakni Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau peri-kemanusiaan, Mufakat atau demokrasi dan Kesejahteraan sosial, maka sampailah ia menjelaskan sila kelima. "Prinsip Ketuhanan!" seru Sukarno. Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, lanjutnya, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Ia menyebut bahwa yang beragama Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al-Masih, yang beragama Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad Saw, dan orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab agamanya. "Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada 'egoisme-agama'. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!" sebutnya. Dalam mengamalkan dan menjalankan agama, sambung Sukarno, juga hendaknya secara berkeadaban. Yakni dengan saling menghormati antaragama. Ia mencontohkan bahwa Nabi Muhammad Saw dan Nabi Isa juga telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid , tentang menghormati agama-agama lain. "Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!” jelasnya. Kekaburan Makna Seturut dengan apa yang dikatakan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945, Yudi Latif, mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), menyebut bahwa frasa "Ketuhanan yang berkebudayaan" dipakai Sukarno sebagai semangat untuk mengembangkan asas Ketuhanan yang Maha Esa. Sama halnya dengan frasa "Ketuhanan yang berkeadaban". "Dengan ungkapan tersebut, bisa dipahami bahwa dalam pandangan Sukarno, asas Ketuhanan yang Maha Esa itu, dalam relasi politis-muamalahnya, hendaknya dikembangkan dengan semangat Ketuhanan yang berkebudayaan," kata Yudi Latif kepada Historia . Dalam tulisannya "Ketuhanan yang Berkebudayaan" dalam buku Negara Paripurna : Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila , Yudi Latif menyebut bahwa asas Ketuhanan telah melalui perdebatan panjang para pendiri bangsa. Yang kemudian memunculkan mufakat pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Ketuhanan dalam kerangka Pancasila, jelas Yudi Latif, menyerupai konsepsi agama sipil atau civic religion yang melibatkan nilai-nilai moral universal agama. Namun, juga secara jelas dibedakan dari agama. Nilai moral Ketuhanan menjadi landasan pengelolaan kehidupan publik-politik dalam masyarakat multikultur-multiagama. Yang mana tidak menjadikan salah satu agama atau unsur keagamaan mendikte negara. Ketuhanan dalam kerangka Pancasila juga merupakan usaha pencarian titik temu dalam semangat gotong-royong untuk menyediakan landasan moral yang kuat bagi kehidupan politik berdasarkan moralitas Ketuhanan. "Dalam kerangka pencarian titik-temu ini, Indonesia bukanlah negara sekuler yang ekstrem, yang berpretensi menyudutkan agama ke ruang privat karena sila pertama Pancasila (sebagai konsensus publik) jelas-jelas menghendaki agar nilai-nilai Ketuhanan mendasari kehidupan publik-politik," tulis Yudi Latif. Namun, Pancasila tidak menghendaki perwujudan negara agama. Karena hal itu akan memunculkan tirani keagamaan yang bertentangan dengan pluralitas kebangsaan serta menjadikan penganut agama dan kepercayaan lain sebagai warga negara kelas dua. Lebih lanjut, perihal memeluk agama maupun menganut kepercayaan lain juga dijamin kebebasannya. Yudi Latif mencontohkan Wonsonegoro, seorang anggota BPUPKI adalah seorang teolog yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa ( supreme being ) namun tidak otomatis memeluk atau menganut agama tertentu. "Lebih dari itu, kepedulian Pancaila lebih tertuju pada moralitas publik, tidak mencampuri moralitas (keyakinan) pribadi," jelasnya. Namun, menurut Yudi Latif, kekaburan dalam melihat hubungan antara agama, Pancasila, dan negara kemudian menjadi salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah. Misalnya mengenai kecemasan bahwa Pancasila bisa menggantikan peran agama. Dalam konteks ini, Sukarno pernah berpidato pada peringatan lahirnya Pancasila di Istana Negara pada 5 Juni 1958. Pada kesempatan itu, Sukarno membantah pernyataan bahwa Pancasila merupakan perasan dari nilai-nilai Buddhisme. Demikian, ia juga tidak ingin Pancasila dipertentangkan dengan agama. "Saya minta janganlah menaruhkan Pancasila ini secara antagonistis terhadap kepada misalnya agama Islam, dan janganlah pula meletakkan Pancasila ini secara congruentie yang sama dengan misalnya agama Buddha, janganlah ditaruhkan secara antagonistis kepada agama Islam, jangan ditaruh secara congruentie kepada Agama Buddha. Jangan!" Hentikan Perdebatan Sementara itu, sejarawan Anhar Gonggong menyebut bahwa frasa "Ketuhanan yang berkebudayaan" memiliki maksud yang sederhana. Seperti yang sudah disampaikan Sukarno dalam pidatonya, supaya tidak ada egoisme agama yang menimbulkan pertentangan antaragama. "Itu yang dia maksud. Cuma menurut saya ya memang agak terlalu melenceng pemahaman itu karena untuk apa itu digunakan (dalam RUU HIP) wong sudah diterima Ketuhanan yang Maha Esa. Ya selesai kan," kata Anhar kepada Historia . Menurut Anhar, setelah pidato disampaikan dan Pancasila kemudian dibahas sebagai dasar negara, baik Trisila maupun Ekasila tidak lagi diperdebatkan. "Dan tidak pernah dibicarakan lebih lanjut. Begitu selesai bicara kan yang dibicarakan Pancasila. Nggak pernah ada yang dibicarakan Trisila, Ekasila," sebutnya. Anhar juga melihat misalnya, apa yang ditulis dalam RUU HIP itu berbeda dengan isi pidato Sukarno. Ia membandingkan kata "diperas" yang ada dalam pidato dengan kata "ciri" dalam RUU HIP. Keduanya berbeda. "Trisila dan Ekasila bukan ciri," kata Anhar. Anhar menambahkan bahwa pidato Sukarno 1 Juni 1945 merupakan konsep. Setelah konsep dibahas dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan Pancasila dalam alinea ke-4 diterima, konsep tersebut sudah tidak dipersoalkan lagi. "Kita udah selesai kok. Lalu kapan kita bekerja dengan baik, kapan kita saling menutupi apa yang pernah kita hadapi ketika kita masih berkelahi sebelum semua apa yang dimiliki, yang dikerjakan oleh pemimpin kita masa lampau, kita sudah warisi seperti sekarang?" ujarnya.
- Kehangatan Bung Karno dan Keluarga Dalam Kamera
Indonesia ibarat rumah besar bagi Sukarno. Dia membangunnya dengan pikiran, tindakan, dan pengorbanan. Ke sinilah waktu hidupnya dicurahkan. Jika Indonesia adalah rumah besar, maka keluarga menjadi rumah kecilnya. Ke sinilah dia selalu kembali, memperoleh kelapangan setelah sumpek dengan urusan bangsa. Foto-foto mengungkapnya. Foto Keluarga Bung Karno. ( Foto : Wikimedia Commons ) Sukarno tak sungkan memperlihatkan ekspresi kecintaannya pada keluarga. Dalam sebuah foto, misalnya, Sukarno tampak mencium pipi anak anaknya di depan umum. Penuh cinta dan kehangatan. Dia tahu fotografer memotretnya, tapi membiarkannya. Momen saat Bung Karno mencium anak-anaknya. ( Foto : Wikimedia Commons ) Bung Karno saat mencium salah satu anaknya Megawati.( Foto : Wikimedia Commons ) Pada lain kesempatan, Sukarno terlihat menghabiskan waktu bersama keluarga dengan berjoget. Tampak salah satu putri mereka, Megawati Soekarno Putri, sosok yang kelak mengikuti jejak beliau menjadi Presiden Indonesia. Bung Karno tampak berjoget bersama Megawati. ( Foto : Wikimedia Commons ) Bung Karno tampak tersenyum saat berfoto bersama anak dan istrinya. ( Foto : Wikimedia Commons ) Ketika kunjungan kenegaraan ke luar negeri, terekam pula bagaimana Sukarno tidak lupa berbahagia bersama keluarnya. Dalam kamera yang ketika itu masih analog dan belum digital,dia terekam bersama Guntur Soekarno Putra sedang menaiki salah satu wahana di Disneyland, Amerika Serikat. Mereka tampak ceria. Bung Karno saat mengunjungi Disneyland bersama Guntur. ( Foto : Wikimedia Commons ) Bung Karno dan Megawati. ( Foto : Wikimedia Commons ) Tentang anak-anak, Bung Karno punya gagasan yang hampir mirip dengan pandangan orang Indonesia masa lampau : banyak anak, banyak rezeki. Ini tertuang dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat . Di situ Sukarno mengenang obrolannya dengan salah satu istrinya, Fatmawati yang dinikahinya saat Sukarno diasingkan di Bengkulu. Saat mereka sedang berjalan bersama, Sukarno berkata, “Saya menyukai perempuan yang merasa berbahagia dengan anak banyak. Saya sangan mencintai anak-anak.” Fatmawati pun menjawab singkat, tapi penuh makna. “Saya Juga.” Bung Karno bersama anak dan istrinya saat terekam oleh kamera fotografi. ( Foto : Wikimedia Commons ) Sarapan ala Bung Karno dan Bu Fatmawati. ( Foto : Wikimedia Commons ) Kelak Sukarno memperoleh lima anak dari perempuan yang juga akrab disapa Bu Fat tersebut. Mereka adalah, Guntur, Megawati, Rachmawati ,Sukmawati, dan Guruh. Semuanya pernah terekam kamera menikmati waktu dengan penuh kehangatan. Fotografi sekali lagi berhasil memainkan perannya, menangkap sisi-sisi kemanusiaan yang jarang terungkap. Bung Karno bersepeda bersama Fatmawati di India. ( Foto : geheugen.delpher/Charles Breijer )
- Mengenal Pak Dal, Pencipta Lagu Bintang Kecil
Malam kian larut. Seorang lelaki menuju kamar mandi rumahnya. Dari celah-celah genting, dia melihat bintang-gemintang berpendar di langit. Satu bintang menarik perhatiannya. Sinarnya lebih cerlang daripada lainnya. Keluar dari kamar mandi, dia mengambil alat tulis dan kertas. Dia menuliskan sesuatu sembari bersenandung. Sebuah lagu tercipta. Bintang kecil di langit yang tinggi Amat banyak menghias angkasa Aku ingin terbang dan menari Jauh tinggi ke tempat kau berada Lagu tadi berjudul “Bintang Kecil”. Liriknya asyik, nadanya sederhana, dan pesannya kuat. “Lagu yang menceritakan tentang keindahan alam semesta dan keagungan Tuhan dan sebagai fantasi anak terhadap dunia dan cita-cita masa depan,” kata Mbah Wiro Kribo, pemerhati musik dari Solo, Jawa Tengah. Lagu “Bintang Kecil” sangat populer. Semua orang pasti pernah tahu dan menyanyikannya semasa kecil. Tapi mungkin tak banyak orang tahu tentang pencipta lagunya, Raden Gerardus Joseph Daldjono Hadisudibjo atau akrab dengan panggilan Pak Dal. Memperkenalkan Not Balok Pak Dal termasuk pendidik sekaligus pencipta lagu anak-anak segenerasi dengan Ibu Sud dan Pak Kasur. Mereka sama-sama produktif dan mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk kebaikan pertumbuhan anak-anak. Tapi tak seperti dua rekannya, nama Pak Dal relatif kurang bergaung di telinga banyak orang. Pak Dal lahir di Playen, tak jauh dari Gunung Kidul Yogyakarta, pada 11 Juli 1909. Itu menurut K. Usman dalam Komponis Indonesia yang Kita Kenal . Sedangkan menurut catatan wikipedia , lahirnya di Surakarta pada 21 Januari 1912. Pak Dal menempuh pendidikan keguruan (Kweekschool setingkat SMA) di Muntilan, Jawa Tengah pada 1928. Di sini pula dia mempelajari musik melalui kelompok koor di gerejanya. Dia tampil sebagai soloist, kemudian berminat pada biola. Gurunya bernama Pater J. Awiek S.J. Berkat dorongan gurunya, Pak Dal terus mengakrabi dunia musik. Selepas lulus dari Kweekschool Muntilan, Pak Dal mengajar musik di tiga sekolah dasar. Cara mengajarnya sangat berterima di benak anak-anak. Dia memperkenalkan not balok kepada mereka dengan cara yang mudah dicerna. Kegiatan mengajar di sekolah mempertemukan Pak Dal dengan Siti Purnami. Keduanya menikah pada 1933. Kelak anak mereka, A. Riyanto, menjadi salah satu komponis mumpuni di Indonesia. Mengisi Radio Ketika Jepang menjajah Indonesia, Pak Dal mendapat kerja tambahan sebagai pengisi radio dalam sesi siaran musik. Kebijakan Jepang membolehkan penggunaan bahasa Indonesia mendorong Pak Dal menciptakan lagu berbahasa Indonesia untuk acaranya. "Ia menciptakan lagu anak-anak untuk siaran radio di Solo, Yogyakarta, dan Jakarta," kata A. Riyanto dikutip K. Usman dalam Komponis Indonesia Yang Kita Kenal. K. Usman menyebut Pak Dal sebagai perintis-penyiaran lagu-lagu Indonesia di radio zaman Jepang. Sementara itu, Kompas, 2 Oktober 1972, menulis, “Dalam siaran lagu-lagu, Pak Dal sering menyelipkan lagu-lagu Indonesia di antara lagu-lagu Jepang.” Tapi seiring melemahnya kekuatan Jepang, Pak Dal sedikit demi sedikit menghilangkan lagu-lagu berbahasa Jepang. Seluruh acaranya berisi lagu-lagu berbahasa Indonesia. Pak Dal terhitung sangat produktif menciptakan lagu semasa penjajahan Jepang. Pernah dia bisa sampai menciptakan enam lagu dalam sehari. Apa rahasianya? “Yah, memang demikian. Setiap komponis atau seniman, pasti pernah mengalami masa subur. Dalam masa subur ini, segala sesuatu yang tertangkap indra, ingin cepat-cepat saya curahkan dalam susunan nada,” terang Pak Dal. Di sisi lain, Pak Dal juga merasa dalam masa subur itu kadangkala terburu-buru menciptakan lagu. Sekadar mengisi kekosongan siaran lagu-lagu berbahasa Indonesia. Lagu itu bukan dari inspirasi yang mendalam sehingga hasilnya kurang baik. “Transpirasi (cucuran keringat) saja,” ungkap Pak Dal. Ini menjadi tekanan bagi Pak Dal. Karena itu, dia belajar menahan diri sembari terus memperbaiki lagu-lagu ciptaannya pada kemudian hari. Cara ini terbukti jitu. Pak Dal menciptakan lagu “Bintang Kecil” dengan sempurna. “Memperlihatkan kekuatan Pak Dal dalam penguasaan konsep penciptaan lagu anak-anak,” catat Karsono dalam “Nyanyian Melintas Zaman: Kajian Musikalitas Lagu Anak-anak dalam Dunia Pendidikan di Indonesia” termuat di jurnal Kumara Cendekia, Volume 2, Nomor 2 Tahun 2014. Hubungan dengan Murid Pak Dal tak lelah untuk belajar. Meski sudah menciptakan “Bintang Kecil” dengan sempurna, dia masih memperdalam teori musik demi penyempurnaan lagu anak-anak. Dia melakukannya seraya mengajar siswa-siswi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) –setingkat SMA– di Yogyakarta. Dalam pandangan Pak Dal, SPG paling berperan dalam mempopulerkan lagu anak-anak. Karena itu, dia mempersiapkan siswa-siswi SPG dengan matang. Kelak mereka akan bersentuhan langsung dengan anak-anak dan membawakan lagu anak-anak ciptaannya sendiri. Seperti saat mengajar di sekolah dasar, Pak Dal memperoleh tempat istimewa di kalangan siswa-siswi SPG. “Enak cara mengajarnya,” ungkap seorang mantan anak didik Pak Dal kepada Kompas . Dia mengisahkan Pak Dal kerap membawa gambang kecil ke kelas untuk melatih siswa-siswinya agar lebih teliti mengenal nada. Ini membentuk ikatan erat antara mereka. Hasilnya, hubungan Pak Dal dengan siswa-siswinya tak terputus setelah mereka berpisah. Banyak siswa-siswinya mengunjunginya untuk meminta saran dan nasihat dalam mendidik anak-anak. Tak jarang, mereka juga meminta diktat lagu-lagu ciptaan Pak Dal. “Saya jilid sendiri, saya kumpulkan sendiri, dan saya kasihkan,” kata Pak Dal. Diktat itu berisi lebih dari seratusan lagu ciptaan Pak Dal sejak zaman Jepang. “Lagu-lagunya selalu berisi pendidikan,” tulis Tempo , 29 Oktober 1977. Sebut saja lagu “Berlabuh”, “Peramah”, dan “Sopan”. Kepada siswa-siswinya, Pak Dal selalu mengingatkan jurus utama menciptakan lagu anak-anak. “Sederhana, lincah, dan gembira,” ujar Pak Dal. Praktik, Praktik, dan Praktik Meski belajar teori musik secara mendalam, Pak Dal mengkritik keras sistem pendidikan yang menekankan teori. Pendidikan harus ada praktiknya. Dia mendorong siswa-siswinya untuk berani menciptakan sendiri lagu anak-anak sebagai bagian dari praktik sebelum mereka mengajar di sekolah dasar. Selama siswa-siswinya belum bisa menciptakan lagu anak-anak, Pak Dal mengizinkan mereka menggunakan lagu dirinya dan orang lain. Tapi siswa-siswinya sering bingung. Sebab tak banyak lagu anak-anak yang berkualitas baik. Pak Dal membantahnya. Lagu anak-anak yang berkualitas baik itu banyak. Tapi mereka jarang muncul di TV ataupun radio. Keduanya lebih suka memutar lagu anak-anak bercita rasa pop. Sebab lagu itulah yang menguntungkan buat mereka. Ini berakibat pada pilihan hidup para komponis. Mereka terpaksa ikut arus dengan menciptakan lagu anak-anak bercita rasa pop. Seperti itulah lingkaran setan penciptaan lagu anak-anak pada 1970-an. Di tengah gempuran lagu anak-anak bercita rasa pop, Pak Dal wafat di Yogyakarta pada 15 Oktober 1977. Setelah itu, nama Pak Dal mulai dilupakan walau karyanya tetap bergaung. Dia sempat bercerita dukanya menjadi komponis. Anak-anak mengingat lagu dan namanya, tapi para orangtua lupa menatapnya.
- Haji Agus Salim di Mata Natsir
Pada 1950, Indonesia kembali mengubah bentuk pemerintahannya dari Republik Indonesia Serikat (RIS) ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Masyumi Mohammad Natsir ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai perdana menteri. Jabatan itu menjadi yang tertinggi bagi Natsir sekaligus yang pertama. Kabinet Natsir mulai menjalankan aktivitas kenegaraannya pada September 1950. Dalam Biografi Mohammad Natsir , Lukman Hakiem menyebut ada tiga tokoh yang mempengaruhi alam pikir seorang Natsir, yakni: Ahmad Hassan (pendiri Persis), Syaikh Ahmad Soorkati (pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyah), dan Haji Agus Salim. Jika Ahmad Hassan adalah guru di bidang keagamaan, Agus Salim diakui Natsir sebagai guru di bidang politik. “Dalam mata rantai generasi kepemimpinan umat Islam Indonesia, M. Natsir adalah penerus kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto (1882-1934) dan H. Agus Salim (1884-1954). Karena itu dapatlah dikatakan bahwa sikap dan jejak langkahnya adalah kelanjutan sikap dan jejak langkah umat terdahulu,” tulis Thohir Luth dalam M. Natsir: Dakwah dan Pemikirannya . Pemikiran Agus Salim cukup besar mempengaruhi kegiatan berpolitik Natsir. Sejak masih aktif di Jong Islaminten Bond (JIB), pandangan-pandangan The Grand Old Man telah dikenal Natsir. Selain karena usia keduanya terpaut cukup jauh (24 tahun) pengalaman-pengalaman Agus Salim juga telah memberi pengaruh signifikan kepada seorang Natsir. “Kalau kita hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah seorang putra Indonesia, maka saya rasa paling pertama tepat adalah pada Haji Agus Salim,” kata Natsir seperti dikutip Dharma Setyawan dalam Haji Agus Salim: The Grand Old Man . “…dia itu seorang politikus, seorang diplomat yang ulung, seorang ilmuwan, dan pejuang.” Pernah pada suatu kesempatan, semasa menjabat pengurus JIB, Natsir dan beberapa kawan datang membawa satu masalah ke hadapan Agus Salim. Mereka pun terlibat perbincangan panjang. Setelah mendengar penjelasan Natsir, Agus Salim melontarkan pandangannya tentang kesulitan yang dihadapi juniornya itu secara jelas. Natsir dan para pengurus JIB mendengarkan dengan seksama penjelasan Agus Salim dan berharap mendapat solusi yang baik atas permasalahan mereka. Meski telah lengkap berbicara, namun gurunya itu tak kunjung memberikan jawaban, hingga seseorang berani menanyakannya. Dengan cepat Agus Salim menyela: “Jawaban permasalahan itu ada pada saudara-saudara, karena ini persoalan generasi saudara, bukan persoalan saya. Lihat anak saya yang masih kecil, jikalau saya terus menggendongnya kapan ia berjalan? Biarlah ia mencoba berjalan. Terjatuh ia, tetapi ia akan beroleh pengalaman dari itu,” ucap Agus Salim. Bagi Natsir, Agus Salim selalu ingin melihat generasi setelahnya memecahkan persoalan sendiri. Jika memang telah berusaha tetapi kesulitan itu sulit dipecahkan, barulah dia ikut ambil bagian. Tapi itupun tidak secara langsung. Dengan cara begitu Agu Salim yakin akan tumbuh keberanian dan kedewasaan yang akan melahirkan corak kepemimpinan baru. Natsir dan Agus Salim sendiri pernah bekerjasama. Keduanya pernah duduk di kabinet yang sama sebanyak tiga kali: Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946-2 Oktober 1946), Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946-27 Juni 1947), dan Kabinet Hatta I (29 Januari 1948-4 Agustus 1949). Natsir bertindak sebagai Menteri Penerangan, sementara Agus Salim dipercayai memimpin Kementerian Luar Negeri. Mereka kerap terlibat dalam diskusi-diskusi soal kenegaraan. Kedekatan Natsir dan Agus Salim di dalam kabinet disaksikan langsung oleh sejarawan George Mc Turnan Kahin saat mengunjungi Yogyakarta pada Agustus 1948. Ditulis H. Azmi dalam “Mohammad Natsir Nasional Sejati” termuat 100 Tahun Mohammad Natsir: Berdamai dengan Sejarah , Kahin yang hendak menemui Natsir di kantor kementerian penerangan terlebih dahulu berbincang dengan Agus Salim. Bagi Menteri Luar Negeri itu Natsir adalah sosok yang sederhana, tetapi memiliki budi pekerti baik. “Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri. Namun demikian dia adalah seorang yang cakap dan penuh kejujuran…,” kata Agus Salim.
- Didi Kartasasmita dan Pengkhianatan Seorang KNIL
Anhar Gonggong berang. Dia tak pernah bisa menerima jika Sultan Hamid II ditabalkan sebagai Pahlawan Nasional. Menurut sejarawan terkemuka itu, Sultan Hamid II terlalu banyak memiliki “dosa” kepada Republik Indonesia (RI). Salah satunya adalah menjadi bagian dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di kala bangsa ini berhadapan dengan Belanda yang ingin kembali berkuasa. “Dia bahkan mau menjadi ajudan khusus Ratu Belanda Wilhelmina pada 1946,” ujarnya. Situasi sebaliknya justru terjadi pada R. Didi Kartsasmita, senior Sultan Hamid II di Akademi Militer Kerajaan Belanda (KMA) Breda. Ketika mengetahui RI sudah berdiri pada 17 Agustus 1945, Didi justru menghadap Menteri Penerangan sekaligus Menteri Pertahanan add interim Amir Sjarifuddin untuk menawarkan diri. “Saya lulusan KMA Breda dan pernah menjadi letnan satu pada kesatuan KNIL. Saya merasa terpanggil untuk membantu perjuangan RI. Apa kiranya yang bisa saya kerjakan?” ujar Didi Kartasasmita seperti ternukil dalam otobiografinya Pengabdian bagi Kemerdekaan (disusun oleh Tatang Sumarsono). Amir sendiri menyambut baik tawaran Didi. Di tengah banyaknya para eks anggota KNIL yang bergabung dengan Pemerintah Sipil Hindia Belanda (NICA) pimpinan H.J. van Mook pasca menyerahnya Jepang kepada Sekutu, keinginan Didi untuk mengabdi kepada Republik merupakan suatu hal yang menggembirakan. “Memang, saudara diharapkan dapat membantu kami. Tentu banyak yang saudara dapat kerjakan,” jawab Amir. Dalam kesempatan itu, Amir juga bercerita bahwa pemerintah RI memang sudah merencanakan akan segera membentuk tentara. Untuk mengisinya, sudah ada kesedian dari beberapa mantan perwira Pembela Tanah Air (PETA), sebuah kesatuan yang dibentuk bala tentara Jepang untuk menghadapi Sekutu. “Tapi alangkah baiknya jika para mantan opsir KNIL pun turut serta di dalamnya,” ujar Amir Sjarifuddin. Sejarah mencatat, Didi kemudian berkeliling Jawa untuk menghimpun dukungan kepada RI dari eks opsir-opsir KNIL. Setelah ditandatangani 20 eks opsir KNIL (termasuk eks Mayor Oerip Soemohardjo) dan disetujui Presiden Sukarno, maklumat tersebut diumumkan ke khalayak lewat corong Radio Republik Indonesia (RRI) selama sepuluh hari berturut-turut sejak 11 Oktober 1945. * Berdasarkan keputusan rapat kabinet 15 Oktober 1945 yang dipimpin Wakil Presiden Mohammad Hatta, Didi diberi pangkat mayor jenderal. Dia kemudian ditugaskan untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jawa Barat. Otomatis tugas tersebut menjadikannya sebagai Panglima Komandemen Jawa Barat. Di lain pihak, bergabungnya 20 eks perwira KNIL ke TKR membuat marah eks anggota-anggota KNIL yang lain. Mereka dicerca sebagai “pengkhianat” yang telah melanggar sumpah setia kepada Ratu Belanda. Bahkan begitu berangnya mereka, hingga Panglima KNIL Letnan Jenderal S.H. Spoor (eks instruktur Didi di KMA Breda) menyebut Didi sebagai “bajingan”. Demikian menurut J.A. de Moor dalam Jenderal Spoor, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia. Namun Didi memiliki hujah sendiri terkait soal tersebut. Dia meyakini bahwa sejak Panglima KNIL Letnan Jenderal Hein ter Poorten menyatakan KNIL bubar pada 9 Maret 1942, secara otomatis kewajiban untuk “setia kepada Ratu Belanda” gugur. Dan ketika dihadapkan kepada dua pilihan: berada di pihak NICA yang ingin menjajah kembali Indonesia atau berada di pihak RI yang sudah menjadi negara merdeka, tentu saja sebagai orang Indonesia dirinya akan berdiri di belakang RI. Didi membuktikan baktinya kepada RI saat TKR harus berhadapan dengan tentara Inggris. Kendati dia tidak pernah menyetujui perintah Jakarta supaya pasukannya di Bandung “mengalah” kepada Inggris, namun pada akhirnya dia tetap menarik mundur TKR ke luar Bandung pada Maret 1946. Kepatuhan Didi kepada pemerintah RI ternyata tidak berbalas. Ketika Komandemen Jawa Barat dibubarkan, nama Didi justru tergeser oleh juniornya Kolonel A.H. Nasution yang kemudian menjadi panglima di Divisi I Siliwangi (nama pengganti Komandemen Jawa Barat). Padahal di Jawa Barat saat itu masih banyak senior-senior Nasution semasa di KNIL. Selain Didi pun, ada Kolonel Hidajat Martaatmadja, perwira Sunda yang juga alumni KMA Breda. Didi menyebut Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin lebih munyukai para juniornya. Itu disebabkan para senior eks KNIL seperti dirinya dan Hidayat dianggap “kurang revolusioner”. Dia juga tak menafikan bahwa di antara eks KNIL sendiri terdapat friksi antara kelompok tua (sebagian besar alumni KMA Breda) dengan kelompok muda (lulusan KMA Bandung dan CORO, sekolah perwira cadangan KNIL). “Situasi tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah pusat,” ujar Didi. Nyatanya karier Nasution sendiri semakin meroket. Ketika pemerintahan Amir Sjarifuddin jatuh dan digantikan oleh Mohammad Hatta, Nasution didapuk sebagai Kepala Staf TNI, menggantikan Suryadi Suryadarma. Menurut Didi, langkah para tokoh sipil itu sudah sangat keterlaluan dan membuatnya kecewa. Terlebih saat Hatta mencopot Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo dari jabatan Kepala Staf TNI dan digantikan justru oleh Nasution. “Tindakan itu betul-betul melukai hati saya,” ungkapnya. Didi bisa menerima jika pengganti Oerip adalah Suryadarma, teman seangkatannya di KNIL. Namun, jika pemerintah mengangkat Nasution sebagai Kepala Staf TNI, itu menyalahi prosedur ketentaraan. Kata Didi, seorang opsir yang “dilompati” juniornya otomatis dia harus mengundurkan diri, karena dianggap sebagai opsir yang tidak becus melaksanakan tugas. “Itulah yang menyebabkan saya minta mundur dari TNI,” ujarnya. Presiden Sukarno sendiri tak pernah mengizinkan Didi untuk keluar dari TNI. Usai melayangkan surat pengunduran dirinya yang kesekian kali, Sukarno pernah mengutus Kolonel T.B. Simatupang untuk mengurungkan niatnya dengan alasan dia akan dijadikan salah satu delegasi khusus ke Amerika Serikat. Alih-alih merasa tersanjung dengan ajakan itu, Didi malah sudah terlanjur mutung. “Ketika dulu saya membentuk tentara, saya lakukan demi pengabdian. Karena itu kalau pun hari ini saya akan mundur, tak ada seorang pun yang bisa menghalangi saya,” jawabnya kepada Simatupang. * Usai mundur dari TNI, Didi ditangkap oleh tentara Belanda di wilayah sekitar Purwokerto. Setelah beberapa bulan ditahan, dia dilepaskan atas jaminan langsung dari Spoor. Menurut de Moor, Panglima KNIL itu sangat bergembira begitu tahu Didi telah keluar dari TNI. “Dalam suratnya kepada Kepala Staf Umum Tentara Kerajaan Belanda Jenderal H.J. Kruls , Spoor memuji dirinya sendiri yang telah berhasil mengusir salah satu “bajingan” itu dari meja perundingan yaitu Mayor Jenderal Raden Didi Kartasasmita…”ungkap sejarawan militer Belanda tersebut. Usai dibebaskan, Didi pulang ke Bandung. Seterusnya dia hidup sebagai seorang sipil dan bekerja di lingkungan Kementerian Kesehatan Negara Pasundan. “Itu saya lakukan untuk sekadar bertahan hidup,” ujar Didi. TNI tentu saja berang dengan keputusan Didi. Secara terbuka, Nasution sendiri pernah menyebut Didi sebagai “tukang menyebrang” dan orang yang pro federalisme. “Penyebrangan-penyebrangan terakhir seperti dilakukan Didi Kartasasmita cs. tidak mempunyai pengaruh yang berarti terhadap pemerintahan RI,” ungkap Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 9 . Untuk yang kedua kali, Didi menampik bahwa dia telah melakukan pengkhianatan terhadap RI. Jika mau, katanya, selepas dari tahanan Belanda dia bisa saja bergabung kembali dengan KNIL atau menerima tawaran menjadi Komandan Batalyon Pertahanan Negara Pasundan. “Tapi itu tak pernah dilakukan karena saya masih mencintai Republik Indonesia,” ujarnya. Sebagai catatan, usai menolak masuk kembali KNIL, Didi diberi surat pemecatan dari KNIL terhitung sejak 17 Agustus 1945. Namun, surat itu baru diberikan pada awal 1949. Bisa jadi jika Didi menerima tawaran tetap meneruskan karier di KNIL, surat pemecatan tak akan pernah sampai kepadanya. Berbeda dengan Didi, Nasution sendiri tak termasuk dalam daftar anggota KNIL yang dipecat karena keberpihakannya kepada RI. Menurut Manai Sophian dalam Apa yang Masih Teringat , hanya Didi Kartasasmita, Oerip Soemohardjo, Suryadarma dan beberapa eks perwira tinggi Republik lainnya yang dinyatakan dikeluarkan secara tidak hormat dari KNIL.
- Lima Fakta Tentang Sultan Hamid II
Nama Sultan Hamid II banyak diperbincangan belakangan ini. Berbagai kalangan memperdebatkan, apakah Sultan Hamid pahlawan atau pengkhianat? Bernama lengkap Sjarif Hamid Alqadrie, Sultan Hamid II lahir di Pontianak pada 12 Juli 1913. Hamid merupakan putra sulung Sultan Sjarif Muhammad Alqadrie. Sedari kecil, putra mahkota keturunan Arab-Melayu ini telah dipersiapkan untuk melanjutkan tahta Kesultanan Qadriyah Pontianak. Maka pada 29 Oktober 1945, secara resmi Hamid dinobatkan sebagai penguasa ke-7 Kesultanan Qadriyah Pontianak bergelar Sultan Hamid II. Sultan Hamid II meniti namanya dengan melalui jalan berliku. Keberpihakannya kepada Belanda ditandai dengan kesediaan menjadi ajudan istimewa Ratu Belanda. Selain itu, Hamid secara tegas lebih mendukung sistem negara federalis ketimbang negara kesatuan. Di sisi lain, Hamid juga disebut punya jasa bagi Republik Indonesia (RI). Dia ikut terlibat dalam Konfrensi Meja Bundar (KMB) sebagai pimpinan Badan Permusyawaratan Federal (BFO) sehingga Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Hamid jugalah yang disebut-sebut merancang simbol Garuda Pancasila, yang menjadi lambang RI sampai hari ini. Sayangnya, Hamid mencoreng sendiri reputasinya karena berkolaborasi dengan eks perwira KNIL (Kapten R.P.P. Westerling) dalam pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Kini. wacana untuk merehabilitasi nama Sultan Hamid menguar ke publik. Adalah Yayasan Sultan Hamid II yang giat mengajukan Sultan Hamid II sebagai pahlawan nasional. Usulan ini memantik polemik setelah A.M. Hendropriyono angkat bicara. Dia mengatakan Sultan Hamid II tak pantas menjadi pahlawan nasional karena pernah berkhianat kepada RI. Terbaru, sejarawan senior Anhar Gonggong mengecam pengajuan Hamid sebagai pahlawan nasional karena berada di pihak Belanda ketika kaum sebangsanya berjuang dalam perang mempertahankan kemerdekaan. “Kita sedang dikejar-kejar Belanda, mau dibunuh Belanda, Sultan Hamid menerima jabatan itu (ajudan istimewa Ratu Belanda). Patriotisnya dimana?” kata Anhar Gonggong . Apakah gelar pahlawan nasional memang tidak pantas disematkan kepada Sultan Hamid II? Berikut fakta sejarah mengenai Sultan Hamid II yang dirangkum Historia . Ajudan Istimewa Ratu Wilhelmina Hamid merintis kariernya sebagai perwira Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Selama karir militernya, Hamid pernah bertugas di Malang, Bandung, Balikpapan, dan beberapa tempat lainnya. Selama pendudukan Jepang, Hamid ditahan di Batavia. Sementara itu, keluarganya di Pontianak dibantai oleh tentara Jepang dalam Peristiwa Mandor 1943--1944. Pada 1946, Sultan Hamid menerima jabatan kehormatan sebagai ajudan istimewa Ratu Belanda, Wilhelmina dengan pangkat mayor jenderal. Ini adalah jabatan tertinggi yang pernah diemban oleh orang Indonesia dalam Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Namun pada saat yang sama, Indonesia harus menghadapi Belanda yang berniat menguasai kembali tanah jajahannya yang subur tersebut. Ketua BFO Bersama dengan Belanda yang hendak menegakkan kuasa di Indonesia, Hamid membentuk federasi bernama Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) pada 1947. DIKB terdiri dari negara-negara kerajaan se-Kalimantan Barat sebagai daerah otonom yang menjalin persemakmuran dengan Kerajaan Belanda. Pada 1949, Hamid menjadi ketua BFO menggantikan ketua pertama Mr. Tengku Bahriun dari Negara Sumatra Timur. Hamid dan koleganya di BFO bersepakat dengan RI membicarakan konsep penyatuan bangsa serumpun yang terpecah-belah dalam Konferensi Inter Indonesia. Harian Merdeka, 3 Agustus 1949 mengutip pidato Sultan Hamid II dalam konferensi penutup yang berbunyi, “Beberapa hari lagi kita akan berangkat ke Belanda untuk turut serta dalam KMB dengan semangat yang telah mempengaruhi kita disini semangat persamaan dan persaudaraan.” Dengan demikian, konsensus terjalin antara RI pimpinan Sukarno dengan BFO pimpinan Sultan Hamid untuk menuju KMB yang akan menghasilkan pengakuan kedaulatan. Sejarawan Richard Leirissa dalam penelitiannya menyebut BFO sebagai Kekuatan Ketiga dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Anshari Dimyati, Direktur Eksekutif Yayasan Sultan Hamid II mengatakan peran Sultan Hamid dalam BFO justru dinafikan. Menurutnya Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terbentuk sejak penyerahan kedaulatan pada KMB itu tidak dilihat secara utuh sebagai mata rantai sejarah terbentuknya Indonesia yang kita kenal sekarang. Perancang Lambang Garuda Pada Januari 1950, Presiden RIS Sukarno menunjuk Hamid sebagai menteri negara tanpa portofolio sekaligus koordinator tim perumusan lambang negara. Dalam sidang kabinet, 10 Januari 1950, Hamid membentuk Panitia Lencana Negara. Kemudian diadakanlah sayembara pembuatan lambang negara. Dua karya terbaik diraih atas nama Muhammad Yamin dan Sultan Hamid. Panitia menolak rancangan Yamin karena mengandung banyak unsur sinar matahari yang mengesankan adanya pengaruh fasis Jepang. Sementara itu, lambang Garuda Pancasila rancangan Hamid ditetapkan sebagai lambang negara RIS pada 11 Februari 1950. Dalam perkembangannya, lambang burung garuda rancangan Hamid mendapat masukan sana-sini. Hamid melakukan beberapa perbaikan dari rancangan semula. Maka jadilah Garuda Pancasila yang menjadi lambang negara RI seperti sekarang ini. Bermufakat dengan Westerling Dua bulan setelah rancangannya ditetapkan sebagai lambang negara, jabatan Hamid sebagai menteri negara dicabut. Pada 5 April 1950, Hamid ditangkap saat berada di Hotel Des Indes Jakarta oleh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX atas perintah Jaksa Agung RIS Tirtawinata. Hamid dituduh sebagai dalang dari penyerangan berdarah dan rencana makar yang dilakukan eks Kapten Westerling dalam pemberontakan APRA. Hamid menjalin mufakat dengan Westerling karena ingin mempertahankan negara federal. Dalam pledoinya, Hamid mengakui telah memberi perintah kepada Westerling dan Inspektur Polisi Frans Najoan untuk menyerang sidang Dewan Menteri RIS pada 24 Januari 1950. Dalam penyerbuan itu, Hamid juga memerintahkan agar semua menteri ditangkap, sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo dan Kepala Staf Angkatan Perang PRIS (APRIS) Kolonel TB Simatupang harus ditembak mati. Ironisnya, Sultan Hamid II dan Sri Sultan adalah kawan masa kecil sewaktu sama-sama bersekolah di ELS Yogyakarta. Menurut pengakuan Sri Sultan seperti terkisah dalam Tahta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX, selama bersekolah Hamid tidak suka antem-anteman (berkelahi). Berbeda dengan dirinya yang seringkali distrap oleh guru karena berkelahi. Terhukum Dua Kali Karena keterlibatannya dalam aksi Westerling, Sultan Hamid dihadapkan ke pengadilan. Pada 8 April 1953 Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara dipotong masa tahanan tiga tahun kepada Hamid. Dasar pertimbangannya adalah adanya “niat” Hamid menyuruh Westerling dan Frans Najoan untuk menyerbu Dewan Menteri RIS dan menembak mati tiga pejabat pemerintah. “Dia pernah dihukum (penjara) 10 tahun. Ada persyaratan undang-undang tidak mungkin dia diterima (pahlawan nasional) karena pernah dihukum 10 tahun disamping menerima jabatan demikian rupa sebagai ajudan (istimewa) dan pangkat yang dibanggakan sebagai tertinggi pada 1946,” kata Anhar Gonggong. Ketika bebas pada 1958, Hamid tidak lagi berpolitik. Namun, setelah empat tahun menghirup udara bebas, dia kembali ditangkap dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun, Jawa Timur, pada Maret 1962. Dia dituding melakukan kegiatan makar dan membentuk organisasi ilegal Vrijwillige Ondergrondsche Corps (VOC) dengan wakilnya bernama Pitoy. Anggotanya kebanyakan dari Indonesia Timur seperti Sahetapy, Johannes, dan Ondang sebagai kepala Brigade Penghancuran (Vernielings Brigade). Meski demikian, tuduhan ini tidak dapat dibuktikan karena Hamid ditahan tanpa melalui proses pengadilan. Selepas bebas dari RTM Madiun, Hamid beraktifitas di dunia bisnis. Dia menggeluti bisnisnya itu sebagai Presiden Komisaris PT. Indonesia Air Transport, sejak tahun 1967 hingga tahun 1978. Pada 30 Maret 1978, Sultan Hamid II wafat di Jakarta, tepat pukul 18.15 ketika dirinya sedang melakukan salat Magrib.
- Kesebelasan Brasil dan Hungaria Adu Jotos di Piala Dunia
Hari ini, 27 Juni, 66 tahun silam. Di hadapan 40 ribu penonton yang memadati stadion Wankdorf, Bern, Swiss, wasit Arthur Ellis asal Inggris dengan percaya diri memasuki lapangan didampingi dua hakim garis dan diikuti dua tim yang akan saling berhadapan. Ellis bangga dipercaya memimpin pertandingan yang kemudian dijuluki “Battle of Berne” itu. “Kupikir itu akan menjadi pertandingan terhebat yang pernah aku lihat. Aku berada di puncak dunia,” ujarnya sebagaimana dikutip Guy Hodgson dalam “Footbal: Ellis a Knockout During the Battle of Berne”, dimuat di independent . co . uk . Pertandingan yang dipimpin Ellis itu merupakan partai perempat final Piala Dunia 1954 antara Brasil melawan Hungaria. Tiga partai perempat final lainnya mempertemukan Austria kontra Swiss, Uruguay kontra Inggris, dan Jerman Barat kontra Yugoslavia. Dalam partai yang dipimpin Ellis, Hungaria dijagokan karena performanya sedang berada di puncak. Dua tahun sebelumnya, negeri itu meraih medali emas cabang sepakbola di Olimpiade Helsinki. “Tim luar biasa ini dipimpin Wakil Menteri Olahraga, Gustav Sebes, dan di bawahnya seorang pelatih, Gyula Mandi. Latihannya dilakukan bervariasi dan inventif, dan para pemain didorong untuk berlatih atletik, bahkan mendaki gunung. Tak perlu dikatakan ada penekanan besar pada pelatihan dengan bola –masih, luar biasa, hal yang langka di Inggris yang konservatif– dan 'situasi pertandingan' diciptakan kembali dalam latihan,” tulis Brian Gianville dalam The Story of the World Cup: The Essential Companion to South Africa 2010 . Para pendukung Hungaria jelas tak kecewa. Meski tanpa bintang Ferenc Puskas yang absen karena cedera, Hungaria langsung memimpin dua gol –lewat striker Nandor Hidegkuti dan Sandor Kocsis– ketika pertandingan belum mencapai 10 menit. Brasil memperkecil ketinggalan lewat titik putih yang dengan baik dieksekusi Djalma Santos. Hujan deras yang mengguyur stadion membuat lapangan licin dan bola sulit dikendalikan. Bertahan hingga paruh pertama, skor 2-1 berubah ketika Mihaly Lantos menambah keunggulan Hungaria ketika babak kedua baru berjalan delapan menit. Tensi pertandingan makin tinggi di babak kedua. Pelanggaran demi pelanggaran makin sering dilakukan kedua tim. Perkelahian pun tak dapat dielakkan. Nilton Santos dan Josef Bozsik saling pukul setelah Bozsik tak terima ditekel keras Santos. Wasit Ellis langsung mengusir keduanya dengan kartu merah. Selang beberapa saat kemudian, giliran Djalma Santos mengejar Zoltan Czibor. Empat menit menjelang peluit akhir, giliran striker Brasil Humberto Tozzi yang diusir Ellis karena menendang bek Hungaria Gyula Lorant. Ellis tak peduli meski Tozzi berlutut meminta maaf. Perkelahian baru berhenti ketika Ellis meniup peluit akhir di mana skor 4-2 untuk Hungaria. Namun, ternyata perkelahian berhenti hanya sementara. Puskas yang duduk di pinggir lapangan ogah ketinggalan sehingga ikut berkelahi meski masih cedera. “Dia melemparkan botol ke wajah Pinheiro dan mengakibatkan luka yang perlu dijahit dengan cepat,” tulis Mark Ryan dalam Lowdown: A Short History of the World Cup . Ulah Puskas memicu balas dendam dari tim Brasil. “Tim Brasil menyerbu ruang ganti Hongaria setelah pertandingan untuk melanjutkan pertarungan,” sambung Ryan. Upaya kiper Brasil Castilho menenangkan rekan-rekannya gagal. Botol dan sepatu bola dilemparkan tim Brasil kepada lawan mereka. Para anggota tim Hungaria pun banyak menjadi korban “Gustav Sebes (wakil menteri olahraga Hungaria, red .) pipinya terluka,” tulis Gianville. “Mereka berperilaku seperti binatang. Itu memalukan,” kata Ellis. Tawuran baru berhenti ketika Presiden Komite Piala Dunia Swiss Ernst Thommen turun ke ruang ganti untuk menengahi. Namun upaya itu telat, korban telah berjatuhan. Yang memprihatinkan, panitia tak bertindak tegas meski ada tawuran, bahkan sejak perkelahian antar-pemain kedua tim terjadi di saat pertandingan. Masing-masing ofisial tim pun menolak menghukum para pemainnya yang terlibat. Hebatnya, kata Ellis, badan pengatur sepakbola tidak melakukan apapun. “FIFA menutup mata. Terlalu banyak anggota komite takut kehilangan perjalanan ke tempat-tempat bagus. Itu pertandingan yang mengerikan,” kata Ellis yang kebanggaannya memimpin pertandingan seketika berubah begitu melihat hasilnya di luar dugaan.
- Adik Goering Anti-Nazi dan Penyelamat Yahudi
HALAMAN kamp tahanan transit Augsburg suatu siang medio Mei 1945. Albert Goering (dalam bahasa Jerman ditulis Göring) sedang cari angin di saat waktu rehat sembari memikirkan nasibnya jelang dikirim ke Pengadilan Nuremberg itu. Rona mukanya sontak berbinar kala dari kejauhan sang kakak menyapa. Siapa lagi kalau bukan Hermann Goering. Sang kakak merupakan orang nomor dua di rezim Nazi setelah Adolf Hitler. Hermann juga tinggal menunggu waktu dikirim ke Pengadilan Nuremberg untuk mempertanggungjawabkan pecahnya Perang Dunia II dan holocaust yang menelan korban sekira enam juta nyawa Yahudi dan sejumlah ras lain yang dianggap Nazi sebagai ras rendahan. “Saya sangat menyesal, Albert, bahwa Engkau juga harus amat menderita karena aku. Engkau akan segera bebas. Lalu jagalah istri dan anakku. Selamat tinggal!” cetus Hermann, dikutip sejarawan William Hastings Burke dalam Thirty Four: The Keys to Göring’s Last Secret . Itu kali terakhir adik-kakak Albert dan Hermann, yang bertolakbelakang soal politik, bertemu. Meski keduanya dikirim ke Pengadilan Nuremberg, rangkaian persidangan untuk mengadili para kaki-tangan Nazi 19 November 1945-1 Oktober 1946, keduanya dipisahkan kamar tahanan. Di akhir pengadilan pun hanya ada satu Goering yang keluar hidup-hidup. Beda Jalan Tak banyak yang aware bahwa selain Adolf Hitler, Reichsmarschall Hermann Goering juga punya keluarga penentang Nazi. Dalam keluarga Hitler, penentang itu ada pada sosok William Patrick Hitler. Anak dari adik tiri sang diktator, Alois Hitler Jr., itu di Perang Dunia II mengabdi di Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai prajurit medis. Pasca-perang, pria kelahiran Liverpool, Inggris itu mengganti namanya menjadi William Patrick Stuart-Houston. Kisah Willy Hitler mengemuka lantaran ia menulis memoar bertajuk My Uncle Adolf . Tetapi berbeda bagi Albert Goering. Nama Goering baik ini justru jarang terdengar pasca-dibebaskan dari segala tuduhan oleh Pengadilan Nuremberg. Ia mati dalam sepi tanpa diketahui sumbangsihnya sebagai aktivis anti-Nazi, hingga pada 2006 kisahnya digali dan diangkat Burke. Kiri ke kanan: Hermann Wilhelm, Paula Elisabeth Rosa, Albert Günther, Dr. Hermann von Epenstein, Olga Therese Sophie (Foto: Repro "Göring: Eine Karriere") Albert Günther Göring merupakan anak bungsu Heinrich Ernst Göring, seorang eks Reichkommissar (setara gubernur jenderal) koloni Kekaisaran Jerman di Afrika Barat Daya (kini Namibia) dan Konsul Jenderal Jerman di Haiti, dari istri keduanya, Franziska ‘Fanny’ Tiefenbrunn. Albert lahir di distrik Friedenau, Berlin pada 9 Maret 1895. Berbeda dari Hermann sang kakak yang juga anak Heinrich dan Fanny, tiga kakak Albert yang lain: Karl Ernst, Olga, dan Paula, lahir dari rahim istri pertama Heinrich, Caroline Maria de Neree. Caroline meninggal pada 1901. Lantaran tugasnya di luar Jerman, Heinrich jarang ada di rumah. Keluarganya dititipkan pada Dr. Hermann von Epenstein, pebisnis Yahudi yang bersahabat dengan Heinrich sejak jadi gubernur jenderal di Afrika. Sebagaimana sang kakak, Albert juga memenuhi panggilan tugas kala Perang Dunia I pecah. Jika Hermann berkiprah sebagai penempur udara, Albert jadi opsir teknik komunikasi dan sinyal di parit-parit perlindungan pasukan darat Jerman. Pasca-Perang Dunia I, Hermann memilih bergabung dengan Partai Nazi bareng Hitler, sementara Albert melanjutkan pendidikan dengan kuliah di jurusan teknik mesin Technische Universität München. Albert lantas bekerja sebagai salah satu direktur Sascha-Filmindustrie AG milik Oskar Pilzer di Wina, Austria. Sejak itu, hubungan Albert dan Hermann tak lagi dekat. Nepotisme Menyelamatkan Korban Nazi Hubungan keduanya membaik pasca-Jerman mencaplok Austria pada 1938. Di tempat tinggalnya di Grinzig, Albert sering dikunjungi Hermann dan ini dijadikan “modal” oleh Albert untuk menjalankan misi menyelamatkan ratusan orang Yahudi yang ditahan Schutzstaffel (SS) atau Gestapo, polisi rahasia Nazi yang didirikan Hermann. “Sejak Swastika pertama muncul di Wina, ia tak kenal lelah mengatur visa dan sokongan dana untuk teman-teman Yahudinya. Dia mendatangi langsung pejabat-pejabat Nazi di Wina, membela wanita-wanita lansia Yahudi yang dipermalukan dan dipaksa menyikat jalanan berbatu,” sambung Burke. Albert Goering bertugas sebagai petugas sinyal dan komunikasi di Perang Dunia I (Foto: aryse.org/Wolfgeist Limited) Salah satu sosok penting yang diselamatkannya adalah mantan bosnya, Oskar Pilzer, beserta keluarganya. Meski saat Perang Dunia II sudah pecah dan Albert sudah pindah tempat kerja ke pabrik Škoda Works di Cekoslovakia, ia masih sudi membebaskan Pilzer yang ditahan Gestapo keluar dari Jerman. “Albert secara rutin meminta bantuan kakaknya demi teman-teman Yahudinya atau para tahanan politik lainnya dengan memanipulasi ego Hermann dan memanfaatkan kedekatan hubungan keluarga. Hermann adalah jaring pengaman bagi Albert. Walau muncul empat perintah penahanan terhadapnya, Albert tak pernah betul-betul ditahan karena sang kakak selalu datang menolongnya,” kata Burke. Selain Pilzer, sosok penting yang juga pernah diselamatkan Albert adalah mantan Kanselir Austria Kurt Schuschnigg dan Putra mahkota terakhir Wangsa Habsburg-Tuscany Pangeran Joseph Ferdinand. Keduanya diseret ke Kamp Konsentrasi Dachau bersama 70 ribu Yahudi dan para tahanan politik Nazi pada 1938. Dengan dibantu kakak perempuannya, Olga, Albert sukses membujuk Hermann untuk membebaskan keduanya. “Hermann malunya bukan main (mendengar permintaan bantuan Albert, red. ). Tetapi keesokan harinya bangsawan Habsburg itu dibebaskan,” tutur Albert kepada teman lamanya, Ernst Neubach. Albert Goering (kanan) menikmati "nepotisme" lewat jabatan kakaknya untuk mengambil risiko sebagai aktivis anti-Nazi (Foto: g.cz ) Suatu kali, Albert berhasil menyelamatkan ratusan Yahudi dengan cara mirip dengan yang dilakukan Oskar Schindler, industriawan sohor Jerman. Ia mendatangi kamp konsentrasi menggunakan sejumlah truk dan meminta para tahanan untuk dijadikan buruh di pabrik Škoda. Setelah itu, truk-truk itu berhenti di tengah jalan dan Albert diam-diam memerintahkan mereka melarikan diri. “Tapi kemudian kakak saya mengatakan itu terakhir kali dia bisa membantu saya, karena posisi dia juga sedang goyah, dan dia juga terpaksa minta tolong kepada (Heinrich) Himmler secara pribadi untuk melupakan perintah itu,” kata Albert di salah satu sesi persidangan Pengadilan Nuremberg. Toh, aktivitas Albert yang dibantu para anggota perlawanan bawah tanah Cekoslovakia itu akhirnya terlacak Gestapo. Perintah gantung Albert dikeluarkan pada 1944. Albert pun kabur dari Austria dan bersembunyi di Praha. Antitesis Hermann Usai perang, gembong-gembong Nazi dikumpulkan Sekutu untuk disidang. Albert pun ditahan di Nuremberg nyaris dua tahun. Mulanya, para penyidik Amerika ragu akan kisah Albert. Tetapi dewi fortuna berpihak padanya, pengakuan tertulis datang dari 34 korban yang ia selamatkan. Salah satunya dari Pilzer, yang meminta pengadilan mencabut dakwaan-dakwaan terhadap Albert. Ia pun dibebaskan. “Namun masalah tak selesai di situ. Aparat di Praha juga ingin mendakwanya sebagai kolaborator Nazi. Akan tetapi sejumlah anggota perlawanan bawah tanah Ceko yang juga bekerja di pabrik Škoda, di mana Albert sebagai manajernya, bersaksi bahwa Albert menolong mereka melarikan diri dari Nazi,” kata jurnalis investigasi Gavin Esler di BBC Radio 4 , 27 Januari 2016. Pada 1947, Albert benar-benar bebas. Namun nama Goering yang melekat padanya membuat kehidupan pascaperangnya ambyar . Semua istrinya: Maria von Ummon, Erna von Miltner, dan Mila Klazarova, minta cerai. Albert sukar mendapat pekerjaan. “Setelah sekian lama akhirnya dia dapat pekerjaan sebagai desainer di sebuah firma konstruksi di Munich dan menyambi sebagai penulis serta penerjemah. Ia juga menikah lagi untuk keempat kali dengan asisten rumah tangganya, Brunhilde Seiwaldstätter, sampai akhirnya Albert meninggal pada 20 Desember 1966,” tulis Paul R. Bartrop dalam Resisting the Holocaust: Upstanders, Partisans, and Survivors. Sebelum meninggal pada 1966, Albert sempat membuka tabir rahasia hidupnya. Rahasia itu kemudian diungkapkan Elizabeth, putri Albert dari istri ketiganya Mila Klazarova kepada Esler, jurnalis investigasi BBC yang menemuinya di Klasa, Peru. “Ayahnya, Albert, mengaku pada ibunya (Mila) bahwa dia bukanlah adik Hermann Goering dari orangtua yang sama. Dia hanyalah adik tirinya (Hermann). Albert mengatakan bahwa dia adalah putra dari Hermann von Epenstein. Dia lahir sebagai Yahudi tapi kemudian menganut agama Katolik,” ungkap Esler, menerangkan bahwa Albert merupakan anak hasil perselingkuhan Fanny ibunya dengan Von Epenstein. Secara fisik Hermann dan Albert nyaris tak punya kemiripan (Foto: Bundesarchiv) Faktor itu diyakini sebagai motif di balik aktivitas Albert menyelamatkan ratusan orang Yahudi dari kebengisan rezim Nazi sejak berkuasanya Hitler pada 1933. Faktor itu pula yang membuat penampilan fisik maupun sifat Albert dan Hermann bak langit dan bumi. Albert bermata coklat gelap dan ciri wajah khas Eropa Tengah, sementara Hermann bermata biru dan ciri wajah khas Arya. Saat bocah, Albert lebih senang menyendiri dengan buku-bukunya, sementara Hermann adalah bocah pemberontak yang hobi main perang-perangan. “Dia selalu menjadi antitesis dari diri saya sendiri. Dia tak pernah tertarik pada politik atau militer, seperti saya di waktu kecil. Saya senang keramaian dan punya banyak teman. Sedangkan dia pendiam dan tertutup. Dia juga orangnya melankolis dan sering pesimis pada banyak hal, sementara saya seorang yang optimis. Tetapi Albert bukan adik yang buruk,” kata Hermann pada Leon Goldensohm, psikiater Amerika yang mewawancarainya di sela Pengadilan Nuremberg, dikutip Burke. Albert meninggal dalam “sepi” di Neuenbürg lantaran sosoknya sebagai anti-Nazi dan Holocaust tak diakui pemerintah dan masyarakat Jerman Barat selama puluhan tahun. Kisahnya pertamakali diangkat oleh Anthony Read dalam The Devil’s Disciples: Hitler’s Inner Circle yang rilis 1987. Meski biografinya yang ditulis James Wyllie, The Warlord and the Renegade, muncul pada 2006, nama Albert tetap terkubur tanpa pengakuan publik. Kisah Albert baru viral setelah Burke, yang menulis Thirty Four di tahun 2006, mengusulkan ke Yad Vashem di Israel agar menganugerahi Albert Goering penghargaan “Righteous Among the Nations”, pengakuan terhadap aktivis anti-Nazi laiknya Oskar Schindler.
- Aljazair Merdeka
Sebuah panitia khusus didirikan untuk membantu perjuangan kemerdekaan Tunisia, Maroko, dan Aljazair.
- Biaro-Biaro Padang Lawas dan Kerajaan Panai di Sumatra Utara
Setidaknya 26 situs tersebar di Padang Lawas, Sumatra Utara. Di kawasan ini mengalir sungai-sungai, seperti Barumun, sungai induk yang mengalir dari arah barat laut ke tenggara kemudian berbelok ke utara. Lalu Batang Pane, anak Sungai Barumun, dan Sirumambe, anak Sungai Batang Pane, yang mengalir dari barat laut ke tenggara. Di tepi-tepi sungai itu ditemukan situs dari masa Hindu dan Buddha. Mulai dari hulu tepi Sungai Batang Pane, yaitu Situs Gunung Tua, Si Topayan, Hayuara, Haloban, Rondaman, Bara, Pulo, Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Lalu di tepi Sungai Sirumambe, yaitu Situs Batu Gana, Aek Korsik, Lobu Dolok, Si Soldop, Padang Bujur, Nagasaribu, dan Mangaledang. Hingga ke tepi Sungai Barumun, yaitu Situs Pageran Bira, Porlak Dolok, Si Sangkilon, Si Joreng Belangah atau Tandihat 1, Tandihat 2, Longgong atau Tandihat 3 dan Si Pamutung. "Tidak semua lokasi tersebut terdapat runtuhan bangunan, tetapi di beberapa situs ditemukan artefak seperti prasasti, arca, dan stambha," kata Sukawati Susetyo, peneliti Pus at Pene lit ian Arke ologi Nas ional dalam diskusi via zoom berjudul "Percandian di Padang Lawas Potensi Budaya untuk Kemajuan Bangsa" yang diadakan B alai P elestarian C agar B udaya Aceh beberapa waktu lalu. Keberadaan candi-candi itu, atau disebut biaro oleh masyarakat setempat, seringkali dikaitkan dengan Kerajaan Panai, kerajaan yang disebutkan dalam sumber-sumber tertulis. Salah satu sumber yang bisa disesuaikan dengan kondisi percandian Padang Lawas sekarang adalah Prasasti Batugana. Pada prasasti yang ditemukan dekat Biaro Bahal 1 itudisebutkan kata Pannai , artinya daerah yang dialiri oleh sungai-sungai. Kendati berada di pedalaman, keberadaan biaro-biaro dekat aliran sungai membuat akses ke wilayah ini tetap terbuka. Menurut C. Guillot, arkeolog asal Prancis, dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu , sudah lama diduga kalau Padang Lawas ada di tengah sebuah jalan yang menghubungkan kedua pantai Sumatra, di timur dan di barat. Seribu Tahun Lalu Kerajaan Panai disebut dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Rajendra I alias Rajendra Utama Chola yang berkuasa di India Selatanpada 1012–1040. Prasasti Tanjore yang dibuat tahun 1030/1031 dan berbahasa Tamil menyebutkan Kerajaan Chola menyerang Kerajaan Sriwijaya pada 1023/1024. Setelah Rajendracola I mengalahkan Sriwijaya, Panai pun jatuh ke tangannya. Dalam prasasti itu digambarkan Panai adalah kerajaan yang dialiri sungai-sungai. Berita Tiongkok dari abad ke-9 menyebut nama Pu-ni atau Po-li. I-tsing yang lama tinggal di Sumatra mengatakan bahwa Po-li berlokasi di sebelah timur Barus ke arah pedalaman. "Ini dikuatkan oleh Hsu Yun Ts’iao yang mengidentifikasikan Panai sebagai tinggalan Padang Lawas," kata Sukawati. Pada abad ke-14 berita tentang kerajaan Panai juga dimuat dalam Nagarakretagama. Naskah ini ditulis Mpu Prapanca pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit. Kekuasaan yang membangun candi-candi di Padang Lawas kemungkinan besar sudah eksis sejak abad ke-11 atau 1.000 tahun lalu. Itu melihat pertanggalan pada Prasasti Batara Lokanantha, yakni tahun 1039. "Ada temuan arca perunggu Lokanantha, di bagian lapiknya ada angka tahun 1039. Lalu juga angka tahun dalam Prasasti Tanjore 1031," kata Sukawati. Salah satu candinya, Biaro Si Joreng Belanga (Tandihat 1) dibangun pada abad ke-12. Temuan prasasti batu di sana berangka tahun 1101 Saka atau sama dengan tahun 1179. Lalu ada arca Ganesha di Situs Porlak Dolok dekat Sungai Barumun. Angka tahun pada arca ini diinterpretasikan dari abad ke-13 (1245/1213). Dari temuan keramik di Padang Lawas menunjukkan situs-situs di sana mungkin dipakai sejak abad ke-9 hingga ke-14. Dari situs Nagasaribu misalnya, didapatkan keramik dari Dinasti Song, khususnya abad 9-12. Dari Biaro Sipamutung ditemukan keramik Mesir, Suriah abad ke-10-11, Dinasti Song abad ke-10-13, dan Dinasti Yuan dari abad ke-13-14. Begitu pula di Mangaledang, terdapat temuan keramik Dinasti Song dan Dinasti Yuan. Penghubung Dua Pantai Sumatra Guillot mengatakan, arkeolog R. Soekmono pernah mengamati sebagian batu candi di Padang Lawas dibawa dari pantai barat pulau Sumatra. Ketika beberapa candi dipugar, artefak yang ditemukan, yakni serpihan keramik dan kaca, persis sama dengan sebagian dari artefak yang ditemukan di Lobu Tua, Barus. Karenanya paling lambat abad ke-11 Padang Lawas sudah berhubungan dengan pantai barat. Ini juga mengingat di situs Padang Lawas yang luas terdapat peninggalan yang sezaman dengan Barus, termasuk Candi Sipamutung dari abad ke-11. "Dan cukup ramai orang yang melalui jalan ini sehingga lama-kelamaan tinggal benda-benda dan tempat ibadat saja yang membuktikan adanya suatu peradaban asing," kata Guillot. Sementara itu, dari Padang Lawas pun mudah untuk menelusuri Sungai Pane yang bermuara di Sungai Barumun sebelum mencapai pantai timur Sumatra dan bermuara di Selat Malaka. "Sudah lama diperkirakan bahwa Padang Lawas terletak di tengah sebuah jalan yang menghubungkan kedua pantai Sumatra," lanjut Guillot. Letak Padang Lawas pun sangat strategis karena memiliki dua gerbang pelabuhan: Barus di barat dan Labuhan Bilik di timur. Keram Kevonian dalam "Suatu Catatan Perjalanan di Laut Cina dalam Bahasa Armenia" yang terbit di Lobu Tua Sejarah Awal Barus , menyebut Kerajaan Paṇai menjadi penting karena memiliki komoditas utama yang diperebutkan di pasar internasional. Barang itu diperdagangkan di pelabuhan bertaraf internasional yang terletak di pantai barat, Barus, maupun di timur, Labuhan Bilik. Menurut Lisda Meyanti dalam "Prasasti Panai: Kajian Ulang tentang Lokasi Kerajaan Panai", yang terbit di jurnal AMERTA ,Vol. 37 No. 1, Juni 2019,kondisi itu memberi gambaran ramainya kawasan itu pada masanya. Kemungkinan pada masa lampau Padang Lawas lebih subur dibandingkan sekarang. Karenanya Kerajaan Panai sangat kaya akan hasil hutan, khususnya kapur barus dan ternak. Belum lagi hasil perut buminya seperti emas. "Hanya masyarakat yang kaya dan makmurlah yang mampu membangun candi," tulis Lisda.






















