top of page

27 Juni 1954: Kesebelasan Brasil dan Hungaria Adu Jotos di Piala Dunia

Berbagi kekuatan dalam pertandingan perempat final Piala Dunia 1954, Brasil dan Hungaria bermain keras. Berujung tawuran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Partai Brasil kontra Hungaria di Piala Dunia 1954 yang populer sebagai "Battle of Berne". (fifa.com)

27 Jun 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 30 Mei

HARI ini, 27 Juni 1954. Di hadapan 40 ribu penonton yang memadati stadion Wankdorf, Bern, Swiss, wasit Arthur Ellis asal Inggris dengan percaya diri memasuki lapangan didampingi dua hakim garis dan diikuti dua tim yang akan saling berhadapan. Ellis bangga dipercaya memimpin pertandingan yang kemudian dijuluki “Battle of Berne” itu.  


“Kupikir itu akan menjadi pertandingan terhebat yang pernah aku lihat. Aku berada di puncak dunia,” ujarnya sebagaimana dikutip Guy Hodgson dalam “Footbal: Ellis a Knockout During the Battle of Berne”, dimuat di independent.co.uk.


Pertandingan yang dipimpin Ellis itu merupakan partai perempat final Piala Dunia 1954 antara Brasil melawan Hungaria. Tiga partai perempat final lainnya mempertemukan Austria kontra Swiss, Uruguay kontra Inggris, dan Jerman Barat kontra Yugoslavia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Walau sudah berusia dua abad, Braga tetap menjadi pesona di kota Bandung.
Walau sudah berusia dua abad, Braga tetap menjadi pesona di kota Bandung.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Mengelola parkir bukan urusan gampang. Sebelum dikelola Pemda Jakarta, parkir dikelola secara borongan.
Mengelola parkir bukan urusan gampang. Sebelum dikelola Pemda Jakarta, parkir dikelola secara borongan.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
Persidangan di hari pertama diawali dengan pembacaan dakwaan jaksa. Sidang dipimpin hakim dari Afrika Selatan yang bereputasi internasional.
transparant.png
bottom of page