Hasil pencarian
9789 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dari Kopi Sampai ORI
DI masa perang, bukan hal mudah bagi pemerintah Republik Indonesia yang baru merdeka untuk membuat mata uang sendiri. Dari sulitnya mencari bahan baku hingga mencari percetakan. Upaya mencetak uang di Surabaya gagal. Begitu juga di Jakarta. Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken atau disingkat NIMEF, sebuah pabrik percetakan di Kendalpayak, Malang, Jawa Timur, menjadi penyelamat. Lokasinya jauh dari medan-medan pertempuran yang sedang berkobar di berbagai kota. Wilayah ini juga dikuasai Republik. Menurut Fendy E.W. Parengkuan dalam biografi A.A. Maramis, SH. , pabrik NIMEF sempat menjadi tempat pembuatan bahan peledak semasa pendudukan Jepang. “Dengan berkuasanya pemerintah RI maka Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis mengubah nama pabrik menjadi PKPN (Pabrik Kaleng dan Percetakan Negara) Kendalpayak Malang,” tulis Fendy. Setelah NIMEF ditunjuk untuk mencetak uang, Panitia Penyelenggara Percetakan Uang Kertas Republik Indonesia segera mencari bahan-bahan. Kebutuhan kertas dibantu oleh Serikat Buruh Kertas Padalarang. Mesin pembuat kertas berhasil dibawa dari pabrik Padalarang sebelum dikuasai tentara Belanda. Sementara itu, bahan-bahan kimia didatangkan dari Jakarta dan dari laboratorium pabrik-pabrik gula di Jawa Timur. Maka, dengan bahan yang tersedia dan mesin-mesin percetakan NIMEF, uang Republik berhasil diproduksi. Pabrik NIMEF di Malang, kemudian juga Solo dan Yogyakarta, yang berhasil mencetak uang dijaga ketat. Untuk mengedarkannya, uang dimasukan ke dalam besek, kemudian dimasukan lagi ke karung goni dan diangkut dengan kereta api ke seluruh Jawa. Maka, 30 Oktober 1946, sebagai tanggal emisi pertama ORI, kemudian ditetapkan sebagai Hari Keuangan. NIMEF punya andil penting dalam lahirnya mata uang rupiah. Namun, siapa sangka, NIMEF berawal dari rumah sangrai kopi yang tumbuh menjadi salah satu pabrik paling besar di Hindia Belanda dan paling canggih pada masanya. Pekerja di pabrik percetakan NIMEF. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Produksi Kemasan Cerita bermula pada 1901. Dua orang Belanda, L. Schol dan H. Janssen van Raay, mendirikan rumah sangrai kopi Eerste Nederland Indie Koffiebranderij (ENIK) di Malang. Dengan menyewa sebuah rumah kontrakan, mereka memulai bisnis kopi kecil-kecilan. Perseroan terbatas ENIK ini hendak memasarkan kopi panggang dan kopi bubuk. Produknya hanya diedarkan di pasar-pasar. Perusahaan ini baru benar-benar beroperasi pada 1902. Namun, bisnis kopi ini ternyata berkembang pesat dalam waktu singkat. Modal perusahaan yang awalnya 26.900 gulden meningkat hampir dua kali lipat menjadi 50.000 gulden pada 1904. Pada tahun itu juga, perusahaan membeli tanah di Kendalpayak, sebuah desa di Malang. Mesin cetak dan mesin potong kemudian dibeli untuk memproduksi kemasan kertas yang sebelumnya dipasok dari Eropa. Dari sinilah, perusahaan mulai merambah ke produksi kemasan kertas. Pada 1908, NIMEF kembali melebarkan sayap. Dari kemasan kertas, mereka mulai memproduksi kemasan kaleng. “Akhirnya…. karena segala sesuatu sudah sedia, maka karena indahnya, orang lain pun suka pula memakai yang demikian, lalu perusahaan itu tidak saja membikin dalam pabriknya untuk dipakai sendiri, tapi juga untuk orang lain,” tulis wartawan kenamaan Parada Harahap dalam Indonesia Sekarang . Pada 1939-1940, Parada Harahap keliling Jawa dan mengunjungi beberapa pabrik besar, termasuk NIMEF. Pesanan berdatangan dari berbagai perusahaan. Menurut Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië , 1 Agustus 1927, hampir semua kebutuhan kemasan industri di Jawa bergantung pada perusahaan ini. Meski demikian, saat itu bahan mentah masih bergantung pada Amerika Serikat dan Jepang. “Lambat laun timbul kekurangan tempat, sehingga pada tahun 1911 dibuatlah bangunan pabrik baru,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië . Dari bisnis sampingan, produksi kemasan kemudian dipisah dari produksi kopi. Perusahaan khusus kemasan lalu didirikan 1918 dan diberi nama Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken atau disingkat NIMEF. Pabrik percetakan NIMEF pertama di Malang. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Besar dan Canggih Masih di 1918, direktur NIMEF melawat ke Eropa untuk melihat perusahaan-perusahaan sejenis. Mesin-mesin dari Eropa kemudian didatangkan. Areal pabrik diperluas dan sekitar 400 orang Indonesia dipekerjakan. Mereka tinggal di satu kampung di sekitar pabrik. Gedung pabrik yang baru ini mulai beroperasi awal 1920. “Modal saham yang disetor sudah mencapai NLG 700.000,” tulis De Indische Courant , 6 September 1934. Perusahaan ini memproduksi berbagai macam kantong kemasan dari karton untuk kebutuhan toko-toko. Selain itu memproduksi beragam kotak karton, dari kotak amplop hingga kotak obat. “Juga kotak-kotak tempat sabun mewah biasanya terlihat dikemas, dan kotak-kotak yang lebih bagus, yang digunakan di toko perhiasan besar untuk memajang benda-benda berharga, dibuat di sini,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië . Tak hanya itu, beragam kebutuhan seperti buku kantor, kartu nama, hingga tiket untuk trem, kereta api dan bioskop dicetak di sini. Segala produk yang memungkinkan dicetak pada karton akan diproduksi NIMEF. Perkembangan pabrik begitu pesat. Mesin cetak perunggu serta dua mesin pengepres kecepatan tinggi yang digerakkan secara elektrik kemudian juga dimiliki NIMEF. Bahkan NIMEF mengembangkan ekspedisi langsung dari gudang pabrik yang terhubung dengan jalur trem uap Malang. Hal ini memungkinkan bongkar muat yang lebih efisien. “Perusahaan ini didukung oleh mesin gas dan juga oleh listrik. Sangat menarik untuk bisa melihat-lihat di sini,” tulis Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië . Pabrik percetakan NIMEF kedua didirikan di Bandung pada 1933. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Dari tahun ke tahun, omzet NIMEF terus meningkat. Pada 1932, ketika pabrik rokok Faroka dibuka, NIMEF mendapat kontrak untuk memproduksi semua kemasan dan keperluan percetakan lainnya. Mesin dari Eropa kembali dipesan secara khusus untuk kontrak ini. Pada saat yang sama, NIMEF mengembangkan kemasan timah seperti pelat iklan, kaleng cat, hingga kaleng teh dan minyak. Sementara itu, bagian percetakan karton NIMEF telah menjadi yang terbesar di Hindia Belanda. Pada 1933, NIMEF mulai melirik Jawa Barat untuk memperluas jangkauan pasar. “Secara bertahap bisnis mengambil skala besar dan untuk lebih bersaing dengan pabrik pengemasan yang ada di Jawa Barat, pabrik kedua didirikan di Bandung pada tahun 1933 di bawah kepemimpinan H.H. Proper,” tulis Soerabaijasch Handelsblad , 17 Juni 1935. Tahun-tahun selanjutnya, NIMEF semakin di depan. Dari segi teknologi maupun cakupan pasar. Agensi NIMEF kemudian dibuka di Batavia (Jakarta). Mereka juga memiliki toko sendiri bernama Toko NIMEF. Menurut Parada Harahap, NIMEF memiliki tidak kurang 1.101 pegawai Indonesia dan 40 orang Eropa. Pabrik ini juga memiliki klinik, rumah-rumah pondok, lapangan sepakbola, dan selalu membantu para pekerjanya yang ingin memiliki rumah dan pekarangan. Sebab, kata Parada Harahap, “NIMEF berpendapat seboleh-boleh kaum buruhnya itu hendaklah merasa betah di sana, turun-menurun sampai kepada anak-cucunya.” Pabrik percetakan NIMEF di Jakarta. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum). Cagar Budaya Setelah Indonesia merdeka, pabrik NIMEF di Kendalpayak, Malang, dipakai pemerintah Indonesia untuk mencetak ORI. Kiranya dua tahun sejak akhir 1945 NIMEF terus memproduksi ORI. Namun, perannya harus berhenti pada 1947 ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I. NIMEF ditinggalkan. “Pabrik tersebut terpaksa dibumihanguskan tahun 1947 untuk mencegah jatuhnya ke tangan Belanda yang telah memulai agresinya 21 Juli 1947. Semua uang yang telah tercetak bersama barang-barang berharga lainnya dibawa mengungsi ke Yogyakarta di bawah pengawalan yang ketat,” tulis Fendy Di lahan bekas pabrik NIMEF di Malang kini berdiri kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sementara bangunan eks Toko NIMEF di Jalan Agus Salim sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Malang.
- Derita Pasukan Karbol AURI
“PASUKAN KARBOL” adalah sebutan bagi taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pun pernah merasakan jadi pasukan karbol. Selain itu, Hadi yang jebolan AAU angkatan 1986 itu pernah menjadi Komandan Batalion Taruna AAU. Ketika melatih para pasukan karbol, Hadi sering kali unjuk kebolehan. “Misalnya, saat para karbol sedang berlatih menembak, Hadi menerbangkan pesawat lalu sengaja terbang rendah dan bermanuver ke arah mereka,” demikian dikisahkan Eddy Suprapto dalam biografi Anak Sersan Jadi Panglima: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto . Menurut Chappy Hakim dalam kumpulan tulisan Awas Ketabrak Pesawat Terbang panggilan “karbol” bermula pada awal 1960-an. Pelopornya ialah Letkol (AU) Saleh Basarah. Pada 1963, Basarah, Perwira Wing Pendidikan 001 yang merangkap anggota pelaksana proyek AAU sedang mengikuti pendidikan di Amerika Serikat tahun 1963. Saat berkunjung ke markas US Air Force (USAF) di Washington, Basarah menyaksikan para kadet udara sering dipanggil “The Dollies”, “Dooly”, “Mister Dooly”, dan sebagainya. Panggilan itu diambil dari nama jenderal USAF: James Harold Doolitle, seorang penerbang andal yang serba bisa. Pada Perang Dunia II, Doolittle dianugrahi Medal of Honor atas keberaniannya memimpin serangan balasan ke Jepang, empat bulan setelah Pearl Harbour dihancurkan. Operasi militer udara itu dikenal dengan nama “Serangan Doolitle”. Basarah kemudian mengadaptasikan tradisi di Amerika itu ke Angatan Udara (AURI). Dia memutuskan panggilan karbol untuk menyebut para taruna AAU. Nama “karbol” diambil dari julukan Marsekal Muda Abdulrachman Saleh, penerbang dan perintis AURI yang gugur ditembak pesawat Belanda. “Mengharapkan semua lulusan Akademi Angkatan Udara dapat mencontoh keteladanan dan mampu mencapai kualitas seorang perwira seperti Abdulrachman Saleh, maka para taruna AAU dipanggil dengan nama ‘karbol’,” tulis Chappy Hakim. Menurut Suprapto, tidak ada surat keputusan untuk itu. Saleh Basarah hanya mengumumkan secara lisan dalam apel pagi pataruna yang lazim disebut Apel Embun di Lapangan Belimbing. Tentu saja dengan sedikit penjelasan tentang sosok Abdul Rahman Saleh. Panggilan karbol langsung disetujui semua pihak. Namun, pasukan karbol angkatan 1965 harus merasakan getirnya pengalaman pahit. Itu terjadi pada peringatan Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) 5 Oktober 1965. Pasukan karbol berjejer menyambut konvoi panser pengusung jenazah pahlawan revolusi yang akan dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata. Kehadiran dan tindakan mereka di sana sebagai tanda ikut berkabung. “Pasukan karbol yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G-30-S, mukanya diludahi oleh pasukan Angkatan Darat yang berada di atas panser,” kenang mantan panglima AURI Omar Dani dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Suparno. Menurut Omar Dani, AURI menjadi bulan-bulanan dan cemoohan banyak pihak karena dianggap terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Rundungan tidak hanya mendera pasukan karbol. Mobil perwira AURI seperti Laksda Aburachmat dan Lettu (AU) Chusnul Chotimah ditabrak oleh jip-jip pasukan RPKAD (kini Kopassus). Para ibu AURI yang berbelanja di pasar luar kawasan Pangkalan Halim Perdanakusumah juga ikut diludahi. Omar Dani sendiri menjadi pesakitan politik yang dijebloskan ke penjara selama hampir 30 tahun. Selama rezim Orde Baru berkuasa, sebagaimana diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam dalam kata pengantar Pledoi Omar Dani , hubungan antara Presiden Soeharto dengan Angkatan Udara sebagai suatu lembaga tidak pernah mesra. Dalam membangun industri kedirgantaraan, Soeharto lebih percaya kepada teknokrat B.J. Habibie ketimbang ahli dari Angkatan Udara. Selain itu, di masa Orde Baru kepemimpinan militer selalu “dikuasai” oleh Angkatan Darat yang menjadi Panglima ABRI. Dominasi itu patah memasuki era reformasi. Pada 2006, Marsekal Djoko Suyanto menjadi sebagai Panglima TNI di masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono. Dan kini, Panglima TNI dijabat oleh Marsekal Hadi Tjahjanto yang juga perwira dari Angkatan Udara.*
- Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali
HANYA butuh dua menit untuk mengubah ekspresi wajah Ole Gunnar Solksjær 180 derajat di bench Manchester United kala menjamu Tottenham Hotspur, Minggu (4/10/2020) malam WIB. Kegetiran tampak di wajah sang pelatih selepas wasit Anthony Taylor meniup peluit panjang dan memandangi papan skor di Old Trafford yang memamerkan angka 6-1 sebagai epilog m atchday keempat Liga Inggris 2020/2021. Padahal ketika laga baru bergulir dua menit, Solksjær girang ketika Bruno Fernandes membuka skor 1-0 lewat titik putih. Entah gerangan apa yang membuat Spurs terlecut, dua menit kemudian keadaan berbalik jadi bencana. Petaka bermula dari kemelut di muka gawang Manchester United yang dikawal David de Gea. Situasi lantas diubah gelandang Spurs Tanguy Ndombèlé yang menjebol gawang de Gea sehingga kedudukan, 1-1. Alih-alih bangkit, klub berjuluk “Setan Merah” itu malah kecolongan. Bukan main-main, sampai lima gol lagi. Masing-masing dua gol dari Son Heung-min (7’, 37’), Harry Kane (30’, 79’) dan sebutir gol lagi dari kaki Serge Aurier (51’). “Setelah (skor) 2-1, kami masih memegang kendali. (Tetapi) Anda tak memenangkan pertandingan dengan membuat kesalahan-kesalahan individu dan bermain seperti itu. Hasil itu tak cukup pantas buat Manchester United. Tidak ada alasan juga (terkait kartu merah Anthony Martial). Reaksi yang buruk dari Anthony. Pertandingan juga masih dalam kendali kami,” cetus Solksjær, dikutip laman resmi klub , Minggu (4/10/2020). Papan Skor di Old Trafford yang merujuk angka 6-1 (Twitter @SpursOfficial) Pelatih Spurs, José Mourinho bangga bukan main. Harry Kane cs. tak menyia-nyiakan momentum kala melihat lawannya mulai kelimpungan selepas berbalik unggul 2-1. “Saat kami melihat kelemahan, kami langsung menghantamnya. Sungguh performa yang menakjubkan. Saya bisa bayangkan orang-orang anti-Spurs akan mengatakan kemenangan itu karena ketimpangan 11 melawan 10 pemain, namun saya melihat permainan kami bahkan lebih baik saat kondisinya masih 11 melawan 11,” tutur Mourinho di situs klub pada saat bersamaan. “Tim bermain sangat agresif dan setelah skor 2-1, kami makin percaya diri. Tiga poin ini membawa kami melonjak di klasemen dan ini juga jadi hasil yang bersejarah,” tambah pelatih yang sebelumnya membesut Manchester United sepanjang 2016-2018 itu. Spurs Mengulang Sejarah Tak salah pelatih eksentrik asal Portugal itu menyebut “pembantaian” Spurs atas Manchester United itu hasil yang sarat historis. Pasalnya, dari total 165 pertemuan keduanya di berbagai ajang sepanjang catatan sejarah, duel akhir pekan lalu jadi kemenangan terbesar “The Lilywhites” (julukan Spurs) di stadion Old Trafford nan angker itu. Menurut data statistik di soccerway.com , dari 165 duel head-to-head antara keduanya, Spurs menang 80 kali di kandang dan 85 lainnya di partai tandang, serta 40 sisanya berakhir imbang. Terakhir kali Spurs menang telak di markas Manchester United juga terukir di pentas Division One (kasta teratas Liga Inggris), 12 September 1959. Di salah satu laga awal musim 1959-1960 itu, Manchester United yang diasuh Sir Matt Busby sedang garang-garangnya dengan skuad berjuluk “The Busby Babes”. Namun Bobby Charlton dkk. justru membuat skuad Manchester United di Old Trafford ditundukkan 1-5 oleh sang tamu Spurs. “Manchester United selalu jadi lawan populer untuk Totttenham dan tentunya karena mereka merupakan salah satu klub tersukses sejak era pasca-Perang di liga dan kami mengingat banyak laga hebat melawan mereka di masa lalu,” demikian pernyataan klub di sebuah jurnal edisi 1959-1960, “Tottenham Hotspur Official Programme and Record of the Club” yang dirilis 23 Januari 1960. William Edward "Bill" Nicholson, pelatih legendaris Spurs periode 1958-1974. ( tottenhamhotspur.com ). Di musim itu, Spurs tak kalah agresif di lapangan. Terlebih sejak pergantian pelatih dari Jimmy Anderson ke tangan Bill Nicholson pada Oktober 1958. Debutnya saja bikin geger dengan kemenangan 10-4 atas Everton di markas, White Hart Lane. “Pemain manapun yang datang ke Spurs, entah dia pemain rekrutan besar atau hanya staf lapangan, mesti mendedikasikan dirinya untuk sepakbola dan klub. Ia tak pernah boleh puas atas performa terakhirnya dan harus bisa membenci kekalahan,” kata Nicholson dikutip Steve Hale dalam biografi bertajuk Mr Tottenham Hotspur: Bill Nicholson OBE, Memories of a Spurs Legend. Kelima gol Spurs dibukukan Bobby Smith (2 gol), Dunmore, Tommy Harmer, dan Dave Mackay yang masing-masing mencetak satu gol. Sementara sebutir gol penghibur “Setan Merah” dicatatkan Dennis Viollet. Maka kesuksesan Mourinho akhir pekan lalu mengulang sejarah dengan skor serupa 88 tahun lampau. Bedanya, dalam pertandingan pada 10 September 1932 itu Spurs yang dibesut Percy James Smith menggebuk Manchester United 6-1 di kandang sendiri, White Hart Lane, dan di League Division Two atau kasta kedua Liga Inggris. Di hadapan 23 ribu pasang mata di White Hart Lane, keenam gol Spurs diukir oleh William Evans dan George Hunt yang masing-masing menorehkan dua gol, dan satu gol James Brain. Sebiji gol balasan Manchester United datang dari William Ridding. Kemenangan Spurs itu jadi kehebohan tersendiri di London Utara lantaran jadi hadiah ulang tahun ke-50 klub yang jatuh beberapa waktu sebelumnya. Darah Muda dalam Catatan Sejarah Dari masa ke masa, Spurs acap bertulang punggungkan para pemain muda. Termasuk di musim baru ini. Kala mengganyang Manchester United 6-1, rata-rata usia pemain andalan Spurs 25 tahun. Sementara, usia rata-rata pemain lawannya 26 tahun. Muda ibarat DNA yang diwariskan oleh para pendiri Spurs, yang didirikan 138 tahun silam oleh sekumpulan anak muda. Sebagaimana disingkap dalam A Romance of Football: The History of the Tottenham Hotspur F.C. , penggagas lahirnya Spurs merupakan 11 siswa Mr. Cameron’ School (kini Scotch Prebysterian Academy) yang sebelumnya merupakan anggota Hotspur Cricket Club. “Para pendirinya adalah J. Anderson, T. Anderson, E. Beaven, R. Buckle, H.D. Casey, L. R. Casey, F. Dexter, S. Leaman, J.H. Thompson Jr, P. Thompson, dan E. Wall. Dengan mandiri mereka membeli sendiri bola dan tiang gawang kayunya. Lapangannya dipinjamkan Kapten Delane yang punya hubungan kerabat dari salah satu Thompson bersaudara di Park Lane,” sebut buklet rilisan bareng The Tottenham dan Edmonton Weekly Herald ( Februari 1921). Seiring waktu, tambahan pemain Hotspur FC berdatangan dari sekolah lain dan pada Desember 1882 anggota mereka sudah mencapai 18 pemain. Tujuh anggota barunya dibebankan biaya masuk untuk menambah kas klub. Hingga 1921, jersey yang acap mereka pakai berwarna biru gelap. Adapun logo klub baru sekadar lambang huruf “H”. John Rispsher, guru mata pelajaran Alkitab di All Hallows Curch, yang lantas dijadikan presiden pertama klub, menata klub menjadi terorganisir. Laga kandang pertama mereka, 6 Oktober 1883, melawan klub amatir Brownlow Rovers. Hotspur menang telak 9-0. Namun, menurut Martin Cloake dan Alan Fisher dalam A People’s History of Tottenham Hotspur , debut Spurs terjadi pada 30 September 1882 kontra tim lokal Radicals. Spurs keok 0-2. Sementara, kompetisi resmi pertama yang diikuti Spurs baru terjadi pada 1892, yakni kompetisi amatir Southern Alliance. Barisan pemuda yang menggagas berdirinya Tottenham Hotspur. (Repro A Romance of Football ). Setelah menjadi profesional dan diakui FA (otoritas tertinggi sepakbola Inggris) pada 20 Desember 1895, Spurs diikutsertakan ke divisi satu Southern League musim 1896. Dua tahun berselang klub ini naik kelas dengan dinaungi perusahaan yang lebih profesional. Namanya pun diganti menjadi Tottenham Hotspur and Athletic Company dengan pelatih pertamanya Frank Brettell. Nama Spurs mulai dikenal luas setelah menjuarai FA Cup 1901 mengalahkan Sheffield United 3-1 di final. Jersey Spurs berubah menjadi putih, warna kebanggaan sampai kini, pada 1898. Hingga 1921, logo klub masih berupa huruf “H” berwarna merah. Logo itu berubah sekaligus mengusung moto Audere est Facere (Berani dalam Bertindak) setelah Spurs untuk kedua kalinya memenangkan FA Cup, 1921. “Ayam jantan muncul sebagai logo di jersey setelah 1921. Inspirasinya diambil dari kekaguman Sir Henry Percy, bangsawan yang dijuluki Hotspur, pada taji ayam jantan, meski logo ayam jantan ini sudah dipakai klub sejak 1901,” tulis Leonard Jägerskiöld Nilsson dalam World Football Club Crests: The Design, Meaning and Symbolism of World Football’s Most Famous Club Badges . Pada 1956, logo Spurs diubah lagi dengan tambahan lambang perisai Sir Henry Percy. Namun pada 1983 hiasan perisainya dihilangkan lagi. Pada 2006, logo Spurs dikembalikan seperti awal: ayam jantan berdiri gagah di atas sebutir bola tanpa motto klub. Selain logo, kandang Spurs pun mengalami evolusi. Setelah menempati Park Lane yang disewa sejak awal berdiri, pada 1888 Spurs pindah ke Northumberland Park. Setahun berselang, Spurs hijrah lagi ke White Hart Lane dan menetap sampai sekarang. Laga pertama Spurs di kandang baru dihelat 4 September 1899 kontra Notts County. Di markas-markas itulah nama Spurs terus diukir hingga akhirnya jadi klub kuda hitam sepakbola Inggris dengan tulang punggung para pemain muda. Spurs bahkan menjadi pemasok utama striker timnas Inggris era 1980-an hingga 1990-an. Glenn Hoddle, Clive Allen, Gary Lineker, dan Chris Waddle merupakan striker Spurs yang jadi andalan lini depan Inggris. Hampir semua turnamen pernah dimenangi Spurs. Hingga kini, lemari gelar Spurs sudah terisi masing-masing dua titel Second Division dan First Division, delapan FA Cup, empat League Cup, tujuh Charity Shield, satu Winners Cup, dan dua UEFA Cup.
- Lukisan yang Tak Bersih Lingkungan
KECINTAAN pada seni dan hobi mengoleksi barang seni membuat Sukarno menjadikan Istana Negara sedikit demi sedikit dipenuhi berbagai koleksi seni, termasuk lukisan, sejak dihuninya pada 1950. Lebih dari 2000 lukisan koleksi pribadi Sukarno dipajang di Istana. Sukarno gandrung mengoleksi lukisan yang dianggapnya revolusioner. Banyak di antaranya adalah lukisan-lukisan karya seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun, pergantian rezim mengubah wajah istana. Lukisan-lukisan koleksi Sukarno yang dianggap “kiri” bernasib nelangsa . Orde Baru menyingkirkannya. Agus Dermawan T. menyebut dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden, penyingkiran terhadap lukisan koleksi Sukarno dilakukan sejak awal rezim Soeharto berkuasa. “ Sejak 1968, lukisan karya para seniman ‘aroma Lekra’ yang ada di Istana Presiden mulai dipinggirkan –sebuah kebijakan yang sah dan masuk akal dari aspek politik,” tulis Agus. Lukisan Kawan-kawanku (1957) karya pendiri Sanggar Bumi Tarung, Amrus Natalsya, salah satu yang disingkirkan. Lukisan ini dibeli Sukarno untuk dipajang di istana dan telah terhimpun pula dalam buku Koleksi Lukisan dan Patung Presiden RI Soekarno Seri III. Bung Karno bukan kali itu saja membeli karya Amrus. Pada Lustrum Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) I tahun 1955, Sukarno membeli patung buatan Amrus berjudul Orang Buta yang Dilupakan. Selain itu, karya patungnya Jeritan Tak Terdengar yang dipamerkan dalam rangka menyambut KAA di Bandung juga dikoleksi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. “Dua peristiwa penting ini melambungkan nama Amrus. Reputasinya naik dan sosoknya menjadi sangat diperhitungkan, padahal usianya masih 22 tahun saat itu,” tulis Hairus Salim HS dan Hajriansyah dalam Berlayar di Tengah Badai . Amrus Natalsya dikenal sebagai salah satu pelukis dan pematung terkemuka pada 1960-an. M. Agus Burhan dalam Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra menyebut Amrus termasuk seniman yang berkomitmen pada kredo seni untuk rakyat. Lukisan Kawan-Kawanku menjadi salah satu karya yang mercerminkan ekspresi ketegangan pada kelompok masyarakat bawah. Bekas pelukis istana, Lim Wasim, menuturkan kepada Agus Dermawan bahwa, “menurut Kepala Rumah Tangga Kepresidenan kala itu, lukisan tersebut adalah gambaran dari rakyat jelata yang marah kepada kapitalis birokrat.” Alasan-alasan itulah, kata Agus Dermawan, yang membuat lukisan Amrus dikategorikan sebagai “tidak bersih lingkungan”. Selain itu, Orde Baru menganggap lukisan itu dapat memprovokasi ketertindasan proletar yang identik sebagai kaumnya sosialis-komunis. “Akibatnya, selama hampir tiga dekade ‘Kawan-kawanku’ digudangkan bersama puluhan lukisan ‘kiri’ yang lain,” ungkap Agus. Sementara itu, Amrus sendiri mengatakan bahwa makna lukisan tersebut sederhana saja. Kawan-Kawanku hanya menggambarkan orang-orang yang sedang istirahat di sore hari dan hendak mandi di kali setelah seharian bekerja. “Teman-teman saya di ASRI tahu, karena mereka adalah modelnya,” kata Amrus seperti dikutip Agus. Namun tetap saja Orde Baru yang menentukan. Lukisan tersebut telah puluhan tahun diturunkan dari dinding istana dan baru ditemukan kembali pada 2011 oleh Panitia Uji Petik yang dibentuk Susilo Bambang Yudhoyono. Sayangnya lukisan Kawan-Kawanku telah rusak berat. Selain itu, lukisan lain seperti Memanah karya Henk Ngantung juga mengalami kerusakan setaraf.*
- Bertemu Gadis Kala Menyamar, Sukarni Lari
DI tengah kesibukannya mempersiapkan Kongres Indonesia Muda (IM) VI di Surabaya, Desember 1936, Roeslan Abdulgani dikagetkan oleh kunjungan seorang pemuda. Roeslan, pejabat Ketua Pengurus Besar IM yang dipilih untuk menggantikan Ketua Sukarni yang menghilang setelah digerebek oleh PID pada 19 Juni 1936, tak menyangka pemuda yang mendatanginya itu adalah Sukarni yang selama ini dicari-cari. “Dia datang naik perahu dan berpakaian hitam-hitam ala orang Madura. Perahunya berhenti malam-malam di pinggir Sungai Kalimas, sekitar daerah Kampung Plampitan, dekat rumah saya,” kata Roeslan dalam testimoni “Pejuang Kemerdekaan yang Merakyat” yang termuat di buku Sukarni Dalam Kenangan Teman-Temannya suntingan Sumono Mustoffa. Oleh Roeslan dan kawan-kawannya, Sukarni pun langsung disembunyikan. Sukarni, yang sudah kehilangan jabatan di IM, dalam kunjungan rahasia itu hanya ingin memesankan kepada rekan-rekannya agar IM tetap berjiwa radikal-revolusioner meski situasi yang dibuat pemerintah kolonial sudah amat membahayakan gerakan nasionalisme. Sejak pemberontakan PKI meletus di Banten (1926) dan Silungkang (1927), pemerintah mengetatkan pengawasan terhadap gerakan-gerakan nasionalisme dan komunisme. “Laporan-laporan kepolisian kolonial menunjukkan adanya pengawasan ekstra kepada mereka yang diduga memiliki hubungan dengan PKI maupun gerakan antipemerintah lain kendati tak berlatar belakang komunisme,” tulis Bonnie Triyana dalam artikelnya di Historia . ID . Kontrol ketat aparat kolonial itulah yang membuat Sukarni dan para pemuda pergerakan lain mesti panjang akal dan pandai menyamar. Sebagaimana sang “mentor”, Tan Malaka, Sukarni pun panjang akal dan lihai menyamar. Itu membuatnya berhasil melarikan diri saat kantor PB IM digeruduk aparat kolonial dan semua pengurus yang ada di sana, termasuk Pandu Kartawiguna, ditangkapi. Sukarni akhirnya bisa mencapai Surabaya dan menemui Roeslan beserta kawan-kawan. Sesaat di Surabaya, Sukarni lalu ke Malang dan kemudian Batu. “Sebab pernah saya terima kartu pos bergambar dari Bung Karni dengan stempel pos Batu. Sesudah itu hilang lagi jejak Bung Karni. Sesudah itu tak ada hubungan lagi. Mungkin setelah di Batu itu, Bung Karni terus mengembara ke Balikpapan,” kata Roeslan. Sama dengan Roeslan, Pandu pun tak tahu lagi nasib Sukarni setelah penggerebekan kantor PB IM. Yang pasti Pandu dibuat bingung ketika suatu siang di bulan September tahun 1941 diberitahu oleh rekannya, Abdul Hakim, bahwa ada seorang pemuda mencari. Hakim dan Pandu dibuat bingung oleh tingkah sang tamu ketika dipersilakan masuk sementara Hakim memanggilkan Pandu. “Pemuda itu menolak dan bahkan mundur beberapa langkah ke belakang, ke pojok, yang agak tersembunyi, sambil berkata secara pelan-pelan, ‘Tolong usahakan Saudara Pandu saja keluar dan katakan ada teman lama ingin bertemu,’” kata Hakim dalam testimoninya di buku yang sama, “Perjuangan Sukarni Tempo Dulu”. Informasi Hakim itu membuat Pandu bergegas menemui tamunya. Dia langsung kaget bercampur senang begitu tahu tamunya adalah Sukarni sahabat seperjuangannya. Keduanya langsung berpelukan dan tertawa, lalu mengobrol lama di belakang kantor. Saat Pandu mengantar Sukarni pamit, dia memperkenalkannya kepada Hakim. “Kim, kau ingat berita yang belum lama berselang termuat dalam surat-surat kabar, yang menyatakan bahwa di pedalaman Kalimantan oleh pemerintahan Hindia Belanda telah ditangkap seorang pegawai Dinas Topografi, yang segera akan diangkat ke Jakarta? Inilah orangnya, Sukarni,” kata Pandu, dikutip Hakim. “Sekarang giliran saya yang terkesima. Meskipun belum mengenal orangnya, saya tahu betul, bahwa Sukarni yang merupakan sahabat karib Pandu dalam perjuangan adalah bekas ketua Pengurus Besar Indonesia Muda,” kata Hakim. Sukarni lalu menuju kantor Seksi III Kepolisian di Pasar Baru. Di sanalah Sukarni ditahan setelah ditangkap di Balikpapan saat menyamar dengan menjadi pegawai Dinas Topografi. Pengakuannya kepada Hakim dan Pandu bahwa selama ditahan di Pasar Baru dia mendapat perlakuan amat baik, di mana dia dibebaskan keluar pada siang hari, menimbulkan tanda tanya besar yang tak pernah bisa dijawab. “Jawaban yang mungkin terhadap teka-teki ini ialah, Belanda mulai saat itu akan menjalankan politik ‘mengambil hati’, berhubung dengan situasi yang sudah sangat gawat dan genting pada masa itu,” kata Hakim menjelaskan situasi Hindia Belanda yang diambang pendudukan Jepang. Apapun alasannya, yang pasti Sukarni lihai menyamar. Setelah pertemuannya dengan Roeslan dan kawan-kawan IM di Surabaya dia ke Malang lalu Batu. Dari sana, tanpa diketahui siapapun Sukarni melanjutkan perjalanan ke arah barat. Dia lalu menyamar sebagai pedagang tembakau keliling di pesisir Jawa Barat. Mengenakan baju Tionghoa berwarna sama dengan destar di kepala dan celana hitam sebetis, saban hari dia berkeliling mengangkat keranjang berisi tembakau dan menjajakannya kepada awak perahu-perahu layar. Dari penyamaran itu Sukarni akhirnya berhasil mengambil hati seorang juragan perahu Bugis. Juragan itulah yang kemudian dengan sukarela mewujudkan mimpi Sukarni, yakni dengan mengizinkan Sukarni menumpang kapalnya ke Banjarmasin. Di Banjarmasin, Sukarni kembali menyamar. Kali ini dia menjadi pedagang soto. Selain untuk menghindari dikenal orang, profesi ini dipilihnya juga untuk membiayai hidup. Suatu kali, Sukarni yang sedang menunggui dagangannya kedatangan seorang gadis yang hendak membeli sotonya. Alih-alih langsung membuatkan soto, Sukarni justru lari meninggalkan dagangannya ketika si gadis telah di hadapannya, membuat teman-teman peadagangnya mengurus dagangannya. “Gadis tadi ternyata teman sekolah Sukarni di Jakarta. ia melarikan diri karena takut dikenali, di samping mungkin merasa malu jika ketahuan menjadi penjual soto,” kata Hakim yang mendapat cerita itu dari Sukarni.*
- Lahirnya Uang Putih
Pada perayaan 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2020, Bank Indonesia mengeluarkan uang baru edisi khusus pecahan Rp75.000. Desain uang ini elegan dan sarat makna. Bagian muka bergambar wajah Sukarno dan Mohammad Hatta. Bagian belakang berupa gambar wajah orang Indonesia dari beragam suku dan daerah. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang mengamanatkan bahwa rupiah tak hanya alat pembayaran. Ia juga harus ditempatkan sebagai simbol kedaulatan. Bangsa Indonesia patut berbangga pula mempunyai mata uang sendiri sebagai pemersatu bangsa. Ini tak lepas dari sejarah rupiah ketika masih bernama Oeang Republik Indonesia (ORI). Uang itu mulai beredar pada 30 Oktober 1946. Cerita ORI bermula dari banyaknya mata uang di Indonesia saat awal kemerdekaan. Ada empat mata uang; tiga dikeluarkan Jepang dan satu mata uang peninggalan pemerintah Hindia Belanda. Peredaran empat mata uang itu merugikan Indonesia. “Menyebabkan situasi moneter menjadi sangat ruwet dan membingungkan,” catat Oey Beng To, mantan Gubernur Bank Indonesia, dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945-1958). Menyikapi situasi ini, Sjafruddin Prawiranegara, anggota Badan Pengurus Komite Nasional Indonesia Pusat, sejenis badan legislatif sementara RI, mengusulkan jalan keluar. Dalam sebuah pertemuan dengan Hatta pada Oktober 1945, Sjafruddin membawa usulan dari pemuda Bandung yang dia lupa namanya. “Supaya mengeluarkan uang Republik Indonesia sendiri sebagai pengganti uang Jepang yang masih berlaku pada waktu itu,” kata Sjafruddin dalam Bung Hatta Mengabdi Pada Tjita-Tjita Perjuangan Bangsa . Hatta sebelumnya sempat mendengar usulan ini. “Namun karena keterbatasan sarana, dana, dan langkanya tenaga ahli dalam bidang itu, maka tuntutan seperti itu terpaksa untuk sementara waktu diabaikan,” ungkap Mohamad Iskandar dalam “Oeang Republik dalam Kancah Revolusi”, termuat di Jurnal Sejarah Volume 6 No. 1, Agustus 2004. Sjafruddin terus meyakinkan Hatta bahwa Indonesia perlu mengeluarkan uang baru sebagai salah satu atribut negara merdeka dan berdaulat. “Pada akhirnya beliau dapat diyakinkan,” lanjut Sjafruddin. Pemerintah berkeputusan bulat mencetak uang sendiri. Uang Pemerintah Menteri Keuangan A.A. Maramis menindaklanjuti keputusan itu. Dia bergerak cepat. Sebab, tentara Sekutu telah datang ke Indonesia pada akhir September 1945. Segala kemungkinan bisa terjadi. Tentara Sekutu bisa saja mengambil alih keadaan. Maka dia menginstruksikan tim Serikat Buruh Percetakan G. Kolff Jakarta bergerak ke beberapa tempat di Jakarta, Malang, Solo, dan Yogyakarta untuk mencari percetakan. Di Jakarta ada percetakan G. Kolff yang berpengalaman dalam urusan mencetak uang sejak zaman Hindia Belanda. Ada pula percetakan De Unie. Sementara di Malang berdiri perusahaan Nederlands Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF). Tapi semua percetakan itu kesulitan memperoleh alat-alat untuk mencetak uang seperti kertas, tinta, pelat seng, mesin aduk, dan bahan kimia. Tim bentukan Maramis juga menghadapi tantangan yang tak kalah sulit. Pertempuran antara pejuang Republik dan Sekutu meletus di beberapa daerah. Jalan-jalan ditutup dan dikuasai tentara Sekutu. Untuk menerobos blokade itu, sejumlah buruh percetakan menyelundupkan alat-alat pencetak uang. “Berkat bantuan sukarela dari para karyawan beberapa perusahaan asing di Jakarta yang belum dikuasai oleh tentara Sekutu, bahan dan alat itu diperoleh,” catat Oey Beng To. ORI Lima Sen. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Maramis kemudian membentuk Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indonesia pada 7 November 1945. Ketuanya T.R.B. Sabarudin, saat itu menjabat pula sebagai direktur Bank Rakyat Indonesia. Anggotanya terdiri atas pegawai Departemen Keuangan, Bank Rakyat Indonesia, dan Serikat Buruh Percetakan G. Kolff. Kerja Panitia cukup baik. Mereka mencetak ratusan rim lembaran 100 rupiah dari pukul 07.00-22.00. Litografinya dibuat di Percetakan De Unie. Abdulsalam dan Soerono tercatat sebagai pelukis pertama ORI. Tapi uang itu belum sempat diberi nomor seri. Situasi keamanan di Jakarta memburuk. Pemerintahan pun harus pindah ke Yogyakarta pada 14 Januari 1946. Pekerjaan mencetak uang berhenti sementara. Kerja pencetakan uang diambil alih oleh percetakan NIMEF di Malang dan percetakan swasta lain di Solo, Yogyakarta, dan Ponorogo. Tempat-tempat ini relatif aman karena berada di bawah kekuasaan Republik. Selama masa pencetakan ORI, pemerintah Indonesia berupaya menjaga laju inflasi dengan mulai menarik mata uang Hindia Belanda dan Jepang dari wilayah RI. “Untuk memperkuat tujuan itu, pemerintah RI menerbitkan Undang-Undang No 10. Tahun 1946,” catat Iskandar. Salah satu isinya tentang larangan membawa uang senilai 1.000 gulden dari satu karesidenan ke karesidenan lain tanpa izin. Sebaliknya, tentara NICA ingin menjegal segala macam upaya penerbitan ORI. Mereka mengawasi distribusi alat dan bahan untuk mencetak uang. Mereka bahkan menyerang Republik dengan mengeluarkan uang NICA pada 6 Maret 1946. Kursnya 3 persen dari uang Jepang. Orang menyebutnya "uang merah" karena warna dominannya. ORI Dua Puluh Lima Rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Tindakan itu bikin marah pemerintah Indonesia. Selain membuat inflasi, peredaran uang NICA melanggar kedaulatan. "Perdana Menteri Sutan Sjahrir menyebutnya sebagai pelanggaran hak kedaulatan RI dan mengingkari perjanjian untuk tidak mengeluarkan mata uang baru selama situasi belum stabil," tulis tim Departemen Keuangan Republik Indonesia (Depkeu RI) dalam Rupiah di Tengah Rentang Sejarah . Daerah pemberlakuan uang NICA antara lain Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Tapi uang NICA tak laku. Petani dan pedagang enggan memakainya. Mereka hanya mau menerima uang Jepang sesuai seruan pemerintah Indonesia. Akibatnya peredaran uang NICA terdesak. "Keterbatasan dan ketidakwibawaan uang NICA itu berakibat merosotnya kurs. Dari 3% menjadi empat bahkan lima persen," tulis tim Depkeu RI. Ketika uang NICA merosot, pemerintah Indonesia mulai mengedarkan ORI secara resmi pada 30 Oktober 1946. Beredarnya ORI ditopang oleh UU No. 7 Tahun 1946 dan UU No. 10 tahun 1946. Isinya antara lain menjelaskan nilai ORI, bentuk fisik, dan menegaskan bahwa ORI dikeluarkan oleh pemerintah sebagai alat bayar yang sah. "Dengan demikian ORI merupakan uang pemerintah, bukan uang bank," tulis Oey Beng To. Malam sebelum ORI beredar, Hatta berpidato. "Sejak mulai besok kita akan berbelanja dengan uang kita sendiri, uang yang dikeluarkan oleh Republik kita. Uang Republik keluar dengan membawa perubahan nasib rakyat, istimewa pegawai negeri yang sekian lama menderita karena inflasi uang Jepang." Rakyat menyambut baik peredaran ORI. Mereka menyebutnya "uang putih". Rosihan Anwar, jurnalis senior, mencatat pengalamannya pada awal peredaran ORI di Jakarta. "Seorang tukang becak yang memilih pembayaran 20 sen uang kita daripada pembayaran dengan uang NICA," tulis Rosihan dalam Kisah-Kisah Menjelang Clash ke-I . ORI Seratus Rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). ORI Jatuh Kurs ORI terhadap uang NICA fluktuatif. Saat awal beredar, 1 ORI berbanding 2 uang NICA. Sangat kuat. Tapi lama-lama merosot hingga 1:5. Bahkan saat agresi militer ke-2 pada 19-20 Desember 1948, nilai ORI tenggelam. Butuh 500 ORI untuk menebus 1 florin uang NICA. Kemerosotan ORI berkaitan dengan kian sempitnya wilayah Republik, tekanan tentara NICA terhadap pemakai ORI, dan inflasi. Perjanjian Renville memaksa pemerintah RI menarik mundur pasukannya di berbagai wilayah, kecuali Sumatra, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Sebab, daerah di luar ketiga itu berada di bawah kekuasaan Belanda. Ini berdampak pada ORI. NICA melarang peredaran ORI di daerah kekuasaan Belanda. NICA seringkali mengintimidasi warga di perbatasan yang menyimpan ORI. Karena perlakuan ini, warga ketakutan. Mereka memilih menyimpan uang NICA. Tapi di sisi lain, pejuang pro-Republik juga kadang mengintimidasi warga yang menyimpan uang NICA. Akibatnya warga terjebak di antara dua pilihan. Selain itu, NICA memalsukan ORI untuk membuat nilai ORI jatuh akibat inflasi. Uang palsu ini beredar di beberapa wilayah Republik. Arsip Djawatan Kepolisian Negara tertanggal 25 Maret 1948 misalnya menyebut penemuan uang palsu di Banyumas dari para pedagang tembakau. Kepolisian meyakini para pedagang tak mengetahui mereka bertransaksi dengan uang palsu. "Orang-orang pedagang tembakau mungkin tidak mempunyai sengaja jahat dan onbewust (tak sadar) menerima uang-uang palsu itu," tulis arsip No. Pol. 60/Pam/A.R. Kepolisian melaporkan kasus ini kepada Kementerian Keuangan. Jawaban dari Menteri Keuangan, "Jang Mulia Menteri Keuangan menyatakan bahwa pembikinan uang palsu dilakukan mungkin oleh pihaknya Belanda," catat arsip tersebut. Tempat penukaran uang. ( geheugen.delpher.nl ). Cetak Lebih Banyak Selama periode ini, pemerintah Indonesia tak hanya menghadapi berbagai persoalan keuangan, tapi bagaimana membiayai pembangunan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pemerintah tak punya cukup dana. Maka pemerintah mengambil keputusan deficit-financing atau membiayainya dengan mencetak ORI lebih banyak lagi. Risikonya inflasi akan meninggi. Keputusan itu terpaksa diambil. Sebab, pemerintah tak mungkin menarik pajak dan mengandalkan bantuan atau pinjaman luar negeri. Dana pendukung kemerdekaan juga makin menipis. "Maka pengeluaran ORI sebagai cara untuk memecahkan masalah pembiayaan tersebut adalah paling baik," tulis Oey Beng To. Beng To menyebut kebijakan ini mirip dengan kebijakan koloni-koloni Inggris di Amerika Serikat ketika awal kemerdekaannya pada 1776. Mereka mencetak uang sendiri ( continental money/greenbacks) untuk melawan Inggris. Tapi Beng To melihat kemerosotan ORI tak separah continental money . Seturut perubahan penandatanganan Konferensi Meja Bundar dan perubahan bentuk negara Indonesia, ORI berhenti beredar pada Maret 1950. Ia diganti uang baru. Tapi peredarannya selama 3 tahun 5 bulan menjadi titik mula kesadaran tentang fungsi uang sebagai alat perjuangan kedaulatan dan pembiayaan negara.
- Aksi Brutal KNIL di Enrekang
HARI-hari ini Ricky Lambogo merasa senang sekaligus getir. Terhadap keputusan Pengadilan Sipil Den Haag pada 30 September 2020 yang mewajibkan Pemerintah Kerajaan Belanda untuk minta maaf kepada ayahnya Malik Abubakar (78), dia merasa bersyukur. "Sebagai manusia tentunya kami akan memaafkan," ungkap salah satu cucu tokoh pejuang Sulawesi Selatan, Kapten Andi Abubakar Lambogo itu. Namun, pembayaran ganti rugi sebesar €874.80 (sekira Rp15.000.000) yang mengiringi permohonan maaf itu sungguh membuat Ricky merasa getir sekaligus bertanya-tanya. Pikirnya, bagaimana bisa kematian tragis sang kakek di tangan militer Belanda pada 1947 dihargai dengan uang sejumlah tersebut. "Saya sempat berpikir, apakah ini dalam rangka menghina atau apa?" ujarnya. Ricky memang layak geram. Dalam sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) di Sulawesi Selatan, Andi Abubakar Lambogo bukanlah nama sembarangan. Dalam suatu wawancara yang pernah saya lakukan pada 2013, tokoh pejuang kemerdekaan Sulawesi Selatan H. Maulwi Saelan menyebut kawan seperjuangannya tersebut sebagai seorang patriot. "Kematiannya memang mengenaskan, tapi itulah salah satu risiko yang harus dihadapi seorang patriot. Saya rasa Kapten Abubakar sudah memperhitungkan semuanya," ujar eks pengawal Presiden Sukarno itu. Kematian Kapten Abubakar berawal dari adanya rencana Wakil Kepala Staf Divisi Hasanuddin Mayor M. Saleh Lahade dan Komandan Seksi IV Kapten Andi Odang untuk meresmikan Resimen III Divisi Hasanuddin di Palopo. Diputuskan kedua pemimpin itu akan dikawal oleh Batalyon I Resimen I yang dipimpin oleh Kapten Andi Abubakar Lambogo. "Kapten Abubakar saat itu bertugas di Enrekang," ungkap Andi Sapada dalam Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan Jilid IV yang disusun oleh Markas Besar LVRI. Dalam perjalanan melalui jalur Masseurengpulu-Tana Toraja-Palopo, rombongan Lahade kerap bersirobok dengan grup-grup patroli pasukan KNIL. Tak jarang pertemuan itu menimbulkan bentrok yang sengit antar kedua pihak. Namun untunglah, pada akhirnya rombongan Lahade bisa sampai dengan selamat di Palopo. Pada 12 Maret 1947, rombongan Lahade berjumpa dengan rombongan Andi Selle Mattola, pejuang Republik dari Suppa. Selle kemudian mengajak Lahade untuk menuju basisnya di Suppa. Menurut Jupri dalam "Abu Bakar Lambogo dalam Perjuangan Rakyat Enrekang, 1945-1947" tesis pascasarjana di Pendidikan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Makassar (UNM), Lahade mengiyakan ajakan Selle. Namun karena tetiba sakit, Kapten Abubakar meminta izin untuk tidak ikut dan memilih bertahan sementara di Maiwa bersama pasukannya. Kesaksian Nawa (salah seorang eks anak buah Kapten Abubakar yang sempat diwawancari Jupri pada 10 November 2018), rombongan Abubakar lantas bermalam di Salu Wajo. Tanpa disadari oleh mereka, satu unit pasukan KNIL sudah menguntit pergerakan Abubakar dan anak buahnya sejak dari Maiwa. Kamis subuh, 13 Maret 1947, saat Abubakar dan beberapa anak buahnya tengah mandi, secara mendadak pasukan KNIL melakukan serangan. "Pasukan tidak sempat melakukan perlawanan dan terpencar kemana-mana," ungkap Nawa seperti dikutip Jupri dalam tesisnya. Akibat serbuan mendadak itu, banyak anggota Batalyon I Resimen I gugur dan tertangkap. Setelah ditelanjangi, mereka kemudian digiring ke pos KNIL di Enrekang dan diikat di tiang listrik selama sehari semalam sambil disiksa secara brutal tiada henti. Kapten Abubakar sendiri tertembak di paha dalam insiden itu. Dalam keadaan terluka dia kemudian dibawa ke markas besar KNIL di Enrekang bersama salah satu anak buahnya. Keesokan harinya, para prajurit Batalyon I yang ditahan di pos KNIL kemudian diangkut ke markas besar KNIL Enrekang. Para prajurit KNIL mengatakan bahwa mereka akan dipertemukan dengan komandannya di sana. Alangkah geram dan sedihnya para prajurit Batalyon I ketika sampai di Enrekang, mereka hanya menemukan kepala Kapten Abubakar yang sudah terpenggal dan terpajang di atas sebilah bayonet pada sepucuk senjata api tepat di pintu gerbang Pasar Enrekang. Tidak cukup itu, mereka kemudian dipaksa satu persatu untuk mencium potongan kepala tersebut. Saelan sangat mafhum upaya itu dilakukan oleh militer Belanda untuk melemahkan perlawanan para pemuda. Namun, dia mengecam aksi KNIL tersebut sebagai aksi brutal yang tidak bisa dibenarkan secara kemanusiaan. Menurut Saelan, seharusnya pihak militer Belanda minimal memperlakukan seorang pemimpin pasukan musuh secara manusiawi, alih-alih mengobati luka-lukanya. Apa yang menyebabkan pasukan KNIL di Enrekang bersikap begitu brutal? Bisa jadi itu terkait dengan peristiwa yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Menurut Remy Limpach dalam Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia , selama September 1946, para pejuang gerilya Sulawesi Selatan melakukan aksi pembersihan besar-besaran terhadap sekira 1.000 orang pribumi yang bekerja sama dengan pihak Belanda atau dianggap pro-Belanda. "Pembunuhan itu, yang menunjukkan kemiripan dengan kasus Bersiap di Jawa, sampai betul-betul kelewatan, bahkan perempuan dan anak-anak yang diduga sebagai 'kolaborator' juga tidak selamat," ungkap Limpach. Catatan-catatan intelijen Belanda juga mengungkap praktik-praktik brutal tersebut. Seorang perwira KNIL bernama G.J. Horsthuis menyebut cara pembunuhan dilakukan seperti menyembelih seekor kerbau: menekan korban di tanah dan memotong lehernya dengan badik. Menurut Limpach, metode ekstrem dari kelompok-kelompok milisi itu membangkitkan kesan mendalam pada orang-orang Belanda bahwa mereka tengah berhadapan dengan teror berskala luas.*
- Kakek Donald Trump Korban Pandemi
SEPERTI halnya di Indonesia, gejolak pandemi COVID-19 (virus corona) masih meningkat di Amerika Serikat. Menukil data WHO , per Minggu (4/10/2020), kasus positif sudah mencapai lebih dari 7,2 juta jiwa dengan 207 ribu di antaranya menginggal. Presiden Donald Trump turut masuk di daftar nama yang terjangkit. Trump dan istrinya, Melania Trump, dilaporkan positif COVID-19 pada Jumat, 2 Oktober, dua hari setelah melakoni debat Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika di Cleveland, Ohio. Kini, Trump masih menjalani perawatan dan karantina di fasilitas kesehatan militer, Walter Reed Army Medical Center, Washington DC. “Para dokter, perawat dan semua yang bertugas di Walter Reed Medical Center yang hebat dan orang-orang dari institusi-institusi lain yang bergabung, merupakan orang-orang yang luar biasa!!! Progres yang menakjubkan telah dilakukan selama enam bulan terakhir memerangi wabah ini. Dengan pertolongan mereka, saya merasakan kondisi yang baik!” kicau Trump di akun Twitter -nya @realDonaldTrump, Minggu (4/10/2020). Presiden Amerika Donald John Trump dan ibu negara, Melania Trump dilaporkan positif Covid-19. (Twitter @FLOTUS). Benarkah Trump dan ibu negara bakal baik-baik saja, seperti kicauan akun resminya di atas? Pasalnya dokter Sean Conley dari tim kesehatan Gedung Putih menyatakan Trump masih harus melewati masa kritis perkembangan virus SARS-CoV-2 di tubuhnya. “Saya mulai merasa optimis. Namun Anda takkan tahu apa yang akan terjadi dalam periode dua hari ke depan. Masa-masa itu akan jadi ujian sesungguhnya. Jadi kita lihat saja dua hari lagi untuk memastikannya,” tutur dokter Conley, disitat ABC News , Minggu (4/10/2020). Banyak warga Amerika, terutama para pendukung Partai Republik, berharap dan mendoakan Trump. Tentu akan jadi kehilangan yang besar jika Trump bernasib sama seperti kakeknya, Frederick Trump, 102 tahun silam yang tutup usia di tengah-tengah pandemi Flu Spanyol yang merajalela di Amerika Serikat. Kakek Trump Imigran Jerman Lahir dengan nama Friedrich Trump di Kallstadt, Bavaria, Jerman pada 14 Maret 1869, kakek Trump merupakan anak pasangan Christian Johannes Trump dan Katharina Kober. Mereka berasal dari minoritas Protestan di antara mayoritas Katolik di Bavaria. Demikian versi Gwenda Blair dalam The Trumps: Three Generations That Built an Empire. Namun versi Frederick Christ Trump Sr., putra Friedrich sekaligus ayah Donald Trump, lain lagi. Menurutnya, nenek moyang Trump berasal dari Karlstad, Swedia, bukan Kallstadt, Jerman. Klaim ini ditegaskan oleh Donald Trump sendiri lewat otobiografinya yang dituliskan bersama Tony Schwartz, The Art of the Deal . “Fred Trump lahir di New Jersey tahun 1905. Ayahnya yang datang ke sini (Amerika) dari Swedia sejak kecil, memiliki sebuah restoran yang lumayan sukses, namun dia juga seorang peminum berat, dan dia meninggal saat ayah saya berusia 11 tahun,” aku Trump di otobiografinya. Namun, Trump “meralatnya” lewat kicauan Twitter -nya tanggal 6 September 2015 kala bicara soal isu imigran. “Kakek saya tak datang jauh-jauh dari Jerman untuk melihatnya diambilalih oleh para imigran. Takkan pernah terjadi dalam pengawasan saya,” kata Trump. Terlepas dari soal itu, Friedrich kecil hidup dengan ekonomi pas-pasan. Sejak usia delapan tahun Friedrich sudah ditinggal mati sang ayah karena penyakit paru-paru kronis. Untuk membiayai ekonomi keluarga dan menutup utang biaya perawatan sang ayah, sang ibu dibantu lima dari enam anaknya menjadi buruh tani di sebuah ladang anggur. Friedrich Trump di tahun 1887 atau dua tahun setelah bertolak dari Jerman ke Amerika. (Repro Donald Trump The Rise of a Rule Breaker ). Di usia 14 tahun, Friedrich dikirim ibunya untuk meninggalkan pekerjaan buruh kasar menjadi pegawai magang di sebuah tempat pemangkas rambut. Dua tahun kemudian menjelang usia wajib militer, Friedrich mengepak koper dan merantau ke Amerika. “Alasan apa yang mendorong Friedrich Trump meninggalkan Jerman ke Amerika masih buram. Mungkin dia terkesan melihat banyaknya iklan tentang perusahaan-perusahaan Amerika yang tersebar di koran-koran lokal; atau mungkin karena ingin menyusul kakaknya yang bermigrasi ke New York setahun sebelumnya,” tulis Sidney Plotkin dalam Veblens America: The Conspicuous Case of Donald J. Trump. Friedrich bertolak ke Amerika membonceng kapal SS Eider pada 7 Oktober 1885. Setibanya di New York 12 hari kemudian, Friedrich menumpang di rumah kakak perempuannya, Katharina, dan suaminya Fred Schuster. Friedrich diterima bekerja sebagai pegawai pemangkas rambut milik sesama imigran Jerman. Namun pada 1891, ia pindah ke Seattle. Berbekal tabungan 600 dolar Amerika hasil enam tahun jadi pemangkas rambut dan bantuan dana dari keluarganya, Friedrich mencoba peruntungan di bisnis restoran dengan membuka “The Dairy Restaurant” di wilayah dengan sejumlah kasino dan rumah bordil. Catatan Imigrasi Amerika tahun 1885, terdapat nama Fried. Trumpf (Friedrich Trump) di urutan 133. ( usa.gov ). Restoran itu bukan restoran dengan sajian makanan biasa. Ia bak rumah bordil dengan suguhan beragam minuman keras plus ruangan-ruangan khusus untuk disewa para pekerja seks komersil (PSK) dan pelanggan-pelanggan mereka. Friedrich lalu mengubah namanya menjadi Fred, kependekan dari Frederick, untuk bisa lebih menyesuaikan diri dengan para pelanggannya. Setahun berselang, ia mengajukan kewarganegaraan Amerika lantaran status kewarganegaraan Jermannya dicabut gegara dianggap mangkir dari wajib militer. Perintis Kerajaan Properti Korban Pandemi Fred memulai bisnis propertinya setelah menjual The Dairy Restaurant yang merugi pada 14 Februari 1893. Ia melirik peluang bisnis properti di Monte Cristo, Washington seiring munculnya demam tambang emas. Fred ogah latah mencari emas, namun ia berambisi membuka restoran lagi dan hotel di dekatnya mengingat Monte Cristo bakal didatangi lebih banyak pemburu emas. Namun Fred kehabisan modal untuk membeli propertinya karena sebelum menuju Monte Cristo, ia menginvestasikan dana penjualan aset The Dairy Restaurant dan uang warisan ibunya dengan membeli 16 hektar lahan seharga 200 dolar di Dataran Tinggi Pine Lake, dekat kota Sammamish, Washington. Pembelian lahan pada 24 Februari 1893 itu menjadi titik nol kerajaan bisnis yang kelak dilanjutkan sang cucu Donald Trump. “Areanya sudah memancing banyak minat para spekulan lahan, di mana tersebar bocoran info bahwa karena lahannya berpotensi jadi lahan bisnis kayu hutan, atau lahannya kaya akan mineral atau karena akan jadi jalur keretaapi, lahan ini akan jadi sangat bernilai. Ini menjadi bab pembuka yang baru bagi kehiupan Frederick Trump,” ungkap Blair. “Sebelumnya lahan itu milik (perusahaan) Northern Pacific Railroad yang mengklaimnya setelah mendapat banyak subsidi dari pemerintah federal selama tiga dekade sebelumnya. Namun karena bangkrut, lahan-lahannya dijual dan Trump bisa membelinya dengan harga murah seharga 200 dolar atau lima dolar per ekarnya,” lanjutnya. Hotel Arctic yang didirikan Fred Trump di Bennett, Kanada pada 1898. (Royal BC Museum and Archives). Setelah itu, Fred melirik Monte Cristo karena tergiur dengan sebuah lahan dekat stasiun keretaapi. Sayangnya, ia kekurangan modal lantaran lahan itu dibanderol seribu dolar per ekarnya oleh Nicholas Rudebeck, pemiliknya yang juga imigran Jerman. Skenario licik pun dilancarkan Fred. Diungkapkan Plotkin, Fred mengajukan Gold Placer Claim atau Klaim Patok Tambang Emas, aturan dalam konstitusi federal Amerika yang memberikan hak mineral di atas sebuan lahan publik. Fred menskenariokan bahwa dia menemukan emas di bawah timbunan lahan milik Rudebeck itu sehingga diperbolehkan mengklaim lahan itu tanpa membayar sepeser pun. “Di masa itu ia bukan satu-satunya yang menipu. Monte Cristo adalah kota yang dipenuhi klaim-klaim lahan ilegal. Demi mendapatkan sesuatu tanpa modal apapun di Monte Cristo, banyak orang yang memanfaatkan klaim patok emas itu, tak peduli akan rasa kekhawatiran bakal dipersekusi,” imbuh Plotkin. Dengan memanfaatkan modal 125 dolar, ia memulai pembangunan properti di lahan yang ia klaim. Ia memulainya dengan membeli lima ribu kaki kubik kayu dari Monte Cristo Mining Company untuk membangun pondok penginapan yang potensial bagi para pemburu emas. “Dengan pundi-pundi keuntungan dari properti penginapan itu, akhirnya ia bisa memiliki lahan itu secara legal pada Desember 1894. Itulah batu pijakan Kerajaan Trump yang sudah didirikan pada 1893 dengan bisnis yang mulanya tidak 100 persen legal,” singkap Thomas Pentzek dalam King of Debt: Businessman Donald J. Trump . Fred Trump yang menikahi Elisabeth Christ pada 1902. (Archiv Roland Freund). Dari situ, gurita bisnisnya merambah ke Kanada. Ia membuka sebuah restoran di Klondike. Bermitra dengan Ernest Levin, ia kemudian mendirikan hotel besar The New Arctic di Bennett pada Mei 1898. Kota-kota itu juga tengah demam perburuan emas. Fred menyempatkan diri mudik ke Jerman pada 1901. Di kampung halamannya, Fred melepas masa lajang dengan mempersunting Elisabeth Marie Christ, gadis tetangga adiknya, pada 1902. Elisabeth kemudian dibawanya ke Amerika. Tiga tahun berselang, Elisabeth melahirkan Frederick Christ Trump, ayah Donald Trump. Fred Trump terus memperluas kerajaan propertinya. Tak hanya di pesisir barat Amerika dan Kanada, kerajaan itu juga merambah New York. Real estate pertamanya ia bangun di Jamaica Avenue kawasan Woodhaven. Namun ketika Perang Dunia I berkecamuk, Fred terpaksa “tiarap” lantaran derasnya isu anti-Jerman di Amerika dan Kanada. “Pada 29 Mei 1918, saat tengah jalan-jalan dengan putranya di Jamaica Avenue, Fred Trump tiba-tiba sakit parah dan sepulangnya ia tak bisa lagi bangkit dari tempat tidur. Keesokannya (30 Mei 1918) ia meninggal. Diagnosa pertamanya ia mengalami pneumonia. Lima hari kemudian hal yang sama dialami kakak iparnya, Fred Schuster. Baru pada akhir musim panas penyebabnya menjadi jelas bahwa mereka berdua menjadi korban di awal pandemi Flu Spanyol,” sambung Blair. “Fred Trump mengingatnya: ‘Saat jalan-jalan, ayah tiba-tiba bilang merasa sakit. Kami pun pulang dan dia naik ke tempat tidur. Kemudian dia meninggal. Hanya seperti itu kejadiannya. Sangat tiba-tiba. Buat saya itu seperti mimpi. Saya sedih melihat ibu tak berhenti menangis’,” tambahnya. Fred Trump bersama keluarganya di tahun 1912, empat tahun sebelum kematiannya karena pandemi Flu Spanyol. (Archiv Roland Freund). Flu Spanyol di Amerika mulai muncul pada Maret 1918 di kalangan militer. Bulan-bulan berikutnya pandemi akibat virus H1N1 itu mulai menyebar di tengah masyarakat sipil. Presiden Woodrow Wilson pun tak luput dari terjangannya. Hingga 1919, total kematian di Amerika mencapai 657 ribu jiwa dan kakek Donald Trump salah satunya. Sepeninggalnya, Fred mewariskan harta senilai USD31.359 (USD588.207 kurs 2020) dalam bentuk uang, aset, maupun saham. Bisnis propertinya lantas dilanjutkan istri dan putranya dengan mendirikan Elizabeth Trump & Son pada 1923. Lima dekade berselang, tongkat estafet bisnisnya dilanjutkan Donald Trump dengan mengubah nama perusahaan menjadi The Trump Organization.
- Uang Invasi Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada Maret 1942, segala tatanan pemerintahan Belanda pun dilucuti. Di sektor perekonomian, secara bertahap Jepang membangun sistem keuangan, membubarkan bank-bank Belanda, hingga mencetak uang. Pada awalnya, Jepang tak mencetak uang sendiri. Mata uang lama dari pemerintahan sebelumnya masih berlaku, yakni gulden ("rupiah Belanda") dan uang militer ( gunpyo ) –dikenal juga dengan istilah uang invasi. Hal itu diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 1 yang dikeluarkan Jepang pada 7 Maret 1942. Yang dimaksud uang militer adalah uang yang telah dipersiapkan Jepang untuk daerah-daerah pendudukan: gulden untuk Hindia Belanda, straits dollar untuk Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara, rupee untuk Burma, peso untuk Filipina, dan pound untuk Australia ( Australia Trust Territories ). Gulden Jepang kemudian juga dikenal sebagai "rupiah Jepang". Baca juga: Mata Uang Zaman Kuno Keesokan harinya, terbit UU No. 2 yang menetapkan tiga mata uang kertas yang sah, yaitu f.10 (sepuluh rupiah), f.5 (lima rupiah), dan f.1 (satu rupiah) serta uang kecil (logam) meliputi 50 sen, 10 sen, 5 sen, dan 1 sen. Di luar tujuh macam uang tersebut dianggap tidak sah dan dilarang peredarannya. Selama itu, Jepang menegaskan mengenai larangan-larangan yang akan mengacaukan sistem perekonomian seperti mengganggu peredaran uang militer dan uang rupiah, menerima uang lain yang tidak sah, memalsu, mengubah atau membuang uang sah, mengacaukan persamaan harga uang dan menyimpan atau menyembunyikan uang pecahan satu rupiah ke bawah melebihi seratus rupiah. Bank Sirkulasi Untuk mencegah kekacauan di bidang ekonomi, Jepang menghentikan sementara waktu seluruh bank di wilayah kekuasaan Jepang. Segala urusan mengenai uang harus mendapat izin dari pemerintah Jepang. "Maka sekalian kuasa dari bank-bank harus menghadap selekas-lekasnya ke kantor pemerintah Balatentara untuk menerima keterangan dan menunggu perintahnya buat mengerjakan lagi," tulis Pasal 9 UU No. 2. Sebagai gantinya, Maklumat Gunseikan No. 1 dikeluarkan pada 15 Maret 1943. Isinya memberikan izin operasi bank-bank Jepang seperti Yokohama Syookin Ginko, Taiwan Ginko, Kanan Ginko, dan Mitsui Ginko. Bank-bank tersebut diperkenankan mengurusi wesel. Baca juga: Merentang Sejarah Uang Sementara sebagai bank sentral, Jepang mendirikan Nanpo Kaihatsu Ginko yang mulai beroperasi pada Juli 1942 "dengan memimpin dan menjaga segala keperluan uang antara kantor-kantor bank serta dengan mengawas-awasi segala urusan keuangan," tulis Kan Po (Berita Pemerintah) No. 14 Tahoen ke II Boelan 3-2603 . Lalu, pada 3 Oktober 1942, Jepang juga membuka Syomin Ginko atau Bank Rakyat sebagai pengganti Algemeene Volkscredietbank. Bank inilah yang di kemudian hari menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). "Pembukaan bank tersebut, yang mempunyai cabang-cabang pada 68 tempat di seluruh Pulau Jawa, sudah tentu akan memperbaiki jalannya perekonomian dan peredaran uang, serta meringankan beban penghidupan rakyat," tulis Pengumuman Ginseikaku seperti disiarkan Kan Po (Berita Pemerintah) No.4 Tahoen ke I Boelan 10-2602. Uang Jepang senilai setengah rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Nasib bank-bank yang dihentikan sementara menjadi jelas pada Oktober 1942. Melalui UU No. 44 Osamu Seirei No. 13 Panglima Besar Bala tentara Dai Nippon secara resmi membubarkan sembilan bank. Lima bank merupakan bank Belanda yang meliputi De Javasche Bank, Nederlandsche Handel-Maatschappij N.V., Nederlandsch-Indische Handelsbank N.V., Nederlandsch-Indische Escompo Maatschappij N.V., dan Batavia Bank N.V. Baca juga: Uang Kuno bukan Sembarang Uang Empat bank lainnya merupakan bank swasta yakni The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd., The Chartered Bank of India, Australia, and China Ltd., Bank of China, dan Oversea Chinese Banking Corporation Ltd. Kesembilan bank tersebut, meski telah dibubarkan, masih harus menyelesaikan urusan utang-piutang Menurut Erwien Kusuma dalam Dari De Javasche Bank Menjadi Bank Indonesia , untuk menggantikan peran De Javasche Bank, pemerintah Jepang menetapkan Nanpo Kaihatsu Ginko sebagai bank sirkulasi.Semua bank berada di bawah pengawasan Nanpo Kaihatsu Ginko. "Selain itu, tugas utama dari Nanpo Kaihatsu Ginko adalah juga sebagai likuidator yang terdiri dari orang-orang Jepang yang dibantu oleh beberapa anggota staf dan tenaga tata usaha dari bank-bank bersangkutan," tulis Erwien. Uang Jepang senilai sepuluh rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Cetak Uang Berdasarkan konvensi Den Haag tahun 1899 dan 1907, pihak yang menduduki suatu negara lain dilarang mengeluarkan uang sendiri. Jepang ikut meratifikasi tapi mengabaikan isi konvensi. Ini bermula dari beragam persoalan yang timbul di tengah masyarakat. Banyak uang yang beredar rusak. Uang kertas cobak-cabik sementara uang logamnya rompeng. Hal ini memunculkan aktivitas jual-beli uang. Untuk mengatasinya, pemerintah Jepang membuka penukaran uang rusak dengan uang baru di kantor-kantor keuangan. Namun, hal ini justru menimbulkan kesalahpahaman. Penduduk mengira mata uang lama sudah tak berlaku dan diganti dengan mata uang baru. Pemerintah harus dua kali kerja mengurusi penukaran uang rusak ini. Baca juga: ORI, Uang Perjuangan dan Persatuan Pemerintah Jepang akhirnya menerbitkan mata uang baru berupa uang kertas dengan pecahan f.10 (sepuluh rupiah) yang berlaku sejak 15 Oktober 1944.Uang ini berwarna dasar kuning dengan gambar Gatotkaca di satu sisi serta gambar stupa Borobudur dan patung Buddha di sisi sebaliknya. Pada akhir 1944, Jepang kembali menerbitkan uang kertas baru. Pecahan kali ini adalah f.5 (lima rupiah) dan f.1 (satu rupiah). Pecahan lima rupiah berwarna dasar hijau muda dengan gambar rumah Gadang di satu sisi dan gambar perempuan Minang di sisi sebaliknya. Sementara pecahan satu rupiah berwarna dasar hijau tua dengan gambar petani di satu sisi dan pohon beringin dengan warna merah hitam (sepia) di sebaliknya. Dua uang kertas ini berlaku sejak 1 Januari 1945. Uang Jepang senilai seratus rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Lalu, pada Februari 1945, Jepang mengeluarkan lagi uang baru bernilai f.0,50 (lima puluh sen) yang mulai berlaku 20 Februari 1945. Uang sen ini kali ini bukan kertas melainkan logam. Warna dasarnya kuning-atal dengan gambar naga di satu sisi dan dihiasi ornamen di sisi baliknya. Tak lama setelah itu, Jepang mengeluarkan lagi uang kertas. Kali ini nominalnya cukup besar, f.100 (seratus rupiah), yang kemudian menjadi pecahan paling tinggi. Uang kertas ini berwarna dasar hijau muda, dilengkapi gambar Dewa Wisnu menunggang Garuda dan terdapat pula patung singa. Bagian sebaliknya berwarna dasar hijau abu-abu dengan gambar wayang pada bagian tengahnya. Baca juga: Perang Uang Palsu Masa Revolusi Menurut Tim Penulis LP3ES dalam Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah Bangsa , hingga akhir pendudukan Jepang, jumlah uang militer yang beredar diperkirakan mencapai lebih dari empat miliar rupiah. "Dari jumlah tersebut lebih kurang Rp2,4 miliar beredar di Jawa, sedangkan di Sumatra sekitar Rp1,6 miliar. Di Kalimantan dan Sulawesi juga beredar sejumlah uang invasi, hanya saja tidak diketahui jumlahnya," tulis Tim Penulis LP3ES. Uang Jepang masih dianggap sebagai uang sah pada awal kemerdekaan Indonesia bersama uang De Javasche Bank keluaran 1925-1941, dan uang pemerintah Hindia Belanda terbitan 1940-1941. Riwayat uang Jepang tamat karena pegaruh uang NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan pemerintah Indonesia menerbitkan ORI (Oeang Republik Indonesia) sejak Oktober 1946.
- Pramoedya Ananta Toer Tentang Kota Jakarta
“KAWAN, engkau sudah pernah dengar nama kampungku, bukan? Kebun Jahe Kober –500 meter garis lurus dari istana. Dan engkau pun sudah tahu juga, bukan? Got-gotnya diselubungi tai penduduk kampung.” Itulah pembuka cerita pendek Pramoedya Ananta Toer berjudul “Kampungku” yang termuat dalam buku Cerita dari Jakarta . Melalui “Kampungku”, Pramoedya mengabarkan kepada pembacanya tentang kehidupan warga kota Jakarta di sebuah kampung pada 1950-an. Tingkat kematian di kampung ini sangat tinggi. Ada saja orang mati setelah mengidap berbagai macam penyakit seperti tetanus, TBC, dan penyakit kotor.
- Merentang Sejarah Uang
Masihkah Anda membawa uang di dompet? Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan uang kartal (kertas dan logam) mengalami penurunan. Perkembangan teknologi mendorong masyarakat untuk memilih uang elektronik. Evolusi uang tengah berlangsung. Jauh sebelum mengenal uang, manusia melakukan barter atau pertukaran barang atau jasa untuk barang dan jasa yang diinginkan. Praktik barter telah dimulai sejak puluhan ribu tahun lalu. Namun, tak mudah untuk meraih kesepakatan mengenai nilai pertukarannya. Timbullah kebutuhan akan adanya suatu alat penukar. Selama berabad-abad berbagai benda dipakai sebagai alat pertukaran atau alat pembayaran seperti kulit kerang, batu permata, gading, telur, garam, beras, binatang ternak, atau benda-benda lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat menggunakan benda-benda seperti logam dan kertas sebagai uang. "Uang telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu dan merupakan salah satu penemuan manusia yang paling menakjubkan," tulis Solikin dan Suseno dalam Uang: Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian . Pada awalnya uang berfungsi sebagai alat penukar atau pembayaran. Seiring perkembangan peradaban manusia, uang juga berfungsi sebagai alat penyimpan nilai, satuan hitung, dan ukuran pembayaran yang tertunda. Tampilan uang pun terus mengalami evolusi. Dari awalnya berbentuk barter, kemudian ke kulit kerang, koin, kertas, plastik, dan kini dalam bentuk elektronik. Lalu bagaimana nasib uang kartal? Akankah uang punah dan hanya menjadi pelengkap museum? Sebelum hal itu terjadi, tak ada salahnya kita mengenal sejarah uang di Indonesia Bukti Tertua Museum Nasional memiliki koleksi dua uang logam (no. inv. 2087 dan no. inv. 2119) dari zaman Hindu-Buddha di Jawa yang terbuat dari perak. Bentuknya cembung, sisi depan bergambar pot bunga, dua tangkai bunga, dan garis-garis lekuk sekitarnya seperti ruang-asap. Sedangkan pada sisi belakang terdapat bunga lotus mekar terletak di dalam garis berbentuk persegi empat. "Menurut Candra Sengkala Memet , bahwa gambar-gambar tersebut mempunyai arti sebagai berikut: pot bunga berarti 9, bunga berarti enam dan ruang asap berarti 5. Dari angka-angka itu, diperkirakan mata uang ini digunakan sebagai alat tukar sekitar tahun 569 [Saka] atau tahun 647 AD (Masehi)," demikian disebut dalam Katalog Pameran Peringatan Ulang Tahun Ke-200 Museum Pusat . Uang logam perak itu menjadi bukti tertua penggunaan uang di Jawa. Selain mata uang perak, menurut arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa , ditemukan juga mata uang emas. Paling awal berbentuk batangan, jumlahnya sedikit, dan ukurannya tidak tentu baik bentuk maupun berat. Ini mengindikasikan mata uang itu tak digunakan secara umum sebagai alat tukar. Sebagian besar mata uang emas yang ditemukan di Jawa Tengah berasal dari abad ke-9 dan ke-10 dan termasuk tipe piloncito (ukurannya kecil, gepeng seperti dadu dengan sudut-sudut membulat). "Mengingat mata uang Jawa pada masa awal menggunakan logam-logam mulia (emas dan perak) yang jumlahnya tentu terbatas," tulis Supratikno, "maka sebagian transaksi mungkin tidak menggunakan mata uang, melainkan dengan cara barter." Uang emas dengan motif biji wijen dari abad ke-9 ditemukan di belakang dinding sumuran Candi Garuda, Kompleks Candi Prambanan. ( kemdikbud.go.id ). Uang Kepeng Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 jilid 2 mengungkapkan bahwa di Jawa, prasasti tak lagi menyebut mata uang Jawa (perak dan emas, red .) setelah sekira tahun 1300, kecuali hanya menyebut picis , mata uang tembaga dari Tiongkok. Bentuknya kecil bulat mempunyai lubang persegi di tengah agar dapat diikat sebanyak seribu. Menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya , kelebihan uang kepeng itu tidak langsung tampak. Banyak orang mula-mula menggunakannya untuk memperoleh komoditas yang digemari, yaitu tembaga. Artinya, uang itu dibarter dengan komoditas seperti rempah-rempah. " Kepeng Cina itu mulai tersebar bersamaan dengan majunya perniagaan [Dinasti] Sung dan secara khusus membanjiri Jawa yang peran perantaranya dalam jaringan niaga sedang menguat," tulis Lombard. Tingginya permintaan uang kepeng di Jawa memicu penyelundupan dari Tiongkok dan pembuatan tiruannya dari logam campuran (perak, timah, timbal, dan tembaga). Di Jawa, uang tiruan ini disebut gobog dengan lubang persegi di tengah-tengah dan garis tengah yang lebih besar. Reid menyebut tujuan pembuatan uang kepeng tiruan di Jawa dan di tempat lain untuk menjaga persediaan karena hubungan langsung dengan Tiongkok menurun sekitar tahun 1500. "Bagaimanapun mata uang tembaga Cina dan mata uang timah tiruannya telah menjadi dasar penggunaan mata uang di Asia Tenggara pada tahun 1500," tulis Reid. Uang kepeng. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Uang Kerajaan dan Eropa Selain mata uang dari Tiongkok, kerajaan-kerajaan Islam juga mengeluarkan mata uang. Hermanu dalam Seri Lawasan: Uang Kuno , mendatanya. Misalnya, Kesultanan Pasai dan Aceh ( dirham dan mass dari emas dan keuh atau kasha dari timah), Banten ( kasha dari tembaga), dan Cirebon ( picis dari timah). Kedatangan bangsa Eropa membawa mata uang baru. Pada abad ke-16, Portugis mengedarkan mata uang yang terbuat dari perak, yaitu piastre Spanyol yang disebut juga mat , pasmat , real , atau dollar . Setelah Portugis, Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menancapkan kaki di Nusantara. Pada masa jayanya, beredar bermacam-macam mata uang seperti rijksdaalder , dukat , stuiver , gulden , dan doit . Bahan yang digunakan adalah emas, perak, tembaga, nikel, dan timah. Bentuknya bundar pipih dengan ukuran diameter yang tidak sama. Mata uang tersebut dibuat di Negeri Belanda. "Kemungkinan kata 'duit' yang kita kenal sekarang ini berasal dari kata doit yang kemudian dalam bahasa Arabnya berbunyi doewit ," tulis Djani A. Karim dalam Mata Uang dalam Sejarah . Beredar pula mata uang dari emas dan perak dirham Jawi atau dukat Jawa yang dibuat di Batavia (Jakarta) dengan ditandai tulisan Arab. Bentuk dan ukurannya sama dengan mata uang lain yang dibuat dari tembaga dan timah. Uang tersebut, menurut Lombard, dibuat setelah tercapai kesepakatan antara Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Baron van Imhoff dan Sunan Mataram Pakubuwana II. Menjelang bubar, catat Hermanu, VOC membuat uang darurat dari potongan-potongan batang tembaga berbentuk segi empat yang dicetak di Batavia. Uang ini disebut bonk . Setelah VOC bubar, Hindia Belanda berada di bawah pemerintahan Republik Bataaf (1799-1806). Mata uang yang dikeluarkan bertuliskan Indiӕ Batavorum dengan satuan nilai gulden dan stuiver . Ketika Belanda diduduki Prancis, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) mengedarkan mata uang berinisial LN singkatan dari Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, yang menjadi raja Belanda. Bentuk uang itu bundar pipih dan terbuat dari tembaga. Inggris mengambil alih Hindia Belanda dengan Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Jenderal (1811-1816). Raffles membuat mata uang rupee yang bentuknya bundar pipih dan terbuat dari emas, perak, tembaga, dan timah. Kedua sisinya tertera tulisan Jawa dan Arab. Mata uang ini dicetak di Batavia. Diperkirakan kata "rupiah", mata uang Republik Indonesia, berasal dari rupee yang ditulis dalam bahasa Arab dengan ucapan roepiyah . Selain rupee , beredar pula uang bertuliskan EIC (East India Company atau Kongsi Dagang India Timur). Uang kerajaan Islam. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Penyatuan Mata Uang Setelah Inggris hengkang, Belanda kembali menguasai Hindia Belanda. Pemerintah membentuk De Javasche Bank (DJB) pada 1828 untuk mengatur pembuatan dan peredaran uang. Bank ini mencetak uang kertas dan uang logam. Menurut Lombard, sejak pertengahan abad ke-18 berbagai usaha dilakukan untuk menyehatkan moneter dan menyatukan mata uang. Tapi baru satu abad kemudian penyederhanaan itu terlaksana. Pada 1854 diputuskan semua mata uang yang digunakan di Hindia Belanda diganti dengan mata uang yang beredar di Belanda. " Gulden , simbol kekuasaan ekonomi Eropa yang terus meningkat, sedikit demi sedikit menjadi uang yang harus digunakan di seluruh Nusantara," tulis Lombard. "Baru setelah tahun 1930 kesatuan mata uang menjadi kenyataan." Kesatuan mata uang pupus masa pendudukan Jepang. Pada awalnya Jepang tak mencetak uang sendiri. Mata uang lama dari pemerintahan sebelumnya masih berlaku, yakni gulden ("rupiah Belanda") dan "gulden Jepang" yang telah dipersiapkan Jepang untuk daerah-daerah pendudukan. Hingga akhirnya Jepang menerbitkan mata uang baru. Setelah Indonesia merdeka, tak adanya kesatuan mata uang masih berlangsung. Uang Jepang masih dianggap sebagai uang sah pada awal kemerdekaan Indonesia bersama uang DJB keluaran 1925-1941, dan uang pemerintah Hindia Belanda terbitan 1940-1941. Pemerintah Indonesia menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) tapi juga harus berhadapan dengan "uang NICA" (Netherlands-Indies Civil Administration). Bahkan karena terhambatnya peredaran ORI, pemerintah memberi izin pemerintah daerah untuk menerbitkan mata uang sendiri yang dikenal dengan nama Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA). Penyeragaman mata uang baru terjadi setelah pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Menyusul terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), terbit uang RIS atau disebut juga "uang federal". Pada 17 Agustus 1950, pemerintah Republik Indonesia menyatakan RIS bubar. Bentuk pemerintahan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penggunaan mata uang RIS menyusul kemudian. Mata uang rupiah dalam bentuk uang kartal masih digunakan hingga saat ini. Uang kertas yang dikeluarkan De Javasche Bank tahun 1930-an. (Wikimedia Commons/National Numismatic Collection at the Smithsonian Institution). Masyarakat Tanpa Uang Era digital mendorong penggunaan uang elektronik. Pemerintah juga tak berpangku tangan. Bahkan, mendorong sistem keuangan digital lebih berkembang di Indonesia. Namun, bukan berarti uang kartal tidak dibutuhkan. Menurut Hatib Kadir, dosen antropologi Universitas Brawijaya, dalam kolomnya bertajuk "Punah dan Kotornya Uang 'Cash'" di detik.com , dari beragam fungsi uang, revolusi terbesar terjadi pada metode uang sebagai alat pembayaran karena caranya terus mengalami perubahan. "Sebagai alat bayar, uang pada saat ini beralih fungsi sebagai informasi. Ketika menerima gaji misalnya, kita tidak melihat uang kita karena langsung ditransfer di bank," tulisnya. Hatib Kadir menambahkan, perubahan penggunaan uang bertujuan memudahkan fungsi uang yang bahkan ada sejak zaman Mesopotamia. Teknologi semacam ponsel membantu untuk memudahkan hal tersebut. "Penggunaan uang elektronik bukan seperti penemuan pesawat terbang yang canggih, namun sebenarnya ada hal yang tetap dalam uang. Ia merupakan konvensi, kesepakatan dan seperangkat relasi dalam organisasi yang kompleks di masyarakat. Nilai dan fungsinya tetap sama," tulisnya. Kendati demikian, uang kartal masih dibutuhkan. Indonesia akan tetap mencetak dan mengawasi uang kartal. Proporsinya memang berkurang tapi bentuk penggunaan uangnya saja yang bergeser. Namun, uang kartal juga bukan tanpa kelemahan. Biaya pengadaan dan pengelolaannya terbilang mahal. Belum lagi memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran dan risiko keamanan seperti pencurian, perampokan dan pemalsuan uang. Karena itu pula Bank Indonesia terus mendorong masyarakat untuk memakai alat pembayaran nontunai demi terbentuknya cashless society atau masyarakat nontunai.
- Kisah Widodo Cahyono Putro Mencetak Penerus Dirinya
Widodo Cahyono Putro. Nama ini melegenda dalam dunia sepakbola Indonesia. Tendangan saltonya menyambut umpan Ronny Wabia berbuah gol dan membawa Indonesia unggul lebih dulu saat melawan tim kuat Kuwait pada Piala Asia 1996. Inilah kali pertama timnas Indonesia tampil di Piala Asia. Gol Widodo pun menyentak perhatian dunia. Widodo Cahyono Putro sang legenda hidup sepakbola Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo, lelaki kelahiran Cilacap, memulai perjalanan sebagai pemain sepakbola profesional bersama klub Warna Agung pada 1990. Dia striker langganan klub elite Indonesia dan sempat bermain untuk Petrokimia Putra. Setelah itu, dia membela Persija Jakarta dan berhasil membawa klub berjuluk Macan Kemayoran tersebut meraih juara Liga Indonesia 2001. Widodo juga pemain langganan timnas. Debutnya bersama timnas di kejuaraan resmi berbuah manis: emas Sea Games Filipina pada 1991. Saat itu dia tampil bersama sejumlah pemain muda lainnya seperti Rochi Putiray dan Aji Santoso. Widodo kini melatih Persita Tangerang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pemain Persita berlatih di Sport Center Kelapa Dua. (Fernando Randy/ Historia.id ). Setelah gantung sepatu, Widodo menjadi pelatih beberapa klub. Dari Petrokimia Putra, Persepam Madura Utama, Sriwijaya FC, Bali United, sampai Persita Tangerang. Dia juga menjadi asisten pelatih timnas Indonesia untuk Pra Olimpiade, kualifikasi Piala Asia 2011, dan Sea Games 2011. Prestasinya memang belum sementereng ketika menjadi pemain. Widodo terus membangun tim Persita Tangerang di tengah ketidakpastian kompetisi Liga Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Belakangan kabar membanggakan datang untuk Widodo. Gol akrobatiknya ditetapkan sebagai gol terbaik sepanjang masa dalam sejarah gelaran Piala Asia. Dalam pemilihan yang diselenggarakan oleh AFC (Konfederasi Sepakbola Asia), gol itu mengungguli gol dari pemain Lebanon Abbas Chahrour ke gawang Irak. Ketika dimintai komentarnya tentang penghargaan tersebut, Widodo menjawab simpel. "Gol itu sudah lama, 24 tahun. Sebetulnya tugas saya waktu mencetak gol sudah selesai. Gol itu bagi saya anugerah," ujarnya kepada Historia.id . Sampai sekarang dia masih tak percaya dirinya bisa membuat gol seindah itu. "Tidak percaya bisa bikin gol seperti itu. Semoga ini bisa dijadikan semangat baru dan inspirasi generasi mendatang," lanjut Widodo. Widodo saat memberikan masukan kepada para pemain Persita. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pemain Persita Tangerang berlatih di Sport Center. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo berupaya mencetak penyerang tangguh bagi Persita dan Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tidak hanya pemain lokal, pemain asing pun menaruh hormat pada Widodo. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo saat memimpin latihan Persita Tangerang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini pria berusia 49 tahun tersebut disibukkan melatih Persita Tangerang. Dalam melatih, Widodo menerapkan etos filosofi sepakbola menyerang. Dia tentu saja berharap mampu mencetak penyerang-penyerang tangguh bagi Persita dan timnas Garuda. Usai melatih hampir dua jam, Widodo mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia perihal golnya. "Terima kasih kepada netizen , penggemar bola, dan yang memvoting kemarin. Gol ini jadi sejarah, jadi gol terbaik sepanjang Piala Asia," katanya. Widodo berterima kasih kepada masyarakat Indonesia atas dukungannya sehingga golnya menjadi yang terbaik. (Fernando Randy/ Historia.id ). Stadion Sport Center kandang Persita tampak sunyi saat pendemi Covid-19 melanda. (Fernando Randy/ Historia.id ).





















