top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Wartawan Pencetus Ballon d'Or

    Rasa penasaran penggila sepakbola di berbagai penjuru dunia makin meluap seiring kian dekatnya hari-H Penganugerahan Ballon d’Or 2018. Selain megabintang Cristiano Ronaldo (Portugal/Juventus) dan Lionel Messi (Argentina/Barcelona) yang masing-masing telah merebutnya lima kali, ada 28 bintang lain yang saling bersaing untuk menjadi number one . Mereka antara lain, Kylian Mbappé (Prancis/Paris-Saint-Germain), Luka Modrić (Kroasia/Real Madrid), Antoine Griezmann (Prancis/Atletico Madrid), dan Mohammed Salah (Mesir/Liverpool). Ke-30 nama itu bakal dikerucutkan jadi tiga nama finalis sekaligus ditentukan pemenangnya pada Senin (3/12/2018) mendatang di Paris. Pemenangnya ditentukan oleh vote ratusan jurnalis olahraga yang ditentukan dan masuk dalam tim jurnalis internasional yang akan dikumpulkan media Prancis, France Football . Pemenang ditentukan lewat tiga penilaian. Pertama , performa individu setahun terakhir. Kedua , talenta dan permainan fair play . Ketiga , penilaian keseluruhan karier si pemain. Capaian gol maupun gelar juara yang diraih si pemain bersama klub maupun negara tidak serta-merta menjadikannya perebut Ballon d’Or. Gabriel Hanot dan Mula Ballon d’Or Ballon d’Or atau penghargaan Bola Emas sejatinya merupakan anugerah tahunan untuk pesepakbola putra terbaik. Sebagaimana namanya, Ballon d’Or asli produk Prancis. Penghargaan ini digagas wartawan cum mantan pesepakbola Prancis Gabriel Hanot pada 1956. Maka itu penentuan pemilihan suara untuk pemenang pemain terbaiknya ditentukan oleh wartawan. Gabriel Hanot yang lahir di Arras, 6 November 1889, mulanya merupakan pesepakbola klub US Tourcoing. Bill dan William J. Murray dalam The World’s Game: A History of Soccer menyingkap, Hanot juga sempat jadi bek timnas Prancis dengan catatan 10 caps sejak 1908. Sayang, karier Hanot berakhir pada 1919 akibat cedera kaki permanen pasca-kecelakaan pesawat. Namun, passion -nya pada sepakbola tak pernah padam. Dia lalu memilih jadi wartawan olahraga. “Hanot menjadi wartawan di L’Auto , Mirroir des Sports, dan kemudian L’Equipe dan France Football ,” tulis Patrick Boudreault dalam “Saga Ligue des Champions: Gabriel Hanot, Visionnaire de Genie” yang dimuat dalam LaDepeche , 6 Agustus 2007. Hanot juga mengadvokasi liga profesional Prancis lewat Commision de Classement et de Statut Pro. “Bahkan pada 1932 Hanot ikut menggagas kejuaraan profesional Prancis (kini Ligue 1),” sambung Patrick Boudreault. Pada 1945-1949, Hanot jadi pelatih timnas Prancis. Bersama rekannya di L’Equipe, Jacques Ferran, Hanot mengagas Piala Champions (kini UEFA Champions League) pada 1955. Dengan adanya kompetisi para juara di Eropa, sang pemimpin redaksi France Football itu lalu juga melahirkan penghargaan untuk pemain terbaik Eropa, Ballon d’Or. Gabriel Hanot (kiri) menyerahkan trofi Ballon d'Or pertama pada 1956 untuk Stanley Matthews (Foto: L'Equipe) Adalah Stanley Matthews, pemain sayap Inggris yang bermain di klub Blackpool, yang jadi pemenang pertamanya, tahun 1956. Trofi penghargaan berbentuk bola berlapis emas itu diserahkan langsung oleh Hanot di Paris. Trofi itu, catat situs FIFA edisi 6 Januari 2016, didesain dan diproduksi sebuah perusahaan pembuat perhiasan legendaris yang berdiri sejak 1613, Mellerio dits Meller. Perusahaan itu pula yang membuat ulang trofi dari tahun ke tahun dengan desain dan komposisi yang sama. Trofi bola emas 18 karat itu berdiameter 31 cm dan berbobot lima kilogram. Hingga 1994, hanya pemain Eropa yang memenangkannya lantaran penghargaan ini memang dibuat khusus untuk pesepakbola Benua Biru. Namun sejak 1995, para pemain dari berbagai benua bisa mengikutinya dan bahkan memenangkannya selama berkarier di klub Eropa. Benar saja, begitu aturan baru diterapkan pada 1995, Ballon d’Or langsung direbut George Weah, pemain Liberia yang kala itu merumput di AC Milan. Ronaldo Luiz Nazario de Lima (Brasil/Barcelona) yang merebutnya pada 1997 tercatat jadi pemenang asal Amerika Latin pertama. France Football selaku penyelenggara lalu digandeng FIFA bekerjasama menghelat anugerah tahunan itu, namanya berubah jadi FIFA Ballon d’Or pada 2010-2015. Sepanjang masa ini, pemilihan pemenang tidak dimonopoli para jurnalis namun juga mengikutsertakan para kapten tim anggota FIFA. Setelah kerjasama dengan FIFA terhenti pada 2016, France Football tetap menghelat anugerah Ballon d’Or. Sementara, FIFA menghelat anugerah sendiri bernama FIFA World Player of the Year. Mulai tahun ini, Ballon d’Or tak hanya akan diberikan kepada pesepakbola putra terbaik. France Football akan membuka voting para jurnalis untuk memilih pesepakbola putri terbaik. Lucy Bronze (Inggris/Olympique Lyon), Pernille Harder (Denmark/VfL Wolfsburg), Saki Kumagai (Jepang/Lyon) dan 12 pemain putri/kandidat lain bersaing untuk menjadi yang terbaik.

  • Catatan Perjalanan Haji Muslim Nusantara

    Orang-orang Nusantara sudah banyak yang memeluk Islam. Kesultanan Islam telah dikenal dunia. Namun, hingga dua abad setelahnya tak diketahui apakah sudah ada yang pernah naik haji ke Makkah. Kisah tertulis pertama tentang orang Melayu atau Nusantara yang berhaji baru muncul pada akhir abad ke-15 M, yaitu Hang Tuah  yang ceritanya dikenal sekira 1482 M. “Hang Tuah tokoh tersohor di Malaka. Ini masa akhir kehidupan Malaka sebagai kesultanan dan 30 tahun sebelum direbut Portugis pada 1511,” kata Henri Chambert-Loir, peneliti di Ecole Française d’Extrême-Orient (EFEO), dalam acara Borobudur Writers Cultural and Festival ke-7, di Hotel Manohara, Magelang, Jumat (23/11).  Namun, kisah  Hang Tuah  ini pun terbukti mendapat tambahan dalam tubuh ceritanya. Adegan ini, menurutnya, dipinjam dari teks Arab. “Ini artinya bukan orang Nusantara atau Hang Tuah yang pergi ke Makkah,” ujarnya. Menafikan Haji Anehnya lagi, menurut Henri, catatan perjalanan naik haji berikutnya umumnya negatif. Beberapa tokoh utama menafikan manfaat naik haji. Contohnya kisah tentang dua orang sultan Malaka. Pertama, sultan yang berkali-kali ingin naik haji, tapi keburu meninggal sebelum naik haji. Sultan kedua secara gamblang menafikan ketinggian Makkah atas Malaka. Dia juga secara tersirat menafikan kesahan ibadah haji ke Makkah. Berita itu datang dari penjelajah asal Portugis, Tome Pires dalam catatannya,  Suma Oriental.  Sultan yang dimaksud adalah Sultan Mahmud Syah (1488-1511).  “Dia begitu pongah keterlaluan dan takabur tentang ini sampai dia membanggakan diri sedemikian berkuasa hingga dapat menghancurkan bumi dan dunia memerlukan pelabuhannya sebab letaknya di ujung musim, dan Malaka akan dijadikan Makkah, dan dia tak berpegang pada pendapat ayah dan kakeknya mengenai pergi ke Makkah,” catat Pires.   Tokoh yang senada adalah Hamzah Fansuri, penyiar sufi agung dari pelabuhan Barus. Dia pernah naik haji seperti disinggungnya dalam syair: Di dalam Makkah mencari tuhan di Bait al-Ka’bah/ Di Barus ke Kudus terlalu payah/ Akhirnya dapat di dalam rumah.  Ini artinya, kata Henri, Hamzah Fansuri pergi ke Makkah, menjalankan ritual haji, mencari Tuhan di dalam Masjidil Haram, tetapi merasa justru menemukan Tuhan di dalam dirinya sendiri. Bait ini, termasuk wacana yang meremehkan peran haji dalam kehidupan seorang muslim, khususnya aliran tasawuf. “Tuhan tak perlu dicari di Makkah, adanya di dalam diri sang sufi,” kataHenri.  Lalu pada awal abad ke-17 M, cerita datang dari seorang ulama tersohor, Syeikh Yusuf Makassar. Dia kemudian menjadi qadi di Kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683). Kisah ini, kata Henri, ditemukan dalam naskah Bugis,  Riwakna Tuanta Salamaka ri Gowa.  Syeikh Yusuf naik kapal. Di tengah pelayaran, dia berjumpa Nabi Khidir. Syeikh Yusuf dinasihati supaya tak perlu pergi ke Makkah. Kata sang nabi, tak ada yang bisa dipelajari di situ. Namun, Syeikh Yusuf tetap pergi ke Makkah. Setibanya di sana, dia melakukan berbagai keajaiban yang memperlihatkan kelebihannya atas penduduk Haramain. Dalam sejarahnya, menurut Henri, tak ada satu pun raja atau sultan Indonesia naik haji kecuali Sultan Pontianak pada 1800 M. Namun dia pun bukan orang Nusantara, melainkan Arab. “Barangkali ini disebabkan karena raja-raja Indonesia tak mau mengakui kelebihan negara lain,” ucap Henri.  Kendati begitu, beberapa raja dari Banten, Mataram, dan Makassar mengirim utusan ke Makkah untuk memohon gelar sultan. Beberapa sultan juga mendirikan rumah pemondokan di Makkah dan Mina untuk calon haji dari kerajaan mereka.  Kebiasaan Menulis Sulitnya menemukan catatan perjalanan orang Nusantara pergi haji, bukan berarti tak pernah ada yang berhaji. Pasalnya, kebiasaan menulis catatan harian atau catatan perjalanan memang bukan menjadi kebiasaan orang Melayu atau Nusantara. “Menulis tentang diri sendiri bukan budaya Indonesia. Ini baru muncul pada abad ke-19 karena pengaruh Eropa,” kata Henri. Dengan demikian kisah orang Melayu naik haji baru muncul lama sekali setelah Islam masuk ke Nusantara. Kisahnya muncul dalam Tuhfat al-Nafis  oleh Raja Ahmad, bangsawan keturunan Bugis dari Riau. Tulisannya itu dibuat pada 1860-an. Sementara dia naik haji pada 1828.  “Dia tidak menyebut mau menunaikan rukun Islam, tapi membayar nazar yang diucapkannya waktu sakit,” ujar Henri. Adapula kisah haji dalam  Perjalanan Saya ke Makkah karyaR.A.A. Wiranatakusumah, yang saat itu menjabat bupati Bandung. “Salah satu kisah tentang naik haji paling menarik,” kata Henri. Lalu 40 tahun kemudian muncul semakin banyak kisah haji. Ada sembilan kisah, dari Hamka, Ali Hasjmy, Rosihan Anwar, dan Asrul Sani. Pada 1965, kisah haji terbit dalam jumlah lebih banyak lagi, sampai puluhan judul.  Oman Fathurachman, filolog UIN Syarif Hidayatullah menambahkan, baik penceritaan pengalaman berhaji yang ditulis orang Nusantara maupun bangsa lain punya ciri masing-masing. “Jadi orang-orang Nusantara juga naik haji dan menuliskannya, tapi karakternya sangat berbeda,” ujarnya. Penjelajah asing, seperti Ibn Battutah menulis pengalaman perjalanan dengan kebiasaan mendeskripsikan yang dia lihat. Sementara orang Nusantara lebih menerangkan pengalaman spiritual, kondisi perjalanan haji, seperti kondisi kapal dan pengalaman rohaninya.  “Itu yang menonjol. Jadi kita tidak lihat apa yang mereka lihat di sana, orang Arabnya bagaimana, dan lain-lain. Mungkin karena tak begitu paham bahasanya,” ujar Oman.

  • Dari Kota Satria ke Formosa

    GOR PB Djarum di bilangan Slipi, Jakarta Barat siang, 25 Oktober 2018, itu tengah sepi. Di pojok sejumlah lapangan bulutangkisnya terdapat sebuah ruangan kecil yang hanya berisi tiga meja dan kursi namun penuh arsip dan dokumen administratif. Di ruangan itulah Historia menanti salah satu maestro bulutangkis 1990-an Fung Permadi. Fung akhirnya datang 5-10 menit kemudian. Mengenakan batik biru dengan jaket hitam bercorak kuning, pria ramah itu menebar senyum. Sapa hangat pria kurus yang rambutnya sudah memutih itu mengiringi jabat tangan. Sejak 2007, Fung dipercaya PB Djarum jadi kepala pelatih. PB Djarum juga menjadi induk semang karier bulutangkis pria bernama asli Chen Feng itu. Fung mengakui, bulutangkis mulanya sekadar jadi penyaluran hobi pada masa kecilnya di Kota Satria,  julukan Kota Purwokerto, Jawa Tengah. “Tidak ada dari keluarga saya yang senang olahraga, tidak ada juga darah bulutangkis. Hanya memang saya waktu kecil diperkenalkan bulutangkis dari tante saya. Hanya untuk penyaluran (kegiatan/hobi) saja,” tutur pria kelahiran Purwokerto, 30 Desember 1968 itu kepada Historia. Seperti kebanyakan anak-anak usia 12 tahun di Purwokerto, Fung kecil menggemari sepakbola. “Ya biasa main bola di jalanan sehabis sekolah,” ujarnya. Selain itu, dia juga hobi nonton tinju. “Hampir selalu juga kalau ada tayangan tinju Muhammad Ali di TV, sering bolos sekolah malah.” Namun, hobi-hobinya itu diprotes keluarga. “Pulangnya malam terus. Lalu disarankan tante saya, Marisa, untuk coba bulutangkis. Dari coba-coba itu akhirnya saya memutuskan untuk lebih serius dengan bulutangkis dengan ikut sebuah klub,” lanjutnya. Di usia SMA, Fung menjuarai bebeapa kejuaraan lokal. Dari situlah Fung mulai kenal dengan beberapa pelatih PB Djarum. Ketertarikannya untuk masuk PB Djarum juga terdorong oleh beberapa rekan seangkatannya di klub asalnya. “Ada beberapa teman angkatan saya, dua-tiga orang, sudah masuk PB Djarum duluan. Lalu saya juga menyusul, mengajukan diri. Sempat ikut tes dulu dalam sebuah kejuaraan di Solo, setelah itu baru diterima di PB Djarum pada September 1983,” kenangnya. Pengalaman berbeda dirasakan Fung setelah masuk PB Djarum, yang mengharuskannya beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru di asramanya di Kudus. “Di PB Djarum fasilitasnya sudah lebih mendukung, lebih lengkap dari klub asal saya di Purwokerto. Selain asrama, pelatih-pelatihnya juga sudah banyak menelurkan pemain-pemain Indonesia yang berprestasi di tingkat internasional, seperti Liem Swie King, Hastomo Arbi, Hadi Bowo Susanto,” kata Fung menambahkan. Selain bebas iuran, di PB Djarum pendidikan Fung juga dijamin. “Untuk sekolah, kita disekolahkan di SMA Keluarga Kudus yang letaknya dekat dengan asrama. Jadi jam 7 pagi sekolah sampai jam 1 siang. Lalu jam 3 sore latihan fisik sampai jam 5. Besoknya sekolah lagi dan begitu saja rutinitasnya. Sabtu hanya latihan fisik, Minggu baru libur.” Namun, jauh dari orangtua membuat Fung acap didera homesickness . “Kangen keluarga pasti. Saya hanya bisa pulang kalau ada jeda pertandingan panjang dan libur sekolah,” ujarnya. Namun, itu hanya satu dari sekian hambatan yang mesti dilalui Fung sebagai konsekuensi memilih bulutangkis sebagai jalan hidupnya. Hijrah ke Formosa Karier Fung di tunggal putra perlahan menanjak. Pada 1986, Fung ditarik ke Pelatnas. Tiga tahun kemudian, Fung menjuarai tiga kejuaraan internasional: Canadian Open, Polish Open, dan German Open. Fung pun dipercaya menjadi bagian skuad Thomas Cup 1990, di mana Indonesia harus puas sebagai semifinalis. Dia kemudian menjuarai Swiss Open tahun 1993. Namun, pada 1995, Fung hijrah ke Pulau Formosa, pulau utama Republic of China atau sohor disebut Taiwan. Alasannya, Fung kurang mendapat kesempatan tampil di kejuaraan mancanegara sebagai atlet pelatnas. Fung tersisih dari sejumlah bintang bulutangkis Indonesia lain macam Alan Budikusuma, Joko Supriyanto, Ardi B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi. Mulanya, Fung ingin ke Australia, tapi kesulitan cari sponsor. Dia lantas memutuskan ke Taipei sembari menjenguk ibunya. Beruntung dia bisa bergabung ke sebuah bank yang mendirikan sebuah klub. Hal itu membuat Fung jadi satu dari sedikit pebulutangkis paling awal yang kariernya bermain untuk dua negara –Indonesia dan Taiwan. Langkah Fung kemudian diikuti antara lain oleh Tong Sinfu (Indonesia, China), Mia Audina (Indonesia, Belanda), dan Tony Gunawan (Indonesia, Amerika Serikat). Mengutip situs BWF (Federasi Bulutangkis Dunia), Fung bertarung di bawah panji China Taipei/Taiwan sejak 1995 hingga 2002. Tidak hanya di berbagai kejuaraan terbuka, tetapi juga Olimpiade (2000) dan Asian Games (2002). “Makanya sebenarnya ketimbang di sini, nama saya lebih dikenal di sana (China Taipei). Karena 10 tahun lebih saya di sana jadi pemain sampai pensiun,” kata Fung. Sebagai pemain China Taipei, Fung lebih bergelimang gelar juara. Dia menjuarai Hong Kong Open 1996, Chinese Open 1996, Korea Open 1999, Chinese Taipei Open 1999, dan Swiss Open 1999. Namun, kata Fung, “Buat saya yang tertinggi adalah menjadi finalis Kejuaraan Dunia 1999. Di final saya kalah dari pemain China Sun Jun.” Fung menutup kariernya pada 2005. Hingga setahun setelah pensiunnya, dia jadi pelatih tunggal putra China Taipei. Pada 2007, Fung kembali ke Indonesia untuk menjadi pelatih kepala PB Djarum.

  • Jalan Berliku Menuju Kongres Kebudayaan Pertama

    KENDATI dipercaya menjabat ketua Panitia Kongres Bahasa Jawa oleh pemerintah Hindia Belanda, Pangeran Prangwadono (kemudian menjadi Mangkunegoro VII) tak terlalu acuh. Bersama beberapa anggota Boedi Oetomo (BO) cabang Surakarta, dia –yang sejak awal menggagas agar diadakan pembahasan kebudayaan dalam bentuk kongres– justru lebih antusias membahas hal lebih besar. “Mereka berpendapat bahwa yang perlu diselenggarakan bukan Kongres Bahasa Jawa seperti yang dikehendaki pihak Batavia, tetapi Kongres Kebudayaan untuk memperbincangkan masalah kebudayaan Jawa,” tulis Nunus Supardi dalam Bianglala Budaya: Rekam Jejak 95 Tahun Kongres Kebudayaan 1918-2013 . Pemerintah pusat di Batavia sebelumnya memutuskan membuat Kongres Bahasa Jawa. Gagasannya datang dari teosof terkemuka Van Hinloopen Labberton. Keseriusan pemerintah dibuktikan dengan dibentuknya panitia yang anggotanya antara lain Dr. Hoesein Djajadiningrat, sejawaran dan doktor bumiputra pertama lulusan Leiden Universiteit; Dr. FDK Bosch, dan Dr. B. Schrieke, plus Dr. Hazue sebagai anggota kehormatan. Mereka lalu menunjuk Prangwadono menjadi ketua kongres. Namun, Prangwadono dan para kaum terpelajar BO Surakarta telah bertekad membuat kongres kebudayaan Jawa sehingga tak acuh pada keinginan pemerintah. Kegigihan mereka membuat pemerintah mengalah. “Pihak Batavia memutuskan untuk membiarkan para anggota BO di Surakarta mengambil langkah sendiri dalam mengatur penyelenggaraan kongres. Akhirnya mereka menyelenggarakan Kongres Kebudayaan Jawa dan bukan Kongres Bahasa Jawa.” Sarat Debat Izin pemerintah menjadi dasar para intelektual BO Surakarta membentuk panitia kongres. “Pelaksanaan dan organisasinya diserahkan selanjutnya kepada satu panitia tersendiri, lepas dari Budi Utomo,” ujar Margono Djojohadikusumo, ayah begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo, yang hadir di kongres tersebut, dalam memoar berjudul Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman: Satu Kisah Kekeluargaan Tertulis . R. Sastrowidjono dipercaya menjadi ketua panitia itu. Namun, perdebatan mengiringi persiapan kongres. Sebagian golongan menghendaki kehadiran para intelektual Eropa dalam kongres yang akan dihelat. Kubu lain justru menolak dengan alasan tak ingin orang asing mencapuri kebudayaan Jawa. Pada rapat kedua, kedua kubu sepakat menolak kehadiran intelektual Barat. Perdebatan baru selesai ketika semua sepakat pada saran Prangwadono. Dia mengusulkan, intelektual Eropa sebaiknya diizinkan terlibat dalam kongres tetapi sebatas sebagai penasihat –meski realitasnya para intelektual Barat di kongres kemudian ada yang menjadi pemrasaran. Silang pendapat kedua terjadi ketika pembahasan topik kongres. Dr. Radjiman Wedyodiningrat bersikukuh agar kongres membahas tentang pendidikan yang menitikberatkan pada pendidikan kebudayaan asli Jawa. Pandangan itu dengan tegas ditolak Sastrowidjono sang ketua panitia yang justru menitikberatkan pada pendidikan Barat. Prangwadono dan Wuryaningrat memilih pendidikan Barat dan Jawa sekaligus. Kehadiran Hoesein Djajadiningrat, doktor bumiputra pertama lulusan Leiden Universiteit pertama, di dalam persiapan itu makin menambah sengkarut. Putra bupati Banten itu mengarahkan agar kongres tak hanya memperbincangkan budaya Jawa. Kompromi akhirnya dicapai setelah Prangwadono menyarankan agar topik kongres diperuas. Kongres, kata Prangwadono, sebaiknya membahas masalah bagaimana memajukan kebudayaan Jawa. Dengan begitu, peran pendidikan dalam memajukan kebudayaan tetap termuat di dalamnya. Sementara, arahan Hoesein Djajadiningrat membuat peserta kongres datang dari beragam etnis, bukan hanya orang Jawa. Setelah melalui jalan berliku penuh perdebatan, panitia pun memutuskan kongres dihelat pada 5-7 Juli 1918 di bangsal Kepatihan Keraton Surakarta. Sembilan orang (lima intelektual Jawa dan empat intelektual Belanda) dipilih menjadi pemrasaran. Kongres tersebut, yang akan dihadiri para pemrasaran berkapasitas dan peserta berintegritas, akan menghadirkan perdebatan ilmiah pertama yang melibatkan intelektual bumiputra, terutama antara Soetatmo dan Tjipto Mangoenkoesoemo. “Jika ditinjau kembali, debat itu sesungguhnya mempunyai jangkauan yang lebih luas daripada jangkauan debat pada waktu berdirinya Volksraad, terutama karena dalam perdebatan itu Tjipto dan Soetatmo Soerjokoesoemo membahas masalah bagaimana menempatkan makna pergerakan dalam sejarah dan kebudayaan Jawa dan bagaimana sikap di alam pergerakan, justru di masa pergerakan sedang bergejolak kembali. Memang, pada tahun 1918 pergerakan berada pada satu titik yang menentukan,” tulis Takashi Shiraishi dalam “’Satria’ vs ‘Pandita’, Sebuah Debat dalam Mencari Identitas”, dimuat dalam Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang yang dieditori Akira Nagazumi. ( Bersambung )

  • Mempertanyakan Kembali Teori Islamisasi di Nusantara

    SULIT menyepakati Barus sebagai titik nol Islam masuk ke Nusantara. Pun soal Islam pertama masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M.  Azyumardi Azra, guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan klaim yang selama ini disuarakan sebenarnya tak berbukti. "Ada klaim Islam masuk pada 7 M, pada abad pertama Hijriah, tapi tak ada buktinya," kata Azra dalam acara Borobudur Writers Cultural Festival ke-7, di Hotal Manohara, Magelang, Jumat (23/11). Azra tak ragu kalau orang Islam sudah datang sejak abad pertama Hijriah. Tak cuma orang Islam, orang Yahudi pun sudah datang. Namun, tak jelas, apakah Islam hanya datang atau mengislamkan penduduk lokal. “Kalau saya ya mulai akhir abad ke-12 M (proses Islamisasi berlangsung, red. ),” kata Azra. Azra pun menyebut periwayatan penjelajah muslim, al-Ramhurmuzi dalam kitab  Ajaib al-Hind  yang ditulis sekira 390 H (1000 M). Di dalamnya berisi tentang kunjungan para pedagang muslim di Kerajaan Zabaj (Sriwijaya). Dengan adanya orang muslim di Sriwijaya mengindikasikan Islam sudah ada di Nusantara pada abad ke-10 M.  “Tapi nampaknya muslim itu orang asing," kata Azra. "Sebaliknya tak ada indikasi kalau penduduk lokal telah masuk Islam apakah dalam jumlah kecil, apalagi massal."  Menurut Azra, bukti yang tak diragukan adalah munculnya Kesultanan Samudra Pasai. Keberadaan kerajaan ini salah satunya muncul dalam catatan penjelajah asal Maroko, Ibn Battutah yang melawat ke Nusantara pada 1345. Dia sempat singgah di Samudra Pasai selama 15 hari. Waktu itu, sultan yang berkuasa adalah Malik al-Zahir II (133?-1349) “Tidak diragukan pelawat muslim di Nusantara, Ibn Battutah sampai ke Samudra Pasai. Ini bukti kuat wilayah terawal Islamisasi di Nusantara,” ujar Azra. Kendati begitu, pada masa Samudra Pasai pun mayoritas rakyatnya belum memeluk Islam. Proses Islamisasi masih berlangsung. “Sultan sering berperang menghadapi mereka (orang-orang yang belum menerima Islam, red. ),” tulis Ibn Battutah dalam catatannya.  Taufik Abdullah, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, juga mempertanyakan konsep yang jelas soal proses Islamisasi. “Sudah pasti saya tak ragu pada abad pertama Hijriah sudah ada orang Islam ke sini. Tapi apakah artinya kalau saya ke Amerika saya mengislamkan Amerika?” ujarnya. Sejauh ini yang diklaim sebagai bukti terawal Islam di Nusantara adalah makam Fatimah binti Maimun yang berangka tahun 1082 M. Padahal, menurut Taufik, itu tak langsung membuktikan kalau orang Nusantara sudah diislamkan. “Di Tiongkok sana abad ke-10 M melarang kapal-kapal Arab datang," kata Taufik. "Jadi, mereka berkeliaran ke sini. Ya, wajar abad ke-11 M sudah ada orang Islam yang meninggal di sini." Bukan Pedagang Soal pelaku Islamisasi di Nusantara, Azra membantah jika dilakukan oleh pedagang Gujarat. Ada teori lain yang menurutnya lebih memungkinkan. Dalam periwayatan al-Ramhurmuzi, misalnya, disebutkan raja Sriwijaya pernah mengirimkan surat kepada dua raja Arab: Khalifah Muawiyah ibn Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah (661-680 M), dan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz, Khalifah Bani Umayyah (717-720 M). Kedua surat itu ditemukan sastrawan al-Jahiz di arsip Dinasti Umayyah. Isinya, maharaja Sriwijaya meminta raja Arab mengirim guru untuk mengajar Islam di Sriwijaya. Tak diketahui apakah masing-masing raja Arab itu memenuhi permintaan maharaja Sriwijaya. Belum ada buktinya.  Yang jelas, kata Azra, kedua surat ini menunjukkan kalau para pelaut, pedagang muslim pendatang tidak memperkenalkan Islam kepada maharaja Sriwijaya. “Sehingga dia (maharaja Sriwijaya, red. ) merasa perlu meminta guru yang mengajarkan Islam,” kata Azra.  Azra lebih melihat peran pengembara sufi sebagai agen penyebar Islam di Nusantara. Kalau di Jawa ada Wali Songo. Sementara di wilayah timur, ada tokoh yang dikenal dengan Tiga Datok.  “Orang Sulsel (Sulawesi Selatan) juga mengklaim Tiga Datok yang sama. Setelah puas di NTB mereka berlayar ke Sulsel. Ini juga munculnya setelah abad ke-12 M, pasca Imam al-Ghazali,” kata Azra. Ditambah lagi negeri Gujarat sebelum abad ke-13 M masih merupakan negara Hindu. Mereka bermusuhan dengan Islam. “Kalau ada orang Islam datang diusir,” tegas Azra. Menurut Azra, para pedagang muslim bukanlah yang mengajarkan Islam ke raja. Padahal kala itu peranan kesultanan begitu penting dalam proses penyebaran paham tertentu ke rakyat.  “Memang ada pelaut muslim tapi tidak ada konversi Islam dari pedagang. Tak ada buktinya. Teori ini harus ditolak,” ujar Azra. Teori Mata Air Terkait masuknya Islam ke Nusantara, Azra mengajukan teori yang disebut seperti mata air. Artinya, sumber kedatangan ajaran Islam bisa dari berbagai tempat seperti sumber-sumber mata air.  “Memang semua ada indikasinya. Kita tak bisa mengklaim Islam hanya dari Gujarat. Dari Mesir ada, Irak, Tiongkok juga ada,” kata Azra. Azra menilai teori sejarawan Slamet Muljana cukup masuk akal terkait Islam di Tiongkok dan pengembaraan pelayar Tiongkok muslim ke Indonesia. “Ditambah kita wilayah maritim tempat terjadinya persilangan budaya yang bisa datang dari mana saja,” ujarnya.  Terkait klaim-klaim Islamisasi di Nusantara, menurut Azra, karena sejarah lebih sering menjadi ranah kontestasi. Kontestasi ini disebabkan kepentingan ideologi. “Itulah sejarah sebagai ideologi. Ada kontestasi terhadap sejarah,” tegasnya.

  • Ahmad Yani, Sang Flamboyan Pilihan Sukarno

    PAGI sekali, Mayor Jenderal Ahmad Yani berangkat ke Istana Negara. Dia naik mobil bersama sopirnya, Hasan. Istri dan anak-anak Yani menanti di rumah dengan perasaan berdebar-debar. Hari itu 23 Juni 1962, Yani akan dilantik oleh Presiden Sukarno sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). “Hari itu adalah hari yang paling bahagia bagi kami sekeluarga,” kenang Amelia Yani, salah seorang putri Yani dalam biografi ayahnya Profil Prajurit TNI .  “Waktu itu di rumah sudah banyak sekali tamu-tamu yang ingin memberikan ucapan selamat.” Setiba di Istana, Yani tak dilantik sendirian. Ada beberapa Duta Besar (Dubes) yang ikut dilantik berbarengan. Mereka antara lain: Gustaaf Adolf Maengkom (Dubes RI untuk Polandia), Sudjono (Dubes RI untuk Ghana), dan Busono Darusman (Dubes RI untuk Austria). Ketika dilantik sebagai KSAD, Yani tengah berada di usia puncak kariernya, 40 tahun. Dia juga merangkap jabatan penting sebagai Kepala Staf Operasi Pembebasan Irian Barat. Tak mengherankan apabila pada upacara pelantikannya, Presiden Sukarno banyak menyinggung soal Irian Barat. “Saudara-saudara sejak saat sekarang ini lebih-lebih lagi diharap dari saudara-saudara untuk memberikan saudara-saudara punya tenaga sepenuh-penuhnya, semaksimum-maksimumnya kepada perjuangan simultan membebaskan Irian Barat. Kepada Mayor Jenderal Jani terutama sekali dibidang militer,” kata Sukarno dalam pidatonya yang diterbitkan Departemen Penerangan. Yani kemudian mengucapkan sumpah jabatan. Pangkatnya dinaikan setingkat menjadi letnan jenderal. Dengan demikian, Yani resmi telah menjadi orang nomor satu di jajaran Angkatan Darat. Awalnya Bukan Yani Menurut penuturan Amelia, semula Yani tak termasuk dalam kandidat calon KSAD. Ada beberapa nama perwira tinggi senior lain yang diajukan. Semuanya ditolak oleh Sukarno. Nasution sendiri lebih cenderung kepada wakilnya, Gatot Subroto untuk menduduki jabatan KSAD. Namun pada awal Juni 1962, Gatot meninggal dunia karena serangan jantung. Nasution kemudian mengusulkan beberapa nama lagi. Kali ini menyertakan nama Yani, yang menjadi Deputi II KSAD. Tanpa ada perbantahan, Sukarno langsung setuju. Di mata Istana, Yani punya reputasi gemilang. Pada 1958, Yani sukses menggelar operasi militer penumpasan PRRI di Sumatera pada 1958. Dia lantas merapat ke Istana ketika menjabat kepala staf Komando Operasi Tertinggi (KOTI) yang berada di bawah komando presiden. Dalam waktu 4 tahun sejak memimpin Operasi 17 Agustus di Padang, nama Yani terus melejit. Sebagai perwira profesional, Yani memang mencatatkan prestasi menonjol. Yani juga memperoleh kepercayaan Nasution dan korps perwira AD karena seorang antikomunis garis keras. Meski demikian, pengangkatan dirinya menjadi KSAD terbilang cepat dan mulus. Menurut sesepuh TNI AD Sayidiman Suryohadiprodjo yang pernah menjadi perwira pembantu Yani di Markas Besar AD, penujukan Yani masih wajar dan sesuai. Wajar dalam arti tak menyalahi tradisi TNI atau melangkahi dari segi senioritas. Saat itu, tak banyak perwira tinggi lain yang melebihi senioritas Yani. “Mungkin Pak Harto yang merasa lebih senior karena pernah bersama Yani sewaktu di Divisi Diponegoro. Akan tetapi orang juga anggap ini tindakan Bung Karno untuk kurangi wewenang dan reputasi Pak Nasution yang jabat KSAD,” ujar Sayidiman kepada Historia . Kata Sayidiman lagi, “ Correct iya, tapi latar belakang politik kental. Itulah hal yang sukar dihindari pada level atas. Apalagi dengan orang seperti Bung Karno sebagai presiden.” Figur Kesukaan Presiden Menurut pakar politik Monash University, Harold Crouch, kendati sama-sama antikomunis, Yani menampilkan citra diri yang berbeda dari Nasution. Ini terlihat dari cara Yani menentang kebijakan Sukarno terhadap PKI. Sebagai orang Jawa, Yani cenderung memperlakukan Sukarno sebagai seorang “bapak” yang bisa saja bertindak salah tetapi tak boleh ditentang secara terbuka. “Dan sebagai orang Jawa yang tak memiliki keislaman yang puritan seperti Nasution, ia lebih mudah menjadi bagian dari lingkungan Istana Sukarno,” tulis Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia . Kepribadian Yani yang menarik dan luwes menjadi nilai tambah sang jenderal. Karakter demikian memungkinkan Yani mengembangkan hubungan serasi dengan Sukarno. Faktor inilah yang meyakinkan Sukarno untuk menjatuhkan pilihannya kepada Yani. Sesudah upacara di Istana selesai, Yani pulang kerumahnya di Jalan Lembang. Suasana ramai telah menanti. Acara selamatan dipersiapkan atas pelantikan Yani.   “Bapak turun dari mobil disambut ibu dan kami semua,” kenang Amelia. “Bapak tersenyum cerah sekali dan kami ikut merasakan kebahagiaan itu.”*

  • Membentuk Ekosistem Kebudayaan

    DIREKTUR Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, Kongres Kebudayaan yang rencananya diselenggarakan 5-9 Desember 2018 nanti bertujuan membentuk strategi kebudayaan yang menjadi acuan 22 kementerian dalam menjalankan kebijakan terkait budaya. Dengan adanya strategi kebudayaan, dunia seni budaya lebih diakui karena tercantum dalam kerangka kebijakan. Dengan begitu, praktik kesenian beserta perkembangannya bisa lebih terorganisasi dan terstruktur. “Selama ini kesenian dianggap sebagai sebuah bidang yang tidak mapan dalam kerangka kebijakan sehingga pemerintah sulit mengukur,” ujarnya dalam mediabriefing Kongres Kebudayan, Kamis (22/11) di Pulau Dua Restoran. Ketiadaan pembahasan mendalam tentang seni budaya dalam kerangka kebijakan menyulitkan pemerintah dan pelaku seni dalam menyelenggarakan kegiatan seni budaya. Untuk membentuk strategi kebudyaan, Direktorat Kebudayaan telah menyelanggarakan prakongres Kebudyaaan sejak Maret 2018 dengan mengumpulkan data empirik dari 200-an kabupaten/kota. Selain itu, ada 33 bidang dan pelaku budaya yang berkumpul, seperti seniman wayang, komunitas independen, antropolog dll. yang telah memberikan rekomendasi. Pada kongres Desember nanti, kegiatan berupa penyampaian kesimpulan dari rapat-rapat kecil prakongres daerah. Kesimpulan ini kemudian dibahas oleh 17 orang perumus, salah satunya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Hasil rumusan strategi kebudayan ini kemudian diteruskan kepada presiden untuk disetujui dan ditetapkan menjadi kebijakan yang dijalankan oleh tiap-tiap kementerian. Dengan adanya strategi kebudayaan, pemerintah memiliki arah yang jelas dalam mengembangkan budaya. Masuknya sektor seni budaya dalam kerangka kebijakan juga mempermudah pemerintah dan pelaku seni untuk lebih mengembagkan budaya daerahnya masing-masing dan menciptakan ekosistem kebudayaan yang mapan di masyarakat. “Strategi kebudyaan memastikan sektor seni budaya mapan dalam kerangka kebijakan. Selama ini sektor budaya tidak terlalu diperhitungkan. Hasil konkretnya di masa mendatang pembiayaan kegiatan seni lebih mudah,” kata Hilmar. Namun, hasil konkret atas strategi kebudayaan belum bisa langsung dirasakan. Menurut Hilmar, efek dari masuknya sektor seni budaya dalam kerangka kebijakan baru akan dirasakan betul pada 10-30 tahun mendatang. “Dulu orang tidak kenal budaya Korea, namun sekarang semua orang tahu. Itu karena pemerintahnya menjalankan strategi kebudayaan dan berhasil. Segala bentuk kegiatan seni didukung oleh pemerintah. Harapannya kita bisa seperti itu,” kata Hilmar. Estafet Pencarian Kongres Kebudayaan Desember mendatang menjadi tahap lanjutan dari perumusan kebudayaan nasional yang telah dirintis sejak Kongres Kebudayaan pertama tahun 1918. Pascakemerdekaan, Kongres Kebudayaan pertama kali diselenggarkaan tahun 1948. Panitia kongres bertugas membuat rumusan tentang arah dan strategi kebudayaan untuk mendirikan kebudayaan nasional indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian pascapenjajahan. Semangat membentuk kebudayaan nasional dan keluar dari mentalitas negeri jajahan itu terus diupayakan hingga Kongres Kebudayaan tahun 1960. Namun, proses pencarian kebudayaan nasional terputus selama tiga dekade dan baru kembali terlaksana pada 1991. Pascareformasi, Kongres Kebudayaan digelar secara rutin. Namun, Kongres Kebudayan sejak 2003 belum membuahkan hasil. Kongres Kebudayaan, dalam rilisan pers Kementerian Kebudayaan, lebih serupa simposium ilmiah yang memaparkan pemikiran dari para ahli yang meski menarik tapi tak punya sangkut-paut dengan kondisi lapangan. Kongres-kongres itu juga tidak secara langsung melibatkan masyarakat dalam mengelola kebudayan bersama sehingga tak menyentuh masalah sampai ke akar rumput. Dengan penghimpunan data dari tingkat paling kecil, yakni desa dan pegiat seni budaya, Kongres Kebudayan 2018 berusaha menjaring dukungan untuk memapankan sektor budaya dan membentuk ekosistem budaya yang terstruktur dengan mendorong dan membuat jalur komunikasi budaya dari desa sampai ke pusat. “Kongres ini inginnya menjadi kepemilikan luas semua masyarakat agar proses perumusan kebijakan diikuti semua pelaku budaya sehingga ketika jadi kebijakan akan menjadi kepemilikan bersama,” kata Hilmar.

  • Islamisasi Jawa Menurut Tome Pires

    ADA beberapa teori yang dikembangkan para sejarawan soal Islamisasi di Nusantara. Penjelajah asal Portugis, Tome Pires, punya versinya sendiri.  Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana, menjelaskan, petualangan Tome Pires dimulai pada masa di mana penjelajahan orang-orang Eropa berlangsung.   “Sejak masa Colombus, abad ke-16 adalah abad  discovery . Ada kompetisi arung samudra orang barat ke timur,” kata Sri Margana dalam acara Borobudur Writers & Cultural Festival ke-7 2018, di Hotel Grand Inna Maliboro, Yogyakarta, Kamis (22/2). Penjelajahan bangsa Eropa didorong oleh keinginan menunjukkan kehebatan mengarungi samudra. Pun juga rasa haus akan pengetahuan dunia timur.  “Hasil arung samudra paling utama adalah pengetahuan. Segala info tentang dunia timur menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya,” lanjutnya.  Salah satunya Tome Pires yang menyajikan informasi lengkap tentang dunia timur. Dia mencatatnya dalam  Suma Oriental . Yang paling menarik adalah pendapatnya soal hubungan komunitas Tionghoa dan Nusantara, khususnya dalam proses Islamisasi. Ketika datang ke Jawa, Tome Pires mendapati bangsa asing: Arab, Persia, Gujarat, Bengal, dan Melayu. Para pendatang itu, kata Tome Pires, berhasil memperkaya diri dengan berdagang hingga mampu membangun masjid-masjid besar. “Kata Pires, mereka sudah tinggal di Jawa selama 70 tahun. Ini dihitung dari waktu kunjungan Pires. Jadi sudah membawa pengaruh yang besar,” kata Sri Margana. Menurut Tome Pires, jauh sebelum Islam datang, orang Jawa beragama pagan. Ketika bangsa Moor datang, mereka membangun benteng di sekeliling tempat tinggalnya. Mereka mengirim kaumnya untuk berdagang dengan jung, membunuh penguasa Jawa, dan mengangkat dirinya sebagai penguasa baru.  “Dengan demikian mereka berhasil menjadikan diri sebagai penguasa dan mengambil alih kekuasaan dan perdagangan di Jawa,” tulis Tome Pires. Jika itu benar, menurut Sri Margana, pernyataan Tome Pires meruntuhkan mitos tentang kehadiran Islam yang damai di tanah Jawa. Penyebar Islam di Jawa Catatan Pires juga seakan-akan mengklarifikasi tentang para penyebar Islam pertama di Jawa. Orang-orang Moor bukanlah satu-satunya penyebar Islam di Jawa, tapi juga Tionghoa. Tome Pires menulis, para pate atau penguasa di Jawa, bukanlah orang Jawa asli yang berasal dari Jawa. Mereka melainkan Tionghoa, Keling, Persia dan berbagai negeri yang disebutkan sebelumnya. Namun, orang-orang ini sudah merasa lebih penting di kalangan bangsawan dan negeri Jawa secara kesuluruhan, bahkan melebihi orang yang tinggal di pedalaman. Itu karena mereka dibesarkan di tengah orang Jawa yang suka pamer, ditambah kekayaan yang mereka warisi dari para nenek moyang. Pertanyaannya adalah, seberapa akurat informasi yang disebutkan Tome Pires? Dalam tulisannya, dia mengatakan sudah melakukan konfirmasi terhadap infomasi itu.  “Pires bukan hanya mencatat yang dia lihat dan amati. Dia juga melakukan klarifikasi terhadap mitos dan kisah yang dia dengar,” kata Sri Margana. Misalnya, soal hubungan Jawa dan Tiongkok. Menurut Tome Pires, raja Jawa dan Tiongkok tak pernah punya hubungan satu sama lain. Uang tunai Cina dibawa ke Jawa berkat perdagangan. Orang Jawa sudah melakukan perdagangan dengan komunitas Tionghoa jauh sebelum Malaka ada.  “Kisah tentang Putri Cina menikahi orang Jawa itu jadi menurut dia (Pires, red . ) bohong,” kata Sri Margana. Menarik juga memperhatikan kesan Tome Pires terhadap orang Jawa. Katanya, soal kebaikan, harga diri, ketegasan, dan keberanian belum ditemukan di Jawa. Bahkan, keangkuhan orang Melayu, kata Pires, didapatkan dari perangai orang Jawa. “Ini mengejutkan. Jawa selalu disebut baik, sopan, ternyata Tome Pire punya kesan sendiri,” kata Sri Margana.  Dalam hal ini, subjektivitas muncul. Latar belakang sosial dan budaya yang dibawa Tome Pires mempengaruhi cara pandang dalam mencatat hal-hal yang dia temui dalam penjelajahannya, khususnya di Jawa.  “Kalau mau pakai naskah ini sebagai sumber sejarah, harus kritis juga,” kata Sri Margana.

  • Ratu Sima dalam Catatan Tiongkok

    PADA zaman dulu, hiduplah seorang ratu yang memerintah negerinya dengan tegas. Dia diingat dengan nama Ratu Sima. Saking tegasnya, barang yang tergeletak di jalan tak kan ada yang berani mengambilnya.  Penasaran dengan ketegasan sang ratu, Raja Da-zi mengirimkan sebuah tas yang berisi uang. Tas itu diletakkan di perbatasan negara sang ratu. Meski melihat tas itu, orang-orang hanya melewatinya. Tak ada yang berani menyentuhnya. Tas itu tetap di sana hingga tiga tahun lamanya. Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima pun marah besar sampai ingin membunuh putranya itu. Namun, dia keburu dicegah para menterinya. “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,” kata sang ratu. Para menteri kembali menghalanginya. Akhirnya, Ratu Sima memotong ibu jari kaki sang pangeran. Dengan sikapnya, dia ingin memberi contoh kepada rakyatnya. Raja Da-zi pun takut dan tak berani menyerang negara sang ratu. Penguasa Kerajaan Ho-ling Begitulah kisah tentang Ratu Sima dalam Catatan Dinasti Tang . Dia merupakan penguasa Kerajaan Ho-ling yang terletak di Jawa bagian tengah. Menurut catatan itu, sang ratu naik takhta pada 674 M. Dengan demikian, Ho-ling menjadi kerajaan pertama di Jawa bagian tengah. Sayangnya, tak begitu banyak sumber sejarah yang menyebutkan soal keberadaannya. Arkeolog Agus Aris Munandar dalam Kaladesa Awal Sejarah Nusantara menerangkan, selama periode awal masa sejarah hingga 700 M, sumber-sumber sejarah Indonesia utamanya berasal dari Tiongkok. Mereka biasanya adalah duta dari raja-raja kepulauan di selatan yang mempersembahkan upeti kepada para kaisar. Soal Ho-ling, berita Tiongkok menyebutkan di Jawa pada sekira abad yang sama dengan berdirinya Kerajaan Tarumanegara terdapat kerajaan lain. Penyebutan Ho-ling seringkali disamakan dengan She-po (Cho-po) atau Jawa. W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa menjelaskan, ada dua versi catatan Dinasti Tang yang menyebut soal Ho-ling. Pertama adalah Sejarah Lama Dinasti Tang (618-907) yang dianggap kurang benar. Sedangkan Sejarah Baru Dinasti Tang berisi informasi yang lebih lengkap terutama soal Jawa. "Nama Jawa sudah mulai menggantikan nama Ka-ling,” tulis Groeneveldt. Mirip dengan penjelasan di Sejarah Lama Dinasti Tang , Ho-ling disebutkan terletak di sebuah pulau di samudra selatan. Posisinya di sebelah timur Sumatra dan di sebelah barat Bali. Jika ke utara menuju Kamboja dan jika ke selatan menuju lautan. Penduduknya membuat pertahanan dengan kayu. Bahkan bangunan terbesar juga ditutupi oleh daun palem. Mereka punya balai-balai dari gading. Pun tikar yang terbuat dari kulit terluar bambu. Di bangunan ini raja bertakhta. Kalau makan, penduduknya tak menggunakan sendok atau sumpit. Mereka memasukkan makanan ke mulut dengan jari-jari mereka. Disebutkan juga masyarakat Ho-ling sudah mengenal aksara. Mereka pun telah mengetahui sedikit ilmu astronomi. Negara itu disebut sangat kaya. Terdapat sebuah gua yang airnya mengandung garam dan keluar dengan sendirinya. Raja tinggal di kota Java (Ja-pa). Dia dibantu oleh 32 menteri tinggi.  Di sekeliling negara ini terdapat 28 negara kecil yang mengakui kekuasaan Java. Pendahulu sang raja, Ji-yan, tinggal di sebuah kota di sebelah timur yang bernama Bu-lu-ga-si. Sang raja seringkali memandangi lautan dari pegunungan di Distrik Lang-bi-ya. Catatan itu juga mengabarkan utusan dari Ho-ling rutin datang ke Tiongkok yang tercatat hingga abad ke-9 M.  Berita lain tentang Ho-ling menuturkan adanya aktivitas agama Buddha di She-po. Ini, kata Agus, mungkin juga terjadi dalam periode pemerintahan Ratu Sima.  Menurut Catatan Tripittaka , kitab suci Buddha berbahasa Tionghoa yang disusun sekira 720 M, ada seorang Biksu Buddha bernama Gunawarman. Sang Biksu datang dari Kashmir ke Kerajaan Jawa pada permulaan abad ke-5 M atas undangan ibu suri. Gunawarman tinggal di Jawa selama kurang dari 25 tahun (396-424 M).  Disebutkan pula, pada pertengahan abad ke-7 M, seorang pendeta Buddha bernama Hui-ning belajar di Ho-ling selama tiga tahun, sejak 664 sampai 667 M. Dia berguru kepada seorang biksu Jawa bernama Jnanabhadra. I-Tsing, seorang biksu dari Tiongokok yang pernah bermukim di Sumatra (Sriwijaya) pada pertengahan abad ke-7 M, juga pernah menyebutkan keberadaan kerajaan itu. Dia mencatat adanya kerajaan Ho-ling sebagai negeri yang memiliki pusat pendidikan agama Buddha Hinayana. Setelah berita adanya utusan pada abad ke-9 M, kerajaan ini tak lagi diketahui beritanya. “Mungkin keluarga Kerajaan Ho-ling kemudian bersatu dengan Wangsa Sailendra. Atau malah mungkin saja Sailendrawangsa itu sebenarnya penerus Kerajaan Kalingan,” tulis Agus. Bagaimanapun, seperti kata Groeneveldt, berkat Ho-ling dan Ratu Sima, Jawa memiliki reputasi sebagai negara yang kuat dan terorganisasi. Pun dia memiliki kebudayaan yang memadai.

  • Depati Amir, Pahlawan Nasional dari Pulau Timah

    UNTUK kali pertama, Provinsi Bangka Belitung menyumbangkan seorang pahlawan nasional. Ini terjadi setelah Presiden Joko Widodo menetapkan enam nama baru pada tahun ini. Salah satu di antaranya ialah tokoh asal Pulau Bangka, Depati Amir.  “Secara kultural, Depati Amir sebenarnya telah diakui sebagai pahlawan bagi masyarakat Bangka. Namanya diabadikan sebagai nama bandar udara di sana,” kata sejarawan dan peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Erwiza Erman kepada Historia . Depati Amir lahir di Mendara, Bangka tahun 1805. Leluhurnya merupakan bangsawan Bangka yang mengabdi pada Kesultanan Pelembang. Amir berayahkan Depati Barin, pemimpin lokal dengan wilayah kekuasaan Kampung Mendara dan Mentandai. Istilah depati sendiri mengacu pada jabatan tradisional setara kepala sebuah atau beberapa desa. “Depati adalah gelar yang diberikan Sultan Palembang kepada para elite di Bangka,” tulis Erwiza dalam Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap: Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung. Pada 1830, Amir diangkat sebagai depati menggantikan Barin, ayahnya. Pengangkatan itu, menurut Erwiza, bukanlah posisi yang didamba Amir. Dia lalu minta berhenti dan memilih jadi orang biasa yang bebas. Meski demikian, Amir tetap memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat Bangka. Ketokohan Amir ini menyebabkan pemerintah kolonial Belanda kerap menaruh curiga. Perlawanan Amir kepada Belanda beranjak dari persoalan pribadi. Ini menyangkut urusan kocek dan kepentingan keluarga. Kehadiran Belanda yang mengeruk timah di wilayah kekuasaan ayahnya menyulut bara api bagi Amir sekeluarga. Amir kecewa ketika tuan kongsi (juragan dagang) Belanda di Sungailiat enggan memenuhi tuntutan Amir sebesar 150 gulden, yakni utang pemerintah Belanda kepada ayahnya. Menurut A.A. Bakar dalam Barin, Amir, Tikal: Pahlawan Nasional Yang Tak Boleh Dilupakan , utang Belanda tersebut merupakan sisa harga timah yang dijual oleh Barin kepada tuan kongsi namun belum dilunasi. Kejadian ini bersamaan waktunya ketika parit-parit timah swasta masih banyak. Parit milik Barin adalah yang terbesar di daerah Merawang. Permintaan Amir dimentahkan pemerintah Belanda. Amir mengancam akan menyerang dan menghancurkan Sungailiat dan Merawang. Amir bahkan menambah tuntutannya menjadi 600 gulden setahun dengan alasan ia berhak mendapatkannya selaku putra depati. Residen Belanda di Bangka, F. van Olden, menilai sikap Amir hanya untuk memprovokasi situasi di kawasan itu. Sejumlah pejabat penting dikerahkan untuk meringkus Amir. Mereka antara lain, Kepala Polisi Letnan Campbell, kepala kongsi Belanda di Pangkal Pinang De Bley, dan Kepala Jaksa Demang Arifin. Semuanya tak mampu menangkap Amir.   Tak dinyana, rakyat Bangka mendukung Amir. Banyak dari penduduk kampung Bangka yang mengalami tekanan akibat kerja rodi membangun infratruktur untuk kepentingan birokrasi kolonial. Selain warga Melayu Bangka, kuli-kuli parit timah asal Tionghoa ikut berjuang bersama Amir. Lewat jaringan ini, penyelundupan senjata lewat Singapura yang dibarter dengan timah dapat diperoleh pasukan Amir untuk mempersenjatai diri. Sejumlah demang (pemimpin lokal) dan batin (penghulu adat) berpegaruh juga jadi sekutu Amir. Demang Suramenggala dan Terentang membantu dalam penyediaan senjata, lembing, dan keris. Haji Abubakar, pemuka masyarakat, secara terang-terangan memihak Amir. Urusan tempur, Amir dibantu para panglima seperti Budjang Singkip, Kai Sam, Bangul, Tata, Darip, dan Dahan. Mereka secara tegas melawan beberapa penguasa lokal yang memihak Belanda. Anak-anak buah Amir ini pada 19 Desember 1848 berhasil menangkap putra Batin Mendo Timur di kampung Lukok. Kampung Lukok ikut dibakar. Perlawanan Amir lantas meluas ke berbagai wilayah di sepanjang pantai timur Bangka: Terentang, Ampang, Toboali, Jebus, Sungailiat. Amir dan pasukannya terus bertahan dari buruan dengan menggalakkan pertempuran kecil satu demi satu. Pemberontakan Amir menjadi isu yang cukup serius di Hindia Belanda seperti dicatat pejabat kolonial dalam Koloniaal Verslaag tahun 1851 dan 1852. Belanda yang kewalahan sampai harus mendatangkan pasukan tambahan dari Palembang dan Batavia. Residen van Olden dalam bukunya De Muiterij van Amir op Banka 1850 menulis satu kisah lengkap tentang perlawanan Amir. Banyak tentara Belanda yang menemui ajal lantaran jebakan-jebakan tak terduga, seperti termakan racun. Selain itu, pasukan Amir diuntungkan dengan mewabahnya penyakit disentri yang saat itu disebut “Demam Bangka” di kalanganan tentara Belanda.     Perlawanan Amir baru dapat ditumpas sesudah dilakukan taktik menohok dari belakang.  Belanda menyuap uang sebesar 1000 dollar Spanyol kepada 7 orang panglima dan 36 pasukan. Mereka terpaksa menyerah lantaran kekurangan logistik dan kelelahan fisik dalam menjalankan perang gerilya. Pada 7 Januari 1851, Amir berhasil ditangkap dalam kondisi sakit di distrik Sungaiselan.  Seperti halnya Pangeran Diponegoro di Jawa, Depati Amir harus mengalami nasib pengasingan karena dianggap pemberontak yang meresahkan. Berdasarkan keputusan tanggal 11 Februari 1851, pemerintah mengasingkan Amir ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebagian pengikut setia Amir juga diasingkan ke  Ambon, Banda, dan Ternate. Setelah pengasingan Amir, Belanda semakin leluasa menjarah timah di bumi Bangka. Ditumpasnya perlawanan Amir mempertegas pembentukan dan pengawasan wijken (kampung) di Bangka dan Belitung. Sistem perkampungan ( Wijkenstelsel ) demikian, kata sejarawan Universitas Indonesia, Servulus Erlan de Robert melokalisasi wilayah berdasarkan etnis untuk memudahkan pengawasan dan meminimalisasi konflik sosial di kawasan tertentu sebagaimana telah dijalankan sejak masa VOC. Amir tak berhenti. Selama di pengasingan, dia tetap berjuang sebagai penasihat perang bagi raja-raja Timor yang juga sedang berjuang melawan penguasaan kolonial. Pada 28 September 1869, Amir wafat dan dimakamkan di Pemakaman Muslim Batukadera, Kupang.

  • Buku Harian yang Hilang

    DARI sebuah lemari, Thea Susetia Kusumo mengambil sebuah buku tebal bersampul coklat muda. Buku itu diperlihatkan kepada Historia kala bertamu ke kediaman sederhanya di Perumahan Dosen Universitas Negeri Surabaya. Di atas meja kayu tua bertaplak putih sederhana motif renda kembang, buku yang sampulnya mulai lapuk itu diletakkan Thea. Di sampul buku itu tertulis: Gatoet Koesoemohadi’s Dagboek: 12-06-1947 – 20-07-1948. Bersama beberapa foto, buku harian milik suami Thea, Gatut Kusumo Hadi, itu salah satu warisan suami paling berharga. Keseharian Gatut di masa revolusi fisik diabadikan dalam buku itu. Sayang, saat dibuka lembar per lembar, hanya tampak tulisan-tulisan tangan cursive atau huruf-huruf sambung di atas kertas kopian. “Aslinya hilang entah ke mana. Sempat hilang selama 50 tahun. Tapi ya masih bersyukur walau hanya kopian. Tulisan di sampul itu yang menuliskannya rekan almarhum semasa TRIP, Pak Sangki namanya,” jelas Thea kepada Historia. Tutup Buku, Usung Senjata Lahir di Purwokerto, 12 Februari 1928, Gatut termasuk beruntung bisa makan bangku sekolahan sejak kecil lantaran ayahnya seorang wedana. Namun, sejak usia 10 tahun dia sudah harus jadi anak yatim. Setelah ayahnya meninggal dan keluarganya tercerai-berai, Gatut pindah bersama saudara tirinya dan melanjutkan sekolah di Malang. Tetapi situasi pelik di Surabaya sejak akhir 1945 membuat Gatut mesti menutup buku pelajarannya dan menggantinya dengan memanggul senjata. Berangkatlah Gatut ke Surabaya untuk menggabungkan diri ke Badan Keamanan Rakyat (BKR) Pelajar 49 Darmo yang lantas melebur ke dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur lewat ketetapan Kongres Ikatan Pelajar Indonesia di Madiun, 21 Juli 1946. Mengutip Sagimun Mulus Dumadi dalam Mas TRIP: Dari Brigade Pertempuran ke Brigade Pembangunan , TRIP berkekuatan lima batalyon di lima kota:  Yon 1000 Mojokerto, Yon 2000 Madiun, Yon 3000 Kediri, Yon 4000 Besuki, dan Yon 5000 Malang. Gatut Kusumo sendiri bertanggung jawab mengasuh Yon 1000. Gatut Kusumo Hadi, Komandan TRIP Komando I. (Dok. Thea Susetia Kusumo) Ketika Belanda merangsek sampai ke Mojokerto pada 17 Maret 1947, Gatut bersama Yon 1000 mengungsi sampai ke Madiun untuk bergabung dengan Yon 2000. Kedua batalyon kemudian melebur jadi TRIP Komando I. Gatut dipercaya jadi komandannya. Di Madiun, TRIP Komando I tak hanya harus waspada terhadap Belanda, tetapi juga dari “saudara” sendiri, Laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). “Dulu Pak Gatut aslinya sosialis, pengagum Sutan Sjahrir dari Partai Sosialis Indonesia. Tapi Pesindo itu justru di bawahnya PKI (Partai Komunis Indonesia) dan di Madiun (dia) ikut melawan Pesindo yang melebur ke Front Demokrasi Rakyat/FDR PKI, membantu TNI Divisi Siliwangi,” lanjut Thea. Kembalinya Dagboek yang Hilang Tak sampai tiga bulan setelah Madiun Affair September 1948, giliran Belanda menggulirkan Agresi Militer II (19 Desember 1948). “Satu saat, kira-kira di daerah Blitar, waktu gerilya pas Pak Gatut dan kawan-kawannya sedang istirahat di satu desa, ternyata desanya ikut dioperasi (penyisiran) Belanda. Buru-buru mereka kabur dan ini ( dagboek ) ketinggalan. Lalu ditemukan tentara Belanda,” imbuhnya. Sampai revolusi selesai, buku harian itu tetap dibawa sang serdadu Belanda yang tak diketahui namanya pulang ke negaranya. Lima puluh tahun kemudian (1999), buku itu baru dikembalikan sang veteran Belanda via Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda. KBRI lalu mengirim buku itu ke Lembaga Veteran Republik Indonesia (LVRI), kemudian dioper lagi ke Pusat Paguyuban Mas (Markas) TRIP. “Tentara Belanda itu tahu, ini (buku harian) Tentara Pelajar. Wong tulisane boso londo (tulisannya bahasa Belanda). Zaman itu kan yang biasanya fasih tulis bahasa Belanda pasti pelajar. Lalu dikirim ke Jakarta ke LVRI,” sambung Thea. Sempat lama buku itu tersimpan di LVRI Jakarta. Maklum, kata Thea, saat itu di LVRI isinya lebih banyak eks-TNI, bukan Tentara Pelajar, maka tak ada yang mengenal nama Gatut Kusumo. Buku itu baru bisa “teridentifikasi” oleh GS Joewono, rekan sejawat Gatut yang akrab disapa Sangki. Thea Susetia Kusumo, istri mendiang Gatut Kusumo Hadi. (Randy Wirayudha/Historia) “Pak Sangki yang mengetahui itu punya Pak Gatut ketika diperlihatkan ke Paguyuban Mas Trip di Jakarta. Sebetulnya sempat hilang betulan. Entah waktu masih di LVRI atau Paguyuban Mas Trip. Tapi Alhamdulillah, bukunya sebelum hilang sempat di- copy dan makanya copy inilah yang diberikan Pak Sangki kepada kami di Surabaya,” tambahnya. Kendati sulit dibaca isinya oleh orang awam lantaran berbahasa Belanda dan tulisan tangannya yang juga sulit terbaca, Thea pernah mencoba menerjemahkannya. “Tidak hanya bahasa Belanda, bahkan di beberapa lembar ada yang bahasa Inggris dan Jerman,” ujar Thea. “Isinya lebih kepada curhat-nya Pak Gatut. Kebanyakan ya cerita tentang keluh-kesahnya tentang percintaan sama pacarnya. Tidak ada tentang urusan ketentaraan. Dia ini kan sebelum nikah sama saya punya pacar juga. Tapi pacarnya dilamar tentara yang berpangkat kolonel. Lha , dia (Gatut) enggak punya pangkat, mana ada Tentara Pelajar punya pangkat, jadi pacarnya yang anak seorang bupati dicuri orang, hahahaha …,” kata Thea sambil tertawa lepas. Sayangnya, Gatut tak pernah tahu buku hariannya yang hilang sudah kembali. (Kopian) buku itu baru sampai ke Surabaya pada 1999, sementara Gatut sudah mangkat pada 19 Juni 1996.

  • Pemerintah Hindia Belanda Fobia pada Diponegoro

    MUHAMMADIYAH pernah mengadakan kongres di Jogjakarta pada 8—16 Mei Mei 1931. Selain mengajak segenap kader untuk ikut, terselip pesan propaganda yang unik. Salah satu pamfletnya memajang gambar Pangeran Diponegoro tengah menunjuk sebuah masjid. “Itu adalah Diponegoro karya lukisan Bik yang menunjukkan jalan ke Masjid Agung,” kata sejarawan Peter Carey seraya menunjuk pamflet tadi dalam pameran pendahuluan “Kamar Diponegoro” di Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua, Jakarta Pusat, 12 November 2018. Pemerintah Hindia Belanda menjadi fobia. Sosok Diponegoro seakan hidup kembali. Untuk mencegah gerakan massa, aparat kolonial yang jengkel membakar semua pamflet atau apapun yang berbau Diponegoro. Adalah Suwardi Suryaningrat orang pertama yang “membangkitkan” Diponegoro setelah wafat di Makassar 8 Januari 1855. Suwardi dikenal sebagai aktivis Indische Partij yang mendirikan sekolah bumiputra Taman Siswa. Sebagai seorang nasionalis, Suwardi menanggalkan status kebangsawannya dan lebih kondang dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Pada awal 1923, Suwardi pernah menulis surat terbuka tentang pentingnya memperingati hari wafatnya Pangeran Diponegoro. Surat itu ditujukannya kepada pemimpin dan pengusaha bumiputra. Menurut Suwardi, seyogianya hari wafat Diponegoro jadi memori bersama bagi semua anak negeri di Hindia Belanda. Seruan dalam suratnya pun cukup berani. “Saudara-saudara yang dimuliakan! Bagi kita semua, tanggal 8 Februari adalah tanggal yang amat penting. Hari itu adalah hari peringatan, hari kesedihan bagi anak negeri ini. Khusus untuk orang Jawa. Kenapa? Karena pada tanggal 8 Februari Pangeran Diponegoro yang agung meninggal,” demikian kata Suwardi Suryaningrat dilansir suratkabar Het Nieuws van het Dag voor Nederlandsch-Indie , 12 Maret 1923. Cuplikan seruan Suryadi Suryaningrat untuk memperingati hari wafatnya Pangeran Diponegoro dalam suratnya yang diwartakanHet Nieuws van het Dag voor Nederlandsch-Indie, 12 Maret 1923. (Martin Sitompul/Historia). Suwardi mengajak agar organisasi kepanduan, sekolah Taman Siswa, ataupun semua orang pergerakan mengabadikan hari wafatnya Diponegoro sebagai hari peringatan umum. Himbauan ini cukup radikal. Di bawah kuasa pemerintahan kolonial, Suwardi melontarkan gagasan untuk menghormati hari wafatnya musuh pemerintah sebagai hari libur nasional.  “Mari kita semua mengingat hari itu dalam emosi - mari kita istirahatkan urusan kita sementara - seperti sekolah, dan mengatakan pentingnya hari ini kepada semua teman-teman,” demikian Suwardi mengakhiri suratnya. Menurut Peter Carey, Suwardi salah menuliskan tanggal kematian Diponegoro (8 Februari). Yang benar adalah 8 Januari. Kesalahan ini mungkin muncul karena kabar simpang siur dari pers Hindia Belanda perihal berita meninggalnya Diponegoro di Makassar. Java Bode menyebutkan 31 Januari 1855; Javasche Courant menyebutkan 3 Februari 1855. Namun nyatanya, seruan Suwardi ini malah diikuti oleh berbagai organisasi pergerakan. Diponegoro dijadikan sebagai ikon perjuangan kaum pergerakan nasional bahkan lintas ideologi. Strategi propaganda demikian cukup ampuh bikin pemerintah kolonial jadi gusar. “Jadi dia tidak dilupakan oleh pihak komunis, pihak nasionalis, dan dari pihak Islam, dia dijunjung tinggi.  Dan Belanda menjadi resah,” kata Carey. “Kalau kita pajang gambar Diponegoro bisa ditangkap oleh polisi Hindia Belanda sebab ini menunjukkan salah satu pembangkangan.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page