Hasil pencarian
9804 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Topi Tangerang Masyhur di Negeri Orang
TERPILIHNYA KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden sedikit-banyak ikut memperbaiki citra Tangerang yang belakangan sering jadi pemberitaan miring akibat banyaknya kejahatan. Sejarah membuktikan, kejahatan di Tangerang memang banyak sudah sejak ketika wilayah itu masih bagian dari Ommelanden di masa kolonial. “Hasil perampokan individu di Ommelanden sering cukup besar,” tulis Margreet van Till dalam Banditry in West Java: 1869-1942. Kejahatan itu muncul sebagai ekses dari ramainya perniagaan di sana. Selain sebagai produsen beras, Tangerang merupakan wilayah industri kerajinan seperti genteng dan tembikar. “Yang terpenting, ada beberapa gubuk industri, terutama memproduksi tekstil dan topi,” lanjut Margreet. Topi anyaman Tangerang, baik yang berbahan bambu maupun pandan, amat populer di dunia internasional sebagai bagian dari jenis topi Panama. Saking populernya, topi Tangerang sampai dijadikan lambang kabupaten. “Topi Tangerang adalah barang ekspor yang cukup signifikan,” ujar Margreet. “Produksi topi di Hindia Belanda terpusat di dua wilayah Jawa. Distrik utama berada di sekitar Tangerang. Ketika harga menguntungkan dan tanaman padi sedang tak butuh perhatian, 200 ribu hingga 300 ribu lelaki, perempuan, dan anak-anak terlibat dalam mendapatkan dan menyiapkan serat pandan dan bambu dan merajutnya menjadi topi,” tulis konsulat perdagangan di Biro Perdagangan Luar Negeri dan Domestik dalam laporannya tanggal 31 Maret 1931, termuat dalam Commerce Reports Vol. 1. Industri topi di Tangerang berawal dari abad ke-19. “Seni pembuatan topi dari bambu diperkenalkan ke Jawa oleh seorang Cina. (Dia, red .) Datang dari Manila sekitar setengah abad lalu,” tulis Arnold Wright dalam laporan pandangan mata berjudul Twentieth Century Impressions of Netherlands India: Its History, People, Commerce, Industries, and Resources . Menurut laporan yang terbit pada 1909 itu, produksi topi berlangsung di rumah-rumah penduduk dan melibatkan seluruh anggota keluarga. “Beberapa anak kecil, hanya berusia lima tahun, mengambil pekerjaan tersebut.” Butuh waktu lama untuk membuat sebuah topi. “Seorang perempuan bisa menyelesaikan sebuah topi dengan kualitas layak, yang di pasaran bernilai 12 hingga 15 sen, dalam dua hari. Banyak topi memerlukan seminggu upaya pengerjaan tetap sebelum diselesaikan, sementara topi kualitas lebih baik terkadang perlu waktu dua hingga tiga bulan untuk menyelesaikannya,” tulis Wright. “Metode yang digunakan di Tangerang sangat berbeda dari yang digunakan di Eropa. Metode Tangerang dimulai dengan pembuatan mahkota (bagian atas, red .) yang pembuatannya sangat sulit dan membutuhkan keterampilan dan kesabaran tinggi, biasanya dipercayakan kepada penenun tertua dan paling berpengalaman,” tulis buku The Netherlands Indies Vol. 3. Proses produksi itu dipertunjukkan dan mendapat sambutan hangat di Exposition Universelle, Paris tahun 1889 dan Brussels International Exhebition tahun 1910. Di Paris, kontingen Hindia Belanda menampilkan “Kampung Jawa”, terdiri dari tiga gubuk Jawa berikut kehidupan keseharian di sekitar rumah-rumah itu. “Gubuk pertama ditempati oleh penganyam topi dan keluarganya. Tak jauh dari sana, tukang topi lainya membuat topi lain yang anyamannya tak kalah bagus, dengan jerami yang dipotong pipih memanjang. Seperti topi terkenal 'Panama' yang dianyam dengan kulit kaya Quillaja Peru, topi jerami dari Jawa yang mutu serta orisinalitasnya sama banyak digemari nyonya-nyonya Eropa,” tulis buku yang dieditori Bernard Dorleans, Orang Indonesia dan Orang Prancis Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX Populer Banyaknya topi berkualitas dengan harga miring di Tangerang menjadi surga bagi para pelancong Eropa, terutama asal Prancis, yang berkunjung ke Batavia. “Para perwira dan awak kapal uap Prancis membelinya dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga dua kali lipat. Banyak topi itu dibeli seharga dua gulden 50 sen di Batavia dan dijual seharga 12 franc di Marseilles, dijual kembali di Bordeaux seharga 30 franc, dan sekali lagi di Paris untuk harga 80 franc,” tulis Wright. Hal seperti itu pula yang dilakukan Petit Jan, pelancong-pebisnis asal Prancis. “Para pembeli besar ini pada gilirannya memberikan pinjaman kepada orang-orang yang berkeliling desa untuk membeli langsung kepada penduduk,” tulis The Netherlands Indies , Vol. 3. Saking besarnya jumlah topi yang diperdagangkan Jan, orang-orang sampai menamakan topi Tangerang dengan Topi Petit Jan. “Jan tidak tahu pasti setiap tahun berapa juta topi dikirim ke Paris. Langsung dilempar ke pasaran. Mungkin saja topi ‘Panama’ yang dibeli orang Belanda sebenarnya berasal dari Tangerang,” tulis HCC Clockener Brousson dalam Batavia Awal Abad 20 . Besarnya laba dari bisnis topi Tangerang membuat banyak perusahaan Eropa memilih terjun langsung ke Hindia ketimbang melulu membeli di Prancis. Olivier, Muller & Co., berkantor pusat di Paris, sampai membuka kantor cabang di Batavia dan Tangerang pada 1901. Dari Prancis, topi-topi Tangerang menyebar ke berbagai tempat lain di Eropa hingga Amerika. Di Inggris, menurut John G. Dony dalam A History of the Straw Hat Industry, “Topi-topi Jawa yang datang melalui Prancis sudah ditenun dan perlu dipetikan dan dirawat setelah mereka tiba.” Amerika menjadi pemain penting yang meningkatkan popularitas topi Tangerang. Di Saint Louis, topi-topi itu dipercantik sehingga ikut menentukan jalannya industri fesyen. “Bentuk topi-topi buatan tangan diimpor dalam bentuk setengah jadi dari Meksiko, Jawa, dan Jepang,” tulis Majalah Hearings , Vol. 5. Setelah selesai, topi-topi itu dijual dengan harga tinggi. Para aktor dan aktris yang memakainya ikut mendongkrak popularitas topi tersebut. “Di banyak negara lain, Roy Rogers muda dan Dale Evans sekarang mengenakan topi buatan tangan orang Jawa atau Indian Mesksiko yang dibentuk ulang, dilukis, serta dipotong di St. Louis.” Pemerintah Hindia Belanda tak menyia-nyiakan kesempatan mendulang laba dari bisnis topi. Promosi topi Tangerang digalakkan mulai 1910. “Topi anyaman pandan dan bambu merupakan industri rumahtangga penting di Hindia Belanda. Ekspor topi meningkat dari 23.538.000 di tahun 1928 menjadi 25.613.000 di tahun 1929,” tulis Commerce Reports Vol. 1. Namun, penyertaan anak-anak dalam proses produksi menjadi noda di balik bisnis topi Tangerang. Beberapa moralis Belanda menyorotinya. Thomas B Pleyte, Menteri Urusan Jajahan dari 1913-1916, menganggap industri tak lebih dari upaya pemiskinan pekerja. "Di rumah tangga yang tak memiliki sumber penghasilan lain selain menenun topi, semua dipaksa untuk membantu, termasuk anak-anak yang sangat kecil, dan satu temuan bahkan menunjukkan anak-anak paling kecil, yang masih tergantung pada perawatan ibu, sudah terpaksa jadi rekan-budak dalam perjuangan untuk makan sehari-hari," tulisnya sebagaimana dalam buku suntingan Becky Elmhirst dan Ratna Saptari. Dari segi ekonomi pun topi Tangerang dijual tanpa merk sehingga kesejahteraan para produsen tak pernah beranjak naik. “Padahal topi-topi dari bambu itu sangat ringan dan dianyam dengan rapi. Kalau saja diperkenalkan sebagai ‘Topi Jawa’ tentu tak akan semahal topi Panama. Jika sudah begitu, topi dari Tangerang akan merajai Paris,” tulis Brousson. Kisah topi Tangerang akhirnya memasuki masa senja ketika Depresi Ekonomi menghantam dunia pada 1930-an. Meski sempat kembali menggeliat usai Depresi, topi Tangerang berhenti menyusul masuk dan berkuasanya Jepang. Setelah Indonesia merdeka, produksi Tangerang kembali berjalan namun tak lagi semasif masa pra-perang. Kisah topi Tangerang yang masyhur di negeri orang tinggal kenangan.
- Manis Getir Perjuangan Putri dalam Revolusi
GEMA revolusi menarik minat muda-mudi di berbagai tempat untuk ikut terlibat. Masyitoh, salahsatunya. Remaja asal Cianjur itu menjadi mata-mata dengan menyamar sebagai pekerja binatu. Pekerjaannya membuat dia berhasil menyusup ke markas Belanda tanpa dicurigai. Dia bertugas mencuci gesper, pakaian, dan menyiapkan makanan untuk tentara Belanda. Berada di markas musuh dimanfaatkan Masyitoh dengan meng- gembol makanan seperti roti dan keju untuk rekan-rekan pejuang yang kelaparan di hutan. Sebagai mata-mata, dia mencuri dengar beberapa informasi dari orang Indonesia yang berpihak pada Belanda tentang situasi markas, rencana serangan, dan ukuran kekuatan musuh. Dari informasi yang dijaring olehnya, Letnan Siradz, pemimpin kesatuan TNI di Tegaldatar, Cibeber, berhasil menghancurkan pos Belanda di Sukanagara dan merampas persediaan senjata mereka. “Keberhasilan ini membuat nama Masyitoh selalu dikenang anggota pasukannya,” tulis Hendi Jo dalam bukunya, Orang-Orang di Garis Depan. Masyitoh tidak sendiri. Ada banyak perempuan yang jadi pengumpul informasi untuk pasukan republik, seperti perempuan-perempuan Yogyakarta. Di Yogyakarta, hal itu terutama muncul setelah adanya blokade dari Belanda padahal gelombang pengungsian sangat besar. Blokade memunculkan banyak penjual dadakan yang membuat Yogya jadi sesak bak pasar. Para perempuan itu menukar semua barang berharga seperti gamelan, wayang, dan perhiasan dengan apapun yang bisa dimakan. Tingginya permintaan makanan mengakibatkan bermunculannya warung dadakan. Di antara warung-warung dan tempat nongkrong itu, ada beberapa pemilik atau pelayan pro-republik. Sambil berdagang, tulis Galuh Ambar Sasi dalam Pluralisme dan Identitas, mereka menjadi mata-mata. Mereka mencuri dengar informasi dari serdadu Belanda yang mampir ke warungnya. Merry Roeslani, istri Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso, salahsatu perempuan yang melakoni peran ganda itu. Sebagai pekerja di Restoran Pinokio di Jetis, Yogyakarta, Merry kerap bertemu dengan orang Belanda. Restoran Pinokio cukup terkenal di zamannya dan sering didatangi orang Belanda maupun Indonesia untuk makan soto ataupun sate. Berbekal bahasa Belanda yang baik, Merry mencuri dengar informasi dari para tentara Belanda yang berkunjung. “Bu Merry dapat uang, Pak Hoegeng dapat informasi yang diteruskan ke rekan-rekan pejuang,” kata Galuh pada Historia . Selebaran yang berisi peringatan untuk tidak nongkrong di warung. Sumber: Arsip Galuh Ambar Sasi. Banyaknya mata-mata republik yang menyamar sebagai penjaga warung sempat membuat pihak Belanda ketakutan. Pimpinan tentara sampai mengeluarkan selebaran yang memperingatkan serdadu Belanda untuk tidak nongkrong di warung-warung pribumi. Menurut selebaran itu, berleha-leha di warung bisa bikin serdadu lengah. Pembicaraan dicuri dengar, senjata dicuri diam-diam, dan minuman mereka bisa dicampur warangan (sejenis arsenik yang kini jadi bahan racun tikus. Dulu racun arsenik dibubuhkan di keris supaya lebih mematikan). Curi dengar informasi juga dilakukan dengan memanfaatkan urusan asmara, seperti yang dilakukan Marsilah, kembang desa berusia 16 tahun asal Klitren, Gondokusuman. Dia berhasil menjebak mata-mata Belanda dengan baik meski kemudian tertangkap dan harus menanggung siksa tak terkira. Selain menggunakan asmara, para pejuang juga menggunakan pekerja seks untuk menjaring informasi. Bersama para perampok dan pencopet, para pekerjas seks masuk ke dalam Barisan P yang dipimpin Kotot Sukardi. Wilayah operasi mereka meliputi Malioboro, Kuncen, Kepatihan, alun-alun, Bong Suwung, dan sekitar Stasiun Tugu juga Lempuyangan. Para pekerja seks amat lihai bermain watak. Sambil melayani tentara pro-Belanda yang jadi pembeli jasanya, di atas ranjang mereka terus menggali informasi mulai dari jalan tikus ke markas Belanda hingga rute pelarian. Tak hanya mengumpulkan informasi, mereka juga ikut membantu menyabotase musuh. “Mereka juga ikut kursus drama, diajari jadi mata-mata. Setelah perang selesai malah jadi bintang film yang disutradarai Kotot Sukardi, judulnya Si Pincang (1951),” kata Galuh. Perjuangan juga menumbuhkan bibit-bibit asmara di antara sesama anggota Barisan P. Banyak dari mereka yang menjadi pekerja seks kemudian meninggalkan dunia itu setelah menikah. Jasa-jasa mereka selama revolusi diakui dan mereka pun dihormati. Geliat revolusi yang riuh-ramai itu mambawa nasib para perempuan ke hilir yang berbeda. Ada yang jasanya selalu dikenang seperti Masyitoh, munggah bale seperti perempuan barisan P, ada pula yang nahas dan dilupakan seperti Marsilah, yang disiksa dan dilecehkan.
- Kala Sukarno Berlindung di Rumah Purbodiningrat
PUKUL 06.00 pagi, pesawat Belanda berputar-putar di atas Gedung Kepresidenan Yogyakarta (kini Gedung Agung Yogyakarta). Mengetahui hal itu, Sukarno beserta keluarga langsung naik mobil pergi mengungsi. Dia khawatir Belanda nekat mengebom Gedung Kepresidenan. Sukarno memutuskan untuk mengungsi ke kediaman salah satu rekannya ketika kuliah di Technische Hoogeschool (THS, sekarang ITB, red. ), Prof. Ir. BKRT Saluku Purbodiningrat. “Waktu clash pertama itu Maguwoharjo (kini Lanud Adisutjipto, red .) dibom oleh Belanda. Jadi, Sukarno mengungsi ke beberapa teman dekatnya, di antaranya rumah ayah saya, supaya nggak ketahuan oleh mata-mata Belanda,” kata Raden Mas Lumiadji, putra pertama Purbodiningrat, kepada Historia.ID.
- Proklamasi Kemerdekaan sampai di Banten
BERITA kekalahan Jepang yang disusul Proklamasi kemerdekaan sampai ke Banten pada 20 Agustus 1945. Berita itu dibawa oleh para pemuda: Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk dan Azis, yang diutus oleh Chaerul Saleh, wakil ketua dan sekretaris Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31 Jakarta. Para anggota API diutus ke berbagai daerah termasuk Banten untuk menyebarkan berita proklamasi. Berita gembira itu terutama disampaikan kepada tokoh Banten yaitu K.H. Ahmad Chatib, K.H. Sjamun, dan Zulkarnain Surya, serta tokoh pemuda seperti Ali Amangku dan Ajip Dzuhri. Chaerul Saleh juga mengamanatkan agar para tokoh dan pemuda di Serang segera merebut kekuasaan dari Jepang. Maka, Ali Amangku mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Sedangkan API Puteri dipimpin oleh Sri Sahuli. “Sri Sahuli bersama Jimambang, temannya, adalah dua pemudi yang mempelopori penurunan bendera Jepang pada 22 Agustus 1945 di Hotel Vos Serang (sekarang kantor Kodim Serang) dan menggantinya dengan memasang sang saka Merah Putih. Dan sejak saat itu semua kantor pemerintahan maupun swasta di Banten mengibarkan Merah Putih,” tulis Matia Madjiah dalam Kisah Seorang Dokter Gerilya dalam Revolusi Kemerdekaan di Banten. Dokter gerilya yang dimaksud adalah Satrio, dokter Divisi I Banten. Matia Madjiah sendiri dipindahkan dari Bandung Selatan ke Banten untuk membantu dr. Satrio sebagai komandan peleton kesehatan dengan pangkat letnan muda. Menurut Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudari dalam Catatan Masa Lalu Banten , adanya penurunan bendera itu menunjukkan bahwa para pemuda semakin berani bertindak dan mulai giat menggerakkan kekuatan rakyat Banten untuk melucuti dan merebut kekuasaan dari tangan serdadu Jepang. Sri Sahuli juga memberikan pelatihan PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan) kepada pemudi lulusan SMP. Dengan laskar wanitanya yang merupakan bagian dari API, Sri Sahuli membangkitkan semangat para pemudi di seluruh Banten. “Sebagian dari anggotanya membantu tugas-tugas intel," kata Matia Madjiah. "Sri Sahuli sendiri sering menyamar sebagai gadis desa, menyusup ke garis depan." Banyak pula anggota laskar wanita itu bekerja di dapur umum atau mendirikan pos-pos PMI. Para anggota PMI inilah yang banyak membantu tugas-tugas kesehatan tentara di garis depan, antara lain di Tenjo, Maja, Balaraja, Cikande, dan Jasinga.
- Semakin Trendi dengan Topi
KEPALA menjadi bagian tubuh yang perlu dilindungi dari cuaca panas maupun dingin. Maka, manusia mencoba menciptakan pelindung kepala: topi. Seiring waktu, fungsi topi tak sekadar pelindung tapi juga menjadi bagian dari estetika atau memperindah diri. Keterangan tertua mengenai manusia yang mengenakan topi terlukis pada sebuah makam kuno di Thebe, Mesir Kuno, yang diperkirakan berumur 3200 tahun. Lukisan tersebut menggambarkan seseorang mengenakan topi seperti jerami yang biasa dikenakan kuli. Petasos Berkembang sekira 750 SM, para pengelana dari Yunani kuno biasa mengenakan topi ini. Bagian atas topi dibuat sesuai ukuran kepala, tepinya dibuat melebar, dan dilengkapi pula dengan tali yang ditautkan di antara dagu dan leher. Lukisan dinding di kuil Parthenon, dilukis Phidias sekira 450 SM, menggambarkan sosok yang mengenakan . Kausia Ekspansi Alexander III, penguasa Macedonia, ke daerah Hindustan sekira 300 M meninggalkan pengaruh berupa pemakaian topi yang terbuat dari bulu hewan. Bentuknya seperti makanan serabi. Hingga saat ini, kausia masih menjadi andalan pelindung kepala oleh suku-suku di daerah Afganistan. Pilaeus Dikenakan sebagian besar budak yang telah merdeka di kota Roma kuno. Bentuknya menyerupai corong, dan biasanya dibuat dari bulu domba atau kulit hewan. Para tentara Roma juga mengenakan topi ini sebagai pelapis kepala sebelum memakai helm perang. Pilaeus diadopsi dari topi para pelaut Yunani. Odysseus, legenda Yunani kuno, dalam sebuah koin dari abad ke-3 M digambarkan mengenakan . Kippah Menjadi salah satu identitas bangsa Yahudi. Bentuknya lingkaran, kira-kira berdiameter 15 centimeter. Maimonides (1135-1204), seorang filsuf Yahudi kelahiran Cordoba-Spanyol, pernah menganjurkan setiap lelaki Yahudi untuk memakai saat berdoa maupun membaca Taurat. Toque Sekira abad ke-13 M, terutama di Prancis, muncul topi berbahan kain. Seringnya digunakan koki profesional, dan umumnya berwarna putih. Marie Antoine Careme (1784-1833) mempopulerkan pemakaiannya dalam seni memasak modern di Prancis. Pada perkembangannya, menjadi standar internasional bagi topi koki. Sombrero Dibawa bangsa Spanyol ke Mexico sekira 1500 M, topi yang sangat lebar di bagian tepinya ini kemudian menjadi ciri khas Mexico. Topi ini dirancang untuk para penunggang kuda yang sering bepergian jauh. Topi yang dianyam ini dilengkapi dengan tali yang ditautkan di dagu untuk menahan topi supaya tak lepas kala menunggang kuda, yang disebut . Tricorne Pada abad ke-17 M, pasukan Spanyol datang ke Flander (Belanda sekarang). Di sana mereka dihadapkan pada musim hujan. Mereka menyiasatinya dengan mengubah bentuk topi; tepian yang lebar kemudian dilipat di tiga bagian sehingga membentuk tiga sudut. Akibat perang Spanyol melawan Prancis pada 1667, gaya topi ini menyebar ke Prancis dan merembet ke Eropa. Bahan topi biasanya dari kulit berang-berang. Top Hat Akhir 1700, popularitas digantikan yang berbentuk menjulang menyerupai cerobong asap. Topi ini mulai dikenal saat Charles Vernet, pelukis Prancis, melukis lelaki muda yang mengenakan . Popularitasnya menyebar setelah seorang penjual topi, George Dunnage, mulai memajangnya di toko miliknya sekira 1793. Mulailah pria-pria pesolek dari London menggandrunginya. Bowler Para penjaga hutan di Holkham, Norfolk, Inggris memerlukan topi yang kuat dan awet. Lalu Edward Coke, keponakan Earl of Leicester, sekira Agustus 1849 memesan topi kepada James Lock. Lock menyanggupinya dan merancang topi yang pas ukuran kepala, atasan topi rendah, dan pinggiran yang kecil. Awalnya disebut topi Coke, namun berubah disebut Bowler sebab diproduksi Bowler bersaudara. Western Para penunggang kuda di dataran Amerika, yang juga menggembala sapi, membutuhkan pelindung kepala dari cuaca panas. Ia mesti awet dan ringan. Mengadopsi dari Mexico, dengan perubahan pada tepi topi yang agak sempit dan sedikit terlipat keluar, terciptalah topi khas para penggembala sapi. Sekira 1865, John Batterson Stetson menjadi pembuat topi kenamaan jenis ini. Bahan yang digunakan biasanya kulit. Fedora Sekira 1880, menjadi tren di Amerika dan Eropa. Bentuknya fleksibel, biasanya ada tambahan pita di sekeliling bagian mahkota. Topi ini semakin populer bersamaan dengan munculnya teater di kota-kota Amerika dan Eropa. Dua tahun berikutnya muncul judul drama tragedi berjudul karya Victorien Sardou, dengan karakter utama putri Rusia bernama Fedora Romanoff. Drama ini diputar pertama di Paris lalu Inggris dan menjadi terkenal di Amerika Serikat. Newsboys Topi ini digemari para pekerja kasar, terutama laki-laki, di perkotaan Amerika dan negara industri Eropa sekira 1910-1920. Topi ini juga disukai para gangster, kriminal jalanan, dan bahkan beberapa kalangan atas seperti pegolf. Bahan yang dipakai seringnya kain tebal atau wol. Trucker Para sopir truk di Amerika sekira 1970 gemar memakai topi yang bentuknya menyerupai paruh angsa ini. Bagian depan, yang menempel di bagian kening, biasanya terdapat lapisan busa di dalamnya. Dalam perkembangannya, topi ini dikenakan olahragawan, pemain skateboard, hingga pemusik bergenre punk. Sumber: karya Hilda Amphlett.
- Ma Changqing dan Islamofobia di Cina
RUPANYA, esai Profesor Beijing Foreign Studies University Xue Qingguo berjudul “ Ta’ammalāt haul al-Taṭarruf al-Dīnī wa al-Islāmūfūbiyā fī al-Ṣīn ” (Refleksi tentang Ekstremisme Agama dan Islamophobia di Cina) di harian Al-Hayat terbitan 30 Agustus 2017 yang menyatakan “beberapa tahun belakangan Islamophobia tengah mempunyai pangsa pasar yang cukup signifikan di Cina,” adalah benar adanya.
- Pesan Bung Karno dan Rujak Diponegoro
KENDATI upacara pembukaan Asian Games XVIII Jakarta-Palembang 2018 baru akan diresmikan 18 Agustus 2018 mendatang, beberapa cabang yang mengikutsertakan para atlet kita sudah digulirkan. Antara lain, sepakbola putra sejak 10 Agustus, bola tangan sejak 13 Agustus, dan basket 5x5. Mereka berlaga dengan semangat penuh dengan diiringi pesan dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sepekan lalu, 8 Agustus 2018. Harapan terbesarnya, 938 atlet yang akan turun di 40 cabang mampu merealisasikan target minimal posisi 10 besar di klasemen akhir. "Perolehan 16 medali emas adalah minimal, artinya kalau tambah banyak boleh, kurang satu pun tidak boleh, jelas itu," tegas Jokowi di halaman Istana Negara, Jakarta sebagaimana dikutip laman Kementerian Pemuda dan Olahraga, Rabu 8 Agustus 2018. Selain prestasi, mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu juga berpesan, para atlet agar selalu menjaga nama baik Indonesia sebagai tuan rumah. “Saya titip, kebanggaan negeri ini ada di saudara-saudara seluruh atlet yang akan berlaga dan yakinlah 263 juta masyarakat Indonesia berada di belakang dan mendoakan saudara-saudara semuanya untuk berkumandangnya lagu Indonesia Raya dan berkibarnya Merah-Putih setelah adanya kemenangan setelah saudara bertanding. Jagalah nama baik negara bertandinglah secara sehat dan fair . Selamat berjuang," tutup Jokowi sekaligus secara resmi melepas Kontingen Indonesia. Pesan presiden senada dengan yang disampaikan Presiden Sukarno kala melepas para atlet nasional jelang Asian Games II 1954 di Manila, 30 April 1954. Presiden Joko Widodo di tengah-tengah para atlet kontingen Indonesia di Asian Games 2018. (kemenpora.go.id) Pesan Bung Karno Meneladani Diponegoro Bung Karno berharap para atlet yang diberangkatkan bisa menjaga nama baik negara dengan sikap sportif dan kesederhanaan. Mengingat, di tahun itu republik belum lama lepas dari rongrongan Belanda namun masih direcoki Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di beberapa daerah. Bung Karno tak ingin ada sikap dari para atlet yang menimbulkan kecemburuan di tengah rakyat yang tengah susah. Terlebih, mereka diberi sejumlah fasilitas khusus demi menunjang prestasi. “Agar kamu di Manila nanti dapat memberi prestasimu sebaik-baiknya. Baik individueel , maupun team , ya bahkan prestasi sebagai putera Indonesia. Jangan lupa, bahwa keberangkatanmu ke Manila itu oleh rakyat Indonesia dicantumkan pengharapan sebesar-besarnya kepadamu akan hasilnya pertandingan. Hendaknyalah nanti kamu dalam berjuang di Manila dengan bekal batin perjuangan,” cetus Bung Karno, dikutip majalah Aneka Nomor 7 Tahun V, 1 Mei 1954. Bung Karno menyampaikan pesan itu di hadapan kontingen di Training Centre, Jakarta. Bung Besar menggarisbawahi sikap kesederhanaan yang dianalogikannya dengan sikap sederhana Pangeran Diponegoro sebelum berperang. “Bahwa kita harus menjadi bangsa yang ekonomis weerbaar, militair weerbaar, dan geestelijk weerbaar . Saya tekankan, bahwa bangsa Indoensia mencapai kebesarannya justru di dalam kesederhanaan. Suatu contoh, Pangeran Diponegoro tidak pernah makan bestik. Tiap-tiap hari pagi beliau hanya minum kopi dicampur air santan kelapa. Dan jika Pangeran Diponegoro hendak ke medan peperangan, lebih dulu makan rujak. Dengan suam-suam ‘ kepedesan ’, Diponegoro menyerbu kubu-kubu pertahanan Belanda,” imbuhnya lagi. Presiden Sukarno (kanan) memberi pesan dan wejangan kepada kontingen Indonesia jelang Asian Games 1954 di Training Centre, Jakarta. (MajalahAneka, Nomor 7 Tahun V) Kemunduran Prestasi Sayang, meski sudah dihujani pesan nan menggebu-gebu sampai mengungkit-ungkit kebiasaan Pangeran Diponegoro, para atlet Indonesia gagal memberi hasil lebih baik sebelumnya, di Asian Games I New Delhi 1951. Di New Delhi, tulis buku Olahraga dalam Perspektif Sejarah: Periode 1945-1965 terbitan Ditjen Olahraga Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2004, para pejuang olahraga Indonesia mampu membawa pulang lima medali perunggu. Masing-masing dari Sudarmojo pada nomor lompat tinggi putra, Hendarsin pada lompat jangkit, Bram Matulessy pada lempar lembing, Annie Salamun pada lempar cakram putri, dan tim relay 400 meter putri (Darwati, Lie Djing Nio, Triwulan, Surjowati). Di Asian Games II 1954 Manila, perolehan medali Indonesia justru menukik. Salah satu ofisial kontingen kala itu, Mangomban Ferdinand Siregar dalam biografinya, M. F. Siregar: Matahari Olahraga Indonesia, berkisah nahwa Indonesia hanya mampu pulang dengan tiga medali perunggu. Ketiganya dipetik Lukman Saketi dari cabang menembak nomor rapid fire pistol putra, Tio Ging Hwie dari angkat besi kelas ringan putra, dan tim polo air putra. Posisi Indonesia di klasemen medali akhir kian terpuruk karena jumlah negara peserta bertambah. Di Asian Games I dengan sembilan negara kontestan, Indonesia bercokol di posisi tujuh, di bawah Ceylon (kini Sri Lanka), Filipina, Iran, tuan rumah India, dan Jepang sebagai juara umum. Sementara di Asian Games II, Indonesia berkubang di posisi 12 dari 13 negara peserta.*
- Bermula dari Institusi sampai Tumbuhnya Kesadaran Sehat Jiwa
DALAM perjalanannya ke Bogor pada 1894, psikiater Belanda, JW Hofmann terkejut mendapati seorang pribumi penderita gangguan jiwa dipasung. Merasa iba dan tergugah, Hoffmann menulis artikel protes berjudul “Krankzinnigenverpleging in Neerlandsch-Indie” (Perawatan jiwa di Hindia Belanda) yang dimuat De Indische Gids. Hoffmann memprotes pemerintah Hindia Belanda yang tidak menyediakan layanan kesehatan mental untuk pribumi. Tulisan Hoffmann membuka perdebatan di kalangan psikiater Belanda. Hoffmann mendesak pemerintah Hindia menyedikan layanan kesehatan mental untuk pribumi. “Saya mohon untuk melakukan sesuatu pada situasi menyedihkan yang dialami pribumi yang menderita gangguan jiwa…. Tetapi lakukan dengan cara yang murah dan praktis,” tulis Hoffmann. Bermula di Belanda Reformasi perawatan penyakit mental di Belanda dimulai pada 1830-an. Hal itu bermula dari perkembangan perawatan kesehatan jiwa di Eropa. Ahli medis Perancis Philippe Pinel menulis tentang kemungkinan-kemungkinan menyembuhkan pasien gangguan jiwa di rumahsakit jiwa (RSJ) dan berupaya mengembalikannya ke masyarakat pada 1801. Sebelumnya, perawatan kesehatan jiwa Eropa pada akhir abad ke-18 memperlakukan pasien dengan cara dirantai. Pinel berhasil mengubah cara itu di RSJ Bicêtre dan RSJ Salpêtrière. Ia mengganti rantai dengan jaket pengikat. Sementara di Eropa perawatan kesehatan jiwa terus dibahas lebih serius, di negeri jajahan perawatan pasien kesehatan jiwa masih diserahkan pada rumahsakit militer. Kebijakan untuk merawat pasien gangguan jiwa di RS militer tak lepas dari cara Profesor Brugman dari Universitas Leiden yang menjalankan layanan medis militer di Belanda pada 1795. Gubernur Jenderal HW Daendels meniru cara Profesor Brugman dengan menyerahkan semua urusan pengobatan, termasuk kesehatan mental, pada RS militer. Rumahsakit militer yang dibangun tahun 1832 menampung penderita gangguan jiwa dalam satu departemen kecil. Mayoritas pasien merupakan mantan prajurit Belanda, mereka kemungkinan terserang Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang banyak diderita tentara. Namun, makin hari makin banyak pasien yang berdatangan. Pada 1862, pemerintah kolonial mengadakan survei untuk mengetahui kondisi dan jumlah penderita gangguan jiwa di negeri jajahan. FH Bauer dan WM Smit, dua dokter yang dipasrahi tugas ini, menemukan 586 penderita gangguan jiwa parah sering mangamuk dan berpotensi membahayakan masyarakat. Dari jumlah itu, 252 di antaranya sudah dimasukkan ke rumahsakit militer di kota-kota besar. Laporan mereka tentang kondisi dan perlakuan orang-orang yang menderita gangguan jiwa di Hindia Belanda terbit pada 1862 dan membuat heboh di Belanda. Selain mengadakan survei, Bauer dan Smit juga berkunjung ke beberapa negara untuk melihat cara penanganan pasien gangguan jiwa. Keduanya menyarankan agar pemerintah Belanda bertanggung jawab atas penderita gangguan jiwa yang berbahaya. Namun, penderita gangguan jiwa yang tidak berbahaya tidak perlu ditanpung di layanan kesehatan jiwa. Hasil laporan Bauer dan Smit itu memuluskan keinginan para dokter untuk membangun layanan kesehatan mental khusus untuk orang Eropa yang tujuan utamanya menyediakan institusi lebih manusiawi dengan lebih banyak tempat tidur dan dipan. “Sesungguhnya, proyek memperbaiki layanan kesehatan jiwa di Hindia Belanda sejak mula memang untuk merestrukturisasinya sesuai kriteria internasional di zamannya. Dalam laporan Bauer dan Smit ini kita melihat fondasi kelahiran psikiatri modern di Indonesia,” tulis Nathan Porath dalam “The Naturalization of Psychiatry in Indonesia and Its Interaction with Indigenous Therapeutics”. Pada 1881, pemerintah membuka layanan kesehatan jiwa pertama di Bogor dengan nama Hetkrankzinnigengestich Buitenzorg (kini Rumah Sakit dr. H Marzoeki Mahdi). Selaku penggagas, Bauer dan Smit memilih Bogor karena dianggap paling sesuai prinsip terapi rawat-inap penderita gangguan jiwa yang mesti diisolasi dari masyarakat: dekat dengan pusat kota, Batavia, tapi masih cukup asri dan terpencil. Meski tujuan utama pembentukan RSJ Bogor untuk merawat orang Eropa, pemerintah kolonial terpaksa mengubahnya setelah Hoffmann memprotes kebijakan tersebut lewat tulisan pada 1894. Tulisan Hoffman kembali membuat geger sebagaimana laporan Bauer dan Smit. Sejak tulisan Hoffmann itulah RSJ Bogor menerima pasien pribumi. Orang-orang pribumi yang sudah sadar akan kesehatan jiwa tak lagi mengira kelinglungan kerabat mereka disebabkan kesambet atau kesurupan. Mereka bisa memasrahkan kesehatan jiwa keluarga mereka pada pihak yang lebih ahli. Selain itu, pemerintah Belanda juga menampung secara cuma-cuma pribumi penderita gangguan jiwa yang membahayakan lingkungan. “Layanan kesehatan mental pertama kali dibangun pada 1881 dan terus berkembang setelahnya. Pada 1900-an, dengan Politik Etis, pembahasan tentang kesehatan jiwa menjadi jauh lebih vokal,” kata Sebastiaan Broere yang meneliti sejarah RSJ Magelang untuk tesisnya. Pada awal abad ke-20, dokter-dokter mengeluhkan makin banyaknya pasien gangguan jiwa baru sementara RSJ yang tersedia baru di Bogor. Bertambahnya jumlah pasien membuktikan bahwa kesadaran akan kesehatan jiwa makin meningkat di Hindia Belanda. Pemerintah lalu membangun beberapa RSJ baru, seperti di Malang (1902), Magelang (1912), dan Sabang (1922). Pada 1930-an, Belanda sudah memiliki empat layanan kesehatan jiwa di negeri jajahan. Seluruh RSJ ini, tulis Hans Pols dalam “The Psychiatrist as Administrator: The Career of W. F. Theunissen in the Dutch East Indies”, bisa menampung sekira 9000 pasien. Sementara, di kota-kota besar lusinan klinik psikiatris berdiri, mempermudah akses orang-orang yang ingin berobat. Dekatnya akses pada layanan kesehatan mental berpengaruh besar pada tingkat kesadaran masyarakat sekitar. Hal ini juga menjelaskan data yang dihimpun Broere bahwa sebagian besar pasien RSJ Magelang datang dari kota-kota besar, seperti Surakarta, Yogyakarta, Magelang, dan Semarang. Sementara para penduduk kota sudah sadar kesehatan jiwa, mereka yang hidup di desa dan jauh dari layanan kesehatan mental masih harus merana dalam kurungan, juga pasung. “Penderita gangguan jiwa akan tetap dikurung atau dipasung di desanya kecuali institusi kesehatan mental berada di dekat situ,” tulis Broere dalam In and Out of Magelang Asylum.
- Merebut Kekuasaan Bersama Agamawan
RAJA Daha, Dandang Gendis memaksa para rohaniawan untuk menyembah padanya. Dia berkata pada para rohaniawan yang ada di seluruh Daha: “Wahai para bujangga pemeluk agama Siwa dan Buddha. Apakah sebabnya tuan tidak menyembah kepadaku? Bukankah saya ini semata-mata Batara Guru?” katanya. “Tuanku, semenjak zaman dahulu tidak ada bujangga yang menyembah raja,” jawab para bujangga. Mereka lalu menentang dan mencari perlindungan ke Tumapel. Kepada Ken Angrok, mereka menghamba. Itulah asal mulanya Tumapel tidak mau tunduk ke Daha berdasarkan pemberitaan di . Tak lama kemudian, Ken Angrok menjadi raja di Tumapel. Negaranya bernama Singhasari. Dinobatkan dengan nama Sri Rajasa sang Amurwabumi. Pentahbisannya disaksikan para bujangga pemeluk agama Siwa dan Buddha dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe. “Dia (Dandang Gendis, ) berkonflik dengan rohaniawan, sehingga mereka dirangkul oleh Angrok,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang. Dwi beranggapan Angrok cukup bisa membaca situasi dengan mencari sokongan dari para rohaniawan. Rohaniawan dinilai punya kekuatan. Pengikutnya loyal. “Padahal dirinya ada latar preman, tapi bisa masuk ke pemerintahan Tumapel menggulingkan Tunggul Ametung, dan menentang Daha dengan bantuan Brahmana, terutama Lohgawe,” lanjutnya. Angrok menikahi Ken Dedes juga bukan cuma perkara cinta. Dia mempertimbangkan kedudukan Mpu Purwa, agamawan dari Panawijen, yang sangat disegani. Kitab yang ditulis pada 1613 M itu juga berkisah soal rapat dewa di Gunung Lejar. Mereka kemudian sepakat kalau Angrok pantas dinobatkan sebagai raja di Jawa. Suwardono, sejarawan Malang, menjelaskan, hal ini bisa dimaknai sebagai pertemuan tokoh yang memiliki kedudukan luhur pada masa itu. Sejumlah brahmana, terutama Mpu Purwa dan Dang Hyang Lohgawe, bersatu untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Dia adalah (setara camat sekarang) di Tumapel, salah satu daerah bawahan Kerajaan Kadiri. “Melalui ini, Ken Angrok mendapatkan legitimasi atas kekuasaannya,” ujarnya. Agaknya yang dilakukan Angrok tak jauh berbeda dengan perpolitikan era sekarang. Menggandeng tokoh agamawan menjadi pilihan untuk mendapat dukungan. “Ini berulang. Polanya sama, walaupun detilnya beda,” kata Dwi. Pada masa Hindu-Buddha, kelas sosial agamawan berbeda dengan politisi. Agamawan menempati kelas tertinggi, Sementara pelaku pemerintahan dan militer berada di kelas Para Brahmana juga lebih banyak ditemui di luar keraton, yaitu di atau . Namun, bukan berarti mereka tak ada di dalam birokrasi pemerintahan. Posisi mereka sebagai penasihat raja. Mereka menjadi bagian dari “Sebenarnya bukan hanya kaum agamawan, keluarga raja yang bersangkutan, terutama yang senior juga tergabung dalam institusi itu,” kata Dwi. Para agamawan juga seringkali menjadi pembimbing calon raja. Contohnya, Airlangga yang melarikan diri dari keraton ke bukit Pucangan. Kini bukit itu ada di antara Lamongan dan Jombang. “Di situ, antara 1017-1019 M, Airlangga berada di lingkungan rohaniawan. Dalam Prasasti Pucangan dikatakan, di tempat itu hidup tiga penganut agamawan yang berbeda,” kata Dwi. Di sana, Airlangga mendapat perlindungan dan memperoleh pelajaran lahir dan batin. Para brahmana menyiapkannya menjadi penguasa yang tangguh. Dalam dia diibaratkan Arjuna yang menjadi pertapa. “Ini persis Lohgawe kepada Angrok. Dia juga berperan sebagai fasilitator, mediator, pemberi restu bagi Angrok agar bisa masuk ke lingkungan Akuwu Tumapel,” jelas Dwi. Airlangga pun kemudian dinobatkan sebagai Raja Kahuripan. Dia meneruskan kekuasaan Mataram Kuno yang melemah di era kekuasaan mertuanya, Dharmawangsa Teguh. Ketika itu, kekuasaan Mataram pecah menjadi kerajaan kecil. Airlangga dinobatkan oleh para brahmana. Menurut Dwi, kondisi itu menunjukkan, rohaniawan punya kekuatan tak sepele. Mereka mampu menyiapkan dan menobatkan seseorang menjadi penguasa. Bahkan di era konflik. “Ini menarik, melihat bagaimana komunitas agama mentahbiskan raja sekaligus menjadi legitimator, pengabsah kekuasaan Airlangga. Otomatis ini di awal,” kata Dwi. Dukungan kaum agamawan di era konflik juga ditemukan pada masa Islam. Pada 1742, terjadi pemberontakan oleh orang-orang Tionghoa. Pakubuwono II pun tersingkir dari keratonnya di Kartasura. Sang susuhunan kemudian melarikan diri ke Pondok Tegalsari. Di sana dia mendapat perlindungan dari Kyai Hasan besari. “Bekas santri di sana yang sudah jadi kyai di daerah lain kemudian dikerahkan ke Tegalsari. Mereka ikut mem- posisi PB II, mengembalikannya ke takhta yang pindah ke Surakarta," jelas Dwi. Kisah-kisah dari masa lalu itu menunjukkan, jika mendapat dukungan rohaniawan yang disegani, otomatis didapatkan pula dukungan pengikutnya. Kekuataannya sangat besar, karena didasari keyakinan. Kayakinan ini kemudian membentuk jejaring yang saling mendukung. Bukan cuma pesantren, kata Dwi, pada masa Hindu Buddha pun punya jaringan kuat. Contoh nyatanya, di Malang pada masa lalu terdapat sebuah bernama kasturi. Pada perkembangannya, mandala ini berjejaring menjadi lima mandala kasturi. "Ada jejaring. Ini yang secara politik diperhitungkan," ujar Dwi. Para rohaniawan di masa lalu dipercaya pula punya kedudukan yang netral. Terutama rohaniawan yang tinggal di luar keraton. “Karenanya tak mudah mendapat dukungan rohaniawan. Mereka bukan tanpa pertimbangan, mengkalkulasi dulu apakah orang-orang itu amanah atau tidak,” ujar Dwi. Dukungan dari kaum agamawan sejak masa lalu selalu dianggap penting. Terutama pada saat konflik juga perebutan takhta. “Siapa yang dapat dari agamawan, mendapat semacam kemudahan untuk menang,” tegas Dwi.
- Persekutuan Jenderal dan Pengusaha
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno resmi masuk dalam bursa Pilpres 2019 mendatang. Keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Prabowo, pendiri Partai Gerindra mantan perwira tinggi TNI AD berpangkat Letnan Jenderal. Dia pernah menjabat Danjen Kopassus dan Panglima Kostrad. Sementara Sandiaga Uno, merintis kariernya dari jalur wira usaha dan tersohor sebagai salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Sandi dikabarkan mengucurkan dana besar sebagai mahar mendampingi Prabowo menjadi wakil presiden. Relasi demikian memang lazim. Jenderal dan pengusaha kerap bersekutu. Sebelumnya mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo pun disebut-sebut punya kedekatan dengan pengusaha kawakan Tommy Winata. Di masa lalu, perkoncoan antara jenderal dan pengusaha juga jamak terjadi. Ada semacam ketergantungan di antara mereka. Saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Motifnya pun bermacam-macam. Mulai dari sekedar pergaulan pribadi yang terintis sedari lama, urusan kocek, hingga lobi-lobi politik. Masih aktif ataupun purnawirawan, di mata pengusaha, jenderal tetap punya daya jual. Yang penting ada embel-embel “jenderal”. Sahabat Lekat Jenderal Abdul Haris Nasution punya sahabat lekat dari kalangan pengusaha bernama Ujeng Suwargana. Hubungan antara keduanya terbina sejak sama-sama merintis karier militer di Divisi Siliwangi. Memasuki zaman Republik, Nasution dan Ujeng bersimpang jalan. Ujeng yang bernama asli Oey Eng Soe beralih profesi menjadi pengusaha percetakan di Bandung. Nasution sendiri tetap pada dinas ketentaraan. Keduanya bersua lagi tatkala Nasution telah menjadi orang nomor satu TNI AD. Memasuki tahun 1960, gelombang nasionalisasi melanda perusahaan Belanda yang beroperasi Indonesia. Nasution yang menjabat kepala staf AD berperan penting mengerahkan tentara dalam aksi nasionalisasi. Sang jenderal tak lupa pada kawan lama. Ujeng ikut meraup untung karena berkesempatan mengakuisisi saham beberapa perusahaan penerbitan Belanda yang ada di Bandung. Nama Ujeng pun melejit sebagai juragan penerbitan. Jenderal Nasution dan Ujeng Suwargana. Nasution kerap pula menggunakan jasa Ujeng untuk misi yang disebutnya “Diplomasi TNI”. Dalam operasi pembebasan Irian Barat misalnya. Ujeng yang punya jaringan mancanegara diutus Nasution untuk melobi tokoh berpengaruh di negeri Belanda. Tujuannya menggiring opini yang berujung kritik terhadap kebijakan pemerintah Belanda atas Irian Barat. Keterlibatan Ujeng untuk operasi rahasia semacam ini menjadikan dirinya sebagai duta tentara di luar negeri. Tak heran bila Ujeng oleh sebagian kalangan mendapat cap khusus: agen intelijen kelas kakap. “Sampai ia meninggal,” kata Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama, “belum pernah pemerintah dapat memberikan tanda penghargaan kepadanya atas jasa-jasa ini yang sepenuhnya atas biaya sendiri.” Keluh-kesah itu diutarakan Nasution di depan jenazah Ujeng Suwargana yang wafat pada 7 Mei 1979. Jenderal Pedagang Soeharto yang kelak menjadi presiden Indonesia kedua pun cukup akrab dengan pengusaha. Bila hubungan Nasution didasarkan tali pertemanan, maka Soeharto murni kepentingan ekonomi. Persinggungan dengan cukong bermula ketika Soeharto menjabat Panglima Divisi Diponegoro. Di Semarang, Soeharto beserta para perwiranya menjalankan pabrik, melakukan perdagangan barter, hingga penyelundupan. Soeharto mengelola sendiri keuntungan yang diperoleh untuk komandonya tanpa izin atau sepengetahuan pemerintah pusat. Aktivitas gelap ini santer terdengar sampai ke Mabes TNI di Jakarta. “Akhirnya, kegiatan bisnis Soeharto mulai menuai tuduhan korupsi,” tulis sejarawan Robert Elson dalam Suharto: Sebuah Biografi Politik . Pada 1959, Soeharto dicopot dari kedudukan sebagai panglima. Masih beruntung Soeharto terhindar dari pengadilan mahkamah militer. Sebagai hukuman, dia “disekolahkan” ke Seskoad di Bandung. Di kalangan perwira tinggi saat itu, nama Soeharto lekat dengan predikat buruk: jenderal pedagang. Bob Hasan, Liem Sioe Liong, dan Jenderal Soeharto. Dalam kasus Soeharto tersebutlah dua orang pengusaha: Liem Sioe Liong alias Sudono Salim dan Bob Hasan. “Mereka memasok apa saja yang diperlukan oleh Komandan Diponegoro untuk tentaranya, dari beras, seragam, hingga obat-obatan,” tulis George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan. Selanjutnya diantara mereka terjalin kesepakatan khusus pembagian hasil yang sama-sama menguntungkan. Perkoncoan dengan Liem dan Bob Hasan bahkan berlanjut di masa kepresiden Soeharto. Keduanya merupakan sosok andalan Soeharto untuk memberikan saran dan masukan, termasuk soal duit. Imbalannya, Liem Sioe Liong mendapat hak istimewa memonopoli penggilingan terigu dan cengkeh. Lambat laun, bisnis Liem merambah ke berbagai industri, mulai dari pangan, otomotif, media, hingga perbankan. “Sahabat karib Presiden Soeharto, bankir Liem Sioe Liong, adalah cukongnya para cukong,” tulis sejarawan Amerika spesialis kajian Asia Stearling Seagrave dalam Sepak Terjang Para Taipan . Sementara Bob Hasan menjadi satu-satunya menteri keturunan Tionghoa yang diangkat Soeharto ketika berada di penghujung kepemimpinannya. “Bob Hasan adalah kroni juga mitra golf, bisnis, dan teman sejak Soeharto menjabat Gubernur Militer di Jawa Tengah,” ungkap Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965—1998. Nilai Jual Jenderal Soeharto piawai menjalin koneksi dengan para taipan. Namun dia resah juga bila mengetahui anak buahnya ada yang ikutan kompak bersama pengusaha. Orang itu adalah Jenderal Benny Moerdani, tangan kanan Soeharto yang menjabat Panglima ABRI. Mantan jurnalis senior dan pakar politik-militer Salim Said mencatat, Soeharto mengungkapkan kejengkelannya kepada kolega lama Jenderal Soemitro tentang kegiatan bisnis orang-orang di sekitar Benny. Sang presiden menyebut nama Setiawan Djody dan Robby Sumampow alias Robby Kethek. Ketika Soemitro mengonfirmasi keluhan Soeharto, Benny membela diri. Menurut Benny, dia tak bisa mencegah pengusaha berbisnis. “Mereka bukan pejabat,” kata Benny. Jenderal Benny Moerdani dan Robby Sumampouw alias Robby Kethek. Kendati bukan pejabat, Soeharto dan lingkaran dalamnya tahu Robby Kethek berbisnis lewat fasilitas dari Benny, terutama di Timor Timur. Robby dan Benny memang sohib. Keduanya telah kenal lama dan sama-sama berasal dari Solo. “Adalah Benny yang meminta Robby berbisnis di Timor Timur agar kehidupan perekonomian di wilayah yang baru diakuisisi itu bisa digerakkan. Begitu konon alasan Benny melibatkan Robby berbisnis di Timor Timur,” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto . Benny hanyalah segelintir jenderal yang dijadikan alat pendongkrak kepentingan bisnis pengusaha. Di era Orde Baru, tercatat cukup banyak jenderal yang bekerja sama dalam korporasi milik taipan. Kebanyakan dari mereka adalah jenderal pensiunan. Posisi empuk diberikan seperti presiden komisaris, presiden direktur, atau sebatas pemegang saham. Menurut laporan khusus majalah Tiara No. 48, 15—28 Maret 1992 dalam artikel bertajuk “Kesibukan Para Jenderal Purnawirawan” ditariknya para jenderal purnabakti itu ke berbagai perusahaan lantaran keunggulan mereka yang tak bisa ditandingi orang sipil. Keunggulan yang dimaksud misalnya, ketegasan mengambil keputusan, kemampuan akses, hingga kekayaan relasi baik di kalangan birokrat maupun militer. Kualifikasi itu jelas dibutuhkan perusahaan dan diapresiasi dengan harga tinggi. “Dengan demikian, meski tak lagi mengenakan seragam militer lengkap dengan tanda pangkat, mereka tetap merasa tak pernah kehilangan kebanggaan,” tulis Tiara . “Karena setiap hari – meski tak ada keharusan – mereka tetap bisa ngantor , punya salary dan fasilitas lumayan, yang membuatnya berpenampilan parlente dengan dasi yang selalu mencekik di lehernya.”
- Penelitian tentang Kejahatan Perang Belanda di Indonesia
PADA 1 Agustus lalu, Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas menyelenggarakan sebuah seminar di Jakarta yang membahas keabsahan riset tentang Perang Kemerdekaan 1945-1950 oleh pemerintah Belanda. Dalam sebuah surat pernyataan, para pembahas di seminar itu mengutarakan kekhawatiran mereka perihal dukungan pemerintah Belanda yang sejatinya diberikan sebagai sebuah upaya untuk menutup-nutupi kejahatan perang yang dilakukan Belanda selama Perang Kemerdekaan Indonesia. Mereka juga mencurigai bahwa kerja sama yang terjalin dengan para peneliti sejarah dari Universitas Gadjah Mada dalam proyek ini akan dimanfaatkan sebagai cara untuk melegitimasi upaya pemerintah Belanda tersebut. Hal ini bukan hanya menimbulkan penafsiran yang sangat keliru, namun juga mengancam integritas para rekan peneliti kami dari Indonesia. Pada 2016 pemerintah Belanda memutuskan untuk membiayai sebuah proyek penelitian tentang kekerasan militer selama Perang Kemerdekaan (1945-1950) dan meminta tiga lembaga penelitian, yakni KITLV, NIOD, dan NIMH, untuk menyusun sebuah usulan penelitian. Usulan penelitian yang didesain oleh ketiga lembaga tersebut kemudian disetujui Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, sebelum menerima usulan tersebut, telah terlebih dahulu meminta pertimbangan dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyatakan bahwa beliau tidak berkeberatan dengan diselenggarakannya penelitian tersebut. Pemerintah Belanda menegaskan bahwa ketiga lembaga yang disebut di atas akan menyelenggarakan penelitian ini secara mandiri, tanpa campur tangan apapun dari pemerintah. KITLV dan NIOD adalah dua lembaga yang bernaung di bawah KNAW, Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda. Sementara NIMH adalah bagian dari Kementerian Pertahanan Belanda. Namun, NIMH adalah lembaga yang independen yang dalam setiap penyelenggaraan penelitiannya selalu menerbitkan temuan-temuannya sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku. Kemandirian ini berarti bahwa NIMH tidak dibayangi oleh ketentuan-ketentuan kementerian. Selain daripada itu, sebuah dewan penasihat ilmiah dibentuk dan ditugasi untuk mengukur keilmiahan usulan-usulan penelitian serta hasil-hasil yang dibuahkan dari proyek ini. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh sejarawan Remy Limpach dan Gert Oostindie menemukan bahwa personel militer Belanda menggunakan kekerasan yang berlebihan, dalam skala yang sangat besar selama perang kemerdekaan Indonesia berlangsung. Pada saat yang bersamaan, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab berkait dengan sifat, cakupan, dan penyebab kekerasan tersebut. Dengan penelitian ini mungkin saja kasus-kasus baru bisa turut terungkap. Kami memandang penting juga untuk mengkaji secara sistematis perihal jalannya pengadilan militer, badan-badan intelijen, juga periode Bersiap mengingat kajian terhadap ketiga hal ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Dengan menggunakan sumber-sumber lintas negara dan beragam kesaksian serta dengan bekerja sama dengan para peneliti dari Indonesia, kami berharap dapat memperoleh temuan baru yang lebih menyegarkan. Termasuk berkenaan dengan pertanyaan mengapa terlalu banyak waktu terlewatkan tanpa pernah dilakukan penelitian mendalam tentang ledakan kekerasan ini. KITLV memimpin langsung sub-penelitian Bersiap dan Studi Regional. Bersiap adalah masa yang singkat namun penuh dengan kekerasan di awal Perang Kemerdekaan. Oleh sebab itu, hal ini menjadi bagian integral dalam proyek penelitian ini. Bersiap juga penting dalam konteks sejarah Belanda, khususnya dalam pertaliannya dengan tuntutan kejelasan tentang periode ini dari kalangan masyarakat Hindia di Belanda. Lebih jauh lagi, Bersiap adalah sebuah periode yang rumit yang dipenuhi dengan ketaksaan dan mitos. Riset ini akan menempatkan periode ini dalam konteks yang lebih luas tentang kekosongan kekuasaan dan kekerasan yang dilakukan di masa-masa awal Revolusi di Indonesia, dan dalam konteks perkembangan politik yang telah mulai tumbuh di masyarakat kolonial sebelum kedatangan Jepang. Studi Regional melibatkan kerjasama dengan beberapa sejarawan dari Indonesia dan Belanda dengan fokus kewilayahan. Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada memainkan peran yang paling penting dalam sub-proyek penelitian ini. Universitas Gadjah Mada telah membentuk kelompok peneliti Indonesia yang terdiri dari peneliti yang berasal dari beberapa universitas yang ada di Indonesia dari berbagai daerah. Kelompok peneliti ini akan bekerja sama dengan peneliti dari Belanda. Para peneliti Indonesia akan membangun skema penelitian mereka sendiri. Mereka akan menerbitkan secara mandiri temuan-temuan penelitian mereka dan juga akan menyumbang beragam artikel yang akan dikumpulkan bersama tulisan-tulisan rekan peneliti Belanda mereka. Hasil dari penelitian ini utamanya ditujukan bagi masyarakat Belanda, tapi juga terbuka untuk masyarakat keilmuan dan para pembaca yang tertarik dengan penelitian ini. Nilai tambah dari kerja sama antara peneliti Belanda dan Indonesia ini adalah bahwa sumber dan sudut pandang dapat diperbandingkan, serta dialog tentang periode 1945 sampai 1950 dapat diperbincangkan. Lagipula, Perang Kemerdekaan Indonesia tidak lain tidak bukan adalah bagian dari sejarah Belanda, dan kami memandangnya sebagai sebuah tanggung jawab kami untuk menyelidiki kekerasan yang dilakukan militer Belanda terhadap rakyat Indonesia selama periode itu. Bertukar pikiran secara intensif antara sejarawan Indonesia dan Belanda sangatlah penting guna membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang periode ini. Saling bertukar dan membandingkan sumber rujukan (semacam arsip, publikasi, dan kesaksian) diharapkan dapat membuahkan sebuah materi empiris terbaru. Ini sangat penting guna terciptanya analisis yang berimbang tentang periode dekolonisasi yang sangat rumit. Informasi tentang proyek Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950: https://www.ind45-50.org/id dan https://www.ind45-50.org/id/faqpertanyaan-yang-sering-diajukan Penulis adalah kepala peneliti di Lembaga Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV), juga profesor sejarah Indonesia di Universitas Leiden. Artikel ini telah diterbitkan di Jakarta Post, 7 Agustus 2018.
- Medali yang Dirindukan
EUFORIA puluhan ribu suporter timnas Indonesia U-23 di Stadion Patriot Candrabaga, Kota Bekasi, 12 Agustus 2018 itu sangat terasa. Harapan munculnya prestasi tinggi dari cabang sepakbola putra melesat ke angkasa. Meski pembukaan resminya baru akan bergulir 18 Agustus, cabang sepakbola Asian Games XVIII Jakarta-Palembang sudah dimulai sejak 10 Agustus. Tuan rumah yang dibesut pelatih asal Spanyol, Luis Milla, memulai laga perdana di Grup A dengan kemenangan 4-0 atas Taiwan (China Taipei). Stefano Lilipaly yang mencetak dua gol, muncul jadi pahlawan baru. Namanya begitu dipuja sampai dijadikan chant-chant para suporter. Pemain blasteran Belanda-Indonesia itu bersama rekan-rekannya tentu bisa tampil menggebu lagi di laga kedua kontra Palestina, Rabu (15/8/2018) di venue yang sama. Pun di laga-laga berikutnya kontra Laos dan Hong Kong, untuk meneruskan mimpi lolos grup agar bisa berbicara banyak di fase 16 besar. Kalaupun mimpi merebut medali emas dianggap terlalu tinggi, target mencapai babak empat besar (semifinal) sebagaimana di Asian Games 1954 dan 1986 jadi target yang cukup logis. Pelatih Luis Milla pun, seperti dimuat laman resmi AFC, 24 Juli 2018, punya harapan dan target demikian: minimal sampai empat besar. Jelas, langkah timnas takkan mudah. Masih ada macan-macan Asia macam Jepang dan Korea Selatan di grup lain dan bukan tidak mungkin akan jadi batu sandungan di 16 besar seandainya timnas lolos dari fase grup. “Dulu juga Jepang dan Korea levelnya sudah kelas dunia. Sementara kita tidak diperhitungkan,” kenang Robby Darwis, eks pemain timnas Asian Games 1986, kepada Historia. Robby Darwis, Legenda Persib Bandung & Timnas Indonesia di Asian Games 1986 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Tampil di rumah sendiri diharapkan jadi ekstra stimulan bagi tim Garuda Muda. “Saya pribadi optimis karena memang kita sekarang sebagai tuan rumah. Support penonton juga pasti besar. Lihat materi pemain sekarang juga lebih bagus. Walau di beberapa laga ujicoba kurang bagus, tapi saya optimis. Minimal bisa masuk empat besar-lah, seperti yang kita dulu pernah capai. Kalau lebih ya syukur, kalau enggak ya minimal empat besar,” imbuhnya. Medali Berharga dan Skandal Senayan Bicara prestasi di lapangan hijau Asian Games, timnas pernah membawa pulang sekeping medali perunggu di Asian Games III Tokyo 1958. Prestasi itu meningkat pesat. Di Asian Games I di New Delhi 1951, Indonesia hanya sampai perempatfinal dan Asian Games II Manila 1954 hanya semifinal. Di Asian Games I, sistemnya masih sistem gugur, Indonesia hanya tampil sekali dan langsung kalah oleh tuan rumah tiga gol tanpa balas, 5 Maret 1951. Tapi Maulwi Saelan dkk. pulang dengan kemenangan di laga hiburan kontra Birma (kini Myanmar), 9 Maret 1951 di Delhi. “Tim Indonesia berhasil mengalahkan Birma dengan kedudukan 4-1. Meskipun pertandingan bukan dalam rangka Asian Games I, hanya pertandingan persahabatan, itu jadi hiburan dari kegetiran tersingkir dari pesta olahraga bangsa-bangsa Asia itu,” ungkap catatan Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah: Periode 1945-1965 terbitan Ditjen Olahraga Departemen Pendidikan Nasional tahun 2004. Adapun di Asian Games II di Manila, Indonesia sempat jadi juara Grup C dengan dua kemenangan atas Jepang dan India. Sialnya, Ramang cs. justru kalah 2-4 dari Republic of China (kini Taiwan) di Rizal Memorial Stadium, 7 Mei 1954. Di laga perebutan perunggu pun Indonesia keok 5-4 dari Birma. Indonesia baru bisa merebut medali (perunggu) pertama di Asian Games III. Di penyisihan Grup B, Indonesia jadi juara grup dengan dua kemenangan atas India dan Birma. Di perempatfinal pun Indonesia mengandaskan Filipina 5-2. Namun, di semifinal Indonesia kalah 0-1 dari Republic of China. Untung mereka pulang dari Negeri Sakura dengan medali perunggu setelah sukses menekuk India 4-1 di laga perebutan juara tiga. Hasil yang sampai kini masih jadi medali satu-satunya dari cabang sepakbola itu jadi tonggak harapan untuk meraih prestasi lebih di Asian Games berikutnya di negeri sendiri. Di Asian Games IV 1962 di Jakarta, Wowo Sunaryo dkk. di bawah asuhan pelatih Antun ‘Toni’ Pogačnik digembleng sejak 1961 dengan menjalani sejumlah tur dan laga ujicoba. Timnas antara lain menjamu Yugoslavia Selection (kalah 2-3), Malmö FF dari Swedia (kalah 0-2), Petrolul dari Rumania (kalah 3-4), dan Thailand (menang 7-1). Sayang, menjelang sebelum Asian Games 1962 skandal pengaturan skor mencuat. Sepuluh pemain yang terlibat dicoret. Toni Pogačnik terpukul. “Kalau saja tidak terjadi suap-suapan, tim itu dapat mencapai standar internasional,” ujarnya, dimuat dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia: 1981-1982 . Dengan pemain “tambal-sulam” untuk menggantikan 10 pilar utama yang dipecat, timnas gagal lolos fase grup. Selebihnya, timnas melulu tanpa prestasi. Di Asian Games 1966 dan 1970, hanya mencapai perempatfinal. Pada edisi 1974, 1978, dan 1982 bahkan tak mengirimkan tim. Baru pada 1986 timnas ikut lagi. Robby Darwis dkk. mencapai semifinal. Di babak empat besar itu, Indonesia dibekuk tuan rumah Korea Selatan 0-4. Sementara di laga perebutan perunggu, digilas Kuwait 0-5. Di tiga Asian Games berikutnya (1990, 1994, 1998) Indonesia kembali tak ikut. Sejak aturan tim yang diperbolehkan tampil adalah tim U-23 diterapkan tahun 2002, Indonesia baru ikut cabang sepakbola lagi pada Asian Games 2006 di Doha. Lagi-lagi, Indonesia gagal menembus grup. Sementara di 2014, terhenti di babak 16 besar. Tahun ini, Indonesia kembali jadi tuan rumah dan ada harapan besar dari publik terhadap Stefano Lilipaly dkk. Mereka butuh doa dan dukungan ratusan juta rakyat Indonesia untuk mencapai target semifinal, atau mungkin medali yang dirindukan sejak 1958. “Kita mulai mimpi kita di Asian Games. Selalu berpikir positif. Selangkah demi selangkah. Yakinlah Indonesia!” kata Luis Milla membakar semangat via akun Twitter pribadinya, @Luismillacoach.





















