top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller

    AWAN duka menaungi persepakbolaan Jerman. Pemain legendarisnya yang sangat berpengaruh pada prestasi Timnas Jerman dan Bayern Munich, Gerd Müller, menghadap Sang Pencipta pada Minggu, 15 Agustus 2021 lalu. Pemain gempal berjuluk Der Bomber  itu wafat setelah enam tahun bertarung melawan penyakit alzheimer. Bagi kebanyakan warga Jerman, nama Müller dibesarkan Bayern Munich. Namun tidak bagi Franz Beckenbauer, pemain dan pelatih legendaris Jerman yang merupakan rekan Muller. Menurut Beckenbauer, Bayern besar karena Müller. Bayern yang mapan di Eropa saat ini, kata Beckenbauer, takkan eksis jika tak ada Müller di skuad Bayern era 1960-an. “Tanpa Gerd Müller dan gol-golnya, kami semua (Bayern, red .) masih akan berada di pondokan kayu kami di (kamp latihan) Säbener Straße,” kata Beckenbauer di laman resmi Bundesliga . Baca juga: Obituari: Jack Charlton Legenda yang Acap Bikin Kiper Berang Franz Beckenbauer (kiri) saat masih setim dengan Gerd Müller di Bayern Munich ( bundesliga.com ) Empat gelar juara Bundesliga dan tiga titel Piala Champions (pendahulu Liga Champions) saat berseragam “ Die Roten” (julukan Bayern) menjadi bukti kualitas Muller. Meski posturnya tak tinggi dengan tubuh gempal, Müller begitu sangar di gawang lawan. Bukti sahihnya adalah torehan 388 gol dari 453 penampilannya bersama Bayern selama 16 tahun. Ia juga tujuh kali menyabet gelar Torjägerkanone (pencetak gol terbanyak) Bundesliga. “Müller posturnya pendek (176 cm, red. ), penampilannya juga aneh dan tak punya kecepatan; dia tak pernah masuk dalam kategori pesepakbola hebat yang ideal, namun dia memiliki akselerasi jarak pendek yang mematikan, permainan bola udara yang luar biasa, dan insting gol yang menakjubkan. Kakinya yang pendek memberinya gravitasi yang rendah, jadi dia bisa mengecoh dengan cepat dan bisa membuat pemain lawan bertumbangan. Dia juga punya skill mencetak gol dari situasi sulit,” ungkap jurnalis senior David Winner dalam Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football. Baca juga: Paul Breitner si Pemain Kiri Keberingasannya tetap sama kala ia mengenakan seragam timnas. Di skuad “ Der Panzer” , Müller menyempurnakan gelar juara Euro (Piala Eropa) 1972 dengan sepatu emas sebagai pemain tersubur (4 gol). Di Piala Dunia 1974, Müller yang ikut mengantarkan Jerman merebut trofinya, juga menjadi pencetak gol terbanyak dengan 14 gol hanya dalam dua gelaran: 1970 dan 1974. Rekornya baru dipecahkan pada 2006 oleh Ronaldo Luis Nazario de Lima (Brasil). “Gerd Müller adalah pesepakbola paling penting yang pernah dimiliki Jerman. Hanya dia orangnya,” ujar pemain legendaris Jerman lain, Paul Breitner, di laman yang sama. Anak Putus Sekolah ke Pentas Dunia Desa Zinsen di kota Nördlingen, Bavaria pada musim gugur 1945 masih termasuk daerah yang dikuasai Sekutu pasca-Perang Dunia II. Di desa itulah pada 3 November 1945 Gerhard ‘Gerd’ Müller dilahirkan sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Müller kecil tumbuh di lingkungan amat sederhana karena Jerman masih porak-poranda. Ibunya, Christina Karolin, hanyalah ibu rumah tangga dan pendapatan ayahnya, Johann Heinrich Müller, sebagai sopir truk sekadar cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sepakbola jadi salah satu dari sedikit hiburan bagi Müller kecil. Ia mulai getol dengan si kulit bundar sejak “Keajaiban Bern” (momen Timnas Jerman Barat membawa pulang trofi Piala Dunia 1954). Tetapi setahun setelah ikut bereuforia atas kegemilangan Fritz Walter dkk. itu, Müller diterpa musibah. Ia harus menjadi yatim saat baru berusia 10 tahun. “Ayah Müller wafat saat ia masih muda dan ia harus putus sekolah di umur 15 tahun untuk magang jadi perajin kain tenun. Di saat yang sama ia ‘nyambi’ jadi pesepakbola. Bermain dengan sepatu pinjaman, Müller mencetak dua gol dalam sebuah tryout dengan klub lokal TSV 1861 Nördlingen dan langsung mendapat kontrak,” tulis Filip Bondy dalam The World Cup: The Players, Coaches, History, and Excitement. Baca juga: Final Piala Dunia 1954 Berujung Gempita dan Prahara Gerd Müller mengawali kariernya di TSV 1861 Nördlingen ( tsv1861noerdlingen.de ) Kontrak pertama Müller bersama TSV 1861 pada 1958 itu baru membawanya ke tim akademi. Baru pada 1963 ia menembus tim senior dan mendapat kontrak profesional. Kendati begitu, Müller tetap menyambi latihannya dengan jadi perajin tenun guna membantu saudari sulung dan pamannya yang jadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Lima tahun menimba ilmu di tim muda tak sia-sia. Müller langsung menunjukkan tajinya jadi predator haus gol. Dalam setahun, Müller mampu mengoleksi 51 gol dari 31 penampilan. Tak ayal Bayern langsung kepincut untuk meminangnya. Baca juga: Kiper Legendaris Manchester Bekas Pemuda Hitler Müller tak membuang kesempatan emas itu, dia langsung menerima pinangan Bayern meski ia tahu juga sedang diincar rival sekota Bayern, TSV 1860 Munich. Tak ingin kalah cepat, Bayern mengutus Walter Fembeck ke flat tempat Muller tinggal di Nördlingen. Dia langsung memencet bel flat untuk segera mendapatkan tanda tangan Müller di akta kontrak musim 1964-1965. “Alkisah delegasi Bayern yang dipimpin Walter Fembeck mendahului TSV 1860 mendapatkan tanda tangan Müller karena rivalnya dari TSV, Ludwig Maierböck keliru membaca jadwal keretaapi dan akibatnya datang terlambat. Müller sendiri selalu bilang lebih memilih Bayern karena diisi skuad muda dan di divisi dua (Regionalliga Süd) tekanannya takkan besar,” tulis Uli Hesse dalam Bayern: Creating a Global Superclub . Gerd Müller (kiri) bersama pelatih Zlatko ‘Tschik’ Čajkovski ( fcbayern.com ) Namun di luar dugaan, kedatangan Müller justru tak diinginkan pelatih anyar Bayern, Zlatko ‘Tschik’ Čajkovski. Müller bahkan diledek sebagai atlet angkat berat karena posturnya yang tak atletis. Akibatnya, di musim perdananya Müller lebih sering ditinggalkan skuad yang saat itu juga sudah dihuni Beckenbauer dan Sepp Maier. “Bakat Müller memang awalnya terlacak oleh scout Bayern, Alexander Kotter dan kemudian Fembeck yang meresmikan kontraknya, bukan Čajkovski. Saat Müller datang melapor ke Säbener Straße, sang pelatih keheranan. Anda bisa paham karena Müller pendek, gempal, dan pahanya besar. Čajkovski menyindir: ‘Saya tidak butuh seorang atlet angkat berat’,” imbuh Hesse. Baca juga: Pelatih Legendaris Sepp Herberger dan Bayang-bayang Nazi Müller bukan hanya sekadar penghangat bench . Ia bahkan sering tak diajak masuk skuad cadangan. Alhasil ia tak mendapat bonus pertandingan sesuai klausul kontraknya. Karena itulah demi menambah uang saku, ia jadi asisten wartawan Hans Schiefele. Setiap kali Müller membantu membawa papan tulis Schiefele, ia diganjar lima Deutschemarks. “Adalah Schiefele yang kemudian mengatakan nasib Müller itu kepada presiden klub (Wilhelm) Neudecker. Sang presiden pun mengonfrontir sang pelatih dan mengatakan: ‘Jika Anda tidak memainkan pemain dengan kaki besar itu (Müller, red. ), saya tidak akan mau nonton sepakbola lagi sepanjang hidup saya,’” tambahnya. Kolase Gerd Müller di masa keemasan Bayern Munich ( fcbayern.com ) Kesempatan main akhirnya mendatangi  Müller pada 18 Oktober 1964 ketika Bayern bertandang ke Möslestadion, markas Freiburg FC. Walau enam ribu suporter tuan rumah harus menelan malu dikalahkan tamunya 2-11, mereka menyaksikan kelahiran bomber sangar yang mencetak gol perdananya pula di laga debutnya. Pelatih Bayern pun mulai insyaf sejak itu sehingga tak pernah lagi mencadangkan Müller. Müller membayarnya dengan mencetak 33 gol pada 26 laga di musim itu. “Di waktu yang sama, itu adalah permulaan karier luar biasanya karena di kemudian hari dia dijuluki Bomber der Nation . Di hari itu (18 Oktober 1964) pertamakali Müller mengenakan jersey Bayern yang kemudian jadi juara dan promosi ke Bundesliga. Itu juga jadi tonggak kejayaan tim Bavaria,” kenang Peter Kunter, kiper Freiburg periode 1961-1965, di laman resmi klub . Baca juga: Fritz Walter, Dari Perang Dunia ke Piala Dunia Setelah Bayern promosi, gol-gol Müller mengantakan tim tersebut bereinkarnasi. Selain meraih lima gelar DFB-Pokal (1965, 1966, 1967, 1969, dan 1971), Bayern meraih juara Bundesliga keduanya pada musim 1968-1969. Raihan itu merupakan prestasi pertama Bayern setelah puasa juara liga teratas Jerman itu selama 36 tahun. Bersama Müller pula Bayern mendapat tiga titel Bundesliga lain tiga musim berturut-turut dari 1971 sampai 1974. Di Eropa, tiga trofi European Cup diboyong Bayern beruntun dari 1973 hingga 1976. Maka, Müller dipuji tinggi Bayern sebagai pemain paling penting dalam sejarah klub. “Tidak akan ada uang tanpa Neudecker, tidak ada kelas tanpa Beckenbauer, tidak akan ada kebahagiaan tanpa Maier. Tetapi terlepas dari itu sebuah klub takkan mempunyai itu semua tanpa gol-gol. Dan untuk itulah si pendek dan gempal Müller hadir hingga sejak saat itu Bayern tak pernah kesulitan mencetak gol,” sambung Hesse. Gerd Müller turut berperan meraih titel Euro 1972 (atas) dan Piala Dunia 1974 (bawah) ( fcbayern.com/uefa.com ) Timnas Jerman Barat yang ditukangi Helmut Schön pun merasakan ketajaman kaki dan kepala Müller yang mulai mengenakan seragam timnas pada laga persahabatan kontra Turki di Ankara pada 12 Oktober 1966. Gol pertama Müller dibuat dalam laga keduanya kala Jerman menghajar Albania, 6-0, pada kualifikasi Euro 1968 di Dortmund, 8 April 1967. Walau Jerman gagal di babak grup Euro 1968, Müller menebusnya empat tahun kemudian. Di Euro 1972, Müller mengoleksi empat gol yang dua di antaranya mengantarkan kemenangan 3-0 Jerman Barat atas Uni Soviet di partai final. Dua tahun berselang, di Piala Dunia 1974, Müller menyumbangkan empat gol lagi. Satu di antaranya jadi penentu kemenangan atas Belanda (2-1) di final. “Menjelang turun minum, final 1974 sudah ditentukan pemenangnya. (Jürgen) Grabowski mengumpan bola datar ke (Rainer) Bonhof di sayap kanan dan memberi umpan. Si kiper gila (Jan) Jongbloed gagal menggapainya. Müller berada di dekat bola walau posisi tubuhnya sedang sulit. Mungkin bagi penyerang lain peluang itu akan gagal tapi tidak dengan Müller. Ia membalikkan badan dan menyambar bola dengan tenang ke jaring gawang,” tulis The Glasgow Herald , 8 Juli 1974. Baca juga: Obituari: Kerikil Bernama Nobby Stiles Gol itu juga jadi gol terakhir Müller bersama timnas Jerman Barat. Ia memilih pensiun dari pentas internasional tak lama kemudian. Keputusan itu diambilnya sebagai bentuk protes kepada induk sepakbola Jerman DFB terkait soal bonus pemain maupun izin pendampingan istri dan keluarga. Müller pensiun dengan rekor 68 gol dari 62 laga. Rekor gol di timnas itu baru dipecahkan Miroslav Klose pada 2014. “ Mood skuad Jerman cukup buruk saat itu. Mereka seperti terpenjara dalam gulag di Malente. Beckenbauer sampai harus menelepon Wakil Presiden DFB dan FIFA Hermann Neuberger. Setelah bernegosiasi, DFB setuju memberi bonus 70 ribu marks per pemain. Tetapi Müller tetap angkat kaki karena selama Piala Dunia, para pemain tak boleh membawa istri mereka sementara para petinggi DFB diperbolehkan,” ungkap Rebeccak Chabot dalam artikel “A Tale of Two Kaisers” di buku Legacies of Great Men in Word Soccer. Setelah pensiun di Fort Lauderdale Strikers (kiri), Gerd Müller sempat melatih akademi Bayern ( fcbayern.com ) Setelah pensiun usai Piala Dunia 1974, lima tahun berselang Müller juga berpisah dari Bayern. Ia berserteru dengan pelatih Pál Csernai dan petinggi klub di awal tahun 1979. Penyebabnya, Müller menolak lalu protes keras ketika digantikan Norbert Janzon kala Bayern menelan kekalahan dari Eintracht Frankfurt, 1-2, pada 3 Februari 1979. Müller kemudian angkat kaki dan menyeberangi Samudera Atlantik menuju Amerika Serikat (AS). Di AS, ia menjalani senjakala kariernya bersama Fort Lauderdale Strikers. Di sana pula Müller mulai kecanduan alkohol. Saat gantung sepatu pada 1982, Müller makin parah kecanduan alkohol. Namun, pihak klub tak lepas tangan di saat Muller tertimpa getir itu. Setelah mendorong dan membiayai rehabilitasi Müller, klub memberdayakannya jadi staf pelatih di tim akademi. Müller baru meninggalkan dunia sepakbola pada Oktober 2015 ketika sudah didiagnosa menderita alzheimer. Enam tahun lamanya Müller bertarung dengan penyakit itu sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir di usia 75 tahun. Auf Wiedersehen, Der Bomber ! Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi!

  • Dana Awal Pendirian Republik

    PRANGKO itu sudah lusuh. Warnanya memudar. Tapi gambarnya masih cukup terlihat. Seekor sapi di tengah sawah dengan latar belakang alam perdesaan. Di sudut atas tertera tulisan “FONDS KEMERDEKAAN”. Perangko ini terbit pada 1946 dan hasil penjualannya digunakan untuk membiayai Republik Indonesia yang baru lahir pada Agustus 1945. Fonds Kemerdekaan tadinya bernama Fonds Perang dan Kemerdekaan. Dibentuk pada 1 Februari 1945, fonds ini bertujuan untuk mendanai persiapan Indonesia sebagai negara merdeka setelah keluarnya janji Perdana Menteri Kuniaki Koiso pada September 1944.

  • Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah

    HARI ini 17 Agustus, 76 tahun lalu. Hari di mana Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hari di saat orang Indonesia menyobek biru dari bendera Belanda dan di seluruh negara Merah Putih mulai berkibar. Hari Kemerdekaan? Apakah orang-orang di Belanda juga akan menyebut hal yang sama, karena sebenarnya di Indonesia si penjajah belum sepenuhnya menghilang. Negara dan rakyat masih harus melewati empat tahun masa Revolusi, dan menghadapi Agresi Militer Belanda , dua rangkaian peristiwa berdarah yang mengakibatkan belasan ribu orang mati. Kemenangan terasa manis: ia membuat semua korban menjadi martir, menjadikan mereka sebagai pahlawan, sementara orang-orang Belanda jadi pecundang. Di tahun 1950, saat Indonesia akhirnya bisa menulis sejarahnya sendiri, sementara itu Belanda dengan malu menutupi luka-lukanya, sebagai pecundang yang tidak terlalu baik. Belanda merajuk, bahkan menolak mengakui 17 Agustus 1945 sebagai momen kemerdekaan Indonesia. Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka bulan Desember 1949, ketika Belanda dan Indonesia menandatangani apa yang disebut " De Overdracht " (penyerahan kedaulatan) di dalam buku-buku sejarah Belanda. Sebuah sikap picik yang sama seperti Inggris saat mereka tak mengakui 4 Juli sebagai hari kemerdekaan Amerika, karena setelah 1772 Inggris terus menerus memerangi Amerika.  Ini mungkin omong kosong historis, tetapi untuk orang Belanda argumen itu absah dari segi hukum. Sebab kalau Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, artinya Belanda mengakui bahwa mereka berperang selama empat tahun di wilayah negara Indonesia merdeka. Sama artinya dengan invasi yang bisa menjadi serangkaian klaim ganti rugi Indonesia atas Belanda untuk kerusakan yang berkepanjangan. Belanda dan Indonesia tidak pernah bersepakat tentang 17 Agustus 1945, –orang Indonesia meninggalkan masalah itu dan melihat ke depan, sementara orang Belanda paling banyak menatap ke belakang. Kedua negara menulis versi sejarahnya sendiri, dengan terminologi yang berbeda dan dengan versi sendiri dari apa yang persis terjadi dan kenapa itu terjadi. Dan sejak Desember 1949 mereka berjalan sendiri-sendiri saat berbicara sejarah. Saling berlawanan, bukan saling bertautan satu sama lain. Tapi tentu saja para pegawai Kedutaan Besar Belanda di Jakarta bersedia menghadiri upacara-upacara resmi tujuhbelasan, dan pada 2005 Menteri Luar Negeri Belanda Ben Bot datang ke Jakarta untuk ikut merayakannya –sebagai pejabat tinggi pemerintah Belanda. Menurut Bot, kehadirannya itu adalah pengakuan. "Pengakuan bahwa di Belanda ada kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia secara de facto  sudah mulai pada 17 Agustus 1945 dan bahwa kami, enampuluh tahun setelahnya dengan murah hati menerima fakta itu dalam arti politik dan moral". Dia pasti bersungguh-sungguh tanpa keraguan, tetapi dengan semua kemurahan hati sang menteri terkesan seakan melarikan diri dengan menggunakan kata " de facto ". Belanda telah mengakui 17 Agustus  secara " de facto ", tetapi itu sangat berbeda dengan " de jure ", secara hukum. Jadi pengacara manapun tidak bisa berbuat apapun dengan pengakuan itu, begitu pula dengan orang Indonesia. Saat itu orang Belanda dan beberapa warga Jakarta bertanya kepada saya, "benar atau tidak kalau Belanda mengakui 17 Agustus?" Saya hanya bisa menjawab, “Iya secara de facto , tidak secara de jure .” Keraguan yang sama juga terjadi pada soal "meminta maaf", sebuah kalimat yang selama bertahun-tahun tidak mau Belanda ucapkan –misalnya berhubungan dengan pembunuhan massal di Rawagede. Tanpa disadari, Indonesia menjadi saksi atas permainan kata-kata yuridis yang halus dan sejatinya memiliki perbedaan makna antara "meminta maaf" atas sesuatu hal dengan "menyesali" sesuatu hal. Sekali lagi orang-orang bertanya kepada saya sebenarnya apa persoalan sekarang ini? Sekali lagi saya jawab dengan penjelasan, yang dalam bahasa Indonesia lebih sulit lagi dimengerti daripada dalam bahasa Belanda: "Kalau Anda minta maaf, Anda mengakui bahwa Anda salah. Kalau Anda menyesali sesuatu, Anda hanya mengakui bahwa sesuatu pernah terjadi..." "De-jurisme" ini telah lama menjadi ciri khas sikap Belanda berhubungan dengan sejarah: sebuah upaya untuk tidak pernah mengatakan sesuatu secara terus terang dalam arti yuridis dan tidak bersedia menggunakan kata-kata yang disarankan dalam sudut pandang itu. Dapat dimengerti jika Anda berpikir bahwa pemerintah Belanda selalu mencari keseimbangan antara kesalahan dari masa lalu dengan beberapa isu sensitif, misalnya veteran-veteran perang Belanda yang merasa tersingkirkan, janji-janji yang tidak realistis kepada orang-orang Maluku dan Papua, warga Indo yang memikul beban dari trauma yang dalam. Belanda merasa dikhianati dan dirampok. Di antara semua itu, pemerintah Belanda mencoba menyelamatkan mukanya dengan bermain kata-kata dan eufemisme supaya aman. Sejak hubungan Belanda-Indonesia terputus, Belanda sudah memainkan hal tersebut. Itu terlihat dari beberapa perbedaan istilah yang digunakan di kedua negara. Contoh: orang Indonesia memakai kata "Agresi Militer". Itu adalah ungkapan untuk periode yang oleh orang Belanda disebut sebagai "Politionele Acties" (aksi polisionil). Orang Indonesia terbiasa dengan istilah Agresi Militer. Sementara "Aksi Polisionil" tidak bisa ditemukan di buku sejarah mereka. Untuk apa harus begitu? Itu bukan tentang upaya menegakan hukum oleh polisi, tetapi sebetulnya tentang kampanye kekerasan oleh tentara Belanda yang direncanakan dan disetujui oleh pemerintah Belanda. Karena pada saat yang sama, ketika "Aksi Polisionil" itu dilancarkan, banyak sekali pembantaian di desa-desa di Indonesia yang telah membuka banyak luka. Sebaliknya orang Belanda lebih banyak bicara tentang "Periode Bersiap": sebuah istilah yang dipakai untuk merujuk kepada periode yang penuh kekerasan tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno 17 Agustus 1945. Seperti halnya istilah ‘Aksi Polisionil’, istilah ‘Periode Bersiap’ juga tak bisa ditemukan dalam buku pelajaran sejarah di Indonesia. Apa yang terjadi pada periode itu: Hasutan dikumandangkan melalui radio "pemuda"   (pejuang muda) untuk memburu semua orang Belanda atau orang yang pernah berkolaborasi dengan orang Belanda. Dalam beberapa bulan mereka membunuh antara 20 dan 30-ribu lelaki, perempuan, orang lansia dan anak-anak. Misalnya tiga anak-anak Van Slooten, yang berusia 7, 8, dan 10 saat mereka dibunuh di Batavia pada 7 Desember 1945. Nama dan tanggal kematian mereka disebut pada nisan salib putih di kompleks pemakaman Menteng Pulo di Jakarta. Untuk orang Indonesia "Periode Bersiap" tidak pernah ada. Di dalam buku-buku sejarah, periode itu tidak disebut secara tersendiri. Kekerasan ada kapan saja dan di mana-mana. Itu adalah revolusi. Hanya ada sedikit korban mati Indonesia yang nisan kuburannya yang dirawat sebaik di pekuburan Menteng Pulo (kecuali kuburan korban Rawagede), bahkan untuk semua anak-anak yang meninggal. Dan bagi mayoritas orang Indonesia "bersiap" hanya adalah sebuah kata yang hanya berarti, bersiap (siap siaga). Suatu pembantaian tidak boleh menjadi pemakluman untuk hal lain. "Periode Bersiap" tidak boleh disandingkan dengan "Aksi-aksi Polisionil" dengan perbandingan siapa yang paling kejam di dalam perang: orang Belanda atau orang Indonesia? Memilih untuk menggunakan terminologi tertentu selalu memiliki maknanya sendiri: pada semua istilah yang dipakai merujuk kepada tafsiran atas kejadian. Penggunaan istilah itu adalah pernyataan sikap dan posisi dari sebuah kontestasi sudut pandang. Sementara itu semua terjadi, dunia sedang terjaga. Suara dari yang pernah dijajah lebih terdengar dan perlakuan dari para penjajah tiba tiba menjadi kejahatan. Pameran dan buku-buku menggambarkan sudut pandang yang berbeda tentang kejadian di masa lalu. Artefak-artefak di museum menjadi terkuak bawah itu "hasil rampokan" dan harus dikembalikan, patung-patung dirobohkan dan sejarah kembali diteliti. Sejarawan-sejarawan Belanda dikirim ke Indonesia dalam sebuah misi yang mahal untuk meneliti kembali kekerasan-kerasan yang terjadi, terutama di tahun 1940-an. Mereka punya tugas khusus untuk meneliti "Periode Bersiap". Hingga kini mereka masih menyusun hasil penelitiannya. Di tengah dunia yang sedang terjaga ini, harian nasional Belanda De Volkskrant  memilih tanggal 17 Agustus untuk mengirimkan kuesioner kepada orang-orang Indonesia, bekerjasama dengan majalah sejarah popular Indonesia Historia.ID . Ide ini tampaknya sederhana: Bagaimana pendapat orang Indonesia tentang orang Belanda? Tetapi saat menyusun kuesioner ini, para penyusun kuesioner sadar bahwa bicara sejarah tak pernah terhindar dari beban masa lalu. Di balik beberapa pertanyaan tanpa disadari ada kemungkinan bahwa pertanyaan itu mengandung maksud yang tidak terucap, prasangka-prasangka dan kesalahpahaman. Yang jelas bahwa selama 76 tahun tidak pernah ada percakapan yang baik antara dua bangsa tentang masa lalu, selain enggan mengotak-atik masa lalu dengan motif di baliknya dan alasan-alasan kompensasi. Mungkin lebih gampang bagi saya untuk melupakan semua hal dari masa lalu dalam sudut pandang Belanda dan menjawab pertanyaan dalam kuesioner dari sudut pandang Indonesia masa kini –sebagaimana pernah saya alami selama 18 tahun tinggal di Indonesia yang membuat saya lebih memahami sejarah dari perspektif Indonesia. Pertanyaannya kini bagaimana perlakuan orang Indonesia terhadap orang Belanda? Orang Indonesia menerima orang Belanda secara ramah, karena pada dasarnya mereka adalah bangsa yang sangat ramah tamah. Mereka bisa tertawa dengan hal-hal nostalgia yang terhubung dengan ikhtiar pencarian akar masa lalu orang Belanda di Indonesia, tetapi mereka memanfaatkan nostalgia itu juga di hotel-hotel dan restoran-restoran, di mana mereka memamerkan suasana kolonial dan menyediakan rijstafel  Belanda. Mereka memainkan musik keroncong dan menyanyi " Als de orchideeën bloeien " dan dengan senyum mengucapkan " hotperdom ", satu-satunya kata Belanda yang semua orang Indonesia kenal. Bagaimana dengan orang Belanda menurut orang Indonesia? Mereka bicara keras, sangat kaku, banyak minum (minuman keras) dan punya hidung yang mancung. Mereka tinggal di "Negeri Kincir Angin".   Tapi kalau orang Indonesia liburan ke Belanda mereka akan senang  selfie di De Zaanse Schans, mereka berfoto dengan pakaian tradisional Volendam dan berkunjung taman tulip De Keukenhof. Kalau Belanda terlalu jauh mereka akan kunjungi Holland Village di Jawa untuk ambil selfie dan memakai klompen, sepatu kayu, seolah mereka berada di Belanda. Sementara itu kalau orang Belanda berkunjung ke Indonesia, mereka akan mencari rumah kelahiran kakek-neneknya, sebuah rumah yang mereka kenal dari selembar foto hitam putih dengan orang berpakaian rapih yang sedang menyenangkan diri di kebun yang terawat dengan pohon besar. Dalam foto itu kakek-nenek mereka berdiri di teras rumah besar dan megah.  Tentu mereka, orang-orang Belanda yang sedang berkunjung ke Indonesia, akan  senang ketika rumahnya masih ada, walaupun kebunnya sudah tidak ada lagi dan sekarang rumah itu sudah menjadi bangunan sekolah. Mereka malahan membiarkan diri mereka terkejut oleh bunyi riuh tawa seisi kelas saat murid-murid meneriakkan ‘penjajahan’ saat mereka bertanya soal zaman kolonial. Kami tidak merasa diacuhkan. Lagipula mereka merasa bukan kolonialis. Perasaan mereka juga sama ketika mereka berpikir tentang ayah, kakek, kakek buyut mereka, semunya orang baik juga. Orang Belanda menjadi sangat hangat ketika mereka mendengar orang Indonesia memakai kata-kata seperti "waslap", "asbak", "handuk", "persneling", "rem", "notaris", dan "kantor". Sementara itu pemuda pemudi Indonesia masa kini bereaksi sama terkejutnya dengan orang Belanda tentang kata-kata tersebut. "Lho, apakah itu sama dalam bahasa Belanda?" Sebab untuk mereka, orang Indonesia, kata-kata itu sudah lama tidak lagi menjadi kata dalam bahasa Belanda, melainkan kosakata Indonesia yang mereka gunakan sehari-hari. Turisme membebaskan sejarah dari esensinya yang berat, dengan menjadikan sesuatu hal yang sebenarnya serius dan ruwet menjadi sesuatu yang lucu. Biarkan waktu yang akan mengubahnya. Suatu saat, "hubungan lama" antara Belanda dan Indonesia yang penuh kerumitan, akan menjadi latar belakang untuk selfie saja. Kuesioner dari harian De Volkskrant , berkolaborasi dengan Historia.ID  ini adalah sesuatu eksperimen kecil tetapi penting, di tengah persimpangan dua dunia pemikiran yang begitu berbeda ini. Penulis adalah wartawan senior De Volkskrant. Artikel ini ditulis sebagai pengantar survei Persepsi Pembaca Historia.ID terhadap Kolonialisme Belanda di Indonesia. Artikel dalam bahasa Belanda berjudul “ Hoe denken de Indonesiërs over de Nederlanders? Een nodig, maar moeilijk gesprek in een ontwakende wereld” terbit di De Volkskrant, 17 Agustus 2021. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Arjan Onderdenwijngaard dan Bonnie Triyana. Survei dilakukan oleh harian De Volkskrant dengan Historia.ID.

  • Menjelang Proklamasi Tiba

    KEPANIKAN terjadi saat Bung Karno dan Bung Hatta dikabarkan menghilang dari kediamannya. Dua lakon utama yang tengah mempersiapkan proklamasi itu tetiba tidak diketahui rimbanya. Petunjuk mengarah kepada golongan muda yang memang beberapa waktu menekan Bung Karno dan Bung Hatta menyegerakan proklamasi. Ahmad Subardjo, ditemani Sudiro, segera menemui salah seorang tokoh golongan muda, Wikana. Subardjo, sebagaimana disebutkan Suhartono dalam Kaigun Penentu Krisis Proklamasi , dikenal dekat dengan Wikana. Dia yakin kawannya itu akan mengatakan keberadaan Bung Karno dan Bung Hatta kepadanya. Namun Wikana bersikukuh merahasiakan keberadaan mereka. Akhirnya, dengan “menggadaikan” namanya, Subardjo berjanji melaksanakan proklamasi begitu Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta. Wikana pun akhirnya betus. Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada, Subardjo langsung menjemput keduanya. Pada waktu yang bersamaan, Wikana bersama beberapa pemuda yang sengaja ditinggal di Jakarta melakukan persiapan penyelenggaraan proklamasi. Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya  Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945,  Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Tadashi Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. “Rumah Laksamana Maeda yang dipakai untuk merumuskan teks proklamasi tersebut terjamin keamanannya selama rapat karena Laksamana Maeda merupakan Kepala Perwakilan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang). Rumah tersebut merupakan extra territorial  yang harus dihormati oleh Rikugun (Angkatan Darat Kekaisaran Jepang),” tulis Sutan Remy Sjahdeini dalam Sejarah Hukum Indonesia . Setiba di Jakarta, Sang Dwi Tunggal segera menyelesaikan segala urusan yang sempat tertunda, termasuk menemui perwakilan Jepang, Mayor Jenderal Otoshi Nishimura, untuk menagih kemerdekaan yang mereka janjikan. Akan tetapi rupanya hanya kekecewaan yang mereka dapatkan. Jenderal Nishimura menolak memberikan kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Hatta yang terlanjur murka segera beranjak dan meninggalkan tempat Nishimura. Mereka lalu bergerak ke rumah Maeda. Di tempat Maeda, telah berkumpul banyak sekali tokoh. Diceritakan Bung Hatta dalam otobiografinya, Memoir , hadir secara lengkap anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pemimpin-pemimpin pemuda, dan beberapa orang pemimpin pergerakan. Semuanya ada kira-kira 40-50 orang terkemuka. Di jalan juga banyak pemuda yang menonton atau menunggu hasil pembicaraan. Melalui keterangan Subardjo, dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi , diketahui sejumlah tokoh penting hadir, di antaranya: Radjiman Wedyodiningrat, Supomo, Sam Ratulangi, Johannes Latuharhary, Iwa Kusuma Sumantri, dan lainnya. Dari pihak pemuda: Chairul Saleh, B.M. Diah, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, dan Maruto Nitimihardjo. Sisanya masih banyak lagi tokoh yang tidak terlalu dikenal oleh Subardjo. Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Bung Karno dan Bung Hatta, bersama Subardjo, Sukarni dan Sayuti Melik, mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil menuju pekarangan di belakang rumah Maeda. Mereka duduk di sekitar meja berbentuk bundar dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas yang menandai lahirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Maka disepakati bahwa kalimat pertama teks tersebut diambil dari pembukaan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, isinya: Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. “Bahwa kalimat pendek dan sederhana ini telah dianggap cukup bagi suatu langkah yang menentukan dan mempunyai arti penting dalam sejarah dunia, yang mencerminkan keadaan yang dihadapkan kepada kami pada waktu itu, suatu keadaan yang dikuasai oleh ketegangan jiwa yang luar biasa,” tulis Subardjo. Setelah bertukar pikiran sebentar, lima orang yang duduk di ruangan kecil itu menyetujui seluruh ide teks proklamasi sementara yang merupakan hasil tulis tangan Bung Karno. Sebelum dihadirkan ke tengah panitia persiapan, naskah proklamasi tersebut diketik oleh Sayuti Melik, ditemani wartawan B.M. Diah. Sambil menunggu naskah selesai diketik, tutur Subardjo, panitia kecil pergi ke ruang dapur untuk mengambil makanan dan minuman yang sebelumnya telah disiapkan tuan rumah.  “Kami belum makan apa-apa sejak meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk bersahur, makan terakhir sebelum sembahyang Subuh,” ujar Subardjo. Waktu menunjukkan pukul 4 dini hari, naskah selesai diketik Sayuti Melik. Seluruh panitia kecil pun beranjak kembali ke ruang besar di depan rumah. Suasana di sana semakin ramai. Orang-orang mulai berdatangan, mengerumuni rumah yang sekarang digunakan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Suasana riuh di ruang utama seketika hening saat Sukarno membuka sidang untuk membacakan rumusan naskah proklamasi. Tetapi ketegangan mulai muncul di antara anggota sidang ketika memasuki agenda pengesahan naskah. Menurut Adam Malik dalam Riwayat dan Perjuangan Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 , usul Sukarno supaya naskah Proklamasi ditandatangani besok siang dan diumumkan di depan anggota PPKI ditolak keras oleh Sukarni dan Chaerul Saleh. Tokoh-tokoh dari golongan pemuda tidak ingin urusan kemerdekaan ini dicampuri oleh badan-badan berbau Jepang. Hatta lalu menyuarakan agar naskah Proklamasi ditandatangani oleh seluruh peserta yang hadir saat itu. “Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia Merdeka.” Usul tersebut menimbulkan kegaduhan. Sukarni kembali melayangkan protesnya. Dia mengatakan jika mereka yang tidak menyumbang sedikit pun persiapan-persiapan proklamasi tidak berhak untuk menandatangani. Sukarni pun lalu mengusulkan agar naskah cukup disahkan oleh Sukarno dan Hatta atas nama rakyat Indonesia. Ucapan itu, imbuh Hatta, disambut oleh seluruh orang yang hadir dengan tepuk tangan yang riuh dan muka yang berseri-seri. Sebelum menutup sidang, Sukarno meminta semua orang hadir dalam pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan di Pegangsaan Timur No. 56 sekitar pukul 10 pagi. “Babak terakhir dari perjuangan besar itu, untuk mana aku telah mempersembahkan jiwa dan ragaku, sekarang telah selesai. Dan peristiwa itu tidak menimbulkan apa-apa. Aku tidak merasakan kegembiraan. Aku hanya letih. Sangat letih,” tutur Sukarno seperti diceritakan Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Sekira pukul 6 pagi, tanggal 17 Agustus, seluruh kegiatan malam perumusan naskah proklamasi di kediaman Maeda selesai dilakukan. Digambarkan Subardjo, sedikit demi sedikit peserta sidang mulai meninggalkan tempat pertemuan dalam keadaan sangat lelah. Subardjo pun berpamitan kepada Sukarno dan Hatta yang saat itu dilihatnya masih cukup segar. Mereka saling memberikan ucapan selamat satu sama lain atas apa yang telah dicapai. Meski ketiganya sadar bahwa itu bukanlah akhir, tetapi awal dari tugas kenegaraan yang berat di masa kemudian. “Demikianlah berakhirnya suatu pertemuan malam yang tak terlupakan di tempat kediaman Laksamana Muda Jepang yang penuh keberanian,” ujar Subardjo.*

  • Jajak Pendapat Pembaca Historia.ID: Persepsi terhadap Penjajahan Belanda di Indonesia

    Jika Anda kesulitan mengakses form survei di bawah silahkan klik tautan berikut ini:  Form Jajak Pendapat

  • Repotnya Menyusun Pidato Sukarno

    SETIAP memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, sudah kewajiban bagi Bung Karno untuk menyampaikan pidato kenegaraan. Menjelang 17 Agustus, kesibukan selalu terjadi di ruang tengah Istana Merdeka. Di tempat itulah Bung Karno biasa menyusun konsep pidatonya. Ketelitian Sukarno dalam menyusun pidato kenegaraan diungkapkan oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra. Bung Karno, menurut Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku,  selalu mendiskusikan tema pidatonya terlebih dahulu dengan orang-orang penting seperti para menteri dan tokoh-tokoh masyarakat. Setelah itu, Sukarno mengumpulkan bahan-bahan pendukung melalui literatur, suratkabar, majalah, hingga berita dan laporan dari luar negeri. Kebiasaan lain Sukarno dalam menyusun teks pidatonya adalah penggunaan pulpen kelas atas merk Parker dengan tinta warna biru merek Quink. Penulisan dilakukan di atas kertas kepresidenan ukuran folio. Setelah selesai ditulis tangan, naskah pidato itu kemudian diketik sebagai konsep. Sukarno kerap kali mengutip pemikiran dari tokoh-tokoh besar maupun istilah asing yang semakin menambah bobot pidatonya.   Guntur dalam memoarnya mengisahkan pengalaman keterlibatannya dirinya dalam penyusunan teks pidato kenegaraan Sukarno. Entah tahun berapa persisnya, yang jelas bulan Agustus antara tahun 1955—1959. Waktu itu Guntur yang beranjak remaja, sepulang sekolah mendapati sang ayah tengah sibuk menulis naskah pidato. Supaya tidak mengganggu, Guntur masuk mengendap-endap menuju kamarnya. Sukarno ternyata menyadari kehadiran Guntur yang melangkah. Tetiba Sukarno memerintahkan Guntur untuk mengambil tinta di sebelah tempat penyimpanan tongkat komando yang ada di kamar Sukarno. “Ini Pak tintanya,” kata Guntur. “Kau sudah makan,” tanya Bung Karno. “Belum. Bapak sudah makan belum?” Guntur balik nanya. “Sebentar lagi. Jangan makan dulu. Bantu dulu Bapak,” pinta Sukarno. “Ya Pak,” jawab Guntur, “Belum selesai nulisnya, Pak?” “Belum! Heh, kau jangan jauh-jauh dari Bapak. Kalau-kalau aku perlu kau ambilkan buku-buku.” Sukarno berpesan. Di tengah perutnya yang sudah keroncongan, Guntur siaga di kursi dekat pintu keluar ke ruang tengah, tempat Bung Karno menulis. Dari situ, tidak jauh dengan beranda depan yang tidak lain ruang pribadi Sukarno yang difungsikannya sebagai perpustakaan. Di dalam perpustakaan tersebut, terdapat koleksi buku Sukarno sejak tahun 1919 meliputi beragam tema. Mulai dari politik, ekonomi, filsafat, kebudayaan, sosiologi, agama, dan sebagainya. Tidak lama kemudian, terdengar suara menggelegar memanggil Guntur yang akrab dipanggil Totok itu. “Tok!! Bawa kemari Declaration of Independent dari Thomas Jefferson,” perintah Sukarno. Thomas Jefferson ialah presiden Amerika Serikat ketiga sekaligus penyusun Konstitusi Amerika. Buru-buru Guntur beranjak ke perpustakaan mengambil buku yang diminta. Setelah buku diserahkan Guntur duduk kembali ke tempat semula. “Toook!! Ambilkan bukunya Abraham Lincoln,” minta Bung Karno lagi. Abraham Lincoln ialah presiden Amerika Serikat ke-16 yang menentang perbudakan di Amerika. Guntur menjalankan tugasnya. “Toook!!” Bawa kemari bukunya Vivekananda,” perintah selanjutnya.  Swami Vivekananda ialah seorang ahli filsafat India yang menjiwai gerakan nasionalisme India. Tanpa banyak cakap, Guntur melangkah ke perpustakaan mengambil buku dan menyerahkannya. “Kembalikan buku ini! Bawa kemari buku Nehru dan Karl Kautsky,” kata Sukarno. Pandit Jawaharlal Nehru adalah pemimpin nasionalis India sedangkan Karl Johann Kautsky filsuf beraliran Marxis dari Jerman. Guntur lagi-lagi kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku tersebut. Masih belum cukup, Sukarno kemudian memanggil Guntur lagi. Dimintanya buku karya Lothrop Stoddard. Stoddard adalah seorang orientalis terkemuka penulis buku The Rising Tide of Color  yang dialihbahasakan menjadi Pasang Surut Kulit Berwarna . Untuk kesekian kalinya Guntur menjadi asisten ayahnya. Sukarno melanjutkan kembali menulis teks pidatonya. Tidak berapa lama kemudian, Sukarno kembali memanggil Guntur. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Rupanya Guntur tertidur karena kecapaian bolak-balik dari perpustakaan ke ruangan tengah Istana Merdeka.   “Toook!” “Took!” “Toook, Toook, Toook!” “Ayo bangun,” ujar Sukarno. “Haah…eh… a, a, apa Pak??” jawab Guntur yang mendadak terjaga dari tidurnya, “Bukunya Karl Marx ya Pak?” katanya lagi seraya mengusap-usap mata. “Husy! Kau ngelindur!  Ayo temani bapak makan” Guntur pun bergegas mengikuti ayahnya yang presiden RI itu ke ruangan makan. Perutnya sudah kelaparan dari tadi. Menurut Guntur, Sukarno selalu dibantu oleh sebuah tim yang bekerja 24 jam tanpa berhenti dalam penyusunan naskah pidatonya. Terdiri dari seorang Liaison Officer  (pegawai penghubung) yang membawahkan 2 sampai 3 orang pengetik cepat dari Sekretariat Negara. “Kalau saat penulisan dimulai maka tidak seorangpun boleh mengganggu Bapak mulai dari pagi sampai pagi lagi,” kenang Guntur. Kerepotan dalam menysusun pidato Sukarno juga diakui oleh Molly Bondan. Pada 1960-an, Molly yang berkewarganegaraan Australia itu bertugas sebagai penyusun pidato bahasa Inggris Presiden Sukarno. Menurut Molly cara Bung Karno berpidato bagaikan seorang dalang yang bercerita. Sukarno gemar melakukan pengulangan kata sebagai upaya untuk lebih menjelaskan, seolah-olah dirinya secara pribadi berbicara kepada hadirin. Selingan humor, kutipan kalimat dan juga sarat lukisan suasana berwarna-warni. Begitu dalam berpidato, demikian pula keadaannya kalau Bung Karno menulis. “Menyadari keadaan ini dan juga untuk menjaga agar nuansa terjemahan bahasa Inggrisnya tetap sepadan, Molly terus terang mengaku seringkali sengaja agak mengorbankan akurasi pidato Bung Karno, tanpa harus mengurangi maknanya” seperti tersua dalam Kisah Istimewa Bung Karno yang disusun Hero Triatmono. Kendati demikian, Molly menegaskan, Bung Karno sangat terampil dalam merumuskan pemikiran serta menyampaikan gagasan. Semua pidatonya termasuk pidato tahunan setiap tanggal 17 Agustus selalu diperbincangkan dengan semua anggota kabinetnya. Ide dasarnya tentu datang dari Bung Karno sendiri. Dengan persiapan yang teliti dan seksama ditambah dengan kecakapan berorasi, pidato kenegaraan Sukarno selalu ditunggu-tunggu bahkan menjadi daya tarik bagi rakyat yang mendengarnya.*

  • Sukarno dan Baduy

    PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jokowi memakai pakaian adat. Kali ini pakaian adat suku Baduy atau Kanekes yang terletak di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dari empat tugas hidup masyarakat Baduy, salah satunya berkaitan dengan pemerintah, yaitu ngasuh ratu ngajayak menak (mengasuh penguasa dan mengemong para pembesar negara). "Oleh karena itu, mereka tabu melawan atau memberontak kepada pemerintah 'yang harus diasuh dan dibimbingnya'. Keyakinan terhadap tugas tersebut tidak pernah luntur ataupun berubah sekalipun terjadi pergantian pemerintahan," tulis Toto Sucipto dan Julianus Limbeng dalam Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten . Dengan demikian, hubungan Baduy dengan pemerintah daerah dan pusat terjaga dengan baik. Sebagai wujud hubungan baik itu, mereka memiliki tradisi seba , yaitu upacara adat tahunan menghadap pemerintah daerah Lebak dan Banten untuk mempersembahkan hasil pertanian. Mereka datang berduyun-duyun dengan berjalan kaki sebagai ciri khasnya menuju pendopo kabupaten dan provinsi. Di samping acara seba  yang diikuti ratusan sampai ribuan orang Baduy, dalam keadaan tertentu pemimpin adat ( puun ) biasa mengirim utusan untuk menghadap presiden. Dan utusan Baduy beberapa kali bertemu Presiden Sukarno. Fatmawati mendampingi Presiden Sukarno menerima utusan Baduy di Istana Negara, Jakarta, pada 1950. (Perpusnas RI). Pada 1950, Sukarno menerima dua orang Baduy di Istana Negara, Jakarta. Foto pertemuannya tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Foto lain koleksi Yayasan Idayu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan Ibu Negara Fatmawati hadir dalam pertemuan itu. Tahun berikutnya, pada 1951, dalam kunjungan kedua kalinya ke Banten, Sukarno juga bertemu utusan masyarakat Baduy. Berikutnya, pada 3 Juli 1954, Sukarno menerima utusan Baduy bernama Saltiwin dan Darjeuni di Istana Bogor. Pikiran Rakjat , 22 Juli 1954, sebagaimana dimuat dalam blog Sekecap , menyebutkan bahwa utusan Baduy itu meminta supaya leuweung  (hutan) titipan kebuyutan (leluhur yang keramat) mereka dilindungi dari penyerobotan yang dilakukan orang luar. Peristiwa penyerobotan itu mengakibatkan rusaknya stroomgebied  (Daerah Aliran Sungai) Kali Ciujung yang meliputi kawasan Lebak dan sebagian Kabupaten Bogor. Hal itu terjadi sejak berapa tahun sebelumnya. Permintaan itu berulang kali disampaikan dalam dua tahun kepada Jawatan Kehutanan, pamongpraja, dan Kementrian Dalam Negeri. Berita Antara , 22 Juli 1954, melaporkan dalam Agustus 1952 Sekretaris Jenderal Dalam Negeri mengeluarkan larangan supaya hutan Baduy tidak diganggu dan dijadikan huma (lahan untuk menanam padi) secara liar oleh rakyat. Pada 1953, beberapa orang dihukum karena menyerobot hutan. Namun, perusakan hutan tetap terjadi hingga 1954. Hutan seluas 500 hektar dalam wilayah Baduy digunduli. Itu sebabnya mereka melaporkan langsung ke Sukarno. Berita pertemuan itu juga dimuat dalam majalah Warga . Melalui majalah inilah, Ayatrohaedi, arkeolog, linguis, dan peneliti sejarah Sunda, mengenal masyarakat Baduy.  "Gambar yang muncul dalam tulisan yang dimuat majalah Warga  itu adalah beberapa orang Baduy yang berpakaian serba hitam, memakai destar, bertelanjang kaki, bersama dengan Bung Karno," kata Ayat dalam memoarnya 65=67: Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya . Presiden Sukarno menyalami Pak Hasan, utusan Baduy, di Rangkasbitung, pada 29 Maret 1957. (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten). Ada bagian dari tulisan itu yang menghentak Ayat bahwa "pada saatnya nanti, bahasa Sunda, akan naik derajatnya, sejajar dengan bahasa lain. Begitu keyakinan orang Baduy itu." Orang Sunda harus ngamumule  (menghidupkan) bahasanya jika ingin naik derajat. Selain kata "aing", yuk kenalkan kata-kata Sunda lain! Kendati telah mengenal suku Baduy sejak tahun 1950-an, Ayat baru bertemu langsung dengan mereka pada tahun 1967. "Perkenalan jasadiku dengan orang Baduy menyebabkan aku merasa kian kerdil sebagai orang Sunda," kata Ayat yang kemudian menjadi guru besar arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Orang Baduy kembali bertemu dengan Sukarno pada 29 Maret 1957 ketika Sukarno berkunjung ke Rangkasbitung (Lebak), Banten. Partaatmadja, staf direktorat publikasi departemen penerangan, yang mengikuti kunjungan itu melaporkan dalam Mimbar Penerangan , Tahun VIII, No. 4, April 1957: "Setelah kurang lebih tujuh tahun tak bertemu dengan rakyat Rangkasbitung, Bung Karno merasa sono  (kangen), demikian pula sebaliknya rakyat Rangkasbitung merasa sono  pula dengan Bung Karno." Sebelum menyampaikan pidato dalam rapat umum "Persatuan" di alun-alun Rangkasbitung, Sukarno menemui utusan Baduy sebanyak tujuh orang yang diketuai oleh Pak Hasan, mantan lurah di daerah Baduy, dan Pak Katje. "Sampaikanlah salamku kepada saudara-saudara lainnya dari Baduy yang tak dapat hadir," kata Sukarno kepada Pak Hasan. Sukarno merupakan presiden yang paling dikenang oleh masyarakat Baduy. Mereka beberapa kali bertemu. Sehingga mereka punya joke  soal presiden, sebagaimana dicatat budayawan Radhar Panca Dahana: “Presiden saya Soekarno, kalau Pak Harto kan cuma penggantinya.” Presiden Soeharto menerima Jaro Nakiwin, utusan Baduy, di Bina Graha, pada 27 Mei 1985. ( Selecta , 17 Juni 1985). Ketika berkunjung ke Baduy Dalam pada 2015, Gubernur Banten Rano Karno membuktikannya. "Di sana, tak seorang pun yang kenal saya…Tetapi, yang mengagetkan saya, ada warga Baduy yang menyimpan dan memasang foto Presiden Sukarno ketika bertemu masyarakat Baduy tahun 1950-an," kata Rano dikutip J. Osdar dalam tulisannya, "Rano, Jokowi, dan Badui",  Kompas , 21 April 2015. Presiden Soeharto sendiri pertama kali menerima utusan Baduy bernama Jaro Nakiwin di Bina Graha pada 27 Mei 1985. Dia didampingi Aspan Sudiro, staf Menko Kesra.  Nakiwin menyampaikan bahwa masyarakat Baduy ingin hidup tentram dan damai dengan menjalani hidup sesuai adat dan istiadat. Oleh karena itu, masyarakat Baduy memohon kepada pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap hutan, sumber air, dan lingkungan hidup mereka dari berbagai usaha perusakan. Ini harapan semua masyarakat adat. Bisakah pemerintah?*

  • Memulai Kalender Jawa

    KAUM asketis atau pertapa punya nilai tawar yang patut dipertimbangkan dalam politik kekuasaan di Jawa pada awal abad ke-17. Asketisme Islam saat itu sesungguhnya melanjutkan tradisi masa Hindu-Buddha. Mereka biasanya lekat dengan daerah pedalaman dan peziarahan orang suci atau wali. Makam Sunan Tembayat (kini masuk wilayah Klaten) adalah salah satu titik penting dari gerakan asketisme di Jawa saat itu. Sunan Bayat merupakan salah satu penyebar Islam di Jawa yang diperkirakan hidup pada masa Kesultanan Demak. Pada masa kekuasaan Sultan Agung (1613-1646), hubungan Mataram dengan para asketis ini begitu problematis. “Mereka bisa mendukung kultus raja atau menghancurkannya sama sekali,” tulis Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2. Menurut M.C. Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa , Sultan Agung sesungguhnya telah berupaya mendamaikan keraton dengan tradisi-tradisi Islam. Ia tidak meninggalkan kepercayaan spiritual Jawa seperti hubungan dengan Ratu Kidul, tetapi juga berupaya membuat Mataram lebih Islami. Namun, Tembayat jelas membuat Sultan Agung gusar. Pada 1630, para asketis bahkan mengadakan gerakan menentang Sultan Agung. Namun, Sultan Agung dengan mudah menumpas gerakan itu. Malahan ia   kemudian memanfaatkan tempat ziarah suci itu untuk melanggengkan kekuasaannya. Pada 1633, Sultan Agung berziarah ke Tembayat dan memerintahkan agar makam itu dipugar. Makam dibangun kembali dan dihiasi gapura megah. Sultan Agung sadar betul bahwa mengaitkan dirinya dengan kultus makam orang suci akan melegitimasi kekuasaannya. “Sultan Agung dikisahkan berjumpa dengan roh orang suci tersebut, yang mengajarinya ilmu-ilmu mistik rahasia; dengan demikian, kekuasaan Bayat pun kini terhubung dengan monarki Mataram,” tulis M.C. Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa. Sekembali dari Tembayat, Sultan Agung bahkan melakukan perubahan kalender. Kalendar Saka yang bergaya India dikawinkan dengan kalender Islam, Hijriah. Penanggalan dan bulan yang dipakai menggunakan sistem qamariah dari Hijriah, sedangkan angka tahun dan nama tahun menggunakan sistem Saka. Bulan pertama dalam Hijriah, Muharram dinamai dengan Suro. Maka tahun baru Jawa dan Islam berbarengan pada tanggal 1 Suro atau 1 Muharam. Penanggalan ini dimulai pada Jumat Legi, bulan Jumadilakir, tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Menurut Muhammad Solikhin dalam Misteri Bulan Suro, Perspektif Islam Jawa, kata Suro   diambil dari kata Asyura  yang merujuk pada tanggal 10 bulan Muharram. Tanggal tersebut berkaitan dengan peristiwa wafatnya Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad, di Karbala yang sekarang masuk wilayah Iraq. Sultan Agung kemudian menjadikan Jumat Legi sebagai dina paseban, hari pertemuan resmi antara keraton dan pemerintah di daerah-daerah. Di wilayah timur Jawa, pada Jumat Legi juga diadakan pertemuan pemerintah lokal, pengajian, ziarah kubur dan haul jika waktunya bertepatan, ke makan Ngampel dan Giri. Hal inilah yang membuat Jumat Legi dan 1 Suro seringkali disakralkan dan dihindari sebagai waktu menggelar kepentingan selain mengaji, ziarah, dan haul. “Dari Sultan Agung inilah kemudian pola peringatan tahun Hijriah dilaksanakan secara resmi oleh negara, dan diikuti seluruh masyarakat Jawa,” tulis Muhammad Solikhin. Anthony Reid menyebut bahwa perubahan kalender ini juga bagian dari upaya Sultan Agung menyiapkan peralihan legitimasi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah atau dari pesisir ke pedalaman. Baik legitimasi kekuasaaan politik maupun spiritual. Sebelumnya, Surabaya telah dikalahkan pada 1625. Putra mahkotanya, Pangeran Pekik, dikawinkan dengan saudara perempuan Sultan Agung. Pekik kemudian ditugasi menaklukkan Giri, tempat suci di wilayah Surabaya. Peziarahan suci paling penting di timur Jawa itupun jatuh pada 1636. Tindakan Sultan Agung lebih merupakan perjuangan spiritual ketimbang militer. Maka politik dan spiritual Jawa sejak itu berpindah dari timur ke tengah Jawa.*

  • Menara Sukarno di Pakistan

    MONUMEN di kota Larkana, Sindh, Pakistan itu mudah dikenali. Selain bentuknya lebih tinggi dibanding bangunan lain, posisi monumen tersebut tepat berada di tengah jalan utama kota. Setiap waktu kendaraan lalu-lalang melewatinya.  Memang monumen tampak tidak biasa: terdiri dari tiga buah balok yang ditopang oleh sebuah pilar besar, dengan masing-masing mendapat tambahan pilar lain. Tiap-tiap pilar balok memiliki tinggi yang berbeda-beda. Ketebalan pilar utama hampir dua meter, didominasi warna putih, dan kokoh menjulang setinggi lebih kurang 10 meter pada titik puncaknya. Itulah Sukarno Tower (Menara Sukarno).  Dikutip laman resmi Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Karachi, Republik Islam Pakistan , pembangunan Sukarno Tower dilakukan setelah kunjungan Presiden pertama RI itu ke Pakistan pada 1963. Sementara peresmiannya sendiri dilakukan pada 1972 oleh Perdana Menteri Zulfikat Ali Bhutto. “Sukarno Tower merupakan simbol kekaguman bangsa Pakistan terhadap Presiden Sukarno, yang telah memimpin bangsa Asia Afrika dalam pertemuan Asia Afrika tahun 1955 untuk melawan penjajahan atau kolonialisme di dunia,” tulis Konjen RI Karachi. Pada pilar utama Sukarno Tower terdapat sebuah plakat yang berisi kata-kata dari Sukarno. Ada empat poin ungkapan Si Bung Besar, yaitu: Fenomena eksistensi kehidupan modern adalah peningkatan dari peran masa. Lima mutiara berhargaku: demokrasi, percaya kepada satu Tuhan, keadilan sosial, nasionalisme, dan internasionalisme. Tujuanku bukanlah negara untuk satu individu atau satu kelompok tetapi semua untuk semua, satu untuk semua, semua untuk satu. Jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita merupakan sekedar hadiah dari diplomasi saja, tapi mereka harus tahu kita membelinya dengan darah, keringat, dan kesungguhan kita. Pada Juli 2021 lalu, Konjen RI Karachi, June Kuncoro Hadiningrat bertemu Komisioner Larkana, Shafiq Ahmed Mahesar di Kantor Pemerintah Kota Larkana, Pakistan. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mencari peluang kerja sama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya antar kedua negara.  Pada kesempatan tersebut, Konjen RI Karachi menyampaikan apresiasi kepada komisioner Larkana atas jasa baiknya dalam memfasilitasi berbagai upaya kerja sama dengan Indonesia. Kedua pihak menyampaikan komitmen untuk terus melanjutkan komunikasi dan hubungan baik di segala bidang. Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan dalam upaya revitalisasi terhadap Sukarno Tower. “Keberadaan Sukarno Tower yang telah menjadi ikon atau landmark  kota Larkana juga menjadi bukti komitmen dan kedekatan kota Larkana dengan bangsa Indonesia,” tulis Konjen RI Karachi. Indonesia dan Pakistan memiliki hubungan sejarah yang panjang. Kedua negara telah menjalin persahabatan selama lebih dari setengah abad. Sukarno dan Pemimpin Liga Muslim India yang menginisiasi pembentukan negara Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, saling mendukung satu sama lain dalam urusan kemerdekaan negara masing-masing. Pada masa revolusi kemerdekaan, misalnya, ratusan orang Pakistan yang tergabung dalam pasukan Sekutu di Divisi British India melakukan desersi di Indonesia. Mereka enggan berhadapan dengan pejuang dan rakyat Indonesia yang dianggap sebagai saudara seiman. Hubungan persahabatan keduanya juga terlihat saat Pakistan terlibat sengketa wilayah Kashmir dengan India pada 1965. Dalam konflik tersebut, Sukarno secara tegas mengambil sikap mendukung Pakistan. Menurut Ravi Shekhar Narain Singh dalam The Military Factor in Pakistan , Sukarno mengungkapkan kesanggupannya membantu kebutuhan darurat bagi Pakistan. “Serangan India ke Pakistan sama saja seperti menyerang Indonesia …” tutur Sukarno sebagaimana diungkapkan Panglima Angkatan Udara Pakistan Marsekal Ashga Khan di dalam memoarnya, The First Round .  Sukarno, sebagaimana disebutkan Abraham Panumbangan dalam The Uncensored of Bung Karno , kemudian mengirimkan bantuan pasukan ke wilayah konflik. Selain itu, Indonesia juga menerjunkan dua kapal patroli bersenjata, serta kapal selam ke Kepulauan Andaman yang kala itu diduduki India. Pakistan membalas sikap Indonesia itu dengan memberikan dukungan dalam kasus konfrontasi Indonesia-Malaysia. Meski Pakistan terikat solidaritas persemakmuran negara-negara Commonwealth, di mana India dan Malaysia berada di dalamnya, Presiden Pakistan Ayub Khan membela posisi Sukarno dengan bersikap netral. Menurut Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno , Sukarno menjalin hubungan erat dengan sederet pemimpin besar Pakistan, di antaranya: Muhammad Ali Jinnah, Presiden Iskander Mirza, dan Presiden Ayub Khan. Hubungan kedekatan Sukarno dengan Ayub Khan dapat diketahui karena keduanya sering saling mengunjungi. Seperti ketika Sukarno melakukan lawatan ke Pakistan pada Juni 1963. Presiden pertama RI itu disambut bak tamu agung. Sukarno diarak menggunakan kereta kuda mengelilingi jalan protokol di Karachi.*

  • Pertempuran Perbatasan Kedua Soviet-RRC (lanjutan)

    SEJAK pertempuran di Pulau Zhenbao (Russia: Damansky) di Sungai Ussuri –yang merupakan perbatasan Uni Soviet-RRC– pecah pada 2 Maret 1969, Komandan Detasemen Perbatasan ke-57 Uni Soviet Kolonel Demokrat Vladimirovich Leonov sibuk bukan kepalang. Dia sering tak pulang. Kepada istrinya dia sampai mengatakan bahwa keinginannya hanyalah tidur sesaat. Sempat pulang sesaat, pada 14 Maret Leonov kembali pergi ke pos-pos terdepan di perbatasan kedua negara. Kesiapan tempur semua pasukan penjaga perbatasan diinspeksinya. Tapi, dia tak lupa menelepon istrinya guna mengabarkan hari itu dia tidak pulang dan berjanji akan pulang esoknya. Tensi di perbatasan wilayah dua raksasa komunis itu masih tinggi kendati belum ada pertempuran susulan setelah pertempuran tanggal 2 Maret. Meski kedua belah pihak mundur dari pulau yang disengketakan, masing-masing justru memperkuat pasukan perbatasannya. Konflik perbatasan Soviet-RRC terjadi karena perpecahan aliansi keduanya pada akhir dekade 1950-an. Perbedaan doktrin sebagai hasil interpretasi terhadap Marxisme-Leninisme menjadi pangkalnya. Hubungan kedua negara makin buruk setelah pemimpin Soviet Nikita Khrushchev mengeluarkan kebijakan luar negeri “Koeksistensi Damai” yang mengupayakan perdamaian dengan Blok Barat. Kebijakan itu dikritik pemimpin RRC Mao Zedong sebagai revisionisme. Kritik Mao memicu kritik balasan dari Khrushchev. Hubungan kedua negara pun diwarnai saling kritik. Puncaknya, RRC menolak Soviet sebagai pemimpin gerakan Komunis dunia pada musim semi 1969. Akibatnya, di lapangan, para serdadu penjaga perbatasan kedua negara berubah menjadi rival dari yang semula sahabat. Kendati perkelahian antara kedua pasukan telah muncul sejak paruh pertama 1960-an, intensitasnya baru naik pesat sejak awal 1967. Saling hantam menggunakan tongkat, popor senapan, atau alat-alat pemukul lain jadi pemandangan umum. “Saat itu, episode seperti itu biasa terjadi: penjaga perbatasan Soviet atau Cina akan berpatroli di salah satu dari banyak pulau yang disengketakan, dan penjaga dari negara lain akan menemui mereka di pulau itu, mengklaim bahwa mereka melanggar wilayah kedaulatan mereka, dan menuntut mereka pergi. Sampai saat ini, konfrontasi biasanya hanya melibatkan sedikit lebih dari teriakan, perkelahian, dan penggunaan pentungan,” tulis Michael S. Gerson dalam The Sino-Soviet Border Conflict: Deterrence, Escalation, and the Threat of Nuclear War in 1969 . Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Para prajurit Soviet, sebagaimana ditulis Vladimir Rybin dalam “Heroes of Ussuri” yang dimuat dalam warheroes.ru,  biasa pulang dengan badan memar. Kendati begitu, mereka mendapat perhatian besar dari Kolonel Leonov. Mayor Kvitko, kepala dinas medis pos terdepan Soviet, ingat betul besarnya perhatian Leonov pada para prajurit yang terluka. “Saya ingat bahwa tahun lalu orang Cina memukul kepala Prajurit Lavrov dengan pemecah es. Kami, seperti yang diharapkan, segera membawanya ke ambulans untuk membawanya ke rumahsakit. Dan Leonov berhenti. Dia berkata: ‘Naik helikopter dan langsung ke Vladivostok. Ada spesialis berpengalaman.’ Setelah semua itu, aku tahu. Lavrov mengalami patah tulang tengkorak,” kata Kvitko, dikutip Rybin. Betapapun seringnya perkelahian terjadi di perbatasan, tak satu peluru pun ditembakkan oleh kedua belah pihak. Baik Soviet maupun RRC sama-sama melarang keras pasukannya memulai tembakan pertama. Pola konflik baru berubah setelah bentrokan terjadi antara pasukan penjaga perbatasaan Soviet dengan nelayan-nelayan Tiongkok pada awal 1968 yang menewaskan empat nelayan. Pemerintah RRC segera memerintahkan Distrik Militer Provinsi Heilongjiang melakukan pembalasan setimpal, yang lalu diejawantahkan dengan pembentukan pasukan komando untuk menyergap pasukan penjaga perbatasan Soviet. “Pada 19 Februari 1969, sebuah rencana yang diprakarsai otoritas militer Heilongjiang untuk menempatkan tiga batalyon infanteri di Damansky/Zhenbao guna pertahanan melawan ‘revisionisme’ telah disetujui Staf Umum PLA, dan mungkin mengingat kemungkinan dampak internasional, Kementerian Luar Negeri RRT. Pada saat itu, perasaan permusuhan di antara elit dan massa di kedua negara terhadap satu sama lain telah dihasut sedemikian rupa sehingga peluang untuk menyelesaikan masalah perbatasan sama sekali tidak ada,” tulis sejarawan Chien-peng Chung dalam Domestic Politics, International Bargaining and China’s Territorial Disputes . Pertempuran akhirnya pecah pada 2 Maret 1969 dengan penyergapan pasukan RRC terhadap pasukan perbatasan Soviet di Pulau Zhenbao/Damansky dekat pos luar Soviet Nizhne-Mikhailovka. Penyergapan itu membuat para petinggi Soviet, termasuk komandan lapangan Kolonel Leonov dan atasannya, Komandan Distrik Militer Timur Jauh Kolonel Jenderal Oleg Losik, kaget dan bingung tak menyangka pasukan RRC bakal senekat itu. “Dalam waktu satu jam Kolonel Jenderal Oleg Losik, komandan Distrik Militer Timur Jauh, sedang berbicara di telepon dengan Alexei Kosygin, ketua Dewan Menteri Soviet yang kebingungan. Para pemimpin politik Rusia telah sepenuhnya lengah oleh serangan China. Brezhnev berada di luar negeri, sementara Kremlin disibukkan dengan dampak lanjutan invasi Cekoslowakia tahun sebelumnya serta pertemuan puncak yang akan datang dengan Amerika Serikat,” tulis sejarawan militer Jesse Du dalam “Russia vs. China: How Conflict at the Sino-Soviet Border Nearly Started Nuclear War”, dimuat di historynet . com , Juli 2021. Konflik makin memanas setelah pertempuran 2 Maret itu. Masing-masing pihak memperkuat pasukannya. Sambil menunggu lampu hijau dari Kremlin, Jenderal Losik memperkuat pasukan perbatasannya dengan penambahan Divisi Senapan Motor ke-135 yang di dalamnya mencakup tank T-62, truk peluncur roket BM-21 “Grad”, howitzer 122mm, dan sedikit helikopter Mi-4. Sementara, Komandan Distrik Militer Shenyang RRC Chen Xilian menambah kekuatannya dengan mengerahkan resimen infanteri dan artileri dari Divisi ke-67 berikut penambahan RPG (granat berpeluncur roket) dan recoilless 75mm. Losik akhirnya mendapat perintah dari Moscow untuk mempertahankan perbatasan nasional sambil mencegah konflik militer skala besar. Perintah yang membingungkan itu diterjemahkan Losik sebagai tidak akan ada bala bantuan tentara Soviet. Dia terpaksa harus bertahan dengan pasukan perbatasan yang ada berikut persenjataannya. Pada 14 Maret, Leonov yang amat dicintai anak buahnya menginspeksi kesiapan pasukan Soviet di pos-pos perbatasan. Dia tak pulang ke rumah karena sebelum fajar keesokan harinya, pasukan itu mesti dikerahkan ke Pulau Zhenbao/Damansky. “Leonov menuntut dari setiap penjaga perbatasan pengetahuan sangat baik tentang daerah tersebut, kemampuan untuk bertindak dengan berani dan mandiri, kesiapan tempur yang konstan, kecepatan, kerahasiaan, tindakan dadakan, kesiapan untuk melawan musuh yang kalah jumlah. Dan, seolah mengantisipasi peristiwa, dia fokus pada organisasi komunikasi, interaksi yang jelas dari detasemen, pos terdepan, dan semua unit dari tiap unit yang ada,” tulis Rybin. Pada saat hampir bersamaan di tepi lain Sungai Ussuri, pasukan RRC juga dikerahkan ke pulau yang disengketakan itu. Alhasil sebelum tengah hari 15 Maret, pertempuran pecah. Artileri dan tembakan senapan mesin RRC terus menghujani posisi Soviet. Dilindungi kendaraan angkut personel lapis baja BTR-60, pasukan Soviet maju menuju posisi lawan. Namun, gerak-maju mereka dihadang tembakan-tembakan RPG dan recoilles 75mm pasukan RRC. “Beberapa menit kemudian, ketika ledakan mengelilingi sekitar kendaraan angkut personel lapis baja kami di Pulau Damansky, dia (Leonov, red .), tidak tahan, bergegas ke panasnya pertempuran,” tulis Rybin. Begitu bantuan empat tank T-62 tiba pada tengah hari, Kolonel Leonov langsung menaiki sebuah tank. Dia memimpin langsung serangan. Tank-tank lain diperintahkannya untuk tidak ke pulau tapi mengitari pulau di atas sungai yang membeku untuk mengapit posisi lawan. Sebuah panggilan radio dari Letkol Yanshin yang meminta bantuan tembakan artileri perlindungan mengusik Leonov. Dia segera mengontak Komandan Divisi ke-135 Mayjen V.K. Nesov agar memberi perlindungan terhadap pasukan Yanshin, namun tidak mendapat jawaban. Lantaran tak ada lampu hijau sementara para personel di lapangan berjuang antara hidup dan mati, Leonov berinisiatif mengambil tanggung jawab. “’Bongkar amunisi artileri!’ dia memerintahkan komandan tank,” tulis Rybin mengutip perkataan Leonov. Tank Leonov berhasil memberi perlindungan kepada pasukan infanteri sambil terus bermanuver. Di bawah hujan tembakan RRC yang tak satupun berhasil mengenainya, tank tersebut terus maju dan memuntahkan peluru senapan mesinnya ke pasukan RRC di tepi sungai wilayah RRC. Namun, laju tank Leonov akhirnya terhenti ketika seorang personel militer RRC tiba-tiba keluar dari belukar dan menembakkan RPG-nya ke tangki bahan bakar cadangan tank –sumber lain menyebut tank Leonov terkena ranjau. Dengan susah payah Leonov keluar dari tanknya. Namun belum banyak langkah kaki diayunkan sang kolonel dari tanknya, peluru seorang penembak jitu RRC menghujam dadanya. Leonov roboh dan menjadi korban tewas dengan pangkat tertinggi dalam pertempuran. Pertempuran memburuk sore harinya. Pasukan Soviet yang didukung heli Mi-4 terus merangsek karena unggul persenjataan. Pasukan RRC gigih bertahan. Wang Guoxiang, salah satu komandan peleton RRC, mendapati salah seorang personelnya yang bertelanjang dada di bawah suhu minus 30 derat sampai tuli akibat berulangkali menembakkan RPG ke kendaraan angkut lapis baja Soviet. Wang sendiri kemudian juga tuli sementara. Sementara, di markasnya Kolonel Jenderal Losik terus diliputi kecemasan. Lampu hijau untuk membentuk unit-unit tempur dari satuan reguler yang diperlukannya tak kunjung tiba dari Moskow. Padahal, dia amat membutuhkan izin tersebut. Situasi yang terus memburuk akhirnya mendorong Losik berinisiatif membentuk unit tempur yang diperlukannya dan memberi izin penggunaan roket BM-21 “Grad” serta howitzers 122mm.  “Pukul 17.00, saat cahaya memudar, artileri Soviet dan, khususnya, penggunaan tempur pertama artileri roket ‘Grad’ (‘ Hail’ ), memberikan pukulan yang memekakkan telinga dan menghancurkan ke sisi sungai Tiongkok yang mengakhiri pertempuran 15 Maret,” tulis Dmitri S. Ryabushkin dalam makalah berjudul “New Documents on the Sino-Soviet Ussuri Border Clashes of 1969”. Salvo roket BM-21 “Grad” dan howitzer selama 10 menit Soviet itu kemudian diikuti serangan dua kompi tank dan infanteri Soviet ke pulau. “[Setelah salvo] kami mengubah posisi kami sekali lagi. Sekarang tepi Cina sudah sepenuhnya terlihat. Dari sisi itu terdengar suara seorang wanita berteriak melalui pengeras suara. ‘Enyah!’, ‘Grup Nesov, pergi!’ dan ‘Vaschenko, Vachenko, jangan tembakkan salvo!’ sambung Ryabushkin mengutip kesaksian seorang prajurit Soviet. Korban jatuh dalam jumlah besar di pihak RRC. Kendati mati-matian bertahan, sekira pukul enam petang pasukan RRC ditarik mundur dari pulau. Sementara, pasukan Soviet ditarik mundur ketika langit sudah gelap. Penarikan mundur itu mengakhiri konflik perbatasan kedua negara lantaran keesokannya pertempuran tak terjadi lagi. Masing-masing pihak tak ingin memicu konflik global sehingga mengalihkan pertempuran ke meja perundingan. “Setelah lebih dari sembilan jam pertempuran yang memekakkan telinga, keheningan yang menakutkan menyelimuti pulau kecil yang kini dipenuhi lubang bekas tembakan, puing-puing, dan mayat,” tulis Jesse Du.*

  • Sebuah Jalan dan Kematian Seorang Komandan Laskar

    RABU, 18 Agustus 1948. Harian Haarlems Daagblaad  mengabarkan suatu berita dari tanah Jawa: tiga anggota kelompok Bamboe Roentjing, masing-masing bernama Soetjipta, Satibi dan Oemang, telah divonis mati oleh Pengadilan Sipil Hindia Belanda di Bogor. Vonis yang jatuh pada 17 Agustus 1948 itu, telah dijatuhkan berdasarkan aksi kriminal yang telah dilakukan oleh ketiganya di wilayah Cianjur selama 1947—1948. “Mereka bertiga telah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai kaki tangan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda), secara langsung maupun tidak langsung,” tulis media yang berpusat di Haarlem, Belanda itu. Siapakah tokoh Soetjipta? Tidak seperti pihak Belanda, orang-orang Cianjur justru menganggap Soetjipta sebagai seorang pejuang. Hal itu dibuktikan dengan penyematan namanya untuk satu ruas nama jalan di pusat kota Cianjur. Sayangnya, jalan yang ketika diresmikan sekira tahun 1950-an tersebut bernama Jalan A. Soetjipta, kini telah berganti menjadi Jalan Adi Sucipta. Kesalahkaprahan itu bukannya tidak pernah ada yang membetulkan. Menurut Rahmat Purawinata, saat masih bertugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Cianjur pada 1990-an, dirinya pernah mengingatkan soal tersebut ke pihak Pemkab Cianjur dan langsung dituruti dengan mengganti secepatnya nama jalan tersebut dengan Jalan A. Sucipta. Namun begitu ia berhenti dari anggota DPRD Kabupaten Cianjur, nama jalan tersebut balik lagi ke nama asalnya yang salah: Jalan Adi Sucipta. “Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu apa yang menjadi penyebab berubahnya  kembali nama jalan itu,” ujar Rahmat. * Menurut Mahkun Cipta Subagyo (75), selama 1942—1948,   Soetjipta (lengkapnya adalah Asmin Soetjipta alias Aswin) tinggal di Desa Cisarandi (masuk dalam wilayah Kecamatan Warungkondang) dan menjadi guru di Landbouwschool (sekolah pertanian setingkat SMP) Bojongkoneng. Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru, Asmin bersahabat dengan Muhammad To’ib Zamzami, Lurah Desa Cisarandi  kala itu. “Begitu lekatnya persahabatan itu, hingga Bapak menikahi Sitti Aisyah putri sang lurah, yang tak lain adalah ibu kandung saya,” ujar putra tunggal pasangan Soetjipta-Sitti Aisyah tersebut. Soetjipta dikenal ahli bermain pencaksilat dan memiliki ilmu kanuragaan yang lumayan tinggi. Dengan keahliannya dan kedudukannya sebagai menantu lurah Cisarandi, tidak heran jika dia lantas dituakan dan dijadikan “jawara” penjaga keamanan desa yang terletak tepat di timur jalan raya Cianjur-Sukabumi tersebut.  Tahun 1945-1946, jalan raya di mulut Desa Cisarandi kerap dilewati oleh konvoi “pasukan ubel-ubel”. Itu nama julukan penduduk setempat untuk para serdadu Inggris dari kesatuan Jats, Rajputana dan Patiala yang berkebangsaan India. Rupanya, saat melewati Cisarandi itulah, para prajurit ubel-ubel  sering bertindak semena-mena: mengganggu gadis-gadis desa dan merampoki harta benda penduduk Cisarandi.  Mengetahui desanya diganggu, Lurah To’ib meradang. Dia lantas mengajak Soetjipta untuk mengadakan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pasukan Inggris itu.  “Cipta, Abah tugaskan kamu cari senjata api ke kota ya?” ujar To’ib “Buat apa, Bah?” Asmin malah balik bertanya. “Buat nembakin itu tentara ubel-ubel. Abah sudah tidak tahan dengan prilaku mereka kepada rakyat kita” “Oh…Mangga, Bah! Tiasa!”  Besoknya, pagi sekali Asmin sudah berangkat ke wilayah Cianjur kota dengan berjalan kaki. Ketika di Simpang Tiga, dekat Kampung Tangsi (sekarang  menjadi Jalan A. Sucipta), dia berpapasan dengan beberapa serdadu Inggris. Tanpa banyak bicara dan dengan gerakan kilat, Soetjipta membekuk salah seorang prajurit yang berjalan paling belakang, melumpuhkannya lalu merampas senapan Lee Enfield milik prajurit itu. Usai mendapatkan senjata, Soetjipta kabur ke arah jalur rel kereta api yang berada di sebelah timur Kampung Tangsi. Siraman timah panas sempat diarahkan kepadanya, namun karena kegesitannya, Soetjipta bisa lolos. * Atas keberhasilan menantunya mendapatkan senjata, Lurah To’ib tentu saja merasa bungah. Persoalan baru kemudian muncul saat tidak ada satu pun pemuda Cisarandi yang mahir mempergunakan senjata api. Namun Soetjipta tidak ambil pusing, dia lantas membawa senjata itu ke para pejuang dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) kemudian meminta mereka untuk mengajarkannya. Dasar Soetjipta yang memang memiliki bakat bagus dalam menembak, hanya beberapa minggu dilatihd ia berhasil menguasai senjata buatan Inggris itu secara baik. Soetjipta lantas   menjadi seorang penembak runduk yang mumpuni. Berdasarkan keterangan Mahkun (berdasarkan  cerita To’ib), dalam suatu penghadangan di jalan raya Sukabumi-Cianjur,  Si Dukun  (panggilan sayang Soetjipta untuk Lee Enfield pegangannya) pernah memakan nyawa  11 serdadu Inggris dari jarak sekitar 500 meter. “Menurut kakek, waktu itu Bapak menembaki serdadu-serdadu tersebut dari balik pepohonan dan semak-semak secara berpindah di pinggir Sungai Cisarandi,” tutur Mahkun. Sukses memimpin sejumlah penghadangan dan perampasan senjata, oleh anak-anak muda Cisarandi, Soetjipta lantas mendirikan unit laskar sendiri bernama Laspo (Laskar Pesindo) atau Bamboe Roentjing. Dia didapuk menjadi komandan dengan diberi pangkat kapten. Kala para pejuang Republik aktif memerangi tentara Belanda yang berusaha kembali menguasai wilayah Indonesia pada 1946-1949, pasukan Bamboe Roentjing termasuk  di dalamnya. Pada suatu penghadangan di wilayah Bojongkoneng, unit itu sukses menghabisi satu peleton KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan merampas sejumlah senjata.  Tidak cukup dengan penghadangan, Soetjipta dan anak buahnya pun kerap melakukan operasi kecil-kecilan (diikuti hanya oleh 2-3 gerilyawan) ke wilayah kota Cianjur. Bersama sahabatnya bernama Poerawinata, Soetjipta pernah melakukan operasi agak nekad di wilayah jalan depan Pasar Bojongmeron. Ceritanya, di suatu siang bolong, Soetjipta berpura-pura menjadi orang gila. Begitu bersisian dengan   seorang serdadu Belanda yang tengah berjalan sendiri, Soetjipta langsung memukul kepala sang serdadu dengan botol kecap lalu merampas senjatanya. Senjata itu kemudian dilarikan oleh Poerawinata yang sudah siap sedia di sekitar tempat itu. “Selain mengincar tentara Belanda, Bapak dan kawan-kawan juga kerap melakukan teror kepada para pengkhianat,” ungkap Mahkun. Menurut Hadi, salah seorang eks anggota Bamboe Roentjing, aksi-aksi unit mereka itu tentu saja membuat gerah pihak militer Belanda. Bertruk-truk pasukan Belanda lantas dikirimkan ke Cisarandi. Namun alih-alih menemukan Soetjipta, yang ada mereka hanya mendapatkan sejumlah rumah kosong. Demi menumpahkan rasa kesalnya, maka dibakarlah markas unit Bamboe Roentjing itu, yang tak lain adalah rumah Lurah To’ib. “Untuk mencegah kembalinya tentara Belanda, kami kemudian membom Jembatan Cisarandi,” ungkap Hadi yang saya wawancarai pada 2013. * Februari 1948, Divisi Siliwangi harus hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun keharusan itu tidak berlaku untuk sebagian kecil pejuang republik., termasuk Bamboe Roentjing. Mereka memilih tetap melawan militer Belanda dibandingkan harus berangkat hijrah. Belum sebulan Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, suatu hari tetiba Asmin menerima sepucuk surat yang ditandatangani oleh atasannya yakni S. Waluyo (Pimpinan Laskar Pesindo Sukabumi). Isinya: perintah agar seluruh unit Bamboe Roentjing pergi ke Sukabumi untuk  berunding dengan pihak militer Belanda. “Saat pemberangkatan, senjata harap diikat dalam satu kumpulan dan masukan ke truk,” demikian salah satu bunyi perintah itu. Merasa yakin dengan surat yang ditandatangani oleh pimpinannya, Soetjipta lantas menuruti perintah surat tersebut. Dengan menggunakan beberapa truk milik KNIL, mereka kemudian diangkut ke Sukabumi. Ternyata mereka terkena tipu muslihat pihak intelijen Belanda. Alih-alih dibawa ke meja perundingan, Soetjipta justru langsung dijebloskan ke penjara sedangkan semua anggota pasukannya diperintahkan untuk bubar. Ada suatu kejadian mengharukan, saat tipuan licik itu dijalankan oleh militer Belanda. Dua anak buah Soetjipta bernama Oemang dan Satibi menolak dipulangkan. Soetjipta sendiri sudah membujuk kedua anak muda itu untuk pulang kembali ke Cianjur, tapi mereka tetap bersikukuh ikut kemanapun komandan pergi. “Maaf Pak, Bapak adalah komandan kami. Kami akan tetap bersama Pak Cipta, dalam kondisi apapun itu,” jawab salah seorang dari kedua anak muda tersebut. Akhirnya ketiga gerilyawan itu dibawa oleh militer Belanda ke Penjara Paledang, Bogor. Pertengahan Agustus 1948, Hakim Pengadilan Sipil Bogor yakni Mr. Cohen mengganjar mereka bertiga dengan hukuman mati. * Suatu pagi di akhir tahun 1948. Masih segar dalam ingatan Mahkun beberapa hari sebelum eksekusi mati dilaksanakan, dia  yang saat itu masih bocah berumur 3 tahun, bersama sang ibu sempat mengunjungi Asmin di Penjara Paledang. Dalam pertemuan itu, Siti Aisyah menyerahkan sepasang pakaian putih yang dipesan sang suami untuk menghadapi maut. “Saya   ingat wajah Bapak terlihat tidak terawat: penuh dengan bulu. Tapi di mata saya hingga kini, dia terlihat tampan dan lembut dengan senyumnya yang tak pernah bisa saya lupakan seumur hidup,” kenang Mahkun. Soetjipta dan Mahkun kecil sempat bercengkrama. Apapun diceritakan Mahkun sebagai bentuk rasa rindunya kepada sang ayah yang sudah berbulan-bulan tak pernah ditemuinya. Sesekali mereka berdua becanda. Hingga tibalah waktu berpisah, komandan gerilya itu terlihat   tak kuasa menahan rasa sedih: memeluk sekaligus menciumi istri dan putranya itu. Saat merangkul Mahkun, Soetjipta mendekap si kecil itu agak lama. “Saya sempat menengadah dan melihat mata bapak terpejam tapi air matanya perlahan meleleh di kedua pipinya yang penuh bulu,” tutur Mahkun. Asmin Soetjipta beberapa hari kemudian digiring ke Kampung Dereded. Di sanalah sang guru yang jago menembak itu, bersama Satibi dan Oemang  bergegas menyambut maut. Di hadapan regu tembak, menurut para saksi yang mengisahkan kepada keluarganya, mereka berdiri dengan tabah dan gagah. Sebelum kemudian peluru-peluru itu menghabisi hidup mereka.*

  • Belajar Toleransi dari Bung Hatta

    PERSATUAN dalam perbedaan di Indonesia belakangan mulai mengkhawatirkan, terutama usai pemilihan presiden dan disusul pandemi. Isu primordialisme dan agama kian menggerus kebersamaan sebagai satu bangsa. Untuk meresponnya dan mengatasinya, ada baiknya kita generasi muda menengok pengalaman proklamator Bung Hatta dalam menyikapi perbedaan pandangan politik. Pemikiran tokoh yang bulan ini sedang diperingati hari kelahirannya itu masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Untuk itulah dalam rangka Pekan Bung Hatta, Badan Kebudayaan Pusat Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (BKPN PDIP) membuat Webinar “Bung Hatta Inspirasi Kemandirian Bangsa” pada Kamis (12/8/2021) di kanal Youtube  BKPN PDIP . Bung Hatta yang lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 sejatinya sudah belajar menghormati perbedaan dari lingkungannya sendiri. Di masa peralihan akhir abad ke-19 ke awal abad ke-20 saat Bung Hatta dilahirkan, di Minangkabau telah terdapat banyak ulama dan intelektual yang berwawasan terbuka dan luas. Baca juga: Bung Hatta dan Refleksi Sebelas Bulan Usia Indonesia Budayawan Hasril Chaniago (Tangkapan Layar Youtube BKPN PDIP) Menurut jurnalis senior cum budayawan Hasril Chaniago dalam webinar tersebut, para tokoh Minangkabau di masa itu terbiasa hidup di dalam dialektika. Mereka terbiasa hidup dalam konflik dan harmoni. Konflik-konflik itu kemudian membuahkan kemajuan dalam berpikir. “Dalam aliran politik, orang Minang itu ada yang paling (berhaluan) kanan sampai paling kiri. Pernah ada perang pemikiran besar di Minang dan orang Minang kalau ada yang disampaikan dengan buku, dia lawan dengan buku, bukan demonstrasi. Jadi Bung Hatta tumbuh di alam seperti itu. Inilah cara bertoleransi orang Minang yang semestinya juga bisa diteladani. Beda pendapat, beda politik boleh saja tapi jangan terpecah dan itu sudah diperlihatkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta,” kata Hasril. Baca juga: Secuil Kisah Persahabatan Sukarno-Hatta Masyarakat umum mengenal “dwitunggal” Bung Karno dan Bung Hatta karena momen proklamasi 17 Agustus 1945. Kendati keduanya berbeda dalam pemikiran politik, menurut sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, saling melengkapi. “Pertalian keduanya adalah karena momen proklamasi dan Pancasila. Tidak ada kemerdekaan tanpa Sukarno dan Hatta. Bung Karno tidak mau mengucap proklamasi jika Bung Hatta saat itu belum hadir,” ungkap Asvi. Sejarawan LIPI, Prof. Asvi Warman Adam (Ilustrasi Gun Gun Gunadi) Sikap Bung Karno itu tak lepas dari kenyataan historis kerjasamanya dengan Bung Hatta sebelum Indonesia menyambut kemerdekaannya. Kendati perjuangan politik Bung Hatta dan Bung Karno berada di dua “alam” berbeda, batin keduanya seiya-sekata dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga masing-masing mesti merasakan bui penguasa kolonial. Berbeda dari Bung Karno, Bung Hatta memulai perjuangannya dari benua seberang. Mengutip Mohammad Hatta: Memoir , Bung Hatta yang sejak 1926 menjadi ketua Perhimpoenan Indonesia (PI) turut menghadiri konferensi Liga Anti-Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Brussels, Belgia (10-15 Februari 1927). Bung Hatta bahkan turut dijadikan salah satu anggota komite eksekutifnya lantaran sebelumnya sering aktif di kegiatan serupa seperti Konferensi Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian di Gland, Swiss dan Kongres Demokrasi di Prancis setahun sebelumnya. “Aku harus menerima undangan itu. Suatu tugas berat pula dilimpahkan pada diriku. Aku gembira karena berkat propaganda Perhimpoenan Indonesia, nama ‘Indonesia’ untuk tanah air kita sudah menjadi biasa di kalangan organisasi internasional,” tulis Bung Hatta. Baca juga: Hatta yang Sentimentil Bung Hatta (berdiri, kedua dari kiri) saat berkecimpung di Perhimpoenan Indonesia ( nationaalarchief.nl ) Aktivitas Bung Hatta dan kawan-kawannya yang begitu menyentil pemerintah Belanda, negeri tempatnya bersekolah, mengakibatkannya ditangkap dan ditahan hampir enam bulan. Bung Hatta ditahan bersama Ali Sastroamidjojo dan Nazir Pamoentjak. “Nah di pengadilan Hatta melakukan pembelaan, pledoi-nya berjudul ‘Indonesië Vrij’ (Indonesia Merdeka). Kata-kata terakhir dari pembelaan itu mengatakan: ‘lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada jadi embel-embel bangsa lain.’ Nah, Bung Karno dua tahun kemudian juga ditahan di Bandung dan dibawa ke pengadilan. Dalam pidato pembelaannya, Bung Karno mengatakan: ‘imperialisme berbuahkan negeri-negeri mandat yang sifatnya menaklukkan negeri orang lain. Syarat paling penting untuk pembaikan kembali rakyat Indonesia adalah kemerdekaan,’” ujar Sri Edi Swasono, ekonom senior Universitas Indonesia sekaligus menantu Bung Hatta, menimpali. Setelah kembali ke Indonesia, Bung Hatta dan Bung Karno mulai sering bersua walau lagi-lagi harus terpisah gegara politik. Pemerintah Hindia Belanda membuang Bung Karno ke Ende dan kemudian Bengkulu, sementara Bung Hatta diasingkan ke Boven Digul, Banda Neira, dan terakhir Sukabumi sebelum Jepang masuk. Saling Menjaga dalam Perbedaan Usai proklamasi, tiada sosok lain yang diinginkan Bung Karno untuk jadi wakilnya di pemerintahan selain Bung Hatta. Terlebih, Bung Hatta sepemikiran dalam dasar negara Pancasila yang digali Bung Karno. “Bung Karno penggali dan pencetus pertama Pancasila, Bung Hatta adalah pengawal dan penyelamat Pancasila. Bung Hatta yang tanggal 18 Agustus bicara pada tokoh Islam tentang penghapusan tujuh kata dan pencantuman Ketuhanan Yang Maha Esa,” sambung Asvi. Tujuh kata yang dimaksud adalah yang termaktub dalam Piagam Jakarta, yang berbunyi “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Bung Hatta teguh berpendirian agar tujuh kata tersebut tidak dicantumkan dalam sila pertama Pancasila. Bung Hatta, lanjut Asvi, dekat dengan para tokoh Islam karena pada April 1945 pernah memimpin Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta dan setahun kemudian mendirikan STI di Yogyakarta yang lantas kini sudah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Baca juga: Jejak Hatta dan Sjahrir di Sukabumi Megawati Soekarnoputri (Nugroho Sejati/Historia) Semasa kedua bung memimpin negeri, putri Bung Karno Megawati Soekarnoputri ingat betul bahwa kedua tokoh punya kepribadian yang begitu berbeda. Baik ketika sedang tenggelam dalam urusan pemerintahan di Istana Negara maupun ketika saling bersilaturahim keluarga di kediaman masing-masing. “Tidak seperti ayah saya yang dinamis, bisa spontan humoris, kalau dengan Pak Hatta kita harus jaga sikap. Harus berbahasa Indonesia yang runtun, beliau orang yang sangat disiplin. Kalau ada tamunya yang telat, bisa diusir. Makanya kalau beliau datang ke rumah, saya suka tekanan batin. Kalau diskusi keluar kata keras dalam bahasa Belanda tapi persahabatan mereka tidak luntur,” kata Mega mengenang. Baca juga: Wasiat Bung Hatta Kendati berkepribadian berbeda, Bung Hatta dan Bung Karno bisa bersatu dalam merumuskan arah demokrasi republik, yakni berdasarkan kedaulatan rakyat. Demokrasi yang diambil keduanya, menurut putri sulung Bung Hatta Meutia Farida Hatta, adalah demokrasi yang memodifikasi Volkssouvereniteit atau teori kedaulatannya filsuf Prancis Jean-Jacques Rousseau. “Bung Hatta menyebutnya masih ketergantungan pada bangsa lain. Ia ingin sepenuhnya (Indonesia) jadi bangsa yang berdaulat dan tidak bergantung negara lain. Sejak 1931 Bung Hatta mengganti istilah volkssouvereniteit jadi kedaulatan dengan kuncinya kemandirian. Kemandirian dengan adanya harga diri dan kesadaran rakyat untuk lepas dari ketergantungan dan keterjajahan dari bangsa lain,” kata mantan menteri Pemberdayaan Perempuan (2004-2009) itu. Meutia Farida Hatta, putri sulung Bung Hatta (Fernando Randy/Historia) Dalam hal kemandirian dan demokrasi kedaulatan rakyat, menurut Hasril, Bung Karno pun punya pemikiran serupa meski tidak sama. Bung Karno punya Trisakti: berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian dalam berkebudayaan. Sementara, pemikiran Bung Hatta bertumpu pada: kedaulatan rakyat, keadilan dan kemakmuran, serta kebersamaan dan kekeluargaan. “Jadi sebenarnya konsep demokrasi Hatta adalah konsep Rousseau yang diperbarui. Demokrasi yang digabungkan dengan rasa kebersamaan. Tetapi asas kemandirian keduanya ini (Hatta dan Sukarno) sejalan sekali. Inilah yang membuat mereka menjadi simbol Indonesia sebagai dwitunggal,” sambung Hasril. Baca juga: Demi Pengakuan Kedaulatan Akan tetapi, Bung Hatta hanya bertahan 11 tahun mendampingi Bung Karno sebagai wapres. Ia resmi mundur pada 1 Desember 1956 lantaran banyak berbeda pemikiran. Satu contohnya adalah kritik Wapres Hatta tentang keengganan Presiden Sukarno menandatangani Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembatalan Perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB). Selain lewat surat, wapres memprotes lewat PM Ali Sastroamidjojo. “Hatta mengkritik kenapa Bung Karno tidak mau menandatangani RUU Pembatalan KMB? RUU-nya sudah dipersiapkan sejak kabinet (PM) Burhanuddin Harahap (1955-1956) dan sudah disetujui parlemen dan Mahkamah Agung sejak 28 Februari 1956. Bung Karno baru mau tandatangan setelah ganti kabinetnya Pak Ali Sastro. Bung Hatta yang minta Pak Ali membujuk Bung Karno sampai akhirnya mau dibatalkan,” ungkap Edi. Prof. Sri Edi Swasono (Tangkapan Layar Youtube BKPN PDIP) Menariknya, Presiden Sukarno memilih tak mencari pengganti Bung Hatta. Bung Karno menjalankan roda pemerintahan Demokrasi Terpimpin sendiri tanpa wakil presiden. “Kedua pemimpin ini setelah akhir-akhir (1956) seperti banyak perbedaan sampai Pak Hatta mengundurkan diri dari (jabatan) wakil presiden. Tapi coba kita pikir, kenapa bapak saya nggak punya wakil presiden lagi? Ini punya makna sebenarnya, enggak mau seorang Hatta tergantikan. Itu sebuah persahabatan. Beda boleh tapi tetap bersahabat,” sambung Presiden RI kelima dan Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri. Baca juga: Sukarno-Hatta Saling Menjaga Setelah di luar pemerintahan, Bung Hatta tetap peduli terhadap kondisi negerinya. Itu dibuktikannya dengan berulangkali melayangkan kritik, baik terhadap kebijakan politik maupun ekonomi Bung Karno, lewat surat yang dikirimkan ke presiden. “Pada 1960 Bung Hatta mengkritik bahwa sejak 10 tahun terakhir demokrasi disebutkan telah rusak. Hatta mengatakan bahwa di mana-mana orang tidak puas dengan demokrasi yang dicita-citakan dulu. Saking jengkelnya Bung Hatta menyitir puisi (filsuf Jerman) Friedrich von Schiller tentang diktatorial. Inti puisinya mengatakan bahwa sebuah masa yang besar telah melahirkan abad besar tapi di masa besar itu hanya menemukan manusia kecil,” lanjut eks-anggota MPR itu. Sukarno dan Hatta tetap bersahabat meski sudah terpisah secara politik (ANRI) Terlepas dari kritik dan perbedaan pemikiran, persahabatan keduanya tetap lestari karena bukan lahir dari kepentingan politik. Ikatan batin keduanya sudah begitu lama terjalin sangat mendalam. Meutia menyimpulkan persahabatan abadi itu juga terjadi karena faktor takdir. “Bung Karno dan Bung Hatta itu bukan saja dalam perjuangannya punya gaya berbeda tapi pikirannya satu: buat Indonesia. Mereka berdua itu selalu satu hati dan Bung Hatta selalu mengingatkan mengenai perlunya kita belajar menjaga kesatuan bangsa walau kita berbeda-beda,” lanjut Meutia. Baca juga: Bung Hatta dan Koperasi Ikatan batin keduanya diperkuat lewat saling berbalas budi secara personal sehingga keduanya sudah seperti keluarga. Sebagaimana diketahui bersama, Bung Karno yang memperkenalkan Hatta dengan perempuan yang kemudian menjadi istrinya, Siti Rahmiati. Bung Karno pula yang, karena kesibukan Bung Hatta memimpin sidang kabinet, kemudian menanam ari-ari Meutia usai dilahirkan pada 21 Maret 1947 di belakang rumahnya di Yogyakarta. “Karena kakek saya orang Jawa jadi ada tradisi menanam ari-ari. Tapi Bung Hatta dari Minang tidak punya tradisi begitu dan beliau juga sibuk sidang kabinet. Kami panik dan bingung, tapi keluarlah Bung Karno. Beliau yang menanam ari-ari saya di belakang rumah lalu menyusul Bung Hatta ke sidang kabinet. Jadi, beliau sudah seperti pakde saya. Begitulah kedekatan hati di antara keluarga kami yang tak terlupakan,” kenang Meutia lagi. Bung Hatta dan istrinya, Siti Rahmiati ( nationaalarchief.nl ) Dari kedekatan itu pula Bung Hatta mau jadi wali nikah Guntur Soekarnoputra saat menikahi Henny Emilia Hendayani pada Februari 1970 atau empat bulan sebelum Bung Karno wafat. Kala itu, Bung Karno yang sudah jadi tahanan rumah di Wisma Yaso tidak diizinkan hadir oleh penguasa Orde Baru. “Ibu saya (Fatmawati) minta pada Pak Hatta dan Tante Rahmi untuk mewakili. Pak Hatta tidak pikir dua kali, dia bilang: ‘Oke, kalian kan anak saya juga,’ Itu suatu keindahan tersendiri. Karena saat itu ayah saya ditahan, bahkan kami tak pegang selembar kertas pun yang resmi menyatakan ayah saya statusnya tahanan, enggak ada,” kata Megawati mengenang kepedihan yang menimpa keluarganya. Baca juga: Hatta dan Pernikahan Adat Minang Pada detik-detik terakhir hayat Bung Karno, Bung Hatta tak tinggal diam mendapati sahabat karibnya dengan kondisi memburuk. “Bung Hatta yang inisiatif menyurati Pak Harto dan 11 jam kemudian langsung direspon Pak Harto. Ia mengirim surat minta agar Bung Karno yang kesehatannya tambah parah mohon lekas dikirim ke rumahsakit. Dalam waktu tiga jam Bung Karno dibawa ke RSPAD dikawal Sekmil Pak Tjokropranolo. Bung Hatta turut mengawal disertai sekretarisnya, Pak Wangsa,” ujar Edi. Bung Hatta sejak mundur jadi wapres sering mengkritik Bung Karno ( nationaalarchief.nl ) Di detik-detik terakhir hayat Bung Karno, Bung Hatta datang menjenguk. Didapatinya sahabatnya sudah dalam kondisi memprihatinkan. Tak banyak kata keluar dari mulut kedua proklamator saat itu. Keduanya saling memegang tangan disertai lelehan air mata. Itu jadi pertemuan terakhir kedua “bung” lantaran tak lama kemudian Bung Karno wafat. Ketika kemudian ajal menjemput Bung Hatta pada 14 Maret 1980, Ibu Fatmawatilah yang menabahkan keluarga Bung Hatta. “Ibu Fat ikut kami satu mobil mengantar ayah. Kami sama-sama melihat, mungkin satu juta orang, yang ikut berbaris dari (jalan) Diponegoro ke Tanah Kusir. Ternyata 14 Mei, Bu Fat wafat juga. Lalu selamatan 40 hari meninggalnya Bu Fat, itu juga 100 harinya Bung Hatta di tanggal 21 Juni. Anehnya itu juga jadi 10 tahun wafatnya Bung Karno. Itu saya merasa, seperti Tuhan yang mengatur, sampai momen duka mereka berurutan: 40 harinya Bu Fat, 100 harinya Bung Hatta, dan 10 tahunnya Bung Karno,” tandas Meutia. Baca juga: Pertemuan Terakhir Sukarno-Hatta

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page