Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- KSAD Bambang Sugeng Disetop Polisi
Senja sudah merayap untuk memberi tempat pada sang malam. Sore di tahun 2016 itu, permakaman di tepi Sungai Progo sunyi. Tak ada penjaga apalagi protokoler njelimet untuk memasukinya. Sederhana untuk memasukinya, sesederhana permakaman itu. Kesederhanaan, itulah yang selalu dijadikan prinsip hidup salah seorang penghuni makam itu, yakni Bambang Sugeng. KSAD ketiga dalam sejarah Indonesia itu merupakan panglima sederhana meski punya peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Dia berulangkali berpesan kepada kolega-koleganya agar kelak ketika meninggal tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Padahal, peran Bambang tak kecil. Saat Republik Indonesia diberitakan Belanda telah musnah usai Agresi Militer II, Bambang selaku panglima Divisi III/Jawa Tengah dan Yogyakarta bergerak cepat mengkounter pemberitaan miring itu dengan mengeluarkan Perintah Siasat No. 4/SD/Cop/I tanggal 1 Januari 1949. Perintah itu berisi agar komandan Wehrkreise I Moch. Bachroen, Wehrkreise II Sarbini, dan Wehrkreise III Soeharto mengadakan serangan serentak terhadap Belanda di Yogyakarta. Tujuan serangan, sebagaimana dikatakan TB Simatupang dalam memoar berjudul Laporan dari Banaran , “Dia mau membuktikan bahwa kita mempunyai kekuatan menjadikan kedudukan Belanda di kota tidak bertahan ( onhoudbaar ).” Serangan yang kemudian dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret itu berhasil menarik perhatian dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis. Fakta itu ikut mempengaruhi jalannya diplomasi yang terus diperjuangkan diplomat-diplomat RI di dunia internasional dengan puncaknya pengakuan kedaulatan pada akhir 1949. Peran sentral Bambang kembali terlihat saat menjabat KSAD. Ketika Angkatan Darat (AD) diancam perpecahan pasca-Peristiwa 17 Oktober 1952, Bambang berinisiatif mengumpulkan para perwira AD dalam Konferensi Yogya (Februari 1955). Piagam Keutuhan AD yang dihasilkan konferensi tersebut berhasil mengatasi perpecahan AD. Namun, peran penting tak pernah digunakan Bambang untuk membusungkan dada. Dia tetap hidup bersahaja sebagaimana tahun-tahun sebelum dia memegang jabatan-jabatan penting. Putra keduanya, Bambang Herulaskar, mengisahkan di tahun-tahun awal ketika Bambang Sugeng menjadi KSAD, sang ayah masih sempat meluangkan waktu untuk ikut bermain layang-layang di belakang rumah pada sore sepulang kerja. Mereka biasa bermain layang-layang atau kelereng bertiga dengan sopir Bambang Sugeng. “Tak ada perbedaan anak, bapak, sopir, dan pembantu,” kata Heru dalam testimoninya, “Jangan Gunakan Nama Saya”, yang termuat dalam buku karya Edi Hartoto, Panglima Bambang Sugeng . Heru juga ingat betul ketaatan Bambang pada aturan. Bambang tak suka menyalahgunakan jabatannya untuk keuntungan pribadi atau keluarga. Itu dibuktikan antara lain saat Heru mengutarakan keinginannya melanjutkan pendidikan ke Jepang ketika Bambang menjadi duta besar Indonesia untuk Jepang. Alih-alih memberi privilege kepada Heru, Bambang yang berhasil menyelesaikan masalah pampasan perang dengan hasil berupa beasiswa pendidikan bagi putra-putri Indonesia di Jepang justru mewanti-wanti. “Boleh-boleh saja kamu ke Jepang, tapi kamu harus usaha sendiri dan jangan sekali-kali memakai nama Bambang Sugeng untuk itu,” kata Bambang sebagaimana dikutip Heru. Ketaatan Bambang pada aturan bahkan pernah membuatnya jadi pemberitaan saat mengunjungi Yogyakarta setelah menjadi KSAD. Saat itu, Bambang yang hobi bersepeda motor meminjam sepeda motor kepada kawannya yang pelukis. Dengan motor pinjaman itu Bambang berkeliling ke Malioboro menggunakan pakaian sipil. Saat di lampu merah perempatan Tugu yang sedang berwarna kuning, Bambang melambatkan laju motornya. Lantaran dia yakin sehabis lampu kuning lampu lalu lintas itu bakal menjadi lampu hijau, dia pun langsung menancap gas begitu pergantian lampu terjadi. Sial. Lampu lalu lintas ternyata berganti merah setelah lampu kuning. Bambang yang terlanjur melajukan sepeda motornya langsung kena semprit polisi lalu lintas. Wejangan panjang langsung diberikan polisi itu kepada Bambang yang dilanjutkan dengan permintaan menunjukkan surat izin mengemudi. Bambang langsung mematuhinya dan polisi itu memeriksanya. “Saat melihat identitas pelanggar, pak polisi kaget, rupanya yang diwejangi tadi adalah KSAD, langsung posisi siap hormat. Bapak berkata memang saya salah dan menerima pelajaran dari pak polisi, hal ini masuk berita di koran Yogya, keesokan harinya saya berkesempatan membacanya,” kata Heru.
- Penyebaran Pandemi Ribuan Tahun Lalu
Para arkeolog mengungkap bagaimana caranya penyakit menular pada masa prasejarah dapat menyebar dan menjadi pandemi. Mereka mengemukakan pula konsekuensinya jika pandemi dibiarkan terus meluas. Penelitian bioarkeologi terbaru dari Universitas Otago, Selandia Baru, menunjukkan kemungkinan penyakit menular telah menyebar sejak 4.000 tahun yang lalu. Para peneliti mempelajari sisa-sisa kerangka dari situs arkeologi Man Bac di Provinsi Ninh Binh, Vietnam. Mereka menemukan tanda-tanda infeksi bakteri treponema. Treponema adalah nama genus bakteri. Subspesiesnya yang terkenal adalah penyebab penyakit sifilis dan frambusia atau patek. Disebutkan dalam laman phys.org (21/09/2020) , situs arkeologi Man Bac digali pada 2005 dan 2007. Hasilnya menunjukkan peran Man Bac selama peralihan dari masa berburu-mengumpulkan makanan ke masa bercocok tanam di Asia Tenggara daratan. “(Hasil penggalian, red. ) Sekarang disimpan di Institut Arkeologi Hanoi, sisa-sisa itu telah dipelajari dengan baik tetapi belum dianalisis untuk mencari bukti adanya frambusia,” kataMelandri Vlok,salah satu peneliti dari Departemen Anatomi, Universitas Otago,sebagaimana dikutip phys.org . Supervisornya, ahli biologi terkenal, Prof. Hallie Buckley, melihat kemungkinan gejala frambusia pada foto sisa-sisa rangka di situs itu. Buckley kemudian bergabung dengan tim peneliti yang terdiri dari Vlok dan ahli asal Vietnam. Penelitian di situs Man Bac dimulai pada 2018. Para peneliti pun mengonfirmasi kecurigaan Buckley. Belakangan, Vlok menemukan contoh kedua dari penyakit itu. Jejak Lesi Pada Rangka Vlok dkk. menerbitkan hasil penelitiannya, "Two Probable Cases of Infection With Treponema pallidum during the Neolothic Period in Northern Vietnam (ca. 2000-1500 BC)",dalam jurnal Bioarchaeology International Volume 4 . Mereka tidak mendiagnosis jenis treponema pada rangka yang ditemukan karena sulit diketahui hanya dari kondisi tulangnya.Namun,berdasarkan konteks epidemiologi, sosial, dan lingkungan, mereka menduga manusia di situs itu telah mengenal penyakit frambusia. “Secara iklim, Vietnam berada pada batas garis lintang di mana penyakit frambusia telah terdokumentasi secara historis,” tulis Vlok. Frambusia adalah endemik di Vietnam. WHO melakukan pemberantasan frambusia pada 1950-an. Penyakit ini masih menunjukkan riwayatnya hingga 1990-an. Berdasarkan usia, penyebaran penyakit bukan lewat hubungan seksual . Sebab, lesi (kerusakan jaringan atau tubuh) pada tulang sebagian besar ditemukan pada rangka anak-anak . Infeksi frambusia paling sering terjadi antara usia dua dan 15 tahun. Penyakit ini pada anak-anak menyebabkan lesi kulit yang menular serta memengaruhi tulang dan tulang rawan.Penyebarannya melalui kontak fisik. Kendati penyakit ini mudah disembuhkan pada tahap awal, tapi kalau sudah mengalami kerusakan tulang,tak akan bisa disembuhkan. “Karena itu, frambusia merupakan kandidat yang mungkin untuk penyakit treponema yang ada di Man Bac,” jelas Vlok. Perpindahan Manusia dan Kontak Fisik Bukti arkeologi di Man Bac digunakan untuk melihat penyebaran penyakit ketika populasi yang berbeda bertemu untuk pertama kalinya. Vlok menyebutnya “zona pergesekan”.Di Man Bac, manusia pendukung kebudayaan bertani awal bertemu dengan para pemburu dan pengumpul. “Ini penting, karena situs arkeologi tersebut diperkirakan berusia 4.000 tahun,” jelas Vlok, sebagaimana dilansir Express.co.uk (22/09/2020). Penelitian itu menunjukkan frambusia diperkenalkan ke pemburu-pengumpul di Vietnam oleh populasi petani yang pindah ke selatan dari Tiongkok. Populasi pemburu-pengumpul itu adalah keturunan orang pertama yang keluar dari Afrika, yang bermigrasi ke Asia. Mereka ini yang juga akhirnya mendiami kawasan New Guinea, Kepulauan Solomon, dan Australia. Komunitas pendukung pertanian sudah berada di Tiongkok setidaknya selama 9000 tahun. Namun baru sekira 4000 tahun yang lalu pertanian diperkenalkan ke Asia Tenggara. “Bisa jadi perpindahan orang ini membawa penyakit, termasuk frambusia, pada saat bersamaan,” ujar Vlok. Hipotesisnya, transisi demografis mengakibatkan ketidakstabilan nutrisi. Ini memungkinkan masuknya penyakit menular baru lewat migrasi, dengan konteks sosial dan lingkungan Man Bac yang cocok untuk penyebaran treponema. Sementara itu, percampuran dengan para penjelajah di Vietnam utara memungkinkan penularan lebih lanjut penyakit treponema di seluruh Asia Tenggara daratan. Meskipun demikian, hingga kini belum ada bukti penyakit treponema masa prasejarah pada rangka-rangka yang ditemukan di kawasan Asia Tenggara. “Meski kami menyadari bahwa tidak adanya bukti, bukan berarti tidak ada. Penyakit treponema yang ada di Asia Tenggara daratan mungkin terjadi sebelum transisi ke masa bertani,” jelas Vlok. Pun tak ada indentifikasi penyakit menular lainnya, seperti TBC atau kusta, sebelum era ini di kawasan Asia Tenggara daratan. Padahal penelitian bioarkeologi sudah intensif dilakukan. “Bukti penyakit menular di Asia Tenggara daratan meningkat pesat dari zaman perunggu dan besi,” lanjut Vlok. Kini, frambusia sudah berhasil diberantas di sebagian besar dunia. Namun,frambusia masih lazim di wilayah Pasifik Barat yang menginfeksi sekira 30.000 orang. “Meskipun frambusia tidak lagi menjadi masalah medis di sebagian besar dunia, frambusia tetap lazim di Pasifik Barat, memengaruhi ribuan orang,” kata Vlok. Para arkeolog percaya lamanya penyakit berjangkit di suatu wilayah penting untuk diketahui. Artinya penyakit ini sulit diberantas. “Ini penting, karena mengetahui lebih banyak tentang penyakit ini dan evolusinya, itu mengubah cara kita memahami hubungan orang-orang dengannya,” jelas Vlok. Menurut Vlok, jika suatu penyakit menular sudah berjangkit selama ribuan tahun, mungkin penyakit itu sudah begitu berkembang dan menjadi cocok dengan manusia. Seperti dalam kasus penyakit frambusia.Ini pelajaran berharga dari masa lalu, mengingat kini dunia tengah menghadapi penyakit menular Covid-19. “Arkeologi adalah satu-satunya cara untuk mendokumentasikan berapa lama suatu penyakit telah bersama dan beradaptasi dengan kita,” ujar Vlok. Sekarang, kata Vlok, virus Covid-19 begitu hebat beradaptasi dengan manusia. Padahal treponema sudah lebih lama bersama dengan manusia. Karenanya penelitian ini bisa menunjukkan apa yang akan terjadi jika tidak ada tindakan berarti terhadap suatu penyakit menular. “Ini adalah pelajaran tentang apa yang penyakit menular dapat lakukan pada suatu populasi jika dibiarkan menyebar secara luas,” tegas Vlok. Vlok pun meny ebut pentingnya segera intervensi karena penyakit dapat sangat cepat beradaptasi dengan manusia dan menyebar.
- Kala Amerika Serikat Merambah Hindia Belanda
Petualngan orang-orang Amerika Serikat (AS) menuju jaringan pelayaran dunia sekurang-kurangnya baru dimulai pada dekade terakhir abad ke-18. Setelah melalui konflik yang panjang dengan Inggris, AS akhirnya mampu turut meramaikan jalur perdagangan ke belahan bumi bagian timur. Mereka menjadi pesaing terberat bangsa-bangsa di barat Eropa. Sebagai bangsa yang baru merdeka, terbukanya jaringan dagang tersebut menjadi kunci orang-orang AS membangun negeri mereka. Menurut Jeremy Osborn dalam “India and the East India Company in the Public Sphere of Eighteen-Century Britain” dimuat The Worlds of the East India Company , informasi tentang perdagangan di wilayah Asia sudah lama diketahui AS dari berita dan laporan-laporan pemerintah Inggris. Begitu revolusi usai, para pedagang AS segera mengembangkan layar, tanda dimulainya penjelajahan menelusuri jalur perdagangan menuju Hindia Timur. “Dalam membina hubungan dengan kekuatan kolonialis-kolonialis dunia ketika itu, meski AS menentang prinsip kolonialisme sesuai dengan pengalaman sejarahnya, tidak ada usaha-usaha resmi dari pemerintah AS untuk membebaskan wilayah-wilayah kolonial yang ada,” tulis Yuda B. Tangkilisan dalam “Ekonomi Politik dan Diplomasi: Studi Pendahuluan Mengenai Persetujuan Awal antara Amerika Serikat dan Belanda” dimuat Kongres Nasional Sejarah 1996 . Sikap itu juga ditunjukkan AS ketika tiba di Hindia Belanda. Meski praktek kekejaman tepat berada di depan mata, pemerintahannya tidak menunjukkan niat mencampuri urusan negeri-negeri koloni milik para adidaya Eropa. Terlebih kepentingan AS di koloni Belanda itu tidak lebih hanya untuk persinggahan dalam menjalin hubungan dagang dengan jaringan pasar di Timur Jauh, terutama Kanton yang merupakan target utama mereka. Sambutan Dingin Hindia Belanda Dicatat James T. Collins dalam Sejarah Bahasa Melayu: Sulawesi Tengah , kapal dagang AS, Hope , yang berlayar dari New York tiba di pelabuhan Batavia pada 1786. Kapal mengangkut cukup banyak saudagar AS, termasuk seorang penumpang penting Samuel Shaw, konsul AS di Kanton. Pada kesempatan itu, pemerintah Hindia Belanda memberi akses kepada orang-orang AS ke seluruh pelabuhan Batavia, dengan syarat AS tidak melakukan transaksi gelap dengan para saudagar di sana. Namun pada kedatangan kapal dagang yang kedua di Hindia Belanda sekira tahun 1790 rupanya AS tidak lagi dianggap penting oleh pemerintah Hindia Belanda. Malah sambutannya saat itu terkesan dingin. Oleh para saudagar pelabuhan, perwakilan AS diberitahu bahwa keistimewaan terhadap mereka telah dicabut. AS tidak diizinkan melakukan bongkar muat di Batavia. Kondisi itu, kata Yuda, sangat jauh berbeda dengan wilayah koloni Inggris. Di sana, para utusan AS memperoleh banyak kemudahan. Mereka bahkan diperlakukan sebagai bangsa yang paling disukai. Sementara di Hindia Belanda, para utusan itu menemui kesulitan-kesulitan dalam menjalin hubungan ekonomi. “Di Hindia Belanda mereka harus menghadapi kenyataan bahwa di koloni Belanda tidak ada privilege semacam itu. Mereka diperlakukan sama seperti pedagang-pedagang asing lainnya,” tulis Yuda. Akibatnya, sempat terjadi ketegangan antara AS dengan pemerintah HIndia Belanda. Para pedagang AS menuntut perlakuan layak, sementara Hindia Belanda tidak bisa mudah mengabulkannya sebab AS sendiri tidak memiliki nilai lebih di mata mereka dalam urusan perdagangan. Komoditas yang dibawa AS kebanyakan tidak laku di pasaran. Untuk menyelesaikan perselisihan itu, kedua pihak sepakat mengadakan perundingan. Meski tetap saja pihak AS ada dalam kondisi tidak menguntungkan. Konsul Shaw lalu melaporkan perlakuan itu ke atasannya di Washington. Protes pun langsung dilayangkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah AS menagaggap Hindia Belanda telah melanggar kesepakatan tentang kebijakan perdagangan internasional. Namun pihak Belanda menyangkal, dengan mengatakan kondisi serupa juga dialami bangsa asing lainnya di Batavia, tidak hanya AS. “Sebenarnya kebijakan tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan dagang VOC yang mulai merosot menjelang akhir abad ke-18,” ungkap Yuda. Tragedi Dagang di Aceh Terbukanya jalur perdagangan untuk AS di Hindia Belanda terjadi saat orang-orang Belanda mulai terdesak oleh kehadiran armada Inggris. Juga saat VOC menghadapi kehancurannya pada awal abad ke-19. Para pedagang AS lalu membuka kesempatan menguasai perdagangan di tanah Sumatera, di beberapa daerah yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda. Pada 1790, seorang pelaut AS membawa pulang sekapal penuh muatan lada dari Sumatra. Dia meraup keuntungan lebih dari 700%. Lada memang menjadi komoditas utama pelabuhan Sumatra. Pada 1803, sebanyak 21 kapal AS merapat di wilayah Kuala Batu, Aceh. Mereka datang untuk menguasai jaringan perdagangan lada di sana. “Monopoli itu memungkinkan kapal-kapal AS untuk memperoleh keuntungan yang besar, yang mana tampak sejak tahun 1820 sekitar 40 kapal AS dengan muatan masing-masing mencapai 200 ton setiap tahunnya berlayar ke dan dari Kuala Batu,” tulis Yuda. Keberadaan AS di Kuala Batu berujung tragedi. Pada 1830-an antara penduduk setempat dan pelaut AS terlibat pertempuran. Banyak orang menjadi korban. Dicatat David Foster Long dalam Gold Braid and Foreign Relations: Diplomatic Activities of U.S. Naval Officers 1798-1883 , sebanyak 450 warga Kuala Batu, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas. Sementara jumlah korban di pihak Amerika tidaklah banyak. Serangan AS itu merupakan peringatan bagi penduduk Kuala Batu yang dianggap mengganggu kepentingan dagang mereka. Padahal, menurut Robeth Booth dalam Death of an Empire: The Rise and Murderous Fall of Salem, America’s Richest City , ketegangan terjadi karena banyak pemimpin Kuala Batu yang dicurangi oleh para pedagang AS. Setelahnya, arus kapal-kapal dagang dari Salem ke Aceh kian masif dilakukan untuk meraup seluruh lada di tempat itu.
- Lambatnya Penanganan Pandemi Flu Spanyol di Hindia Belanda
Pemerintah penting sekali memahami pandemi di masa lalu. Pengalaman menghadapinya dapat dijadikan pelajaran berharga dalam menangani pandemi Covid-19. Khususnya pengalaman ketika pandemi Flu Spanyol melanda dunia termasuk Indonesia ketika berada di bawah pemerintah kolonial Hindia Belanda. "Banyak yang bisa dipelajari, dampaknya (Flu Spanyol, red. ) juga luar biasa. Kalau sudah pernah mengalami, sudah ditulis dengan bagus, banyak sumber yang bisa dipelajari kemudian disebarluaskan, kita tak perlu mulai dari zero . Kita hidup dalam pandemi justru harus takut kalau tidak tahu apa-apa," kata Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dalam dialog sejarah "Riwayat Pandemi dari Masa ke masa" yang disiarkan langsung di Youtube dan Facebook Historia.id , Kamis, 24 September 2020. Baca juga: Wabah-Wabah Penyakit Pembunuh Massal Hera mengatakan, waktu Flu Spanyol menyerang pada awal abad ke-20, sudah muncul ide dan pemikiran bahwa kerumunan akan menyebarkan penyakit. "Ketika itu pun ada larangan untuk berkumpul," ujar Hera. Sayangnya, kata sejarawan Ravando Lie, pemerintah Hindia Belanda lambat merespons pandemi Flu Spanyol. Tak ada strategi pencegahan awal yang dilakukan sehingga banyak korban berjatuhan. "Kasus di Indonesia menurut saya agak sedikit memprihatinkan. Padapelaksanaannya tak ada strategi apapun oleh pemerintah kolonial," ujar Ravando. Mortalitas Tak Lazim Ravando menjelaskan, dari seluruh pandemi influenza yang pernah dikenal, Flu Spanyol yang paling terkenal. Dalam waktu singkat, penyakit ini diduga menginfeksi 500juta atau sepertiga populasi dunia. Tingkat kematiannya 20 persen dari total yang terjangkit. "Untuk ukuran influenza, angka mortalitas (kematian, red .) 20 persen sangat tak lazim. Kalau merujuk pada pandemi influenza sebelumnya , biasanya hanya membunuh 0,2 persen dari total populasi yang terjangkit," kata Ravando . Baca juga: Seabad Flu Spanyol Ketika pandemi Flu Spanyol terjadi pada 1918–1919, Perang Dunia I tengah berkecamuk. "Diduga dalam waktu empat bulan, penyakit ini lebih membunuh ketimbang black death yangmembunuh korbannya dalam empat tahun," kata Ravando. Melihat penyebarannya di dunia, Flu Spanyol terbagi menjadi tiga gelombang. Pertama,Maret–Agustus 1918, korbannya masih cenderung sedikit. Kedua, November–Desember 1918,puncak transmisi Flu Spanyol sehingga jumlah korbannya semakin masif.Ketiga, Desember 1918–Februari 1919, pandemi mulai mereda mungkin karena imunitas masyarakat mulai terbentuk. Perawat sedang menangani pasien Flu Spanyol di Walter Reed Hospital, Washington D.C., Amerika Serikat. (Wikimedia Commons). ResponsLambat Pemerintah kolonial Hindia Belanda sempat bersikukuh Flu Spanyol bukan penyakit berbahaya, sehinggatak menyiapkan strategi untuk menghadapinya. "Kalaupun kemudian merebak para dokter , pemerintah kolonial melihatnya hanya sebagai flu biasa yang dianggap tak berbahaya," kata Ravando. Kenyataannya koran-koran banyak memberitakanbagaimana pandemi menjangkiti masyarakat di Jawa dan Sumatra. Misalnya, koran Sin Po melaporkanpenyakit ini meneror Medan dan menyebar ke seluruh Sumatra dan Jawa. Bahkan, diberitakan 60 polisi di Medan terjangkit dan 100 kuli Tionghoa meninggal dunia. Baca juga: Flu dan Penyakit Menular Zaman Kuno Padahal,konsulat Belanda di Hongkong dan Singapura telah memperingatkan kemungkinan pandemi Flu Spanyol menyerang Hindia Belanda. Pemerintah kolonial pun disarankan untuk memperketat pengawasan di pelabuhan. "Karena ini jadi tempat turun naik penumpang dan diduga kalau tak diperketat penyakit akan menyebar dengan masif," kata Ravando. Di wilayah lain, seperti Singapura, pencegahan dimulai dengan penutupan sementara sekolah dan fasilitas umum yang memicu keramaian. Kemudian tenaga medis bergerak. Para dokter menjemput pasien yang terjangkit lalu mengirimnya ke tempat karantina untuk diawasi ketat. Baca juga: Ramuan dan Roh Jahat Penyebab Flu Terlambatnya pemerintah kolonial merespons pandemi membuat masyarakat kebingungan. Tak heran upaya mereka menghindari wabah dengan obat-obatan herbal hingga cara kultural seperti arak-arakan. "Obat-obatan jadi solusi dan dipromosikan juga oleh koran-koran sezaman. Banyak juga kemudian berita hoaks bermunculan," kata Ravando. Polisi di Seattle, Amerika Serikat, memakai masker yang dibuat oleh Palang Merah selama pandemi Flu Spanyol, Desember 1918. (Wikimedia Commons). Pemerintah kolonial baru melakukan upaya signifikan dengan membentuk Influenza Commissie pada 16 November 1918. Komisi ini bertugas menginvestigasi akar penyebaran dan gejala dari Flu Spanyol. Kebijakan yang dihasilkan di antaranya imbauan untuk mengenakan masker hingga pendistribusian obat antiinfluenza. Dibentuk pula Influenza Ordonnantieuntuk mengatur kegiatan di pelabuhan, mulai dari proses naik turun penumpang hingga bongkar muat barang. Bagi pelanggar peraturan dikenakan hukuman denda dan penjara. Baca juga: Sebuah Pamflet, Sebuah Panduan dalam Menghadapi Flu Menurut Ravando, rancangan peraturannya sudah diselesaikan oleh Dr. W. Thomas de Vogel dan timnya sejak 1919. Namun,pelaksanaannya menghadapi kendala karena di protes oleh para pelaku usaha yang mengganggap peraturan itu mematikan bisnis mereka. Akibatnya, peraturan itu baru disahkan pada 1920 ketika korban sudah mencapai 1,5juta jiwa, atau menurut data terbaru korbannya 4,3juta jiwa. "Di sinilah kebingungan yang dialami pemerintah kolonial," ujar Ravando. Baca juga: Penerjunan Tenaga Medis pada Wabah di Hindia Belanda Hingga kini proses memahami pandemi Flu Spanyol belum bisa dibilang tuntas. "Kita perlu memahami epidemiologinya. Ini belum selesai. Jadi, pandemi 1918 itu juga terus dipelajari apa yang terjadi. Virusnya sudah bisa dipelajari sekarang.Lalu karakternya dan pola penyebarannya," kata Hera. Penyakit menular, kata Hera, bisa dibilang merupakan pendamping setia manusia, termasuk yang terjadi sekarang. Kendati seakan wajar hidup di tengah berbagai penyakit menular, bukan berarti kita membiarkan begitu saja penyakit itu berjangkit hingga menjadi lebih dominan. Kitaharus terus mengenalisi pendamping itu. "Kita yang mengontrol, bukan mereka," kata Hera. " Yang kita lakukan harusnya berbicara pandemi dulu yang sekarang dan kemungkinan yang akan datang. Belajarlah dari sejarah."
- Feminisme dalam Enola Holmes
ENOLA Holmes (diperankan Millie Bobby Brown) sudah jadi anak yatim sejak balita setelah ditinggal mati sang ayah. Dibesarkan sendiri oleh sang ibu, Eudoria (Helena Bonham Carter), Enola tak hanya dididik intelektualitasnya dengan beragam literasi, namun juga ditempa kemampuan fisiknya dengan berlatih tenis, pertarungan pedang, hingga beladiri tangan kosong jujitsu . Adik detektif partikelir kondang Sherlock Holmes itu juga diajarkan banyak hal tentang pemecahan teka-teki, utamanya kode-kode terenkripsi dari kata-kata acak. Ia “dilatih” sang ibu untuk dibentuk jadi Sherlock perempuan. Semua yang diajarkan sang ibu ternyata sangat penting ketika Enola ditinggal pergi Eudoria kala usianya baru genap 16 tahun. Scene-scene informatif di atas dikombinasikan dengan klip-klip komikal digulirkan sineas Harry Bradbeer dengan cepat dalam lima menit, menjadi preambul film misteri dan dark comedy bertajuk Enola Holmes . Film ini diadaptasi dari salah satu seri novel detektif The Enola Holmes Mysteries karya Nancy Springer. Alur cerita lantas beringsut pada kepulangan kedua kakak Enola ke Ferndell Hall dari London. Kedua kakak itu adalah si sulung Mycroft Holmes (Sam Claflin), yang menjadi pejabat pemerintah, dan Sherlock Holmes (Henry Cavill), detektif yang sedang melejit kariernya. Sejak itu hidup Enola berubah. Baca juga: The Two Popes , Dua Paus dalam Sejarah Kelam Mycroft yang jadi wali Enola menghendaki Enola tumbuh menjadi perempuan terhormat dengan masuk sekolah kepribadian pimpinan seorang guru “killer” Nona Harrison (Fiona Shaw). Enola jelas berontak. Selama ini ia dididik sang ibu bukan untuk hidup jadi perempuan terkekang sebagaimana perempuan lain. Enola yang lebih berambisi bertualang sembari mencari ibunya yang menghilang lalu kabur dari rumah berbekal sejumlah petunjuk yang ditinggalkan ibunya. Dalam perjalanannya, Enola bersua Marquess of Basilwether (Louis Partridge), bangsawan muda yang juga tengah kabur dari wajib militer Viscount Tewksbury. Lantas? Lebih baik Anda tonton sendiri seperti apa keseruan petualangan investigasi Enola yang bahkan bakal menandingi kejeniusan sang kakak Sherlock. Enola Holmes sudah tersedia di layanan streaming daring Netflix sejak Rabu, 23 September 2020. Adegan Enola Holmes dilatih beragam ketangkasan oleh sang ibu, Eudoria. ( legendary.com / netflix.com ). Hak Kesetaraan Perempuan Dengan diiringi scoring musik dari komposer Daniel Pemberton, keseruan aksi-aksi dalam Enola Holmes begitu terasa. Pun ketika plot film dibawa ke dalam adegan-adegan sendu dan sentimentil macam saat Enola dan kedua kakaknya maupun beberapa adegan jenaka kala Enola bersama Lord Tewksbury. Lewat adegan per adegan, sutradara Bradbeer berupaya mengajak penonton masuk ke dalam aksi-aksi investigasi Enola terkait isu kesetaraan gender dalam hak politik. Bradbeer memang tak menerangkan titimangsa latarbelakang Kerajaan Inggris saat itu, namun sedikit demi sedikit penonton bisa menebak eranya adalah kurun 1880-an di mana gerakan feminis sudah mulai muncul. Dua petunjuk kentara soal titimangsa itu adalah kala Enola kabur dengan menaiki Benz Patent-Motorwagen. Kendaraan bermotor ciptaan Karl Benz itu merupakan mobil produksi massal pertama di dunia, 1885. Mobil itu diciptakan Karl Benz dan istrinya, Bertha Benz. Bertha pada Agustus 1888 menjadi pionir perempuan dalam industri otomotif sebagai pengemudi mobil jarak jauh. Dia berhasil berkendara 105 kilometer dengan rute Mannheim-Heidelberg-Wiesloch-Pforzheim. Bertha juga jadi penemu kampas rem, yang digunakan di mobil Benz Patent-Motorwagen. Baca juga: Kisah Ken Miles di Balik Ford v Ferrari Petunjuk lain adalah artikel di sejumlah koran dan pamflet yang ditemukan Enola, di mana turut termaktub artikel tentang isu Reform Bill/Representation of the People Act yang tengah diperdebatkan dalam House of Lords (Parlemen Kerajaan Inggris). Tokoh Lord Tewksbury jadi sosok sentral soal isu ini lantaran punya pemikiran politik baru bagi Inggris. Dia berulang-kali diselamatkan Enola dari upaya pembunuhan. “Film ini membuat kita melihat lagi (isu) feminisme di masa-masa awal dari era 1840-an hingga 1880-an. Saya sendiri senang bisa menggali lagi akar sejarah pergerakan feminisme awal dan bagaimana perkembangannya. Dengan cara ini saya merasa bisa membawa dimensi lagi soal ketertarikan saya tentang gerakan-gerakan feminis,” ujar Bradbeer dalam wawancaranya via Zoom dengan PTI , dikutip The Week , Selasa (22/9/2020). Bertha Benz dengan mobil Benz Patent-Motorwagennya ( mercedes-benz.com ). Gelombang pertama gerakan feminisme di Inggris (1839) bertolak dari tragedi yang menimpa Caroline Norton. Ia tak punya hak menggugat cerai suaminya dan tak diizinkan mendapat hak asuk ketiga anaknya dari sang suami yang seorang anggota parlemen, George Chapple Norton. Menukil Until They Are Seven, The Origins of Women’s Legal Rights karya John Wroath, Caroline melancarkan protesnya kepada parlemen lewat sejumlah pamflet dan puisi. “Pamflet-pamflet yang disebarkan Caroline berisi argumentasi bahwa para ibu punya hak dasar terhadap anak-anaknya, hingga menimbulkan perdebatan di kalangan politisi parlemen,” tulis Wroath. Baca juga: Captain Marvel , Antara Nostalgia dan Isu Feminisme Kampanye-kampanye Caroline akhirnya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya Custody of Infants Act of 1839 atau Undang-Undang (UU) Hak Asuh Anak di Bawah Umur tahun 1893. Itu jadi “kemenangan” tersendiri bagi gerakan feminisme awal. Dalam UU tersebut, perempuan berhak menggugat cerai dan pihak ibu diizinkan mendapat hak asuh anak, setidaknya hingga sang anak berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, gerakan feminisme kian menjamur menuntut kesetaraan gender di bidang edukasi, lapangan pekerjaan, hingga hak properti untuk perempuan. Bagaimana dengan hak perempuan dalam demokrasi dan memiliki hak suara dalam politik? Adegan Enola bersama Viscount Tewksbury, Marquess of Basilwether saat memecahkan investigasi upaya pembunuhannya. ( netflix.com ). Petunjuk soal itu dalam Enola Holmes berpusar pada sosok sang ibu, Eudoria, yang bersama sejumlah aktivis perempuan berencana mewujudkan rencana berbau kekerasan. Di akhir cerita, Bradbeer menguraikan bahwa figur Lord Tewksbury kemudian jadi aristokrat penting di balik lolosnya Representation of the People Act (UU Perwakilan Rakyat). Namun jika dicocokkan dengan setting waktunya, maksud dari lolosnya UU itu adalah UU Perwakilan Rakyat yang dikeluarkan pada Juni 1884. Perubahan radikal dalam UU tersebut adalah diberikannya hak pilih bagi para buruh tani di seantero Inggris dan Wales, baik di kota-kota besar maupun kota-kota kecil, sebagai perluasan UU serupa pada 1867. Baca juga: Sepakbola Tanpa Batas Gender Dalam UU Perwakilan Rakyat sebelumnya, hak pilih hanya diberikan kepada pemilik properti di kota-kota besar dengan nilai minimal 10 poundsterling dan penyewa properti dengan nilai sewa tahunan juga 10 pounds. UU Perwakilan Rakyat 1884 itu digalang para politisi oposisi liberal pimpinan Joseph Chamberlain. “UU ini adalah revolusi terbesar yang pernah dijalani negara ini,” kata Chamberlain usai UU itu disahkan, dikutip Norman Lowe dalam Mastering Modern British History. Organisasi feminis Women’s Social and Political Union pada tahun 1910. ( museumoflondon.org.uk ). UU Perwakilan Rakyat 1884 melejitkan jumlah pemilih hingga 60 persen dari sebelumnya. Namun, UU itu belum bersifat universal lantaran hak pilih perempuan masih dikesampingkan. Perkara itulah yang jadi misteri, di mana Bradbeer memberi kesempatan pada para penonton untuk menelaah pengaruh UU tersebut lewat adegan penutup Enola Holmes berupa pertemuan kembali Enola dengan ibunya walau hanya untuk sesaat. Sang ibu masih punya obsesi memperjuangkan apa yang disisihkan para politisi parlemen dalam UU Perwakilan Rakyat 1814. Para aktivis feminis yang sebelumnya masih bergelut dengan hak-hak buruh perempuan, mulai menengok hak pilih mereka dalam politik. Women’s Social and Political Union (WSPU) yang dibidani Emmeline Pankhurst dan kedua putrinya, Christabel dan Sylvia, sejak 10 Oktober 1903 mempelopori upaya tersebut. Selain menggalang pendukung dari para perempuan lewat pertunjukan-pertunjukan teater dan aksi mogok makan, WSPU beberapakali bikin onar dan bertindak vandalis seperti melempari kaca jendela-jendela gereja atau membakar kotak-kotak pos dalam perjuangan tuntutannya. Aksi-aksi menggegerkan itu diharapkan bisa membuat tuntutan-tuntutan politik mereka didengar. Baca juga: Lyudmila Pavlichenko Sniper Kondang Uni Soviet Bagi sejarawan Martin Pugh, kekerasan-kekerasan macam itu justru dianggap menodai tujuan mulia mereka. “Militansi macam itu jelas merusak tujuan utama. Efek dari militansi itu malah jadi langkah mundur dari tujuan politik untuk perempuan memiliki hak pilih,” tulis Pugh dalam State and Society: A Socual and Political History of Britain Since 1870 . Masyarakat dan aparat yang resah lalu membuat perhitungan kala sekitar 300 aktivis perempuan WSPU berdemonstrasi dan melakukan longmarch dari Caxton Hall menuju Gedung Parlemen pada Jumat, 19 November 1910. Di depan gedung parlemen, para demonstran WSPU dicegat barisan aparat polisi. Ketegangan terjadi dan 300 demonstran feminis itu diserang, dipukuli dengan tongkat-tongkat polisi. Sejumlah pria yang kebetulan berada di lokasi turut serta menyerang para demonstran. Emmeline Pankhurst (kiri) pelopor WSPU & Ada Wright (kanan) saat dipukul polisi dalam headline The Daily Mirror edisi 19 November 1910 kala terjadi Insiden "Black Friday". ( museumoflondon.org.uk ). Sebanyak 112 demonstran lantas ditangkapi. Puluhan korban pihak demonstran mengaku juga sempat mengalami pelecehan seksual. Namun tuntutan untuk penyelidikan tentang kebrutalan polisi dan pelecehan seksual dalam peristiwa yang dikenal sebagai Black Friday itu ditolak Menteri Dalam Negeri Winston Churchill. Selain WSPU, kelompok feminis yang memperjuangkan hak perempuan adalah National Union of Women’s Suffrage Societies (NUWSS). Kelompok yang didirikan Millicent Fawcett pada 1897 ini memilih jalan konstitusional dalam perjuangannya. NUWSS berjuang dengan lobi-lobi politik di parlemen meski sempat vakum akibat Perang Dunia I (28 Juli-11 November 1918). Sepuluh bulan jelang Perang Dunia I berakhir parlemen akhirnya mulai melunak soal tuntutan hak pilih untuk perempuan. Keputusan itu berangkat dari fakta kaum perempuan terbukti menjadi “tulang punggung” dalam upaya militer Inggris menghadapai Kekaisaran Jerman dalam medan perang. Saat banyak warga laki-laki dimobilisasi, kaum perempuanlah yang berjibaku dalam pertanian untuk logistik pasukan di berbagai wilayah. Mereka juga bekerja di pabrik-pabrik persenjataan, bahkan turun di medan perang sebagai perawat dan juru masak di markas-markas militer. Baca juga: Bukan Churchill Biasa Upaya para aktivis perempuan akhirnya membuahkan hasil pada 6 Februari 1918 dengan dikeluarkannya Representation of the People Act 1918 (UU Perwakilan Rakyat 1918) sebagai perluasan UU 1884. Dalam UU baru, semua pria berusia 19 tahun, termasuk prajurit dan pelaut, serta perempuan berusia minimal 30 tahun punya hak memilih dan dipilih. “Reform Bill Passed: Women’s Vote Won,” demikian judul berita suratkabar Manchester Guardian edisi 7 Februari 1918. “UU Perwakilan Rakyat yang telah menggandakan jumlah pemilih, memberi parlemen tambahan suara sekitar enam juta pemilih perempuan,” demikian potongan beritanya. UU tersebut jadi tonggak pertama hak kesetaraan gender dalam politik. Lantas lewat Pemilu 14 Desember 1918, Countess Constance Markievicz, anggota NUWSS, jadi perempuan pertama yang duduk di Parlemen Inggris dengan daerah pemilihan Dublin St. Patrick’s. Data Film Judul: Enola Holmes | Sutradara: Harry Bradbeer | Produser: Mary Parent, Alex Garcia, Millie Bobby Brown, Paige Brown | Pemain: Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Helena Bonham Carter, Sam Claflin, Fiona Shaw, Frances de la Tour, Louis Partridge | Produksi: Legendary Pictures, PCMA Productions | Distributor: Netflix | Durasi: 123 Menit | Rilis: 23 September 2020 (Netflix).
- Susuk di Zaman Hindu Buddha
Belum lama ini jagat media sosial Indonesia kembali dibuat ramai dengan sebuah kisah berbau mistik dari salah seorang pengguna Instagram (@tasyabira). Unggahan yang dimuat ulang akun Twitter @yozerxx itu berisi hasil pemindaian x-ray seorang pasien yang memperlihatkan susuk dengan jumlah yang amat banyak. Pemilik akun @tasyabira diketahui tengah mengerjakan studi kasus tentang kepemilikan susuk seorang pasien berusia 55 tahun yang terdeteksi alat pemindai kesehatan. Dia mendapati di dalam tubuh pasien itu bertebaran ratusan jarum kecil di bagian perut, serta tiga buah di bagian mulut dan gigi. Menurutnya, susuk jarang menimbulkan komplikasi sehingga terkadang tidak terdeteksi di mesin pemindai kesehatan. Kalaupun terlihat, itu terjadi secara kebetulan. Dan biasanya ketika diambil foto x-ray kembali, letak susuk itu akan berubah. Susuk umumnya terbuat dari bahan emas atau tembaga, jadi bisa terlihat di mesin x-ray . “Terus nih, menurut kepercayaan sebagian orang kalo dia ketahuan pake susuk, bisa-bisa susuk itu jadi ga manjur lagi, makanya pasien-pasien ini kadang gamau ngaku karena itu sebabnya, juga karena malu of course ,” tulis @tasyabira. “Dokternya juga lebih memilih diam aja kalo kasusnya begini selama susuk ini ga bermasalah buat kesehatan si pasien.” Sebagian masyarakat Indonesia, percaya atau tidak, memang masih mengandalkan susuk untuk media memperindah diri. Namun rupaya pemakaian susuk tidak hanya ditujukan bagi paras manusia semata, tetapi juga dikenal di dalam tradisi Hindu Buddha. Istilah “susuk” digunakan untuk menandakan sebuah tempat suci. Uniknya, baik susuk yang ditanam di dalam tubuh manusia, maupun susuk yang ditanam di tanah sebagai penanda sebuah tempat suci, sama-sama dipercaya memiliki daya magis. Menjadi bagian dari keyakinan yang dipertahankan masyarakat. Tanda Lokasi Suci Pada era kekuasaan Hindu Buddha di Nusantara, setiap daerah memiliki sebuah lokasi yang dianggap suci oleh masyarakat di sekitarnya. Sebuah tempat yang tidak bisa dimasuki sembarang orang. Di dalam naskah kuno, serta prasasti, tempat itu dikenal sebagai sima . Menurut Timbul Haryono dalam “Sang Hyang Watu Teas dan Sang Hyang Kulumpang: Perlengkapan Ritual Upacara Penetapan Sima pada Masa Kerajaan Mataram Kuna” dimuat Humaniora No. 12 Tahun 1999, kata ‘ sima ’ berasal dari bahasa Sansekerta ‘ siman ’ yang artinya batas, tapal batas. Secara harfiah, sima berarti sebidang tanah sawah atau kebun yang telah diubah statusnya menjadi wilayah perdikan atau swatantra sehingga para petugas pemungut pajak tidak boleh melakukan kegiatannya di wilayah tersebut. Biasanya tanah sima menjadi lokasi bangunan suci. “Penetapan tanah menjadi sima merupakan peristiwa yang amat penting di dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno karena sejak saat itu terjadi perubahan pertanggungjawaban. Semula penduduk bertanggung jawab kepada raja, setelah tanahnya ditetapkan menjadi sima maka mereka bertanggung jawab kepada kepala sima ,” tulis Haryono. Di setiap lokasi sima yang suci itu akan dijumpai sebuah penanda berupa prasasti, atau di beberapa tempat dijumpai tanda lokasi hanya berbentuk batu yang ditancapkan ke tanah. Di beberapa prasasti, seperti Prasasti Tihang 836 S di era Mataram Kuno, penanda lokasi sima disebut sang hyang watu sima . Namun di prasasti lain dijumpai penyebutan lain, yakni susuk sima . Batu penanda itu, imbuh Timbul, kemungkinan bentuknya menyerupai lingga dan ditempatkan di tengah-tengah tempat upacara. Pemakaian susuk juga dilakukan untuk menandai batas tanah yang sudah ditetapkan menjadi sima . Di dalam prasasti dijumpai sebutan wungkal susuk sima. Fungsinya sama seperti batu patok, yang keberadaannya sangat penting. Batu itu ditanam di pinggiran sekitar lokasi sima . Dalam Prasasti Peradah 865 S disebutkan: “ … I tlas sang wahuta hyang kudur umaratistha sang hyang wungkal susuk ing sahinga (iparadah i) tagi.” artinya “setelah sang wahuta hyang kudur menancapkan batu sima di batas (sudut) tanah sima (di Pradah) dan di Tagi”. Arkeolog R. Soekmono dalam The Javanese Candi : Function and Meaning , menyebut bahwa di dalam beberapa prasasti tertulis istilah susukyang merujuk pada lokasi tanah sima , baik menunjukkan pusat maupun batas tempat suci tersebut. “Fakta bahwa sebuah batu menandai pusat sima menimbulkan pertanyaan apakah penanda lain ada di batas luar. Meskipun orang mungkin berpikir bahwa penanda seperti itu tidak penting sebagai inti batu, tidak memerlukan ritual terpisan,” ucapnya. Tidak hanya di dalam prasasti, susuk juga tertulis di dalam naskah kuno. Di dalam penelitian sastra Jawa Tantu Panggelaran, Kajian Mitos dan Nilai Budaya dalam Tantu Panggelaran , Dwi Ratna Nurhajarini dan Suyami menemukan istilah susuk juga dipakai sebagai penanda sebuah tempat bagi orang-orang suci. Naskah Tantu Panggelaran sendiri merupakan buku panduan tentang bangunan suci di Pulau Jawa. Dalam karya sastra yang ditulis pada 1557 dalam bentuk prosa itu didapati istilah susuk sina brata , yang dianggap sebagai “batu suci penanda lahan bebas untuk bertapa”. Keberadaan susuk itu juga menandai sebuah tanah larangan ( bathara ) di wilayah Sang Hyang Mahameru untuk tempat berdiam orang-orang suci. “Tampaknya sima dibatasi secara magis-religius dengan ritual penempatan batu di tengahnya dan pilar batu di perbatasannya,” tulis Soekmono.
- Para Pemuda yang Diciduk Usai Rapat Raksasa di Lapangan Ikada
Rapat raksasa di Lapangan Ikada (sekarang kompleks Monumen Nasional), Jakarta pada 19 September 1945 berlangsung suskes. Tanpa menghiraukan ancaman militer Jepang yang masih berkuasa, sekitar 200.000 orang (versi Bung Karno: satu juta orang) datang dari berbagai pelosok Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Tangerang, Purwakarta, Sukabumi, dan Cianjur. Mereka memamerkan dukungan maksimal kepada pemerintahan Republik Indonesia pimpinan Sukarno-Hatta yang baru sebulan berdiri. “Rapat Ikada memperlihatkan kekuatan retorika Sukarno terhadap rakyat,” ungkap Robert B. Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni. Namun kesuksesan kaum Republik di Ikada menjadi aib bagi militer Jepang yang dituntut pihak Sekutu untuk tetap memelihara status quo. Karena itu mereka mencari biang kerok di balik aksi unjuk rasa tersebut. Kamis pagi, 20 September 1945, situasi Jakarta diliputi ketegangan. Di satu pihak, militer Jepang mengkhawatirkan akan munculnya aksi-aksi susulan dari para pemuda Republik. Di pihak lain, para pemuda pun merasa cemas militer Jepang akan melakukan aksi balas dendam karena perintahnya sama sekali tak dituruti. Tidak ingin kecolongan lagi, begitu matahari terbit dari ufuk timur, secara serentak tentara Jepang melangsungkan razia di tempat-tempat yang dicurigai sebagai basis kelompok pemuda sekaligus melarang orang-orang Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih. Malamnya, sekelompok Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) lantas mengepung Asrama Angkatan Baru Indonesia yang terletak di Jalan Menteng Raya No. 31. Mereka menciduk para pemimpin pemuda Menteng 31 antara lain A.M. Hanafi, D.N. Aidit, Sidik Kertapati, Manaf Roni, M.H. Lukman, dan Wahidin Nasution. “(Kami) diangkut ke Penjara Cipinang. Tapi karena ketahuan saya punya hubungan dengan sipirnya (bernama) Jusuf asal Bengkulu, kami diangkut lagi dan dijebloskan ke Penjara Bukit Duri,” kenang A.M. Hanafi dalam Menteng 31: Membangun Jembatan Dua Angkatan. Pada hari ke-2 di Penjara Bukit Duri, saat mengikuti acara sarapan pagi, tetiba para tokoh pemuda itu terkejut melihat rekan mereka Adam Malik dan Darwis pun ada di sana. Adam Malik berkisah bagaimana situasi di luar dan kebutuhan rakyat akan tenaga mereka. Maka sambil berbisik-bisik, mereka kemudian merencanakan untuk melarikan diri dari penjara tersebut hari itu juga. “Sekarang kita angkat Bung Hanafi jadi 'diktator' kita semua, kita mesti secepatnya keluar dari sini, kan kita sudah merdeka,” ujar Adam Malik. “Mengapa saya harus jadi seorang diktator?” tanya Hanafi. “Supaya kita semua bisa disiplin, laksanakan perintahnya tanpa mendebat,” ungkap Adam Malik. Maka dibuatlah rencana pelarian lebih rinci: selagi melobi kepala sipir penjara, Tengku Thajeb, Adam Malik dan Wahidin Nasution harus menerobos langsung ke pintu penjara, sementara Darwis dan Hanafi bergerak paling akhir dan memberi perlindungan kepada rombongan pertama. Saat para petugas mengatur makanan dan para penjaga yang terdiri dari sekelompok tentara Jepang pergi menaiki sebuah truk, para pemuda itu melihat pintu penjara yang tiga lapis terbuka begitu saja. Tanpa menunggu komando lagi, Adam Malik langsung meloncat keluar penjara diikuti yang lainnya. Sidik dan Hanafi yang bergerak belakangan sempat dihalangi oleh dua sipir berkebangsaan Indo-Belanda. Namun demi melihat sepucuk pistol (yang secara diam-diam diberikan oleh Tengku Thajeb) di genggaman tangan kanan Hanafi, tak pelak mereka pun menjadi ragu. Saat situasi demikian, tetiba terdengar bentakan keras dari Tengku Thajeb: “ Laten ze maar er van doorgaan als jullie niet ge dood willen worden !” (Biarkan mereka lepas, kalau kalian tidak mau mati!).” Sontak, para pengawal itu terbengong-bengong kebingungan. Mereka lantas melepaskan tangan Sidik Kertapati yang sudah mereka pegang. Begitu melihat Sidik terlepas, Hanafi menghambur sambil mendorong Sidik keluar. Sesampai di luar, kelompok para pelarian itu pun mengambil jalan masing-masing. Hanafi ingat, dia bersama Sidik sempat bersembunyi di keramaian Pasar Jatinegara sebelum mereka menggabungkan diri kembali dengan organisasi perlawanan.
- Jejak Sejarah Pelukis Dullah
NAMA pelukis Dullah memang tak lebih populer dibanding nama “Dullah” lain: Sudjono Abdullah, Basuki Abdullah, apalagi Abdullah Suriosubroto yang lebih senior. Dullah yang satu ini memang terpinggirkan dari wacana seni lukis Indonesia sejak Orde Baru mulai mempreteli pengaruh Sukarno.
- Tantangan Riset Sejarah di Era Milenial
PENYUGUHAN sejarah secara populer yang selama ini dilakukan majalah Historia.id lewat artikel. Namun, untuk turut menjawab tantangan era digital, diversifikasi produk ditambah dengan infografis, video, dan galeri foto. Tetap saja, semua sajian itu berlandaskan arsip dan data lain. Sayangnya di Indonesia semua sumber itu masih berserakan. Butuh ketekunan untuk bisa merapikan, mengelola, hingga menyulamnya jadi sajian. Mendiang Aryono merupakan tulang punggung Historia untuk urusan yang satu itu. “Di Indonesia itu pencarian arsip bukan sesuatu yang mudah, tidak seperti di luar negeri yang sudah banyak didigitalisasi. Di Indonesia setengah mati mencarinya. Saya belum melihat ada pelimpahan data yang membuat kita sulit memilahnya karena bagi saya, sumber arsip masih terbatas. Kalaupun melimpah, kita harus memilahnya dan itu pekerjaan lain yang enggak mudah juga,” tutur Redaktur Pelaksana Historia Budi Setiyono dalam Webinar bertajuk “Riset Sejarah di Era Digital: Tribute to Aryono”, Senin (21/9/2020) malam. “Menurut saya itulah pentingnya sosok seperti Aryono. Proses itu juga masih berlangsung karena kita punya cita-cita besar untuk mendirikan pusat data sejarah di Historia. Karena kita tahu betul sulitnya mencari arsip. Mau enggak mau kita harus memproduksi arsip dari foto dan segala macam. Juga datang ke keluarga (pelaku sejarah, red .) yang punya arsip, dari narasumber itu juga menjadi arsip yang penting dan membantu kita untuk penulisan sejarah,” imbuhnya. Kepala riset Historia.id , (alm) Aryono. ( Historia.id ). Mendiang Aryono sejak 2012 berkarier di majalah Historia sebagai penulis, hingga kepala divisi riset. Namun kabar duka datang ketika ia mengembuskan napas terakhirnya pada 15 September 2020 di usia 38 karena mengalami pendarahan otak. Oleh karenanya tujuan diskusi webinar Historia tak hanya untuk mengenang sosok Aryono alias Arik, namun juga mengenai apa yang dikerjakannya semasa hidup, yakni riset arsip, data, dan sumber sejarah yang penting di era digital ini. “Mungkin 10, 50, atau 100 tahun ke depan arsip-arsip itu tidak lagi berbentuk kertas tua berdebu yang tersimpan di pusat-pusat arsip atau dokumentasi. Tapi bisa jadi file-file elektronik yang berserakan yang menjadi milik setiap orang. Tantangannya bagaimana kita bisa mendigitalisasi sumber-sumber sejarah yang selama ini terbengkalai, tercerai-berai, bagaimana kita memproduksi arsip yang justru sekarang jadi paperless dan tersentralisir dan bisa diakses secara mudah,” ungkap Pemimpin Redaksi Historia.id, Bonnie Triyana. Baca juga: Aryono dalam Kenangan Selain masih dalam proses mendirikan pusat data sejarah Historia, Arik semasa hidupnya juga turut menggali arsip-arsip Anton Lucas di Flinders University, Adelaide, Australia, pada September 2019. Anton Lucas adalah sejarawan Australia yang meneliti revolusi sosial di tiga daerah di utara Jawa Tengah. Bersama Bonnie, Arik datang ke Negeri Kanguru atas undangan pengajar kajian Asia Tenggara di universitas itu, Dr. Priyambudi Sulistyanto. “Awalnya saya berinisiatif bahwa koleksi-koleksi (arsip) Pak Anton agar ditaruh sebagai Anton Lucas Special Collection, seperti Kahin Special Collection yang ada di Cornell University. Tujuannya agar di masa depan memudahkan peneliti-peneliti yang ingin studi atau menggali arsip-arsip Pak Anton di kampus kita,” ujar Priyambudi. Dr. Priyambudi Sulistyanto, senior lecturer Flinders University. ( Historia.id ). Dari pertemuan Priyambudi dengan mendiang Arik, muncul pula ide menggali arsip-arsip yang menurutnya jarang jadi minat para peneliti dan sejarawan muda Indonesia, yakni tentang hubungan perdagangan Hindia-Belanda dengan Kerajaan Ayutthaya (kini Thailand). Bagi Priyambudi, alangkah jadi hal yang bagus jika sejarawan-sejarawan muda Indonesia bisa lebih mengembangkan wawasannya ke Asia Tenggara, selain sejarah negeri sendiri. “Dari dialog saya sama dia, dia tertarik tentang interaksi saya dengan kota tua Ayutthaya. Di sana ada perkampungan Makassar, bekas-bekas jejak orang Makassar setelah perang Belanda-Makassar dan mereka lari, salah satunya ke Ayutthaya. Dan di sana juga ada kantor VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/Kongsi Dagang Hindia Timur),” lanjutnya. “Kalau hubungan Nusantara atau Hindia Belanda dengan Ayutthaya begitu intensif di abad XV, XVI, dan XVII, berarti sebetulnya ada yang menarik tentang jejak-jejak perdagangan kala itu yang orang Indonesia sendiri kurang tahu banyak karena sejarawan Indonesia biasanya meneliti tentang Indonesia sendiri. Saya memimpikan sejarawan muda Indonesia sudah harus melihat kawasan Asia Tenggara,” tambah Priyambudi. Baca juga: Anton Lucas dan Cerita Kutilnya Priyambudi mengaku sempat mengatakan pada Arik bahwa perlu ada dorongan agar para sejarawan muda Indonesia mau mempelajarinya. Pasalnya data dan arsipnya sendiri bisa digali di sebuah situs yang dinamai “Rumah Belanda” di Thailand. Di situs itu bahkan juga sudah dibuat semacam museum interaktifnya. Kepingan sejarah itu hanya satu dari sedikit narasi sejarah yang langka untuk diminati dan kemudian digali data dan arsipnya. Selangka riset dan data tentang buruh migran dalam pusaran sejarah. Soal sejarah buruh migran ini turut disuguhkan di salah satu sudut Museum Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Arik turut jadi sosok di belakang hadirnya display dan narasi sejarah di museum tersebut tentang buruh migran yang dibawa pemerintah kolonial Belanda dari Pulau Jawa ke Suriname. Tak hanya buruh-buruh dari Jawa Tengah yang dibawa Belanda ke koloninya di Amerika Selatan itu, namun juga dari Banten. Sejarah tentang buruh migran ini, diakui Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, sahabat Arik, hampir tak pernah diketahui. “Arik juga yang menyadarkan saya untuk kembali ke sejarah. Saya 20 tahun bekerja untuk isu buruh migran. Enggak ada itu sejarahnya (dibahas buruh migran) di Indonesia. Kita punya banyak historiografi sejarah perburuhan, tapi enggak ada tentang buruh migran. Itu yang membuat saya harus terus mencari dan di Indonesia wacana ini enggak pernah ada, baik di kalangan sejarawan karena mungkin ini sejarahnya orang kecil,” papar Wahyu. "Annah la Javanaise", film animasi tentang perdagangan manusia dan eksploitasi anak. ( annecy.org ). Padahal, menurut Wahyu, arsip dan data sejarah tentang latarbelakang buruh migran bisa jadi suntikan berarti bagi upaya-upaya advokasinya. Agar tak menjadi produk yang sama sekali tak bernilai, butuh upaya kreatif dalam penyajiannya. Wahyu merujuk pada sebuah film animasi karya anak bangsa yang diputar di Annecy International Animation Film Festival 2020, bertajuk Annah la Javanaise. “Filmnya hanya enam menit, dibuat sineas Indonesia, Fatimah Tobing Rony. Menceritakan seorang anak usia 13 tahun di akhir abad ke-19 yang dibawa seorang pelukis ke Prancis. Saya cek di buku Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800-2000 , di situ kisahnya disajikan netral saja, dianggap pionir hubungan Indonesia-Prancis,” katanya. “Tapi ketika saya melihat film itu dan saya cari lagi teks-teks terkait, ini adalah sejarah eksploitasi. Sejarah di mana perdagangan manusia juga sudah terjadi waktu itu. Anak itu dieksploitasi, kalau pagi jadi model lukisan telanjang, kalau siang dipekerjakan untuk pekerjaan-pekerjaan domestik, kalau malam jadi budak seks. Jadi sebenarnya upaya-upaya kreatif melalui media digital mendorong kita kembali lagi menguji fakta-fakta sejarah dan saya rasa kita akan sangat dimudahkan dengan inisiatif digitalisasi arsip,” sambung Wahyu. Baca juga: Kisah Hidup Ibrahim Isa Digitalisasi arsip seperti yang dikerjakan Arik semasa hidupnya, menurut Ita Fatia Nadia, pengiat Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia (RUAS), akan sangat penting untuk membuka pemahaman baru tentang sejarah para tokoh yang selama ini terpinggirkan rezim Orde Baru. Termasuk tokoh-tokoh pemuda gerakan kesetiakawanan Asia-Afrika dan tokoh-tokoh perempuan. “Suatu hari Januari 2020 Arik menelefon saya. Ia bertanya tentang gerakan Asia Afrika. Dia tertarik meneliti kembali dokumen-dokumen itu dan tentang bagaimana Pak Hersri Setiawan terlibat,” timpal Ita. “Gerakan Asia-Afrika kan juga tidak banyak dituliskan. Lebih banyak tentang konferensi (Asia-Afrika) di Bandung. Tetapi bagaimana jaringan-jaringan di dalam gerakan Asia-Afrika sebagai gerakan pembebasan nasional, di mana orang-orang muda kita terlibat, seperti Pak Hersri, Ibrahim Isa, Yusuf Ishak dll, jaringan itu tidak pernah dituliskan dan dilihat kembali,” tambahnya. Ita Fatia Nadia, pegiat Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia (kiri). ( Historia.id ). Butuh kerja keras memang untuk menuliskan gerakan tersebut. Sebab, data dan arsip-arsipnya ada di empat lokasi di luar tanah air. Selain di Kolombo (Sri Lanka), arsip dan data tentangnya terdapat di London (Inggris), Belanda, dan Kairo (Mesir). Tantangan semacam itu acap ditemui Ita kala meneliti tokoh-tokoh perempuan. Terlebih melihat buku-buku yang ada, lazimnya bukan dihasilkan dari para penulis berlatarbelakang sejarah dan seringkali penggunaan datanya berdasarkan like dan dislike atau berdasarkan kepentingan politik. “Pembuatan bibliografi menjadi sangat penting untuk itu. Untuk mengurutkan kembali peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh yang dituliskan oleh para penulis. Dikumpulkan seluruhnya yang fokusnya pada Asia-Afrika, kemudian kita lacak kembali apa saja keterlibatan Indonesia di situ, siapa penulisnya, fokusnya apa, topiknya apa. Arik pun mengajak saya untuk membuat bibliografi tentang gerakan Asia-Afrika itu, namun sayangnya saya sedang tidak ada waktu karena lagi mengejar tulisan lain,” ujarnya. Baca juga: Ricklefs yang Tak Sempat Saya Temui Ita juga merujuk pada pusat data ICRC atau Palang Merah Internasional di Swiss. Di situ terdapat segudang arsip tentang kekerasan 1965 yang nyaris tak tersentuh penelitian. Persoalannya, data-data itu tak bisa disalin dan dipindai. “Banyak sekali (arsip) tentang pembunuhan, tentang kekerasan 1965. Bahkan sesungguhnya terjadi sejak 1963 tentang pembunuhan orang-orang Tionghoa di Bandung. Arsip ini saya bisa masuki karena saya istrinya Hersri Setiawan, yang boleh mengakses adalah orang yang namanya tercatat dan dianiaya,” papar Ita. “Saya kira itu suatu arsip yang penataannya luar biasa bagus dan setiap orang punya file -nya dan juga kasusnya kapan, sampai kepada siapa pelakunya. Komplit sekali. Tapi saya tak bisa copy , scan , tak bisa apa-apa. Saya hanya boleh duduk dan membaca. Dari sini jadi penting bagaimana arsip semacam itu bisa diakses oleh orang Indonesia supaya ini membangun suatu kesadaran sejarah baru tentang peristiwa 1965 dan kekerasan yang terjadi,” tandasnya.
- Aryono dalam Kenangan
“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda,” demikian Soe Hok Gie menulis dalam buku hariannya, Catatan Seorang Demonstran . Gie seolah meramal takdirnya sendiri: mati muda pada usia 27 tahun di puncak Gunung Semeru, 16 Desember 1969. Aryono (Arik), kawan kami yang baru saja wafat Selasa subuh, 15 September 2020, tak pernah terdengar mengucapkan atau mengutip kalimat Soe Hok Gie tersebut. Nyawanya tak terselamatkan setelah pingsan pada Senin malam dan sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Dia mati muda seminggu setelah merayakan ulang tahun yang ke-38. “Tiap generasi,” demikian sejarawan Amerika Henry Morse Stephens, “menulis sejarahnya sendiri.” Gie lulus dari UI pada 1964, menulis skripsi mengenai gerakan komunis yang bermetamorfosis dari Sarekat Islam di Semarang, diterbitkan dengan judul Di Bawah Lentera Merah . Sementara Arik lulus 2009 dari Universitas Diponegoro, Semarang dengan skripsi berjudul Jalan Mendaki Menuju Reformasi: Gerakan Mahasiswa di Semarang Tahun 1990–1998 . Arik memang tertarik pada sejarah aktivisme dan terlibat secara praksis pada kegiatan aktivisme. Semenjak kuliah aktif di dalam berbagai forum diskusi, bergiat di ranah kebudayaan dan terlibat kegiatan riset. Salah satu pekerjaan riset yang pertama kali saya lakukan dengannya adalah pengumpulan kisah-kisah penyintas peristiwa 1965 di Jawa Tengah. Saat itu, Arik belum lagi lulus kuliah, rambutnya masih gondrong urakan, penampilan khas aktivis mahasiswa yang agak sedikit nyeniman. Pada pertengahan 2012, tiga tahun setelah lulus kuliah, Arik melamar ke majalah Historia . Lamarannya diterima. Dia kemudian datang ke kantor redaksi di Jl. Wahid Hasyim, Tanah Abang. Penampilannya sudah berbeda dari waktu terakhir saya temui saat melakukan penelitian: rambutnya tak lagi gondrong dan tubuhnya jauh lebih gemuk. Sebelum mulai resmi bekerja, saya yang mewawancarainya. Pada akhir wawancara dia bertanya: “Jadi kapan saya mulai kerja, mas?” “Sekarang juga!” kata saya. Sejak hari itu, Arik bekerja di Historia , mengawali kariernya sebagai reporter. Arik selalu menunjukkan keseriusannya bekerja, walau kemampuan menulisnya kadang-kadang masih kedodoran, dia terbilang anak yang tambeng alias cuek dan terus belajar. Budi Setiyono, redaktur pelaksana yang juga instruktur kelas pelatihan jurnalisme sastra di Yayasan Pantau pernah beberapa kali mengembalikan naskah karya Arik untuk diperbaiki. Seorang reporter lain malah pernah dibabat sebelas kali bolak-balik revisi. Arik tak sampai sebelas kali tapi lumayan membuatnya pucat. Setelah beberapa kali evaluasi, melihat kinerja Arik, kami memutuskan untuk memindahkan Arik ke bagian riset. Bukan apa-apa, dia rajin melakukan penelitian dan banyak menemukan bahan, namun masih kurang piawai meramu bahan temuannya menjadi naskah yang ciamik. Di bagian riset, Arik seperti menemukan jodohnya: klop! Seiring waktu dan karena sifat uletnya, Arik berhasil mengembangkan diri tak hanya jadi periset andalan tapi juga penulis yang piawai meramu bahan temuan riset dengan reportase. Dalam artikel “Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah” dia menunjukan keterampilannya memadukan reportase dan riset sejarah. Setelah peristiwa 1965, tari topeng Indramayu mengalami kesulitan pentas karena tuduhan terkait dengan aktivitas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Arik merekam kegiatan sanggar tari topeng maestro Mimi Rasinah yang kini dikelola Aerli, cucu Rasinah. Arik memang trengginas. Kecuali pada masa pagebluk corona, dia rajin ke lapangan baik untuk reportase maupun riset arsip dan pustaka ke kantor Arsip Nasional atau Perpustakaan Nasional. Tugasnya sebagai kepala bagian riset juga meliputi pengumpulan dokumentasi sejarah yang tercecer di berbagai lokasi untuk disimpan secara digital di hard disk komputer di kantor. Rencananya, kami akan membangun pusat data digital sejarah di Historia.id , Arik salah satu motor penggeraknya. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, kami merintis proyek seri dokumentasi aktivisme masa Orde Baru. Rencananya kesaksian aktivis dari semua angkatan mulai 1974 sampai 1998 akan direkam dan disimpan di dalam bank data yang terbuka untuk digunakan oleh para peneliti. Dua tahun lalu kami telah memulai melakukan pendokumentasian terhadap beberapa aktivis yang terlibat gerakan anti-Soeharto di era 1990-an. Arik yang spesialis sejarah gerakan mahasiswa berperan penting di dalam proyek tersebut. Kemampuan Arik melakukan riset sejarah memang jempolan. Selain memahami seluk beluk kearsipan, dia juga menguasai bahasa Belanda sebagai sumber secara pasif. Selama bergabung dengan Historia.id , Arik terlibat di dalam beberapa proyek penting, mulai dari riset konten Museum Multatuli, pameran Surat Pendiri Bangsa dan riset proyek Asal-Usul Orang Indonesia (ASOI) yang menggunakan tes DNA. Bekerja dengan Arik selalu penuh riang dan canda tawa. Dia tak pernah terdengar mengeluh sekalipun pekerjaan terus bertumpuk setiap hari. Acapkali dia terlihat tidur mendengkur di kursi kerjanya di kantor. Hal serupa juga terjadi ketika kami berdua menjadi peneliti tamu di Flinders University, Adelaide, Australia September 2019. Kesunyian ruang koleksi khusus pecah oleh suara dengkuran Arik yang ketiduran saat memindai dokumen. Ajaibnya, dia tertidur sementara tangannya masih terus bekerja menggerakan pemindai. Sembari bergurau saya bilang padanya kalau dia sudah dapat karomah Gus Dur karena tetap bisa bekerja sambil terlelap. Arik dan saya diundang untuk membongkar arsip-arsip milik sejarawan Anton Lucas yang tersimpan di seksi koleksi khusus perpustakaan Flinders University. Anton meneliti sejarah di pantai utara Jawa Tengah untuk disertasinya yang sudah diterbitkan, Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi . Intuisi dan wawasan yang dimilikinya terlihat dari caranya memilah arsip yang memberikan petunjuk pada peristiwa penting di masa lalu. Di ruangan koleksi khusus itu Arik berbisik kepada saya, “Pak… MMC nih, Pak. MMC.” Merapi Merbabu Complex atau disingkat MMC adalah milisi kiri yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Pasca peristiwa Madiun 1948, mereka menjadikan wilayah lereng gunung Merapi dan Merbabu sebagai basisnya. MMC terdiri dari para laskar merah yang kecewa atas kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) pemerintah terhadap Tentara Nasional Indonesia. Arik paham peristiwa penting ini belum banyak diketahui publik, dia pun bergegas mencatat dan memindai beberapa dokumen penting itu. Sebagai peneliti sejarah yang sadar situasi, Arik juga mafhum jika penulisan sejarah gerakan kiri di Indonesia, terutama mengenai peristiwa 1965 masih diliputi trauma. Cara pandang sejarah yang traumatis dan terbebani stigma negatif itu menjadi penghalang bagi ikhtiar pengungkapan kebenaran dan penegakkan keadilan bagi para korban dan penyintas peristiwa 1965. Perhatiannya pada isu 1965 terwujud di dalam beberapa artikelnya antara lain tentang penemuan 16 titik kuburan massal di Purwodadi, Jawa Tengah, “Operasi Penumpasan PKI di Surabaya” dan “Pembersihan Mahasiswa IPB dan UI”, mengisahkan operasi penangkapan mahasiswa yang dituduh terlibat dalam peristiwa G30S 1965. Ketika Simposium Nasional Tragedi 1965 berlangsung di hotel Aryaduta, Jakarta, 18–19 April 2016, Arik adalah penulis yang setiap hari bertugas meliput acara tersebut. Selain mencintai pekerjaannya, Arik juga selalu menunjukkan sikap solidaritasnya pada kawan. Suatu kali seorang penulis Historia.id menghadapi persoalan akibat menyebut aparat militer terlibat melarang diskusi bertemakan peristiwa 1965 di sebuah kampus di Malang. Danrem Malang melalui Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) mencari-cari penulis muda yang gugup itu. Arik pasang badan, dia menenangkannya seraya melayani sanggahan perwira Korem Malang melalui telepon. Di kemudian hari kisah tersebut diceritakan kembali dengan bumbu guyon dan jadi bahan tertawaan. Kadang-kadang selalu saja ada kelakuan nyeleneh almarhum. Kali lain, dalam sebuah perhelatan pesta di kampus Flinders University, kami menikmati suguhan makanan. Saya, Direktur Migrant Care Wahyu Susilo dan Arik mencomot makanan dan menenggak minuman apapun yang dibawa oleh pramusaji. Rupanya ada satu jenis makanan yang kami bertiga sukai dan ingin tambah lagi, namun pramusaji berjalan cepat ke tengah kerumunan menawarkan makanan itu untuk yang lain. Arik tak sabar. Dia pun berteriak memanggilnya, “Mbakk….mbakkkk… kesini mbaakk..,” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya. Jangankan datang, menengok pun tidak. Saya dan Wahyu Susilo tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah Arik. Dalam bertugas, Arik tak pernah mengeluh dan mengatakan tidak atau menolak penugasan. Saya selalu meminta tolong agar dicarikan dokumen penting sebagai sumber tulisan, baik di kantor ANRI maupun di Perpusnas RI. Terakhir kali saya memesan kepadanya agar dicarikan pidato Bung Karno tentang pertahanan dan keamanan serta arsip-arsip Departement van Financien era kolonial. “Oke, Pak. Beres, nanti saya carikan,” katanya. Senin sore, 14 September 2020, Arik masih terlihat sekelebat melintasi ruang kerja saya yang terbuka pintunya. Saya menyapanya setengah berteriak, “Rik, piye ? Beres?” “Beres, Pak! Aman!” katanya sambil berlalu ke arah ruangan kerjanya. Tanpa disangka itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya. Kurang dari empat jam kemudian, pukul 19:40, Arik jatuh pingsan di kantor. Kami segera membawanya ke UGD RS Pelni, Petamburan, Slipi yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kantor. Setelah sempat dirawat secara intensif semalaman, Arik mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa pukul 04:50 subuh. Menurut tim dokter yang menanganinya, dia mengalami pendarahan otak dan kecil kemungkinan untuk diselamatkan. Anak muda yang baik hati dan periang itu wafat dalam tugasnya sebagai sejarawan dan periset sejarah andalan kami. Pada kaos yang dikenakannya saat-saat terakhir hidupnya tertera kalimat, We are not the makers of history, we are made by history . Arik memang bukan pencipta sejarah, tokoh besar sebagaimana dimaksud oleh sejarawan Jerman, Leopold von Ranke. Namun kerja-kerja Arik semasa hidupnya: menelusuri sumber sejarah dan mencatat kisah-kisah masa lalu merupakan pekerjaan besar yang menyadarkan kita akan pentingnya sejarah dalam membentuk pengalaman hidup kita sekarang dan masa yang akan datang. Selamat jalan, Arik. Kami jaga api semangatmu dan teruskan kerja-kerjamu... Kumpulan tulisan Aryono bisa dibaca di sini
- The Two Popes, Dua Paus dalam Sejarah Kelam
USAI menggelar sebuah kebaktian umum di Buenos Aires pada suatu hari di bulan April 2005, Kardinal Jorge Mario Bergoglio (diperankan Jonathan Pryce) mendapat kabar Paus Yohanes Paulus II wafat. Ia pun bergegas menuju Vatikan untuk bergabung dengan 116 kardinal lain menghadiri Konklaf atau pemilihan paus baru di Kapel Sistina di Vatikan. Bergoglio bersama Kardinal Joseph Ratzinger (Anthony Hopkins) dari Jerman jadi kandidat terkuat. Keduanya seolah jadi “pertarungan” gereja Katolik yang reformis dan konservatif. Saking sengitnya, pengambilan suara sampai harus dilakoni empat kali lantaran seorang kardinal baru bisa diputuskan menjadi paus jika mendapat sedikitnya 77 suara dari total 117 pemilih. Kardinal Ratzinger akhirnya terpilih menjadi paus baru. “ Hebemus Papam (Kita memiliki Paus)!” demikian pengumuman yang diterima ribuan umat Katolik yang menanti kabar di Lapangan Santo Peter usai melihat cerobong di atap Kapel Sistina mengeluarkan asap putih pertanda paus baru telah terpilih. Ratzinger kemudian keluar balkon dan menyapa umatnya sebagai paus baru dengan mengambil nama Benediktus XVI. Adegan itu bukanlah klimaks, melainkan pembuka film biopik bertajuk The Two Popes garapan sutradara asal Brasil Fernando Meirelles. Meirelles menyisipkan sejumlah footage berita televisi mengenai pendapat masyarakat Katolik di seluruh dunia tentang terpilihnya Paus Benediktus XVI. Baik dari umat yang mendukung konservatisme maupun yang kontra sama-sama mengharapkan gereja Katolik tak lagi kaku dengan dipimpin paus yang lebih reformis. Adegan Kardinal Jorge Bergoglio dalam prosesi Konkaf. ( netflix.com ). Meirelles lantas mengubah titimangsa dalam alur film ke tujuh tahun berselang. Saat itu Gereja Katolik diguncang “Vati-Leaks” atau Skandal Vatikan. Sejumlah dokumen terkait dugaan korupsi, pemerasan, pencucian uang, hingga isu homoseksualitas di kalangan pastur bocor dalam skandal itu. Dalam kegegeran itu, Kardinal Bergoglio yang tengah menjalani rutinitasnya di Buenos Aires, dipanggil ke Vatikan. Ia merasa ada yang ganjil. Ini seperti pertanda. Pasalnya, sebelumnya ia juga sudah memesan tiket untuk terbang ke Vatikan sebelum adanya pemanggilan itu. Kardinal Bergoglio tak pernah percaya pada sebuah kebetulan. Baginya, setiap kejadian ada tangan Tuhan di baliknya. Kardinal Bergoglio pun bersua Paus Benediktus XVI di kediaman musim panasnya, Istana Castel Gandolfo. Kardinal Bergoglio bermaksud ingin menyerahkan surat pengunduran dirinya namun ditolak sang paus karena dianggap justru akan memperburuk citra gereja Katolik. Kardinal Bergoglio dikenal luas sebagai agamawan Katolik reformis dan enggan terkekang aturan-aturan kaku Vatikan. Salah satu bentuk “protes” Bergoglio menurut paus adalah keengganan Bergoglio tinggal Istana Kekardinalan. Perdebatan keduanya berlangsung dengan menyinggung banyak hal, termasuk gereja Katolik harus berkenan menjawab perubahan zaman. Hal ini enggan dituruti Paus Benediktus XVI semasa memimpin. Hingga pertemuan itu berjalan beberapa hari, Paus Benediktus XVI memutuskan ingin mengundurkan diri. Selain beradu argumen, kedua sosok Paus juga hanyut dalam kehangatan kala menonton final Piala Dunia 2014 antara Argentina vs Jerman. ( netflix.com ). Bergoglio mengingatkan bahwa seorang paus adalah martir bagi umatnya. Kepemimpinan yang dipegang hendaklah hingga akhir hayat. Paus Benediktus XVI lalu menjawab dengan menukil kisah Paus Selestinus V yang mengundurkan diri pada tahun 1294. Paus Benediktus XVI ingin Bergoglio jadi suksesornya. Padahal bukan itu yang dimau Bergoglio. Ia hanya ingin gereja Katolik tetap dipimpin Benediktus XVI, namun dengan jalan kepemimpinan yang berbeda. Agar lebih dekat dan intim dengan umatnya. Untuk itulah baiknya Anda saksikan sendiri The Two Popes guna mengetahui lebih detail perdebatan sarat intelektualitas keduanya. Walau sudah tayang sejak 27 November 2019, film ini masih bisa ditonton via layanan daring Netflix. Jejak Kehidupan Dua Paus Walau The Two Popes didominasi adu argumen dua tokoh, sebagai sineas Meirelles tak melulu menyoroti wajah keduanya dengan sudut yang monoton. Kombinasi antara teknik pengambilan gambar dari beragam sudut dan alur kisah masa muda Bergoglio dengan gambar hitam-putih merupakan kekuatan yang “menghidupkan” film ini. Ketidakkakuan The Two Popes juga datang dari sisipan beberapa adegan jenaka ditambah music scoring apik garapan komposer Bryce Dessner. Komposisi musik klasik berbau Latin seperti yang mengiringi scene - scene masa lalu Bergoglio hingga sisipan tembang lawas “Dancing Queen” dari Abba, lagu yang disukai Bergoglio, membuat scene - scene The Two Popes begitu hidup. Namun, tetap saja tiada gading yang tak retak. Dari adegan ke adegan tentang perdebatan keduanya, Meirelles hanya menggambarkan masa lalu Bergoglio sejak 1956. Bergoglio dikisahkan memutuskan jadi agamawan dengan masuk Seminari Inmaculada Concepción lantaran ditolak Amelia, gadis pujaannya. Jorge Bergoglio pada 1970-an dekat dengan Diktator Argentina Jorge Videla. ( desinformemonos.org ). Meirelles tak sedikitpun menggambarkan bagaimana masa lalu Ratzinger atau Paus Benediktus XVI. Padahal dalam salah satu footage berita televisi yang disisipkan Meirelles, tampak seorang narasumber memaki sang paus dengan sebutan Nazi. “Saya kenal Ratzinger. Orang Nazi itu tak semestinya terpilih (menjadi Paus)!” Benarkan Ratzinger seorang Nazi di masa lalunya? Mengapa masa lalunya tak dibahas Meirelles? “Karena film ini mengenai Paus Fransiskus. Bahkan sampai Mei (2019) filmnya masih punya tajuk The Pope . Dimulai sebagai biopik. Kami punya adegan tentang masa kecilnya dan banyak adegan di Argentina namun sedikit demi sedikit kami menyeimbangkannya, sampai kami memutuskan memberi judul The Two Popes ,” kataMeirelles menerangkan, dikutip The Sydney Morning Herald , 6 Desember 2019. “Memang ada cerita yang mengatakan dia (Ratzinger/Benediktus XVI) seorang Nazi, namun itu omong kosong. Dia memang masuk dalam pasukan Nazi (Pemuda Hitler) saat berusia 14 tahun, dia terpaksa, seperti anak-anak lainnya. Sampai sembilan bulan kemudian dia kabur. Dia hanya jadi bagian dari mereka selama sembilan bulan, bukan berarti dia seorang Nazi. Dia mengambil risiko dengan melarikan diri. Bisa saja dia kemudian dibunuh,” lanjutnya. Ratzinger Eks Pemuda Hitler Lahir di Marktl am Inn, Bavaria pada 16 April 1927 dengan nama Joseph Alois Ratzinger, Paus Benediktus XVI merupakan bungsu dari tiga bersaudara. Dia terpaksa masuk Hitlerjugend (Pemuda Hitler) pada 1941 karena keterpaksaan. Diungkapkan Peter Seewald dalam Pope Benedict XVI: Servant of the Truth , sedari kecil Ratzinger ingin mengikuti jejak kakaknya, Georg, jadi pastur. Namun, keinginan itu kandas karena saja sejak 1941 seminari tempatnya menuntut ilmu agama ditutup militer Jerman Nazi. “Kami bertiga (Ratzinger dan kedua kakaknya) bukanlah anggota Nazi. Namun ketika datang seruan kewajiban untuk bergabung (dari pemerintah Jerman Nazi), saya terdaftar ke Pemuda Hitler,” tutur Ratzinger saat diwawancara Seewald pada 1996. Joseph Alois Ratzinger dan keluarganya (Foto: snpcultura.org ) Ayahnya, Joseph Ratzinger Sr., sebagaimana yang diakui sang paus, merupakan mantan polisi yang anti-Nazi. Penentangannya terhadap Adolf Hitler kian gencar saat berlangsung program euthanasia atau suntik mati bagi para penyandang cacat. Salah satu korban euthanasia adalah sepupu Ratzinger berusia 14 tahun yang menderita kelainan mental down syndrome. Namun tiada yang bisa dilakukan lebih selain sekadar protes keras karena ayah Ratzinger masih memikirkan keselamatan istri dan ketiga anaknya (Georg, Maria dan Joseph Alois). Setelah seminarinya ditutup, Ratzinger pindah ke Gymnasium (setingkat SMA) Traunstein dan di situlah ia, sebagaimana semua murid, diwajibkan masuk ke barisan Pemuda Hitler untuk dilatih dasar-dasar kemiliteran dan doktrin-doktrin antisemit. Di usia 16, Ratzinger ditugaskan ke Luftwaffenhelfer (pasukan perbantuan pengawal anti-pesawat) yang melindungi pabrik BMW dekat Munich. Tetapi menjelang perang berakhir, Ratzinger memutuskan untuk desersi. Ia memberanikan diri ambil risiko itu lantaran para desersi akan ditembak di tempat oleh pasukan Schutzstaffel (SS, paramiliter Nazi). “Namun Ratzinger selamat. Dia sempat dicegat dua prajurit reguler Jerman dekat Traunstein, dan walau mereka menduga ia desersi, mereka melepaskan Ratzinger. Di kali kedua ia juga beruntung. Ketika ia pulang ke rumah, terdapat dua prajurit SS sedang menginap di rumah orangtuanya. Tentu mereka curiga ketika Ratzinger pulang. Akan tetapi ketika ia hendak dibawa untuk diinterogasi, ayahnya mengamuk dan kedua pasukan SS itu melarikan diri,” sambung Seewald. Ratzinger kala bertugas di unit Luftwaffenhelfer (Foto: Repro "Pope Benedict XVI") Usai kapitulasi Jerman, Ratzinger ditahan pasukan Amerika lantaran kedapatan memiliki seragam hitam Pemuda Hitler. Ratzinger ditahan dengan para tawanan perang lain di kamp interniran dekat Ulm. Baru pada 19 Juni 1945 ia dibebaskan lantaran dari hasil pemeriksaan, Ratzinger masih dinyatakan sebagai anak-anak dan golongan minor itu tak dianggap sebagai seorang Nazi. “Saya sempat teridentifikasi sebagai tentara. Saya diperintah memakai kembali seragam saya dan mengangkat tangan untuk dibariskan dengan para tawanan. Perih rasanya melihat hati ibu saya terluka melihat putranya dibariskan dengan nasib yang tak menentu,” ungkap Ratzinger dalam memoarnya, Milestones: Memoirs 1927-1977. Selepas dibebaskan, Ratzinger melanjutkan pendidikannya di Seminari Santo Michael di Traunstein, Seminari Ducal Georgianum di Universitas Munich. Ia meraih gelar professor di Universitas Bonn pada 1959, kemudian menjadi Uskup Agung Munich dan Freising. Data film Judul: The Two Popes | Sutradara: Fernando Meirelles | Produser: Dan Lin, Jonathan Eirich, Tracey Seaward | Pemain: Anthony Hopkins, Jonathan Pryce, Juan Minujín, Lisandro Fiks, Germán da Silva, Maria Ucedo | Produksi: Netflix | Durasi: 125 Menit | Rilis: 27 November 2019.
- Saat Benny Moerdani Dikira Takut Terjun
HARI masih pagi ketika pasukan Kompi A RPKAD dan Yon 438 Diponegoro memulai perjalanan dari Alahan Panjang menuju Muaralabuh, Sumatera Barat. Perjalanan itu merupakan kelanjutan dari perintah yang diterima Dan Kie A RPKAD Letda Benny Moerdani dari Panglima Operasi 17 Agustus Kolonel Ahmad Yani hari sebelumnya. Perjalanan itu dimaksudkan untuk membungkam jantung pertahanan pasukan PRRI. Setelah menganggap bertempur frontal di Padang tidak menguntungkan secara taktis, pasukan PRRI memilih menyingkir ke pinggiran. “Manuver-manuver perang gerilya mulai dilaksanakan Zulkifli Lubis, yang bergerak sebagai koordinator militer di daerah Sijunjung bersama sekitar tiga sampai empat anak buahnya melatih sekitar dua regu pasukan rakyat,” tulis Mestika Zed dalam Sumatera Barat di Panggung Sejarah, 1945-1995 . Melihat kondisi tersebut, Yani pun mengambil keputusan baru. “Maka Kolonel Akhmad Yani mengambil keputusan untuk mengabaikan obyek politisnya yaitu perebutan ‘Ibu kota PRRI’, akan tetapi menduduki Alahanpanjang untuk menghindari/mencegah pihak PRRI melarikan diri ke daerah lumbung beras Sumatera, yakni Kerinci,” tulis Dinas Sejarah Militer Kodam VII/Diponegoro dalam Sejarah Rumpun Diponegoro dan Pengabdiannya . Pasukan Benny dan Diponegoro berangkat menggunakan truk. Benny dan beberapa rekan perwira RPKAD menggunakan pick up . Namun karena mesin pick up rewel dalam perjalanan itu, Benny dan rekan-rekan di tertinggal jauh. Menjelang sebuah tebing, Benny melihat seutas kawat. Karena curiga, dia perintahkan pengemudi menghentikan mobil. Benny langsung turun untuk memeriksanya. Namun saat dia baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara tembakan bazoka. Sisi kiri pick up langsung hancur terkena bazoka itu. Pecahan pelurunya berhamburan ke berbagai arah. Beruntung Benny sudah tiarap sehingga selamat. Pun begitu dengan rekan-rekannya. Namun begitu debu dari tanah yang terkena ledakan mulai menipis, Benny dikagetkan dengan suara rintihan. Suara itu ternyata datang dari sahabatnya, Letda Dading Kalbuadi. Dading terkapar setelah lehernya terkena pecahan peluru bazoka. Benny segera memerintahkan wakilnya, Letda Soeweno, membawa Dading ke garis belakang. Rekan-rekan Benny langsung membalas serangan lawan tanpa menunggu perintah. Mereka akhirnya bisa selamat. Hari itu juga, Muaralabuh dibebaskan. Pertempuran itu menjadi puncak dari keterlibatan Kompi Benny lantaran setelah itu Yani memerintahkan RPKAD pulang ke Batujajar. Perintah itu dikeluarkan Yani setelah mendapat laporan Benny karena pasukannya sudah terlalu lelah. Dari 70 anggota Kompi A, hanya 37 personil yang tersisa saat itu. Pertempuran itu juga menjadi penutup “manis” Bagi Benny dalam keterlibatannya dalam rangkaian operasi penumpasan PRRI yang telah dilaluinya sejak dari Medan, Pekanbaru, hingga Padang. Saat memulainya di Padang, Benny bahkan harus cedera. Cedera itu didapat saat Benny hendak terjun untuk membebaskan Padang pada pukul 06.40 tanggal 17 April 1958. Ketika hendak ke pintu pesawat yang sudah dibuka, pesawat bergoyang akibat cuaca. Akibatnya, Benny hilang keseimbangan dan kakinya terlilit tali pengikat di perut pesawat. Karena berupaya untuk melepaskan lilitan itu, Benny mundur selangkah. Gerak mundur Benny itu dianggap oleh jump master sebagai tindakan takut terjun. Maka sesuai prosedur, jump master langsung menendang Benny dari belakang. Tubuh Benny pun langsung ke luar pesawat dengan posisi tidak normal, yakni menggantung. Sementara kakinya membentur dinding pesawat. Parasutnya yang masih kuncup menggantung ke luar. “Saya terjun dengan tali membelit kaki. Tak bisa dibayangkan, lutut dihempas-hempaskan begitu, rasanya sudah jadi bubur,” kata Benny sebagaimana dikutip Julius Pour dalam Benny: Tragedi Seorang Loyalis . Dalam waktu yang terbatas, Benny mesti bergerak cepat. Sambil menahan nafas, tangan kanannya langsung meraih pisau komando yang diselipkan di betisnya. Tali yang melilitnya langsung dia potong. Begitu tali putus, tubuhnya langsung meluncur cepat ke arah bumi. Saat itulah tangan kirinya dengan segera menarik tali payung cadangan. Benny diselamatkan oleh perintahnya sendiri sesaat sebelum penerjunan berlangsung, agar pasukan membawa payung cadangan. Namun karena lututnya cedera, Benny mendarat dengan posisi tidak sempurna. “Dia terhempas, kedua lututnya yang baru saja diremukkan oleh benturan melawan dinding pesawat, tidak kuat menahan beban tubuhnya,” sambung Julius Pour. Benny harus berjalan pincang sambil menahan rasa sakit untuk mencapai pasukannya yang telah lebih dulu mendarat di Tabing. Beruntung saat itu Tabing telah ditinggalkan oleh pasukan PRRI.*






















