top of page

Hasil pencarian

9825 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mata-mata Rantai Emas

    PADA 11 November 1945, Sulistina (1925–2016) dan dua temannya sebagai anggota Palang Merah bersama pemuda anggota Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) Malang berangkat menuju garis depan di Surabaya. BPRI didirikan oleh Bung Tomo (1920–1981) yang kemudian akan menjadi suami Sulistina. Mereka sampai di Surabaya pada tengah malam. Sulistina dan temannya dititipkan di rumah keluarga Bandarkoem, pegawai DKA (Djawatan Kereta Api), dekat markas pusat BPRI di Jalan Tembok Dukuh. Esok pagi, Sulistina dan temannya pergi ke markas pusat BPRI yang telah dipenuhi para pemuda dengan berbagai senjata. Semakin siang semakin banyak orang datang ke markas termasuk mereka yang datang dari garis depan. Tiba-tiba pesawat terbang melintas di atas markas dan menjatuhkan mortir yang menggelegar. Sulistina dan temannya bersembunyi di kolong meja. Bung Tomo pun memindahkan markas karena tidak aman.

  • Pamflet Gelap di Malam Natal

    Pada malam Natal, 24 Desember 1967, masyarakat kota Manado dikejutkan oleh beredarnya pamflet gelap . P amflet tersebut berupa stensilan berisi fitnah terhadap Gubernur Sulawesi Utara Brigjen TNI H.V. Worang . Penyebaran pamflet gelap kembali terjadi pada malam tahun baru, 31 Desember 1967 . Kali ini sasarannya Walikota Manado, Letkol Rauf Mo’o. Buletin Djambatan Kawanua , 1 Februari 1968, melaporkan pamflet tersebut disebarkan dengan harapan ada reaksi dari masyarakat. Ternyata, masyarakat menganggapnya remeh saja dan tidak menghiraukannya. “Hal itu terutama disebabkan oleh keyakinan masyarakat bahwa bukan masanya lagi rakyat Sulawesi Utara digoncangkan oleh isu-isu negatif yang hanya menghambat terlaksananya program-program rehabilitasi dan pembangunan di Sulawesi Utara,” tulis buletin tersebut. Sebelumnya, upaya menjatuhkan Gubernur Worang dilakukan melalui aksi demostransi pada 2 dan 3 September 1967. Menurut F.E.W. Parengkuan, dkk. dalam Sejarah Kota Manado 1945–1979 ,Worang mengganggap kedua demonstrasi di kota Manado itu terjadi karena adanya pro dan kontra terhadap langkah-langkah kebijaksanaannya di Sulawesi Utara. Baca juga:  Permesta dan Awal Gagasan Otonomi Daerah Massa aksi biasanya dimobilisasi oleh organisasi masyarakat. Dua ormas yang giat melancarkan aksi adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). Politik nasional, terutama berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Jakarta, mempengaruhi keadaan di Manado. Selain ormas, partai-partai politik juga kerap melancarkan aksi. Isu bersama mereka adalah ganyang PKI. “Aktivitas politik yang dimasa sebelumnya bertema mengganyang PKI yang dipelopori oleh KAMI/KAPPI, sekarang beralih ke tangan partai-partai politik,” jelas Parengkuan, dkk. Mayor H.V. Worang, komandan Batalion Worang (kiri) menjabat tangan Kolonel A.E. Kawilarang yang tiba di Makassar pada 20-21 April 1950. (IPPHOS/ANRI). Lebih dari Sekadar Pamflet Hein Victor Worang lahir di Tontalete, Tonsea, Sulawesi Utara pada 12 Maret 1919. Kariernya cukup baik di Angkatan Darat. Pada masa perang Perjuangan Semesta (Permesta), dia datang dengan batalion yang menggunakan namanya: Batalion Worang. Seorang perwira yang datang menghadapi saudaranya sendiri orang Minahasa. Dia berperan penting dalam operasi-operasi penumpasan pemberontakandi beberapa daerah. Worang mulai menjabat gubernur Sulawesi Utara pada Maret 1967 , mengganti kan Abdullah Amu. Periode pertama berakhir tahun 1972. Dari Maret 1972 hingga Maret 1973 , ia menjadi pe n jabat gubernur. Kemudian sejak Maret 1973, ia memperoleh surat keputusan presiden sebagai gubernur definitif sampai Maret 1977. Periode terakhirnya berlangsung sampai tahun 1978. Pamflet gelap berisi fitnah terhadap Gubernur Worang di malam Natal itu adalah puncak gunung es dari kekuatan yang ingin menjatuhkannya. Gubernur yang sedang giat-giatnya melakukan rekonstruksi pembangunan daerah yang hancur karena perang saudara Permesta tahun 1957 sampai 1962, mesti berhadapan dengan kekuatan politik, militer,dan pengusaha yang ingin menguasai kekayaan sumber daya alam, terutama kopra. Baca juga:  Arnold Mononutu, Putra Minahasa jadi Pahlawan Nasional Max Karundeng, wartawan Sinar Harapan dalam laporannya pada 19 Agustus 1968 yang terarsip dalam Joint Publications Research Service (JPRS), No. 194, 17 Oktober 1968, menyebutkan kelompok-kelompok ini mewakili kepentingan yang berbeda, tetapi mereka untuk sesaat bekerja sama dalam aliansi untuk menjatuhkan Gubernur Worang. Sejak nama Worang disebut-sebut akan menduduki jabatan gubernur tahun 1966 telah ada kelompok yang menentangnya. Mereka adalah beberapa perwira menengah Kodam Merdeka yang berkepentingan dengan bisnis kopra. Bagi mereka, Worang adalah hambatan. “Mereka melihat bahwa dia tidak akan membiarkan Sulawesi Utara diperlakukan sebagai barang rampasan perang atau sapi perah,” tulis Karundeng. Kelompok kedua yang berusaha menjatuhkan Worang adalah saingannya ketika pemilihan gubernur tahun 1966. Kelompok ini telah berusaha membeli suara, mempengaruhi beberapa anggota legislatif, organisasi politik, dan massa ormas, untuk mencapai tujuan mereka. Ada pula kelompok barisan sakit hati karena tokoh yang mereka dukung tidak mendapat jatah sebagai wakil gubernur. Oposan lain adalah para pengusaha kopra yang dikecam oleh Worang karena dianggap tidak benar dalam berbisnis. Baca juga:  Aksi Marinir di Minahasa Kopra merupakan komoditas andalan Sulawesi Utara sejak awal abad ke-20. Laporan Badan Perencanaan Daerah dalam Sulawesi Utara di Arena Pembangunan menyebutkan, produksi kopra dari tahun 1967 sampai tahun 1969 terus mengalami peningkatan. Tahun 1967 lahan perkebunan kelapa seluas 182.268 hektare dengan hasil 126.358 ton. Tahun 1969 meningkat menjadi 166.000 ton dari 188.885 hektare lahan. Kopra dikirim ke luar daerah dan luar negeri melalui pelabuhan yang telah dibangun sejak zaman kolonial di Manado. Jadilah kopra menjadi incaran banyak pihak, tidak terkecuali kalangan tertentu di Kodam Merdeka. Ketika Gubernur Worang melakukan penataan perdagangan kopra yang lebih adil bagi masyarakat, mereka tentu tidak senang karena mengganggu maksud mereka memperkaya kelompoknya. “Dulu, hampir semua panglima militer berperan penting dalam perdagangan kopra ‘untuk kesejahteraan satuannya’,” tulis Karundeng. Baca juga:  Desersi TNI di Palagan Minahasa Jan Arie Supit (68 tahun), mahasiswa Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Manadopada periode kedua Worang menjabat gubernur,mengatakan bahwa masa pertengahan 1960-an sampai 1970-an memang penuh dengan pertentangan ideologi yang membuat suasana mencekam. Di Manado, kelompok-kelompok politik tertentu mengarahkan sasarannya ke Worang. “Ini masa yang mengerikan secara sosial,” kata Supit ketika diwawancarai pada 22 Desember 2021. Setamat dari APDN tahun 1974, Supit menjadi pegawai negeri di kantor bupati Minahasa di Tondano. Usianya waktu itu masih tergolong muda, 21 tahun. Setahun kemudian dia dipindahkan ke kantor gubernur di bagian direktorat sosial politik. “Hingga masa itu, Worang terus berhadapan dengan para oposannya,” kata Supit. Salah satu yang terus dijadikan bahan kritik adalah tata niaga kopra, kemudian keterlibatan keluarganya dalam pemerintahan. Menurut Supit, para oposanmenuduh Worang memperoleh untung dari dana rehabilitasi melalui program Sumbangan Rehabilitisasi Kopra dan Cengkih. “Ya, para oposan itulah sebenarnya yang juga berkepentingan dengan kekuasaan dan bisnis kopra,” ujar Supit. Baca juga:  Darah Minahasa di Tubuh Prabowo Dalam suatu pertemuan, Gubernur Worang menyinggung oknum-oknum yang mempermainkan hasil kopra dan tidak puas dengan kebijakannya sering menunggangi kesatuan aksi atau berlindung di balik ormas dan orpol. Ketua KAMI Sulawesi Utara dengan tegas membantah. Sedangkan pimpinan Pemuda Ansor dan pimpinan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), sebagaimana dikutip Djambatan Kawanua , dengan tegas menyatakan, “kalau ternyata yang melancarkan kegiatan-kegiatan kotor itu mengaku diri beragama Islam, maka yang pasti mereka itu telah menodai kemurnian Islam.” Dalam pertemuan itu, seluruh pimpinan ormas menyatakan mendukung kebijakan Gubernur Worang. Mayjen TNI H.V. Worang, gubernur Sulawesi Utara, pada 1971. (IPPHOS/Perpusnas RI). Mengapa Malam Natal? Manado,ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, sejak zaman kolonial adalah pusat politik dan ekonomi. Tempat berdirinya kantor residen yang berada dekat benteng yang dibangun sejak abad ke-18. Orang-orang Minahasa di pegunungan umumnya beragama Kristen Protestan buah penginjilan dari para zendeling Eropa sejak awal abad ke-19. Namun, Manado adalah kota yang majemuk sejak zaman kolonial. Di sini terdapat Pecinan yang bersebelahan dengan Kampung Arab. Sebuah gereja Protestan sejak zaman VOC berdiri tidak jauh dengan Pecinaan dan Kampung Arab. Kampung-kampung orang Minahasa justru berada di pinggirannya. Malam Natal, 24 Desember 1967 itu adalah saatnya orang-orang Kristen mempersiapkan diri untuk perayaan pada 25 Desember. Kesibukan menyambut hari raya itu tampak antara lain dalam bentuk ziarah makam di sore hari dan malamnya ibadah di gereja atau rumah masing-masing. Demikian halnya dengan malam 31 Desember. Baca juga: Mengapa MUI Fatwa Haram Upacara Natal Bersama? Pada tahun 1967, Natal bertetapan dengan umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Idulfitri akan dirayakan bersamaan dengan tahun baru 1 Januari 1968. Sementara itu, secara nasional situasi sosial politik tidak kondusif. Pada 1 Oktober 1967, terjadi kerusuhan bernuansa agama di Makassar. Massa merusak sejumlah gereja. Sebelumnya, kerusuhan terjadi di Surabaya dan Medan. Saling adu ideologi terjadi di mana-mana. Isu pasca September 1965 adalah ganyang PKI. Kekuasaan Orde Baru di bawah kendali Jenderal TNI Soeharto sedang dalam tahap konsolidasi kekuatan. Kota Manado yang majemuk relatif masih aman dari konflik bernuansa agama. Jikapun ada pihak yang berusaha memainkan isu agama dan suku, mereka itu dikirim oleh pusat pada waktu perang Permesta. Baca juga:  KKo Terjebak di Gunung Wian “Pasukan pemerintah pusat kemudian mendarat di Sulawesi Utara dan membuat pertikaian di Permesta dengan menyebarkan isu kontroversi agama dengan menghasut suku Minahasa, Gorontalo, Sangir Talaud, dan Bolaang Mongondow agar saling melawan,” tulis Karundeng. Kebanyakan yang menjadi tentara Permesta adalah orang-orang Minahasa yang Kristen. Menurut Karundeng, apa yang dilakukan oleh tentara pusat di masa Permesta rupanya masih terwarisi pada kalangan tertentu hingga era Gubernur Worang. “Kuman dan luka ini belum sepenuhnya dimusnakan,” kata Karundeng. Baca juga:  Akhir Petualangan Boetje Wantanea si Pelarian Permesta Aparat berhasil membekuk pelaku penyebar pamflet gelap pada malam Natal. Namun, menurut Karundeng, penahanan itu digunakan para oposan untuk mengecam Worang. Mereka menuduh Worang telah memerintahkan aparatnya untuk melakukan kekerasan terhadap para tahanan itu. Upaya menjatuhkan Worang dengan isu sentimen agama dan suku, antara lain melalui penyebaran pamflet gelap pada malam Natal itu, untuk sementara dapat dikendalikan. Namun, dua tahun kemudian, tepatnya Maret 1970 terjadi kerusuhan bernuansa agama, suku, dan ras di kota Manado. Mesti begitu, Worang masih bertahan sebagai gubernur hingga tahun 1978. Penulis adalah pengkaji sejarah dan budaya Minahasa.

  • Naim yang Malang

    Nama adalah doa. Orang tua memberikan nama terbaik agar anaknya bernasib baik. Tapi, pemuda pejuang ini justru bernasib buruk karena namanya. Pemuda itu bernama Naim. Dia anggota Kelompok Merah Putih yang bermarkas di Jalan Bank No. 5 Purwokerto (dulu gedung percetakan De Boer). Kelompok ini terdiri dari 40 pemuda yang dipimpin oleh Moerdono. Baca juga:  Menghabisi Mata-mata Pada suatu hari di masa revolusi kemerdekaan, Naim ditugaskan menjadi kurir ke Purworejo, Jawa Tengah. Dia ditangkap oleh pemuda di sana. Karena bahasa Jawanya kurang baik, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari “hakim” dengan lancar. Meskipun di atas baju Naim melekat bendera merah putih, tanda paspor bagi orang Republik, dia tetap tidak dipercaya. Bahkan, dia dituduh mata-mata musuh, Belanda. “Akhirnya dia dihukum tembak. Alasannya karena namanya: Naim. Oleh para ‘hakim’ dinyatakan sebagai singkatan dari Nederland Anti Indonesia Merdeka,” kata Sudiro, mantan Walikota (kini Gubernur) Jakarta Raya, dalam Pelangi Kehidupan . Baca juga:  Berburu Mata-Mata di Era Revolusi Asmadi, mantan anggota Tentara Pelajar, mengungkapkan bahwa suasana saling mencurigai bahkan tidak percaya terhadap setiap orang yang dijumpai di tengah jalan, timbul akibat mata-mata musuh yang berusaha menyesatkan pasukan-pasukan yang datang dari luar kota. Mereka melakukan adu domba antarpasukan. Yang langsung menerima akibatnya ialah para kurir, karena mereka umumnya berjalan kaki dari markas besar ke markas sektor, dari markas sektor ke garis depan atau yang menghubungkan antarmarkas sektor. “Banyak pula di antara para kurir yang terbunuh di tengah jalan karena dituduh sebagai mata-mata musuh,” kata Asmadi dalam Pelajar Pejuang. Baca juga:  Gubernur di Tengah Operasi Anti Mata-Mata Pelaku Peristiwa Tiga Daerah ditahan di penjara Yogyakarta pada Desember 1946. Sakhyani alias Kutil berdiri kedua dari kiri. (Koleksi Anton Lucas). Baca juga:  Kisah Kutil "Robin Hood" dari Pantura Sudiro menyebut ada anggota Kelompok Merah Putih lain yang bernasib nahas seperti Naim. Dia lupa namanya. Seperti Naim, anggota itu diberi tugas ke daerah Tegal. Dia ditangkap oleh kelompok yang dipimpin oleh Sakhyani atau dikenal dengan sebutan Kutil. Kalau Naim dituduh mata-mata karena namanya, kawannya itu karena kacamata yang dipakainya. “Dia dijatuhi hukuman mati karena di kacamatanya –buatan luar negeri– ada huruf-huruf tertentu, yang sebenarnya hanyalah inisial dari pabrik yang memproduksinya. Oleh para ‘hakim’, huruf-huruf itu dianggap sebagai kode bagi seorang mata-mata musuh,” kata Sudiro. Baca juga:  Anton Lucas dan Cerita Kutilnya Kutil memimpin revolusi sosial di wilayah Karesidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang pada Oktober sampai Desember 1945, di mana seluruh elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana, dan camat), serta sebagian besar lurah, diganti oleh aparat pemerintahan baru dari aliran Islam, sosialis, dan komunis. Untuk menjalankan revolusi sosial, Kutil membentuk organisasi AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia). Menurut sejarawan Anton Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah , seperti badan-badan perjuangan lainnya waktu itu, tugasnya ditetapkan sendiri oleh Kutil, yaitu mencari sisa-sisa orang Jepang dan melucutinya, membagikan kekayaan kepada rakyat, dan menumpas setiap orang yang dicurigai menjadi agen NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Baca juga:  Koleksi Digital Anton Lucas Tragisnya, salah satu korban yang dituduh mata-mata adalah pemuda anggota Kelompok Merah Putih dari Purwokerto. “Tambah seorang lagi korban dari Peristiwa Tiga Daerah,” kata Sudiro. Karena Kutil adalah tokoh utama dalam revolusi sosial itu, maka Peristiwa Tiga Daerah sering disebut sebagai “gerakan Kutil”. Gerakan Kutil akhirnya bisa ditumpas oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat). “Kutil adalah orang pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan formal di Pekalongan,” tulis Anton. Menurut Sudiro, tuduhan mata-mata kepada Naim dan kawannya sungguh menggelikan, tapi akibatnya pejuang ini telah mati konyol. “Seperti yang dialami oleh ratusan mungkin ribuan orang lainnya dalam zaman meluapnya semangat kemerdekaan kita,” kata Sudiro.

  • Kedigdayaan Anti-Hero dalam Venom 2

    KABUT di suatu malam pada 1996 menyelimuti Rumah Penampungan Anak Terlantar St. Estes California. Cletus Kasady kecil (diperankan Jack Bandeira) hanya bisa berteriak tak berdaya ketika kekasihnya, Frances Barrison (Olumide Olorunfemi), hendak dibawa ke Rumahsakit Jiwa (RSJ) Ravencroft Institute. Frances dianggap gadis kecil “spesial” yang punya kekuatan manipulasi jeritan suara hingga harus dipindahkan ke fasilitas “spesial” di Ravencroft. Dalam perjalanan yang dikawal polisi, Frances berontak. Gadis  supervillain  beralter-ego Shriek itu menjerit hingga melukai seorang polisi muda Patrick Mulligan (Sean Delaney). Mulligan terpaksa menekan picu pistolnya hingga melukai Frances. Adegan-adegan itu sekadar prolog film pahlawan super Venom: Let There Be Carnage  ( Venom 2 ) garapan sutradara Andy Serkis. Film ini merupakan film kedua dalam franchise  Sony’s Spider-Man Universe (SSU). Sebagai sekuel dari film terdahulunya, Venom  (2018), kisahnya masih berpusar pada sosok jurnalis Eddie Brock (Tom Hardy) yang di dalam tubuhnya bersemayam simbiot Venom, membuat perpaduan dua kepribadian yang berbeda itu menjadi sesosok anti-hero. Baca juga: Spider-Man Terjerat Tipu Daya Sosok Frances Barrison alias Shriek (kiri) & Cletus Kasady ( sonypictures.com ) Plotnya kemudian bergulir cepat ke 25 tahun berselang, ke adegan Eddie dipanggil detektif Mulligan (Stephen Graham). Eddie diminta menyelidiki lebih jauh korban-korban kejahatan Cletus dewasa (Woody Harrelson) yang berubah jadi pembunuh berantai. Cletus hanya mau bicara pada Eddie karena Eddielah yang membuatnya dibui akibat laporan investigasinya. Cletus ingin bicara pada Eddie sebelum hari-H eksekusi matinya dengan suntikan. Namun Venom dalam diri Eddie kerap berontak ketika menemui Cletus, mengingat Venom paling hobi menyantap kepala penjahat. Akibatnya, Cletus melawan balik dengan menggigit tangan Eddie hingga berdarah. Karena cemas ketahuan aparat kepolisian, Eddie pun bertengkar hebat dengan Venom. Dua karakter berbeda yang bersahabat dan bersimbiosis mutualisme itu berubah jadi bermusuhan meski sebelumnya selalu melewati suka-duka bersama, termasuk ketika Eddie diputuskan Anne Weying (Michelle Williams), mantan tunangannya yang seorang pengacara. Ketika Eddie dan Venom berpisah, tetiba muncul kegemparan di Penjara San Quentin dan RSJ Ravencroft. Rupanya zat simbiot Venom dalam darah Eddie dari gigitan Cletus “melahirkan” Carnage, sesosok simbiot merah yang berdiam dalam tubuh Cletus. Carnage menghancurkan San Quentin, lalu Ravencroft untuk membebaskan kekasihnya, Frances (Naomie Harris). Mampukah Eddie menghadapi masalah yang lahir dari kesalahannya sendiri? Baiknya Anda saksikan sendiri kelanjutan Venom: Let There Be Carnage di bioskop maupun beberapa platform daring, seperti Disney+ dan Hulu. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Carnage, sosok simbiot merah musuh utama Venom ( sonypictures.com ) Dua Karakter, Dua Kepribadian, Satu Persahabatan Venom 2 mulanya dijadwalkan rilis pada 2020. Namun pandemi membuatnya tertunda hingga 1 Oktober 2021. Pun begitu, film ini tetap menarik karena di bagian akhirnya berkelindan dan bersilang semesta dengan salah satu film dari franchise Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: No Way Home yang rilis 15 Desember 2021. Sebagaimana film-film superhero di MCU, Venom 2 yang merupakan garapan SSU tak kalah ciamik dalam visual efek CGI. Penonton tetap bisa menikmati aksi-aksi  mendebarkan meski tone gelapnya dominan. Music scoring -nya juga bervariasi mengikuti setiap perbedaan plot. Seperti nada-nada melankolis yang mengiris dalam adegan-adegan menyedihkan masa lalu Cletus, musik komikal dalam beberapa adegan jenakanya, atau musik rap dan rave semua ada. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Venom bersama kaum rave di "coming out party" ( sonypictures.com ) Selain “tema wajib” percintaan seperti yang kerap ada di film-film Hollywood, Venom 2 memasukkan sedikit tentang LGBTQIA (lesbian, gay, bisexual, transgender, queer, intersex, asexual). Itu ada pada adegan Venom ikut pesta kaum rave usai berpisah dengan tubuh Eddie. “Tom (Hardy) dan Kelly (Marcell, penulis naskah) selalu ingin ada adegan Venom keluar dan membebaskan diri (dari Eddie) dan pergi ke pesta, di mana saya menyebutnya semacam festival LGBTQIA. Jadi pada dasarnya (adegan) itu pesta pembebasan diri Venom,” kata Serkis kepada Uproxx , 23 September 2021. Baca juga: Captain Marvel, Antara Nostalgia dan Isu Feminisme Meski begitu, bukan berarti Venom sepenuhnya gay. Adegan itu lebih merupakan upaya Venom ingin membebaskan dirinya dari perlakuan Eddie atau manusia lain yang kejam terhadap alien. Pesannya jelas, kaum LGBTQIA dianggap “alien” oleh orang lain. Toh sejak awal Venom tak pernah disebutkan sebagai simbiot yang berjenis kelamin pria atau wanita. Venom bisa berdiam di tubuh perempuan ataupun laki-laki. Adegan ketika Venom merasuki tubuh Anne atau pemilik toko Nyonya Chen (Peggy Lu) menunjukkan Venom sesosok simbiot yang membebaskan diri dari bias gender. Sutradara Andrew Clement 'Andy' Serkis (duduk) dan aktor utama Edward Thomas 'Tom' Hardy ( sonypictures.com ) Tema lain yang tak kalah penting yang diangkat Serkis adalah nilai-nilai persahabatan. Dua karakter dan dua sifat berbeda sejatinya tetap bisa membentuk satu hubungan persahabatan. Seperti tokoh Don Quixote dan Sancho Panza dalam novel The Ingenious Gentleman Don Quixote of La Mancha karangan Miguel de Cervantes pada awal abad ke-17. Serkis sengaja mengambil persahabatan Don Quixote dan Sancho Panza itu sebagai inspirasi dalam menciptakan karakter Eddie Brock dan Venom. Secara simbolis hal itu diperkuat dengan adegan Eddie bicara dari hati ke hati dengan Venom di depan patung di halaman Palace of Fine Arts, San Francisco. “(Patung) itu adalah Don Quixote dan di sebelahnya adalah Sancho Panza. Mereka orang yang sangat berbeda yang punya pandangan berbeda pula terhadap dunia, cara yang berbeda dalam melakukan sesuatu. Terkadang mereka tidak saling menyukai tapi pada akhirnya mereka bekerjasama untuk menunjukkan kehebatan masing-masing,” kata Eddie kepada Venom. Persahabatan yang didasari cinta satu sama lain itu jelas berbeda dari persatuan Cletus dan Carnage. Persatuan Cletus-Carnage didasari kebencian kendati kelahiran mereka nyaris serupa dengan Eddie dan Venom. Baca juga: Aquaman Sang Penguasa Tujuh Lautan Persahabatan tokoh Eddie Brock dan Venom digambarkan seperti Don Quixote dan Sancho Panza ( sonypictures.com ) Muasal Venom Bermula dari kostum menjadi anti-hero. Begitulah muasalanya Venom hadir di semesta Marvel. Venom mulanya dikonsepsikan bukan sebagai sesosok simbiot anti-hero seperti yang dihadirkan dalam Spider-Man 3 (2007), Venom (2018), Venom: Let There Be Carnage (2021), dan Spider-Man: No Way Home (2021). Gagasan aslinya lahir dari sayembara komik yang dibuat Marvel. Pada 1982, Marvel lewat komik The Amazing Spider-Man membuat sayembara kepada para penggemarnya untuk dijadikan inspirasi bagi penulis dan ilustrator komik dalam merancang kostum baru Spider-Man alias Peter Parker. Dari beberapa ide yang masuk, sang Pemred Jim Shooter menyukai konsep kostum hitam karya Randy Schueller, penggemar berat Spider-Man asal Norridge, Illinois. Dalam kolom cbr.com , 4 Mei 2007, Schueller mengenang bahwa ia tak hanya menggambarkan kostum tapi juga latar cerita di baliknya. Schueller mendesain kostum hitam pekat agar tak terlihat musuh dalam kegelapan, meski ia tetap menyematkan lambang laba-laba berwarna merah di bagian dada. “Saya pikir akan keren jika Spidey bisa meng- upgrade kekuatan dan penampilannya. Jadi saya punya ide bahwa Reed Richards (alter-ego Mister Fantastic) membuatkan kostum baru untuk Spidey menggunakan molekul tak stabil seperti kostum-kostum FF (Future Foundation, red ). Molekul-molekul itu akan mengalir ke dalam pori-pori Peter dan membuatnya bisa menempel di tembok dengan lebih baik. Jadi ide dasar saya kostum itu akan meningkatkan 25 persen kekuatannya,” tulis Schueller. Baca juga: Mulanya Spider-Man Si Manusia Laba-Laba Randy Schueller, suratnya kepada Jim Shooter & komik The Amazing Spider-Man #252  ( cen.acs.org/marvel.com ) Shooter yang menyukai konsep Schueller lalu berkorespondensi via surat pada Agustus 1982. Ide Schueller itu akhirnya dibeli sebesar 220 dolar Amerika. Tetapi pada akhirnya, gagasan Schueller yang lantas terealisasi dalam komik The Amazing Spider-Man nomor 252 edisi Mei 1984 jauh dari gagasan awalnya. Gagasan Schueller kemudian dipadukan dengan ide-ide editor, penulis, dan ilustrator Marvel seperti Roger Stern, Tom DeFalco, Mike Zeck, dan Ron Frenz. Gagasan mereka adalah kostum Spider-Man hitam itu terbentuk dari zat biologis alien atau makhluk luar angkasa yang punya kelemahan terhadap energi suara sonik. Desainnya hampir mirip, bedanya lambang laba-labanya diubah berwarna putih, bukan merah seperti konsep awal Schueller. Baca juga: Stan Lee Godfather -nya Marvel Tetapi saat itu zat tersebut belum dinamai Venom dan bentuknya pun belum seperti sekarang berupa simbiot yang punya mata, mulut, taring besar, dan lidah panjang. Ia hanya berupa kostum alien seperti yang digambarkan dalam film Spider-Man 3. “Saya melihat ide kostum saya dieksekusi dengan cara yang sangat jauh dari yang saya bayangkan. Saya terkejut dan sedih. Lalu bergulir ke 2007, saya melihat kostum hitam (saya) di film Spider-Man 3 . Wow! Nyatanya kontribusi saya membuat film itu jadi blockbuster terbesar. Tetapi saya tak pernah mendapat pengakuan apapun. Saya tak pernah ingin menuntut karena semuanya bukan soal uang. Saya hanya ingin pengakuan akan kontribusi penggemar,” imbuh Schueller. Kemunculan Venom di film Spider-Man 3  tahun 2007 ( sonypictures.com ) Gambaran, latarbelakang, dan penamaan “Venom” baru muncul ketika zat simbiot itu menemukan sosok Eddie Brock, orang kedua yang jadi tempat zat itu menginduk, hasil karya David Michelinie dan Todd McFarlane. Michelinie turut membuka cerita asal-usul simbiot itu dan kekuatan apa saja yang dimiliki Venom ketika menginduk di tubuh Eddie atau sejumlah host lain di komik-komik berikutnya seperti Flash Thompson, Ms. Marvel, Red Hulk, Groot, dan Mysterio. Kepada Comic Crusaders , 11 Oktober 2017, Michelinie berkisah bahwa indikasi eksisnya Venom memang sudah bermula saat ia membuat naskah komik Web of Spider-Man nomor 1 edisi April 1985. Eksistensinya digambarkan berupa sebuah tangan yang mendorong Peter Parker ke jalur keretaapi bawah tanah, walau kemudian naskah itu digantikan naskah lain. “Sebuah tangan mendorong Peter Parker dan tangan itu tak memicu spider sense- nya Peter, di mana saya pikir itu bisa jadi kunci. Itu alasan awal saya menciptakan Venom. Bagaimana jika karakter ini tak terdeteksi insting spider -nya Peter?” kenang Michelinie. Baca juga: Enam Wajah di Balik Topeng Spider-Man Tokoh Eddie Brock awalnya juga bukan pilihan pertama yang akan jadi host Venom lantaran pasti sasarannya bukan laki-laki, melainkan perempuan. Michelinie berniat mengaitkan sosok perempuan yang penuh dendam itu dengan Spider-Man untuk komik The Amazing Spider-Man nomor 300 (edisi Mei 1988). “Sebelumnya saya punya novel grafis, Revenge of the Living Monolith , dalam ceritanya ada perempuan hamil yang suaminya terbunuh sebagai imbas pertarungan Spider-Man dengan monolit hidup itu. Sang perempuan trauma hingga bayi yang ia lahirkan meninggal. Perempuan itu menyalahkan Spider-Man dan sebuah simbiot medeteksi kebencian itu, di mana perempuan itu kemudian menjadi Venom,” imbuhnya. Debut Venom di komik The Amazing Spider-Man  #300 karya David Michelinie ( marvel.com ) Tetapi kemudian, lanjut Michelinie, sang editor komik Jim Salicrup tak terkesan dengan karakter perempuan itu. Dia menganggap seorang perempuan takkan bisa diterima para fans jika bertarung dengan Spider-Man. Maka, Michelinie menciptakan karakter lain untuk menjadi Venom, Eddie Brock, berikut latarbelakang dan motivasinya membenci Spider-Man. Setelah debut Venom pada Mei 1988 itu, Todd McFarlane bersama Michelinie mengembangkan ceritanya di sejumlah komik berikutnya. Venom juga dibuat punya kekuatan berupa dapat berubah bentuk, menghindari spider-sense , dan memulihkan luka dengan sendirinya. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Dalam pengembangan ceritanya, sosok simbiot itu bisa menginduk pada tubuh manusia atau pahlawan super manapun. Tetapi bagi Michelinie, karakter Venom yang menjadi anti-hero hanya ada dalam diri Eddie Brock. “Kebanyakan itu bukanlah Venom yang sebenarnya karena mereka bukanlah Eddie Brock. Untuk saya pribadi, Eddie Brock dan simbiot itu, itulah Venom. Anda bisa menghadirkan orang lain dengan latarbelakang dan motivasi berbeda dan Anda bisa melakukan hal berbeda pula tapi itu bukanlah Venom,” tandas Michelinie. Deskripsi Film: Judul: Venom: Let There Be Carnage | Sutradara: Andy Serkis | Produser: Avi Arad, Matt Tolmach, Amy Pascal, Kelly Marcel, Hutch Parker, Tom Hardy | Pemain: Tom Hardy, Michelle Williams, Stephen Graham, Naomie Harris, Woody Harrelson, Jack Bandeira, Olumide Olorunfemi, Peggy Lu | Produksi: Columbia Pictures, Marvel Entertainment, Avi Arad Productions, Matt Tolmach Productions, Pascal Pictures | Distributor: Sony Pictures | Genre: Superhero | Durasi: 97 Menit | Rilis: 1 Oktober 2021.

  • Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

    PADA 4 April 1972, pesawat Vickers Viscount 613 Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor penerbangan MZ-171 terbang dari Surabaya menuju Jakarta. Pesawat bernama “Merauke” itu diterbangkan oleh pilot Kapten Hindiarto Sugondo dan kopilot Kapten Muhammad Soleh Sukarnapradja. Pesawat mengangkut 36 penumpang dan tujuh awak. Ternyata, salah satu penumpang adalah pembajak. Hermawan seorang diri membajak pesawat dengan granat. Dia memaksa pesawat mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Dia menuntut uang tebusan sebesar Rp25 juta. Kalau tidak dipenuhi pesawat akan diledakkan. Menteri Perhubungan Frans Seda menyatakan pembajakan itu tidak boleh ditolerir. “Diinstruksikan agar pembajaknya ditangkap hidup-hidup. Bila perlu dibunuh demi keselamatan para penumpang,” tulis S. Saiful Rahim dalam Operasi Pembebasan Sandera Pesawat Garuda di Bangkok .

  • Piala AFF, Turnamen Para Jawara Asia Tenggara

    SETELAH setahun tertunda gegara pandemi Covid 19, Piala AFF 2020 akhirnya bisa dihelat 5 Desember 2021-1 Januari 2022. Sebagaimana perhelatan perdananya 25 tahun lampau, Singapura kembali jadi tuan rumah turnamen dua tahunan ASEAN ini. Laga-laganya dihelat di dua venue : National Stadium dan Bishan Stadium. Indonesia tergabung di Grup B bersama Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Tak hanya diperkuat para pemain muda terbaik kompetisi domestik, skuad Indonesia yang berisi 30 pemain juga diisi beberapa pemain yang berkarier di luar negeri.   Mereka yang dipanggil coach Shin Tae Yong yakni Elkan Baggott (Ipswich Town/Inggris), Asnawi Mangkualam (Ansan Greeners/Korea Selatan), Ryuji Utomo (Penang FC/Malaysia), Syahrian Abimanyu (Johor Darul Ta’zim/Malaysia), Witan Sulaeman (Lechia Gdańsk/Polandia), dan Egy Maulana Vikri (FK Senica/Slovakia). “Ini kombinasi pemain yang bagus. Rata-rata usia skuad masih muda. Masa depan tim ini saya yakin akan cerah. Saya dan beberapa exco (komite eksekutif, red.) juga akan berangkat ke Singapura untuk mendukung mereka. Insya Allah mereka bisa jadi juara,” kata Ketua PSSI Mochamad Iriawan, di laman resmi PSSI, 1 Desember 2021. Baca juga: Menggocek Sejarah Sepakbola Vietnam Hingga tulisan ini diturunkan, performa timnas cukup apik. Setelah sukses menghajar Kamboja 4-2, Indonesia menggilas Laos 5-1. Publik sepakbola tanah air tentu berharap banyak pada timnas. Pasalnya, sejak digelar pertama tahun 1996 dan kejuaraan ini masih bernama Piala Tiger, belum sekali pun skuad “Garuda” pernah mencicipi gelar juara. Dari 13 edisi, Indonesia lima kali gigit jari karena sekadar keluar sebagai runner-up (2000, 2002, 2004, 2010, 2016). Skuad Garuda yang diharapkan mencetak sejarah di Piala AFF 2020 ( pssi.org ) Padahal, PSSI adalah satu dari enam pendiri Federasi Sepakbola Asia Tenggara (AFF). Bahkan, Marsekal Madya (Purn.) Kardono yang merupakan Ketua Umum PSSI periode 1983-1991dipercaya menjadi presiden AFF pertama pada 1984. AFF yang jadi bagian dari AFC (Konfederasi Sepakbola Asia)   menaungi semua induk sepakbola se-ASEAN. AFF berdiri pada 1984 dengan markasnya di Kuala Lumpur, Malaysia. Menukil laman resmi AFF, gagasan pendirian AFF diprakarsai oleh lima perwakilan induk sepakbola anggota ASEAN yang menggelar pertemuan di Bangkok, Thailand pada   1982. Mereka   adalah Dato’ Seri Haji Samah (Malaysia), Hans Pandelaki (Indonesia), Fernando G. Alvarez (Filipina), Pisit Ngampanich (Thailand), serta Teo Chong Tee dan Yap Boon Chuan (Singapura). Pertemuan itu didukung Sekjen AFC Peter Velappan. Rapat itu dilanjutkan pertemuan susulan enam delegasi induk sepakbola ASEAN: Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Brunei Darussalam pada 31 Januari-1 Februari 1984. Keenamnya bersepakat mendirikan AFF dengan tujuan kerjasama demi pengembangan sepakbola.   Kardono, dipilih sebagai presiden pertamanya, ditemani Pengiran Ibrahim Pengiran Damit dari Brunei sebagai wakilnya. Baca juga: Roman Sepakbola Negeri Jiran Namu n, turnamen antarnegara ASEAN belum jadi agenda utama. AFF pada tahun itu justru menggelar turnamen antarklub , ASEAN Club Championship . Turnamen itu di juara i Bangkok Bank of Thailand y a n g d i final menang 1-0 atas Yanita Utama di Stadion Utama Senayan. Turnamen tersebut berjalan sampai 1989.Setelah itu, AFF tidak punya agenda lain. “AFF baru menggeliat lagi di pertengahan 1990-an dengan tujuan menggalakkan aktivitas administratif dan edukasi di antara para anggotanya. Dibantu sekjen-sekjen FAM (induk organisasi sepakbola Malaysia) dan FAT (Thailand), Paul Mony Samuel dan Worawi Makudi, bekerjasama dengan AML (AFC Marketing Limited), AFF meluncurkan turnamen utama mereka yang baru untuk tim nasional, Tiger Cup pada 1996,” tulis Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football: The Role of the Asian Football Confederation. Edisi Perdana yang Ternoda Turnamen antarnegara Asia Tenggara itu disepakati digelar dua tahun sekali. Nama “Tiger Cup” diambil bertolak dari sponsor utama, Tiger Beer, brand bir dari produsen Heineken yang berbasis di Singapura. Selain enam anggota pendiri AFF, empat negara yang belum menjadi anggota AFF kala itu turut diundang: Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam.Tujuannya untuk membuktikan siapa yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Pada edisi perdana yang dihelat di Singapura, 2-15 September 1996, itu skuad Indonesia tampil menjanjikan dipenyisihan Grup A yang juga dihuni Vietnam, Myanmar, Laos, dan Kamboja.Namun, Kurniawan Dwi Yulianto dkk. ditumbangkan Malaysia, 3-1, di semifinal. Thailand lantas keluar sebagai juaranya setelah mengalahkanMalaysia, 1-0,di final. Baca juga: Serumpun yang Berseteru di Lapangan Akan tetapi bukan euforia Thailand atau penampilan ciamik bintangnya, Kiatisuk Senamuang, yang jadi buah bibir usai turnamen AFF perdana itu. Kehebohan justru datang dari skandal pengaturan skor yang berkelindan dengan judi sepakbola. Skandal itu terungkap setelah bek Filipina, Judy Saluria, menjadi whistleblower -nya. Mengutip laporan AP News , 20 September 1996, Saluria ditawari uang 50 ribu dolar (senilai 1,3 juta peso Filipina) oleh tiga penyuap asal Singapura dan Malaysia. Kasus itu kemudian jadi perhatian Biro Investigasi Praktik Korupsi Singapura CPIB. “Jaksa penuntut CPIB menguak tiga tersangka, Kandasamy Karuppan (45) dan Yam Phuang Fei (54), keduanya dari Malaysia, dan Chong Dhin Hoong (Singapura). Ketiganya dihadapkan pada ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda 71.430 dolar,” kata laporan tersebut. Timnas Thailand jadi juara di Piala Tiger (kini AFF Cup) pertama tahun 1996 ( aseanfootball.org ) Percobaan suap kepada Saluria itu dilakukan untuk mengatur skor matchday ketiga penyisihan Grup B antara Singapura kontra Filipina pada 6 September 1996. Ketiga penyuap meminta Saluria untuk membiarkan Singapura mencetak banyak gol.Harapan mereka agar Singapura bisa menang hinga 7-0. Pasalnya, di dua laga sebelumnyaSingapura hanya bisa bermain imbang 1-1 kontra Malaysia dan menang 3-0 atas Brunei. Saluria mengaku tidak menerima suap tersebut. Singapura sendiri akhirnya hanya bisa menang 3-0 atas Filipina. Hasil itu membuat Singapura gagal melaju ke semifinal karena hanya bertengger di posisi tiga klasemen di bawah Malaysia dan Thailand. Baca juga: Menangkal Babi-Babi Suap di SEA Games 1991 Saluriadengan ditemani asisten pelatih Hans Smit sudah berusaha melaporkan upaya penyuapan itu kepada otoritas Singapura sebelum 6 September. Tetapi Saluria diminta untuk tutup mulut, setidaknya sampai turnamen usai. Ceritanya bermula dari Smit yang sudah lama mengendus adanya mafia pengaturan skor.Smit memutus semua sambungan telepon di kamar pemain. Karena itulah kemudian Saluria ditemui langsung ketiga tersangka usai konferensi pers jelang matchday kedua Grup B Filipina vs Malaysia pada 4 September. “Saya tahu hal semacam ini (suap) sangat mungkin terjadi karena perjudian dalam laga-laga sepakbola sangat merajalela di Asia,” kata Smit kepada suratkabar Manila Standard , 22 September 1996. Kolase pemberitaan terkait upaya suap terhadap pemain Filipina ( People's Journal edisi 28 November 1996) Saluria ditemani Smitkemudian diminta otoritas Singapura untuk menjebak ketiga tersangka itu. Saluria diperintah untuk berpura-pura mau menerima suap jelang laga Singapura kontra Filipina. Ia setuju. Maka saat ketiga penyuapdatang dan menyerahkan sebuah tas berisi uang kepada Saluria di halaman parkir hotel, mereka langsung diciduk. Ketiganya diajukan ke meja hijaupada 15 November dan diancam hukumanlima tahun penjara dan denda 71.430 dolar. Akan tetapi, ketiganya kemudian dibebaskan dengan sejumlah uang jaminan namun paspor terdakwa asal Singapura dicabut dan dua terdakwa asal Malaysia dilarang masuk Singapura lagi. Lucunya, jauh setelah itu, isu dugaan pengaturan skor juga mengemuka di Piala AFF 2020. Netizen dengan akun @orientalgambler pada 9 Desember 2021 menuduh kemenangan  Malaysia atas Laos,4-0, adalah hasil pengaturan skor. “@affsuzukicup @theaseanball sungguh pertandingan pengaturan skor yang mencolok di mana Laos sengaja mengalah kepada Malaysia. Kalian mesti memulai sebuah investigasi. Ini terjadi di Singapura,” kicau akun tersebut. Otoritas AFF hingga kini belum memberikan tanggapan. Oleh karenanya publik bertanya-tanya, benarkah Piala AFF 2020 kembali tercoreng skandal suap sebagaimana edisi perdana? Baca juga: Utak-Atik Skor Bola di Belakang Layar

  • Kisah Revolusi Kemerdekaan Indonesia dalam Pameran

    KENDATI sudah lewat tujuh dasawarsa, revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) masih menyisakan banyak cerita yang tercecer di balik narasi besar konflik antara republik yang baru berdiri dan Belanda yang ingin menancapkan lagi kuku-kuku kolonialismenya. Benar apa yang dikatakan pujangga Sutan Takdir, bahwa periode empat tahun revolusi itu tak hanya hadir dalam bentuk kekerasan, pertumpahan darah, atau pembumihangusan kota/desa, melainkan juga merupakan revolusi jiwa pemuda Indonesia itu sendiri dalam banyak aspek. Oleh karenanya, sejak 2018, Amir Sidharta dan Bonnie Triyana dari Indonesia berkolaborasi dengan Marion Anker dan Harm Stevens dari Belanda menyusun rencana Pameran “Revolusi Kemerdekaan Indonesia”. Selain tim kurator, Aminuddin Th Siregar, dosen FSRD ITB yang kini tengah menempuh studi doktoral di Universiteit Leiden dan sejarawan Remco Raben turut bergabung sebagai penasihat. Rencananya, pemeran akan dihelat di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda pada 11 Februari-6 Juni 2022 dan di Jakarta pada 2023 walau waktunya masih tentatif. Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kaitan penyelenggaraan pameran dengan proyek riset dekolonisasi yang didukung dana pemerintah Belanda, kurator Harm Stevens mengatakan pameran ini tidak ada hubungan dengan proyek tersebut dan merupakan inisiatif Rijksmuseum sendiri. Baca juga: Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah Kurator Rijksmuseum Harm Stevens (tengah) menyatakan pamerannya tak berkaitan dengan riset dekolonisasi Belanda (Randy Wirayudha/Historia) Pameran ini akan menampilkan banyak cerita terpendam di bawah narasi besar konflik lewat objek-objek yang jarang dipamerkan atau lebih personal. Selain dokumen, album foto, dan seragam peninggalan kombatan republik, beberapa benda seni yang ada di Belanda maupun dari Indonesia turut dipamerkan. Keterlibatan orang-orang, tak hanya serdadu, tapi juga laskar, diplomat, wartawan, penulis, perempuan dan anak-anak turut ditampilkan melalui objek-objek pameran. “Pameran ini memang akan lebih berfokus pada benda-benda. Kami juga sangat tertarik menunjukkan karya seni dari Indonesia di masa revolusi yang berperan dalam propaganda dan mewakili spirit revolusi (kemerdekaan) Indonesia dan saya pikir, hal ini akan menarik untuk bisa diperlihatkan kepada Anda, di mana ini seperti menjadi pameran pionir untuk memperlihatkan ke berbagai sudut pandang, baik Belanda, Indonesia, dan dunia internasional,” kata kurator Rijksmuseum Harm Stevens dalam konferensi pers di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (8/11/2021). Para kurator juga sepakat bahwa kisah revolusi Indonesia akan menampilkan semangat sebuah bangsa merdeka untuk menciptakan kehidupan baru yang terbebas dari kolonialisme. Benda-benda seni mahakarya maestro Indonesia juga menunjukkan peran penting seniman dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Baca juga: Utusan Seni Merangkap Telik Sandi Semua benda seni yang akan dipamerkan tak hanya memberi informasi mengenai bagaimana benda-benda itu bisa sampai dari Indonesia ke Belanda, namun juga mengenai kisah-kisah humanis di baliknya yang jarang termaktub dalam narasi besar era revolusi. Itu diwakili oleh lukisan berjudul Tania Dezentje. Karya dari cat minyak di atas kanvas berukuran 101 x 68 centimeter itu dibuat oleh pelukis Sudarso dari sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM) pada 1947. “Kami senang bisa meminjam lukisan besarnya, di mana ia digambarkan mengenakan semacam seragam militer. Kita bisa bilang penggambarannya sangat maskulin. Dalam perspektif sejarah, mungkin tidak spesifik tentang kewanitaan tapi mungkin lebih universal dan itu memiliki pesan yang sangat kuat,” timpal kurator junior Rijksmuseum Marion Anker. Kurator junior Rijksmuseum Marion Anker (kanan) bersama kurator Amir Sidharta (Fernando Randy/Historia) Pertanyaannya, siapa sebetulnya Tania Dezentjé? Tatiana Eleonora Catharina Charlotte ‘Tania’ Dezentjé merupakan seorang aktivis perempuan dan Indonesianis. Bagi Marion, lukisan Tania membawa warna dan pesan tersendiri dalam revolusi terkait perspektif perempuan. “Kami berpikir bagaimana melibatkan banyak cerita dan salah satu cerita yang menarik adalah tentang perempuan Indo-Eropa, Tania Dezentjé, yang memilih kewarganegaraan Indonesia dan dia menjadi diplomat bagi Indonesia dan berkeliling dunia untuk mempropagandakan revolusi,” imbuhnya. Baca juga: Francisca Fanggidaej, Perempuan Pejuang yang Terbuang Menilik laman de-paula-lopes.nl , Tania adalah anak dari pasangan Henri Charles Dezentjé dan Eleonora Kinzler. Tania lahir di Den Haag pada 8 Juli 1916. Dalam tubuhnya mengalir darah Jawa. Itu didapatnya dari sang kakek, Charles Edmond Dezentjé, yang menikahi istri kedua, Rapminten alias Charlotte, yang masih kerabat Keraton Surakarta. Jika ditilik lebih jauh, Tania juga punya pertalian darah dengan Ernest Regnard Leonce Dezentjé, pelukis “Mooie Indie” ternama dan eks-anggota Bataviasche Kuntskring yang kemudian jadi salah satu seniman kesayangan Presiden Sukarno. Tania dan Ernest masih satu silsilah dari Gaston François Dezentjé (1847-1890) yang merupakan juragan pabrik gula di Karang Anom, Klaten, Jawa Tengah. Tania kemudian menikah dengan Mayor William Justus Mac Gillavry, perwira Angkatan Laut Belanda berdarah Skotlandia-Prancis kelahiran Yogyakarta. Semasa pendudukan Jepang (1942-1944), mereka diseret ke kamp interniran Balapulang, Tegal. Mayor William kemudian dieksekusi Jepang pada 1944. “Tania berjasa pada perjuangan republik dan acap menyiarkan pidato radio dalam bahasa Prancis. Ia kemudian menjadi sekretaris Mohammad Hatta, wakil presiden Indonesia,” ungkap laman silsilah keluarga clanmacgillavry.nl . Tatiana Eleonora Catharina Charlotte ‘Tania’ Dezentjé (kedua dari kanan) di New Delhi, India pada Juli 1947 (Dokumentasi Keluarga) Tania seorang poliglot. Ia fasih berbahasa Inggris, Belanda, Italia, dan Prancis. Karena itulah Tania diikutkan dalam beberapa misi diplomatik sebagai pegawai Kementerian Penerangan RI. Tania kemudian ditempatkan di Indonesia Office (Indoff/Kantor Perwakilan RI) di Singapura hingga ke Mesir pada Juni 1947. Ia ikut dalam rombongan Dr. Soedarsono yang bertolak ke India menggunakan pesawat Dakota milik pebinis India Biju Patnaik. “Di dalam pesawat terdapat Dr. Soedarsono yang akan membuka dan memimpin kantor perwakilan RI di New Delhi dan Nn. Anneke Koesman menjadi sekretaris kepala perwakilan di New Delhi. Juga terdapat dalam pesawat itu Ny. Tatiana Dezentjé yang akan bertugas di Kairo dan Mr. Zairin Zain di Singapura,” tulis Aboe Bakar Lubis dalam Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, dan Saksi. Baca juga: Jasa Patnaik untuk Republik Pesawat itu diam-diam menembus blokade Belanda dan kemudian transit di Singapura. Di Singapura, rombongan diterima kepala Indoff di Singapura Mr. Utoyo Ramelan, kakak kandung Utami Suryadarma (istri KSAU Suryadarma). Setelah ketambahan satu penumpang, seorang dokter asal Mesir, pesawat melanjutkan penerbangan ke New Delhi, India. “Oleh Mr. Utoyo telah diberangkatkan besama dokter Mesir itu seorang pegawai perwakilan RI, yaitu Nyonya Tania Dezentjé. Alasannya nyonya ini selain pandai berbahasa Inggris, juga fasih bahasa Prancis dan Italia, dua bahasa yang sangat berguna untuk mendekati Kerajaan Mesir waktu itu. Misalnya ibu Raja Farouk tidak pandai bahasa Inggris tapi fasih berbahasa Prancis dan Italia, selain dari bahasa Arab tentunya,” kata Mayor Munir, eks opsir penghubung Panglima TNI Jenderal Sudirman dengan Panglima Komandemen Sumatra, dalam tulisannya di Majalah Sarinah , 19 Agustus 1985. Setelah bertugas di Mesir, Tania pindah ke Berlin. Di Berlin, Tani bertemu dengan jurnalis Burhanuddin Mohammad Diah yang lalu menuliskan pertemuan itu dalam liputannya untuk Indonesia Observer pada akhir 1947. Ketika ditemui BM Diah, Tania sudah menikah lagi. “Saya dan istri adalah manusia Indonesia (berpaspor RI) yang pertama menginjakkan kakinya di negara Eropa, khususnya Jerman yang masih hancur berantakan tahun 1947 itu. Karena dia kami mengunjungi Berlin. Tania Dezentjé kawin dengan wakil India yang ditempatkan di Berlin. Kami gembira sekali bertemu dengan orang Indonesia yang kami kenal dalam masa perjuangan fisik,” ungkap BM Diah dalam Butir-Butir Padi B.M. Diah: Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman . Hingga pengakuan kedaulatan pada 1949, Tania tetap aktif sebagai diplomat. Ia wafat pada tahun 2000 di Jakarta. Baca juga: Mesir dan Kemerdekaan Indonesia

  • Kisah Chicken Kiev untuk Jenderal Moersjid

    Setelah menandatangani surat penahanan yang diwarnai insiden “pulpen terbang”, Mayor Jenderal Moersjid bergegas meninggalkan Markas Besar Angkatan Darat. Sebelum berangkat ke rumah tahanan, Moersjid meminta izin Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Umar Wirahadukusumah –perwira yang menyodorkan surat penahanan– untuk pulang ke rumah. Tujuan kepulangan itu hanya sekedar ambil pakaian dan pamitan dengan keluarga.    Hari itu, 8 Desember 1969. Aktivitas di kediaman Moersjid justru sedang menyambut hari sukacita. Dua hari lagi adalah hari ulang tahun Moersjid.   “Saat itu Ibu sedang mempersiapkan masakan untuk tanggal 10,” kata Siddharta, putra ke-4 Moersjid, kepada Historia.id . Baca juga:  Moersjid, Jenderal yang Nyaris Menjadi Satpam Aneka masakan untuk hari raya keluarga itu disiapkan oleh Siti Rachma, sang nyonya rumah. Salah satu menu istimewa untuk hajatan tersebut adalah Chicken Kiev. Secara sederhana ia sama seperti ayam goreng mentega. Namun, mentega yang mengisi bagian dalamnya menggunakan mentega dingin yang sudah diramu bumbu rempah. Menu ini disebut pula “daging potong ala Kiev”. Entah sejak kapan Moersjid doyan makanan khas Eropa Timur ini. “Mungkin belajar saat di Manila (ketika menjadi duta besar RI untuk Filipina). Atau ayah pernah coba waktu pergi ke Rusia,” sambung Siddharta. Kudapan lain yang disiapkan Siti Rachma adalah kue lapis legit yang dimasak dengan arang.   Setiba di rumah, Moersjid tidak menghabiskan waktu lama. Sebentar dia bercengkrama dengan Siti Racmah di dalam kamar, menjelaskan apa yang terjadi. Begitu keluar dari kamar, Moersjid sudah menenteng sekoper pakaian. Makanan lezat yang sedang disiapkan di rumah itu mendadak berubah rasa menjadi asin. Bukan karena terlalu banyak garam tapi ia “asin” oleh sebab air mata Siti Rachma yang menitik kala melepas kepergian Moersjid.       Baca juga:  Kekecewaan Istri Seorang Jenderal: Kisah Siti Rachma Moersjid Moersjid beranjak meninggalkan rumahnya di bilangan Senayan menuju Rumah Tahanan Militer Boedi Oetomo. Tanpa pengawal, ia hanya ditemani seorang pengemudi sipil. Sebelum menyerahkan diri, Moersjid singgah sebentar ke Markas Corps Polisi Militer. Sepucuk revolver miliknya dia serahkan terlebih dahulu. Begitulah tutur Siddharta, ayahnya “ cek in ” sendiri ke rumah tahanan. Pada 10 Desember, hari yang ditunggu tiba. Moersjid resmi menjadi penguni rumah tahanan. Hari yang seyogianya berbahagia itu berganti menjadi ratapan sekeluarga. Tidak ada pesta ulang tahun, acara tiup lilin, apalagi makanan enak-enak untuk disantap. “Kami tidak jadi makan Chicken Kiev yang sedang disiapkan oleh Ibu. Padahal itu makanan kesenangan ayah. Sejak itu, Ibu tidak pernah mau lagi bikin Chicken Kiev , karena ada bad memory ,” kenang Siddharta. Empat tahun lamanya Moersjid ditahan tanpa diadili. Pada 1973, Moersjid dibebaskan sekaligus namanya direhabilitasi. Namun, sehari sesudah bebas, keluar keputusan Moersjid dipensiunkan dalam pangkat mayor jenderal pada usia 48 tahun. Baca juga:  Moersjid, Jenderal Pemarah yang Disegani Sukarno Sepanjang hayatnya kemudian, tanda tanya terus menggelayut di benak Moersjid. Mengapa dirinya difitnah, dimasukkan penjara selama empat tahun tanpa diadili dan langsung dipensiunkan pada usia 48 tahun. “Sampai kematian menjemput, dia tetap merasa difitnah, dituduh mendukung Bung Karno dan lain-lainnya lagi,” tulis Julius Pour dalam Kompas , 25 Agustus 2008.

  • Maaf dan Ganti Rugi Belanda atas Penjajahan di Indonesia

    Pemerintah Belanda telah beberapa kali meminta maaf kepada korban perang kemerdekaan di Indonesia. Terakhir, pada Maret 2020, Raja Belanda Willem-Alexander bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Di depan media, ia menyatakan permintaan maaf atas kekerasan perang kemerdekaan periode 1945–1949. Pada 17 Agustus hingga 16 September 2021, Historia.id bekerja sama dengan harian Belanda, De Volksrant , melakukan survei atau jajak pendapat tentang persepsi penjajahan Belanda di Indonesia. Survei ini dilakukan secara daring terhadap 1.604 responden yang tersebar di 34 provinsi, yang di antaranya meminta pendapat mengenai permintaan maaf raja Belanda berkaitan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan tentara Belanda pada perang kemerdekaan di Indonesia. Hasilnya, sebanyak 74,06 persen responden mengetahui perihal permintaan maaf raja Belanda itu, dan 25,94 persen responden tidak tahu. Ini menandakan sebagian besar masyarakat Indonesia mengetahui berita tentang permintaan maaf raja Belanda. Lalu, apakah responden merespons positif permintaan maaf Raja Belanda Willem-Alexander? Hasilnya, lebih dari 70 persen responden belum merespons positif. Sebanyak 31,67 persen responden menjawab permintaan maaf raja Belanda itu dibutuhkan. Baca juga:  Mayoritas Responden Tuntut Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 Sementara itu, responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 25,94 persen; 22,69 persen menjawab sudah terlambat; tidak perlu sebanyak 5,17 persen; 2,62 persen menjawab permintaan maaf sudah tepat waktunya; dan 0,37 persen menganggap terlalu dini. Sedangkan 11,53 persen responden menjawab dengan jawaban lain, seperti harus mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukan dan membayar segala kerugian yang dialami bangsa Indonesia. Pernyataan permintaan maaf dari kerajaan atau pemerintah Belanda sudah beberapa kali dilakukan. Pada 2013, bertepatan dengan peringatan peristiwa pembantaian Rawagede (sekarang Desa Balongsari) di Karawang, Jawa Barat, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd De Zwaan menyatakan permintaan maaf kepada keluarga korban pembantaian Rawagede. Indonesia menyatakan korban pembantaian Rawagede berjumlah 431 orang, namun pihak Belanda mencatat 150 orang. Permintaan maaf Dubes Zwaan itu dilakukan setelah Kejaksaan Negeri Belanda memutuskan kasus tuntutan para janda Rawagede yang suaminya dibunuh oleh tentara Belanda. Selain permintaan maaf, pemerintah Belanda juga harus memberikan kompensasi kepada sepuluh janda yang telah berjuang di pengadilan Belanda sejak 2011 sebesar 20.000 euro atau saat itu nilainya sekitar Rp270 juta. Baca juga:  Pengadilan Pembantaian Rawagede: Kemenangan dari Masa Lalu Kompensasi kepada sepuluh janda korban pembantaian Rawagede itu dianggap setengah hati. Pandangan ketidakpuasan tercermin dari hasil jajak pendapat ini. Sebagian besar responden (77,06 persen) berpendapat bahwa Belanda harus membayar ganti rugi kepada Indonesia atas seluruh penjajahan. Sisanya 22,94 persen responden berpendapat tidak harus membayar ganti rugi. Dasar pertimbangan ganti rugi, menurut 47,26 persen responden, karena penjajahan Belanda telah mengakibatkan kerugian material dan nonmaterial. Sedangkan bagi 19,64 persen responden, Belanda harus membayar ganti rugi karena telah menjajah selama lebih dari 3,5 abad. Cukup besar responden (22,94 persen) yang tidak tahu atau tidak menjawab dasar pertimbangan Belanda harus membayar ganti rugi. Kejahatan Perang Permintaan maaf pemerintah Belanda, seperti disampaikan Raja Belanda Willem-Alexander hanya untuk periode perang kemerdekaan Indonesia (1945–1949), juga dianggap belum cukup. Responden meminta pengakuan “kejahatan perang” dan permintaan maaf atas seluruh penjajahan Belanda. Sebab, responden (32,04 persen) menganggap tindakan kekerasan militer Belanda pada perang kemerdekaan 1945–1949 bukanlah satu-satunya periode terburuk penjajahan Belanda. Bahkan, sebagian besar responden (37,97 persen) berpendapat periode terburuk penjajahan Belanda adalah pelaksanaan tanam paksa pada abad ke-19. Periode terburuk penjajahan Belanda lainnya yang dipilih oleh 11,16 persen responden adalah pembunuhan massal di Pulau Banda pada 1621. Sedangkan 9,60 persen responden menyebut kekejaman perang pada penaklukkan Aceh dan wilayah lain pada abad-19. Baca juga:  Tanam Paksa Periode Terburuk Penjajahan Belanda Apa yang terjadi di Hindia Belanda terus menjadi kegelisahan di kalangan politikus, veteran, dan pejabat pemerintahan Belanda. Praktik kekerasan dan kekejaman militer Belanda kepada penduduk sipil meninggalkan jejak trauma hingga saat ini. Sejarawan Belanda Geert Oostindie mengungkapkan bahwa dilema “kejahatan perang” kolonial itu telah menjadi polemik dan perdebatan di kalangan politisi Belanda pada 1969. Bahkan, Perdana Menteri Belanda Piet de Jong, yang mantan Angkatan Laut, menerangkan dengan tegas masalah “ekses-ekses” dalam aksi militer di Hindia Belanda. Para korban sipil yang jumlahnya ribuan itu dipandang karena “ekses” atau situasi tak terkendali yang dihadapi dalam peperangan. Baca juga:  Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah Dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1950: Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah , Geert Oostindie mengungkapkan sikap Belanda yang masih menutup persoalan periode buruk perang dekolonisasi di Indonesia pada 1945–1949, seperti yang dikutipnya dari pernyataan surat De Jong kepada Tweede Kamer (Majelis Rendah) pada 29 Januari 1969: “Pemerintah menyesalkan bahwa telah terjadi ‘ekses-ekses’ tetapi pemerintah mempertahankan pandangannya bahwa seluruh angkatan perang Belanda di Indonesia telah berperilaku benar. Data-data yang dikumpulkan menegaskan bahwa di masa itu tidak ada tindakan kekejaman sistematis.” Baca juga:  Van Mook, Tokoh Belanda Kontroversial dalam Memori Orang Indonesia Butuh waktu lama, sekitar 40 tahun lebih, persoalan “kejahatan perang” dibuka dan diperbincangkan di publik dalam negeri Belanda. Sejak dikabulkannya tuntutan janda-janda Rawagede oleh Kejaksaan Negeri Belanda, bergulirlah penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh peneliti dan sejarawan Belanda terkait kekerasan, kejahatan kemanusiaan, perkosaan dalam perang dekolonisasi, untuk membuka fakta-fakta tentang kejahatan perang yang dilakukan tentara Belanda. Berikut ini kesaksian seorang veteran perang Belanda yang diungkap oleh Remy Limpach, sejarawan Belanda dan bekerja di Institute Sejarah Militer Belanda (NIMH), dalam disertasinya setebal 870 halaman, yang versi pendeknya terbit dalam bahasa Indonesia pada 2019 berjudul Kekerasan Esktrem Belanda di Indonesia: Perang Kemerdekaan Indonesia pada 1945–1949 . “Butuh beberapa waktu sebelum saya menyadari apa yang dilakukan Belanda di sana betul-betul salah. Dengan artileri brengsek milik kita itu […] kampung-kampung yang penuh perempuan dan anak-anak dihujani tembakan sehingga rata tanah … malah juga pada awalnya itu kita anggap indah: kembang api! Christus, Kennedy, dan Cruijff digabung bersama.”” Baca juga:  Trauma Serdadu Belanda dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

  • Kontroversi Ballon d’Or

    SEANDAINYA Johan Cruyff  masih hidup, mungkin ia bisa tersenyum puas. Nubuatnya pada 2012 tentang rekor Ballon d’Or Lionel Messi menjadi kenyataan pada akhir tahun ini (2021) atau lima tahun pascapesepakbola legendaris Belanda peraih tiga trofi bola emas itu mangkat. “Sejauh ini dia pemain terbaik di dunia. Dia mungkin akan memenangkan lima, enam, atau tujuh Ballon d’Or. Dia tiada bandingannya. Messi berada dalam nominasi karena dia memenangkan setiap titel penting, karena dia telah memenangkan dua Ballon d’Or dan akan memiliki koleksi Ballon d’Or terbanyak dalam sejarah,” kata Cruyff kepada media Argentina, Olé , 8 Januari 2012. Untuk ketujuh kalinya, Messi menerima penghargaan pesepakbola terbaik itu. Lewat penganugerahan yang berlangsung di Théâtre du Châtelet di Paris, Senin (29/11/2021) malam itu sekaligus menegaskan Messi menjadi pemain terbanyak yang mengoleksinya (2009, 2010, 2011, 2012, 2015, 2019, 2021). Baca juga: Lionel Messi, Alien Sepakbola yang Membumi Bintang Argentina yang membela klub Paris Saint-Germain (PSG) itu merengkuh trofi ketujuhnya setelah mendapat poin terbanyak dari 180 jurnalis yang jadi voters-nya. Dari 30 nama yang dinominasikan, Messi meraih 613 poin, diikuti Robert Lewandowski (Polandia/Bayern Munich) 580 poin, Jorginho (Italia/Chelsea) 460 poin, Karim Benzema (Prancis/Real Madrid) 239 poin, dan N’Golo Kanté (Prancis/Chelsea) 186 poin. Bintang Portugal yang main di Manchester United, Cristiano Ronaldo, dan Mohamed Salah (Mesir/Liverpool) hanya menempati urutan keenam dan ketujuh. Namun capaian Messi itu menuai suara sumbang. Media Jerman Bild menyatakan itu hasil skandal. Beberapa tokoh sepakbola, seperti Lewandowski, pun menganggap ada pemain lain yang lebih baik dan lebih pantas mendapatkannya ketimbang Messi. “Saya tidak yakin dengan (hasil Ballon d’Or) itu, 100 persen. Anda bisa selalu memberikannya kepada Messi atas kariernya tapi jika Anda tak memberikannya kepada Lewandowski kali ini, setelah tahun ini, akan cukup tricky baginya untuk mendapatkannya sama sekali. Dan Mo (Salah) harusnya mendapat hasil lebih tinggi. Votingnya oleh jurnalis, kan? Jangan tanya saya –itu salah kalian. Bicaralah pada para kolega kalian jika mestinya hasilnya berbeda,” tutur pelatih Liverpool Jürgen Klopp, dikutip ESPN , Selasa (30/11/2021). Baca juga: Wartawan Pencetus Ballon d'Or Jurgen Norbert Klopp bersama Mohamed Salah Hamed Mahrous Ghaly (kiri) & Robert Lewandowski ( liverpoolfc.com/fcbayern.com ) Kritikan lebih pedas dilayangkan Jean-Pierre Papin. Striker Prancis yang merengkuh Ballon d’Or 1991 itu menilai tahun ini Messi sedang dalam performa yang sangat buruk, terutama jelang kepindahannya dari Barcelona ke PSG pada Agustus lalu. Prestasinya hanya raihan Copa América 2020 bersama timnas Argentina. Itu berkebalikan dengan catatan Lewandowski tahun ini. Lewandowski memainkan 51 laga dengan 61 gol, sedangkan Messi dengan 56 laga hanya mengumpulkan 41 gol. Di klub, Messi hanya memenangkan Copa del Rey. Padahal, Lewandowski memenangkan Bundesliga, DFL-Supercup, dan Piala Dunia Antarklub. Jangankan dibandingkan dengan Lewandowski, prestasi Ronaldo di laga-laga penting MU masih dianggap lebih baik ketimbang Messi di PSG. Maka hasil itu dianggap kontroversi. “Dia (Messi) sempat tak bermain selama lima bulan! Sejak memenangkan Copa América, apa yang telah dilakukan Messi di Paris? Dia mencetak satu gol di liga, tiga di Champions League. Tahun ini dia tak laik mendapatkannya. Memilih Messi di 2021 hanya akan mendevaluasi Ballon d’Or karena sepertinya trofi itu tak lagi untuk diberikan kepada pemain yang sedang dalam performa tinggi,” kata Papin kepada Le Parisien . Baca juga: Argentina dan Trofi Copa America yang Dirindukan Lewandowski sendiri lewat akun Twitter -nya, @lewy_official , legawa dan bersikap sportif dengan mengucap selamat kepada Messi. Ucapan selamat itu mendorong Messi untuk menanggapinya. “Robert, Anda laik mendapatkan Ballon d’Or Anda. Tahun lalu semua orang tak sepakat jika Anda menang penghargaan ini. Semoga (penyelenggara) France Football akan memberikan Anda Ballon d’Or 2020. Kami semua yakin dan saya berharap Anda mendapatkannya di rumah,” kata Messi, dilansir talkSPORT , (Selasa 30/11/2021). Bukan kali ini saja pemenang Ballon d’Or banjir kritik. Berikut lima pemain yang meraihnya namun diliputi kontroversi: Igor Belanov (1986) Igor Ivanovich Belanov dan trofi Ballon d'Or 1986 ( francefootball.fr ) Bagi pecinta sepakbola era 2000-an kemari, nama Igor Belanov mungkin terdengar asing. Padahal, striker Uni Soviet yang membela Dynamo Kyiv itu memenangi Ballon d’Or tahun 1986. Karier sepakbola Belanov –kelahiran Odessa, Ukraina pada 25 September 1960– terdongkrak setelah bergabung dengan Dynamo Kyiv yang ditangani pelatih tenar Valery Lobanovski. Lobanovski yang menginspirasi Ralf Rangnick, pelatih Manchester United saat ini, kala menciptakan taktik gegenpressing yang kondang saat ini. Lewat tangan dingin Lobanovski, Belanov mulai dikenal sebagai pemain yang punya power dan kecepatan. Itu membuatnya setara dengan bintang Kyiv lain, Oleg Blokhin. Hasil dari duetnya adalah juara Piala Winners 1985-1986. Baca juga: Kisah Klopp, Liverpool dan Gegenpressing Namun, di level internasional, Belanov hanya mampu mengantarkan timnas Soviet ke babak 16 besar Piala Dunia 1986 dengan torehan empat gol sepanjang turnamen. Maka ketika 26 voters memenangkan nama Belanov meraih Ballon d’Or 1986 dengan 84 poin, banyak pihak terhenyak. Yang paling jengkel adalah Diego Maradona . Pasalnya, tahun 1986 tahun keemasannya baik di Napoli dan maupun timnas Argentina. “Sejak 1984 mestinya saya sudah menangkan (Ballon d’Or), tapi orang Prancis (Michel Platini) itu yang menang. Katakanlah saya menang sekali. Pada ’85 Platini menang lagi. Apakah dia membeli trofinya? Lalu pada ’86 Belanov yang menang. Igor Belanov? Di ’86? Ayolah! Itu tahun Piala Dunia di mana saya menang bersama Argentina, seandainya Anda lupa. Mestinya saya sudah dapat dua,” ujar Maradona dalam Touched by God yang ditulisnya bersama Daniel Arcucci. Maradona sial lantaran terbentur regulasi. Sebelum 1995, Ballon d’Or masih dikhususkan untuk pemain Eropa. Namun jika Maradona tidak bisa, banyak pihak menganggap Gary Lineker lebih pantas menerima trofi itu ketimbang Belanov. Pasalnya, bomber Inggris itu penampilannya lebih konsisten dan jadi topskorer Piala Dunia 1986 (enam gol). “Selain Maradona ada Careca dari Brasil tapi mereka tak bisa masuk nominasi karena dulu masih khusus pemain Eropa, jadi saya berasumsi saya yang akan menang. Tetapi voting-nya dilakukan para jurnalis dan mereka belum pernah memilih pemenang dari Blok Timur. Untuk alasan tertentu itulah mereka memilih Igor Belanov. Dia bukan pemain fantastis, terlepas membantu Dynamo Kyiv menang Piala Winners. Dia mengalahkan saya,” kata Lineker dalam Match of the Day: Our Ultimate Football Debates yang dituliskan bersama Alan Shearer dan Micah Richards. Matthias Sammer (1996) Matthias Sammer, satu dari sedikit pemain bertahan yang memenangi Ballon d'Or ( francefootball.fr ) Sekarang, bisa dibilang Sukar bahkan mustahil untuk pemain bertahan, apalagi kiper, bisa menang Ballon d’Or. Virgil van Dijk (Belanda/Liverpool) pernah nyaris menang pada 2019 tapi akhirnya kalah tujuh poin dari Messi. Maka selain Fabio Cannavaro (Italia/Juventus) pada 2006, hanya ada Matthias Sammer (Jerman/Borussia Dortmund) yang pernah memenangkannya (1996) kendati berkalang kontroversi. Pada 1996, jumlah voters sudah bertambah menjadi 51. Selain Sammer, kandidatnya di lima besar ada Ronaldo Luiz Nazario de Lima (Brasil/Inter Milan), Alan Shearer (Inggris/Newcastle United), Alessandro Del Piero (Italia/Juventus), dan Jürgen Klinsmann. Mulanya, banyak yang mengira pemenangnya akan jatuh pada Ronaldo (Brasil/Barcelona). Tahun itu kebintangannya tengah benderang dengan raihan trofi Copa del Rey, Supercopa de España , dan Piala Winners. Ronaldo juga jadi topskorer La Liga dan meraih European Golden Shoe. Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena Jika bukan Ronaldo, Ballon d’Or diprediksi akan jatuh ke kapten Jerman saat menjuarai Piala Eropa 1996, Klinsmann. Selain sukses dengan timnas, Klinsmann bersama Bayern memenangkan Bundesliga dan Piala UEFA. Klinsmann jadi pemain tersubur turnamen itu. Namun, banyak orang akhirnya tercengang ketika nama Sammer disebut sebagai pemenang Ballon d’Or 1996. Sammer unggul satu poin (144) dari Ronaldo (143). Shearer yang menempati urutan ketiga (107) jadi salah satu yang kaget dan kecewa. Dia masih bisa terima jika kalah dari Ronaldo, namun tidak dengan Sammer. “Saya pikir saya punya kesempatan memenangkan Ballon d’Or. Saya sudah melakukan segalanya yang saya bisa di tahun 1996: Saya finis topskorer di Piala Eropa musim panas itu, dan memecahkan rekor tranfer dunia ketika saya direkrut Newcastle, beberapa bulan setelahnya. Pada akhirnya saya hanya finis ketiga di bawah Matthias Sammer –si kapten Jerman– dan Ronaldo,” ungkap Shearer dalam Match of the Day: Our Ultimate Football Debates yang dituliskan bersama Gary Lineker dan Micah Richards. Luís Figo (2000) Kolase Luís Filipe Madeira Caeiro Figo yang menang Ballon d'Or menyingkirkan Francesco Totti (Twitter @ChampionsLeague) Dunia sepakbola pada peralihan abad XX ke XXI melahirkan banyak pemain jempolan. Namun, tak satupun dari mereka yang lantas dimenangkan oleh 51 voters untuk trofi Ballon d’Or 2000. Awalnya, publik memprediksi Zinedine Zidane yang akan menang. Selain tengah onfire bersama Juventus, dia menjadi motor Prancis menjuarai Piala Eropa 2000 dan Zidane jadi pemain terbaiknya. Selain Zidane, kandidat kuat peraih Ballon d’Or 2000 adalah Francesco Totti . Striker AS Roma dan Italia itu jadi pemain terbaik Serie A 2000, man of the match final Piala Eropa 2000, dan sedang menyongsong titel Serie A bersama Roma . Baca juga: AS Roma Harga Mati bagi Francesco Totti Namun, tak satupun dari kandidat kuat itu yang menang Ballon d’Or 2000. Justru Luís Figo yang keluar sebagai pemenangnya dengan 197 poin, mengalahkan Zidane (181 poin) dan Shevchenko (85 poin). Publik pun bertanya. Pasalnya, gelandang Portugal itu sepanjang tahun 2000 hanya punya prestasi berupa pemain asing terbaik La Liga 1999 dan 2000, mengantarkan Barcelona ke semi-final Champions League, dan runner-up La Liga 1999-2000. Figo juga tengah jadi sasaran murka fans Barcelona lantaran pada Juli 2000 membelot ke musuh bebuyutan, Real Madrid. Toh, Figo tetap jadi pemenangnya. Namun butuh waktu lama baginya untuk mengakui bahwa trofi itu lebih pantas diraih Totti. “Francesco yang luar biasa, kamu bertambah tua ya? Ulang tahun ke-40, harapan terbaik untukmu, temanku. Dan saya minta maaf telah mencuri Ballon d’Or di tahun 2000 –kamu yang pantas mendapatkannya,” kata Figo dalam video ucapan ulangtahun, dikutip Football-Italia , 27 September 2016. Pavel Nedvěd (2003) Pavel Nedvěd saja kaget menang Ballon d'Or 2003 ( francefootball.fr ) Tahun 2003 adalah tahun kejayaan Thierry Henry (Prancis/Arsenal) dan Paolo Maldini (Italia/AC Milan). Nama-nama seperti Zinedine Zidane (Prancis/Real Madrid), Andriy Shevchenko (Ukraina/AC Milan), dan Raúl González (Spanyol/Real Madrid) pun tak kalah ciamik lantaran punya peran besar di tim masing-masing. Henry punya catatan 42 gol dan 26 assist , baik untuk Arsenal maupun timnas Prancis, dalam setahun itu. Publik pun banyak yang menjagokan pemain kunci di skuad “The Invincibles” Arsenal asuhan Arsène Wenger itu. Tetapi di malam penganugerahan Ballon d’Or 2003, kejutan terjadi. Pavel Nedvěd (Rep. Ceko/Juventus) mendapatkan 45 poin dari 52 voters sehingga memenangkannya. Henry harus puas di tempat kedua (37), dan Maldini (38) di posisi tiga. Baca juga: Trofi Piala Dunia Tinggal Kenangan Padahal, Nedvěd bukan satu-satunya pilar kunci Juventus kala menang Scudetto musim 2002-2003. Ia pun gagal tampil di final Champions League 2002-2003 karena akumulasi kartu kuning. Oleh karenanya, Nedvěd mengaku kaget saat namanya disebut sebagai pemenang. “Saya bahkan tak pernah memimpikannya. Saya dengar hanya jadi bagian dari nominasi tapi saya tak pernah berpikir bakal menang. Ada banyak pemain yang permainannya bagus di musim ini, seperti Zidane, Maldini, dan Raúl. Henry bagi saya adalah penyerang terbaik saat ini. Saya tak pernah berpikir bisa mengalahkan Henry, Maldini atau Zidane dan jika saya berhak voting, saya akan memilih Thierry di podium,” tutur Nedvěd, dinukil BBC , 22 Desember 2003. Cristiano Ronaldo (2013) Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro mengoleksi Ballon d'Or keduanya pada 2013 ( realmadrid.com ) Gelar juara Bundesliga, ceklis. DFB Pokal, ceklis. Trofi Champions League, ceklis. Piala Super Eropa, ceklis. Piala Dunia Antarklub, ceklis. Lembar prestasi Frank Ribéry bersama Bayern Munich di tahun 2013 sepertinya sudah kehabisan kolom ceklis. Ia juga pemain terbaik dan top- assist Bundesliga musim 2012-2013 dan peraih bola emas Piala Dunia Antarklub 2013. Namun apes buat winger lincah berpaspor Prancis itu lantaran sejumlah ceklis itu belum cukup untuk membuatnya dianugerahi Ballon d’Or. Ballon d’Or tahun 2013 yang masih diselenggarakan bareng FIFA jatuh ke tangan Cristiano Ronaldo (Portugal/Real Madrid) dengan 1.365 suara. Itu jadi Ballon d’Or kedua Ronaldo setelah 2008. Ronaldo mengalahkan Messi (Argentina/Barcelona) di tempat kedua dengan 1.205 suara. Ribéry yang sudah memenangkan banyak hal cuma bertengger di tempat ketiga dengan 1.127 suara. Memang kalau soal gol, Ribéry masih kalah dari Ronaldo atau Messi. Dari semua ajang, klub maupun internasional, tahun 2013, Ronaldo membukukan 66 gol dari 56 laga; Messi 42 gol dari 45 laga; dan Ribéry 22 gol dari 52 laga. Tetapi jika bicara raihan trofi, di tahun itu Ronaldo puasa gelar. Messi lebih baik, dia merengkuh titel La Liga. Sedangkan Ribéry, memenangkan segalanya. Terang saja Ribéry sewot. Sampai 2019 pun ia mengenang momen itu sebagai “perampokan” berbau politis. “Lebih dari sekadar kekecewaan. Itu adalah ketidakadilan terbesar, tak hanya dalam karier saya tapi juga bagi banyak orang. Saya tak merasa harus iri pada Messi atau Ronaldo tahun itu. Saya mengatakannya dengan segala kerendahan hati karena itulah kebenarannya. Saya memenangkan segalanya. Ronaldo tak memenangkan apapun. Saya merasa pantas mendapatkan penghargaan itu. Itu semua karena politik,” ujarnya, dikutip Essentially Sports , 14 Juni 2019. Baca juga: Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira

  • Van Mook, Tokoh Belanda Kontroversial dalam Memori Orang Indonesia

    Jajak Pendapat “Persepsi Penjajahan Belanda di Indonesia” yang digulirkan Historia.id bekerjasama dengan Volkskrant pada 17 Agustus–16 September 2021 mengungkapkan, mayoritas orang Indonesia menganggap alasan di balik sikap Belanda menentang kemerdekaan Indonesia pada 1945 adalah karena “Belanda hanya ingin memulihkan kekuasaan kolonialnya.” Pendapat tersebut disuarakan oleh 74, 62% dari 1.604 responden. Jawaban “Belanda hanya ingin memulihkan kekuasaan kolonialnya” tak bisa dilepaskan dari nama Van Mook. Kendati bukan yang terbesar persentasenya, nama Van Mook juga muncul di jajak pendapat, tepatnya di jawaban dari pertanyaan “Tokoh-tokoh yang berperan dalam kolonialisme Belanda di Indonesia.”   Upaya pemulihan kekuasaan Belanda pasca-perang dan Van Mook merupakan dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena faktanya memang demikian. Usai Perang Dunia II, Belanda berupaya keras memulihkan kekuasaannya di bekas Hindia Belanda. Upaya tersebut dilakukan dengan membonceng pasukan Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) pimpinan Letjen Sir Philip Christison yang, sesuai Perjanjian Potsdam, bertugas menjaga ketertiban dan keamanan di bekas Hindia Belanda. Upaya lebih serius kemudian dilakukan Belanda dengan mengirim Hubertus Johannes van Mook, letnan-gubernur jenderal Hindia yang mengungsi ke Australia semasa perang, untuk memimpin Netherlands Indies Civil Administration (NICA) menjalankan pemerintahan sipil seperti sebelum perang. Hubertus Johannes Van Mook merupakan birokrat senior cum intelektual Hindia Belanda. Lahir di Semarang pada 30 Mei 1893, masa kecil dan remajanya dihabiskannya di Jawa Timur (Malang dan Surabaya). Dari Surabaya, Van Mook melanjutkan pendidikan tingginya ke Leiden untuk belajar Indologi (1916-1918). Di masa kuliah itu ia banyak dipengaruhi pemikiran Snouck Hurgronje, orientalis terkemuka yang saat itu menjabat penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan bumiputra. Van Mook mulai memimpikan negara federal di tempat kelahirannya saat itu. Ia juga bergaul karib dengan orang-orang bumiputra yang berkuliah di sana. Kedekatan itu, ditambah perhatian sama akan Hindia Belanda, mendorong Van Mook sebagai ketua Perhimpunan Ahli Indologi Leiden membuat Indische Studentencongres (Kongres Mahasiswa Hindia) pada 23-24 November 1917 di Leiden. “Kongres itu dimaksudkan sebagai ‘dua hari propaganda bagi penyatuan Mahasiswa Hindia dalam arti yang seluas-luasnya.’ Hasilnya sungguh luarbiasa; Perhimpunan Hindia dan Perhimpunan Cina Chung Hwa Hui masing-masing mengirimkan juru bicaranya; perhimpunan-perhimpunan mahasiswa dari Utrecht, Delft, Leiden, dan Wageningen pun diwakili,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 . Baca juga:  Universitas Leiden Resmikan Koleksi Asia Terbesar di Dunia Dalam kongres itu, Van Mook menjadi pembicara terakhir. Dia mengutarakan pendapatnya tentang “mimpi” berdirinya negara federal di Hindia. Namun, mimpi itu masih terlalu jauh. Untuk menuntut adanya parlemen saja, katanya, belum memungkinkan karena jumlah kaum elite di Hindia masih amat kecil dan daerah-daerah di Hindia amat berbeda satu sama lain. Sebagai jawaban, dia menawarkan langkah yang lebih masuk akal berupa pengembangan berangsur-angsur berlandaskan pembentukan organ-organ demokrasi di tingkat lokal kemudian tingkat regional. “Jadi gagasan mengenai negara federal yang ingin diwujudkan oleh Van Mook sesudah tahun 1945 itu sudah ada waktu itu dalam bentuk yang kasar,” sambung Poeze.   Selulusnya dari Leiden, Van Mook kembali ke Semarang dan bekerja sebagai inspektur distribusi pangan. Kendati sempat bergonta-ganti pekerjaan kemudian, Van Mook akhirnya menjadi anggota Volksraad pada 1931. Dari Volksraad, kariernya menanjak hingga akhirnya dia dipercaya menjadi menteri Perekonomian Hindia Belanda. Keberhasilannya membuat perekonomian Hindia tidak kolaps kendati Belanda diduduki Jerman-Nazi menjadi nilai plus tersendiri yang kemudian membuatnya dipercaya menjadi letnan-gubernur jenderal pada Desember 1941. Namun, belum lama ia menduduki jabatan tersebut, Jepang menduduki Hindia Belanda pada Maret 1942. Van Mook bersama rombongan terakhir petinggi kemudian menyingkir ke Brisbane, Australia. Impian Van Mook akan Hindia Belanda yang kuat, yang diperintah dari Batavia, bukan dari Belanda, akhirnya mendapatkan momen usai Perang Pasifik. Ia bersemangat mewujudkannya ketika kembali dari pengasingan pada Oktober 1945. Namun, situasi politik di bekas Hindia telah berubah. Republik Indonesia (RI) telah didirikan pada 17 Agustus 1945 dan rakyat Indonesia amat bersemangat menjaga kemerdekaan negerinya. Di sisi lain, Van Mook dan para politisi di Belanda enggan berunding dengan Sukarno-Hatta yang mereka cap sebagai kolaborator Jepang, kendati panglima Inggris di Jawa terus mendesaknya. Baca juga:  Begini Naskah Proklamasi Dirumuskan Van Mook baru mendapatkan momentum ketika Sutan Sjahrir, yang dianggap para politisi Belanda sebagai moderat, diangkat menjadi perdana menteri RI. “Sjahrir menjadi perdana menteri menimbulkan perasaan puas, bahkan lega, di antara kelompok orang Belanda ini. Ini jelas terlihat, misalnya, dari kabel pertama yang dikirim Letnan Gubernur Jenderal Van Mook kepada Menteri Koloni Logemann setelah pelantikan Sjahrir,” tulis Rudolf Mrazek dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia. Van Mook segera memanfaatkan momentum untuk mengajak berunding Sjahrir dan direspon positif. Pada 10 Februari 1946, Van Mook mengusulkan pembentukan persemakmukran ( commonwealth ) bersama Indonesia-Belanda. Perundingan resmi dimulai pada Maret 1946 di bawah pengawasan diplomat Inggris Archibald Clark Kerr. Pengakuan Van Mook atas hak rakyat Indonesia menentukan nasib sendiri disambut baik Sjahrir. Namun, Van Mook tidak bisa mengakomodasi keinginan mendasar pihak Indonesia. “Pihak RI menekankan agar Belanda terlebih dahulu menyatakan kesediaan untuk mengakui kekuasaan RI,” tulis sejarawan Rushdy Hoesein dalam Terobosan Sukarno dalam Perundingan Linggarjati . Baca juga:  Sukarno di Linggarjati Macetnya perundingan membuat Van Mook menoleh ke kalangan elite lama. Tanpa diduga olehnya, Nadjamoedin Daeng Malewa, seorang elite politik dari Sulawesi Selatan, datang menemuinya karena kecewa tidak diikutsertakan ke dalam delegasi Sam Ratulangi ke sidang PPKI. Merasa mendapat dukungan, Van Mook melangkah lebih jauh dengan mengadakan Konferensi Malino pada 16-25 Juli 1946. Gagasan federalisme Van Mook didukung para elite lama dengan suara bulat di dalam konferensi. Negara Indonesia Timur (NIT) –yang meliputi seluruh Indonesia Timur minus Papua– pun berdiri sebagai negara federal pertama pada Desember 1946, lalu diikuti 14 daerah lain. “Bahwa pola politik federasi dirancang untuk melemahkan pengaruh Republik dan menyingkirkannya dari peran yang berarti, segera menjadi bukti bagi para jurnalis yang berbasis di Batavia. Wartawan di Batavia dengan cepat menyadari bahwa sistem ini dirancang tidak hanya untuk menenggelamkan Republik sebagai negara konstituen, tetapi juga untuk menghasilkan formula pembagian-dan-aturan yang dirancang untuk memastikan dominasi Belanda yang mudah atas federasi,” tulis George McT. Kahin dalam Southeast Asia: A Testament. Pihak RI tidak terima dengan langkah Van Mook. Tidak adanya titik temu membuat kedua negara akhirnya duduk bareng dalam Perundingan Linggarjati. Pihak Belanda akhirnya mengakui secara defacto bahwa Jawa, Sumatera, dan Madura merupakan wilayah RI kendati di sisi RI hasil tersebut amat merugikan. Namun, dalam praktiknya Belanda mengkhianati hasil Linggarjati. Konflik politik terus berlanjut antara kedua negara. Puncaknya, Belanda melancarkan Agresi Militer Pertama dengan dalih untuk memulihkan perekonomiannya pasca-perang. Wilayah-wilayah yang diduduki militernya kemudian dibatasi oleh garis demarkasi yang dikenal dengan Garis Van Mook. Baca juga:  Belanda Mulai Teliti Agresi Militernya ke Indonesia Kendati Amerika Serikat (AS) telah berupaya menengahi lewat Komisi Jasa Baik atau Komisi Tiga Negara (KTN), konflik kedua negara tetap membara. Baru setelah pasukan RI berhasil melumpuhkan perkebunan-perkebunan yang diambil alih Belanda, kedua negara kembali berunding pada awal 1948 di kapal AS USS Renville .  Lagi-lagi, RI kalah banyak. Wilayahnya yang diakui dalam perjanjian menciut tinggal Jawa Tengah, Sumatera, dan Yogyakarta. Pasukan Indonesia pun mesti ditarik dari wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda. Namun, kedua negara sepakat membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) yang di dalamnya termasuk RI. Kemenangan perundingan dimanfaatkan betul oleh Van Mook untuk mewujudkan mimpi negara federalnya. Pada 9 Maret 1948, dia membentuk Pemerintah Federal Sementara, yang akan berfungsi sampai federasi Uni Indonesia-Belanda terbentuk. Kendati menyalahi hasil keputusan Renville, Van Mook terus berjalan. Buah terpenting yang dipetiknya adalah Konferensi Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO), Mei 1948.   “Meskipun Perjanjian Renville Januari 1948 telah menetapkan bahwa pembentukan rezim sementara harus dilakukan melalui kerja sama bersama Belanda-Republik, dan bukan oleh tindakan sepihak salah satu pihak, Belanda bertindak sepenuhnya sendiri meskipun Republik protes kepada Komite Jasa Baik PBB,” tulis Kahin. Tindakan Van Mook tak hanya membuat berang pihak RI. Belanda sendiri tidak menyukai tindakannya. Militer Belanda menginginkan penyelesaian dengan operasi fisik ketimbang diplomasi sebagaimana dilakukan Van Mook. “Militer Belanda semakin blak-blakan dalam penentangannya, yaitu terus mengandalkan Sjahrir. Wakil Laksamana A.S. Pinke, orang kedua setelah perwira tinggi angkatan laut Belanda di Timur, percaya bahwa Letnan Gubernur Jenderal Van Mook memiliki bias pro-Sjahrir yang sangat berbahaya. Jenderal S.H. Spoor, perwira tinggi tentara Belanda di Hindia, berpendapat bahwa Sjahrir bukan lagi orang yang bisa diandalkan karena dia tidak berdaya,” tulis Mrazek. Baca juga:  Insiden Rawagede di Mata Jenderal Spoor Para politisi sipil Belanda juga mencurigai Van Mook berambisi menjadi penguasa penuh Hindia. Dengan kekuasan penuh itu dia hendak membawa Hindia otonom tanpa bayang-bayang Belanda. “Dalam metodenya Van Mook berpegang kepada siasat permainan segitiga, namun sasaran alternatifnya sangat terbatas. Betapa sering ia seakan-akan tertarik oleh Republik. Seluruh gagasannya untuk akhirnya mengadakan persetujuan politik terpisah dengan negara,” tulis P.J. Drooglever dalam Menelusuri Jalur Linggarjati: Diplomasi dalam Perspektif Sejarah . Tekanan-tekanan dari sipil maupun militer Belanda akhirnya membuat Van Mook mundur. Negara federal yang didirikannya kemudian satu persatu runtuh ketika masing-masing memilih bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca-penyerahan kedaulatan pada 1949.

  • Tanam Paksa Periode Terburuk Penjajahan Belanda

    Hasil survei mengenai persepsi penjajahan Belanda di Indonesia oleh Historia.id  dan harian Belanda De Volkskrant , menunjukkan bahwa tanam paksa merupakan periode terburuk dalam penjajahan Belanda. Survei ini diadakan pada 17 Agustus–16 September 2021. Dalam survei yang melibatkan 1.604 responden dari 34 provinsi ini, 37.97% responden memilih tanam paksa sebagai sistem yang paling menyengsarakan rakyat. “Belanda mengambil seluruh kekayaan alam yang ada di Indonesia serta melakukan penindasan dengan melaksanakan tanam paksa,” tulis salah satu responden. Baca juga:  Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah Setelah tanam paksa, 32.04% responden memilih kekerasan militer Belanda pada perang kemerdekaan 1946–1949 sebagai periode terburuk dalam penjajahan Belanda. Disusul dengan 11.16% responden yang memilih pembunuhan massal di Pulau Banda pada 1621. Sementara penaklukkan Aceh dan wilayah lain pada abad ke-19 dipilih 9.60% responden. Di luar empat periode di atas, 9.23% responden menjawab bahwa hampir keseluruhan masa penjajahan Belanda sama buruknya. Beberapa responden juga menambahkan daftar “dosa” Belanda seperti rasisme, kerja paksa, hingga meninggalkan mental korup pasca-kolonialisme. Sistem Tanam Paksa Tanam paksa atau cultuurstelsel merupakan sistem perkebunan yang diinisiasi oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch (1830–1834). Sistem ini merupakan bentuk eksploitasi tanah pedesaan Jawa untuk memaksimalkan komoditas-komoditas seperti kopi, tebu, dan indigo. Menurut sejarawan Dennys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 1 , dalam sistem tanam paksa, setiap desa harus menyisakan seperlima dari lahan suburnya untuk pemerintah kolonial. Dan setiap petani dewasa, harus meluangkan seperlima waktu kerjanya. “Namun sering perbandingan itu tidak dipatuhi, lahan yang digunakan untuk menanam indigo, kopi, dan tebu kerap kali lebih luas, dengan mengorbankan lahan persawahan,” tulis Lombard. Baca juga:  Dalam Sistem Tanam Paksa, Petani Ditindas Belanda dan Pejabat Bumiputera Untuk menjalankan sistem ini, Van den Bosch memberikan bonus dan insentif untuk mengerahkan para bupati Jawa. Para bupati bertugas mengawasi penanaman, panen, hingga pengangkutan. Bosch hanya perlu sejumlah kecil pegawai administrasi Belanda. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern menyebut bahwasistem tanam paksa sebenarnya sederhana. Desa-desa Jawa memiliki kewajiban membayar pajak tanah ( land rent ). Namun, karena pemungutan pajak yang biasanya berupa uang tunai ini tak berjalan lancar, maka sistem tanam paksa dijalankan untuk menggantikan pembayaran pajak tersebut. Yang jelas, tanam paksa telah memberikan keuntungan yang besar bagi Belanda. Bahkan sejak 1831, anggaran belanja kolonial sudah seimbang. Utang-utang lama VOC juga dapat dilunasi. “Uang dalam jumlah besar dikirim ke negeri Belanda; dari tahun 1831 hingga tahun 1877, perbendaharaan negeri Belanda menerima 832 juta florins (f.),” tulis Ricklefs. Potret Van den Bosch yang dilukis oleh Raden Saleh. (Rijkmuseum/Wikimedia Commons). Tokoh Paling Diingat Periode panjang tanam paksa tampaknya menjadi salah satu periode yang paling diingat sepanjang penjajahan Belanda. Beberapa responden menyebut kekayaan hasil tanam paksa dan juga rempah-rempah pada periode sebelumnya berhasil membangun kemegahan Belanda di Eropa. “Negara Belanda beserta kanal-kanalnya untuk mencegah banjir dibangun dari kerja keras tanah jajahan seperti tanam paksa dan monopoli rempah tanpa memperdulikan kondisi masyarakat tanah jajahan. Perilaku mengeruk kekayaan ini menciptakan kematian penduduk lokal dan menciptakan kelaparan serta gizi buruk,” tulis salah seorang responden. Ricklefs menyebut, pendapatan Belanda dari tanam paksa memang membuat perekonomian Belanda stabil. Utang-utang dilunasi, pajak-pajak diturunkan. Pembangunan kubu pertahanan, terusan, dan jalan kereta api negara juga menggunakan keuntungan dari pemerasan desa-desa di Jawa. “Ironisnya, dana-dana tersebut juga digunakan untuk membayar ganti rugi kepada para pemilik budak guna memerdekakan kaum budak Suriname. Amsterdam sekali lagi menjadi pasar dunia yang penting bagi hasil bumi daerah tropis, khususnya kopi dan gula,” tulis Ricklefs. Sistem tanam paksa juga bertalian dengan Van den Bosch sendiri. Dalam survei nama Van den Bosch menempati salah satu posisi teratas dalam daftar tokoh Belanda yang paling dikenal setelah Herman Willem Daendels, Eduard Douwes Dekker, dan Jan Pieterszoon Coen. Baca juga:  Tanam Paksa Dorong Penelitian Pangan Tanam paksa berangsur-angsur dihapuskan karena perdebatan politik di Belanda yang digaungkan oleh kalangan liberal. Ricklefs mencatat, penghapusan itu dimulai dari komoditas-komoditas paling tidak menguntungkan: lada pada 1862; cengkih dan pala pada 1864; nila, teh, dan kayu manis pada 1865; dan tembakau pada 1866. Kopi dan tebu, komoditas paling menguntungkan, dihapus dari sistem tanam paksa paling akhir. Undang-Undang Gula tahun 1870 menetapkan bahwa pemerintah akan menarik diri dari penanaman gula selama 12 tahun, mulai 1878. Dalam praktiknya, penghapusan penanaman kopi baru berakhir pada awal 1917. Bahkan di beberapa daerah pesisir utara Jawa, baru pada Juni 1919. Lombard menyebut, koloni Belanda yang lebih besar datang setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869. Perdagangan juga menjadi lebih mudah. Kopi, tebu, dan indigo mulai tergeser oleh tanaman karet, tembakau, hingga kelapa sawit. Eksplorasi timah di Bangka-Belitung serta minyak bumi juga mulai berjalan. “ Cultuurstelsel sedikit demi sedikit ditinggalkan, dan digantikan oleh sistem perkebunan swasta,” tulis Lombard.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page