top of page

Hasil pencarian

9747 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pasang Surut Hubungan Lebanon-Israel

    Dunia kembali berduka. Selasa (4/8/2020), ledakan besar mengguncang Beirut, Lebanon. Bak bom atom, ledakan itu memporak-porandakan sebagian besar kota. Bangunan-bangunan di sekitar pelabuhan pun hampir seluruhnya rata dengan tanah. Dilansir CNBC , setidaknya ada 70 orang tewas, dan ribuan orang yang terluka. Diutarakan Kepala Keamanan Abbas Ibrahim, ledakan itu terjadi di area pelabuhan, tempat menyimpan bahan peledak hasil sitaan pemerintah Lebanon bertahun-tahun lalu. Diketahui, di gudang penyimpanan itu juga terdapat 2.750 ton amonium nitrat, bahan mudah terbakar untuk kebutuhan pupuk dan peledak. Perdana Menteri Hassan Diab segera mengeluarkan perintah darurat nasional. Dia bersumpah akan mengusut tuntas kasus ledakan itu dan meminta pertanggungjawaban mereka yang terlibat. PM Diab juga meminta dunia internasional membantu pemulihan pasca bencana untuk Lebanon. “Saya mengirim permohonan mendesak ke semua negara yang berteman dan bersaudara dan mencintai Lebanon, untuk berdiri di sisi kami dan membantu kami, mengobati luka yang dalam ini,” ucap dia. Banyak negara mulai memberikan bantuan kepada Lebanon. Dari sekian banyak negara, penawaran bantuan dari Israel lah yang cukup disorot publik. Seperti diketahui, hubungan Lebanon-Israel tidak cukup baik. Keduanya sering terlibat konflik di daerah perbatasan. Bahkan beberapa pekan terakhir, ketegangan kedua negara dari bangsa Kanaan itu sedang memuncak setelah Israel menuduh adanya upaya serangan teroris dari Lebanon. Diberitakan Kompas , meski terjadi ketegangan, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pihak Israel telah mengontak utusan PBB Timur Tengah Nickolay Mladenov terkait pemberian bantuan untuk Beirut. Tawaran bantuan itu dapat disalurkan melalui perantara internasional berupa bantuan medis, bantuan kemanusiaan, dan bantuan kegawatdaruratan. “Kami berbagi kepedihan dengan rakyat Lebanon dan dengan tulus menawarkan bantuan kami pada saat yang sulit ini,” kata Presiden Israel Reuven Rivlin. Lantas bagaimana sebenarnya hubungan Lebanon-Israel di masa lalu? Helikopter mencoba memadamkan api di sekitar ledakan pelabuhan Beirut, Lebanon. ( BBC ). Hubungan Awal Hubungan Lebanon-Israel tidak pernah baik-baik saja. Keduanya kerap terlibat pergolakan bersenjata, terutama setelah terlibat perang. Tetapi di antara negara liga Arab lain, Lebanon menjadi yang pertama menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Israel. Bahkan Lebanon tidak ambil bagian dalam perang tahun 1967 dan 1973. Sampai wilayah yang disebut Switzerland of the East itu dianggap sebagai yang paling tenang. Dicatat Kristen E. Schulze dalam Israel’s Covert Diplomacy in Lebanon , sepanjang tahun 1950-an Lebanon banyak terlibat kerja sama dengan Israel. Di saat banyak negara Arab berkonflik dengan Israel, Lebanon disebut sebagai sekutu terdekat. Banyak juga negara yang menyebutnya sebagai pendukung Israel. Lebanon pernah juga memberi dukungan militer untuk menghentikan konflik di Suriah. Dampak hubungan itu membuat pertumbuhan orang-orang Yahudi di Lebanon cukup pesat terjadi. Mereka menempati beberapa wilayah di Lebanon. Tercatat juga, rute penerbangan langsung yang menghubungkan Beirut di Lebanon dan Yerusalem di Israel pernah dibuat. “Meskipun banyak dari laporan ini masuk ke dalam kategori konspirasi tradisonal, tapi beberapa pernyataan nyaris mengungkap kebenaran,” ujar Schulze. Kepulan asap hitam membumbung tinggi di lokasi ledakan. ( BBC ). Konflik Palestina Sejak Israel mengumumkan pendirian negara merdeka tahun 1948, gejolak konflik di Timur Tengah seakan tidak pernah berhenti. Dimulainya perang Arab-Israel tahun tersebut, membuat negara-negara di sekitarnya mau tidak mau ikut terlibat. Lebanon, sebagai salah satu negara terdekat, mendapat dampak konflik itu. “Lebanon selalu menarik perhatian negara-negara besar di kawasan Timur Tengah. Negeri itu sudah lama menjadi barometer konflik antara Israel dan negara-negara Arab yang tak kunjung usai. Bahkan wilayah Lebanon Selatan dapat disebut sebagai medan terbuka untuk memulai konflik antara Israel dan negara-negara Arab, yang sampai saat ini masih belangsung secara diam-diam,” tulis Ari Yulianto dalam Lebanon: Pra dan Pasca Perang 34 Hari Israel vs Hizbullah . Wilayah Palestina yang terus tergerus oleh keberadaan Israel, memaksa penduduknya pergi mencari tempat perlindungan aman. Ratusan ribu dari mereka memilih pergi ke Lebanon, membentuk komunitas baru di wilayah perbatasan sebelah selatan. Data PBB menunjukkan lebih dari 300.000 warga Palestina di Lebanon, menumbuhkan generasi Palestina baru di Lebanon. Dan di sana jugalah dibentuk barisan perlawanan terhadap pasukan Israel. Konflik terbuka, dipercaya sebagai yang pertama, antara Lebanon dan Israel terjadi pada 1978. Dijelaskan Ehud Yaari dalam Israel’s Lebanon War , gerakan pembebasan Palestina di Lebanon, PLO (Palestine Liberation Organization) kerap meluncurkan roket ke wilayah sipil Israel dari wilayah Lebanon. Sebagai tindakan balasan, Israel melancarkan operasi militer besar pada Maret 1978. Diceritakan Nino Oktorino dalam Konflik Bersenjata: Korps Lapis Baja Israel , operasi militer Israel itu berlangsung selama tujuh hari. Dikenal juga sebagai operasi terbesar sejak Perang Yom Kippur. Sekira 7.000 orang prajurit yang didukung kendaraan lapis baja, dan persenjataan lengkap pergi menyerbu wilayah selatan Lebanon. “Operasi menyebabkan puluhan pejuang PLO tewas atau ditangkap, dan sebuah jalur selebar 10 km di wilayah sepanjang perbatasan diduduki pasukan Israel. Semua instalasi PLO dihancurkan secara sistematis,” ungkap Nino. Lelah dengan konflik di negaranya, pemerintah Lebanon meminta Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 425. Mereka mendesak pasukan Israel agar keluar dari wilayah Lebanon. Demi membantu mengamankan keadaan, PBB membentuk badan pengawas pelaksanaan resolusi tersebut, yakni UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Namun meski setuju untuk keluar dari Lebanon, Israel tidak sepenuhnya percaya UNIFIL dapat mencegah PLO menyerang wilayah utara Israel. Maka zona keamanan milik Israel dibentuk, dengan Sa’ad Haddad sebagai pemimpinnya. Semakin lama konflik antara pejuang Palestina dan Israel berkembang menjadi lebih masif. Israel terus menargetkan daerah-daerah di Lebanon, yang mereka percaya terdapat PLO di dalamnya. Bahkan pada 1982, Israel kembali melancarkan operasi besar, dinamai Operation Peace for Galilee, ke wilayah Lebanon. Operasi itu dilancarkan menyusul serangan roket PLO ke daerah Galilee di utara Israel. Thomas Davis dalam 40 km Into Lebanon: Israel’s 1982 Invasion , mencatat operasi Israel itu memakan korban jiwa yang sangat besar, bahkan di Beirut saja tercatat ratusan jiwa dari kalangan sipil tewas. Tujuan operasi Galilee itu, selain menghancurkan PLO, memperluas wilayah Israel sebanyak 40 km ke arah Lebanon. Sehingga Isreal mencatut wilayah selatan Lebanon. Dari tahun ke tahun konflik di Lebanon hampir tidak ada habisnya. Serangan demi serangan terus dilancarkan kedua pihak. Tahun 2006 menjadi yang terbesar di abad ke-21. Kerusakan dan korban jiwa akibat perang sangat besar. “Israel berdalih bahwa selama Lebanon menjadi basis perlawanan bagi orang-orang Palestina, perdamaian Timur Tengah tidak akan pernah tercapai. Israel ingin mengontrol upaya perlawanan kelompok gerilyawan garis keras dengan menginvasi Lebanon,” tulis Abdar Rahman Koya dalam Hizbullah: Menentang Zionisme .

  • Emas yang Dijarah Inggris

    Selain menjarah manuskrip, bermacam benda budaya, dan batuan benteng ketika menaklukkan Yogyakarta, Inggris juga mengambil uang emas dan perak dari keraton. Sejarawan Peter Carey, dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live di saluran Youtube dan FacebookHistoria , Rabu (5/8/2020), menyebut jumlahnya 800.000 dolar Spanyol. Uang itu dibagi menjadi dua bagian: 400.000 dolar digunakan untuk membayar tunjangan ( prize money )bagi perwira-perwira yang tidak tewas dalam perang, 400.000 dolar sisanya dikirim ke Benggala untuk diberikan kepada keluarga perwira dan prajurit. Dalam istilah Inggris harta tersebut disebut loot (jarahan) yang berasal dari kata India. Dan yang terjadi di Yogyakarta, loot ini dipakai untuk memberi tunjangan kepada pasukan Sepehi. Mereka diberi persentase dari harta jarahan. Di mana dalam serangan ke Keraton Yogyakarta itu, Inggris mengerahkan sekitar seribu prajurit yang sebagian besar merupakan pasukan Sepehi dari India. Peter menjelaskan, 800.000 ribu dolar Spanyol pada waktu itu setara dengan 150.000 poundsterling. Dalam kurs saat ini nilainya mencapai 11,5 juta poundsterling. Jumlah tersebut setara dengan 350 kilogram emas. Peter juga menanggapi hitungan 57.000 ton emas yang dilontarkan pihak keturunan Sultan Hamengku Buwono II. Menurutnya, hal itu mungkin ditafsir dari beragam kekayaan yang diraup Inggris selama berkuasa di Jawa. Selain menjarah Keraton Yogyakarta, Inggris juga menguasai wilayah-wilayah seperti Pacitan, Kedu, Jipang, Rajegwesi, hingga Mojokerto. Wilayah-wilayah tersebut kemudian menjadi landasan sistem perpajakan Inggris untuk membiayai ekspedisi militer. “Jadi seumpamanya mau membuat satu penilaian, juga mungkin harus dipertimbangkan aneksasi dari teritorium, aneksasi dari tanah,” kata Peter. Ia mencontohkan wilayah Kedu yang sangat kaya saat itu. Pada tahun 1824, misalnya, wilayah Kedu pernah menjadi jaminan atas pinjaman 350 juta gulden pemerintah Belanda ke bank swasta Kolkata. Pinjaman itu dibuat untuk menjalankan roda pemerintahan yang hampir bangkrut. Untuk itu, menurut Peter, perlu adanya kajian yang rinci mengenai harta kekayaan yang akan dituntut. “Dan pekerjaan rumahnya adalah untuk betul-betul dengan teliti membuat salah satu tafsiran yang tepat mengenai apa sebenarnya nilai inti, nilai inti dari tanah, nilai inti dari benda-benda budaya, nilai inti dari 800.000 dolar Spanyol. Supaya ada semacam dakwaan seperti teman kami yang mendakwakan Belanda kepada penghakiman di Belanda mengenai Rawagede,” jelasnya. Dalam kasus Rawagede, kata Peter, gugatan yang diajukan berhasil dimenangkan karena argumentasinya kuat. Kasus yang diajukan juga disertai data hasil penelitian yang akurat. Alhasil, setiap janda korban pembantaian Rawagede mendapat kompensasi. “ So you have to make a case . Tidak sim salabim ya. It’s not mie instan. Sesuatu yang harus dengan tekun dan teliti membuat salah satu tafsiran, membuat salah satu daftar. Dan daftar itu nanti melalui jaringan diplomasi, melalui jaringan politik, antara Jokowi dengan Boris Johnson. Jaringan antara duta besar di London dan front office . Ada pengajuan,” jelas Peter. Peter menyarankan tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, dilakukannnya provenance research mendalam yang akan membuktikan bahwa benda-benda yang berasal dari Keraton Yogyakarta merupakan hasil rampasan atau bukan. Kedua, harus ada penilaian keuangan. “Bisa menggembor-gemborkan 57 ribu ton emas. Lima puluh tujuh ribu ton emas adalah miliar poundsterling ya, billion ya. Tidak mungkin setara dengan 800.000 dolar Spanyol. Jadi miliar itu datang dari mana?” katanya. Menurutnya, harus ada sejarawan seperti Thomas Lindblad untuk membuat satu perincian setiap tahun berapa hasil kekayaan yang diraup Inggris selama empat tahun menguasai Jawa. Penilaian dilakukan pada daerah-daerah yang dikuasasi Inggris, dari Kedu hingga Mojokerto. Yang ketiga, jelas Peter, perlunya dukungan dari pihak pengacara, sejarawan, budayawan serta dari pihak keraton agar tuntutan tepat pada sasaran.

  • Sejarah Pengangkatan Guru Besar dan Profesor di Indonesia

    Acara obrolan Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Hadi Pranoto tentang penemuan obat herbal untuk Covid-19 menuai kontroversi. Bukan saja isinya, tapi juga penyematan atribut profesor pada Hadi Pranoto. Tak diketahui dari universitas mana dia memperoleh atribut itu. Belakangan, dia mengaku atribut itu hanyalah panggilan sayang dari teman-temannya.   Meski Hadi mengaku dia memperoleh atribut “profesor” dari teman-temannya, atribut itu sejatinya tak bisa sembarang disematkan oleh suatu kelompok kepada orang tertentu. Penyebutan profesor memiliki aturan jelas dalam sejarah negeri ini meski ada kalanya tak tertulis. Profesor merupakan sebutan lain untuk guru besar. Profesor bukanlah gelar akademik, melainkan penyebutan untuk orang yang menjabat guru besar dalam struktur pengajar di universitas. Profesor berasal dari bahasa latin, artinya orang yang memiliki keahlian. Nama Hussein Djajadiningrat tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengemban jabatan guru besar dan memiliki atribut profesor. Dia memperolehnya dari Rechtshogeschool (Perguruan Tinggi Hukum) di Jakarta pada 1924. Waktu itu hampir seluruh aturan dan sistem pendidikan tinggi di Hindia Belanda meniru aturan dan sistem pendidikan tinggi di Belanda. Termasuk pula penyebutan gelar untuk para sarjananya (Mr. atau Meester in de Rechten ) dan penyematan jabatan guru besar. Seturut dengan tradisi kampus-kampus di Eropa, kaprah pada masa itu komunitas akademik di sebuah kampus di Belanda saling mengusulkan seseorang untuk diangkat sebagai guru besar. Sebelumnya orang itu harus memiliki sejumlah karya akademik yang berbobot dan diakui komunitas akademik. Sebelum pengangkatan menjadi guru besar, seseorang harus menyiapkan pidato ilmiah. Dia akan membacakan pidato itu di hadapan komunitas akademik tempat dia bekerja. Pidato lazimnya disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh orang yang tidak sebidang dengan kepakaran atau keilmuannya. Menurut laman uu.se (Uppsala University, universitas pertama di Swedia) tradisi seperti ini telah berakar di kampus-kampus Eropa pada abad pertengahan (14–16 M). Tradisi pengukuhan guru besar masuk ke Hindia Belanda seiring dengan pendirian perguruan tinggi di Hindia Belanda sepanjang 1920-an. Tradisi tanpa aturan tertulis ini terus bertahan di perguruan tinggi Indonesia selama masa 1950-an. Bachtiar Rifai dkk. dalam Perguruan Tinggi di Indonesia menyebut masa ini sebagai masa bertahan atau survival perguruan tinggi .   Masa ini perguruan tinggi Indonesia mendasarkan geraknya pada Undang-Undang Darurat No. 7 Tahun 1950 tentang pemberian kekuasaan kepada menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan untuk menyelenggarakan universitas. Sebagian besar isi UU itu berupa upaya penambahan tenaga pengajar dari orang Indonesia dan pengambilalihan perguruan tinggi dari tangan NICA Belanda. Sementara Nugroho Notoususanto dkk. dalam Sedjarah Singkat Universitas Indonesia menyebut masa 1950-an sebagai masa Indonesianisasi perguruan tinggi. Ini termasuk pula upaya mendorong pengukuhan guru besar dari kalangan bangsa Indonesia. “Lagi pula Senat Guru Besar sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda, demikian pula tenaga-tenaga dosen lainnya,” catat Nugroho. Memasuki dekade 1960-an, aturan tertulis tentang pengangkatan guru besar dan penyematan sebutan profesor mulai diperkenalkan. Ini seiring dengan keluarnya UU No. 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi. UU ini mengatur penyelenggaraan pendidikan seperti tujuan, bentuk-bentuk perguruan tinggi, tingkat ujian dan gelar, jenis pengajar, dan definisi guru besar dan profesor. Pasal 11 ayat 7 menyebut pemakaian sebutan profesor diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP). Ada ancaman pidana jika seseorang sembarang menggunakannya. Tapi PP tentang pemakaian sebutan profesor tak kunjung keluar selama setahun. Ini membuat sejumlah perguruan tinggi menerapkan kembali konvensi lama tentang penyematan sebutan profesor. Seseorang pun terkadang menyematkan sebutan profesor di depan namanya secara mana suka. “Pernah terjadi bahwa gelar profesor telah digunakan secara disengaja atau tidak disengaja oleh yang bersangkutan sebelum keluar Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, hal mana sama sekali tidak dapat dibenarkan,” catat Himpunan Peraturan Perundang-Undangan tentang Perguruan Tinggi di Indonesia terbitan tahun 1975. Peraturan Tertulis Pertama                                 Kekosongan peraturan tertulis tentang penyematan sebutan profesor mendorong Tojib Hadiwijaya, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, mengeluarkan Surat Keputusan No. 74 Tahun 1962 tentang Pedoman Sementara Mengenai Pengangkatan Guru Besar Pada Perguruan Tinggi dan Penggunaan Sebutan/Gelar Profesor. Inilah aturan tertulis pertama sejak Indonesia merdeka tentang pengangkatan guru besar dan penggunaan sebutan profesor. SK No. 74 memuat lampiran tentang tata cara pengangkatan seseorang menjadi guru besar dan penyebutan profesor. Menurut SK ini, guru besar adalah jabatan dalam suatu perguruan tinggi. Sedangkan sebutan profesor merupakan pengakuan dan penghormatan tertinggi pada seorang pengajar di perguruan tinggi. “Karena itu, pengangkatan menjadi Guru Besar dan penggunaan gelar Profesor harus diatur,” catat SK No 74. Syaratnya ada lima. Seseorang harus mempunyai spesialisasi bidang ilmu; menulis karya ilmiah dalam bentuk buku, majalah, jurnal, disertasi; memiliki pengalaman mengajar; bermoral dan berintegritas tinggi; dan berjiwa Pancasila-Manipol USDEK. Syarat terakhir tak lepas dari kondisi politik saat itu. Sukarno sedang giat-giatnya menggelorakan gagasannya tentang Manipol dan USDEK. Karena posisinya terus menguat, Sukarno pun ikut menentukan proses seseorang menjadi guru besar. Mula-mula para guru besar mengadakan rapat untuk mengajukan calon guru besar. “Bilamana dalam rapat tersebut dicapai suara bulat, usul pengangkatan sebagai Guru Besar (biasa atau luar biasa) diteruskan kepada Presiden/Ketua Perguruan Tinggi,” tulis SK No. 74. Presiden berhak menerima atau menolak pencalonan guru besar. SK No. 74 juga menyebutkan, jabatan guru besar tak mesti selalu harus diisi seorang bergelar doktor atau Ph.D. Sebaliknya, seorang bergelar doktor atau Ph.D tak lantas menjadi guru besar. Dengan demikian, seorang bergelar sarjana bisa saja menjabat guru besar dan memakai sebutan profesor. “Setelah cukup lama mengabdi sebagai akademisi, sudah ubanan bahkan karena sudah tua diplesetkan dengan ‘profesor linglung’,” tulis Adnan Kasry dalam Riau Pos , 13 Juni 2006. Profesor yang Pensiun Mengenai apakah penyebutan profesor itu bersifat permanen atau sementara, SK No. 47 menyebut akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Tapi Peraturan Pemerintah pun tak lantas cepat keluar. Akibatnya beberapa guru besar dan profesor masih membawa jabatan dan sebutan itu hingga liang lahat. Sebagaimana tertulis di batu nisannya. Bahkan sebagian menjadi nama jalan. SK No. 47 sempat ditinjau ulang melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 211/P/1976. Meski begitu, SK No. 47 baru diganti secara resmi setelah keluarnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Sebutan Guru Besar atau Profesor, hanya dipergunakan selama yang bersangkutan masih aktif bekerja… Karenanya seorang profesor yang telah pensiun, secara akademik tidak berhak lagi menuliskan kata ‘Prof’ di depan namanya,” catat Adnan Kasry, dalam Riau Pos , 13 Juni 2006. Kasry juga menyebut sejak UU No . 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas berlaku, guru besar hanya bisa diisi oleh seorang dose n yang bergelar doktor atau Ph.D . “Tidak seperti dosen sebelumnya,” kata Adnan.

  • Empat Jenis Jarahan Inggris dari Keraton Yogyakarta

    WACANA pengembalian benda jarahan Inggris dari Keraton Yogyakarta usai Geger Sepehi pada Juni 1812 tengah ramai diperbincangkan. Yang paling bikin gempar, keturunan Sultan Hamengkubuwono II menyebut ada 57.000 ton emas yang diambil dari keraton. Dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live  di saluran Youtube  dan Facebook   Historia , Rabu, 5 Agustus 2020, sejarawan Peter Carey menyebut ada empat jenis benda yang dijarah Inggris dari Keraton Yogyakarta. Jenis pertama adalah manuskrip atau naskah-naskah kuno dari keraton. Ada 45 naskah yang diambil oleh   Thomas Stamford Raffles. Hal ini diketahui dari surat sekretaris Raffles yang menyebut naskah-naskah ini. Jenis kedua adalah uang emas dan uang perak sebesar 800.000 dolar Spanyol. Uang ini diambil untuk membayar tunjangan atau prize money untuk perwira-perwira yang tidak tewas dalam perang. “Separuh, 400.000 diberikan (kepada perwira-perwira) dan 400 ribu dikirim ke Benggala (India) untuk membayar tunjangan dari prajurit dan perwira yang punya keluarga,” kata Peter Carey. Dalam serangan ke Keraton Yogyakarta itu, Inggris mengerahkan sekitar seribu prajurit yang sebagian besar pasukan Sepehi dari India. Peter Carey menjelaskan, 800.000 ribu dolar Spanyol pada waktu itu setara dengan 150.000 poundsterling. Dan dengan kurs saat ini nilai 150.000 poundsterling setara dengan 11,5 juta poundsterling. “Dan itu sama dengan 350 kilogram emas,” kata Peter Carey. Jenis ketiga bermacam-macam benda budaya dari wayang hingga benda-benda bernilai seni lainnya. “Ada perampasan benda-benda budaya seperti keris. Tapi keris Kanjeng Kyai Monggang dan Kanjeng Kyai Guntur Madu tidak diambil,” kata Peter Carey. Jenis keempat setelah berhasil menjebol Benteng Baluwerti yang mengelilingi keraton, batu-batu dari reruntuhannya diangkut ke Pulau Bangka untuk membangun Benteng Fort Nugent. “Inggris mengambil semua batu-batu dari Baluwerti yang sudah ambruk. Mengangkutnya ke Pulau Bangka melalui Semarang. Supaya mereka bisa bangun benteng di Bangka,” kata Peter Carey. Keempat jenis jarahan itulah yang diambil Inggris dari Keraton Yogyakarta usai Geger Sepehi 1812. Tidak ada emas 57.000 ton. Sementara itu, kemenangan utama Inggris adalah menjatuhkan Sultan Hamengkubuwono II dan mengasingkannya ke Pulau Pinang (Penang, Malaysia). Inggris kemudian mengangkat kembali anaknya, bukan lagi sebagai pangeran wali tapi sultan yang sah, yaitu Sultan Hamengkubuwono III.*

  • Misi Zending dan Reaksi Umat Islam di Hindia Belanda

    MEMASUKI abad ke-19, misi zending atau pekabaran injil di negeri kolonial semakin gencar digalakan pemerintah Belanda. Sebagai salah satu program kolonialisasi, para wakil gereja melakukan misi penyebaran ajaran Kristen di tengah masyarakat. Namun bukan perkara mudah menjalankannya. Para zending mendapat hambatan besar dari orang-orang Islam. Menurut M. Natsir dalam Islam dan Kristen di Indonesia , tidak ada satu agama yang amat menyusahkan para zending dan misionaris dalam pekerjaan mereka menyebarkan agama Kristen daripada Islam. Maka setiap mendapat kesempatan melakukan konferensi besar, perbincangan soal reaksi dunia Islam itu selalu menjadi pembahasan yang hangat. Begitu pula yang terjadi pada konferensi zending di Amsterdam, Belanda pada 25 Oktober 1938. Pertemuan para penyebar ajaran Kristen yang dihadiri Perdana Menteri Hendrikus Colijn itu mendapat perhatian besar pemerintah Belanda, terutama setelah beberapa tahun terakhir banyak upaya perlawanan di Hindia Belanda yang dimotori oleh golongan ulama. Maka satu pokok pembicaraan yang menjadi perhatian semua orang adalah “sikap Islam di Indonesia sekarang ini”. “Orang Islam yang berada di bawah pemerintah asing lebih konservatif memegang agama mereka daripada negeri-negeri yang sudah merdeka,” tulis Hendrik Kraemer dalam The Christian Message in a Non Christian World . Peristiwa Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Kamang, dan beberapa pemberontakan lain, penggeraknya adalah orang Islam. Bagi para zending, berbagai peristiwa perlawanan itu terjadi karena umat Islam di Indonesia memiliki keinginan kuat untuk menjalankan ajaran agamanya dengan tenang. Masuknya Belanda tentu mengancam hal tersebut. “Tetapi di Indonesia agama Islam belum masuk benar ke dalam masyarakat sedalam-dalamnya. Masih ada keinginan hendak menyesuaikan adat istiadat dan kepercayaan lama dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh agama Islam,” lanjut Kraemer. Celah itu yang coba digunakan para zending untuk menyebarkan ajarannya, dan melemahkan ajaran Islam. Seperti yang dilakukan Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV) di Jawa Barat. Dijelaskan Th. Van den End dalam Sumber-Sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963 , orang-orang NZV menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Sunda untuk mendekati masyarakat Sunda. Pendekatan lain yang coba dilakukan para zending untuk melemahkan ajaran Islam di Indonesia adalah dengan pendidikan dan kebiasaan-kebiasaan ala Barat. Pengetahuan baru diyakini dapat menggantikan kebiasaan lama, yang pada akhirnya akan dapat melepaskan orang-orang dari genggaman Islam. Pengetahuan Barat yang liberal dijadikan senjata utama pendekatan terhadap umat Islam. Namun persoalan itu rupanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Natsir. Di dalam Pandji Islam tahun 1938, anggota Partai Islam Indonesia itu menyebut jika ikatan ajaran Islam antara generasi tua dan muda masih sama-sama lemah. Generasi tua terlalu terkekang dengan berbagai kepercayaan adat, sementara kaum muda terlalu mudah terpengaruhi oleh perubahan baru. Permasalahan yang menjadi penyakit kaum muslimin di Indonesia. “Sudah bukan barang yang mustahil lagi apabila sekarang terjumpa anak-anak kita orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Fatihah  seumur hidupnya, dan hanya belajar mengucapkan kalimah Syahadat  dengan bersusah payah diwaktu akan mengakadkan nikah di muka penghulu,” ungkap Natsir. Sama seperti Natsir, para zending juga memiliki kekhawatirannya sendiri dalam menjalankan misi agama mereka. Dalam konferensi, para zending menyarankan agar misi penyebaran ajaran Kristen dilakukan secepat mungkin, dengan cara-cara yang lebih baik. Sebab, dalam beberapa tahun kedepan, dikhawatirkan bangsa Indonesia akan lebih susah dimasuki oleh agama Kristen. Pengaruh Islam yang kuat sudah mulai terlihat dengan kehadiran organisasi-organisiasi berbasis keislaman, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya. Konferensi zending Amsterdam menyepakati beberapa poin yang disetujui pemerintah Belanda, melalui keputusan PM Colijn. Pertama , setiap kegiatan zending di Hindia Belanda akan mendapat tambahan bantuan. Kedua, setiap zending akan mendapat jatah uang setiap bulan untuk kehiduan mereka. Ketiga, menambah jumlah surat izin penyebaran agama Kristen untuk para zending baru. ”Dan kita hanya dapat berseru kepada penganjur-penganjur kita, terutama dalam pergerakan muslimin di Indonesia,” imbuh Natsir.*

  • Sepak Terjang KSK dari Bosnia hingga Afghanistan

    TIDAK sampai seperempat abad usianya, satu kompi terelit Kommando Spezialkräfte (KSK) atau pasukan elit Angkatan Darat (AD) Jerman dibubarkan. Menteri Pertahanan Annegret Kramp-Karrenbauer menghapuskan pasukan elit itu dari Bundeswehr (Angkatan Bersenjata Jerman) pada 30 Juli 2020. Kompi ke-2 KSK dihapuskan karena sudah terlampau disusupi para simpatisan Neo-Nazi. Isu itu sudah merebak sejak Desember 2019. Pada Mei 2020, Militärischer Abschirmdienst (Badan Kontra-Intelijen Militer Jerman) bersama GSG 9 (pasukan elit kepolisian) menggerebek kediaman seorang anggota KSK berpangkat sersan mayor yang terduga sebagai simpatisan Neo-Nazi. Diberitakan   The New York Times , 3 Juli 2020, di kediaman terduga ekstrimis sayap kanan itu ditemukan dua kilogram peledak sintetis PETN beserta sumbu dan detonatornya, sepucuk senapan serbu AK-47, dan ribuan butir amunisi yang diyakini dicuri dari gudang senjata militer Jerman. Penemuan itu diperkuat oleh penemuan sebuah buku kumpulan lagu-lagu mars SS (Schutzstaffel/pasukan paramiliter Nazi di Perang Dunia II) dan 14 eksemplar majalah beredisi para mantan prajurit SS. “Dia (sersan mayor KSK) punya sebuah rencana. Dan dia bukan satu-satunya,” tutur Komisioner Parlemen Jerman Eva Högl kepada The New York Times. Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer membubarkan KSK. ( bmvg.de ). Neo-Nazi bukan isu anyar yang menghantui Jerman pasca-Perang Dunia II. Selain di politik, virus Neo-Nazi beberapa kali menjangkiti institusi militernya. “Saya tak tahu apakah memang ada tentara bayangan (simpatisan Nazi, red. ) di Jerman. Tetapi saya khawatir. Tidak hanya sebagai komandan KSK, namun juga sebagai warga negara, di mana pada akhirnya hal seperti itu memang eksis dan mungkin rakyat kami juga bagian darinya,” kata Komandan KSK Brigjen Markus Kreitmayr. Brigjen Markus Kreitmayr, komandan terakhir KSK. ( bundeswehr.de ). MAD sendiri masih dalam proses menginvestigasi 600 prajurit, di mana 20 di antaranya anggota KSK. Tetapi Menhan Kramp-Karrenbauer menuntut hasil lebih dari MAD sesegera mungkin. “Kasus ini tidak hanya sebuah kemungkinan kasus yang terisolasi di internal militer namun sudah ada koneksi dan jaringan yang jelas dan mesti diinvestigasi lebih luas. Pekerjaan MAD belum memuaskan dan belum cukup,” ujar Kramp-Karrenbauer. Mula KSK Sejak berdirinya Bundeswehr sebagai pengganti Wehrmacht pada 1955, militer Jerman nyaris zonder pasukan elit. Pasukan setaraf komando pertama baru dimiliki Bundesmarine (AL Jerman) pada 1958, yakni Kampfschwimmer (kini Kommando Spezialkräfte Marine), sejenis komando pasukan katak. AD Jerman baru muncul Fernspäher (pasukan intai) yang hanya berjumlah satu kompi dan fungsinya sebagai pasukan intai jarak jauh. Kedua unit elit itu belum meliputi spesialisasi kontra-terorisme. Kebutuhan akan pasukan elit dengan fungsi yang lebih komplit baru dirasa ketika terjadi penyanderaan warga Jerman di luar negeri, seperti kasus penyanderaan sejumlah warga Jerman kala berlangsungnya Genosida di Rwanda pada 1994. Para sandera berhasil dievakuasi dari Rwanda bukan oleh militer Jerman, melainkan oleh pasukan Brigade Para-Komando Belgia. Saat itu Jerman tak punya pasukan elit untuk beroperasi di luar negeri. Pasukan komando kepolisian GSG 9 berdasarkan regulasi hanya beroperasi di dalam negeri. “Insiden di Rwanda itu jadi dorongan pembentukan KSK pada 1996, sebuah unit dengan fungsi penuh untuk operasi-operasi pengintaian, operasi pembebasan sandera, dan bantuan operasi senyap pasukan reguler. Dalam hal kontra-terorisme, KSK punya pengecualian untuk bisa beroperasi di luar perbatasan Jerman dan di zona-zona konflik,” tulis Leigh Neville dalam The Elite: The A-Z of Modern Special Operations Forces . “KSK diorganisir menjadi empat kompi komando, masing-masing (kompi) terdiri dari empat peleton patroli dan satu kompi komando khusus yang bertanggungjawab atas persenjataan elektronik. Pembagiannya merujuk pada pasukan khusus SAS (Special Air Service, pasukan khusus AD Inggris),” sambungnya. Kommando Spezialkräfte  berdiri pada 1996 dan diaktifkan pada 1997 lewat bantuan Inggris dan Amerika. ( bmvg.de ). SAS dijadikan rujukan lantaran pembentukan KSK pada 1996 dibantu SAS, GSG 9, dan Detasemen Operasi Khusus ke-1 AD Amerika Serikat (Delta Force). Lantaran KSK akan difungsikan di semua operasi di darat, laut, maupun udara, perekrutannya diambil dari matra darat, laut, dan udara dengan syarat dan kualifikasi tertentu. Ketika lahir pada 20 September 1996, KSK sudah memiliki personil yang ditempa dengan beragam pelatihan ekstra keras di semua kompinya. Namun KSK baru aktif setelah 1997 dengan basisnya di Calw. Saat diaktifkan, KSK dipimpin Brigjen Fred Schulz. Bosnia hingga Afghanistan Ujian pertama KSK datang setahun berselang. Mereka dikirim ke Bosnia sebagai bagian dari pasukan Jerman yang diperbantukan di bawah payung NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Sejak 1996 pasca-Perang Bosnia, Jerman menyokong SFOR (Stabilization Force) dengan tiga ribu personilnya. Salah satu aktivitas SFOR adalah menggelar operasi-operasi senyap memburu para penjahat perang yang bersembunyi di Bosnia, Serbia, maupun Kroasia. Saat itu pemerintah Serbia dan Kroasia menolak mengekstradisi para penjahat perang yang masuk dalam daftar International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia. KSK beberapakali diterjunkan bersama pasukan khusus negara lain seperti Sajeret Matkal (Israel), SAS (Inggris), Commandement des Opérations Spéciales (COS, Prancis), dan US Army Special Forces “Green Berets”. Mengutip How Western Soldiers Fight: Organizational Routines in Multinational Missions karya Cornelius Friessendorf, operasi pertama KSK di Bosnia adalah menggerebek dan menciduk Milorad Krnojelac pada 15 Juni 1998 di Foča, Serbia (kini Bosnia dan Herzegovina). Krnojelac merupakan penjahat perang yang menjalankan kamp interniran Bosnia dan dituduh atas pembunuhan terhadap 29 orang dan penyiksaan terhadap 59 lainnya di kamp interniran. “Penangkapannya dibantu pasukan khusus Prancis, di mana persiapan operasinya sudah dilakukan setengah tahun sebelumnya. Mereka mulanya memantau aktivitas Krnojelac dan mencegat percakapan telepon untuk mencatat kebiasaan-kebiasaannya. Bahkan tiruan rumah Krnojelac dibuat di Jerman untuk latihan,” tulis Friessendorf. “Setelah ditangkap, Krnojelac langsung dibawa ke kendaraan lapis baja dan diterbangkan dengan helikopter ke Zagreb, dan dari sana diterbangkan ke ICTY di Belanda, di mana dia menerima vonis 15 tahun penjara,” lanjutnya. Tersangka penjahat perang yang diburu KSK, ki-ka: Milorad Krnojelac, Radomir Kovač & Janko Janjic. (ICTY). Setelah sukses melewati ujian pertamanya, KSK kembali diterjunkan untuk menangkap penjahat perang lainnya, Radomir Kovač. Sebagaimana Krnojelac, Kovač yang mantan komandan paramiliter Serbia dengan kejahatan perang pemerkosaan dan perbudakan seks para wanita muslim Bosnia, juga ditangkap di Foča lewat misi klandestin 250 kombatan KSK pada tengah malam antara 1-2 Agustus 1999. Pada 20 Agustus 1999, KSK ditugaskan bersama pasukan Belanda ke Orahovac di Kosovo untuk menjemput paksa tiga tersangka penjahat perang guna dibawa ke markas pasukan perdamaian PBB di Pristina. Dari sana, KSK kembali ditugaskan ke Foča. “Pada 12 Oktober 2000 dalam misi menangkap Janko Janjic di Foča, sempat menimbulkan insiden. Dalam operasinya, KSK menggerebek rumahnya pada malam hari dengan meledakkan pintu depan. Walau di dalam rumah juga terdapat keluarganya, KSK tak kesulitan mengidentifikasi Janjic lewat tato tengkorak di kelopak matanya,” ungkap Friessendorf. “Saat tengah dikepung, Janjic menyatakan dia memilih meledakkan diri ketimbang tertangkap. Ia lalu mengambil sebutir granat dari sabuk pinggangnya: ‘Aku sudah mati sejak lahir!’ teriak Janjic sebelum meledakkan dirinya. Tubuhnya hancur dan tiga anggota KSK terluka,” tambahnya. Dua bulan pasca-serangan 9/11 oleh Al-Qaeda di New York, Amerika Serikat (11 September 2001), Jerman sebagai bagian dari NATO ikut mengirim pasukan ke Afghanistan. Menukil Nigel Cawthorne dalam Warrior Elite: 31 Heroic Special-Ops Missions from the Raid on Son Tay to the Killing of Osama bin Laden , KSK terlibat Pertempuran Tora Bora bersama Delta Force, SAS, SBS (Special Boat Service, pasukan khusus AL Inggris), dan pasukan Aliansi Utara Afghanistan melawan Taliban dan Al-Qaeda, 6-17 Desember 2001. “Tora Bora diduga menjadi kompleks gua tempat persembunyian Osama bin Laden. KSK turut terlibat mengawal serangan di sisi sayap,” tulis Cawthorne. Ilustrasi pasukan elit Jerman di Afghanistan. ( deutschesheer.de ). Meski secara taktis pertempuran itu dimenangkan pasukan koalisi Amerika, secara strategis pertempuran itu jadi blunder. Milisi Taliban dan Al-Qaeda masih bisa bergerilya, ditambah Osama bin Laden berhasil kabur meski pemerintahan Taliban di Afghanistan yang melindungi Al-Qaeda ambruk. KSK jadi alat negara yang dibanggakan dalam beragam operasi mancanegara. Namun, KSK jadi duri dalam daging di dalam negeri karena tersusupi simpatisan Neo-Nazi. Bukannya jadi salah satu garda pelindung demokrasi Jerman, KSK justru jadi ancaman dari dalam. “Jika orang yang mestinya melindungi demokrasi kita malah berkomplot melawan kita, maka kita menghadapi masalah besar. Bagaimana kita bisa menemukan mereka?” kata Kepala Badan Intelijen Negara Bagian Thuringia, Stephan Kramer, dikutip The New York Times . “Mereka adalah orang-orang yang ditempa dengan pengalaman pertempuran dan paham bagaimana caranya menghindari pemantauan karena mereka sendiri dilatih melakukan pengintaian. Yang kita hadapi adalah musuh dari dalam,” tandasnya.

  • Kartosoewirjo Hampir Tertangkap

    JENDERAL TNI A.H. Nasution, Kepala Staf Angkatan Bersenjata, menerima telepon dari Mayor Jenderal TNI Ibrahim Adjie, Panglima Divisi Siliwangi, yang melaporkan bahwa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, imam DI/TII, terlah ditangkap.

  • Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris

    KALA menguasai Jawa pasca-Geger Sepehi (Juni 1812), pemerintah kolonial Inggris “memanen” benda-benda budaya dan bersejarah di banyak tempat. Di Jawa Timur, mereka menjarah Prasasti Sangguran dan Prasasti Pucangan. Kini, seiring munculnya tuntutan pengembalian benda budaya dan bersejarah yang dijarah Inggris, muncul pula keinginan untuk memulangkan kedua prasasti tersebut. Namun, menurut sejarawan Peter Carey, tantangannya berliku untuk bisa menuntut kedua prasasti itu kembali ke Indonesia. “Butuh upaya yang gigih lantaran dua prasasti itu sudah berbaur dengan kebiasaan publik setempat di Inggris,” ujarnya dalam bincang virtual bersama Pemred Historia  Bonnie Triyana dalam live   Historia . id  bertajuk “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah”, Rabu (5/8/2020). Prasasti Sangguran yang kemudian dikenal dengan Minto Stone kini berada di pekarangan kediaman eks Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto, di Roxburghshire, perbatasan Skotlandia-Inggris. Prasasti berisi kutukan dan karma yang bertarikh 982 Masehi itu merupakan rampasan dari Mojorejo (kini dekat Kota Batu, Malang, Jawa Timur), salah satu wilayah yang direbut Inggris pasca-Geger Sepehi. Kolonel Colin Mackenzie (kiri) & SS Matilda, kapal dagang EIC yang membawa prasasti kuno dari Hindia Timur ke Kolkatta (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Prasasti berbentuk tablet setinggi dua meter dan berbobot tiga ton itu diambil perwira Skotlandia Kolonel Colin Mackenzie untuk diberikan ke Gubernur Letnan Hindia Belanda Sir Thomas Stamford Raffles. Lantaran dijadikan sebagai benda persembahan untuk Lord Minto, prasasti tersebut dikirim Raffles ke Kolkata pada Mei 1813 menggunakan kapal dagang milik East India Company dari Surabaya. “Masalahnya satu isu, walaupun dulu dirampas, sekarang sudah menjadi bagian dari budaya lokal. Ini menjadi lebih rumit. Prasasti Sangguran di perbatasan Skotlandia-Inggris menjadi salah satu benda budaya yang sangat digemari pasukan Skotlandia dan setiap tahun ada semacam reuni kembali ke kediaman Lord Minto. Ada suatu peleburan budaya dari benda itu kepada budaya lokal,” tutur Peter. Hal serupa berlaku pada Prasasti Pucangan atau Calcutta Stone yang berasal dari tahun 1041. Prasasti berisi kisah kelahiran kekuasaan Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan, itu ditemukan sendiri oleh Raffles dan juga dikirim sebagai persembahan untuk Lord Minto. “Itu kondisinya memprihatinkan. Lokasinya ada di gudang tua yang bocor di Indian Museum dalam keadaan porak-poranda,” sambungnya. Prasasti Sangguran atau Minto Stone di pekarangan kediaman Lord Minto (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Merupakan tantangan tersendiri untuk bisa mengembalikan dua prasasti dari abad kesembilan dan abad ke-11 itu. Pasalnya, pada 2006, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bersama Kedutaan Besar RI di London sudah menyambangi pihak pewaris Lord Minto, namun gagal karena tidak ada titik temu soal kompensasi. “Harus dibuat semacam kasus. (Keluarga) Lord Minto tidak akan gamblang kirim kembali. Harus ada desakan (lagi) dari pemerintah Indonesia dengan semua fakta dari penelitian, sehingga bisa dengan laik balik ke sini,” papar Peter. Yang pasti, kata Peter, butuh persiapan banyak hal untuk menempuh jalan repatriasi yang berliku. “Harus diajukan kasus, tidak simsalabim, tidak seperti mie instan. Harus lewat ketekunan dan ketelitian membuat tafsiran, dan melalui jaringan diplomasi antara Pak (Presiden RI) Jokowi dengan (Perdana Menteri Inggris) Boris Johnson, antara duta besar, ada pengajuan kepada pemerintah dan penghakiman (jalur hukum, red. ),” lanjutnya. Sejarawan Peter Carey (kanan) dalam bincang live “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” Peter juga memberi warning agar pihak Indonesia harus menyiapkan dan meyakinkan bahwa dua benda itu bisa ditempatkan di lokasi yang lebih baik. Sehingga, jika kelak dikembalikan, kedua prasasti tidak seperti Prasasti Pucangan di Kolkata yang diletakkan di gudang yang bocor. “Seumpama benda (prasasti) itu kembali, apakah situasinya akan lebih baik dari sebelumnya? Pengalaman saya pada 1989 dengan British Council untuk mengembalikan 75 naskah yang diambil Inggris, kita kembalikan dalam bentuk microfilm kepada pihak Museum Nasional dan Keraton Yogyakarta. Dalam rentang 10 tahun itu hancur semua. Sebab tidak disediakan ruang yang atmospheric , ruangan ber-AC, ditaruh di lemari, tidak dipakai,” ujar Peter mencontohkan. “Harus ada kebijakan persiapan menerima kembali supaya lebih bermanfaat. Mesti ada riset yang menjelaskan benda ini milik si anu, si itu. Harus ada tafsiran berapa nilainya. Semua harus teliti, terperinci, dan tepat sasaran. Kalau tidak, jangan harap (bisa kembali),” tutupnya.

  • Misi Rahasia Jenderal S. Parman

    SUATU hari Willem Oltmans, jurnalis Algemeen Handelsblad  mendapat telepon dari Kolonel Sutikno Lukitodisastro, Atase militer (Atmil) Indonesia di Amerika Serikat (AS). Sutikno memberitahu ada seorang jenderal dari Jakarta yang ingin berbicara dengan Oltmans. Sang jenderal menginap di kamar 1040 Hotel Hilton di Madison Avenue, New York. Oltmans pun segera menghampiri ke sana. “Saya diterima oleh seorang bapak yang ramah dengan pakaian yang sesuai dengan ukuran badannya, yang ternyata adalah Jenderal S. Parman”, kenang Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku . Oltmans mencatat, pertemuan dengan S. Parman terjadi pada 18 Oktober 1964.    Di Belanda, Oltmans punya reputasi sebagai jurnalis investigatif yang tidak disukai pemerintah Belanda. Tulisan-tulisannya yang mendukung Indonesia dalam sengketa Irian Barat menyebabkannya dirinya kena cap persona non-grata  lantas pindah ke AS. Secara pribadi, Oltmans juga bersimpati kepada Presiden Sukarno. Kepada Oltmans Parman berkisah, dirinya telah mengenal Bung Karno sejak berusia 16 tahun. Sewaktu konflik melanda tentara dalam Peristiwa 17 Oktober 1952, Bung Karno sempat tidak suka kepada Parman mengingat dia disebut-sebut sebagai orang-nya Nasution. Namun ketika Zulkifli Lubis (yang merupakan perwira intel kesayangan Bung Karno saat insiden itu berlangsung) terlibat dalam PRRI-Permesta, “hubungan antara Bapak  dan saya baik kembali,” kata Parman ditirukan Oltmans. Dari Atmil ke Asisten I/Intel Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Dalam Siapa Dia? Perwira Tingggi TNI-AD , Harsja Bachtiar mencatat karir militer Parman dimulai sebagai penerjemah kempetai (polisi militer) di zaman Jepang. Setelah Indonesia memperoleh kedaulatan, Parman menjadi komandan Corps Polisi Militer (CPM).  Pada 1951, Parman sempat mengikuti pendidikan Associate Military Company Officer School di Georgia, AS. Pada 1959, Parman diangkat menjadi atase militer untuk Kerajaan Inggris dan bertugas di London. Tugas sebagai Atmil dijalaninya selama tiga tahun. Di periode itu, Jenderal Abdul Haris Nasution merupakan Kepala Staf Angakatan Darat (KSAD). Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Masa Orde Lama mencatat, Parman menjadi salah satu Atmil Indonesia yang ikut menjalankan kampanye Irian Barat di Eropa Barat. Parman tergabung bersama Kolonel Pandjaitan di Bonn dan Kolonel Rachmat Kartakusumah di Paris dalam “Operasi C”.  Nasution menyebut misi para Atmilnya tersebut sebagai diplomasi senyap untuk mempengaruhi sikap tokoh-tokoh penting di Belanda. Ketika Nasution berkunjung ke London pada 1961, Parman turut menyambut. Di hotel, kata Nasution, Parman dengan teliti menyiapkan gayung dan lain-lain kebiasaan Indonesia di kamar mandi. “Agar merasa tidak terlalu asing,” kata Parman ditirukan Nasution. Pada 1962, Parman dipanggil pulang ke Indonesia. Pimpinan dalam tubuh Angkatan darat beralih dari Nasution ke Ahmad Yani. Parman kemudian ditunjuk sebagai Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen. Pada 1964, Parman mendapat kenaikan pangkat sebagai mayor jenderal. Di dalam negeri, Angkatan Darat menghadapi lawan politiknya Partai Komunis Indonesia (PKI). Parman merupakan salah perwira yang menolak tegas wacana Angkatan Kelima gagasan PKI. Dalam rencana itu, buruh dan tani dipersenjatai untuk mengimbangi tentara. “Jabatan S. Parman sebagai pejabat intelijen menyebabkan ia banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Karena itulah ia menjadi salah seorang pejabat teras Angkatan Darat yang termasuk daftar yang akan dilenyapkan PKI,” tulis tim peneliti Departemen Sosial RI dalam Wajah dan sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV .   Wara-wiri Lintas Negara     Mengurusi intelijen Angkatan Darat membuat Parman punya jaringan di mana-mana. Tidak terkecuali di luar negeri. Keberadaan Parman di negeri asing pernah pula disaksikan sejawatnya yang lain, Brigjen Soegih Arto, duta besar Indonesia untuk Birma. Pada pertengahan 1964, Sukarno mengutus Soegih Arto ke Inggris untuk menjajaki perundingan penyelesaian konfrontasi Malaysia. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris. Ketika singgah di rumah Atmil Indonesia di Paris, Soegih Arto bertemu dengan Parman. Soegih Arto heran mengapa Parman berada di Paris namun sungkan bertanya. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman juga mengemban misi yang sama dengannya. Jika Soegih Arto ditugaskan berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto melihat Atmil Indonesia untuk Inggris, Kolonel Sasrapawira menjemput S. Parman. “Beliau diutus karena Beliau adalah Chief Intelligence Angkatan Darat, tetapi juga karena pernah menjabat sebagai Atase militer di Inggris,” kata Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto .   Menurut sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti, Parman merupakan utusan Yani sebagai peace feelers atau penjajak perdamaian dengan kemungkinan berunding dengan militer Inggris. Dalam upaya itu, Parman mengadakan pembicaraan rahasia dengan Kolonel Berger, Atmil Inggris untuk Prancis pada 9 Oktober 1964. Meski demikian, pembicaraan tidak berlanjutkan dengan perundingan resmi antar negara. “Pertemuan antara Mayjen S. Parman dan Kolonel Berger hanya berhenti sampai sebatas itu saja, tidak ada pembicaraan lebih lanjut,” tulis Linda dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Koneksi dengan CIA? Sepekan lebih berselang, Parman bersua dengan Oltmans di New York. Pembicaraan diantara mereka kemudian menyinggung nama Werner Verrips. Menurut Oltmans, Verrips adalah orang Belanda agen CIA.  Pada 1950, Verrips terlibat perampokan Bank Indonesia di Surabaya dan S. Parman adalah perwira CPM yang menangkapnya. Mengenai sosok Verrips, Oltmans mengonfirmasi sejumlah hal kepada Parman.   Kepada Oltmans, Parman membenarkan dirinya mengenal Verrips secara pribadi. Mereka bahkan baru bertemu di London untuk membahas masalah Malaysia. Namun Parman membantah pengakuan Verrips mengenai kedekatannya dengan Ahmad Yani. “Ia membual,” kata Parman, “Ia sama sekali tidak mengenal Yani.” Parman kemudian meminta bantuan Oltmans untuk dapat bertemu Verrips. Dengan menggunakan telepon hotel, Oltmans menelepon rumah Verrips di Huister ter Heide, Utrecht, Belanda. Istrinya, Anneke, memberikan nomor tempat Verrips dapat dihubungi. Segera Parman dan Verrips mengobrol lewat telepon. “Kedua 'sahabat lama’ itu mengobrol lewat telepon lintas-atlantik. Tak lama lagi mereka akan bertemu di Belanda, atau mungkin di London,” kata Oltmans. Pada 4 Desember 1964, Verrips mengalami kecelakaan mobil. Dia meninggal dalam peristiwa nahas itu. Apakah kejadian yang menimpa Verrips itu berhubungan dengan Parman, Oltmans sendiri tidak dapat membuktikannya. Pada awal Januari 1965, Oltmans kembali ke rumahnya di Long Island. Dia kemudian menemui Zairin Zain, duta besar Indonesia untuk AS. Dari Zain, Oltmans mengetahui bahwa dirinya juga menjadi target pelenyapan. Kata Zain, Verrips mengetahui terlalu banyak dan selalu ingin buka mulut kepada siapa saja. Sementara itu, Oltmans selalu ingin memuat segala yang ia ketahui dalam koran. Menurut Manai Sophiaan dalam Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI,  Oltmans dan Verrips sudah mengetahui adanya kegiatan mencari dukungan dari Belanda dan Washington atas rencana hendak menggulingkan Sukarno. “Rencana yang tidak mereka setujui dan dikhawatirkan akan melaporkannya kepada Sukarno.”*

  • Wacana Pengembalian Benda Jarahan Inggris

    PADA 1812, pecah perang Sepehi atau Sepoy antara Kesultanan Yogyakarta melawan Inggris. Dinamakan perang Sepehi atau Sepoy karena kala itu Inggris membawa bala tentara Sepoy dari India. Gabungan pasukan Inggris, Sepoy, dan Mangkunegaran itu berhasil menaklukkan benteng Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono II pun jatuh. Usai geger Sepehi, Inggris menjarah keraton di selatan Jawa itu. Selama empat hari hilir mudik, peti-peti berisi harta benda dari keraton diangkut dengan gerobak. Nilainya melebihi 120 juta dolar AS di masa kini. Hasil jarahan itu diangkut ke kepatihan. Dari manuskrip hingga barang berharga lainnya dibawa ke Rustenburg (keresidenan) lalu dibagikan ke perwira dan serdadu Inggris-India. "Di dalam keresidenan (jarahan, red. ) disortir semua," kata Peter Carey dalam Tur Sejarah "Jejak Inggris di Jawa 1811-1812”, di Yogyakarta, Rabu, 30 Agustus 2017. Kisah penjarahan besar-besaran ini belakangan dibuka lagi oleh keturunan Sultan Hamengku Buwono II. Mengutip krjogja . com , Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional HB II Fajar Bagoes Poetranto juga mendesak pemerintah untuk membantu pengembalian benda-benda hasil jarahan itu. “Kami mengharapkan harta dan benda bersejarah yang dijarah tentara Inggris pada Perang Sepehi tahun 1812 untuk dikembalikan. Barang-barang tersebut merupakan salah satu bagian dari milik Keraton Yogyakarta di masa Raja Sri Sultan Hamengkubuwono II,” ujar Bagoes Rabu, 22 Juli 2020. Bagoes juga menyebut, dalam hasil jarahan itu terdapat logam emas sebanyak 57.000 ton. Namun, surat bukti kepemilikan atau kolateralnya juga dirampas. “Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II,” kata Bagoes, seperti dikutip krjogja . com . Riset Asal-Usul Pernyataan Bagoes tentang pengembalian barang jarahan itu, terutama mengenai emas, lalu ramai diperbincangkan. Sayangnya, tuntutan pengembalian barang-barang yang dikeluarkan Bagoes tidak didasari provenance research. Padahal, menurut Ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada Sri Margana, provenance research  merupakan dasar untuk mengembalikan benda-benda tersebut. Riset tersebut untuk membuktikan bahwa benda-benda yang dimaksud benar-benar berasal dari negara jajahan. “Jadi tidak sekedar o...iya ini kayaknya dari Indonesia, kemudian ya udah dikembalikan, enggak. Tetapi harus dibuktikan bahwa memang itu asal-usulnya dari catatan-catatan historis, catatan-catatan penting yang bisa dipakai sebagai landasan mengembalikan pada yang punya,” kata Sri Margana menjelaskan kepada Historia . Selain itu, provenance research  juga penting dalam rangka produksi pengetahuan. Benda-benda yang diteliti tidak hanya dikembalikan untuk disimpan lagi di museum, melainkan dapat menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat. Hasil penelitian itu nantinya akan mengisi celah-celah dalam historiografi sebuah bangsa dan menjadi bukti baru dalam narasi sejarah yang hilang. “Jadi dia harus memberikan efek bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Itulah mengapa syaratnya itu. Syarat pengembalian ada provenance research . Yaitu kajian yang serius, kajian yang mendalam terhadap fungsi benda itu, manfaat benda itu, bagi kebudayaan Indonesia, bagi ilmu pengetahuan, bagi sejarah itu apa. Nah itu yang kemudian dijadikan dasar,” sambung Margana. Hal itu harus dilakukan terhadap benda-benda bersejarah dari Yogyakarta di Inggris mengingat banyaknya koleksi museum-museum Inggris yang berasal dari negara jajahan. British Museum, misalnya, mayoritas koleksinya berasal dari wilayah koloni di Asia, Afrika, dan Oseania. Bahkan, benda-benda tersebut menjadi ikon museum yang mengundang banyak pengunjung. Namun, sampai saat ini tampaknya belum ada upaya Inggris untuk melakukan pengembalian atau repatriasi. “Setau saya Inggris juga belum melakukan apa-apa. Bahwa negara-negara di Afrika mulai membuat tuntutan, iya,” terang Margana. Diplomasi Antar-Negara Wacana dekolonisasi museum memang tengah ramai di Eropa. Museum-museum yang berisi benda-benda hasil rampasan selama masa kolonial dituntut untuk dikembalkan ke negara asal. Belum lama ini, Belanda telah mengembalikan keris Pangeran Diponegoro beserta 1499 benda budaya dan bersejarah lain dari Museum Nusantara di Delf. Sri Margana, yang juga tergabung dalam tim ahli dari Indonesia dalam pengembalian keris Diponegoro, menyebut bahwa hal yang sama juga bisa dilakukan untuk benda-benda bersejarah di Inggris. Kuncinya adalah upaya diplomatik antar-kedua negara. “Jadi sebetulnya, kemungkinan pengembalian itu sangat mungkin. Tapi harus dilakukan dengan upaya-upaya diplomatik yang saling menghormati masing-masing. Jadi setiap negara itu kan punya aturan, punya perwakilan diplomatik,” ujarnya. Belajar dari pengalaman hubungan Indonesia dengan Belanda, proses repatriasi berlangsung bertahap sejak 1975. Kesepakatan-kesepakatan dan kerjasama dalam penelitian juga diadakan. Dari sana dapat diketahui mana benda yang merupakan hasil rampasan atau jarahan secara paksa dan mana yang hadiah atau sukarela. Setelah benda-benda tersebut dikategorigan sebagai hasil ambil paksa, dilakukanlah negosiasi untuk dikembalikan. Sementara untuk benda-benda persembahan atau hadiah, tetap menjadi hak milik dan tidak perlu dikembalikan ke negara jajahan. “Jadi kalau barang-barang yang dari Inggris ini dilakukan, ya saran saya tempuhlah cara-cara yang terhormat. Cara-cara diplomatik sebagai dua negara yang berdaulat, yang memiliki cara-cara tersendiri atau prosedur sendiri dalam hubungan antar negara,” kata Margana. Margana menambahkan, repatriasi tentu saja tidak bisa dilakukan antara negara terhadap individu. Pasalnya, benda-benda bersejarah tersebut telah menjadi properti dari negara yang berdaulat. Lembaga-lembaga negara juga tidak berurusan dengan individu, melainkan dengan lembaga negara lain yang setingkat. “Itu harus perwakilan antar-negara. Tidak bisa individu. Seperti kalau Belanda menyerahkan keris, itu nggak  bisa diserahkan pada keluarganya Diponegoro. Nggak  bisa. Diserahkannya kepada Museum Nasioal karena itu aset bangsa. Tidak bisa dimiliki secara pribadi,” tegasnya.*

  • Zaman Gorombolan DI/TII

    TJUTJU Soendoesiyah (74) masih ingat kedatangan pamannya bernama Sersan Mayor Ombi ke rumahnya pada suatu hari di tahun 1956. Selain temu kangen setelah banyak bertugas ke luar daerah, Ombi juga bermaksud memberi tahu sang kakak, ibunya Tjutju, bahwa dirinya mulai hari itu ditugaskan di Bingawatie. Bingawatie adalah nama tempat yang terletak di Kampung Cangklek, Kabupaten Cianjur. Di sana didirikan sebuah pos militer untuk mengadang gerakan gerilyawan DI/TII dari arah Gunung Gemuruh dan Gunung Gede. "Ya kalau dari rumah saya di Salagedang, jaraknya ada sekitar 7 km," ungkap nenek dari 6 cucu itu. Beberapa hari setelah kedatangan sang paman, Tjutju mendengar berita duka: Pos Bingawatie pada suatu malam diserang sekaligus dibakar oleh gorombolan , sebutan orang Sunda kepada gerilyawan DI/TII. Tak ada yang tersisa. Bangunan pos dan para penghuninya nyaris menjadi abu. "Jasad Mang Ombi sendiri ditemukan sudah merengkel  (mengerut), besarnya menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan," kenang Tjutju. Tak lama setelah kehilangan sang paman, Tjutju mendengar kabar sedih kembali. Kali ini dari selatan Cianjur. Diberitakan uaknya yang bernama Tantan tewas disembelih oleh gorombolan  saat mereka menjarah kampungnya. "Waktu zaman gorombolan , hampir tiap waktu kita selalu kehilangan orang-orang yang kita sayangi dan kita kenal sangat akrab. Saat itu pertempuran banyak terjadi, korban pun banyak berjatuhan. Situasi pokoknya sangat kacau," ujar Tjutju. Berbeda dengan Tjutju, Kasa bin Sukadma (76) yang pada 1961 masih berumur 17 tahun mengalami secara langsung kegilaan perang di zaman itu. Bahkan bisa dikatakan dia merupakan salah satu korban keganasan para gorombolan . "Saya harus kehilangan tangan kiri saya yang diteukteuk  (dipotong) oleh salah seorang gorombolan  yang menyerang kampung saya," kenang warga Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya itu. Ceritanya, pada 17 Agustus 1961 tepat jam 12 malam, ratusan gerilyawan DI/TII menyerang desanya. Penyerangan itu sejatinya menyasar pos tentara di desa tersebut, namun tak ayal mengorbankan juga banyak warga desa. Kasa bersembunyi di tengah sawah yang siap panen. Namun, dasar sial, dia ditemukan oleh enam gerilyawan DI/TII yang memeriksa setiap kotak sawah secara teliti. "Mereka langsung membacok saya dengan golok panjangnya dan kena ke tangan kiri saya hingga putus. Nyawa saya selamat karena begitu tangan saya putus langsung pingsan dan dianggap sudah mati," ujar lelaki yang saat ini bekerja sebagai petani itu. Akibat penyerangan itu, 51 warga Parentas tewas seketika. Puluhan orang lainnya luka-luka. Pihak tentara kehilangan tiga prajuritnya. Sementara itu, di pihak gerilyawan DI/TII hanya ditemukan satu orang tewas dengan lubang peluru di kepala. Selain kegetiran dan kesedihan, zaman gorombolan  pun menguak kisah-kisah jenaka. Sudah menjadi rahasia umum jika pada saat itu rakyat berada dalam dilema menghadapi dua pihak yang tengah berperang. Maka muncullah istilah "kongres" kepanjangan dari hareup nyokong ka tukang beres  (di depan bilang mendukung ke belakang bilang beres). "Rakyat jadi berwajah dua: kalau siang mendukung tentara, nah malamnya membantu gorombolan ," kata Usep Romli H.M., wartawan senior Jawa Barat sekaligus pelaku sejarah zaman gorombolan . Usep yang saat itu warga Cibiuk, Garut memiliki pengalaman lucu. Menjelang DI/TII menyerah kepada pemerintah, dia dan kawan-kawannya ditugaskan oleh seorang pemuka masyarakat mengantarkan kebutuhan logistik untuk urang leuweung  (orang hutan, istilah lain untuk gerilyawan DI/TII). Logistik itu berupa makanan enak, seperti nasi putih, sambal, goreng ikan gurame, lalapan, pepes ikan dan lain-lain. Sampai di tempat yang biasanya warga desa “menyetor” logistik, para utusan DI/TII ternyata belum datang. Hingga tengah malam, ternyata tak satu batang hidung pun gorombolan  terlihat. Apa boleh buat, logistik itu akhirnya "disikat" saja oleh para pengantar hingga ludes. Singkat cerita, para pengantar yang kekenyangan itu pun sampai kembali di desanya. Saat itulah, sang tokoh masyarakat menemui mereka dan langsung bertanya:  "Sudah kalian sampaikan logistiknya?" "Sudah Pak Haji, beresss," ujar Usep. "Oh begitu. Tapi kok mereka tidak memberikan kode tembakan seperti biasanya kalau sudah menerima logistik, ya?" tanya Pak Haji lagi. "Hmmm, oh itu. Mereka bilang sih katanya kehabisan peluru," jawab Usep, sekenanya. Walau sedikit bimbang, Pak Haji pun mengangguk-anggukan kepalanya. Dan soal logistik untuk "orang hutan" itu pun tetap menjadi rahasia Usep dan kawan-kawannya hingga bertahun-tahun, jauh setelah DI/TII turun gunung dan menyerah kepada pemerintah.*

  • Dari Syal hingga Dasi

    Muasal Penggunaan Syal Syal sekarang identik dengan fesyen. Ia digunakan sebagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Namun, siapa sangka dulu syal lebih sering digunakan lelaki ketimbang perempuan? Pada masa Romawi Kuno, lelaki diketahui kerap melilitkan sepotong kain di leher. Tujuannya untuk menyeka keringat. Ini sesuai dengan namanya, sudarium  atau kain keringat. Tak heran, banyak yang memandang Romawi sebagai tempat muasal syal. Setelah kerap dipakai lelaki, barulah perempuan ikut melilitkan syal di leher. Umumnya, syal terbuat dari wol dan sutra. Sementara itu, di Tiongkok syal digunakan untuk mengukur kedudukan seseorang, terutama dalam pemerintahan dan militer. Pada abad ke-17, beberapa tentara Eropa melilitkan kain katun di lehernya untuk membedakan dengan tentara lainnya. Fungsi Kipas bagi Penguasa Beberapa abad lampau, kipas tak sekadar penyejuk badan kala cuaca panas. Kipas juga menunjukkan kemegahan. Penguasa Romawi Kuno biasa mempekerjakan budak­budak untuk mengipasi mereka. Tradisi ini terus bertahan di Eropa hingga Abad Pertengahan. Ratu Inggris Elizabeth I (1558–1603) tercatat gandrung terhadap kipas. Ia hampir tak bisa lepas dari kipas kesayangannya, terbuat dari bulu burung nan indah. Batu pualam atau kulit kerang menambah keindahannya. Louis XVI (1754–1793) tak mau kalah. Penguasa Prancis ini memiliki koleksi kipas yang berhiaskan intan berlian dan emas. [Hendaru Tri Hanggoro] Jas untuk Acara Resmi dan Santai Khalayak Eropa biasa menggunakan jas sejak abad ke-18. Dan memang awal penggunaannya ditujukan untuk acara resmi. Dress-coat  atau frock coat  adalah jas resmi pas badan yang bagian belakangnya memiliki ekor, sedangkan bagian depannya berbentuk meruncing atau kotak. Tapi itu berubah pada abad ke-19. Sejumlah pria mengenakan setelan jas baru untuk bersantai, disebut lounge . Potongannya yang tidak resmi membuat setelan lounge  sangat populer di kalangan seniman, bohemian, dan intelektual. [Hendaru Tri Hanggoro] Fungsi Dasi di Masa Lampau Sehelai kain yang menjuntai dari leher hingga dada ini sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno. Biasanya dipakai oleh juru bicara. Fungsinya sebagai pelindung tenggorokan dan dada. Mereka melilitkan seikat kain dari leher hingga ke dada untuk menjaga kualitas suara. Mereka menggunakan dasi kala berkumpul di agora , sebuah forum publik. Agora  berlangsung dalam koloseum atau teater besar. Sementara di Tiongkok dasi berfungsi sebagai aksesoris prajurit. Prajurit Kroasia mengikuti cara ini pada abad ke-17 M. Dasi menjadi pembeda satu divisi tentara dengan divisi lainnya. Pada era Renaisans, masyarakat Eropa mengenal ruff , kerah kaku dari kain putih menyerupai piringan yang melingkari leher. Pemakaian ruff  yang kerap menyebabkan iritasi tergeser oleh cravat , sehelai sapu tangan terbuat dari bermacam jenis kain yang diikatkan ke leher. Penggunaan cravat  mencuat di Prancis pada medio 1600-an. Ia diperkenalkan orang-orang Kroasia yang jadi tentara sewaan Raja Louis XIII. Sehingga, kata cravat pun berarti “penduduk dari Kroasia”. Keindahan cravat  mewarnai gaya berbusana di Eropa. Ia pun menjadi penanda status sosial si pemakai, hingga menjadi dasi yang kita kenal hari ini. [Martin Sitompul]

bottom of page