top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Operasi Darurat Dokter Ibnu Sutowo

    Dokter militer Mayor Ibnu Sutowo terpaksa mengungsikan keluarganya ke Muara Aman. Kota Palembang tempat mereka tinggal sudah dikuasai oleh tentara Belanda. Kota-kota kabupaten sekitarnya juga mulai diduduki. Sebagai kepala Jawatan Kesehatan Tentara, Ibnu Sutowo harus mengikuti pasukan TNI berpindah dari satu tempat ke tempat lain.   “Tanggal 1 Januari 1947, subuh sekitar pukul lima, Belanda memulai serangan di Palembang Ilir. Itulah awal mulainya perang lima hari lima malam di kota Palembang,” tutur Ibnu Sutowo kepada Ramadhan K.H dalam otobiografi Ibnu Sutowo: Saat Saya Bercerita!     Sewaktu di Lubuk Linggau, terjadilah peristiwa nahas. Petaka menimpa Komandan Sub-Komando Sumatra Selatan Kolonel Bambang Utoyo. Entah bagaimana kejadiannya, tangan sang komandan bercucuran darah hampir hancur karena ledakan granat. Menurut desas-desus, Bambang Utoyo menerima granat itu ketika berada di daerah Kayu Agung, antara Palembang dan Jambi. Saat Bambang Utoyo meletakan granat ditangannya, tiba-tiba saja meledak.  Rumor menyebutkan bahwa granat itu buatan orang di Sumatra Barat.      “Maklum keadaan kita masih serba tidak teratur. Pengetahuan kita mengenai persenjataan juga masih amat kurang,” kata Ibnu. Sebagai seorang dokter, Ibnu Sutowo segera bertindak. Sayangnya, keadaan saat itu tidak memadai. Ibnu Sutowo menjalankan tindakan operasi di klinik sederhana. Bermodal doa dan niat, Ibnu mengamputasi tangan kanan Bambang Utoyo menggunakan alat-alat sederhana. Beruntunglah Ibnu Sutowo terlatih waktu menempuh pendidikan di Sekolah Kedokteran (NIAS) Surabaya.   “Saya berusaha mengoperasi sebaik mungkin, sesuai ketentuan-ketentuan dalam ilmu kedokteran. Tetapi entah bagi Pak Bambang, saya tidak dapat membayangkan penderitaan yang dialaminya,” kenang Ibnu Sutowo. Beberapa hari pasca amputasi, Bambang Utoyo mulai belajar menulis dengan tangan kirinya. Tidak berhenti hanya dengan belajar menulis, Bambang Utoyo bahkan kembali ke dinas ketentaraan. Ibnu Sutowo mengakui betapa Bambang Utoyo memiliki jiwa yang sangat kuat.   Bertahun-tahun kemudian, ternyata amputasi yang dilakukan Ibnu Sutowo dieksekusi dengan tepat meskipun ditengah berbagai kertebatasan. Hal ini diketahui ketika Bambang Utoyo berobat ke Jerman untuk pengobatan penyakit gula. Menurut pengamatan dokter di Jerman, kata Bambang Utoyo kepada Ibnu Sutowo, hasil amputasinya itu menuai pujian. Tentu saja Ibnu Sutowo senang mendengarnya.      Meski dengan anggota tubuh yang tidak sempurna, Bambang Utoyo berhasil mencapai puncak kariernya dalam militer. Pada 1955, Bambang Utoyo menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang ke-4. Bambang Utoyo pensiun dengan pangkat letnan jenderal dan pada 1997, pemerintatah Indonesia menaikan pangkatnya menjadi jenderal kehormatan. Sementara itu, Ibnu Sutowo pernah menjadi deputi II KSAD bidang operasi pada 1956. Ketika terjadi nasionalisasi aset Belanda, Ibnu dikaryakan untuk mengelola Perusahaan Minyak Nasional (Permina). Sejak saat itu hingga pensiunnya sebagai letnan jenderal, nama Ibnu Sutowo lebih sohor sebagai bos Perusahaan Tambang Minyak Nasional atau Pertamina.

  • Aksi Gila Michael Wittmann si Jago Tank Jerman

    Hari ini, 13 Juni, 76 tahun silam. Saat sedang mengamati pemeriksaan tank-tank Tiger dalam kompinya di markas komando Desa Villers-Bocage, Prancis, SS-Obersturmfuhrer (setara letnan satu) Michael Wittmann, komandan kompi ke-2 Batalyon SS Panzer ke-101, tiba-tiba didatangi seorang prajurit sekira pukul 08 pagi. Wittmann diberitahu adanya iringan tank dan bermacam kendaraan tempur (ranpur) asing sedang melintas tak jauh dari mereka. Dari bentuknya, kata sang pelapor, ranpur-ranpur itu bukan ranpur Jerman. “Saya segera keluar dan melihat tank-tank berjalan beriringan sekitar 150 hingga 200 meter jauhnya. Mereka merupakan (tank, redaksi ) tipe Inggris dan Amerika. Pada saat yang sama saya melihat bahwa tank-tank itu disertai pengangkut pasukan lapis baja,” kata Wittmann dalam diary-nya, dikutip Patrick Agte dalam Michael Wittmann and the Waffen SS Tiger Commanders of the Leibstandarte in World War II , Vol. II. Pikiran Wittmann langsung kacau. Dia tak pernah membayangkan pasukan Sekutu (Inggris-Amerika) datang begitu cepat dan dalam jumlah yang amat besar. Pasukan yang dilihatnya itu ternyata pasukan Divisi Lapis Baja ke-7 Inggris di bawah pimpinan Mayjen George Erskine. Baca juga:  Tank Leopard yang Layu Sebelum Berkembang Iring-iringan pasukan Inggris itu terdiri dari8th King’s Royal Irish Hussars (batalyon pengintai), County of London Yeomanry “Sharpshooters” ke-4 (batalyon tank, staf tempur Brigade Lapis Baja ke-22), 5th RHA (batalyon artilery, minus satu battery), 1/7 Battalion The Queen’s Royal Regiment (batalyon infantri), Batalyon ke-1Rifle Brigade (batalyon infantri lapis baja, minus dua kompi), dan Unit Battery Anti-Tank ke-26 . Mereka mulai bergerak dari Villers-Bocage menuju Caen pukul 05 pagi pada hari itu. Caen merupakan salah satu kota yang ditetapkan panglima Allied Ground Forces Jenderal Bernard Montgomery untuk direbut Sekutu dalam gerak-majunya usai invasi Normandia (D-Day). “Caen adalah kunci menuju Cherbourg," katanya kepada Jenderal Omar Bradley sebagaimana dikutip James Holland dalam Normandy '44: D-Day and the Battle for France, A New History . Keberhasilan menguasainya akan menentukan keberhasilan langkah selanjutnya dalam menuju wilayah Jerman. Untuk merebut Caen, Inggris melakukan taktik menjepit. Satu pasukan akan bergerak dari depan (arah pantai), pasukan lain akan menyerang dari belakang. Pasukan penyerang belakang ini bergerak melambung melalui Villers-Bocage. Mereka bergerak ke Villers-Bocage pada 12 Juni 1944. Baca juga:  Istri Jenderal Minta Panser Dalam perjalanan menuju desa tersebut, pasukan Inggris tak menemui satupun perlawanan dari pasukan Jerman.  Hanya dua kompi medis dari Divisi Panzer-Lehr yang mereka lihat sedang melarikan diri. Tak adanya perlawanan itu menjadi salah satu alasan pasukan Inggris tak ingin berlama-lama di Villers-Bocage sehingga bisa cepat mencapai Caen. Saat melintasi jalan raya negara menuju Caen itulah iring-iringan pasukan lapis baja Inggris mengagetkan Wittmann. Pikirannya langsung kalut. Sambil mengamati iring-iringan itu dari Hill 213, Wittman terus memikirkan langkah apa yang harus dilakukan mengingat bahaya bagi pasukan Jerman ada di depan mata. Dia sadar, melawan pasukan raksasa dengan menggunakan kekuatan yang ada hanya akan menyebabkan mati konyol. Namun, dia juga tak ingin hanya berdiam menunggu bantuan dan membiarkan pasukan Inggris tanpa perlawanan menuju Caen. Wittmann akhirnya mengambil keputusan. “Saya harus mengatakan bahwa keputusan itu sangat, sangat sulit. Belum pernah saya begitu terkesan dengan kekuatan musuh seperti ketika saya meihat tank-tank yang lewat; tetapi saya tahu bahwa itu terjadi dan saya memutuskan untuk menyerang musuh,” ujarnya. Baca juga:  Tank Gaek Bertahan Hidup Setelah lari menuju tank Tiger 1-nya, Wittmann yang duduk di kursi komandan langsung memerintahkan tank dilarikan ke jalan lapang. Dia sempat memerintahkan Untersturmfuhrer Herbert Stief, si loader , agar memberitahu tank-tank lain agar menyusul tank-nya. Namun karena tank itu mengalami masalah pada motor, Wittmann langsung berganti tank ke tank yang dikomandani Untersturmfuhrer Kurt Sowa dan mengambilalih komando.   Begitu mendekati kolom pasukan lapis baja Inggris, Tiger Wittmann langsung memuntahkan kanonnya. Dua tank di sisi kanon kolom pasukan Inggris jadi korban. Tiger Wittmann kemudian bermanuver ke belakang kolom pasukan Inggris dan memangsa satu ranpur paling belakang. Setelah berbelok ke kiri, Tiger Wittmann menyerang batalion pasukan pengangkut lapis baja yang berada di tengah kolom. Dari sana, Tiger melaju ke bagian belakang kolom dan melumpuhkan setiap tank yang datang ke arahnya. Para personil infantri Inggris di truk langsung loncat ke semak-semak di samping jalan. Beberapa lainnya tewas bersama terbakarnya truk-truk mereka setelah dihantam kanon Tiger Wittmann. Sementara, para awak tank-tank Inggris yang bingung langsung membalas tembakan. Namun, tak satupun tembakan balasan itu mengenai Tiger Wittmann. “Karena Wittmann lebih cepat daripada mereka, lebih terampil dan akurat. Tembakan yang diarahkan dengan baik dari (tank) Cromwell, yang ditembakkan dari jarak yang sangat dekat, memantul dari pelindung depan Tiger,” tulis Wittmann. “Musuh dibuat bingung total. Saya kemudian melaju langsung ke kota Villers.” Baca juga:  Habibie, Menhankam dan Tank Korea Dalam perjalanan menuruni jalan landai ke Villers-Bocage, dua tank Inggris dari Resimen London Yeomanry ke-4 dimangsanya di Rue Georges Clemenceau. Tank Cromwell yang dikomandani Kapten Dyas berhasil balik badan dan lari, begitu juga tank keempat. Tepat menjelang Hotel du Bras d'Or, Tiger kembali menghancurkan tank Sherman dari Artileri ke-5 Inggris. Di Jeanne d’Arc Square, Tiger bertemu dengan beberapa tank Inggris dan langsung melaju kembali menyusuri jalan utama, Rue Pasteur. Namun ketika melewati toko pakaian Huet-Godefroy, Tiger dihantam peluru yang ditembakkan oleh senjata anti-tank. Meski tank-nya lumpuh, Wittmann selamat. Berbekal senjata yang ada, dia berjalan kaki menuju markas divisi Panzer-Lehr yang berjarak sekira 15 kilometer. Meski beberapakali harus menghindari tank musuh, dia akhirnya mencapai markas divisi dan segera melapor ke korpsnya. “Belum pernah satu komandan tank menyerang pasukan superior semacam itu. Wittmann mencetak hit langsung dengan setiap tembakan dari Tiger-nya yang bergerak. Loader Sturmmann Boldt harus bekerja sangat keras; dia tidak pernah harus memuat begitu cepat. Pengemudi, SS-Unterscharfuhrer Walter Muller, dengan mahir memanuverkan Tiger melewati kolom Inggris. Operator radio adalah SS-Sturmmann Gunther Jonas. Semua masuk akal, Michael Wittmann terus mengawasi kolom lapis baja musuh, yang akhirnya tidak bisa dilihatnya. Tiger itu menembak lagi dan lagi,” tulis Agte. (Bersambung).

  • Dari Perang Dunia ke Piala Dunia

    DARI pinggir lapangan, Josef ‘Sepp’ Herberger tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Sang pelatih timnas Jerman itu puas bukan kepalang karena merasa tak salah pilih kala memberi kesempatan pada bintang muda, Fritz Walter, untuk melakoni debut internasionalnya. Permainan ciamik Walter dalam laga persahabatan itu bikin sekira 40 ribu penonton di Waldstadion, Frankfurt am Main, 14 Juli 1940, bergemuruh kagum. Laga persahabatan itu digelar untuk memperkuat ikatan aliansi “Axis” antara Jerman, Rumania, dan Italia yang diwakili wasit Raffaele Scorzoni. Jerman yang superior di atas kertas memulai pesta golnya sejak menit ke-16 lewat Ernst Plener. Tetapi yang jadi sorotan utama tetaplah Fritz Walter, gelandang serang yang baru berusia 20 tahun. Gelandang yang sebelumnya mengukir kiprah manis di klub kota kelahirannya, FV Kaiserslautern (kini 1 FC Kaiserslautern), itu mencetak hattrick (trigol) di menit ke-33, 76, dan 81 untuk menyempurnakan kemenangan telak 9-3. Senyum Herberger senantiasa tersungging ketika berjalan hendak merangkul Walter usai laga. “Saya senang, Fritz. Kau tidak mengecewakan saya. Kau bisa datang lagi (memperkuat timnas),” kata Herberger, dikutip Ulrich Hesse dalam Tor! The Story of German Football . Sejak saat itu, Walter jadi anak emas Herberger. Ke manapun timnas Jerman berlaga, Walter selalu dipanggil Herberger, terlepas dunia tengah bergolak oleh Perang Dunia II. Termasuk di laga persahabatan kontra Hungaria di Népstadion, Budapest (kini Puskás Ferenc Stadion), 3 Mei 1942. Pertandingan itu disebutkan Herberger sangat penting bagi harga diri para petinggi Nazi. Tetapi Walter dkk. sempat ketar-ketir lantaran di interval perdana mereka tertinggal 1-3. “Tolong jangan biarkan pertandingan ini jadi bencana,” cetus Herberger pada saat rehat di ruang ganti. Kata-kata itu begitu terngiang di telinga Walter . Sosok Josef 'Sepp' Herberger, pelatih Jerman periode 1936-1942 dan 1950-1964, dalam display di Deutsche Fußballmuseum , Dortmund (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Ia dan 10 rekan setimnya paham bahwa jika laga berakhir pahit, nasib mereka bakal getir pula: dikirim ke medan perang front timur. Petuah bernada ancaman itu pun terbukti melecut semangat Walter cs. Di babak kedua, Die Mannschaft bangkit hingga menang 5-3 di akhir laga. Kemenangan berharga itu tiga tahun berselang berperan besar menentukan nyawa Walter pasca-kekalahan Jerman-Nazi di Perang Dunia II. Seandainya di laga itu Jerman kalah, catatan sejarah dan reputasi sepakbola Jerman di Piala Dunia akan berbeda sama sekali. Sepakterjang di Tengah Perang Friedrich ‘Fritz’ Walter merupakan anak sulung dari tiga bersaudara kelahiran Kaiserslautern, 31 Oktober 1920. Persentuhannya dengan sepakbola terjadi karena sering ikut membantu ayahnya yang bekerja di bar dan restoran klub FV Kaiserslautern. Pun dengan dua adiknya, Ottmar dan Ludwig, yang juga tertular “virus” sepakbola karena sering melihat laga-laga kandang FV Kaiserslautern. Saat usianya baru genap delapan tahun, Walter sudah menggabungkan diri di tim muda FV Kaiserslautern. Ia masuk ke tim utama klub kala menginjak usia 17 tahun. Saat itu, kompetisi di Jerman baru empat tahun berganti dari Bezirksliga menjadi Gauliga, yang digelar tersendiri di masing-masing 16 wilayah. Walter bersama Kaiserslautern mentas di Gauliga Westmark yang menariknya, turut mengikutsertakan tiga klub Prancis yang diklaim Jerman sebagai wilayah Saarland: Lorraine, Metz, dan Sarreguemines. Di masa perang, Walter tampil gemilang bersama Die Roten Teufel (Setan Merah) dan bahkan sempat mengantarkan klubnya juara di musim 1941-1942. Pada 1942 itu juga Walter –yang sudah langganan masuk timnas Jerman sejak 1940– turut tampil di turnamen “Piala Dunia” tak resmi. Namun di final kontra Swedia, Walter dkk kalah 2-3. Kekalahan itu dan kebijakan Totaler Krieg (perang total) yang –mewajibkan semua warga Jerman ikut wajib militer– dikeluarkan Menteri Propaganda Joseph Goebbels pada 18 Februari 1943 lalu merecoki karier profesional Walter. Kebijakan tangan kanan Der Führer Adolf Hitler itu memaksa Walter meninggalkan sementara sepakbola untuk angkat senjata. Dalam otobiografinya, 11 Rote Jäger (11 Petarung Merah), Walter membeberkan, pada musim panas 1943 ia mulai menjalani wajib militer. Ia masuk unit perbantuan darat Luftwaffe (Angkatan Udara) yang akan dikirim ke front Italia dengan pangkat Obergefreiter (setara prajurit satu). Beruntung bagi Walter karena masih bisa berkontak dengan Sepp Herberger, pelatihnya yang juga salah satu politikus terpandang Partai Nazi. Herberger memanfaatkan betul posisinya untuk menyelamatkan sejumlah pemain andalan timnas Jerman, terutama Walter yang jadi anak emasnya, agar tak dikirim ke palagan. Fritz Walter dan Mayor Hermann Graf di tim AU Jerman, Rote Jäger (Foto: Repro "Graf & Grislawski: A Pair of Aces") Herberger lantas meminta bantuan Mayor Hermann Graf, mantan anak asuhnya yang kini jago tempur udara, agar mau menampung beberapa pemain termasuk Walter. Dengan senang hati Graf, eks kiper timnas Jerman, menyanggupi mentransfer Walter dan beberapa pemain lain ke unitnya, Brigade Lintas Udara ke-26. “Mungkin ketegangan dan perasaan dekat dengan kematian yang selalu ia alami sehari-hari sebelumnya di medan tempur yang menjadi alasan Graf tetap menggemari sepakbola di masa-masa perang. Dia membutuhkan sepakbola sebagai tujuan menciptakan keseimbangan, dia amat membutuhkannya bak makanan sehari-hari,” tulis Walter. Dengan bergabung ke unit pimpinan Graf di utara Jerman, Walter berada jauh dari kengerian pertermpuran. Unit itu kemudian membentuk kesebelasan Rote Jäger yang diisi 18 pemain, termasuk Graf yang bermain sebagai kiper dan Herberger sebagai pelatihnya. Tim Rote Jäger tak ikut kompetisi resmi di dalam negeri dan hanya jadi tim “propaganda” yang acap tur melawan tim-tim militer maupun lokal di sejumlah negara seperti Hungaria, Prancis, atau Polandia. Tahanan Perang hingga Piala Dunia Januari 1945 sudah jadi masa-masa yang suram bagi Jerman. Di barat, Sekutu sudah kian mendekati tanah Jerman. Di timur, jutaan tentara Uni Soviet tak terbendung. Kegiatan Walter dkk. di tim Rote Jäger pun mulai terhenti. “Walter sempat mengira Graf, seperti para perwira Jerman lainnya, akan melarikan diri dan meninggalkan para prajuritnya dihabisi tentara Rusia (Soviet). Tetapi Graf justru berkata: ‘Kita akan menghancurkan semua pesawat yang tersisa dan kita akan jadi tahanan perang bersama-sama’,” sambung Hesse. Graf mengupayakan pasukannya untuk menyerahkan diri ke pasukan Sekutu ketimbang Uni Soviet yang lazim memperlakukan tawanan Jerman dengan keji sebagai pelampiasan dendam. Dan memang itu yang terjadi, mereka jadi tawanan  pasukan Amerika. Tetapi medio Desember 1945, sekira 40 ribu prajurit Jerman yang ditahan Amerika diserahkan ke Uni Soviet. Walter termasuk di dalamnya. Bayangan akan dikirim ke gulag-gulag (kamp) di Siberia untuk menjalani kerja paksa dengan kondisi memilukan tak pernah hilang dari otaknya. “Di awal musim dingin 1945 itu, Walter keluar dari sebuah truk dengan rasa bingung. Dari beberapa orang, terdengar bahwa ia kini berada di Maramureș dekat Pegunungan Carpathia, untuk masuk ke kamp transit sebelum dikirim ke Siberia. Meski dipenuhi rasa ketakutan yang amat sangat, Walter menghabiskan waktu menunggu di kamp transit itu dengan menonton beberapa penjaga kamp yang bertanding sepakbola dengan para tahanan lainnya,” singkap Kevin E. Simpson dalam Soccer under the Swastika. Saat Walter sedang menonton dari pinggir lapangan itulah sekonyong-konyong bola mengampiri dirinya dan dia mengembalikan bola out itu dengan sedikit menimang-nimang sebelum menendangnya. Bakat apik Walter mendorong beberapa penjaga mengundangnya ikut main. “Saat kedua tim mengambil rehat babak pertama, salah satu penjaga kamp asal Hungaria mendatanginya dan berbisik: ‘Saya kenal Anda.’ Walter terdiam. Wajahnya tegang dan ketakutan. Tetapi tensi itu mencair ketika sang penjaga menyambung kata-katanya: ‘Hungaria v Jerman di Budapest, 1942. Anda menang 5-3. Saya ada di sana (sebagai penonton)’,” sambung Simpson. Fritz Walter (kiri) melanjutkan karier pascaperang sebagai kapten Timnas Jerman dan bahkan turut diduetkan dengan adiknya, Ottmar Walter (kelima dari kiri) (Foto: dfb.de ) Sang penjaga yang bersimpati pada Walter di pertandingan itu lantas berusaha menyelamatkan nyawanya. Kepada atasannya, si penjaga meminta nama Walter dihapus dalam daftar tahanan tentara Jerman yang akan dikirim ke Siberia. Pasalnya, dari 40 ribu rekannya yang bakal dikirim ke Siberia, hanya 10 persen yang bisa pulang kampung setelah bertahun-tahun menjalani “neraka” di gulag-gulag itu. Dengan sedikit berbohong, sang penjaga menyatakan Walter bukan seorang Jerman asli, melainkan orang Austria yang dipaksa jadi tentara Nazi. Keesokan harinya, Walter dipulangkan alih-alih ikut dikirim ke gulag. “Itu (laga penjaga kamp vs tahanan) merupakan pertandingan terpenting dalam hidup saya. Saya tak peduli dengan siapa saya bermain. Dengan orang Hungaria, dengan orang Slovak pun tak mengganggu saya. Kami hanya bermain sepakbola semata tanpa berpikiran politik,” kata Walter mengenang dalam otobiografinya. Fritz Walter diarak rekan-rekannya setelah jadi bagian penting timnas Jerman Barat memenangkan Piala Dunia 1954 (Foto: fifa.com ) Mengetahui anak emasnya pulang dengan selamat, Herberger yang kembali jadi pelatih timnas segera memasukkan Walter ke skuad. Bersama adiknya, Ottmar, Walter jadi “skrup” terpenting dalam tim Jerman Barat (Jerbar) di Piala Dunia 1954, turnamen bergengsi pertama yang diikuti Jerman sejak porak-poranda oleh Perang Dunia II. Perlahan tapi pasti, Jerbar lolos babak penyisihan hingga mencapai final. Dalam laga puncak yang dimainkan di Wankdorf Stadium, 4 Juli 1954, itu Jerbar bertemu Hungaria yang tengah naik daun dengan bintangnya Ferenc Puskás. Hujan deras membuat lapangan menjadi berlumpur saat laga final itu. Kondisi itu justru membuat reputasi Walter kondang. Ia acap main lebih apik dalam kondisi hujan dan lapangan berlumpur, hingga dijuluki “Fritz Walter-Wetter” alias cuaca Fritz Walter. “Jerman yang sempat tertinggal dua gol, mampu berbalik unggul 3-2 hingga final itu dikenang sebagai Das Wunder von Bern (Keajaiban Bern),” tulis Tom Williams dalam A Glossary of Football Words and Phrases from Around the World. Sepanjang karier Fritz Walter setia bersama Kaiserslautern menjadi one-club man (Foto: Bundesarchiv) Kemenangan itu jadi tonggak reputasi Jerman di turnamen-turnamen Piala Dunia hingga sekarang. “Kemenangan itu menjadi momen terbebasnya segenap warga Jerman dari segala hal yang membebani mereka pasca-Perang Dunia II. Tanggal 4 Juli 1954 itu jadi salah satu aspek penting bagi berdirinya Republik Jerman (Barat),” ungkap sejarawan Joachim Fest, disitat Deutsche Welle , 18 Juni 2002. Sejak saat itu nama Walter banyak dilirik klub-klub luar Jerman. Klub Spanyol Atletico Madrid menawarinya gaji 225 ribu mark. Upaya itu tetap tak mampu mengubah kesetiaan Walter pada Kaiserslautern meski hanya dengan gaji dua ribu mark (setara seribu euro saat ini) hingga pensiun pada 1959. Sebagai bentuk penghormatan pada Walter saat ia pensiun, namanya diabadikan untuk menggantikan nama Stadion Betzengerg, menjadi Fritz-Walter-Stadion. Di masa senjanya, penyakit malaria yang diidapnya sejak masa perang membuat kondisi kesehatannya terus memburuk. Pada 17 Juni 2002, ia mengembuskan nafas terakhir di Enkenbach-Alsenborn dalam usia 81 tahun. “Fritz Walter adalam simbol olahraga Jerman di era pascaperang. Sosok dengan kemampuan luar biasa di lapangan, dia juga terlibat banyak dalam aktivitas sosial selepas pensiun. Itu yang membuatnya jadi teladan bagi generasi atlet-atlet Jerman di masa depan,” tandas Presiden Federasi Olahraga Jerman Manfred von Richtofen.

  • Sukarno di Mata Pemuda-Pemudi

    Sukarno pernah berkata bahwa bersama 1000 orang tua, ia bisa mencabut Semeru, tapi hanya dengan 10 pemuda, ia bisa mengguncang dunia. Kutipannya lalu menjadi salah satu yang paling terkenal dan diulang-ulang setiap tahun pada peringatan hari-hari bersejarah. Sukarno memandang peranan pemuda-pemudi penting bagi keberlangsungan hidup suatu bangsa. Dan barangkali kalimat itu hendak ia maksudkan menjadi cambuk untuk generasi penerus. Namun , sebelum bicara apakah cita-cita Bung Karno untuk mengguncang dunia itu telah terwujud atau belum, bagaimana pemuda-pemudi hari ini melihat sosok Bung Karno? Untuk menyambut Bulan Bung Karno, Historia melalui talkshow “Sukarno Menurut Sepuluh Pemuda-Pemudi” pada Rabu, 10 Juni 2020 , mengajak pemuda-pemudi dari berbagai daerah dan latar belakang untuk berbagi pandangan tentang Sukarno dan apa yang diwariskannya hari ini. Memori tentang Sukarno Berbeda dari generasi yang sempat mengalami masa di mana Sukarno masih hidup, pemuda-pemudi hari ini terpaut hampir setengah abad setelah kepergian Sang Proklamator. Namun, jejak-jejak sejarah Sukarno telah membentuk imajinasi tersendiri bagi mereka. Raisa Kamila, penulis dan periset asal Aceh, mengakui bahwa di tanah kelahirannya, Sukarno bukanlah tokoh yang diidolakan. Pengetahuan sejarah tentang Sukarno di Aceh hanya disampaikan dari satu perspektif yang cenderung bernada kurang simpati. Rasa ingin tahu mendorongnya untuk mempelajari sejarah dari berbagai sumber dan sudut pandang. “Saya sendiri waktu itu nggak tergoda untuk menjadi orang yang membenci atau orang yang gandrung. Jadi saya cuma penasaran kenapa ya seperti itu,” terangnya. Baca juga:  Sukarno: Wartawan Pekerjaan Gawat Raisa kemudian menyadari bahwa Sukarno memang memiliki peran besar di era kemerdekaan, menyatukan bangsa-bangsa kulit berwarna melalui Konferensi Asia Afrika (KAA) dan mampu berdiri di tengah-tengah ragam ideologi di Indonesia. Raisa juga menyebut bahwa Sukarno, selain memiliki kecintaan pada akar budaya sendiri, juga memiliki visi yang modern. Sementara itu, Eda Tukan, penggiat literasi dari Flores, melihat Sukarno sebagai seorang literat yang toleran. Sukarno yang pernah dibuang ke Ende dan juga sempat berkunjung ke Larantuka ketika Indonesia telah merdeka menginspirasi pemuda di Flores karena ia bisa bergaul dengan semua kalangan, peduli terhadap minoritas serta memberi kesadaran terhadap realitas multikultural. “Pergaulan yang lintas batas menembus sekat-sekat primordial, Sukarno seorang nasionalis tapi beliau tidak menjadikan itu sebuah alasan untuk menutup diri terhadap sesama saudara dari kebangsaan yang berbeda,” sebut Eda. Baca juga:  Sukarno: Pemersatu atau Pembelah? Darlene Litaay, koreografer dan performer asal Papua juga punya imajinasi sendiri tentang Bung Karno. Perjalanan Bung Karno ke berbagai daerah baik karena dibuang maupun sengaja singgah menjadi penting dalam pembentukan gagasan-gagasan Bung Karno yang masih relevan hingga hari ini. “Bagaimana dia berjalan dari satu tempat yang lain di Nusantara ataupun keluar Indonesia, itu seperti membawa benang dan jarum lalu kemudian setiap elemen-elemen penting tempat yang dia singgahi dia ambil satu gagasan. Semua kumpulan gagasan yang dia dapat di daerah itu dia rajut menjadi satu yang namanya Indonesia,” terangnya. Di ranah kebudayaan, sudah banyak diketahui bahwa Sukarno memiliki perhatian besar terhadap seni. Ia seorang kolektor lukisan, pecinta patung, dan melahirkan gagasan-gagasan kebudayaan baik dibidang musik, tari, hingga arsitektur. Niesya Harahap, penggiat seni dari Medan melihat bahwa Sukarno memang menaruh perhatian besar terhadap kebudayaan Indonesia. Di mana sebagai negara yang baru terbentuk kala itu, Indonesia hendak menunjukkan eksistensi salah satunya melalui jalan kebudayaan. “Dia concern terhadap budaya. Merasa bahwa identitas bangsa itu akan terwujud dalam kebudayaan dan keseniannya,” ujar Niesya. Baca juga:  Distorsi Sejarah dan Kebencian pada Sukarno Bukan hanya pada kebudayaan yang telah ada sebelumnya, lanjut Niesya, Sukarno juga menggagas terciptanya identitas kesenian baru baik di bidang musik, tari, dan seni rupa. Selain itu yang tak kalah penting adalah misi kebudayaan untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia. Julisa Pratiwi, pebisnis muda asal Pontianak, juga punya pandangan sendiri terhadap Sukarno. Julisa melihat Sukarno bisa menjadi inspirasi dalam hal bisnis. Baik dari strategi Sukarno dalam menghadapi Jepang maupun perannya yang membuat Indonesia pernah menjadi negara yang sejajar dengan negara lain karena hubungan internasional yang baik. Dalam hal ini, lanjut Julisa, salah satu semangat yang bisa diambil dari Sukarno adalah kolaborasi. “Pancasila aja, itu berkolaborasi lho ,” sebutnya. Reduksi Makna Sukarno banyak melahirkan ide dan gagasan yang banyak membentuk bangsa Indonesia. Banyak di antaranya masih bertahan dan relevan dalam konteks hari ini. Namun bukan berarti, apa yang digagas Sukarno tidak mengalami pergeseran-pergeseran nilai. Subarman Salim, pemerhati sejarah dan kebudayan dari Bone menyebut, telah terjadi reduksi makna gotong royong sebagai intisari Pancasila. Di mana gotong royong seringkali hanya dikampanyekan dan diartikan dalam kerja-kerja fisik. “Kita tahu, kita mendengar, kalimat gotong royong itu seringkali dikampanyekan sebagai sebuah upaya untuk membangun kerjasama. Dalam tataran praktis seringkali hanya diartikan sebatas kerja-kerja fisik, sementara itu hilang dalam tataran elite politik misalnya,” sebut Salim. Baca juga:  Pidato Sukarno Menuju Memori Dunia Pergeseran nilai-nilai juga ditemui Sucia K. Imanuella, peneliti tradisi lisan dari Kendari. Seperti yang dikatakan Sukarno sendiri, bahwa Pancasila digali dari bumi Indonesia sendiri, dari tradisi dan kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Namun hari ini, sumber-sumber gagasan itu justru semakin terpinggirkan. “Apakah sama, kita melihat tradisi dan kebudayaan dengan rasa cinta, dengan rasa bangga dan terlebih lagi kita merasa memiliki kebudayaan itu? Atau sebaliknya justru kita memunculkan penindasan dalam tanda kutip yang kita ciptakan sendiri. Artinya kita merasa malu saat kita harus melestarikan tradisi kita sendiri,” ujarnya. Sucia melanjutkan, satu pernyataaan Bung Karno yang penting sebagai bahan refleksi yakni “alat kolonial tidak akan berhasil kecuali jika ia memupuk keunggulan kulit putih terhadap sawo matang.” Sementara itu, Imam A. Firdaus, penggiat lingkungan dari Depok melihat bahwa seringkali Sukarno dilihat dari hal-hal besarnya saja. Hal itu kemudian membuat gagasan Bung Karno kurang diimplementasikan generasi muda di ranah yang lebih sederhana. Baca juga:  Sukarno Meninggal Dunia “Apakah kita pernah berpikir lebih jelas, lebih dalam tentang bagaimana menghadirkan Sukarno dalam konsep dan pikirannya itu di tengah-tengah kehidupan kita?” ujarnya. Senada dengan Imam, Abdullah Tontona, penulis asal Ternate juga melihat bahwa seringkali Bung Karno hanya diingat melalui perayaan dan ritual-ritual tahunan. Gagasan-gagasannya justru jarang ditransformasikan dalam karya dan kerja yang nyata. “Saat ini generasi kita, terutama generasi muda dan para politisi kita yang memegang kekuasaan tidak mentransformasikan secara praktis gagasan-gagasan Bung Karno yang sejak awal dia perjuangkan secara mati-matian,” sebutnya. Abdullah menambahkan bahwa seringkali Bung Karno bukan hanya dijadikan sebagai fosil tapi juga suvenir.

  • Kisah Dua Presiden RI yang Terlupa

    Sejak resmi berdiri sebagai sebuah negara, Republik Indonesia (RI) telah dipimpin oleh tujuh orang tokoh. Dalam kurun 75 tahun terakhir, rakyat telah merasakan pergantian penguasa dari berbagai latar belakang berbeda. Dimulai pada 1945 oleh Presiden Sukarno, hingga Presiden Joko Widodo pada 2014 lalu. Masing-masing tentunya membawa kebijakan yang berbeda. Selain ketujuh tokoh tersebut rupanya Indonesia masih memiliki dua tokoh lain yang pernah menduduki kursi tertinggi pemerintahan di republik. Mereka adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat, dua tokoh politik terkemuka semasa pergerakan. Sebagai catatan keduanya menduduki posisi tersebut saat situasi di dalam negeri sedang dalam kondisi darurat. Sjafruddin mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera sebagai upaya mempertahankan kedaulatan setelah Presiden Sukarno dan jajarannya di Yogyakarta berhasil dilumpuhkan pihak Belanda. Sementara Mr. Assaat menduduki kursi pimpinan sebagai pejabat ( acting ) presiden Republik Indonesia (27 Desember 1949 - 15 Agustus 1950) ketika Sukarno menjadi presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Baca juga:  Ketika Tan Malaka Ingin Jadi Presiden Banyak kalangan kemudian menganggap keduanya pantas masuk ke dalam daftar presiden Indonesia, bersanding dengan nama-nama presiden lain. Meski sejarah tidak mencatat Sjafruddin dan Mr. Assaat sebagai presiden resmi republik ini, perjuangan mereka nyata adanya. Dalam suatu kesempatan sejarawan Taufik Abdullah, seperti dikutip Mumuh Muhsin Z dalam MR. Sjafrruddin Prawiranegara (1911-1989): Sang Penyelamat Eksistensi Negara Proklamasi Republik Indonesia , pernah mengatakan: “… apa yang disebut pahlawan sebenarnya tidak ada dalam sejarah, karena pahlawan tidak muncul dalam peristiwa sejarah atau pun dalam tindakan seseorang dalam suatu peristiwa sejarah. Pahlawan merupakan soal penilaian atau pun pengakuan pada waktu kemudian dari orang lain terhadap tindakan yang dilakukan seseorang. Selanjutnya penilaian atau pun pengakuan itu dikukuhkan oleh negara”. Berikut riwayat dua presiden yang terlupa tersebut. Sjafruddin Prawiranegara Sjafruddin duduk paling kanan (John Domino's/gettyimages) Kurun 1945-1949 merupakan masa peralihan terpenting bagi RI sebagai sebuah negara. Kemerdekaan yang telah lama dicita-citakan akhirnya berhasil diraih. Perjuangan menghilangkan kolonialisme dari bumi pertiwi berbuah manis. Sorak-sorai bergema di seluruh negeri, simbol kelahiran negara baru yang merdeka. Suka cita rakyat itu rupanya tidak berlangsung lama. Pada periode tersebut kedaulatan republik yang baru merdeka ini diuji. Keinginan Belanda menancapkan kembali kolonialisme mengusik ketenangan. Rakyat tidak tinggal diam. Mereka berbondong-bondong menghimpun kekuatan untuk menghalau sang penjajah. Genderang perang kembali ditabuh, menandai perjuangan baru sebagai rakyat merdeka. Baca juga:  Sjafruddin Prawiranegara: Sebenarnya Saya Seorang Presiden Belanda melancarkan dua kali agresi dalam kurun 1946-1949. Seluruh daerah bergejolak. Tidak ada yang mampu menghindari peperangan. Pemerintahan di Jakarta pun terpaksa dipindah sementara ke Yogyakarta agar roda politik dapat terus berjalan. Tetapi pada agresi militer Belanda ke-2, pemerintahan RI di Yogyakarta berhasil dilumpuhkan. Sukarno-Hatta dan sejumlah menteri tertahan, tidak bisa menjalankan pemerintahan. Itulah keinginan Belanda. Meyakinkan dunia bahwa negara bernama Indonesia sudah tidak ada. Tetapi mereka keliru. Demi menjaga eksistensi Indonesia di mata dunia, didirikanlah PDRI di Bukit Tinggi, Sumatera Barat pada 1948. Adalah Sjafruddin Prawiranegara, tokoh republik yang ditunjuk untuk menduduki kursi pimpinan dalam menjalankan pemerintahan darurat tersebut. “PDRI bukan saja membantu menopang modal semangat juang, tetapi juga membuat Belanda lebih sulit lagi menghindari tanggapan-tanggapan terhadap tindakan-tindakan yang hendak diajukan oleh PBB,” ungkap Mumuh. Sjafruddin Prawiranegara dilahirkan di Banten pada 28 Februari 1911 dari pasangan Raden Arsjad Prawiraatmadja dan Noer’aini. Diceritakan George Kahin dalam In Memoriam: Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) , ayah Sjafruddin bekerja sebagai asisten Wedana di Anyar Kidul, Karesidenan Banten. Dia sempat bersekolah di Europeeche Lagere School (ELS). Kemudian menempuh pendidikan lanjutan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Algemeene Middlebare School (AMS), serta pendidikan tinggi di Rechts Hoge School (RHS). Baca juga:  Penyesalan Sjafruddin Prawiranegara Sejak masih bersekolah di RHS Sjafruddin sudah aktif di dalam organisasi mahasiswa bernama Unitas Studosorum Indonesiensis (USI). Menurut Rudolf Mrazek dalam Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony , USI lebih banyak melakukan kegiatan yang menunjang studi dan rekreasi. Hal itu semata dilakukan untuk menekan kecenderungan radikalisme di antara mahasiswa RHS. Tetapi meski kegiatan USI hampir tidak menyentuh ranah politik, Sjafruddin tetap menaruh perhatian pada pergerakan. Melalui berbagai bacaan di buku dan surat kabar, dia memahami makna nasionalisme. “Sjafruddin adalah seorang Muslim dan seorang patriot, dan dia benar-benar menolak pemerintahan Belanda seperti yang berkembang di Hindia. Dia coba memastikan posisi orang Indonesia di dunia modern, dan menolak gagasan Belanda,” tulis Mrazek. Selama masa gawat tahun 1948, Wakil Presiden yang juga merangkap Perdana Menteri Mohammad Hatta mengadakan rapat kabinet. Sukarno dan sejumlah menteri yang hadir sepakat untuk mengabari (melalui siaran telegram) Sjafruddin di Bukit Tinggi dan memintanya mendirikan pemerintahan darurat, membentuk kabinet, serta mengambil alih pemerintah pusat. Akan tetapi telegram itu tidak pernah sampai di tangan Sjafruddin. Jaringan radio yang dirusak Belanda menghalangi mandat tersebut. Dalam kebuntuan koordinasi dan komunikasi itu suasana bisa menjadi lebih buruk. Banyak pihak, kata Mumuh, secara spontan bisa mendirikan pemerintahan darurat dengan mengatasnamakan keselamatan Republik Indonesia. Tidak terbayangkan bagaimana perpecahan yang akan muncul di antara rakyat andai hal itu terjadi. Baca juga:  Nasib Keluarga Ketika Sjafruddin Prawiranegara Dipenjara “Akan tetapi dalam kenyataannya tidak terjadi demikian. Mr. Sjafruddin Prawiranegaralah yang mengambil inisiatif, dan pihak-pihak lain mengakui serta menaatinya. Ini adalah firasat tajam Mr. Sjafruddin Prawiranegara,” kata Mumuh. Ketika mendirikan PDRI pada Rabu pukul 04.30 pagi tanggal 22 Desember 1948, Sjafruddin tidak menamakan dirinya “presiden” melainkan “ketua”. Alasan itu diungkapkannya di dalam harian Pelita , 6 Desember 1978: “Mengapa saya tidak menamakan diri Presiden Republik Indonesia tetapi Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia? Yang demikian itu disebabkan karena saya belum mengetahui mandat Presiden Sukarno, dan karena didorong rasa keprihatinan dan kerendahan hati… Tapi andai kata saya tahu tentang adanya mandat tersebut niscaya saya akan menggunakan istilah ‘Presiden Republik Indonesia’ untuk menunjukkan pangkat dan jabatan saya.” Sjafruddin pernah menduduki beberapa jabatan structural penting selama kurun 1946-1951: Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menter, dan sebagainya. Sjafruddin jugalah yang diketahui mengusulkan agar Indonesia memiliki uang sendiri, ORI (Oeang Republik Indonesia) menggantikan uang Javasche Bank , uang pemerintah Hindia Belanda, dan uang Jepang. Sjafruddin Prawiranegara wafat pada 15 Februari 1989 di usia 77 tahun. Mr. Assaat Mr. Assaat ketika menjadi ketua BPKNIP (Wikimedia Commons) Mr. Assaat gelar Datuk Mudo lahir di Jorong Pincuran Landai, Kenagarian Kubang Putih, Kecamatan Banuhampu, Agam, Sumatera Barat, pada 18 September 1904. Diceritakan Marthias Dusky Pandoe dalam Jernih Melihat Cermat Mencatat: Antologi Karya Jurnalistik Wartawan Senior Kompas , sewaktu kecil Assaat menempuh pendidikan di sekolah agama Adabiah Padang dan MULO Padang. Baca juga:  Tuntutan Merdeka 100% Selesai dengan sekolah dasar dan menengahnya, Assaat kemudian merantau ke Batavia. Di sana dia melanjutkan sekolah tingginya di School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA). Tetapi dia tidak menaruh minat kepada dunia kedokteran sehingga memutuskan pindah ke sekolah tinggi hukum RHS. Di Negeri Belanda Assaat berhasil memperoleh gelar meester in de rechten (Mr). Setelah kembali ke Tanah Air pada 1939, Assaat banyak terlibat di dalam kegiatan oragnisasi pergerakan, yakni Jong Sumatranen Bond dan Perhimpoenan Indonesia Moeda. Di sinilah dia mulai terlibat dalam berbagai kegiatan politik kebangsaan bersama tokoh pergerakan lain. Assaat terkenal aktif dan vokal dalam bersuara sehingga namanya cepat dikenal orang. “Fakta sejarah menyatakan lagi, Assaat adalah patriot demokrat yang tidak kecil sahamnya dalam menegakkan dan mempertahankan RI. Dia setia memikul tanggung jawab sejak awal kemerdekaan sampai tahap akhir penyelesaian revolusi,” ungkap Pandoe. Sejak 1945, Assaat telah aktif sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Salah satu tugasnya adalah membantu mengontrol jalannya pemerintahan, serta mendampingi presiden. Kemudian pada 1947, Assaat dicalonkan sebagai ketua KNIP dan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) yang sebelumnya memang sudah dijabatnya. Roda perpolitikan di dalam negeri yang terus bergejolak mengantarkan Mr. Assaat pada jabatan yang tidak terduga, yakni acting Presiden RI. Tugasnya adalah memimpin pemerintahan RI ketika negara ini resmi mengadopsi bentuk serikat. Penyerahan mandat kursi kepresidenan RI dari Sukarno ke Mr. Assaat terjadi lantaran Sukarno telah memegang jabatan presiden di pemerintahan Republik Indonesia Serikat, didampingi Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri. Baca juga:  Aksi Dunia Untuk Indonesia Merdeka Diberitakan surat kabar Merdeka, 30 Desember 1949 pelantikan Mr. Assaat sebagai acting Presiden RI dilakukan di Istana Kepresidenan Yogyakarta pada 27 Desember 1949. Sukarno memimpin langsung upacara pelantikan tersebut. Selain penyerahan mandat, dalam sidang tahun 1949 itu juga BPKNIP secara resmi mengumumkan pemberhentian Sukarno dan Hatta sebagai Presdien dan Wakil Presiden RI. Juga penyerahan kedaulatan RI kepada RIS. Setelah penyerahan mandat, Mr. Assaat membentuk pemerintahan yang berkedudukan di Yogyakarta. Dia dibantu oleh beberapa tokoh republik dalam menjalankan tugasnya. Menurut Pandoe, selama memimpin pemerintahan RI di Yogyakarta Mr. Assaat berjasa dalam menandatangani pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM). “Mr. Assaat tidak mau dipanggil Paduka Yang Mulia, tapi kalau mau, panggil Bung Presiden saja,” tulis Pandoe. Di dalam catatan Departemen Penerangan termuat Daerah Istimewa Jogjakarta , pengembalian jabatan presiden RI ke tangan Sukarno terjadi pada 15 Agustus 1950. Peristiwa itu ditandai dengan pembacaan Piagam Pernyataan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Sukarno saat rapat gabungan DPR, Pemerintahan RIS, dan Senat. Piagam itu diputuskan berdasar persetujuan anggota RIS, DPR, dan BP-KNIP. Siang harinya, Sukarno tiba di Yogyakarta untuk menerima kembali mandat yang sebelumnya diberikan kepada Mr. Assaat. Hari itu juga mandat acting presiden resmi dikembalikan dari Assaat ke tangan Sukarno. Mr. Assaat sempat diasingkan ke Bangka akibat kegiatannya selama masa pergerakan. Dia juga pernah duduk di beberapa jabatan penting –selain ketua KNIP-BPKNIP dan acting Presiden RI– seperti Anggota Parlemen, serta Menteri Dalam Negeri di Kabinet Natsir. Mr. Assaat meninggal dunia pada 16 Juni 1976 di usia 72 tahun.

  • Syekh Jumadil Kubra dan Orang Islam di Majapahit

    Sebuah pusara dikenal sebagai Kubur Tunggal. Disebut begitu karena sebelum dibangun cungkup yang besar seperti sekarang, pusara itu terletak di dalam sebuah cungkup dan berdiri sendiri. Di sinilah konon Syekh Jumadil Kubra dimakamkan. Seorang syekh yang kepadanya semua wali Jawa dihubungkan. Pada nisannya terdapat kutipan ayat-ayat Al-Qur’an: "tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu" (Ali Imran: 185) dan "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati" (Al-Ambiya: 35). Kutipan lainnya berbunyi: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada kami kamu dikembalikan" (Al-Ankabut: 37); "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (Ar-Rahman: 26-27); dan "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah" (Surat Al-Qasas: 88). Selain itu, ada dua kalimat dalam bahasa Arab dan Asmaul Husna. Sedangkan nama Syekh Jumadil Kubra malah tak tertera pada nisan. Kendati demikian, haulnya digelar rutin. Peziarah berdatangan setiap malam Jumat Legimembuat makam Troloyo di Trowulan, Mojokerto, itu terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir sang mubalig. Melegenda di Seluruh Jawa Kisah Syekh Jumadil Kubra sebetulnya simpang siur. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat menyebutkan, Syekh Jumadil Kubra diceritakan dalam berbagai legenda yang berkembang dalam kepustakaan berbahasa Jawa. Ada pula yang menghubungkannya dengan Majapahit. Babad Cirebon menyebut Syekh Jumadil Kubra sebagai moyang para wali Jawa, seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Ampel. "Bahkan juga wali yang paling Jawa di antara para wali, Sunan Kalijaga," tulisVan Bruinessen. Menurut Martin, sebuah sejarah Gresik berbahasa Jawa menyebut Syekh Jumadil Kubra sebagai kakek buyut seorang wali lainnya lagi, Sunan Giri pertama. Kisahnya menyebut Syekh Jumadil Kubra adalah ayah dari Sunan Ampel yang menetap di Gresik. Sunan Ampel mempunyai anak bernama Maulana Ishaq yang menikahi putri raja Blambangan dan beroleh anak , Sunan Giri. Sementara itu, Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java mencatat versi lain dari legenda di Gresik, bahwa Syekh Jumadil Kubra bukanlah seorang moyang, melainkan pembimbing wali yang pertama. Raden Rahmat yang kelak menjadi Sunan Ampel datang dari Champa ke Palembang kemudian meneruskan perjalanan ke Majapahit. Mula-mula Raden Rahmat ke Gresik mengunjungi seorang ahli ibadah yang tinggal di Gunung Jali, bernama Syekh Molana Jumadil Kubra. Menurut Syekh Molana Jumadil Kubra kedatangan Raden Rahmat telah diramalkan oleh Nabi, bahwa keruntuhan agama kafir telah dekat. Raden Rahmat dipilih untuk mendakwahkan ajaran Muhammad di pelabuhan timur Pulau Jawa. Van Bruinessen juga mencatat cerita lisan di desa-desa yang terletak di lereng Gunung Merapi, sebelah utara Yogyakarta. Syekh Jumadil Kubra dipercaya sebagai wali muslim Jawa yang paling tua. Ia berasal dari Majapahit dan hidup sebagai pertapa di hutan gunung itu. Legenda rakyat berbahasa Jawa dari wilayah Tengger, Cariose Telaga Ranu, juga menyebut nama Maulana Ishaq dan Syekh Jumadil Kubra. Keduanya adalah saudara dari dua pertapa, Ki She Dadaputih di Gunung Bromo dan Ki She Nyampo di Sukudomas. "Maulana Ishaq pergi ke Blambangan dan menjadi ayah Raden Paku (Sunan Giri). Jumadil Kubra menjadi guru di Mantingan," tulis Van Bruinessen. Keberadaan Syekh Jumadil Kubra di Mantingan juga disebut dalam Serat Kandha. Ia disebut sebagai salah satu dari empat tokoh suci umat Islam di zaman kuno. Tiga lainnya yaitu Nyampo di Suku Dhomas, Dada Pethak di Gunung Bromo, dan Maulana Ishak di Blambangan. Isno, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya Mojokerto, menambahkan, nama Syekh Jumadil Kubra juga dikenal di kalangan pengikut Syekh Siti Jenar. "Menurut cerita tutur, Syekh Jumadil Kubra adalah teman baik Syekh Siti Jenar saat membawa penawar atas tanah-tanah angker bekas pemujaan aliran Yoga-tantra," tulis Isno dalam "Pendidikan Islam Masa Majapahit dan Dakwah Syekh Jumadil Kubra", terbit di Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03, No. 01, Mei 2015. Bukan Makam Satu-satunya Kisah Syekh Jumadil Kubra menjadi legenda di empat wilayah, yaituBanten-Cirebon, Gresik-Majapahit, Semarang-Mantingan, dan Yogyakarta. Menurut Van Bruinessen, ada kesan seolah orang Islam Jawa pada zaman dan tempat berbeda semua bertolak dari nama Syekh Jumadil Kubra. Makam Syekh Jumadil Kubra pun ada di beberapa tempat. Selain di Troloyo, sebuah makam tua di antara tambak daerah pesisir pantai di Terbaya, tidak jauh dari Semarang, diyakini penduduk sekitar sebagai makam Syekh Jumadil Kubra. Keyakinan ini berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi yang menuturkan Syekh Jumadil Kubra pernah melakukan tapa di Bukit Bergota di Semarang. Makam keramat lain berada di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Turgo. Keberadaannya disertai cerita lisan yang beredar di kawasan itu. Sementara itu, kisah Syekh Jumadil Kubra di Gresik dan Mantingan tidak meninggalkan jejak makam maupun petilasan. Makam Syekh Jumadil Kubra di Troloyo yang paling umum diakui. Kuburan ini paling sering kunjungi peziarah. Menurut Muhammad Chawari, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta dalam “Fenomena Islam pada Masa Kebesaran Kerajaan Majapahit” yang terbit di Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kejayaannya , d ari seluruh makam di Troloyo yang ada prasastinya hanya satu nisan yang menyebut nama,  yaitu Zayn ud-Din atau mungkin bisa dibaca sebagai Zaenuddin. Angka tahun yang tertera pada nisan ini yaitu 874 H atau 1469 M. Paling tidak yang bisa diketahui, mereka yang dimakamkan di sana adalah penduduk kota Majapahit dan keluarga raja yang telah memeluk agama Islam. Khususnya tujuh makam bertuliskan aksara Arab yang letaknya tak jauh dari pusat kota Majapahit. Dari angka tahun yang tertulis pada nisannya, ada satu yang terbaca 874 H atau dalam tahun Saka 1391 (1469 M). Artinya, muslim atau mungkin kerabat raja Majapahit yang muslim sudah ada sejak Hayam Wuruk berkuasa. "Pada waktu Majapahit mencapai puncak keemasan di bawah Raja Hayam Wuruk, agama Islam sudah dianut oleh penduduk ibu kota Majapahit,"  tulis Chawari. Menurut Chawari dasar dan maksud mengidentikan Kubur Tunggal di Troloyo dengan Syekh Jumadil Kubra belum bisa dipastikan. Yang jelas, nama yang kini dikenal tak ada hubungannya dengan makam. Itu bukanlah nama sesungguhnya. Nama itu semata-mata hanya untuk mempermudah indentifikasi. Lagi pula bukan cuma Syekh Jumadil Kubra yang diidentikan dengan makam-makam Islam kuno di Trowulan. Syekh Maulana Ibrahim, Syekh Abdul Qodir Jaelani, Syekh Maulana Sekah, dan Syekh Ngundung pun dipercaya menjadi penghuni makam era Majapahit itu. "Secara umum tokoh itu pernah berjaya dan sangat dikenal di masa lalu, tidak di daerah Troloyo saja namun juga di daerah lain dalam kurun yang lain pula," tulis Chawari. "Dengan kata lain nama tokoh itu bukan nama tokoh sejarah yang berhubungan dengan makam Troloyo."

  • Cerita Kari Kepala Ikan Buatan Gus Dur

    Selesai dengan urusan pendidikan di Kairo, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memutuskan pergi ke Baghdad. Dia merasa kecewa dengan sistem pendidikan di Mesir yang jauh dari bayangannya. Tak ada kebebasan studi seperti yang dicita-citakannya. Kiprah Gus Dur pun berakhir dengan kegagalan. Sampai akhirnya sebuah beasiswa studi di Universitas Baghdad menyelamatkannya. Pada pertengahan 1966 Gus Dur tiba di Baghdad. Kota tersebut, kata Gus Dur sebagaimana diceritakan Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid , merupakan kota kosmopolitas yang penuh vitalitas, baik dalam bidang ilmu pengatahuan, seni, maupun sastra. Para pelajar Indonesia di sana merasa kebebasan untuk bertukar pikiran terbuka lebar tanpa batasan dan halangan. Selama tiga tahun pertama kehidupannya sebagai mahasiswa Universitas Baghdad, Gus Dur tinggal seatap dengan sesama mahasiswa yang datang dari Indonesia. Bersama 19 orang kawannya itu, Gus Dur menyewa sebuah vila untuk kediamannya selama bermukim di ibu kota Irak tersebut. Tempat tinggal Gus Dur itu, kata Barton, cukup besar dan menyengkan untuk ukuran mahasiswa. Mereka mengumpulkan iuran untuk membiayai segala kebutuhan rumah tangga dan sewa vila. Kebanyak mahasiswa, termasuk Gus Dur, tercatat sebagai penerima beasiswa. Namun mereka juga bekerja paro waktu untuk memenuhi kebutuhan tinggal di sana. “Sebagai tempat tinggal mahasiswa, vila ini ditandai dengan suasana kebersamaan yang menyenangkan serta percakapan-percakapan yang hidup dan kebanyakan menarik,” tulis Barton. Segala pekerjaan rumah di vila itu dikerjakan bersama-sama. Mulai dari bersih-bersih, memasak, hingga merapikan barang tidak mengandalkan asisten rumah tangga. Untuk tugas memasak setiap mahasiswa akan mendapat giliran setiap 20 hari sekali. Ketika tiba waktu Gus Dur, dia sudah pasti akan menyiapkan menu andalannya: kari kepala ikan. Merupakan sebuah kebetulan hidangan itu bisa menjadi resep andalan Gus Dur. Suatu hari, ketika masih baru tinggal di Baghdad, Gus Dur melewati sebuah toko penjual ikan di dekat tempat tinggalnya. Dia memperhatikan bahwa orang Irak tidak memakan kepala ikan. Bagian tersebut dibuang begitu saja, atau diberikan untuk hewan. Dia pun lalu mendatangi penjual ikan tersebut dan meminta 20 kepala ikan ukuran besar. Pemilik toko heran dengan permintaan yang baginya tidak masuk akal tersebut. “Untuk apa kepala ikan sebanyak itu?” tanyanya. “Hmm, saya memlihara banyak anjing,” kata Gus Dur. “Berapa banyak?” si penjual mulai mengerti situasi orang asing ini. “Dua puluh ekor,” jawab Gus Dur sambil menahan tawa. Sejak itu setiap 20 hari sekali Gus Dur akan mendatangi toko tersebut dan membawa pulang 20 kepala ikan berukuran besar. Dia tidak menerimanya secara gratis. Gus Dur selalu meninggalkan beberapa keping uang logam sebagai tanda membeli, walau nilainya sangat jauh ketimbang harga normal ikan yang dijual di sana. Setiba di rumah Gus Dur langsung mengolah kepala ikan tersebut. Diakui oleh teman-temannya bahwa kari kepala ikan buatan kawan dari Jombang ini sangat lezat. Menurut Barton walau Gus Dur senang bisa mengubah barang yang tidak terpakai dari sebuah toko menjadi hidangan yang digemari kawan-kawannya, bukan berarti itu didorong oleh keinginan untuk menghemat uang. Dia mempunyai cukup uang dari beasiswa dan upah bekerja, serta honorarium untuk setiap esai yang dibuatnya. Gus Dur melakukannya karena semata-mata gemar membuat kari kepala ikan. Suatu ketika mahasiswa-mahasiswa ini menerima tamu resmi dari Indonesia. Pihak kedutaan kemudian mengusulkan agar kediaman Gus Dur dipakai untuk kegiatan jamuan makan. Mereka setuju dan segera membentuk kepanitian persiapan acara. Salah seorang teman Gus Dur mendapat tugas memasak. Dia ingin menghidangkan kari kepala ikan buatan Gus Dur, di samping menu olahan daging sapi dan kambing. Temannya ini lalu pergi ke toko ikan yang biasa dikunjungi Gus Dur. Si penjual mengenali orang ini sebagai teman Gus Dur. Sambil tertawa dia memberi komentar: “Temanmu sangat aneh.” “Kenapa?” tanya kawan Gus Dur itu keheranan. “Ia memelihara banyak sekali anjing. Bayangkan, 20 anjing!” kata si penjual yang kembali terkekeh. Tanpa berkomentar apapun mahasiswa ini kembali pulang. Sampai di rumah, dia langsung mencari Gus Dur. “Sampai hati kau samakan kami dengan anjing?” katanya menumpahkan kemarahannya kepada sang pemilik resep kari kepala ikan itu.

  • Robohnya Patung Edward Colston Si Tokoh Perbudakan dan Rasisme

    KEMATIAN George Floyd (46) di Minneapolis, Amerika Serikat pada 25 Mei 2020 memantik badai demonstrasi di berbagai belahan dunia. Sejumlah simbol rasisme jadi sasaran, salah satunya patung Edward Colston di Bristol, Inggris. Rasisme bukan barang baru di bumi sisi Barat, utamanya Amerika. Kematian George Floyd, seorang Afro-Amerika, akibat kekerasan oleh sejumlah polisi Minneapolis memicu bara rasisme yang telah lama terpendam. Ia meledak lewat gerakan demonstrasi bertajuk “Black Lives Matter”. Di Inggris, yang banyak warganya berkulit hitam, kematian Floyd memicu unjuk rasa di kota Bristol pada 7 Juni 2020. Para demonstran menyasar patung tokoh rasis dan saudagar perbudakan abad ke-17, Edward Colston. Menukil The New York Times , Selasa (9/6/2020), patung itu mulanya dikelilingi massa yang kemudian mencorat-coret badan patung berusia 125 tahun itu dan diakhiri dengan merobohkan dan menyeret patung untuk dibuang ke perairan di Pelabuhan Bristol. Aparat keamanan yang kalah jumlah dari massa demonstran tak bisa mencegahnya. Colston yang patungnya dirobohkan itu merupakan putra Bristol kelahiran 2 November 1636. Ia anak tertua saudagar besar cum Sheriff Tinggi kota Bristol William Colston. Baca juga: Rasis Tak Kunjung Habis Patung Edward Colston dirobohkan dan dibuang ke laut oleh pendemo George Floyd (Foto: brh.org.uk/Twitter @HackneyAbbott) Edward mewarisi bakat bisnis dari ayahnya. Ia memulainya di perusahaan niaga Mercers Company. Dari perusahaan itu, mengutip Matthew Parker dalam The Sugar Barons: Family, Corruption, Empire and War in the West Indies , ia meluaskan jejaring bisnis dengan para saudagar lain yang punya komoditas kain, minyak, buah dan minuman anggur, serta gula. Pada 1680 ia sudah menjadi anggota Royal African Company, sebuah perusahaan niaga yang didirikan Raja Charles II dan adiknya, Duke of York. “Perusahaan itu memonopoli perdagangan di sepanjang pesisir barat Afrika terkait emas, perak, gading, dan perbudakan. Perusahaan itu berkembang pesat sejak Colston mendaki jabatan di dewan perusahaan, hingga menjadi wakil gubernurnya pada 1689 dan 1690,” sebut Parker. “Komoditas” terakhir di atas itulah yang paling mendongkrak keuntungan perusahaan di bawah Colston. Tanpa mempedulikan penderitaan mereka, pada 1680-1692 saja perusahaan itu mengangkut sekira 84 ribu budak baik lelaki, perempuan, maupun anak-anak yang diperdagangkan dari Afrika Barat untuk keperluan para saudagar pemilik perkebunan tembakau dan gula di Karibia dan Amerika Utara. Banyak dari budak itu tak bisa sampai di tempat tujuan karena mati kelaparan atau terpapar penyakit akibat mereka dikungkung di lambung kapal terbawah dengan kondisi buruk. Disebutkan Parker, dalam kurun 1680-1692, ada 19 ribu dari 84 ribu budak yang diangkut Royal African Company tewas di perjalanan dan pastinya jasad mereka dibuang ke laut. Baca juga: Skandal Perbudakan Raffles di Hindia Belanda Kondisi memprihatinkan kapal-kapal pengangkut budak milik Inggris (Foto: Library of Congress) Colston baru pensiun dari bisnis perdagangan budak itu pada 1708. Di kota kelahirannya, ia “mendarmabaktikan” diri di Society of Merchant Venturers, sebuah organisasi amal di Bristol. Dua tahun berselang Colston turut terjun ke dunia politik sebagai anggota parlemen kerajaan dari faksi Tory. David Hughson dalam London: Being An Accurate History and Description of the British Metropolis and Its Neighbourhood mengungkapkan, Colston menghabiskan sisa umurnya sebagai seorang dermawan selain berpolitik. Ia mendirikan Colstons Alm s houses atau rumah singgah untuk tunawisma dan fakir miskin di Bristol. Ia juga jadi donatur tetap Queen Elizabeth’s Hospital dan mendirikan pula Colston’s Hospital. “Colston seorang dermawan besar untuk kota Bristol, di mana sepanjang hidupnya, menyumbangkan lebih dari 17 ribu pounds. Ia dihormati berbagai pihak karena selain menyumbang untuk sosial, ia juga donatur terpandang sejumlah gereja di Bristol,” tulis Hughson. Diabadikan dengan Patung Hingga akhir abad ke-19, sosok Colston tetap dikenang sebagai saudagar kaya yang luar biasa dermawan, utamanya untuk kota Bristol. Untuk menghormatinya, pada 1893 atau 176 tahun setelah ia wafat pada 1721, presiden organisasi amal Anchor Society, James Arrowsmith, mengusulkan figurnya diabadikan dalam bentuk patung. Sebagaimana disitat dari laman National Heritage List for England, pembuatan patung itu memakan dana hingga seribu pounds, yang berasal dari penggalangan dana yang digulirkan Arrowsmith setahun berselang. Pengerjaan patungnya dipercayakan pada pematung kelahiran Irlandia, John Cassidy. Cassidy membuat patung setinggi 18 kaki atau sekitar 5,5 meter di atas sebuah tugu batu Portland itu dari perunggu. Di setiap sudut tugunya dihiasi patung lumba-lumba dan plakat dengan ukiran bergaya art nouveau yang menggambarkan kisah hidup Colston sebagai pelaut dan saudagar. Sosok Edward Colston, saudagar yang kaya dari memeras darah budak kulit hitam (Foto: Bristol City Council) Patung itu lantas ditempatkan di Colston Avenue dan diresmikan pada 13 November 1895. Peresmiannya dihadiri walikota, uskup kota Bristol, serta para alumni Colston’s School. Dalam peresmian itu sekaligus diumumkan bahwa hari peresmian itu ditetapkan sebagai “Colston Day”. “Satu lagi plakat yang ditempatkan di sisi selatan terukir tulisan berbunyi: ‘Didirikan oleh warga Bristol sebagai peringatan atas putra asli Bristol yang bijaksana dan berbudi luhur,’ di samping juga terukir nama pematungnya,” demikian bunyi tulisan di plakat tersebut. Baca juga: Di Balik Patung Jenderal Ahmad Yani Namun, reputasi Colston sebagai tokoh dermawan akhirnya terbuka topengnya hingga melahirkan kontroversi. Pada 1920, John Henry Wilkins dalam risetnya yang dibukukan, Edward Colston: 1636-1721, A Chronological Account of His Life and Work, membongkar borok Colston bahwa warga kota Bristol selama ratusan tahun tidak tahu kedermawanan Colston berasal dari kekayaannya yang bermula dari perdagangan budak. “Kita tidak bisa menggambarkan sosoknya dengan obyektif, kecuali dengan melihat latarbelakang historisnya. Walau memang keterlibatan Colston dalam perdagangan budak terjadi lama sebelum pergerakan abolisi pada 1807. Keterlibatannya dalam bisnis itu berlangsung ketika perbudakan masih dimaklumi di Inggris dan seantero Eropa, termasuk oleh golongan terpelajar maupun gereja,” tulis Wilkins. Patung Edward Colston karya John Cassidy saat belum lama diresmikan pada 1895 (Foto: Bristol Archives) Kontroversi sosok Colston itu namun tetap tak menggoyahkan posisi patung tersebut yang masih gagah berdiri di lokasinya hingga 2013. Di tahun inilah Walikota Bristol George Ferguson mengungkit isu sensitif itu lagi. Setahun kemudian, suratkabar Bristol Post melakukan polling terhadap 1.100 responden. Hasilnya, 56 persen menghendaki patungnya tetap berdiri, hanya 44 persen yang ingin mengenyahkannya. Keberadaan patung itu tetap “membelah” warga kota Bristol hingga pada 7 Juni 2020 ketika patung tersebut diturunkan paksa dan dibuang oleh demonstran “Black Lives Matter” ke perairan Bristol. Kini pengabadian sosok Colston yang tersisa hanya berupa beberapa institusi yang menyandang namanya. Antara lain, Colstons Almshouses, Colston Tower, Colston Hall, Colston Avenue, Colston Street, dan Colston’s Girls’ School. Hingga kini isu penggantian nama institusi tersebut masih jadi pertimbangan dewan kota dan walikota Bristol. Baca juga: Perbudakan di Nusantara

  • Petualangan Intelektual Gus Dur di Luar Negeri

    Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak remaja dikenal haus akan ilmu pengetahuan. Buku bacaannya begitu banyak, tidak hanya soal teologi tetapi juga filsafat, politik, hingga tema ideologi. Berhasil menamatkan sekolahnya, Gus Dur merasa masih banyak hal yang tidak ia ketahui. Dia pun segera merencanakan studi lanjutan, tidak di dalam negeri melainkan di luar negeri. Memulai Petualangan Petualangan Gus Dur di luar negeri dimulai pada 1962. Tertulis di dalam buku Leadership Secrets of Gus Dur and Gus Miek karya M.N. Ibad, dirinya berhasil memperoleh beasiswa dari Kementerian Agama RI untuk studi di Kairo, Mesir. Gus Dur memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar sebanyak mungkin nilai-nilai keislaman modern dari para tokoh cendekiawan Muslim Mesir. Seperti diketahui pada tahun-tahun tersebut Mesir sedang mengalami perkembangan yang pesat di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, utamanya di bidang pendidikan Islam modern. Salah satu alasan Gus Dur mengambil kesempatan bersekolah di Mesir adalah dia berusaha mencari jawaban atas kondisi keislaman di Republik yang kian mengkhawatirkan. Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid menyebut Gus Dur begitu gelisah ketika melihat ada banyak persoalan yang dihadapi umat Islam di Indonesia. Kemiskinan, penindasan, dan ketidakadlian selalu menghiasi kehidupan kaum muslimin di sini. Saat berlabuh di Kairo, dia berharap menemukan jawaban yang tepat atas kegetirannya. Baca juga:  Gus Dur dan Buku “Meskipun pada awalnya Gus Dur sangat bersemangat dengan studinya di Al-Azhar, namun ia kemudian merasa sangat kecewa oleh karena masa keemasan Al-Azhar telah mencapai puncaknya beberapa dasawarsa sebelumnya,” tulis Barton. Kekecewaan lain dirasakan Gus Dur ketika pihak universitas menyuruhnya mengikuti kelas bahasa Arab untuk mereka yang benar-benar pemula. Dia dianggap tidak cukup mengetahui pengetahuan tentang bahasa tersebut. Gus Dur, kata Barton, sebenarnya mahir berbahasa Arab. Semasa bersekolah di Jombang, Jawa Timur, dia telah lulus studi yurisprudensi Islam, teologi, dan pelajaran lain yang memerlukan pengetahuan bahasa Arab sangat baik. Sayangnya tidak ada ijazah yang menunjukkan bahwa dia telah lulus kelas bahasa Arab ketika di Jombang. Sebagai raksi penolakan, Gus Dur memilih tidak mengikuti kelas tersebut. Itu berarti sepanjang tahun 1964 dia tidak mengikuti studi formal apapun. Gus Dur kemudian menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan-perpustakaan besar, menonton film-film Prancis, mengikuti diskusi-diskusi, serta menonton banyak pertandingan sepakbola di Kairo. “Walaupun kecewa dengan sistem pendidikan di Al-Azhar sebagai institusi, tetapi Abdurrahman Wahid sangat senang dengan kehidupan kosmopolitan di kota Kairo,” tulis Syamsul Bakri dan Mudhofir Abdullah dalam Jombang-Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam di Indonesia . Akhir 1964, Gus Dur lulus ujian bahasa Arab dengan mudah. Kepercayaan dirinya seketika muncul bahwa ia bisa melompati kelas-kelas di dalam studinya di universitas. Ketika melihat bahan pelajaran yang akan diikutinya selama program sarjana tidak beda membosankannya dengan kelas bahasa Arab, Gus Dur kembali mengulangi kegiatannya: menghindari pelajaran formal. Baca juga:  Dahsyatnya Humor Gus Dur Dia merasa telah memperoleh pengetahuan yang cukup untuk studi di tahun peratama. Gus Dur yakin walau mengikuti pelajaran secara asal-asalan, di akhir tahun akademik tetap akan membuatnya lulus ujian. Namun keputusannya itu malah berujung petaka. Pihak universitas yang memberinya beasiswa tidak menyukai catatan kehadirannya. Dia juga dianggap terlalu meremehkan sistem pendidikan di Al-Azhar. Kondisi politik di Indonesia yang memburuk setelah peristiwa 30 September 1965 ikut menambah beban kehidupan studi Gus Dur di Kairo. “Seorang mahasiswa yang lebih disiplin barangkali akan bisa menciptakan suasana belajar lagi, akan tetapi Gus Dur terlambat melakukan usaha itu dan juga karena usahanya memang asal-asalan. Oleh karena itu, ia gagal lulus salah satu dari dua objek inti dan diberitahu bahwa ia harus mengulang tahun itu, dan sangat mungkin sekali tanpa menerima beasiswa,” tulis Barton. Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di Kairo untuk membaca. Setiap harinya dia akan mengunjungi perpustakaan Universitas Amerika, perpustakaan Prancis, atau perpustakaan Universitas Kairo. Berbeda dengan di Jombang, di Kairo dia bisa membaca apa saja dan di mana saja, bahkan bisa di sekeliling rumah atau di tempat menunggu bus. Meski tidak berhasil menamatkan studinya, Gus Dur merasa di kota inilah pemikiran-pemikirannya diasah. Dia mampu mengembangkan pengetahuan pada tingkatan lebih tinggi. Berkat kebebasan yang secara relatif dimilikinya, juga penolakan atas pelajaran bahasa Arab untuk pemula, Gus Dur bisa menyerap pengetahuan sebanyak yang diinginkannya. “Oleh karena Gus Dur bisa memperoleh bermacam-macam buku baru, demikian kenangnya, ia merasa bahwa cita rasanya dalam membaca cepat meluas dengan adanya penemuan-penemuan baru,” ungkap Barton. Kehidupan Baru Menerima kegagalan di Kairo, Gus Dur tidak langsung putus asa. Dia segera mengusahakan kembali keberlangsungan studinya. Pada 1966 kabar baik itupun datang, Gus Dur mendapatkan tawaran beasiswa studi di Fakultas Seni, Universitas Baghdad, Irak. Tawaran ini menjadi kesempatan kedua Gus Dur untuk memulai segalanya dari awal. “Abdurrahman Wahid mengakui bahwa sistem pembelajaran di Universitas Baghdad dirasakan lebih dinamis dan dalam banyak hal lebih mirip dengan sistem pendidikan di universitas-universitas Eropa dibandingkan dengan Al-Azhar,” tulis Bakri dan Abdullah. Kala itu, Universitas Baghdad memiliki banyak dosen lulusan Eropa. Itulah mengapa penerapan standar Eropa mulai dirasakan Gus Dur saat pertama kali tiba di sana. Sebagai mahasiswa dia dituntut untuk berpikir kritis dan banyak membaca. Sebuah hal yang agaknya tidak terlalu sulit bagi Gus Dur. Namun di sini dia tidak bisa main-main seperti sebelumnya. Kehadiran di kelas menjadi syarat wajib mengikuti studi. Mahasiswa di sini dipantau secara ketat. Baca juga:  Sinta Nuriyah Berkisah tentang Gus Dur Demi menunjang studinya, setiap sore Gus Dur akan mampir ke perpustakaan universitas. Dia merasa tidak boleh lalai seperti di Kairo agar beasiswanya tetap dipertahankan. Hampir setiap hari juga akan ada tugas makalah yang dibawa pulang. Gus Dur tidak pernah menyelesaikannya di rumah, perpustakaan selalu menjadi pilihan terbaik baginya untuk belajar. Di Baghdad, Gus Dur memiliki jawal yang lebih padat daripada ketika masih di Kairo. Dia tidak bisa bebas berjalan-jelan di kota karena waktunya habis dipakai untuk studi. Meski demikian, kata Barton, Gus Dur masih menyisihkan sebagian waktunya guna menonton film-film Prancis dan membaca buku kegemarannya. Bahkan pada malam-malam tertentu, Gus Dur menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di tepi Sungai Tigris, sambil terlibat di dalam diskusi-diskusi. “… Baghdad merupakan kota magis bagi Gus Dur dan ia pun menghabiskan waktu senggangnya guna mencari tempat-tempat baru untuk dikunjunginya,” kata Barton. Gus Dur berhasil menyelesaikan pendidikan di Universitas Baghdad pada pertengahan 1970-an. Memakan waktu kurang lebih empat tahun untuk dia meraih gelar sarjananya. Studi yang Tertunda Keinginan Gus Dur mengenyam studi di Eropa sebenarnya ada sebelum ia memutuskan memilih Kairo. Berbagai buku karya sastrawan-sastrawan Eropa, serta tema-tema pemikiran tokoh Eropa yang dibacanya sejak masih belajar di Yogyakarta membuat keinginan terbang ke Benua Biru itu begitu meluap-luap. Selesai dengan Baghdad, Gus Dur pun kemudian pindah ke Eropa. Mula-mula dia tinggal di Belanda. Pamor Negeri Kincir Angin tersebut sebagai destinasi pendidikan menjadi pilihan utama Gus Dur. Dia melabuhkan dirinya di sana dengan harapan dapat memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi pascasarjana di bidang perbandingan agama. Baca juga:  Gus Dur dan Keberagaman Pada bulan-bulan pertama Gus Dur lebih banyak mengumpulkan informasi terkait universitas mana yang cocok bagi studinya. Jika harus memilih, dia lebih senang melanjutkan di Universitas Leiden. Namun rasa kecewa mesti dihadapi Gus Dur. Ketika tengah mencari informasi, dia memperoleh kenyataan bahwa di Leiden dan di seluruh Eropa, studinya di Universitas Baghdad tidak memperoleh pengakuan. Jika Gus Dur tetap ingin melanjutkan studi di Eropa, beberapa universitas akan menerimanya. Tetapi mereka menetapkan prasyarat yang mengharuskannya mengulang studi tingkat sarjana. Gus Dur tidak menerima hal itu. Dia pun tidak memaksakan keinginannya dan memilih menghabiskan waktu untuk berkeliling Eropa, mempelajari banyak hal secara informal. Setelah berkelana hampir setahun, Gus Dur memutuskan kembali ke Indonesia pada pertengahan 1971. “Walaupun Gus Dur tidak memperoleh kualifikasi formal dari studinya di Eropa, namun pengelamannya di Eropa itu adalah cita-cita yang ia inginkan bertahun-tahun sebelumnya,” tulis Barton.

  • Mimpi Buyar Ekonomi Terpimpin

    “TENTANG ekonomi aku tidak mengerti apa-apa.” Itu kata-kata Sukarno kepada Prof. Jan Tinbergen dari Belanda. Tinbergen beberapa kali bertandang ke Indonesia untuk memberikan saran kepada pejabat bidang ekonomi. Suatu hari dia bertemu Sukarno saat ekonomi Indonesia terlilit inflasi pada 1960-an.

  • Kyai Haji Abdul Halim

    Kyai pesantren yang khatam soal masalah politik, siasat gerilya, dan tentu saja soal agama.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page