top of page

Hasil pencarian

9866 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengurai Sejarah Lembaga Bea dan Cukai

    BULAN-BULAN terakhir tahun 1945, Jakarta menjadi tidak aman karena rongrongan tentara Belanda. Ketika pasukan Belanda akhirnya menguasai Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan pemindahan kedudukan pemerintahan ke daerah yang bebas dari gangguan Belanda. Yogyakarta dipilih menjadi ibu kota baru tak lama setelah tahun baru 1946. Karena tak semua kementerian bisa tertampung di Yogyakarta, Kementerian Keuangan pindah ke Magelang. Bahkan beberapa unit harus berada di tempat lain seperti Pejabatan Pegadaian dan Pejabatan Resi Candu dan Garam yang dipindah ke Surakarta serta Pejabatan Pajak yang pindah ke Prembun (Kebumen). Pejabatan Pajak mulanya menangani Urusan Bea Cukai beserta Urusan Pajak Bumi. Pejabatan Pajak kemudian dipecah menjadi tiga, yakni Pejabatan Pajak, Pejabatan Pajak Bumi, serta Pejabatan Bea dan Cukai. Kala itu, Menteri Muda Keuangan Sjafruddin Prawiranegara kesulitan mencari kepala Pejabatan Bea dan Cukai. Sebab, pada masa pendudukan Jepang status pegawai-pegawai bea dan cukai disatukan dengan Pejabatan Pelabuhan. Sebagian mengurusi kepelabuhan dan kepabeanan, sebagian menangani urusan cukai. Sjafruddin menghendaki agar Pejabatan Bea dan Cukai dapat utuh tak terpisah. Orang yang akan memimpin Pejabatan baru ini juga harus punya pengalaman. Nah, Sjafruddin melihat R.A. Kartadjoemena yang masih berusia 31 tahun sebagai sosok yang tepat. Baca juga:  Menghapus Lembaga Keuangan Warisan Kolonial Menurut Orang Indonesia jang Terkemoeka di Djawa , yang terbit tahun 1944, Mr. Raden Abdoerachim Kartadjoemena lahir di Ciamis pada 16 Juni 1915. Dia lulusan sekolah hukum tahun 1940. Dia pernah bekerja sebagai pegawai kantor Stadsgemeente (Kotapraja) Jakarta, aspiran wakil Inspektur Keuangan Magelang, kepala Kantor Penetapan Pajak Semarang, serta soeperintenden Kantor Lelang Negeri Semarang dan Pati-Syuu. Kartadjoemena kemudian kembali ke Magelang dan diangkat sebagai wakil kepala Pejabatan Pajak yang dikepalai oleh Soetikno Slamet. Kartadjoemena lalu menjadi kepala Pejabatan Pajak ketika Soetikno Slamet diangkat menjadi kepala Pejabatan Urusan Uang, Kredit dan Bank yang baru dibentuk. Kartadjoemena akhirnya ditunjuk sebagai kepala Pejabatan Bea dan Cukai. Dia diangkat pada 1 Oktober 1946. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai hari kelahiran Bea dan Cukai Republik Indonesia. Kantor Bea dan Cukai masa kolonial Belanda. (Geheugen Delpher). Eksistensi Masa Lalu Pungutan bea dan cukai, atau biasa disebut bea cukai saja, telah dikenal sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara. Kata “bea” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, sedangkan “cukai” berasal dari bahasa India. Kelembagaannya masih bersifat “lokal” sesuai wilayah kerajaan. Di pelabuhan-pelabuhan di Sumatra dan Jawa, misalnya, biasanya terdapat syahbandar yang menangani bea cukai dan dikepalai seorang pejabat tumenggung. Ketika Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) mulai memonopoli perdagangan di Nusantara, dikenal “tarif tol” sebagai pungutan untuk aktivitas ekspor-impor. Sedangkan pada masa pendudukan Inggris, pungutan atas keluar masuk barang disebut “sewa boom”. Pada masa kolonial, pemerintah memiliki lembaga yang bertugas memungut bea untuk barang-barang yang keluar-masuk Hindia Belanda. Namanya Dienst der In-en Uitvoerrechten en Accijnzen (I.U. & A) atau terjemahan bebasnya berarti Jawatan Bea Cukai. Peraturan yang melandasinya antara lain Gouvernements Besluit (Keputusan Pemerintah) No. 33 tanggal 22 Desember 1928 tentang Organisasi Dinas Bea dan Cukai. Organisasi ini kemudian diubah melalui keputusan pemerintah tanggal 1 Juni 1934. Baca juga:  Tan Sam Cai, Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon Peraturan perundang-undangan mengenai kepabeanan yang pernah dikeluarkan adalah Indische Tarief Wet (Undang-undang Tarif Indonesia)  Staatsblad tahun 1873 Nomor 35, Rechten Ordonnantie (Ordonansi Bea) Staatsblad tahun 1882 Nomor 240, dan Tarief Ordonnantie (Ordonansi Tarif) Staatsblad tahun 1910 Nomor 628. Sedangkan pungutan cukai mulai dilakukan pada 1886 terhadap minyak tanah berdasarkan Ordonansi 27 Desember 1886, Staatsblad tahun 1886 Nomor 249. Selanjutnya pungutan cukai lainnya diberlakukan terhadap komoditas lain seperti alkohol sulingan (1898), bir (1931), tembakau (1932), dan gula (1933). Pungutan atas bea sempat berhenti pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah mengeluarkan Oendang-Oendang No. 13 pada 29 April 1942. Pasal 2 Nomor 2, seperti diterbitkan Kan Po (Berita Pemerintah) berbunyi: “untuk sementara waktu bea ( in en uitvoerrechten ) tidak usah diurus.” Namun, cukai tetap diberlakukan untuk tembakau dan minuman keras. Pascakemerdekaan, ketika Kementerian Keuangan dibentuk pada 19 Agustus 1945, suasana Republik masih genting. Indonesia baru dua hari menyatakan kemerdekaan dan kementerian belum memungkinkan untuk menyusun struktur organisasi beserta cara kerjanya, termasuk bagian Bea dan Cukai. Pejabatan Bea dan Cukai baru dibentuk pada 1 Oktober 1946 dengan kepala pertama R.A. Kartadjoemena. Sementara peraturan perundang-undangan warisan Belanda tetap diberlakukan berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-undang Dasar 1945, dengan tetap melakukan perubahan dan penambahan sesuai tuntutan zaman. Baca juga:  Kementerian Keuangan di Masa Perang Di Magelang, Pejabatan Bea dan Cukai berkantor pusat di sebuah gedung sekolah suster. Kartadjoemena sempat mendapat rumah di Magelang, namun ketika di Yogyakarta, dia harus menumpang kepada Kepala Inspeksi Pajak Soerjono Sastrohadikusumo. Sempat pula dia menghuni garasi di Jalan Bromantakan, Solo. Belakangan dia mendapat rumah di Baciro, Yogyakarta, atas kebijakan Sekretaris Kabinet Maria Ullfah. Saat itu susunan organisasi Pejabatan Bea dan Cukai masih meneruskan gaya I.U. & A. Hal pertama yang dilakukan adalah mengaktifkan kantor-kantor daerah dan cabang yang tersebar di Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pekalongan, Blitar, Magelang, Kebumen, Kudus, Madiun, Bojonegoro, Tuban, dan Kediri. Daerahnya masih terbatas karena sebagian wilayah diduduki Belanda. “Tahun 1945-1949 merupakan episode perjuangan tersendiri bagi Bea dan Cukai, lebih-lebih yang ada di wilayah Indonesia yang tidak diduduki Belanda. Tugas Pejabatan Bea dan Cukai pada waktu itu sebagian besar meliputi urusan di bidang cukai saja,” tulis buku Pertumbuhan dan Perkembangan Bea dan Cukai dari Masa ke Masa . Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1948, istilah Pejabatan Bea Cukai berubah menjadi Jawatan Bea dan Cukai, yang bertahan sampai tahun 1965. Seorang petugas Bea dan Cukai tahun 1947 di Yogyakarta. (IPPHOS/Perpusnas RI). Pindah ke Jakarta Pascapengakuan kedaulatan dan berdiri Republik Indonesia Serikat (RIS), bersama pemerintah pusat, Jawatan Bea dan Cukai turut pindah ke Jakarta. Kantor-kantor Bea dan Cukai di Tanjung Priok, Surabaya, Semarang, Medan, Palembang, Banjarmasin, Makassar, Manado, dan Balikpapan mulai aktif dan berkembang pesat. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat Nomor 62 Tahun 1950, Kartadjoemena ditunjuk sebagai direktur jenderal Iuran Negara merangkap sebagai kepala Jawatan Bea dan Cukai. Pada 29 Agustus 1950, jabatan itu diserahkan kepada G.J.E. Tapiheroe. Sejak September 1950, Tapiheroe didampingi oleh A.M. Slawat sebagai kepala muda Jawatan Bea dan Cukai. Struktur organisasi Jawatan Bea dan Cukai yang menggunakan gaya I.U. & A. masih berlaku hingga 1960 dengan beberapa pengembangan. Unit-unit kerja seperti Biro dan Bagian/Seksi/Umum dibentuk dan tugas, fungsi serta wewenang pejabatnya diperluas. Baca juga:  Mengurai Sejarah APBN Indonesia Pada 30 Maret 1965, Padang Soedirjo ditunjuk sebagai direktur jenderal Bea dan Cukai. Ini menandai penyempurnaan Jawatan Bea dan Cukai menjadi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Namun, tanpa alasan yang jelas, pada 1966 status Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diturunkan dan berada di bawah Direktorat Jenderal Pajak. “Namun setelah timbul reaksi pimpinan Bea dan Cukai beserta staf langsung menghadap Menteri Keuangan, maka statusnya segera ditetapkan kembali menjadi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,” jelas buku Pertumbuhan dan Perkembangan Bea dan Cukai dari Masa ke Masa . Pada 1967, melalui Keputusan Menteri Keuangan No. Kep. 207/Men.Keu/67 dibentuk Percetakan Pita Cukai Bhineka Tjarakan. Percetakan ini bertugas menyediakan pita-pita cukai khususnya untuk hasil tembakau serta memproduksi barang cetakan lainnya selama tidak menghambat tugas pokoknya. Petugas Bea dan Cukai sedang memeriksa koper milik atlet peserta Asian Games di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta. (ANRI). Perwakilan Luar Negeri Sejak 1950-an, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah menempatkan perwakilannya di luar negeri. Di Singapura, pejabat-pejabat Bea dan Cukai diperbantukan di Kedutaan Besar RI. Tugasnya memantau perdagangan/barter, lalu lintas devisa, penandasan consular invoice (faktur yang dikeluarkan oleh kedutaan atau konsulat),dan menyampaikan informasi terkait ekspor dan impor. Menurut buku Pertumbuhan dan Perkembangan Bea dan Cukai dari Masa ke Masa , pada 1962, ketika Indonesia mulai mengkampanyekan konfrontasi dengan negara-negara bentukan Inggris, perwakilan Bea dan Cukai di Singapura pindah ke Konsulat Jenderal RI di Hongkong. Selain urusan kepabeanan dan cukai, Atase Bea dan Cukai Hongkong bertugas menghimpun informasi soal perpajakan, pasar modal, moneter, perbankan dan berhubungan dengan instansi intel dan narkotika. Baca juga:  Mimpi Buyar Ekonomi Terpimpin Sukarno Pasca jatuhnya kekuasaan Sukarno dan dihentikannya konfrontasi, pada 1967, pemerintah kembali menempatkan pejabat Bea dan Cukai di Singapura. Tugasnya masih sama, ditambah dengan pembinaan hubungan dengan pejabat keuangan serta bea dan cukai Singapura. Sejak 1968, pemerintah RI juga menempatkan pejabat Departemen Keuangan/Bea Cukai di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Tugasnya mengikuti perkembangan tarif dan perdagangan internasional. Pemerintah RI juga membuka perwakilan Bea dan Cukai di Kuala Lumpur pada tahun yang sama. Selain itu, petugas Bea dan Cukai ditempatkan di Penang, Melaka, Port Swettenham (sekarang Port Klang), Tawao (Sabah), dan Batu Pahat (Johor). Penugasan di Malaysia ini sejak 1982 secara bertahap dicabut karena tidak lagi efisien dan masalah manipulasi yang sebelumnya terjadi telah teratasi. Menteri Keuangan Ali Wardhana membuka pendidikan para pengawas Bea dan Cukai pada 1970. (IPPHOS/Perpusnas RI). Sempat Dibekukan Pada 6 Juni 1968, Menteri Keuangan dijabat oleh Ali Wardana. Kala itu, terjadi banyak penyelewengan dan korupsi di Bea dan Cukai. Menurut jurnalis Mochtar Lubis, praktik-praktik penyelundupan dan penyelewengan di Bea dan Cukai terjadi karena terjalin kongkalikong antara Bea Cukai dan importir penyelundup. “Dan kerja Bea Cukai hanya mengadakan ‘denda damai’ belaka yang memuaskan semua pihak yang bersangkutan. Menteri Keuangan patut memeriksa praktik-praktik ‘denda damai’ ini, yang kelihatan telah menjadi satu pola kerja yang teratur,” tulis Mochtar di harian Indonesia Raya, 22 Juli 1969, termuat dalam Tajuk-Tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya. Menurut Mochtar, pimpinan lama harus diganti dengan orang baru yang tak terlibat dalam jaring-jaring vested interest yang telah berakar lama antara Bea Cukai dan importir-penyelundup. Selain itu, perubahan bukan hanya dari sisi kelembagaan, tetapi juga personalia pelaksananya. Namun, nyatanya keadaan demikian bertahan cukup lama. Ketika Ali Wardana mengunjungi kantor Bea Cukai di Tanjung Priok pada Mei 1971, dia melihat para petugas tengah bersantai. Dia juga mendapati kabar adanya penyelundupan ratusan ribu baterai merek terkenal. “Padahal, ia baru memberikan tunjangan khusus sebesar sembilan kali gaji. Kenaikan tersebut bukan sembarang hadiah, melainkan disertai tuntutan kenaikan pelayanan dan peniadaan penyelewengan,” tulis Saeful Anwar dan Anugrah E.Y. (ed.) dalam Organisasi Kementerian Keuangan dari Masa ke Masa. Baca juga:  Walisongo Berantas Uang Siluman di Bea dan Cukai Ali Wardana akhirnya melakukan mutasi pejabat eselon II antar unit eselon I. Pada 1978, direktur Bea dan Cukai digantikan pejabat dari unit eselon beberapa kali. Namun, ternyata cara ini tak memperbaiki kinerja Bea dan Cukai. Penyelewengan dan penyelundupan terus terjadi. Ali Wardana kemudian diangkat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Pengawasan Pembangunan pada 1983. Sementara Menteri Keuangan dijabat Radius Prawiro. Perubahan juga terjadi di Bea dan Cukai. Pada 29 Agustus 1983, Radius Prawiro melantik Bambang Soejarto, seorang perwira tinggi Departemen Hankam, sebagai direktur jenderal Bea dan Cukai; menggantikan Wahono yang terpilih sebagai gubernur Jawa Timur. Dalam pidato pelantikan, Radius Prawiro menekankan bahwa para penyelundup “akan kita perangi sampai ke akar-akarnya.” Apa mau dikata, penyelewengan dan penyelundupan Bea dan Cukai belum lenyap. Keluhan juga datang dari pengusaha, termasuk pengusaha Jepang, mengenai aparat Bea dan Cukai yang ribet, berbelit-belit, dan pada akhirnya melakukan pungutan liar. Maka, setelah berdiskusi dengan para menterinya dan mendapat penilaian dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1985 tentang Kebijaksanaan Kelancaran Arus Barang Untuk Menunjang Kegiatan Ekonomi. Baca juga:  Deregulasi, Cara Orde Baru Mengerek Pertumbuhan Ekonomi Berpegang pada Instruksi Presiden, diambil keputusan untuk mempercayakan sebagian wewenang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kepada PT Surveyor Indonesia yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan swasta asal Swiss bernama Societe Generale de Surveillance (SGS). Kewenangan itu kemudian dikembalikan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai setelah Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan diberlakukan secara efektif pada 1 April 1997, yang kemudian direvisi dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 tentang perubahan Undang-Undang Kepabeanan. Dengan UU tersebut, produk hukum kolonial tidak berlaku lagi. Begitu pula dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai, yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 tahun 2007, untuk menggantikan kelima ordonansi cukai lama. Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 juga memberikan kewenangan lebih besar kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sesuai dengan lingkup tugas dan fungsi yang diembannya. Presiden Soeharto bersama para petugas Bea dan Cukai pada 1968. (IPPHOS/Perpusnas RI). Era Baru Sejak Reformasi, Kementerian Keuangan terus melakukan perbaikan termasuk di sektor Bea dan Cukai. Pada 2000, di bawah Menteri Keuangan Prijadi Praptosuhardjo dilakukan penataan organisasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk mengoptimalkan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan standarisasi teknis. Perbaikan terus dilakukan dalam beberapa kepemimpinan. Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai kemudian dibentuk. Sementara Pusat Pengolahan Data dan Informasi Bea dan Cukai (PPDIBC) dihapus dan dilakukan perubahan nomenklatur Direktorat Perencanaan Penerimaan menjadi Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai. Untuk memperkuat fungsi pengawasan kepabeanan dan cukai serta mengoptimalkan pencegahan dan pemberantasan penyelundupan, pada UPT Pangkalan Sarana Perhubungan Bea dan Cukai dilakukan perubahan nomenklatur menjadi Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai (PSOBC). Baca juga:  Tiga Menteri Keuangan Terbaik Indonesia di Dunia Dibentuk pula tenaga pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada 2006 serta beberapa kali penataan instansi vertikal sejak 2009 hingga 2014. Pada 2018, di bawah Menteri Keuangan Sri Mulyani, dilakukan penataan organisasi Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai. “Selain itu, dilakukan transformasi Balai Pengujian dan Identifikasi Barang menjadi Balai Laboratorium Bea dan Cukai sebagaimana diatur dalam PMK Nomor-84/PMK.01/2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Laboratorium Bea dan Cukai,” tulis Saeful Anwar dan Anugrah E.Y. (ed.). Dengan perbaikan-perbaikan tersebut, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memainkan peranan penting dalam melindungi masyarakat dan industri dalam negeri serta mengoptimalkan penerimaan negara untuk pembangunan nasional.

  • Mengurai Sejarah APBN Indonesia

    PANDEMI Covid-19 membuat pemerintah Indonesia, dan juga semua negara di dunia, kelimpungan. Pemerintah terpaksa membatasi mobilitas dan kegiatan perekonomian. Pemerintah juga mengarahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan fokus mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan penanganan pandemi Covid-19. “APBN masih menjadi instrumen penting dan bekerja luar biasa keras, untuk melindungi rakyat, untuk menangani dan menanggulangi Covid-19, serta memulihkan ekonomi,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam APBN Kita: Kinerja dan Fakta , Maret 2012, yang diterbitkan Kementerian Keuangan. APBN merupakan rencana pengeluaran dan penerimaan negara untuk tahun mendatang. Sebagai bendahara negara, Kementerian Keuangan memiliki peranan vital dalam penyusunan dan pelaksanaan APBN sehingga mendapat sebutan penjaga keuangan negara ( nagara dana rakca ). Mengelola anggaran negara bukanlah pekerjaan mudah. Jajaran Kementerian Keuangan yang memiliki tanggung jawab cukup berat harus bisa mewujudkan APBN yang kredibel, transparan, dan akuntabel. Hal ini berbeda dari sistem sebelumnya, yang mengacu pada undang-undang warisan kolonial. Warisan Kolonial Pada masa kolonial, penyusunan APBN mengacu pada Indische Comptabiliteitswet (ICW) yang berlaku sejak 1867. ICW tak memuat secara rinci susunan dan bentuk anggaran. Keduanya diatur dalam Wet op de Staatsinrichting van Nederlandsch Indie atau biasa disebut Indische Staatsregeling (IS), semacam undang-undang tentang Ketatanegaraan Hindia Belanda. Sementara pelaksanaan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan negara digunakan Instructie en verdere bepalingen voor de Algemeene Rekenkamer (IAR). Setelah 1920-an, ICW menjelaskan lebih jelas alur penyusunan APBN. Rancangan anggaran diajukan pemerintah melalui Department van Financien kepada Volksraad (Dewan Rakyat). Jika Volksraad dan Gubernur Jenderal memiliki kesepahaman terhadap rancangan anggaran, mereka bisa menetapkannya melalui berbagai undang-undang. Jadi, “anggaran tidak diundangkan dalam satu undang-undang,” ulas Imam Rusdi dalam “Perkembangan Sistem Anggaran di Indonesia”, termuat dalam  Rupiah di Tengah Rentang Sejarah. Setiap undang-undang mencakup satu anggaran untuk satu departemen pemerintah. Undang-undang itu harus diumumkan lewat Javasche Courant . Baca juga:  Mengurai Sejarah APBN Indonesia Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia menggunakan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23 ayat 1 sebagai pedoman dasar penyusunan APBN. Pemerintah bertugas menghitung anggaran tersebut lalu diajukan ke DPR tiap tahun. Pengesahannya melalui undang-undang. Praktik penyusunan APBN masih merujuk pada ICW. Sebab, Indonesia belum mempunyai UU khusus tentang keuangan negara. Tentu saja ada beberapa penyesuaian. Antara lain dengan membentuk Pejabatan Keuangan (sekarang setara eselon 1) dalam struktur birokrasi di Departemen Keuangan. Saat itu penyusunan teknis APBN menjadi tanggung jawab bagian Urusan Anggaran Negara. Idealnya APBN disusun secara berimbang antara penerimaan dan pengeluaran. Tapi kondisi tidak memungkinkan. Pengeluaran lebih besar daripada penerimaan atau defisit. “Defisit anggaran belanja pemerintah RI terjadi karena pengeluaran secara besar-besaran di bidang militer untuk mempertahankan kemerdekaan RI,” sebut Saeful Anwar dan Anugrah E.Y. (ed.) dalam Organisasi Kementerian Keuangan Dari Masa Ke Masa . Karena penerimaan dari pengumpulan dana masyarakat dan pinjaman nasional tak cukup, pemerintah terpaksa mencetak uang untuk membiayai pengeluaran itu. Kebijakan ini berpotensi menyebabkan inflasi. Baca juga:  Kementerian Keuangan di Masa Perang Selain itu, Oey Beng To dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945-1958) menyebut situasi perang selama 1945-1949 membuat “urusan administrasi keuangan negara  terpaksa diterlantarkan.” BP-KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) sebagai DPR sementara pun tak bisa bekerja maksimal membaca dan mengesahkan APBN. Situasi lebih tenang muncul pada 1950. Penyusunan APBN dibenahi. S truktur Departemen Keuangan kembali ditata. Saat itu APBN menjadi tanggung jawab Biro Urusan Anggaran dan Biro Inpres Anggaran dari Jawatan Perbendaharaan dan Kas Negeri. Tapi keberadaan biro tersebut belum bisa mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar Sementara 1950 tentang kewajiban pemerintah dalam menyerahkan APBN ke DPR sebelum awal tahun fiskal (April setiap tahunnya). Pemerintah selalu terlambat menyusun APBN sepanjang dekade 1950-an karena seringnya pergantian kabinet. Selama dekade 1950-an APBN juga selalu mengalami defisit. Upaya memadamkan pergolakan di daerah menyedot pengeluaran cukup besar. Baca juga:  Menghapus Lembaga Keuangan Warisan Kolonial Pada pengujung 1950-an, Sukarno membubarkan DPR setelah APBN yang diajukannya ditolak. Sukarno juga mengeluarkan Perppu Nomor 6 Tahun 1960 untuk menetapkan APBN. Dia menggunakan APBN 1959 untuk APBN 1960. Pada masa itu Sukarno juga memecah posisi Menteri Keuangan menjadi Menteri Urusan Perdagangan, Pembiayaan, dan Pengawasan; Menteri Urusan Bank Sentral; dan Menteri Urusan Anggaran Negara. Meski sudah menempatkan urusan anggaran pada posisi khusus, APBN belum juga beranjak dari defisit. “Saat itu fiskal dilakukan secara unlimited . Jangan lupa Presiden Sukarno waktu itu melakukan politikyang sangat heavy kepada masalah security termasuk konfrontasi, dengan Belanda karena Papua, juga denganMalaysia,” ujar Menteri Keuangan SriMulyani, dikutip Media Keuangan , Oktober 2019. Pelantikan petugas keuangan era kolonial. (Wikimedia Commons). Anggaran Berimbang Masa Orde Baru menandai arah baru dalam penyusunan APBN. Menurut Anne Booth dan Peter McCawley dalam “Kebijaksanaan Fiskal” yang termuat dalam  Ekonomi Orde Baru , APBN dipandang oleh Orde Baru sebagai rencana kerja bangsa dengan tujuan “mempertahankan stabilitas proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi.” Untuk mencapai tujuan itu, Menteri Keuangan Ali Wardhana dan tim ekonomi menerapkan kebijakan APBN berimbang. Artinya, jumlah penerimaan dan pengeluaran selalu dijaga berimbang. Tenaga teknis penyusunan APBN berbeda dari masa sebelumnya. Departemen Keuangan membentuk Direktorat Djenderal Urusan Anggaran dan Pembelanjaan (DDUAP) pada 1966. Tak lama kemudian, Direktorat itu berganti nama jadi Direktorat Djenderal Anggaran (DDA) –kemudian jadi DJA sesuai dengan ejaan baru. Misinya sama: menghimpun berbagai kebutuhan penyusunan APBN seperti penerimaan dan pengeluaran setiap departemen dan daerah. Direktorat ini terdiri atas empat bagian yang lebih kecil: Sekretariat Direktorat Djenderal Anggaran, Direktorat Perentjanaan Anggaran, Direktorat Pelaksanaan Anggaran, dan Direktorat Perbendaharaan Negara. Baca juga:  Mengurai Sejarah Lembaga Bea dan Cukai Kemudian pada 1967, DDA ditambah dua bagian lagi: Direktorat Tata Usaha Anggaran dan Direktorat Perdjalanan. Penambahan ini untuk memudahkan sinkronisasi dan koordinasi kerja internal DDA. Perubahan susunan DJA terjadi lagi pada 1975. Direktorat Pelaksanaan Anggaran dipecah jadi dua: Direktorat Anggaran Rutin dan Anggaran Pembangunan. Pembagian ini mengikuti istilah dalam APBN. Direktorat Perentjanaan Anggaran juga berubah menjadi Direktorat Pembinaan Anggaran Pendapatan dan Penyelenggaraan Keuangan. Terobosan baru penataan DJA berlangsung pada 1988. Ada penambahan dua bagian: Direktorat Dana Luar Negeri dan Kantor Pengolahan Data dan Informasi Anggaran. Dua tahun berikutnya, struktur internal vertikal di dalam DJA juga berkembang dengan adanya Kantor Wilayah DJA di tiap provinsi. Sampai 1995, tercatat sudah 23 kali perubahan Organisasi dan Tata Kerja DJA. Perubahan itu bertujuan untuk mangkus dan sangkilnya kerja-kerja DJA dalam menyusun APBN. Kebijakan APBN berimbang masa Orde Baru sukses menurunkan dan menekan inflasi. APBN berimbang juga mendukung pertumbuhan dan mendorong pembangunan. Namun kesuksesan itu bukan tanpa cela. Sebagian besar penerimaan negara sebenarnya bersumber dari utang luar negeri, yang dalam APBN diperlakukan sebagai bagian dari penerimaan negara dan disebut dengan istilah “penerimaan pembangunan”. Baca juga:  Deregulasi, Cara Orde Baru Mengerek Pertumbuhan Ekonomi Dari sudut pandang ekonomi, kata Yusuf Wibisono dalam (Mimpi) Anggaran Untuk Rakyat Miskin , anggaran berimbang jelas tidak memiliki makna. Bila “penerimaan pembangunan” dikeluarkan dari penerimaan negara, anggaran negara selalu mengalami defisit dalam rentang tiga dekade. Terjaganya inflasi harus dibayar dengan akumulasi utang yang terus meningkat dan beban pembayaran bunga utang yang semakin memberatkan. Utang luar negeri juga mempengaruhi “kedaulatan” dalam penyusunan APBN. Pihak kreditur, terutama kelompok negara donor yang tergabung dalam Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), kerap mendikte. Bahkan mengambil alih hak budget yang dimiliki oleh DPR. Hak budget adalah Hak DPR untuk menerima atau menolak RAPBN. “Melalui IGGI, hak budget itu dianggap dirampas dari DPR. Sebab lembaga donor itu hanya akan memberikan bantuannya bila melihat RAPBN cocok dengan keinginan mereka,” sebut Anwar Nasution dalam “DPR dan IGGI dan Hak Budget”, termuat dalam  Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia: Perkembangan Pemikiran 1965-1981. Potret kemiskinan di Jakarta. (Charles Breijer/Geheugen Delpher). Sejarah Baru Pasca krisis ekonomi 1997-1998 dan jatuhnya rezim Orde Baru, terjadi perubahan fundamental pada pengelolaan keuangan negara. Format APBN disusun menurut standar internasional, yakni Government Finance Statistic (GFS). Dalam sistem ini, pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri tak lagi diklasifikasikan sebagai penerimaan negara tapi sumber pembiayaan anggaran negara. Penyusunannya juga lebih transparan. Momen penting dalam sistem anggaran negara akhirnya tiba dengan terbitnya UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Paket UU pengelolaan keuangan negara ini menjadi landasan pengelolaan keuangan negara, menggantikan ICW warisan Belanda. Baca juga:  Jalan Panjang Penentu Arah Perekonomian Terbitnya paket UU pengelolaan keuangan negara menandai era baru pengelolaan APBN. Penyusunan APBN kini menggunakan mekanisme pembahasan dan format baru, yaitu format anggaran terpadu, di mana alokasi anggaran berdasarkan pada program kementerian/lembaga. Format ini meniadakan pengelompokan antara anggaran rutin dan anggaran pembangunan. Perubahan signifikan lainnya adalah penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja dan penyusunan anggaran dalam kerangka pengeluaran jangka menengah. Reformasi pengelolaan keuangan negara mencakup seluruh aspek, dari penyusunan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. “Paket UU pengelolaan keuangan negara memutus masa lalu secara signifikan, mempromosikan profesionalisme dan menjadi harapan untuk menghapus masalah kronis dalam pengelolaan keuangan publik, yaitu korupsi,” tulis Yusuf Wibisono. Lahirnya paket UU tersebut tentu berdampak pada organisasi di Departemen Keuangan. Departemen Keuangan melakukan penataan organisasi yang diselaraskan dengan undang-undang di bidang keuangan negara. Baca juga:  Tiga Menteri Keuangan Terbaik Indonesia di Dunia Sejak era reformasi, Departemen Keuangan berubah jadi Kementerian Keuangan. Bersama itu pula Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) berkembang menjadi Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK) setelah pengesahan UU Nomor 17 Tahun 2003. UU itu membuat pemisahan fungsi antara penyusunan anggaran dan pelaksanaan anggaran. Di sisi lain, ada penyatuan terhadap direktorat lain berkaitan dengan penyusunan anggaran sehingga DJA berubah jadi DJAPK. “DJAPK mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang fiskal dan kerangka ekonomi makro, anggaran pendapatan dan belanja negara, perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, penerimaan negara bukan pajak, dan pembinaan keuangan badan layanan umum,” ungkap Saeful Anwar dan Anugrah E.Y. Tapi pada 2006, DJAPK kembali dipecah lagi. Mengingat cakupan tugas dan fungsinya ternyata sangat luas. DJAPK kembali menjadi DJA. Dari ulasan sejarah ringkas APBN ini, dapat terlihat bahwa penyusunan APBN bukan sebuah hal yang mudah. Penyusunannya tak hanya melulu terkait satu kementerian saja, tapi juga berkaitan dengan keadaan sosial dan politik negara.

  • Membaca Ulang Sejarah Parlemen Indonesia

    Parlemen Indonesia menjadi salah satu topik yang jarang diulas dalam sejarah Indonesia. Sejak awal, narasi sejarah lebih menonjolkan bagaimana perang menjadi strategi dalam merebut kemerdekaan. Padahal, diplomasi juga turut andil dalam pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mengambil peran di dalamnya. Untuk kembali melihat bagaimana sejarah KNIP menjadi pondasi Parlemen Indonesia, Museum DPR RI bersama Historia.id  menggelar Pameran Daring bertajuk “Komite Nasional Indonesia Pusat: Mukadimah Parlemen Indonesia” yang dibuka pada Senin, 18 Oktober 2021. KNIP dibentuk pada 29 Agustus 1945 dengan beranggotakan 137 orang. Lembaga yang diketuai Kasman Singodimedjo awalnya befungsi sebagai pembantu atau penasihat presiden. Melalui Maklumat Wakil Presiden nomor X, KNIP diserahi tugas-tugas legislatif serta turut menetapkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebelum DPR dan MPR dibentuk. Baca juga:  Riwayat Nama Ruang dan Gedung Parlemen Sejarawan Anhar Gonggong dalam gelar wicara pembukaan pameran ini di saluran Youtube Historia.id menyebut bahwa KNIP menjadi vital karena lembaga ini merupakan perwujudan cita-cita para pendiri bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka. “Mulai generasinya Tjokroaminoto, kemudian generasinya Sukarno, Hatta, Sjahrir dan seterusnya. Ada satu hal yang menarik dari mereka. Mereka sudah berkomitmen, bahwa kelak kita merdeka, maka negeri ini, Republik yang akan kita tegakkan akan diatur pemerintahannya secara demokratis,” terangnya. Anhar menjelaskan, bahwa Sukarno misalnya, telah menuliskan pikirannya perihal demokrasi pada 1933. Sukarno juga mewanti-wanti agar Indonesia kelak tidak jatuh pada sistem demokrasi liberal yang hanya mementingkan demokrasi politik dan mengesampingkan demokrasi ekonomi. Sukarno bahkan menyinggung hal ini lagi dalam pidatonya pada 1 Juni 1945. Menurut Anhar, dari tulisan dan pidato Sukarno itu dapat dilihat bahwa Sukarno menganggap bahwa demokrasi menjadi tidak penting jika tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. “Jadi dalam pikiran Sukarno yang namanya demokrasi itu harus memberikan kesejahteraan. Nah, sebenarnya kalau kita lihat, perjalanan dari KNIP yang sedemikian itu dasar-dasar pemikirannya selalu bersumber daripada bagaimana meletakkan peranan rakyat,” jelas Anhar. Baca juga:  Volksraad, DPR ala Hindia Belanda Sejak dibentuk, KNIP telah mengeluarkan keputusan-keputusna penting seperti mengubah sistem presidensial menjadi parlementer yang kemudian menjadikan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri pertama, terlibat dalam pembahasan Perjanjian Linggarjati dengan presiden dan wakil presiden, hingga meratifikasi hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Meski perannya penting dalam satu episode sejarah Indonesia, KNIP ternyata terpinggirkan dalam historiografi sejarah Indonesia. Sejarawan dan dosen sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta, Rhoma Dwi Aria Yuliantri menyebut bahwa sejarah KNIP tak banyak disinggung dalam buku sejarah di sekolah. Rhoma melacak bagaimana buku sejarah di sekolah sejak Orde Lama hanya memberi sedikit porsi kepada KNIP. Bahkan pada buku Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) tahun 1992, Rhoma tak menemukan narasi mengenai KNIP. Buku sejarah era Orde Baru itu dipenuhi oleh narasi yang militeristik. Baca juga:  Serangan Terhadap Anggota Parlemen KNIP setidaknya baru dibahas cukup lengkap dalam buku sejarah Kurikulum 2013. Meski demikian, narasinya masih perlu dikritisi. Kurikulum yang harusnya kontekstual itu tak menyinggung mengenai KNIP Daerah dan masih timpang gender. “Dari tahun ‘52, ‘94, 2004, 2006, dan Kurikulum K13 ini tidak ada tokoh perempuan KNIP atau KNI yang dimasukan dalam buku sejarah,” tutur Rhoma. Padahal, ada beberapa tokoh perempuan penting dalam KNIP seperti Soesilowati, Maria Ullfah yang turut dalam sidang-sidang KNIP, Rasuna Said (KNIP Sumatra Barat), Suwarni Pringgodigdo, hingga Mudigdo. . Baca juga:  Maria Ullfah, Advokat Kaum Perempuan Pameran daring “Komite Nasional Indonesia Pusat: Mukadimah Parlemen Indonesia” berusaha menampilkan kembali KNIP sebagai satu bab penting dalam sejarah Indonesia, khususnya Parlemen Indonesia. Memperkenalkan kembali tokoh-tokoh KNIP, memorabilia bersejarah terkait KNIP, keputusan-keputusan KNIP, hingga kronik bagaimana rangkain peristiwa bersejarah KNIP. Informasi menganai pameran dapat dipantau melalui media sosial Facebook , Twitter , Instagram , dan Youtube Museum DPR RI @museumdpr .

  • Duka Kuba di Laut Karibia

    Perasaan senang menghinggapi para gadis anggota timnas anggar Kuba. Mereka baru saja menjuarai mayoritas nomor yang dikompetisikan dalam Kompetisi Anggar Regional Amerika Tengah-Karibia 1976 di  Caracas, Venezuela. Saking senangnya, mereka tetap mengenakan medali emas mereka ketika pesawat DC-8 Cubana de Aviacions nomor penerbangan 455 yang mereka tumpangi singgah di Bandara Seawell (kini Grantley Adams International Airport) di Bridgetown, Barbados pada 6 Oktober 1976. Mereka tak sabar ingin segera sampai di rumah dan berbagi kesenangan dengan sanak-famili. Hanya keceriaan yang terpampang di wajah mereka. Kesedihan apalagi ketakutan tak punya tempat di benak mereka. Padahal, beberapa waktu sebelum pesawat mereka mengudara dari Caracas, di sana Luis Posada Carriles telah menunggu hasil dari rencana pentingnya yang ditujukan pada Cubana 455. Posada merupakan eksil Kuba penentang pemerintahan Fidel Castro yang paling gigih mengupayakan pembunuhan Castro dan para pendukungnya. Dia "adik kelas" Castro di Universitas Havana, tempat Posada kuliah di Jurusan Kimia. Setelah Castro naik ke puncak kekuasaan, Posada bergabung dengan kelompok oposisi. Dia kemudian dipenjara namun berhasil melarikan diri ke Meksiko sebelum ke Miami, Amerika Serikat (AS) pada 1961. Setelah di Miami, Posada dididik dinas intelijen AS CIA. Dia terlibat dalam Invasi Teluk Babi yang hampir membawa umat manusia ke dalam perang nuklir. “Di mana 1.500 orang eksil anti-Castro yang dilatih CIA menyerbu Kuba. Lebih dari seratus orang terbunuh; sisanya ditawan dan kemudian ditebus dengan $53 juta dalam bentuk bantuan medis dan makanan,” tulis tulis Ann Louise Bardach dalam Cuba Confidential: Love and Vengeance in Miami and Havana . Baca juga:  CIA Incar Jenggot Castro Posada selamat dalam invasi itu. Dia kemudian masuk angkatan darat AS dan menjalani pendidikan di Fort Benning. “Dua tahun setelah invasi Teluk Babi berakhir dengan kegagalan memalukan di pantai-pantai Kuba, dua pemuda Kuba di pengasingan berdiri berdampingan di bawah sinar matahari musim semi di Fort Benning, Georgia, berlatih untuk pawai berikutnya di Havana. Saat itu tahun 1963, saat Amerika demam merencanakan melawan kekuasaan Fidel Castro. Kedua pria itu selamat dari operasi Teluk Babi yang ceroboh. Kedua orang itu, Jorge Mas Canosa dan Luis Posada Carriles, telah mendaftar di Angkatan Darat Amerika Serikat, yakin bahwa Presiden Kennedy akan melancarkan serangan lain untuk menghalau komunisme dari belahan bumi. Mereka bersumpah bahwa kali ini mereka akan berhasil,” sambung Ann Louise. Dalam perencanaan di Caracas tadi, Posada “berkongsi” dengan Orlando Bosch, yang juga eksil penentang gigih Castro. Bosch dan Castro sebaya dan sama-sama kuliah di Universitas Havana meski beda jurusan. Keduanya berada dalam satu barisan sebagai penentang rezim Fulgencio Batista. “Bosch menjadi pemimpin mahasiswa, dan menjadi oposisi terbuka terhadap kediktatoran Batista. Dia bergabung dengan pasukan pemberontak pada 1958, bertempur dengan orang-orang Che Guevara di provinsi tengah Las Villas,” tulis Nick Caistor dalam Fidel Castro . Namun setelah Batista tumbang dan Castro naik, Bosch berpisah jalan. Bosch memimpin pemberontakan terhadap pemerintahan baru Castro. Setelah pemberontakan yang dipimpinnya dipatahkan, Bosch menyingkir ke Miami pada Juli 1960. Sambil menjadi dokter anak di sana, Bosch membentuk organisasi untuk meneror pemerintahan Castro bernama Cuban Power. Baca juga:  Pesawat Mata-Mata Amerika Ditembak Jatuh di Kuba Pembunuhan dan pengeboman berulangkali dilancarkan Cuban Power baik di AS maupun Kuba. Namun, sebuah upayanya meledakkan kapal Polandia yang menuju Kuba pada 1968 membawa Bosch ke dalam “hotel prodeo”. Alih-alih kapok, Bosch makin "gila" setelah bebas. Saking banyaknya teror yang dilakukannya, pemerintah AS memutuskan untuk menangkapnya. Namun Bosch berhasil melarikan diri ke Venezuela sebelum ditangkap. Di Venezuela, Bosch bekerjasama dengan Posada. Bersama beberapa tokoh eksil lain, keduanya mendirikan Commandos of the United Revolutionary Organizations (CORU) di Republik Dominika pada Juni 1976. CORU merupakan organisasi wadah yang menyatukan kelompok-kelompok anti-Castro ekstrim di luar Kuba. Pendonor utama CORU adalah taipan Pepin Bosch kendati disinyalir tetap ada "rembesan" dana CIA. “Pusat utama terorisme pengasingan yang didukung AS adalah Yayasan Kuba-Amerika (CAF), yang merupakan saluran untuk mendanai aksi teroris yang ditujukan terhadap Kuba,”tulis buku yang dieditori Salim Lamrani, Superpower Principles: US Terrorism Against Cuba . “Orang-orang Kuba yang diasingkan di Amerika Serikat, secara kolektif, mungkin merupakan kelompok teroris paling tahan lama dan paling produktif di dunia.” Dalam rapat pendirian CORU itu pula disusun teror apa saja yang akan dijalankan CORU untuk setahun ke depan. Yang terpenting, CORU merencanakan lebih dari 50 pengeboman terhadap kepentingan Kuba dan negara-negara yang bekerjasama dengannya. Kapal maupun pesawat sipil termasuk ke dalam target yang akan diserang. “Semua pesawat Castro adalah pesawat tempur,” kata Bosch, dikutip Caistor. Oleh karena itulah CORU berkepentingan mendapatkan jadwal penerbangan maskapai penerbangan milik Kuba. Berbekal jadwal itu, CORU melancarkan pengeboman-pengeboman terhadap pesawat sipil Kuba. Pada 9 Juli 1976, bom teroris CORU berhasil meledak di pesawat DC-8 Cubana de Aviacion yang –disewa dari Air Canada; Cubana de Aviacion menyewa tiga pesawat DC-8 saat itu– berada di Kingston, Jamaika. Namun, sasaran CORU yang jauh lebih penting adalah Cubana de Aviacion dengan nomor penerbangan 455. Sebab, pesawat itu mengangkut tim anggar Kuba yang berlaga di kejuaraan anggar regional di Caracas. Berdasarkan jadwal, pesawat bernomor registrasi CU-T1201 itu akan bertolak dari Caracas ke Havana melewati Port Spain (Trinidad and Tobago), Bridgetown (Barbados) dan Kingston (Jamaika). Sesuai manifes penerbangannya, Cubana 455 mengangkut 73 orang yang –terdiri dari 25 kru dan 48 penumpang, termasuk 24 orang anggota tim anggar Kuba beserta pelatih dan pejabat olahraga negeri itu– berkewarganegaraan Kuba, Korea Utara, dan Guyana. Baca juga:  Saat Pesawat Sipil Dihantam Misil Melalui Freddy Lugo dan Hernan Lozano, dua pekerja di perusahaan keamanan milik Posada, CORU berhasil menempatkan dua bom di Cubana de Aviacion 455 –satu di toilet belakang, satu lagi di bagian tengah kabin penumpang– ketika pesawat itu transit di Seawell Airport, Bridgetown. Lugo dan Luzano berhasil naik ke Cubana 455 dari Trinidad and Tobago dan turun ketika pesawat itu transit di Seawell. Sebelas menit setelah Cubana 455 lepas landas dari Seawell, bom pertama meledak hingga menghancurkan kabel pengendali pesawat. Pilot Kapten Wilfredo Perez segera mengontak petugas Air Traffic Control. “Seawell, CU-455, kami meminta pendaratan segera. Kami mengalami keadaan darurat total!” kata Wilfredo sebagaimana dikutip Ann Louise. Namun belum lagi pendaratan darurat itu terwujud, bom kedua meledak. Kabin penumpang bagian tengah pun bolong. Kondisi itu membuat Kapten Wilfredo yakin pesawatnya tidak mungkin lagi menjalani pendaratan darurat. Dia pun mengarahkan pesawatnya menjauh dari pantai menuju Laut Karibia guna menghindari para turis jadi korban. Tak lama kemudian Cubana 455 menghujam laut di jarak delapan kilometer dari Seawell Airport. Seluruh penumpang, termasuk para gadis-atlet anggar yang ingin merayakan kemenangan mereka bersama keluarga, tewas dalam teror pesawat udara sipil petama di dunia itu. “CIA menciptakan dan melepaskan Frankenstein,” kata Peter Kornbluh, kepala proyek independen Arsip Keamanan Nasional Kuba yang bertahun-tahun berupaya membongkar dokumen terkait Posada, mengomentari Posada, sebagaimana dikutip Gisela Salomon dalam artikelnya yang dimuat apnews . com , 24 Mei 2018.

  • Angkringan Punya Cerita

    LANGIT mulai senja. Di sebuah gang yang diapit jajaran bangunan ruko kusam di Jakarta, Dedi (diperankan Dwi Sasono) mendorong gerobaknya sampai ke sebuah kedai tempatnya akan membuka angkringannya. Setelah menyiapkan bangku, meja, dan gerobak angkringan yang jadi “dapurnya” di dalam kedai, ia pun menyibak kain spanduk bertuliskan “Angkringan Arumdalu”. Ia siap menerima pelanggan. Tetapi kala malam tiba, angkringannya masih sepi pembeli. Baru kemudian seorang ibu yang celingukan di ambang pintu muncul. Dedi menyambutnya dan berkenalan. Ibu Ratih (Dayu Wijanto), begitu ia menyebut namanya, minta dibuatkan kopi hitam dengan gula. Ratih jadi teringat mendiang suaminya. Itu jadi kopi pertamanya setelah suaminya meninggal. Dari berkisah basa-basi, Ratih pun tak kuasa mengeluarkan unek-uneknya. Baca juga: Kopi Jawa Bikin Kecanduan Orang Eropa Ratih, pelanggan pertama di angkringan yang mengaku lelah berbohong bahwa hidupnya bahagia (Lifelike Pictures) Begitulah adegan pembuka episode pertama Angkringan the Series garapan sutradara Adriyanto Dewo. Rangkaian skrip yang disajikan lewat enam episode ini berpusar di warung angkringan milik Dedi dengan beraneka drama menyentuh dari pergelutan hidup masyarakat menengah ke bawah. Drama kehidupan yang dialami Ratih, misalnya. Ia berkisah bahwa ia selalu menyajikan kopi hitam manis kepada suaminya yang lalu dinikmati dengan bahagia. Tetapi pada satu titik ia trauma karena ternyata selama ini tak pernah bahagia. Selain sering mengalami KDRT, Ratih juga hidup terbelenggu dan selalu jadi perempuan yang siaga di rumah tanpa punya kebebasan sedikitpun. Baca juga: Potret Perempuan Penyintas 1965 dalam You and I Dedi jadi pendengar yang baik, baik pada Ratih maupun pada pelanggan bernama Tono (Teuku Rifnu Wikana). Tono seorang sopir truk yang diceraikan istri dan dilarang bertemu anaknya gegara kecanduan judi bola. Namun, Dedi tak melulu jadi penjamu yang lemah lembut. Ada kalanya ia emosi bahkan sampai menggebrak meja. Terutama ketika datang sejoli remaja SMA, Amanda (Arawinda Kirana) dan Kevin (Dito Darmawan), yang bertengkar dan bikin gaduh sampai membuat pelanggan-pelanggan lain pergi. Emosi Dedi baru mereda setelah “dicurhati” bahwa Amanda hamil dan berniat aborsi. Kolase para pelanggan angkringan dengan aneka pergulatan hidup (Lifelike Pictures) Dedi juga bisa terenyuh mendengar kepahitan hidup Budi (Morgan Oey) sebagai waria. Budi yang selalu mengalami perlakuan diskriminatif ingin melepas putrinya, Alya (Alleyra Fakhira), ke kampung halaman agar tak lagi jadi korban perundungan teman-temannya. Pun ketika kedatangan gadis misterius (Aurora Ribero) yang baru pulang dari sebuah kontes menyanyi. Dedi tersentuh dengan cerita gadis itu yang ingin bisa terkenal demi mengurangi beban ibunya sebagai orangtua tunggal. Unek-unek maupun curhatan para pelanggan Dedi bukan tanpa arti. Semua kisah itu berkelindan dengan apa yang dirasakan Dedi dan selama ini terpendam di lubuk hatinya. Cerita mereka semua membangkitkan kenangan pahit dan pelajaran kehidupan bagi Dedi yang ditinggal pergi istrinya, Mirna (Kenes Andari), dan putri kecilnya, Ratu (Ersya Nabila). Sudah 12 tahun Dedi kehilangan keduanya dan sejak saat itu setiap malam Dedi tak pernah absen “celingukan” ketika mendengar bus berhenti dan menurunkan penumpangnya di depan warung angkringannya. Ia merasa punya salah kepada anak dan istri sampai mereka meninggalkan Dedi. Bagaimana Dedi menebus dosanya? Saksikan sendiri kelanjutan Angkringan the Series yang ditayangkan secara eksklusif di platform daring Mola TV. Kenyang Drama tanpa Selera Tembok-tembok kusam berpadu furnitur dan peralatan-peralatan lawas membuat kedai angkringan milik tokoh Dedi begitu terasa atmosfer klasiknya. Radio kecil yang tergantung di gerobak angkringannya turut memanjakan telinga penonton dengan tembang-tembang dangdut dan keroncong lawas. Hanya saja, aspek estetisnya “dicederai” tone film yang terbilang monoton. Temaram dari pencahayaan di dalam ruangan kedai dan waktu yang nyaris selalu di malam hari mendominasi. Angkringan the Series juga terlalu berpegangan pada kekuatan drama masing-masing tokoh pelanggan. Pentonton melulu disuguhi pergulatan hidup tanpa disajikan sedikitpun insight atau wawasan tentang angkringan itu sendiri. Memang tema kuliner bukan jadi fokusnya, kendati meminjam tajuk “angkringan”. Namun hal itu justru membuat beragam makanan dan minuman yang disajikan sekadar pelengkap tiada arti. Cara meracik hidangan Dedi saat menghidangkan kopi joss, sekoteng, internet (mie instan dengan telur dan kornet), hingga nasi goreng pun seperti ditampilkan apa adanya. Padahal setiap sajian lazimnya punya arti, sejarah, atau falsafah tersendiri. Sebagaimana yang disuguhkan film drama bertema kuliner lain, Tabula Rasa (2014), misalnya, yang juga digarap rumah produksi dan sutradara yang sama. Selain sarat drama, Tabula Rasa mengguggah selera dan juga membuka cakrawala pengetahuan penonton bahwa setiap hidangan yang disajikan di sebuah rumah makan Padang selalu mengandung makna tersendiri. Baca juga: Tabula Rasa yang Menggugah Selera Set Angkringan the Series  yang didominasi tone temaram (Lifelike Pictures) Angkringan dari Klaten, Kopi Joss dari Yogya Dalam film ini, angkringan yang ditampilkan tidak seperti angkringan pada umumnya yang kondang di Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, atau di Jabodetabek. Ia berupa warung di sebuah bangunan dengan gerobak di dalam ruangan sebagai satu-satunya penanda ia adalah angkringan. Sajian-sajiannya juga cenderung seperti warung kopi modern. Selain ada kopi joss, Dedi sang tokoh juga menjual sekoteng dan nasi goreng. Kedua menu itu tak umum didapati di angkringan. “Sego kucing” atau nasi kucing yang menjadi ciri khas angkringan justru sama sekali tak ditampilkan. Padahal, menilik sejarahnya, angkringan bermula dari pikulan, bukan gerobak. Diyakini dua inisiator “Desa Cikal Bakal Angkringan”, Suwarna dan Gunadi, di laman resmi pemprov Jawa Tengah 27 Februari 2020, angkringan dimulai dari penjual makanan asal Desa Ngerangan, Klaten yang menjajakan dagangannya menggunakan pikulan pada zaman pendudukan Jepang. Saat itu belum disebut “angkringan”, melainkan “hik” karena dijajakan dengan meneriakkan “hiyek”. Karena itulah pada Februari 2020 Desa Ngerangan ditetapkan sebagai desa cikal-bakal angkringan. “Sejarah angkringan memang bermula dari upaya menaklukkan kemiskinan usaha, konon dimulai di Klaten. Awalnya pedagang minuman dan makanan kecil menggunakan pikulan. Dahulu mereka disebut pedagang hik. Nama hik bermula pada tradisi malam selikuran di Keraton Surakarta,” tulis Noor Fajar Asa dalam Serpihan yang Menerangi. Baca juga: Bisnis Ikan Berkumis Angkringan yang masih mempertahankan pikulan ( visitingjogja.com ) Para pedagang hik menjajakan makanan khas “wong cilik”. Di antaranya terikan, jadah atau ketan bakar, singkong, kacang, getuk, dan aneka sate. Nasi kucing –disebut demikian karena porsi nasinya yang sedikit seperti untuk makan kucing–dengan lauk ikan asin atau oseng tempe baru mulai menggeser “kedudukan” terikan kala para pedagang itu mulai merambah Yogyakarta. Di Yogyakartalah sebutan angkringan muncul pada 1950-an dan alat menjajakan dagangan mengalami perubahan dari pikulan menjadi gerobak. Lazimnya, gerobak-gerobak angkringan berada di pinggir jalan ramai. Untuk mengundang lebih banyak pembeli, biasanya pedagang angkringan juga menggelar tikar atau terpal di trotoar agar pelanggannya bisa lebih santai dengan duduk lesehan. Baca juga: Satu Nusa Soto Bangsa Lama-kelamaan, hal-hal khas angkringan itu membuka ruang bagi para pembelinya untuk tidak sekadar mendapat makanan atau minuman murah sambil melepas penat, tapi juga tempat bercengkerama dan mengeluarkan unek-unek seperti halnya warung kopi (warkop). Bukan lagi hanya obrolan “ ngalor-ngidul ” tanpa juntrungan yang jadi bahan obrolan para pelanggan, olahraga sampai politik pun kemudian ikut diobrolkan. Terlebih di angkringan-angkringan yang berlokasi dekat kampus. “Karena istilah angkringan dari bahasa Jawa, ngangkring , artinya hinggap untuk sementara. Dahulu angkringan jadi tempat mengisi waktu, bukan untuk makan yang sebenarnya. Yang datang berkunjung adalah para pekerja yang bekerja malam pulang pagi atau pedagang pasar yang selesai berdagang di pagi hari. Angkringan juga menjadi tempat para seniman mencari ilham, juga karena suasananya yang romantis jadi pilihan bagi mereka yang berkencan,” ungkap Murdijati Gardjito, dkk dalam Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa. Angkringan mulai populer di Jogja ( pariwisata.jogjakota.go.id ) Baru pada era 1990-an ketika Yogya makin ramai sebagai destinasi wisata, angkringan merambah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan Jakarta. Di angkr i ngan pula kopi joss bermula, yakni di Angkringan Lik Man yang terletak di sisi utara Stasiun Tugu. Berbeda dari angkringan lain, Angkringan Lik Man mempertahankan tradisi berjualan dengan pikulan walau letaknya ada di dalam tenda dan turut menggelar lapak. Ciri khas itu dipertahankan Lik Man sang pemilik yang memang berasal dari Klaten. “Mahasiswa, wartawan, seniman, sampai preman dan waria sudah sangat akrab dengan angkringan yang berdiri sejak 1968 itu. Awalnya berjualan di selatan Stasiun Tugu tapi kemudian pindah ke utara stasiun. Angkringannya menempel tembok pagar pembatas area Stasiun Tugu di Trotoar Jalan Wongsodirjan,” tulis Syafaruddin Murbawono dalam Monggo Mampir: Mengudap Rasa Secara Jogja.  “Kopi Joss” merupakan istilah yang digunakan untuk menamakan minuman kopi hitam yang dicampur arang yang masih membara hingga menimbulkan suara “jossss”. Kopi “buatan” Lik Man itu kemudian ditiru angkringan-angkringan lain di luar Yogya. “Kopi joss berasal dari kopi curah yang masih kasar. Kopi yang sudah dibuat itu lalu dicemplungi potongan arang membara yang dipungut dari tungku. Ada juga teh ‘nasgithel’ (panas, legi , kenthel ). Dua gagrak minuman ini bisa membikin tubuh seger sumyah . Kesegaran dan kehangatan yang timbul berkat menyesap kopi (joss) dan thel (nasgithel),” tandas Syafaruddin. Baca juga: Menusuk Sejarah Sate Kopi Joss yang bermula dari Angkringan Lik Man ( visitingjogja.com/@briandsumito ) Deskripsi Film: Judul: Angkringan the Series | Sutradara: Adriyanto Dewo | Produser: Sheila Timothy | Pemain: Dwi Sasono, Dayu Wijanto, Teuku Rifnu Wikana, Arawinda Kirana, Dito Darmawan, Morgan Oey, Alleyra Fakhira, Aurora Ribero, Kenes Andari, Zack Lee, Ersya Nabila | Produksi: Lifelike Pictures | Genre: Drama | Durasi: 17-25 menit/6 episode | Rilis: 21 April 2021 (Mola TV)

  • Pagi Mencekam di Kediaman D.I. Pandjaitan

    KEBAYORAN, 1 Oktober 1965. Deru suara panser memecah keheningan dini hari itu. Letkol Herman Sarens Sudiro bersama enam anak buahnya memacu kendaraan lapis baja jenis Saracen. Berdasarkan keterangan dari perwira kavaleri bernama Letkol Trihardjo, telah terjadi keributan di Jalan Hasanudin 53. Lokasi itu tidak lain merupakan kediaman Brigjen D.I. Pandjaitan, asisten IV/Logistik Menteri Panglima Angkatan Darat. “Trihardjo dari SUAD meminta panser dengan alasan untuk mengusir garong dari rumah D.I. Pandjaitan,” kata Herman dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir . Ada dua panser Saracen yang memang diparkir di rumah Herman. Perintah agar panser itu berada di rumah Herman berasal dari Brigjen Muskita, wakil Asisten II Menpangad. Saat itu, Herman menjabat sebagai kepala Biro Hubungan Antar Angkatan dan Kesiapsiagaan SUAD II. Dia bertanggung jawab atas pengawasan dan patroli Markas Besar AD.    Berangkat dari kediamannya di Jalan Daksa, Herman tiba di tujuan menjelang fajar menyingsing. Setibanya di rumah Pandjaitan, panser berhenti. Herman meloncat turun sambil mendekap senjata G-3 Getmi dalam kondisi siap menyalak. Pintu gerbang halaman masih terkunci, tetapi kaca-kaca jendela pecah berantakan. Suasana rumah terlihat ganjil dan mengundang rasa curiga. Dalam buku Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam  disebutkan,  Herman Sarens langsung masuk dan menemui istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan, di lantai atas. Namun, Marieke masih dalam kondisi terpukul dan trauma melihat tentara berseragam. Nyonya Panjaitan itupun mengusir Herman Sarens dari rumahnya. Menurut anak-anak Pandjaitan, suasana rumah mereka benar-benar sangat mencekam. Genangan darah, bercak-bercak, dan lubang peluru tampak di mana-mana. Perabot-perabot rumah berantakan dan serpihan lampu berserakan. Demikian pula lukisan, berlubang-lubang terkena tembakan. Ketika berada di pintu halaman, Herman berpapasan dengan Brigjen Junus Samosir, wakil Asisten I Menpangad. Samosir yang merupakan sahabat Pandjaitan itu tidak menyangka Herman Sarens yang datang. Mereka saling menyapa. Dari keterangan yang diperoleh dari keluarga Pandjaitan, Herman memperoleh informasi bahwa Pandjaitan diculik oleh pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa. Persisnya, seperti disebut Aco Manafe dalam Teperpu: Mengungkap Pengkhianatan PKI pada Tahun 1965 dan Proses Hukum bagi Para Pelakunya , pasukan yang bertugas menculik Pandjaitan sebanyak satu peleton pimpinan Serda Soekardjo dari Batalion 454 Banteng Raiders Diponegoro. Pasukan ini terdiri dari 1 regu Batalion 454, 1 regu Brigade Infantri Jaya Sakti, dan sekelompok sukarelawan Pemuda Rakyat. Keadaan kacau yang ditimbulkan pasukan itu memaksa Katherin, putri sulung Pandjaitan, berupaya mencari pertolongan. Mulanya, dia menuju rumah Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar 43. Setiba di sana, rumah Pak Nas tampak ramai. Orang-orang sekitar mengatakan Jenderal Nasution diculik. Katherin kemudian bergegas ke rumah bapak tuanya (abang dari D.I.Pandjaitan) Samuel Pandjaitan dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Ketika hari sudah terang, banyak orang berdatangan ke rumah Pandjaitan. Beberapa di antara yang datang adalah pejabat dan perwira TNI. Anak-anak Pandjaitan masih menangis dan kebingungan.  “Saya sudah siuman dan menangis ketika Katherin datang, tetapi pingsan lagi. Masa, adik Katherin, juga pingsan,” tutur Marieke dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah mengamati keadaan di rumah Pandjaitan, Herman Sarens kembali ke pansernya. Herman sedianya hendak melapor kepada atasannya, Asisten II/Operasi Menpangad Mayjen Djamin Gintings. Namun, Gintings belum pulang dari Medan dalam rangka menyertai kunjungan Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. Maka, satu-satunya tujuan Herman untuk melapor ialah wakil Gintings, Brigjen Muskita. Panser Saracen itu pun melaju ke kediaman Muskita di Jalan Mangunsarkoro. Kelak, kata Herman, “Pada waktu penumpasan Gerakan 30 September 1965, panser yang ada di rumah saya, saya gunakan untuk menggebuk orang-orang PKI.”*

  • Petualangan Gereget Pria Berusia 100 Tahun

    SUATU pagi di panti jompo di Malmköping, Swedia. Allan Karlsson (diperankan Robert Gustafsson) menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Ia masih meratapi Molotov, kucing kesayangannya yang mati diterkam rubah. Balas dendam Allan dengan memasang jebakan dinamit yang menewaskan rubah itu tetap tak membuatnya tenang. Di hari itu, Allan genap berusia 100 tahun. Tubuhnya memang renta namun nyatanya semangat hidupnya masih bergejolak sebagaimana pengalamannya di masa muda. Maka ketika mengintip seorang bocah yang main petasan di halaman gereja di seberang panti, Allan membuat keputusan besar terakhir dalam hidupnya. Dengan hati-hati, Allan mendekatkan sebuah kursi sebagai pijakan kaki. Lantas ia memanjatnya dan keluar dari jendela panti. Staf panti yang sibuk menyiapkan pesta ulangtahun pun syok mendapati Allan hilang dari kamarnya. Baca juga: The Vanishing , Misteri Hilangnya Penjaga Mercusuar Namun hilangnya Allan itu sekadar plot pembuka film komedi garapan sineas Felix Herngren bertajuk Hundraåringen Som Klev ut Genom Fönstret och Försvann ( The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared ). Film ini dialihwahanakan dari komik novel bertajuk serupa karya Pär-Ola Jonas Jonasson (2009). Apa yang terjadi dengan Allan sang protagonis lantas menimbulkan banyak kejadian kocak. Dimulai dari Allan bertemu Bulten (Simon Säppenen), anggota geng Never Again, di terminal bus Malmköping. Allan yang dititipkan sebuah koper malah tanpa sadar membawanya sampai ke Desa Byringe, tempat Allan berkenalan lansia Julius Jonsson (Iwar Wiklander). Kolase rantai kejadian konyol sang protagonis usai kabur dari panti jompo (Music Box Films) Keesokannya, Allan diburu Bulten lantaran koper itu berisi uang 50 juta krona. Tapi kemudian Allan memukulnya sampai pingsan dengan tongkat kroket. Dengan konyolnya, Julius menyekap Bulten di lemari pendingin hingga tewas gegara Julius lupa mematikan mesin pendingin. Bulten ternyata adalah anak buah bos geng Per Gunnar Gäddan (Jens Hultén). Uang tadi mestinya dibawa Bulten ke Gäddan untuk kemudian dikirim ke Pim (Alan Ford), seorang bos besar yang sedang liburan di Bali, Indonesia. Baca juga: Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim Sadar sedang diburu, Allan dan Julius kabur ke Åkers Styckebruck, kemudian Sjötorp. Mereka menumpang mobil mahasiswa bernama Benny (David Wiberg) hingga numpang bermalam di vila milik gadis bernama Gunilla (Mia Skäringer). Inspektur polisi Aronsson (Ralph Carlsson) mendalami kasus hilangnya Allan dari panti jompo. Polisi tua itu justru jadi kelimpungan lantaran kasus itu berkelindan dengan geng kriminal. Pesona Bali turut ditampilkan sebagai latar belakang beberapa adegannya (Music Box Films) Dalam petualangannya yang sarat teriakan dan ledakan, Allan teringat kembali pada masa kecil hingga dewasanya yang penuh warna dengan alur cerita maju-mundur. Allan sejak usia 10 tahun sudah jadi anak yatim. Ayahnya yang menciptakan kondom, tewas di Moskow, Rusia. Hobinya yang meracik dinamit dan sempat menewaskan seorang pria membuatnya harus mendekam di rumahsakit jiwa. Di usia muda, Allan berkenalan dengan Esteban (Manuel Dubra) asal Spanyol yang merupakan pekerja di pabrik senjata dan aktivis sayap kiri penentang Diktator fasis Francisco Franco (Koldo Losada). Itu jadi pintu masuk petualangan Allan berikutnya, yakni ikut Perang Saudara Spanyol. Bergabung di Brigadas Internacionales, ia bertugas sebagai perakit bom. Tetapi di Spanyol, Allan justru dijadikan sahabat dan dihadiahi pistol mewah oleh Franco usai menyelamatkan sang generalissimo . Baca juga: Politik Dua Kaki Francisco Franco Pistol itu lantas ia jual untuk modal berlayar ke Amerika. Tak disangka, hobi Allan terhadap bahan peledak membuatnya dirangkul J. Robbert Oppenheimer, ilmuwan dan pemimpin Manhattan Project, dalam penilitian bom atom. Kiprah itu pula yang membuat fisikawan Uni Soviet Jurij Popov (Georg Nikoloff) membujuknya menyeberang ke Kremlin dan bertemu kamerad Josef Stalin (Algirdas Paulavicius) yang “ngebet” membuat program nuklir. Tetapi gara-gara Allan menyebut pernah menyelamatkan Franco, Stalin marah dan mengirim Allan ke gulag. Di kamp itulah Allan bertemu Herbert Einstein (David Schackleton), saudara kembar fisikawan Albert Einstein. Meski idiot, Herbert berjasa membantu Allan meloloskan diri dari gulag. Apa yang dialami Allan muda setelah kabur dan bagaimana Allan di usia renta meloloskan diri dari kejaran anggota geng dan polisi? Baiknya Anda saksikan sendiri kelanjutannya di platform daring Mola TV . Petualangan masa lalu sang protagonis dari Perang Saudara Spanyol sampai gulag di Uni Soviet (Music Box Films) Kocak dan Absurd Sedikit banyak, The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared bisa dibilang mirip drama komedi sohor Forrest Gump (1994) yang alurnya maju-mundur dan kisah fiktifnya “ditaburi” dengan beberapa tokoh nyata yang mempengaruhi dunia. Adegan-adegan kocak nan absurd yang dikemas dengan tone film yang cukup dinamis bertaburan. Tone film di kehidupan tua Allan yang dibuat cerah kontras dengan beberapa adegan masa lalunya yang kelam, terutama saat ia bertemu beberapa tokoh ternama macam Franco dan Stalin. Dinamika itu disempurnakan dengan music scoring komikal. Pembeda signifikan substansi komedi ini dengan Forrest Gump adalah obsesi dan kegemaran sang protagonis. Jika tokoh Forrest terobsesi untuk terus berlari, Allan terobsesi dengan bahan peledak. Tetapi secara teknis, Forrest Gump masih lebih baik dari The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared . Hal ini perhatian beberapa kritikus. Salah satunya Josh Kupecki, yang mengulasnya dalam kolom di Austin Chronicle , 5 Juni 2015. Sineas dan tim produksi, menurutnya, kurang berhasil menjahit peralihan cerita di masa tua dan masa lalu sang protagonis. “Walau menampilkan komedi yang menyegarkan, sejujurnya yang disajikan versi novel masih lebih baik dalam hal tensi dalam ceritanya. Versi filmnya juga terasa seperti dua film berbeda. Dua ceritanya dijahit bersamaan seperti monster Frankenstein,” tulis Kupecki. Baca juga: Petualangan Sonic the Hedgehog sang Landak Super Melawan Lupa dengan Tawa The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared diangkat dari komik novel bertajuk sama karya Jonas Jonasson. Dikatakan “komik novel” karena merupakan perpaduan pemikiran dan pengalaman sang penulis tapi didominasi satir dan komedi absurd fiktif. Beberapa cerita dalam novel pernah dialami Jonasson. Di antaranya, dendamnya pada seekor rubah. Di kediamannya di Pulau Gotland, ayam-ayam yang ia pelihara seringkali jadi mangsa rubah. Juga ketika seorang temannya terkena labrakan seorang tetangga gegara suatu hal yang dianggap mengganggu lingkungan permukiman. “Gagasan sentral bukunya lahir dari pengalaman nyata. Teman saya kesal karena tetangganya protes keras terhadap sesuatu yang dibuat teman saya di pekarangannya sendiri. Kami pun membalasnya dengan membuat sesuatu untuk menghalangi view depan rumahnya. Kami membalas dendam dengan cara lain sebagai terapi,” kata Jonasson kepada I News , 21 Mei 2021. Baca juga: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Pengalaman lainnya adalah saat Jonasson menjadi jurnalis, pernah suatu ketika di sebuah stasiun kereta dia harus ke toilet. Jonasson mesti menitipkan kopernya pada seorang lansia karena tak muat dibawa masuk ke toilet. Lansia itulah yang kemudian diracik Jonasson menjadi karakter Allan Karlsson. Karakter Allan dibuat sebagai sosok yang tak peduli politik. Karakternya cenderung menggambarkan pemerintahan Swedia dan mayoritas masyarakatnya yang bersikap netral terhadap beragam konflik internasional dari Perang Dunia hingga Perang Dingin. Kolase pertemuan sang protagonis dengan Francisco Franco, J. Robbert Oppenheimer, Josef Stalin, dan Presiden Ronald Reagan (Music Box Films) Karakter Allan juga digambarkan menggemari bahan peledak yang intim dengan peperangan, tapi pada akhirnya berusaha memperbaiki segala kekacauan yang ia timbulkan. Ibarat Alfred Nobel sang penemu teknologi peledak –seperti dinamit dan detonator– asal Swedia yang mesti menuliskan wasiat –meminta keluarganya menyumbangkan 94 persen kekayaannya untuk mendirikan Yayasan perdamaian Nobelpriset (Penghargaan Nobel Perdamaian) pada 1895– sebagai bentuk “penebusan” dosanya”. “Keuntungan (harta) harus diinvestasikan dengan keamanan dan harus dilimpahkan untuk sebuah yayasan yang rutin per tahun didistribusikan dalam bentuk hadiah penghargaan kepada mereka yang berjasa bagi umat manusia…” demikian bunyi potongan surat wasiat Dr. Nobel sebagaimana dikutip Agneta Levinovitz dan Nils Ringertz dalam The Nobel Prize: The First 100 Years. Baca juga: Oslo dan Perdamaian Israel-Palestina Sementara, apa yang dialami Jonasson pada awal 1990-an begitu cepat berubah. Sebagai jurnalis, ia mengalami situasi dunia yang begitu cepat berubah pasca-jatuhnya Tembok Berlin. “Dulu saya seorang reporter dan kemudian pemimpin departemen di Smalandposten dan Expressen . Saya resign pertengahan 1990-an karena tantangan pekerjaan mulai hilang. Di hari terakhir masa kerja setelah perpisahan, saya naik satu lift dengan asisten manajer dan dia menawari pekerjaan sebagai konsultan media di Polandia, Estonia, dan Latvia. Uni Soviet baru kolaps dan membuka pers yang lebih bebas. Jadi saya hanya menganggur selama 25 detik,” kenang penulis berusia 60 tahun itu kepada Hannoversche Allgemeine Zeitung , 4 Agustus 2016. Pär-Ola Jonas Jonasson dan karya pertamanya ( jonasjonasson.com ) Beraneka satir dan humor absurd dalam cerita yang diramu Jonasson ternyata bukan hal irasional dan dilebih-lebihkan. Setidaknya buat dia. “Tidak ada yang percaya kenyataan itu. Contohnya salah satu tetangga saya yang tak hanya beternak ayam tapi juga membuat arena gokar dan membangun museum tentang Pulau Gotland. Dia punya gelar doktor di bidang bisnis. Dia juga jadi komposer musik klasik dan jadi pengajar judo. Jika saya masukkan ini dalam sebuah karakter di novel, semua orang akan berpikir saya gila,” imbuhnya. Baca juga: Kematian Stalin dalam Banyolan Terakhir, satir dan komedi yang dikaitkan dengan banyak kejadian dan tokoh-tokoh dunia diracik Jonasson bukan tanpa alasan. Ia ingin pembacanya mengingat masa lalu dengan humor. Harapannya memang klise, yakni agar pembaca sadar bahwa sejarah kelam yang mengikuti para tokoh itu tak terulang. “Saya memasukkan itu untuk melawan lupa dan pembaca teringat akan kejadian-kejadian tragis di abad ke-20. Bukunya terjual puluhan juta kopi tapi dunia belum jadi tempat yang lebih baik. Kita masih lupa dengan yang terjadi di era 1930-an. Saya merangkumnya dengan humor walau terjadi pro dan kontra. Walau bagi saya humor mestinya menyelamatkan kita dari dogma dan tirani,” tandas Jonasson yang komik novelnya terjual puluhan juta kopi dan diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa itu. Deskripsi Film: Judul: Hundraåringen Som Klev ut Genom Fönstret och Försvann ( The 100 Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared ) | Sutradara: Felix Herngren | Pemain: Robert Gustaffson, Iwar Wiklander, Mia Skäringer, Jens Hultén, David Wiberg, Alan Ford, Georg Nikoloff, Koldo Losada, Bianca Cruzeiro, Algirdas Paulavicius | Produser: Felix Herngren, Hans Ingemansson, Jonas Jonasson | Produksi: Buena Vista International, NICE FLX Pictures, Nordsvensk Filmunderhallning| Distributor: Walt Disney Studios, Motion Pictures, StudioCanal |Genre: Komedi | Durasi: 112 menit | Rilis: 25 Desember 2015, Mola TV

  • Hoegeng, Pensiunan Kapolri jadi Seniman

    SESOSOK manusia silver terjaring razia oleh Satpol PP kota Semarang dalam operasi yustisia. Usut punya usut, ternyata yang ditangkap seorang mantan polisi bernama Aipda Agus Dartono. Dalam pengakuannya, Agus mengaku terpaksa menjalani pekerjaan seniman jalanan itu lantaran gaji pensiunannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. “Saya jalan nggak punya uang, nggak punya duit, kemudian dapat uang (jadi manusia silver) dua puluh ribu, dipegang Satpol PP. Saya bilang bekas anggota polisi, pensiunan polisi,” ujar Agus Dartono sebagaimana dilansir detik.com. Terakhir, Agus berdinas di satuan lalu lintas (satlantas). Agus Dartono akhirnya dilepas usai dibina Satpol PP. Kasus ini sempat viral di berbagai media daring dan membuat iba sejumlah pihak. Kapolrestabes Semarang kabarnya menawarkan pekerjaan agar Agus tidak lagi mengamen ke jalan.

  • Balada Jenderal Tahi

    Selesai berdinas di Moskow sebagai duta besar, Mayor Jenderal Mochamad Jasin dapat tugas baru. Ia diangkat Pejabat Presiden Jenderal Soeharto sebagai panglima Kodam VII Brawijaya yang membawahi wilayah operasi Jawa Timur. Pengangkatan itu menjadi cara yang diambil Soeharto untuk melenyapkan pengaruh Sukarno di Jawa Timur. “Akar-akar paham Orde Lama dan kultus individu masih kuat di masyarakat. Dan ini menjadi tantangan yang harus saya hadapi,” tutur Jasin dalam memoarnya M. Jasin: Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto. Jasin memang tipikal perwira tegas. Waktu jadi panglima Kodam di Aceh, dia berhasil memadamkam pemberontakan pimpinan Daud Beureuh. Pada 15 April 1967, Jasin mengadakan serah terima jabatan panglima Brawijaya dengan Mayor Jenderal Soemitro. Baca juga:  Tamparan Jenderal Mitro Setelah menjabat panglima Brawijaya, Jasin menggebrak Jawa Timur dengan serangkaian kebijakan radikal. Orang-orang PKI ditangkapi, terutama di daerah Blitar Selatan. Sejumlah pejabat pemerintah yang dicurigai “Sukarnois” masuk target “pembersihan”. Selain itu, Jasin juga menindak mereka yang berafiliasi dengan PNI kubu Ali Sastroamidjojo-Surachman (PNI-ASU). Kebijakan Jasin menuai pro-kontra di mana-mana. Namun yang paling serius, ketegangan terjadi antara Angkatan Darat dengan Korps Komando (KKO) AL. Panglima KKO Letjen Hartono dikenal sebagai pendukung setia Sukarno. Bukti loyalitas Hartono ini kemudian melahirkan semboyan “ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Putih kata Bung Karno, putih kata KKO.” KKO tentu geram dengan langkah-langkah yang ditempuh Jasin dalam “operasi desukarnoisasi” sekaligus meng-Orde Baru-kan Jawa Timur. Hingga suatu ketika pada pertengahan 1967, pasukan KKO nekat mengumpat Jasin sewaktu mengawal beberapa truk yang membawa mayat seorang anggota PNI-ASU. Ketika melewati rumah Jasin di Jalan Darmo No. 100 Surabaya, prajurit KKO itu melontarkan cemoohan kepada Jasin. Baca juga:  Ketika PNI Terbelah “ Panglima Jenderal Jasin Tahi! Panglima Jenderal Jasin Tahi! ” begitu bunyi yel-yel umpatan para anggota KKO itu yang ditujukan kepada Jasin.   Jasin langsung keluar dari rumahnya begitu mendengar teriakan itu. Meski menyulut emosi, Jasin mencegah pasukan pengawalnya yang ingin bertindak. Kabar penghinaan itu sampai kepada bawahan Jasin, yakni Komandan Korem Kolonel Acub Zainal. Mengetahui panglimanya dihina, Acub tidak terima.   “Dasar saya sebagai bawahan, Pak Jasin sebagai Panglima saya. Jadi buat saya, kalau ada orang luar yang menghina atasan saya, jiwa saya berontak. Dan ini menyangkut soal Sumpah Prajurit,” kata Acub dalam biografi Acub Zainal: I Love The Army karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Baca juga:  AURI Ingin Membom Markas Kostrad? Acub Zainal, dalam biografinya mengakui sudah menyiapkan pasukan untuk menyerang markas KKO. Namun, sebelum pasukan itu digerakkan, Jasin terlebih dahulu ingin menghadapi langsung para petinggi Angkatan Laut di Surabaya. “Jasin segera bisa menyelesaikan masalah ini lewat diplomasi,” kata Acub. Keesokan harinya, Jasin mengundang panglima AL, panglima Armada, komandan AL, dan KKO. Dalam pertemuan itu, Jasin memperkarakan peristiwa penghinaan oleh pasukan KKO yang ditujukan kepada dirinya selaku panglima Brawijaya. Jasin memperingatkan, apabila terjadi lagi, komandan Brigade dan komandan Koremnya akan mengambil tindakan. Menurut Jasin, perang dingin antara AD dan KKO mulai berakhir setelah terjadi saling pengertian dengan Panglima Daerah Maritim V Laksamana Laut Suyatno. Perwita tinggi dari dua matra yang berbeda ini sama-sama setuju untuk memenangkan Orde Baru di Jawa Timur. “Kami juga bersepakat untuk menghantam kelompok yang berusaha mengembalikan Sukarno ke posisi semula,” ungkap Jasin dalam memoarnya. Baca juga:  Para Panglima Pendukung Orba Dengan adanya kesepahaman tersebut, keadaan di Surabaya relatif agak tenang. Perbedaan pendapat dapat diselesaikan tanpa harus memakan korban. Jasin pun diakui sebagai salah satu jenderal yang berjasa dalam memancangkan tonggak kekuasaan rezim Orde Baru. Namun, seiring waktu, Jasin bersimpang jalan dengan Soeharto. Bersama kelompok oposisi Petisi 50, Jasin mulai kritis menyoroti penyimpangan kekuasaan dan korupsi yang dilakukan pemerintahan Soeharto. Aktivitas Jasin dalam Petisi 50 menyebabkan hidupnya, termasuk keluarga, dipersulit. Pemerintah mencekal Jasin hingga rezim Orde Baru akhirnya tumbang pada Mei 1998. “Saya yang ikut mendirikan Orde Baru, tapi karena koreksi-koreksi yang saya lakukan terhadap Orde Baru, kemudian saya disebut sebagai ‘pengkhianat’ Orde Baru,” kenang Jasin. Baca juga:  Jasin, Jenderal Penantang Soeharto

  • Jimmy Greaves Sang Predator Gol

    PARA pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea mengelilingi lingkaran tengah lapangan. Sekira 60 ribu penonton juga berdiri dari tempat duduk mereka. Setelah layar besar Stadion White Hart Lane, markas Spurs, menampilkan foto pemain legendaris Jimmy Greaves, gemuruh aplaus penonton mengikuti selama satu menit jelang kick off derby  London di matchday kelima Premier League, Minggu petang (19/9/2021). Penghormatan itu diberikan kedua tim rival sekota itu untuk mengenang Greaves yang wafat pada Minggu paginya di usia 81 tahun. Greaves wafat dalam tidurnya di kediamannya di Essex, Inggris, karena kesehatannya yang terus menurun. Sejak 2015, mendiang Graves menderita stroke yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Chelsea dan Spurs adalah dua klub yang punya sejarah bagi Graves semasa hidupnya. Di Chelsea, Greaves memulai debut profesionalnya dan di Spurs, ia menorehkan namanya sebagai salah satu juru gol tersubur di masanya dengan membukukan 220 gol dalam 321 penampilan. “Jimmy adalah pemain dan pencetak gol luar biasa dan seorang legenda untuk klub dan negara ini. Sungguh mengerikan untuk membayangkan betapa hebatnya dia sebagai pemain. Bagi seseorang seperti saya melihat jumlah golnya dan mungkin suatu hari saya bisa memecahkan rekornya akan sangat hebat,” kata Harry Kane, kapten Spurs yang kini baru mengumpulkan 166 gol, dilansir Sky Sports , Senin (20/9/2021). Baca juga: Obituari: Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller Bukan hanya Chelsea, Spurs, dan segenap insan sepakbola Inggris yang merasa kehilangan. Tim AC Milan di Italia pun turut berduka. Walau hanya semusim, Greaves turut mengantar Rossoneri (julukan AC Milan) memenangi Serie A pada 1961-1962. “Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas meninggalnya mantan pemain kami Jimmy Greaves. Hati dan simpati kami bersama teman, kerabat, dan keluarga tercinta yang tengah berduka. Walau kebersamaan kami tidak panjang, kami akan mengenangnya selamanya. Selamat jalan, Jimmy,” tulis manajemen klub di akun Twitter -nya, @acmilan , Minggu (19/9/2021). Tribute para pemain Tottenham Hotspur dan Chelsea untuk mendiang Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Tujuh Gol Dilahirkan di Manor Park, Essex, pada 20 Februari 1940, James Peter Greaves merupakan satu dari tiga bersaudara anak pasangan Jim dan Mary Greaves. Jim seorang pegawai kereta bawah tanah dan Mary ibu rumah tangga. Greaves kecil dan keluarganya harus beberapa kali pindah tempat tinggal karena serangan-serangan udara Jerman di masa Perang Dunia II. “Enam pekan setelah saya lahir pesawat-pesawat pembom (Adolf) Hitler mengunjungi jalan-jalan tempat tinggal kami. Lalu kami pindah ke Ivy House Road, Dagenham sampai saya berusia 10 tahun. Jendela rumah kami tetap harus ditutupi kertas menyilang demi menghindari pembom-pembom Jerman,” kenang Greaves dalam otobiografinya, Greavsie. Baca juga: Obituari: Gordon Banks Sang Penyelamat Bagi anak-anak miskin seusia Greaves saat itu, hiburan yang bisa diminati hanya sepakbola dan kriket. Greaves lebih tertarik pada sepakbola karena pamannya mantan pesepakbola walau gagal mencapai prestasi terbaik. “Paman saya pemain yang sangat berbakat dan pernah ditawari trial oleh West Ham United. Sayangnya kemudian ia mengalami cedera yang mengakhiri kariernya. Saya sendiri gila sepakbola. Saya bisa berjam-jam menendang bola tenis di halaman belakang. Bersama teman-teman di Ivy House Road, kami biasa bermain di jalanan dengan bola tenis itu sampai bolanya botak,” imbuhnya. Kolase Jimmy Greaves kecil (Twitter @Neiltruechels) Di usia 10 tahun, Greaves harus pindah ke Huntsman Road di Hainault, sebuah distrik di timur laut London, karena ayahnya dimutasi. Selama lima tahun berikutnya Greaves bermain di level sekolah. Jelang lulus, ayahnya dibantu seorang teman menyiapkan pekerjaan sebagai penyusun huruf mesin cetak di suratkabar The Times buat Greaves . Namun “semesta” punya rencana lain bagi Greaves. Di saat yang sama pada medio 1955 itu, seorang pemandu bakat Chelsea FC, Jimmy Thompson, mendatangi rumahnya. Thompson terkesan dengan bakat Greaves dan ingin menyalurkannya ke tim muda Chelsea. “Jimmy Thompson kemudian mengundang Jimmy (Greaves) dan ayahnya untuk minum teh di Strand Palace Hotel. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Jimmy menandatangani surat-surat kontrak dengan Chelsea walau ayahnya keberatan,” tulis Colin Shindler dalam Four Lions: The Lives and Times of Four Captains of England. Baca juga: Obituari: Jack Charlton yang Acap Bikin Kiper Berang Greaves yang digaji tiga poundsterling per pekan dan tunjangan akomodasi dua pounds tak langsung masuk tim utama asuhan Ted Drake. Drake baru mengetahui talenta Greaves setelah Greaves enam bulan tampil di tim yunior The Blues (julukan Chelsea). Itupun gara-gara Greaves mencetak tujuh gol di sebuah pertandingan di kompetisi South East Counties League. Dalam semusim itu, Greaves punya koleksi 122 gol. Greaves mengenang bagaimana percakapan mereka di sebuah lahan kecil latihan di belakang gawang Stadion Stamford Bridge pada suatu Senin pagi di tengah musim 1956-1957. “Saya dengar kamu mencetak tujuh gol Sabtu lalu, nak,” kata Drake. “Ya, Tuan Drake,” jawab Greaves. “Apa kamu tahu Aku pernah mencetak tujuh gol juga, nak?” “Ya, Tuan Drake. Semua orang tahu tentang tujuh gol Anda di Villa (Aston Villa 7-1 Arsenal, Desember 1953, red. ).” “Mencetak tujuh gol dalam satu laga adalah kejadian yang sangat, sangat langka. Kenanglah, nak. Kenanglah selamanya. Kamu akan selalu punya kenangan terhebat untuk diingat kembali di masa depan,” kata Drake sambil menepuk pundak Greaves. Chelsea jadi klub profesional pertama Jimmy Greaves ( chelseafc.com ) Predator Kotak Penalti Musim 1957-1958 jadi ajang pembuktian Greaves sebagai predator haus gol. Ia dipromosikan ke tim utama Chelsea. Debutnya di First Division (kini Premier League) dilakukan pada 24 Agustus 1957, saat Chelsea bertandang ke White Hart Lane. Dalam laga pembuka liga itu Greaves langsung dipasang jadi starter. Keputusan Drake tak keliru. Greaves meninggalkan kesan positif dengan menyelamatkan Chelsea dari kekalahan lewat golnya yang membuat kedudukan menjadi 1-1. Penyerang muda itu segera mencuri perhatian publik Inggris dan senantiasa dipercaya jadi pemain utama di starting eleven. Baca juga: Kerikil Bernama Nobby Stiles Kendati Chelsea hanya bertengger di posisi 11 klasemen akhir musim, Greaves mulai dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin di kotak penalti dengan torehan 22 gol dari 37 penampilan. Tak ayal di tahun yang sama ia sudah dipanggil ke timnas Inggris. Gol perdananya bersama timnas dicetak dalam debutnya kala Inggris menghadapi Peru dalam tur Amerikanya. Laga pada 17 Mei 1959 itu dimenangkan Peru 4-1. “Saya tak tahu kenapa tapi selalu mudah bagi saya, di mana mencetak gol jadi hal yang natural. Saya tak pernah merasakan tensi, ketegangan urat syaraf, atau tekanan apapun. Saya tak pernah kekurangan kepercayaan diri. Beberapa orang bilang saya sangat dingin di kotak penalti dan mereka mengira pembuluh darah saya dialiri es. Sebenarnya saya tak pernah emosional dan tak seperti pemain lain yang selalu cemas saat gagal mencetak gol. Karena saya yakin peluang akan datang lagi dengan lahirnya gol,” sambung Greaves. Jimmy Greaves (berdiri, ketiga dari kanan) di skuad AC Milan (EDI Milano Card 1961) Greaves bertahan di Chelsea sampai April 1961. Talentanya dilirik klub AC Milan. Torehan 125 gol dari 157 penampilannya di Chelsea membuat Milan memberi mahar 80 ribu pounds kepada Chelsea. Greaves juga diberi bonus penandatanganan kontrak senilai 15 ribu pounds dan gaji 140 pounds per pekan. Namun, Greaves tak kerasan di Italia. Bagi Greaves, Milan ibarat pelarian dari tragedi yang menimpa dirinya dan istrinya, Irene. “Di tahun 1961 putra pertamanya, Jimmy Jr., meninggal karena pneumonia di usia empat bulan. Kematiannya mengantui dirinya dan istrinya Irene sepanjang hidupnya. Jimmy awalnya tak yakin untuk pindah tapi Milan begitu gigih. Pindah ke Italia untuk Jimmy dan Irene seperti cara terbaik untuk keluar dari rasa sakit akibat kematian putra mereka,” ungkap Norm Parkin dalam Legends and Rebels of the Football World. Baca juga: Obituari: Addio Paolo Rossi! Greaves hanya bertahan enam bulan berseragam merah-hitam AC Milan. Banyak faktor yang membuatnya tak betah. Selain culture shock dan homesick , dia tak kuat dengan kedisiplinan ekstra ketat yang diterapkan pelatih Nereo Rocco. Rutinitas dan kedisiplinan latihannya sangat ketat dengan hanya sedikit kebebasan pribadi bagi para pemain. Waktu untuk keluarga hanya sedikit. Rocco juga melarang pemainnya merokok dan menenggak minuman keras. Suatu waktu, itu jadi masalah buat Greaves karena ketahuan minum bir. Dia langsung jadi sasaran kritik pedas media-media Italia. “ Calcio (sepakbola, red. ) juga masih asing bagi Greaves. Ia syok dengan cara Rocco selalu membentak pemainnya ibarat instruktur militer. Sistem permainan Rocco kemudian juga tak berhasil, di mana Greaves yang dipasangkan dengan (José) Altafini tak dimainkan jadi penyerang out-and-out sebagaimana mestinya. Greaves selalu diperintahkan bermain lebih ke belakang atau melebar ke kanan-kiri,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History if Italian Soccer. Karier puncak Jimmy Greaves diraih semasa berseragam Spurs ( tottenhamhotspur.com ) Walau sampai akhir musim Greaves menorehkan sembilan gol dari 12 laga, manajemen Milan memutuskan akan menjual Greaves kembali. Chelsea bersedia memulangkannya dengan tawaran mahar 96 ribu pounds. Tetapi manajer Spurs, Bill Nicholson, tak ingin kalah dengan tawaran 99.999 pounds. “Milan awalnya membuka harga 100 ribu pounds. Bill keukeuh di angka 99.999 pounds dengan mengatakan: ‘Saya menolak membuatnya pesepakbola pertama yang bernilai 100 ribu pounds karena akan jadi beban baginya dan beberapa rival kami sudah mengkritik karena tawaran tinggi kami,’” singkap Brian Scovell dalam Bill Nicholson: Football’s Perfectionist . Baca juga: Cerita Lama Spurs Bersemi Kembali Milan pun berkenan melepasnya ke Nicholson. Dimulailah “romantika” Greaves dengan Spurs. Greaves tetap tajam saat pulang ke Inggris. Di laga debutnya bersama Spurs pada 16 Desember 1961, Greaves mencetak hattrick dalam kemenangan 5-2 atas Blackpool. Sepanjang membela Spurs (1961-1970), Greaves jadi pencetak gol tersubur klub dengan 220 gol dalam 321 laga. Gol-golnya sangat berperan besar dalam kesuksesan Spurs menjuarai FA Cup (1961-1962 dan 1966-1967) dan Piala Winners Eropa (1962-1963). Jimmy Greaves mengoleksi 44 gol dari 57 caps di Timnas Inggris ( englandfootball.com/fifa.com ) Greaves pun kembali jadi andalan pelatih Alf Ramsey di timnas Inggris pada Piala Dunia 1966. Di babak grup, Greaves selalu jadi starter. Namun di laga terakhir grup melawan Prancis, Greaves mengalami cedera tulang kering. Alhasil pada perempatfinal hingga final, posisinya digantikan Geoff Hurst. Padahal saat Inggris sudah memijak semifinal, Greaves mengaku sudah pulih. Namun Ramsey menolak mengganti lagi skuadnya, termasuk Hurst. Maka di balik euforia kemenangan di final, terdapat perasaan getir di dalam batin Greaves. “Saya ikut menari di lapangan bersama semua anggota tim tapi bahkan di momen kebahagiaan ini, jauh di lubuk hati saya merasakan kesedihan. Sepanjang karier saya sebagai pemain, saya selalu memimpikan tampil di final Piala Dunia. Saya melewatkan laga sekali seumur hidup itu dan sakit sekali rasanya,” aku Greaves. Baca juga: Kisah Alan Shearer di Arena Lebih menyakitkannya, Greaves tak kebagian medali pemenang Piala Dunia. Saat  itu FIFA hanya mengalungi medali untuk 11 pemain yang tampil. FA (Induk sepakbola Inggris) baru berhasil mengajukan medali bagi semua pemain, cadangan maupun starter, pada 2009. Greaves yang menorehkan 44 gol selama 57 kali membela timnas akhirnya menerima medali yang sudah menjadi haknya. Greaves gantung sepatu pada 1980. Setelah dilepas Spurs pada 1970, ia wara-wiri ke klub-klub medioker macam West Ham United (1970-1971), Brentwood (1975-1976), Chelmsford City (1976-1977), Barnet (1977-1979), dan Woodford Town (1979-1980). Ia juga makin parah kecanduan alkohol. Saat mulai sembuh dari kecanduannya di pengujung kariernya, Greaves mulai menata hidup. Tak lama setelah gantung sepatu, Greaves belajar jadi kolumnis di suratkabar The Sun dan The Sunday People. Perlahan ia juga mulai merintis karier jadi sportscaster di ITV, dan bertahan sampai 2012. Di tahun itu ia mulai kena stroke ringan dan terserang stroke berat tiga tahun berselang yang membuatnya lumpuh dan kesulitan bicara. Setelah gantung sepatu, Greaves merambah dunia broadcasting ( whufc.com/thefa.com )

  • Melestarikan Keberkahan Masjid Angke

    BANGUNAN temboknya tak lagi kusam. Atapnya pun sudah tak lagi mengalami kebocoran jika terjadi hujan. Sejumlah ukirannya kembali cantik dan jamaah mulai meramaikannya lagi di tiap waktu salat. Beginilah kondisi Masjid Jami Al-Anwar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Angke di perkampungan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Pada Kamis, 16 September 2016, Masjid Angke rampung direvitalisasi. Masjid berusia lebih dari dua abad itu direvitalisasi besar-besaran sejak 2017   lewat dua tahap yang diprakarsai mendiang tokoh Lingkar Warisan Kota Tua (Lingwa) Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Sayangnya, sang pemrakarsa tak bisa melihat langsung peresmian revitalisasinya hari ini, Senin (20/9/2021), karena sudah lebih dulu mangkat pada 13 Juni 2021. “Masjid Angke sejak 2017 kondisinya makin memprihatinkan, perlu dipugar. Dan Masjid Angke termasuk salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun tahun 1761 dan masih berfungsi sampai saat ini. Keberadaan masjid ini dianggap ikon yang mencerminkan pluralitas, multikultural, hal inilah yang membangkitkan semangat Ibu Toeti melakukan pemugaran pertama pada Masjid Angke,” ujar Inda Citraninda Noerhadi, ketua Lingwa cum  putri mendiang Prof. Toeti, dalam acara “Mengenang 100 Hari Prof. Dr. Toeti Heraty N-Roosseno dan Peresmian Pemugaran Masjid Angke” via platform Zoom  dan YouTube , Senin (20/9/2021) sore. Baca juga: Al-Noor, Masjid Terjauh dari Kabah Ragam bentuk akulturasi dalam Masjid Angke ( encyclopedia.jakarta-tourism.go.id ) Senada dengan yang diungkapkan Inda, ketua IAAI Dr. Wiwin Djuwita Ramelan mengatakan Masjid Angke sejak 260 tahun lampau sudah jadi masjid yang menggambarkan keharmonisan multietnis di Batavia (kini Jakarta). Itu terlihat dari gaya bangunan serta beragam dekorasi eksterior maupun interiornya yang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa, Bali, Arab, Tionghoa, dan Belanda. “Upaya mempertahankan nilai penting masjid ini sungguh membanggakan. Di tengah-tengah keprihatinan karena pandemi, Ibu Toeti dan kawan-kawan tidak melupakan pembangunan budaya. Kebhinekaan selalu menjadi ciri sikap dan pemikiran Ibu Toeti sebagai budayawan dan masjid ini menyimbolkan kebhinekaan karena jadi tempat berinteraksinya masyarakat Betawi, Melayu, Sunda, Bali, Pontianak, dan etnis lain,” kata Wiwin menimpali. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I) Merunut asal-muasalnya, sebagaimana diungkapkan Doni Swadarma, Yunus Aryanto, dan Ita Puspitasari dalam Rumah Etnik Betawi , Masjid Angke berdiri pada 2 April 1761. Perancangnya, arsitek Tionghoa Syeikh Liong Tan. Pembangunan masjid berukuran 15 x 15 meter di atas lahan seluas 400 meter persegi itu diongkosi perempuan Tionghoa bernama Nyonya Tan Nio. Nyonya Tan masih kerabat Ong Tien Nio, istri Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. “Arsitektur masjid memiliki perpaduan corak unsur Jawa dan Tionghoa karena pendirinya memang berlatarbelakang dua etnis tersebut. Terlihat dari pintu masuk dan ujung atap yang mirip kelenteng. Selain itu, desain atap tumpang susun Masjid Angke mirip Masjid Demak di Jawa Tengah,” ungkap Doni dkk. Masjid Angke di tahun 1921 (Tropenmuseum) Bentuk gapura di sisi utaranya, berbentuk gapura belah, dan gapura sisi selatan berbentuk huruf “D” terinspirasi dari bentuk bangunan-bangunan kuno di Banten dan Cirebon. Adapun nuansa Balinya sangat terasa pada bentuk ujung atap yang mirip punggel rumah Bali. “Di halaman belakang masjid terdapat pula makam Syekh Syarif Hamid al-Qadri dari Kesultanan Pontianak yang pada tahun 1800-an dibuang ke Batavia karena memberontak kepada Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, di kompleks masjid ini para pemudanya sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dalam mengoordinasi kegiatan menentang Belanda. Melalui khotbah-khotbahnya, para ulama juga melakukan provokasi untuk menentang Belanda,” tulis Abdul Baqir Zein dalam Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Baca juga: 10 Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian II – Habis) Oleh karenanya, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana amat mensyukuri masjid yang punya nilai sejarah itu selesai dipugar. Pemugaran itu menjadi nilai lebih bagi masyarakat ibukota untuk kemudian bisa melakukan wisata sejarah dan religi. “Melakukan revitalisasi cagar budaya menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mengangkat sebuah peradaban. Apa yang dikerjakan Ibu Toeti dan kawan-kawan Lingwa sebagai bukti bukan hanya membangun secara fisik tapi juga membangun peradaban, membangun kembali bangunan cagar budaya dan memuliakannya. Ini menambah kontribusi terhadap wawasan kebangsaan, keilmuan untuk masyarakat dan generasi yang akan datang,” tutur Iwan. Peresmian pemugaran Masjid Angke yang diikuti shalat berjamaah diimami KH Nasaruddin Umar (Tangkapan Layar Youtube Cemara 6 Galeri) Peresmian usai revitalasasi itu dilakukan imam besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dengan memotong pita dan mendirikan shalat. KH Nasaruddin dipilih karena merupakan satu dari beberapa wasiat mendiang Prof. Toeti terkait pemugaran masjid. “Alhamdulillah sore ini kita jadi saksi kebaikan seseorang yang takkan bisa kita lupakan, ibunda, guru, dosen, senior kita, Prof. Toeti. Almarhumah memiliki segudang prestasi walau ia seorang perempuan. Ini satu bukti bahwa perempuan tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapapun. Tidak pernah terbayang seorang Profesor Toeti yang sehari-hari saya kenal, saya sangat kagum logika berpikirnya, filsafatnya, menggagas renovasi masjid yang sudah dibangun 200 tahun lebih,” ujar KH. Nasaruddin dalam sambutannya. Baca juga: Cerita Tercecer dari Masjid al-Makmur Tanah Abang Nasaruddin kembali teringat akan awal-mula sejarah masjidnya dibangun atas bantuan pembiayaan seorang Tionghoa yang juga perempuan, dan sekarang dipugar atas prakarsa mendiang Profesor Toeti. “Masjid tua itu tepat berkumpulnya para malaikat. Bukan di masjid megah, mahal, luas, besar. Tetapi semakin tua sebuah masjid, semakin berkah masjid itu. Semakin lama sebuah masjid ditempati sujud, maka lorong rahasia menuju langit semakin terang. Ada juga hadits nabi menyebutkan bahwa tempat yang paling sering digunakan memanggil nama Allah SWT akan kelihatan para penghuni langit. Para malaikat sangat bercahaya seperti bintang-bintang kejora,” tambah Nasaruddin. Almarhumah Hj. Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno ( kemendikbud.go.id ) Oleh karenanya, upaya Prof. Toeti sebagai pemrakarsa pemugaran masjid tua Angke tak hanya jadi pembuka jalan amal bagi mendiang tetapi juga sebagai amalan wakaf. Nasaruddin berharap, pengurus, pemerintah provinsi, serta masyarakat bisa menjaga masjid yang baru dipugar itu untuk melestarikan keberkahan bagi semua. “Beliau dengan kesibukannya masih sepat memikirkan gagasan pelestarian masjid bersejarah. Saya teringat dalam sebuah ayat, ‘Janganlah kalian mengira orang yang telah mewakafkan dirinya untuk jalan Allah itu adalah wafat. Sesungguhnya dia akan tetap hidup dan akan tetap mendapatkan pahala.’ Alhamdulillah masjid tua yang kita bangun atas prakarsa almarhumah jadi tiket almarhumah meraih istana yang sudah dijanjikan Allah SWT. Tantangan dan tugas kita kemudian bagaimana merawat, melestarikan masjid bersejarah ini,” tandasnya. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China

  • Mengulik di Balik Layar Film Kadet 1947

    HARI itu, 21 Juli 1947, Pangkalan Udara (lanud) Maguwo, Yogyakarta, porak-poranda. Sejumlah bangunannya hancur. Sebuah pesawat pembom tukik ringan bekas Jepang, Mitsubishi Ki-51, habis dilalap si jago merah. Tiga kadet, Adjie (diperankan Marthino Lio), Mul (Kevin Julio), dan Sigit (Bisma Karisma) menatap nanar ke langit saat pesawat-pesawat Belanda leluasa berterbangan di atas Maguwo. Peristiwa di atas merupakan potongan dari teaser  film Kadet 1947  yang digarap duet sutradara Rahabi Mandra dan Aldo Swastia dari tim produksi Temata Studios. Teaser  itu resmi dirilis lewat akun Instagram  dan Youtube  Temata Studios Jumat kemarin (17/9/2021). Teaser berdurasi satu menit tiga detik itu juga memamerkan beberapa potongan kisah dramatis pergulatan para kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) dalam merespons Agresi Militer Belanda I. Di antaranya kala para kadet itu juga ikut bergerilya menghindari serdadu darat Belanda, dan memupuk nyali melawan Belanda dengan pesawat mereka berkat seruan-seruan Presiden Sukarno (Ario Bayu) yang menggelegar. Baca juga: Sosok Sukarno dan Pak Dirman dalam Kadet 1947 Bootcamp film Kadet 1947 sejatinya sudah mulai dilakukan untuk para pemeran, syuting, dan proses produksi awal pada Maret 2020. Namun, prosesi itu sempat terhenti gegara pagebluk Covid-19 dan baru dilanjutkan pada September 2020. Filmnya direncanakan naik tayang tahun ini walau belum disebutkan tanggal dan bulannya. Celerina Judisari sang produser menyebutkan dalam konferensi pers via platform Zoom pada 15 April 2020, pihaknya bekerja keras untuk mengatur pengunduran jadwal proses produksi karena pandemi. Tak hanya soal teknis tapi juga mental para pemainnya. “Kita harus optimis. Justru kita ingin mempertahankan api perjuangan seperti kadet-kadet Angkatan Udara itu di masa seperti ini. Semangatnya bahwa kita bergotong-royong sama-sama berjuang mempertahankan eksistensi bangsa kita. Kala dulu kita melawan penjajah, sekarang kita melawannya virus,” ujar Celerina. Kolase teaser  film Kadet 1947 yang baru dirilis (Tangkapan Layar Youtube) Kadet 1947 , lanjut Celerina, mengisahkan misi pemboman udara pertama Indonesia di masa revolusi fisik, tepatnya 29 Juli 1947. Misi heroik itu dilakoni tujuh kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) ke Semarang, Salatiga, dan Ambarawa untuk membalas Agresi Militer Belanda I yang dilancarkan sepekan sebelumnya. Sejarah kecil ( petite histoire ) itu jarang diketahui publik lantaran tak tertera di buku-buku pelajaran sekolah. Hal ini juga jadi tantangan tersendiri bagi tim produksi. Pasalnya, film-film bertema sejarah kalah populer bagi kaum milenial ketimbang film-film ber- genre lain. “Walau secara statistik film bertema perjuangan ada di bawah, orang kurang terlalu banyak tertarik, tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat film sejarah yang menarik untuk mereka tonton,” lanjutnya. Baca juga: Pemboman Udara Pertama Indonesia Penggarapan film Kadet 1947 sendiri, aku Celerina, idenya berangkat dari sebuah artikel sejarah tentang epos itu di media sejarah populer Historia.id . Ia tertegun dengan inti cerita bahwa 73 tahun lampau, ada tujuh kadet yang notabene belum punya jam terbang namun berani berbuat sesuatu yang punya makna besar. Air raid terhadap markas-markas Belanda membuktikan bahwa Indonesia yang baru dihantam Agresi Militer I ternyata mampu membalas. “Saya tidak sengaja membaca (artikel) di Historia , karena terpikir ya pada masa begini, apa sih yang terpenting untuk persatuan? Kita sudah mulai terpecah-belah. Apa yang bisa menyatukan kaum milenial? Saya cari cerita lain soal tema perjuangan sampai saya menemukan artikel Historia yang mengilhami,” kata Celerina. Kolase adegan dalam teaser film Kadet 1947 (Tangkapan Layar) Dari artikel bertajuk “Pemboman Udara Pertama Indonesia” itu, sang produser mendapati petite histoire itu bisa sangat mudah dipahaminya. Dia kemudian tergelitik untuk meriset lebih jauh sumber-sumber lainnya. “Justru saya mengucapkan terimakasih bahwa ternyata tertera di situ (kisahnya). Bahwa ada pemuda-pemuda tanpa keahlian dia bawa bom, dia bisa jatuhin, mungkin peristiwanya tidak sebegitu dahsyat ya, tapi cara penulisannya itu sudah menyentuh hati saya untuk saya mencari lagi buku-buku tentang itu,” tambahnya. Baca juga: Upaya Menggali Inspirasi Lewat Film Kadet 1947 Kebetulan pula Celerina mengaku punya kolega di lingkungan TNI AU. Kepada kolega itulah dia kemudian mengutarakan idenya dan lantas berhasil mendapat dukungan. Bahkan ketika ia bertemu Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, pihak TNI AU turut mendukung lewat supervisi. Bersama co-produser Dewi Umaya, Celerina lantas mencari sutradara cum penulis naskah, dan mendapatkan duet sineas muda Rahabi Mandra dan Aldo Swastia. Pengerjaan naskahnya pun dikebut sejak Januari 2020 setelah terlebih dulu dilakukan riset pustaka dan konsultasi dengan pihak TNI AU serta peneliti-peneliti sejarah. “Riset kita siapkan secara mandiri dan tidak dari satu sumber saja. Kita juga risetnya tentang tata bahasa, gaya hidup, kondisi sosial dan ekonomi pada saat itu. Kami menyadari sensitifnya cerita sejarah. Makanya kami juga tidak seberani itu untuk bilang film ini didasarkan fakta sejarahnya. Makanya kita gunakan kata ‘ inspired by true story ’,” timpal Rahabi. Aktor-Aktor Milenial Setelah naskah siap, prioritas berikutnya adalah pemilihan pemeran. Kebetulan dalam fakta historisnya, tujuh kadetnya berusia antara 18-20 tahun. Mereka adalah Sutardjo Sigit, Bambang Saptoadji, Kaput, Mulyono, Sutardjo, Suharnoko Harbani, dan Dulrachman. Oleh karena itu, pemilihan para pemeran pun diambil dari para aktor milenial. Kevin Julio, misalnya, diplot menjadi Kadet Mulyono; lalu Bisma Karisma sebagai Kadet Sutardjo Sigit, atau Omara Esteghlal sebagai Kadet Suharnoko Harbani. Mereka didampingi lima aktor kawakan sebagai pemeran tokoh-tokoh besar seperti Andri Mashadi yang memerankan Komodor Muda Agustinus Adisucipto, Ibnu Jamil sebagai Komodor Muda Halim Perdanakusuma, Mike Lucock sebagai KSAU Komodor Suryadi Suryadarma, Indra Pacique sebagai Panglima TNI Jenderal Sudirman, dan Ario Bayu sebagai Presiden Sukarno. “Untuk bisa merasakan beratnya perjuangan, sejak Januari juga mereka dilatih fisik. Khusus untuk para pemeran kadet, mereka sempat kami ikutkan bootcamp bersama Korps Paskhas TNI AU, untuk belajar juga bagaimana menjadi seorang siswa prajurit, dan bahkan bagaimana rasanya menjadi prajurit,” ungkap Aldo. Baca juga: Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara Di sisi lain, para pemeran melakukan bermacam cara untuk mendalami karakter masing-masing tokoh yang mereka mainkan. Mereka juga diberi sesi untuk pendalaman sejarah dari beberapa konsultan sejarah. “Yang menyenangkan adalah, tim produksi memberi fasilitas disediakan sesi khusus sama periset. Ini baru pertamakali buat saya, apalagi ini juga pertama terlibat di film bertema perjuangan. Seru banget,” cetus Chicco Kurniawan yang memerankan Kadet Dulrachman. Beberapa aktor milenial yang terlibat dalam film Kadet 1947  (Tangkapan Layar) Untuk mendukung latar cerita, tim produksi memilih Landasan Udara Gading di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta sebagai lokasi utamanya. Sementara, proses syuting untuk efek visualnya dilakukan di studio. “Kita memang memilih lokasi lebih banyak di Wonosari, di mana ada landasan militer yang sudah lama tak terpakai, untuk memudahkan pergerakan dan juga rasanya sesuai dengan karakter latarbelakang filmnya. Sebagian lagi lokasi syutingnya di Jawa Tengah. Juga ada set studio yang bahkan bagian set di studio ini sudah selesai syutingnya,” kata Dewi Umaya menimpali. Baca juga: Satir Penerbang Bengal dalam Catch-22 Tim produksi juga membuat beberapa pesawat replika untuk dipakai tokoh-tokoh kadet. Empat pesawat bekas Jepang yang digunakan ketujuh kadet itu yakni satu pembom tukik Guntai, satu pesawat tempur Hayabusa (Nakajima Ki-43), dan dua pesawat latih Cureng (Yokosuka K5Y). “Kita membuat beberapa pesawat itu yang tentunya enggak bisa terbang ya tapi karena kita ingin lebih real dan relate . Selebihnya efek visual ya yang sekiranya mengambil porsi lumayan sangat banyak,” tambahnya. Visualisasi para kadet dalam pemboman udara pertama Indonesia pada 1947 ( temata.id/kemendikbud.go.id ) Kadet 1947 juga akan dibumbui dramatisasi dengan dihadirkannya beberapa tokoh perempuan dari latarbelakang berbeda. Tatyana Akman memerankan seorang gadis asal Minang bernama Rosma Fauzia, lalu Lutesha Sadhewa sebagai jurnalis asal Maluku bernama Nila Latuharia. Dramatisasi itu tentu sudah melalui diskusi dengan pihak TNI AU agar tak terlalu melenceng dari fakta historisnya. “Dalam penggarapannya pasti ada ruang kreatif, ada juga ruang ketepatan pada sejarah supaya menjadi media belajar juga. Jadi selalu ada titik tengah antara hiburan dan media belajar. Karena, kata seorang dalang, yang namanya cerita itu adalah hak si penceritanya untuk menceritakan kepada orang-orang di masa itu. Jadi kita punya keleluasaan dalam bercerita karena kita mengerti kepada siapa kita bercerita,” kata Rahabi. Baca juga: Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya Kadet 1947, kata Rahabi, porsi dramatisasinya lebih dominan dibandingkan fakta sejarahnya. “Secara kapasitas, kami pikir porsi dramatisasi akan sedikit lebih dominan dibandingkan fakta sejarahnya, dengan masih memberi ruang bagi mereka yang ingin mengenal kejadian bersejarah ini. Dengan demikian makanya dikatakan lebih tepat memperkenalkan film ini sebagai film yang terinspirasi dari kisah nyata (inspired by true story, red .) , ketimbang didasarkan pada kisah nyata (based on true story) ,” lanjutnya. Bagi tim produksi, dramatisasi diharapkan bisa lebih memancing minat generasi muda sebagai target penontonnya. Jika sudah terpancing, mereka akan dengan mudah juga menyerap nilai-nilai mulia dari sejarah dan perjuangan para kadet itu. “Soal target penonton, ya semakin banyak semakin baik. Agar pesan yang kami ingin utarakan lewat film ini bisa tersebar seluas mungkin, khususnya bagi generasi muda yang punya potensi dan peranan yang penting untuk negara, apapun latarbelakang dan kemampuannya. Inilah nilai yang kami rasa perlu dirasakan oleh penonton agar memiliki semangat gotong royong, kolaborasi, dan tidak gentar menghadapi masalah dan situasi apapun,” ujar co-produser Tesadesrada Ryza via pesan singkat kepada Historia. Baca juga: Flypass Nekat Montir Pesawat Rayakan HUT RI

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page