Hasil pencarian
9825 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pesona Braga Tak Pernah Usai
Jika berkunjung ke Bandung, tentu saja tak akan melewatkan untuk jalan-jalan di sepanjang Braga. Di sana berjajar bangunan berarsitektur Eropa yang masing-masing memiliki kisah masa lalu. Sudah lama Braga menjadi destinasi wisata. Setiap hari, ada saja pelancong berlalu-lalang. Apalagi jika hari libur, pejalan kaki di Braga menyemut. Entah sekadar cuci mata atau melampiaskan hasrat berbelanja. Pengunjung menikmati Braga di kota Bandung. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak kecil saat bermain di depan toko zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung di antara lukisan kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Namun siapa sangka jika dahulu kawasan Braga adalah salah satu kawasan yang dihindari oleh masyarakat. Awal abad ke-19, Jalan Braga berjuluk Jalan Culik karena hanya jalan kecil dengan permukiman penduduk yang sunyi. Seiring berjalannya waktu kawasan tersebut mulai bersolek. Para usahawan yang rata-rata berkebangsaan Belanda mulai membangun toko, bar, tempat hiburan dengan konsep Eropa. Braga makin moncer dengan adanya gedung Societeit Concordia. Di gedung inilah sosialita dan kaum elite kota Bandung berkumpul. Mereka rajin menggelar berbagai pertunjukan kesenian seperti musik dan tari. "Pesta yang pernah usai" di Concordia ini turut merangsang beberapa pertokoan di Jalan Braga menyediakan keperluan pesta. Salah satu bangunan lama di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang berusia dua abad tetap menjadi pesona bagi wisatawan. (Fernando Randy/Historia). Seorang wisatawan berfoto di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang sudah berusia dua abad seperti tak kehilangan pesonanya. Arsitektur khas Eropa tetap dipertahankan. Pertokoan yang menjual pernak-pernik antik, lukisan hingga wayang masih bisa ditemui. Toko roti Sumber Hidangan sejak 1929 juga masih melayani pembeli. Bahkan penjual jamu gendong juga masih sesekali ditemukan. Kini bisa dibilang Braga makin "modis" dengan hadirnya berbagai kedai-kedai kopi kekinian. Ramdan Kosasih salah satu penjual wayang di Braga. (Fernando Randy/Historia). Toko roti dari jaman Belanda, Sumber Hidangan. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko yang menjual pernak-pernik dari zaman dulu. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Pedagang jamu tradisional turut menambah kesan zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Kehidupan di sekitar kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak memakai jersey Persib Bandung, klub sepakbola dengan pendukung terbanyak di Jawa Barat. (Fernando Randy/Historia). Seorang kasir di toko roti Sumber Hidangan di Braga. (Fernando Randy/Historia). Di malam hari, Braga tak pernah sunyi karena banyak bermunculan tempat hiburan malam. Itulah Braga dengan segala daya pikatnya. Ia menjadi tujuan orang melepas penat sekaligus menjadi tumpuan banyak orang untuk bertahan hidup. Centre Point salah satu bangunan bersejarah di Braga. (Fernando Randy/Historia).
- Kawanan Serigala Berburu Mangsa
““YA Tuhanku, biarkanlah malaikat kudus-Mu membimbing dan menyertaiku,” tutur Kapten Ernest Krause (diperankan Tom Hanks) dalam doanya di atas kapal perusak USS Keeling . Doa itu sebagai penguat batinnya lantaran nantinya ia bakal dihadapkan pada marabahaya pertempuran dahsyat yang belum pernah ia alami sebelumnya. Kisahnya diangkat ke layar perak bertajuk Greyhound. Film yang disutradarai Aaron Schneider itu merupakan adaptasi dari novel The Good Shepherd karya CS. Forester, nama pena novelis Inggris Cecil Louis Troughton Smith, yang terbit 1955. Kisahnya berpusar pada epik Kapten Krause yang bertugas melindungi konvoi Sekutu berisi 37 kapal logistik dan kapal dagang melintasi Samudera Atlantik Utara, demi menyokong Inggris dan Uni Soviet di awal 1942 di tengah Perang Dunia II. Meski sang kapten merupakan perwira senior, itu jadi penugasan lapangan pertamanya. Kala langit mulai dibalut awan gelap dan ombak mulai mengganas, alarm dan sirine tanda bahaya kapal meraung-raung. Benar saja, sebuah Unterseeboot atau yang dikenal U-Boat di kalangan Sekutu alias kapal selam Kriegsmarine (AL Jerman) menampakkan bagian sail -nya. USS Keeling segera mengejar untuk melepaskan belasan depth-charge (peledak kedalaman). U-Boat Jerman itu pun hancur dalam sekali hantam. Krause dan para krunya masih larut dalam euforia ketika tanpa dinyana kemudian sirine dari salah satu kapal dagang meraung-raung lagi. Satu kapal lainnya pun terbakar dan karam. Krause segera insyaf. Ia terhenyak ketika menyalakan radar dan mendapati belasan titik di sekitar posisi kapalnya. Itu artinya konvoi mereka tengah dikepung belasan U-Boat yang bersiap menyerang mangsanya dalam formasi wolfpack (kawanan serigala). Lantas, apa yang terjadi? Anda mesti bersabar. Jadwal tayang film yang tadinya akan dirilis pada 12 Juni 2020 ini diundur ke waktu yang belum ditentukan. Apa lagi penyebabnya kalau bukan gara-gara pandemi virus corona . Namun sepertinya tak sia-sia menunggu, mengingat di belakangan ini jarang film mengangkat epik tentang wolfpack di front Atlantik sebagaimana Das Boot (1981), U-571 (2000), atau In Enemy Hands (2004). Tom Hanks (kanan) sebagai Kapten Krause di atas kapal perusak USS Keeling menghadapi kawanan U-Boat Jerman. (Sony Pictures). Mula Kawanan Serigala Bila di darat Jerman-Nazi gilang-gemilang pada awal Perang Dunia II berkat taktik blitzkrieg dengan pasukan lapis baja sebagai ujung tombaknya, di laut, Kriegsmarine dengan tulang punggung sejumlah U Boat mengembangkan pola berbeda tapi memiliki kesamaan esensi dalam “sengatan” terkonsentrasi dan terkoordinir pada kubu musuh yang lemah. “Menurut saya tetap beda konteksnya. Wolfpack hanya pengembangan strategi kapal selam Jerman dalam Perang Dunia II yang pada intinya adalah mengeroyok konvoi. Awalnya strategi ini dari zaman Perang Dunia I. Populer diterapkan di Perang Dunia hasil buah pikir (Panglima Kriegsmarine, großadmiral ) Karl Dönitz,” ujar peneliti sejarah Perang Dunia II cum penulis buku 1000+ Fakta Nazi Jerman Alif Rafik Khan kepada Historia . Adalah Laksamana Hermann Bauer, Führer der Unterseeboote (FdU) atau Panglima Unit U-Boat Jerman di Perang Dunia I, yang disebut-sebut membidani embrio taktik kawanan serigala. Pada awal 1917, ia menggagas garis patroli U-Boat secara terkoordinir dan disokong kapal logistik Kriegsmarine di Atlantik Utara dengan tujuan menerkam konvoi Sekutu. Percobaannya pada Mei 1918 gagal. Banyak dari enam U-Boat dalam operasi perdana di Selat Inggris itu malah tumbang tertabrak kapal-kapal tempur dalam konvoi Sekutu. Penyebab utamanya soal komunikasi. Baru pada 1935 ketika Kriegsmarine mulai membangun lagi kekuatannya, sejumlah taktik eksperimental sebagai revisi strategi Bauer dilancarkan Dönitz yang saat itu komandan sebuah armada kapal torpedo. Dalam penilaian Dönitz, kapal selam mesti jadi tulang punggung baru bagi Kriegsmarine. Großadmiral Karl Dönitz di salah satu pangkalan U-Boat di St. Nazaire, Prancis, medio 1941. (Bundesarchiv). Pokok dari revisi Dönitz adalah pendekatan koordinasi dan komunikasi yang lebih canggih menggunakan mesin kode enkripsi Enigma. Kode yang biasanya berisi perintah ini datang dari stasiun komando BdU di Kerneval menginformasikan posisi-posisi konvoi yang bisa diterkam. Ketika formasi kawanan serigala itu sudah siap, setiap komandan U-Boat diberi keleluasaan memilih mangsanya satu per satu. Konsep Dönitz itu mulanya menuai penolakan, salah satunya dari Panglima Kriegsmarine Großadmiral Erich Raeder . Namun, gagasan Dönitz justru didukung Adolf Hitler. “Ia mengembangkannya menjadi konsep Rudeltaktik ( wolfpack /kawanan serigala). Gagasan yang kemudian diapresiasi Kanselir Adolf Hitler dan membuahkan promosi menjadi Befehlshaber der Unterseeboote/BdU (komandan unit kapal selam) di tahun yang sama,” ungkap David T. Zabecki dalam The German War Machine in World War II: An Encyclopedia. Dönitz pun memberi bukti di awal-awal Perang Dunia II. Buah pikirannya kemudian bikin keringat dingin para pembesar Sekutu di fase Pertempuran Atlantik (3 September 1939-8 Mei 1945). Pasalnya, sebelum 1943 konvoi Sekutu minim pengawalan kapal perang. “Satu-satunya yang membuat saya benar-benar ketakutan selama perang adalah bahaya U-Boat… Saya merasa lebih gelisah terkait pertempuran ini ketimbang Battle of Britain (pertempuran udara Inggris, 10 Juli-31 Oktober 1940),” kata Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, dikutip Jonathan Dimbleby dalam The Battle of the Atlantic: How the Allies Won the War. Kapitänleutnant Günther Prien dan U-Boat yang dipimpinnya, U-47. (Bundesarchiv). Pemburu Berbalik Diburu Dalam catatan sejarawan Bernard Edwards yang dituangkannya dalam Dönitz and the Wolfpacks: The U-Boats at War , sepanjang Perang Dunia II Kriegsmarine mengerahkan 248 kawanan serigala. Wolfpack merupakan gugus tempur kecil yang kekuatannya minimal dua atau tiga U-Boat. Jika di darat perwira yang mengukir prestasi pertama menggunakan blitzkrieg adalah Jenderal Heinz Guderian dan Erwin Rommel, di laut dengan wolfpack perwira kondangnya adalah Korvettenkapitän (setara mayor) Gunther Prien. Wolfpack Prien, gugus tempurnya berkekuatan tujuh U-Boat yang berburu dalam kurun 12-7 Juni 1940, sukses memangsa lima kapal (40.949 ton) dalam Konvoi Sekutu HX 47. Kendati Wolfpack Prien lebih tenar di kalangan Kriegsmarine, catatan lebih fenomenal digoreskan Wolfpack West. Dengan kekuatan 23 U-Boat, kawanan yang berburu sepanjang 8 Mei-20 Juni 1941 itu menelan mangsa 33 kapal logistik/kapal dagang (191.414 ton) dan empat kapal tempur (33.448 ton) dari 10 konvoi yang diterkamnya. Namun, taktik wolfpack nan moncer itu seketika berbalik. Mulai akhir 1942 hingga akhir Perang Dunia II, kawanan serigala yang menjadi pemburu malah balik diburu gugus-gugus tempur Sekutu. Ini berkat keberhasilan Sekutu memecahkan kode-kode Enigma andalan kawanan serigala U-Boat dan mengembangkan alat pencegat transmisi komunikasi U-Boat, Huff-Duff (High Frequency Direction Finder). Alat itu membuat Sekutu tahu isi perut musuh. Mereka bisa melacak posisi-posisi musuh untuk kemudian mengerahkan gugus tempur pemburu U-Boat dari mulai kapal perusak hingga pesawat anti-kapal selam. “Ya, faktor kemunduran prestasi wolfpack karena Sekutu kemudian mengembangkan pertahanan yang lebih maju untuk menangkal serangan keroyokan dari U-Boat. Di antaranya adalah mengawal konvoi kapal dagang mereka dengan banyak destroyer (kapal perusak) dan mempersenjatai setiap kapal dagangnya,” tandas Alif.
- Kode Bahaya Masa Perang Kemerdekaan
SUKANAGARA, Cianjur Selatan pada 1947. Soma baru saja melantunkan azan ashar saat sudut matanya menangkap gerakan beberapa serdadu Belanda di jalanan kampung. Tetiba dia ingat beberapa gerilyawan Republik yang sedang mandi di sungai belakang surau. “Saya yang tadinya mau teriak hayya’ ala shalah, ku bakat geumpeur (karena saking gugup) dan takutnya, jadi teriak aya walandaaa (ada Belandaaa),” kenang lelaki berusia 92 tahun itu. Namun, lantunan azan Soma yang tak lazim itu, lekas ditangkap oleh para gerilyawan dan penduduk kampung. Secepat kilat mereka langsung menghindar dari kawasan itu. Ada yang langsung masuk hutan, ada juga yang pura-pura mengerjakan sesuatu. Kelompok terakhir itu adalah orang-orang kampung yang tak sempat menyelamatkan diri. Kode di masa Perang Kemerdekaan (1946-1949) memang bisa bermacam-macam. Umumnya di kampung-kampung, tanda bahaya atau informasi datangnya tentara Belanda disebarkan dengan bunyi kentongan yang dilakukan secara estafet dari kampung ke kampung. Namun menurut eks pejuang di wilayah Banyumas Iman Sardjono (91), cara itu terlalu “berisik” dan mudah didentifikasi musuh. Tak jarang akibat bunyi kentongan itu, tentara Belanda justru bisa tahu mana saja kampung yang berpihak kepada kaum Republik. “Mereka memang tidak menemukan siapa pun di kampung-kampung itu, tetapi sebagai penumpah rasa kesal, para serdadu itu tak jarang membakar seisi kampung. Itu kan merugikan rakyat juga,” tutur eks anggota Tentara Pelajar (TP) itu. Untuk memelihara kesenyapan, maka para pejuang di kaki Gunung Sumbing menciptakan sistem geplak . Sistem kode bahaya tradisional itu dalam prakteknya memang termasuk sangkil dan tidak mengeluarkan suara. Geplak terdiri dari sebuah tiang bambu yang tingginya kurang lebih 8-10 meter. Alat ini dilengkapi dengan sejenis bendera yang dibuat dari gedeg (anyaman bambu) berukuran kurang lebih 1x1 meter. Bentuknya menyerupai pemukul lalat dalam ukuran yang lebih besar. Setiap geplak didirikan tegak lurus di atas sebuah bukit yang menjadi pembatas desa. Jika bahaya datang (patroli tentara Belanda) maka tiang tersebut langsung dijatuhkan. Begitu pula hal yang sama dilakukan jika seorang pengawas (atau siapa pun warga yang melihat) mengetahui geplak di desa tetangga sudah dijatuhkan. Sistem geplak ini sempat membuat para serdadu Belanda patah arang. Dalam buku Met de TNI op Stap karya (veteran Perang Kemerdekaan) Ant. P. de Graaf mengisahkan mereka kerap jengkel jika akan menyasar sebuah tempat ternyata sesampai di sana tak ditemukan apapun. “Padahal orang intelijen sebelumnya sudah bilang bahwa di kampung itu ada konsentrasi pasukan TNI,” ungkap de Graaf, yang waktu masa perang ditugaskan di wilayah Banyumas. Sebaliknya, mereka pun tak jarang sering merasa kewalahan jika ketika suatu patroli belum mencapai tempat yang menjadi target, tetiba di tengah jalan, sekelompok pasukan TNI menghadang kedudukan mereka. Itu pernah terjadi di Desa Banaran, Wonosobo, saat sistem gedek berhasil menghancurkan satu unit patroli pasukan KL (Angkatan Darat Kerajaan Belanda). Juli 1949. Siang itu Letnan Muda Aman Sujitno dari Pasukan Tjadangan Ronggolawe tengah mendaki sebuah puncak bukit di Desa Banaran. Dia disertai oleh Letnan Satu Suhadi dari Kompi Leman. Mereka berdua tengah mencari posisi yang cocok guna memasang pertahanan mitralyur berat 12.7 mm. Setelah beberapa saat mengubek-ubek puncak bukit tersebut, mereka akhirnya menemukan tempat yang baik dengan bidak tembakan pertigaan Banaran. Mitralyur berat dipasang dan bidang tembakan dinyatakan sudah tepat. Baru beberapa menit selesai memasang senjata, Sujitno menyaksikan gedek di bukit desa sebelah tetiba dijatuhkan. Mereka pun bersiap. “Beberapa saat kemudian datang beberapa orang kampung, mereka memberitahu bahwa Patroli KL sedang bergerak menuju Banaran dari Sapuran," kenang Suhadi seperti pernah dikisahkan kepada Hardijono dalam Pasukan "T" Ronggolawe . Pertahanan pun disusun di bukit-bukit yang terletak di atas jalan dekat pertigaan Banaran. Pasukan yang dipimpin Suhadi berada di sisi utara, sedangkan Pasukan T berada di timur laut jalan. Sambil menunggu sasaran, mereka terdiam dalam lamunannya masing-masing. Ketegangan mewarnai suasana tempat itu. Sekitar 15 menit kemudian, terdengar suara derap sepatu lars diiringi suara-suara perbincangan dalam bahasa Belanda. Nampak sekitar satu seksi (60 personil) tentara Belanda (sebagian besar bule) tengah berbaris dalam posisi berbanjar namun tak beraturan. Sebagian di antara mereka memikul brengun. "Dor!" Aksi penghadangan dibuka dengan sebuah tembakan jitu yang menyasar pemegang brengun. Sang serdadu pun langsung terjungkal. Bersama dengan itu, hujan peluru berhamburan dari ketinggian bukit-bukit yang ada di sekitar pertigaan Banaran. Patroli militer Belanda itu pun panik. Tidak perlu waktu setengah jam, pertahanan mereka pun sudah hancur lebur. Suara desing peluru bersanding dengan suara teriakan ketakutan dan teriakan kesakitan akibat terhantam peluru Pasukan T dan Kompi Leman. Kendati persenjataan pasukan KL lebih unggul, namun karena posisi pasukan TNI lebih baik, patroli tentara Belanda itu semakin tak berdaya. Sebagai jalan keluar, pimpinan pasukan KL hanya bisa menyuruh anak buahnya untuk kembali mundur ke arah Sapuran dengan membawa korban tewas dan luka-luka yang sangat banyak. Setelah palagan ditinggal pasukan KL, secara bertahap pasukan TNI turun dan memeriksa bekas tempat pertempuran. Suasana mencekam mewarnai kawasan tersebut. Di sela-sela asap mesiu yang masih mengepul, mereka menemukan jejak-jejak darah berceceran dan sepasang sepatu lars yang nyaris tak berbentuk karena terhantam peluru. Di sisi lain dari bekas palagan itu, anak-anak Pasukan T menemukan sebuah helm tempur yang dipenuhi lubang peluru dan darah. Di helm itu tertera ukiran nama seorang perempuan Belanda bernama "Wies". Mungkin nama anak atau istri dari sang empunya helm tersebut. Demi melihat helm itu, anak-anak Pasukan T sejenak terdiam. Mereka sadar, seperti mereka, para prajurit KL pun datang bertarung ke tanah Hindia tentunya dengan meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Bagaimana perasaan anak, istri dan handai taulan mereka begitu tahu bahwa orang yang dicintainya saat ini sudah tak bernyawa lagi? "Mengingat itu, hati kami terasa sedih, hampa dan sepi. Perang memang selalu memunculkan kenestapaan, yang sebenarnya kami pun tak menginginkannya," ujar Letnan Suhadi. Militer Belanda sendiri tak tinggal diam terhadap kejadian di Banaran tersebut. Seminggu kemudian, satu kesatuan besar pasukan mereka menyebu Desa Marongsari (desa terdekat dari Banaran yang dianggap berpihak kepada TNI). Menurut de Graaff, mereka menghajar Marongsari tanpa ampun. “Sekitar 10 rumah penduduk dibakar hingga menjadi abu,” ungkapnya. Kendati sangkil dan mangkus sebagai tanda bahaya, namun sistem gedek kadang menimbulkan cerita lucu juga. Pernah suatu hari, ketika beberapa serdadu KL terlihat keluar dari pos-nya, sistem gedek pun bergerak, menjalar hingga ke desa-desa tertinggi di Gunung Sumbing. Semua gerilyawan pun bersiap di posisi masing-masing “Padahal para serdadu itu keluar cuma sebentar, mungkin mereka mau mandi atau buang hajat saja,” pungkas Iman Sardjono.*
- Setelah Sukarno Melarang Freemason
FREEMASON telah hadir di Hindia Belanda sejak tahun 1760 dengan tercatatnya seorang anggota bernama J.L. van Schevichaven. Dua tahun kemudian, J.C.M. Radermacher, pegawai VOC, mendirikan loji pertama bernama La Choisie di Batavia. Ayahnya adalah Grand Master (Suhu Agung) Freemason pertama di Belanda pada 1730-an.
- Ulama Tetap Berkarya di Tengah Wabah
DI BALIK nestapa karena wabah, para ulama berusaha menafsirkan penyebabnya berdasarkan pendekatan medis, teologi, atau magis. Bahkan, banyak ulama dan keluarganya juga terkena wabah. Namun, keadaan itu tak melemahkannya malah mereka mencatat pengalamannya dalam menghadapi wabah. “Sebelum menemukan catatan wabah dalam kronik Tiongkok misalnya, Islam sudah melahirkan karya-karya tentang wabah karena sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad Saw.,” kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus staf ahli menteri agama, dalam seminar daring lewat aplikasi zoom bertema “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia”, yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020. Catatan tentang wabah itu di antaranya karangan penting dari sejarawan Arab, Ibnu al-Wardi (1291/1292–1348/1349). Sayangnya, karyanya sudah tak ditemukan lagi. “Saya beruntung menemukan karya filologi dari Palestina yang sudah menyuting naskah ini. Naskah ini bentuknya puisi,” kata Oman. Dalam catatannya, al-Wardi mengungkapkan bahwa ia termasuk korban wabah bahkan wafat karenanya. Karya lain, Daf’al-niqmah ditulis oleh Ibnu Abi Hajalah ketika wabah melanda Kairo pada 1362. Artinya, Maut Hitam sudah merebak di Eropa dan Timur Tengah. Dalam karya lain, Abi Hajalah mengisahkan bagaimana menghadapi wabah berdasarkan pengalamannya. Putranya meninggal karena wabah itu. Sesuai hadis nabi, ia menyebut putranya mati syahid. “Aku menguburkannya di dekat seorang wali,” kata Oman mengutip catatan Abi Hajalah. “Kemudian dia menjelaskan bagaimana menghadapi orang yang meninggal dan bagaimana menguburkannya.” Ibnu Hajar al-Asqalani kehilangan tiga putrinya. Putrinya yang paling besar tengah hamil ketika meninggal karena wabah. Dalam Badrul ma'un , al-Asqalani menjelaskan bedanya wabah dengan tha’un . Wabah adalah penyebutan secara umum, sedangkan tha’un lebih spesifik merujuk pada penyakitnya. “Wabah yang berulang di Eropa dan Timur Tengah menghasilkan banyak karya yang betul-betul sudah dikenal,” kata Oman. Itulah mengapa menurut Oman, wabah penyakit kemudian membangkitkan gairah keilmuan dan riset di bidang medis. Khususnya yang terkait penyakit dan wabah. “Ahli medis waktu itu para ulama juga,” kata Oman, “maka kemudian lahir pula karya-karya di bidang medis.” Karya-karya itu menginspirasi generasi berikutnya dalam menghadapi wabah penyakit. Seperti dalam kondisi sekarang. “Kita harus selalu berprasangka baik. Pandemi sudah terjadi berulang. Dalam konteks budaya Islam sejak abad ke-6, tapi selalu ada hikmahnya,” kata Oman. Maka, menurut Oman, tidak produktif jika hanya menafsirkan wabah penyakit atau bencana alam sebagai wujud siksaan Tuhan. “Saya bukannya ingin bilang itu tak berdasar karena memang ada interpretasi soal itu. Tapi tidak produktif. Kalau memang siksaan, mengapa ulamanya, keluarganya ulama disiksa atau wafat? Logikanya begitu,” kata Oman. Menurut Oman, karena peristiwa wabah sudah berulang kali terjadi, seharusnya ada yang bisa dipelajari. Cara penanganan wabah bisa ditemukan dari catatan-catatan masa lalu. “Meski kita ini, orang-orang di naskah (filolog, red .), masih dipinggirkan dalam mencari solusi,” kata Oman. “Kita ini memang suka melupakan sejarah.”*
- Wabah Sejak Zaman Rasulullah
IBNU Battuta, pelawat muslim asal Maroko, sedang berlayar ke arah barat dari Tiongkok. Sementara itu, Maut Hitam, malapetaka pandemik terbesar sejak abad ke-6, menempuh perjalanannya melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam. Wabah itu menyerang kota-kota besar dan kecil Islam dengan mengejutkan bagai serangan Mongol. Wilayah-wilayah pedalaman di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Paris dan Bourdeaux, Barcelona dan Balencia, Tunis dan Kairo, Damaskus dan Aleppo, menderita kematian besar-besaran akibat wabah itu. Orang-orang pun menghentikan kebiasaan sehari-hari. Mereka lebih memilih salat dan berdoa. Kebanyakan muslim menerima wabah itu sebagai rencana Tuhan yang tak diketahui ciptaan-Nya. Masjid-masjid ditutup. Khususnya saat para petugas dan anggota pengurusnya menjadi korban. Pengalaman Ibnu Battuta itu dituliskan kembali oleh Ross E. Dunn, sejarawan San Diego State University, dalam Petualangan Ibnu Battuta, Seorang Musafir Muslim Abad 14. Maut Hitam atau Black Death merupakan salah satu wabah yang pernah terjadi di negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah. “Wabah pandemi adalah sejarah kelam yang berulang,” kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus staf ahli menteri agama, dalam seminar daring lewat aplikasi zoom bertema “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia”, yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020. Jauh sebelum Maut Hitam, pandemi paling awal adalah wabah Justinian pada 541–542 yang merebak di wilayah Kekaisaran Romawi Timur pada masa Kaisar Justinian (527–565). Wabah penyakit berikutnya secara beruntun menyerang negeri-negeri Islam. Pada era Nabi Muhammad Saw. ada wabah Shirawayh . Wabah pertama pada awal sejarah Islam ini terjadi di Al-Mada’in (Ctesiphon), pusat pemerintahan Persia, pada 627–628 M. Wabah berikutnya adalah Amwas . Michael Walters Dols, sejarawan Amerika Serikat, dalam “Plague in Early Islamic History” termuat di Journal of the American Oriental Society menjelaskan, wabah ini dinamai demikian karena menyerang tentara Arab di Amwas, Emmaus, sebuah wilayah di Jerusalem. Peristiwa ini terjadi pada masa Kekhalifahan Umar bin Khathab tahun 638/639. Wabah Amwas mungkin menyerang dua kali pada Muharram dan Safar. Wabah ini menelan korban jiwa 25.000 tentara muslim, yang meluas ke seluruh Suriah, Irak, dan Mesir. Wabah Al-Jarif (688–689) dan Al-Fatayat (706) menyerang Basrah, kota terbesar kedua di Irak. Wabah Al-Jarif menelan korban jiwa dalam tiga hari berturut-turut sebanyak 70.000, 71.000, dan 73.000 orang. “Kebanyakan pria meninggal pada pagi hari keempat setelah terinfeksi,” tulis Dols. Sedangkan Al-Fatayat disebut penyakit para gadis karena kebanyakan korbannya perempuan muda. Selanjutnya, wabah Al-Asyraf pada 716–717 terjadi di Irak dan Suriah. Di Suriah, penyakit ini menewaskan putra mahkota, Ayyub bin Sulaiman bin Abdul Malik. Ayahnya, Khalifah Sulaiman, melarikan diri dari wabah, tetapi tewas di Dabiq, wilayah di utara Aleppo. Kemungkinan khalifah dari Bani Umayyah itu juga wafat akibat wabah penyakit. Saking kejamnya, epidemi ini sampai dibandingkan dengan penindasan Al-Hajjaj, gubernur Irak yang terkenal dari masa kekhalifahan Umayyah. “Beberapa wabah lain juga terjadi pada era kekhalifahan Umayyah,” kata Oman. Di luar itu, beberapa pandemi yang menelan banyak korban jiwa terjadi pada masa yang lebih modern. Di antaranya Maut Hitam pada 1347–1353, sebagaimana disaksikan Ibnu Battuta di tengah penjelajahannya. Lalu wabah Bombay pada 1896–1897 dan flu Spanyol pada 1918. “Dari wabah yang pernah terjadi ada yang lamanya sampai satu tahun, tiga tahun, bahkan 15 tahun, jadi sangat panjang,” kata Oman. Tafsir Musabab Wabah Umat Islam berulang kali mengalami wabah. Para ulama pun berusaha menafsirkan penyebabnya. Pertama, ulama yang menulis tentang wabah berdasarkan penjelasan medis, bahwa penyakit datang akibat polusi udara, kutu, tikus, dan darah kotor. Maka, manusia harus hidup sehat dan memakai wangi-wangian. Kedua, ulama yang menulis tentang wabah menggunakan penjelasan teologis. Mereka percaya penyakit menular itu ada dan datang langsung dari Tuhan. Salah satu ulama itu adalah Ibnu Hajar al-Asqalani (1372–1449), ahli hadis mazhab Syafi’i yang terkemuka. Menurut Oman, pada abad ke-14 literatur yang menjelaskan bahwa pademi adalah hukuman Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh teologi Kristiani. Sementara dalam tradisi Islam, ini tak terlalu kuat. “Memang itu ada. Ini kan intepretasi yang harus dikontekstualisasi,” kata Oman. Ross E. Dunn menyebut bahwa doktrin Kristiani mengundang kesimpulan bahwa dosa manusia telah bertumpuk sampai titik di mana Tuhan memberikan pelajaran. Banyak yang percaya wabah ini, Maut Hitam, adalah pelajaran Tuhan yang terakhir. Dengan kata lain mereka percaya saat itulah akhir dunia. “Menghasilkan keasyikan obsesif dengan bayang kematian, gerakan penyiksaan diri untuk menebus dosa, pembunuhan massal orang Yahudi, sebagai sasaran tradisional permusuhan dan rasa takut,” jelas Dunn. Ketiga, ulama yang memakai penjelasan magis tradisional. Dengan interpretasi ini, lahirlah pengobatan tradisional. Interpretasi itu berdasarkan penyebutan wabah penyakit dalam bahasa Arab, yakni tha’un, yang arti harfiahnya adalah jin. Ada beberapa hadis yang menyebut bahwa wabah penyakit ( tha’un ) tak akan bisa memasuki Madinah. Sampai abad ke-14 Madinah memang tak tersentuh wabah, sedangkan Makkah terjangkit. “Tapi sekarang kita tahu di Madinah juga ada yang positif (Covid-19, red. ), jadi ini perlunya reinterpretasi teks keagamaan,” kata Oman. “Apa berarti hadis Nabi keliru? Saya percaya tidak, yang belum sampai itu penafsiran kita.”*
- Rupa-Rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama
NEGARA mana yang tak ingin ikut serta dalam Piala Dunia? Tingginya prestise event sepakbola empat tahunan itu membuat hampir tiap negara rela melakani tahap demi tahap kualifikasi untuk bisa mengikutinya. Padahal, ketika Piala Dunia pertama dihelat di Uruguay pada 13-30 Juli 1930, banyak negara, khususnya asal benua Eropa, ogah berpartisipasi. Selain alasan jarak yang terpisah bentangan Samudera Atlantik, perkara finansial jadi pengganjal lantaran masih terdampak depresi ekonomi. Hanya empat negara Eropa yang ikut serta: Prancis, Rumania, Yugoslavia, dan Belgia. Selain berkat jasa lobi-lobi Presiden FIFA Jules Rimet, keempat negara itu berkenan datang karena akomodasinya, mulai dari perjalanan sampai kebutuhan mereka di Uruguay, ditanggung panitia pelaksana tuan rumah. Ketiga tim itu, termasuk Rimet dan tiga ofisial pertandingan, menyeberangi Atlantik dengan kapal pesiar SS Conte Verde yang dicarter panitia pelaksana tuan rumah. Saat SS Conte Verde berangkat dari Genoa, Italia pada 20 Juni 1930, baru timnas Rumania yang dibawa. Mengutip Clemente A. Lisi dalam A History of the World Cup: 1930-2010 , tim yang dikapteni Rudolf Wetzer dan ditukangi Costel Rădulescu itu tetap enggan berangkat dengan alasan tak ingin meninggalkan pekerjaan tetapnya. Kebanyakan pemain saat itu hanya menjadikan sepakbola sebagai hobi atau profesi “sampingan”. Mereka baru manut setelah mendapat titah Raja Carol II yang juga gila bola dan memberi jaminan mereka tetap akan mendapat pekerjaan selepas Piala Dunia 1930. “Kami lebih dulu berperjalanan selama dua malam dengan keretaapi ke Genoa. Kursinya sangat tak mengenakkan, membuat tulang-tulang kami kesakitan, tetapi semua itu setimpal,” ungkap Wetzer, dikutip Lisi. Timnas Belgia menumpang SS Conte Verde dari Barcelona (Foto: Repro "La Glorieuse Epopee De la Coupe Du Monde") Conte Verde yang membawa tim Rumania keesokannya merapat di Villefranche-sur-Mer, Prancis untuk mengangkut Rimet, trofi Piala Dunia, tiga ofisial, dan timnas Prancis. Sebelum masuk Samudera Atlantik, Conte Verde mampir lagi di Barcelona pada 22 Juni untuk menjemput timnas Belgia. Kapal pesiar itu sudah ditambahi fasilitas olahraga seperti ruang fitness dan kolam renang. Untuk menjaga kebugaran sepanjang perjalanan, para pemain memanfaatkan fasilitas tersebut. Tak jarang pula geladak dan tangga kapal serta beberapa furnitur kapal dimanfaatkan untuk latihan fisik. “Tak pernah ada pembicaraan soal taktik. Latihannya lebih banyak lari di dek kapal. Berlari dan berlari sepanjang hari. Di dek bawah kadang kami stretching , melompat dengan kursi dan alat-alat kebugaran lain di ruang gym. Tapi kami saat itu masih sangat muda. Buat kami seperti petualangan. Perjalanan dengan Conte Verde memakan waktu 15 hari. Sungguh 15 hari yang menyenangkan,” kata striker Prancis Lucien Laurent mengenang perjalanannya. Selain menikmati akomodasi, timnas Prancis juga mengisi durasi perjalanan dengan latihan fisik (Foto: Repro "L’Equipe de France de Football, la Belle Histoire") Hal serupa dilakoni tim Rumania dan Belgia, termasuk saat kapal merapat di Rio de Janeiro pada 29 Juni untuk menjemput timnas Brasil. Conte Verde tiba di pelabuhan Montevideo, Uruguay pada 4 Juli. Ketika Rimet turun dari kapal disertai empat tim partisipan, sekira 15 ribu warga tuan rumah menyambut mereka sebagai bentuk apresiasi terhadap kehadiran di Piala Dunia 1930. Langit dan Bumi Pengalaman berbeda dialami timnas Yugoslavia. Mereka meminta akomodasi lebih dari kapal sekelas Conte Verde . Yugoslavia baru berkenan berangkat ketika tuan rumah menawarkan kapal pesiar yang lebih mewah, MS Florida. Dengan kapal itulah tim Yugoslavia berangkat ke Uruguay dari Marseille, Prancis. Sebelumnya, tim Yugoslavia menempuh tiga hari perjalanan darat dengan keretaapi dari Beograd ke Marseille. “Tim asuhan Boško Simonović yang berangkat dengan kapal pesiar MS Florida itu sungguh istimewa karena hanya orang-orang yang sungguh kaya bisa menikmati fasilitas mewah di kapal tersebut. Laiknya penumpang kapal pesiar, para pemain menikmati dolce far niente alias berleha-leha,” tulis Asep Ginanjar dan Agung Harsya dalam 100+ Fakta Unik Piala Dunia . “Mereka tak ubahnya sekumpulan orang kaya yang tengah berlibur. Itu jauh berbeda dengan tiga tim Eropa lainnya di atas Conte Verde yang selama perjalanan tak henti menjaga kondisi tubuh. Anehnya meski berleha-leha sepanjang perjalanan, Yugoslavia justru menjadi wakil Eropa tersukses dengan menembus semifinal,” lanjutnya. Timnas Yugoslavia di atas geladak kapal pesiar nan mewah MS Florida (Foto: fifa.com ) Sejatinya MS Florida mengangkut tim Yugoslavia dan tim Mesir sebagai undangan wakil Afrika. Namun, menurut Lisi, “Sayangnya ketika hendak berangkat ke Marseille untuk melanjutkan perjalanan dengan MS Florida , kapal yang mereka tumpangi dari Mesir mengalami penundaan jadwal pelayaran akibat badai. Jadilah MS Florida berangkat tanpa timnas Mesir. Pihak Mesir lantas mengirim kawat ke panitia tuan rumah untuk meminta maaf karena selain akomodasi mewah itu hangus, Piala Dunia 1930 berjalan tanpa wakil Afrika.” Kondisi bak langit dan bumi terkait akomodasi dialami timnas Amerika Serikat dan Meksiko. Jika Yugoslavia bisa menikmati akomodasi top MS Florida , Amerika dan Meksiko amat tidak nyaman dengan akomodasi yang mereka dapatkan: kapal SS Munargo . Rony J. Almeida dalam Where the Legend Began menguraikan, timnas Amerika berangkat dengan SS Munargo dari pelabuhan Hoboken, New Jersey pada 14 Juni. Kapal itu lantas merapat di pelabuhan New York untuk menjemput timnas Meksiko. Tim “Sombrero” justru harus mengarah ke utara dengan berlayar dari Veracruz ke Havana (Kuba), dilanjutkan lagi dengan perjalanan laut ke New York. Kapal SS Munargo yang ditumpangi timnas Amerika dan Meksiko menuju Piala Dunia 1930 (Foto: Repro "Where the Legend Began" Setelah bergabung dengan timnas Amerika di atas geladak kapal SS Munargo, pelayaran mereka menuju Uruguay baru dimulai. Kedua timnas tiba di Montevideo pada 1 Juli. Selain lamanya durasi perjalanan, timnas Meksiko dan Amerika mengeluhkan kondisi kapal yang tak memungkinkan mereka untuk menjaga kebugaran dengan maksimal. Jangankan ketersediaan dek yang luas atau ruangan fitness , kondisi kamar mandi dan toiletnya pun dinilai buruk oleh pelatih timnas Amerika Robert Millar. “Kami sebisanya berlatih di atas kapal karena kondisi yang buruk di atas (kapal) Munargo . Kapal uap yang tak hanya kecil tanpa dek terbuka untuk berlatih, namun juga kondisi kamar mandinya begitu busuk,” ujar Millar dikutip Almeida. Kendati begitu, timnas Amerika mencetak sejarah yang lumayan dengan menembus babak semifinal. Mereka akhirnya dikandaskan Argentina 6-1. Adapun Meksiko, tak berdaya dengan hanya menjadi juru kunci di penyisihan Grup 1. Dari tiga laga kontra Argentina, Cile, dan Prancis, tak sekalipun ia menang.
- Bung Hatta Skakmat Kawan yang Mengelabuinya
MESKI menghormati dan mengagumi Bung Hatta, Hasjim Ning tak bisa bergaul secara “renyah” dengan pamannya itu. Hubungan keduanya “garing” sebagaimana hubungan anak dengan orangtuanya. Hampir tak ada candaan ketika Hasjim berbincang dengan Bung Hatta. Meski begitu, Hasjim amat menghormati Bung Hatta sebagai paman sekaligus bapak bangsa. Hubungannya dengan sang paman yang tak bisa seluwes hubungannya dengan Bung Karno dimakluminya karena dia tahu karakter Bung Hatta memang orang yang serius dan teguh memegang prinsip. Keteguhan Bung Hatta dalam memegang prinsip itu bahkan membuat Hasjim mengaguminya. “Jauh di dalam lubuk hatiku, aku mengagumi kekuatan imannya,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Keteguhan iman Bung Hatta itulah yang membuat Hasjim tak bisa sembarang bicara kepada sang paman, terlebih untuk mengobrolkan soal perempuan. Hasjim tahu betul sang paman “dingin” terhadap perempuan. Itu dibuktikan dengan tidak tergodanya Bung Hatta kepada gadis cantik asal Polandia yang menggodanya. Selain itu, Bung Hatta juga memenuhi janjinya tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. “Bung Hatta sadar apa yang sedang dia prioritaskan,” kata Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta. Sebaliknya, hubungan Hasjim dengan Bung Karno amat “renyah”. Gaya bergaul keduanya sama-sama luwes. Keduanya bisa bersahabat meski terpaut jauh dalam usia. Canda dan derai tawa hampir selalu memenuhi obrolan keduanya. Hampir tak ada rem bagi masing-masing dalam melontarkan kalimat, tak peduli sopan atau tidak. Kondisi seperti itu terjadi juga ketika keduanya mengobrolkan Bung Hatta usai menghadiri resepsi pernikahan Bung Hatta. “Aku dengan Bung Karno memang usil memperkatakan ‘keperawanan’ Bung Hatta itu,” kata Hasjim. Soal yang satu itu memang santer di kalangan politik bahwa Bung Hatta jauh dari perempuan. Bung Karno sering menggambarkan bagaimana “dinginnya” Hatta kepada perempuan lewat sebuah kisah ketika di suatu petang Hatta menumpang sebuah angkutan yang berisi dirinya, supir, dan penumpang perempuan cantik di jok belakang. Ketika mobil mereka pecah ban, supir mencari bantuan dalam waktu lama. Begitu kembali, sang supir melihat Hatta sedang mendengkur di kursinya alih-alih menggunakan kesempatan untuk merayu perempuan cantik di kursi belakang. “Naluri ‘preman’ yang ada padaku mengatakan bahwa Bung Hatta belum pernah bersenggolan dengan perempuan selain hanya bersalaman atau dalam situasi yang tidak sengaja,” sambungnya. Penilaian Hasjim tidak berangkat dari cerita Bung Karno semata. “Anekdot Bung Hatta dengan perempuan selama belajar di Belanda banyak sekali aku dengar. Misalnya dari Nazir Pamontjak,” kata Hasjim. Anekdot Bung Hatta paling diingat Hasjim adalah yang dikisahkan Makcik Iljas, teman kos Bung Hatta ketika kuliah di Belanda yang asal Kotagedang. Menurutnya, Bung Hatta pernah menegurnya karena sering keluyuran malam untuk mengikuti pesta dansa. “Konsentrasikan pikiranmu dengan membaca buku agar pikiranmu teralih dari perempuan,” kata Hatta sebagaimana ditirukan Iljas. Iljas akhirnya segan pada Bung Hatta meski teguran itu tetap tak mempan memendam gairah mudanya. Maka demi tidak mengecewakan Hatta, Iljas pun bersiasat. Dia tak lagi keluar malam hingga menjelang tengah malam. Tapi begitu waktunya tiba dan anak-anak kos sudah di kamar masing-masing, Iljas segera menyelemuti guling di atas tempat tidurnya sehingga terlihat seperti orang tidur berselimut. Setelah itu, ia matikan lampu kamar. “Sehingga, kalau Bung Hatta mengontrol, ia akan menyangka Makcik Iljas sudah tidur,” kata Hasjim. Begitu kamar sudah gelap, Iljas pun keluar lewat jendela. Tak ada orang di dalam rumah yang mengetahuinya keluar. Kebiasaan lompat jendela itu berjalan mulus hingga suatu ketika Iljas nahas. “Sekali waktu, ketika aku pulang hampir pagi, tentu aku masuk lewat jendela juga, bantal-guling yang aku selimuti sudah berada di atas selimut. Dan di atas bantal terletak sebuah Quran,” kata Iljas. Meski membingungkannya, Iljas yakin perpindahan posisi selimut dan gulingnya itu hasil perbuatan Hatta. Maka ketika keesokannya mereka bertemu dalam sarapan, Iljas pura-pura tak tahu. Dia hanya mendapati Bung Hatta sesekali mencuri pandang kepadanya. Suasana sunyi itu baru berubah ketika Iljas memancing Bung Hatta dengan pernyataan bahwa dirinya berencana pindah kos. “Kenapa pindah?” tanya Bung Hatta. “Ya aku ke Belanda bukan disuruh mengaji,” jawab Iljas untuk menggoda Bung Hatta. “Tapi juga bukan sebagai pencuri yang keluar-masuk rumah lewat jendela,” kata Bung Hatta yang membuat Iljas kena skakmat.*
- Sosok Sukarno dan Pak Dirman dalam Kadet 1947
SEMANGAT perjuangan tidak hanya dimiliki muda-mudi Indonesia di darat dan lautan, namun juga di udara. Salah satu petite histoire tentang tekad membela negeri dari pihak agresor Belanda bakal diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Temata Studios dengan tajuk Kadet 1947. Rencananya dirilis pada November 2020 . “Ketika Belanda melanggar perjanjian (Linggarjati, red. ) dan menyerang republik, tujuh kadet angkatan udara berinisiatif melakukan serangan balik demi mempertahankan kedaulatan bangsa. (Film) ini kisah tentang tujuh kadet yang menggagas operasi udara perdana Indonesia (29 Juli 1947),” begitu logline filmnya yang disampaikan Aldo Swastia, sutradara cum penulis naskah, kepada Historia. Untuk menggugah minat kaum milenial terhadap kisahnya, tim produksi sengaja mencari aktor yang milenial pula guna memerankan tujuh kadet yang asing di telinga mereka. Para kadet itu jarang disebutkan dalam buku-buku pelajaran sejarah di berbagai institusi pendidikan formal. Aktor milenial Kevin Julio dipilih memerankan Kadet Mulyono, Baskara Mahendra sebagai Kadet Sutardjo Sigit, Ajil Ditto sebagai Kadet Suharnoko Harbani, Samo Rafael sebagai Kadet Bambang Saptoadji, Wafda Saifan sebagai Kadet Sutardjo, Chicco Kurniawan sebagai Kadet Dulrachman, dan Fajar Nugra sebagai Kadet Kaput. Senior-senior mereka tak ketinggalan diikutsertakan untuk memerankan para pembesar AURI seperti Komodor Muda Agustinus Adisutjipto (diperankan Andri Mashadi), Komodor dr. Abdulrachman Saleh/Pak Karbol (Ramadhan al-Rasyid), Komodor Muda Halim Perdanakusuma (Ibnu Jamil), dan KSAU Komodor Suryadi Suryadarma (Mike Lucock). Ario Bayu kembali memerankan Presiden Sukarno (Foto: Instagram @filmsoekarno) Yang menarik disimak, dua dari sekian tokoh tambahan yang bakal nongol dalam Kadet 1947 adalah tokoh Presiden Sukarno (diperankan Ario Bayu) dan Panglima besar Jenderal Sudirman (Indra Pacique). “Ini peran yang gawat. Sudirman itu kan karakternya berwibawa. Tantangannya ya wibawanya itu. Dari tekanan suara dan intonasi harus berwibawa, ditambah dengan (bahasa) Jawa-nya. Yang jelas karakter ini kan karakter yang sudah ada. Gue jadi harus lebih banyak baca lagi tentang Pak Dirman,” ujar Indra mengenai sosok yang paling dihormati di kalangan militer Indonesia itu, dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/4/2020). Mempertanyakan Sosok Sukarno dan Sudirman Terlepas dari ketidakhadiran pemeran Sukarno dalam konferensi pers virtual itu, menarik untuk didalami apakah ada peran, pengaruh, atau keterlibatan keduanya dalam misi bombardir udara tangsi-tangsi militer Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga oleh tujuh kadet itu? “Bung Karno dan Pak Dirman tidak ada hubungan dengan peristiwa (pemboman 29 Juli 1947, red ). tersebut. Menurut fakta sejarah, tidak pernah ada pertemuan antara pihak AURI dengan dua tokoh itu untuk membahas misi itu. Tetapi yang ada hanya pertemuan antara Halim dan Suryadarma saja,” demikian peneliti sejarah revolusi Wawan Kurniawan Joehanda menjelaskan kala dihubungi Historia. “Karena belum ada data sejarah keterlibatan kedua tokoh itu dalam peristiwa tersebut, seharusnya masih harus dicari data pendukungnya dulu. Kalau hubungan dengan AURI memang pernah tahun 1946 Pak Dirman berkunjung ke Pangkalan Bugis (Malang) dan Campurdarat (Tulungagung). Entah apakah mereka (tim produksi) mau menarik cerita mulai dari pembentukan AURI atau bagaimana,” imbuh penulis buku Palagan Maguwo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia: 1945-1949 itu. Bila epos para kadet AURI itu yang menjadi fokus, dimasuk k annya Sukarno dan Sudirman tentu mengacaukan fakta sejarahnya. Itu bakal tak menjadikan film Kadet 1947 sebagai suguhan bergizi bagi edukasi para generasi milenial untuk mengenal sejarah bangsanya. Bagaimana fakta sejarahnya soal kedua sosok itu di waktu yang sama (29 Juli 1947)? Keduanya memang berada di Yogyakarta saat misi pemboman berlangsung karena Yogyakarta saat itu merupakan ibukota. Namun Jenderal Sudirman, sebagaimana ditulis Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil dalam Kronik Revolusi Indonesia, Jilid III (1947), saat itu tengah disibukkan dengan laporan perkembangan lanjutan Agresi Militer I yang berlangsung sejak 21 Juli 1947. Di titimangsa itu pasukan Belanda tengah merangsek ke berbagai wilayah seperti Aceh, Medan, Slawi, Cilacap, Kaliwungu, dan Malang. Figur Biju Patnaik (kedua dari kanan) seorang industriawan India yang simpati pada kemerdekaan Indonesia (Foto: Repro "Bapak AURI Suryadi Suryadarma") Sedangkan Presiden Sukarno pagi itu sedang menerima Biju Patnaik, industriawan India yang bersimpati pada perjuangan Indonesia, di Istana Kepresidenan Yogyakarta (Gedung Agung). Itu jadi kunjungan kedua Patnaik setelah kunjungannya ke Yogyakarta pada awal Juli 1947. “B. Patnaik mengunjungi ibukota Republik Indonesia untuk menyaksikan sendiri keadaan di daerah Republik. Maksud Patnaik antara lain ialah mendirikan perusahaan tekstil di daerah Republik. Di Yogyakarta, ia diterima oleh Presiden Sukarno dan dijamu masyarakat India di Yogyakarta dengan dihadiri pembesar-pembesar Republik, antara lain Mr. M. Rum,” tulis Pram dkk. Berita yang menarik perhatian sekaligus mengiris hati para petinggi Republik di hari itu, 29 Juli 1949, adalah insiden pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh dua pesawat tempur Curtiss P-40 Kittihawk AU Belanda. Peristiwa itu terjadi pada sore di atas langit Pangkalan Maguwo yang jadi basis keberangkatan misi tujuh kadet pagi harinya. Serangan terhadap Dakota AURI yang dipinjamkan Patnaik untuk mengangkut suplai obat-obatan itu merupakan aksi balas dendam Belanda terhadap misi pemboman para kadet. Serangan pengecut itu menewaskan sejumlah petinggi AURI: Komodor Agustinus Adisutjipto, Komodor dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo. Jenderal Sudirman turut terpukul saat memberi penghormatan terakhir kepada tiga perintis AURI korban tragedi Dakota VT-CLA di Hotel Tugu (Foto: Repro "Awal Kedirgantaraan di Indonesia") Terlepas dari fakta sejarah yang ada, pihak penggarap Kadet 1947 punya pertimbangan lain untuk menghadirkan tokoh Sukarno dan Jenderal Sudirman. “Ada dokumentasi sejarah Bung Karno dan Pak Dirman menghadiri pameran penerbangan di Maguwo akhir 1946, beberapa bulan sebelum Agresi Militer Belanda I. Kala itu, Agustinus Adisutjipto juga ikut terbang untuk melakukan atraksi,” sambung Aldo Swastia. “Selain itu, walau memang tidak ada dokumentasi sejarah menunjukkan keterkaitan langsung Bung Karno dan Pak Dirman di misi tersebut, kehadiran kedua tokoh besar tersebut di pameran penerbangan menunjukkan dukungan penuh mereka terhadap angkatan udara kala itu. Maka, mengingat misi ini begitu penting bagi keberlangsungan bangsa, kami memasukkan beberapa adegan kedua tokoh tersebut dalam film ini,” tandasnya.
- Multatuli dan Freemason
MAX HAVELAAR , karya sohor Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, ditulis di sebuah kamar sempit di Kota Brussel, Belgia pada September hingga November 1859. Kekecewaan dan gugatannya pada ketidakadilan yang ia temui selama bertugas di Lebak, Banten pada 1856 ia curahkan dalam novel itu. Max Havelaar kemudian terbit pada 14 Mei 1860.
- Gus Dur dan Buku
SOSOK Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, begitu terkenang di hati rakyat Indonesia. Presiden ke-4 RI ini dianggap reformis oleh kalangan santri. Hal itu juga menghilangkan kesan kolot dunia pesantren di mata masyarakat. Meski tentu saja anggapan tersebut tidak benar. Hidup di lingkungan pesantren –sebagai cucu ulama besar KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) juga Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur– tidak serta-merta menghalangi minat baca Gus Dur. Tersedianya buku (berbagai jenis) dalam jumlah banyak, ditambah lingkungan keluarga yang mendukung membuat minat membacanya tersalurkan. Ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta, tahun 1950, di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan dan nyantri di Pesantren Al-Munawwir, Gus Dur semakin menikmati hari-harinya bersama buku. Dikisahkan Greg Barton dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid , Yogyakarta menjadi tempat Gus Dur menemukan berbagai jenis tema buku yang diinginkan. Ia bahkan sering mengunjungi toko-toko buku langganan mahasiswa UGM. “Sebagai seorang remaja, ia mulai bergulat dengan tulisan-tulisan Plato dan Aristoteles, serta pemikir-pemikir penting dari cendekiawan Islam abad pertengahan,” tulis Barton. Kisah lain diceritakan Munawar Ahmad dalam Ijtihad Politik Gus Dur: Analisis Wacana Kritis . Ketika di Yogyakarta itu, Gus Dur bertemu dengan seorang guru bahasa Inggris bernama Rufi’ah. Selain diajarkan bahasa, Gus Dur juga dikenalkan dengan buku-buku para pemikir modern Barat. Sebut saja mahakarya Karl Marx, Das Kapital ; novel-novel William Faulkner; filsafat Plato, Thalles ; Little Red Book karya Mao Zedong; dan What Is To Be Done nya Valdmir Lenin. “Ditunjang dengan kemampuan ingatannya yang luar biasa, Gus Dur mampu membaca beragam macam buku dalam jumlah besar dalam satu malam,” ujar Munawar. Gus Dur menemukan pandangan baru tentang masalah-masalah kebangsaan dari buku-buku tersebut. Bahkan, kata Barton, Gus Dur gemar membaca biografi tokoh-tokoh besar Amerika, utamanya Abraham Lincoln, Harry S Turman, dan Franklin D Roosevelt. Cara mereka menghadapi berbagai persoalan politik di negerinya membuat Gus Dur kagum. Baginya, bukan hanya sisi politik yang menarik untuk diikuti, tetapi tentang sifat-sifat manusia di dalamnya juga penting untuk dipelajari. Setiap tokoh dalam buku memiliki karakter masing-masing yang begitu menggambarkan keberagaman manusia. Menurut Munawar, Gus Dur suka mempelajari kepelikan sifat manusia. “Dia membaca apa pun yang bisa didapatkan, terkadang dari perpustakaan ayahnya di Jakarta, atau dari orang lain yang memang mengetahui minatnya terhadap buku,” tulis Barton Menginjak usia 22 tahun, Gus Dur menaruh minat pada masalah identitas umat Islam. Setelah lama bergumul di dalam teori sosial Barat yang liberal, ia beralih ke masalah fundamentalisme. Karya-karya intelektual muslim modern –misal Sayyid Quthub, Sayyid Ramadhan, Hasan al-Banna, dan Ali Abdul Raziq dari Al-Azhar, Mesir– mulai didekati. Harapannya, ia dapat menemukan jawaban tentang berbagai persoalan umat Islam di Indonesia, seperti kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan. Upaya terjun langsung dalam masalah fundamentalisme terpaksa ditunda karena, pada 1963, Gus Dur harus terbang ke Kairo, Mesir untuk melanjutkan studi. Namun kegelisahan tentang umat Islam di Indonesia itu terbawa juga hingga ke Mesir. Ia pun mencoba mencari berbagai jawaban dari literatur-literatur yang ada di perpustakan Mesir. Satu buku karya Aristoteles, kata Munawar, tentang etika yang dialihbahasakan oleh Ibn Khaldun ke dalam bahasa Arab, al-Akhlaq , dirasa memberi sedikit jawaban. Gus Dur lalu sadar jika segala ungkapan keislaman dan fundamentalisme tidak begitu saja dapat diterima. Alasannya karena dianggap bertentangan dengan ajalan Islam sendiri. Menurutnya, ekspresi keislaman dan fundamentalisme hanya akan berujung pada konflik. “Ekses inilah yang bertolak belakang dengan keingintahuannya terhadap sifat kemanusiaan yang sedang ia cari,” ungkap Munawar. Bacaan di Mesir Mesir tahun 1960-an, sedang mengalami perkembangan yang pesat di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, utamanya di bidang pendidikan Islam modern. Dalam buku Pejalanan Politik Gus Dur , disunting Irwan Suhanda, disebutkan bahwa Gus Dur merupakan mahasiswa di Departement of Higher Islamic and Arabic Studies, Universitas Al-Azhar. Tapi tercatat ia tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya. Selama di Mesir, Gus Dur bebas menikmati waktunya di perpustakaan-perpustakaan kota dan milik universitas, termasuk yang terbesar: Universitas Amerika di Kairo. Ia bisa seharian berdiam di perpsutakaan demi mengisi gairah membaca yang semakin tinggi di usia 25 tahun. Akses buku yang mudah didapat menjadi sebab utamanya. “Bagi Gus Dur, Kairo merupakan tempat yang sibuk dengan kehidupan sastra, pencarian pengetahuan, dan ide-ide baru,” tulis Munawar.*
- Gesekan Biola Gandrung
MELIHAT pertunjukan tari gandrung membuat hati ingin turut menari. Suara sindennya manja. Ditingkahi irama gending gamelan nan rancak dan iringan nada tinggi-rendah biola yang menyayat. Kehadiran biola, yang notabene alat musik gesek dari Barat, membuat pertunjukan gandrung kian menarik. Jarang ditemui sebuah kesenian tradisional menggandeng biola sebagai salah satu unsur dalam pementasan. Dalam pementasan gandrung, biola membantu melodi lagu-lagu yang dinyanyikan sang penari. Biola dan vokal terjalin erat dan isi-mengisi. Keduanya membangun melodi lagu dan menentukan gerak tari. Maka, posisi penggesek biola ( baola ) menjadi sentral. Pemain biola tak melihat usia, tua atau muda. Asalkan mumpuni dalam memainkan biola, bisa ikut terjun dalam pementasan. Beberapa waktu lalu, komunitas Banyuwangi Tempo Doeloe mengunjungi seorang pemain biola gandrung yang sudah senior. Dia adalah Mbah Timbul dari daerah Mangir, sebuah desa di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. “Saya mulai pegang baolah sejak tahun 1930-an. Lalu setelah cukup mahir mulai ikut dalam pementasan pada tahun 1940-an. Tidak ada guru. Ya cuma ikut melihat pas latihan lalu coba-coba sendiri. Hasilnya dulu tidak mesti, kadang dapat 15 rupiah, kadang sampai 100 rupiah,” ujarnya kepada tim Banyuwangi Tempo Doeloe, yang diunggah di laman Youtube dengan nama BTD channel. Pengaruh Eropa Gandrung merupakan salah satu kesenian asli dan tertua Banyuwangi. Kemunculan gandrung berkaitan erat dengan seblang, ritual suku Osing di Banyuwangi untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Sementara tari seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. “Lintasan gerak dan pose-pose dasar ketiga tarian tersebut pun masih menunjukkan banyak kesamaan,” tulis Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung . Perubahan dan adaptasi pun mengiringi perkembangan kesenian gandrung. Gandrung, yang awalnya dibawakan penari laki-laki, kemudian diisi penari perempuan. Begitu pula dengan penggunaan instrumen musiknya. “Susunan orkes gandrung berubah lagi sejak Mak Midah mulai menyelenggarakan pertunjukan gandrung dengan Semi sebagai penari gandrung putri yang pertama pada tahun 1895. Kala itu, mulai menggunakan instrumen diatonik biola,” tulis Bambang Sularto dalam Kesenian Rakyat Gandrung dari Banyuwangi . Semi kerap disebut-sebut dalam lahirnya kesenian gandrung. Tapi apakah Semi pula yang kali pertama menggunakan biola butuh penelitian lebih jauh. Murgiyanto dan Munardi menuturkan kisah masuknya biola dalam pertunjukan gandrung. Konon, seorang pemain musik Barat, belum jelas apakah dari Prancis atau Belanda, secara kebetulan menyaksikan pertunjukan gandrung. Mendengar nyanyian dan musik pengiringnya yang erotis, dia tertarik. Diambilnya biola miliknya dan dia pun ikut bermain. Ternyata dihasilkan suara “baru” yang dianggap enak. “Masyarakat Banyuwangi pun agaknya sangat terpesona akan barang baru ini, dan selanjutnya menggunakannya di dalam pertunjukan gandrung mereka,” tulis mereka. Jaap Kunst dalam Music in Java (1937) menyebut penggunaan dua biola sebagai musik pengiring gandrung terjadi belum begitu lama. Biola menggantikan alat musik yang disebutnya sebagai “ shawms ” –sebuah alat musik kuno dengan dua buluh, yang merupakan bentuk mula dari oboe . Murgiyanto dan Munardi menduga alat musik itu sejenis serunai, terompet, atau bahkan seruling. Dalam tari sanyang, musik pengiringnya terdiri dari seruling, kendhang, dan gong. Seruling berfungsi sebagai pembentuk melodi. Tapi pada pertunjukan gandrung, posisinya diambil-alih biola sebagai pengganti seruling. Seblang, yang mempergunakan kendhang, gong, dan kenong untuk memperjelas pola irama, kemudian ikut menggunakan biola –terutama seblang di Bakungan. “Agaknya orang lebih suka memainkan alat musik yang baru (biola) daripada harus menghabiskan napas semalam suntuk untuk meniup seruling. Memainkan biola nampaknya juga lebih ‘maju’ daripada meniup seruling dan gesekannya pun mampu mengatasi vokal manusia,” tulis Murgiyanto dan Munardi. Penambahan biola tentu saja membuat iringan musik gandrung semakin tajam dan berwarna. Improvisasi Secara fisik, biola yang digunakan dalam gandrung tidak berbeda dengan biola Barat. Tapi cara dan teknik memainkannya berbeda. Ini disebabkan sistem penggunaan senarnya. “Pada instrumen biola barat senar yang digunakan untuk biola sopran adalah senar G-D-A-E dengan ukuran terbesar hingga senar E yang terkecil. Dalam seni pertunjukan gandrung, biola tidak menggunakan senar G-D-A-E tetapi menggunakan sistem senar G-D-D-A dan tidak menggunakan senar yang paling terkecil yaitu senar E,” tulis Irfanda Rizki Harmono Sejati dalam “Biola dalam Seni Pertunjukan Gandrung Banyuwangi”, dimuat jurnal Harmonia , Desember 2012. Selain itu, untuk cara memakainya, biola gandrung diletakkan di atas siku kanan sebelah kiri. Kemudian ada teknik-teknik khusus, dengan istilah lokal, untuk menghasilkan nada-nada improvisasi dari melodi aslinya seperti rageman , ngrangin , ngembat . Kini, seiring kemeriahan Banyuwangi Festival yang rutin digelar setiap tahun, kesenian gandrung semakin ramai dan digemari pengunjung. Implikasinya banyak orang bisa menikmati dan ikut merawat kesenian ini. Pun kesejahteraan pemain gandrung menjadi semakin baik. Apalagi, mulai muncul generasi-generasi muda di bawah Mbah Timbul yang giat dan menyenangi seni tradisi.*





















