top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pengkhianatan Sang Besan

    Kertanegara bimbang. Di hadapannya ada mantan patih, Ragananta dan patih penggantinya, Mahisa Anengah. Ragananta berusaha mengingatkan sang raja tentang pengkhianatan yang mungkin terjadi dari dalam negeri sementara ia sibuk memikirkan politik luar negerinya. Sang patih tua berpikir adanya kemungkinan balas dendam dari salah satu raja bawahan, Jayakatwang terhadap Singhasari. “Sudah agak lama Jayakatwang tak berseba di Singhasari,” ucap sang bekas patih dalam Kidung Harsawijaya . Namun, Patih Mahisa Anengah punya pendapat berbeda. Semestinya, kata dia, Jayakatwang berutang budi pada Kertanegara. Tadinya dia cuma juru pengalasan di pura Singhasari. Tapi Kertanegara mengangkatnya menjadi raja Kadiri di bawah kuasa Singhasari. “Atas semua itu, beliau tak akan memberontak pemerintahan Yang Mulia,” kata Patih Mahisa Anengah. Apalagi mengingat hubungan mereka. Prasasti Mulamalurung mencatat Turukbali, istri Jayakatwang, adalah saudara Kertanegara. Saudara ipar Kertanegara ini juga rupanya masih sepupunya. Ditambah lagi, menurut Prasasti Kudadu, Jayakatwang kemudian berbesan dengan Kertanegara. Ardharaja diambil mantu oleh Kertanegara. Melihat itu, rasanya tak mungkin Jayakatwang memberontak. Kertanegara pun merasa kemungkinan itu tak masuk akal. Ia menjadi tenang kembali. Ia pun menolak pendapat bekas Patih Ragananta. Ia segera melanjutkan rencananya mengirim utusan ke negeri Malayu untuk mengantar hadiah Arca Amoghapasa. Kerajaan pun kosong. Kekosongan itu dimanfaatkan oleh Arya Wiraraja, penguasa di Madura. Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan menjelaskan, pada masa Kertangera, Wiraraja menjabat sebagai demung atau demang. Tapi kemudian ia dilorot dari kedudukannya dan ditempatkan sebagai Bupati Sumenep. Karenanya Wiraraja tak senang kepada Kertanegara. “Ia merasa diserikkan hatinya. Ia dilorot dari demung dan dipindahkan ke Sumenep sebagai adipati. Ketika datang kesempatan membalas dendam, segera ia gunakan,” jelas Muljana. Wiraraja lalu bermaksud menggunakan Jayakatwang untuk melancarkan kesumatnya itu. Putranya ia utus untuk menyampaikan surat. Baik Kidung Harsawijaya maupun Kidung Panji Wijayakrama , memaparkan isi surat Wiraraja kepada Jayakatwang yang senada. Isinya adalah isyarat tentang kondisi istana Kertanegara. Bahwa Kertanegara telah memecat menteri-menterinya dan menggantinya dengan yang baru. Rakyat dianggap tak puas dengan sikap Kertanegara. “Jika Tuanku hendak berburu ke tegal lama sekaranglah saatnya…,” tulis Wiraraja dalam suratnya. Jayakatwang juga terpa n tik perkataan patihnya kalau moyangnya, Dandang Gendhis atau Kertajaya, binasa karena pemberontakan buyut Kertanegara, Ken Angrok. Kadiri dan bala tentaranya pun musnah akibat dijajah Singhasari. “Padukalah yang mempunyai kewajiban membangun Kerajaan Kadiri dan membalas kekalahan Prabu Kertajaya,” kata sang patih.   Setelah membaca surat Wiraraja dan pendapat patihnya, Jayakatwang segera memerintahkan Patih Kebo Mundarang untuk membagi dua tentara Kadiri. Sebagian pasukan di bawah Sinapati Jaran Guyangditugaskan menyerang Singhasari dari utara. Sisa pasukannya di bawah Patih Mundarang menyerang dari selatan. “Segenap pulau tunduk kepada kuasa Raja Kertanegara, tetapi raja Kadiri, Jayakatwang, membuta dan mendurhaka,” tulis Prapanca dalam Nagarakrtagama. “Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat, berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kadiri.” Dendam Lama Bersemi Kembali Selama ini selalu dikatakan bahwa runtuhnya Kerajaan Singhasari akibat serangan raja Jayakatwang dari Kadiri. Pemantiknya adalah dendam Jayakatwangatas kematian buyutnya, Kertajaya yang ditumpas oleh buyut Kertanegara, Ken Angrok. Menurut Nagarakrtagama, sejak Kertajaya ditumbangkan Sang Rajasa, sudah ada tiga raja yang menggantikannya. Atas perintah Rajasa, raja Jayabasa naik menjadi raja di Kadiri. Ia memerintah selama 36 tahun. Lalu digantikan Raja Sastrajaya yang memerintah 13 tahun. Setelahnya Jayakatwang memerintah di Kadiri. Soal siapa sebenarnya Jayakatwang, dikisahkan berbeda-beda oleh banyak sumber. Nagarakrtagama mengisahkannya sebagai Raja Kadiri, Pararaton mencatatnya sebagai Raja di Daha. Begitu juga Kidung Panji Wijayakrama yang menceritakannya dengan nama Jayakatong sebagai raja di Daha. Sementara Kidung Harsawihaya menyebutnya dengan jelas sebagai raja di Daha, keturunan Dandang Gendhis. Ada juga dalam Prasasti Kudadu yang diterbitkan masa pemerintahan Wijaya sebagai peringatan penetapan sima sekaligus balas jasanya kepada Desa Kudadu. Prasasti ini mengisahkan Sri Jayakatyeng dari Gelang Gelang yang menyerang Sri Kertanegara. “Ia bertindak sebagai musuh, melakukan perbuatan hina, mengkhianati sahabat, mengingkari perjanjian, ingin membinasakan Kertanegara di negara Tumapel,” catat prasasti itu. Mirip dengan pernyataan prasasti, berita Catatan Dinasti Yuan menyebut Jayakatwang sebagai raja dari Kalang. Namanya disebut dengan Haji Katang. Namun setelah ia berhasil membunuh raja Jawa, Haji Gedanajiala (Kertanegara), ia bertakhta di Daha. Di Daha pulalah terjadi pertempuran akhir antara pasukan Mongol di bawah Shibi, Ike Mese, dan Gao Xing yang dibantu pasukan Wijaya melawan pasukan Jayakatwang. Melihat itu, kata ahli epigrafiBoechari, dalam Melacak Sejarah Kuno Lewat Prasasti, wajar kalau beberapa sumber, termasuk Kidung Harsawijaya, mencatat alasan pemberontakan Jayakatwang kepada besannya karena dendam. Namun rupanya ada alasan lain yang membuat hubungan keluarga tak lagi berarti. Petunjuknya ada dalam Prasasti Mulamalurung (1255). Prasasti itu antara lain mencatat anak-anak Raja Wisnuwardhana, ayah Kertanegara, yang ditetapkan sebagai penguasa wilayah. Salah satunya disebutkan wilayah Gelang Gelang yang dikuasai Turukbali, putri Wisnuwardhana,istri Jayakatyang yang juga kemenakan Wisnuwardhana. Sementara Nararya Murdhaja, putra Wisnuwardhana yang bergelar Kertanegara dinobatkan di Daha. Ia menguasai wilayah Kadiri. “Jadi, Jayakatwang adalah pangeran dari Gelang Gelang, menyerang dari Gelang Gelang dan setelah berhasil menggulingkan Kertanegara ia menguasai Daha,” jelas Boechari. Sekali lagi, Jayakatwang adalah cucu buyut Kertajaya, raja Kadiri yang dikalahkan Ken Angrok. Ia bisa saja merasa tak senang wilayah kekuasaan moyangnya, yaitu Kadiri, justru diambil raja untuk diberikan kepada putra mahkota. Sementara ia hanya diambil mantu dan mendampingi istrinya sebagai penguasa Gelang Gelang. “Mungkin ini adalah sebab yang lain mengapa ia memberontak terhadap Kertanegara,” kata Boechari. Artinya, kendati sudah diikat hubungan perkawinan sedemikian rupa, Jayakatwang masih menyimpan sakit hati terhadap Kertanegara sejak lama. Namun, sejak menerima surat Wiraraja hingga akhirnya menyerang, ia membutuhkan waktu 38 tahun. Menurut Boechari mungkin Jayakatwang tengah menanti saat yang tepat. Pun ia mungkin juga dilema karena terikat perjanjian damai dengan penguasa Singhasari. “Ia ipar sekaligus besan Kertenegara,” kata Boechari. Karenanya tak berlebihan jika Prasasti Kudadu mengatakan kalau Jayakatwang telah mengkhianati sahabat dan mengingkari janji waktu ia menyerang Kertanegara. Pada akhirnya menyatukan keluarga lewat perkawinan politik juga tak cukup memperoleh koalisi permanen.

  • Di Balik Upaya Penangkapan Kolonel Simbolon

    LETNAN KOLONEL Soegih Arto bersekongkol dengan dengan orang-orang kepercayaannya:  Komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB setara Kodim), Kapten Kavaleri Cuk Soewondo, dan Letnan Satu Suharto. Mereka punya misi menangkap Panglima Kodam Bukit Barisan Kolonel Maludin Simbolon. “Selama bertugas di Medan, peristiwa demi peristiwa terjadi, ada yang agak serius, ada pula yang menjurus ke makar, pemberontakan terhadap pemerintah pusat,” tutur Soegih Arto dalam memoarnya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto . Pada 22 Desember 1956, Simbolon memproklamasikan berdirinya Dewan Gajah di depan corong RRI. Dalam deklarasinya, Simbolon menyatakan pemutusan hubungan dengan pemerintah untuk sementara waktu. Simbolon juga menyatakan tidak mengakui Kabinet Ali II (Ali-Roem-Idham). Untuk melegitimasi kedudukan, Simbolon mengambil alih pemerintahan di teritorium Sumatra Utara. Soegih Arto menangkap gelagat bahwa Simbolon akan melancarkan pemberontakan. Sebagai perwira paling senior di kalangan pendatang, Soegih Arto didapuk menjadi pemimpin gerakan penangkapan Simbolon. Soegih Arto sempat perang batin karena ketakutan meringkus atasan sendiri. Tapi anak buahnya merongrong karena sudah ada perintah dari Panglima Tertinggi (Presiden Sukarno). “ Overste memimpin gerakan ini, atau Overste tidak akan meninggalkan ruangan ini hidup-hidup. Memimpin gerakan atau mati. Bulat sudah telad kami,” kata Letnan Satu Suharto kepada Soegih Arto dalam sebuah rapat di asrama kavaleri.      Setelah urun rembug, rencana esksekusi Simbolon akhirnya ditentukan: 26 Desember. Pada hari itu, Simbolon mengundang semua perwira teras ke rumahnya dalam sebuah jamuan makan malam perayaan Natal. Soegih Arto datang dengan hati kalut. Sementara itu, dia telah mengerahkan pasukan anti Simbolon sekira satu batalyon banyaknya mengepung Kota Medan, termasuk ke Jalan Walikota No. 2, alamat kediaman Simbolon. Dalam acara jamuan makan itu, suasana sukacita begitu diperlihatkan oleh tuan rumah. Aneka penganan lezat dan hidangan khas Batak berjejal di meja makan.  Pesta Natal merupakan hari raya bagi Simbolon sekeluarga. Simbolon sesekali meninggalkan ruangan makan karena harus menerima laporan anak buahnya via telepon. Kendati demikian,  Soegih Arto mengenang tawa selalui menghiasi wajah Simbolon pada malam itu. Namun bagi Soegih Arto, situasi sungguh genting dan tidak menentu. Makanan enak terasa hambar di lidahnya. Dia takut kalau gerakan bocor. Bisa-bisa, Soegih Arto jadi tawanan di tengah jamuan makan malam. “Begitu kacau pikiran saya, sampai makan pun kesasar ke tempat khusus yang disediakan untuk perwira Batak, karena di situ disajikan sayur anjing!” kenang Soegih Arto. Rupanya Simbolon keburu mengendus gerakan pasukan yang menentangnya sedang berjalan menuju Medan. Tapi Simbolon tidak menyadari komplotan Soegih Arto yang hendak meringkus dan menghadapkannya ke petinggi di Jakarta. Jamuan makan di rumah Simbolon akhirnya ditutup lebih awal. Semua perwira diperintahkan kembali siaga ke posnya masing-masing. Soegih Arto menyusut siasat mengepung Simbolon sampai menyerah. Namun dia terlambat, Pagi-pagi buta, Simbolon sekeluarga mengungsi ke arah Tapanuli Utara. Simbolon keluar dari Kota Medan dengan kawalan 400 orang tentara dari Kapten Sinta Pohan yang memihak Simbolon. Dengan lolosnya Simbolon, maka gagallah upaya kelompok Soegih Arto, setelah komandannya sempat hampir kecele memakan daging anjing.

  • Celana Dalam Al-Baghdadi dan Kahar Muzakkar

    SAAT disergap pasukan Amerika Serikat pada 27 Oktober 2019, Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS, melarikan diri ke terowongan. Dia meledakkan dirinya yang juga menewaskan tiga anaknya. Tes DNA pada sisa tubuhnya memastikan kematian Al-Baghdadi. Setelah disalatkan, sisa tubuhnya dilarung ke laut seperti pemimpin Al-Qaeda, Osama bin Laden, pada 2011. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengecilkan peran pasukan Kurdi, Kekuatan Demokratik Suriah (SDF), dalam operasi itu. Trump menyebut Kurdi memberikan informasi yang membantu, namun sama sekali tidak melakukan peran militer. Polat Can, komandan senior SDF, pun bersuara lewat akun twitternya. Dia mengungkapkan bahwa SDF bekerja sama dengan CIA untuk melacak Al-Baghdadi sejak 15 Mei 2019, dan menemukan persembunyiannya di Provinsi Idlib. Al-Baghdadi akan pindah ke tempat baru di Jarablus namun keburu diserbu.

  • Ragam Cerita dari Tes DNA

    Historia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) di Museum Nasional 15 Oktober–10 November 2019. Pameran ini menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia serta sejarah manusia ditinjau dari segi arkeologis dan antropologis.  Pameran ASOI juga memaparkan sejarah DNA (Asam Deoksiribonukleat) dan bagaimana tes DNA bisa melacak asal-usul moyang seseorang. Untuk itu, Historia mengadakan serangkaian tes DNA terhadap sejumlah tokoh publik dari beragam panggung, dari politik sampai seni. Antara lain Ariel Noah, Grace Natalie, Najwa Shihab, Mira Lesmana, Riri Riza, Budiman Sudjatmiko, Ayu Utami, dan Hasto Kristiyanto. Hasil tes DNA tokoh publik tersebut ditampilkan secara gamblang dalam pameran ini. Juga tanggapan mereka tentang tes DNA dan hasilnya. Berikut ini sepenggal tanggapan mereka. Grace Natalie & Ayu Utami Grace mengatakan dirinya berasal dari Bangka, Timur Sumatra. Tapi dia tak tahu pasti kampung halaman leluhurnya. Dari cerita ibu dan pengalaman bertemu dengan saudara, Grace mengetahui kakek buyut dari pihak ibu berasal dari Tiongkok lalu menetap lama di Bangka. Leluhurnya kemudian menikah silang dengan orang tempatan. Hasil tes DNA memperkaya pengetahuan Grace tentang asal-usul leluhurnya. Dia punya DNA Timur Tengah, yaitu suku Afghanistani. “Gak Nyangka. Yang penampakannya kayak saya begini ternyata dulu-dulunya banget ada leluhur Afghanistan,” kata Grace. Novelis Ayu Utami (kiri) dan Grace Natalie (kanan) sama-sama terkejut dengan hasil DNA mereka. (Fernando Randy/Historia). Novelis Ayu Utami pun terkejut punya gen Timur Tengah dan India. “Mayoritas gen saya karena saya dari Jawa, memang pasti dari Asia. Tapi yang tidak saya duga, yaitu dari gen Timur Tengah, spesifiknya Kurdi. Suatu data yang menarik dan kebetulan juga berasal dari daerah-daerah yang punya sejarah agama dan pemikiran yang asyik,” ujar Ayu. Najwa Shihab Mudah menebak Najwa berasal dari mana jika melihat tampangnya. Dia punya tampang kearab-araban. Tapi hasil tes DNA menyatakan lain. Persentase DNA Arab yang dia miliki hanya 3.4%. Selain itu, ada pula DNA Puerto Rico. Meski dia tidak tahu mengapa bisa leluhurnya berada di sana, Najwa merasa senang karena beragam gen mengalir di dalam dirinya.  Ekspresi Najwa saat mengetahui hasil tes DNA miliknya. (Fernando Randy/Historia). “Selalu menyenangkan untuk tahu lebih banyak tentang diri sendiri terutama asal-usul kita,” kata Najwa. Dia menyadari keberagaman suku di Indonesia merupakan sebuah nilai yang sangat besar. Menurutnya sangat menarik bisa menggambarkan kekayaan Bhineka Tunggal Ika lewat tes DNA. Najwa tampak tersenyum saat mengetahui hasil tes DNA miliknya. (Fernando Randy/Historia). Hasto Kristiyanto Sebagian besar DNA moyang Hasto berasal dari Asia Timur. Yang menarik, dia juga memiliki jejak moyang dari Timur Tengah, yaitu Semitik yang kemungkinan besar dari orang-orang Samaria (kini di Palestina). Hasto Kristiyanto usai pengambilan sampel untuk tes DNA di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). “Saya tidak kaget. Sejak awal saya meyakini bahwa Nusantara adalah titik temu dari berbagai ras, etnis, dan peradaban dunia. Sehingga kita tidak bisa mengatakan diri kita asli. Inilah kita semua, perpaduan dari berbagai etnis dunia,” kata Hasto. Riri Riza Sutrada Riri Riza mempunyai banyak suku India dalam tubuhnya. (Fernando Randy/Historia). Riri mengaku senang mengetahui hasil DNA-nya. Dia memiliki DNA dominan dari Asia Selatan. “Saya merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga global yang besar,” kata Riri. Hasil tes juga membawanya ke pemahaman baru mengapa dia begitu nyaman dengan aroma, rasa, atau lingkungan yang banyak orang Indianya. “Saya Muhammad Rifai Riza dan saya merasa sangat nyaman,” tambahnya. Mira Lesmana dan Riri Riza tampak serius membaca hasil tes DNA milik mereka. (Fernando Randy/Historia). Mira Lesmana Mira Lesmana cukup kaget dengan hasil tes DNA miliknya. (Fernando Randy/Historia). Bagi Mira, informasi terkait leluhur sangat penting. Karena dapat membuktikan bahwa setiap manusia terkait satu sama lain. Proyek DNA juga bagi Mira memberikan gambaran bahwa tidak ada manusia yang lebih superior atau inferior. “Kita harus menyadari bahwa siapa kita itu tergantung dari diri kita sendiri dan kita tidak boleh merendahkan yang lain,” tutup Mira. Ariel Noah Nazril Irham atau yang populer disapa Ariel Noah mengaku kerap menerima celetukan “rasis” dari teman-temannya. “Ah pelit lu, Padang!” Begitulah celetukan yang jamak diterima oleh musikus kelahiran 16 September 1981 itu. Namun alih-alih menanggapi, Ariel tak ambil pusing dengannya. Ia menganggapnya semata selorohan saja. “ Nggak sampai  bully , hanya ejekan ringan,” kata Ariel sambil terkekeh. Ekspresi Ariel saat mengetahui terdapat gen Yunani dan Siprus di dirinya. (Fernando Randy/Historia). “Kita satu negara bisa banyak sekali keberagamannya. Dan itu menarik. Berbekal dari pengetahuan masa lalu, bagus untuk masa depan. Terutama menghindari  bully  yang tak perlu tentang kesukuan,” kata Ariel. Ariel tampak serius menyimak hasil tes DNA miliknya. (Fernando Randy/Historia). Budiman Sudjatmiko Politisi Budiman Sudjatmiko tersenyum usai mengetahui hasil tes DNA dirinya. (Fernando Randy/Historia). Budiman Sudjatmiko merasa terkejut memiliki DNA dari Samaritan serupa seperti rekannya, Hasto Kristiyanto. “Saya terkejut, kok, satu partai (PDI Perjuangan) sama-sama turunan, kalau dalam Alkitab, Yesus menyebut The good Samaritan , yaitu orang Samaria yang baik. Orang Samaria yang menolong sesamanya tanpa melihat asal-usul dan agamanya, dan kelihatannya cocok dengan ideologi kita, Bung Hasto,…Marhaenisme,” kata Budiman sambil tertawa. Budiman Sudjatmiko saat ditemui di kawasan Senayan Jakarta. (Fernando Randy/Historia ).

  • PSM Makassar dalam Anging Sejarah

    IBARAT kapal phinisi yang mengarungi lautan, PSM Makassar ikut terombang-ambing kala kondisi persepakbolaan bangsa sejak era kolonial hingga milenial bergolak. Namun, tempaan gelombang dalam lintasan sejarah panjangnya membuat tim berjuluk “Juku Eja” itu “dewasa” hingga bertahan di jajaran tim-tim elit di tanah air. CEO PSM Makassar Munafri Arifuddin alias Appi tahu betul seperti apa eksistensi PSM bagi masyarakat di Kota Makassar maupun seantero Sulawesi Selatan. Sejak kecil dan bertumbuh di Makassar, menantu bos Bosowa Corp Aksa Mahmud itu sudah gandrung dengan PSM. “Seperti anak-anak Makassar di usia saya, akan sangat bangga mengenal PSM. Enggak ada kebanggaan lain yang kita bawa di kota ini selain PSM,” cetus Appi yang berbincang dengan Historia di ruang VIP Stadion Andi Mattalatta usai menyaksikan timnya menggilas Arema FC, 6-2, dalam laga tunda pekan ke-23 Liga 1, Rabu 16 Oktober 2019 malam. Sejak menakhodai PSM pada 2016, Appi menggulirkan sejumlah gebrakan. Salah satunya, mengganti logo klub. Sejak 1959 atau delapan tahun pasca-pergantian nama dari Makassarsche Voetbalbond (MVB) menjadi Persatuan Sepakbola Makassar (PSM), logo tim itu serupa dengan logo Pemkot Makassar: kapal Phinisi di tengah perisai yang dihiasi motif benteng. Munafri Arifuddin, CEO PSM Makassar (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Pada 15 April 2017, PSM menggunakan logo baru berupa perisai merah warna kebanggaan klub dan kota Makassar dan kapal phinisi dengan background bola sepak. Logo itu penyempurnaan dari 10 karya terbaik sayembara yang dipilih jajaran PT Persaudaraan Sepakbola Makassar (PT PSM), manajemen yang menaungi PSM. “Di tahun kedua saya pegang manajemen, saya beranikan diri mengganti logo. Saya mencoba keluar dari pakem bahwa PSM adalah klub perserikatan,” lanjutnya. Di bagian bawah perisai logo itu dicantumkan tahun berdirinya klub: 1915. Dalam sejarah klub yang dimuat situs resmi PSM, dicantumkan tahun kelahiran PSM adalah 1915. Namun, sejatinya tahun lahirnya PSM masih jadi perdebatan, yakni apakah 1915 atau 1916. Lahir 1915 atau 1916? MVB bukanlah klub tertua di “Kota Anging Mamiri”. Koran Soerabaijasch Handelsblad edisi 17 Juni 1939 memberitakan, tim tertua di Makassar adalah Prosit. Perkumpulan amatir milik orang Belanda itu berdiri sejak 1909. “Kemudian Excelsior usianya 25 tahun dan Vios pada 23 Juni nanti akan merayakan hari jadinya yang ke-23. Bekas klub ‘Jong Ambon’ sudah beruban nama jadi Zwaluwen pada 1932. Tetapi hanya Excelsior dan Vios yang punya lapangan sendiri. Lainnya kemudian menumpang di lapangan Makassarschen Voetbalbond,” demikian berita koran tersebut. Orang-orang Belanda punya banyak klub amatir, seperti Osvia dan PSV. Total ada 15 tim di bawah naungan MVB yang diberitakan koran itu. Namun, tidak hanya orang-orang Indo, Belanda, dan Ambon yang punya klub di sana. Sepakbola di sana juga menyebar di komunitas Arab, Tionghoa, dan bumiputera. Komunitas Arab punya klub Annasar, masyarakat Tionghoa punya Excelsior dan Nam Hwa, dan bumiputera punya Mangoeni, MOS (Maen Oentoek Sport), Celebes Voetbalbond, dan Bintang Prijaji. Versi lain dari suratkabar Makassarsche Courant , 1 Maret 1916 menyebut, MVB lahir tahun 1916, bukan 1915 sebagaimana yang dirujuk klub PSM . “Memang disebutkan klub tertua di Liga Indonesia. Tapi kan masih didebatkan sebenarnya apakah benar 1915?” tutur Sulaeman, media officer PSM. Skuad PSM Makassar tengah berlatih di Stadion Andi Mattalatta/Mattoanging (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Dalam berita suratkabar itu, MVB berdiri pada 27 Februari 1916. Kisahnya berawal dari digelarnya kompetisi lokal berisi belasan klub amatir di atas dari 2 November 1915 sampai Februari 1916. Selepas kompetisi, 12 klub yang berlaga itu duduk bersama dalam sebuah forum yang dipimpin seorang kontrolir, M.L. Hartwig. Mereka sepakat membentuk satu tim besar, MVB, untuk menaungi bond-bond amatir itu, 27 Februari 1916. “Secara aklamasi terpilih M.L. Hartwig (ketua), E. Bouvy (wakil ketua), F. van Bommel (sekretaris/bendahara), J.W.G. Boukers, W.R. Groskamp, O. Thiele, Sagi dan Mangkalan (direksi). Anggota wajib membayar iuran f 2,50 (2,50 gulden) per bulan,” sebut koran itu. Di jajaran petinggi MVB, menariknya terdapat dua nama dari golongan bumiputera: Sagi dan Mangkalan. Sementara Mangkalan sampai kini masih misterius, Sagi tercatat sebagai kapten Bintang Prijaji, tim bumiputera yang turut mendirikan MVB. Situs data RSSSF mencantumkan keterangan serupa. Selepas lempar jangkar, MVB berlayar dengan arah sedikit berbeda dari klub-klub di Pulau Jawa. Di Jawa, lazim terjadi persaingan berbau politik antara klub-klub Belanda, bumiputera, dan Tionghoa. Sementra, MVB justru jadi wadah bagi orang Indo, Belanda, dan bumiputra di Makassar. Meski pada 1929 menginduk ke NIVB sebagai federasi sepakbola bentukan Belanda dan bukan ke PSSI, MVB tetap menggulirkan kompetisi sendiri tanpa gesekan kelas masyarakat. MVB sendiri lebih sering berlaga dalam tur yang lazimnya ke Jawa atau acapkali menjamu klub-klub mancanegara dari Hong Kong hingga Australia. Timnas AFA (Australia) bahkan pernah menjajal MVB kala melawat ke Hindia Belanda pada 2 Juli 1928. Kala itu tim “Negeri Kanguru” itu tengah mencari sparing partner untuk persiapan Olimpiade 1928. MVB kalah 1-2. Andi Ramang (kiri) dan Maulwi Saelan (berkaos putih) dua legenda PSM Makassar (Foto: FIFA/De Preangerbode, 22 Juli 1957) Sebagai klub bentukan Belanda, MVB terpaksa vakum di masa pendudukan Jepang hingga Indonesia merdeka (1942-1945). Pada 1949, MVB muncul lagi di kompetisi Voorwedstrijden di bawah VUVSI/ISNIS, induk sepakbola Belanda yang mulanya NIVB. MVB finis di urutan empat dari lima peserta. Ketika sepakbola Indonesia direorganisasi pada awal 1950, VUVSI/ISNIS bubar. Klub-klub bentukan Belanda otomatis bubar dan sebagian meleburkan diri ke klub bumiputera. Tapi MVB sebagai entitas yang majemuk sejak awal, tetap bertahan. Hanya namanya saja yang berubah pada 1951 menjadi Persatoean Sepakbola Makassar (PSM) demi bisa ikut kompetisi Perserikatan yang operasionalnya bergantung dari APBD. Atribut PSM dari Masa ke Masa Warna merah tak pernah berganti sebagai warna klub sejak dari MVB hingga menjadi PSM. Perubahan signifikan hanya terjadi pada logo klub. Kala baru lahir, MVB berlaga tanpa logo di kostum. Logo bertuliskan MVB baru dibubuhi pada 1926 dan pada 1959 logo dibuat selaras dengan logo Kota Makassar, sebagaimana klub-klub Perserikatan lain. Lalu, di mana homebase MVB? Di masa kolonial, hanya sedikit lapangan sepakbola di Makassar. Lapangan Koningsplein (kini Lapangan Karebosi) dimiliki Excelsior. “Sebelum stadion (Andi Mattalatta) dibangun 1957, PSM mainnya di lapangan dekat sini juga. Itu yang sekarang jadi kantor TVRI Makassar (kini TVRI Sulsel),” terang Ketua Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan (YOSS) Andi Karim Beso Manggabarani menunjuk arah sebuah lahan di timur komplek olahraga Gelora Andi Mattalatta-Mattoanging. Ketua YOSS Andi Karim Beso Manggabarani (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Andi Karim juga mengaku tahu di mana lapangan pertama MVB. Ia mendapati kisahnya dari kakek, paman, dan ayahnya yang berkecimpung dalam sepakbola di Makassar sebelum Jepang datang hingga 1945. “Kalau mau bicara PSM, lapangan pertamanya itu di Masjid Raya (Makassar). Itu yang belum pernah orang tahu. Kenapa di sana? Karena di sana ada stasiun keretaapi. Di tempat itu ada lapangan yang berdekatan dengan stasiun yang (keretaapinya) menghubungkan Gowa-Pasar Butung-pelabuhan,” sambungnya. Masjid Raya Makassar berada di Jalan Bulusaurung. Masjid yang baru diresmikan pada 1949 itu rupanya bekas lapangan sepakbola. Kondisinya mirip seperti salah satu stadion di Jakarta. “Seperti Gambir (di Jakarta) saja di masa Belanda. Ada stasiun, di sebelahnya ada lapangan. Tapi orang main bola di situ dibuat juga ajang judi (taruhan). Makanya kemudian setelah merdeka, lapangan itu diubah jadi masjid,” tambahnya. PSM tumbuh jadi klub yang dibanggakan kota Makassar di pentas perdana Perserikatan pascamerdeka itu juga, musim 1951. PSM jadi runner-up di bawah Persibaja Soerabaja (Persebaya) di klasemen akhir. Enam tahun kemudian barulah masyarakat “Kota Daeng” merebut gelar Juara Perserikatan, yang diulangi pada 1959. Stadion Andi Mattalatta-Mattoanging, homebase PSM Makassar (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Di musim 1964-1965 dan 1965-1967, PSM kembali berjaya. Meski tetap jadi salah satu favorit juara di tiap musimnya, PSM butuh waktu lama untuk bisa juara lagi. Gelar ketiga baru mereka gondol di musim 1991-1992 dan gelar keempat, saat sudah berubah format kompetisi menjadi Liga Indonesia di musim 1999-2000 . Lagi-lagi, PSM butuh hampir dua dekade sebelum akhirnya bisa merebut trofi bergengsi trofi bergengsi lagi, yakni Piala Indonesia yang dipetik pada 6 Agustus 2019. Seiring perjalanan panjang itu pula tumbuh basis-basis suporter yang terorganisir mulai 1990. Setelah kelompok Suporter Mappanyukki, menyusul Ikatan Suporter Makassar (ISM) pada 1995 dan yang terbesar adalah kelompok suporter kreatif The Macz Man yang lahir pada 2000. “Inilah tim PSM Makassar. Inilah tim tertua dengan segudang prestasi dan begitu banyak perjalanan yang menorehkan sejarah persepakbolaan Indonesia,” tandas Appi.

  • Menghirup Sejarah Ngelem Aibon

    Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat merencanakan pengadaan lem Aibon untuk 37.500 siswa. Nilainya mencapai Rp82 miliar. Rencana ini termuat dalam laman apbd.jakarta.go.id. Tapi sekarang rencana anggaran itu telah menghilang. Karuan khalayak jadi gaduh. Pejabat dinas pendidikan berupaya menjelaskan pangkal perkaranya. Khalayak bertanya untuk apa lem sebanyak itu. Ada juga meme menyindir Pemerintah Provinsi Jakarta sedang mabok lem Aibon. Lem ini mengandung Lysergic Acid Diethilamide (LSD). Fungsinya sebagai penguat daya rekat dengan bahan-bahan seperti kayu, plastik, tembaga, kulit, dan besi. LSD berbau menyengat. Jika seseorang menghirupnya, dia akan lekas berhalusinasi selama beberapa jam. Efeknya bikin ketagihan. Mirip dengan efek menggunakan narkoba. Tapi harga lem Aibon lebih murah daripada narkoba. Ini penyebab sejumlah orang menyalahgunakan lem Aibon dengan cara menghirupnya dalam-dalam ( volatile substance misuse ). Jejak penyalahgunaan ini bermula sejak 1980-an dan muncul dari kalangan anak-anak jalanan. “Penyalahgunaan zat hirup ( volatile substance misuse ) dapat dikatakan sebagai salah satu acara rekreasional sejak 1980-an,” catat artikel “Anak Jalanan, Seks, dan Ngelem”, termuat di Kompas , 2 September 1998. Kelompok anak jalanan sebenarnya telah terbentuk dari masa resesi ekonomi di Hindia Belanda pada 1930-an. Resesi menyebabkan orang-orang di kota kehilangan pekerjaan. Kebanyakan kaum miskin. Mereka tak punya tabungan untuk masa sulit. Untuk melanjutkan hidup, mereka menggelandang bersama keluarga, termasuk anaknya. Anak-anak itu menghabiskan lebih banyak waktu di jalanan bersama keluarganya. Baik membantu bekerja sebagai pengemis ataupun sekadar mengikuti pergerakan orangtuanya. Ekonomi Hindia berangsur pulih dan resesi berakhir. Tapi anak-anak jalanan terus tersua di kota pada dekade-dekade setelahnya. Sebuah foto koleksi Scott Merrillees, kolektor kartu pos, menangkap momen seorang anak lelaki berusia sekira 6 tahunan tertidur di pinggir Jalan Juanda. Pakaiannya rombeng dan lusuh. “Suatu pemandangan tragis dan mengoyak hati,” komentar Scott dalam Greetings From Jakarta: Postcatrds of a Capital 1900—1950. Memasuki 1960-an, anak-anak jalanan tak mesti selalu bekerja di jalanan bersama orangtuanya. Sebilangan mereka sengaja hidup meninggalkan sekolah dan orangtuanya di desa. Mereka datang ke kota atas ajakan kawan atau saudaranya. “Mulanya untuk berjualan kecil-kecilan, tapi karena mereka tidak tahu caranya berdagang, lebih suka membelanjakan uang tak menentu, akhirnya rugi, dan menjadilah penggosok sepatu,” ungkap Selecta , No 39 Tahun 1960. Kehidupan di jalanan serba tak pasti dan berbeda dari kehidupan normal di rumah. Anak-anak itu membentuk norma dan kebudayaannya sendiri. Mereka telah mengenal dan mencobai banyak hal di luar jangkauan usianya. Ada perkenalan dengan rokok, minuman keras, kata-kata cabul, dan hubungan seksual. “Melihat pergaulan dan pertumbuhan mereka ini kami khawatirkan akan menuju ke arah perkembangan rohani yang tidak baik yang akibatnya nanti bukan hanya mereka yang rugi tapi juga masyarakatnya akan dibuat rugi,” tulis Selecta .   Kekhawatiran itu menjelma kenyataan. Nasib anak-anak jalanan kian kelam pada 1980-an. Mereka menjajal obat-obatan terlarang. Beberapa di antaranya tewas setelah kelebihan dosis. Sebilangan lainnya terjerumus ke dunia kejahatan demi memperoleh obat-obatan terlarang. Anak-anak jalanan begitu kepincut dengan obat-obatan terlarang lantaran bisa melupakan keras dan perihnya hidup di jalanan. Tapi harga obat-obatan terlarang cukup mahal. Anak jalanan membelinya secara patungan. Satu butir seringkali dibagi berempat. Cara memperoleh obat-obatan terlarang juga tak mudah. Harus melalui perantara dan jaringan khusus. Hingga akhirnya mereka menemukan cara lebih murah dan mudah untuk melupakan sejenak penatnya hidup. Mereka ngelem alias menghirup uap lem Aibon. Lem Aibon mulai beredar di Indonesia pada 1974. Jenama ini lesat menjadi lem tertangguh di Indonesia. Para kuli bangunan, produsen sepatu, tas, dan mainan anak-anak menggunakan lem ini untuk membuat produknya. Semua anak-anak jalanan berpendidikan rendah. Tapi sebagian besar tidak buta huruf. Justru mereka mempunyai minat membaca. Banyak dari mereka membaca koran dan majalah di waktu luangnya. Hal ini diungkap oleh Dhevy Setya Wibawa, dalam Anak Jalanan Pun Punya Waktu Luang , tesis pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, tahun 2000. Koran dan majalah memuat informasi tentang penyalahgunaan bahan-bahan adiktif dalam produk rumah tangga di Inggris. Produknya antara lain bensin, thinner , lem perekat, semir, pewangi, dan pembersih karpet. Semua produk tersebut mengandung bahan solven organik (bahan kimia cair untuk melarutkan bahan kimia lainnya). Ciri khasnya beraroma menusuk dan bisa mempengaruhi kesadaran si penghirupnya. Para remaja di Inggris menggunakan produk itu untuk mabuk-mabukan. “Penelitian ini dilakukan di Inggris tahun 1980,” catat Kompas , 7 Juni 1997. Anak jalanan di Indonesia mengeksplorasi informasi secuil itu. Mereka kemudian bereksperimen dengan produk-produk rumah tangga. Dari sekian banyak produk termaksud, lem Aibon paling memuaskan mereka untuk lari sementara waktu dari stres. Ketangguhan lem Aibon untuk mabuk pun tersebar di kelompok anak jalanan. Penyalahgunaannya meluas dan menembus masa. Perhatian orang tentang anak-anak jalanan di kota-kota besar Indonesia meningkat pada akhir dekade 1980-an. Mereka menjadi bahasan sendiri. Sebelumya mereka selalu disinggung bertalian dengan perilaku menggelandang. Tolok ukur peningkatan perhatian masyarakat terhadap anak-anak jalanan terlihat dari maraknya penelitian buku dan jurnal. Contohnya Penelitian tentang Anak Jalanan: Kondisi, Masalah, dan Penanggulangannya, karya bersama Fakultas Psikologi UI dan Kegiatan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta tahun 1989. Menyusul penelitian tadi, terbit pula tugas akhir mahasiswa tentang anak jalanan. Kisah kehidupan mereka terekam pula dalam ulasan populer di media massa. Tak ketinggalan sutradara Garin Nugroho turut mengangkat kehidupan anak jalanan di Yogyakarta ke layar lebar. Film bioskop itu berjudul Daun di Atas Bantal. Semua terbitan dan karya itu terang menjabarkan aktivitas anak-anak jalanan. Mereka kerja dari pagi sampai malam, lalu menghadapi kekerasan fisik, verbal, dan seksual (sodomi) dari orang dewasa, petugas keamanan, atau sesama anak jalanan. Kasus pembunuhan dan sodomi oleh Robot Gedek terhadap anak-anak jalanan sepanjang 1994-1996 menandakan masalah pelik anak-anak jalanan.  “Ngelem adalah mekanisme mengatasi persoalan bagi anak jalanan. Mereka bisa tetap terjaga, waspada terhadap kekerasan, dan tidur untuk melupakan sakit tubuh dan batin,” catat Kompas , 2 September 1998. Pengakuan langsung dari anak jalanan tak jauh berbeda. “ Ngaibon menghibur hati, bisa ngimpi. Duit gopek (Rp500) dikira goceng (Rp5000)… Pohon kita masukin, kita raba-raba,” kata seorang anak jalanan dalam Anak Jalanan Pun Punya Waktu Luang .   Tapi anak jalanan juga sadar bahwa ngelem merusak tubuh mereka. Bahkan mengancam pula nyawa mereka. “Ngelem enak juga sih dulu. Saya udah nggak doyan lagi. Sakit keluar busa dari mulut. Itu kebanyakan Aibon, jadi saya enggak mau lagi. Sekarang nggak kuat nyium baunya,” ungkap Rudi, seorang anak jalanan, dalam Anak Jalanan Pun Punya Waktu Luang . Penelitian menyimpulkan bahwa zat dalam lem Aibon menyebabkan kerusakan hati, ginjal, otak, dan tulang sum-sum. Peruntukan lem ini sedari awal bukanlah untuk dihirup. Sampai sekarang pun begitu. Peruntukannya hanya untuk merekatkan bahan-bahan tertentu.

  • Membentuk Sekutu Politik

    Pernikahan bisa jadi jalan membentuk persekutuan. Tujuannya untuk mengukuhkan kedudukan, baik sebagai raja maupun penguasa daerah.Perkawinan politis antarkeluarga penguasa tercatat dalam banyak prasasti Jawa Kuno,seperti beberapa prasasti masa Mataram Kuno. Prasasti Mungu Antan (887) menyebut Sang Hadyan Palutungan, selir Sang Dewata ing Pastika atau Rakai Pikatan, raja Mataram Kuno. Ia adalah adik dari Sang Pamgat Munggu. Prasasti Taji (901) menyebut Sri Bharu Dyah Dheta, anak Rakryan I Wungkaltihang Pu Sanggramadhurandhara, menjadi istri Sang Pamgat Dmung Pu Cintya Pu Sanggramadhurandhara yang mempunyai kedudukan rakarayan i wungkaltihang .  “Itu bersinonim dengan rakarayan I halu adalah anak raja yang mempunyai urutan kedua atas takhta setelah putra mahkota atau rakarayan mapatih I hino ,” tulis Titi Surti Nastiti, ahli epigrafi Pusat Penlitian Arkeologi Nasional, dalam  Perempuan Jawa. Lewat Prasasti Cungran II dan Prasasti Geweg diketahui bahwa Mpu Sindok, penguasa Mataram Kuno di Jawa Timur menikahi putri dari Rakryan Bawang. Ia dijadikannya permaisuri bergelar Sri Parameswari Dyah Warddhani Pu Kbi. “Perkawinan politis antara raja atau kerabat dekatnya dengan putri atau kerabat dekat bangsawan yang berada di bawah kekuasaannya bertujuan untuk memperkokoh kedudukannya,” kata Titi. Bahkan untuk tujuan yang sama, kalau memungkinkan perkawinan antar sepupu pun dilakukan. Lumrah terjadi di Jawa. Padahal dalam aturan hukum India tak diperkenankan. Kitab  Manawadharmasastra melarang seorang lelaki menikah dengan perempuan yang masih  sapinda atau ada hubungan tujuh generasi dari pihak ayah dan lima generasi dari pihak ibu dengan si laki-laki. Namun, dalam prasasti maupun naskah Jawa Kuno, sering disebut pernikahan antarsaudara sepupu. Terutama mereka yang berasal dari kalangan kerajaan.“Mungkin ini dilakukan untuk menjaga harta mereka supaya tak jatuh ke tangan orang lain,” jelas Titi. Perkawinan semacam itu disebut dalam prasasti paling tidak sejak masa Dharmawangsa Tguh, penguasa Medang pada periode Jawa Timur. Misalnya, Prasasti Pucangan (1037)mengisahkan perkawinan Airlangga dengan putri Tguh. Dalam naskah  Nagarakrtagama  atau  Desawarnana  disebutkan, Kertarajasa atau Raden Wijaya menikahi empat putri Krtanegara. Mereka adalah sepupu, kendati sepupu derajat ketiga. “Ayah Kertarajasa, Dyah Lembu Tal, masih saudara sepupu Kertanegara,” jelas Titi. Perkawinan lainnya terjadi lagi pada masa Majapahit. Raja Hayam Wurukmenikah dengan anak suami bibinya.Wikramawarddhana menikah dengan Kusumawarddhani, putri kakak laki-laki ibunya. Sedangkan Dewi Suhita menikah dengan Ratnapangkaja, anak dari adik perempuan ayahnya.  Wijayaparakramawarddhana manikah dengan Jayawarddhani, putri adik perempuan ayahnya. Sementara Rajasawarddhana menikah dengan Bhre Tanjungpura, putri dari adik laki-laki ayahnya. Girisawarddhana menikah dengan Bhre Kabalan. Penguasa wilayah Kabalan itu adalah cucu perempuan adik kakeknya. Terakhir, Singhawikramawarddhana menikah dengan Bhre Singhapura, putri dari anak sepupunya. Penguasa-penguasa daerah Majapahit pun banyak yang diikat dengan perkawinan. Mereka biasanya kerabat dekat raja. Banyak juga yang masih saudara sepupu.  Seperti tertulis dalam Prasasti Trowulan II dan  Pararaton,  Bhre Tumapel Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana mempunyai istri Bhre Singhapura Dyah Sripura Rajasawarddhanadewi. Pararaton  mencatat, mereka masih saudara sepupu. Ayah Dyah Suprabhawa yang bernama Girisawarddhana adalah kakak laki-laki ibunya Rajasawarddhanadewi. “Perkawinan antarsaudara sepupu juga adalah perkawinan politis yang sudah dilakukan sejak masa Mataram Kuno,” jelas Titi. “Dimaksudkan untuk menghindarkan kekuasaan mereka jatuh ke kekeluarga lain.” Kebiasaan itu berlanjut hingga masa kerajaan-kerajaan Islam. Misalnya, pada abad ke-18, Sunan Surakarta menjadikan sejumlah perempuan dari Pulau Madura sebagai permaisuri. Pernikahan ini dilaksanakan untuk memastikan hubungan baik dengan para penguasa lokal Madura.  Menurut sejarawan Peter Carey dalam  Perempuan-Perempuan Jawa  relasi semacam itu disebut sebagai politik penyambung dengan daerah bawahan. Fungsi utama putri raja dan bangsawan keraton dalam tahun-tahun menjelang Perang Jawa, adalah sebagai pemelihara dinasti atau wangsa dan sebagai wadah untuk berprokreasi. Kendati demikian, perkawinan politis tak menjamin hubungan yang langgeng. Seperti terjadi pada masa Singhasari. Kertanegara adalah penguasa yang memakai jalan pernikahan untuk membentuk sekutu politik. Ia mengirimkan putrinya, Dewi Tapasi untuk di nikahi raja Champa. Champa merupakan benteng pertama untuk membendung pengaruh kekuasaan Khubilai Khan. Pun dengan maksud agar jangan timbul kekeruhan dalam negeri selama tentara Singhasari bertugas di negeri Melayu, Ardaraja, putra penguasa Glang Glang yang menjadi bawahan Singhasari, diambil mantu. Sementara Wijaya, panglima perang Singhasari, dinikahkan dengan keempat putri Kertanegara. Dalam Prasasti Kudadu, Ardaraja disebut putra Raja Jayakatwang. Kertanegara memerintahkannya bersama Wijaya untuk menjumpai musuh yang datang dari utara, yaitu tentara Jayakatwang.Ardaraja bimbang dan memutuskan menyeberang ke pihak musuh. Akibatnya Wijaya mengalami kekalahan. Menjamin persekutuan politik dengan pernikahan pun rupanya tak sekuat yang diduga. Apa daya, gempuran Jayakatwang, yang telah berhubungan besan pun tak disangka-sangka malah yang mengakibatkan kejatuhan Singhasari.

  • Ingin Kembali ke Pulau Buru

    Lukas Tumiso telah meninggalkan kamp tahanan Pulau Buru 40 tahun yang lalu.Sejak sebuah kapal membawanya menjauh dari dermaga Pelabuhan Namlea pada Desember 1979, ia merasa kembali menjadi manusia bebas. Tumiso ditangkap pasca peristiwa 1965 karena bergabung dalam Resimen Mahasurya yang dianggap pro-Sukarno. Dengan kapal ADRI 10, ia diangkut ke Pulau Buru pada April 1969. Selama sepuluh tahun, ia hidup dipengasingan hingga dibebaskan pada 1979. Sejak 2004, Tumiso menjalani hidup di Panti Jompo Waluya Sejati Abadi, Jalan Kramat V, Jakarta Pusat. Di Panti yang dari tahun ke tahun mulai sepi penghuni itu, Tumiso seringkali teringat kawan-kawannya di Pulau Buru. Hingga pada 2016, ia kembali menginjakkan kaki ke Pulau Buru. Pada kunjungan pertama, ia menyempatkan diri mencari makam teman-temannya. Ia merasa miris karena makam teman-temannya ditemukan dalam kondisi tidak terawat. Bahkan beberapa sempat tidak ditemukan. “Makam teman-teman saya itu terletak di tengah-tengah hutan jati, di tengah-tengah padang rumput,” terang lelaki berusia 79 tahun itu. Dari kunjungan pertama itu, Tumiso berkeinginan untuk memperbaiki pusara kawan-kawan. Baginya, itu salah satu hal berguna yang bisa ia lakukan di sisa hidupnya. Tumiso pun berangkat ke Pulau Buru untuk kedua kalinya. Kali ini, Tumiso sangat terkejut karena mendapati makam teman-temannya telah berubah menjadi kubangan celeng (babi hutan). Hal ini membuat Tumiso berbulat tekad untuk mengeksekusi rencananya. Ia pun mengumpulkan teman-temannya di Jakarta dan meminta bantuan dana. Dana terkumpul sekitar 30 juta dan ia pun berangkat ke Pulau Buru untuk ketiga kalinya. Di Buru, ia bertemu dengan beberapa transmigran untuk meminta izin memperbaiki makam. “Pak ini kuburan mau saya perbaiki, pendapat bapak bagaimana?” tanya Tumiso kepada Kabul, seorang transmigran Buru. “ Lho jangan tanya saya, tanya sama penghuni,” jawab Kabul. “Penghuninya siapa?” tanya Tumiso lagi. “Tanya saja yang di dalam kubur. Coba sampean tanya besok dia sudah njawab ,” ujar Kabul. Tumiso pun mengikuti usulan Kabul. Keesokan harinya, Kabul berkabar, “ wonge klecang-kleceng, ngguya ngguyu, seneng (orangnya senyum-senyum, tertawa-tertawa, senang). Eksekusi!” Tumiso pun langsung bergegas memperbaiki makam-makam itu. Pertama-tama, ia membuat saluran air supaya air yang menggenangi areal makam bisa surut. “Besok sudah ada informasi dari kubur, penghuni lepas baju kipas-kipas ngguya-ngguyu . Jadi bajunya dilepas dia tertawa-tawa,” kata Tumiso. Selama sepuluh hari memperbaiki pemakaman, “informasi” dari dalam kubur itu keluar. Tumiso tidak mempermasalahkan benar tidaknya informasi itu. Baginya, hal itu adalah tanda bahwa apa yang dilakukannya itu memiliki arti. “Tapi apa yang dia ceritakan, satu persatu persona yang ada di sana itu adalah temen-temen saya yang satu, disruduk sapi, mati kena tanduk sapi, ada yang tenggelam, ada yang minum racun, itu muncul semua,” jelasnya. Pasca perbaikan makam teman-temannya  itu, Tumiso berpikir untuk memperbaiki makam dari unit lain. “Kalau hanya teman saya yang saya perbaiki makamnya betapa jeleknya nama saya,” kata laki-laki yang dulu menghuni unit 3 bersama Pramoedya Ananta Toer itu. Kali ini, untuk menjalankan keinginannya, Tumiso berharap bisa sekaligus tinggal di Pulau Buru. “Akan lebih baik kan kalau kuburan teman-teman saya perbaiki semua dengan catatan saya tinggal di sana. Secara fisik saya masih mampu,” ujarnya. Menurut Tumiso, terdapat 23 titik lokasi pemakaman tapol di Pulau Buru. Beberapa lokasi yang dekat dengan penduduk transmigran masih terawat, sedangkan pemakaman yang berada jauh di padang rumput dan hutan kondisinya sangat memprihatinkan. Kini, ia tengah mempersiapkan proposal pembiayaan beternak sapi di Pulau Buru yang hasilnya akan digunakan untuk memperbaiki makam dan hidup sehari-hari di sana. Di Panti Jompo yang diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid itu, ia bersemangat menjelaskan tentang jenis sapi apa yang akan ia ternak, tentang menanam rumput untuk pakan di tebing sungai sekaligus untuk mencegah erosi, serta tentang memanfaatkan jerami yang melimpah pasca panen. Bahkan ia sudah menghitung kebutuhan asupan garam sapi-sapinya nanti. Tumiso lalu juga bercerita tentang menanam cabai, tomat, terong, mentimun hingga soal mengolah pohon-pohon kelapa yang sudah tua. “Ambisius ya?” ujarnya tak butuh jawaban. Lukas Tumiso benar-benar ingin kembali ke Pulau Buru.

  • Sukarno, Kopi, dan Peuyeum

    BANDUNG 1920-an, menjadi masa-masa tersulit bagi Sukarno dan keluarga kecilnya. Meski banyak yang telah mengakui Bung Karno sebagai pemimpin, kehidupannya tidak otomatis menjadi lebih baik. Sangat sedikit pekerjaan yang bisa diambilnya kala itu. Praktis hidup Sukarno serba pas-pasan. Untuk menyambung hidup, Sukarno mendirikan jasa biro arsitek bersama kawannya, Ir Anwari. Namun pekerjaannya itu sama sekali tidak dapat diandalkan. Diceritakan Cindy Adams, dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia , demi memenuhi berbagai kebutuhan, Sukarno terpaksa menyewakan beberapa kamar rumahnya di Jalan Dewi Sartika No.22. Sekalipun rumah itu kecil, tetapi tiga ruangan di dalamnya telah cukup memberi penghidupan bagi Sukarno dan istrinya, Inggit Garnasih. Dalam sebulan, Sukarno dapat mengumpulkan kira-kira 110 rupiah dari hasil sewa satu rumah. Itu sudah termasuk beranda rumah yang dijadikan kantor akuntan oleh Dr. Samsi. Tetapi rupanya pemasukan itu masih belum bisa menutupi keperluan mereka. Inggit pun mau tidak mau harus membantu suaminya dengan berjualan bedak dan alat-alat kecantikan lain yang dibuat sendiri di dapur rumahnya. Bahkan ketika penjualan kosmetik sedang sepi, Sukarno harus memberanikan diri meminjam beberapa rupiah kepada salah seorang penyewa bernama Suhardi. “Benar-benar suatu rahmat dari Tuhan Yang Maha Pengasih, bahwa selalu saja tersedia jalan untuk menjalani kehidupan yang berat ini,” ujar Sukarno. Meski hidup serba pas-pasan, Sukarno merasa memiliki banyak orang yang selalu siap membantunya. Setiap kali kawan-kawannya di PNI (Partai Nasional Indonesia) maupun THS (Technische Hoogeschool) memiliki uang lebih, mereka pasti selalu datang bertamu ke rumah Sukarno. Sambil membawa kopi dan peuyeum –makanan hasil fermentasi khas Jawa Barat berbahan dasar singkong– mereka akan bercengkrama hingga larut. Pernah Sukarno berjanji untuk mentraktir salah seorang kawannya, Sutoto. Ia merasa malu karena setiap kali bertemu, selalu kawannya itu yang membayar minum. Sutoto memang sering datang untuk merundingkan berbagai soal dengan Sukarno. Suatu sore ia janji untuk berkunjung. Setiba di Jalan Dewi Sartika No. 22, bukannya segelas kopi dan peuyeum yang menyambutnya, tapi lagi-lagi ucapan maaf dari Si Bung. “Maaf, Sutoto, sebagai tuan rumah aku tidak dapat menjamumu. Aku tidak punya uang,” ucap Sukarno lirih. Seperti sudah terbiasa, Suroto hanya berkata “Ah, Bung selalu tidak punya uang.” Selagi keduanya duduk-duduk dengan muka muram di beranda rumah, seorang wartawan melintas sambil mengayuh sepedanya. “Heee, mau ke mana?” panggil Sukarno. “Cari tulisan untuk koranku,” teriak Si Wartawan. “Aku akan bikinkan buat kamu,” ucap Sukarno. “Berapa?” tanya wartawan itu sambil memperlambat jalan sepedanya. “Sepuluh rupiah!” tanpa membalas penawaran Sukarno, Si Wartawan seperti hendak mempercepat laju sepedanya. “Oke, lima rupiah,” Sukarno menawar. Masih belum menerima jawaban, Sukarno menurunkan tawarannya. “Dua rupiah bagaimana? Asal cukuplah untuk bisa mentraktir kopi dan peuyeum . Setuju?” “Setuju!” Si Wartawan langsung mengiyakan.  Sang wartawan itu lalu turun dan segera memarkirkan sepedanya ke dinding rumah. Sementara dia dan Sutoto berbincang, Sukarno mulai memainkan jari jemarinya di atas sebuah kertas kosong. Bagi Sukarno menulis bukanlah sesuatu yang sulit. Begitu banyak persoalan politik yang tersimpan di pikirannya. Sukarno seakan tidak pernah kehabisan bahan tulisan apapun tema yang diajukan. Tanpa satupun coretan, kertas yang tadinya kosong telah terisi oleh kurang lebih 1.000 perkataan. Tidak sampai 15 menit, satu tulisan lengkap telah diterima Si Wartawan. Ia lalu pamit pulang. Wajahnya girang, begitu juga dengan Si Bung. Tanpa disangka-sangka Sore itu Sukarno kesampaian menraktir kawannya. Uang hasil menumpahkan unek-uneknya itu pun langsung dibelanjakan. Sutoto, Sukarno, serta Inggit duduk di beranda rumah. Mereka melewati sore itu dengan segelas kopi dan sepiring peuyeum hangat. “Bagi kami kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu membuat malu. Kami semua orang yang berpikiran idealis,” ungkap Sukarno.

  • Ketika None Jakarta Bercerita

    SEJUMLAH mantan None (Nona) Jakarta lintas zaman berkumpul. Mereka menuturkan kisahnya masing-masing ihwal mula mengikuti ajang “Abang None” Jakarta. Berbagai memori digali kembali dalam suasana saling cengkrama.  Ada haru, lucu, bangga, dan jenaka yang tersua pada tiap tuturan mereka.      “Menjadi None Jakarta pasti akan mengubah hidup semua orang, tidak terkecuali saya. Pengalaman yang begitu luas membuka banyak pintu dalam kehidupan saya,” kenang Lula Kamal, None Jakarta 1990 dalam acara peluncuran buku Cerita, Cinta, dan Cita-cita: Kumpulan Kisah None Jakarta (1981--2016) di auditorium Perpustakaan Nasional, 30 Oktober 2019. None adalah bagian dari kontes “Abang None Jakarta” yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 1968 era kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin. Para Abang dan None dibina dan ditempa sebagai duta ibu kota. Setelah terpilih, mereka akan bertugas mendampingi gubernur dalam acara resmi, termasuk membantu sosialisasi program pemerintah daerah. Selain itu, Abang dan None juga menjadi ikon dalam mempromosikan Jakarta di dalam maupun luar negeri.   “Saya banyak belajar, belajar berpakaian, pakai rok, cepol, dan pasang konde,” ujar Lula berkelakar. Lula Kamal yang kini berprofesi sebagai dokter tidak sendirian. Dalam buku setebal 192 halaman itu ada 20 None yang membagikan kisah dan pengalamannya. Mulai dari Sylviana Murni (None Jakarta 1981) hingga Yasmine Kurnia (None Jakarta 2016); mulai dari kepemimpinan Gubernur Tjokropranolo (Bang Nolly) sampai Basuki Tjahaja Purnama (Koh Ahok). Para None Jakarta lintas angkatan bersama mantan Gubernur DKI Jakarta (2007-2012) Fauzi Bowo. Foto: Martin Sitompul/Historia. Tidak cuma cantik, cerdas juga menjadi kualitas mutlak bagi para None. Selama digembleng, para None memperoleh banyak pengalaman dan cerita unik. Fifi Aleyda Yahya misalnya. None Jakarta 1995 ini awalnya merasa kurang yakin karena berpostur mungil, jauh dari semampai. Namun pada akhirnya, dia terpilih sebagai None dan mempromosikan pariwisata Jakarta hingga ke berbagai negara. Fifi kemudian dikenal sebagai pembawa acara berita di sebuah stasiun televisi swasta. Ada lagi kisah dari Santi Darmaputra, None Jakarta 1997. Ketika bertugas di Berlin selama tiga hari, dia lupa membawa kerudung. Beruntung tidak ada yang tahu. Para None memang diharuskan mengenakan pakaian adat Betawi lengkap dengan kerudung. Karena tetap percaya diri, Santi menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak semua None Jakarta asli dari Betawi. Ada yang turunan campuran, seperti Lula Kamal yang bedarah Arab dan Devi Zuliyanti Nasution, None Jakarta 1994 yang berdarah Mandailing.  Begitu pula dengan Sussy Kusumawardhani, None Jakarta 2006. Sussy berasal dari Lampung, berkuliah di UI Depok, namun tinggal di Jakarta sehingga memiliki KTP Jakarta. Sebagai “None Pendatang”, Sussy mengatakan bahwa siapa saja punya kesempatan yang sama berkontribusi buat Jakarta. “Saya ingin membuktikan bahwa Jakarta bukan hanya kota seribu mimpi tapi juga seribu kesempatan,” ujar Sussy. Dari semua Gubernur Jakarta, barangkali Fauzi Bowo-lah yang paling intens berhubungan dengan para None. Bang Foke – panggilan Fauzi Bowo – sejak pertengahan 1970-an, menjabat biro kepala daerah yang berurusan dengan protokoler. Tugasnya pula memberdayakan Abang dan None untuk berbagai program pemerintah DKI Jakarta.    “Saya pendamping Abang None yang paling lama,” kata Bang Foke. “Cerita, cinta, dan cita-cita mereka itu saya banyak tahu, termasuk yang asli dan yang palsu,” ujar Bang Foke bergurau. Barulah ketika menjabat gubernur periode 2007—2012, Bang Foke didampingi Abang dan None. Setelah tuntas mengabdi, banyak dari None Jakarta yang berkecimpung di berbagai bidang. Ada yang meniti karier sebagai jurnalis, seniman, pengusaha, hingga dokter. Ada pula yang memilih sebagai ibu rumah tangga. Menurut Valerina Daniel, penyunting buku ini, menjadi None Jakarta tidak akan berhenti atau hanya pada saat bertugas saja.     “Setelah bertugas pun kita masih ada kedekatan, masih merasa bertanggung jawab untuk menjaga Jakarta. Walaupun kita saat ini profesinya berbeda-beda tapi tetap punya kontribusi untuk membantu Kota Jakarta,” ujar Val yang juga None Jakarta 1999.    Hingga saat ini, tradisi Abang None Jakarta masih berlangsung. Para jebolannya mengaku mendapat banyak pengalaman berharga. Ajang ini juga merupakan kesempatan berkarya sekaligus membaktikan diri bagi warga Jakarta.   “ Enggak nyesal ikutan Abang None, kalah menang menyenangkan,” ujar Lula Kamal.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page