top of page

Hasil pencarian

9820 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Waktu Punya Tupolev, Angkatan Udara Indonesia Kuat

    DEBAT calon presiden (capres) ketiga yang dihelat Komisi Pemilihan Umum telah dilaksanakan Minggu (7/1/24) malam. Terjadi perdebatan sengit terutama antara capres 01 Anies Baswedan dan capres 02 Prabowo Soebianto yang kini masih menjabat sebagai menteri pertahanan. Dalam debat dengan tema pertahanan, keamanan, hubungan internasional, dan geopolitik itu Anis beberapa kali “menyerang” Prabowo dengan menyinggung soal kebijakan Menhan Prabowo yang berencana membeli pesawat tempur Mirage 2000 bekas. Serangan itupun mendapat “tangkisan” dari Prabowo. Salah satu “tangkisan” yang dilakukan Prabowo antara lain dengan menyinggung penggunaan alutsista bekas yang merupakan praktik lumrah dalam sejarah Indonesia. “Bung Karno waktu menghadapi Irian Barat, seluruh alatnya bekas. Bung Karno seluruh pesawat terbang, kapal selam, cruiser, destroyer semuanya bekas. Dalam alat perang, saya katakan, bukan baru dan bekas tapi usianya. Kalau pesawat, flying hours,” kata Prabowo.

  • Masa Lalu Kancut

    SEJARAWAN Henk Schulte Nordholt dalam pengantarnya untuk buku Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan menulis bahwa pakaian memiliki arti penting dalam konteks sosial apabila kita membayangkan bagaimana jadinya kalau orang berjalan telanjang di jalanan atau ruangan? Tentu mereka, demikian Henk, “Akan segera kehilangan penampilan akrab mereka dan dengan demikian akan kehilangan sebagian besar identitas mereka.” Dengan kata lain, lanjut Henk, “Pakaian adalah kulit sosial dan kebudayaan.” Lantas bagaimana dengan pakaian dalam pria? Dalam sebuah adegan film Si Pitung (1977) garapan sutradara Alam Rengga Surawijaya, Scott Heine (Hamid Arif) kepala polisi musuh bebuyutan si Pitung tampak tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya setelah mendengar seseorang menggedor pintu rumahnya. Dia tak mengenakan baju kecuali selembar celana sepanjang lutut yang kerap disebut kolor. Maklum, Scott baru saja berasyik masyuk dengan nyainya ketika suara gedoran itu mengganggu konsentrasinya.

  • Kisah Suharti dan Nakasone

    PADA 1944, ketika berusia 15 tahun, Suharti diambil paksa dari desanya di Kediri, Jawa Timur. Bayan dan jogoboyo, keduanya staf lurah, datang ke rumah memintanya bekerja untuk Jepang. Ayahnya menolak dengan alasan anaknya buta huruf dan tak bisa bekerja. Namun, dua perangkat desa itu mendesak: “Ini perintah Jepang.” Siapa yang bisa menolak keinginan Jepang. Di desa, cerita tentang kekejaman Kenpeitai sering terdengar. Dengan berat hati, ayahnya melepas kepergian Suharti. Suharti dan rombongannya diberangkatkan dengan truk militer Jepang ke Surabaya. Setelah menunggu dua hari, kapal Nichimaru berlabuh dan mengangkut mereka ke Borneo (Kalimantan). Tiba di sana, kapal Nichimaru hanya menurunkan 14 orang, termasuk Suharti. “Sisanya, 36 orang, melanjutkan perjalanan yang tidak saya ketahui tujuannya,” ujar Suharti.

  • Helaan Napas Para Penyintas

    Tukiyem (82 tahun), Karanganyar, Jawa Tengah Ayahnya meninggal dunia ketika Tukiyem masih kecil. Ibunya menggarap sawah yang tak begitu luas dan berdagang di pasar untuk menghidupi anak-anaknya. Suatu hari, saat Tukiyem berusia 15 tahun, datang lima tentara Jepang ke rumahnya. Mereka menawarkan Tukiyem kerja buat Jepang. Ibunya setuju karena di desa-desa lain banyak anak perempuan diminta bekerja sebagai romusha. Ternyata Tukiyem dimasukkan ke asrama Jepang di Solo. Di sana dia bekerja membersihkan asrama, mencuci, dan memasak. Dua bulan bekerja di sana, Tukiyem mulai diganggu seorang tentara Jepang. Beberapa temannya mengalami hal serupa. Suatu hari, Tukiyem yang sedang beristirahat di kamar tidurnya disergap lima tentara Jepang. Mereka mengancam akan membunuh, bahkan membungkam mulutnya, jika berteriak. Mereka bergantian memperkosanya. Usai kejadian mengenaskan itu, Tukiyem hanya dapat menangis. Sejak itu, dia diperkosa kelima tentara Jepang di waktu berbeda.

  • Tuntut Tanpa Rasa Takut

    SEJAK pengakuan Kim Hak-soon, perempuan asal Korea Selatan berusia 68 tahun, sejumlah mantan ianfu dari berbagai negara buka suara. Mereka bahkan menempuh langkah hukum ketika pemerintah Jepang tetap mengingkari keterlibatan militernya serta menolak tuntutan mereka soal permintaan maaf dan pemberian kompensasi. Sembilan mantan ianfu Korea memulainya pada 1991 dengan mengajukan tuntutan ke Mahkamah Agung untuk menuntut kompensasi. Meski ditolak, langkah ini tak menyurutkan mantan ianfu lain untuk mencobanya. Hingga 2001, tercatat beberapa mantan ianfu yang mengajukan gugatan, ke pengadilan negeri hingga Mahkamah Agung: Filipina, Korea, Belanda, China, dan Taiwan. Satu-satunya keputusan yang memberikan harapan adalah pengadilan negeri Shimonoseki di prefektur Yamaguchi pada April 1998. Pengadilan memutuskan pemerintah Jepang harus membayar kompensasi kepada tiga ianfu yang menjadi korban perbudakan seksual pasukan Kekaisaran Jepang selama perang 1931–1945. Pengadilan menganggap kegagalan kolektif anggota Diet (Parlemen Jepang) menjalankan tugas konstitusionalnya untuk membuat hukum kompensasi yang sesuai.

  • Santunan yang Tak Santun

    HALAMAN Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budhi Dharma di Bekasi terasa teduh dan asri. Tamannya luas dengan beragam tanaman yang tertata rapi. Di dekat taman, berdiri beberapa wisma. Tak ada aktivitas para penghuni panti. Siang itu jam istirahat. Mereka diam di kamar, mengobrol, atau tidur. Hanya terlihat beberapa perawat lagi bersantai sambil membaca koran di beranda panti. Di salah satu wisma bernama Sakura keadaan agak ramai. Beberapa pekerja sibuk melakukan pekerjaan renovasi. Wisma itu terdiri dari tujuh kamar. Tampilannya berbeda dari wisma lainnya. Lebih menyerupai rumah petak ketimbang wisma. Di depan kamarnya terdapat kursi yang bertuliskan “Bantuan AWF”. Dulu, wisma ini dipakai korban ianfu. “Waktu saya masuk tahun 2006, saya dan beberapa teman pernah merawat seorang ianfu,” kenang Faisal, 40 tahun. “Kami memanggilnya Mami.” Menurut Faisal, Mami sempat cerita mengenai deritanya sebagai ianfu. Umur Mami baru 14 tahun ketika dia dipaksa menjadi pemuas nafsu tentara Jepang. Waktu itu dia sedang main di luar rumah. Tiba-tiba tentara Jepang datang dan mengambilnya secara paksa. Ayahnya tak bisa berbuat apa-apa dan pasrah. Faisal bilang tak lama merawat Mami. “Mami kemudian dirawat rekan saya. Dia meninggal tak lama setelah saya menyelesaikan masa orientasi,” ujar Faisal.

  • Dua Sejoli dari Sakura Club

    AWAL Juni 1942, Aochi Washio bertolak ke Batavia dengan kapal. Segera setelah kedatangannya, dia diminta wali kota (Tokubetsu Sityo) Tsukamoto Sakai untuk mengelola restoran milik kota Batavia yang ditunjuk militer, Salon Akebono. Salon Akebono semula sebuah restoran-kafe bernama Trianon, berlokasi di Noordwijk 2 (sekarang Jalan Juanda). Restoran ini bukan hanya untuk personel militer tapi juga warga sipil asal Jepang. Sesekali mereka menggelar pasar malam dengan pelayan perempuan Indo yang cantik. Kota Batavia memasukkan tiga perempuan Eropa ke bagian staf manajemen. Salah satunya, yang kemudian bertanggung jawab atas “urusan perempuan” dan jadi pasangan adalah Aochi adalah Elisabeth H. Beerhorst. Aochi warga kota Nagasaki yang sudah tinggal di Batavia sejak 1920. Dia sempat jadi pemilik sekaligus manajer Hotel Matsumoto di Molenvliet Oost 27 (kini Jalan Hayam Wuruk) sebelum masa perang –kemudian berganti nama jadi Hotel Suwa. Dia sempat pulang ke negaranya ketika konflik Jepang-Belanda, dan kembali lagi setelah Jepang menduduki Indonesia.

  • Menguak Dokumen Tentara

    PADA 1931 tentara Jepang menyerbu daratan China dan akhirnya menduduki kota Shanghai dan Nanjing. Tapi bertahun-tahun berperang membuat militer Jepang kehabisan persediaan makanan. Mereka menjarahi rumah-rumah penduduk, membunuh rakyat sipil, dan … memperkosa perempuan. Dalam buku yang menghebohkan pada 1997, The Rape of Nanking: The Forgotten Holocaust of World War II, Iris Chang mengisahkan secara rinci tentang perempuan-perempuan China yang diperkosa di setiap lokasi dan di setiap waktu. Dampak buruk menyergap militer Jepang: banyak tentaranya mengidap penyakit kelamin. Kabar itu sampai ke Tokyo. Markas Besar Militer Jepang lalu mengirimkan dr. Aso Tetsuo untuk melakukan penyelidikan. Tetsuo merekomendasikan agar menyediakan rumah bordil (ianjo) yang berisi perempuan-perempuan “bersih”. Alasannya, selain mencegah penyebaran penyakit kelamin, moral, efektivitas dan disiplin tentara Jepang akan meningkat. Perempuan-perempuan bersih itulah yang kini dinamakan ianfu. Namun, menurut sejarawan Universitas Chuo, Jepang, Yoshiaki Yoshimi, adanya fasilitas ianjo bukan solusi untuk masalah itu. Ia memperburuk masalah. “Tentara Kekaisaran Jepang sangat takut bahwa ketidakpuasan yang bergejolak di antara para tentara bisa meledak menjadi kerusuhan dan pemberontakan. Itulah mengapa disediakan perempuan.”

  • Ianjo Tak Jauh dari Tangsi Militer Jepang

    OMOH sedang berada di depan rumah ketika dua tentara Jepang datang membawa sepucuk surat dan menyerahkannya ke orang tuanya. Sepeninggal si Jepang, tak satu pun yang berani menyentuh surat itu. Selain takut, kedua orang tuanya yang hidup dari bertani buta huruf. “Hanya katanya, saya akan dipekerjakan,” ujarnya. Sesuai pesan orang Jepang itu, keesokan harinya Omoh dan kedua orang tuanya datang ke kantor tentara Jepang di Jalan Simpang, Cimahi. Surat itu mereka bawa. Sesampai di sana, mereka baru tahu bahwa surat itu berisi pengumuman bahwa Omoh diterima bekerja sebagai babu di tempat itu. Pada 1942, Omoh masih berusia 14 tahun. Di sana dia bertemu dengan beberapa perempuan muda yang juga akan dipekerjakan sebagai babu. Selama enam hari, tak ada pekerjaan yang harus dia lakukan, kecuali taiso (senam). Karena heran, dia bertanya kepada juru masak, seorang perempuan bernama Awat. Jawabannya singkat: nanti juga akan tahu. “Saya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati apa pekerjaan saya.”

  • Kegagalan Sekutu dalam Pengadilan Tokyo

    PADA 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nakasaki. Tak lama, Sekutu menduduki Jepang dan dokumen penyerahan Jepang ditandatangani di atas kapal tempur Amerika Serikat, USS Missouri. Untuk menghukum penjahat perang Jepang, Sekutu menggelar Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh di Tokyo –lebih dikenal sebagai Pengadilan Perang Tokyo atau Pengadilan Tokyo– pada 29 April 1946 hingga 12 November 1948. Sebanyak 28 pemimpin militer dan politik Jepang dituntut melakukan kejahatan kelas A (kejahatan terhadap perdamaian) dan lebih dari 300.000 orang Jepang dituntut atas kejahatan kelas B dan kelas C –masing-masing untuk kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

  • Perawan Remaja yang Terluka

    SUKARNO berada di Padang ketika Jepang tiba. Dia baru saja dipindahkan oleh Belanda dari pengasingan di Ende ke Bengkulu, kemudian dengan jalan darat menuju Padang. Belanda akan mengungsikan Sukarno ke Australia tapi Jepang keburu menguasai Sumatra. Di Padang, dia berkali-kali bertemu dengan komandan tentara Jepang, yang mengajaknya bekerja sama. Jepang meminta rakyat menurunkan bendera merah putih hingga menyediakan beras. Dengan pengaruhnya, Sukarno bisa memenuhi permintaan itu. Namun, ada satu persoalan rumit menyangkut permintaan mereka untuk memenuhi kebutuhan seks tentara Jepang. Sukarno, seperti diungkapkan dalam Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, memperingatkan Kolonel Fujiyama, panglima tentara pendudukan di Bukittinggi: “Kalau anak buah tuan mencoba-coba berbuat sesuatu dengan anak-anak gadis kami, rakyat akan berontak. Tuan akan menghadapi pemberontakan besar di Sumatra.” Sukarno tak bisa membiarkan tentara Jepang bermain-main dengan gadis Minang. Tapi dia juga sadar sikap yang akan diambil Jepang jika persoalan ini tak terpecahkan. Setelah meminta pendapat kiai, dia pun menggunakan pelacur agar “orang-orang asing itu dapat memuaskan hatinya dan tidak akan menoleh untuk merusak anak gadis kita.”

  • Metamorfosis Ianfu

    BUNGA krisan itu bak lampu hias nan indah di ruang tamu. Menggantung di langit-langit tak jauh dari pintu masuk, ia seolah menyambut kedatangan para tamu. Cahaya kuning anggun memancar dari ke-16 kelopaknya. Di balik keindahannya, ia menyimpan kisah sedih yang dialami perempuan-perempuan Indonesia di suatu masa. Sebuah kejahatan besar terhadap kemanusiaan. Ia memang bukan bunga krisan biasa. Ia terbuat dari kondom. Setiap kelopak berisi ratusan kondom merek Okamoto asal Jepang, pabrik kondom yang memproduksi jutaan kondom dan menyebarkannya ke seluruh Asia-Pasifik ketika sistem ianfu (perempuan yang dipaksa militer Jepang menjadi budak seks) diterapkan. “Dalam praktik ianfu tahun 1931 sampai 1945, kondom disebar secara legal oleh pemerintah Jepang kepada tentaranya untuk memperkosa ratusan ribu perempuan di wilayah Asia-Pasifik,” kata Indah Arsyad, seniman pembuatnya, kepada Historia. “Bunga krisan berwarna kuning dengan 16 kelopak adalah lambang dari Kekaisaran Jepang.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page