- 12 Jul 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 21 Mei
PADA 1944, ketika berusia 15 tahun, Suharti diambil paksa dari desanya di Kediri, Jawa Timur. Bayan dan jogoboyo, keduanya staf lurah, datang ke rumah memintanya bekerja untuk Jepang. Ayahnya menolak dengan alasan anaknya buta huruf dan tak bisa bekerja. Namun, dua perangkat desa itu mendesak: “Ini perintah Jepang.”
Siapa yang bisa menolak keinginan Jepang. Di desa, cerita tentang kekejaman Kenpeitai sering terdengar. Dengan berat hati, ayahnya melepas kepergian Suharti.
Suharti dan rombongannya diberangkatkan dengan truk militer Jepang ke Surabaya. Setelah menunggu dua hari, kapal Nichimaru berlabuh dan mengangkut mereka ke Borneo (Kalimantan). Tiba di sana, kapal Nichimaru hanya menurunkan 14 orang, termasuk Suharti. “Sisanya, 36 orang, melanjutkan perjalanan yang tidak saya ketahui tujuannya,” ujar Suharti.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















