- 8 Jul 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 21 Mei
HALAMAN Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budhi Dharma di Bekasi terasa teduh dan asri. Tamannya luas dengan beragam tanaman yang tertata rapi. Di dekat taman, berdiri beberapa wisma. Tak ada aktivitas para penghuni panti. Siang itu jam istirahat. Mereka diam di kamar, mengobrol, atau tidur. Hanya terlihat beberapa perawat lagi bersantai sambil membaca koran di beranda panti.
Di salah satu wisma bernama Sakura keadaan agak ramai. Beberapa pekerja sibuk melakukan pekerjaan renovasi. Wisma itu terdiri dari tujuh kamar. Tampilannya berbeda dari wisma lainnya. Lebih menyerupai rumah petak ketimbang wisma. Di depan kamarnya terdapat kursi yang bertuliskan “Bantuan AWF”. Dulu, wisma ini dipakai korban ianfu. “Waktu saya masuk tahun 2006, saya dan beberapa teman pernah merawat seorang ianfu,” kenang Faisal, 40 tahun. “Kami memanggilnya Mami.”
Menurut Faisal, Mami sempat cerita mengenai deritanya sebagai ianfu. Umur Mami baru 14 tahun ketika dia dipaksa menjadi pemuas nafsu tentara Jepang. Waktu itu dia sedang main di luar rumah. Tiba-tiba tentara Jepang datang dan mengambilnya secara paksa. Ayahnya tak bisa berbuat apa-apa dan pasrah. Faisal bilang tak lama merawat Mami. “Mami kemudian dirawat rekan saya. Dia meninggal tak lama setelah saya menyelesaikan masa orientasi,” ujar Faisal.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















