top of page

Ragam Cerita dari Tes DNA

Hasil tes DNA mereka membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang beragam.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para tokoh publik Indonesia berpose usai mengetahui hasil DNA mereka masing-masing. (Fernando Randy/Historia).

3 Nov 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 6 hari yang lalu

HISTORIA bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) di Museum Nasional 15 Oktober–10 November 2019. Pameran ini menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia serta sejarah manusia ditinjau dari segi arkeologis dan antropologis. 


Pameran ASOI juga memaparkan sejarah DNA (Asam Deoksiribonukleat) dan bagaimana tes DNA bisa melacak asal-usul moyang seseorang. Untuk itu, Historia mengadakan serangkaian tes DNA terhadap sejumlah tokoh publik dari beragam panggung, dari politik sampai seni. Antara lain Ariel Noah, Grace Natalie, Najwa Shihab, Mira Lesmana, Riri Riza, Budiman Sudjatmiko, Ayu Utami, dan Hasto Kristiyanto.


Hasil tes DNA tokoh publik tersebut ditampilkan secara gamblang dalam pameran ini. Juga tanggapan mereka tentang tes DNA dan hasilnya. Berikut ini sepenggal tanggapan mereka.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page