top of page

Hasil pencarian

9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Agen CIA Pertama di Indonesia

    PADA suatu malam di awal tahun 1950, Rosihan Anwar, pemimpin redaksi harian Pedoman , bertamu ke rumah seorang Amerika Serikat. Orangnya sudah agak berumur, badannya gempal, kepalanya dicukur licin, murah senyum, dan suka tertawa. Dia tinggal sendirian di rumah besar yang agak ke dalam, di pinggir jalan raya Bogor menuju Jakarta. Dia bolak-balik Bogor-Jakarta karena pekerjaannya sebagai atase di Kedutaan Besar Amerika Serikat.

  • Gundala Bukan Jagoan

    Jagat Sinema Bumilangit telah merilis film pertamanya:  Gundala (2019). Film arahan Joko Anwar ini bisa ditonton di bioskop tanah air mulai 28 Agustus 2019. Jagoan karya komikus Harya Suraminata atau Hasmi yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Tapi, ia malah membantahnya. “Aku bukan jagoan,” kata Sancaka. Dia menolak membantu para aktivis pasar melawan preman pasar. Lalu seseorang tiba-tiba memukul Sancaka dengan balok kayu dari belakang, berniat menjajal kekuatan Sancaka. Benar saja, seketika dia pingsan. Sancaka memang manusia biasa. Para aktivis pasar mengira Sancaka memiliki kekuatan super. Dia pernah sekali mengeluarkan petir dari tangannya ketika dikeroyok 30 preman. Namun ternyata itu tidak disengaja Sancaka. Lalu siapa Gundala jika bukan jagoan? Tara Basro memerankan Wulan, aktivis pasar sekaligus teman Sancaka. (Fernando Randy/Historia). Memanusiakan Jagoan Selain karena Sancaka adalah manusia biasa secara fisik, dia juga manusia biasa secara mental. Dia lahir dari kelas sosial paling bawah, seorang anak buruh. Dia lalu tumbuh menjadi anak jalanan dan bertahan hidup di kota yang keras. Kebutuhan untuk bertahan hidup membuatnya menjadi individualis. Sancaka selalu berusaha untuk tidak peduli pada hal sekitar. Dia tak mau terlibat urusan orang lain. Dia layaknya orang biasa yang tinggal di rumah susun dan harus sibuk kerja untuk makan. Meski akhirnya kondisi sosial yang semakin buruk dan menyebabkan berbagai kekacauan membuka kepeduliannya, Sancaka tetap mengalami proses hidup seperti kebanyakan orang. "Kita mementingkan diri sendiri. Yang orang kaya, mereka merasa bisa melanggar hukum karena mereka bisa lepas dari itu (karena) punya uang. Yang di bawah juga seperti itu, mereka melanggar hukum karena mereka mencari uang," kata Joko Anwar, di sela premier Gundala . Ketika telah menjadi Gundala, Sancaka ditanya, “kamu siapa?” “Rakyat,” jawab Gundala. Gala premier film Gundala (2019). (Fernando Randy/Historia). Terlepas dari apakah membawa nama ‘rakyat’ terlalu berlebihan, dia terlihat hanya berusaha untuk tidak di-jagoan-kan. Seperti hendak mengatakan "tak perlu jadi jagoan untuk berbuat baik". Sesederhana itu. "Gundala kan kita semua. Banyak dari kita yang tidak peduli ketidakadilan. Orang di- abuse , dilecehkan di depan kita, kita diam saja. Banyak banget di Indonesia. Sama seperti Sancaka di awalnya," kata Joko Anwar. Joko Anwar juga memasukan drama dan humor yang pas di beberapa adegan. Kadang lugu, kadang lucu, bahkan kadang Sancaka terlihat cupu. Ini membuat Sancaka sangat manusiawi. Selaras dengan itu, tokoh-tokoh di Gundala lainnya juga tidak digambarkan "hitam putih". Pengkor misalnya, sebagai musuh Gundala, bukan berarti dia jahat secara murni. Ada latar belakang kenapa dia menjadi jahat serta ada bagian di mana dia bukanlah orang jahat. Tokoh Pengkor hendak mengatakan bahwa seseorang tidak pernah menjadi jahat sejak orok. Bahkan dia mengajak penonton mempertanyakan ulang mana yang baik dan mana yang buruk. Bront Palarae memerankan Pengkor, musuh Gundala. (Fernando Randy/Historia). Disambar Petir Bicara soal kekuatan Gundala, hubungan Sancaka dengan petir bermula sejak kecil. Sancaka kecil, sangat takut dengan petir. Setiap hujan turun dan petir mulai berkilatan, Sancaka langsung bersembunyi. Ternyata, dia trauma karena pernah disambar petir. Hingga dewasa, petir terus mengikuti Sancaka. Jika dia ada di luar ketika hujan, sudah pasti disambar petir. Untuk mencari tahu persoalan petir itu, dia harus membaca buku. Dia juga belajar bagaimana alam bekerja. Tentu saja, Joko Anwar tidak akan memberi kuliah ilmu fisika di film ini. Tapi dia membuat munculnya kekuatan petir serta keterkaitannya dengan desain kostum Gundala menjadi masuk akal. Komik superhero seringkali dianggap murni fiksi alias tidak ilmiah. Dalam versi komik sendiri, episode Gundala Putra Petir (1969) yang menceritakan awal mula Gundala, Gundala mendapat kekuatannya dari Kaisar Kronz dari Kerajaan Petir. Namun, tidak sepenuhnya cerita dibuat asal-asalan. Anton Kurnia dalam "Komik Superhero Indonesia: Gundala dan Telur Columbus", di harian Sinar Harapan , 2003, mencontohkan komik Gundala episode Dr. Jaka dan Ki Wilawuk yang menurutnya memiliki dasar gagasan yang kuat. Hasmi, menurut Anton, memiliki wawasan dan menggunakan riset untuk membuat episode itu. ”Seperti sekilas terbaca dari Dr. Jaka dan Ki Wilawuk , komik kita ternyata bisa cerdas, intelek, imajinatif dan oleh karenanya memperkaya para pembacanya. Ia membuktikan bahwa tuduhan sebagian orang bahwa komik kita cenderung dangkal, abai terhadap riset dan referensi, tidak mendidik dan membodohkan, ternyata tak sepenuhnya benar,” ungkap Anton. Sedangkan soal wujud petir yang dibuat dengan Computer-generated imagery (CGI) dalam film ini sendiri sudah cukup memuaskan. Nampaknya kurang tepat bila hendak membandingkannya dengan garapan Marvel Studios misalnya. Hanah Al Rasyid memerankan Cantika, salah satu anak buah Pengkor. (Fernando Randy/Historia). Menjawab Zaman Joko Anwar memang hanya meminjam tokoh Gundala. Dia tidak serta merta meniru cerita komik Gundala karya Hasmi yang dibuat sejak 1969 tersebut. Sebagian besar cerita dibuat menyesuaikan konteks Indonesia hari ini. “Kita membuat karakter ini relevan dengan Indonesia sekarang. Concern Indonesia sekarang itu apa? Jadi harus dimasukan. Kalau kita punya tokoh Gundala yang besar banget , orang semua kenal dan kalau kita tidak menggunakannya untuk menyuarakan apa yang tejadi di Indonesia kan sayang banget ,” kata Joko Anwar. Sejak awal Joko Anwar berusaha menyentuh persoalan buruh yang menjadi latar belakang masa kecil Sancaka. Dia kemudian juga menarasikan kehidupan kaum miskin kota serta relasi rakyat, penguasa, dan mafia. “Pak Hasmi dan bapak-bapak yang dulu bikin komik, bikin tokoh-tokoh jagoan ini, mereka ingin bersuara, saya yakin. Cuma zaman dulu kan tidak bebas seperti sekarang. Jadi mereka pakai satir, sindiran, komedi. Di masa kini, kita punya kesempatan bersuara lebih bebas kalau nggak kita suarakan, kita mengkhianati kebebasan itu,” kata Joko Anwar. Joko Anwar, sutradara Gundala (2019). (Fernando Randy/Historia). Abimana Aryasatya, pemeran Gundala, mengaku tidak terlalu sulit menjadi Gundala yang hidup dalam kondisi sosial tersebut. “Emang kamu pikir saya nggak pernah jadi buruh? Hahaha. Tapi nggak mungkin diceritain panjang. Saya (pernah) hidup di level sosial ekonomi yang sama dengan Sancaka. Jadi nggak perlu research terlalu berat,” katanya kepada Historia . Abimana mengaku pernah tinggal di rumah susun yang menjadi rumah Sancaka dalam film. “Rumah susun yang dipakai syuting, saya pernah tinggal di situ. Jadi research -nya juga lebih gampang kan . Jadi nggak perlu gua harus tinggal di sana, gua tinggal recall memori saja,” ungkapnya. Sepanjang 119 menit, penonton disuguhi cerita panjang Gundala dengan berbagai karakter pendukungnya. Beberapa karakter memang hanya mendapat sedikit porsi. Adegan kekerasan yang cukup menggigit nampaknya tidak ramah anak. Sebagai pembuka sekaligus pengantar ke Jagat Sinema Bumilangit selanjutnya, Gundala terbilang epik.

  • Komandan Kerjai Bawahan

    Kopassus merupakan pasukan elite kebanggaan Angkatan Darat dan juga Indonesia. Panglima TT III Siliwangi Kolonel A.E. Kawilarang membentuknya untuk mendapatkan pasukan dengan mobilitas tinggi yang terdiri dari prajurit-prajurit andal, terutama dalam pergerakan senyap. Di antara panglima-panglima pasukan yang pernah bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) itu adalah Kolonel Mung Parahadimulyo (1958-1964). Kendati namanya kurang populer, terlebih saat ini, Mung dikenal oleh generasi pejuang angkatan 45 atau generasi setelahnya sebagai tentara tulen yang tegas dan jujur. Mendiang Soehari Sargo, pejuang angkatan 45 yang kemudian menjadi pengamat otomotif terkemuka, ingat betul bagaimana tegas dan jujurnya Mung. Suatu ketika, Mung dikirimi jatah beras prajurit oleh bawahannya. Alih-alih langsung mengambilnya, Mung menimbang ulang jatah beras itu. Ternyata, jatah beras yang didapatnya kelebihan dari yang seharusnya. Dia pun menanyakan kepada bawahannya siapa yang menimbang dalam penjatahan beras itu. “Langsung ditempeleng itu yang menimbang,” kata Soehari kepada Historia.id beberapa tahun silam di rumahnya, bilangan Cinere, Depok. “Kalau saya dapat lebih banyak berarti kan ada jatah lain yang dikurangi. Orang itu pasti dapat lebih sedikit. Ulangi semuanya!” kata Mung memberi perintah sebagaimana ditirukan Soehari. Ketegasan dan kejujuran Mung itu juga dikenang betul oleh Kolonel Penerbang (Purn.) Pramono Adam. “Kalau Pak Mung itu prajurit betul. Hebat banget.  Tentaranya, Kopassus sendiri udah keder,” ujar lelaki yang akrab disapa Pram itu kepada Historia.id. Pram mengenal Mung ketika di-BKO-kan ke Kodam Mulawarman semasa Konfrontasi (1963-1965). Sejak awal 1965, Kodam itu dipimpin Mung. Pram kerap diminta Mung mengantarkan inspeksi ke perbatasan menggunakan helikopter. Suatu hari, Pram melihat Mung memarahi anak buahnya yang kedapatan naik sepeda motor. “Siapa yang nyuruh kamu naik motor? Kamu beli dari mana? Pulang!” kata Pram menirukan Mung memarahi prajurit Baret Merah itu. Pram sendiri pernah kena semprot Mung. Ceritanya berawal dari ketika dia bersama Suwoto Sukendar (KSAU 1969-1973) dan beberapa prajurit lain jajan rujak karena lapar. Tak lama setelah itu, kata Pram, “Pak Mung datang. ‘Ngapain kamu makan, boros-borosin aja,” sambung Pram menirukan Mung. Namun, seingat Pram, Mung tak hanya mengajarkan kedisiplinan lewat bentakan. Pernah suatu ketika Mung mengajarkan kedisiplinan lewat kejahilan. Peristiwa itu terjadi saat Mung hendak pulang dari perbatasan ke Tarakan dengan menumpang helikopter Mi-6 yang dipiloti Pram. “Udah siap satu jejeran (pasukan, red. ) mau kasih hormat. Lihat aku, pas di depan, Pak Mung turun terus di bawah pesawat. (Dia) terus melompat pagar di ujung sana, pergi sendiri jalan kaki ke mess. Lha ini (pasukan) yang siap mau menghormat, ‘ke mana ini (komandan)?’ Aku tahu, aku cengar-cengir sendiri,” ujar Pram sambil tertawa.

  • Merekam Sejarah Musik Ilustrasi Film

    FILM dan musik dua produk seni berbeda. Yang pertama menekankan bahasa gambar, sedangkan yang kedua memadukan ragam suara. Tapi keduanya bisa menyatu dalam film. Musik dalam film lazim disebut musik ilustrasi ( music score ). Kegunaannya untuk memperkuat cerita film. Nyaris sejajar dengan aspek sinematografi.

  • Soeroso, Banteng Muda Musuh Belanda

    BEBERAPA waktu lalu jagat media sosial sempat dihebohkan dengan perlakuan brutal sekelompok vandalis di Cianjur , Jawa Barat, yang menghancurkan tiga Tugu Penjelas Nama Jalan (TPNJ). Salah satu TPNJ itu menginformasikan riwayat seorang pejuang kemerdekaan bernama Soeroso. Siapakah dia? Dalam blog pribadinya , Ahmad Samantho menyebut Soeroso sebagai salah satu kakeknya. Menurut penulis sejarah asal Bogor itu, Soeroso memiliki nama lengkap Raden Soeroso dan merupakan putra dari Raden Soemarsono yang pernah tinggal di wilayah Cibalagung (masuk dalam wilayah Ciomas, Kota Bogor). “Ketika masih kecil, saya sering melihat lukisan pinsil Kakek Soeroso dipajang di rumah Eyang Uti (nenek Samantho) dan di rumah Mbah Buyut Soemarsono,” ungkap Samantho. Keterangan Ahmad Samantho ditegaskan oleh Sukarna (98). Kepada saya, eks pejuang kemerdekaan di Bogor itu berkisah bahwa Soeroso masih terhitung pimpinannya di BBRI (Barisan Banteng Republik Indonesia) cabang Bogor. Ketika sedang hebat-hebatnya perlawanan para pejuang Indonesia terhadap pasukan Inggris pada awal 1946, secara sukarela Soeroso bersama 10 anak buahnya hijrah ke Cianjur. “Karena saat itu konvoi tentara Inggris sering melewati Cianjur, Pak Soeroso memutuskan untuk “menunggu” mereka di sana,” ujar Sukarna. Di kota penghasil beras itu, Soeroso lantas membangun basis perlawanan. Selain melatih para pemuda setempat, dia pun terlibat aktif dalam pengadaan senjata untuk melawan musuh. Dalam sebuah dokumen berjudul “Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1942—1949” yang disusun oleh Tim Sejarah Dewan Harian Cabang Angkatan 1945 Kabupaten Cianjur, dikisahkan Soeroso pernah menyumbang 10 senjata bekas tentara KNIL kepada para pejuang yang beroperasi di Cipanas. Dalam buku   Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946 , Letnan Kolonel (Purn.) Eddie Soekardi (Komandan Resimen ke-13 TRI Komandemen Jawa Barat) menyebut nama Soeroso sebagai pimpinan gerilyawan kota yang aksi-aksinya sangat impresif. Dalam suatu aksi penghadangan di pusat kota Cianjur pada Maret 1946, Soeroso dan anak buahnya berhasil mengganggu pergerakan Bataliyon 3/3 Gurkha Rifles (suatu kesatuan elit militer Inggris dari Divis ke-23 British India Army) dari Bandung ke Sukabumi. Bersama gerilyawan-gerilyawan lain dari  Yon 3 Resimen III TRI, Lasykar Hizbullah dan Sabilillah, Laskar BBRI pimpinan Soeroso (lebih dikenal sebagai Pasukan Banteng Soeroso) melakukan penyerangan lewat aksi hit and run  terhadap Yon 3/3 Gurkha Rifles yang diperkuat oleh tank Sherman, panser wagon, brencarrier  dan truk-truk berisi pasukan. Kendati hanya menggunakan  molotov cocktail ( bom sederhana yang terbuat dari botol yang diisi bensin dan disertai sumbu) dan beberapa pucuk senjata saja, mereka melakukan serangan terstruktur khas tentara Jepang dari sudut-sudut pertokoan dan lorong-lorong rumah yang berderet sepanjang pusat kota Cianjur.    “Bagi para serdadu Gurkha Rifles, situasi itu cukup membingungkan. Mereka hanya bisa bertahan dan membalas  serangan tersebut sekenanya dari balik kendaran-kendaraan tempur mereka,” kata Eddie Soekardi. Ketidakberdayaan salah satu satuan elit militer Inggris dalam Perang Dunia II sempat dicatat oleh sumber Inggris sendiri. Dalam  The Fighting Cock: The Story of The 23rd Indian Division , Kolonel A.J.F Doulton memuji pergerakan taktis gerilyawan Indonesia yang  sempat membuat para serdadu Gurkha  panik dan terpukul. “Ini menjadi suatu bukti, orang-orang Indonesia mengalami kemajuan dan semakin militan…” tulis Doulton. Tetapi karena kurang lengkapnya persenjataan para pejuang Indonesia, Cianjur pada akhirnya jatuh juga ke tangan tentara Inggris. Sebagai markas, para prajurit Inggris memilih bekas gedung Pabrik Es (sekarang menjadi Gedung Gelanggang Muda Cianjur). Pasukan Banteng Soeroso sendiri kemudian menyingkir ke arah Pasar Suuk (sekarang Jalan Barisan Banteng) dan mendirikan markas di sebuah rumah yang ditinggal pemiliknya (sebuah keluarga Belanda). Zoehdi (95) masih ingat bagaimana Soeroso kerap melatih anak buahnya berbaris di sekitaran Pasar Suuk. Bunyi aba-abanya yang khas dan terdengar tegas, seolah menembus rimbunan pohon-pohon mahoni yang saat itu banyak tumbuh di sana. “Saya mengenang Pak Soeroso itu sebagai pemuda pemberani, badannya kekar dan sorot matanya tajam menantang, mirip seekor banteng muda”ungkap eks anggota milisi Angkatan Pemoeda Indonesia (disingkat API, sebuah milisi perjuangan rakyat Indonesia yang didirikan pada akhir 1945) tersebut. Keberanian Soeroso memang sangat populer di kalangan para pejuang Cianjur saat itu. Dikisahkan oleh Zoehdi, Soeroso pernah nekad mengejar sebuah pesawat tempur Inggris hanya menggunakan sepeda motor dan sebuah stengun. Akhir 1946, tentara Inggris mulai meninggalkan Indonesia. Sebagai penggantinya maka tentara Belanda mulai bermunculan dan menjadi penguasa sebenarnya. Situasi tersebut jelas membuat para pejuang Indonesia semakin menguatkan perlawanannya. Mereka tak mau Belanda menjajah lagi untuk kedua kalinya. Di Cianjur, nyaris setiap hari hidup tentara pendudukan tak pernah tenang. Selalu saja ada dari mereka yang terbunuh atau hilang diculik gerilyawan Republik. Salah satunya adalah Pasukan Banteng Soeroso. Dengan modal senjata seadanya, hampir tiap malam, mereka melakukan aksi teror terhadap asrama militer Belanda yang berada di wilayah Kampung Tangsi (sekarang menjadi  Gang Pangrango) dan induk pasukan  mereka yang bermarkas di Joglo (sekarang menjadi gedung Komando Distrik Militer 0608 Cianjur, Toserba Slamet, gedung Markas Corps Polisi Militer). Merasa terganggu dengan serangan-serangan Banteng Soeroso ini, maka militer Belanda kemudian melancarkan suatu operasi intelijen untuk menjebak pimpinan milisi Republik itu. Maka disebarlah telik sandi ke pinggiran kota dan pelosok desa. Setelah semua informasi terkumpul, intelijen militer Belanda lantas membuat  skenario penangkapan. Singkat cerita, “diutuslah” oleh militer Belanda seseorang (yang berpura-pura sebagai pejuang) ke markas Banteng Soeroso. Dengan dalih membahas strategi perjuangan selanjutnya, sang telik sandi itu mengundang Soeroso  untuk menemui sekumpulan gerilyawan kota di sebuah warung makan yang masuk dalam wilayah Satoe Doeit (sekarang Jalan Soeroso atau Ampera). Tanpa kecurigaan, Soeroso menyanggupi undangan tersebut dan datang ke Satoe Doeit, bersama dua ajudannya, Sjamsoe dan Slamet. Menurut kesaksian Sjamsoe, sekira jam 19.00 mereka tiba di warung makan itu dan langsung  memesan makanan. Saat santap malam itulah, satu peleton tentara Belanda mengepung tempat tersebut. Soeroso yang sadar dirinya masuk dalam jebakan lantas melakukan perlawanan. Pertempuran tidak seimbang pun berlangsung cukup seru. “Kami bertiga bertarung habis-habisan, kami masing-masing hanya menggunakan sepucuk pistol,” kenang Sjamsoe. Sayang, saat hendak meloloskan diri ke luar warung makan, sebutir peluru  menghantam tepat dada Soeroso. Dia pun terjungkal. Diikuti Slamet yang juga tertembak dan bermandikan darah. Lantas bagaimana nasibnya Sjamsoe,? Begitu terjungkal karena hantaman peluru, beberapa warga setempat langsung membawanya ke seorang dokter bernama Ojo. Kendati mengalami luka berat, Sjamsoe nyawanya masih bisa diselamatkan dan bisa melanjutkan hidupnya hingga awal tahun 2000. *

  • Teknokrat Olahraga dalam Riwayat (Bagian II – Habis)

    DALAM film Susi Susanti: Love All yang akan beredar di bioskop-bioskop Tanah Air mulai 24 Oktober 2019 nanti, aktor Lukman Sardi akan memerankan Mangombar Ferdinand Siregar, teknokrat olahraga legendaris. Lukman mengaku tertantang memerankan tokoh yang mengarsiteki prestasi monumental medali emas Susy Susanti dan Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992 itu. Untuk menyelami karakternya, Lukman membaca biografi Siregar, Matahari Olahraga Indonesia, serta mewawancara sejumlah eks-pebulutangkis nasional. “Menarik, soal bagaimana seorang teknokrat olahraga tapi dia juga menjadi keluarga dari pemain-pemain bulutangkis ini. Apalagi sebelumnya dia sempat di PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia) tapi kemudian dia harus bisa memahami banyak hal lain dalam dunia olahraga itu sendiri. Dia sangat concern dengan olahraga,” tutur Lukman Sardi kepada Historia di sela peluncuran poster resmi Susi Susanti: Love All , 20 Agustus 2019. MF Siregar memulai kiprahnya di bidang olahraga dari mengurusi cabang akuatik. Saat pergantian rezim dari Sukarno ke Soeharto, bintangnya kian terang hingga dia menduduki jabatan sekjen di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Namun, Siregar merasa ada yang kurang. Walau sudah lama turut dalam Asian Games (sejak 1951) dan Olimpiade (sejak 1952), gaung Indonesia justru belum terdengar di Asia Tenggara. Kontingen Indonesia, dipimpin Siregar, baru turut serta dalam SEA Games pada 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kendati tiada sambutan terhadap kedatangan kontingen Indonesia yang berisi 313 atlet cum ofisial, Indonesia pulang dengan gelar juara umum. Sukses itu lantas membuat negara-negara tetangga belajar ke Indonesia. Dari Indonesia pula mereka baru mengenal metode pelatnas. “Ide untuk pelatnas di luar negeri itu datang dari Pak Suprajogi dan saya. Ternyata hasilnya luar biasa. Ini merupakan pengembangan dari sistem pelatnas yang sudah kami lakukan di cabang renang pada 1961 di Bandung sebagai persiapan ke Asian Games IV (1962),” tutur Siregar dalam biografinya. Firasat Olimpiade dan Air Mata Barcelona Percaya atau tidak, Siregar pernah melontarkan dua firasat soal prestasi Indonesia di olimpiade yang terbukti benar. Kedua firasat itudiungkapkannya dua tahun sebelum datangnya medali pertama dan enam tahun sebelum Susy dan Alan membawa pulang dua emas pertama. Firasat itu, kata Siregar dalam Guru-Guru Keluhuran: Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman , dikeluarkannya usai dianugerahi medali emas L’Ordre Olympique. Anugerah yang diserahkan langsung oleh Wakil Ketua IOC Alexandre Siperco di Gedung KONI, Jakarta, 29 Januari 1986. “Saya anggap pemberian ini kepada rakyat Indonesia, bukan saya pribadi. Saya bertekad agar bangsa Indonesia dapat disejajarkan dengan negara maju di olahraga. Saya ingin lihat bendera Merah Putih berkibar di Olimpiade 1988 dan mendengar lagu ‘Indonesia Raya’ dikumandangkan di Olimpiade 1992,” kata Siregar, yang menjadi orang Indonesia ketiga yang menerima anugerah dari IOC setelah Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Silver Olympic Order, 1983) dan R. Maladi (Silver Olympic Order, 1984). Firasat Siregar benar. Trio atlet panahan Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani mempersembahkan medali (perak) pertama buat Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Saat itubendera dwiwarna dikerek ke atas meski hanya di pucuk tertinggi kedua. Sedangkan bendera Merah Putih dikibarkan di tiang tertinggi diiringi “Indonesia Raya” terjadi di Barcelona 1992. Pencapaian yang sekaligus menjawab tuntutan penguasa rezim Orde Baru. Saat itu, Siregar yang dipercaya menjadi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI dibebani tugas berat. Presiden Soeharto memintanya memimpin misi emas mengingat prestasi bulutangkis Indonesia di berbagai kompetisi internasional tengah di puncak. Mau tak mau, Siregar mengurusi hampir semua persiapan. Mulai soal asupan nutrisi hingga mental pemain, semua jadi hal yang terus dipikirkannya. “ Dia sangat sadar akan konsekuensi dan tanggungjawab tugasnya itu. Mungkin karena beban berat di pundaknya, dia sampai serangan jantung. Sebagai pribadi, yang saya pikirkan adalah berjuang untuk opa,” kenang Susy Susanti dalam testimoninya di biografi Siregar. “Opa” merupakan panggilan Siregar yang diberikan oleh anak-anak asuhnya saking intimnya pendekatan Siregar dengan para pemainnya. Selain Susy, Alan turut merasakannya. Suatu ketika, Alan tampil buruk di Thomas Cup 1992 dan jadi biang kekalahan di final. Padahal, ajang itu dijadikan PBSI sebagai pemanasan jelang olimpiade. Alhasil, Alan dimarahi habis-habisan oleh pelatihnya, Indra Gunawan dan Rudy Hartono. “Akibat kekalahan itu saya sempat frustrasi,” kata Alan kepada Historia . Di situlah Siregar datang sebagai penyelamat. Siregar menenangkan Alan dan mengimbaunya untuk lebih keras dalam latihan selepas Thomas Cup. Alan pun manut dan dengan suntikan motivasi lain dari tunangannya, Susy, Alan pun bangkit. “Sesudah pulang saya diberi motivasi lagi setelah sempat seminggu terpuruk, stress, depresi. Setelah diberi motivasi, saya melakukan program berbeda. Biasanya yang sehari enam jam, untuk olimpiade ditambah durasinya. Benar-benar habis fisik kita di lapangan. Kalau habis latihan biasanya badan susah dibikin bangun lagi,” sambungnya. Alan berhasil menjungkirkan prediksi yang lebih banyak mengunggulkan Ardy B. Wiranata, lawan Alan, dalam final tunggal putra bulutangkis olimpiade. Indonesia akhirnya membawa pulang dua emas, dua perak, dan satu perunggu di Olimpiade Barcelona 1992. Semuanya berasal dari cabang bulutangkis. Selain Alan dan Susy, dua perak lain disumbangkan Ardy Wiranata dan pasangan Eddy Hartono/Rudy Gunawan, serta perunggu dari Hermawan Susanto. Sayangnya Siregar tak bisa melihat anak-anak asuhnya meraih itu semua dengan mata kepalanya sendiri. Ia dilarang dokter menyaksikan langsung karena kondisi jantungnya masih dalam tahap pemulihan. Pun begitu, ia tetap bisa merasakan haru Susy Susanti dan Alan yang berlinang air mata kala mendengar “Indonesia Raya” di podium utama. “Kapan lagi bendera kita bisa berkibar di podium olimpiade – tiga sekaligus lho. Belum tentu bisa ditandingi oleh negara lain,” papar Siregar. Kiprah Siregar lantas tutup buku mulai 2007 akibat kondisi kesehatannya yang kian menurun selepas menjabat anggota Dewan Kehormatan KONI Pusat. Tiga tahun berselang, 3 Oktober 2010, ia mengembuskan nafas terakhir. Sebelum tiada, ia sempat prihatin dengan anjloknya prestasi olahraga Indonesia di SEA Games 2005. Baginya, itu adalah hasil dari pembinaan olahraga yang amburadul, di mana sistemnya telah melenceng dari yang pernah ia tanamkan. Ia juga sempat mengkritik Pekan Olahraga Nasional (PON) yang tak menelurkan atlet-atlet binaan bermutu untuk dibawa ke pentas internasional. “Yang terjadi di PON adalah jual-beli atlet yang semakin marak. Semua daerah ingin menjadi juara umum tetapi tidak mau bersusah payah melakukan pembinaan,” katanya.

  • KPK Melawan DI/TII

    Idham Chalid dari NU membantu pemerintah melawan DI/TII dengen membentuk Kia Pembantu Keamanan.

  • KPK Melawan DI/TII

    SEPULANG dari Bandung menuju Jakarta, Idham Chalid, Ketua I PBNU, menginap di Puncak. Tiba-tiba gerombolan DI/TII menembakinya dari arah perbukitan. Dia tiarap di kolong ranjang. Untungnya, segera datang bantuan tentara dari Cipanas. Kontak senjata berlangsung berjam-jam. Malam menjadi bising karena desingan peluru. Mereka lari menjelang subuh dengan menderita banyak korban jiwa dan luka-luka. Di pihak tentara juga ada yang terluka. Pengalaman lain yang dialami Idham ketika naik kereta api menuju Jawa Timur. Dia ditembaki gerombolan DI/TII antara Gambir dan Pegangsaan. Beruntung peluru hanya mengenai ujung kopiah ajudannya, H. Djumaksum. “Sasaran tembakan pastilah saya, menteri yang mengurusi keamanan,” kata Idham dalam biografinya, Tanggungjawab Politik NU dalam Sejarah.

  • Teknokrat Olahraga dalam Riwayat (Bagian I)

    NAMANYA tak dikenal luas. Padahal, perannya begitu besar di balik sejumlah prestasi monumental olahraga Indonesia. Maklum, Mangombar Ferdinand Siregar bukan pelatih apalagi atlet. Namun di antara para stakeholder olahraga nasional, ia salah satu teknokrat olahraga paling dihormati. Hingga kini namanya tenggelam lantaran terbilang langka media-media nasional yang mengulas. Sayup-sayup terdengar lagi namanya saat media-media ramai memberitakannya wafat, 3 Oktober 2010. Pun begitu, generasi milenial setidaknya akan “berkenalan” dengannya lewat film bertema biopik olahraga, Susi Susanti: Love All garapan sineas Sim F. Di film yang akan tayang 24 Oktober 2019 itu, sosok Siregar diperankan Lukman Sardi. Siregar merupakan sosok besar di balik sukses Susy Susanti dan Alan Budikusuma mempersembahkan dua medali emas pertama buat Indonesia di olimpiade (Barcelona, 1992). Sebelumnya sang teknokrat juga turut terlibat dalam sukses negeri di Asian Games 1962. Dalam bergulirnya zaman, ia juga tokoh di balik viralnya panji olahraga dan seruan: “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”. Di Garis Belakang Tujuh belas hari sebelum Persija berdiri, Siregar dilahirkan di Kwitang, Jakarta pada 11 November 1928. Sebagai anak pegawai Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran Belanda, Siregar kecil menikmati pendidikan bermutu di Christelijke Idenburgh School. Semasa bocah, Siregar menyenangi banyak olahraga. Sofbol, sepakbola, dan renang paling digandrunginya. Namun, kepada olahraga air itulah hati Siregar akhirnya berlabuh. Dia sering bolos sekolah Minggu hanya untuk memuaskan diri berenang bersama teman-temannya di Kanal Banjir Barat maupun di Pantai Zandvoort (kini Sampur, Cilincing). Suatu ketika, ia nyaris kena petaka di lepas pantai itu. “Saya berenang agak ke tengah. Tiba-tiba sudah terbawa gelombang. Sebetulnya sudah tenggelam. Namun saya tidak panik. Saya injak-injak tanah saja, terus kan muncul. Lalu melambaikan tangan sampai ada yang menolong,” kenang Siregar, dikutip Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani, dua jurnalis senior yang merangkai biografi Siregar, Matahari Olahraga Indonesia. Sebagaimana para tokoh di masanya, pendidikan Siregar sempat terganggu di masa peralihan dari kolonialis Belanda ke pemerintahan militer Jepang. Pendidikannya di Van Lith School selepas lulus dari Christelijke Idenburgh terhenti. Namun, statusnya sebagai “anak negeri” membuatnya bisa meneruskan pendidikan ke sekolah Jepang Dai Ichi/Dai Ni. Namun, ia tak bisa sering beraktivitas olahraga lantaran sebagai pelajar ia acap dikenakan kinrohoshi alias kerja bakti. Pasca-Perang Dunia II, kawan-kawannya semasa di sekolah Belanda memilih ikut NICA (Nederlands Indisch Civil Administratie), sedangkan Siregar pilih pro-republik dengan jadi sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI). Pun begitu, Siregar tetap berhubungan baik dan turut mengambil faedahnya. “Di usia sekitar 15 tahun saya dan banyak pemuda lain, di antaranya Chairil Anwar, bergabung dengan PMI. Kami pernah bertugas mengirim, secara ilegal, senjata dan obat-obatan ke Yogyakarta dari Jakarta dengan keretaapi. Bekerjasama dengan orang Ambon anggota NICA menyuplai senjata untuk pihak pribumi,” terang Siregar dalam Guru-Guru Keluhuran: Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman . Siregar dan kawan-kawannya mendapatkan suplai obat-obatan dan persenjataan itu dari teman-teman lamanya yang memilih ikut NICA, terutama para serdadu Ambon di Batalyon X NICA di Pejambon. Barang-barang selundupan itu lazimnya mereka sembunyikan di sela-sela dinding gerbong. Cara itu kerapkali sukses mengelabui pemeriksaan Belanda di Stasiun Kranji. Selain terus melanjutkan sekolahnya di SMA Adam Bachtiar, Siregar juga aktif di Ikatan Pemoeda Peladjar Indonesia (IPPI) Jakarta. Selain itu, dia aktif di Perkoempoelan Renang Tirta Kencana. Di perkumpulan renang itu selain kembali bisa menumpahkan hobi renangnya, Siregar dari rekan-rekannya bisa membuka pintu ke dunia militer. Siregar pun mendaftar mobilisasi pelajar di Bandung. Setelah dilatih militer selama tiga bulan di Sumedang, Siregar lalu dijadikan komandan Corps Polisi Militer (CPM) Pelajar Batalyon III Divisi Siliwangi, di bawah Mayor Ruslan Rusli Soetama. MF Siregar saat bertugas di CPM Pelajar Batalyon III Divisi Siliwangi (Foto: Repro "Matahari Olahraga Indonesia"/Dok. Pribadi MF Siregar) Namun sebagaimana kala jadi anggota PMI, Siregar hampir tak pernah terlibat baku tembak di front terdepan. Tugasnya lebih banyak di garis belakang. Pasukan Siliwangi di Jawa Barat jarang mengirim tentara pelajarnya ke palagan. Siregar lebih sering ditugaskan berpatroli ke wilayah-wilayah seperti Tangerang, Serang, dan Pandeglang. Seusai revolusi, rampung pula pendidikan menengah atasnya. Saat demobilisasi tentara pelajar, Siregar memilih meneruskan sekolah ketimbang melanjutlan karier militer. Di Balik Gelanggang Sebagai “orang olahraga”, sayangnya Siregar tak punya rekam jejak istimewa sebagai atlet. Paling banter, ia mewakili kampusnya Akademi Pendidikan Djasmani (APD) Bandung di Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) I di Yogyakarta, 1951. Siregar tampil di dua cabang olahraga. Di sepakbola, ia bermain sebagai gelandang. Di atletik, ia berlaga di kategori lari 1.500 meter, 5.000 meter, dan 10.000 meter, serta 3.000 meter halang rintang. Selepas lulus, ia memilih jalur di belakang gelanggang sebagai ofisial cabang renang dan polo air untuk Asian Games 1954 di Manila, Filipina. Siregar dipilih lantaran sudah malang-melintang mengajar pendidikan jasmani di beberapa kampus dan di Djawatan Angkatan Udara (TNI AU). Meski gagal memetik medali di renang, Siregar bisa berbangga timnya meraih perunggu. Di antara salah satu anggota timnya pun turut serta adiknya, Othman Siregar.  Menjelang Asian Games 1962 Jakarta, Siregar “naik kelas” menjadi pelatih kepala cabang renang, polo air, dan loncat indah. Pada persiapan pesta olahraga se-Asia itu pula ia berkesempatan bertatapmuka pertamkali dengan Presiden Sukarno. “Menjelang Asian Games saya ditugasi jadi komandan upacara pengukuhan pelatnas kontingen Indonesia di Bandung. Itulah pertamakali berkesempatan bicara dengan Sukarno. Ketika masih di APD pada eksebisi senam akrobatik, hanya bisa menatap Bung Karno,” tutur Siregar. MF Siregar saat menemani rombongan Presiden Sukarno & istrinya Hartini ke Pelatnas Asian Games 1962 di Bandung (Foto: Repro "Matahari Olahraga Indonesia"/Dok. Pribadi MF Siregar) Siregar sukses mengepalai cabang-cabang olahraga akuatik. Indonesia mendapat satu emas, empat perak, dan enam perunggu. Sukses itu mengantarkannya mendapat kesempatan tawaran pendidikan tinggi lanjutan di Springfield College, Massachusetts, Amerika Serikat berkat kerjasama RI-Amerika. Siregar mengambil program master jurusan Physical Education dan lulus pada 1964. “Proses pengajaran di sana mengutamakan kepentingan dan kebutuhan manusia. Itu sangat cocok dengan visi Bung Karno yang berambisi menjadikan manusia Indonesia sebagai manusia yang unggul yang diharapkan bangsa ini,” imbuhnya. Sekembalinya ke Tanah Air, Siregar balik mengurusi Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) sebagai kabid pembinaan. Ia juga dipercaya Menteri Olahraga R. Maladi menjadi direktur Pembibitan dan Pembinaan Prestasi Direktorat Jenderal Olahraga. Semasa Orde Baru, Siregar sudah menjabat Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Dia jadi salah satu sosok paling dicari wartawan sehubungan dengan batalnya kontingen Indonesia berangkat ke Olimpiade Moskow 1980. Oleh Menlu Mochtar Kusumaatmadja, Siregar hanya diperkenankan memberi alasan bahwa atlet-atlet Indonesia batal ke Negeri Tirai Besi lantaran persiapan PON 1981. “Selain pernyataan tersebut, saya hanya boleh menjawab ‘no comment’ untuk pertanyaan lain, apalagi yang menyangkut pemboikotan. Saya sampai keringat dingin,” ujar Siregar. (Bersambung)

  • Alunan Gamelan Memikat Komponis Amerika

    Dalam suatu kunjungan di Jawa, seorang komponis Amerika Serikat, Henry Eichheim menghadiri perayaan ulang tahun Pakubuwana X pada 29 November 1927. Perayaan itu dimeriahkan oleh tari srimpi dan pertunjukan gamelan selama tujuh jam. Pertunjukan itu membuat Eichheim takjub dan menyebutnya sebagai, “pengalaman musikal paling memikat yang pernah saya miliki.” Henry Eichheim adalah komponis, konduktor dan violinis Amerika Serikat yang lahir di Chicago pada 1870. Eichheim memulai karir musiknya sebagai violinis di Boston Symphony Orchestra dan sebagai pianis dalam The Eichheim Trio. Ia melakukan lima kali perjalanan ke Asia antara tahun 1915 hingga 1937. Karya pertamanya berdasar musik Asia ialah Oriental Impressions (1918-1922). Yang dibuat untuk istri yang sekaligus merupakan pianisnya ketika tur. Karya tersebut merupakan komposisi melodi Korea, China, Jepang dan Thailand yang ia kumpulkan dalam perjalanan ke Asia pada 1915 sampai 1916 dan 1919. Eichheim pertama kali mengunjungi Jawa ketika melakukan tur tujuh bulan di Asia pada 1922. Di Jawa, sebagian besar waktunya ia habiskan di Yogyakarta, di mana ia dan istrinya menonton wayang wong atau wayang orang, mendengarkan gamelan, dan menghadiri pernikahan kerajaan di keraton. Dalam perjalanan itu, Eichheim membuat Malay Mosaic yang ditulis pada 1924 dan dipertunjukan perdana pada International Composer’s Guild di New York tahun 1925. Kata ‘Malay’ digunakannya sebagai semacam steno untuk Asia Tenggara. Karya ini menggabungkan tema Jawa dan Burma (Myanmar). “Eichheim merupakan komposer pertama Amerika yang mengkombinasikan instrumen musik Barat dengan gamelan,” kata Matthew Isaac Cohen dalam Gamelanesque effects: musical impressions of Java and Bali interwar America. Eichheim kemudian menghabiskan waktu selama tiga bulan di Jawa dalam perjalanannya ke Asia tahun 1927 hingga 1928. Kala itu, dia berencana untuk membuat ‘trilogi orkestra’ berjudul Java , Angkor , dan Bali . Dia juga ingin membeli gong Jawa besar untuk ini. Akhirnya, ia membeli gamelan slendro di Solo, lengkap dengan tiga gong. Ia juga membeli sejumlah instrumen dari daerah lain di Nusantara. Saat itu, Eichman ditemani Leopold Stokowski, konduktor Philadelphia Orchestra. Stokowski memang sedang berlibur di Asia Tenggara dan sama seperti Eichheim, ia ingin membawa pulang beberapa instrumen sebagai suvenir. Eichheim juga menghabiskan waktu bersama etnomusikolog Belanda, Jaap Kunst dan J. S. Brandst-Buys. Brandst-Buys membawa Stokowski dan Eichheim untuk menyaksikan pertunjukan lesung yang langka, di mana enam perempuan petani menumbuk padi di dalam lesung yang panjangnya enam atau tujuh meter dengan alu yang berat untuk memisahkan sekam dari beras. Hentakan mereka yang saling terkait menciptakan pola ritme yang berbeda (gejog). Dalam beberapa pertunjukan, para wanita akan bernyanyi dan menari ketika mereka memukul lesung. “Peristiwa folkloristik sederhana ini diperkuat ke dalam pola ostinato (irama yang diulang-ulang) yang ditekankan dan saling bertautan, yang dimainkan fortissimo (suara yang dihasilkan sangat nyaring) oleh orkestra simfoni penuh, dalam pengenalan puisi nada Eichheim, Java ,” kata Cohen. Stokowski dan Eichheim juga menghabiskan beberapa minggu di Bali pada 1928. Kala itu, Bali belum penuh oleh wisatawan. Hanya sekitar 250 turis per bulan datang ke Bali hingga 1930. Tetapi ketenaran dari para pengunjung seperti Charlie Chaplin, Noël Coward, H. G. Wells, Barbara Huton serta ambisi kreatif dan intelektual yang tinggal lebih lama seperti Walter Spies, Margaret Mead, Gregory Bateson dan Beryl de Zoete Miguel Covarrubiad, berkontribusi pada daya tarik pulau itu. “Eichheim tidak menyelesaikan Angkor, tetapi bagian-bagian dari 'trilogi orkestranya' yang ia tulis, Java (1929) dan Bali (1933), adalah dua dari meditasi internasional paling penting dari musik tradisional Indonesia yang digubah hingga saat itu,” sebut Cohen. Kedua karya gamelan itu ditayangkan perdana oleh Philadelphia Orchestra di bawah arahan Stokowski. Cohen menambahkan, “keduanya mendapat skor karena perpaduan orkestra dan instrumen gamelan yang penuh keberanian (dipinjam oleh Stokowski dari koleksi Eichheim), menciptakan palet yang kaya akan suara dan warna.” David Shavit, penulis Bali and the Tourist Industry: A History, 1906-1942 , menyebut karya itu sering di mainkan dan direkam pada 1934 di RCA Victor label. “Stokowski menikmati suara metalik indah yang dihasilkan gamelan, dan memperoleh gong Bali yang ia bawa kembali ke Philadelphia. Eichheim menghafal pengalaman mereka dengan mengarang serangkaian puisi nada pendek, menggunakan sejumlah instrumen gamelan di bagian perkusi orkestra,” kata David. Sementara itu, kritikus musik Olin Downes dalam pertunjukan perdana karya Eichheim menyebut bahwa Eichheim berhasil menghadirkan ‘semangat dan cita rasa yang ada’ dari musik Bali. “Penambahan gong besar dan instrumen perkusi lainnya menghasilkan senoritas dan nada warna yang luar biasa, serta aksen dan ritme. Juga tidak boleh dilupakan, orkestra penuh, bergetar -memamerkan- di depan seluruh komposisi. Penonton menerima musik yang indah dan atmosfer ini dengan persetujuan yang jelas,” ungkap Downes.

  • "Sama-Sama Manusia", Partai Politik Orang Papua

    ANGGOTA TNI yang melakukan perundungan terhadap mahasiswa Papua di Surabaya akhirnya kena skors . Sebanyak lima orang dibebastugaskan dan menjalani pemeriksaan atas dugaan ujaran rasis. Salah satu aksi perundungan yang sempat viral adalah kelakuan seorang oknum TNI yang meneriaki mahasiswa Papua dengan sebutan "monyet". Mereka akan menjalani penyidikan oleh Polisi Militer Kodam V/Brawijaya untuk kemudian dihadapkan ke Pengadilan Militer. Belajar lagi dari sejarah, kelima anggota TNI tersebut ataupun siapa saja yang menghina orang Papua tiada ubahnya dengan kelakuan orang Belanda di zaman kolonial. Praktik diskriminasi telah berlangsung ketika Belanda menguasai Papua. Sebagai bentuk perlawanan, orang-orang Papua kemudian mendirikan partai politik bernama Sama-Sama Manusia. Partai Sama-Sama Manusia (selanjutnya disingkat SSM) didirikan pada 5 November 1960 di Sorong. Ketua SSM adalah Husein Warwey, wakilnya Luis Rumaropen asal Biak, M. Ongge asal Sentani dan Z. Abaa sebagai sekretaris. Misi SSM adalah kesetaraan bagi orang-orang Papua. SSM berbeda dengan kebanyakan partai politik di Papua saat itu yang lebih berkonsentrasi pada urusan politik. SSM lebih fokus pada urusan ekonomi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat lokal. Di antaranya seperti persamaan hak dalam pekerjaan, ketentuan  cuti yang memadai, dan pemenuhan kebutuhan yang berkeadilan. Menurut sejarawan Universitas Cenderawasih, Bernarda Meteray, ketika Belanda berkuasa terdapat kebijakan pemerintah yang kurang memihak orang Papua. Pegawai Belanda di Papua mempunyai kesempatan lebih banyak hak daripada pegawai lokal Papua. “Hal ini bukan saja terjadi di Sorong tetapi juga di seluruh NNG (Papua, red). Kebijakan ini tidak hanya terjadi pada orang Papua tetapi juga orang Indonesia,” tulis Bernarda dalam disertasinya yang dibukukan  Nasionalisme Ganda Orang Papua . SSM juga memperjuangkan masalah kesejahteraan hidup. Ini khususnya menyangkut kebutuhan beras dan gula yang sulit didapatkan di toko-toko saat itu. Justus van der Kroeft dalam jurnalnya “Recent Developments in West New Guinea” termuat di Pacific Affairs , Vol. 34 No. 3, 1961 menerangkan kecurangan yang terjadi. SSM menuntut agar pembagian beras dan gula diukur dengan benar di toko-toko. Bukan dengan kaleng melainkan dengan perhitungan bobot. Dalam gerakan kepartaiannya, SSM juga menjadi prototipe simbol kerukunan umat beragama di Papua. Sebagaimana dicatat sejarawan Belanda Pieter Drogglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penyatuan Nasib Sendiri SSM bersama Persatuan Christen Islam Radja Ampat (Perchisra) menjadi partai di mana mereka yang beragama Islam dan Kristen dapat bekerja sama. Memasuki tahun 1961, SSM mulai terlibat lebih jauh dalam politik. Ketika Belanda menyetujui pendirian partai-partai politik, SSM merupakan satu dari delapan partai yang diakui pemerintah. Dalam jurnalnya Kroeft mengatakan, SSM kadangkala bertindak sebagai juru bicara parta-partai lain melalui manifestonya. Seperti partai orang Papua lainnya, SSM mendeklarasikan bahwa penduduk Papua tidak mempunyai kaitan apapun dengan Indonesia. SSM juga mengharapkan penduduk Papua tetap berada di bawah kekuasaan Belanda hingga memperoleh kemerdekaan sendiri. SSM pun berganti nama menjadi Partai Rakyat. Partai ini kehilangan gaungnya ketika Papua masuk ke dalam Republik Indonesia. Pemerintah Indonesia mencap separatis siapa saja orang Papua yang hendak memerdekakan diri. Sama-Sama Manusia tinggal dalam catatan sejarah. Kendati demikian, diskriminasi masih saja melanda orang-orang Papua.

  • Saat Heli Trengginas Diganti Heli Bekas

    KENDATI usianya sudah lebih dari 80 tahun, lelaki berambut putih itu masih kuat ingatannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya masih jelas, kalimat-kalimatnya lugas. Mengenakan kaos putih dengan tulisan “Air Force” di dada kiri, perawakannya masih tegap. Kolonel Penerbang (Purn.) Pramono Adam, lelaki itu, masih ingat betul suatu hari saat dia bertugas sebagai komandan Squardron 8 Wings Ops 004. Pimpinan TNI AU memerintahkannya berangkat ke Udorn, Thailand untuk mengambil helikopter Sikorsky UH-34 D Sea Horse buatan Amerika Serikat (AS). “Belum pernah terbangin pesawat itu, belum tau pesawatnya seperti apa, belum pernah latihan, saya disuruh ambil 14 di situ, diangkut ke sini sendiri. Aku mikir, bingung,” ujarnya kepada Historia . Empat belas UH-34 D yang harus diambil Pram, sapaan akrab Pramono, merupakan helikopter yang dihibahkan pemerintah AS kepada pemerintah Indonesia. Hibah itu terjadi menyusul keluarnya permintaan AS kepada Indonesia agar mempensiunkan persenjataan buatan Uni Soviet, rival utama AS di Perang Dingin, pasca-Peristiwa 1965. Sebagai gantinya, AS menghibahkan persenjataan buatannya. Helikopter-helikopter trengginas Mi-4 dan Mi-6 yang jadi pegangan Pram sejak Dwikora (1963-1965) termasuk ke dalam daftar persenjataan yang mesti dipensiunkan itu. Kedua jenis heli digantikan UH-34 D. Mau-tak mau, Pram mesti mempelajarinya terlebih dulu sebelum memegang “capung besi” baru itu. Celakanya, saat itu di Indonesia tak tersedia UH-34. Pram pun mencari cara. Maka, kata Pram, “(Heli bekas, red .) punyanya Bung Karno, S-51, itu sangat VIP sekali, ditarik ke situ. Modelnya sama dengan Sikorsky ini cuma lebih sophisticated lagi.” Saat dibawa ke Lanud Atang, kondisi S-51 sudah parah lantaran lama teronggok. Seorang teknisi asal AS yang ditugaskan di Lanud Atang pun mengajak Pram membetulkannya. Namun, S-51 baru bisa kembali hidup setelah ditangani seorang teknisi AS yang dikirim dari Thailand. Melalui heli itulah Pram belajar tentang heli buatan AS. “Jadi saya tiap hari belajar dari seorang techrep . Dia bukan pilot. Kalau pagi saya latihan sama dia, kalau sore ngajar grupnya dia,” sambung Pram. Pada hari-H, Pram pun berangkat ke Lanud Halim Perdanakusuma. “Paspor dibagi-bagi, (saya) nunggu di Halim,” sambungnya. Dalam perjalanannya, perintah tugas Pram berubah-ubah. Dia tak jadi ditugaskan ke Udorn, melainkan diperintahkan menunggu di Tanjung Pandan, dan akhirnya menunggu di Halim. “Jadi rasanya plong nggak jadi ngambil sendiri di sana (Udorn).” Namun, Pram sempat berangkat ke Tanjung Pandan. Di sana, kejadian tak mengenakkan sempat dialaminya. “Di Tanjung Pandan (sewaktu) mau take off ke sana (Udorn), (ketika) di- start , (helikopter itu, red .) ngebul. Kaya mau kebakaran gitu. Aku udah ketar-ketir. Nyebrang laut kalau begini gimana,” kata Pram. Di Halim, Pram akhirnya menerima kedatangan heli-heli AS yang dipiloti langsung oleh pilot-pilot AS. Tugas Pram hanyalah membawa heli-heli itu ke Lanud Atang. Namun karena heli-heli dari AS yang akan menggantikan heli-heli trengginas buatan Soviet itu semuanya barang bekas, Pram pun mengecek dengan teliti heli-heli itu. “Dibuka tutup mesinnya, mesinnya itu diikat-ikat sama kawat jemuran. Sudah goyang semua. Diikat-iket sama kawat begitu supaya nggak goyang-goyang. Bayangin kalau saya membawa dari Udorn ke sini sekian belas pesawat, gimana itu rasanya? Jadi sudah keadaan bobrok,” sambungnya sambil tertawa. “Wong bekas dipakai di Vietnam. Masih ada bekas luka-luka bolong kena tembak.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page