Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tarian yang Mempesona
JIKA memasuki Kabupaten Banyuwangi dari arah Jember, Anda mungkin akan terpesona pada patung penari gandrung berukuran besar di pelataran sebuah taman. Ia dibingkai pilar bujursangkar. Ya, Anda telah memasuki wilayah Kabupaten Banyuwangi yang dijuluki Kota Gandrung. Gandrung adalah tarian khas Bumi Blambangan, sebutan lain bagi Banyuwangi. Sebagai ikon Banyuwangi, ada di mana-mana. Patung gandrung terpajang di berbagai sudut kota dan desa. Tapi yang menakjubkan adalah Taman Gandrung Terakota di Kecamatan Licin. Ratusan patung penari gandrung membentuk formasi indah di tengah persawahan terasiring di kaki Gunung Ijen, tepatnya di kawasan Jiwa Jawa Resort. Selain hamparan sawah, perbukitan, dan kebun kopi, Taman Gandrung Terakota dikelilingi pemandangan indah Gunung Merapi, Raung, Suket, dan Meranti. Beragam acara musik dan budaya yang menarik pun digelar di sini, di sebuah amfiteater terbuka . Dari Jazz Gunung Ijen hingga sendratari Meras Gandrung. Gandrung juga selalu hadir dalam setiap perayaan atau pagelaran. Bahkan jadi salah satu kegiatan unggulan Banyuwangi dengan nama Festival Gandrung Sewu. Festival Gandrung Sewu merupakan salah satu agenda dalam kalender pariwisata tahunan Kabupaten Banyuwangi, yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu kali pertama digelar tahun 2012. Menampilkan tema berbeda setiap tahunnya. Festival Gandrung Sewu 2019, misalnya, mengambil tema “Panji-Panji Sunangkara” yang mengisahkan perlawanan rakyat bumi Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Rempeg Jagapti terhadap penjajah. Festival diikuti 1.350 siswi sekolah dasar, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan dari seluruh penjuru Banyuwangi. “Gempuran budaya global melalui media sosial, di mana anak-anak mulai teralienasi dari budaya lokalnya, Gandrung Banyuwangi menjadi bagian dari cara daerah agak anak-anak kembali senang dengan budayanya," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada acara Festival Gandrung Sewu 2019, Oktober silam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Gandrung Sewu 2019 digelar secara kolosal. Di tengah terik matahari, daratan pasir Pantai Boom di Kabupaten Banyuwangi memerah. Ribuan penari gandrung berkostum merah tumpah-ruah. Hentakan kaki, lambaian tangan, liukan badan, gelengan kepala hingga lirikan mata berpadu serasi. Selaras dengan iringan musik dan syair yang dinyayikan oleh kelompok pengiring. Dan penonton terpesona dibuatnya. Bukan Semata Hiburan Gandrung, yang artinya cinta atau tergila-gila , merupakan kesenian asli dan tertua Banyuwangi. Ia tak berbeda jauh dari kesenian rakyat di daerah lain seperti tayub, ronggeng dan cokek , yang tampil dalam bentuk tari dan nyanyian dengan iringan musik tertentu. Menurut antropolog Belanda John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi (1927), kemunculan gandrung berkaitan dengan pengangkatan Mas Alit sebagai bupati dan pembabatan hutan untuk dijadikan ibukota baru Blambangan. Gandrung berfungsi sebagai hiburan sekaligus ritual mohon keselamatan dari marabahaya penunggu hutan. Namun ada juga pendapat bahwa kemunculan gandrung berkaitan erat dengan seblang, salah satu ritual suku Osing. Ritual ini digelar untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya keturunan penari seblang. Menurut Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung , tari seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. Tarian sanyang dilakukan dua anak lelaki yang berpakaian perempuan dan dalam keadaan kesurupan. Menariknya, nyanyian-nyanyian dan tatabusana penari dalam sanyang masih terjejaki dalam pertunjukan seblang dan gandrung. “Lintasan gerak dan pose-pose dasar ketiga tarian tersebut pun masih menunjukkan banyak kesamaan,” tulis mereka. Gandrung berkaitan dengan mitos Dewi Sri. Masyarakat Using (suku asli Banyuwangi) yang agraris menghormati Dewi Sri dengan ritual tarian sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah. Namun dalam perkembangannya unsur hiburan lebih menonjol dalam pertunjukan ini. Tari gandrung merupakan kesenian asli dan tertua Banyuwangi. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Pada awalnya tarian gandrung dibawakan lelaki yang didandani menyerupai perempuan atau dikenal dengan istilah gandrung lanang . Mereka menari berkeliling dari rumah ke rumah atau pasar sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional Banyuwangi. Seiring kuatnya pengaruh Islam, gandrung lanang perlahan menghilang. Apalagi Marsan, penari terakhir gandrung lanang , kemudian meninggal dunia. Gandrung kemudian identik dengan penari perempuan, hingga kini. Gandrung perempuan pertama yang terkenal adalah Semi –acap disebut Gandrung Semi . Menurut cerita, Semi berusia sepuluh tahun kala menderita penyakit kronis. Segala upaya untuk menyembuhkannya tak membuahkan hasil. Maka, Mak Midhah (Mak Milah), ibunya, bernazar bila sembuh, dia akan menjadikan Semi sebagai seblang. Ternyata Semi sembuh. Tapi, selain seblang, Semi mahir menarikan gandrung yang waktu itu mulai digemari masyarakat. Apa yang dilakukan Semi diikuti adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan “Gandrung” sebagai nama panggung. Maka, selain Gandrung Semi, dikenal pula Gandrung Misti, Gandrung Soyat, dan Gandrung Miati. Kesenian ini pun berkembang di seantero Banyuwangi. Kendati unsur hiburan lebih menonjol, aspek ritual dalam pertunjukan gandrung masih terasa. Gandrung kerap tampil dalam upacara petik laut (panen ikan), bersih desa, hingga tingkeban (kehamilan tujuh bulan). Karena kekhasan kesenian ini, pada 1990 gandrung resmi diangkat menjadi identitas bersama Banyuwangi. Lalu, sejak 2002 ditetapkan sebagai maskot pariwisata Banyuwangi. Puncaknya, gandrung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2013. Megah nan Indah Sejak lama kesenian gandrung mendapat perhatian dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) . Pada 1970-an, gandrung diberi s entuhan sedikit koreografi modern dan ditayangkan di TVRI . Tayangan itu mendapat sambutan yang luas. “Tari tersebut telah diangkat menjadi tari yang sekarang di luar negeri selalu memperoleh applause yang ramai dan lama,” kenang Astrid S. Susanto, yang bekerja di Bappenas, dalam buku Kesan Para Sahabattentang Widjojo Nitisastro . Perkembangan itu mendorong pemerintah daerah Banyuwangi untuk merawat dan mengembangkan gandrung, terutama di kalangan generasi muda. G andrung tak hanya ditarikan keturunan penari gandrung. Banyak gadis, siswi sekolah hingga mahasiswi mulai mempelajari tarian ini. Gandrung bukan hanya dipentaskan untuk memeriahkan pesta perkawinan, misalnya, tapi juga acara-acara resmi. Lalu, pada 1974, pemerintah daerah untuk kali pertama menggelar Festival Gandrung. Setelah lama mati suri, festival semacam itu dihidupkan kembali pada 2012 dengan nama Festival Gandrung Sewu. Seperti namanya, ada seribu bahkan lebih penari yang tampil membawakan tarian gandrung. Gagasan ini berasal dari Bupati Azwar Anas untuk mempromosikan Banyuwangi dan menumbuhkan kecintaan warga Banyuwangi akan seni dan budayanya. “Kami mencari cara bagaimana agar anak-anak penari diberi panggung yang istimewa. Karena selama ini mereka hanya tampil di desa saja. Tidak ada kebanggaan lebih, karena yang nonton hanya orang-orang di lingkungannya,” kata Anas . Gagasan itu ternyata berbuah sukses. Perhelatan ini mampu menarik animo dari wisatawan dalam maupun luar negeri. Mereka terhibur sekaligus berdecak kagum akan kemegahan dan keindahan tarian ini. Tak heran jika Gandrung Sewu masuk sebagai salah satu atraksi wisata terbaik Indonesia atau “10 Best Calender of Event Wonderful Indonesia” versi Kementerian Pariwisata. Tari Gandrung Banyuwangi sudah selayaknya dilestarikan. Kabupaten Banyuwangi sudah melakukannya dengan beragam cara, salah satunya lewat Festival Banyuwangi. Ah, Banyuwangi selalu bikin tergila-gila.
- Insiden Rawagede di Mata Jenderal Spoor
DESA Rawagede, 9 Desember 1947. Hari masih pagi. Murid-murid Sekolah Rakyat (SR) Rawagede masih belum memasuki kelasnya ketika mereka melihat sekelompok serdadu Belanda (sebagian besar terdiri dari anak-anak muda pribumi) menggiring puluhan orang ke pinggir rel kereta api dekat sekolahnya. Sebagai seorang bocah, Odih yang kala itu masih duduk di bangku kelas 2 SR, tentu saja penasaran. Bersama kawan-kawannya, mereka lantas berlari mengikuti rombongan tersebut. Belum sampai ke mendekati rombongan, seorang serdadu bule berbaret hijau malah mengusir bocah-bocah itu. Namun ketika akan berbalik lagi menuju sekolah, tetiba terdengar tiga kali rentetan tembakan diikuti robohnya orang-orang yang digiring tersebut jatuh. “Saya lihat sendiri mereka bergelimpangan dengan bermandikan darah di pinggir rel kereta api... " kenang Odih, sekarang berusia 83 tahun. Insiden berdarah di Rawagede memang nyata dan terjadi. Menurut Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede jumlah korban tewas dalam pembantaian yang dilakukan oleh serdadu Belanda ituadalah 431 orang. Pihak Belanda sendiri hanya mengakui jumlah korban tewas hanya 150 orang saja. Itu didasarkan pada keterangan yang dilansir dalam Excessennota 1969 , sebuah laporan resmi pihak Belanda. “Peristiwa pembantaian itu (sendiri) hanya disebut beberapa kalimat saja (dalam Excessennota 1969),” tulis Remy Limpach dalam disertasi-nya berjudul De brandende kampongs van Generaal Spoor (dialihbahasakan menjadi Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia ) Apa yang menyebabkan Rawagede diserang secara besar-besaran oleh militer Belanda? Setelah hampir 73 tahun berlalu, penyebab persisnya tetap masih menjadi misteri. Pendapat yang beredar di kalangan pihak Indonesiamenyebutkan pasukan Belanda nekad melakukannya karena untuk memburu Kapten Lukas Koestarjo, komandan TNI yang sangat diincar oleh mereka. “Prilaku pasukan Pak Lukas yang dianggap kejam oleh pihak militer Belanda menyebabkan lelaki yang dijuluki Begoendal van Karawang itu dicari-cari: hidup atau mati,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. ADVERTISEMENT ADVERTISEMENT Namun berdasarkan keterangan sejarawan Belanda Stef Scagliola yang bertahun-tahun meneliti kasus tersebut dan mewawancarai sejumlah eks prajurit Belanda yang terlibat dalam operasi pembersihan di Rawagede, saat itu militer Belanda memang sudah mencurigai Rawagede dijadikan sarang “ekstrimis”, sebutan mereka kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia. “Suatu hari ada laporan ke pihak militer Belanda bahwa seorang anak lurah NICA ditangkap dan dianiaya oleh sekelompok besar kaum bersenjata di Rawagede dan laporan itu direspon dengan mengirimkan pasukan ke sana,” ujar peneliti sejarah terkemuka di Belanda itu. Penjelasan Stef nyaris mirip dengan laporan yang dilansir oleh Berita Indonesia pada 15 Desember 1947. Surat kabar itu memberitakan bahwa Pembantaian Rawagede diawali oleh kejadian pada 3 Desember 1947. Ketika itu, seorang putra dari agen MID (Dinas Intelijen Militer Belanda) yang berkebangsaan pribumi ditangkap dan disiksa di suatu rumah kosong yang terletak di Rawagede. Namun ia berhasil meloloskan diri dan melaporkan kejadian yang menimpanya kepada sang ayah. Dalam laporan itu disebutkan pula bahwa di Rawagede terdapat konsentrasi satu pasukan besar dari kaum Republik. Bersama seorang kawannya, agen MID yang tak disebut namanya itu lantas melaporkan informasi tersebut ke pihak militer Belanda di Karawang. Maka dikirimlah satu pasukan besar. Mereka terdiri dari Kompi 3 dari Yon 3-9-RI Divisie 7 December, satu peleton 1e Para Compagnie dan 12 Genie Veld Compagnie (keduanya merupakan pasukan cadangan dari Depot Speciale Troepen) pimpinan Komandan Kompi 3-3-9-RI Mayor Alphons J.H. Wijnen. Berita Indonesia juga mengkonfirmasi unit-unit dari DST (Depot Pasukan Khusus). “Diduga mereka adalah bekas algojo-algojo dari Sulawesi Selatan,” tulis wartawan Berita Indonesia . DST adalah kesatuan khusus Angkatan Darat Belanda yang dipimpin oleh Kapten R.P.P. Westerling. Untuk membuat Sulawesi Selatan steril dari pengaruh kaum Republiken, sepanjang Januari 1946, Westerling melakukan pembersihan brutal di sana. Kejadian itu sempat membuat geger dunia internasional mengingat pengakuan resmi pemerintah Republik Indonesia yang menyatakan telah jatuh korban 40.000 jiwa penduduk Sulawesi Selatan. Tentu saja, tuduhan itu dibantah secara keras oleh Westerling. Kepada pers, ia mengaku hanya menghabisi sekitar 600 orang saja. Lantas bagaimana sikap petinggi Belanda (terutama para pejabat militernya)? Setelah pihak Pemerintah Indonesia mengadukan soal itu kepada GOC (Komite Jasa Baik) yang dibentuk PBB untuk menangani konflik Indonesia-Belanda, pihak Pemerintah Belanda pun bergerak. Pada 3 Januari 1948, mereka mengajukan memorandum kepada GOC yang membantah versi Republik. Kendati demikian, penyelidikan yang dilakukan oleh GOC (selesai pada 12 Januari 1948) menemukan fakta bahwa memang ada operasi militer yang brutal telah dilakukan oleh pihak Belanda. Pihak Belanda belakangan mengakui bahwa memang ada korban rakyat sipil yang tak bersalah jatuh dalam aksi pembersihan tersebut. Mereka pun mengiyakan soal beberapa rumah rakyat yang sengaja dibakar para serdadunya. Namun alih-alih sanksi ditetapkan kepada para pelaku utama pembantaian itu, Jaksa Agung Felderhof malah setuju untuk mempetieskan insiden di Rawagede. “Saya memahami tindakan Wijnen, karena “buaya-buaya tersebut (maksudnya gerilyawan Republik) akan segera membuat wilayah itu tidak aman lagi,” ungkap Felderhof seperti dikutip oleh Limpach. Setali tiga uang dengan Felderhof, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Letnan Jenderal S.H. Spoor juga memilih untuk menutup mata atas kegilaan yang dilakukan oleh anak buahnya di Rawagede. Meskipun tidak membenarkan tindakan Mayor Wijnen di Rawagede, dia menyatakan bahwa perwira itu sejatinya memiliki karier yang tak tercela dan merupakan seorang militer yang baik. “Sementara jumlah anggota militer yang baik saat ini sangat sedikit sekali,” ungkap Spoor seperti dikutip oleh J.A. de Moor dalam Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Belanda Terakhir di Indonesia. Dengan demikian, kata Moor, dalam melihat Insiden Rawagede itu, Spoor lebih menyukai tidak ada pengadilan terhadap anak buahnya, betapa memprihatikannya kasus tersebut secara kemanusiaan.
- Rosihan Tidur Berbantalkan Granat
Setelah bertolak dari Makassar usai meliput Konferensi Malino, (Juni 1946) wartawan Merdeka , Rosihan Anwar menuju Yogyakarta. Dari Jakarta, Rosihan bersama Soedjatmoko, pemimpin redaksi Het Inzicht menumpang kereta api barang. Mereka duduk di bangku panjang yang melekat ke dinding gerbong. Di Krawang, kereta api berhenti. Beberapa pemuda anggota laskar rakyat naik sambil menenteng senjata dan ranselnya. Walaupun berdesak-sesakan, mereka dapat juga duduk. Masuk Cikampek, penumpang bertambah lagi. Tampak sekumpulan pemuda yang memakai kaplaars dengan pistol di pinggang memenuhi gerbong. Semuanya juga hendak ke Yogya, ibu kota sementara Republik Indonesia. Perjalanan panjang itu membutuhkan waktu sehari semalam. Rosihan pun kelelahan. Dia mencari cara agar tidur dengan nyaman. Terbersitlah ide untuk menjadikan rak barang yang ada di atas bangku dekat langit-langit gerbong sebagai tempat tidur. Lagi pula, Rosihan bertubuh kurus dan ramping sehingga tidak sulit nyempil di ruang sempit itu. Setelah menyelinap ke rak barang, Rosihan membentangkan segulung tikar sembahyang yang di bawanya dari Makassar sebagai alas. Tapi dia butuh bantal untuk sandaran kepala. Tidak jauh dari tumpukan barang, rupanya ada sebuah besek (keranjang kecil berbahan bambu dan berbentuk segi empat) . Rosihan menarik besek itu dijadikannya bantal. Pas! “Ada bantal, ada guling mengalang punggung, apa lagi yang kurang? Kereta api makin keras getarannya, tetapi saya sudah lama terlelap nyenyak,”kenang Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950 . Keesokan pagi, cahaya mentari menembusi jendela gerbong. Rosihan terjaga dengan tubuh yang lebih segar. Dia turun dari rak barang dan kembali duduk di bangku. Sejurus kemudian, seorang penumpang menyapa Rosihan. “Bisa tidur?” tanya si penumpang seraya tersenyum. “Nyenyak,” sahut Rosihan. “Beruntung,” kata si penumpang lagi. Rosihan dengan santai mengatakan tidurnya nyenyaknya lantaran ada bantal dari besek dan juga tikar sembahyang yang beralih fungsi jadi guling. Mungkin karena ingin mengucapkan terimakasih, Rosihan menyakan siapa yang empunya besek itu. “Punya kami,” jawab seorang anggota laskar. “Apa isinya yah?” tanya Rosihan. “Sedikit pakaian dalam, tetapi di bawahnya ada granat,” jawab si laskar. “Granaaatt…?” tanya Rosihan terbelalak. “Ya, granat kami,” ujar anggota laskar itu dengan tenang. “Waduh, Masya Allah,” kata Rosihan. Bibirnya gemetar. Anggota laskar yang menyaksikan Rosihan panik itu pun tertawa. Menurut Rosihan mereka bukannya sembrono menaruh bahan peledak. Namun bagi para laskar yang terbiasa berpindah front pertempuran sambil membawa senjata, maka cara begitu sudah lumrah. Menyadari dirinya baru saja selamat dari ledakan granat, Rosihan terhenyak dalam lamunan. Pikirnya, “Andai kata salah satu granat itu terlepas pinnya, maka pasti benak saya menjadi bubur bertebaran dan kembali ke hadirat ilahi.”
- Konsep Sakit dan Sehat dalam Primbon
Imun yang kuat jadi faktor penting melindungi tubuh di tengah penyebaran Coronavirus (Covid-19). Banyak cara menjaga daya tahan tubuh, selain rajin berolah raga, mengonsumsi buah dan sayur, menjaga pikiran tetap positif dan tenang. Konsep itu juga ditemukan dalam pandangan tradisional Jawa. Keseimbangan rohani dan jasmani menjadi penting bagi orang Jawa dalam melihat masalah sehat dan sakit. Jika keduanya selaras, seseorang akan merasa bahagia dan senang, sehingga jauh dari penyakit. Antropolog Universitas Gadjah Mada, Atik Triratnawati, menjelaskan pandangan tradisional itu digali dari akar budaya yang bersumber dari kosmologi Jawa. Seperti ajaran kejawen yaitu sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula Gusti. “Kosmologi Jawa adalah wawasan manusia Jawa terhadap alam semesta,” tulis Atik dalam “Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa”, termuat di jurnal Humaniora Vol.23/2011. Konsep keseimbangan hidup orang Jawa sifatnya menyeluruh, mencakup makrokosmos dan mikrokosmos. Mistik kejawen menganggap jiwa, raga, dan suksma adalah satu. Karenanya, jika oleh kalangan medis modern semua penyakit dianggap disebabkan oleh virus, kuman, jasad renik, maupun bakteri; masyarakat tradisional Jawa punya penjelasan lain. Ini adalah kepercayaan dan pengetahuan yang sudah mereka warisi dari para leluhur. Analisis Primbon Dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta, Bani Sudardi,menjelaskan persoalan konsep sakit dan sehat banyak dijelaskan dalam kitab-kitab primbon. Secara garis besar primbon berisi masalah yang berhubungan dengan kelahiran, perkawinan, kematian, dan hubungan manusia dengan alam. Ada pula soal penyakit dan pengobatannya. Orang Jawa mengenal pengetahuan primbon paling tidak sejak abad ke-8. Kala itu mereka telah terbiasa mencatat waktu, dari mulai musim, hari, bulan, tanggal, perbintangan, sampai rasi. Tentang ini muncul dalam Prasasti Tulang Air di Candi Perot (850), Prasasti Haliwangbang (857), dan Prasasti Kudadu (1294). Primbon terlengkap dalam tradisi Jawa baru ditulis pada masa Kartasura berupa Serat Centhini. “Selain dapat dikatakan sebagai salah perwujudan primbon, serat ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk ensiklopedi khas Jawa,” tulis Bani dalam “Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa” , terbit di jurnal Humaniora Vol. 14/2002 . Serat Centhini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. Berbagai jenis resep obat dan pengobatan dapat ditemukan dalam Serat Centhini. Namun, menurut Bani, kitab primbon selain Serat Centhini yang memuat itu juga ada. Sebagian sudah diterbitkan. Sebagian lainnya masih tersimpan sebagai manuskrip di berbagai tempat penyimpanan. “Misalnya primbon yang tersimpan di keraton, masih bersifat rahasia, sulit dijangkau masyarakat luas,” ujar Bani. Primbon biasanya dipegang oleh tokoh cendekiawan pada masanya, seperti tetua adat, tokoh masyarakat, dukun, atau guru kebatinan. Di bidang kesehatan, mereka memakai primbon untuk menganalisis kondisi kesehatan seseorang. Untuk melakukannya, primbon memakai beragam perhitungan. Misalnya, jumlah neptu dina lan pasaran atau perhitungan hari pasaran Jawa saat datangnya penyakit. Ini bisa digunakan untuk menentukan asal penyakit, tingkat penyakit, dan bagian yang sakit. Antara primbon yang satu dan yang lain mungkin bisa berbeda. Namun yang jelas ada beberapa kemungkinan suatu penyakit itu berasal. Penyakit bisa datang dari Allah, bisa karena perkataannya sendiri yang tidak dipenuhi ( ujar ), bisa dari jin atau setan, dan dari perbuatan jahat orang lain ( teluh ). Contohnya, dilihat dari hari dimulainya penyakit, bisa ditentukan anggota badan mana yang memulai sakit atau sebab sakitnya. “Bila sakit dimulai hari Senin, asal penyakit dari telinga. Penyebabnya bisa karena mendengar berita buruk, menahan marah, dan sebagainya yang bersumber dari telinga,” jelas Bani. Bisa juga mengetahui muasal penyakit lewat perhitungan hari lahir si penderita. Pun bisa lewat mencari tahu perbuatannya yang mungkin telah melanggar pantangan. Seimbang Jiwa dan Raga Artinya, orang bisa sakit akibat kualitas hubunganya dengan lingkungan. Pasalnya orang Jawa yakin bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis. Akibat konsep itu, tak heran kalau mereka percaya berbagai penyakit datang akibat guna-guna. Kalau sudah begini, mereka merasa tak akan mempan bila pergi ke dokter modern. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa III: Warisan Kerajaan Konsentris menjelaskan ritual-ritual pedesaan banyak dilakuan demi menjaga keserasian kosmis antara kekuatan yang tak selaras. Antara desa dan semesta harus seimbang agar kehidupan tak bergoncang. Ini juga demi menaklukan roh-roh jahat penyebab goncangan itu. Seperti dengan menggelar pertunjukkan wayang. Alasannya bisa bervariasi misalnya peristiwa dalam keluarga, pindah kediaman, penggantian nama, mimpi buruk, dan sakit. Tujuannya adalah menjinakkan roh, seperti dedemit, lelembut, memedi, dan tuyul yang dianggap hadir. “Bila mereka betul-betul sudah dijinakkan, barulah manusia dapat ‘selamat’,” kata Lombard. Menurut Bani, banyak pula dalang yang bercerita kalau orang yang rajin bersemadi hidupnya akan sehat. Ia bakal jauh dari penyakit. Teorinya, saat bersemadi seluruh lubang tubuh yang berjumlah sembilan itu akan terkonsentrasi dalam kebaikan. Akibatnya unsur spiritual seseorang akan menjadi kuat. Daya tahan tubuh menjadi optimal. “Pada saat seseorang sedang labil jiwanya, kekebalan tubuh akan mengalami penurunan, inilah yang akan mengakibatkan orang mudah sakit,” jelas Bani . Pun halnya kalau pikiran tak bersih, kurang sabar, atau hanya memikirkan soal materi semata. Ini akan mendorong seseorang menjadi tergesa-gesa dalam bekerja. Fisik pun jadi melemah. Ia lalu akan mudah sakit. Atik Triratnawati mengatakan harmonisasi tubuh manusia terwujud apabila aspek fisik dan nonfisik berada dalam keadaan seimbang. Bagi orang Jawa sakit terjadi apabila ketidakseimbangan unsur fisik dan nonfisik. Makanya jika seseorang merasa masuk angin, misalnya, oleh orang Jawa kondisi ini dapat dianggap sebagai adanya ketidakseimbangan di dalam tubuh dengan lingkungan sekitarnya. Pemicunya adalah emosi yang tak terkontrol, baik berupa marah, jengkel, iri hati, angan-angan yang tinggi maupun pikiran berat yang menguras energi. Akibatnya, penderita menjadi sulit tidur, makan, dan minum, yang berpengaruh pada fungsi tubuh secara keseluruhan. Biasanya penderita akan merasakan gejala panas, dingin, perut kembung, atau pegal linu. “Ada fungsi tubuh yang terganggu, khususnya peredaran darah akibat angin yang kurang lancar,” jelas Atik . Orang juga akan mudah sakit apabila gagal mengendalikan nafsu, nafsu amarah, aluamah, supiyah , dan mutmainah ; atau nafsu makan, nafsu marah, nafsu seksual, dan nafsu otak atau berpikir terlalu keras. “Orang itu akan mudah mengalami sakit, baik yang bersifat sakit fisik maupun mental,” jelas Atik. “Seseorang yang mampu mengendalikan empat perkara itu disebut orang hebat dan dirinya akan selalu sehat.” Karenanya, bagi masyarakat tradisional Jawa, primbon membantu mereka untuk memahami penyakit. Dengan pemahaman ini maka akan diketahui bagaimana pola pengobatannya. “Setidak-tidaknya, konsep pengobatan tradisional Jawa yang memiliki pandangan kosmologis tentang penyakit, memandang penyakit tidak saja pada apa yang sakit, melainkan juga bagaimana dan mengapa seseorang menjadi sakit,” jelas Bani.
- Olimpiade Tokyo Punya Cerita
SEPERTI ajang-ajang olahraga lain, Olimpiade Tokyo 2020 turut terimbas pandemi COVID-19 (virus corona ). Otoritas setempat akhirnya memutuskan olimpiade musim panas ke-32 yang mestinya dibuka pada 24 Juli 2020 itu ditunda tahun depan. Penjadwalan ulang Olimpiade Tokyo 2020 itu diambil lewat keputusan bersama ketua komite panitia lokal Mori Yoshiro, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, dan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach pada Selasa (24/3/2020). Pun dengan jadwal Paralimpiade Tokyo 2020 yang acap jadi agenda susulan olimpiade, yang sebelumnya dijadwalkan 25 Agustus-6 September 2020. “Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Abe via telefon kami menyepakati bahwa Olimpiade XXXII di Tokyo dan Paralimpiade 2020 harus dijadwalkan ulang setelah 2020, namun diharapkan waktunya tidak lebih dari musim panas 2021, demi menjaga kesehatan para atlet dan semua yang terlibat dalam olimpiade dan masyarakat internasional,” ungkap Bach dalam laman resmi IOC , Selasa (24/3/2020). “Kami juga mengharapkan tahun depan dalam Olimpiade Tokyo akan menjadi selebrasi kemanusiaan, selepas mengatasi krisis pandemi COVID-19. Oleh karenanya obor olimpiade akan tetap berada di Jepang sebagai simbol komitmen kami dan juga simbol harapan,” lanjutnya. Thomas Bach, Presiden IOC mengumumkan Olimpiade Tokyo 2020 ditunda tahun depan sebagai imbas pandemi COVID-19 (Foto: olympic.org ) Penundaan olimpiade juga pernah terjadi delapan dasawarsa silam di negeri yang sama. Namun, penyebab kejadian 80 tahun lalu itu berbeda dari hari ini. Jika Olimpiade Tokyo 2020 ditunda karena pandemi COVID-19, Olimpiade Tokyo 1940 ditunda, dialihkan, bahkan sampai dibatalkan gegara Perang Dunia II. Penundaan itu mengulang kejadian di Olimpiade Berlin 1916 akibat bergolaknya Perang Dunia I , dan kembali terulang di Olimpiade London 1944 karena Perang Dunia II masih membara di Eropa, Afrika Utara, dan Pasifik. Olimpiade Pertama Bumi Timur Syahdan pada 1932 pemerintah Jepang yang merasa olahraganya sudah maju sejak menggelar Far Eastern Games 1930 di Tokyo, merasa harus ikut dalam bidding penentuan tuan rumah Olimpiade 1940. Mengutip Sandra Collins dalam The 1940 Tokyo Games: The Missing Olympics , kala itu Tokyo bersaing dengan tiga kota lain: Barcelona (Spanyol), Roma (Italia), dan Helsinki (Finlandia) . Jepang juga merasa harus lebih mendekatkan diri dalam masyarakat dunia setelah dikecam gegara Insiden Mukden atau invasi militer Jepang ke Manchuria di timur laut China pada 18 September 1931 dan mendirikan negara boneka Manchukuo. Jepang menganggap olahraga sebagai wahana tepat untuk politik “cari muka” alias pendekatan diplomatis kepada negara-negara Barat di Liga Bangsa-Bangsa. “Para politisi Jepang membayangkan Olimpiade Tokyo akan menjadi alat untuk mengalihkan pandangan dunia Barat terhadap sejarah dan budaya di Asia Timur. Utamanya setelah Jepang gagal memaksa Liga Bangsa-Bangsa mengakui negara boneka mereka, Manchukuo,” tulis Collins. “Olimpiade Tokyo 1940 juga sangat penting bagi sejarah modern Jepang. Lebih jauh lagi, kota Tokyo dan pemerintah Jepang ingin merayakan berdirinya peradaban kuno Jepang ke-2600 ( Kigen 2600nen ) dengan menjadi tuan rumah Olimpiade 1940,” imbuhnya. Tiga dari 131 atlet Jepang yang berjaya di Olimpiade Los Angeles 1932 (Foto: Repro "Disseminating discourses of Tokyo through the medium of the International Olympic Movement") Jepang sendiri bukan “anak kemarin sore” di pesta olahraga terbesar itu. Sejak Olimpiade Stockholm 1912 negeri itu sudah rutin berpartisipasi. Sebagai wakil Asia, prestasi Jepang lumayan bagus. Di Olimpiade Los Angeles 1932, kontingen Jepang berisi 131 atlet membawa pulang masing-masing tujuh medali emas dan perak serta empat perunggu. Kampanye bidding digulirkan pemerintah Jepang sejak 1932 kala IOC membuka kesempatan bagi negara-negara yang ingin mengajukan diri sebagai tuan rumah. Tokyo mulanya bersaing dengan Alexandria, Barcelona, Budapest, Buenos Aires, Dublin, Helsinki, Milan, Montreal, Rio de Janeiro, Roma, dan Toronto. Namun seiring waktu, jumlah 12 kandidat menyusut sampai tinggal menyisakan Tokyo dan Helsinki. Menukil ulasan John E. Findling dan Kimberly D. Pelle dalam Encyclopedia of the Modern Olympic Movement, sebelumnya pihak Jepang menebar lobi-lobi, salah satunya Roma, untuk kemudian mendukung Tokyo dengan cara-cara politis. “Jepang lewat anggota IOC-nya Michimasa Soyeshima sukses bernegosiasi dengan (Perdana Menteri Italia, Benito) Mussolini , hingga sang Duce membatalkan proposal pengajuan Roma. Mussolini setuju mendukung Tokyo dengan imbalan Tokyo akan mendukung Roma untuk Olimpiade 1944,” ungkap Findling dan Pelle . Tiga dari sejumlah poster kampanye Jepang kala mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 1940 (Foto: olympic-museum.de ) Pada rapat IOC 29 Juli 1936, sebelum pembukaan Olimpiade Berlin, kandidat yang tersisa hanya Tokyo dan Helsinki. Keduanya dianggap IOC paling sesuai dengan tema universalitas dalam olahraga. Helsinki sebagai ibukota negara kecil di Eropa, dan Tokyo sebagai perwakilan Timur jauh. Namun Tokyo punya satu “senjata” yang tak dipunya Helsinki. “Tokyo menawarkan satu juta yen (USD500 ribu) subsidi perjalanan bagi para delegasi olimpiade. Juga menawarkan biaya akomodasi para delegasi olimpiade yang ditanggung penuh selama penyelenggaraan olimpiade,” tambah Findling dan Pelle. Dalam pemilihan suara para anggota IOC, Tokyo menang 36 suara dibandingkan Helsinki yang mendapat 27 suara. Tokyo dinobatkan sebagai tuan rumah olimpiade pertama di bumi belahan Timur, sebelumnya olimpiade hanya dihelat di dunia belahan barat. Pemerintah kota Tokyo merayakannya dengan menggelar festival rakyat hingga tiga malam. “Olimpiade Tokyo 1940 juga menjadi instrumen dalam melegitimasi retorika IOC bahwa misi olimpiade adalah olahraga yang universal. IOC kemudian mempromosikan bahwa olimpiade adalah ajang bagi semua bangsa, terlepas perbedaan ideologi politik,” sambung Collins. Ditunda, Dialihkan, hingga Dibatalkan Setelah terpilih menjadi tuan rumah olimpiade, Jepang bersiap diri. Pembangunan venue-venue secara kolosal dilakukan di Komplek Meiji Shrine Outer Garden. Upacara pembukaanya diputuskan di Stadion Meiji Jingu, sebagaimana presentasi panitia lokal Jepang yang diperlihatkan kepada Presiden IOC Henri de Baillet-Latour pada kampanye pengajuan tuan rumah 1932. “Namun Biro Kuil Suci di Kementerian Dalam Negeri Jepang jelang persiapan pembangunan pada 1936 keberatan jika panitia lokal melakukan renovasi kolosal yang justru akan merusak keindahan kompleks kuil itu. Belum lagi mereka cemas rusaknya tempat-tempat keramat karena akan dibanjiri atlet-atlet asing. Setelah perdebatan selama setahun, pihak panitia akhirnya memindahkan rencana pembangunan komplek venue ke Komazawa Golf Park,” kata Finlding dan Pelle. Untuk rute perjalanan obor olimpiade, IOC mengusulkan obornya dibawa oleh para pelari dan penunggang kuda secara relay dari Athena, Yunani ke Tokyo sepanjang 10 ribu kilometer. Rutenya menggunakan Jalur Sutra yang membentang di Asia Tengah. Usul itu ditentang Jepang lantaran jalurnya melewati China, negeri yang masih terlibat pertikaian dengannya. Sementara, Komite Olahraga Jepang mengusulkan, obor olimpiade dibawa dari Athena ke Tokyo menggunakan kapal laut atau pesawat dengan rute Asia Selatan. Panji Olimpiade Tokyo 1940 dan rencana pembangunan komplek olahraga yang sayangnya batal digelar (Foto: Tokyo Museum) Namun belum juga rute obor olimpiade itu disepakati, ia dikacaukan oleh perubahan politik. Sejak kaum militer menguasai pemerintahan Jepang pada 1937, haluan politik internasional Jepang berubah. Utamanya setelah Perang Sino-Jepang II , 7 Juli 1937 atau Insiden Shanghai ke-2. Akibatnya, Far Eastern Games 1938 pun dibatalkan. Sejumlah anggota legislastif Jepang mulai meminta pemerintah membatalkan pula Olimpiade 1940. Namun, Komite Olimpiade Jepang masih berupaya meyakinkan IOC dan negara-negara anggotanya bahwa perang akan segera berakhir dan olimpiade bisa tetap digelar atau setidaknya ditunda. Namun, IOC didesak negara-negara Barat untuk memboikot atau membatalkan Olimpiade Tokyo 1940. Pada rapat IOC di Kairo, Mesir medio Juli 1938, diputuskan Tokyo kehilangan haknya sebagai tuan rumah. Helsinki yang sebelumnya bersaing ketat dengan Tokyo, dipilih sebagai tuan rumah alternatif Olimpiade 1940. Sialnya, Helsinki pun batal menggelar olimpiade ke-12 itu akibat meletusnya Perang Dunia II.
- Bercermin dari Bantuan Pokok Pemerintah Kolonial di Tengah Wabah
Jakarta lengang pasca-imbauan Work From Home (WFH, Kerja dari Rumah) dikeluarkan Minggu, 15 Maret 2020. Orang-orang melakukan karantina diri untuk mengcegah penularan Covid-19 makin meluas. Mereka hanya keluar rumah seperlunya. Meski demikian, sebagian warga masih harus berjibaku dan berdesakan di kereta rel lisrik demi menyambung hidup. Layanan transportasi online pun sepi peminat. Kondisi itulah yang dikhawatirkan pengemudi ojek online, bajaj, taksi, pedagang, dan orang yang bekerja harian sejak imbauan WFH keluar. Indonesia sebenarnya memiliki undang-undang (UU) yang mengatur tentang bantuan kebutuhan pokok kala karantina kesehatan ( lockdown ) ditetapkan pemerintah. UU ini keluar pada 2018 kala Nila Moeloek menjabat sebagai menteri kesehatan. Dalam pasal 52 dan 55 UU Karantina Kesehatan 2018 disebutkan bahwa, selama penyelenggaraan Karantina Rumah (pasal 52) dan karantina wilayah (pasal 55), kebutuhan hidup dasar warga dijamin oleh pemerintah pusat. Lebih jauh, pemerintah juga diamanatkan untuk menanggung urusan pangan ternak warga yang dikarantika wilayah atau rumah. Ayat 2 pasal 52 dan 55 berbunyi, tanggung jawab Pemerintah Pusat dalam penyelenggaraan karantina rumah atau wilayah dilakukan dengan melibatkan Pemerintah Daerah. Hingga kini, di Jakarta sebagai kota dengan sebaran virus korona terbanyak, belum ada perintah karantina wilayah ( lockdown ) dari pemerintah. Yang ada hanya imbauan untuk tidak keluar rumah. Bantuan bahan pokok sebagai bagian dari UU Karantina Kesehatan pun belum ada. Masyarakat pun bergerak sendiri bahu-membahu menggalang dana dan keperluan untuk para tenaga medis atau kelompok masyarakat rentan. Mereka mentraktir kurir makanan atau membagikan makanan ke orang yang bekerja harian. Dalam masa kritis seperti ini, rasa kemanusiaan tak terkikis begitu saja. Apabila menilik sejarah, pemberian bantuan kala pageblug melanda Hindia Belanda pernah dilakukan pemerintah kolonial. Pada awal 1846, epidemi misterius muncul di Jawa Tengah. Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market menduganya sebagai wabah tifus, mengingat gejalanya serupa. Para penderita dikarantina, sementara yang sehat diminta membatasi aktivitas. Biaya karantina bagi orang yang membutuhkan ditanggung oleh pemerintah. Sementara, orang-orang yang melanggar aturan karantina didenda f . 2000 untuk orang Eropa atau maksimal dua tahun penjara. “Untuk orang pribumi, maksimal dua tahun kerja paksa atau f .2000. Jumlah yang sangat besar bagi pribumi,” kata Liesbeth pada Historia . Dua tahun sebelum wabah pecah, pada 1844 terjadi gagal panen padi di Indramayu. Akibatnya, kata Peter Bloomgaard dalam “Rice Sugar and Livestock in Java”, antara 1815-1836 terdapat penurunan hasil panen. Jumlah produksi beras pada 1815 mencapai 1,650 kg/hektar. Jumlah itu turun menjadi 1,360kg/hektar pada 1836. Ia menilai, penurunan itu diakibatkan oleh pengenalan Sistem Tanam Paksa pada 1830. Pemerintah kolonial mengharuskan petani menanam tanaman yang laris di pasar Eropa seperti gula, nila, dan tembakau. Tanaman wajib itu mengambil proporsi tanah subur yang ada. Akibatnya, panen padi berkurang. Ditambah pajak yang dibebankan pada rakyat, kelaparan pun terjadi pada 1840-an. Gagal panen padi itu berpengaruh signifikan pada kelaparan dan kemunculan wabah. Pendapat ini disampaikan oleh dokter Willem Bosch, kepala Dinas Kesehatan Koloni. Menurut Bosch, penyakit ini menyebar dengan cepat karena kondisi hidup yang buruk, terutama kelangkaan beras. Tanpa penanganan yang tepat, epidemi dapat berlangsung untuk waktu yang lama. Bosch menambahkan, obat terbaik adalah panen beras berlimpah. “Komentarnya tentang kelangkaan beras ini secara tidak langsung mengkritik kebijakan kolonial yakni Sistem Tanam Paksa,” kata Liesbeth. Bosch bukan dokter kemarin sore. Jam terbangnya dalam menangani masalah kesehatan di negeri jajahan tinggi. Kariernya sebagai petugas kesehatan di Hindia Belanda dimulai sejak 1818-1839. Sebelum diangkat sebagai kepala Dinas Kesehatan Koloni 1845, Bosch sempat kembali ke Belanda. Dia tiba di Jakarta pada pertengahan 1845 untuk mengambil jabatannya. Pada 1847, Gubernur Jenderal J.J. Rochussen meminta nasihat Bosch perihal wabah di Jawa Tengah. Atas permintaan inilah Bosch melakukan riset kesehatan tentang penyebab wabah. Pada 13 April 1847 giliran Sekretaris Jenderal C. Visscher meminta Bosch memberi usulan langkah kesehatan yang bisa diambil pemerintah kolonial untuk menangani wabah. Keesokan harinya, Bosch langsung menjawab pertanyaan kedua pejabat itu melalui surat. Menurutya, wabah terjadi karena musim yang tidak menguntungkan, akomodasi buruk, pakaian tidak memadai, dan makanan tidak mencukupi. Ia juga menekankan penduduk membutuhkan bantuan segera agar tak makin banyak korban. Mengingat produksi beras sedang turun sementara penduduk yang tak tertular harus menjaga kesehatan agar tak menambah daftar pasien, Bosch usul agar pemerintah memberikan bentuan dana f . 10 per hari pada setiap pasien untuk membeli makan dan keperluan lain. Militer ditugaskan untuk membagikan bedcover atau selimut pada warga terdampak wabah yang tinggal di daerah berbukit dan suhu rendah. Pasien dalam radius 6 hingga 9 km harus dibawa ke tempat perawatan untuk dikarantina. Ia juga meminta agar pemerintah Belanda mengirim kina, yang manjur untuk mengatasi demam, sebanyak 5 kg per bulan ke negeri jajahan sampai epidemi berakhir. Bosch tak lupa memperhatikan kesejahteraan petugas medis yang jadi garda depan dalam pemberantasan wabah. Diusulkannya agar seluruh petugas kesehatan yang ikut menangani wabah mendapat status pegawai negeri sipil Eropa. Peimpin pribumi juga dikerahkan untuk mengawasi administrasi regular dan distribusi obat-obatan pada penduduk. Pada 25 April 1847, Gubernur Jenderal Rochussen meneruskan usulan Bosch pada Menteri Koloni JC Baud. Namun dalam memonya, Rochussen berkomentar sinis pada usulan Bosch. Rochussen menilai usulan Bosch sebagai sebuah pemborosan. “Ketika wabah merebak, Dinas Kesehatan mengusulkan agar dokter-dokter Eropa merawat penduduk Jawa dan mengelola obat-obatan Eropa. Betapa wabah ini jadi masa penuh kemakmuran bagi Layanan Medis!” kata Rochussen. Bagi Rochussen, pembangunan klinik kesehatan dan barak karantina di tiap daerah, distribusi selimut, beras untuk orang sakit, beras untuk mencegah orang sehat jatuh sakit adalah pemborosan besar-besaran. “Dia (Bosch) ingin memaksa orang Jawa untuk berpakaian lebih baik, tidak tinggal di gubuk bambu di bawah pohon pisang,” kata Rochussen dalam suratnya. Meski respons sinis Rochussen menjadi pertanda tidak baik bagi proposal Bosch, pada 20 Mei 1847, Sekretaris Jenderal C. Visscher langsung menghubungi Bosch. Dia setuju untuk membagikan selimut. Tapi Visscher ragu apakah kina dari Belanda akan tiba sebelum epidemi berakhir. Kala itu, butuh waktu dua bulan untuk mengirim surat dari Batavia ke Den Haag. Jika ia cepat bergerak, Visscher memperkirakan epidemi akan berakhir dalam waktu empat bulan. “Pemerintah Hindia Belanda berusaha mencegah wabah makin memburuk dengan cara yang seringan mungkin,” kata Liesbeth dalam bukunya. Namun Rochussen tetap menganggap enteng masalah wabah in dan meyakini Bosch hanya melebih-lebihkan soal wabah. “Saya ingin percaya bahwa epidemi parah memang terjadi dengan banyak nyawa hilang, tetapi saya tidak percaya bahwa wabah ini seburuk yang dikatakan orang,” kata Rochussen. Menurutnya, usulah Bosch punya ruang untuk dimanfaatkan orang pribumi menghindari kerja paksa dan jadi alasan bila terjadi gagal panen. Bosch menjawab sinisme Rochussen dengan tajam. Kalau mau wabah segera berakhir, paket tindakan yang diusulkannya harus dilaksanakan tanpa batasan. Setelah berunding dengan Dewan Hindia, diputuskan untuk terus mengirim petugas kesehatan sementara ke daerah-daerah yang paling parah terkena dampak. Para petugas diberi stok obat-obatan yang cukup, terutama kina. Otoritas lokal didesak untuk memberi mereka setiap bantuan yang diperlukan. Selimut bekas tentara Hindia disediakan bagi penduduk. Proposal Bosch lainnya ditolak, seperti pemberian f. 10 pada penderita yang dikarantina. “Meski terdapat komentar negatif, catatan bahwa 'sebagian besar bupati' mendukung rekomendasi, itu menarik,” tulis Liesbeth.
- Adiós Lorenzo Sanz!
SELAIN Italia, Spanyol jadi negara Eropa terparah dalam pandemi COVID-19 . Per Senin (23/3/2020), negeri matador itu sudah mencatatkan lebih dari 33 ribu warganya positif terjangkit virus corona . Sebagaimana Jakarta, ibukota Madrid pun merupakan epicenter pandemi yang sudah merenggut lebih dari 2.100 jiwa di seluruh dunia itu. Salah satunya, eks bos klub raksasa Real Madrid Lorenzo Sanz Mancebo. Lorenzo Sanz wafat pada Sabtu (21/3/2020) malam waktu setempat atau Minggu 22 Maret 2020 WIB setelah delapan hari dirawat di Hospital Universitario Fundación Jiménez Díaz, Madrid, di usia 76 tahun. Ia positif terpapar virus corona dan mengalami demam tinggi hingga kemudian menderita gagal ginjal. Bagi segenap stakeholder klub terbesar ibukota itu, Sanz dikenal sebagai sosok yang mengembalikan kejayaan Madrid di persepakbolaan Eropa setelah melempem di lebih dari tiga dekade. Dua gelar Liga Champions (1998 dan 2000) merupakan warisannya sepanjang 15 tahun mengabdi di klub. Lorenzo Sanz (kanan) dan suksesornya sejak 2000 Florentino Pérez Rodríguez (Foto: realmadrid.com ) “Hari ini kita mengenang Lorenzo Sanz, yang ikut menjadi korban dalam tragedi (pandemi COVID-19) ini. Beliau presiden yang memberi kita gelar Eropa setelah penantian 32 tahun. La Séptima (gelar Liga Champions ketujuh), kemudian diikuti La Octava (gelar kedelapan) dua tahun berikutnya kala Real Madrid kembali ke tempatnya yang layak dalam buku sejarah, adalah berkat dia,” ujar Presiden Real Madrid Florentino Pérez di laman resmi klub , 22 Maret 2020. “Kita kehilangan seorang madridista hebat yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya dan keluarganya untuk Real Madrid. Gairahnya terhadap Real Madrid akan selalu hidup. Kini kita menghormati kenangan dan warisannya. Lorenzo layak mendapat pengakuan dan penghormatan tertinggi,” lanjutnya. Madridista Sejak Kanak-Kanak Tidak banyak yang bisa diketahui tentang latarbelakang keluarga Lorenzo Sanz. Obituari yang dituliskan Sid Lowe bertajuk “Lorenzo Sanz: The Man Who Recovered the European Cup for Real Madrid” di The Guardian , Minggu (22/3/2020), hanya menyebutkan sosok kelahiran Distrik Chamberí, Madrid, 9 Agustus 1943 itu merupakan anak bungsu dari 10 bersaudara. Sanz tumbuh di Distrik Carabanchel.Di sanalah ia kenal dan berkawan dengan Ramón Mendoza yang kelak ia gantikan sebagai presiden Real Madrid. Ayah Sanz mantan jawara tinju amatir yang turut jadi fans die hard Real Madrid. Karena itulah sejak kanak-kanak Sanz sudah jadi madridista. Lorenzo Sanz Mancebo meninggal di usia 76 tahun setelah terjangkit virus corona (Foto: realmadrid.com ) Sejak usia 10 tahun Sanz loyal menyaksikan El Real berlaga di stadion Santiago Bernabéu bersama neneknya, sekaligus menjajakan air minum kepada para penonton lain. Bersama ayahnya ia turut jadi saksi kala Madrid merebut gelar kedua European Cup (kini Liga Champions) di kandang sendiri pada 30 Mei 1957. Saat itu Madrid menjungkalkan Fiorentina 2-0 di final berkat penalti Alfredo Di Stéfano dan gol Paco Gento. Sejak usia 10 tahun Sanz loyal menyaksikan El Real berlaga di stadion Santiago Bernabéu bersama neneknya, sekaligus menjajakan air minum kepada para penonton lain. Bersama ayahnya ia turut jadi saksi kala Madrid merebut gelar kedua European Cup (kini Liga Champions) di kandang sendiri pada 30 Mei 1957. Saat itu Madrid menjungkalkan Fiorentina 2-0 di final berkat penalti Alfredo Di Stéfano dan gol Paco Gento. Beranjak dewasa, menurut Steven G. Mandis dalam The Real Madrid Way: How Values Created the Most Successful Sports Team on the Plane t, Sanz sempat berkiprah di lapangan hijau sebelum beralih jadi pebisnis. Hingga usia sekolah menengah atas, Sanz pernah membela beberapa klub level Tercera División regional Comunidad de Madrid alias kasta keempat Liga Spanyol, seperti RCD Carabanchel dan CD Puerta Bonita. Posisinya adalah kiper. Mulai 1970-an, ia terjun ke bisnis properti dan mulai naik daun sebagai konglomerat baru satu dekade berikutnya. Kala Mendoza, kawan kecilnya dari Distrik Carabanchel, menjadi presiden Real Madrid pada 24 Mei 1985, Sanz diajak menjadi salah satu anggota dewan direksi klub. Bersama Mendoza, Sanz turut menggodok strategi baru buat klub yang di awal 1980-an miskin gelar di kancah domestik. “Strategi baru klub adalah mengembangkan dan mempromosikan pemain-pemain dari akademi muda La Fábrica. Pemain-pemain muda lokal itu kemudian membawa kesuksesan hingga memunculkan julukan ‘La Quinta del Buitre’ yang mengambil sebutan dari julukan pemain andalan mereka, Emilio Butragueño (‘El Buitre’). Empat andalan lokal lainnya kala itu adalah Manuel Sanchís, Martín Vásquez, Míchel del Campo, dan Miguel Pardeza,” tulis Mandis. Kolase momen Lorenzo Sanz kala Real Madrid mendulang La Séptima (gelar keenam Liga Champions) pada 1998 (Foto: realmadrid.com ) Menyusul sukses Madrid menjuarai La Liga lima musim berturut-turut (1985-1990), jabatan Sanz naik hingga menjadi wakil presiden klub. Sanz akhirnya menggantikan kawan lamanya itu sebagai suprema klub, usai Mendoza dipaksa mundur oleh keputusan mayoritas dewan direksi. “Sanz dipilih sebagai presiden Real Madrid pada 26 November 1995 menggantikan Mendoza yang dipaksa turun jabatan setelah klub menumpuk utang besar hingga 1,2 miliar peseta. Mendoza juga sangat kentara memanfaatkan popularitas klub untuk kepentingan politiknya,” ungkap Gabriele Marcotti dalam biografi Fabio Capello, Portrait of a Winner . Sebagai presiden Sanzjustru enggan mengulangi strategi pendahulunya. Ia merasa klub harus punya imej baru yang diharapkan berbanding lurus pada keuntungan di kemudian hari. Sanz menargetkan Madrid harus bisa kembali mengglobal dengan menjadi raja Eropa. Toh Madrid sudah terlalu lama puasa gelar Eropa sejak terakhir kali juara Piala Champions pada 1966. Maka itu di awal kepemimpinannya Sanz tak segan merogoh koceknya sendiri untuk mendatangkan sejumlah pemain bintang macam Davor Šuker, Predrag Mijatović, Clarence Seedorf, dan Roberto Carlos. Untuk posisi entrenador (pelatih), Sanz merekrut Capello, pelatih asal Italia yang sebelumnya sukses membanjiri AC Milan dengan empat gelar Serie A dan masing-masing satu Piala Champions dan Piala Super Eropa pada 1994. Mati dengan Tenang Mendatangkan sejumlah bintang ke Madrid tak serta-merta mendatangkan gelar ke klub yang dulunya bernama Royal Madrid itu. Sambil menantinya, Sanz terusaktif di bursa transfer untuk berturut-turut mendatangkan beberapa pemain bintang lain yang tentunya tak murah. Hingga tahun 2000, tak terhingga peseta yang berasal dari pinjaman bank dikeluarkan Sanz untuk mendatangkan para bintang. Selain Míchel Salgado yang kelak menjadi menantunya, Sanz juga mendatangkan Christian Karembeu yang diincar klub Barcelona, hingga Nicholas Anelka yang pada 1999 menjadi pemain termahal dengan nilai transfer 5,54 miliar peseta (USD38 juta) dari Arsenal. “Ditambah Geremi Njitap, Elvir Baljić, Júlio César, Rodrigo, Edwin Congo, dan Iván Helguera. Ada juga yang didapat dengan free transfer seperti Christian Panucci dan Steve McManaman. Namun yang tak disadari fans dan publik adalah, utang Madrid kian menggunung hingga mencapai 9 miliar peseta dari pinjaman bank. Sukses di lapangan ternyata tak berbanding lurus dengan kesuksesan finansial,” singkap Sid Lowe dalam Fear and Loathing in La Liga: Barcelona, Real Madrid and the World’s Greatest Rivalry. Kolase momen Lorenzo Sanz kala Real Madrid menyabet La Octava (gelar ketujuh Liga Champions) pada 2000 (Foto: realmadrid.com ) Tidak hanya pemain, Sanz juga “hobi” gonta-ganti pelatih. Ia dikenal tak harmonis dengan sejumlah pelatih yang ia rekrut. Sepanjang kepresidenannya, Sanz pernah menggunakan jasa Jorge Valdano, Vicente Del Bosque, Arsenio Iglesias, Capello, Jupp Heynckes, José Antonio Camacho, Guus Hidding, dan John Toshack sebagai pelatih Madrid. Biaya tinggi yang dikeluarkan Sanz memang akhirnya membuat Madrid sukses merajai Eropa dua kali. Utamanya, kala klub menuntaskan dahaga gelarnya selama 32 tahun pada musim 1997-1998. Di final Champions kontra Juventus di Amsterdam Arena, 20 Mei 1998, Mijatovic menjadi pahlawan dengan gol tunggalnya di menit ke-66. Momen itu kemudian jadi bab baru bagi citra Madrid sebagai langganan juara Eropa hingga kini. “Ketika kami pulang, kami tak pernah melihat begitu banyak warga Madrid tumpah ruah menyambut selebrasi. Momen itu yang mengubah mentalitas Real Madrid. Momen yang sekaligus mengangkat beban sejarah dari pundak kami yang sudah dinanti begitu lama,” kata Fernando Sanz, putra Lorenzo Sanz, yang kala itu juga bermain sebagai bek Real Madrid, dikutip Lowe. Madrid di bawah Sanz kembali jadi kampiun Champions di musim 1999-2000 . D i final yang digelar di Stade de France, Saint-Denis, Prancis , 24 Mei 2000 , Madrid menang telak 3-0 dari sesama klub Spanyol, Valencia. Sayangnya, beberapa bulan setelah itu Sanz gagal mempertahankan jabatannya.Dalam pemilihan tahun itu, kursinya direbut Florentino Pérez yang memenangkan pemilihan suara. Meski Sanz sebagai peletak fondasi “Galácticos” yang kelak disempurnakan Pérez, ia kalah gegara persoalan utang Madrid yang terus membengkak. Selain itu, Pérez menggunakan “senjata” bahwa dia bakal membajak Luis Figo dari tim rival Barcelona. Setelah kehilangan jabatan presiden, Sanz sempat dua kali lagi menjajal pemilihan yang berujung kandas. Ia kemudian membeli klub medioker, Málaga CF. Pada 2006, Sanz membeli 97 persen saham klub asal Andalusia itu, namun menyerahkan kursi kepresidenan klub untuk dipegang putranya, Fernando Sanz. Lorenzo Sanz (kanan) dan putranya Fernando Sanz Durán (Foto: realmadrid.com ) Terlepas dari “dosanya” menumpuk utang buat Madrid, kepemimpinan Sanz membuka bab anyar bagi citra Madrid yang tidak hanya disegani di pentas domestiknamun juga Eropa, bahkan dunia. Capaian itu merupakan warisan yang takkan dilupakan para madridista , utamanya kala Madrid mengakhiri dahaga gelar Eropa selama 32 tahun pada 1998. Momen itu pula yang paling dikenang Sanz hingga akhir hayatnya. Ia menyimpan kliping suratkabar AS yang memunculkan headline tentang momen itu di kamar mandinya. “Bagaimana saya bisa melupakan momen itu? Setiap bangun pagi dan pergi ke kamar mandi, saya selalu melihatnya. Sejarah akan menempatkan saya di tempat yang sepantasnya. Seperti janji saya sebelumnya, saya membawa trofi (Liga Champions) itu kepada raja (Spanyol). Kini saya bisa mati dengan tenang,” tandasnya dikutip Lowe.
- Alkisah Foto Jenazah Aliarcham
Engkau tidak hilang bagi kami, tidak!/ Masa kini kami tumbuh dari masa lampaumu/ Tangan kami menganyam terus/ Karya suci dan perjoanganmu/ Kami meneruskan kata gairah/ Kehidupanmu dengan rasa bahagia/ Obor yang menyala di malam kelam anda/ Kami sampaikan kepada angkatan kemudian. Sajak gubahan penyair Belanda Henriette Roland Holst itu (dalam bahasa Belanda) tertulis di sebuah papan tulis hitam yang diambil dari sebuah sekolah. Digambar pula simbol palu arit pada papan itu lalu ditempatkan di belakang kepala jenazah Aliarcham. Pemimpin Digulis itu meninggal dunia karena penyakit TBC pada Juli 1933 di atas sebuah perahu motor. Di Tanah Merah, seruan “Aliarcham meninggal!” menjalar ke seluruh kamp ketika perahu dari Tanah Tinggi itu tiba. Kematian Aliarcham telah menimbulkan rasa kehilangan yang berat bagi para Digulis. “Tidak ada orang lain yang pernah menerima penghormatan dari semua tapol seperti Aliarcham,” tulis Molly Bondan dalam Spanning a Revolution . Hampir seluruh penghuni Tanah Merah berkumpul. Jenazah Aliarcham kemudian dikebumikan di pemakaman Tanah Merah. Kuburannya penuh bunga-bunga dan tak lama dipagari kayu dengan ukiran Jepara. Tak lama berselang setelah kepergian Aliarcham, foto jenazah, pemakaman dan makamnya tersebar. Hal ini bermula ketika foto-foto itu mulai dijual di kompleks pemerintah sipil oleh beberapa interniran. Dari sebuah kamp di tengah belantara Papua itu, foto Aliarcham tersebar ke penjuru negeri. “Karena ada juga foto-foto yang dijual kepada pelaut-pelaut yang singgah di Tanah Merah, foto-foto itu akhirnya tersebar di seluruh tanah air,” tulis Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul . Foto-foto Aliarcham kemudian sampai ke tangan H.C. Zentgraaff, seorang wartawan senior di Hindia Belanda. Zentgraaff lalu menulis tajuk rencana tentang Aliarcham di surat kabar De Java Bode. “Dalam karangan itu wartawan tersebut bertanya-tanya bagaimanakah mungkin, bahwa potret dari orang Digulis yang meninggal, dan pemakamannya dapat tersebar ke seluruh Nusantara?” sebut Chalid Salim. Namun, menurut Salim, Zentgraaff juga memberi hormat kepada Aliarcham yang terkenal fanatik menentang kekuasaan Belanda. Memang, meskipun dianggap musuh, orang-orang kolonial justru menghormatinya. Foto-foto Aliarcham tak hanya beredar di masa perjuangan perintis kemerdekaan. 25 tahun setelah kematiannya, foto makam Aliarcham juga sampai ke tangan Sukarno. Roeslan Abdulgani yang menunjukannya kepada Bung Besar. “Pada tahun 1957 dan 1958, sebelum lahirnya Manipol, fotoini pernah saya tunjukkan kepada Bung Karno. Beliau sangat tertarik akan syair itu dan tidaklah heran, jika dalam salah satu pidato beliau kemudian terdapat kata-kata syairitu diucapkan,” ungkap Roeslan dalam Membina Mental Rakjat Kearah Kesatuan Bangsa . Foto-foto tersebut sepertinya diabadikan oleh L.J.A. Schoonheyt, dokter yang bertugas di Tanah Merah. Namun, ia merasa kecewa atas tersebarnya foto-foto itu. Kehebohan yang dibuat foto-foto itu membuatnya mendapat celaan. “Rupanya dokter mendapat celaan karena hal itu, padahal yang demikian sama sekali bukan maksud kami. Maka ia kecewa tentang peristiwa itu,” kata Chalid Salim. Selain tersebarnya foto-foto Aliarcham, muncul rumor bahwa bekas rumah Aliarcham berhantu. Menurut salah seorang sersan di Tanah Tinggi, rumah Aliarcham terlihat bersih dan rapi. Padahal tidak pernah ada yang berani masuk. Ketika malam, beberapa kali juga terdengar suara mengerang dan berseru. Ketika Schoonheyt dan sersan masuk ke rumah Aliarcham, mereka mendapati barang-barang Aliarcham begitu rapi. Bahkan ada mangkuk bekas minum teh di dapur. Schoonheyt menyarankan agar barang-barang Aliarcham dijemur di luar dan rumahnya dibersihkan untuk membasmi kuman. “Selanjutnya saya tak ingin mencampuri urusannya. Sudah cukup pusing kepalaku karena persoalan foto-foto pemakamannya, yang diperjualbelikan di sembarang tempat,” ujar Schoonheyt. Seperti sajak Holst, obor perjuangan Aliarcham nampaknya diteruskan meskipun hanya melalui foto-fotonya. Obor yang lain dinyalakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Akademi Ilmu Sosial Aliarcham pada awal dekade 1960-an. Nyalanya dimatikan Orde Baru pasca tragedi 1965.
- Pasukan Mataram Diserang Wabah Penyakit
Panembahan Krapyak meninggal dunia pada 1613. Sultan Agung menggantikannya sebagai raja Mataram. Ia melanjutkan politik ekspansi ayahnya itu. Setelah merebut Malang dan Lumajang pada 1614, berikutnya ia menyerang Wirasaba. Saking pentingnya daerah itu, ia turun langsung ke medan pertempuran. "Raja ingin ikut menyerang melawan Wirasaba. Para pembesar menghalang-halanginya dengan sia-sia," tulis sejarawan H.J. de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung . Sultan Agung mengerahkan pasukan Mataram dan sekutunya dari pesisir. Jumlahnya mencapai 10.000 orang, tidak termasuk para petandu. Pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung Martalaya. Mereka berbaris melintasi Madiun, di sana orang-orang Ponorogo menggabungkan diri. Sementara itu, penguasa Wirasaba, Pangeran Aria, yang baru berumur 15 tahun digambarkan berpenampilan baik, tampan, namun tidak suka tidur dan makannya sedikit. Patihnya, Rangga Pramana, mempunyai kesaktian dan kekebalan, tetapi lumpuh sehingga harus ditandu bila mengadakan inspeksi pasukan maupun dalam pertempuran. Pangeran Aria meminta bantuan kepada Surabaya. Penguasa Surabaya memerintahkan sekutunya, para bupati daerah pantai untuk membantu. Penguasa Surabaya mengirim 1.000 prajurit. Jumlah yang sama datang dari Madura di bawah pimpinan Rangga Lawe. Di Wirasaba pun berkumpul banyak prajurit. Semua dalam keadaan siap siaga. Selain itu, pertahanan kota telah diperkuat setelah terjadi perampokan dan perampasan tahun lalu. Pertempuran pecah. Sultan Agung dan pasukannya bertempur di Pala Dadi, di sebelah barat Wirasaba. Selain kuatnya pertahanan Wirasaba, Sultan Agung juga harus menghadapi musuh yang datang tak diduga dan tak dapat dilawan: wabah penyakit. Setelah setengah bulan berperang, para prajurit Mataram diserang wabah penyakit pes. Banyak prajurit yang meninggal, sehingga Sultan Agung mengusulkan untuk menghentikan serangan dan pulang. Akan tetapi Tumenggung Martalaya tetap teguh. Ia minta waktu satu hari lagi untuk merebut Wirasaba. "Setelah raja mengumumkan rencananya untuk mengakhiri pengepungan, maka Pangeran Purbaya, para sentana , dan Tumenggung Martalaya dengan tergesa-gesa memerintahkan memukul genderang perang. Setelah mengepung Wirasaba, mereka tiba-tiba menyerang, dan menemui kegagalan yang sangat menyedihkan," tulis De Graaf. Akhirnya, setelah tiga serangan hebat yang mendadak, Wirasaba bisa ditaklukkan oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Martalaya, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Mangkubumi. Serangan itu berhasil berkat pemakaian besi-besi pencungkil dan tangga penyerbu. Penaklukan Wirasaba tidak mudah. Sultan Agung sendiri memutuskan untuk mengakhiri pengepungan. “Kebimbangan ini dapat dihubungkan dengan wabah pes yang menimpa tentara Mataram," tulis De Graaf. Namun, para panglimanya tak menyerah sehingga berhasil menaklukan Wirasaba. Kemenangan itu juga disebabkan oleh kelemahan Wirasaba. Menurut sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2004 , kronik-kronik menyebutkan bahwa persekutuan Surabaya menjadi lemah dalam peperangan yang menentukan ini karena adanya rasa saling curiga antara Surabaya dan Tuban. De Graaf mencatat, ternyata dukungan dari sekutu-sekutu Surabaya tidak berjalan lancar. Mereka mau membantu, asalkan Surabaya sendiri juga turut bertempur. Namun, raja Surabaya tidak berani meninggalkan tempat tinggalnya, karena mencurigai sekutunya, yaitu Tuban. Tuban membatasi bantuannya hanya pada pendudukan Surabaya. Anggota-anggota persekutuan malah berhadap-hadapan di Surabaya dalam kedudukan saling mengancam. Bahkan, raja Surabaya mengeluarkan pasukan Tuban dari Surabaya dengan kekerasan. Para anggota sekutu lainnya sama sekali tidak muncul. "Alangkah sangat berlainan hasil jalannya pertempuran andai kata Surabaya tidak hanya dapat mengerahkan seluruh kekuatannya, melainkan juga kekuatan sekutu-sekutunya," tulis De Graaf. "Karena kurang adanya kerja sama antarsekutu, Surabaya kehilangan pos terdepan yang penting ini." Ricklefs menyebut bahwa kemenangan atas Wirasaba sangat penting sehingga Sultan Agung sendiri memimpin tentaranya di sana. Pendudukan Wirasaba sangat penting karena secara strategis menguasai pintu gerbang ke muara Sungai Brantas. Secara psikologis, Sultan Agung menguasai daerah yang pernah menjadi lokasi Kerajaan Majapahit. Memangnya di manakah letak Wirasaba? De Graaf menyebutkan bahwa nama Wirasaba tidak akan ditemukan di peta tanah Jawa. Bahkan sebagai nama desa ia menghilang. Meskipun demikian, Thomas Stanford Raffles masih menempatkan Wirasaba di dalam petanya, baik untuk menunjukkan sebuah ibu kota maupun sebuah kabupaten di tikungan Sungai Brantas. Francoise Valentijn, seorang pendeta yang dipekerjakan VOC di Ambon, dalam Oud en Nieuw Oost-Indien , menyebut letak Wirasaba diduga dua mil di sebelah selatan Japan. Sekarang Japan diberi nama Mojokerto dan Wirasaba dapat disamakan dengan Mojoagung, yang letaknya kurang lebih 15 km di sebelah barat daya Mojokerto. Letak Wirasaba dan Mojoagung penting dilihat dari sudut strategi, karena bila diduduki dan dipertahankan secara baik, dapat menutup jalan masuk ke Delta Brantas dan dari sana ke daerah Ujung Timur Jawa. Penaklukan Wirasaba juga memungkinkan aksi-aksi perampokan dan perampasan sampai depan tembok-tembok pertahanan Surabaya, mungkin juga lebih dari itu. “Di samping itu,” tulis De Graaf, “penaklukan sebuah tempat yang letaknya demikian dekat dengan bekas-bekas peninggalan Majapahit yang jaya itu merangsang daya khayalan orang-orang Jawa.”
- Melawan Wabah El Tor
El Tor. Anda pernah mendengarnya? Mungkin sekarang tak pernah. Tapi pada dekade 1930-an dan 1960-an, El Tor sempat menjadi nama paling ditakuti di Sulawesi Selatan, Semarang, dan Jakarta. El Tor adalah penyakit menular. Gejalanya mirip kolera. Bahkan penyebabnya serupa dengan penyakit kolera. Masih satu keluarga dengan bakteri kolera. El Tor kali pertama ditemukan oleh Felix Gotschlich, dokter dari Jerman, di pusat karantina El Tor, tak jauh dari Terusan Suez, Mesir, pada 1905. Karena itu, bakteri termaksud disebut El Tor. Gotshlich menyatakan El Tor terdapat di feses sejumlah jamaah calon haji. Meski menyerupai vibrio cholerae (bakteri penyebab kolera), El Tor justru bersifat apatogen atau tidak merugikan inangnya. Jamaah calon haji tetap sehat dan tak muncul gejala sakit apapun pada mereka. Kesimpulan Gotschlich bertahan selama 32 tahun. Kesimpulan Gotschlich berubah pada September 1937. El Tor mulai jadi patogen (merugikan inangnya). Kasus pertama muncul di Pangkajene, sekira 60 kilometer dari utara Makassar. Orang terinfeksi El Tor akan menampakkan gejala sakit menyerupai pasien kolera. “Mula-mula penderita muntah, diikuti dengan berak-berak yang berupa air beras (cair, keruh putih disertai sedikit lendir) dengan frekuensi lebih dari 10 kali,” catat Djaja dalam “Usaha Memberantal El Tor”, 7 Maret 1964. Dalam waktu hampir tiga bulan, infeksi El Tor menyebar ke beberapa wilayah Sulawesi lainnya. Dari 26 September hingga 11 Desember 1937 terdapat 37 kasus dengan 11 orang meninggal . Persebaran El Tor menjangkau 14 desa sehingga menjadikannya epidemi. Media penyebarannya melalui liur atau feses penderita, air yang terkontaminasi, dan lalat yang membawa bakteri itu lalu hinggap di makanan. Epidemi ini cepat menyebar, lekas pula mereda. Tidak seperti dalam kolera, penanganan terhadap penderita tak perlu ada isolasi khusus. Sekian tahun menghilang, El Tor muncul lagi pada 1958 di Jakarta. “Pertama kali muncul empat kasus parakolera El Tor di Jakarta Raya,” ungkap Soe Khie Tjia dalam Penjelidikan Vibrio El Tor Jang Diasingkan di Djakarta dan Tjara Baru Untuk Membedakan Antara Vibrio El Tor dan Vibrio Cholerae , tesis pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1967. Lantaran kasusnya sedikit, kebanyakan orang menganggap biasa kabar ini. Tetapi dunia kedokteran justru bingung, bagaimana El Tor ini muncul di Jakarta setelah sekian tahun hilang dari Makassar. Penelitian digelar selama tiga tahun. Tapi para dokter tak berhasil menemukan jawabannya. Tiga tahun setelah kasus di Jakarta, El Tor tiba-tiba merebak di Semarang. Tercatat ada 250 penderita terinfeksi El Tor. Dalam waktu bersamaan pula, El Tor menyerang Hongkong, Bangkok, Manila, Makau, dan Serawak. Orang-orang mulai khawatir. “Sejak 1961 kolera El Tor telah menjangkiti sepanjang wilayah Timur Jauh (Asia Timur) dan menarik perhatian WHO (Badan Kesehatan Dunia),” catat Jeni Iswandari dan Shinta Njotosiswojo dalam “Cholera El Tor Enteritis in Jakarta”, termuat di jurnal Paediatrica Indonesiana , Februari 1973. Para dokter berkesimpulan El Tor tak bisa lagi dibedakan secara epidemologis, klinis, dan patologis dari kolera. “Perbedaannya hanya terletak pada dua hal: karekteristik fisik dan biokimia (reaksi kimia yang terjadi dalam sel atau organisme hidup) bakterinya,” lanjut Jeni. Seiring pendefinisian El Tor, dokter C.E. De Moor menyarankan penanganan terhadap penderitanya ikut berubah. Mereka harus menjalani isolasi sebagaimana penderita kolera. “Pandangan mengenai vibrioEl Tor kini adalah sebagai kuman yang dapat menyebabkan wabah dengan mengakibatkan kematian sehingga oleh karenanya De Moor memasukkannya dalam daftar kuman-kuman yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit karantina,” ungkap Djaja dalam “El Tor dan Cholera”, 26 Oktober 1963. Menyikapi penyebaran El Tor, pemerintah Indonesia menggunakan data penelitian tenaga kesehatan ketika El Tor berjangkit di Jakarta pada 1958 untuk mengambil tindakan. “Tidak banyak orang tahu bahwa semenjak kurang lebih dua tahun berselang, tenaga-tenaga kesehatan kita dan bagian public health Fakultas Kedokteran bertindak dalam bidang epidemiologis,” catat Djaja . Data penelitian tadi meliputi anggota keluarga penderita El Tor, pekerjaan penderita, makanan dan minuman, keadaan rumah, dan kondisi lingkungan. Melalui data itu, pemerintah mengambil langkah pencegahan penyebaran El Tor. Antara lain dengan mengeluarkan maklumat tentang El Tor. Isinya berkisar informasi El Tor, rumah sakit rujukan, dan tindakan orang jika menemukan penderita El Tor. Setelah maklumat keluar, Undang-Undang No. 6 Tahun 1962 tentang Wabah terbit pada 5 Maret 1962. UU termaksud menyuguhkan senarai delapan penyakit menular dan dapat menimbulkan wabah. El Tor termasuk satu di antaranya. Ini berarti “penyakit tersebut harus diberantas dengan segera bila terjadi wabah,” catat Almanak Pembangunan Kesehatan . UU juga memaklumatkan wewenang kepada Menteri Kesehatan untuk menetapkan suatu daerah sebagai daerah wabah setelah pemeriksaan yang teliti. Jika Menkes sudah menetapkan satu daerah sebagai daerah wabah, penguasa tempatan dapat menutup daerah tersebut untuk mencegah wabah meluas. Selain memaklumatkan tindakan bagi pemerintah, UU juga membuka pelibatan masyarakat untuk melaporkan adanya wabah di daerahnya. Para penderita penyakit dikenakan ketentuan isolasi dari orang lain di sekitarnya. “Peraturan ini dijalankan dengan keras karena terjadinya beberapa wabah di Makassar… Dan El Tor yang sudah endemis,” tulis Pedoman dan Berita , 1968. Setelah mengeluarkan maklumat tentang El Tor dan UU tentang wabah, langkah selanjutnya adalah pembuatan vaksin. Hingga 1970-an, vaksin El Tor belum juga ditemukan. Sebagai gantinya, pemerintah menggunakan vaksin kolera. Penderita El Tor mengeluarkan reaksi beragam setelah mendapat vaksin kolera. Ada yang sembuh, ada juga yang tak tertolong. Tapi ketiadaan vaksin khusus itu tertolong oleh perubahan perilaku menuju hidup bersih, pembangunan sanitasi di permukiman, dan kesadaran masyarakat memasak air lebih dulu. Dengan cara demikian, penderita El Tor di Indonesia menurun secara bertahap.






















